Present "Naked" by Raine Miller

This is Raine Miller's Story. Saya hanya me-remake. But…

Enjoy it!

Warning Typo(s) , GS.

Cast : Do Kyungsoo (girl), Kim Jongin, etc.

If you don't like, just don't read!

No bash!

This story written from Kyungsoo's side.

IT'S NOT FOR CHILD


BAB 6

Suasana Klub di London sangat mengagumkan. Kami tidak sering melakukannya, tetapi yang aku butuhkan saat ini adalah menjelajahi beberapa klub. Jiwaku yang lemah sedang dalam kelebihan beban maksimum dalam konflik emosi, ketakutan dan rasa bersalah. Aku harus menari dan minum dan tertawa tetapi semua yang paling kubutuhkan saat ini adalah agar dapat melupakan tentang semua omong kosong itu. hidup ini terlalu singkat untuk terus berkutat pada bagian gelapnya, atau setidaknya itulah yang dikatakan oleh terapisku.

Aku punya janji dengan Dr. Roswell besok pukul 4 sore, dan kencan makan malam dengan Jongin setelahnya. Langkah pertama kami dalam membuat perjanjian –hubungan-perlahan-lahan- di buat melalui telepon. Dia mengatakan padaku dia ingin meletakan kartunya di atas meja, dan aku harus mengakui bahwa aku memang menyukai hal itu. kebenaran itu bekerja sangat baik terhadapku. Aku benar-benar tidak memiliki apapun untuk disembunyikan; hanya saja aku mulai sedikit lebih berhati-hati untuk apa yang ingin ku ungkapkan. Dan aku juga tidak tau berapa banyak hal yang bisa kuungkapkan pada Jongin. Tidak ada buku panduan yang bisa membantuku. Aku harus melewati gelombang itu dan berharap tidak menabrak karang dan tenggelam.

"Cobalah ini, ini luar biasa." Kris memberiku minuman orange kemerahan dalam gelas Hurricane. "Mereka menyebutnya Olympic Flame,"

Aku minum seteguk.

"Enak,"

Kami berdua menyaksikan Baekhyun memukul keluar seorang pria dari lantai dansa yang tentu saja sedang tidak beruntung malam ini. Sejauh ini, kami sudah mendatangi tiga klub dan kakiku mulai protes. Sepatu boot ungu gelapku terlihat begitu cocok dengan gaun satu bahu (gaun off shoulder) bermotif bunga milikku, tetapi memasuki tiga klub membuatku sudah siap untuk beberapa kaos kaki berbulu lembut.

"Aku rasa koboi fetish boot ku akan kembali menghantuiku." Aku menyeringai pada Kris dan mengangkat salah satu bootku. "Sepertinya kau sudah mempunyai sepuluh pasang dari mereka." Kris mengangkat bahu. "Kurasa mereka terlihat panas. Kau tahu?" katanya sambil berpikir. Dan melanjutkan "Telanjang dengan hanya menggunakan sepatu akan membuat beberapa potret indah. Tubuh dan sepatumu. Apakah aku benar? Aku ingin melakukannya. Aku bisa memberikan nuansa cahaya yang begitu gelap dan hanya memberikan warna kepada sepatunya. Kau memiliki begitu banyak nuansa warna bayangan –kuning, merah muda, hijau, biru, merah. Mereka akat terlihat brilian. Hanya seni, tidak lebih." Dia menatapku. "Maukah kau melakukannya, Kyung?"

"Ya... Tentu saja. Jika kau pikir ini akan membuat gambar yang bagus maka aku akan menandatangani untuk mewakilkan sepatuku." Lidahku tercekat. "Ibuku akan mengalami sakit jantung." Aku menunggu komentar sarkastik Kris.

"Ibumu membutuhkan hubungan seks yang baik." Kris tidak mengecewakanku. Aku tertawa terbahak-bahak pada gambaran tidak masuk akal tentang Do Seungri pernah disetubuhi dengan kasar dalam hidupnya.

