Present "Naked" by Raine Miller
This is Raine Miller's Story. Saya hanya me-remake. But…
Enjoy it!
Warning Typo(s) , GS.
Cast : Do Kyungsoo (girl), Kim Jongin, etc.
If you don't like, just don't read!
No bash!
This story written from Kyungsoo's side.
IT'S NOT FOR CHILD
BAB 7
Dr. Roswell selalu menulis di buku catatan selama sesi kami berlangsung. Tampak sangat bergaya-tua bagiku, tapi kemudian ini adalah Inggris dan kantornya terletak di sebuah bangunan yang berdiri ketika Thomas Jefferson menulis Deklarasi Kemerdekaan saat kembali ke Philadelphia. Dia menggunakan juga pena, yang membuat diriku begitu terkesan.
Aku menatap pena emas dan turquoise nya yang sangat indah sedang menggoreskan kata-kata ke dalam buku catatannya saat dia mendengarkan ku berbicara tentang Jongin. Dr. Roswell adalah pendengar yang baik. Bahkan, itu lebih dari apa yang seharusnya dia lakukan. Aku tidak tahu apa sesi kami akan terus berlangsung jika aku tidak mengatakan hal-hal yang seharusnya dia dengarkan.
Duduk di belakang meja elegan Perancis-nya, dia merupakan gambaran profesionalisme dan minat yang tulus. Kurasa dia berusia lima puluhan dengan kulit yang indah dan rambut putih yang sedikit tidak sesuai dengan usianya. Dia selalu memakai perhiasan yang unik dan pakaian bohemian yang membuatnya tampak berbudaya dan mudah ditemui. Ayahku telah membantu menemukannya ketika aku pertama kali pindah ke London. Dr. Roswell berada di daftar kebutuhanku bersama dengan makanan, pakaian dan tempat tinggal.
"Jadi, mengapa kau berpikir kau bereaksi dengan meninggalkan Jongin di tengah malam?"
"Aku takut dia melihatku seperti itu."
"Tapi dia tetap melihatmu." Dia menulis sesuatu di bukunya. "Dan dari apa yang telah kau katakan kepadaku, dia ingin memberikan kenyamanan bagimu dan ingin agar kau tetap tinggal."
"Aku tahu, dan itu membuatku takut. Baginya ia ingin aku mengatakan kepadanya mengapa aku memiliki mimpi itu ..." Dan ini adalah masalah terbesarku.
Dr. Roswell dan aku sudah membicarakannya berkali-kali. Apa yang akan orang pikirkan tentang aku setelah mereka tahu?
" Jongin bertanya apakah aku ingin berbicara tentang hal itu. aku bilang tidak. Dia begitu-begitu-kuat, aku tahu ini mungkin hanya masalah waktu sebelum ia mendorongku lebih jauh."
"Seperti itulah sebuah hubungan, Kyungsoo. Kau berbagi dan membantu orang lain untuk mengenalmu, bahkan untuk bagian yang paling menakutkan".
"Jongin bahkan tidak seperti itu. Dia begitu menuntut sepanjang waktu. Dia ingin ... semuanya dariku. Kurasa. "
"Dan apa yang kau rasakan saat ia menuntut bebrapa hal atau saat ia ingin kau untuk memberinya segalanya?"
"Takut apa yang akan terjadi padaku- pada Kyungsoo." Aku menarik napas dalam-dalam dan mengucapkan kalimat itu. "Tapi ketika aku bersamanya, ketika dia menyentuhku atau ketika kita ... dalam keadaan intim ... Aku merasa begitu aman dan dihargai, seperti tidak ada hal buruk yang akan terjadi padaku saat bersamanya. Untuk alasan apapun, aku percaya padanya, Dr. Roswell. "
"Apakah Kau pikir dengan memulai hubungan seksual bersama Jongin adalah alasan mengapa mimpi buruk mu muncul kembali?"
"Ya." Suara yang keluar dariku terdengar gemetar dan aku benci suara itu.
