Namaku Tom Riddle, kau bisa memanggilku Tom. Yah sebagai satu-satunya paman dari Scorpie yang masih waras, yah hanya aku. Aku tak keberatan untuk menjaga Scorpius, keponakanku yang lucu. Hanya saja, kini yang kujaga bukan cuma Scorpie melainkan Theodore juga. "Lepaskan borgol ini! aku tak mau terperangkap bersama orang gila selamanya!
Scorpie, Come To Uncle
Rated : T
Genre : Family, Humor
"Aku tak menyangka kita akan menjadi sebuah keluarga," ucapnya dengan nada cengengesan sementara aku hanya menyeritkan dagu dan sangat tak yakin dengan ucapannya.
Ketika Hermione menikah dengan Draco, sungguh aku tak menyangka. Mengingat adikku yang tidak suka dengan artis sok tampan dan saudaranya yang super pikun?
Tapi nyatanya kini aku disini, duduk di depan bangku gereja menatap pernikahan Hermione dan sungguh aku meneteskan air mata. Mungkin banyak orang mengira aku bahagia karena melihat Hermione menikah.
Namun nyatanya mimpi burukku dimulai.
Author : Constantinest
Harry potter : J. K. Rowling
-xoxoxo-
Okay dari mana mimpi burukku kalian ingin dengar? Aku siap menjelaskannya lagi.
Atau kejadian menyebalkan yang baru terjadi tiga puluh menit yang lalu? Ketika dimana Hermione menitipkan si kecil lincah Scorpius. Tentu itu bukan masalah, hanya saja masalahnya adalah dia. Yah dia pria sinting yang sedang tertawa-tawa melihat tanyangan kartun di televisi. Dan bayi Scorpius di gendongannya.
Aku sangat tidak nyaman dengan posisi ini. Kita duduk bersampingan dengan sebuah rantai manis terikat salah satu pergelangan tangan kami.
Semua alasan ini simpel.
Akan kuceritakan 20 menit yang lalu.
Theodore dengan polosnya datang membawa sebuah borgol, mendekatiku yang sedang menonton televisi dan diam-diam ia memborgol tanganku, sontak aku terkejut dan menatao tanganku yang terbogol.
"Kau gila!" itu ucapan langsungku.
Dia menatapku dengan cengo, lalu memborgol tangannya juga sambil tersenyum licik. Bulu romanku mulai berdiri, aku merasa bahwa pria ini mulai lupa dengan ingatannya. Jadi kemungkinan dia bisa berhalusinasi lagi dan aku yakin dia berhalusinasi untuk menjadi seorang psikopat?
Itu pendapatku tentang penyakit lupanya.
"Kau tertangkap, Voldemort. Penjahat nomor satu yang menyeramkan. Aku akan mendapatkan pangkat karena ini," ucapnya tersenyum dengan mengerikan itu menurutku.
"Kau mengigau lagi ya? Aku Tom bukan Voldemort. Kau itu yang Voldemort! Sekarang lepaskan aku, lepaskan aku!" ucapku menarik tanganku berusaha untuk membuka borgol itu?
"HAHA, kau tak bisa menipuku penjahat!"
"Kau itu yang pelupa, aku adalah sau-da-ra-mu," jujur aku nyaris mau muntah ketika mengatakan itu.
"Saudara? Jangan bilang kita berdua adalah bandit yang terkenal?" ucapnya menatapku tak percaya, kurasa kegilaannya mudah sekali untuk diubah.
"Ya, kita adalah bandit," ucapku menipunya, "sekarang lepaskan aku!"
"Bukankah kau yang membawa kuncinya?" tanya polos.
"KAU BERCANDA? KAU MEMBORGOLKU SEPERTI INI DAN SEKARANG KAU LUPA DAN BILANG BAHWA AKU YANG MEMBAWANYA?!" Oke pada waktu mengatakan itu aku nyaris melepaskan kedua bola mataku dan nyaris memutuskan semua urat-uratku, aku kehabisan akal, menghadapi Theodore sungguh membuat darah tinggiku meninggi.
