Casts : Tao | Kris | Chanyeol | Minho | Kyuhyun | Sehun |

Genre(s) : School Life || Romance || 'lil comedy || Supranatural || Fantasy || Mystery

Rated : T

Author : BabyMingA

Summary: Tao hanyalah seorang siswa SMA biasa berumur tujuh belas tahun yang bodoh, dan ceroboh. Suatu hari, dia bertemu dengan Kris dan Chanyeol yang mengatakannya kalau dia adalah bagian dari EXOST!

.

BOYS LOVE_YAOI_NO FLAME-NO BASH-NO COPY/PASTE-REVIEWS ALLOWED! ^_^…. HAPPY READING!

.

.

.

.

:BabyMingA:

.

. "Chanyeol gege… Kris… tolong aku. Hiks…"

"Palas eólicas!"

SYYYUUT

Entah apa yang membuat tangan salah satu dari foe itu terputus, Tao benar-benar bersyukur. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendengus kesal sekaligus lega.

"Jangan menangis, My Baby Panda~"

"OH SEHUN!"

.

.

.

EXOST

Inspired by : Kamichama Karin

By : Koge Donbo

.

"Yo, My Baby Panda!" Sehun dengan seenaknya turun dari pohon. Senyumannya yang… errr, tampan bolehkah kalau Tao jujur?— tak pernah lepas dari wajah Sehun. Pria itu memasukan tangannya ke dalam saku dan berjalan dengan tenang menghampiri Tao yang terduduk dengan punggung yang bersandar pada pohon.

Dia berjongkok dan mengamati wajah Tao yang memucat. Jangan lupakan wajahanya yang memerah dan basah. "Jangan menangis, Panda." Tangan Sehun menghapus air mata Tao dengan ibu jarinya.

"ROOOAAAR! WOOOAAH!" dua foe langsung saja maju untuk menyerang. Sehun tak bergerak dari tempatnya. Masih terlihat tenang.

"Viento pared…"

WUSSSHH

Sebuah dinding angin melindungi tubuh mereka berdua. Tao menutup matanya akibat debu yang berterbangan. Selang beberapa lama, Tao membuka matanya. Melihat daging-daging foe yang sudah bertebaran dimana-mana.

"Se…hun…"

Sehun membalikan badannya. Dia mendengus kasar. "Itulah akibatnya kalau melawan Oh Sehun. Iyakan, Baby Tao?"

Tao menatap tajam Sehun. Rasa bencinya masih membekas meskipun Sehun sudah menolongnya.

"Cah, baiklah. Kita selesaikan saja semuanya."

Sehun bangkit dan berdiri dengan gagahnya membelakangi Tao dan menghadapi dua foe yang masih tersisa. Tao mengepalkan tangannya. Sehun juga bagian dari Exost dan dia juga memeiliki kekuatan yang hebat.

"Palas eólicas!"

Tao bisa melihat beberapa pisau angin muncul dari tangan Sehun yang mengibas. Pisau-pisau angin itu mengarah langsung pada para foe dan mencabik-cabik tubuh sang monster hingga menjadi beberapa bagian.

Tao ingin muntah. Untuk pertama kalinya dia melihat sesuatu yang baunya sudah busuk terpotong-potong seperti itu dan dagingnya berceceran di mana-mana. Jangan lupakan darah kental berwarna hitam yang mengalir dari bagian tubuh yang terpotong.

CRASSSH

Sehun melompat dan menebas kepala foe yang terakhir. Lagi-lagi rasa mual melanda dirinya. Lihatlah tangan Sehun yang terkena darah makhluk menjijikan itu. Astaga! Dia punya kekuatan jarak jauh kenapa langsung menebas dengan tangannya?

"RRAAAaaaah…" auman sang monster memelan seiring tubuhnya yang sudah tak sempurna menjadi butiran debu dan menghilang bersama angin.

Sehun menghampiri Tao yang mematung di tempatnya. Dia merasa prihatin melihat wajah Tao yang benar-benar pucat. Sehun yakin, pasti Tao baru pertama kali melihat makhluk mengerikan seperti itu.

"Ku antar pulang, yah?" Sehun mengulurkan tangannya yang berlumuran darah hitam. Jangan lupakan bau yang sekarang membuat Tao muntah-muntah.

Sehun menyadarinya. Dia mengeluarkan botol minum yang isinya masih cukup banyak dan mengalirkan isinya pada tangannya yang kotor.

"Sekarang sudah bersih, 'kan? Mau ku antar pulang?" dia berbalik dan berjongkok di hadapan Tao.

Tao menggeleng. "Tidak usah. Aku bisa— AW!" dia merasakan nyeri dipunggungnya saat ingin beranjak dari tempatnya.

Sehun menyeringai. "Masih ingin menolak?"

.

.

.

Nafas Chanyeol dan Kris sudah tidak teratur. Keduanya sudah mulai kelelahan. Dua musuh mereka pun juga nampak sama. Semuanya nampak kacau. Tak ada yang dalam keadaan sempurna ataupun baik-baik saja.

"Chanyeol Gege!" suara teriakan nyaring Tao terdengar dari arah belakang Chanyeol dan Kris.

