You're My Beloved Doctor
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
You're my beloved doctor © Akuma Kurama
Rate T
Romance
AkaKuro
warn: yaoi/BL/Shou-Ai, OOC mungkin, typo, bahasa nggak baku, abal, dan teman-temannya. Tapi Kuu harap kalian mau baca cerita ini. Hehe.
.
Chapter 5
-jawaban-
.
.
"Akashi-kun…"
"apa?"
"bisa tolong lepaskan pelukanmu, tidak enak dilihat orang-orang"
"kau berani memerintahku?"
"aku tidak memerintah Akashi-kun, tapi apa Akashi-kun tidak malu dilihat orang seperti ini?" elak Kuroko.
"tidak, lagipula kita tidak melakukan hal yang memalukan." sahut Akashi, semakin mengeratkan pelukkannya. Menenggelamkan Kuroko dalam kungkungannya.
"hahh.." terdengar helaan napas dari pemuda bersurai baby blue tersebut. Tuan muda yang memperkerjakannya ini memang egois dan mau menangnya sendiri, Kuroko harus sabar menghadapinya.
"ayo pulang." Ajak Akashi, melepaskan pelukkannya, tapi berganti mengenggam erat tangan kiri Kuroko.
"baiklah." Kuroko hanya bisa menurut dan mengikuti kemana arah Akashi melangkah, tentu saja Nigou ada dibelakang mereka.
Akashi membawa Kuroko menuju kerumah nenek Kuroko. Tentu saja pemuda pemilik surai merah ini tau rumah sang nenek Kuroko, karena dia telah menyelidiki semuanya, kalau tidak mau dibilang mengikuti Kuroko selama ia ada di Kyoto.
"Akashi-kun, mau mampir dulu?" tawar Kuroko
"ya." Setelah mempersilahkan Akashi, mereka berdua memasuki rumah tradisional jepang yang terawat dengan baik. Ternyata selera nenek Kuroko dengan ayah Akashi tidaklah jauh berbeda.
"tadaima.."
"okaerinasai, Tetsuya datang bersama siapa?" tanya sang nenek dari dalam ruang makan, disana sudah tersedia sarapan yang tadi dibuat sang nenek.
"nenek, ini Akashi-kun, pasienku di Tokyo." Kuroko mengenalkan Akashi kepada sang nenek, tapi sepertinya Akashi sedikit tidak senang karena hanya dianggap pasien saja oleh Kuroko.
"ohayou gozaimasu, nenek. Saya Akashi Seijurou, kekasih Tetsuya." Sapa Akashi ramah dan sopan, tapi diakhiri dengan kalimat yang mampu membuat wajah Kuroko terkejut. Sayangnya nenek Kuroko malah terlihat menerima perkataan Akashi dengan baik.
"benarkah? Beruntung sekali Tetsuya mendapatkan kekasih sepertimu, anak muda. Tolong jaga dan lindungi cucu nenek ini ya, Akashi-kun." Pinta sang nenek, dan persetujuan dari nenek Kuroko mendapatkan dua tanggapan berbeda, Akashi yang senang karena mendapat restu, dan Kuroko yang tak kalah terkejut dari reaksi awalnya tadi.
"tentu saja." Sahut Akashi, merasa sudah mendapat restu dari sang nenek, Akashi lebih berani sekarang, memeluk pinggang Kuroko dengan posesif.
"ikutlah sarapan dengan kami, Akashi-kun." Tawar nenek Kuroko.
"baik nek."
"Akashi-kun.. tolong lepaskan pelukanmu, aku akan menyiapkan makanan lebih dulu." Kata Kuroko yang mencoba melepaskan pelukan Akashi dari pinggangnya.
"hmm.." dan Akashi melepaskan pelukannya. Dia memperhatikan Kuroko yang berjalan menuju dapur dan menyiapkan sarapan, lengkap dengan ocha untuk semuanya.
"Akashi-kun sudah bekerja?" tanya sang nenek.
"saya masih sekolah nek, tapi sudah mempunyai usaha sendiri." Jawab Akashi kalem.
"tidak usah terlalu formal dengan nenek, Akashi-kun. Berarti kamu lebih muda dari Tetsuya?"
"iya nek."
"hmm... kamu yakin bisa menjaga Tetsuya bukan?"
"sangat yakin." Jawab Akashi mantap, ah sepertinya dia sendang diintrogasi oleh nenek Kuroko,
"anak itu, dia lemah dalam hal kekuatan fisik, tapi bukan berarti Tetsuya tidak sehat, dari kecil fisiknya memang lemah. Dia juga lebih suka memendam segala masalahnya sendiri daripada berbagi dengan orang lain, bahkan pada nenek sekalipun." Jelas nenek Kuroko, menceritakan pribadi cucunya pada pemuda yang dia percayai mampun menjaga cucu satu-satunya tersebut.
"tapi semoga dia mau berbagi rahasia dan masalahnya denganmu, juga semoga kamu tidak keberatan dengan hal itu, Akashi-kun" lanjut sang nenek.
"tentu nek. Aku sama sekali tidak keberatan dengan itu." Tepat setelah Akashi menyahuti ucapan nenek, Kuroko datang membawa nampan berisi sarapan pagi, dan menatanya dimeja makan. Lalu pemuda manis tersebut kembali lagi kedapur untuk mengambil ocha yang sudah disiapkannya tadi.
"nah, mari kita berdoa dan mulai makan." Ajak nenek, mereka bertiga berdoa dan mengucapkan ittadakimasu bersamaan. Tak lupa sarapan untuk Nigou sudah Kuroko siapkan.
