Present "Naked" by Raine Miller

This is Raine Miller's Story. Saya hanya me-remake. But…

Enjoy it!

Warning Typo(s) , GS.

Cast : Do Kyungsoo (girl), Kim Jongin, etc.

If you don't like, just don't read!

No bash!

This story written from Kyungsoo's side.

IT'S NOT FOR CHILD


BAB 8

Waterloo Bridge telah membuatku kelelahan keesokan paginya. Aku pulang disambut dengan aroma surgawinya kopi yang sudah dibuat oleh teman sekamarku. Aku melewati Baekhyun setengah jam kemudian dalam perjalananku diluar pintu menuju kelas.

"Kau akan ke pameran Mallerton jam sepuluh nanti?" Tanya dia.

"Aku ingin kesana. Aku salah satu anggota konservasi Lady Percival sekarang. Aku berharap untuk mengetahui sedikit banyak darimana dia berasal. Dia memiliki beberapa kerusakan akibat kepanasan dan apinya melelehkan lapisan catnya di atas judul dari buku yang dia pegang. aku benar-benar ingin tahu buku apa itu. Seperti sebuah rahasia yang harus kutemukan."

"Yay!" Dia bertepuk tangan dan sedikit melompat-lompat. "Ini adalah pameran ulang tahunnya. Kyungsoo" Aku pura-pura menghitung dengan jariku. "Ayo kita hitung, Sir Tristan akan berumur Dua ratus dua puluh delapan?"

"Dua ratus dua puluh tujuh tepatnya."

Baekhyun sedang mendalami seorang pelukis romantis, Tristan Mallerton untuk dissertation (tugas akhir S2 di UK/Inggris), jadi ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan dia, Baekhyun adalah orang pertama yang akan mengantri untuk mendapatkan tiketnya.

"Oke, kelebihan satu tahun. Itu tidak terlalu buruk." Dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang sempurna dan bibirnya penuh yang membuatku bertanya-tanya mengapa dia tidak ingin menjadi model. Kilau kemerahan di rambut hitamnya dikombinasikan dengan warna kulit mukanya nyaris kuning langsat membuatnya tampak eksotik. Pria selalu tersandung saat melihat teman sekamarku, tapi dia selalu tidak ingin berhubungan dengan mereka. Sangat jauh denganku, aku pikir. Sampai Jongin datang dan mengganggu kehidupanku yang nyaman.

"Ayo kita membuat rencana untuk pergi bersama-sama-membuat satu malam yang berkesan. Aku ingin membeli baju baru meskipun hanya satu. kau ingin berbelanja juga, kan?" Tampilan Baekhyun dan suaranya begitu sialan bersemangat dan aku tidak tega untuk menolaknya.

"Kedengarannya sangat menyenangkan, Baek. Aku butuh mengalihkan perhatianku dari kehidupanku yang tiba-tiba menjadi rumit." Aku memiringkan kepalaku dan mulutku membentuk kata tanpa suara, "Jongin."

Baekhyun memberikan perhatian kepadaku lalu menyilangkan kedua lengannya. "Apa yang terjadi dengan kalian berdua?"

"Dia menginginkan suatu hubungan. Hubungan yang benar-benar nyata, seperti di mana kami tidur dan memasak makan malam dan menonton TV."

"Dan banyak dan banyak sekali melakukan hubungan seks yang panas sampai klimaks," tambah Baekhyun dan kemudian mengulurkan tangan kepadaku. "kemarilah. Kau tampak seperti membutuhkan pelukan." Aku mendekat ke pelukannya dan memeluk erat temanku.

"Aku takut, Baek," bisikku di telinganya.

"Aku tahu, Kyungsoo. Tapi aku sudah melihatmu saat bersama dia. Aku melihat bagaimana dia menatapmu. Mungkin ini adalah satu langkah yang besar. Kau tidak akan tahu kecuali kau harus mencobanya." Dia menyentuh wajahku. "Aku merasa senang melihatmu bahagia, dan kupikir dalam hal ini kau harus melakukan lompatan kecil untuk mempercayainya. Sejauh ini Kim Jongin ada di daftarku sebagai orang yang baik. Jika dia berubah atau jika ia menyakiti salah satu rambutmu yang halus di kepalamu yang tidak bersalah itu, maka bolanya yang menarik dari cowok itu akan kuubah menjadi satu set permainan Klik-Klaks. Dan tolong katakan padanya kalau aku mengatakan itu. "

"Ya Tuhan, aku makin menyukaimu Baekhyun!" Aku tertawa dan masuk ke kelas, memikirkan bagaimana aku akan menyampaikan kabar ini pada Jongin. Tiga jam kemudian dia mengirim SMS.

