Present "Naked" by Raine Miller
This is Raine Miller's Story. Saya hanya me-remake. But…
Enjoy it!
Warning Typo(s) , GS.
Cast : Do Kyungsoo (girl), Kim Jongin, etc.
If you don't like, just don't read!
No bash!
This story written from Kyungsoo's side.
IT'S NOT FOR CHILD
BAB 5
Jongin masih terus menatapku, bahkan setelah seks yang buru-buru kami mereda dan setelah ia meninggalkan tubuhku. Dia melepaskan kondom, mengikat dan menyingkirkan barang bukti. Tapi kemudian dia segera kembali, mamandangku lagi, matanya menyapu tubuhku, menunggu reaksiku dari apa yang baru saja kami lakukan.
"Apakah Kau baik-baik saja?" menyapukan ibu jarinya di bibirku, menelusuri bibirku dengan lembut. Aku tersenyum padanya dan menjawab dengan perlahan
"Ya."
"Aku masih sangat jauh dari selesai denganmu." Jongin menyapukan tangannya di leherku, melewati payudaraku, menuju pinggulku untuk berhenti di perutku.
"Itu-begitu menakjubkan, aku tidak-aku tidak ingin ini berakhir." Jongin membiarkan tangannya tetap terentang di sana dan membungkuk untuk menciumku secara perlahan dan menyeluruh, hampir seperti hendak memberi hormat padaku. Aku tahu dia akan menanyakan sesuatu.
"Apakah kau-menggunakan kontrasepsi,Kyungsoo?"
"Ya," bisikku di bibirnya.
Aku benar. Jongin akan terkejut tetapi aku tidak akan berbagi informasi itu dengannya malam ini.
"Aku ingin, aku ingin orgasme dalam dirimu. Aku ingin berada di sini tanpa ada penghalang" Jongin menekan jari-jarinya di lipatan licinku dan membelai maju mundur. "Di sini." Kata-katanya itu bagai sebuah kejutan. Kebanyakan pria tidak ingin mengambil kesempatan itu.
Tubuhku bereaksi terhadap sentuhannya tanpa paksaan, tidak dapat menjaga untuk tidak meregang pada jari-jarinya. Desah kenikmatan keluar dari tenggorokanku.
"Perusahaanku–melakukan pemeriksaan medis untuk semua orang-kami semua harus melakukannya termasuk aku. Aku bisa menunjukkan hasil pemeriksaannya, Kyungsoo, aku bersih, aku janji," katanya, mengendus di leherku dan menggerakkan jemarinya di atas clitku yang sudah kesemutan.
"Tapi bagaimana kalau aku tidak bersih?" Aku terengah-engah. Dia mengerutkan keningnya dan tangannya diam.
"Sudah berapa lama sejak kau ... berhubungan dengan seseorang?"
Aku mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, cukup lama."
Jongin menyipitkan matanya sedikit. "Lama berarti seminggu, atau lama berarti sebulan?"
Seminggu itu bukanlah waktu yang lama. Mengapa aku menjawab, aku tak tahu selain merupakan bagian dari apa yang bisa kau dapatkan dari seorang Jongin. Dia menuntut jawaban, dia bertanya langsung pada pertanyaan inti,dia mempunyai cara yang hampir mustahil untuk kuabaikan saat dia muncul di suatu tempat dimana aku tidak ingin dia pergi ke sana.
"berbulan-bulan," adalah jawabanku dan hanya sedetails itu jawaban yang akan dia dapatkan saat ini.
Wajahnya menjadi tenang. "Jadi ... apakah itu berarti ya?"
Jongin berguling sepenuhnya di atasku dan tanganku terjebak terkait dengan tangannya, lututnya membelah kakiku menjadi terbuka lebar sehingga ia bisa masuk di antara kakiku.
