Fict ini di buat berdasarkan Point of View dari Sasuke :) dan saya dedikasikan bagi para readers yang menyukai Snowy Gifts ;)

.

.

.

Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari Seducing Cinderella, Home in Carolina, Gift Wrapped Baby, dan The Unexpected Wedding.

.

.

.

Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)

.

.

.

Balasan Reviews:

Alin : Hahaha, iya Daisuke-nya segitu aja dulu, nnti dimunculin banyaknya di sekuel yg entah kapan di buatnya. N untuk sementara, nikmatin bonusnya dulu ajah yah :D

Miss M: Hihihi, ini bonus chap dulu aja yaa. Sekuelnya nunggu mood nulisnya dulu XD

Uchiha Sarada : Yaaap, she is.

SS as Always : hohoho, thank you :* kemarin sih baca DVD nya rilis di Maret. Mudah2an sih bener Maret. Amin amin amin.

NKN6024: Sekuel pending ya saaay, untuk skr bonus dlu ajah yah :D

Untuk yg review pake login, silahkan check pm yaa ;)

.

.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : M

Warning:

OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyak), dan banyak cacat lainnya.

Tidak untuk anak dibawah umur (17 plus only)

Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.

Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novel;)

Attention:

Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi saya sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novel (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). Saya mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita yang lain.

Selamat membaca…

.

.

.

.

.

.

.

"Daisuke, makanlah, Anko sudah membuatkan pancake sauce maple kesukaanmu." Aku menatap puteraku yang sudah beberapa hari ini kehilangan nafsu makannya. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan sesekali meringis memegangi pipinya.

"Pipimu sakit lagi?" Ku lepas tangan mungilnya dari pipi dan astaga, pipinya membengkak! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mencoba untuk mengajak bicara Daisuke, tapi nihil, Ia hanya menggeleng dan meringis. Tuhan ada apa dengan anak ini?

Aku meraih ponselku yang terletak di meja makan dan mencari nomor yang saat ini ada di dalam pikiranku.

"Mom, Daisuke masih tidak mau makan dan sekarang Ia juga mogok bicara." Aku menatap miris puteraku yang sedang menyandarkan kepalanya di atas meja makan.

"Okay, lalu apa yang harus aku lakukan?" Ibuku tidak bisa kemari karena sedang berpesiar bersama suaminya, maksudku ayahku.

"Baiklah. Kirimkan alamat dan nomor kliniknya padaku. Okay, bye Mom." Aku menutup pembicaraan kami dan meletakn kembali ponselku di atas meja. Ibuku mengatakan kemungkinan besar Daisuke mengalami sakit gigi dan Ia menyarankanku untuk memeriksakan Daisuke ke dokter gigi.

"Ayah ada pekerjaan hari ini, kau bersama Anko dulu okay. I'll be back as soon as possible." Aku mengusap puncak kepala Daisuke lalu mengecupnya dan memanggil Anko untuk menemani Daisuke hingga aku kembali.

"Aku ada meeting siang ini, tolong jaga Daisuke untukku. Setelah meeting aku akan langsung pulang dan membawanya ke dokter gigi, dan tolong bujuk Ia makan barang sedikit." Anko mengangguk dan mengambil alih piring Daisuke yang tadi aku pegang.

Aku harap Daisuke baik-baik saja hingga aku kembali nanti. Jika bukan karena aku harus membicarakan proyek pengamanan dalam skala besar yang melibatkan beberapa perusahaan penting, aku lebih baik diam dirumah dan menemani Daisuke.

Mobilku berjalan menelusuri jalanan Byakugan Road, di pinggir-pinggir jalanan ini nampak salju yang menumpuk akibat pembersihan salju di jalanan utama Byakugan Road. Mobilku terhenti karena lampu merah yang sedang menghitung mundur dari angka 45 detik. Setiap aku berhenti di lampu merah ini tatapan mataku selalu tertuju pada Italian Cafe yang ada di persimpangan lampu merah di depan sana. Enam tahun lalu pada acara Thanks Giving aku makan malam di sana bersama teman seperjuanganku dan juga adiknya.

Sakura.

Satu nama yang sejak enam tahun lalu selalu membayangi pikiranku. Tawanya, mata hijaunya yang besar, sikap galaknya, semua hal itu menari-nari di kepalaku bagaikan kaset yang selalu di ulang-ulang.

Apa kabarnya dia sekarang?

Seperti apa rupanya sekarang?

Apakah tawa dan tatapan matanya masih sama seperti dulu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Sebut aku pengecut karena sejak kembalinya aku ke kota ini aku tidak berani menampakan wajahku di hadapannya. Untuk mencari kabarnya saja bahkan aku tidak punya nyali. Aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan.

Lamunanku buyar oleh bunyi klakson dari mobil di belakang, ku oper gigi dan ku injak pedal gas untuk segera berbelok ke kanan meninggalkan lampu merah namun tidak dapat meninggalkan memoriku yang selalu terpatri di sana.

Mobilku memasuki halaman depan Amaterasu Tower saat ringtone Supremasive Black Hole terdengar dari ponselku.

"Yeah. Aku sudah ada di bawah. Aku harus membujuk Daisuke dulu tadi, dia sakit. Hn." Aku mematikan sambungan telepon dari Naruto yang menanyakan keterlambatanku hari ini.

Meeting har ini berjalan lancar seperti biasanya. Mereka menyukai konsep dan sistem pengamanan yang di gunakan Personal Protection & Security System (2P2S).

"Kita berhasil lagi uh?" Naruto menyeringai padaku sesaat setelah para client keluar dari ruang meeting.

"Yeah, absolutely." Aku balik menyeringai padanya dan menyesap kopiku.

"Bagaimana keadaan Daisuke?" Ada raut khawatir di dalam matanya. Kedekatan antara mereka berdua sudah seperti sahabat baik, Daisuke selalu menyukai kehadiran Naruto di rumah kami.

"Entahlah, aku sendiri tidak yakin. Kau tau kan jagoanku jarang bicara, di tambah lagi sudah beberapa hari ini Ia kehilangan nafsu makan. Kurasa Ia terkena sakit gigi, tapi entahlah." Aku menyendarkan punggungku ke kursi dan menghela napas panjang hingga terdengar nada pesan dari ponselku. Pesan dari ibuku.

