I'm so shocked when got a bad news that FsoG (Fifty Shades of Grey) WILL NOT be released in Indonesia.

Kesal sebetulnya membaca info tsb, tapi apalah daya Sepertinya saya harus puas hanya dengan novelnya saja yg sampai detik ini masih setia menempati rak di library epub saya. Untuk kedepannya saya berdoa semoga DVD FSoG cepat keluar di Amazon dan sejenisnya. Amin. *praying*

.

.

.

Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari Seducing Cinderella, Home in Carolina, Gift Wrapped Baby, dan The Unexpected Wedding.

.

.

.

Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)

.

.

.

Balasan Reviews:

Guest : SasuSaku 4ever yaah hohoho

Miss M : Ini udah kluar ch2 nya :D

Chanchan : Thank yoou. Ini up ch2 nyaa :D

Indah : Hohoho, di ch2 ini jg lumayan kyaknya lime nya XD

Azriel : Arigatooou :*

Dewaz : Err... Keperjakaan Sasu udh ilang sm sy hahaha *ditimpuk fans Sasu.

Chololo : Liat di ch2 ini yaa jawabannya :D

A-chan : Ini ch2 up :)

Gigi Kuning : FB sy Scotty Fold. Di Bio jg ada lhoo aku yg lain hohoho

Untuk yg review pake login, silahkan check pm yaa ;)

.

.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : M

Warning:

OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyak), dan banyak cacat lainnya.

Tidak untuk anak dibawah umur (17 plus only)

Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.

Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novel;)

Attention:

Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi saya sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novel (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). Saya mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita yang lain.

Selamat membaca…

.

.

.

.

.

.

.

Astaga apa yang harus ku kenakan malam ini?!

Aku menatap horror berbagai macam jenis dress yang tergeletak di atas tempat tidur. Satu jam yang lalu aku menerima telepon dari Sasuke yang mengatakan dia akan segera berangkat untuk menjemputku, dan kini aku setengah frustasi hanya gara-gara sepotong dress!

Aku menatap jam dinding yang tergantung di atas televisi, 18:30! Okay, tenang Sakura, tarik napas, keluarkan... tarik napas, keluarkan... Aku berusaha menjernihkan pikiranku dan memutuskan untuk mengambil salah satu mini dress berwarna hitam dengan model blackless namun tidak terlalu rendah.

Setelah mengenakan dress, aku bubuhkan make up seminimalis mungkin di wajahku dan menata rambutku sedikit. Kubentuk bagian bawah rambutku sedikit curly dan kusematkan jepitan di sisi sebelah kanan rambut. Sisanya aku hanya membiarkan rambutku terurai ke sisi sebelah kiri. Kutambahkan accesories berupa giwang dan kalung berwarna silver, dan kutatap sejenak penampilanku malam ini, lumayan.

Aku sedang mengenakan stiletto silverku ketika mendengar suara dentingan bell dari arah pintu apartmentku. Itu dia! Segera kuraih mantel beserta tas kecil berwarna silver dan bergegas keluar kamar menuju pintu utama apartmentku.

Rasa gugup langsung menyergapku seketika saat aku mengintip melalui peephole . Sasuke yang di balut vent suit berwarna hitam dengan kemeja putih dan dasi membuatnya terlihat sangat tampan malam ini, di tambah dengan celana jeans yang pas di kaki jenjangnya. Suit yang Ia kenakan semakin memperjelas bentuk tubuhnya. Oh Tuhan, tolong aku untuk tetap sadar dan berpikir waras.

Kutarik dan kuhembuskan napasku beberapa kali seperti yang biasa kulakukan untuk menenangkan diri sebelum membuka pintu apartmentku.

"Hi." Aku menyapanya dengan riang sesaat setelah pintu terbuka.

Sasuke tidak langsung menjawab sapaanku, Ia hanya menatapku dengan tatapan yang entahlah, aku tidak begitu mengerti arti tatapannya. Tertegun? Atau ada yang aneh dengan penampilanku malam ini?

"Ehm.." Aku berusaha melegakan tenggorokanku. "Apakah ada yang aneh pada penampilanku?"

"Hn. Tidak. Kau terlihat luar biasa malam ini. " Sasuke menyunggingkan senyuman mautnya padaku, dan itu menusuk tepat ke jantungku. Ku rasa aku harus memeriksakan kondisi jantungku.

"Um, thanks Sasuke." Aku tersenyum gugup padanya, dan berbalik untuk mengunci pintu.

"Ready?"

