You're My Beloved Doctor
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
You're my beloved doctor © Akuma Kurama
Rate T
Romance
AkaKuro
and other
Awas! Sho-ai, yaoi, BL, typo dimana mana, cerita pasaran, bahasa nggak jelas jluntrungannya. Bahasa Indonesia sih, tapi nggak baku, alias nggak sesuai dengan EYD. Ini fanfic keduaku di fandom KuroBas, jadi semoga kalian semua suka ya.
Chapter 4
-pengakuan-
Genap satu bulan Kuroko Tetsuya tinggal sekamar dengan Akashi Seijuro. Sia-sia sudah apartemen yang ia sewa. Sejak kecil, Kuroko memang sudah berdomisili di London, Inggris. Dia pulang ke Jepang karena urusan pekerjaannya saja. Dia tinggal bersama kedua orangtuannya di London, di Jepang, Kuroko hanya memiliki saudara dari pihak sang ibu.
Pagi ini, Kuroko mendapat telpon dari Tetsuna, Ibunya, yang menyuruh Kuroko untuk berkunjung ke rumah sang nenek yang ada di Kyoto. Permintaan sang ibu tentu saja di sanggupi oleh Kuroko, dia berencana akan berkunjung ke Kyoto nanti setelah pulang dari sekolah.
"Akashi-kun…." Panggil Kuroko, sejak Kuroko bekerja di SMA Rakuzan, Akashi Seijuuro pasti selalu berada di ruang kesehatan setiap dua mata pelajaran terakhir sebelum bel pulang. Saat ini Akashi sedang bebaring di salah satu bilik yang dekat dengan meja kerja Kuroko.
"ada apa, Tetsuya?"
"aku ingin berkunjung ke rumah nenekku yang ada di Kyoto, mungkin akan menginap. Jadi aku meminta ijin padamu. Apa Akashi-kun mengijinkanku?" tanya Kuroko, menatap Akashi yang masih terbaring di balik tirai.
"baiklah." Setelah diam selama beberapa saat, Akashi memberikan ijin yang diminta Kuroko. Jawaban Akashi tentu saja membuat Kuroko senang, tapi sayang sekali Kuroko tak dapat melihat sebuah senyum yang terpatri di wajah Akashi.
"terima kasih Akashi-kun…"
"dimana alamat rumah nenekmu?"
"ada di xxxxx."
"hm." Akashi hanya bergumam untuk menanggapi jawaban Kuroko, ah dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan Akashi bisa menyusul Kuroko nantinya, atau mengikuti si biru, mungkin lebih tepat di sebut stalker dadakan?
"terima kasih Akashi-kun." Ah kalau aja kamu tau niat asli Akashi, aku yakin kamu tak akan berterima kasih padanya, Kuroko.
Kuroko sudah duduk di salah satu kursi yang ada di kereta menuju kearah Kyoto. Rencananya dia akan menginap di rumah sang nenek selama akhir pecan ini. Sudah lama sekali Kuroko tak mengunjungi sang nenek, terakhir dia berkunjung adalah saat ia berusia enam belas tahun, yang berarti empat tahun yang lalu.
"apa nigou baik-baik saja ya? Pasti sekarang dia sudah besar…" gumam Kuroko, teringat dengan bayi anjing yang dulu pernah dia bawa untuk sang nenek.
Kereta yang di tumpangi Kuroko mulai berjalan, meninggalkan stasiun. Kuroko memilih untuk beristirahat selama perjalanan, karena butuh waktu sekitar lima jam sampai ia tiba di tempat tujuan. Kuroko sama sekali tak menyadari sepasang mata yang selalu mengawasinya, hamper selama perjalanan menuju Kyoto.
"bangun tuan… kereta sudah tiba di stasiun terakhir." Kata seorang petugas yang membangunkan Kuroko, karena sudah tiba di pemberhentian terakhir.
"ngh… ah, iya. Terima kasih." Kuroko segera terbangun dari tidurnya, mengucek sebelah matanya dan mengambil tas yang berisi baju gantinya. Setelah petugas kereta tersebut pergi, Kuroko juga segera turun dari kereta.
