Present "Naked" by Raine Miller

This is Raine Miller's Story. Saya hanya me-remake. But…

Enjoy it!

Warning Typo(s) , GS.

Cast : Do Kyungsoo (girl), Kim Jongin, etc.

If you don't like, just don't read!

No bash!

This story written from Kyungsoo's side.

IT'S NOT FOR CHILD


BAB 9

Teleponku berbunyi ketika aku mengemasi tas menginapku. Aku melihat siapa yang menelphone dan aku melihat ke jam. Jongin mengatakan bahwa dia akan berada di sini sebelum jam 7 untuk menjemputku. Masih kurang lima belas menit saat ini.

" Apakah kau berubah pikiran dan membatalkan acara menginap kita malam ini Jongin?" Jongin tertawa.

"Tidak mungkin itu terjadi dan aku berharap tas mu sudah siap Kyungsoo."

"Jadi kenapa kau belum berada di sini untuk memburu-buru aku ?"

"Ya, Baiklah begini Aku harus mengirimkan mobil untuk menjemputmu. Sebuah urusan bisnis mendadak menggangguku. Aku minta maaf. Nama supir nya Chen dan dia bekerja untukku. Dia akan membawamu ke apartemenku dan aku ingin kau membuat dirimu nyaman seperti di rumahmu sendiri sampai aku tiba di sana. Bisakah kau melakukan itu untukku Kyung?"

"Aku pikir bisa." Pikiranku berputar dengan implikasi diriku berada di rumahnya sendiri. Aku sebenarnya tidak takut tapi ide itu juga tidak membuat aku senang

"Apakah kau yakin Jongin? Maksudku - kita bisa melakukan ini pada malam yang lain jika kau sibuk-"

"- Aku tidur bersamamu malam ini Kyungsoo. Di atas tempat tidurku. Akhir dari percakapan."

"Oh Boy." Aku tersenyum kepada telepon. " Kalau begitu bisakah aku menyiapkan makan malam untukmu? Apakah ada makanan di rumahmu atau haruskan aku meminta supirmu berhenti di supermarket?"

"Tidak usah. Ada makanan di rumahku dan bahkan ada beberapa makanan di dalam kulkas. Pembantu ku memasak beberapa makanan dan memasukkannya ke dalam kulkas. Kau pilih apapun yang kau suka- permisi sebentar."Aku mendengar suara Jongin seperti menghilang dan Jongin berbicara dengan seseorang.

"Aku harus pergi Kyungsoo. Aku akan berjumpa denganmu sesegera mungkin yang aku bisa." Aku mengucapkan selamat tinggal, tapi Jongin sudah mematikan telepon. Aku memandang teleponku untuk beberapa saat sebelum meletakkannya, tersesat ke dalam surealis dan merasa bagai Alice in wonderland lagi. Hidupku seperti meluncur dengan cepat ke depan tanpa aku bisa mengganti caranya. Aku sudah berubah dari wanita single menjadi kekasih seorang pria hanya dalam waktu satu minggu dengan tidak ada tanda untuk melambat sama sekali. teleponku berbunyi lagi tanpa ada nama di layar.

"Halo." Aku menjawab.

"Nyonya, nama saya Chen. Mr. Kim meminta saya untuk menjemput anda. Ada Rover hitam menunggu anda di bawah." Kata-kata efisien dengan Aksen inggris lancar terucap. Chen. Aku ingat apa yang Jongin katakan tentang supir.

"Tentu. Aku akan segera ke bawah." Aku menyampirkan tasku ke bahu dan berjalan menuju jalanan dengan cepat. Mobil yang menungguku terlihat persis sama dengan Range Rover milik Jongin, tetapi aku tergelincir mundur saat aku melihat Chen-si supir itu besar, berotot, pirang terang, rambut cepak dengan mata yang sangat gelap.

"kau!" Aku berkata, benar-benar pria dengan tato Jimi Hendrix tadi.

"Ya Nyonya." Chen menahan pintu penumpang terbuka untukku, ekspresi wajahnya tidak memberikan tanda apapun kepadaku.

"Kau menguntit aku hari ini!" Itu tidak perlu dipertanyakan karena aku yakin Chen menyadarinya. Aku menjatuhkan tasku ke lantai , melipat tanganku di bawah payudaraku dan berdiri dengan gaya Mexican. "Berikan satu alasan kenapa aku harus masuk ke dalam mobil bersamamu, Chen." Chen tersenyum dan memandang ke tasku di bawah di pinggir jalan.