"Yup." Aku memasukan kunciku ke dalam tas dan berjalan beriringan dengannya kearah lift.

"Kau tidak membawa Daisuke bersamamu?" Aku mencoba memecah keheningan di dalam lift.

"Ini kencan. Daisuke tidak ingin mengganggu kita." Sasuke menyeringai kearahku.

"Jangan bercanda, kau hanya mengajakku makan malam Sir." Aku mendengus kesal. Kencan? Yang benar saja! Andai dia tahu perkataannya barusan sangat melukaiku.

"Kau masih saja galak huh?" Sasuke memasukkan lengannya ke saku celana dan menyandarkan punggungnya di dinding lift.

Aku ingin membalas perkataannya saat pintu lift berdenting dan terbuka tepat di lantai dasar sehingga ku telan kembali ucapanku ke dalam perut.

"Ayo."

Aku seakan berhenti bernapas saat jemari Sasuke menggenggam jemariku dan mengajakku melangkahkan kaki keluar pintu lift. Tangannya bukan hanya hangat, melainkan panas, dan panas itu kini menjalar ke tubuhku.

Aku mengikuti langkahnya hingga kami tiba di luar lobi apartmentku. Sasuke melepas tanganku untuk menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet. Sejurus kemudian nampak BMX X6 SUV berwarna putih meluncur dan berhenti di depan kami. Petugas valet menyerahkan kembali kunci itu dan menghampiriku untuk membukakan pintu sementara Sasuke mengambil alih kemudi.

Raikiri Road lumayan ramai hari ini, tapi tidak terlalu macet. Hanya ada beberapa titik di persimpangan yang membuat kami harus berhenti, selebihnya jalanan lancar hingga memasuki jalanan Bakuryuu Road.

Kami berbincang mengenai beberapa kejadian di masa lalu, dan ternyata Sasuke telah mengetahui bahwa Sasori kini bertugas di Suna dan kemungkinan besar akan menetap di sana.

"So, kenapa Daisuke tidak ikut bersamamu malam ini? Apa dia bersama ibunya?" Aku kembali membuka suara ketika keheningan kembali menyergap kami di mobil ini.

"Yeah." Hanya satu kata dan itu berhasil membuat mulutku kembali bungkam. Seharusnya aku tidak bertanya tentang itu. Itu membuat suasana hatiku jadi kacau. Sial.

"Um. Oya, apakah kau masih bergabung dengan K-Navy SEALs?" Aku tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang tadi, jadi sepertinya membicarakan pekerjaan bukanlah hal yang buruk untuk mengalihkan topik sebelumnya.

"Tidak. Aku bekerja dengan bisnisku sendiri saat ini." Sasuke berbicara dengan tatapan tetap fokus ke depan.

"Bisnis apa?" Rasa ingin tahuku muncul.

"Keamanan."

Dahiku mengernyit sesaat. "Maksudmu? Kau penyedia jasa security ?" Sasuke terkekeh mendengar penuturanku.

"Kurang lebih seperti itu. Tapi aku lebih kepada Personal Protection dan Security System. Aku menyediakan jasa pengawalan baik pribadi maupun institusi dan juga sistem yang mengatur segala macam keamanan, seperti alarm keamanan yang di pasang di kantor-kantor maupun apartment." Aku mendengarkannya dengan sedikit tercengang.

"Okay, jadi kau keluar dari pekerjaan yang berbau kekerasan fisik, dan sekarang kau menggeluti bisnis yang juga pasti melibatkan kekerasan fisik?"

Sasuke kembali terkekeh mendengar kesimpulanku. "Well, jika kau menganggapnya begitu. Tapi kali ini aku tidak terlibat langsung, aku hanya perlu mengirim orang-orangku untuk tugas lapangan. Kecuali jika clientku adalah kau Sakura, maka dengan senang hati aku akan menangani tugasku sendirian." Sasuke mengalihkan tatapannya sejenak untuk mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum kembali fokus pada jalanan di depan kami.

Well, maka dengan senang hati juga aku akan menerimamu sebagai Personal Protectionku.

.

.

.

.

.

.

.

Lagu Infinity Wicked Game yang dulu dipopularkan oleh The XX kini terdengar melantun dengan lembut dan sexy dalam suara Carolina Wallace yang memenuhi restaurant ini.

"So, bagaimana keadaan Daisuke sekarang? Sudah lebih baik?" Aku meletakkan pisau dan garpuku. Steak ini membuat perutku cepat kenyang.