Chanyeol dan Kris menghela nafasnya lega. Syukurlah pemuda 'bodoh' itu baik-baik saja. Namun Kris terkejut ketika Tao datang tidak sendiri. Lebih tepatnya dia digendong dengan Sehun dipunggung.

"Cih, sepertinya ada penganggu!" laki-laki berjubah yang memegang pedang mendengus.

"Lebih baik kita pergi saja. Terlalu membuang waktu jika seperti ini."

"Ya"

WUSSSSH

Seketika tubuh kedua orang berjubah itu menghilang dalam sekali kedip. Langkah Sehun semakin mendekat ke arah Chanyeol dan Kris yang berdiri beberapa meter darinya.

"Taozi, kau baik-baik saja?" Chanyeol segera menghampiri Tao yang ada digendongan Sehun.

Tao tersenyum kekanakan. "Iya. Sehun datang di saat yang tepat."

Sehun tersenyum lebar. "Setelah ini cium aku lagi, okay?"

Kris membelalakan matanya. Seketika ingatan tentang kejadian beberapa jam lalu terlintas. Sehun yang tiba-tiba datang telat dan mencium Tao secara tiba-tiba di koridor utama sekolah.

Mata Kris memincing tajam pada tangan Tao yang tertaut erat pada leher Sehun.

"Hei, Bocah, apa yang terjadi denganmu?" tanya Kris dingin.

Tao mempuoutkan bibirnya. "Punggung ku sakit dan terasa sakit sekali ketika ingin berdiri tegak. Ku kira punggung ku memar." Tao meringis.

Kris berjalan mendekat. Memaksa Tao untuk segera melepaskan dirinya dari Sehun yang nampak 'kenikmatan' ketika Tao berada digendongannya. Dia lalu mengambil alih menggendong Tao.

"Kenapa kau malah yang menggendongku?" Tao mendengus.

"Kita harus segera pulang!"

"Ta… tapi…"

Kris memajukan kakinya selangkah. "Tidak ada tapi-tapi. Kita harus pulang cepat dan mengobati diri kita semua."

"Huffhht!"

.

.

.

Luka dipipi Kris diobati dengan cermat oleh sang pelayan cantik— Miyoung. Kadang dia meringis ketika Miyoung menekan terlalu kuat lukanya. Tapi, dia tak bisa marah seperti apa yang Tao lakukan kemarin padanya. Miyoung itu wanita dan harus dihormati.

"Tahan sedikit yah, Tao."

Kris melirik ke sudut lain. Ke arah sofa dimana Chanyeol sedang mengolesi punggung Tao dengan obat gosok. Wajah Kris memerah sempurna ketika melihat kulit punggung Tao yang bersih dan mulus. Ah, meskipun ada beberapa lebam biru di beberapa bagian. Tapi Kris berani bersumpah, punggung Tao benar-benar menggoda.

"Ngggh, pelan-pelanhh, Chan Gege~"

Gulp!

Kris harus menelan teh hijau yang berada di mulutnya dengan susah payah. Dia nyaris saja menyemburkan cairan itu dari mulutnya ke wajah Miyoung yang berada di depannya.

Astaga, Tao mendesah kesakitan!

"Maafkan aku. Aku akan lebih pelan-pelan lagi, Taozi," ucap Chanyeol.

Kris menggelengkan kepalanya. Percakapan kedua orang itu membuat otaknya 'sedikit' kotor.

Miyoung membereskan kotak obat setelah mengobati Kris. Dia pamit keluar dari kamar Tao yang menjadi tujuan utama ketika mereka sampai di rumah.

Kris menolehkan kepalanya lagi ke arah Tao dan Chanyeol yang kini sudah berganti posisi. Tao yang mengobati Chanyeol sekarang. Kris memperhatikan wajah Tao yang nampak teliti ketika mengolesi alcohol ke luka-luka di tubuh Chanyeol.

Astaga! Tao seperti seorang istri yang baik.

"Tidak." Dia menggelengkan kepalanya.

.

.

.

Kriiieeet

"Kami pulang!"

Seorang pria cantik langsung berjalan cepat ke arah pintu ketika pintu rumah terbuka. Memunculkan dua pria tinggi dengan seragam sekolah. Dua pria itu tersenyum ketika melihat pria cantik yang menyambut kepulangan mereka.

"Minho Hyeong dan Kyuhyun Hyeong kenapa baru pulang? Ini sudah larut malam!" si pria cantik itu mempoutkan bibirnya imut.

"Maafkan kami. Ada tugas OSIS yang tidak bisa ditinggalkan." Kyuhyun megelus puncak kepala si cantik dengan lembut.

"Kai dan Baekhyun sudah pulang?" kali ini giliran Minho yang bertanya.

Taemin menganggukan kepalanya. Menarik dua orang yang lebih tua darinya itu untuk berjalan mengikuti langkahnya. Taemin membawa Kyuhyun dan Minho ke sebuah kamar berpintu coklat dan membuka pintu itu.

"Lihat, mereka pulang dengan keadaan babak belur begitu."

Kyuhyun dan Minho saling berpandangan.

"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Kyuhyun.

Baekhyun yang sedang mengobati tangannya yang terkena luka bakar itu menoleh ke arah pintu. "Untuk sementara kami dengan dua Exost yang melindungi Chronos seimbang," jawabnya.

