You're my beloved doctor

Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi

You're my beloved doctor milik Akuma Kurama

Rate T

Romance

AkaKuro

and other

Awas! Sho-ai, yaoi, BL, typo dimana mana, cerita pasaran, bahasa nggak jelas jluntrungannya. Bahasa Indonesia sih, tapi nggak baku, alias nggak sesuai dengan EYD. Ini fanfic keduaku di fandom KuroBas, jadi semoga kalian semua suka ya.

Chap 2

-Saingan-

Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Memaksa Kuroko untuk membangunkan pemuda bersurai merah ini dari tidurnya, atau seperti itulah yang Kuroko tau. Yang sebenarnya terjadi adalah, Akashi hanya memejamkan matanya tanpa ada niat untuk tertidur, sekaligus mengawasi guru kesehatannya ini.

"Akashi-kun, bangunlah. Sudah waktunya pulang." Kuroko mengguncang pelan bahu Akashi, usahanya membuahkan hasil, Akashi dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya, bagaimana tidak berhasil, dari tadi Akashi kan memang tidak tidur.

"hm. Ayo." Setelah membangunkan dirinya, Akashi menarik lengan Kuroko untuk mengikuti langkahnya.

"maaf Akashi-kun, aku masih ada urusan. Jadi kamu pulang duluan saja." Kuroko menepis pelan cengkraman Akashi di lengan kirinya, membuat Akashi mengernyit bingung, meski tak Nampak di wajahnya yang datar.

"urusan?"

"iya, aku harus mengunjungi teman dulu." Sahut Kuroko menjelaskan.

"biar kuantar."

"eh? Tidak perlu, aku bisa sendiri kok. Jadi Akashi-kun pulang saja. Istirahatlah dirumah, nanti aku akan mampir setelah pulang dari tempat teman." Alasan Kuroko membuat Akashi geram, tapi apa amu dikata. Akashi nggak mau memaksa Kuroko, bukan karena apa-apa, tapi lebih karena dia nggak mau meninggalkan kesan buruk di awal perkenalan mereka.

"ya sudah." Dengan begitu, Akashi kembali ke kelasnya untuk mengambil tasnya, lalu berjalan menuju ferary merahnya terparkir. Sedangkan Kuroko pergi kearah berlawanan, karena dia harus mengambil tasnya di ruang guru.

Sore ini Kuroko ada janji dengan KIse Ryouta, teman yang dikenalnya saat ia tengah study kasus di Perancis, sekitar 3 tahun lalu. Sebenarnya Kuroko hendak menemui Kise saat pertama dia tiba di Jepang, tapi sayangnya waktu yang Kuroko miliki tidak cukup, jadi baru hari ini saja dia akan menemui teman kuningnya itu.

Ah, sebenarnya Kise-lah yang rewel dan selalu menghubungi Kuroko untuk bertemu sejak dua hari lalu, hari pertama kaki Kuroko menginjakkan kakinya di bandara Narita. Dari pada selalu mendapat gangguan berupa e-mail yang terus menerus dikirim oleh Kise, maka Kuroko menyetujui ajakan Kise untuk bertemu di salah satu café yang cukup terkenal di daerah Kyoto.

Pemuda dengan surai baby blue itu baru saja turun dari bus, di halte yang ada di dekat tempat tujuannya. Kuroko berjalan kearah jembatan penyebrangan yang ada dan segera menuju ke café yang dituju. Saat memasuki café tersebut, terlihat bahwa tempat itu sudah penuh, café ini memang terkenal dikalangan anak muda. Pandangan mata Kuroko menyeluruh di setiap meja yang ada, mencari sosok berambut kuning.

"Kurokocchi~" panggil Kise, seraya melambaikan tangannya, Kise Ryouta duduk di meja paling ujung dan bersebelahan dengan taman yang memang disediakan oleh pihak café. Kuroko berjalan menghampiri Kise.

"hisashiburi ne… kangennya~~~ . Peluuk~~" Kise yang hendak memeluk Kuroko, segera dicegah Kuroko dengan mendorong kepala Kise menjauh darinya.