"Pipinya sudah tidak bengkak lagi, dan nafsu makannya mulai kembali." Sasuke meletakan gelas wine nya di atas meja.

"Syukurlah kalau begitu. Seharusnya kau ajak dia malam ini, itu pasti akan menyenangkan." Astaga, kenapa aku memulai pembicaraan ini lagi?

"Kau begitu menyukai Daisuke ya?" Sasuke mengangkat satu alisnya padaku.

"Kurasa tidak akan ada seorang pun yang bisa menolak pesona Daisuke, Ia sungguh menggemaskan." Aku teringat kedua pipi mungil Daisuke yang bersemu merah kala pertama Ia ada di ruanganku.

"Like father like son, semua pesonanya itu menurun dariku Saki." Ia tersenyum jahil. "Lain kali aku akan mengajaknya, tapi tidak untuk kencan pertama kita ini."

Aku memutar bola mataku bosan. "Ya ya ya. Seharusnya kau malu pada Daisuke, di umurmu yang sudah kepala tiga kau masih saja menggoda seorang wanita." Aku mendengus padanya.

"Hn. Pria berumur kepala tiga yang masih tampan dan sexy." Seringai menyebalkan kembali terlihat di bibir pria yang ada di hadapanku ini.

Tapi aku akui dengan sangat dan sangat aku sadari juga bahwa Ia memang tampan dan sexy, entah itu lima tahun yang lalu maupun saat ini.

"Well, aku sudah kenyang dan kurasa mataku mulai tidak bersahabat, bisakah kita pulang sekarang?" Aku menyesap wine ku sekali dan kembali meletakannya di meja.

"Okay." Sasuke melambaikan lengannya kearah pelayan terdekat untuk menyelesaikan bill makan malam kami.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke mengantarku hingga di depan pintu apartment.

"Kau mau mampir? Untuk segelas kopi mungkin?" Aku menawarinya setelah membuka pintu apartmentku. Bukan tawaran basa-basi, aku sangat tidak keberatan jika Ia ingin mampir ke tempatku.

Sasuke menatapku sesaat, tersirat keraguan di sorot matanya yang aku sendiri tidak tahu di sebabkan oleh apa.

"Secangkir kopi." Sasuke menganggukan kepalanya dan mengikutiku masuk ke dalam. Aku membbuka mantelku dan menggantungkannya di standing hanger.

Aku sedikit merasa canggung saat pintu di belakang kami menutup. berpikir jernih Sakura. Sasuke terus mengikutiku hingga pantry dan mendudukan dirinya di salah satu kursi.

"Non sugar?" Aku masih ingat ketika dulu aku beberapa kali membuatkan kopi untuk Sasori dan Sasuke, yang satu manis dan yang satu lagi pahit.

"Yeah. Kau memperhatikanku uh?" Ada nada menggoda dalam nada bicara Sasuke.

"Percaya dirimu tinggi sekali Sir." Aku membalikan tubuhku dengan dua gelas kopi di tanganku.

"Silahkan." Aku meletakan gelas kopi di hadapan Sasuke.

"Thanks." Sasuke membuka jasnya dan meletakannya di atas meja. Aku memperhatikannya ketika Ia menggulung lengan kemejanya sesikut, dan detik berikutnya perhatianku tertuju pada sebuah tattoo berbentuk tulisan yang ada di bagian dalam lengan kirinya.

"Tattoo yang keren." Aku menyeringai saat Ia mendapatiku sedang memperhatikannya, dan Ia terkekeh.

"Aku membuatnya setahun setelah kepergianku dari kota ini." Ia meraih gelas yang ada di depannya dan menyesapnya.

"Apa arti tulisan itu? " Aku memutar kursiku dan menghadap kearahnya dengan rasa ingin tahu.

"ชีวิตหลังชีวิต (Chīwit h̄lạng chīwit) yang artinya kehidupan setelah kehidupan."

"Boleh aku melihatnya dari dekat?" Sasuke terkekeh mendengar permintaanku dan menyodorkan lengannya di atas meja. Aku memperhatikan rangkaian huruf Thailand tersebut dengan seksama. Panjang tulisan itu sekitar 20 centi dengan diameter sekitar 5 centi dan berwarna hitam pekat, sangat kontras dengan kulit putih Sasuke.

"Kau bilang kehidupan setelah kehidupan?" Aku mengalihkan tatapanku dari lengannya menuju wajahnya.

"Yeah, Tattoo ini aku buat untuk mengingat saat-saat aku masih tergabung di K-Navy SEALs dan nyaris terbunuh oleh sayatan pisau yang hampir mengoyak isi perutku." Suaranya sangat tenang dalam menceritakan hal yang menurutku sangat mengerikan itu.