From : Kim Jongin

Aku merindukanmu Kyungsoo. Kapan aku akan bertemu denganmu?-

Aku tersenyum saat membaca kata-kata itu. Dia merindukanku dan ia tidak takut untuk mengatakannya. Pendekatan langsung Jongin merupakan keajaiban yang bisa menenangkan sarafku dan ketakutanku tentang hidup bersama, aku harus mengaku kepadanya. Aku mengumpulkan tekadku dan membalasnya.

To: Kim Jongin

Segera jika kau tidak sibuk , Bolehkah aku datang kekantormu?-

Teleponku seketika itu juga langsung menyala dan terdengar suara tegas menjawab "Ya" beserta petunjuk kemana aku harus pergi, lift yang akan membawaku ke lantai berapa, rencana untuk makan siang denganku- modus operandi khasnya Jongin ku. Hal itu juga membuatku tersenyum. Apakah aku hanya mengatakan Jongin kepunyaanku? Begitu aku melakukannya-aku sadar saat aku menyelinap menuju stasiun bawah tanah dan mulai menuruni tangga.

Aku ingin berhenti di apotek yang ada disepanjang perjalananku untuk membeli obat yang baru diresepkan oleh dokterku, jadi aku akan turun dari gerbong kereta api dua stasiun berikutnya. Dari stasiun bawah tanah aku berjalan naik, kembali ke jalanan, aku memasuki Boots dan memberikan resepnya. Aku meraih keranjang belanja dan melihat sekeliling saat aku menunggu apotekernya mengambilkan obatku. Sebuah gagasan muncul dalam pikiranku dan aku langsung melakukannya, mengambil barang dari rak dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Ketika mengantri di kasir untuk membayar, aku menyadari ada seorang pria besar di belakangku menunggu dengan membawa satu botol air. Well , aku terpaku melihat tatonya. Dia memiliki tato yang indah di bagian dalam lengannya yang memperlihatkan tanda tangan lengkap dari Jimi Hendrix, bentuk lengkungan besar huruf J begitu jelas seolah-olah Jimi yang menuliskan itu sendiri.

"Tato yang bagus," kataku padanya, menyadari bagaimana dia benar-benar bertubuh sangat besar. Setidaknya enam lima, otot yang keras, dengan rambut pirang keputihan model spike dan wajahnya memancarkan rasa percaya diri-seakan dia adalah seorang pria yang mana kamu tidak ingin membuat masalah dengannya.

"Terima kasih." Matanya lembut hampir mendekati warna hitam dan dia bertanya, "Apakah kamu penggemarnya?" Untuk beberapa alasan, aksen Inggris-nya benar-benar kembali membuatku tenang, bertentangan dengan bentuk penampilan fisiknya.

"Penggemar fanatik," jawabku sambil tersenyum sebelum berjalan keluar untuk kembali naik kereta api. Aku memasang headset iPod ke telingaku saat di dalam kereta. Mungkin sebaiknya mendengarkan beberapa lagu dari Jimi dan memikirkan tentang apa yang akan kukatakan pada Jongin ketika aku bertemu dengannya.

Kim Security terletak di Bishopsgate di pusat kota tua London diantara semua gedung modern pencakar langit lainnya. Entah bagaimana ini bukan satu kejutan buatku saat aku mencoba menggambarkan Jongin dibelakang meja-mengenakan stelan yang tampak seksi - serta baunya yang begitu menyenangkan. Aku keluar dari kereta di stasiun Liverpool Street dan mulai berjalan menaiki tangga menuju jalanan. Aku tersandung saat menginjak celah tangga beton dan meraih pegangan tangganya. Lututku selamat tapi tas belanjaanku terlepas, isinya berhamburan keluar. Aku mengutuk dengan berbisik saat aku berbalik dan membungkuk untuk mengambil semua barangku dan melihat pria yang sama, yang pernah kulihat saat mengantre di Boots dengan tato Hendrix.