"Kau yang mengunciku bukan aku!" ucapnya meninggi mau menyaingiku.
"Kau yang mengunciku!" jujur aku nyaris menangis pada saat itu, menangis karena kesal dengannya.
"Bukan aku dan siapa kau?!" sudah pelupa malah nantang dan bangga pada ucapan 'siapa kau?'.
Aku segera duduk, memijat keningku yang berkerut. Aku merasa kerutanku kini bertambah satu karena berdebat dengannya. Hebat umurku baru 30 tahun dan kini aku merasa menua karenanya.
"Baiklah, aku adalah kakakmu dan kau adalah adikku. Kau yang membawa kuncinya dan sekarang kau mau membuka borgol ini bukan?" ucapku sedikit tersenyum paksa, rahangku nyaris putus karena memaksa tersenyum begitu lebar, aku yakin dia pasti percaya dan membuka kuncinya untukku.
Tapi lihat wajahnya sekarang, menatapku seolah aku adalah penjahat. "Aku tak percaya denganmu. Aku yakin kau penjahat yang menyamar sebagai saudaraku. Lagi pula saudaraku hanya Scorpie!"
"Kau pamannya."
"Tidak aku kakaknya!"
"Theodore apakah kau meminum obatmu? Apa kau mau kuberikan racun sekarang?" tanyaku kasar. Aku sudah kehilangan kesabaran. Setiap kali aku bertemu dengannya rasanya darahku memburu untuk memarahinya. Tak bisakah dia tak memancing amarahku?
Kurasa aku akan mati muda kalau begini caranya. Aku baru saja menikah dengan Astoria dan kebetulan Astoria yang dulu asistenku kini malah pindah menjadi pekerja kantoran milik ayahnya sementara aku dengan kantorku sendiri dan aku nyaris berpikir bahwa sebentar lagi Astoria akan menjadi janda.
Dan kebetulan aku sedang sepi oder bukannya tidak laku.
Theodore menatapku dengan curiga lagi. Wajahnya begitu menyebalkan ketika menatapku seperti itu. "Kau ini koruptor ya?"
Darahku meninngi apakah tampangku seperti itu? Aku ini sangat benci yang namanya koruptor dan kini dia mengatakan aku seperti itu? "Bukan, sekarang lepaskan borgol ini. Aku tak mau bersamamu disini!"
"Aku mau," jawabnya ceria.
Suara tangisan Scorpie terdengar, dengan segera aku menaiki tangga dan tidak peduli akan nasip Theodore yang terseret di belakang seperti anak anjing. Pintu kubuka dengan perlahan dan menampilkan bayi kecil itu sedang menangis dengan sigap aku mendekatinya dan mengendongnya berusaha untuk menenangkannya.
Theodore menatapku dan bayi Scorpie yang sepertinya sudah mulai tenang, ia mengulus kepala kecilnya, "Kerja bagus Cherish,"
Cherish? Siapa Cherish, kekasihnya?
"Kau pandai merawat anak juga Cherish," pujinya kepadaku namun aku tak mempedulikan, aku tak mau aku menjerit dan membuat bayi kecil ini menangis untuk kedua kalinya.
"Cherish, maukah kau membuatkanku kopi? Aku akan menjaga Marvel kecil,"
Dia pikir aku pelayannya? Dan siapa itu Marvel?
Aku hanya diam dan masih menenangkan bayi itu, tapi Theodore bertingkah lain.
"Berikan bayi itu kepadaku, aku ingin mengendongnya juga."
"Lepaskan borgol ini dulu baru aku akan memberikannya,"
"Bukankah aku sudah bilang padamu Cherish, aku tidak tahu dimana kunci itu. Seharusnya kau mencarinya," ucapnya dengan nada aneh.
"Aku memiliki gergaji di garasi, kurasa itu akan membantu kita,"
"Apa! kau ingin memotong kepala Marvel dengan gergaji? Kejam sekali kau!"