.
.
Beloved Doctor
.
"Tetsuya berencana kembali ke Tokyo jam berapa?" tanya nenek, memecah keheningan setelah selesai makan.
"malam ini nek. Maaf aku tidak bisa terlalu lama mengunjungi nenek."
"tidak apa..."
"lain kali kita akan mengunjungi nenekmu lagi, Tetsuya." Sahut Akashi, dia tidak suka melihat raut sedih di wajah Tetsuya-nya.
"eh? Akashi-kun mengijinkanku?"
"ya, asalkan kau pergi bersamaku."
"baiklah." Nenek Kuroko tertawa renyah memperhatikan interaksi antara cucunya dan Akashi, dia senang karena cucunya mempunya seseorang seperti Akashi Seijurou.
"nenek akan menantikan kalian berdua untuk mengunjungi nenek lagi" Kuroko menatap neneknya sendu, tapi seulas senyum tulus terukir di wajahnya. Membuat hati Akashi senang meskipun tidak nampak di wajahnya yang datar.
"pasti nek. Sekarang nenek istirahat saja. Aku akan menyiapkan barangku." Kuroko menuntun neneknya menuju ke kamar sang nenek, memang setiap dirinya pulang, Kuroko selalu memanjakan sang nenek.
"kau terlalu memanjakan wanita tua ini, Tetsuya..." gurau neneknya. Tapi Kuroko sama sekali tidak peduli dan tetap membawa sang nenek.
"itu tidak menjadi masalah untukku, karena nenek adalah nenekku." Kuroko menyediakan dudukan khusus milik sang nenek, dia letakan dudukan tersebut mengarah ke pekarangan disamping rumah, memperlihatkan kolam ikan dan pohon sakura yang tumbuh ditepinya.
"kau benar-benar cucu kesayangan nenek, nak."
"memangnya cucu nenek ada berapa?" canda Kuroko.
"hanya dirimu." Dan pasangan nenek dan cucu tersebut tertawa renya, sebelum sang nenek menyuruh Kuroko untuk menemani Akashi diruang tengah.
.
.
Beloved Doctor
.
"Akashi-kun... kenapa bicara seperti itu didepan nenek tadi?" tanya Kuroko, saat ini mereka berdua sudah ada di beranda belakang rumah.
"kenapa? Karena kau milikku Tetsuya." Jawab Akashi, sama sekalli tidak mau dibantah. Lagi-lagi Kuroko hanya bisa menghela napas lelah.
"ternyata Akashi-kun benar-benar egois." Dan tanpa sengaja Kurokopun menyuarakan pikirannya.
"ya, aku egois terhadap segala hal yang menjadi milikku. Kaulah yang sudah membuatku begini." Jawaban santai dari Akashi malah semakin membuat Kuroko lelah. Memang sih kalau dirinya merasakan suatu friksi aneh didalam hatinya setiap kali ia berada dekat dengan tuan muda ini, tapi Kuroko tidak tau apa arti dari friksi tersebut. Karena selama hidupnya, Kuroko belum pernah sekalipun merasakan yang namanya cinta.
"ada apa hm?" Akashi menarik Kuroko untuk duduk dipangkuannya, memeluk tubuh mungil tersebut dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu kanan milik Tetsuya-nya.
"Akashi-kun..." Kuroko terkejut atas tindakan Akashi ini.
"ya?"
"tolong, jangan seperti ini..." cicit Kuroko, tuan dari Nigou ini menundukan kepalanya dalam, jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dan wajahnya terasa panas.
"kenapa? Apakah kau berdebar-debar?" goda Akashi saat dirinya merasakan detak jantung Kuroko berpacu lebih cepat. Ternyata dokternya ini memiliki perasaan khusus padanya.
"ke, kenapa Akashi-kun bisa tau?"
"aku mendengarnya.. otu berarti dirimu juga memiliki perasaan yang sama denganku Tetsuya. Jadi jangan menolakku lagi." Ungkap Akashi, mengeratkan pelukannya, dia bahkan mengendus aroma vanila dari perpotongan leher Kuroko. Membuat pemuda bersurai baby blue tersebut mendesah pelan.
"hentikan, Akashi-kun..." pintanya melas.
"untuk apa? Kalau kaupun juga menyukai tindakanku." Tolak Akashi, ia yakin karena dirinya melihat rona merah yang menjalar sampai ke cuping telinga Kuroko. Dan mereka berdua melanjutkan kegiatan tersebut tanpa memperdulikan kondisi disekitar mereka. Menyelami dunia baru yang masih sangat asing bagi seorang Kuroko Tetsuya. Dan terasa sangat menyenangkan bagi Akashi Seijuro, karena berhasil menaklukan dokter kesayangannya.
.
.
.
FIN.
a/n: selesai deh. Hehe, maaf ya buat kalian yang kecewa dengan chap ini, maupun cerita yang Kuu buat ini. Kuu bukan tipe orang yang bisa membuat konflik berat ataupun cerita yang kompleks. Kuu hanya bisa segini aja, buat cerita yang terkesan simpel dan sederhana serta nggak bermutu. Hehe. Sampai jumap di cerita Kuu yang lain [kalo ada kesempatan, Kuu akan coba publish cerita KnB pertama yang Kuu buat] dan terima kasih buat semuanya yang sudah mau baca dan review cerita kuu ini. :D #bow
thanks to:Akashi lina, The Red Bloody Scissors, Bona Nano, LiaZoldyck-chan, svetthyana22, guest, sofi asat, Thalia Tetsuna, Flow . L. atas dukungan kalian selama ini... :D
Last, review kudasai...