"Karena aku menginginkan kau lagi. aku ingin berada di dalam mu lagi. Aku ingin membuatmu orgasme dengan penisku yang berada begitu jauh di dalammu sehingga kau tidak akan pernah lupa aku pernah ada di sana. Aku pun ingin orgasme dalam dirimu, Kyungsoo, dan merasakan itu bersamamu "
Aku bisa merasakan dia besar sekarang, Keras, panas, memeriksaku, dan siap untuk tenggelam sepenuhnya. Dan rentan saat aku di bawahnya, Tak pernah aku merasa seaman yang kurasakan kini. Dia menciumku dengan intens, lidahnya menguasaiku seperti sebelumnya. Itu adalah demonstrasi apa yang ingin ia lakukan dengan penisnya. Aku memahaminya hampir setiap waktu. Jongin tidak membingungkan sedikit pun.
"Aku percaya padamu, Jongin, dan kau tidak akan membuatku Hamil"
"Sialan ... Ya," Dia mendesah Saat penis tebalnya membelai dinding kemaluanku yang masih kesemutan. "Oh, Kyungsoo kau terasa begitu nikmat. Aku benar-benar masuk dalam dirimu"
Dan itu adalah bagaimana ia melakukannya untuk kedua kalinya. Kali ini dia bergerak dengan lebih perlahan, lebih terkendali seperti dia ingin menikmati pengalaman ini.
Tapi hal itu tidak mengurangi kepuasanku malah Jongin membuatku orgasme lebih hebat kali ini sampai aku hanyalah sebuah kapal lemas untuk daging yang dia kemudikan. Dia terasa lebih besar dalam diriku, lebih keras, bola-nya menampar celah basahku dengan setiap dorongannya, dan kemudian dia berhenti, punggungnya melengkung di bawah penetrasi indah yang menghubungkan kami dengan begitu mendalam, aku merasa dia adalah bagian dari diriku saat itu. Jongin memanggil namaku dan tetap berada di dalamku seperti keinginan yang dia katakan sebelumnya dan beberapa saat kemudian, hentakkan kecil mengeluarkan semua dari ujungnya sampai ia berhenti sepenuhnya, bernapas dengan berat dan ia masih berada di antara kedua kakiku. Dia menghisap leherku dengan pelan saat aku mengelus punggungnya, otot-otot panas yang halus dan basah dengan keringat.
Ruang menjadi beraroma seks dan wangi cologne nya yang entah ber-merk apa. aku benar-benar perlu untuk mengetahui merknya. Aku merasakan pegunungan yang tidak datar di bawah ujung jariku. Dalam jumlah yang banyak. Seperti bekas luka? Dia bergeser dariku dan tanganku terjatuh. Aku tahu lebih baik tidak usah bertanya. Tapi dia tidak pergi jauh. Jongin berbaring miring dengan sisi badannya dan mengangkat sedikit punggungnya dan kembali menatapku.
"Terima kasih untuk itu," bisiknya, menelusuri wajahku dengan satu jari, "dan untuk mempercayaiku." Dia tersenyum padaku lagi. "Aku senang kau berada di sini di atas tempat tidurku."
"Berapa lama sampai seseorang berada di tempat tidur ini denganmu lagi, Jongin?" Jika dia saja bisa bertanya, seharusnya aku pun bisa. Dia menyeringai, terlihat sangat puas.
"Sudah sejak ... tidak pernah, Kyungsoo. Aku tidak membawa wanita ke sini."
"Terakhir kali aku periksa aku adalah seorang wanita."
Jongin meraup tubuhku dengan mata sugestifnya sebelum menjawab. "Jelas wanita." Dia memandang mataku. "Tapi tetap saja, aku tidak membawa wanita lain ke sini."
"Oh ..." Aku duduk di kepala ranjang, menarik selimut ke dadaku.
Bagaimana mungkin itu bukan suatu kebohongan?
"Itu mengejutkanku. Aku berpikir Kau akan mendapatkan tawaran lebih banyak daripada yang mungkin kau gunakan." Dia menarik selimut didadaku ke bawah dan membuat payudara ku kembali terlihat.
"Tolong Jangan merusak pemandangan yang sedang kunikmati, dan kata kuncinya adalah manfaatkan, Kyungsoo. aku tidak peduli jika aku dimanfaatkan dan wanita memanfaatkan pria sesering pria memanfaatkan wanita" Dia meringkuk di sampingku di kepala ranjang dan menelusuri payudaraku dengan satu jari. "Tapi aku tidak keberatan jika kau memanfaatkanku. Kau mendapatkan izin khusus."