Pemuda bersurai baby blue ini sengaja tak mengabari sang nenek kalau dia berkunjung, Kuroko berniat untuk member kejutan pada sang nenek. Karena rumah nenek Kuroko dengan stasiun kereta cukup dekat, Kuroko memutuskan untuk berjalan kaki saja, sekaligus menikmati udara dan pemandangan yang sudah empat tahun ini tidak dirasakannya.
Karena terlalu menikmati perjalanannya, Kuroko sampai tak sadar kalau di depannya ada seseorang, hingga tanpa sengaja ia menabrak punggung besar milik seseorang tersebut.
"aduh.." ringis Kuroko pelan sambil mengusap hidungnya, sedangkan orang yang ia tabrak tadi menoleh ke belakang, niat awal ingin memaki orang yang telah menabraknya, tapi urung.
"Tetsu?! Kau benar Tetsu bukan?" seseorang yang tadi di tabrak Kuroko terlihat mencengkram kedua bahu Kuroko lalu menggoyang goyangkannya cukup keras.
"aduh… Aomine-kun… tolong hentikan…" pinta Kuroko yang baru menyadari, bahwa orang yang ditabraknya barusan adalah Aomine Daiki, teman kecilnya dulu.
"waah…. Ternyata ini benar kau, Tetsu!" seru Aomine, yang langsung memeluk Kuroko dengan erat, tak menyadari tatapan membunuh yang dilayangkan seseorang entah dari mana.
"se..saak.. kh.. Aho..mine…" rintih Kuroko, napasnya tercekat karena Aomine memeluk tubuh kecilnya terlalu erat. Benar benar membuatnya sesak napas.
"ehehe…. Maaf… ah, sudah lama sekali kita tak bertemu, Tetsu. Ayo mampir ke rumah." Ajak Aomine, menarik tangan Kuroko untuk mengikutinya.
"Aomine-kun… berhenti." Mendengar permintaan Kuroko, Aomine langsung berhenti.
"kenapa?"
"aku kemari untuk mengunjungi nenek dan Nigou.. nanti aku akan mampir ke rumahmu."
"hmm… baiklah, aku akan ikut berkunjung ke rumah nenekmu. Ayo!" lagi-lagi, tangan kanan Kuroko ditarik oleh Aomine dengan seenaknya. Sifat teman kecilnya ini dari dulu memang tak pernah berubah. Mereka berdua akhirnya tiba di kediaman keluarga Kuroko, rumah yang cukup besar, dan bergaya tradisional Jepang.
"meskipun tak sering, tapi aku selalu mengunjungi nenekmu. Dia terlihat begitu energik saat terakhir kali aku kemari." Aomine mulai bercerita, Kuroko sudah membuka pintu depan, lalu mereka berjalan menuju tempat diaman neneknya selalu ada, kebun.
"benarkah? Berarti beliau sehat sehat saja kan?"
"yups! Kau benar."
"nenek.." panggil Kuroko lirih, lalu memeluk neneknya saat sang nenek menoleh. Hal itu tentu saja membuat sang nenek kaget, karena tiba-tiba dipanggil dan dipeluk begitu saja.
"Tetsuya? Ini kau? Ya tuhan.. kau tumbuh besar rupanya… nenek rindu sekali padamu, Tetsuya…" setelah menyadari siapa yang memeluknya, nenek akhirnya balas memeluk Kuroko dengan berlinang air mata haru. Aomine yang melihat adegan itupun ikut terharu.
Akhirnya Aomine ikut makan malam di kediaman Kuroko, mereka menikmati masakan sang nenek yang tadi di bantu Kuroko, ah pemuda biru ini memang serba bisa, calon suami idaman eh? Atau lebih tepat calon uke idaman? untuk pemikiran terakhir itu hanya akan muncul di benak para seme.
"Daiki, kemana istrimu?" tanya nenek Kuroko saat sadar, bahwa Aomine bertandang kerumahnya hanya seorang diri, tanpa Momoi, sang istri, disampingnya.
"dia ada dirumah, nek." Jawab Aomine santai.