"Sialan, tidakkah ada yang memberitahumu, kalau kau tidak memerlukan orgasme untuk hamil, dan aku sangat yakin, ibuku hanya pernah melakukan seks sekali dengan ayahku."

"Kurasa kau mungkin benar, Kyung," ujar Kris.

Kris sudah beberapa kali bertemu dengan ibuku, sehingga dia tau apa yang sedang ia bicarakan. "Setidaknya dia sudah benar dalam membuatmu, jika itu memang hanya terjadi satu kali." Canda Kris dan aku tertawa lagi.

Orang tuaku bercerai di usiaku yang ke empat belas –mungkin karena kurangnya hubungan seks reguler dan kesadaran bahwa mereka memang tidak tertarik satu sama lain, tetapi untuk bersikap adil, mereka tinggal di daerah umum yang sama sampai aku lulus SMA. Ibuku akan melompat ke kolam di London ketika suasana hatinya menyerang dan aku akan dengan senang hati menyetrumnya bersama teman-temanku, gaya hidup, dan sebuah hal menjijikan yang umum sampai dia sudah cukup mendapatkan kunjungan tertentu itu. Suami barunya, Park Woobin, jauh lebih tua darinya, jauh lebih kaya dari pada ayahku, dan mungkin merasa senang ketika ibuku melakukan perjalanan meninggalkan San Francisco. Aku ragu dia juga tidak banyak berhubungan seks dengan Woobin. Mungkin Frank melakukannya beberapa kali ketika ia bepergian, tapi siapa yang tahu.

Aku dan ibuku selalu berselisih hampir di sepanjang waktu. Ayahku, adalah cerita yang berbeda. Dia selalu menjadi orang tuaku. Dia meneleponku secara teratur dan mendukung keputusanku. Dia mencintaiku apa adanya. Dan dia adalah satu satunya alasan untukku tetap hidup di bumi ini ketika aku berada di saat-saat tergelapku. Aku bertanya-tanya apa pendapat ayah tentang Jongin.

Kris beranjak untuk mengobrol dengan beberapa wanita pirang yang seksi, sebagai seorang awam mungkin aku akan tetap tinggal dan menghirup Olympic Flame-ku.

"Hai wanita cantik, itu adalah sepatu bot ungu terindah yang kau punya disana," seorang pria besar berambut merah, dengan sepasang sepatu bot, celana jeans, dan ikat pinggang ukuran Texas menjulang di depan mejaku. Pasti orang Amerika. Ada banyak sekali orang yang datang ke London untuk mengikuti penyaringan Olimpiade dan orang ini tampak seperti pemuda Eropa.

"Terima kasih, aku mengoleksi sepatu bot koboi." Aku tersenyum kepadanya.

"Kau mengoleksi koboi, hah?" dia melirik kearahku. "Kalau begitu kurasa aku berada di tempat yang tepat." Dia duduk di sebelahku, tubuh besarnya mendesakku di tempat duduk Lounge.

"Aku bisa menjadi koboimu jika kau mau," gumamnya dengan nafas penuh alkohol. "Kau bisa menaikiku."

Aku bergeser diatas kursi dan berbalik.

"Siapa namamu sayang?"

"Namaku adalah, aku-tidak-tertarik." Aku menatapnya. "Dan nama tengahku adalah –kau-pasti- bercanda-babi-pemabuk-."

"Jadi inikah caramu bersikap ramah pada tamu Amerika-mu yang datang dari Texas?" si rambut merah membungkuk lebih dekat dan meletakan tangannya di belakang kursi, mendorong melawan sisiku, kakinya menempel di kakiku, nafasnya tertiup di wajahku. "Kau tidak tau sopan santun ya nona?"

"Aku rasa, aku punya pemikiran yang lebih baik." Aku bersandar ke belakang sejauh yang bisa ku lakukan dan bergeser dari kursi. "Apakah kau di ajarkan sopan santun di Texas, atau apakah gadis-gadis di sana selalu menjadi pemabuk yang menjengkelkan yang memprosisikan diri mereka sendiri di depan publik?"