Aku mendengus dan menampik tangannya. "Kau terlalu tampan, Jongin-dan kau tahu itu. Pesona Inggris mu itu tak akan membuatmu bisa bersamaku setiap hari."
Dia membuat suara sarkastis. "Dan kau adalah seorang wanita yang sulit. Malam itu aku pikir aku harus mengangkat dan melemparkanmu ke dalam mobilku."
"Suatu keberuntungan kau tidak melakukannya. Jika iya kau tidak akan pernah menikmati percintaan yang baru saja kita nikmati bersama?" Aku menggelengkan kepalaku perlahan sambil tersenyum.
Dia menggelitik tulang rusukku dan membuatku menjerit.
"Jadi itu hanya sebuah percintaan untukmu, ya?"
"Jongin!" aku pukul tangannya menjauh dan bergegas ke tepi tempat tidur. Dia menyeretku kembali dan menjepit tubuhku di bawahnya, sebuah seringai lebar di wajahnya.
"Kyungsoo," ujarnya Lalu Jongin menciumku. Hanya ciuman yang lambat dan ringan dan lembut, tapi rasanya intim dan spesial. Jongin menempatkanku di samping tubuhnya dan memasukkan tubuh kami ke bawah selimut, lengan berat nya menutupi dan mengamankanku. Aku merasa diriku menjadi mengantuk di tempat tidur hangat dengannya. aku tahu ini ide yang buruk. Aturan adalah aturan dan aku melanggarnya.
"Seharusnya Aku tidak menginap, Jongin, aku benar-benar harus pergi ..."
"Tidak, tidak, tidak, aku ingin kau di sini bersamaku," dia memaksa, berbicara di rambutku.
"Tapi aku seharusnya tidak_"
"Shhhhhhh," dia memotong kata-kataku seperti yang berkali-kali dia lakukan sebelumnya dan mencium kata-kataku pergi.
Lengannya terangkat ke atas kepalaku, membelaikan jari-jarinya ke rambutku. aku tidak bisa melawan dia. Tidak setelah malam ini. Rasa aman terasa terlalu indah, tubuhku terlalu terkuras dari semua orgasme, kekuatannya terlalu nyaman bagiku untuk melawan dia pada masalah ini. Jadi aku memilih untuk tidur. …Teror itu nyata. Mereka datang pada malam hari ketika aku tidur. aku mencoba untuk melawan mereka tetapi mereka hampir selalu menang. Semuanya gelap karena mataku ditutup. Tapi aku mendengar suara. Kata-kata Kejam tentang seseorang, kata-kata dan nama-nama menjijikkan. Dan tawa yang menakutkan ... Mereka pikir itu lucu untuk menghina orang ini. Tubuhku terasa berat dan lemah. Aku masih mendengar mereka tertawa dan memutar kembali semua kejahatan yang telah mereka lakukan ...
Aku bangun dengan berteriak dan sendirian di tempat tidur Jongin. Aku baru menyadari di mana aku berada ketika ia datang menerjang ke kamar tidur dengan bola mata yang melotot. Aku mulai menangis saat aku melihatnya. Isak tangis ku semakin keras ketika ia duduk di tempat tidur dan memelukku.
"Tidak apa-apa aku disini." Dia mengguncangkanku di dadanya. Jongin sudah berpakaian dan aku masih telanjang. "Kau hanya bermimpi buruk, itu saja."
"Kemana kau pergi?" Aku berhasil bertanya Sembari terengah-engah.
"Aku hanya di kantorku-Olimpiade Sialan ini- Aku bekerja pada malam hari akhir-akhir ini ..." Dia menempelkan bibirnya ke kepalaku. "Aku berada di sini sepanjang waktu sampai kau tertidur."
"Kau seharusnya mengantarkan aku pulang! aku bilang aku tidak akan menginap " Aku berjuang untuk keluar dari pelukannya.
"Tuhan, Kyungsoo, apa masalahnya? Ini jam 02:00 di pagi hari. Kau sangat lelah. Tak bisakah kau hanya-mengapa kau tidak tidur di sini saja? "
"Aku tidak menginginkannya. Ini terlalu banyak! Aku tidak bisa melakukannya, Jongin "Aku mendorong dadanya.