"Oh Tuhan.." Aku bergidik ngeri membayangkan kondisi Sasuke saat itu.

"Oleh karena itu aku membuat tattoo ini, selain untuk mengingatkanku akan kematian, juga untuk menunjukan rasa terimakasihku pada Tuhan karena masih memberikanku kehidupan setelah aku sekarat dan nyaris mati."

Aku berdiri kemudian mengalungkan lenganku di sekitar lehernya dan memeluknya erat. Aku merasakan air mataku merembes di kedua sudut mataku. Terima kasih Tuhan karena telah membiarkan pria ini hidup sehingga aku masih dapat bertemu dengannya. Aku tidak peduli lagi mengenai statusnya yang telah berkeluarga saat bertemu denganku kembali, yang terpenting bagiku, Ia tetap hidup.

"Hey hey, tenanglah. Itu sudah lama terjadi dan aku baik-baik saja." Kurasakan Sasuke membelai lembut punggungku yang tidak tertutupi oleh apapun, dan sentuhan jemarinya itu mengirimkan sensasi listrik dan segera menyadarkanku.

"Oh, sorry. Aku..." Ucapanku terhenti saat aku mengangkat kepalaku dan terjerat pada sepasang mata sekelam malam yang sedang menatapku dalam. Persetan dengan semuanya.

Aku meraih tengkuknya dan menempelkan bibirku di bibirnya. Sesaat kurasakan Sasuke terkejut atas apa yang aku lakukan, namun setelahnya Sasuke mencengkram punggungku dan menarikku untuk lebih mendekat dan memperdalam ciuman kami.

Sasuke menurunkan lengannya kepinggulku saat lidahnya menerobos masuk kedalam mulutku. Ini bukan ciuman pertamaku, namun bibir Sasuke yang menuntut membuatku seperti merasakan hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ini lebih hebat dari ciuman pertamaku. Gigitan-gigitan kecil yang dilakukan oleh Sasuke pada bibir bawahku membuat jiwaku seolah akan keluar dari ubun-ubunku dan membuat kakiku lemas seketika.

Sasuke melepas pagutannya untuk turun dari kursinya, menatapku dengan tatapan liar dan kembali menempelkan bibirnya di bibirku seraya menyandarkanku di meja pantry. Tubuhnya semakin menekan tubuhku seiring dengan semakin dalam dan menuntutnya mulut Sasuke di mulutku. Ciuman ini membuatku benar-benar bergairah, dan aku tahu Sasuke juga merasakan hal yang sama denganku, terbukti dengan gundukan yang dapat kurasakan dengan jelas di atas perutku. Ereksinya.

Aku mendongkakan kepalaku saat mulut Sasuke menuruni dagu dan bersarang di leherku, lidah hangatnya menyapu permukaan kulit sensitifku, menggigitnya kecil, mengecupnya, menjilatnya, semua Ia lakukan secara bergantian hingga membuatku nyaris gila untuk berteriak setubuhi aku! Aku menaikan jemariku menuju rambut Sasuke dan mencengkramnya agak keras ketika sebuah erangan meluncur dari mulutku. Hanya sesaat karena setelah aku merasakan helaian rambut Sasuke di jemariku, seketika juga aku mengingat saat membelai rambut Daisuke. Putera Sasuke dari seorang wanita.

Seakan jiwaku kembali secara paksa dan menghempaskanku ke jalanan yang gelap, aku mendorong tubuh Sasuke untuk menjauh dari tubuhku.

"Tidak, tidak. Ini salah." Aku berusaha menahan air mataku yang telah menggenang di pelupuk mata. Sasuke menatapku terkejut, ada aura kekecewaan di dalam matanya. Mungkin karena aku mendorongnya menjauh.

"Ini sebuah kesalahan. Maafkan aku." Aku menutup wajahku menggunakan kedua tanganku untuk menyembunyikan air mataku yang telah meluncur ke pipiku.

"Tidak ada yang salah di sini Saki. Kau menginginkanku, begitu pula denganku, aku menginginkanmu sejak pertama kali kau keluar dengan dress sialanmu itu." Sasuke kembali mendekat padaku, meraih tanganku dan berniat untuk menempelkan kembali bibirnya di bibirku.

"Please. Jangan membuatku merasa bersalah kepada Daisuke dan juga ibunya." Aku menatap nanar Sasuke. Hatiku terasa sakit saat ini.