"Aku bekerja untuk Mr. Kim?" Aku memberikan Chen wajah tanpa ekspresi terbaikku. Dia mencoba lagi. "Dia akan memecatku jika aku tidak membawamu ke apartemennya seperti yang dia perintahkan?" Chen kembali memandandangku, Mata hitamnya tulus. "aku sangat menyukai pekerjaanku Nyonya Do."

Hatiku mulai berputar dengan pikiran yang lebih liar untuk apa yang aku sedang lakukan, apa yang Jongin rencanakan, berapa banyak orang yang terlibat dalam urusanku, dan daftarku bisa terus bertambah dan bertambah. Man oh Man, apakah kita membutuhkan diskusi atau apa ! tetap saja tidak adil jika melampiaskan rasa frustasiku kepada Chen, yang tampaknya hanya melakukan pekerjaannya.

"Cukup adil Chen." Aku memungut tasku dan naik ke jok belakang. " Tapi kesepakatan berakhir jika kau terus memanggil aku Nyonya, mengerti? Namaku Kyungsoo. Dan jika Kim Jongin tidak menyukainya kau bisa memberitahu dia bahwa dia bisa mencium bokong informal Yankee ku. Dia harus tahu bahwa wanita amerika merasa rendah jika dipanggil Nyonya." Chen mengangkat kepalanya kepadaku dan menyeringai saat dia menutup pintu mobil.

Chen mulai mengemudi saat aku melihat di kursi belakang. Kesunyian ini menggangguku sehingga aku berpikir mungkin aku harus membuka pembicaraan.

" jadi Jongin mempekerjakanmu untuk mematai-matai aku di sekitar London Ya?"

"Perlindungan nyonya—maksudnya Kyungsoo. Bukan memata-mataimu." Chen menjawab.

"Perlindungan dari apa?"aku menuntut jawaban. " Apakah kau juga mengamati aku saat aku lari pagi?" Chen memandang ke arahku melalui kaca spion.

"Kota bisa menjadi tempat yang berbahaya." Matanya kembali ke jalan. Hari mulai hujan dan suara wipers mobil menarik dengan ritme ke depan dan ke belakang. " Dia hanya sangat megawasi segala hal." Chen berkata dengan hati-hati.

"Ya. Aku tahu." Jongin mengawasi banyak hal dan pengontrol dan sedikit di atas skalaku untuk urusan arogan. Dia sangat bermasalah denganku.

"Jadi sudah berapa lama kau bekerja untuk dia Chen? Jongin tidak mengatakan apapun kepadaku, jadi aku berpikir kau bisa sedikit mencerahkanku." Aku menyeringai lewat kaca spion untuk keuntungan Chen

"6 tahun sekarang. Kami bertemu di SF."

"itu pasukan khusus kan ? jadi apakah kalian seperti james Bond atau sejenisnya untuk pemerintah British?" Chen tertawa dan menggelengkan kepalanya.

"Aku bisa melihat kenapa Mr. Kim terus mengawasimu, Kyungsoo. Kau cukup penuh dengan imaginasi."

"Ya, Jongin mengatakan hal itu juga kepadaku." Aku mengatakan dengan datar. Seterganggu seperti tanggapan Jongin - yang jauh di luar jalur-aku tidak bisa mengeluarkannya dari Chen.

Cehn terlihat seperti pria yang baik dan dia memiliki selera musik yang hebat. Aku menyukainya. Sederhana saja Chen hanya menjalankan pekerjaannya. Apapun itu yang terkait denganku. Chen berhasil memarkirkan mobilnya dan kami menuju lift melalui pintu masuk garasi. Sebelum aku tahu, Aku sudah berada di dalam rumah indah Jongin lagi, hanya saja kali ini tanpa Jongin. Chen sudah memasukkan nomornya ke dalam teleponku dan mengatakan dia akan berada di dekat sini jika saja aku membutuhkan sesuatu.

