Casts : Tao | Kris | Chanyeol | Sehun | Xiumin | Luhan | Kyungsoo
Genre(s) : School Life || Romance || 'lil comedy || Supranatural || Fantasy || Mystery
Rated : T
Author : BabyMingA
Summary: Tao hanyalah seorang siswa SMA biasa berumur tujuh belas tahun yang bodoh, dan ceroboh. Suatu hari, dia bertemu dengan Kris dan Chanyeol yang mengatakannya kalau dia adalah bagian dari EXOST!
.
BOYS LOVE_YAOI_NO FLAME-NO BASH-NO COPY/PASTE-REVIEWS ALLOWED! ^_^…. HAPPY READING!
.
.
.
.
:BabyMingA:
.
EXOST
Inspired by : Kamichama Karin
By : Koge Donbo
.
Sehun memfokuskan kepalanya keluar jendela mobilnya. Dia sedang dalam perjalanan menuju tempat pemotretannya. Ya, dia seorang model yang sedang naik daun. Dia baru saja menjalani karirnya dua tahun yang lalu dan sekarang dia harus bolak-balik Seoul dan beberapa kota di Korea Selatan. Terlalu melelahkan untuk dirinya yang masih berumur tujuh belas tahun.
Mobilnya melaju dengan perlahan-lahan membelah jalanan Kota Seoul. Tatapannya mengarah pada toko-toko yang mulai ramai dengan iklan musim dingin. Seperti baju musim dingin terbaru, benda elektronik penghangat ruangan dan lain-lain.
"Pelit! Kalau begitu aku minta nomor ponselnya saja."
"Dia tidak punya ponsel! Bisakah kau diam?"
Percakapan Kris dengannya tiba-tiba terlintas. Dia tau Kris selalu dingin padanya. Tapi dia yakin, jawaban yang diberikan Kris soal Tao tidak punya ponsel itu benar. Ah, cinta butuh pengorbanan.
'Ruffle Shop'
Tatapan Sehun terfokus pada sebuah toko yang berada di depan mobilnya beberapa meter lagi. Saat mobilnya tepat di depan toko itu, dia melihat beberapa ponsel yang terpajang pada etalase toko.
-Fortune on my hand!
"Tolong hentikan mobilnya, Tuan Jung!" perintah Sehun.
Tak ada ocehan sama sekali. Sang supir segera menepikan mobilnya dipinggir jalan yang beberapa meter sedikit jauh dari toko yang Sehun ingin tuju.
"Tuan Jung tolong tunggu sini. Oke? Aku tidak akan telat," ucap Sehun sebelum turun dari mobil.
.
Semuanya nampak berkilau di mata Sehun. Pria itu harus bolak-balik menuju etalase yang sama guna meyakinkan pilihannya. Well, dia jatuh hati dan merasakan ponsel pintar keluaran terbaru dengan warna putih cocok untuk Tao. Tapi, apa salahnya melihat-lihat? Tapi, pada akhirnya dia memanggil pelayan toko dan menyuruh orang itu untuk membungkus pilihannya.
Sehun menunggu barang dibelinya sambil melihat-lihat aksesoris ponsel. Tatapannya datar sebelum dia menemukan dua buah gantungan ponsel berbentuk panda kecil sedang memegang hati. Sesuatu yang sepasang. Panda yang memakai bunga dikepalanya memegang hati sebelah kanan dan panda yang memakai topi kiri memegang yang sebelah kiri.
"Chogiyo, aku juga ingin beli ini."
.
.
.
Tao dan Chanyeol sama-sama diam. Tak ada yang berani untuk mengeluarkan suara. Chanyeol sibuk membalut luka bakar Tao di tangannya dengan perlahan-lahan. Wajah dan punggungnya sudah diobati. Tangannya saja yang belum.
Tatapan Tao mengarah pada wjaah Chanyeol. Dia tau pasti Chanyeol sedang bersedih. Kalimat Kris benar-benar menyakitkan pada mereka berdua. Terutama Chanyeol. Apa dengan begini mereka sudah memutuskan tali pertemanan?
"Chan—"
"Kau besok libur lagi, okay? Aku juga akan meliburkan diriku untuk merawatmu," sela Chanyeol cepat.
"Chanyeol Gege tidak usah melakukannya. Biar aku sendiri saja yang meliburkan diriku."
Chanyeol menghela nafasnya kasar. Dia meletakan obat-obatan di pangkuannya ke atas meja kecil di samping tempat tidur Tao.
"Kau ingin Kris marah lagi karena kebodohanmu?"
Tao terdiam.
"Kau tidak lihat dia tadi ingin membakarmu?"
Tao masih terdiam.
"Apa yang sebenarnya kau lihat hingga dia nyaris out of control, eoh?"
Tao memainkan selimut dengan jari-jarinya. "Aku… hanya melihat, foto-foto keluarganya," jawab suara Tao pelan.
Chanyeol menghela nafasnya kasar. Dia mengambil soup yang masih hangat di atas meja dan berniat menyuapi Tao, yang dia yakini tangannya pasti terasa kaku dan sakit untuk digerakan. Dia mengaduk-ngaduk soup itu agar tercampur sempurna dengan nasi yang sengaja dimasukan dalam satu wadah.
"Tidak heran jika Kris marah besar padamu."
Hening beberapa saat.
Chanyeol menyuapkan suapan pertama kepada Tao dan Tao menerimanya dengan tatapan polos ke arah Chanyeol.
"Kris sangat membenci keluarganya. Ayah Kris adalah ilmuwan dan ibunya adalah asisten ayahnya Kris," Chanyeol menjeda ucapannya ketika ingin menyuapkan sendok berikutnya pada Tao. "…mereka menjadikan kakak kandung Kris, Wu Zhoumi sebagai bahan percobaan mereka."
"Percobaan?"
Chanyeol mengangguk, "Ya, percobaan menjadikan orang memiliki kekuatan super. Tapi, bukan itu yang mereka dapatkan." Chanyeol menyendokan lagi nasi ke mulut Tao. "Zhoumi berubah menjadi monster lalu mati begitu saja. tubuh Zhoumi begitu menyeramkan sehingga harus dimusnahkan. Kedua orang tua Kris berpikir itu adalah aib mereka. Mereka begitu saja membakar tubuh Zhoumi hingga menjadi abu. Di depan Kris."
Tao ingin tersedak makanan yang ada di dalam mulutnya. Orang seperti apa orang tua Kris itu?
"Kris saat itu diam-diam masuk ke dalam laboraturium ayahnya. Melihat semuanya dan setelah itu dia menjadi pendiam dan seperti sekarang. Saat aku dan kedua orang tuaku datang untuk mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Wu, orang tua Kris menjelaskan dengan entengnya, bahwa Zhoumi meninggal karena kecelakaan dan mayatnya tak ditemukan. Kejam, bukan?"