Sasuke mengeratkan rahangnya. "Ini tidak ada hubungannya dengan mereka sama sekali, dan aku tidak mengerti apa maksudmu itu."

"Jelas ada! Aku menyukai seorang pria beristeri dan beberapa menit yang lalu aku bercumbu dengannya! Demi Tuhan Sasuke bagaimana aku tidak merasa bersalah dengan semua itu?!" Amarahku pecah seketika sedangkan Sasuke mebelalakan matanya terkejut. Tidak, kurasa lebih tepatnya Ia telah tersadar akan statusnya saat ini.

"Isteri? Itukah yang membuatmu resah?" Sasuke menangkup wajahku agar aku menatapnya.

"Itu lebih dari sebuah alasan Sasuke. Itu fakta." Aku berusaha menegarkan suaraku walau masih terdengar sedikir parau.

"Oh baby." Sasuke meraihku ke dalam rengkuhannya dan tetap mendekapku saat aku berusaha melepaskan pelukannya.

"Dengarkan aku." Sasuke membelai lembut kepalaku. "Aku memang telah memiliki Daisuke, tapi aku bukan suami siapa-siapa sejak sebulan setelah kelahiran Daisuke." Aku mendongkakkan kepalaku dan menatapnya terkejut.

"Tapi kau bilang tadi Daisuke sedang bersama ibunya." Aku mulai bingung dengan apa yang kutangkap ketika makan malam tadi dan pernyataannya barusan.

"Ya. Kau benar. Sabtu ini ibu Daisuke meminta ijin untuk mengajak Daisuke makan malam dan menginap di rumahnya. I'm divorced Saki."

Oh Tuhan... Apakah aku pantas untuk bersorak saat mendengar pernyataannya barusan?

"Kenapa?" Aku masih belum puas dengan pernyataannya.

"Dulu Ia meninggalkanku dan juga Daisuke."

"Kau masih mencintainya." Sasuke menggeleng mendengarkan penuturanku.

"Tidak pernah ada cinta di antara kami. Aku mengenalnya saat pertama kali menginjakan kakiku di Kumo. Saat itu aku sedang berada di bar dalam kondisi mabuk berat dan beberapa bulan kemudian Ia mengandung anakku. Ia mengatakan akan menggugurkan Daisuke pada saat itu dan aku tidak ingin itu terjadi, bagaimanapun Daisuke adalah benihku." Sasuke berhenti menatapku dan mengalihkan tatapannya ke gelas kopi yang kini ada dalam genggamannya.

"Oleh karena itu aku menikahinya. Aku ingin Daisuke lahir dan menyandang nama keluargaku. Namun sepertinya Ibu Daisuke tidak menginginkan Daisuke. Terbukti dengan Ia mengajukan surat cerai sebulan setelah kelahiran Daisuke, dan menyerahkan hak asuhnya padaku. Di tambah lagi Ia meminta sejumlah uang dengan dalih sebagai biaya lelah saat mengandung Daisuke."

"Oh Tuhan..." Aku tidak habis pikir bagaimana bisa seorang ibu melakukan hal seperti itu. Uang lelah? Itu sama saja menjual anaknya sendiri. Bitch!

"Dan hari ini kau mengijinkan Ia untuk membawa Daisuke?" Jujur saja aku sangat mengutuk seorang Ibu yang menelantarkan anaknya.

"Beberapa hari yang lalu Ia mendatangiku dan memohon untuk membawa Daisuke selama satu hari. Kau tahu apa yang aku rasakan saat itu?" Aku menggeleng mendengar pertanyaannya."Aku benar-benar merasa marah. Setelah lima tahun berlalu, baru sekarang Ia mencari Daisuke. Saat itu rasanya aku ingin melempar wanita itu keluar, namun melihatnya memohon-mohon seperti itu membuatku merasa menjadi orang yang amat jahat hingga akhirnya aku mengijinkan Ia membawa Daisuke dibawah pengawasan orang-orangku."

"Kau menggunakan Personal Protection. "

"Ya. Aku harus menjaga anakku tetap aman Saki."

Aku mengangguk tanda mengerti. "Daisuke akan aman, bagaimanapun Ibunya telah memohon seperti itu padamu, itu tandanya masih ada kasih sayang di dalam hatinya." Aku menggenggam tangan Sasuke erat dan tersenyum. Kami bertatapan beberapa saat hingga akhirnya Sasuke beranjak dari kursinya dan mendekatiku.