"Ya Tuhan! Kau biarkan aku membawamu ke rumahku dan menidurimu dengan liar tetapi kau tidak mau tidur di tempat tidurku hanya untuk beberapa jam?" Dia menurunkan wajahnya kehadapanku.
"Bicara. Mengapa kau takut bersamaku disini?" Dia tampak terluka dan terdengar lebih dari sedikit tersinggung. Dan aku merasa seperti wanita jalang yang kejam lebih dari sekedar emosional, benar-benar kacau balau.
Jongin masih tampak tampan dalam jeans pudar dan kaos abu-abu muda. Rambutnya berantakan dan ia perlu mencukur jenggotnya, tapi ia tampak begitu tampan seperti biasa, bahkan lebih karena aku melihat Jongin yang intim, yang ia tidak tunjukkan di depan umum. Aku mulai menangis lagi dan mengatakan kepadanya aku minta maaf. Aku bersungguh-sungguh minta maaf. Aku sangat menyesal bahwa sebagian dari diriku rusak dan terluka tapi itu pun tidak akan merubah fakta apa pun.
"Aku tidak takut dengan dirimu. Ini sangat rumit, Jongin. Aku-aku minta maaf!" Aku menggosok wajahku.
"Shhhhhhh ... tidak ada yang harus dimaafkan. Kau hanya bermimpi buruk" Jongin meraih kotak tissue di samping tempat tidur. Dan menyerahkannya kepadaku. "Apakah kau ingin membicarakannya?"
"Tidak,"
Aku mengambil tiga lembar tissue.
"Tidak apa-apa, Kyungsoo. Ketika Kau merasa nyaman, kau dapat membicarakannya jika kau ingin." Gosokan melingkar di punggungku terasa menenangkan, aku hanya tidak ingin menutup mata lagi jika saja aku kembali tertidur. Jongin menarikku kembali ke atas kasur dengan dia.
"Biarlah aku memelukmu untuk sementara waktu?"
Aku mengangguk.
"Aku akan di sini sampai kau tertidur dan jika kau bangun dan tidak melihatku, aku tepat berada di seberang ruang utama di kantorku. Lampu akan menyala. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu sendirian di rumahku. Kau akan benar-benar aman di sini bersamaku. Satpam laki-laki, kau bisa ingat?" Aku meraih beberapa tissue lagi dan mengeluarkan ingusku, situasi ini benar-benar merugikan dan memalukan.
Aku melakukan yang terbaik untuk berpura-pura menemukan jalan keluar dari ini dan aku tahu itu yang akan aku lakukan. Aku tertawa lembut pada leluconnya dan membiarkan dia membaringkan aku lagi ke tempat tidurnya. aku menghadap dadanya dan menghirup aromanya, aku benar-benar mencintai dan mencoba mengingat betapa indah fokus pada perasaanku saat Jongin memelukku dengan aman, dan kehangatan tubuh besarnya. Aku mencoba untuk menangkap ini semua di kepalaku, karena aku tidak akan mendapatkan pengalaman ini lagi. Aku berpura-pura tertidur.
Aku menenangkan nafasku, memalsukannya. Dan setelah beberapa saat aku merasa dia turun dari tempat tidur dan menyelinap keluar. Aku bahkan mendengar suara langkah kaki telanjangnya di atas lantai kayu. Aku melihat jam dan menunggu lima menit sebelum aku bangun. Aku berjalan keluar ke ruang tamu Jongin dengan pantat yang masih telanjang lalu aku meraup pakaian. Aku mengambil dasi ungunya dari tumpukan dan merapikannya sebelum mengalungkan di atas lengan sofa, melipatnya menjadi dua.
Aku berharap aku bisa membawanya bersamaku sebagai kenang-kenangan. Aku berpakaian dengan cepat di depan jendela kaca yang lebar dan memegang sepatu di tanganku daripada menempatkan mereka di kakiku. Aku mengambil tasku dan menuju pintu. Aku bisa merasakan air maninya masih basah di antara kedua kakiku, mengalir keluar, dan pikiran itu membuat aku ingin menangis. Semuanya terasa salah sekarang. aku telah mengacaukannya.