"Kyungsoo, itu hal yang sangat normal bagi korban pelecehan. Tindakan intim seks rentan bagi seorang wanita berdasarkan sifatnya. Sang wanita menerima sang pria di dalam tubuhnya. Dia kuat dan biasanya lebih dominan. Seorang wanita harus memiliki kepercayaan pada pasangannya atau aku membayangkan akan ada sebagian kecil dari kita pernah berhubungan seks sama sekali. Tambahkan itu dalam sejarahmu dan kau akan menjadi sangat kacau sekaligus campur aduk di dalam pikiran bawah sadarmu. "
"Bahkan ketika kau tidak mengingatnya?"
"Otakmu ingat, Kyungsoo. Ketakutan akan kesadaran untuk mengkhianati yang ada di sana" Dia menulis catatan singkat yang lain.. "Apakah kau ingin mencoba obat untuk tidur? Kita bisa melihat apakah ini yang akan menekan malam teror mu."
"Apakah akan berhasil?" Ini pasti mendapat perhatianku. Saran dari sesuatu yang begitu sederhana seperti pil membuatku tertawa gugup. Gagasan bahwa aku bisa tinggal bersamanya sepanjang malam ... atau dia bisa tinggal denganku, juga memberi ku beberapa harapan. Itu kalau Jongin masih ingin mencoba tidur denganku. Aku ingat saat dia berjalan keluar dari flat ku malam kemarin setelah seks-gila-di-dinding dan bagaimana aku tidak menyukai saat dia beranjak pergi. Emosiku begitu bingung. Sebagian dari diriku menginginkannya dan bagian dari diriku yang lain takut padanya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami. Dia membuatmu mengatakan padanya bahwa kau itu miliknya.
Dr. Roswell tersenyum padaku. "Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya, sayangku. Keberanian adalah langkah pertama, dan obat hanyalah sebuah alat untuk membantumu mengambil langkah-langkah selanjutnya sampai kau berhasil membuat jalanmu. Solusi tidak harus selalu rumit setiap kalinya." Dia meraih buku resep nya.
"Terima kasih banyak-" Teleponku mulai bergetar di tas tangan ku. Aku memeriksa dan melihat pesan dari Jongin. "Jongin di sini. Dia di meja resepsionis. Kami setuju, Dia menemuiku di sini sebelum ia membawaku untuk makan malam. Dia mengatakan ia ingin berbicara tentang ... kami. "
"Sangat baik bagi dua orang untuk membicarakan tentang hubungan mereka. Kejujuran dan kepercayaan yang kau berikan sekarang akan membuat ini lebih mudah untuk memilah-milah perbedaanmu kemudian "Dia memberiku resep. "Aku sangat senang bertemu dengannya, Kyungsoo."
"Sekarang?" Perasaan gugup mulai menari di perutku.
"Mengapa tidak? Aku akan mengantarmu keluar dan bertemu dengan Jongin mu. Ini sangat membantu ku untuk menempatkan wajah pada sebuah nama saat sesi kita nanti."
"Oh ... oke," kataku, bangkit kursi kain cita bunga nya, "tapi dia tidak benar-benar Jongin ku, Dr. Roswell."
"Kita lihat saja nanti," katanya dengan tepukan lembut di bahuku. Napasku tercekat di tenggorokan ketika aku melihat dia sedang memandangi lukisan di dinding sambil menungguku.
Cara dia berdiri di sana mengingatkanku pada dirinya saat sedang menatap potretku di acara Kris dan menginginkan itu. Sangat menginginkan portrait itu hingga membelinya. Jongin berbalik saat kami masuk ke ruang resepsionis. Mata birunya bersinar di wajahnya dan berubah menjadi senyum yang melunak saat ia datang ke arahku. Semburan kelegaan jatuh melalui hatiku. Jongin tampak sangat senang melihatku.
"Jongin, ini adalah terapisku, Dr. Roswell. Dr. Roswell, Kim Jongin, dia-"
"Pacar Kyungsoo," ia menyelaku lagi.
Jongin menjulurkan tangannya ke Dr. Roswell dan mungkin memberinya senyum yang mungkin akan melelehkan celana dalamnya. Saat mereka berbasa-basi , aku sekilas melihat reaksi Dr. Roswell kepadanya, dan harus kuakui sungguh memuaskan saat melihat perempuan dari segala usia mabuk oleh keindahan seorang pria. Dan aku akan ingat untuk menggunakannya selama sesi yang akan datang. Jadi, Dr. Roswell, kau berpikir Jongin adalah pria dalam-grafik seksi bukan?