"Kali ini jangan dorong aku lagi." Sasuke menyusupkan lengannya ke pinggangku, aku dapat merasakan hembusan napasnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Aku menatap kedua mata kelamnya yang sedang mengawasi dan menunggu jawabanku

"Tidak akan." Dua kata dan Ia langsung menempelkan bibirnya ke bibirku, aku membuka mulutku menyambut kehangatan lidahnya. Kakiku mencengkram pinggangnya untuk merapat ke tubuhku dan kali ini aku bisa dengan leluasa mencengkram helaian rambut Sasuke untuk ikut memperdalam ciuman kami. Lidahku saling mengait dengan lidah Sasuke, dan sesekali Ia menghentikan ciumannya untuk menatapku sesaat dan kembali mencumbuku dengan amat bergairah.

Jemari Sasuke menelusuri punggung telanjangku, gerakannya menggelitik dan menggoda hingga akhirnya turun ke arah resleting dressku, menurunkannya perlahan hingga aku mulai merasakan dingin di bagian bokongku. Sasuke meninggalkan bibirku dan menatapku. Matanya telah terbakar oleh api gairah, dan aku dapat merasakan itu. Sasuke menggeser tali dressku secara bersamaan hingga meninggalkan lenganku dan akhirnya kedua payudaraku terekspos secara sempurna.

Matanya semakin menyala ketika menatap kedua payudaraku dan putingku mengeras hanya karena tatapan liarnya. Ia meluncurkan jemarinya ke bawah payudaraku dan meremasnya dari bawah dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya.

"Sempurna." Sesekali Sasuke menyenggol putingku dengan jari-jarinya dan itu membuat napasku tersengal.

"Apakah kau ingin mulutku berada di sini baby? " Sasuke mengapit putingku di antara jari-jarinya, memelintirnya, dan itu membuatku mengerang karena kebutuhan.

"Katakan baby." Jemari Sasuke semakin menyiksa mereka.

"Ya ya, kumuhon!" Aku mencengkram punggung Sasuke erat.

"Katakan kau ingin aku melakukan apa terhadap kedua putingmu yang telah mengeras ini baby." Sasuke berbicara dengan nada seduktif.

"Aku ingin putingku berada di mulutmu, please!"

Aliran listrik segera menghantam tubuhku saat ku rasakan mulut Sasuke menangkup putingku. Lidahnya menari mengitari areolaku. Nyeri dan nikmat bercampur menjadi satu dan menciptakan sensasi tersendiri saat Ia menorehkan gigitan-gigitan kecil di putingku. Oh Tuhan.

Secara bergantian Sasuke melakukan hal yang sama terhadap putingku yang satu lagi hingga jemari Sasuke meluncur ke bawahku dan menyelipkan jemarinya melalu G-String ku untuk memasuki celah hangatku.

"Kau begitu basah, dan membuatku ingin memasukan kejantananku ke dalam sini." Sasuke berbisik menggoda di telingaku dan aku mengerang sekali lagi saat Sasuke memasukan satu jarinya ke dalam liangku.

Aku semakin mencengkram bahu Sasuke dan bergoyang resah di dalam dudukku. Aku merasa tidak nyaman dengan posisi ini, bokongku hanya setengah yang menempel di atas kursi karena tubuku semakin maju sesuai gerakan jari Sasuke di kewanitaanku.

"Tunjukan kamarmu." Sasuke berbisik di telingaku dengan napas memburu.

"Pintu sebelah kiri di lorong." Suaraku hampir terdengar seperti sebuah bisikkan. Sasuke mencabut jarinya dari liangku dan membuatku merasa kosong seketika. Ia menyatukan kembali bibirnya dengan bibirku dan mengangkatku dengan kakiku yang melingkari pinggangnya.

Sasuke melangkahkan kakinya tanpa melepaskan pagutan di antara kami, jarak yang hanya beberapa meter menuju kamarku terasa seperti kiloan meter bagiku hingga akhirnya Ia menggapai pintu kamarku.

Ia merebahkanku di atas tempat tidur melepas stilettoku dengan gerakan seduktif dan melepas dress ku yang masih bersarang di pinggangku hingga hanya menyisakan G-String hitamku. Tubuhku memanas di bawah tatapan mata laparnya yang tertuju pada sebuah tulisan di bawah perut kiriku. Tulisan The Resistance yang terinspirasi dari lagu Resistance milik MUSE tercetak jelas dengan huruf Original Gangsta di sana .

