Casts : Tao | Kris | Chanyeol | Sehun | Xiumin | Luhan | Kyungsoo | Kyuhyun | Suho | Lay | Kai | Baekhyun |
Genre(s) : School Life || Romance || 'lil comedy || Supranatural || Fantasy || Mystery
Rated : T
Author : BabyMingA
Summary: Tao hanyalah seorang siswa SMA biasa berumur tujuh belas tahun yang bodoh, dan ceroboh. Suatu hari, dia bertemu dengan Kris dan Chanyeol yang mengatakannya kalau dia adalah bagian dari EXOST!
.
BOYS LOVE_YAOI_NO FLAME-NO BASH-NO COPY/PASTE-REVIEWS ALLOWED! ^_^…. HAPPY READING!
.
.
.
.
:BabyMingA:
.
EXOST
Inspired by : Kamichama Karin
By : Koge Donbo
.
Tao sudah merasa lelah membersihkan lukanya yang sama sekali belum dia sentuh. Dia terlalu ngeri untuk menyentuhnya. Apa salahnya meminta tolong Chanyeol lagi?
"Aku frustasi dengan ini semua!" dia menatap tangannya dengan nanar.
Sedetik kemudian kepalanya bersandar pada meja. "Siapapun yang mendengarku, tolong bangunkan aku jika Chanyeol gege sudah pulang."
.
.
Kris membenarkan letak kacamata minus yang bertengger apik di hidungnya. Matanya fokus pada sebuah buku yang sudah lusuh. Sinar bulan membantunya untuk membaca buku yang kini berada dipangkuannya. Di pundak Kris ada seekor merpati putih cantik yang nampaknya ikut memperhatikan arah pandang Kris.
"Hah…" dia menghela nafasnya kasar dan menutup bukunya kasar.
Tangannya bergerak melepas kacamatanya dan kepalanya mendongak ke atas. Ada bulan yang menghiasi langit malam saat ini.
"Sekarang seperempat pertama, maka fase besok— Ah! kita harus bersiap-siap mulai sekarang."
Burung merpati di samping Kris terbang rendah dan mendarat di tanah. Cahaya muncul dari si merpati dan merpati berubah menjadi seorang wanita cantik yang mengenakan hanbok.
Wanita itu tersenyum kecil. "Kris selalu memikirkannya belakangan ini."
"Jangan berpikir macam-macam kau ini," dengus Kris.
Miyoung tertawa kecil. Dia mungkin satu-satunya orang yang tidak takut pada Kris. "Kau tau Kris? Kau sudah mulai berekspresi semenjak bertemu dengan Tao."
Kris menghela nafasnya kasar. Dia membaringkan tubuhnya di atas tanah yang mulai tertimbun salju tipis. Tangannya digunakan untuk menjadi bantal kepalanya, matanya tertuju pada bulan.
"Aku tau. Tao itu memang special. Dia mempunyai kekuatan untuk menarik orang-orang agar mau melindunginya. Apa kau termasuk, Kris?"
Kris selalu kalah berbicara dengan Miyoung. Setiap rangkaian kata yang diucapkan Miyoung selalu membuat Kris terdiam. Dia tak bisa membalas apapun yang Miyoung ucapkan.
"Merepotkan jika selalu melindunginya."
Ctak
Miyoung menyentil kening Kris yang tertutup poninya. Kris meringis. Sentilan wanita lebih mengerikan dari pukulan foe's monster.
"Pertama kali Tao datang kemari, kau langsung menuju ruang rahasia mu dan kembali dengan setumpuk buku. Lalu, saat Sehun menggendong Tao waktu itu, kau buru-buru menarik Tao pergi. Kau cemburu, 'kan?" Miyoung terkekeh di akhir kalimatnya.
"Cemburu katamu? Itu karen aku ingin buru-buru pulang. Lalu, darimana kau tau?"
"Kau lupa aku bisa menjadi burung?"
Kris mendengus. Dia bangkit dan meninggalkan Miyoung yang malah senyum-senyum tidak jelas.
.
Kaki Kris terhenti tepat di ruang tengah rumahnya. Pandangannya menajam pada dapur yang lampunya masih menyala. Dia melirik jam dinding dan sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Apa ada Tuan Kang di dapur sana?
Kaki panjangnya berjalan ke arah dapur dan lagi-lagi langkahnya terhenti. Wajahnya tetap datar menatap objek yang ada di meja makan. Sebut saja Tao.
Kris mendecak sebal. Object yang baru saja dia bicarakan dengan Miyoung, tiba-tiba saja berada di depannya. Kris melirik ke arah tangan kanan Tao yang tidak tertutup perban. Dia berjalan mendekat dan menarik kursi di sebelah Tao. Dia bisa melihat kapas, botol alcohol yang terbuka dan di sebelahnya antiseptic.
"Kapan kau tidak merepotkan orang lain, eh?" Kris mendengus. Dia perlahan-lahan mengambil kapas baru dan menuangkan sedikit alcohol. Kris menarik tangan Tao dengan hati-hati. Dia takut membangunkan panda manis yang sedang tertidur.
"Kris…"
Tubuh Kris menegang. Dia menoleh ke arah Tao yang masih terlelap dengan wajah tenangnya. Bibirnya bergerak-gerak imut..
"Maafkan aku, Kris…"
Kris menghentikan tangannya. Dia menatap wajah Tao yang kini sedang memasang wajah sedih dengan mata yang tertutup.
Tao sedang mengigau tentang Kris. Kris pernah mendengar kalau orang yang memimpikan seseorang, maka orang dimimpikan itu menjadi pikiran dari sipemimpi. Kris menghela nafasnya kasar. Dia menyibakan poni Tao yang menutupi sebagian wajahnya. Kris ingin tertawa saat itu juga melihat pipi Tao yang berlipat ketika berdempitan dengan meja saking tembamnya.
.