Sasuke,

ini alamat dan nomor telepon dokter gigi handal yang ada di Konoha.

Dental Blossom. Raikiri Road Blok F no 12. +46 71 71 82 82 00

"Dobe, aku harus pulang untuk membawa Daisuke ke dokter gigi." Aku beranjak dari kursiku dan menyambar mantelku yang tergantung di dekat pintu masuk ruangan ini.

"Sampaikan salamku pada Daisuke." Kudengar suara Naruto berteriak ketika pintu ruangan akan menutup.

.

.

.

.

.

.

.

Aku telah melakukan pendaftaran by phone untuk memeriksakan Daisuke, setelah menjemputnya d rumah, aku langsung membawanya mendatangi tempat ini. Dan disinilah kami sekarang, Daisuke duduk di sofa sana dengan ipad di tangannya. Sedangkan aku? Amarah telah sampai ke seperempat kepalaku saat ini. Bagaimana tidak, aku sudah mengadakan janji sore ini dan sekarang dokter sialan itu tidak ada di tempat? Yang benar saja!

"Seharusnya pihak anda memberitahuku jika dokter gigi sialan itu tidak ada sore ini!" Aku benar-benar kesal saat ini, anakku membutuhkan dokter dan sekarang mereka mengatakan jika dokter di sini sudah pulang?

"Ada apa ini Rin?" Suara seorang wanita menginterupsi aksiku. Wanita berambut blonde itu berjalan menghampiriku. "Ada yang bisa saya bantu Tuan?"

"Aku sudah membuat janji hari dengan dokter kalian, tapi setibanya aku di sini wanita ini mengatakan bahwa dokter kalian pulang awal hari ini. Bagaimana kalian akan menjelaskan ini padaku?" Aku menatap tajam wanita yang kuperkirakan masih berumur sekitar 24 atau 25 tahun ini.

"Apakah kau tidak memberitahu Tuan ini Rin?" Wanita blonde ini mengalihkan tatapannya pada si brunete.

"Maaf sir, saya sudah mencoba menelepon anda tadi, tapi nomor anda tidak aktif." Wanita brunete ini menatapku dengan gugup dan takut-takut ketika menjelaskan padaku. Dengan masih kesal aku mengecheck ponselku di saku. Sial ponselku lowbat.

Aku memijat pelipisku kesal. Kesal karena dokter itu tidak ada ditempat dan kesal karena si brunete benar telah menghubungiku. Sial.

"Begini saja, bagaimana jika anda datang lagi kemari besok? Saya pastikan dokter Sakura akan ada di..."

"Sakura?" Aku menurunkan jemariku dari pelipis dan memotong perkataan si blonde.

"Oh. Ya, dokter gigi di sini adalah Sakura. Haruno Sakura." Aku terpaku seketika. Haruno Sakura? Ingatan-ingatan masa lalu yang kembali berputar di dalam ingatanku ternyata membuatku terdiam hingga beberapa saat.

"Tuan, apa ada yang salah?" Suara si blonde membuyarkan lamunanku.

"Hn. Tidak. Baiklah, besok saja aku kemari lagi." Aku menghampiri Daisuke yang masih asik dengan game nya untuk mengajaknya pulang, sedangkan si brunete dan si blonde hanya memandang kepergian kami dengan tatapan bingung.

Sesampainya di rumah aku meminta Anko untuk mempersiapkan Daisuke tidur, sedangkan aku lebih memilih memasuki ruang kerjaku.

Aku melngkahkan kakiku memasuki ruang kerjaku, melewati rak-rak buku yang tertata rapi dari mulai sisi tengah ruangan hingga kebelakang meja kerjaku. Ku letakkan ponselku di atas meja dan kuhempaskan tubuhku di kursi untuk menyandarkan punggungku. Tatapanku terfokus pada satu titik di langit-langit ruang kerjaku.

Haruno Sakura.

Wanita yang selama enam tahun ini terus membayangiku. Wanita yang selalu hadir dalam mimpiku. Wanita yang selalu mengisi ruang hatiku. Wanita yang selalu aku inginkan di atas tempat tidurku dan wanita yang aku hindari karena kesalahan besarku.

Setelah enam tahun berlalu akhirnya aku mendengar nama itu lagi. Apakah itu berarti ini sudah saatnya aku membuang sikap pengecutku? Aku berkutat dengan semua pemikiranku hingga akhirnya aku tersadar harus menghubungi siapa pada saat ini.

Kuraih ponselku dari atas meja dan menekan angka dua pada layar.

"Hello Mom."

"Hello Sayang. Kau sudah menemuinya?"

Menemuinya...Sudah kuduga ibuku pasti yang merencanakan semua ini.

"Mom, kau tahukan aku tidak siap dengan ini. Selama enam tahun ini aku menjaga untuk tidak mencari tahu keberadaannya, dan sekarang ibu justru membuatku mendatanginya." Aku kembali menyandarkan punggungku dan berkata dengan gusar.

"Ya, aku tahu, bahkan sangat tahu. Tapi sampai kapan kau akan seperti ini terus? Apa kau pikir aku tidak resah melihat anakku yang perasaannya tersiksa hingga bertahun-tahun hm?"

Aku hanya terdiam mendengar perkataan ibuku. Ibuku adalah orang yang paling dekat denganku selain Itachi. Jangan tanya soal ayahku karena dia adalah orang paling kaku nomor satu setelahku.

"Kurasa sudah saatnya kau keluar dari persembunyianmu Son."

Persembunyian... Ya, ucapan ibuku sudah sangat jelas untuk membuktikan bahwa aku adalah laki-laki pengecut.

Aku menghela napas panjang dan merenungi ucapan-ucapan ibuku barusan. "Apakah ini memang sudah saatnya Mom?"

"Ya, tidak diragukan lagi." Aku dapat merasakan bahwa ibuku sedang tersenyum di seberang sana.

.

.

.

.

.

.

.

Aku duduk dengan gelisah di balik kemudiku, berbanding terbalik dengan Daisuke yang duduk tenang dengan ipad nya walau pipinya membengkak seperti itu. Aku sendiri sebagai ayahnya heran dengan anakku ini, dia tidak mengeluh meskipun sakit, bahkan dia terlihat sangat tenang meski sekali-kali aku mendengarnya meringis.

Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya.

Aku semakin gelisah ketika aku dan Daisuke melangkahkan kaki memasuki klinik Sakura.

"Selamat sore Tuan."

Si brunete menyapaku dengan ramah, dan hanya aku balas dengan sebuah anggukan.

"Silahkan naik ke lantai atas, nanti akan ada nona Ino yang akan mengantar anda ke ruang pemeriksaan. Tangganya ada di sebelah sana." Si brunete menunjukan tangannya ke arah lemari kayu berwarna putih yang terbuat dari kayu oak. Aku mengangguk dan mengkuti arahan dari si brunete.

Nuansa klinik ini di dominasi oleh warna putih, terasa sangat klasik dan hangat. Penataan ruangannya pun sangat nyaman, di lantai bawah di seberang tangga terdapat sofa besar putih dengan lampu antik di sampingnya. Sedangkan di sisinya lagi terdapat pot bunga anggrek berwarna ungu.

Aku menuntun Daisuke untuk melangkah menaiki anak tangga. Di sepanjang tembok di sisi anak tangga mulai dari bawah hingga puncak tangga di penuhi oleh foto-foto hitam putih, foto-foto itu berisi anak-anak kecil, ada yang sedang menggosok giginya, ada yang sedang tersenyum, ada yang sedang memegang pipinya, aku rasa itu semua penggambaran dari anak-anak yang giginya sehat hingga yang giginya sakit.

Di lantai dua masih di dominasi oleh warna putih, sama seperti di bawah. Di tembok sebelah kiri aku mendapati lukisan besar dengan objek sebuah pohon sakura besar yang berada di tengah-tengah sebuah lahan yang luas, entahlah mungkin itu sebuah lapangan. Di bawah lukisan itu terdapat sofa yang sama persis seperti di bawah, lengkap dengan lampu antik dan bunga anggreknya.

Aku melangkahkan kakiku menuju meja si blonde yang sedang menatapku dengan pandangan seperti puppy yang excited saat melihat tulang. Hentikan tatapan menggelikan itu blonde.

"Selamat sore. Silahkan masuk melalui pintu ini Tuan. Dokter telah menunggu di dalam." Si blonde mengarahkanku ke pintu bercat putih dengan ukiran di pinggirannya.

Ini saatnya.

Jantungku berdegup sangat cepat dan pergelangan tanganku mencengkram gagang pintu dengan kuat hingga buku-buku jarku terasa sakit. Berbagai pertanyaan mulai berputar di kepalaku.

Bagaimana ekspresi Sakura ketika melihatku nanti?

Apakah dia masih mengenaliku?

Apakah saat ini dia telah menjadi milik orang lain?

Cengkraman tangan mungil Daisuke di celanaku membuatku tersadar dari lamunan. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu yang ada di hadapanku.

"Masuk."

Itu suaranya. Suara yang sudah lama aku rindukan.

Aku memasuki ruangan yang masih bernuansa putih namun di tambah aksen hijau di beberapa bagian sehingga membuat ruangan ini nampak sejuk dan nyaman. Pandanganku terarah pada seorang wanita dengan surai merah mudanya yang nampak kontras dengan nuansa hijau putih di ruangan ini.

"Hi Sakura. Lama tidak jumpa." Sakura mendongkakkan kepalanya dan menunjukan mata hijaunya yang bulat cemerlang saat menatapku.

"Oh Tuhan, Sasuke!" Sakura beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku. Aroma feminim langsung menguar dan memasuki indera penciumanku saat Ia berdiri tepat di depanku, dengan celana jeans berwarna biru muda dan kemeja berbahan senada dengan warna yang lebih tua yang tertutupi jas kedokterannya yang berwarna putih. Oh Tuhan, aku ingin merengkuhnya ke dalam pelukanku.

"Lama tidak jumpa, bagaimana kabarmu?" Ia mengulurkan tangannya ke arahku, dan saat aku menyambut tangannya, aku dapat merasakan bagaimana lembut dan halusnya telapak tangan Sakura.

"Seperti yang kau lihat, aku sehat dan masih tampan. Selalu." Aku tersenyum pada Sakura. Berjabatan tangan dengannya membuatku relax seketika dan melupakan ketakutanku. Aku meremas lembut jabatan tangannya dan aku melihat ada rona merah menjalar di pipinya. Kuharap rona itu untukku.

"Dan kabarmu?" Aku masih belum melepaskan genggaman tanganku di jemari lembutnya, aku ingin tahu apakah aku akan melihat warna lain di wajah cantiknya?

"Well, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja dan seorang dokter gigi." Aku mendengar suaranya sedikit gugup sebelum akhirnya Ia memberikan cengirannya padaku, dan itu membuatku terkekeh saat melihatnya.

"Dad..."

Aku ingin terus menggenggam tangannya seperti ini, tapi suara lembut yang berasal dari puteraku membuat Sakura melepaskan genggaman tangannya padaku, dan sesaat aku merasa tanganku kehilangan kehangatannya.

Jantungku berdenyut cepat karena tegang saat melihat Sakura menatap Daisuke dengan seksama. Aku menyadari adanya perubahan warna di wajah Sakura saat Ia kembali menatapku. Aku bertanya-tanya dalam hati akan respon Sakura setelah ini.

"Anakmu?" Ia menatapku dalam. Aku mengangguk kaku untuk menjawab pertanyaannya, dan aku dapat melihat Ia menghela napas panjang. Resah. Ia kembali mengalihkan tatapannya ke arah Daisuke dan bergererak turun merendahkan tubuhnya hingga Ia sejajar dengan Daisuke.

"Hello, siapa namamu?" Sakura bertanya dengan nada riang pada Daisuke, aku tidak tahu itu warna suaranya yang asli atau untuk menutupi rasa resah yang Ia tunjukan padaku beberapa saat yang lalu.

"Daisuke." Puteraku menjawab masih dengan posisinya yang ada di balik kakiku. Ini kali pertamanya Daisuke mau langsung berbicara dengan orang yang baru Ia temui, bahkan dengan ibunya sekalipun Ia jarang mengeluarkan suaranya.

"Berapa umurmu?" Sakura kembali bertanya.