Dengan efisien dia membantuku mengumpulkan barang-barangku dan menyerahkan tasnya kepadaku. "Hati-hati dengan langkahmu," katanya lembut dan melanjutkan menaiki tangga.

"Terima kasih," seruku dari belakang punggungnya, ototnya seperti bergetar darii balik kemeja hitamnya. Aku baru saja keluar dari tangga menuju trotoar ketika teleponku mulai berdengung.

From : Kim Jongin

Apa aku boleh mengkhawatirkan mu? Dimana kau?-

To : Kim Jongin

Hampir sampai disana. Bersabarlah!-

Di dalam lobi terlihat tulisan berjalan Kim Security Internasional lantai empat puluh sampai empat puluh empat, namun Jongin sudah memberitahuku untuk menemui dia di lantai empat puluh empat. Aku berjalan menuju ketempat petugas keamanan dan menyebutkan namaku. Penjaga itu sedikit tersenyum dan menyodorkan pena untuk menandatangani buku tamu.

"Mr Kim sudah menunggu anda, Nona Do. Jika anda mau menunggu sebentar, aku akan membuatkan tanda pengenal agar anda bisa langsung scan tanda pengenalnya melalui pintu ini pada kunjungan yang akan datang."

"Oh ... baiklah." aku membiarkan pria itu melakukan pekerjaannya dan dalam beberapa menit aku meluncur ke lantai 44 dengan tanda pengenal ID Kim Security-ku sendiri. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat ketika aku semakin mendekati tujuanku. Beberapa kali aku menelan ludah dan merapikan jaket kulit hitamku. Rok hitam yang dipadukan dengan sepatu bot merah dan itu bukanlah pakaian yang tidak pantas dalam kondisi yang logis, tapi aku tidak mengenakan salah satu pakaian untuk urusan kantor. Tiba-tiba aku merasa sadar dengan sendirinya dan berharap orang-orang tidak menatapku. Aku benci akan melihat itu.

Dengan tas di bahuku dan kantong belanjaan Boot di tanganku aku melangkah keluar dari lift dan berjalan memasuki ruang yang dirancang sangat rapi dan berseni. Ada foto-foto berbingkai hitam dan putih dari gambar keajaiban arsitektur dari seluruh dunia di dinding, jendela kaca besar yang menghadap ke kota, dan seseorang yang berambut merah sangat cantik di belakang meja.

"Do Kyungsoo, ingin bertemu dengan Mr Kim." Dia menatapku secara menyeluruh sebelum berdiri dari balik mejanya.

"Oh dia sudah menunggumu,Nona Do . Aku akan mengantarmu sampai ke kantornya" Dia tersenyum sambil menahan pintunya untukku.

"Aku harap kau menyukai masakan Cina." Aku mengikutinya dan tidak menjawab komentar itu, tapi bukan karena aku tidak ingin menjawab, tetapi karena semua orang sedang memperhatikan kami. Setiap kepala melongok dari balik tempat kerjanya menatap ke arah kami. Rasanya aku ingin tenggelam melalui celah di lantai dan bersembunyi disana. Akan kulakukan setelah aku membunuh Jongin. Apa sih yang sudah ia lakukan? Mengumumkan melalui email secara massal bahwa pacarnya akan mampir untuk memberinya blow job (oral seks) di kantornya? Aku merasakan wajahku memanas saat aku mengikuti resepsionis yang manis itu yang sudah memiliki cincin pertunangan di tangan kirinya atau mungkin itu hanya perasaanku saja karena aku tidak mau memandang semua wajah mereka.

"Wow ... sambutan cukup meriah yang kau berikan disini," gumamku.

"Jangan khawatir, mereka hanya penasaran siapa yang bisa menarik perhatian bos. Omong-omong, aku Taeyeon."

"Kyungsoo," kataku.

Dia berhenti dan mengetuk pintu ebony ganda yang terlihat sangat bagus sebelum masuk. "Ini adalah Yoona, asisten Mr Kim. Yoona, Nona Do sudah datang."

"Terima kasih, Taeyeon," Yoona tersenyum dan menyapaku.