Si rambut merah tidak terpancing isyaratku, atau mungkin dia terlalu bodoh untuk memahami pertanyaanku karena ia malah menarik tanganku dan melesat berdiri, meraihku bersamanya. "Menarilah denganku sayang,"

Aku menolak tetapi cengkramannya terlalu kuat, aku tidak memiliki kesempaan melawan berat yang luar biasa itu. dia seperti manusia gua berbulu merah yang terlalu banyak meminum minuman beralkohol, dia menyentakku ke tubuhnya dan menyeret tubuh kami ke lantai dansa. Tangannya di pantatku dan mulai menarik naik rokku. Saat itulah aku mengangkat botku dan menghujamkan tumit botku ke kakinya sekeras yang aku bisa.

"Lepaskan tanganmu dari pantatku sebelum bolamu menjadi pom-pom untuk sepatuku. Kau mempunyai dua bola dan aku mempunyai dua sepatu –sangat pas, satu bola untuk satu sepatu." Aku tersenyum palsu kepadanya. Dia menggerutu padaku dan menyipitkan matanya. Aku tau dia sedang merenung apakah aku serius atau tidak dan kemudian dia membuat seringai mencemooh dan mundur dariku.

"Sialan. Pelacur inggris." Gumamnya, menerobos kerumunan, melecehkan beberapa orang yang dia lewati.

"Aku orang Amerika, dasar Bajingan! Dari bagian yang baik Negara ini!" teriakku di belakangnya sebelum berputar dan menabrak dada keras seorang pria. Sebuah dada yang pernah ku lawan sebelumnya. Sebuah tubuh yang membawa aroma racun murni bagiku.

Jongin.

Dia tampak tidak bahagia ketika ia terus menatap dan mengernyit pada sosok rambut merah yang menjauh dan kemudian kembali menatapku. Jongin menekan tangannya kebelakangku dan mendorongkku ke meja. Aku tau dia marah. Tetapi meskipun dalam keadaan marah ia tetap terlihat indah dengan T-shirt hitam, Jeans gelap, jaket abu-abu dan sorotan jahat di wajahnya.

"Kenapa kau ada disini Jongin?"

"Ini sangat menyenangkan bukan? Bajingan itu bersamamu –tangannya di pantatmu- jangan katakan apa yang akan dia coba lakukan selanjutnya!" ia melotot menatapku di kursi mewah, rahangnya mengeras, bibirnya di atur menyerupai sebuah garis miring.

"Aku yakin. Aku menanganinya dengan sangat baik-"

Jongin merengkuh wajahku di tangannya dan menciumku, membuatku terperangkap di mulutnya, mendorong masuk lidahnya, menuntutku untuk memberikannya jalan. Aku mengerang dan balas menciumnya, mencicipi rasa mint dan sedikit bir. Aku masih tidak percaya dia adalah seorang perokok. Aku tidak pernah bisa mencium bau rokok padanya. Meskipun aku ingin menolak ciumannya, mengatakan tidak pada Jongin adalah hal yang mustahil. Aku selalu menginginkannya. Dia menekan semua tombol yang benar kepadaku dan untuk alasan itulah dia menjadi sangat berbahaya.

"Lihatlah dirimu." Katanya perlahan, matanya turun ke bajuku kemudian kembali menatap wajahku. "Ini adalah sebuah keajaiban, tidak ada lima puluh tangan yang berusaha keras mendapatkanmu.

"Tidak. hanya dua – si rambut merah dan kau."

"Siapa?" dia menyipitkan matanya.

Kini giliranku untuk mengangkat alis kepadanya. "Kris bersamaku hingga beberapa menit yang lalu, dan aku memang membiarkannya pergi, Jongin. Aku tidak yakin akan pergi kemana bersamanya." Aku melipat tanganku di bawah dadaku. "Apa kau seharusnya ada di sini Jongin? Dan lagipula, bagaimana kau bisa tau aku ada di klub ini? Apakah kau menguntitku sekarang?"