Chanyeol menyembunyikan tubuhnya di balik sekat antara ruang tengah dan dapur. Dia tersenyum tipis melihat kris yang nampak peduli dengan orang lain. Ini pertama kalinya dia melihat wajah lembut Kris setelah dua belas tahun terakhir.
Di tangannya ada plastic putih yang berisi kassa untuk Tao.
"Mereka lucu juga," dia terkikik geli.
Chanyeol mempunyai ide jahil. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana panjangnya. Menjelajahi menu-menu yang ada di ponselnya dan ibu jarinya menekan menu camera. Chanyeol bukanlah orang bodoh. Dia sudah mematikan suara dan blitz ponselnya.
1
2
3
KLIK!
Chanyeol terkikik geli melihat hasil bidikannya yang sempurna. Dia kembali memasukan lagi ponselnya ke dalam saku dan berjalan perlahan. Berlagak terkejut ketika melihat Kris yang duduk di sebelah Tao.
"Kris?" nada suaranya dibuat semeyakinkan mungkin.
Kris menoleh ke arah kiri. Wajahnya tetap datar meskipun Chanyeol bisa menangkap Kris cukup terkejut.
"Urusi dia," ucap Kris dingin.
Kris memundurkan kursinya dan beranjak dari tempatnya.
Kris tidak menyadari Chanyeol terkikik geli di belakangnya. "Kalau tertarik kenapa tidak bilang saja, sih?"
.
.
.
Seingat Tao, dia tertidur di atas meja makan dengan luka di tangannya yang masih terbuka. Paginya, dia terbangun di atas tempat tidur empuknya dengan luka yang sudah terbalut perban. Dia tak perlu memutar otaknya yang berkapasitas rendah, hanya untuk memikirkan siapa orang yang sudah melakukan itu semua. Jawabannnya hanya satu; Park Chanyeol. Tidak mungkin Tuan Kang yang tua itu, 'kan? Atau mungkin Miyoung atau… Kris? Opsi terakhir terlalu mustahil.
Tok
Tok
Tok
"Kau sudah bangun Tao?" suara Chanyeol terdengar dari balik pintu.
Tao menyibakan selimutnya dan berjalan ke arah pintu.
Cklek
Pemuda Park sudah berada di depan kamarnya dengan baju formal yang begitu rapih. Kemeja putih dibalut dengan jas hitam, lalu ada celana bahan berwarna hitam. Tao sangat yakin, Chanyeol tak akan sekolah hari ini.
"Kau sudah bangun? Baguslah. Aku tidak bisa bersekolah hari ini. Ayah menelpon ku pagi buta tadi, jadi…"
Tuh, benerkan dugaan Tao.
"…Aku harus pergi ke Anyang dan mungkin nanti malam sekali baru pulang."
"Eum, baiklah. Aku akan berangkat—"
"Dengan Kris!" potong Chanyeol cepat.
Tao mengerjapkan matanya berkali-kali. "Hah?"
"Aku akan memaksa Kris agar pulang dan pergi bersamamu. Jadi—"
"Tidak usah!" kali ini Tao yang menyela. Dia menarik ujung jas yang dikenakan Chanyeol. "Aku bisa berangkat dan pulang sendiri. Percayalah…"
Chanyeol mendecak tidak setuju. Dia mengacak surai hitam Tao dengan gemas. Senyumnya melebar saat Tao menatapnya bingung. "Bagaimana kalau kau bertemu dengan foe's monster? Siapa yang akan menolong ku?"
Tao tersenyum polos. "Justru aku ingin bertemu dengan mereka dan mengucapkan apa kabar, apa mereka sehat dan makan dengan baik."
Chanyeol mengangakan mulutnya tidak percaya. "Hah?"
"Tentu saja tidak, Ge. Yasudah sana, yang jelas, aku akan pulang dengan selamat dan sehat sentosa. Gege pergi dengan tenang, oke?"
Chanyeol didorong oleh Tao yang memasang wjaha gemas ke arahnya. "Byebye, Gege~'
Blam
Chanyeol masih terdiam di tempatnya. Mulutnya masih terbuka dan matanya mengerjap. Barusan Tao bilang apa? Pergi dengan tenang?
…
Secara tidak langsung dan tanpa sadar, Tao menyumpahi Chanyeol untuk mati.
Hah, namanya juga Tao. Mau dimarahi sampai mulut berbusa, kita juga yang akhirnya nyerah. Cuma bikin lelah mulut marahin orang seperti Tao yang IQ otaknya jongkok. Syukur-syukur setelah berkenalan lama dengan Chanyeol dan Kris, IQ-nya jadi berdiri. Gak jongkok lagi.
.
.
.
Tao menuruni tangga rumahnya dengan perlahan. Dia sudah rapih dan semuanya sudah dia siapkan dengan baik. Wajahnya berseri-seri pagi ini. Secerah matahari yang sedikit banyak memberikan kehangatan di musim dingin ini.
Tap
Tap
Tap
Langkah kakinya tergesa-gesa menuruni anak tangga. Dia benar-benar bersemangat untuk hari ini. Masih ingat dengan kertas yang dia ambil dari café tempat Luhan, Kyungsoo, dan Xiumin bekerja? Ingat bagaimana dengan seenaknya Tao mengambil kertas itu dan bilang akan langsung bekerja tanpa tes? Yah, itulah alasannya dia bahagia hari ini.
Tao menghentikan langkah kakinya saat dilihatnya Kris berjalan dengan santai sambil menimang-nimang kunci motor di tangannya. Pria tinggi itu berjalan angkuh, begitu saja melewati Tao yang masih berdiri di anak tangga ketiga. 'Tak ada niat mengajak berangkat bersama?'— Tao mendengus dalam hati.
Tao melanjutkan langkah kakinya dengan perlahan. Jarak mereka terpaut dua meter dengan Kris di depan. Saat sampai di luar rumah, Kris berbelok ke kanan, ke arah motor sport berwarna hitamnya yang terparkir rapih tak jauh dari mereka. tak terlalu memusingkan, dia lanjutkan aksi berjalan kakinya.