"Lima tahun." Lagi, Daisuke mengeluarkan suaranya, dan menjawab pertanyaan lain yang Sakura berikan. Bahkan saat ini Daisuke sudah ada di depan meninggalkan cengkramannya pada kakiku dan menatap Sakura dengan penuh minat, hingga akhirnya aku menatap takjub interaksi diantara mereka berdua saat Sakura mengulurkan tangannya pada Daisuke dan Daisuke menyambutnya.

"Well, ayo ikut denganku teman."

Sakura membimbing Daisuke ke arah kursi pemeriksaan dan membantu daisuke untuk menaikinya. Sakura meminta Daisuke untuk membuka mulutnya saat Ia sudah siap dengan peralatan di tangannya. Aku memperhatikan bagaimana Sakura dengan teliti memeriksa rongga mulut Daisuke dengan sebuah benda panjang yang di ujungnya terdapat kaca kecil yang menurutku seperti miniatur kaca spion mobil.

Sakura menghentikan pemeriksaannya dan menatap ke arahku untuk menjelaskan mengenai kondisi yang di alami Daisuke. Okay, jadi sariawan sialan itu yang telah membuat puteraku kehilangan nafsu makan dan pipinya menjadi bengkak.

"Daisuke termasuk anak yang kuat dan tidak rewel dengan sariawan besar di mulutnya." Astaga orang dewasa seperti Sakura saja berkata seperti itu, lalu bagaimana bisa Daisuke tahan dengan rasa sakitnya? Aku tidak habis pikir dengan puteraku.

Seperti dapat membaca kekhawatiranku, Sakura megatakan bahwa Ia akan memberikan resep obat untuk menghadapi sariawan sialan itu. SetelahnyaSakura melepas masker beserta sarung tangannya dan membantu Daisuke untuk turun dari kursi pemeriksaan. Aku mengikuti mereka hingga kursi yang ada di depan meja Sakura. Daisuke memperhatikan Sakura yang sedang menulis sesuatu di atas kertas panjang,begitu pula aku yang juga sedang memperhatikan Sakura. Wajahnya nampak serius namun tidak menghilangkan kecantikan dari wajahnya.

Sepertinya Sakura menyadari bahwa aku sedang memandanginya, karena rona merah kembali menghiasi pipinya saat Ia mendongkakkan kepalanya dan menatap ke arahku. Sekarang aku yakin rona itu memang untukku. Sakura meyodorkan kertas berisi resep yang harus aku berikan pada si blonde.

"Thanks Saki." Aku mengambil kertas itu darinya, dan sekali lagi aku ingin menggenggam tangan itu, tapi aku tahu aku harus sabar.

Sakura mengantar kami hingga pintu ruangannya, aku merasa ini terlalu cepat. Tapi aku sendiri tidak punya alasan untuk berlama-lama di sini, urusanku telah selesai. Oh Tuhan, beri aku ide.

Aku mendengar langkah sepatu Sakura yang berbalik untuk menutup pintu, dan sebelum Ia sempat menutupnya, aku telah menahan tangan kananku di daun pintu.

"Berikan aku nomor ponselmu, aku harus mentraktirmu untuk hari ini." Sial, itu alasan terbodoh yang pernah aku ucapkan.

Sakura mengernyitkan alisnya dan menatapku bingung sesaat sebelum Ia menyebutkan serangkaian nomor telepon.

.

.

.

.

.

.

.

Aku menatap ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja kerjaku untuk kemudian meraihnya dan mencari nama seseorang yang ingin aku hubungi.

Haruno Sakura

Ketika aku hampir menyentuh icon dial, aku mengerang dan meletakan kembali ponselku ke atas meja dengan setengah melempar.

Sial sial sial kenapa aku jadi segugup ini?

Aku kembali melirik ponselku dan meraihnya lagi, aku harus menghubunginya. Harus. Ku gerakan jariku dengan cepat untuk menyentuh icon dial dan mendekatkan ponselku ke arah telinga. Cukup lama nada sambung terdengar di telingaku hingga akhirnya suara lembut dari seberang sana terdengar memasuki indera pendengaranku.

"Hello."

Jika seseorang mengatakan bahwa suara wanita di telepon dapat mebuat kejantanan seorang pria berkedut itu adalah sebuah omong kosong, maka orang itu adalah salah satu orang paling dungu sedunia.

Bagian bawahku sedang tersiska hanya karena mendengar suara seorang wanita di sebarang sana.

"Hi Saki. Ini aku." Aku berbicara senormal mungkin.

"Oh, hi. Ada apa?" Astaga, aku harus menjauhkan suaranya dari para pria di luaran sana mengingat efek dari suaranya yang membuat kejantananku berkedut seperti sekarang ini.

"Apakah kau ada acara akhir pekan ini?" Semoga tidak ada. Hening sesaat sebelum akhirnya Ia menjawab.

"Tidak, ku rasa. Ada apa?''

Sempurna.

"Bagus. Aku ingin mengajakmu makan malam sebagai tanda terimakasihku."

"Hey, tidak perlu seperti itu. Itu sudah menjadi tugasku, lagipula kau juga membayar atas jasaku kan."

Aku tidak akan semudah itu menyerah nona.

"Aku tidak menerima penolakan. Aku akan berada di sana jam 7 malam pada hari Sabtu untuk menjemputmu. Sampai ketemu Saki." Segera ku akhiri sambungan telepon agar tidak ada lagi penolakan darinya.

Sekarang aku tinggal mempersiapkan untuk acara makan malam kami Sabtu ini. Aku kembali mendial sebuah nomor telepon untuk memesan satu meja di salah satu tempat favoriteku.

.

.

.

.

.

.

.

"Ku mohon, ijinkan Daisuke untuk bersamaku malam ini saja. Aku ingin mengajaknya makan malam bersama keluargaku sebelum aku berangkat ke Iwa."

Aku menatap seorang wanita berambut merah yang dulu mencampakan Daisuke dengan marah.

"Aku tidak peduli kau akan kemana. Bukankah dulu kau yang mencampakan anakmu hn?" Aku mengepalkan tanganku menahan amarah saat mengingat bagaimana dia meninggalkan Daisuke padaku dengan meminta sejumlah uang yang dia sebut sebagai biaya lelah.

Brengsek.