Minho menyuruh Taemin untuk kembali ke kamarnya. Tentu saja sang pria cantik tidak akan menolak. Dia orang yang penurut.

"Kalian membawa foe's monster, 'kan?" Kyuhyun mengambil kapas dan mencelupkannya ke larutan alcohol. Dia berniat membantu Kai yang duduk di ranjang yang lain.

"Iya. Kami melawan dua orang Exost yang sudah memiliki kekuatan. Sedangkan kami menyuruh para foe's monster untuk menculik Chronos yang paling bodoh di antara mereka. Tak disangka ada Exost yang lain. Seorang Anemoi," kali ini Kai yang menjelaskan.

Kyuhyun mendengarkan dengan seksama.

"Kau tau seperti apa Chronos itu?"

Kai memejamkan matanya. Mengingat bagaimana sosok yang ditanyakan Kyuhyun. "Hah… dia lumayan tinggi, rambutnya hitam, dan sepertinya sering bersama orang yang dipanggil Chanyeol."

Kyuhyun terdiam. Dia nampak berpikir bagaimana orang yang dimaksud Kai.

"Dia terlihat bodoh," timpal Baekhyun.

Kyuhyun menganggukan kepalanya paham. "Apa dia bersekolah yang sama dengan dua orang lainnya?"

"Ya."

Kyuhyun menyeringai seram. "Serahkan padaku pemuda itu."

.

Punggung Tao sudah lebih baik dari beberapa waktu yang lalu. Dia tidak tau apa yang Chanyeol berikan, yang penting rasanya sudah lebih baik dari yang tadi. "Heoh~" dia menghela nafasnya kasar. rasanya benar-benar bosan ketika harus berbaring di tempat tidur dengan posisi tengkurap.

Dia mendudukan dirinya dengan perlahan.

Memikirkan kejadian tadi siang, membuat dadanya sesak. Bagaimana tidak bergunanya dia ketika diserang musuh. Dia begitu merepotkan. Apanya yang paling special ketika tidak bisa melakukan apapun?

"Heoh…"

Dia beranjak dari kasurnya. Kakinya melangkah menuju meja belajar dan mendudukan tubuhnya di atas kursi. Tangannya tergerak untuk mengambil buku paling atas dari tumpukan buku yang Kris berikan kemarin.

Dia mengeluarkan buku tulis dan sebuah tempat pensil.

"Aku akan lebih serius," gumamnya.

Jari-jari Tao dengan pelannya membalik lembar demi lembar dan matanya bergerak dengan fokus. Sesekali tangannya bergerak untuk mencatat point penting baginya.

"Oh, aku baru ingat!" dia memekik pada dirinya sendiri. Jari-jarinya dengan cepat mencari sebuah kalimat dari buku tulis catatannya. "Ini! Chronos yang memiliki saudara seorang Cronos. Aku harus menanyakannya pada mereka."

Dia memundurkan kursinya dan berjalan keluar membawa buku tulis catatannya.

Sudah malam dan keadaan rumah cukup sepi. Tapi kalau dipikir-pikir, bukannya selalu sepi?

Tao ingin mengetuk pintu kamar Chanyeol yang letakanya di sebelah kamarnya. Tapi suara seseorang parubaya mengintrupsinya. "Tuan Chanyeol sudah tidur karena kelelahan Tuan Tao."

Tao mengurungkan niatnya. "Benarkah Tuan Kang? Ah, sudahlah. Terima kasih." Tao membungkukan badannya Sembilan puluh derajat dan pria itu membalasnya dengan tersenyum.

Pilihan yang tersisa hanya bertanya pada Kris. Tapi bukankah pria itu sangat tidak suka ketenangannya diganggu?

"Tuan Kang, dimana Kris?"

"Tuan Kris sedang berada di kebun mawar. Ingin aku antar, Tuan?"

Tao menggelengkan kepalanya. "Tidak. Terimakasih…"

Selanjutnya dia menuju tempat yang dimaksud oleh Tuan Kang. Kebun mawar yang dia ketahui ternyata milik Kris. Tao tidak tau apakah dirinya akan ditendang Kris atau malah diceramahi habis-habisan olehnya. Yang penting, dia mengetahui siapa saudara dari Chronos— dirinya.

Tao berjalan dengan hati-hati. Dia takut duri-duri mawar mengenai dirinya dan kembali membuat luka baru pada tubuhnya. Sampai itu terjadi, Kris pasti menceramahinya dan mengolok-ngolok dirinya "ceroboh" dan segala macam. Telinganya sudah panas ketika mendengar Kris yang ceramah.

"Kris…" Tao memanggil pelan ketika sosok di depannya tengah membelakanginya.

Tao bisa menangkap kalau Kris tengah mencium setangkai bunga mawar yang durinya sepertinya sudah dipotong. Kris berbalik ketika Tao memanggilnya.

Deg

Tao harus menahan nafasnya beberapa detik. Kris benar-benar seperti pangeran di negeri dongeng yang terlihat bersinar. Cahaya rembulan tepat mengenai Kris.

"Kenapa kau di sini?" tanya Kris dingin.