"Lihat saja nanti!" Tao menggerutu.
Dia mendengar suara motor yang semakin mendekatnya. Tak ingin terlalu percaya diri Kris akan mengajaknya, dia tau, ini hanya jalan satu-satunya untuk keluar melewati pagar rumah Kris dan Chanyeol yang kelewat mewah dan megah.
Tin!
Tin!
Tao buru-buru menghindar akibat kaget. Dia berusaha mengingat apa mantra yang bisa membuat orang tewas seketika di film Harry Potter— kalau ada.
"YA! APA-AP—"
"Cepat naik!" Kris membuka kaca helm-nya dan memerintahkan Tao untuk segera naik ke atas motornya.
Tao ingin segera naik. Tapi, gengsi tetap saja gengsi. Dia sudah terlalu banyak mempermalukan dirinya di depan Kris. "Tidak mau! Aku bisa jalan sendiri!"
Tao membuang wajah dan melanjutkan langkah kakinya dengan tergesa-gesa. Kris di belakangnya mendecak tidak suka. Dia melajukan motornya dengan perlahan, sehinga dengan Tao sejajar.
"Kau serius?"
Tao mempercepat laju langkahnya dan berusaha tidak perduli. Kris mengklakson beberapa kali, hingga beberapa orang menatap mereka sinis tak suka.
"Bisakah kau diam?" Tao menghentikan langkah kakinya. Dia memutar tubuhnya ke kanan dan menatap Kris malas. "Bukankah kau sendiri yang marah padaku dan bilang aku menjijikan dan merepotkan?"
Kris menghentikan motornya dan menatap Tao dari balik helm yang dikenakannya. "Aku tidak mau kau semakin merepotkan karena ada kabar kau diculik foe, kau ditemukan tewas mengambang dengan tubuh membriu dan—"
"Lalu, apa masalahmu?" tanya Tao sinis. "Lalu, setelah itu aku tidak akan merepotkan lagi diri—" Tao menggantung kalimatnya.
Kris bisa melihat tubuh Tao yang mematung dengan mata yang membulat lebar- jangan lupakan pipi yang memerah dan mulut yang terbuka. Dia mengikuti arah pandang Tao yang hanya tertuju pada satu fokus.
"Cih," dia mendecih tak suka.
Kris kembali menolehkan kepalanya ke arah Tao yang kesadarannya mulai kembali sedikit demi sedikit.
1…
2…
3…
"KYUHYUN SUNBAE!"
.
Kyuhyun berjalan dengan malas hari ini- maksudnya setiap hari. Dia harus bersekolah yang sebenarnya hanya untuk mengawasi pergerakan dua— tidak, lebih tepatnya sekarang empat Exost. Tidak ada Minho yang biasanya menjadi teman seperjuangannya untuk bersekolah seperti biasanya. Minho harus ditinggal di rumah menjaga Taemin yang tiba-tiba memburuk.
"KYUHYUN SUNBAE!"
Suaranya masih asing di telinga Kyuhyun. Dia menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepalanya ke arah kanan. Seorang laki-laki berambut hitam dan mengenakan seragam yang sama dengannya, tengah berlari ke rahnya.
Senyum kelicikan terpatri di wajah tampannya.
'Bodoh!'
"Kyuhyun Sunbae!" Tao berhenti tepat di hadapan Kyuhyun yang 'pura-pura' memasang wajah bingung. Yah, bagaimanapun sejarahnya, mereka itu belum saling mengenal, 'kan? Hanya mereka diam-diam mencari informasi satu sama lain.
"Kau… siapa?" Oh, good! Acting yang bagus Cho Kyuhyun.
Kyuhyun melirik ke arah Tao datang. Ada sosok pemuda di atas motor yang sedang mengamati mereka dari kejauhan. Oh, ya… Kris Wu. 'Ini semakin menarik'— Kyuhyun.
Tao menyengir lebar dan menampilkan wajah polosnya. "Maafkan aku. Aku Huang Zitao. Murid baru pindahan dari… China." (Chanyeol pernah bilang padanya kalau Tao harus mengakui pada orang-orang dia berasal dari China).
Kyuhyun melangkahkan kakinya diikuti oleh Tao yang menyimbangi langkah kakinya.
"Huang Zitao?" Kyuhyun mengamati wajah Tao secara seksama. "Oh, kau yang ada di mading sekolah dan menjadi topik paling hangat dua hari ini."
Tao mengerjapkan matanya. Ada di mading sekolah? Apa dia sudah cukup popular dalam waktu sehari?
"Mading?"
Kyuhyun tersenyum manis, sampai-sampai Tao ingin sekali memeluk Kyuhyun dan menempel padanya tujuh hari tujuh malam sepuasnya. "Eum. Kau yang berciuman dengan Pangeran Sekolah Oh Sehun. Kau langsung membuat semua orang patah hati, loh."
Tao ingin muntah sekarang juga. Sehun benar-benar trouble maker baginya— not at all.
"Kau berpacaran dengannya?" tanya Kyuhyun.
Tao buru-buru menggelengkan kepalanya. "Ti… tidak! Aku tidak mengenalnya. Itu adalah hari pertama kami bertemu."
Belum sempat Kyuhyun berucap, motor Kris melaju melewati mereka dengan kecepatan tinggi. Tao memutar bola matanya malas, ketika matanya bertemu pandang dengan mata Kris dari balik helm-nya.
"Kris itu, saudaramu?" topik beralih.
Tao mendengus kasar. "Tidak. Kami bertemu secara tidak kebetulan di desa terpencil di Korea. Itu adalah tempat tinggal ku. Aku saat itu sedang dikejar-kejar monster mengerikan, lalu Kris dan Chanyeol gege menyelamatkan ku. Mengajak ku ikut ke kota dan mengatakan kalau aku ini adalah Exost, da— hmppft!" Tao buru-buru menutup mulutnya dengan tangan. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali dan bergumam tidak jelas.