"The Resistance uh?" Ia menyeringai nakal padaku dan memposisikan kakiku di antara kakinya. Wajahnya mendekati perut bawahku dan bibirnya mengecupi tattooku. Perlahan tangannya terjulur menelusuri tepian G-Stringku untuk kemudian menurunkannya seraya mengecupi permukaan kulitku yang di lalui oleh G-Stringku.

Aku terlentang dengan tubuh telanjang sempurna di hadapan Sasuke, berbanding terbalik dengan Sasuke yang masih berpakaian lengkap, dan itu tidak adil. Aku harus melihatnya telanjang.

Aku menggeser tubuhku dan berlutut di atas tempat tidur untuk berhadapan dengan Sasuke.

"Pakaian ini sangat menggangguku sir." Aku mengerling nakal padanya seraya menjulurkn jemariku untuk meraih kancing kemejanya dan Ia terkekeh. Kami seperti dikejar waktu saat membuka kancing kemeja sialannya.

Aku mendorong keras kemejanya melalui bahu bidangnya, dan aku terpana saat melihat otot dada serta perutnya yang terbentuk dengan sempurna dari latihannya di K-Navy SEALs. Aku mengecupi dada hingga perutnya, menikmati suara tertahan yang keluar dari kerongkongannya akibat perbuatanku.

Ku turunkan jemariku ke arah sabuk yang ada di pinggangnya dan membukanya perlahan untuk menggodanya. Dan itu berhasil ketika Sasuke ikut menurunkan tangannya membantuku membuka sabuk dan juga celananya. Aku turun dari tempat tidur dan Sasuke duduk di tepian tempat tidur sehingga aku bisa membantu Sasuke melepas semua celananya.

Apa yang ada di hadapanku saat ini menurutku merupakan hal yang di inginkan setiap wanita diluaran sana. Bagaimana tidak, seorang pria bertubuh sexy dengan kejantanan yang tegak sempurna ada di hadapanku saat ini.

Sasuke mengawasiku dari atas, tatapannya terkunci beberapa saat padaku hingga akhirnya aku mengulurkan jemariku untuk menggapai kejantanannya. Ku genggam miliknya dan kugerakkan genggamanku maju mundur di sekitar kejantanannya.

Geraman liar terdengar di kerongkongnnya saat aku memasukkan kejantanannya ke dalam mulutku. Aku menghisapnya perlahan, melepasnya untuk menjilati batangnya dan mengecupi ujung kejantanannya. Aku mengulanginya beberapa kali hingga akhirnya Sasuke meraih kepalaku dan mendongkakannya.

"Hentikan baby, kau akan membuatku keluar." Sasuke menarikku keatas tempat tidur dan memposisikan aku untuk mengangkang di atas perut bawahnya.

"Kau tidak ingin aku membuatmu keluar?" Aku menjalankan jemariku di atas dadanya seraya menggesekkan bagian bawah tubuhku yang telah basah karena kebutuhan.

"Tentu aku ingin, tapi tidak di dalam mulutmu." Dengan segera Sasuke menggeser pinggangku ke bagian bawah tubuhnya, dan aku mengerti apa yang Ia ingingkan. Aku menaikan pinggulku saat Sasuke memposisikan ke jantanannya di mulut kewanitaanku. Aku mengerang saat perlahan-lahan Ia meluncurkan kejantanannya memasukiku. Oh Tuhan, miliknya sangat tegang dan besar ketika mengisi ke dalamku.

Sasuke menyapukan jarinya di atas clitku, menggeseknya perlahan saat Ia mulai mengerakan pinggulnya maju mundur di dalamku. Saat gerakannya semakin cepat, Sasuke menangkup kedua payudaraku dan memainkan putingku dengan keras.

"Oh Tuhan, Sasuke.." Dua kenikmatan ini benar-benar membuatku gila!

"Ya baby, ya, panggil namaku." Sasuke terus menusuk-nusukan kejantanannya dengan cepat dan keras.

"Sasuke, Aku- Oh Tuhan.." Orgasme mulai melambaikan tangannya dan melangkahkan kaki mendekatiku.

"Keluarkan baby, aku ingin melihatmu datang. Sekarang." Beriringan dengan kata sekarang Sasuke benar-benar membuat orgasme datang menghampiriku dan memelukku erat. Aku berteriak dan mendongkakan kepalaku kebelakang saat gelombang kenikmatan menyerangku. Tubuhku mengelijang hebat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kakiku seakan meleleh, kehilangan kekuatannya.