"Ya kau benar, dan aku sangat menyesal akan hal itu. Ini, aku membawa cek yang nilainya setara dengan jumlah uang yang kau berikan padaku dulu."

Wanita itu menghampiriku dan meletakan sebuah cek di atas meja. Persetan dengan semua ini. Aku meraih cek itu, merobeknya dan melemparkannya dengan marah.

Air mata mulai terlihat menetes dari kedua mata wanta itu, tapi aku sama sekali tidak peduli sekalipun Ia meneteskan air mata darah.

"Pergi dari sini." Aku membuat sebuah gerakan tangan yang kutujukan pada dua pria yang sedari tadi ada di pintu kerjaku.

"Bawa dia dari hadapanku." Isakan mulai terdengar dari wanita itu saat kedua orangku mencengkram lengannya dan bersiap untuk membawanya pergi dari hadapanku. Ia menatapku dengan mata memelas.

"Kumohon Sasuke, kumohon, sekali ini saja." Wanita itu menjatuhkan dirinya di kedua lutut dan kembali memohon padaku. Suaranya terdengar lebih pilu dari sebelumnya.

Aku melihat ke arahnya yang masih setia dengan posisi berlututnya. Ini adalah kali pertama wanita ini mencari Daisuke. Setelah sekian lama baru ini Ia datang kemari untuk menemui puteranya? Ya, aku masih menyebutnya sebagai puteranya karena memang Ia adalah ibu kandung Daisuke. Aku amat membenci tindakan wanita ini ketika Ia mencampakan Daisuke dan lebih memilih menukarnya dengan sejumlah uang. Aku tidak ingin anakku membenci ibunya sendiri walau pada kenyataannya, aku sangat membenci wanita yanga da di hadapanku saat ini. Tapi kenyataan bahwa wanita ini adalah Ibu kandung dari Daisuke memang tidak dapat di pungkiri.

"Shika, Shino. Kalian pergi bersama Daisuke kerumah wanita ini, dan bawa kembali Daisuke besok pagi."

Wanita itu memberikanku tatapan tidak percaya dan berbisik Terimakasih Sasuke saat aku berjalan melewatinya dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar ruangan ini.

.

.

.

.

.

.

.

Aku berada di depan kamar 202 saat ini. Kamar Sakura. Aku berdehem agak keras melegakan tenggorokanku untuk sekedar menghilangkan rasa gugup sebelum aku menekan bell yang ada di hadapanku saat ini.

Ku ulurkan jemariku ke arah bell dan menekannya sekali. Waktu 15 detik terasa 15 jam untukku saat ini hingga akhirnya pintu depanku terbuka dan membuatku hampir tidak dapat bernapas.

"Hi." Sakura menyapaku, Ia berdiri di hadapanku dalam balutan dress hitam yang panjangnya diatas lutut dan pas membungkus tubuhnya. Bagian depan dressnya yang berbentuk huruf V memang tidak terlalu rendah, namun aku masih dapat melihat belahan dadanya yang membuat celanaku mulai terasa sesak. Sial

"Ehm, Apakah ada yang aneh pada penampilanku?" Suara Sakura membuyarkan lamunan liarku. Aku menghitung di dalam hati mencoba untuk kembali tenang meskipun darahku sedang berdesir dashyat atas pemandangan yang tersaji di depanku.

"Hn. Tidak. Kau terlihat luar biasa malam ini. " Ya, dia sangat luar biasa. Aku memberikan senyum terbaikku padanya.

"Um, thanks Sasuke." Dia tersenyum kikuk dan ada rona morah di kedua pipinya, rona milikku.

Napasku semakin terasa berat ketika Sakura membalikkan tubuhnya untuk mengunci pintu. Backless. Ya, dress yang Sakura kenakan saat ini membuat punggungnya terekspose dan membuatku ingin mendorongnya masuk untuk merasakan setiap jengkal punggung telanjangnya dan bercinta hingga aku hilang ingatan. Sial, kami harus segera pergi dari sini sebelum aku benar-benar kehilangan akal sehatku. "Ready?"

"Yup."

Sakura berbalik dan memasukan kunci kedalam tas sebelum melangkahkan kaki bersamaku menuju lift.

Aku berdiri agak jauh dari Sakura saat ini. Lift ini hanya berisikan aku dan Sakura, dan aku tidak ingin menyerangnya di dalam lift ini, setidaknya tidak untuk saat ini.

"Kau tidak membawa Daisuke bersamamu?" Suara Sakura kembali menarikku ke alam sadar.

"Ini kencan. Daisuke tidak ingin mengganggu kita." Aku sengaja menggodanya. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya jika aku mengatakan kencan. Dugaanku berkata ekspresi wajahnya menunjukan ketertarikan padaku, tapi jika dugaanku ini salah, maka aku akan bercinta dengan sofa kerjaku.

"Jangan bercanda, kau hanya mengajakku makan malam Sir." Dia mendengus kesal tapi aku masih dapat melihat rona itu di pipinya. Ya, dia menginginkan aku.

Sakura semakin menunjukan wajah kesalnya yang justru membuatku ingin menciumnya. Beruntung pintu lift terbuka sehingga aku tidak harus menahan diriku lebih lama lagi.

Aku duduk di belakang kemudi dalam diam, setelah membicarakan sedikit tentang masa-masa di saat aku masih sering berkunjung ke tempat Sasori, kami hanya terdiam dengan ppikiran masing-masing, entahlah aku bingung harus memulai percakapan yang seperti apa. Adanya Sakura di sampingku dengan balutan busana seperti itu membuat kejantananku yang ingin bicara, bukan mulutku.

"So, kenapa Daisuke tidak ikut bersamamu malam ini? Apa dia bersama ibunya?" Aku bersyukur Sakura tidak seperti wanita-wanita di luar sana yang menjaga image dengan setia membisu, atau berbicara hanya ketika pria memulai pembicaraan.

"Yeah." Meskipun aku benci mengakui bahwa wanita itu adalah ibunya.

"Um. Oya, apakah kau masih bergabung dengan K-Navy SEALs?" Seperti mengetahui isi hatiku, Sakura merubah topik pembicaraannya, dan ya aku lebih menyukai membahas pekerjaan lamaku.

"Tidak. Aku bekerja dengan bisnisku sendiri saat ini" Aku masih menatap lurus kedepan, bukannya aku enggan untuk menatap kearahnya, tapi aku butuh konsentrasi untuk tetap fokus pada jalanan di depan kami.