Ingatkan Tao untuk tidak menangis mendengarnya.
"Suatu hari, ada seorang pria kaya yang entah bagaimana caranya dia tahu tentang ramuan mengerikan yang dibuat ayah Kris itu. Pria kaya itu membelinya dengan harga yang benar-benar fantastis perbotolnya. Tak lama, mereka membuat ulang project mereka lagi. Dengan Kris, sebagai kelinci percobaan selanjutnya."
Deg
Masa lalu yang mengerikan. Sesuatu yang sangat tabu untuk diumbar menurut Tao. Tao selalu berkhayal memiliki ayah-ibu itu menyenangkan. Dimana semua anak-anak tertawa bersama ayah dan ibu mereka, Kris justru sebaliknya. Tidak heran sifat Kris seperti ini sekarang.
"Aku dan orang tuaku mendengar, kalau rumah Tuan Wu kebakaran langsung menuju ke sana. Mengingat kami ini bersepupu; aku dan Kris. Orang tuaku sibuk memanggil pemadam kebakaran dan melakukan apapun. Aku mencari Kris dan menemukannya sedang duduk dengan lutut yang tertekuk "
.
Flashback On
.
Merah lebih mendominasi malam itu. Cahaya bulan kalah terang dengan si jago merah yang perlahan-lahan menggerogoti bangunan rumah yang 'awalnya' megah. Seorang bocah kecil dengan keadaan yang sangat kacau keluar dari rumah itu tanpa takut sekalipun pada api yang sewaktu-waktu bisa membakar tubuh mungilnya.
Dia duduk di rerumputan. Menyaksikan bagaimana api besar itu membakar rumahnya. Tatapannya datar dan dia seperti orang yang sudah tidak memiliki jiwa.
Dari sudut lain, seorang anak laki-laki lainnya muncul dengan nafas yang terengah-engah. Perlahan-lahan dia menghampiri bocah laki-laki yang duduk.
"K… Kris… kau tidak apa-apa, 'kan?"
Bocah yang duduk, Kris, mengangkat kepalanya ke arah anak laki-laki yang berdiri di sebelahnya. "Mereka sudah mati, Chanyeol. Aku yang membunuhnya." seringai kejam keluar dari bibir Kris yang waktu itu berumur dua belas tahun.
"K… Kris…"
"Mereka bukan manusia, Chanyeol. Mereka monster. Mereka patut mati Chanyeol! Mereka mengubah Zhoumi gege menjadi mengerikan dan membakarnya tanpa peri kemanusiaan. Semuanya mereka lakukan demi uang dan kesenangan mereka sendiri!"
Chanyeol melihat sesuatu yang bersinar di lengan Kris yang saat itu hanya memakai kaus tanpa lengan. Lambang naga.
"K… Kris, kau…"
"Aku tidak tau apa yang terjadi padaku. Tapi ketika melihatnya, aku senang. Tubuh ku terasa ringan."
.
Flashback off
.
"…dan aku berani bersumpah wajah Kris benar-benar mengerikan saat itu. Tak ada rasa takut dan penyesalan sedikitpun dari wajah Kris hingga sekarang. Dia seperti seorang psikopat."
Tao menelan salivanya gugup. Cerita yang diceritakan Chanyeol lebih seram dari film The Conjuring, baginya.
"Lalu, kalian tau Exost dan kalian bagian Exost darimana? Apa hubungannya dengan Exost?"
Chanyeol menghela nafasnya. "Kau ingat laki-laki yang ku ceritakan yang membeli hasil penemuan ayah Kris?"
Tao mengangguk.
"Dia adalah Jack, keturunan Eris yang memiliki tujuan ingin membangkitkan Fonoi yang disegel para dewa olimpus. Dia mengubah manusia-manusia yang dia culik dan hewan-hewan untuk dijadikan monster yang kita sebut dengan foe's monster."
Tao menganggukan kepalanya paham.
"Para dewa sudah mengetahui ini semua akan terjadi di masa depan. Maka mereka menitiskan kekuatan dan diri mereka pada orang-orang terpilih. Kau tau? Mereka itu adalah kita."
Tao merasakan denyut dikepalanya. Chanyeol sudah menjelaskannya dengan detail. Sampai-sampai kapasitas otaknya menipis untuk memahaminya.
"Chanyeol Ge…" panggil Tao pelan. Tangannya bermain-main dengan selimut untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Iya?"
"Aku ingin bertanya tentang Chronos dan Cronos. Aku sudah mencoba bertanya pada Kris dan dia menjawab Cronos itu adalah bagian lain dari diriku. Apa maksudnya?"
Chanyeol menatap datar Tao. Kemudian tatapannya turun pada lambang jam pasir di dada Tao yang saat itu tak mengenakan atasan. Bersyukurlah penghangat ruangan berfungsi dengan baik.
"Aku kurang mengerti itu. Tapi, yang aku sampai sekarang masih mencari tau tentang itu… ada saatnya satu menjadi kuat dan ada saatnya satu menjadi lemah. Kalau ada waktu luang, aku mencari tau tentang itu. Kalau aku tau sesuatu, aku akan memberitahunya padamu."
"Apa Kris tau tentang hal itu?"
Chanyeol menggedikan bahunya. "Entahlah. Kami tidak pernah membahasnya. Kami hanya membahas tentang Exost, mereka dimana saja dan lain-lain. Ah, aku tidak yakin kau akan paham tentang semua yang aku ceritakan, 'kan?" Chanyeol menatap Tao yang hanya menatapnya dengan wajah polos atau… wajah tidak mengerti apa-apa.
Tao menganaggukan kepalanya polos. Mengangguk dan mengakui kalau dia tidak mengerti apa-apa.
"Hah, sudahlah. Kau tidur saja. Kalau kau sudah mendingan, nanti malam, aku akan mengajakmu berkeliling. Kau mau?"
Tao menganggukan kepalanya. "Tapi, punggung ku sakit sekali. Mau tidur dengan gaya seperti apa?"
"Kemarin saat punggungmu sakit, kau tidur bagaimana?"
"Aku tengkurap. Tapi mau seperti apa sekarang?" Tao mengangkat tangannya yang terbalut perban. "Ini."
Chanyeol menganggukan kepalanya paham. Dia tau maksud Tao.
"Kalau begitu kau tidak usah tidur saja."
"Iya. Lagipula aku tidak mengantuk."
"Terus ingin melakukan apa sekarang?"
"Gege istirahat saja. Pulang sekolah pasti lelah. Terima kasih sudah membantuku. Hehe…"
.