Ia menyisir rambutnya dengan tangannya, dan berpaling dariku. Seorang pelayan berambut pirang muncul seketika. Memerah dan bergoyang saat mengambil pesanan minumannya. Aku yakin wanita ini tidak akan menolak jika ia meminta wanita ini untuk duduk di atas pangkuannya. Serius, bagaimana mungkin ia bisa datang ke tempat ini tanpa membuat wanita tersandung kakinya sendiri ketika melihatnya?

Ketika Jongin bertanya padaku apakah aku menginginkan sesuatu dari bar, aku langsung menggeleng dan mengangkat minuman yang dibelikan Kris untukku. Pelayan itu menatapku sekilas sebelum berlalu pergi, pinggulnya berayun.

"Apa yang harus aku lakukan untuk tetap hidup, Kyungsoo ?" suaranya keras seperti baja dan aku harus memberikannya penghargaan untuk tidak melihat ke pantat wanita itu, mengingat dia mengayunkannya seperti bendera olimpic, dan fakta bahwa ia berbicara menghadap lantai dansa, menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan.

"Kau sudah memiliki Kim security International, Ltd. Dan alat yang bisa menguntit teman kencanmu?" kataku sinis, memiringkan kepalaku pada pertanyaan itu. Ia berputar kembali kepadaku dan menjentikkan matanya ke tubuhku.

"Oh kita baru saja melewati kencan yang menyenangkan, cantik." Ia membungkuk, telinganya di telingaku. "ketika kita bercinta di tempat tidurku kau melewati batas wilayah yang belum tersentuh – percayalah padaku untuk yang satu ini."

Hatiku tergagap karena tatapannya dan kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Langsung saja basah untuknya, aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan jauh dari masalah seksual. Aku tidak tau mengapa aku merasa terganggu, meskipun mungkin Jongin sadar jika aku sudah terengah-engah untuknya saat kami duduk bersama.

"Bagaimana kau tau aku di sini?"

"Kartu kredit Do muncul. Hanya sebuah pekerjaan sementara." Ia meraih tanganku dan membelainya dengan ibu jarinya. "Jangan marah dengan kedatanganku. Aku bisa saja tetap berada di belakang jika kau tetap bersama teman-temanku tetapi koboi sialan itu meletakan tangannya kepadamu."Jongin membawa tanganku ke bibirnya. sentuhan nya mulai ku sukai dan kuterima begitu saja. "Aku ingin melihatmu bersenang-senang. Kau terlihat begitu sedih ketika terakhir kali aku melihatmu di taksi itu."

Jongin tersenyum dan seluruh wajahnya berubah.

"Aku suka ketika kau melakukannya," kataku.

"Lakukan apa?"

"Ketika kau mencium tanganku." Dia menatap tanganku yang masih dalam genggamannya.

"ini adalah tangan yang sangat indah, dan aku akan hancur jika sesuatu berhasil merusaknya."

Matanya kembali kepadaku tetapi ia hanya terdiam dan menatapku, membuat lingkaran dengan ibu jarinya atau menarik tanganku ke bibirnya ketika ia ingin. Jongin butuh menyentuhku. Ini adalah hal yang aku mengerti tentangnya. Dan anehnya itu menghiburku. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi dia membuatku merasakan ketika ia menyentuhku. Aku rasa ini adalah hal yang harus ku bicarakan dengan Dr. Roswell di pertemuan kami yang selanjutnya.

Bahkan pemilihan kata-katanya selalu menghantamku. Ia memang over protektif , seperti dia selalu ketakutan aku akan terluka.

Kereta itu berhenti di stasiun enam tahun yang lalu, Jongin.

Kris dan Baekhyun datang, bertemu dan menyapa Jongin kemudian menyelinap tanpa menarik perhatian orang lain sebisa cowok anggota frat lakukan saat pesta bir yang mereka mainkannya dengan tenang. Terserah. Aku mereka akan tetap berspekulasi malam ini. Ketika minumannya tiba, ia menggunakan tangan kirinya untuk mengambilnya. Jongin tidak pernah membiarkan tangan kananku lepas. Tidak sampai kami berada di mobil dan dia mengantarku pulang. Dia terus menatap kearahku; menarik pandanganku kepadanya beberapa kali; memaksaku menggeliat untuk meringankan sakit di antara kedua kakiku.