Tao langsung membuang pikirannya jauh-jauh tentang Kris yang seperti pangeran.

"Kris…"

Kris membalikan tubuhnya. Menatap tubuh Tao yang lebih pendek darinya dengan tatapan datar dan dingin. Sedingin angin musim gugur yang akan segera berganti menjadi musim dingin besok.

"Tidurlah," perintah Kris dengan suara datar.

"Aku ingin bertanya padamu." Tao maju selangkah dan memberikan buku tulisnya pada Kris. "Bertanya tentang Chronic dan Cronic."

Kris membaca buku di tangannya dengan alis yang berkerut. "Kenapa tiba-tiba begini? Bukankah kau sama sekali tidak tertarik dengan Exost dan segala hal berhubungan dengannya?"

Tao menundukan kepalanya. "Aku… hanya ingin tidak merepotkan kalian. Kau, Chanyeol gege dan… Sehun."

Kris tercekat. Dia menatap dalam pada sosok Tao yang kini mulai membalas tatapannya dengan wajah penuh keyakinan dan sungguh-sungguh. Tidak ada wajah anak polos ataupun ketidakseriusan. Tao yang berada di depannya terlihat seperti orang dewasa.

Kris menyentuh kepala Tao dengan tangannya. Mengacak surai hitam milik sang lawan bicara dengan lembut. "Maafkan aku tidak bisa melindungimu tadi. Lalu masalah Sehun…"

Tao menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau tidak salah. Aku yang terlalu bodoh. Aku yang tidak berguna dan terlalu merepotkan kalian semenjak pertama kali bertemu."

Wajah anak kecil Tao kembali lagi. Kris harus mengakui Tao terlihat begitu menggemaskan dengan pipinya yang tembam. "…masalah Sehun, kau benar. Kau juga yang harus menjaga image mu di depan para penghuni sekolah."

Kris menarik tangannya dari kepala Tao.

Hening untuk beberapa saat.

"Lalu?" Tao membuka pembicaraan baru.

"Lalu apa?"

"Chronic dan Cronic. Aku mohon beritahu aku. Aku membaca dari buku ini kalau Chronic memiliki saudara bernama Cronic. Kris…"

Tao memelas di depan Kris. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah. Seperti seorang anak yang meminta ice cream dari ibunya.

"… kau Chronic Tao."

"Aku tau. Chronic mempunyai saudara Cronic. Berarti aku…"

"Bukan saudara mu. Tapi bagian lain dari dirimu."

"Eh?"

Kris menggulung buku tulis di tangannya dan memukulkannya pada kepala Tao. Dia menundukan tubuhnya sedikit dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Tao yang meringis. "Kau harus membaca semua buku-buku itu dengan serius. Bukankah sudah ku katakan kalau aku tidak ingin mulut ku berbusa menjelaskan apapun kepadamu?"

Ctak

Dia menyentil jidat Tao dengan kekuatan yang tidak sedang bercanda.

"Akh, Kris!"

"Mengerti?"

Tao mendengus. "Kau ingin aku menghabiskan hidup ku hanya untuk membaca buku-buku kusam itu? Hell no!"

Kris memutar bola matanya kesal. Tao kembali kepribadian awalnya. Menyebalkan dan bodoh.

"Bukankah kau yang bilang, aku… hanya ingin tidak merepotkan kalian. Kau, Chanyeol gege dan… Sehun. Heuh~"

Tao memukul lengan Kris. "Kalau begitu aku akan merepotkan mu saja! Aku menarik kata-kata ku!"

Kris terkekeh pelan. Benar-benar pelan, sampai-sampai Tao tidak mendengar kekehan renyah dari Kris.

"Sudah, kembalilah tidur. Sudah malam dan cuaca sudah semakin dingin. kau juga sedang dalam keadaan tidak baik saat ini."

Tao memutar bola matanya malas. Jari telunjuknya menekan-nekan luka Kris di pipi.

"A… akh! YA! Kau apa-apaan?!" Kris meringis dan mengelus-ngelus pipinya yang kembali berdenyut. Tao tertawa senang melihat Kris yang kesakitan seperti itu. melihat Kris tersiksa bagaikan melihat Taecyeon 2PM topless untuk dirinya saja.

.

.

.

Sudah memasuki musim dingin.

Tao melilitkan syal berwarna merah di lehernya. Syal itu menutupi wajahnya hingga sebatas hidungnya. Alhasil, wajahnya hanya terlihat setengah karenanya. Ah, style musim dingin Tao begitu buruk hari ini. Mantel yang dikenakannya kebesaran karena punyanya diberikan oleh Chanyeol.

"Aku terlihat pendek seperti ini. Huffht!"

Tao mengayunkan tangannya yang tidak terlihat karena lengan mantelnya yang kebesaran. "Aku sekarang terlihat seperti hantu, heol!" dia lagi-lagi menggerutu.

Cklek

Pintu kamarnya terbuka begitu saja. Dia tidak perlu lagi berbalik karena dia sudah mengetahui siapa yang membukanya dengan sewenang-wenang melalui pantulan kaca.

"Ada apa sudah ke kamar ku?" tanya Tao malas.

"Aku hanya ingin bertanya, apa kau baik-baik saja? apa punggung mu sudah lebih baik?"