"Nona Do, senang bertemu denganmu." Dia mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku dengan tegas. Aku bertanya-tanya apakah sangat buruk karena menyukai fakta bahwa asisten pribadi Jongin adalah seorang yang mungkin lebih tua dari ibuku dan penggemar stelan poliester. Seakan ukuran kegelisahanku menurun beberapa derajat saat aku tersenyum kembali pada Yoona. Meski dia orang kepercayaan sebagai penguasa domain, dia terlihat sangat baik ketika dia menunjuk ke arah pintu kedua.

"Silakan masuk,Nona Kyungsoo. Dia sudah menunggumu." Aku membuka pintu yang tampak seperti berat namun begitu mudahnya hingga jari kelingkingku bisa mendorongnya, dan cepat-cepat masuk ke dalam kantor Jongin. Aku menutupnya lagi dan seperti mau pingsan, saat mencarinya sambil menutup mataku dan menemukan dia depan hidungku.

"Benar sekali. Terus lanjutkan dengan apa yang sudah kamu lakukan. Ya. Aku ingin laporan ini tiap jam ketika kau berada di lapangan. Protokol ... " Dia sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Aku membuka mataku dan melihatnya dari tempatku berdiri didepan pintu kantornya. Dia begitu percaya diri dan sangat tampan, memakai kemeja bergaris warna abu-abu gelap. Dan dibawahnya, lihatlah, dasi ungu yang lainnya! Salah satu dasi yang begitu gelap, hampir mendekati warna hitam, tapi pria ini terlihat sangat menarik dengan dirinya sendiri. Ia mengakhiri pembicaraannya di telepon dan menatap ke arahku. Aku merasa mendengar suara klik pintu di punggungku. Dia menyeringai dengan menaikkan salah satu alisnya. Aku melotot ke arahnya.

"Semua orang menatapku, Jongin! Apa yang kau lakukan, mengirim email sialan ke seluruh kantor ini?"

"Kemarilah dan duduklah di pangkuanku." Dia mendorong kebelakang dari meja yang besar itu dan membuat ruang untukku. Tidak memberikan reaksi sama sekali atas tuduhanku. Hanya permintaan dengan rasa percaya diri yang keluar dari mulut indahnya dan aku segera mendekatinya.

Well, aku melakukannya. Aku melangkahkan sepatu bot merahku menuju ke arahnya dan duduk seperti yang diperintahkannya. Dia menempatkan tangannya di sekelilingku dan menarikku mendekati tubuhnya untuk menciumku. Ini sangat membantu suasana hatiku menjadi jauh lebih baik.

"Aku mungkin sedikit membocorkannya saat kau ingin datang untuk bertemu denganku." Dia mendorong satu tangannya naik ke atas pahaku, di balik rokku, kurasa suhu tubuhnya sangat panas. "Jangan marah padaku. Kau terlalu lama sampai ke sini dan aku terus mengecek ke depan menemui Taeyeon untuk melihat apakah kau sudah datang."

"Jongin? Apa yang kau lakukan?" gumamku dibibirnya saat tangannya terus mengikuti jari-jarinya yang panjang kearah tempat yang dituju. Dia memaksa kakiku terbuka sehingga ia mendapatkan apa yang ada di antara pangkal pahaku.

"Hanya menyentuh apa yang menjadi milikku, Kyungsoo." Dia menelusuri sepanjang lipatan celana dalam renda merahku yang sudah usang kemudian mendorongnya kesamping. Aku meregangkan otot-ototku untuk mengantisipasinya dan tersengal-sengal begitu kerasnya.

"Berapa kali kau berjalan keluar untuk memeriksaku?"

"Hanya beberapa ... empat atau lima kali." Jarinya menemukan clit-ku dan mulai menggosok dengan memutar-mutar diatas sarafnya yang sekarang sudah licin, membuatku kacau seperti biasanya.

"Itu banyak sekali, Jongin ..." Aku hampir tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, aku seperti tertangkap oleh kenikmatan yang terjadi karena keajaiban jarinya. Aku membuka kakiku sedikit melebar dan naik semakin mendekati tangannya.

"Pintu-"

"-Terkunci, Sayang. Jangan memikirkan apapun kecuali aku dan apa yang kulakukan." Jongin mencengkeramku keras dengan satu tangan dan menahan dengan tangan yang lainnya. Tidak ada satupun yang bisa kulakukan selain fokus di mana ia membawaku. Dia beralih ke ibu jarinya dan menggosoknya sedikit lebih keras. Dua jarinya masuk dengan satu dorongan yang begitu lancar dan mulai mengusapnya.