"Exost? Monster?"
Tao menolehkan kepalanya ke arah Kyuhyun. "Sunbae jangan memberi tahu apapun yang sudah aku ucapkan pada siapapun, yah? Aku bisa dibakar Kris saat itu juga. Lupakan saja oke, Sunbae?" Tao mengatupkan tangannya dan memandang Kyuhyun berbinar-binar.
"Oke!"
"Kalau begitu, aku duluan!"
Tao berlari kecil meninggalkan Kyuhyun di belakangnya.
Tao tidak sadar kalau Kyuhyun tersenyum sinis di belakangnya. Kyuhyun menatap punggung Tao yang semakin menjauh dengan penuh minat. "Ini terlalu mudah."
.
Semua orang hanya melihat ke arahnya ketika Tao menginjakan kakinya di gerbang sekolah. Wajah Tao yang semula cerah dengan rona merah di kedua pipinya, kini meredup. Tatapannya kikuk dengan kening berkerut. 'Seharusnya aku ikut dengan Kris saja tadi'— bathin nya.
Tao tidak perlu lagi berpikir berat. Dia sudah tau kenapa semua orang memperhatikannya dengan aneh. Yah, jangan lupakan insiden Tao-Sehun beberapa hari yang lalu. Ah, Kyuhyun juga sempat bilang foto-nya yang tertempel di mading.
Dengan malas, dia melangkahkan kakinya ke arah kelasnya yang letaknya berada dilantai dua.
"Baby Panda!~"
Masalahnya datang.
Sehun memang cocok memiliki kekuatan angin yang sesuai dengan perilakunya yang suka muncul dengan tiba-tiba dan pergi dengan cepat. Eum… seperti mengarah ke jelangkung lebih tepatnya -_-
Tao memutar bola matanya malas. Sehun selalu muncul dengan perasaan tak berdosa— sama seperti dirinya, sih.
"Bisakah kau tidak menganggu ku untuk hari ini saja?"
Sehun malah menyengir lebar. "Aku tidak bisa jauh-jauh darimu."
Tao melempar tasnya dengan malas ke atas meja. Buru-buru dia mendudukan dirinya dan menoleh ke arah Sehun yang kini sudah tepat duduk di sampingnya. "Kau terlalu menjijikan."
"Ah, kenapa hanya kepadaku saja kau bersikap dingin, sih? Kenapa dengan Chanyeol kau bersikap manja-manja? Apa kau lupa atas semua yang telah ku lakukan padamu?" Sehun mulai mendramatisir keadaan.
Ah, iya. Tao seperti kacang yang lupa dengan kulitnya. "Maafkan aku kalau begitu."
Sehun langsung menyengir lebar dan memeluk Tao erat. "Maafmu aku terima. Hehe…"
Tao tak peduli lagi dengan Sehun. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Sehun melirik ke arah Tao yang kini fokus mengutak-atik ponsel berwarna putih yang dia berikan.
"Tao, kau tau tidak?"
Tak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Hmm?"
"Karena kau tidak masuk dan aku tidak masuk, semua orang berpikir kita melakukan one night stand, loh. Apalagi—"
Tao menolehkan kepalanya ke arah Sehun yang menggantung kalimatnya. "One… night… stand?"
"Yaps! Making love."
Mata Tao membulat lebar.
"…Karena foto-foto yang ku upload di beberapa media sosial dengan background kamar dan waktu yang masih pagi. Ah, jangan lupakan kalau kita dikenal sebagai sepasang kekasih. Hehe…"
"APA?!"
Kalau di komik-komik, pasti udah ada petir-petir atau bunyi kaca pecah gitu. Tao melotot ke arah Sehun dan meremas ponselnya kuat-kuat.
"Sudahlah, tak usah dibahas. Itu hanya perbuatan iseng para fans."
Astaga Tuhan, ada lagi manusia sesantai Oh Sehun di dunia ini?
Tao hanya memikirkan, bagaimana jika Kyuhyun yang berpikiran yang macam-macam? Bisa-bisa Kyuhyun akan memandangnya kotor dan waktu buat pendekatan dengan Kyuhyun tidak ada.
"Hah…"
"Ngomong-ngomong, kau jadi bekerja hari ini?"
Tao menganggukan kepalanya malas. Dia sudah malas berbicara dengan yang namanya Oh Sehun. Geez!
"Tidak apa, 'kan, aku tidak menemanimu?"
"Memangnya siapa yang ingin ditemani olehmu?"
"Yah, aku takut kau akan diculik oleh Foe."
Pria manis memutar bola matanya malas. "Kenapa semua orang takut aku diculik oleh foe dan foe's monster, sih? Aku bisa melindungi diriku sendiri. Lagipula, tempat ku bekerja ada Exost yang lain, 'kan?"
"Memangnya kau tau siapa orangnya?"
Tao menggelengkan kepalanya. "Kenapa Sehunnie tidak memberi tahu ku saja dari sekarang?"
Sehun menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tao. "Kau harus bisa mencari tau sendiri, oke?"
~CUP~
Sehun memberi kecupan ringan di pipi kanan Tao yang tembam. Beberapa orang di sana membelalakan matanya kaget. Ada fans Sehun yang beterbaran dimana-mana. Ah, pasti mereka akan menjadi topik hangat lagi.
.
.
.
"Kris, bisa kau kerjakan soal nomor empat belas?" Miss. Song memberi perintah dari meja kebangaannya.
Kris yang saat itu sedang melamun- tidak seperti biasanya, langung menolehkan kepalanya secara tiba-tiba. "Apa?"
"Kerjakan soal nomor empat belas di papan tulis."
Kris melirik sebentar ke arah papan tulis. Oh, itu mudah baginya.
Dengan malas dia berjalan ke papan tulis dan memperhatikan sejenak soal-soal matematika yang terlukis indah. Dengan cepat, tangannya dan otaknya mulai bekerja.