"Pacar?" Tanyaku sambil berjalan ke mobilnya, memegang tanganku erat dalam telapaknya.
"Hanya menjaga hal-hal yang positif, sayang." Dia menyeringai dan menarik tangan kami terjalin sampai ke mulutnya untuk meletakkan ciuman di tangan kami yang terjalin sebelum menempatkanku ke Rover nya.
"Aku bisa mengerti itu." Kataku. "Ke mana kau akan membawaku dan mengapa kau tampak begitu tersenyum?" Dia membungkuk ke sampingku dan membawa mulutnya sampai ke bibirku tapi tidak menyentuhku.
"Aku selalu tersenyum, seperti yang kau katakan, ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan." Dia menciumku cepat dan menariknhya kembali.
"Sejak kapan kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan? Kau orang yang paling menuntut yang pernah ku temui dalam hidup ini " Aku marah dengan sarkasme lalu tersenyum kecil sendiri.
"Hati-hati, Kyungsoo. kau tidak tahu kedalaman dari apa yang ingin aku lakukan dengan dirimu." Matanya gelap. Aku membiarkan ancaman sensual mengapung di antara kami dan mencoba untuk tetap bernafas stabil.
"Kau membuatku sedikit takut ketika kau mengatakan hal-hal seperti itu, Jongin."
"Aku tahu." Dia menarik daguku ke mulutnya dengan ujung jari dan menciumku lagi. Kali ini ia menggigiti bibir bawahku dan menggoda. "Itulah sebabnya kita melangkah perlahan. Aku tidak pernah ingin menakut-nakutimu."
Matanya bergerak cepat bolak-balik saat ia mencoba membacaku, bibirnya begitu dekat tapi tidak menyentuh.
"Apakah kau menyadari ini adalah pertama kalinya kita bersama-sama saat aku tidak harus memaksamu untuk ikut denganku? Aku memiliki harapan, kau lihat?" Jongin memberi aku satu ciuman terakhir sebelum ia menarik kembali untuk menempatkan kunci kontak. "Dan itulah, Nona Do, alasan aku terlihat begitu tersenyum." Mata birunya menari sekarang.
"Cukup adil, Mr Kim, aku bisa hidup dengan itu." Dia membantuku memasang sabuk pengaman dan melaju keluar dari tempat parkir. Aku duduk kembali ke kulit lembut kursi mobilnya dan menghirup aroma tubuhnya, mengikuti dirinya yang membawaku ke suatu tempat, dan untuk saat ini percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Dr. Roswell tampaknya sangat berpengalaman," kata Jongin santai sambil mengisi anggur, "Sudah berapa lama kamu menjadi pasiennya?"
Aku melihat matanya dan bersiap-siap. Ini dia, sekarang bagaimana kau akan menghadapinya? Aku berkata pada diriku sendiri untuk bernapas.
"Hampir empat tahun. Sejak aku pindah ke sini. "
"Apakah kau datang padanya hari ini karena apa yang telah terjadi denganku?"
"Jika maksudmu pulang dengan orang asing dan membiarkan dia bercinta denganku setiap kali kita bertemu? Ya, ini bagian dari itu." Aku menelan seteguk anggur lagi. Rahangnya berdetak tapi ekspresinya tidak berubah untuk pertanyaan berikutnya.
"Dan meninggalkanku di tengah malam-adalah bagian dari itu juga?"
Kepalaku turun dan aku mengangguk. Itu yang terbaik yang bisa kulakukan.
"Apa yang menyakitimu, Kyungsoo?" Dia mengutarakan pertanyaan itu begitu lembut membuatku sekejap berpikir untuk mengatakan kepadanya, tapi aku belum siap. Aku meletakkan garpu dan selesai memakan udang fettuccini. Topik masa laluku bercampur dengan makanan yang pasti tidak-pergi.
"Sesuatu yang buruk."