"Kau sialan basah untukku." Dia menghempaskan mulutnya untuk menciumku dan seakan menegaskan juga bahwa aku miliknya.

Aku berteriak ketika aku datang ke puncak di pangkuan Jongin dengan jari-jarinya di dalam tubuhku sambil mencium bibirku, benar-benar menguasai dan mendominasi. Dan terlihat sangat puas. Dia memelukku erat sepertinya dia takut aku akan mencoba untuk meninggalkannya, tapi dia tidak perlu khawatir. Aku menarik napas dalam-dalam, sensasi itu masih merembes melewati aliran darahku ketika aku mencoba untuk memproses efeknya terhadapku. Aku tidak mempunyai kontrol untuk diriku sendiri saat berada di sekeliling Jongin. Tidak ada. Aku menatapnya ketika aku bisa mengendalikan diriku dan memperoleh tatapan tajam dari matanya yang sangat biru.

"Tanganmu pasti menjadi kotor," kataku, mengetahui apa yang dia katakan adalah benar. Aku basah kuyup. Dia menyeringai nakal dan menggoyangkan jarinya yang masih ada di dalam diriku.

"Aku justru menyukai di mana tanganku sekarang berada. Meskipun aku berharap ini yang melakukannya." Dia menyodorkan kemaluannya keatas di pantatku dan aku tidak ragu apa yang dia inginkan. Aku bisa merasakan bagamana kerasnya dia dan seakan bergetar.

"Tapi-kita berada didalam-kantormu."

"Aku tahu, tapi pintunya terkunci dan tak seorang pun bisa melihat di dalam sini. kita benar-benar seperti sendirian disini." Dia menciumi leherku dan berbisik," Hanya kau dan aku." Aku bergerak untuk turun tapi dia mendekapku erat-erat, kedipan rasa ketidaksenangan terlintas di matanya. Aku mencoba lagi dan ia membiarkan aku lepas kali ini. Aku merosot ke lantai dan berlutut, menghadap selangkangannya, tubuhku sebagian besar tersembunyi dari balik mejanya. aku meletakkan tanganku di atas tubuhnya yang mengeras dan menekannya. Aku menatapnya keatas dan melihat penampilannya yang menginginkan dan bergairah di matanya dan tahu apa yang kuperlukan saat aku melakukan itu.

"Jongin ... Aku ingin mengisap-"

"Ya!" Itu semua petunjuk yang aku butuhkan. Aku membuka dan menurunkan ritsleting celananya dan menemukan hadiahku. Ya Tuhan, ia memiliki bentuk yang sangat indah. Jongin mendesis ketika aku menggenggamnya dan menjilat ujungnya, menyukai rasa asin dari miliknya. Aku menarik kebelakang dan melihat lebih banyak lagi. Inilah yang sudah pernah berada didalam diriku -beberapa kali- dan aku belum pernah benar-benar melihatnya dengan baik. Dia besar dan keras serta halus seperti beludru. Aku membelainya sampai keatas dan tersenyum ke arahnya. Dia menggigit bibir dan menatapku seakan dia bisa memotongnya menjadi dua dengan sedikit tekanan saja.

"Kau begitu sempurna," gumamku, dan kemudian aku menutup mulutku di atasnya dan menarik miliknya yang indah itu menembus masuk ke dalam mulutku. Jongin mencengkeram kursi dan mendorongnya masuk ke tenggorokanku. Aku berhasil membuatnya lebih baik, membelai dengan tanganku dan mengisapnya jauh ke dalam mulutku. Dengan lidahku, aku menjentikkan diatas pembuluh darahnya yang membesar yang membuatnya ereksi dan mendengar dia mengerang. Aku tidak menghentikan langkahku atau dimana aku akan melakukan semua ini. Ini akan sampai ke garis finish denganku dan aku berniat untuk mendapatkan jalanku. Dia pasti bisa membaca bahasa tubuhku karena tangannya pindah ke kepalaku dan menahanku saat dia mendorongnya masuk ke dalam mulutku.