Tao merenggangkan tubuhnya dan meringis setelahnya. "Tidak jauh lebih baik dari kemarin." Dia menyengir lebar.

Kris memutar bola matanya jengah. "Kau beristirahatlah dan jangan bersekolah dulu. Kami akan meminta izin pada wali kelas mu."

Tao buru-buru menghampiri Kris dan menarik-narik ujung kemeja sekolah yang dikenakan Kris. "Aku ingin sekolah, yah, Kris? Aku baru saja masuk sehari dan meliburkan diri?"

"Bilang saja kalau kau ingin bertemu dengan Sehun itu, 'kan? Kau ingin memintanya mencium mu lagi?"

Tao memukul Kris dengan kepalan tangannya yang keras. "Jangan membahas itu lagi! Bukankah kita sudah berbaikan tadi malam?"

"Hah, terserah kau saja! Kau tidak boleh sekolah. Kalau kau bertambah parah, aku tidak akan peduli lagi denganmu. Kau itu merepotkan tau!"

Tao mendengus sebal dan menendang bokong Kris agar keluar dari kamarnya.

BLAM

Pintu tertutup dengan kerasnya.

Tao menghentakan kakinya kesal. "Kalau begini aku jadi tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun sunbae!"

.

.

.

Kris mendudukan dirinya dengan wajah lesu. Chanyeol yang duduk di sebelahnya meninju pelan lengan atas Kris. Nampaknya si orang yang paling ceria dan lembut hanya pada Tao itu, nampak bosan karena sedaritadi kalimatnya hanya menjadi angin lewat.

"Jadi kau benar-benar menyuruhnya untuk tidak sekolah?" tanya Chanyeol lagi entah yang sudah keberapa kalinya.

Kris mendengus kasar. "Kau ingin dia merepotkan kita lagi?"

Chanyeol tersenyum jahil ke arah Kris. "Kenapa kau tidak bilang saja, kalau kau cemburu pada Tao dan Sehun kemarin? Atau…" Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Kris. "…kau khawatir padanya, yah?"

Pletak

Sebuah jitakan manis tertuju pada kepala Chanyeol. Kris menatap tajam ke arah Chanyeol yang mengelus-ngelus kepalanya yang sakit.

"Bisakah kau lem mulut besar mu itu, hoh?"

.

Kemarin Tao yang menunggu kedatangan teman sebangkunya dan sekarang adalah Sehun. Sebenarnya percuma saja pemuda berambut coklat terang itu menunggu kedatangan Tao. Toh, yang ditunggu tidak akan datang untuk hari ini.

Pria tampan itu menyenderkan kepalanya ke meja. Menatap malas orang-orang yang berada di sekitarnya. "Apa my baby panda terluka, eoh?" gumamnya. "Yah, kemarin memang punggungnya terbentur dengan pohon. Aish!" dia menegakan punggungnya. "Kenapa aku tidak menjenguknya saja ke rumah si tiang bodoh itu? Pasti mereka tinggal serumah!" seketika wajahnya yang cerah kembali redup. "Tapi, tidak bisa hari ini. Ada jadwal pemotretan hinga malam. Ya ampun, kenapa ingin menjenguk orang yang membuat ku jatuh cinta pada pandangan pertama saja susah sekali?"

.

.

.

Tao berjalan-jalan di sekita rumah dalam hening. Dia akan tinggal di rumah Kris dan Chanyeol, tapi tidak mengetahui seluk-beluk rumah itu? Bisa-bisa dia tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Bagaimana kalau dia jadi butiran debu? -_-

"Kenapa mereka suka sekali hal-hal horror, sih?" Tao bergedik ngeri.

Rumah itu terlalu besar dan mewah. Tapi sayangnya, suasananya benar-benar mistis. Sayang sekali~

"Eh! Kris's bedroom?" Tao menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah ruangan tertutup. Di pintunya ada sebuah label dengan tulisan, 'Kris's bedroom'. "Kamar Kris, yah?" diam beberapa saat sebelum akhirnya dia menyeringai.

Tao menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya ada dua orang yang tersisa di sini. Tuan Kang dan Miyoung. Tapi, sejak Tao memulai touring rumah Kris, dia tidak menemukan dua orang itu sama sekali.

Cklek

Cklek

"Dikunci!" Tao mendengus sebal.

Dia mundur beberapa langkah. "Kris pelit dan sok misterius!"

Tao memeletkan lidahnya pada pintu berwarna coklat yang terkunci itu. Tao kembali melanjutkan langkahnya untuk menyusuri rumah yang baru beberapa bagian saja dia jamahi.

Tap

Lagi-lagi dia menghentikan langkahnya pada pintu berwarna emas. "Pintu ini…"

"Tapi Tao, jangan sekali-kali kau masuk ke ruangan itu."

Oh, ya… janganl lupakan ucapan Chanyeol waktu itu. Tao memundurkan langkahnya. Menatap pintu itu secara keseluruhan. Dia berpikir, ruangan di dalam sana mungkin sangat rahasia. Bagaimapun dia sangat penasaran. "Apa mungkin dia menyimpan wanita-wanita sexy di dalam sana?" dia menggelengkan kepalanya. "Mungkin menyimpan koleksi porno nya di dalam sana?" menggelengkan kepalanya lagi. Dia lalu tersenyum senang, "apa salahnya mampir sebentar? Lagipula, pintunya tidak terkunci."