"Aku bisa katakan. Aku melihat wajahmu ketika Kau bangun dari mimpi buruk." Dia menatap piring makanan. Sekarang menjauh dan kembali ke arahku. "Aku minta maaf tentang malam itu. Aku tidak mendengarkanmu." Dia mengulurkan tanganku dan mengusap ibu jarinya di atasnya. "Kurasa aku hanya ingin kau tahu bahwa kau bisa percaya padaku. Aku harap kau tahu bahwa kau bisa. Aku ingin bersamamu, Kyungsoo."
"Kau ingin hubungan kan?" Aku menatap ke bawah pada ibu jarinya yang menggosok telapak tanganku. "Kau bilang pada bahwa kau pacarku."
"Ya memang. Dan aku menginginkanmu, Kyungsoo. Dan Aku ingin sebuah hubungan." Suaranya berubah lebih kencang.
"Lihatlah aku." Aku mendongak segera, keelokannya begitu mencolok terhadap lautan linen putih pada meja di belakangnya. "Walau dengan apa adanya diriku, Jongin?"
"Dirimu sempurna bagiku."
Kulepaskan tanganku dari genggamannya. Aku harus menariknya sedikit untuk membuat dia melepaskannya. Dia benar-benar sangat Jongin, menginginkan caranya dalam segala hal, tapi dia mengijinkanku ku untuk membalik telapak tangannya keatas dan menggenggamnya. Aku menelusuri melewati garis hidupnya dan kemudian garis hatinya dan bertanya-tanya apakah salah satu dari garisku bisa diselamatkan.
"Aku tidak seperti itu, Jongin. Sempurna dan diriku tidak dapat disatukan dalam kalimat yang sama." Aku berbicara ke tangannya.
"Ungkapan yang tepat haruslah sempurna dan aku," katanya sok tahu. "Dan aku benar-benar tidak setuju denganmu, Gadis Amerika ku yang cantik dengan dentingan seksi."
Aku menatapnya lagi. "Kau sangat mengendalikan tapi kau melakukannya dengan cara yang membuatku merasa aneh ... aman."
"Aku juga tahu itu. Dan itu membuat aku cukup liar untukmu. Dan itulah mengapa kau harus percaya padaku dan biarkan aku mengurusmu. Aku tahu apa yang kau butuhkan, Kyungsoo, dan aku bisa memberikannya kepadamu. Aku hanya ingin tahu-aku harus tahu bahwa kau menginginkannya. Bahwa kau ingin menjadi milik ku."
Pelayan tiba di meja. "Apakah kau sudah selesai, Ma'am?" Tanyanya. Jongin tampak kesal ketika aku mengatakan untuk mengambil piringku dan memesan kopi.
"Kau tidak makan apa-apa malam ini." gumamnya, dia tidak senang.
"Sudah cukup. Aku tidak terlalu lapar." Aku meneguk anggur. "Jadi kau ingin aku menjadi pacarmu, dan menyerahkan kontrol kepadamu, dan percaya bahwa kau tidak akan menyakitiku. Apakah itu benar-benar apa yang kau inginkan, Jongin? "
"Ya Kyungsoo, itu yang ku inginkan."
"Tapi ada begitu banyak tentang aku yang kau tidak tahu. Hal yang aku tidak tahu tentangmu. "
"Saat kau siap kau akan berbagi denganku dan aku akan segera ke sana untuk mendengarkannya. Aku ingin tahu segala sesuatu tentangmu dan jika kau ingin tahu tentangku, kau bisa bertanya. "
"Bagaimana jika aku tidak ingin menyerahkan kontrol kepadamu dalam beberapa hal, Jongin, atau aku hal yang aku tidak bisa serahkan padamu?"
"Lalu kau katakan padaku. Kita bisa bernegosiasi dan kita berdua harus menghormati batas."
"Baiklah."