Aku membawanya semua tanpa tersedak sama sekali dan ketika bolanya menegang, aku tahu dia sudah dekat, aku mencengkeram keras pinggulnya dengan kedua tanganku hingga dia tidak bisa menarik mundur.

"Oh, sialan aku akan datang dengan keras!" Jongin mengejang dengan kuat dan menumpahkan esensi hangat ke belakang tenggorokanku, sambil menahan kepalaku dengan kedua tangannya saat ia mencapai klimaks.

"Ya Tuhan ... Kyungsoo." Dia terengah-engah mengambil napasnya dalam-dalam. Aku mengangkat mataku ketika ia keluar dari mulutku. Aku menelan perlahan sambil melihat bawah bibirnya yang gemetar saat dia memperhatikan aku. Dia menarik tubuhku dari lantai ke arahnya, kedua tangannya masih memegang sisi wajahku dan menciumku pelan-pelan dan semakin dalam, rasanya begitu menyenangkan, aku seakan melambung pada gerakan itu. aku merasa lega bisa menyenangkan dirinya. Hal itu membuatku merasa senang karena bisa membuatnya bahagia.

Kembali diatas pangkuannya lagi setelah memperbaiki pakaian kami, kami begitu nyaman saat duduk di kursinya bersama-sama. Jari-jarinya menelusuri rambutku sambil menggigit dengan lembut leherku. Aku bermain-main dengan klip dasi peraknya dengan ukiran yang tampak seperti sesuatu yang klasik dan membiarkan dia memelukku sebentar.

"Ini sangat indah," kataku.

"Kau cantik," bisiknya ke telingaku.

"Aku menyukai kantormu. Foto-foto di ruang resepsionis sangat indah."

"Aku suka saat kau mengunjungi aku di kantorku."

"Aku bisa melihat itu, Jongin. Kau cukup ... ramah." Aku terkikik kepadanya. Dia menggelitikku dan membiarkan aku menggeliat kegelian agak lama menurut pendapatku. Aku menepuk tangannya untuk menjauh dari tulang rusukku.

"Apa yang kau bawa untukku dari belanjaanmu? Aku harap itu adalah menyenangkan," katanya meraih tas Boots itu. "Aku suka Jolly Ranchers. Cherry adalah favoritku-" Aku merebut tas belanjaanku dari dia sebelum dia bisa melihat semuanya.

"Hei! Tahukah kamu lebih baik untuk tidak menyelidiki isi tas wanita? kau mungkin akan menemukan sesuatu yang bisa mempermalukan kita berdua di sana." Dia mengerutkan bibirnya dan mendesah.

"Kurasa kau mungkin benar," katanya begitu santai. Lalu ia menyeringai seperti iblis dan menyambar tas sampai benar-benar lepas dari tanganku. "Tapi aku ingin melihatnya juga!" Dia mengambilnya dan menjauhkan dari jangkauanku dan mulai mengeluarkan barang-barangnya.

Dia sangat tenang ketika ia mengeluarkan sikat gigi ungu kemudian pasta gigi. Ia menempatkannya di atas mejanya dan memasukkan tangannya kembali ke dalam tas itu. Mengeluarkan sisir baru, pelembab dan lip gloss yang biasa aku gunakan. Dia terus mengeluarkan semua yang kubeli di Boots. Shampo yang biasa kupakai, gel untuk mencukur, bahkan botol kecil minyak wangi Tommy Hilfiger Dreaming yang biasa kupakai setelah mandi. Dia menjajarkan semuanya dengan rapi dan menatapku begitu tenang dan sangat serius.

"Aku pikir kau tidak bisa, Kyungsoo."

"Aku juga." Aku mengeluarkan satu-satunya yang dia tinggalkan di dalam tas. Obatku.

"Tapi Dr Roswell memberi aku ini, dan berharap bahwa aku bisa melakukannya." Aku menyentuh rambutnya dan merapikannya. "Pil ini untuk membantuku tidur jadi aku tidak akan terbangun seperti yang kulakukan terakhir kali itu. Maksudku, kalau aku pacarmu maka aku ingin ... mencoba untuk tinggal bersamamu sesekali-" Dia memotongku dengan sebuah ciuman sebelum aku bisa meneruskan kata-kataku lagi.