Kris masih terdiam di tempatnya. Sudah dua jam semenjak insiden dia bertengkar dengan Tao dan Chanyeol. Kris duduk dengan lutut ditekuk. Tubuhnya menyandar pada rak besar dan tatapannya tertuju pada album foto yang sekarang tergeletak begitu saja di lantai.
Pandangan Kris yang ditujukan pada almbum foto yang terbuka benar-benar dingin. Jika dilihat-lihat, semuanya seperti terulang. Seperti kejadian enam tahun lalu. Tatapan Kris kecil yang sama sekali tak memiliki arti dan penyesalan ketika membunuh kedua orang tuanya.
"Aku tidak menyesal," desisnya. "Mereka itu monster yang menyamar menjadi manusia berhati malaikat. Mereka membunuh Zhoumi gege dan menjadikannya monster. Mereka brengsek!"
WUUUSH
Kris melemparkan bola api kecil ke album foto yang selama ini dia letakan di rak paling ujung perpustakaan ruangannya. Dia menyeringai puas. "Kenapa aku tidak melakukan ini dari dulu?" tatapan Kris mengarah pada rak yang paling tidak terawat. "Bagaimana kalau aku juga melakukannya pada benda-benda brengsek itu?"
.
Tao mendudukan dirinya menghadap keluar jendela. Dia tidak menyangka melihat kebun mawar yang merah, walaupun bunganya tidak mekar, bisa membuat pikiran sedikit lebih tenang. Pemandangan yang bagus dari kamarnya.
"Aku tidak menyangka masa lalu Kris begitu buruk," gumamnya.
Dia mengeratkan pelukannya pada bantal yang berada dipelukannya. "Aku ini kenapa nakal sekali, sih? Kalau tidak boleh, yah tidak boleh!"
Tao sungguh menyesal karena tidak mendengarkan ucapan Chanyeol waktu itu. kalau dia menuruti, pasti Chanyeol dan Kris tidak akan bertengkar sampai seperti ini. Tapi kalau dia tidak menuruti, dia jadi lebih tau banyak tentang seluk beluk Kris dan Chanyeol. Bagaikan memakan buah simalakama!
Tatapan Tao tertuju pada dua tangannya yang terbalut perban. Dia sempat melihat bagaimana luka bakarnya tadi. Mengerikan sekali. Kris benar-benar tidak main-main ingin membakarnya. Kata Chanyeol, Kris nyaris out of control saja segitu, apalagi jika sudah out of control? Bukan hanya babi yang terpanggang, ayam dan sapi pasti juga akan terpanggang. You must be seriously Baby Panda~
"Erkh," dia ingin beranjak dari duduknya dengan susah payah. Mau tidak mau, ketika dia ingin berjalan harus sedikit membungkukan badannya. "Sakit sekali," rintihnya.
Tao berjalan keluar kamar. Melakukan hal yang lebih berguna dari duduk di depan jendela, tanpa melakukan apapun. Dia ingin sedikit berguna.
Tao berjalan menuruni tangga dengan pegangan yang kuat pada pagar pembatas tangga. Biasanya dia dapat berlari kecil, sekarang dia seperti kakek-kakek berumur 90 tahun yang lemah dan rentan.
Tap
Langkah kakinya terhenti. Tubuhnya kaku seketika.
Kris.
Pria itu ada di ujung tangga dengan wajah datar dan penampilan yang kacau. Jangan lupakan bau sesuatu yang terbakar dari Kris.
Mereka diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya Kris menaiki tangga dan melewatinya begitu saja. Tak ada kalimat apapun yang keluar dari bibir mereka. Terasa asing bagi Tao yang biasanya selalu berisik jika dekat dengan Kris.
Dia harus minta maaf. Iya, harus.
"Kris…" mencoba bersuara keras, tapi terasa suaranya hilang.
-Bodoh!
"K… Kris…"
Tap
Setidaknya suaranya sedikit lebih keras, sehingga Kris bisa mendengarnya dan menghentikan langkahnya tepat pada anak tangga terakhir.
"Maafkan aku."
Hening.
Kris sama sekali tak membalikan tubuhnya.
"Seharusnya aku menuruti Chanyeol gege agar tidak masuk ke dalam ruangan itu. Aku… mengaku bersalah. Aku tidak ingin mengungkirinya. Aku tau aku pengganggu bagimu, aku menjijikan di matamu, aku bodoh, aku merepotkan, aku tidak berguna. Tapi…"
Tao membalikan tubuhnya. Dia ingin melihat bagaimana respond Kris saat ini. Tapi, dia tidak bisa. Kris membelakanginya. Tao harus menelan kekecewaan karena itu.
"…tapi aku ingin, jangan bertengkar dengan Chanyeol gege. Kalian sudah lama berteman, bukan? Kau boleh membenci ku. Tapi jangan Chanyeol gege. Dia tidak salah. Aku yang seharusnya mendengar ucapannya saat itu."
Tao menundukan kepalanya. Tangannya meremas erat baju lengan panjang yang dikenakannya.
Tap
Kris memajukan kakinya selangkah menjauhi Tao.
"Menjauhlah…"
Tap
"…dariku."
Kris tak berbalik sedikitpun. Pria itu terus melangkahkan kakinya untuk menjauh dari Tao. entah menuju kemana dari lantai dua rumah itu.
Tao mengangkat wajahnya dan matanya memerah. Dia menangis.
Sedetik kemudian tubuhnya terduduk di anak tangga. Kedua tangannya menutup wajahnya yang menangis. "Sial! Dia benar-benar membenciku."
Miyoung yang kebetulang lewat, dia melihat Tao yang duduk di tangga dengan wajah yang tertutup kedua tangannya sendiri. Gadis cantik itu berjalan mendekat. Langkah kakinya ringan, sehingga Tao tidak merasakan kehadiran sang gadis cantik di rumah besar itu.
"Tao~" panggil Miyoung lembut.
Tao mengangkat wajahnya. Menoleh ke arah kanan, dimana Miyoung duduk di sebelahnya dengan wajah tersenyum.
-Oh, si gadis pecinta Korea.
"Mi… young…"
Miyoung tersenyum. "Kenapa menangis?"
Tao menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Hanya tangan dan punggung ku yang sakit. Jadi aku menangis."
"Tangan mu kenapa? Kenapa diperban seperti itu? Punggung mu masih sakit?"
Tao menganggukan kepalanya. "Tanganku…" tidak mungkin dia bilang, kalau Kris nyaris saja membakarnya. "…terkilir."
Miyoung menarik kedua tangan Tao. Tao meringis perih.
"Nyaris dibakar Kris, yah?"
Kesannya Tao seperti babi yang hendang dipanggang lalu melarikan diri.
Tao menggelengkan kepalanya. "Bukan," jawabnya pelan.