"Bisnis apa?" Aku menyukainya ketika rasa ingin tahu Sakura muncul seperti ini.

"Keamanan."

"Maksudmu? Kau penyedia jasa security ?" Perkataan Sakura barusan berhasil membuatku terkekeh geli.

"Kurang lebih seperti itu. Tapi aku lebih kepada Personal Protection dan Security System. Aku menyediakan jasa pengawalan baik pribadi maupun institusi dan juga sistem yang mengatur segala macam keamanan, seperti alarm keamanan yang di pasang di kantor-kantor maupun apartment." Aku menjelaskan secara singkat mengenai pekerjaanku saat ini.

"Okay, jadi kau keluar dari pekerjaan yang berbau kekerasan fisik, dan sekarang kau menggeluti bisnis yang juga pasti melibatkan kekerasan fisik?"

Kekerasan fisik? Aku kembali terkekeh. Astaga aku menyukai pemilihan kata yang Ia gunakan, itu unik.

"Well, jika kau menganggapnya begitu. Tapi kali ini aku tidak terlibat langsung, aku hanya perlu mengirim orang-orangku untuk tugas lapangan. Kecuali jika clientku adalah kau Sakura, maka dengan senang hati aku akan menangani tugasku sendirian."

Ya, dan dengan senang hati juga aku akan mengawalnya di tempat tidur.

Aku melakukan kesalahan dengan menengokan kepalaku kearahnya, hanya beberapa detik dan itu berhasil membuatku kembali menginginkannya untuk berada di bawah tubuhku. Sial sial sial konsentrasi pada jalanan di depanmu Head Banger!

Aku mencengkram setirku erat dan kembali fokus kejalanan, berusaha berkonsentrasi untuk beberapa menit ke depan.

.

.

.

.

.

.

.

Makan malam ini terasa luar biasa bagiku, kami berbincang mengenai banyak hal, termasuk mengenai Daisuke. Dari nadanya ketika Ia membicarakan Daisuke, aku rasa ia menyukai Daisuke.

"Kurasa tidak akan ada seorang pun yang bisa menolak pesona Daisuke, Ia sungguh menggemaskan."

Ya, dia menyukai Daisuke, dan aku senang mendengarnya. Sangat.

"Like father like son, semua pesonanya itu menurun dariku Saki." Aku menyeringai padanya "Lain kali aku akan mengajaknya, tapi tidak untuk kencan pertama kita ini." Ia memutar bola matanya padaku, bahkan Ia masih nampak cantik dengan wajah jengkel seperti itu.

"Ya ya ya. Seharusnya kau malu pada Daisuke, di umurmu yang sudah kepala tiga kau masih saja menggoda seorang wanita." Ia menatapku sinis dan mendengus.

"Hn. Pria berumur kepala tiga yang masih tampan dan sexy." Aku kembali menggodanya.

"Well, aku sudah kenyang dan kurasa mataku mulai tidak bersahabat, bisakah kita pulang sekarang?" Sakura menyesap wine dari gelasnya, aku menyukai cara dia melakukan itu dengan bibir pinknya. Aku dapat membayangkan hal luar biasa apa yang dapat bibirnya lakukan ketika membungkus kejantananku.

"Okay." Aku melambaikan tangan ke arah pelayan untuk menyelesaikan bill makan malam kami.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau mau mampir? Untuk segelas kopi mungkin?" Aku tertegun mendengar penawaran Sakura. Sekali aku masuk ke dalam, aku tahu apa yang akan terjadi pada kami selanjutnya. Aku menatap mata Sakura, ya mata itu menginginkan keberadaanku.

"Secangkir kopi." Aku mengangguk mengikuti instingku.

Sakura berjalan di depanku, meembuka mentelnya dan menggantungkannya di standing hanger baru menggerakan kaki jenjangnya yang beralaskan stiletto berwarna silver . Dan itu sialan sexy.

Aku mendudukan dirku di salah satu kursi, memandangi sosok Sakura dari belakang. Apa yang akan terjadi jika aku menghampirinya saat ini dan menempelkan bibirku di atas permukaan kulit punggungnya?

"Non sugar?" Sakura bertanya tanpa membalikan tubuhnya.

"Yeah. Kau memperhatikanku uh?" Aku menggodanya untuk menutupi keteganganku.

"Percaya dirimu tinggi sekali Sir." Kurasa Ia memutar kedua bola matanya sebelum berbalik dan meletakan secangkir kopi di hadapanku.

"Silahkan."

"Thanks." Aku melepas jasku untuk menggulung lengan kemejaku agar lebih santai, dan ketika aku mengalihkan pandanganku ke arah Sakura, aku mendapati bahwa Ia sedang menatap tattoo di lengan dalamku dengan penuh minat.

"Tattoo yang keren." Ia menyeringai padaku.

Aku menceritakan sedikit tentang tattoo ku ini. Tattoo yang kubuat untuk mengingat keadaanku yang hampir mati saat sebilah pisau nyaris mengoyak isi perutku saat aku masih bertugas dalam K-Navy SEALs.

Tanpa di duga tindakan Sakura selanjutnya membuatku kaget bukan main, Ia memelukku erat ketika aku telah selesai bercerita padanya. Dan Ya Tuhan, dia menangis. Menangis karena aku hampir mati? Dia peduli padaku.

"Hey hey, tenanglah. Itu sudah lama terjadi dan aku baik-baik saja." Aku mencoba menggerakan jemariku bermaksud untuk menenangkannya, namun Ia justru tersentak dengan sentuhanku dan mencoba menjauh dariku dengan menarik kepalanya dari bahuku.

"Oh, sorry. Aku..." Tatapannya terkunci pada mataku, dan sebelum aku sempat mengatakan apapun, aku terkejut karena bibirku telah menempel di bibirnya.

Kau membangunkan singa tidur Sakura.

Aku merengkuh Sakura untuk lebih mendekat padaku, menekan punggungnya untuk menempel di tubuhku dan memperdalam ciuman yang telah di mulai olehnya. Aku menyelipkan lidahku ke dalam mulutnya yang di sambut tanpa penolakan apapun dari Sakura. Aku bahkan ingin bercinta dengan mulutnya.