"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" akhirnya aku bertanya.

"Aku rasa kau tau," suaranya begitu lembut tapi memiliki ketegasan.

"Dan aku ingin kau mengatakannya padaku karena aku benar-benar tidak tau."

"Kyungsoo, aku menatapmu karena aku tidak bisa melepaskan pandanganku darimu. Aku ingin berada di dalam dirimu. Aku sangat ingin bercinta denganmu, aku tidak bisa mengendarai mobil sialan ini dengan baik saat ini. Aku ingin datang di dalammu dan melakukannya lagi. Aku ingin vagina manismu membungkus penisku ketika kau meneriakan namaku karena aku membuatmu datang. Aku ingin bercinta bersamamu sepanjang malam dan aku bisa membawamu lagi dan lagi sampai kau tidak akan mengingat hal lain kecuali diriku."

Aku mencengkram sandaran kursi dan bergetar, aku yakin orgasme kecil baru saja keluar dari tubuhku. Celanaku begitu basah dan aku bisa menyelinap ke bawah kursi jok kulit jika tuit sepatuku tidak menancap di karpet Rover ini.

Pada saat Jongin berhenti di tepi jalan tubuhku bergetar. Dia keluar dan datang untuk membuka pintuku. Kami tidak mengatakan apapun. Di teras, aku meraba-raba mencari kunci dan menjatuhkannya. Jongin mengambilnya dan membukanya sampai kami berada di serambi. Dia menggenggam tanganku melewati lima anak tangga. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara.

Aku mendorong pintu apartemenku hingga terbuka dan Jongin mengikutiku masuk. Dan seperti biasanya, pintu itu tertutup untuk memberikan kami privasi, seorang pria yang berbeda muncul. Seorang pria yang memiliki rasa lapar atas diriku. Aku tau, aku juga tidak akan mengatakan tidak kepadanya.

Punggungku menabrak dinding dan kakiku terangkat dalam dua detik. Mulut Jongin ada pada mulutku.

"Lilitkan kakimu padaku," katanya, mengencangkan cengkramannya pada pantatku.

Aku melakukan apa yang ia katakan. Menempel di dinding, sepatu koboi unguku terjuntai di sisi ku, seperti katak yang menunggu pembedahan, aku menyerah pada apapun yang sudah di rencanakan olehnya. Aku menerima jika Jongin berpikiran ini adalah bagian dari kami –hubungan seks ini-. Dia bertanggung jawab untuk setiap perintah atas tubuhku, dan aku terlalu menginginkan sentuhannya hingga tidak memiliki pikiran lain untuk saat ini.

"Buka risletingku dan keluarkan penisku," Aku melakukannya. Ia menarik pinggulnya ke belakang untuk memberikanku jalan. Tetapi mulut dan lidahnya masih mencimku ketika aku melepaskan risleting celana jeansnya dan mengeluarkannya, keras seperti tulang namun lembut dilapisi sutra. Aku membelai dagingnya dengan tanganku sebaik mungkin dan ia mendesis menikmati sentuhanku.

Jongin menarik rokku dan jari-jarinya di bawah celana thongku. Dia merobek sisi belakangnya. Merobek bahan seperti karetgelang sebelum mengisiku dengan ereksi besarnya. Aku berteriak ketika ia mengisiku, tubuhku meregang karena ukurannya dan aku terguncang karena sensasinya. Dia membiarkanku sebentar, tubuh kami akhirnya bersatu.

"Tataplah aku dan jangan berhenti," dia mengencangkan cengkramannya di bawah pantatku dan mulai memompaku. Keras. Dalam. Benar-benar sebuah hukuman tetapi aku tidak peduli. Aku menginginkannya sejak aku menatap mata birunya yang menyala.

"Jongin" erangku, menggeliat di dinding apartemenku ketika Jongin mendorong padaku, penisnya memilikiku luar dan dalam. Aku terus menatapnya. Bahkan ketika aku merasakan munculnya sebuah tekanan di dinding rahimku, dan ujung penisnya menusuk tempat terdalam yang ia bisa, aku terus menatapnya. Keintimannya diluar batas dan aku tidak bisa memalingkan wajahku, meskipun ingin. Aku perlu membuka mataku lebar-lebar.