Miyoung menyentill kening Tao dengan gemas. Dia terkekeh geli saat Tao merengut tidak terima.
"Kris itu memang seperti itu. Nanti juga kalian akan berbaikan lagi."
Tao diam.
"Sepertinya tidak. Orang marah selalu berkata jujur. Kris bilang, aku ini merepotkan, menjijikan, dan lain-lain. Lalu, Kris itu orang yang frontal, bukan?"
Miyoung mengelus rambut Tao lembut. "Jangan dipikirkan tentang Kris. Dia memang seperti itu."
.
.
.
Chanyeol benar-benar tidak sekolah esok harinya. Tiba-tiba saja Chanyeol datang ke kamar Tao dengan segelas susu hangat dan semangkuk bubur. Acara jalan-jalan mereka kemarin juga gagal, karena salju yang turun terlalu deras. Mengingat juga Tao yang masih belum berjalan dengan baik.
"Kris berangkat sendiri hari ini?" tanya Tao disela-sela makannya.
"Ku rasa iya. Aku sama sekali tidak bertemu dengannya pagi ini. Motor di garasi juga tidak ada."
"Motor?"
"Ya. Dia sepertinya pergi dengan motornya."
Tao menganggukan kepalanya paham untuk kali ini.
Tok… tok…
"Tunggu sebentar, Tao."
Chanyeol meletakan mangkuk bubur di atas meja dan berjalan untuk membukakan pintu. Sosok Tuan Kang langsung saja muncul dengan seorang anak laki-laki berambut coklat terang.
"Ada teman dari tuan Tao."
Chanyeol membelalakan matanya.
Ini jam delapan pagi dan si bodoh Oh ini tak berangkat sekolah? Hebat!
"Kau boleh pergi Tuan Kang. Lalu, Oh Sehun—"
"Aku boleh masuk, 'kan?"
Sehun menyerobot masuk dan segera duduk di samping Tao yang masih berada di atas tempat tidur. Pria itu menyengir lebar ketika melihat Tao yang menatapnya dengan wajah malas.
"Ada apa kau datang kemari?"
"Aku rindu denganmu, Sayang. Hehe…"
Sehun memberikan sebuah tas kertas ukuran sedang ke atas pangkuan Tao. Tao mengeluarkan tangannya dari balik selimut dan mengambil tas kertas itu. Dia mengeluarkan isinya. Sebuah benda kotak yang dibungkus kertas kado bermotif panda.
"Apa ini?"
"Itu— ASTAGA! Tanganmu kenapa, My baby Panda?" Sehun memekik nyaring.
Tao menatap enteng perban di tangannya. "Tidak apa-apa."
"Bohong! Apa saat itu foe's monster dan para foe menyakitimu? Tanganmu juga terluka, eoh? Punggungmu bagaimana? Kris tidak menambah sakit di tangamu, 'kan? Kau sudah ke dokter?"
Ingatkan Tao utuk melakban mulut Sehun ketika melihat lakban.
Chanyeol yang hendak membuka pintu ingin keluar berbalik. "Aku titip Tao sebentar, Sehun-ah. Lalu…" Chanyeol menatap tajam ke arah Sehun. "Jangan berbuat macam-macam, ketika aku meninggalkan kalian berdua di kamar."
Blam
Chanyeol meninggalkan Tao dan Sehun di kamar Tao yang sunyi.
Berdua.
Iya, hanya berdua.
Sreet
"Ya! Ponsel?" Tao memekik dan cepat-cepat membuka kotak ponsel barunya.
Beberapa saat kemudian, tatapan Tao berbinar-binar, pada benda berwana putih berbentuk persegi panjang. Ponsel pintar keluaran terbaru!
"Kau bahagia?"
Tao menganggukan kepalanya.
Sehun tersenyum lembut melihat wajah Tao yang berbinar-binar senang. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.
"Sama dengan punya ku, loh. Hehehe…"
Tao menganggukan kepalanya. Biarkan saja. suka-suka anak itu. Yang terpenting, bukan uang dia dan dia memiliki handphone.
"Terimakasih," ucap Tao.
Dia mulai memainkan handphone-nya. Hal yang pertama dibuka adalah menu pesan. Oke, masih kosong. Lalu yang kedua menu kontak. Tao mengerenyitkan keningnya. Hanya ada satu nomor. Dan nomor adalah milik…
Oh Sehun Bbuing-bbuing
What the… nama kontak-nya menggelikan. Sehun sudah duluan membajak ponsel baru itu.
"Apa-apaan nama kontak ini?" rengut Tao.
Sehun menyengir lebar. "Yah, tidak apa-apa, sih. Aku tidak keberatan."
Tao memasang wajah datar. Iya sih, Sehun tidak keberatan. Tapi Tao? Hah~ plastic mana plastik?
Tao tidak ingin ambil pusing juga akhirnya. Nanti juga masih bisa diganti. Hanya menunggu Sehun pulang dan tinggal mengganti namanya menjadi, Sehun Mesum NC17+ Nama yang bagus!
Kini giliran Tao menjelajahi galeri foto.
Pip!
Hening.
Tao nyaris saja melempar ponsel mahal itu. Bagaimana bisa isinya foto Sehun semua? Ada lebih dari dua ratus foto dan itu semua wajah Sehun? Astaga~ ingatkan Tao untuk menghapusnya secepat mungkin.
"Aku tampan, yah? Maka dari itu aku menjadi model."
Tao mengalihkan pandangannya dari ponsel ke Sehun. Keningnya mengkerut. "Model?"
Sehun menganggukan kepalanya. "Iya model. Kau tidak tau, yah?"
Tao menggelengkan kepalanya. "Oh, pantas saja banyak juga yang menjadi fans mu."
Sehun menyengir lebar. Dia mengambil ponsel Tao dari tangannya. Memindahkan dari menu galeri ke menu kamera. Kemudian Sehun mendempetkan kepalanya pada kepala Tao.
"Jarang-jarang ada yang foto bersama seorang artis, loh~"
Tao memutar bola matanya malas.
"Hana, dul, set. Say kimchi!"
Tao membuat lambang peace dengan tangan kanannya di depan wajah. Tersenyum lebar. Lalu Sehun memasang senyum seorang pria gentle. How a cute couple~
Klik!
Sehun dan Tao melihat hasil foto mereka berdua. Tao sedikit memberenggut. Pasalnya, wajahnya sedang kurang bagus. Masih ingat dengan tinjuan Kris kemarin? Sementara Tao menggerutu, Sehun cekikan. Dia mengambil ponselnya dan mengirim dari ponsel Tao ke ponselnya. Dia membuka beberapa akun sosial medianya. Mengganti display picture menjadi fotonya dengan Sehun.