Aku menghentikan cumbuanku untuk turun dari kursi dan mendorong Sakura agar bersandar ke meja pantry, tatapan matanya sayu dan bergairah, membuat kejantananku membesar di bawah sana. Kembali kubawa mulutnya ke mulutku, untuk saling melumat.

Sakura mendongkakan kepalanya ketika mulutku mulai menuruni dagu dan lehernya. Mengecup dan menggigit kecil kulit putihnya sehingga membuatnya mengerang dan mencengkram rambutku. Ia menikmatinya.

Aku ingin berbuat lebih dari apa yang aku lakukan sekarang, tapi kedua tangan Sakura yang mendorong dadaku secara tiba-tiba membuatku membeku seketika. What the hell...

"Tidak, tidak. ini salah." Sakura menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ini sebuah kesalahan. Maafkan aku." Ia menutupi matanya dengan kedua tangan. Sial, apa yang salah di sini?

"Tidak ada yang salah di sini Saki. Kau menginginkanku, begitu pula denganku, aku menginginkanmu sejak pertama kali kau keluar dengan dress sialanmu itu." Aku kembali mendekati Sakura, menarik tangannya bermaksud melanjutkan apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu sebelum tangan sialannya mendorongku menjauh.

"Please. Jangan membuatku merasa bersalah kepada Daisuke dan juga ibunya." Sial, kenapa dia harus membawa Daisuke dan wanita itu kedalam pembicaraan ini.

"Ini tidak ada hubungannya dengan mereka sama sekali, dan aku tidak mengerti apa maksudmu itu." Aku merasa marah saat ini, entahlah mungkin akrena hormon sialanku ini.

"Jelas ada! Aku menyukai seorang pria beristeri dan beberapa menit yang lalu aku bercumbu dengannya! Demi Tuhan Sasuke bagaimana aku tidak merasa bersalah dengan semua itu?!" Aku tersentak saat Sakura melontarkan kata-katanya dengan keras dan menatapku marah.

Pria beristeri? Oh Tuhan... Aku mengerti sekarang. Brengsek, kenapa aku bisa lupa untuk menjelaskan statusku pada Sakura?

"Oh baby." Aku meraih Sakura dalam dekapanku, namun tubuhnya menegang dan mencoba lepas dariku.

"Dengarkan aku." Aku membelai kepalanya yang berada di dadaku, menenangkannya agar mendengar penjelasanku mengenai statusku sebagai seorang duda cerai.

Kami berbicara dengan tenang dan saling berhadapan di depan meja pantry. Ia sempat menatapku dengan ragu saat aku bercerita mengenai perceraianku, sampai akhirnya aku menjelaskan apa yang terjadi padaku ketika aku berada di Kumo hingga Daisuke lahir. Aku juga menceritakan bagaimana wanita itu datang memohon padaku agar dapat membawa Daisuke untuk makan malam hari ini.

"Daisuke akan aman, bagaimanapun Ibunya telah memohon seperti itu padamu, itu tandanya masih ada kasih sayang di dalam hatinya." Sakura menggerakan tangannya yang sedari tadi berada di pangkuannya untuk menggenggam tanganku. Ia menatapku dengan senyuman tulus di wajahnya.

Aku turun dari kursiku dan mendekatinya "Kali ini jangan dorong aku lagi." Aku meraih pinggangnya.

"Tidak akan."

Aku segera membawa bibirnya ke bibirku. Sakura mengaitkan kakinya di pinggangku dan mencengkram rambutku yang semakin membuatku ingin berada di dalam dirinya. Aku hentikan sejenak ciumanku untuk memandangnya, mata hijaunya menatapku dengan penuh damba, dan aku kembali menyatukan bibirku dengan bibirnya, lidahku terjalin sensual dengan lidahnya.

Masih dengan bibirku yang menempel erat di bibirnya, ku telususri punggung telanjangnya hingga mencapai resleting yang ada di bawah punggungnya, Sakura sempat bergidik ketika aku menurunkan resletingnya. Aku tahu aku tidak akan pernah puas dengan bibirnya, tapi kali ini aku harus berhenti dengan bibirnya, karena bibirku menginginkan bagian lain dari tubuhnya. Ku tarik bibirku dan meninggalkan bibir terbuka Sakura yang sialan sexy.

Ku alihkan jemariku untuk menurunkan tali dressnya, dan aku merasakan nyeri di bawah sana akibat tekanan luar biasa yang dihasilkan oleh kejantananku saat kedua payudaranya terbebas dengan puting yang mengacung tegang seakan berteriak meminta mulutku untuk berada di sana.

Aku menangkup bagian bawah payudara Sakura yang terasa kenyal dan hangat dengan ibu jari dan telunjukku, meremasnya kecil dan sesekali menjentkan jariku di putingnya yang berwarna pink.

"Apakah kau ingin mulutku berada di sini baby? " Aku menggodanya dengan mengapit putingnya keras dan itu membuatnya mengerang. Aku ingin mendengar bahwa dia mendamba akan mulutku. "Katakan baby." Aku semakin mempermainkan kedua putingnya di antara jemariku.

"Ya ya, kumuhon!" Ya, aku menyukainya saat ia memohon seperti ini.

"Katakan kau ingin aku melakukan apa terhadap kedua putingmu yang telah mengeras ini baby." Tubuhnya semakin melengkung ke depan seiring perlakuan jemariku di puting indahnya.

"Aku ingin putingku berada di mulutmu, please!"

Sakura menghentakan kepalanya ke belakang saat mulutku membungkus salah satu putingnya, oh Tuhan pemandangan dari sini sungguh sangat menggairahkan. Aku terus menkmati kedua putingnya secara bergantian, hingga akhirnya Sakura mengerang saat aku menyelipkan salah satu jariku ke liang hangatnya. Sial, dia sudah sebasah ini.

Aku menggerakan jariku, menikmati setiap cairan yang keluar dari kewanitaannya. "Tunjukan kamarmu." Aku harus segera berada di dalamnya.

"Pintu sebelah kiri di lorong." Sakura menjawab dengan terengah. Kucabut jariku kemudian menciumnya dan mengangkatnya sehingga Ia mengangkangi pinggulku.