Setelah aku keluar dari pintu depan, aku berlari ke lift dan menekan tombol. Aku menggunakan sepatu kekakiku dan mencari-cari sisir di tasku. Aku menyisir rambutku yang terlihat seperti rambut aku-baru saja-bercinta dengan sisiran asal-asalan. Rambutku masih kusut tapi itu lebih baik daripada tidak menyisir sama sekali. Lift tiba dan aku melangkah masuk, sambil menyimpan sisir dan memeriksa dompetku untuk ongkos taksi. Ketika aku sampai di lobby doorman menyapaku. "Boleh aku membantumu, nyonya?"
"Err ... ya, Heechan? Aku harus pulang. Dapatkah kau membantu ku mendapatkan taksi " Aku terdengar putus asa bahkan di telingaku sendiri? Jadi tidak tahu apa yang Heechan mungkin pikirkan.
Ia tidak menunjukkan reaksi sedikit pun saat ia mengangkat telepon. "Ahhh, itu dia satu taksi datang." Ia meletakkan kembali telepon, Heechan keluar dari belakang mejanya dan memegang pintu lobby terbuka untukku. Dia membantuku menuju taksi dan menutup pintu taksi. Aku berterima kasih padanya, memberikan alamatku ke sopir taksi dan melihat ke luar jendela.
Pemandangan Lobby terlihat jelas pada malam hari sehingga aku bisa melihat ketika Jongin berlari keluar dari lift dan berbicara dengan Heechan. Dia berlari ke luar tapi taksiku sudah bergerak. Jongin mengangkat tangannya dengan frustrasi dan memutar kepalanya kembali. Aku bisa melihat kakinya masih telanjang. Aku bisa melihat wajah bingungnya dan keputusasaan di wajahnya saat mata kami bertemu-aku di dalam mobil dan dia di jalan. Aku bisa melihat Jongin. Dan itu mungkin terakhir kalinya aku akan melihatnya.
Aroma kopi yang lezat membuatku terbangun. Aku melihat jam alarmku dan aku tahu, tidak ada waktu lagi untuk lari pagi di Jembatan Waterloo. Aku keluar menuju dapur sambil mengusap mataku.
"Kau pasti menyukai ini, Baek , manis dan kental." Teman sekamar dan juga sahabatku Baekhyun yang jarang tinggal disini menyodorkan mug ke arahku, ekspresi wajahnya jelas terbaca. Seakan dia mengatakan 'Mulai tumpahkan semua yang ada dalam pikiranmu, sister, dan aku tidak akan menyakitimu.'
Aku menyukai Baeknyun , tapi masalahnya ini tentang Jongin yang sudah membuatku seperti tergelincir, aku hanya ingin mengubur mengenai keberadaannya dan berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa dengannya.
Aku meraih mug yang masih mengepul dan menghirup aromanya yang lezat. Jongin kenapa ini mengingatkan aku tentang dia dan aku merasa gelembung emosiku naik bertambah kuat. Aku duduk di bar dapur dan mencengkeram mug kopiku seperti induk ayam melindungi anaknya. Saat aku duduk di bangku, gesekan lembut di antara kedua kakiku mengingingatkan kembali kenangan itu. Kenangan akan tubuhnya Jongin yang panas dan penampilannya yang seperti model dan seksnya yang luar biasa ... dan bagaimana saat aku terbangun di tempat tidurnya dengan histeris. Aku menyerah dengan lelucon itu untuk mencoba tampil berani dan membiarkan air mata itu datang.
Butuh beberapa waktu untuk mendapatkan cerita dariku, sampai cangkir kopi yang kedua dan aku pindah ke sofa. Tapi Baekhyun cukup pandai memancingku. Dia tak kenal lelah.
"Aku mematikan teleponmu yang ada di dalam tas ransel itu dua jam yang lalu. Suaranya begitu sialan berisik sampai aku ingin menendangnya." Baekhyun membelai kepalaku yang bersandar di bahunya. "Kau punya pesan suara dan pesan teks sampai berlimpah. Aku pikir sesuatu yang buruk akan meledak, jadi aku mematikan sialan itu."
