You're my beloved doctor
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
You're my beloved doctor © Akuma Kurama
Rate T
Romance
AkaKuro
and other
Awas! Sho-ai, yaoi, BL, typo dimana mana, cerita pasaran, bahasa nggak jelas jluntrungannya. Bahasa Indonesia sih, tapi nggak baku, alias nggak sesuai dengan EYD. Ini fanfic keduaku di fandom KuroBas, jadi semoga kalian semua suka ya.
Chap 3
-Akashi mulai bergerak-
Kuroko segera menuju ke kediaman Akashi setelah tadi berpamitan dengan Kise, dia saat ini ada di depan gerbang kediaman Akashi, menunggu pintu dibukakan.
"Kuroko-san, silahkan masuk. Seijuurou-sama berada di kamarnya, sedang menunggu anda." Ternyata yang menyambut kedatangan Kuroko adalah kepala pelayan keluarga Akashi, Tanaka-san [asli, Kuu ngarang banget nama butlernya, ngikut2 senior yang udah pada pengalaman buat fic di fandom ini].
"terima kasih, Tanaka-san. Permisi." Kuroko segera berjalan menuju ke kamar sang tuan muda Akashi yang ada di lantai dua kediaman ini. Rumah besar ini nggak akan begitu menyulitkan Kuroko untuk menghafal letak kamar pasiennya.
Tok… tok…
Pemuda bersurai baby blue itu mengetuk kamar yang sangat ia yakini bahwa itu adalah kamar si pasien. Setelah beberapa kali ia mengetuk pintu, baru ada sahutan dari sang pemilik kamar.
"masuklah Tetsuya." Perintah pewaris tunggal keluarga Akashi itu. Tanpa menunggu lama, Kuroko membuka pintu kamar yang besar dan tinggi itu. Terlihat Akashi tengah duduk di tepi jendela, menatap pemandangan yang ada di luar kamarnya.
"Akashi-kun. Maaf menunggu lama." Pinta Kuroko, dia segera meletakkan tasnya di meja dorong yang kemarin ia gunakan, lalu mulai menyeduh teh khusus buatannya, atau kalian bisa menyebut itu obat klasik ala Kuroko yang berwujud teh.
"apa urusanmu sudah selesai." Tanya Akashi dengan nada datar, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"iya. Bisa kita mulai pengobatannya?" tanpa menjawab pertanyaan Kuroko, Akashi beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan ke ranjang king size miliknya, lalu mendudukan diri di ujung ranjang tersebut. Menunggu Kuroko menghampirinya.
"sebelumnya, tolong Akashi-kun minum ocha ini dulu." Kuroko menyodorkan teh buatanya ke Akashi. Menunggu sampai pemudai itu menghabiskan isinya. Dan selanjutnya, pengobatan psikis ala dokter Kuroko pun dimulai. Yah, ini adalah proses pengobatan yang sebenarnya.
Kuroko mencoba untuk membuat tubuh dan pikiran Akashi rileks dan tenang, tapi entah kenapa Akashi tak mau melakukannya, padahal berbagai cara sudah Kuroko lakukan. Bukan Kuroko Tetsuya namanya kalau ia tak memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapi pasiennya yang satu ini.
"Akashi-kun. Tolong rilekskan pikiranmua. Jangan memikirkan hal lainnya dulu." Tegur Kuroko akhirnya. Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan atau lebih tepatnya apa yang ada di pikiran pemuda merah ini, sampai nggak bisa rileks? Ternyata Akashi masih kepikiran dengan keakraban yang terjalin antara Kuroko dan Kise.
"Akashi-kun, apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Kuroko.
"kau dan pemuda bersurai kuning yang kau temu tadi." Jawab Akashi jujur. Jawaban Akashi sedikit banyak membuat Kuroko agak terkejut. Apakah pemuda bermata heterokrom ini tadi mengikutinya? Dan jawabanya sudah sangat jelas.