Tiga puluh detik kemudian…
"Kau melakukan kesalahan Tuan Wu."
"Iya?"
"Sejak kapan dua tambah lima belas menjadi dua puluh? Rumus mu juga salah."
Kris mengkoreksi lagi hasil kerjaannya. Dia meringis merutuki kebodohannya. Sudah salah menghitung, salah rumus pula.
"Kau tidak fokus hari ini dalam pelajaranku. Bagaimana jika kau merenung di luar kelas dan membaung masalah pikiranmu dulu Tu—" ucapan Miss. Song terhenti dengan gerakan tubuhnya yang membeku.
Kris membelalakan matanya. Dia coba menoleh kesekeliling dan yang dia dapatkan hanya seluruh teman sekelasnya yang membeku. Tidak perlu lagi memutar otak, Kris sudah tau. Waktu berhenti dan semuanya adalah ulah…
"Astaga, Tao!"
.
(Sebelum waktu terhenti…)
Tao baru saja dua kali mengisi abesensi kelas, tapi kenapa dia yang menjadi pesuruh di kelas karena guru-guru? Apa para guru juga fans Sehun dan memanfaatkan nama dan jabatan guru untuk mengerjai Tao? Lagipula, kenapa Sehun tidak menawarkan diri untuk menjadi pengganti Tao atas nama cinta dan pengorbanan? Jadinya sekarang, dia harus mengantarkan buku tugas para anak-anak kelas tiga. Lebih parahnya lagi, ke kelas Kris!
"Sa… sakit, Hyeong…"
Deg!
Tao menghentikan langkah kakinya. Dia baru saja mendengar suara seseorang yang bergetar. Tapi dia menolehkan kepalanya ke sekeliling, tak ada siapapun. Hanya dia sendiri di koridor ini. Melewati dua kelas lagi, maka akan sampai ke kelas Kris.
Tes…
Tes…
Ah, lagi-lagi dia menangis tanpa sebab. Tao menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan halusinasi gila di otaknya. Dia tidak pernah tau kenapa sering menangis tiba-tiba belakangan ini.
"Hah, apa dia sehat-sehat saja sampai saat ini?"
"Ergh," Tao meringis saat kepalanya berdenyut sakit. Tao tidak bisa melihat dengan jelas orang yang tiba-tiba saja muncul di otaknya. Hanya saja, dia bisa melihat Kris berdiri dengan tatapan sinis di depan orang itu.
"Tao kami selalu terlihat lemah. Sangat tidak adil, bukan? Kenapa kalian yang sudah lemah tidak saja sekalian lemah?"
Buku-buku yang Tao jatuh begitu saja. Tao berjongkok dengan tubuh yang menggigil. Kedua tangan Tao menjambak kasar rambutnya sendiri. Setiap kedua orang itu berbicara di otaknya, kepalanya terasa sangat sakit.
"Hanya memberitahu. Beberapa hari lagi, tepat dua cahaya terpisah setelah enam belas tahun. Cahaya yang terbagi akan bertukar posisi. Kau tau maksudku?"
"Hiks… tolong hentikan…" Tao terisak pelan.
Kenapa di sini tidak ada orang yang lewat dan menolongnya?
Tao semakin menjambak kasar rambutnya. Kepalanya terasa sangat sakit.
"Tao!"
Pandangan Tao buram dan tidak jelas untuk melihat jauh ke depannya. Tapi semakin sosok itu mendekat, Tao tau itu siapa. Kris yang berlari keluar dari dalam kelasnya. Menghampirinya dengan raut wajah yang khawatir.
"K… Kris…"
"Kau kenapa? Jawab aku!"
"Sakit Kris. Kepalaku sangat sakit…"
.
Suasana kelas begitu ramai, karena guru baru saja keluar. Dia bosan karena tidak ada orang yang bisa dia godain. Tao disuruh Mr. Jung untuk mengantarkan buku-buku tugas ke kelas tiga.
Siiiing~
Suasana yang awalnya ramai, mendadak sunyi. Sehun menolehkan kepala ke sekitar dan mendapati semua temannya mematung di tempat. Di pojok kelas ada SungKyu yang ingin jatuh terhenti.
"Apa ini ulah Tao?"
Sehun buru-buru bangkit dari tempatnya dan berlari menuju lantai tiga. Tempat para murid kelas tiga berada.
Tap
Tap
Tap—
Langkah kakinya terhenti, saat dilihatnya Tao yang berjongkok dengan tubuh yang menggigil. Ada Kris yang menatap khawatir memandang Tao di depannya. Buru-buru Sehun menghampiri Kris dan Tao.
"A… apa yang terjadi?" tanya Sehun cemas.
Kris tidak menjawab.
"Aish, kenapa kau malah membiarkannya di sini? Ayo, bawa dia ke ruang kesehatan!"
.
Luhan tersenyum manis pada semua pelanggan yang baru memasuki café miliknya. Cukup ramai untuk hari ini- seperti biasanya.
"Selamat da—"
Siiiing~
"—tang…"
Luhan harus mengerjapkan matanya berkali-kali, untuk memastikan apa yang dilihatnya benar atau tidak. Seorang pelanggan laki-laki yang ingin memasuki café nya berhenti di tempat dengan tiba-tiba.
Luhan melirik ke arah Xiumin yang sedang mencatat menu pelanggan yang juga kini semuanya sudah membeku. Xiumin menoleh ke arah Luhan dengan kening berkerut. Xiumin menghampiri Luhan ke meja kasir.
"Apa yang terja—"
"HYEONG!"
Kyungsoo keluar dari dapur dengan wajah yang pucat. Dia berlari kecil menghampiri para hyeong nya, yang berkumpul di meja kasir. "Apa yang terjadi Luhan Hyeong?"
"Cronos… atau Chronos… yang menghentikan ini semua?" Luhan bertanya pada dirinya sendiri.
"Ini Chronos, Lu."