Ia memiringkan kepalanya dan berbicara lembut. "Aku benar-benar ingin bersama dengan dirimu saat ini. Aku ingin membawamu pulang, dan menempatkanmu di tempat tidurku dan menghabiskan jam demi jam dengan tubuhmu terbungkus dalam tubuhku untuk melakukan apa yang aku inginkan. Aku ingin memiliki dirimu di pagi hari sehingga ketika kita bangun, aku bisa membuat mu datang, menyebut namaku. aku ingin mengantarmu bekerja dan menjemputmu ketika saatnya untuk pulang. Aku ingin pergi ke toko denganmu dan membeli makanan yang bisa kita masak untuk makan malam. Aku ingin menonton beberapa acara omong-kosong di TV dan kau tertidur disampingku di sofa sehingga aku bisa melihat dan mendengarmu bernapas. "
"Oh, Jongin-" Kopiku tiba dan aku ingin menampar pelayan karena telah menginterupsi pidatonya yang indah. Aku menyibukkan diri memasukkan gula dan krim dikopiku. Aku minum seteguk dan mencoba untuk menemukan kata-kata. Sejujurnya aku sudah terjebak dalam dirinya. Di kait, di beri garis dan pemberat. Aku ingin semua hal dengan Jongin, aku hanya tidak yakin akan bertahan hidup padanya.
"Apa itu terlalu banyak bagimu? Apakah aku menakut-nakuti mu?"
Aku menggeleng. "Tidak Kedengarannya sangat bagus sebenarnya. Dan kau harus tahu itu sesuatu yang belum pernah aku miliki sebelumnya. Aku tidak pernah punya hubungan seperti itu, Jongin." Dia menyeringai.
"Itu akan berhasil untukku, sayang. Aku ingin menjadi yang pertama untukmu." Dia mengangkat alis dengan tampilan yang mengalirkan sindiran seksual dan membuatku ingin pulang dengan dia malam ini untuk memulai pengaturannya. "Tapi aku ingin kau memikirkannya malam ini dan kemudian memberitahuku keputusanmu. Dan kau perlu tahu bahwa aku sangat posesif pada apa yang menjadi milikku."
"Sungguh, Jongin?" Sarkasme bergulir keluar dariku. "Aku tidak harus menduga setelah apa yang terjadi di flatku tadi malam."
"Aku benar-benar bisa memukul pantat cantikmu sekarang agar kau memberikan bibirmu untukku." Dia mengedipkan mata padaku. "Aku tidak bisa menahannya. Seperti itulah bagaimana perasaanku padamu, Kyungsoo. Dalam kepalaku, kau milikku, dan itu terjadi sejak pertama kali kita bertemu." Dia mendesah di seberang mejaku. "Jadi aku akan menjadi terkendali saat ini dan mengantarmu pulang untuk tidur di flatmu, dan memberikan ciuman selamat malam di pintu, dan menunggumu untuk memberitahu aku sebaliknya." Dia menandai pelayan untuk tagihan. "Kau siap untuk pergi?"
Aku tertawa terkikik pada gambaran yang muncul di kepalaku.
"Apakah kau menertawakanku,Nona Do? Silahkan membaginya denganku."
"Aku membayangkan mu yang ingin memukulku, Mr. Kim, namun berpura-pura menjadi pria terkendali yang hanya memberikanku ciuman selamat malam di pintu." Dia mengerang dan menggeser kakinya di kursi, tidak diragukan dan aku yakin dia sedang menata ulang organ seks nya yang mengeras dan berapi-api.
"Kau akan menyaksikan keajaiban malam ini jika mobilku benar-benar berhasil membuat mu sampai ke tempatmu."
.
.
Jongin menepati janjinya. Dia mengucapkan selamat malam di pintuku. Memang ia mengambil beberapa hak yang dia miliki dengan tangannya dan aku mendapat kesan yang sangat baik dari apa yang ia mainkan di belakang lambaiannya, namun dia meninggalkan aku seperti dia telah berjanji setelah memberikanku beberapa ciumannya yang tidak tanggung-tanggung.