Tao menoleh ke samping. Ke arah Sehun yang sibuk dengan ponselnya dan terkikik tidak jelas. Tao melamun.
-Sehun itu kalau dipikir-pikir baik juga. Hanya saja mesum.
"Sehun-ah," panggil Tao pelan.
Sehun menolehkan kepalanya ke arah Tao. "Apa?"
"Apa kau selama ini adalah Exost, Chanyeol gege dan Kris mengetahuinya?"
Sehun meletakan ponsel mereka berdua di atas bantal yang dipangku Tao. menatap lembut ke arah Tao yang tengah menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Ku rasa tidak. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya."
"Lalu kau menolong ku?"
Wajah Sehun memerah seketika. "Eum… karena pacar ku dalam bahaya, apa salahnya?"
Lagi-lagi Tao mendengus. Ingin serius tapi, ujung-ujungnya juga bercanda.
"Hahaha, yasudahlah." Sehun merangkul Tao dengan hati-hati. "Ingin jalan-jalan? Aku lihat Chanyeol tidak kembali-kembali. Aku bawa mobil dan kemanapun kau ingin pergi, ayo!"
Mata Tao berbinar-binar. "Serius?"
"Iya!"
.
.
.
Siapa bilang Kris akan sekolah hari ini? Percuma saja dia sekolah. Pikirannya kacau. Omongan guru-guru tidak akan masuk ke dalam otaknya yang sedang mengalami konsleting. Dia butuh penenangan. Selama dua belas tahun ini, ini kali pertamanya dia merasakan kembali amarah yang benar-benar sampai membuatnya out of control. Bahakn nyaris membakar sang Chronos. GILA!
"Sa… sakit, Kris…"
Bagaimana bisa dia sebodoh itu?
"…tapi aku ingin, jangan bertengkar dengan Chanyeol gege. Kalian sudah lama berteman, bukan? Kau boleh membenci ku. Tapi jangan Chanyeol gege. Dia tidak salah. Aku yang seharusnya mendengar ucapannya saat itu."
Tao itu sebenarnya hanyalah seorang bocah yang tidak tau apa-apa tentang sebenarnya siapa dirinya— diri Tao sendiri. Pemuda itu terlalu polos. Beda sekali dengan wajahnya yang 'kadang-kadang' garang.
"Menjauhlah …dariku."
Kris tidak salah. Tao memang benar-benar harus menjauhinya. Meskipun mereka dalam satu tim dan harus kompak, untuk Kris pada Tao, dia harus benar-benar menjauhi sang Chronos. Hanya Tao yang tidak mengerti bahaya ketika di dekat Kris.
"Dia bodoh. Kenapa dia bisa terpilih menjadi Exost dengan otaknya yang seperti itu?" Kris tersenyum miring.
Kris ingin muntah mengingat dirinya yang bodoh. Terlalu lemah ketika berada di dekat Tao. Dia tidak bisa berbuat jauh untuk menyakiti bocah panda yang memiliki kekuatan seorang Chronos. Biasanya dia tidak akan segan-segan untuk membakar habis musuhnya. Tak memandang siapapun mereka untuk Kris.
Untuk Tao, sebuah pengecualian.
Bukan karena Tao adalah seorang Exost paling special. Ada sisi lain dari Tao yang mampu membuat sesuatu yang berada di Kris yang sudah lama mati perlahan-lahan hidup. Perasaan.
Sesuatu yang dua belas tahun ini dia tidak miliki, kini kembali hanya dalam beberapa hari pertemuannya dengan Tao.
"Kenapa aku memikirkan bocah bodoh itu, aish!"
.
.
.
Chanyeol memasuki kamar Tao yang sudah tidak ada siapapun. Pria tinggi itu menutup kembali pintunya. Mencari sosok pria tua yang kita ketahui sebagai Tuan Kang. Tak susah mencari pria tua iiu. Kau dapat menemukannya di dapur.
"Tuan Kang," panggil Chanyeol.
Tuan Kang menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol. "Iya, Tuan Chanyeol?"
"Tao dimana?"
"Oh, tadi pergi bersama dengan temannya. Katanya ingin berjalan-jalan sebentar."
Chanyeol tersentak. "Jalan-jalan?"
"Iya. Oh, iya," Tuan Kang mengeluarkan secarik kertas kecil dari saku jasnya. "Ini dia memberikan nomor ponselnya untuk Anda."
Chanyeol menganggukan kepalanya. Dia menerima kertas itu dan melihatnya selama beberapa detik. Oh, iya. Nomor ponsel Tao.
-Eh tapi, darimana dia memiliki ponsel?
"Ponsel siapa ini memangnya?"
"Ponsel Tuan Tao. Katanya dibelikan oleh temannya itu."
Yah, tidak apa-apalah. Sehun itu baik. Dia juga Exost yang sudah bisa memgeluarkan kekuatannya. Setidaknya masih bisa bertarung untuk melindungi Tao selama jalan-jalan.
.
.
.
Saat Kris ingin menyalakan mesin motornya, seseorang dengan seragam sekolah yang sama dengannya tiba-tiba saja muncul dari atas pohon ke depannya. Kris menggertakan rahangnya. Tentu dia kenal jelas siapa yang sekarang ini berada di hadapannya.
"Cho Kyuhyun," geram Kris.
Sosok yang bernama Kyuhyun menyeringai. "Yo! Kau ternyata murid yang mengingat nama ketua OSIS nya dengan baik."
Kris mendecih. "Apa maumu? Ada urusan apa?"
Kyuhyun maju perlahan-lahan. "Santai saja. Aku hanya ingin membicarakan tentang Chronos."
"Kalau begitu, menyingkirlah."
Kris memasang helm di kepalanya. Kyuhun dengan cepat menahan motornya dengan cara memegang stang motor yang dinaiki Kris.
"Namanya Huang Zitao, 'kan?"
Kris menatap tajam ke arah Kyuhyun yang masih saja menyeringai.
"Kau menemukannya dimana? Dia manis sekali, loh. Hahaha…"
"Apa yang ingin kau lakukan padanya?" tanya Kris dingin.
Kyuhyun membetulkan tatanan rambutnya. "Dia nampaknya tertarik padaku. Mungkin aku akan mengencaninya. Lalu, mengambil Ra darinya. Ah, dia pemegang Ra atau Obelisk?"
"Jangan sekali-kali kau menyentuhnya!"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya santai. "Santai saja. Aku akan mengambil permata Ra dengan perlahan-lahan, kok. Lalu dia akan mati di tangan orang yang dia sukai. Seperti Romeo dan Juliet, bukan?" Kyuhyun terkekeh.
Cerita Kyuhyun lebih tidak mengarah pada Romeo and Juliet sebenarnya.