"Kenapa Chronos melakukan ini?"
Kedua orang yang berdiri di hadapan Kyungsoo, sama-sama menggelengkan kepalanya tidak tau.
.
Chanyeol membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ayahnya yang sedang berpidato di depan para relasi-nya, mematung diikuti orang-orang di sekitarnya. Chanyeol berlari ke arah jendela untuk melihat keluar. Semuanya terhenti.
Oh, ya, dia mempunyai perasaan tidak enak tentang Tao untuk saat ini.
Tap
Tap
Chanyeol menolehkan kealanya ke arah pintu. Ada bayangan orang yang sedang berjalan di sana. Masih bisa bergerak di tengah waktu yang terhenti seperti ini? Tentunya orang itu bukan orang biasa. Kelompok foe atau… Exost? Hanya ada dua kemungkinan.
Triiing~
Chanyeol menghentikan langkah kakinya. Symbol phoenix di lengan bawahnya yang tertutupi kemeja dan jas panjang bersinar. Berarti orang itu adalah… "Exost."
Buru-buru dia mengikuti pria yang bertubuh lebih pendek darinya. Pria itu berdiri membelakanginya, dan dia sedang mengamati keadaan di luar gedung bertingkat ini dari jendela.
"Kau baru menyadari aku Exost, yah?" kata pria tadi.
Chanyeol maju selangkah untuk melihat pria di depannya lebih jelas.
"Suho, semuanya berhenti!" laki-laki lain masuk dan memecah keheningan di antara waktu yang terhenti.
Chanyeol membelalakan matanya. Dua Exost dalam satu waktu. Hebat bukan?
"Aku sudah tau kok, Lay," jawab pria bernama Suho.
Pria bernama Lay mendekatkan dirinya kepada Suho yang kini sudah berbalik ke arah Chanyeol. Chanyeol menatap dua orang di hadapannya dengan senyum tipis.
"Aku tidak menyadarinya. Perkenalkan aku Park Chanyeol."
"Kami sudah tau. Aku Kim Joonmyeon, tapi kau bisa memanggil ku Suho dan ini Zhang Yixing atau Lay… tunangan ku."
Chanyeol nampak terkejut. Tunangan? Padahal Chanyeol bisa menduga usia Suho lebih muda dari Kris.
"Aku Filotes. Kalian?" Chanyeol menganggap ini mudah untuk mengajak kedua Exost di hadapannya bergabung. Memperkuat kelompok mereka.
"Aku Asklepios dan Suho adalah Poseidon."
Chanyeol menganggukan kepalanya paham. Dewa penyembuh dan dewa laut.
"Jadi, ini semua ulah Chronos? Apa dia out of control?" tanya Suho ingin tau lebih jauh.
"Ini semua ulah Chronos. Aku tidak tau ini out of control apa bukan."
Chanyeol menghela nafasnya kasar. Dia khawatir pada keadaan Tao di Seoul sana. Meskipun ada Kris dan Sehun, mengharapkan mereka berdua bukanlah hal yang tepat. Apalagi Kris.
"Ngomong-ngomong, tolong ceritakan kami lebih banyak tentang dirimu." Lay terlihat antusias.
Chanyeol tersenyum membalasnya. "Tentu!"
.
Baekhyun dan Kai sama-sama berdiri di depan pintu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar. Baekhyun tersenyum tipis saat melihat daun terakhir dari pohon di halaman rumah mereka yang ingin jatuh, terhenti sebelum menyentuh tanah.
"Taemin akan kuat dan mereka akan lemah," gumam Baekhyun.
Kai menyeringai. "Bukankah itu bagus? Kita akan dengan mudah menghabiskan mereka yang masih bercerai-berai seperti itu."
Baekhyun menatap daun itu sekali lagi dengan fokus. "Mereka saling melindungi satu sama lain. Tidak seperti kita, yang lemah dan tak terselamatkan, tinggalkan saja."
Kai melirik tajam ke arah Baekhyun yang tersenyum tipis pada daun yang akan jatuh itu.
"Jangan bilang kau luluh hanya karena pertarungan tiga puluh menit itu."
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Aku hanya merasa, jadi mereka itu… pasti memiliki ikatan dan perasaan yang ku—"
BUK!
Kai meninju tembok di belakang Baekhyun. Baekhyun membelalakan matanya ke arah Kai dengan tidak percaya.
"Jangan sekali-kali kau berkhianat dari master, Byun Baekhyun! Dia yang memberikan kita kekuatan ini dan dia mengambil kita. Master yang merawat kita dan memberikan kita makan setiap harinya."
Baekhyun bisa melihat amarah di mata Kai yang tajam. Dia tersenyum simpul.
"Aku mengerti."
.
Tangan kiri Tao mencengkram erat seragam yang dikenakan Kris. Dia ingin memberitahu Kris, kalau sakit di kepalanya benar-benar menyakitkan. Sudah dua puluh menit dan waktu belum berjalan sama sekali. Pria manis itu sudah lebih tenang, meskipun kepalanya masih sakit dan wajahnya masih saja pucat.
"Kau… masih sakit?" tanya Kris pelan.
Tao menganggukan kepalanya pelan. Dia semakin mencengkram ujung kemeja seragam Kris. "Ma… sih…"
Sehun mengelus rambut hitam Tao dengan lembut. Mereka berdua menatap miris. Biasanya Tao yang paling berisik dan tampak bersemangat, pria itu kini justru terlihat sangat lemah dan memprihatinkan.
"Jam berapa sekarang?" Tao melirik Sehun.
Sehun melirik jam tangannya. "Waktu terhenti di pukul sepuluh lebih lima belas menit."
Tao menghela nafasnya. Dia menoleh ke arah Kris. "Bagaimana caranya untuk membuat semua kembali normal? Membayangkan yang indah-indah lagi? Tadi sempat aku coba, tapi tidak bisa."
"Itu tadi karena kau sedang dalam keadaan buruk."