"Oh, Kyungsoo, kau membuatku sangat senang," katanya di antara ciumannya lagi. "Malam ini? kau akan menginap malam ini? Tolong katakan ya." Ekspresinya seperti mengatakan semuanya kepadaku bahwa dia ingin mengetahui jawabanku adalah benar-benar ya. Dia menginginkan aku tinggal, mengacaukan kebiasaan tidur kami dan semuanya. Aku menatap klip dasinya lagi dan berbicara untuk itu.

"Jika kau bersedia untuk mencoba, begitu juga denganku, bagaimana aku bisa mengatakan tidak?"

"Lihatlah aku, Kyungsoo." Aku lakukan dan melihat bentuk rahangnya yang keras. Aku juga bisa melihat banyak emosi dalam dirinya juga. Jongin benar-benar tidak pernah menyembunyikannya dari ku. Dia mungkin milik publik di tempat umum, tapi ditempat pribadi dia milikku, seperti kata pepatah 'he wore his heart on his sleeve'(dia tidak pernah menyembunyikan perasaannya).

Apa yang kau lihat adalah apa yang kau rasakan. Dia mengatakan kepadaku apa yang dia inginkan dariku tanpa meminta maaf bagaimana kata-katanya yang begitu terus terang.

"Aku ingin kau menatap mataku ketika aku mengatakan bahwa aku bersedia untuk mencobanya, dan aku merasa sangat senang bahwa kau juga begitu." Dia mencium rambutku. "Dan aku ingin kau memilih satu kata. Sesuatu yang bisa kau katakan kepadaku jika kau ingin pergi karena kau takut atau jika aku melakukan sesuatu kepadamu yang tidak kau inginkan itu terjadi." Dia menahan wajahku untuk menatapnya. "Kau hanya mengatakan kata itu dan aku akan berhenti, atau aku akan mengantarmu pulang. Tolong jangan pernah keluar seperti itu lagi. "

"Seperti kata aman?" Tanyaku. Dia mengangguk.

"Ya. Persisnya seperti itu. Aku ingin kau percaya padaku. aku memerlukan itu, Kyungsoo. Tapi aku ingin mempercayaimu juga. Aku tak bisa-aku tak ingin merasa seperti itu lagi. Ketika kau meninggalkan aku malam itu-" Dia menelan ludah dengan kaku. Aku melihat gerakan berdenyut di tenggorokannya dan tahu bahwa ini adalah sesuatu yang penting baginya. "-Aku tidak ingin merasakan lagi bagaimana perasaanku ketika kau pergi."

"Aku minta maaf karena aku meninggalkanmu seperti yang kulakukan itu. aku merasa kewalahan karena kau-kau seakan menguasaiku, Jongin. Kau harus tahu bahwa inilah kenyataannya." Dia menempelkan bibirnya ke dahiku dan berbicara.

"Oke, tapi tolong beritahu aku kapan kamu merasa seperti itu. Ucapkan kata amanmu, apa pun itu dan aku akan mundur. Hanya saja jangan tinggalkan aku seperti itu lagi."

"Waterloo." Dia menatapku dan tersenyum.

"Waterloo adalah kata amanmu?"

Aku mengangguk. "Ya." aku melihat ke arah makanan yang ditata di atas meja untuk makan siang kami dan menghirup aromanya. Masakan Cina seperti yang dikatakan Taeyeon, hidungku langsung menyatakan persetujuannya.

"Apakah kau akan memberiku makan atau apa? kupikir, aku akan mendapatkan makan siang disamping kesepakatan ini."Aku menyodok dadanya.

"Kau tahu seorang gadis membutuhkan lebih dari pada sekedar orgasme." Jongin mendongakkan kepalanya ke belakang sambil tertawa dan menghampiri aku lalu memukul pantatku. "

Ayo. Mari kita makan, gadis Amerikaku yang cantik. Kita harus menjaga supaya kondisimu tetap sehat. Aku punya rencana besar untukmu nanti malam." Matanya menyala kearahku sambil mengedipkan matanya dengan nakal. Aku tahu aku langsung tersesat.


Update Bab 8 yeay! Terimakasih buat yang sudah kasih review di Tiap chapter dan buat yang nunggu Remake ini.

Gak kerasa udah Bab 8 aja, sisa beberapa Bab lagi and The End.

REVIEW YA REVIEW YA.

Thanks

Queenssi9394