"lama tak berjumpa juga Kise-kun."

"huhu, hidoi-ssu. Aku kan pengen peluk Kurokocchi.." rengek Kise, yang hanya di tanggapi datar oleh Kuroko.

"sama sekali tak berubah."

"benarkah? Hehe. Tapi Kurokocchi tambah manis ya… ittei!" jerit Kise di akhir kalimatnya, tentu saja Kise menjerit, karena kakinya di injak Kuroko dengan kejamnya.

"siapa yang manis?"

"huee… nggak ada kok. Kenapa sih Kurokocchi nggak mau disebut manis-ssu?" yah sejak awal mereka bertemu, Kuroko memang paling nggak suka disebut manis, lagian cowok mana coba yang mau di puji dengan kata manis. Itu mau muji apa mau ngejek sih.

"aku ini lelaki." deklarasi Kuroko, masih tetap dengan poker face andalannya. Sedikit banyak membuat Kise jadi rada keder juga mendengar suara datar dan poker face milik Kuroko.

"iya, iya… ah iya, ini alamat dan nomer telpon serta e-mailku. Jadi kalau Kurokocchi ada butuh sesuatu atau hanya sekedar iseng, bisa menghubungiku kapanpun dimanapu." Ujar Kise semangat, nggak sadar apa kalau dia ini calon pilot, yang artinya nggak bisa setiap saat dihunbungi.

"arigatou." Tapi diterima juga sama Kuroko, tak lama pesanan mereka datang. Mereka berdua ngobrol tentang hal hal kecil di sekitar mereka, sebenarnya hanya Kise saja sih yang dari tadi ngoceh. Kuroko hanya menanggapinya dengan gumaman ataupun anggukan sambil menyesap milkshakenya.

"jadi, Kurokocchi sekarang punya dua pekerjaan sekaligus? Wah hebatsekali-ssu." Puji Kise.

"hm."

"oh iya, apa menyenangkan menjadi seorang psikolog pendamping-ssu?" tanya Kise, lagi.

"menyenangkan, tapi juga merepotkan. Apalagi kalau sudah dapat pasien yang…banyak maunya." Tutur Kuroko, mengingat bagaimana tingkah Akashi Seijuuro.

"apa pasien Kurokocchi kali ini sangat childish?"

"setidaknya dia masih mending daripada kau yang menjadi pasienku, Kise-kun." Celetuk Kuroko dengan kejamnya, membuat Kise nangis ditempat.

"huhu… hidoi-ssu.." rengek Kise. Mereka terlihat menikmati waktu mereka, sampai tak sadar ada sepasang mata berwarna merah yang mengawasi mereka dan menatap Kise tak suka. Salah satu dari iris ruby tersebut berubah menjadi warna emas. Menampakkan iris heterokrom yang amat sangat jarang terjadi.

Siapa lagi kalau bukan Akashi Seijuuro yang sedari tadi mengawasi dua pemuda bersurai baby blue dan kuning. Nggak mau menahan kesal di hati terlalu lama, akhirnya Akashi memutuskan untuk pergi meninggalkan café tersebut dan segera pulang. Akan ia hokum nanti Tetsuya-nya di rumah. Belum apa apa juga, udah mendeklarasikan kalau Kuroko Tetsuya itu milikmu, dasar seenaknya saja.

.

.

.

.

.

To be continued….

Ehehehe… bagaimana chap 2 ini?

Kurang greget dan memuaskan ya?

Hahaha, Kuu sadar itu kok. Kan Kuu udah ragu diawal buatnya. Nyahaha.

Chap 2 ini tergolong sedikit ya?

Yah, itu karena Kuu mau sesuaikan sama jalan ceritanya. Ntar kalo Kuu nargetin sekian word, takutnya nggak bisa sesuai sama alur cerita yang ada di otak Kuu, dan akan berakhir dengan discontinued lagi, parah kan? Jadi segini aja deh. :D

Nah, mau mereview? Silahkan…