"Kenapa aku melakukan ini Kyungsoo?" desaknya.

"Aku tidak tau Jongin," aku hampir tidak bisa bicara.

"Ya kau tau. Katakanlah Kyung." tubuhku menegang ketika orgasme mulai muncul, tetapi dia segera mengurangi kecepatannya, keluar masuk dengan begitu lambat.

"Katakan apa?" aku menangis, frustasi.

"Ucapkan kata-kata yang harus ku dengar. Katakanlah kebenarannya dan aku akan membiarkanmu datang." Dia menusukku dengan lambat dan menggigit bahu telanjangku dengan giginya.

"Apa kebenaran itu?" aku mulai terisak sekarang, benar-benar butuh belas kasihnya.

"Kebenarannya adalah, kau milikku." Dia mendengus dalam tiga dorongan yang keras. "Kau. Adalah. Milikku!"

Aku menahan nafas pada dorongan terakhirnya. Dia melesat lagi, begitu cepat.

"Katakan saja Kyungsoo" geramnya.

"Aku milikmu Jongin," Saat aku mengatakannya, ibu jarinya menemukan Clit ku dan membebaskan orgasmeku, berguling dan menabrak keras, sekeras gelombang lautan menabrak pantai. Seperti sebuah hadiah karena menaatinya. Aku menangis karenanya, aku masih menempel kedinding apartemenku, Jongin masih keras di dalam diriku merasakan kenikmatanku.

Gemuruh datang dari dalam dadanya ketika ia mulai klimaks; tatapan matanya nyaris menakutkan. Dia mendorong keras untuk terakhir kalinya, mengubur hingga ke pangkalnya untuk meredam diriku. Dia menempelkan bibirnya kebibirku dan menciumku, berayun melembut ketika ia mulai selesai. Tanagn kuatnya masih menahanku dan aku tidak tau bagaimana ia melakukannya, menciumku dengan manis, begitu kontras dengan seks gilanya beberapa saat yang lalu.

"Kau." Ia tercekat keluar. "Milikku."

Dia menurunkanku dari dinding, memelukku hingga kakiku menyentuh lantai, dan kemudian menarik keluar dirinya dari tubuhku, terengah-engah. Aku bersandar ke dinding untuk menopang tubuhku dan melihatnya kembali memakai celana jeansnya. Gaunku jatuh kembali ke bawah. Untuk siapapun yang melihat kami saat ini, tidak akan ada tanda-tanda kami baru saja bercinta di dinding itu. semuanya hanya ilusi. Jongin meletakan salah satu tangannya ke pipiku, merengkuhku dengan perlahan untuk menatapnya.

"Selamat malam, gadis amerikaku yang cantik. Tidur yang nyenyak dan sampai jumpa besok."

Dia membawa tangannya kewajahku, menelusuri bibirku dan daguku dan tenggorokanku dan turun ke depanku. Tatapan kerinduannya mengatakan padaku jika dia tidak ingin pergi, tapi aku tau dia akan pergi. Jongin mencium keningku dengan sangat lembut. Dia berhenti sejenak dan menghela nafas, seakan ia menghirupku, dan kemudian dia berjalan keluar dari apartemenku. Aku masih berdiri disana setelah pintu itu tertutup, tubuhku masih berdengung karena orgasme itu, celana robekku sampai di pinggang, tetesan hangat air mani mulai mengalir kepahaku. Ketukan langkah kakinya yang menjauh sama sekali bukan kesukaanku. Tidak sedikitpun.


Hari ini update Dua Bab Yeayy.

Saya minta maaf, di Bab 5 banyak sekali Typo dan ada bagian percakapan yang kurang bisa di pahami. Maaf sekali reader nim. Terimakasih juga sudah di koreksi kesalahan saya :)

Saya tunggu kritik juga cuap cuap readernim semuaa.

REVIEW YA REVIEW YA.

Queenssi9394