Tao membelalakan matanya. Dia baru sadar jika pintunya tidak terkunci. Tadi dia hanya berbicara asal padahal. Dia maju selangkah. Menengak-nengok ke kanan dan ke kiri.

Blam

Secepat kilat dia sudah berada di dalam sana.

.

.

.

"Minho, apa kau sudah menemukan bocah yang sering bersama dengan Chanyeol?" Kyuhyun menghentikan sejenak acara memberikan cap pada selebaran di meja kerjanya di ruang OSIS.

"Tidak ada yang berambut hitam. Hanya ada yang berambut pirang."

Minho mendudukan dirinya di sofa yang berada di ruangan OSIS. Kyuhyun melapas kacamatanya. "Benarkah? Tidak ada yang berambut hitam?"

Minho menggelengkan kepalanya. "Lagipula, apa yang ingin kau lakukan pada laki-laki berambut hitam itu?"

Kyuhyun terdiam sebentar. Dia nampak berpikir. "Hei, ngomong-ngomong, sepertinya aku tidak clueless pada bocah itu. Coba kau lihat di kelas sebelas-dua, dilantai dua. Apakah ada bocah berambut hitam di dalamnya?" Kyuhyun menyeringai.

"Maksudmu, Chronic seorang anak kelas sebelas?"

"Iya. Entah mengapa, aku yakin saja anak itu— ASTAGA! Aku rasa aku tau siapa bocah itu!" Kyuhyun menatap antusias ke arah Minho yang menjauhkan sedikit tubuhnya dari Kyuhyun. Teriakan Kyuhyun membuat telinganya pengang.

"Kemarin pagi aku melihat orang di belakang Chanyeol dan Kris. Bocah tinggi dengan rambut hitam. Dia murid baru kalau aku boleh duga. Dari China."

Kyuhyun beranjak dari tempatnya. Mencari file yang berada di lemari coklat di ruangannya. Tak lama, dia mengeluarkan sebuah map berwarna kuning dan membawanya ke depan Minho.

Kyuhyun nampak serius menjelajahi lembar demi lembar berkas yang berada dalam map kuning itu. Sementara Minho memperhatikan tingkah Kyuhyun dengan terheran-heran..

"Ini dia!" pekiknya girang. Dia menarik selembar kertas yang berisi data diri Huang Zitao. "Anak ini yang kemarin bersama Kris dan Chanyeol!" pekiknya.

Minho mengambil alih kertas di tangan Kyuhyun dan membacanya dengan seksama. "Oh, lumayan manis." Minho memperhatikan dengan seksama. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau memiliki data siswa baru?"

"OSIS selalu menyimpan data-data siswa baik lama maupun baru, bukan?"

.

.

.

Tao tak akan pernah menyangka jika Kris benar-benar betah di ruangan yang cukup luas ini. Rak-rak buku besar terjajar dengan rapi dan ribuan buku berada di dalamnya dalam tatanan yang sangat-sangat rapih.

Tap

Tap

Tap

Langkah kakinya bergema.

"Apa mungkin di sini ada buku porno, eh?" gumamnya.

Dia mengelilingi perpustakaan 'rahasia' itu dengan tatapan takjub. Ruangannya benar-benar di desain sempurana dan nampak tertata rapi. Meskipun berada di bawah tanah, sama sekali tak terasa sesak ketika bernafas.

"Ah, itu!" langkah kakinya dipercepat. Dia melangkahkan kakinya ke pojok ruangan dan menemukan sebuah rak yang terpisah sendiri. Entaha mengapa, rasanya dia begitu tertarik dengan rak yag berlabel, 'Wu's Family'.

Dia mengambil sebuah album foto berwarna putih. "Ku pikir ini akan sangat menarik." Dia mengambil album fotonya dan beberapa album foto lain. Nampaknya rak bagian itu yang paling tak terurus.

Tao mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari jam yang kebetulan ternyata ada. "Apa salahnya melihat-lihat sebentar, hehe…"

.

.

.

Kris dan Chanyeol merapihkan buku-buku mereka ke dalam tas. Jam sekolah akan selalu dipercepat untuk pulang ketika musim dingin. banyak murid yang menyukainya karena semua anak-anak pasti akan langsung disambut dengan coklat panas di rumah. Membayangkannya saja sudah membuat ngantuk.

"Aku tidak bisa pulang denganmu, Kris. Aku harus membelikan Tao mantel yang cocok untuknya."

Kris memasukan buku matematika ke dalam tasnya. "Kau terlalu perhatian padanya."

Chanyeol menyengir lebar. "Yang paling special pelayanan special!"

Kris memasang wajah datarnya. "Ya sudahlah kalau kau ingin pergi. Sana, hush!"

Chanyeol segera saja melesat keluar. Menyisakan Kris yang ternyata sudah paling terakhir berada di kelasnya. Berjalan pulang sendiri di musim dingin benar-benar membuatnya muak, yah, meskipun dia tidak pernah merasa kedinginan sekalipun.