"Bukan Marvel bodoh, melainkan kau! Ayo dan jangan bertingkah," ucap Tom mengendong bayi yang menatap kedua pria itu dengan bingung.
Dengan sigap Theodore menjatuhkan dirinya ke lantai, "apa yang kau lakukan?!"
"Aku tak mau mati dengan cara itu Cherish, biarkan aku bebas. Aku tak akan melaporkannya kepolisi bahwa kau adalah pembunuhnya!"
Tom menghela nafas, "aku bercanda, aku akan melepaskan borgol ini. Jadi kau mau ikut aku?" ucap Tom merajuk.
"Baiklah, kenapa kau tak bilang dari tadi?"
"Terserah," ucapnya dan segera keluar kamarnya. "Btw Tom,"
"Oh kau sudah ingat namaku?"
"Ya tentu mana mungkin aku lupa padamu." Ucapnya semangat, "Bolehkah aku mengendong Scorpius? Ini adalah waktunya untuk menonton kartun kesukaan kami."
"Kami? Kau suka kartun?"
"Ih..ih..ih, bukannya kau juga suka?"
Tom memukul kepala Theodore dengan tangannya, "pikirkan dulu kalau mau berucap!"
"Kenapa kau memukulku? Kenapa?! Scorpie, cepatlah besar dan lindungi aku," ucapnya dengan wajah memelas kepada bayi itu, bayi itu malah tertawa dan mengepalkan tangannya seolah-olah ingin memukul Theodore juga.
"Lihat Tom kau sudah mengajarkan kekerasan kepada bayi ini lihat! Bagaimana kalau dia besar dan memiliki sifat sepertimu sudah pasti dia akan menjadi Voldemort!"
"Voldemort.. Voldemort siapa dia?!"
"Ah Voldemort adalah manusia dengan kepala botak dan tanpa hidung dia begitu menyeramkan!"
"Alien?"
"Mungkin, tapi di novel ini tak dijelaskan kalau dia alien?" ucap Theodore menunjukan buku Harry Potter.
"Theodore! Membusuklah di neraka sana! Bagaimana kau bisa menyamakan aku dengan mahluk menyeramkan itu?!"
"Tapi ia memiliki nama yang sama sepertimu!"
"Memangnya hanya ada satu orang yang bernama Tom? Tentu saja tidak! Sekarang cepat kita kebawah akan kulepaskan borgol ini!"
"Tapi ini acara kartun yang kusuka akan di mulai dan bisakah kita menontonnya?! Lihat bayi ini juga menginginkannya!" ucap Theodore menyalakan televisi dan suara musik anak-anak terdengar, bayi Scorpius begitu antusias mendengar lagu itu dan menatapnya dengan pandangan kagum.
"Baiklah, aku menyerah! Kita menonton dulu baru kita akan kegarasi bukan?"
"Tentu," ucapnya segera duduk di sofa, Tom hanya mengikutinya saja, Scorpius begitu antusias melihat orang-orang yang mulai menari itu.
Jadi begitulah mimpi burukku yang masih berlanjut.
15 menit berlalu.
Theodore menunjukan wajah bosannya, sementara Tom hanya sibuk bermain dengan handphonenya.
"Bisakah kita mengantinya? Acara ini begitu membosankan."
"Bukankah tadi kau bilang bahwa kau menyukainya?" ucap Tom acuh.
"Kurasa aku tak ingat apa yang tadi kuucapkan, kupikir kau yang menyukainya HAHAHA,"
"Terserah, lain kali kalau kau ikut juga kerumahku. Aku akan membunuhmu,"
"Ck.. ck.. ck, aku tahu Tom kau adalah pembunuh bayaran. Tapi mana mungkin kau bisa membunuh Sherlock yang cerdas ini?"
Tom memutar kedua bola matanya, "Tidak bisakah kau tidur saja? Atau kurasa kau pulang saja! Biarkan aku yang menjaga Scorpie. Kau pulanglah,"
"Tidak..tidak..tidak, Hermione memintaku untuk menjaga Scorpie juga,"
"Terserah! Bisakah kita kebelakang sekarang?"