Tao menggelengkan kepalanya. "Bahkan aku sekarang dalam keadaan baik, pun… semua tidak kembali. Bagaimana ini?"
"Bisa kita pikirkan nanti saja? Masalahnya, kenapa kau tiba-tiba seperti itu Taozi?" – Sehun.
Tao memejamkan matanya. Mengingat yang tadi sempat terlintas di otaknya. Dia kemudian melirik Kris yang daritadi diam saja. "Kris…" Kris menoleh ke arahnya dengan perlahan. "Ada apa?"
Tao menggigit bibir bawahnya. Dia harus berhati-hati berbicra ketika sedang bersama Kris. "Kau… maksudku, eum… aku yang lain, dua cahaya akan bertukar posisi setelah enam belas tahun… maksudnya apa?"
Sehun dan Kris sama-sama terdiam.
Tao menundukan kepalanya untuk menunggu salah satu dari mereka untuk berbicara.
"Apa yang kau lihat?" tanya Kris dingin.
"Hanya melihat Kris berbicara tentang itu, dengan seseorang yang aku tidak bisa melihat dengan jelas," jawab Tao seadanya.
Kris kembali terdiam. Pasti yang dimaksud Tao adalah perbincangannya dengan Kyuhyun kemarin. Kris tidak mungkin semakin memperburuk keadaan Tao tentang siapa sebenarnya Kyuhyun.
"Taozi," panggil Sehun, "lebih baik kau istirahat. Jangan bebani pikiranmu dulu, okay, Sayang?"
Tao mendelik tajam. "Kenapa kalian selalu menutupi sesuatu, sih? Terutama kau," Tao menatap tajam Kris. "Kenapa setiap aku bertanya tentang hal itu kau selalu diam, eoh?"
Semuanya terdiam selama beberapa detik.
"Nanti juga kau tau. Lebih baik kau tidur dan beristirahat saja." Sehun menuntun Tao agar berbaring, dengan cepat Tao menolak dan menghempaskan tangan Sehun. "Aku janji Taozi…"
Tao sempat ragu. Beberapa detik dia menatap Sehun dan akhirnya dia menganggukan kepalanya. Sehun membantu Tao untuk berbaring di atas ranjang kecil yang terdapat di ruang kesehatan itu.
.
"Kenapa kau daritadi hanya diam saja?" tanya Sehun setelah memastikan Tao tertidur dengan nyenyak. Sehun mengambil posisi duduk di samping Tao dan membiarkan Kris berdiri di dekat mereka.
"Tentu yang Tao lihat tadi adalah kau dan… siapa dan kapan? Pasti kau langsung mengetahuinya, bukan?" tanya Sehun lagi.
Kris menghela nafasnya dalam–dalam. "Percakapan ku dengan Kyuhyun kemarin. Orang yang dia lihat berdiri di hadapanku adalah Kyuhyun. Aku tidak tau kenapa dia tidak bisa melihat sosok Kyuhyun." Kris menatap wajah Tao yang tertidur dengan lelap. Dua pria tampan itu tau, pasti Tao sangat kelelahan dan butuh istirahat yang cukup.
"Ngomong-ngomong, kau juga tau tentang—"
"Aku tau," sambar Sehun cepat.
Kris menganggukan kepalanya paham. "Kenapa selama ini aku tidak menyadari kau ini Exost? padahal kita dalam satu lingkup yang sama."
"Aku pandai untuk menekan aura ku. Tapi, saat melihat Taozi seperti tempo hari, tanpa pikir panjang, aku menyelamatkannya."
Kris memincing tajam. "Kau menyukainya, kah?"
Sehun tersenyum tipis. "Ku rasa iya. Love at first sight, you know?" terdengar kekehan Sehun di akhir kalimatnya.
"Kenapa semua orang bisa luluh hanya karena dia?" gumam Kris.
Sehun menyeringai saat mendengar gumaman Kris. "Kau juga?"
Kris mendelik tajam ke arah Sehun. "Kecuali aku!"
Sehun nyaris tertawa melihat Kris yang nampak marah, karena pertanyaan ringan yang diucapkan Sehun. Hanya bertanya sedikit dan Kris langsung memasang wajah masam begitu? Sangat terbaca!
Kris maju selangkah agar lebih dekat dengan Tao. Tangannya menuju kancing paling atas seragam yang dikenakan Tao. Satu persatu dia buka kancing itu, hingga empat kancing atas terbuka.
"Kau gila! ingin berbuat mesum?" Sehun mencegah tangan Kris yang ingin membuka kemeja Tao lebih lebar.
"Apa kau selalu berpikiran kotor, heh?" dengan cepat Kris menghempaskan tangan Sehun. Kris membuka lebih lebar seragam Tao yang terbuka beberapa kancingnya.
"A… apa yang ingin kau lakukan padanya?" Sehun nampak gugup dengan wajah yang merah. Ayolah, tubuh Tao itu terlalu bagus untuk ukuran lelaki.
"Kau lihat?" Kris menunjuk ke lambang jam pasir yang berada di tengah-tengah dada Tao.
Sehun mengikuti arah pandang Kris dan matanya mengerjap beberapa kali. "Kenapa emas? Bukankah sebenarnya hitam?" Sehun mengerenyitkan keningnya. 'Bahkan Tao tak terganggu saat ada orang lain membuat hal-hal tak senonoh pada dirinya. Dasar panda tukang tidur!' – inner Sehun.
"Kau juga tau tentang permata tiga dewa? Ra, Osiris, dan Obelisk."
Sehun menganggukan kepalanya.
"Permata kehidupan ada padanya— Ra. Ra dilambangkan dengan warna emas. Kau tau ada di mana permata itu?"
Sehun menggelengkan kepalanya.
"Di sini." Kris menekan pelan lambang di dada Tao. "…di dalam tubuhnya. Cara satu-satunya mengambil permatanya adalah membelah dada ini. Itu sama saja membunuhnya. Iya, bukan?"