"Hah, apa dia sehat-sehat saja sampai saat ini?" nada Kyuhyun terdengar menjijikan di telinga Kris. "Tao kami selalu terlihat lemah. Sangat tidak adil, bukan? Kenapa kalian yang sudah lemah tidak saja sekalian lemah?"
Kris menggenggam stang motornya kuat-kuat. "Sebenarnya apa maumu brengsek?"
"Hanya memberitahu. Beberapa hari lagi, tepat dua cahaya terpisah setelah enam belas tahun. Cahaya yang terbagi akan bertukar posisi. Kau tau maksudku?"
"Menyingkirlah!"
"Uuuuh, kau tidak tau, yah? Wu Yifan anak dari Professor Wu Yunho."
JDDDAR
Kris melemparkan bola api raksasa dari tangannya. Kyuhyun yang terkena serangan dari jarak sedekat itu langsung saja mundur beberapa meter dan punggungnya tepat mengenai pohon di belakangnya.
"Ugh," Kyuyun meringis.
Kris turun dari motornya. Dia menghampiri Kyuhyun yang masih meringis kesakitan. Kris menarik kerah baju Kyuhyun. Memberikan tatapan beringas pada pemuda yang lebih tua setahun darinya. "Dengarkan aku," Kris berbisik. "JANGAN PANGGIL AKU ANAK DARI BAJINGAN ITU!"
BUG
Kris kembali memberikan satu tinju di perut Kyuhyun yang nampak lemas.
Kris membanting tubuh Kyuhyun dan menginjak perutnya. Dia tak peduli pada korbannya saat ini. Tak peduli status ketua OSIS yang disandang oleh Kyuhyun. "Jaga mulutmu, Brengsek!"
Memberikan tekanan terakhir pada perut Kris sebelum dia berbalik pergi,
Kyuhyun terkekeh setengah meirngis. Dia mendudukan dirinya dengan menahan sakit disekujur tubuhnya.
"Kita lihat. Saat cahaya kegelapan berpihak pada kami, siapa yang akan menang, Wu Yifan."
.
.
.
Minho melemparkan tasnya ke atas sofa sembarangan. Detik berikutnya, dirinya yang sudah berada di atas sofa. Tangannya terbuka lebar menyender pada sandaran sofa. Wajahnya kusut karena kelelalahn. Well, sebenarnya dia tidak butuh untuk bersekolah juga. Apa fungsinya bersekolah untuk orang jahat sepertinya?
"Taemin!"
Suara pekikan Kai dari dapur menarik perhatian Minho.
Tidak peduli dengan rasa lelah tubuhnya. Nama yang diteriakan Kai lebih penting daripada tubuhnya yang lelah.
Minho membelalakan matanya, ketika melihat Kai yang mengguncan-guncang tubuh Taemin yang terduduk di lantai dapur. Minho segera menghampiri Taemin; menggedong tuubuh kecilnya ke arah kamar.
"Taemin, kau dengar aku?" tanya Minho panik.
Taemin meremas kasar kemeja yang dikenakannya. Nafasnya tidak teratur, wajahnya pucat. Sangat jelas, jika pria itu sedang menahan rasa sakit yang melanda tubuhnya.
"Sa… sakit, Hyeong…"
"Kai, kenapa bisa seperti ini?"
"Tadi aku ingin mengambil minum di dapur, lalu menemukannya tengah seperti ini. Aku langsung saja memekik dan kau datang di saat yang tepat," jelas Kai.
Taemin meremas tangan Minho. Memberitahu Minho kalau rasa sakit di dadanya benar-benar sakit. Kedua orang di sekitar pria cantik, itu menatap miris ke arahnya. Yah, kondisinya memang memprihatinkan.
"Apa perlu kita menemui master?" usul Kai.
Minho menganggukan kepalanya setuju.
.
"Ukh," Tao tiba-tiba saja meringis.
Sehun yang saat itu sedang menikmati Rendezvous Coffee miliknya, menoleh ke arah Tao yang tiba-tiba saja meringis. "Ada apa?"
Tao mengelengkan kepalanya. Dia mengusap air matanya yang tiba-tiba saja mengalir dari matanya. Sempat terllintas di otaknya sebuah siluet orang yang sedang kesakitan dengan sangat.
"Apa ada yang sakit?" Sehun kembali bertanya.
Tao lagi-lagi menggelengkankepalanya. "Tidak. Mata ku kelilipan saja. jangan terlalu khawatirr."
Sehun menghela nafas lega mendengarnya. Setidaknya dia tidak jadi begitu khawatir.
Tao mengangkat menyendokan kembali cheesecake nya dengan perasaan kurang selera. Entah mengapa ada yang membuat dirinya gelisah. Tiba-tiba menangis dan seseorang tengah kesakitan muncul di otaknya. Okay, belakangan ini dia sering mengalami hal-hal di luar dugaan. Hanya saja, semakin hari semakin aneh saja.
Prraaang!
Tao dan Sehun sama-sama menoleh ke sumber suara yang berasal dari dapur. Gerakan refleks yang dilakukakn orang-orang ketika dirinya terkejut karena suatu hal.
Siiing
Sehun melirik ke arah tangannya— lebih tepatnya telapak tangannya yang bersinar. Tidak, lebih tepatnya lagi symbol angin yang bersinar di telapak tangannya. "Apa-apaan ini?"
Tao mengerenyitkan keningnya. "Ada apa?"
Sehun menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum mendekatkan wajahnya ke arah Tao. "Ada Exost di sini," bisiknya.
Tao ingin memekik, tapi buru-buru Sehun memberi isyarat dengan jari telunjuk di bibir agar menyuruh tetap diam. Tao menganggukan kepalanya.
Sehun tersenyum penuh arti ke arah Tao. dia mempunyai rencana yang mudah sebenarnya.
"Kau ingin Kris berbaikan denganmu?"
Tao sempat mengerenyitkan keningnya bingung. Tapi pada akhirnya dia mengangukan kepalanya.
"Kita harus bisa membawa Exost itu ikut dengan kita. Aku yakin, Kris akan terpukau dan menganggapmu—"
PLUK!
Sebuah bola salju kecil mengenai kepala Sehun. Sehun ingin marah, tapi buru-buru dia terdiam. Ada lelaki cantik yang berdiri di meja kasir dengan pemuda berpipi chubby di sebelahnya. Mereka menatap Sehun dan Tao dengan tatapan datar dan sedikit horror.
Laki-laki cantik itu memejamkan matanya.
Siiiing~
"Tolong jangan bicarakan tentang kami. Kami tau kalian adalah Exost. Kau adalah Anemoi."
Sehun memegang kepalanya yang sedikit berdenyut. Ooh, seorang Homonia. Menarik juga.