"Seberapa dekat maksudmu dekat itu ? apakah privasiku terjaga di sini? kau tidak bisa mengawasiku yang sedang berada di dalam rumah Jongin. Bisakah?" aku memandang matanya untuk mencari tanda pencarian dalih. "jangan pernah berpikir untuk berbohong kepadaku Chen. Aku akan keluar dari pintu itu dengan cepat sehingga Jongin bisa merasakan rambutnya berkibar jauh dari sini dimanapun dia kini sedang berada." Chen sedikit gemetar.

"Di dalam sini privasimu seutuhnya terjaga . Tidak ada kamera di dalam apartemen, tapi di lorong sana ada. Jadi jika kau akan pergi aku akan bisa melihatmu. Aku berada di apartemen lain di seberang jalan. Tidak jauh. Mr. Kim benar-benar ingin membuatmu merasa di rumah sendiri." Chen meletakkan teleponnya ke telinganya dan mengguncangkannya. "telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu Kyungsoo."

Gerendel pintu berbunyi dan pelindungku pergi. Baiklah ini aneh. Sendirian di rumah Jongin dengan tas menginap dan kepala yang berputar. Aku bertanya-tanya apakah aku akan merasa normal kembali. Satu masalah dulu, aku pergi ke kulkas, mengeluarkan botol air minum dan meneguk setengahnya. Kulkas Jongin terisi dengan stok berbagai jenis makanan segar untuk digunakan sehingga tidak ada masalah dengan makan malam. Aku menjajal mesin pembuat kopinya dan mulai ngiler. Sangat baik.

Aku menyiapkan panci untuk merebus dan memeriksa freezer Jongin. Pembantu JOngin terlihat sangat teratur dalam urusan memberikan merk dan tanggal pada makanan yang dibekukan di dalam tempat penyimpanan plastik sehingga mudah diidentifikasi. Aku melewatkan itu semua. Lagipula Aku tidak benar-benar lapar setelah porsi besar makanan Chinese yang Jongin suguhkan kepadaku di kantornya. Aku bergerak ke kamar tidur dan dengan cepat teringat pada terakhir kali aku di ruangan ini.

Aku menutup mataku dan bernafas dengan aroma Jongin. Dia berada dimana mana bahkan jika dia tidak berada disini. Aku melangkah masuk ke dalam kamar mandinya. Shower Grotto dari marmer begitu mempesona, tapi tub yang sangat memukau itu merupakan fantasi bagi wanita yang tidak memiliki tub yang memadai di apartemennya. Aku tahu apa yang pertama kali harus aku lakukan.


Satu jam kemudian kulitku menjadi merah jambu dari panas dan lembutnya busa. Aku memakai kaos Jimi Hendrix dan sepasang celana boxer sutera milik Jongn yang bahannya begitu jatuh dan ringan saat kupakai. Aku mengatur semua barang-barangku dari sepatu boots di dalam lemari kamar mandi,mencukur kaki ku dan mengoleskan pelembab kuning muda ke kulitku. Aku kembali ke mesin pembuat kopi dan mengisi gelas mug sebelum aku kembali menjelajah ke dalam ruangan lain di apartemen Jongin.

Ruang olahraga memiliki treadmills yang dari lantai sampai atas berupa kaca seperti jendela. Pemandangannya membuat aku kagum. Aku menyukai pemandangan lampu kota, tapi membayangkan pemandangan pasti spektakuler di siang hari. Aku menemukan ruangan yang aku percaya merupakan kantor Jongin dan menarik gagang pintunya ke bawah. Ruangan di belakang pintu ini benar sebuah kantor. Diapit oleh meja besar dari kayu pohon ek, di dinding seberangnya terdapat layar TV dan peralatan high-tech lainnya. Tapi dinding di belakang meja yang benar-benar menangkap perhatianku- aquarium air tawar bersinar dengan cahaya dan warna dan busa di atas riak air.

Aku berjalan mendekat dan melihat ikan warna warni berenang-renang dengan elegan melewati formasi batu karang. Ikan itu menghampiri kaca dan menggelepar dan mengibaskan sirip warna warninya kepadaku seperti dia memberikan salam.