"Terima kasih,Baek. Aku sangat senang kau di sini pagi ini." Dan aku tahu itu. Dia menyukaiku apa adanya. Seseorang asli dari California dan tinggal di London, mempelajari konservasi dan melarikan diri dari belakang rumah sialan yang menghantuinya. Satu-satunya perbedaan adalah ayahnya benar-benar tinggal di London jadi dia sama sekali tidak sendirian di Inggris ini. Kami bertemu saat minggu pertama kelas dimulai dan hampir empat tahun yang lalu dan benar-benar tidak pernah berpisah. Dia tahu rahasia gelapku dan aku juga tahu rahasianya.
"Aku juga." Dia menepuk di atas lututku.
"Dan kau akan pergi untuk membuat janji bertemu dengan Dr Roswell, dan membuat rencana untuk pergi clubbing denganku dan Kris, dan berhenti di Charbonnel et Walker sehingga kita bisa makan coklat sinfully yang lezat itu sepuasnya." Baekhyun memiringkan kepalanya. "Bukankah sangat baik untukmu?"
"Memang sepertinya sangat luar biasa." Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan berusaha menguasai diriku.
"Mungkin seharusnya kau memberi kesempatan pada pria ini, Kyung. Sepertinyadia baik di tempat tidur dan dia menginginkan kamu sampai begitu buruk."
Aku mengganti senyum pura-puraku menjadi benar-benar cemberut. "Kau sudah bergosip dengan Kris."
Dia memutar matanya padaku. "Atau setidaknya telepon dia balik." Baekhyun merendahkan suaranya menjadi sebuah bisikan. "Dia tidak tahu apa-apa mengenai masa lalumu ..."
"Aku tahu." Dan Baekhyun benar. Jongin tidak tahu tentang aku. Baekhyun mengusap lenganku.
"Aku sebenarnya tidak marah atau merasa tersinggung dengan dia semalam. Aku hanya harus keluar dari sana. Aku terbangun sambil berteriak di tempat tidurnya dan aku-" Dorongan ingin menangis sekarang sama kuatnya seperti sebelumnya. Aku mencoba untuk menahan tangisan itu.
"Tapi kedengarannya dia seperti ingin menghiburmu. Ia tidak mencoba mendesakmu untuk menjauh, Kyung."
"Tapi kau seharusnya melihat wajahnya ketika ia menyerbu masuk ke kamar tidurnya dan melihatku menjerit seperti orang gila. Cara dia menatapku ... " Aku mengusap pelipisku. "Jongin hanya begitu intens. Aku tidak bisa menjelaskan dirinya dengan benar kepadamu, Baek. Jongin ini seperti pria yang tidak pernah aku temui dan aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan dengannya. Jika tadi malam indikasinya seperti itu maka aku sangat meragukannya." Baekhyun menatapku, mata hijaunya yang indah seakan tersenyum penuh keyakinan.
"Kau jauh lebih kuat dari yang kau pikirkan. Aku tahu itu." Dia mengangguk dengan pasti. "Kau akan bersiap-siap untuk berangkat kerja kemudian setelah seharian bekerja melayani guru besar dari University of London, kamu langsung pulang untuk bersiap-siap, malam ini kita akan bersenang-senang . Kris sudah siap mengantar." Dia menusuk bahuku dengan jarinya. "Sekarang bersiap-siaplah "
"Aku tahu itu. Kalau Kris disuruh mengantarku keluar dia langsung mau." Aku tersenyum padanya, benar-benar senyum bahagia pertama yang kurasakan setelah dua belas jam yang lalu dan mengangkat pantatku dari sofa. "Aku senang dengan ide itu, Baek," kataku, sambil menggosok bahuku yang dia tusuk tadi,
"Aku menyerah."
Setelah beberapa jam aku bekerja, Hyunsung datang dari arah belakang dengan membawa sebuah vas bunga dahlia ungu yang begitu indah yang pernah kulihat. Dia berjalan ke arahku dengan senyum berseri-seri di wajahnya. "Dikirimkan untukmu,Nona Kyungsoo. Tampaknya kau memiliki seorang pengagum."