"…dan kami tidak akan mau ikut dengan kalian. Merepotkan!"
"ARGH!"
Tao buru-buru bangkit dari duduknya dan menghampiri Sehun yang menjambar rambutnya kasar. Wajah Sehun memerah dan sedikit berkeringat di musim dingin ini.
"Kau kenapa?" tanya Tao cemas.
Sehun mengatur nafasnya yang tersengal. Dia melirik ke arah Homonia yang sedang melayani pelanggan. Laki-laki berpipi tembam sudah tidak ada. Sekarang, laki-laki itu sedang berbincang di pintu dapur dengan laki-laki bermata bulat. Pembicaraan yang serius sepertinya.
Tao mengikuti arah pandang Sehun. Ke arah dua orang yang sedang berbincang di pintu dapur. Tiba-tiba saja yang bermata besar bertemu pandang dengan Tao. Buru-buru Tao mengalihkan pandangannya.
"Tao, ayo kita pulang."
"Eh?"
"Tapi mereka…"
Sehun ingin sekali menarik tangan Tao agar segera pergi tanpa banyak bicara. Tapi dia sadar, tangan Tao sedang dalam kondisi kurang baik, entah karena apa. Yang jelas tangan itu ter-perban.
Tao menyadari mood Sehun yang tiba-tiba saja menjadi down. Mau tidak mau, dia mengikuti Sehun yang sudah melangkah duluan keluar café. Tao mendengus dan dia berhenti di meja kasir. "Sehun bodoh! Inikan belum dibayar!"
Tao mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam saku mantelnya. Setelah sampai di mobil, ingatkan Tao untuk menagih Sehu untuk mengganti uangnya.
"Berapa semuanya untuk meja dua belas?" tanya Tao pada sang kasir cantik.
Tao melirik name-tag yang berada di dada sang kasir. "Luhan… ooh, orang China."
Laki-laki penjaga kasir— Luhan, menolehkan kepalanya dari computer ke arah Tao. "Semuanya sepuluh ribu won."
Tao menyerahkan uangnya yang ternyata sangat pas dengan jumlah pesanannya.
"Luhan Gege…" panggil Tao pelan.
Luhan tidak menolehkan kepalanya. Dia sedang memasukan uang Tao ke tempatnya. Dia sangat berharap anak di depannya segera pergi.
"Luhan Gege…" panggil Tao lagi. Kini dia merapatkan tubuhnya pada meja kasir. "Pekerja di sini, yang Exost siapa, yah?"
Luhan menoleh ke arah Tao yang tengah menatap polos ke arahnya. Wajah Luhan memerah. Oke, pria di depannya memang menggemaskan dengan pipi tembamnya dan mata pandanya itu.
"Exost? Apa itu?"
Tao mengerucutkan bibirnya imut. Padahal dia sangat berharap orang yang di depannya adalah salah satu Exost.
Luhan menolehkan kepalanya ke samping. Menghindari Tao yang tanpa sadar melakukan aegyo yang menggemaskan. "Kau menyinkirlah. Ada banyak orang yang ingin membayar."
Tao mendengus. Dia menolehkan kepalanya ke sisi lain dari meja kasir. Matanya berbinar-binar seketika menatap selembar kertas yang bertuliskan…
LOWONGAN KERJA UNTUK PELAYAN CAFÉ INI
Fortune on his hand!
Kalau Luhan tidak tau apa itu Exost dan siapa saja penjaganya yang Exost, kenapa tidak sendiri yang mencari tahu? Dia buru-buru mengambil kertas itu sebelum Luhan ingin merebutnya.
"Aku akan mengambil pekerjaan ini dan mulai bekerja besok!" pekik Tao riang.
Dia kemudian pergi dari situ. Meninggalkan Luhan yang tercengang.
Hell! Orang yang tadi berhadapan dengannya tadi itu siapa? Kenapa bisa sangat begitu bodoh? Luhan bisa merasakan kalau Tao adalah seorang Exost. Tapi, kenapa Tao tidak bisa menyadari kalau Luhan adalah Exost juga?
"Aneh," gumam Luhan.
.
"Kau ini kenapa, eoh? Kenapa tiba-tiba saja keluar dan aku yang membayar semuanya? Bukankah kau berjanji akan mentraktir ku? Kenapa—"
"Homonia sangat tidak sopan. Dengan seenaknya dia membuat kepala ku berdenyut sakit. Dasar!"
Tao memasukan kertas lowongan kerja ke dalam saku mantelnya. Sehun mengamatinya. "Apa itu?"
"Hanya kertas lowongan kerja biasa. Aku akan melamar kerja di tempat mereka," jawab Tao dengan enteng.
"Kau serius? Kenapa tiba-tiba?"
Tao mendengus dan menatap Sehun dengan malas. "Bukankah kau sendiri yang bilang kalau ada Exost di sana? Kau ingin aku berbaikan dengan Kris, 'kan? Maka dari itu, aku harus mengajak Exost itu sendiri dengan tangan ku. Agar Kris senang dan memaafkan ku."
Sehun selalu berpikir, Tao orang yang memiliki pemikiran pendek. Tapi bagaimanapun, Sehun tetap menyukai Tao yang seperti ini.
.
Mobil Sehun menghilang dari pandangan. Tao membalik tubuhnya dan membuka pagar rumah. Di tangannya ada beberapa kantung belanjaan berisi makanan. Kata Sehun untuk mengganti uang Tao yang terpakai untuk membayar di café tadi.
"Aku pu—"
Tao menghentikan kalimatnya.
"—lang…"
Dia terdiam.
Kris ada di depannya dengan seekor burung yang bertengger di pundaknya. Tao cepat-cepat menundukan kepalanya. Bagaimanapun, dia masih mengingat dengan jelas bagaimana kronologi hingga tangannya terbakar.
Hening.
Tao masih betah untuk menundukan kepalanya. Dia hanya ingin Kris segera pergi dari hadapannya dan biarkan dia menutupi wajahnya dengan bantal.
"Tao, kau sudah pulang?"
Tao merasa hari ini Dewi Fortuna sedang berada dipihaknya.
Chanyeol datang di saat yang tepat. Kris buru-buru pergi keuar rumah dan melangkahkan kakinya menuju kebun mawar; tanpa mantel. Ya, jangan lupakan fakta kalau Kris adalah seorang Hefaistos.
"Chanyeol Gege," pekik Tao.
Tao buru-buru masuk ke dalam. Cuaca di luar sangat dingin.
"Sehun tidak mampir lagi?"
Mereka berjalan menuju ruang makan. Tao meletakan makanan yang ia bawa ke atas meja. Chanyeol mengambilkan piring dan menghidangkan makananya di atas piring. Perpauduan yang sangat kompak. Chanyeol-Tao.