"Hey, aku bertanya-tanya Jongin memanggilmu dengan nama apa?" aku berkata kepada teman ikanku dan meneguk kopiku. Aku memakan yoghurt cherry di dapur dan mengambil kopi keduaku. Satu dinding di ruang utama berisi rak buku. Aku membaca dengan teliti koleksi Jongin yang pada akhirnya bisa disebut elektrik. Terutama alliran Klasik, misteri dan yang utama banyak sekali fiksi sejarah. Ada beberapa sejarah militer dan buku dengan foto-foto. Ada banyak buku judi dan statistik juga. Dia mempunyai fiksi terkenal dan beberapa buku puisi yang membuat aku tersenyum. Aku suka nilai buku Jongin yang satu itu. Aku mengambil buku yang ditulis oleh Letters Keat untuk Fanny Brawne dan membawanya ke ruang keluarga untuk duduk di sofa dan bersantai.

Aku sudah mendapatkan kopiku, surat cinta angsty dari seorang puitis untuk wanitanya dan lampu malam London yang berkedip terpampang di belakangku. Aku menghabiskan satu jam yang asyik sebelum aku meletakkan bukuku. Aku memandang ke pemandangan kota. Ini lokasi dimana Jongin sudah menelanjangiku, tepat di depan jendela balkon. Dia mundur ke belakang dan mengatakan kepadaku bahwa tidak ada yang bisa menandingi pemandangan dari aku yang berdiri dirumahnya. Oh Jongin. Aku memutuskan untuk mengirimkan dia SMS.

To : Kim Jongin

Aku marah padamu soal Chen. Apakah kau gila?!

From : Kim Jongin

Sebaliknya, aku tergila-gila padamu 3 Dan kita harus bicara tentang beberapa hal. Sangat merindukanmu.

To : Kim Jongin

Aku menggunakan celana boxermu saat ini dan sebaiknya kau mempercayainya, Buster!

From: Kim Jongin

Baru saja mengeras – dengan membayangkanmu mengenakan celana pendekku. Tolong jauhi bantal karena aku tidak pernah mencuci. xD

To : Kim Jongin

Aku masih marah Jongin dan , ku pikir kau punya mesin pembuat kopi yang cantik.

From: Kim Jongin

Aku berpikir, aku mempunyai kekasih yang cantik. Apakah kau memakan sesuatu ?

To: Kim Jongin

Aku memakan punya peliharaan seekor Ikan singa. : )

From: Kim Jongin

Namanya samba. Aku merawatnya & dia menyukai ku. Kalian berdua punya banyak kesamaan.

To : Kim Jongin

Kau tidak akan mendapatkan BJ lagi dengan komentar seperti itu :P

From: Kim Jongin

Kalau begitu aku akan memukul bokongmu saat ini …& menciummu…& sial. Kau membunuhku Kyungsoo

To : Kim Jongin

Aku mulai mengantuk. Saatnya minum pil dan naik ke tempat tidurmu. Jangan menggodaku.

From: Kim Jongin

Tidak pernah.. pergilah tidur Kyungsooku. Aku akan menemukanmu 3

End Of Message

Aku beranjak dari sofa Jongin dan kembali menuju ke dapur untuk mencuci. Aku membersihkan mesin pembuat kopi dan mempersiapkannya untuk pagi nanti. Yang harus aku lakukan hanya memulainya. Aku menggunakan sikat gigi ungu baruku dan meminum pilku. Selimut yang sangat lembut milik Jongin beraroma tubuh Jongin; menenangkan dan membuatku nyaman dalam kesendirianku. Aku mengisi kepalaku dengan aromanya dan tertidur.

.

.

Lengan solid memegangku. Aroma yang aku kagumi mengalir ke sekitar tubuhku. Sebuah bibir menciumku. Aku membuka mataku ke dalam gelap nya malam dan melihat bayangan. Aku tahu siapa yang bersamaku. Aku terbangun dengan damai dan lembut, sesuatu yang baik, dan untukku, benar-benar pengalaman yang baru. "kau di sini." Aku bergumam di atas bibirnya.

"Dan begitu juga dengan kau," Jongin berbisik."Aku begitu menyukai menemukanmu di atas tempat tidurku." Tangan Jongin sudah sibuk dalam tidurku.

Aku telanjang dari pinggang ke bawah, boxer suteranya sudah terlepas. Jongin sudah telanjang juga. Aku bisa merasakan otot kerasnya dan daging solid mencoba untuk bergabung denganku. Kaosku terdorong ke atas dan payudaraku sedang dinikmati oleh bibirnya, dagunya menggelitik daging sensitifku, menggoda puting payudaraku dengan tarikan hisapan sampai aku mendesah, menggeliat di bawahnya.