Oh, sial! Aku mengambil keduanya. Ikatan di vas itu jelas bukan sebuah pita. Itu dasi sutra ungunya yang tadi malam. Jongin memberikan dasinya kepadaku setelah semuanya itu. "Terima kasih telah mengantarnya ke sini untukku, Hyunsung. Mereka begitu indah." Tanganku gemetar saat aku meraih kartu pada pegangan yang tertutup plastik itu. Aku menjatuhkannya sampai dua kali sebelum aku bisa membaca apa yang dituliskannya.
Kyungsoo, semalam rasanya seperti mendapatkan hadiah. Maafkan aku karena tidak mendengarkan apa yang kau coba beritahukan kepadaku. Aku sangat menyesal.
Milikmu, Jongin
Aku membaca tulisan itu berkali-kali dan bertanya-tanya apa yang harus kulakukan. Bagaimana ia berhasil mengacaukan aku dengan begitu mudahnya? Satu momentum yang membuatku yakin, aku harus menjauhkan diriku dari Jongin tapi kemudian aku ingin bersama dia lagi. Aku memandangi bunga unguku sekali lagi dan jelas tahu aku harus mengakui pemberian dan tulisan tangannya ini adalah permintaan maaf darinya. Untuk mengabaikannya jelas tidak sopan. SMS atau telepon? Keputusan yang begitu sulit.
Sebagian dari diriku ingin mendengar suara Jongin, dan sebagian yang lain takut mendengar suaraku ketika aku mencoba untuk menjawab pertanyaannya. Pada akhirnya, aku memutuskan mengirim SMS dan merasa seperti seseorang yang benar-benar pengecut.
Yang pertama, aku harus menyalakan ponselku dan terdengar rentetan panggilan tidak terjawab dan pesan suara yang melintas saat ponselku menyala membuatku merasa sakit meskipun tanpa mendengar atau membacanya. Rasanya ini sudah terlalu banyak untukku saat ini, jadi aku mengabaikan semua itu dan membuka layar untuk mengirim SMS.
Do Kyungsoo:
Jongin, bunga dan dasinya begitu indah. Aku menyukai warna ungu. –Kyungsoo
(end text message)
Begitu aku menekan send, aku merenung untuk mematikan teleponku tapi tentu saja aku tidak bisa melakukan itu. Seperi pepatah keingintahuan itu bisa membunuh kucing atau dalam kasusku ini membuatku bisa melakukan sesuatu yang bodoh. Aku kembali memperhatikan vas bukannya melihat bunga itu dan melepas dasinya dari ikatannya. aku membawanya ke hidungku dan menghirupnya. Itu adalah aromanya. Aroma Jongin yang seksi, aku menyukai itu. aku tidak akan pernah mengembalikan dasi ini kepadanya. Tidak peduli apa yang terjadi atau apa yang tidak terjadi, dasi ini milikku sekarang.
Teleponku menyala dan mulai mendengung. Insting pertamaku adalah ingin mematikannya, tapi aku tahu pasti dia yang menelepon. Dan bagian dari keegoisanku ingin mendengar suaranya lagi. Aku mengangkat telepon ke telingaku.
"Hai"
"Apa kau benar-benar menyukai warna ungu?" Pertanyaan itu membuatku tersenyum.
"Sangat. Bunga-bunga itu begitu indah dan aku tidak akan mengembalikan dasimu."
"Aku sangat mengacaukannya, kan?" Suaranya lembut dan aku bisa mendengar suara gemerisik kemudian hembusan napas.
"Apakah kau sedang merokok, Jongin?"
"Hari ini lebih banyak dari biasanya."
"Satu keburukan ... kau memiliki satu kebiasaan buruk itu." aku mengelus dasi yang membentang di atas desktopku.
"Aku punya beberapa kebiasan buruk kalau aku merasa ketakutan." Ada jeda tenang dan aku bertanya-tanya apakah ia menganggapku salah satu penyebab dari kebiasan buruk itu, tapi kemudian dia berbicara, "Aku ingin mendatangi apartemenmu tadi malam. Aku hampir melakukannya."