Kris melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Sudah nampak sepi. Mungkin semua anak-anak tidak kuat berlama-lama di cuaca dingin. Berbeda dengan dirinya dan Chanyeol yang selalu bisa mengatur suhu tubuh mereka ketika musim dingin.

"Hei, kau Pirang!" panggil Sehun yang baru saja keluar dari kelasnya.

Kris menghentikan langkah kakinya. Menatap datar ke arah Sehun yang kini sudah berdiri di sampingnya.

"Kris Sunbaenim, aku boleh ke rumah mu tidak?" suara Sehun terdengar ramah dibuat-buat.

Kris mengerenyitkan keningnya heran. "Untuk apa dan ada apa?"

Sehun menyengir lebar. "Aku masih ada waktu satu jam sebelum pemotretan. Aku ingin main dan bertemu dengan Tao. Kau tidak tau betapa rindunya aku padanya~"

Tao, Tao dan Tao.

Kenapa semua orang harus bernada menjijikan ketika menyangkut Tao?

"Tidak boleh!"

"Pelit sekali kau!"

"Lagipula darimana kau tau aku tinggal dengannya? Lalu, kenapa kau ingin bertemu dengannya? Bukankah kalian belum mengenal lama?"

Sehun terkekeh geli. "Kau yang bilang ayo pulang dan obati diri kita. Ah, dan masalah aku ingin bertemu…" wajah Sehun merona merah. "Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya~"

Ingatkan Kris untuk muntah saat sampai ke rumahnya.

"…"

"Bolehkan, Wu?"

"Tidak!"

"Kenapa?"

"Kau pasti akan merepotkan."

"Kalau begitu aku hanya mengobrol di kamarnya saja. Berdua~"

"Setelah kejadian kemarin, kau berpikir aku akan mengizinkan kalian berduaan? Jawabannya tidak."

"Pelit! Kalau begitu aku minta nomor ponselnya saja."

"Dia tidak punya ponsel! Bisakah kau diam?"

"Kalau begitu, bolehkah aku bertanya kabarnya? Apakah kemarin dia terluka parah sehingga tidak masuk sekolah?"

Kris mendengus kasar. Ingin sekali dia membakar sosok bocah kelas dua di depannya hingga menjadi abu dan terbang bersama angin. "Kondisinya kritis, lalu aku membuangnya ke Samudra Hindia karena dia terlalu merepotkan."

Kris tak memperdulikan rengutan sang 'adik kelas'. Dia melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan adik kelas yang tampan.

.

"Aku pulang!"

Kepulangan Kris langsung disambut oleh Miyoung dan Tuan Kang. Kris memerikan tasnya pada Tuang Kang. "Dimana Tao?"

"Di kamarnya, Kris," jawab Miyoung.

Kris menganggukan kepalanya paham. Dia menyuruh Miyoung dan Tuan Kang untuk melanjutkan tugas mereka masing-masing.

Kaki-kaki panjangnya berjalan menuju kamar Tao yang berada di lantai dua. Tangannya menekan knop pintu dan tidak dikunci. "Kebiasan, tssk!" gumamnya. Dia memasuki kamar itu dan ternyata hasilnya nihil. Dia tak menemukan bocah manis bermata panda.

Wajahnya masih terlihat tenang. Langkah kakinya masih perlahan-lahan ketika sandal rumah yang dikenakannya terketuk dengan lantai. "Mungkin dia sedang keluar."

Kris mengeluarkan kunci kamarnya. Ingin sekali dia tidur siang dengan cantik. Namun langkah kakinya terhenti. Tatapannya jadi menajam pada siluet cahaya putih dari sebuah ruangan yang letaknya beberapa meter dari kamarnya.

Niatnya untuk tidur hilang. Suhu tubuhnya meninggi ketika mengetahui ruangan itu lampunya menyala. "Sialan!" geramnya.

.

.

.

"Aku tidak menyangka jika Kris selucu dan seceria itu waktu kecilnya." Senyum manis terukir di bibir Tao.

Dia membalik halaman selanjutnya. Tangannya terhenti pada sosok pria dan wanita sedang menggendong anak laki-laki. Tao tau anak kecil itu adalah Kris. Tapi kedua orang di belakangnya? "Mungkin orangtuanya."

Lama sekali tatapannya terpaku pada foto itu. "Dia benar-benar mirip dengan ayahnya. Matanya, hidungnya, alisnya, garis wajanya, bibirnya, benar-benar mirip dengan sosok 'ayah' Kris."

BRAK!

Tao mengalihkan tatapannya pada arah pintu yang dibuka secara paksa. Tubuhnya menegang, matanya terbelalak lebar. "K… Kris…"

Tao berani bersumpah Kris begitu menyeramkan. Tao tau pria itu sedang marah besar padanya. Tangan Kris terkepal erat dengan urat wajah yang terlihat jelas.

Kris berjalan cepat menghampiri Tao.

Bug

Sebuah tinju Kris berikan pada wajah manis Tao. Tao yang saat itu tidak duduk di meja alias duduk di lantai, tubuhnya langsung menghantam rak buku di belakangnya. Dia meringis benar-benar kesakitan. Punggungnya saja belum sembuh dan sekarang malah ditambah lagi.