Kakiku bergerak dengan Sakura yang berada di gendonganku, kami terus berciuman hingga tiba di pintu kamarnya.

Aku merebahkan Sakura di tempat tidur. Melepas segala yang tertinggal di tubuhnya. Aku menginginkannya telanjang. Jariku baru saja meloloskan dress Sakura saat mataku terpaku pada sebuah typography tattoo yang membentuk tulisan The Resistance yang teletak di bawah perut kirinya. Tattoo itu memberikan efek yang luar biasa terhadap tubuhku.

"The Resistance uh?" Sakura menyeringai nakal padaku, aku ingin bertanya lebih lanjut mengenai tattoonya, tapi kurasa itu bisa menunggu nanti setelah kami selesai dengan ini semua.

Aku menurunkan wajahku untuk mengecupi tattoo Sakura kemudian tanganku bergerak untuk menanggalkan G-string hitamnya. Dan inilah dia, wanitaku dengan tubuh telanjang sempurna yang siap untukku.

Aku bermaksud memposisikan tubuhku diatas tubuhnya, namun Ia bergerak mendahuluiku.

"Pakaian ini sangat menggangguku sir." Sakura menggerakan jemarinya membuka pakaianku dengan tergesa, mata hijaunya menatapku dengan takjub, dan suaraku tercekat ditenggorokan saat Sakura menempelkan bibirnya untuk mengecupi dada hingga perutku, sedangkan tangannya bergerak untuk membuka sabukku. Aku membantunya dengan duduk saat Ia berusaha membuka celanaku dengan jemari nya.

Aku memperhatikannya saat kejantananku terlepas, dan mnegira-ngira apa yang akan dilakukan olehnya. Genggaman tangan Sakura di kejantananku membuatku mengejang. Tapi itu belum seberapa, karena berikutnya aku menggeram saat mulutnya yang sialan manis dan hangat melngkupi kejantananku dan menghisapnya perlahan. Sial, jika seperti ini terus aku akan keluar di mulutnya.

"Hentikan baby, kau akan membuatku keluar." Aku menariknya ke atas dan memposisikannya agar Ia mengangkang di atasku.

"Kau tidak ingin aku membuatmu keluar?" Sakura berbicara dengan nada menggoda, Ia menggerakan jemarinya dengan nakal di atas tubuhku dan menggesekan kewanitaannya di batangku. Terus seperti itu dan aku akan bercinta denganmu sampai mati.

"Tentu aku ingin, tapi tidak di dalam mulutmu." Aku menaikan pinggang Sakura dan menggesernya agar tepat berada diatas kejantananku yang sudah dalam masa limitnya. Aku menggenggam kejantananku untuk membantunya masuk secara perlahan.

Sakura memejamkan matanya dan mengerang saat milikku telah meluncur sepenuhnya. Miliknya terasa ketat dan panas saat menjepit kejantananku. Aku tidak bisa menahan untuk tidak bergerak, ku mainkan clit Sakura agar Ia lebih relax dan tidak merasa nyeri saat aku bergerak di dalamnya.

Kedua payudaranya ikut bergerak naik turun saat aku menggerakan pinggulku semakin cepat, tanganku terulur untuk meraihnya, memainkan kembali puting-puting merah muda itu dengan keras.

Tubuh Sakura mengejang dan otot kewanitaannya mencengkram kejantananku dengan erat saat Ia datang dengan keras karena orgasme pertama datang melandanya. Ia mendongkakan kepalanya menikmati pelepasan yang baru saja di alaminya. Dan itu sungguh luar biasa panas.

Aku beranjak dari posisiku dan menempatkan Sakura di bawahku. Kulumat bibirnya berirngan dengan meluncurnya kembali kejantananku ke dalam dirinya. Kali ini aku tidak dapat bermain lembut lag, aku butuh pelepasan dengan cepat. Aku menyentak dengan keras ke dalam dirinya berkali-kali, membuatnya menjerit nikmat.

"Aku mencintaimu." Kejantananku berkedut hebat di tepi pelepasanku beriringan dengan meluncurnya isi hatiku, kewanitaan Sakura menghisap sari-sariku dengan kuat saat aku menyentak ke dalamnya sekali lagi dan membawa kami berdua kedalam gelombang orgasme yang maha dashyat.

Aku menopang tubuhku dengan kedua sikut agar tidak menindihnya. Keringat hasil percintaan kami membuat tubuhku dan tubuhnya lengket. Tapi aku tidak peduli akan hal itu. Aku menarik diri darinya kemudian berguling ke sisinya dan menariknya kedalam pelukanku.

"Oh Tuhan, kau benar-benar terasa nikmat Saki."

Aku menciumi puncak kepalanya saat jemari Sakura bermain di atas dadaku.

"Kau mencintaiku?" Sakura bertanya dengan suara berbisik. Aku tersenyum dan membawa bibirnya pada bibirku.

"Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melangkahkan kakiku di apartment Sasori, dan melihatmu yang menatapku dengan mata hijau besarmu."

Sakura sempat kesal saat mengetahui bahwa aku jatuh cinta padanya sejak enam tahun yang lalu. Enam tahun yang membuat kami berdua tersiksa.

"Natal tahun ini akan terasa sempurna dengan kehadiranmu di antara aku dan Daisuke." Aku menciumi sisi kepalanya, aku bahagia luar biasa mengetahui Sakura mencintaiku dan juga Daisuke.

"Dan kalian berdua adalah kado natal yang paling indah untukku."Sakura tersenyum dalam kalimatnya.

Kaulah kado natal yang terindah bagiku dan juga Daisuke.

.

.

.

.

.

.

.

-E.N.D-

Yaaaap, sebetulnya ini hanya Bonus Chapter, karena saya belum sempat untuk memikirkan jalan cerita sekuelnya XD.

Seperti biasanya, untuk lemon di buat sesuai kesukaan saya, soft tapi lumayan bikin basah. *woooops XD

Ah, dan untuk typo, jika ada misstypo , maaf2 ajah yaah ini gak saya check ulang, mengingat saya ngetiknya di kantor pas jatah makan siang n nyuri2 sedikit (banyak sebenernya) waktu kerja saya XD

Baiklah, seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, saya ucapkan banyak terima kasih pada semuanya :)

Mind to review? ;)

Hope you enjoy Minna.

Warm Regards,

Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.