Wajah Theodore memerah padam, "kau mau melakukan apa kepadaku di belakang? Ingat masih ada bayi disini."
"Apa yang ada di dalam pikiranmu Theodore! Aku tak berniat untuk menyentuhmu sedikitpun!"
"Kau serius? Padahal aku mengangap bahwa diriku sexy."
"Kurasa aku membutuhkan aspirin, atau bahan-bahan penenang lainnya," ucap Tom berdiri dari sofanya.
"Aku mau kalau kau tak beratan," mendengar perkataan itu Tom hanya merinding.
"Aku menyerah, aku akan tidur disini. Kau jagalah Scorpius, aku menyerah!" ucap Tom berbaring disalah satu sofa.
-xoxoxo-
Sentuhan kecil mengangunya membuatnya tersadar, dalam pandangannya yang belum jelas itu ia melihat Scorpius sedang memengang hidungnya dengan antusias.
Ia segera bangun dari sofa dan melihat Theodore juga tidur di salah sofa dan untungnya Scorpius tidak pergi kemana-mana dan malah asyik bermain dengan wajahnya.
"Scorpie, bagaimana bisa aku meninggalkanmu pada pamanmu yang pikunan ini?" ucap Tom mengendong bayi itu dan mencium pipinya. "Kenapa kau membawa wortel Scorpie? Kau dapatkan dari mana wortel ini?
"Dan ngomong-ngomong bagaimana caranya dia si pikun itu melepaskan rantai ini?" tanya Tom menatap Theodore.
"Well, walaupun dia masih bisa diandalkan, kau suka dengannya yah?"
"Kakak aku pulang!" seru Hermione antusias. Yah Hermione dan Draco sudah pulang sekarang, wanita cantik itu segera meraih bayi yang sedang di gendong Tom dan kini Hermione yang mengendongnya.
"Wah, kurasa rumah ini lebih rapi dari pada yang sebelumnya," ucap Draco melihat sekelilingnya.
"Yah memang rumah ini rapi tapi jiwaku yang berantakan!" ucap Tom gemas.
"Maaf kak membuatmu harus menangung beban keduanya."
"Yang ini bukan beban, tapi yang sedang tidur itu yang beban." Ucap Tom,
"Wah kalian bermain mengunakan rantai, kali ini apa yang kalian mainkan?"
Tom mempelototi Draco dengan aura menyeramkan disekitarnya, "Kau ingin pergi kemana rumah sakit atau pemakaman? Atau keduanya sekaligus?"
"Ti-tidak Tom, aku masih nyaman disini," jawab Draco pucat.
"Kalian pasti hauskan, akan kuambilkan minum." Ucapnya segera pergi kedapur.
"Rasanya aku tak mengerjakan tugas berat hari ini tapi kenapa tubuhku lelah sekali ," Satu hal yang ia lihat dari dapurnya adalah berantakan.
Entah apa yang dilakukan Theodore bersama bayi itu, bahan makanan keluar dari kulkas dan berserakan di lantai. Bukan cuma itu sisa makanan juga banyak yang menempel pada tembok.
Perlahan Tom meneteskan air mata, "kapan penderitaan ini berakhir?"
-The end-
A/N : Akhirnya aku berhasil menepati janjiku untuk membuat Tom masuk kedalam cerita ini, hehehe.. Semoga kalian puas. Mengingat banyak dialog disini hehe..
Don't Be A Silent Reader Please
Reviewnya di tunggu :)
Untuk Beautiful sin, aku usahakan Update secepatnya hehe.
Dan apakah disini ada yang menyukai Pairing Doflamingo x Hancock dari One piece ( aku tahu pairing itu sangat langka) aku juga membuatnya dan Mind To Read And Review :)
Thanks untuk yang sudah mereview dan merequest Tom untuk menjadi pengasuh di CHap sebelumnya..