"lalu? Apa hubungannya dengan dirimu yang tak bisa rileks?" Akashi mencengkram lengan Kuroko, menarik pemuda beriris ocean blue itu mendekat. Yang tanpa disangka, tubuh Kuroko terasa ringan, hingga sang dokterpun jatuh kedalam pangkuan pasiennya ini.
"apa hubunganmu dengannya? Kenapa tadi kalian begitu dekat?" tanya Akashi Seijuurou, manik heterokromnya menatap langsung ke dalam manik ocea blue milik Kuroko, membuat si pecinta milkshake itu mengernyit heran. Bukankah wajar kalau seorang teman itu akrab?
"kami berteman, dia temanku saat di Perancis. Ada yang salah dengan itu, Akashi-kun?" entah sadar atau tidak, Kuroko masih di posisi semula, berada di pangkuan Akashi, dengan tangan Akashi yang masih mencengkram lengan Kuroko. Posisi yang ehem… bisa membuat salah sangka, mungkin?
"benarkah? Kurasa si kuning itu menyukaimu, dalam artian yang berbeda tentu saja." Perkataan Akashi memang seratus persen benar, dan Kuroko juga sedikit banyak menyadari akan perasaan Kise Ryouta.
"misalkan iya, apa hubungannya dengan Akashi-kun?" tanya Kuroko berani, masih tetap setia diposisinya, menatap balik ke manik heterokrom milik si merah.
"karena kau milikku, Tetsuya." Klaim Akashi secara sepihak, tanpa aba-aba, Akashi mendekap tubuh mungil Kuroko, menghirup aroma sweet vanilla dari surai baby blue di depannya.
"eh? Akashi-kun, tolong lepaskan aku.." Kuroko meronta dari pelukkan Akashi, dia mencoba mendorong dada bidang Akashi pelan. Bagaimanapun ia tak mau menyakiti perasaan si merah.
"tidak."
"Akashi-kun… tolong lepaskan aku. Aku butuh penjelasan atas klaim yang kau tujukan padaku tadi." Akashi tetap bersikeras memeluk Kuroko, bahkan semakin mengeratkan dekapannya, ia dorong kepala Kuroko di ceruk lehernya sendiri.
"karena sejak awal, kau telah menawan hatiku, Tetsuya." Jawab Akashi, detak jantung dan emosinya relative tenang, membuat Kuroko tak percaya akan apa yang diungkapkan Akashi baru saja. Bagaimanapun kalau seseorang menyatakan rasa ketertarikkannya pada orang lain, setidaknya ia akan merasa gugup, atau paling tidak detang jantungnya sedikit bergemuruh. Tapi rupanya itu tak berlaku untuk pemuda pecinta gunting ini.
"Akashi-kun. Kau tau dna sadar kan atas apa yang baru saja Akashi-kun ucapkan? Kita ini sesame lelaki, dan hal tersebut tidak seharusnya Akashi-kun miliki." Kuroko berusaha untuk bersikap professional dan pengertian, sikapnya sebagai seorang psikolog.
"kau milikku." Tegas Akashi dengan suara dingin dan datar, yang mengisyaratkan bahwa apa yang ia katakana barusan sama sekali tak bisa di ganggu gugat.
"baiklah baiklah… tapi lepaskan dulu pelukkanmu." Pinta Kuroko. Sebagai seorang dokter psikis sekaligus orang yang lebih tua dari sang Akashi muda, Kuroko harus bersikap dewasa dan membimbing Akashi Seijuurou kembali ke jalur yang benar.
"tidak."
"eh?"
"aku lebih rileks jika tetap seperti ini, jadi Tetsuya… kau bisa melanjutkan pengobatanmu." Dan Akashi menyandarkan kepalanya di bahu Kuroko, menumpukkan setengah berat badannya ke pemuda yang lebih kecil darinya ini.
"hahh… baiklah.." menghela napas sejenak, akhirnya Kuroko berhenti protes dengan perilaku Akashi, sekarang dia benar benar akan memulai pengobatannya.