Kris berjalan mendekatinya.

"Kau lancang sekali!"

Tangan Kris mencengkram erat kedua lengan Tao. Berteriak di depan wajah si manis yang benar-benar sudah ketakutan.

"Ma—"

"APA KATAMU?"

Kris semakin mendorong tubuh Tao ke belakang.

"Sa… sakit, Kris…"

"Aku sudah menduga dari awal kalau kau itu pasti merepotkan! Tidak berguna! Kau menjijikan! Kau—"

Tao tidak bisa mendengar kata-kata Kris selanjutnya. Terlalu sakit hatinya dan tangannya panas. Kris mengeluarkan kekuatannya untuk membakarnya? Sungguhan?

"Maafkan aku…"

"Aku sudah yakin Chanyeol sudah memberitahu kalau ruangan ini tidak boleh kau datangi. TAPI KENAPA KAU LANGGAR?"

Tao terisak. Dia menyesali perbuatannya kali ini. Ingin bertingkah seperti biasanya? Ini bukan waktu yang tepat.

Kris menjauhkan tubuhnya. Memberikan ruang pada Tao untuk lebih bebas. Tangan Kris yang mencengkram tangan Tao atau dalam kurung bisa kita katakan membakar tangan Tao tadi melepas.

Untuk pertama kalinya dia merasa lemah ketika melihat seseorang menangis. Kris menstabilkan tubuhnya. Sekilas dia melihat tangan Tao yang terbakar. Sedikit mengerikan bagi Kris, namun dia sudah serinh melihat sesuatu atau lebih tepatnya makhluk hidup yang terbakar dengan tangannya sendiri. Tapi kenapa melihat tangan Tao…

Sebuah penyesalan ada di hatinya.

Biasanya dia akan membakar habis seluruh musuhnya hingga menjadi abu.

"Maafkan aku, Kris. Aku benar-benar bosan di rumah dan—"

"Apa saja yang sudah kau lihat?" suara Kris melembut. Kris sampai-sampai tak mengenali suaranya sendiri.

Tao terdiam. Tatapannya menunduk pada kedua tangannya yang terluka. Mengerikan, bathinnya.

"Kau mendengar ku, hei!"

"Hanya melihat… album… foto… keluargamu…" jawab Tao pelan.

Kris benar-benar ingin membakar Tao saat itu juga sebelum Chanyeol datang dengan tiba-tiba. Semuanya menoleh ke arah Chanyeol yang nafasnya terengah-engah. Dia sepertinya habis berlari jauh.

"Tao, apa yang terjadi dengamu?"

Chanyeol berlari dan langsung mendorong tubuh Kris hingga terjungkal ke belakang. Sekarang giliran dirinya yang berada di hadapan Tao. Menatap wajah Tao yang pipi sebelah kanannya membiru akibat tinju dari Kris. Chanyeol lebih tercengang dengan tangan Tao yang terkena luka bakar. Dia tau Kris yang melakukannya.

Chanyeol mengepalkan tangannya erat. Dia beranjak dari tempatnya. Menghampiri Kris dan menarik kerah baju yang dikenakan Kris.

"APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK?"

Kris menatap Chanyeol datar. Dia diam.

Bug

Dengan senang hati Chanyeol memberikan sebuah bogem mentah pada pipi putih Kris. Tepat pada luka Kris yang baru kemarin saja terciptakan.

"KAU TERLALU BERLEBIHAN!"

Kris tersenyum miring. "Bukankah aku selalu memperingatkan? Aku tidak akan main-main dengan kalimatku. Dia datang ke sini. Aku tidak bisa memaafkan siapapun siapa yang menginjakan kakinya di ruangan ini."

Chanyeol mengepalkan tangannya kuat. "Termasuk aku?"

Kris tersenyum miring. "Tak ada pengecualian siapapun itu. Termasuk kau, Park Chanyeol!"

Chanyeol ingin memberikan sebuah tinju lagi pada Kris, tapi suara Tao lebih dulu mengintrupsi. "Chanyeol Gege!"

Chanyeol dan Kris sempat bertatapan sebelum akhirnya Chanyeol melepaskan kerah baju Kris. Membiarkan laki-laki itu jatuh. Dia menghampiri Tao yang sama sekali tidak bergerak dari posisinya.

"Apa bisa berjalan?"

Tao menggeleng. Punggungnya benar-benar sakit dan tangannya terasa panas dan perih dalam satu waktu.

"Aku antar dan obati luka-lukamu— lagi."

Chanyeol menggendong Tao di belakang. Persis sekali seperti apa yang Kris dan Sehun lakukan kemarin pada Tao ketika terluka.

Blam

Pintu Chanyeol tutup dengan kasar.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

#Please, gua nista banget di chap ini/.\ lagi stress persiapan buat graduation dan outing ke Jogja. Hikseu~ mungkin ke depan bakal late update. Hikseu~maaf tak bisa membalas review. Terima kasih yang sudah mau review. Wo ai nimen! ^^ btw, part 5 udh dibikin sih sebenernya. Cuma pgn bikin kalian penasaran aja. Haha~ ._. di Chap depan ada Luhan, Kyungsoo dan Xiumin. Horay Uke Force._.

Keep RnR