Tao menggantungkan mantelnya di atas kursi.
"Aku baru tau jika Sehun adalah model terkenal." Tao mendudukan dirinya di atas kursi. Tangannya bergerak mengambil sepotong pizza.
Chanyeol mengambil bagian lain. "Yah, kalau dia bukan model, dia tidak akan mempunyai fans di sekolah."
Tao menganggukan kepalanya.
Ah, tiba-tiba saja dia teringat dengan kejadian di café tadi siang. Bukan masalah anggota lain dari Exost. Dia sudah berjanji untuk merahasiakan hal itu dari Chanyeol maupun Kris. Dia ingin memberikan kejutan.
"Ge, aku tadi siang…" Tao menggantung kalimatnya; membuat Chanyeol yang ingin tiramisssu menghentikan tangannya. Tatapannya teralih pada Tao yang memainkan ujung kaos yang dikenakannya.
"Tadi siang kenapa? Kau diperkosa Chanyeol?"
Tao buru-buru mengelengkan kepalanya. "Bukan! Dia tidak melakukan apapun. Hanya saja…" lagi-lagi dia menghentikan kalimatnya.
Chanyeol tau, Tao susah untuk mengungkapkan apa yang dia alami tadi siang. Sambil menunggu Tao merangkai kalimat, dia berjalan mengambil kotak P3K. Perban di tangan Tao sudah teralu lama.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan."
Chanyeol menarik tangan Tao dan meletakannya di pahanya. Dia membuka dengan hati-hati perban yang membalut tangan Tao. Tao meringis ngeri melihat lukanya sendiri. Sangat mengerikan. Nampak sangat lengket dan Chanyeol seperti kesusahan melepas perban yang berada tepat di atas lukanya.
"Gege tidak jijik?" tanya Tao membuka topik baru.
Chanyeol tak mengalihkan pandangannya dari urusannya melepas perban di tangan Tao. "Untuk apa aku jijik? Aku sudah sering melihat ini. Bahkan yang lebih mengerikan dari ini."
Chanyeol menghela nafas lega. Akhirnya sudah terlepas semua. Dia mengambil kapas, sebotol antiseptic dan sebotol alcohol. Namun gerakan tangannya terhenti ketika ingin menjelajahi kotak P3Knya.
"Kita kehabisan kassa. Bagaimana? Aku akan membelinya dulu. Kau bisa mengolesi lukamu sendiri?"
Tao menganggukan kepalanya. chanyeol tersenyum dan segera melesat pergi. Tao ingin mencegah, tapi Chanyeol sudah hilang dari jangkauan mata. Padahal Tao hanya ingin bilang, "pakai mantelmu!"
Dia menghela nafasnya kasar. diambilnya bulatan kapas dan menuangkan sedikit antiseptic ke luka di tangannya. Dilakukan dengan pelan-pelan, sampai-sampai tidak menyentuh dengan permukaan kulitnya.
Menunggu Chanyeol dan menyuruhnya untuk membersihkan lukanya? Hah, bahkan dia sendiri jijik melihat lukanya. Apalagi orang lain?
Dia memberanikan diri untuk mengusap cairan lengket yang berada di sisi-sisi lukanya. Ingin muntah. Dia tak pernah mengalami luka semengerikan ini sebelumnya.
"Aw!" dia meringis. "Fuuuh… fuuuh…" Tao meniup-niup lukanya.
.
Luhan mendengus saat Xiumin yang berdiri di belakangnya seenak jidat menggunakan kekuatannya untuk memberikan hawa dingin di sekitar tubuhnya. Xiumin yang sudah beberapa kali dimarahi Luhan selalu tertawa dan berdiam selama beberapa saat. Kemudian dia akan menggoda lagi.
Kyungsoo yang paling muda di antara mereka terkekeh geli melihat kelakuan dua hyeong-nya. Terlalu kekanakan dan tidak sadar umur. Mereka berdua sudah Semester tiga. Kenapa masih bertingkah seperti bocah sekolah dasar?
"Xi— AH!"
Seseorang menabrak tubuh mungilnya, sehingga plastic telur yang dibawanya jatuh dan isinya pecah.
"Ma… maafkan aku. Aku buru-buru." Orang itu membungkukan badannya berkali-kali.
Kyungsoo balas membungkukan badannya sedikit. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit melamun."
Kyungsoo berjongkok untuk melihat apakah ada telur yang terselamatkan atau tidak. Dan hasilnya adalah tidak. Dia mendengus dan menatap telur-telur itu.
"Akan ku gan—"
"Kyung!"
Luhan dan Xiumin berlari kecil menghampiri Kyungsoo. Kyungsoo berdiri dan menyengir lebar ketika kedua hyeong-nya melirik ke arah telur-telur yang sudah pecah di jalanan.
"Maafkan aku. Akan ku gantikan."
Kyungsoo buru-buru menggenggam tangan orang yang berada di hadapannya. Sontak saja orang itu menghentikan pergerakan tangannya dan menatap Kyungsoo. Kyungsoo yang kenyataannya lebih pendek dari orang di hadapannya, mengadahkan kepalanya ke atas. Dia bisa melihat mata tajam yang sedang menatap bingung ke arahnya.
"Kyung…" panggilan Xiumin menyadarkan Kyungsoo dan dia segera melepaskan tangannya dari pria berjaket hitam di depannya. Kyungsoo menggark tengkuknya yang tidak gatal.
"Maafkan aku."
"Tidak apa-apa."
.
"Aku merasa gila dengan anak bermata panda di café kita hari ini. Aku tidak fokus bekerja setelahnya." Luhan merebahkan dirinya di atas kasur bermotif rusa natal miliknya. Xiumin mendudukan dirinya di sebelah Luhan.
"Benarkah? Memangnya kenapa? Kau belum cerita."
Luhan mendudukan dirinya dan mendengus kasar. "Aku bisa merasakan dia adalah seorang Exost. Tapi, bukankah sesama Exost bisa merasakan saling merasakan diri mereka? Kenapa bocah panda itu tidak bisa?"
Xiumin terkekeh geli. "Mungkin hanya firasatmu saja."
Luhan menggelengkan kepalanya. "Dia juga bersama dengan Anemoi."
Xiumin tertarik dengan topik ini. "Oh, anak tadi itu."
Luhan menganggukan kepalanya.
"Ngomong-ngomong, dimana Kyungsoo?"
"Di dapur."
.
.
.
.
.
.
.
TBC dengan tidak elite._.
#Janji kmrn seminggu sekali. Hoho~ Ini udh fast update, loh ._.)/
Keep RnR, and don't be siders. Saranghae~ wo ai nimen^^