[°°°]
Akashi Seijuurou. Pemuda bersurai merah ini tengah duduk di pembatas balkon kamarnya, dengan sebuah gelas berisikan teh hijau di tangan kanannya. Malam ini dia menikmati keindahaan malam, serta suara merdu yang tercipta. Seulas senyum terukir di wajahnya yang rupawan.
"Kuroko Tetsuya hanya milik Akashi Seijuurou semata, sekarang dan selamanya." Deklarasi si heterokrom muda itu, lalu meminum cairan berwarna hijau khas teh dan kembali memandang langit kelam yang ada di atasnya.
Apa yang membuat seorang Akashi Seijuurou terlihat senang seperti itu? Kalau kita melihat ke dalam kamar sang emperor, maka kalian akan menemukan jawabannya. Di sana, di ranjang king size milik pemuda merah itu, terbaring sesosok pemuda bersurai baby blue yang tengah pulas tertidur, dengan sebuah selimut yang menutupi tubuhnya sampai dada.
Ternyata tadi Akashi berhasil membuat Tetsuya-nya untuk stay di kediaman Akashi yang sangat besar ini, tinggal satu atap dan satu kamar dengan dirinya. Atau akan lebih tepat dikatakan, jika dirinya telah berhasil memaksa seorang Kuroko Tetsuya untuk tinggal bersamanya. Tanpa ancaman sedikitpun!
"…." Akashi melamun, setelah tadi memikirkan hal menyenangkan, entah kenapa pikirannya kembali ke tragedy yang membuatnya harus kehilangan kedua orang tuanya. Mengingat tentang kecelakaan itu, membuat pandangan heterokrom itu kosong dan dingin.
"Akashi-kun?" sebuah suara berhasil mengusik acara melamunnya, suara lirih tapi mampu di dengar Akashi, karena suara itu begitu special dan berbeda di pendengarannya. Terlihat Kuroko yang duduk dan sedikit mengucek matanya. Sepertinya angin dingin malam hari telah mengusik mimpi sang dokter.
"ya Tetsuya." Dengan perlahan, Kuroko turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Akashi yang ada di balkon. Ia juga membawa selimut yang tadi dikenakannya bersamanya.
"kenapa belum tidur? Bukankah aku sudah setuju untuk tinggal disini bersamamu? Diluar juga dingin." Kuroko menyelimutkan kain yang tadi dibawanya, merapatkannya ke tubuh si pasien.
"hanya menikmati malam. Apa aku membangunkanmu?" tanya Akashi, ia usap pipi pucat milik Tetsuyanya.
"tidak. Hanya saja kau harus tidur, jangan memikirkan tentang kejadian yang telah lalu." Harus Akashi akui, kalau kemampuan Kuroko untuk menganalisa keadaan psikisnya sangat hebat. Padahal dia sama sekali tak bilang dan menutupi kenangan masa lalunya tadi.
"Tanaka memang tidak salah dalam memilih dokter. Dia juga tau bagaimana seleraku." Secara reflek, Akashi mengecup kening Kuroko dan berjalan menuju ke ranjang mereka. Meninggalkan Kuroko di belakang yang mematung karena kejadian barusan. Ah sepertinya ini akan jadi malam pertama Kuroko yang terus memikirkan kecupan singkat dari pasiennya ini.
.
.
.
.
.
To be continued…..
Hmm… bagaimana?
Chap 3 ini, apa sesuai dengan selera minna-tachi sekalian?
Maaf ya disini Kuu buat Akashi maupun Kuroko OOC banget.
Kalau buat masalah kenapa Kuroko mau aja dikalim ama Akashi, itu karena dulu Kuroko juga mengalami hal mengerikan, yaitu kehilangan kedua ortunya, bedanya ortunya itu meninggal karena pembantaian. Dia tau betul gimana kondisi psikis Akashi seandainya ia melawan klaim tersebut.
Wah benar-benar dokter yang baik ya… ^^
Maaf ya kalau ceritanya membosankan. Habis Kuu sama sekali nggak tau apa-apa tentang Psikologi. Nyehehe.
Uhm… ada yang mau review?
Arigato na… dah mau baca, :D