Aku menguburkan tanganku di rambutnya dan merasakan gerakan kepalanya saat dia mengunjungi puting payudaraku dan menimbang berat gumpalan payudaraku dengan tangannya. Jongin berhenti dan menarik kaosku membukanya dengan utuh dan memandang kepadaku, lapar dan cantik. Cahaya dari kamar mandi utama cukup untuk mengizinkan aku melihat Jongin dan aku senang. Aku harus melihat Jongin saat dia datang untukku. Itu membuat aku yakin bahwa aku akan aman bersamanya.

"Tempat tidurmu beraroma tubuhmu." Aku berkata.

"kau adalah hal satu-satunya aroma yang ingin aku cium dan saat ini aku butuh untuk merasakanmu di mulutku." Lalu dia membuka aku dengan lebar dan merendahkan tubuhnya.

"Oh tuhan Jongin!" lidahnya bekerja di clitku, memutar dan meluncur di atas daging panas yang terbuka untuknya membuat aku berubah dari mengantuk menjadi seks kurang dari semenit. Aku tidak bisa diam walaupun dia menahanku ke bawah dan membuka paha dalamku. Orgasme datang kepadaku dengan cepat dan kuat bahkan aku mendengar diriku sendiri berteriak melaluinya, mengendarai lidahnya seperti berandalan, otot-ototku menjepit dan mendorong dengan kenikmatan yang hangus. Jongin menggeram di atas bibir vaginaku dan menarik diri, mungkin menatap kepada apa yang ingin dia ambil dengan penisnya. Jongin tidak bertanya. Jongin mengambilnya.

Jongin mengangkat kakiku ke atas bahunya dan masuk ke dalam diriku dengan keras dan dalam. Jongin mengeluarkan suara saat penisnya mengisiku. Aku ditekan dengan invasinya sementara tetap berada dalam orgasme sehingga aku hanya bisa bertahan saat dia menusukku. Seks nya bergelora dan menuntut dengan Jongin yang mengatakan kepadaku betapa nikmatnya rasaku dan betapa Jongin menginginkanku di sini di atas tempat tidurnya dan betapa cantiknya aku. Semua kata-kata itu membuat aku semakin dekat dengannya. Semakin bergantung kepadanya. Semakin terkait dengan dunianya. Aku tahu itu.

Jongin membuat aku klimaks lagi; hampir sebuah tusukan hukuman yang bermaksud untuk memiliki terlebih dahulu dan kemudian memberikan kenikmatan. Tapi kenikmatan itu indah saat dia hadir secara simultan dengan dia yang mengisiku dengan ledakan orgasmenya sendiri. Aku merasakan air mata mengalir ke bawah ke selimutnya saat aku menerima apa yang dia berikan kepadaku. Jongin memanggil namaku, matanya terkunci kemataku seperti waktu lalu. Aku tahu dia melihat air mataku. Jongin memindahkan kakiku dari bahunya dan mendekatkan dirinya kepadaku, memegang wajahku dan mengelusku, mata birunya mencariku, masih terkubur ke dalam diriku dan dalam dengan penis yang berbakat, menggambarkan kenikmatan.

"kau milikku Kyungsoo." Dia berbisik.

"Aku tahu Jongin," aku berbisik kembali kepadanya.

Jongin menciumku dengan tubuh kami yang masih bersama; Jongin mengekplorasi lembut bibirku dan tarikan lembut dan gigitan dengan giginya yang hanya menyerempet. Jongin bertahan dengan diriku dan menciumku dengan lama sebelum dia akhirnya bergerak keluar dari tubuhku. Jongin sialan hanya bisa digambarkan sebagai cantik di dalam kepalaku. AKu tahu untuk orang lain ini mungkin akan menjadi pornografi, tapi bagiku ini sederhana saja merupakan seni indah yang kami lakukan bersama. Untuk menjadi intim seperti itu dengan dia yang menginginkanku begitu intens adalah obat candu. Lebih berbahaya dari apapun yang pernah aku alami sebelum ini dalam hidupku. Aku pikir aku bisa memaafkan Jongin untuk semua hal yang mungkin akan dia lakukan untuk menyakitiku. Dan ini merupakan kesalahan besarku.