"Bagus kau tidak melakukannya,Jongin. aku perlu berpikir dan sangat sulit bagiku untuk melakukannya ketika kau ada di dekatku. Dan itu bukan sesuatu yang kau lakukan tadi malam. Bukan salahmu. Aku ... aku butuh beberapa ruang setelah kita ... bersama seperti itu. Hanya saja - inilah kenyataan tentang diriku. Akulah satu-satunya yang kacau."
"Jangan katakan itu, Kyungsoo. Aku tahu aku tidak mendengarkanmu tadi malam. Kau bilang padaku apa yang kau inginkan dan aku mengabaikanmu. aku mendorongmu terlalu keras, terlalu cepat. Aku menghancurkan kepercayaanmu dan itulah yang paling aku sesali. Aku sangat menyesal - kau tidak tahu berapa banyak aku merasa menyesal. Dan jika itu menghancurkan kesempatanku untuk bersamamu lagi maka aku layak mendapatkan itu."
"Tidak, kau tidak salah." Suaraku hanya berupa bisikan dan ada begitu banyak yang ingin aku katakan tapi aku tidak memiliki susunan kata-kata yang bisa aku ungkapkan kepadanya. "Kau tidak akan mau bersamaku, Jongin."
"Aku tahu apa yang kulakukan,Kyungsoo." Aku bisa mendengar Jongin menghembuskan rokoknya. "Dan sekarang satu-satunya pertanyaanku adalah apa kau mau? Apakah kau mau bersamaku lagi, Kyungsoo?"
Aku tidak bisa membantunya. Kata-katanya membuatku menangis. Anugrah yang menyelamatkanku adalah Jongin benar-benar tidak bisa melihatku menangis melalui telepon tapi aku sangat yakin dia bisa mendengarku.
"Dan sekarang aku membuatmu menangis. Apa ini berarti baik atau buruk, Kyungsoo? Tolong beritahu aku, karena aku tidak tahu itu." Hasrat dalam suaranya mematahkan keinginanku menjauhinya.
"Ini baik ..." Aku tertawa dengan canggung. "Dan aku tidak tahu kapan kita akan bertemu. Aku punya rencana malam ini dengan Kris dan Baekhyun."
"Aku mengerti," katanya. Apakah aku setuju bertemu dengannya lagi? Kami berdua tahu jawaban atas pertanyaannya itu. Masalahnya Jongin mendorong hubungan kami terlalu dalam. Dari malam pertama sejak kami bertemu dia membuatku terpikat. Ya kami bergerak terlalu cepat untuk berhubungan seks. Ya dia sedikit mendorongku, tapi kejadian itu telah membawaku ke tempat yang begitu indah yang membuatku bisa melupakan masa laluku.
Jongin membuatku merasa sangat ... sangat aman dengan cara yang bisa mengejutkan aku dan memaksaku mempertimbangkan untuk alasan itu. Aku tidak memiliki seperti satu ton kepercayaan yang memungkinan kita bisa menjalaninya, tapi hubungan ini jelas sekali bisa untuk dikenang.
"Bisakah kita berjalan pelan-pelan dulu, Jongin?"
"Aku mengartikan itu sebagai jawaban ya. Dan tentu saja kita bisa berjalan pelan-pelan dulu." Aku mendengar suara hembusan napas lagi itu. Dia terdiam seolah-olah ia sedang mengumpulkan keberaniannya.
"Kyungsoo?"
"Ya?"
"Aku bisa tersenyum lebar sekarang."
"Aku juga, Jongin." Aku tertawa pelan di sini.
Reader nim semuaa^^
Fyi, di sini pake Sudut Pandang Kyungsoo ya.
Ada pertanyaan
Q : 'Jongin itu sebenarnya udh lama ya ngincer kyungsoo?'
A : "Nggak, jadi Jongin baru pertama ketemu Kyungsoo. Dia dapet feel sama Kyungsoo gitu tapi, dari diri Kyungsoo sendiri ngga bisa langsung nerima Jongin"
Nah gitu deh intinya. Novel ini sebenernya just Short Novel, dan ada Sequelnya. Sabar nunggu ya :) hehe
Tinggalin Review yaa, karena jujur Review itu salah satu penunjang mutlak mood saya buat ngelanjutin FF ini. Soo REVIEW REVIEW
Thank youu 3