"eh? Aomine-kun sudah menikah? Kapan? Kenapa tidak mengundangku?" tanya Kuroko yang baru dengan kalau Aomine sudah menikah.
"hehe, enam bulan lalu, maaf takmengundangmu, tetsu. Saat itu kami tak tau dimana alamat pasti rumahmu, jadi ya… begitulah." Jawab Aomine merasa agak nggak enak terhadap Kuroko.
"tak masalah kok. Selamat ya Aomine-kun… apa kau menikahdengan Momoi-chan?" tebak Kuroko, Aomine hanya mengangguk dengan wajah tersipu, pasalnya sejak kecil ia dan Momoi selalu saja bertengkar, tapi siapa sangka kalau ia akan menjadi suami dari gadis cerewet itu. Dan haripun berganti…
Pagi terakhir Kuroko dirumah sang nenek, dia memutuskan untuk berlari pagi bersama Nigou, anjingmilik neneknya. Kata Aomine sih mata mereka sama, sama-sama datar tanpa ekspresi. Meski begitu, Kuroko tak marah karena disebut sama dengan Nigou.
"bukankah ini pagi yang cerah, Tetsuya?" sebuah suara yang sangta dikenal Kuroko menginterupsi kegiatannya, tanpa sadar membuat Kuroko menghentikan larinya dan menoleh ke samping, kearah bangku taman yang diduduki oleh seseorang yang sangat ia kenal.
"Akashi-kun? Bagaimana kau ada disini?" tanya Kuroko, dia mendekat kearah Akashi dengan membawa Nigou. Nigou yang biasanya menyalak galak terhadap orang asing yang tak dikenalnya, entah kenapa saat ini terlihat diam dan menurut saat Akashi mengelus kepalanya.
"Kyoto adalah tempat kelahiran ayahku. Dan aku sedang berlibur disini.. hmm… ajingmu ini, matanya mengingatkanku padamu. Tetsuya." Kuroko tau itu bukan pujian, tapi kenapa dia merasa dipuji?
"begitukah? Kapan Akashi-kun datang?"
"kemarin." Jawab Akashi, tentu saja jawabannya ini bohong belaka, karena yang mengikuti Kuroko sejak di stasiun kereta adalah dirinya.
"dan, Tetsuya… kenapa kau terlihat begitu akrab dengan manusia hitam itu?"
"manusia hitam?" tentu saja Kuroko heran, siapa yang dimaksud Akashi, dan kenapa nada yang digunakan Akashi terkesan kalau dia tengah cemburu? Pikiran yang baru saja terlintas di benak Kuroko, segera ia hilangkan.
"ya. Pemuda dekil dengan rambut dark blue itu."
"maksud Akashi-kun… Aomine-kun?" Akashi hanya mengangguk.
"uhm.. tapi, kenapa Akashi-kun tau Aomine-kun? Seingatku Aomine-kun dan aku bertemu itu… jum'at sore dua hari lalu… bukankah Akashi-kun bilang, baru tiba kemarin?" Aashi terpaku dengan argument yang Kuroko lontarkan, bagaimana bisa dia lupa saat itu hari apa? Apakah rasa cemburunya terlalu besar?
"aku mengikutimu, karena kau hanya milikku, Tetsuya. Kau hanya milik Akashi Seijuurou." Akashi berdiri dari duduknya, dan dengan cepat, Akashi sudah mendekap Kuroko ke dada bidangnya, memeluk pemuda yang tingginya hamper menyamai dirinya.
"karena aku menyukaimu, Tetsuya. Jadi kau hanya milikku. Dan semua ucapanku adalah absolute." Tegas Akashi, semakin mengeratkan pelukkannya, melupakan Nogou yang kini hanya menatap dua pemuda yang berbeda warna itu berpelukkan, lebih tepat kalau Akashilah yang memeluknya.
.
.
.
.
.
To be continued…
Waaaaah… Akhirnya KUu bisa kelarin chap ini.
Hmm… kira-kira seperti apa ya reaksi Kuroko? Ah Akashi mau menangnya sendiri nih. Hehehe..
Mind to review?
A-K