Aku bersiap-siap untuk tidur setelah mandi air panas dan memakai kaos tidur terlembut ku. Kaos dengan gambar Jimi Hendrix di bagian depan, gambar di mana ia berada di sebuah taman di meja yang digunakan untuk meminum teh; dianggap sebagai foto terakhir dari dirinya yang pernah diambil. Aku suka hal-hal seperti itu, dan aku mencintai Jimi sehingga kaos ini sering sekali ku pakai. Aku memutuskan sudah waktunya untuk melakukan pengintaian kecil pada pacarku, aku langsung bersemangat mengambil dan menyalakan laptopku di tengah tempat tidur dan meng-Google nama pada SIM yang dia tunjukkan padaku: Kim Jongin. Tidak banyak tentangnya. Dia memiliki halaman Wikipedia dan beberapa link untuk website Kim Security.
Meskipun begitu Wikipedia tetap membuatku terkejut. Jongin dikenal selebriti nya sebagai pemain poker untuk permainan batas tinggi. Dia memenangkan turnamen dunia di Las Vegas sekitar enam tahun yang lalu pada usia mengesankan hanya dua puluh enam. Banyak uang. Cukup uang untuk memulai usaha. Dan dengan latar belakang militer di Pasukan Khusus ia harus menemukan kedudukan yang sesuai untuknya. Jadi dia pasti berumur tiga puluh dua tahun sekarang. Aku melakukan perhitungan matematika. Hampir delapan tahun lebih tua dariku. Gambar di Google memiliki beberapa foto-foto dirinya, sebagian besar tentang kemenangan yang besar di poker.
Aku harus bertanya pada ayahku kalau dia mungkin pernah mendengar tentang Jongin. Dia mencintai turnamen poker dan masih memainkannya kadang-kadang. Aku terus menggulir halaman gambar dan berhenti setiap kali aku menemukan salah satu gambar dirinya. Ada foto dirinya dengan Perdana Menteri dan Ratu. Tuhan ... PM Italia dan Presiden Perancis? Rasa gatal menggulung punggungku. Apakah Jongin seperti James Bond atau sesuatu? Keamanan seperti apa yang dia lakukan? Jika ini adalah orang-orang yang dilindungi maka ia memiliki profil klien yang sangat tinggi. Aku tertegun. Aku mengingatkan diriku untuk meminta ayah Baekhyun kalau saja ia pernah mendengar tentang Jongin saat aku bertemu dengannya nanti. Dia adalah polisi London dan jika ada orang yang ingin diketahui, itu adalah Byun Taeyang. Aku juga tidak melihat foto pribadi tunggal Jongin dalam situasi sosial dengan seorang wanita. Dan aku bertanya-tanya apakah ia memegang kekuasaan untuk menenggelamkan hal- hal seperti itu. Tidak mungkin dia hidup dengan gaya selibat, tidak jika dilihat dari bagaimana ia mengalir dalam seks. Dan jika ia mengatakan kebenaran tentang tidak membawa mereka ke rumahnya, lalu di mana dia membawa mereka untuk seks? Ugh, aku tidak ingin memikirkan ide itu.
Ku matikan komputer, mematikan lampu dan merangkak ke tempat tidur. Aku menarik dasi ungu keluar dari bawah bantal dan mendekatkannya ke hidungku. Aromanya yang menenangkan langsung datang kepadaku. Aku sekarang merasa lebih kecil dalam skema hal ini. Dan bertanya-tanya mengapa seorang pria seperti dia bisa memperhatikanku dari saat pandangan pertama. Dari hanya potretku di acara galeri? Ide ini hampir tidak bisa dipercaya. Aku mencoba untuk menaklukkan ketakutanku dan berpikir tentang apa yang dia tawarkan kepadaku malam ini. Dan aku ingat seberapa baik rasanya bersama dengan dirinya dan bagaimana dia membuat tubuhku terbakar saat berhubungan seks. Aku tidak perlu khawatir tentang apa pun yang menakutkan atau sesuatu yang curang dengan Jongin. Dia, jika tidak ada apa-apa, sangat jujur. Ia mendominasi, tentu. Tapi aku suka itu. Butuh tekanan dalam diriku dari aspek kehidupan di mana aku bisa memegang sedikit kepercayaan.
Aku ingin dia, aku hanya tidak tahu apakah dia masih menginginkanku begitu dia tahu seluruh cerita diriku.
Saya tunggu kritik juga cuap cuap readernim semuaa. Terimakasih
REVIEW YA REVIEW YA.
Thanks
Queenssi9394