Sasuke merubah posisi kami berdua sehingga kini Ia yang ada di atasku. Ia menyatukan bibirnya dengan bibirku saat kejantanannya kembali memasuki celahku. Aku belum pulih sepenuhnya dari gelombang orgasme pertamaku, dan sekarang Sasuke kembali meyentakan kejantanannya dengan keras dan Itu membuatku tubuhku bergetar hebat. Aku mengerang tak terkendali seirama dengan suara yang di hasilkan oleh penyatuan tubuh kami berdua di bawah sana.

"Aku mencintaimu." Satu kalimat dari bibir Sasuke mengiringi kedatangan Orgasme yang kembali menyapaku dan dengan cepat menghampiriku saat aku mendengar Sasuke menggeram hebat dan berbisik di telingaku di susul dengan cairan hangat yang menyapa rahim dan kewanitaanku.

Sasuke masih berada di atasku dengan tanganku melingkupi punggungnya saat Ia sedang mengatur napasnya. Begitu pula dengan aku yang masih tersengal-sengal akibat percintaan kami barusan.

Sasuke bergerak dan menopang tubuhnya menggunakan kedua sikutnya untuk mengecup bibirku lembut. Beberapa anak rambut jatuh di keningnya yang basah. Ia menatapku dengan senyumannya dan menarik kejantannya dariku untuk kemudian berguling ke sisiku dan merengkuhku ke dalam pelukannya.

"Oh Tuhan, kau benar-benar terasa nikmat Saki." Sasuke menciumi puncak kepalaku dan membelainya lembut.

Aku memainkan jemariku di atas dadanya. "Kau mencintaiku?"

Sasuke meraih daguku untuk mengecup bibirku. "Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melangkahkan kakiku di apartment Sasori, dan melihatmu yang menatapku dengan mata hijau besarmu."

Aku terperangah mendengar penuturannya. Sejak pertama kali melihatku? Itu berarti...

"Enam tahun yang lalu?" Aku menatapnya tidak percaya dan di balas oleh sebuah senyuman dan anggukan dari Sasuke.

"Aw!" Aku memukul dada Sasuke keras.

"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?! Kenapa menunggu selama enam tahun untuk menyiksaku?!" Aku kembali akan memukulnya ketika tangannya meraih tanganku dan mengecup telapak tanganku.

"Maafkan aku. Semuanya terjadi telalu cepat dan di luar perkiraanku. Aku berniat mengatakannya sekembalinya aku dari Kumo. Tapi seperti yang aku ceritakan tadi, pertemuanku dengan ibu Daisuke mengacaukan semuanya."

"Lalu kenapa kau tidak datang padaku setelah kau bercerai?" Aku melembutkan suaraku dan menggapai wajahnya untuk mengelusnya.

"Itu sempat terbesit di pikiranku dulu. Sungguh. Tapi aku berpikir mungkin kau tidak akan menerimaku ditambah dengan kehadiran Daisuke, hingga pada akhirnya aku mendapati Daisuke yang mengeluhkan sakit yang kukira itu sakit gigi, dan itu membawa kami berdua kepadamu. " Tersirat luka dan rasa haru di dalam tatapan mata kelamnya.

Aku menggeleng dan menangkupkan kedua telapak tanganku di wajahnya."Aku bahkan telah jatuh cinta pada anakmu Sasuke."

Sasuke tersenyum dan menarikku ke dalam ciumannya sebelum mendekapku erat.

Butiran salju di luar sana nampak berjatuhan dari langit dan menyodorkan pemandangan yang sangat indah di lihat dari kaca apartmentku.

"Natal tahun ini akan terasa sempurna dengan kehadiranmu di antara aku dan Daisuke." Sasuke berbisik di telingaku seraya mengecupi sisi kepalaku.

"Dan kalian berdua adalah kado natal yang paling indah untukku."

.

.

.

.

.

.

.

-E.N.D-

Yeeeep... Camilannya selesaaaai \O/

Gak nyambung banget sebenarnya saya buat fict dengan nuansa natal kya gini XD. Tapi apa boleh buat, wong tiba-tiba saya kepikirannya soal salju dan kado hahaha XD.

Dan soal lemonnya, saya tetap menggunakan gaya novel. Kenapa? Karena saya gak suka kalo harus mendeskripsikan lemon dengan bahasa yang brutal T_T. Jadi bagi para penikmat hardcore, saya minta maaf jika lemon saya kurang aceeeem XD.

Baiklah, seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, saya ucapkan banyak terima kasih pada semuanya :)

Mind to review? ;)

Hope you enjoy Minna.

Warm Regards,

Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.