Sehun membelalakan matanya. "A… apa? Bagaimana bisa benda seperti itu masuk ke dalam tubuhnya?" Sehun bergedik ngeri.
"Entahlah. Butuh perjalanan waktu ke masa lalu untuk mengatahuinya. Itu berarti…" Kris melirik ke arah wajah Tao diikuti oleh Sehun. "…kita harus membuatnya mengendalikan kekuatannya sendiri untuk pergi ke masa lalu dan masa depan."
Sehun terdiam. Dari dulu dia menyembunyikan kekuatannya dan sama sekali tak menginginkan kekuatan yang dia miliki. Awalnya, dia bingung untuk apa memiliki kekuatan. Terlalu merepotkan karena beberapa hari setelah dia mengetahui kekuatannya, banyak monster mengerikan yang menyerangnya. Dia belajar untuk mengendalikan aura ditubuhnya. Tapi sekarang… dia tau untuk apa dia memiliki kekuatan. Untuk melindungi banyak orang, terutama dunia yang dia tempati ini.; dan…
… wajah Sehun tersenyum manis melihat Tao yang masih saja nyenyak.
Melindungi Tao yang berhasil membuat jantungnya berdebar-debar.
"Izinkan aku bergabung dengan kalian."
Kris menoleh ke arah Sehun.
Sekali lagi Sehun tersenyum tampan. "Aku ingin membantu Exost menjadi satu dan selalu dekat my baby panda!"
Kris nampak terkejut, tapi dengan cepat dia mengubah lagi raut wajahnya. Dia mengulurkan tangannya ke depan dan tersenyum tampan juga. "Kau ini mencari kesempatan saja. Aku terima tawaranmu."
.
"Apa Obelisk sudah menunjukan tanda-tandanya, Soyu?" pria bertopeng dengan pakaian serba hitam berjalan mendekati seseorang yang tengah mengamati layar computer besar di depannya.
Wanita cantik yang memiliki kulit putih itu membungkuk hormat pada orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya. "Saya kira belum Master."
"Kira?"
"Waktu masih berhenti dan computer dan alat pendeteksi juga berhenti bekerja," jawab Soyu.
Master terlihat mengamati layar computer yang menampilkan kode-kode rumit.
"Kalau begitu, panggil Taemin saja dan hancurkan perhentian waktu."
Soyu menggelengkan kepalanya pelan. "Saat ini, masih Chronos yang lebih kuat daripada Cronos, Master. Sangat berbahaya jika menyuruh Taemin untuk mematahkan waktu yang terhenti."
Master tersenyum tipis dari balik topengnya. "Baiklah. Aku akan bersabar."
.
"Lay, apa kau sudah bisa menguasai kekuatanmu?" tanya Chanyeol pada Lay yang ikut bersandar pada jendela di sebelah Suho.
Lay menganggukan kepalanya. "Yah, belum terlalu sempurna. Aku masih harus berlatih lagi. Kalau hanya menyembuhkan luka ringan seperti tergores pisau atau luka bakar, aku masih bisa. Untuk—"
"Bagus sekali!" potong Chanyeol cepat.
Lay dan Suho mengerenyitkan keningnya berbarengan. "Ada apa?"
"Tao nyaris saja dibakar Kris beberapa waktu lalu. Kau tau bagaimana manjanya dia saat aku membersihkan luka di tangannya? Ah, aku yakin, di perpustakaan Kris pasti juga ada agar kekuatanmu meningkat Lay-ssi."
"Kenapa bisa Kris ingin membakar Tao? bukankah Tao juga Exost?" kali ini Suho yang angkat suara.
Chanyeol menggedikan bahunya. Tatapannya mengarah pada pemandangan di luar sana. "Ceritanya panjang. Kalau aku menceritakannya secara tidak detail, kau pasti akan menganggap Kris kekanakan."
Siiinggg~
"…dan bagaimanapun juga…"
Chanyeol, Suho, dan Lay saling berpandangan. Waktu kembali berjalan dengan normal. Mereka langsung mendengar suara ayahnya yang sedang berpidato melalui speaker yang terletak di dekatnya.
Dia tersenyum tipis. "Waktu kembali berjalan. Ayo kembali!"
.
Kyungsoo duduk di sebelah Luhan dengan bosan. Luhan sedang berbuat iseng dengan para pelangannya, seperti memutar-mutarkan sendok di sekeliling mereka dengan kekuatannya. Xiumin sedang membuat boneka salju di luar sana. Xiumin memang sangat menyukai musim dingin. dia mampu beradaptasi dengan cuaca yang cukup ekstrem sekalipun.
"Hah~" Kyungsoo menghela nafasnya kasar. Dia bisa saja bermain-main dengan kekuatan yang dimilikinya, hanya saja dia M-A-L-A-S. "Luhan Hyeong terlalu berbahaya membuat peralatan makan berterbangan. Bagaimana kalau ada orang yang melihatnya?"
Luhan mengarahkan sendok dan piring yang melayang untuk kembali ke tempat semula. Dia melirik Kyungsoo yang menatap bosan ke arahnya. "Waktu kan sedang—"
Siiiinnngg~
Suara riuh segera saja menyeruak di ruang café yang tadinya hening. Kendaraan yang tadi berhenti di depan café mereka sudah melaju seperti biasanya. Xiumin yang berada di luar buru-buru masuk ke dalam untuk melayani pelanggannya yang baru setengah mengucapkan kata Capphuchino; Kyungsoo masuk ke dapur dan Luhan melayani pelanggan yang ingin membayar pesanan mereka.
.
.
.
Sehun mengerenyitkan keningnya saat dua jari Kris menekan lambang jam pasir yang ada di dada Tao. Kris memerintahkannya untuk diam dan tak berbicara apapun. Kris terlihat fokus dengan mata yang terpajam. "Restaurar el tiempo," ucap Kris pelan.
Tak lama, waktu kembali berjalan normal. Kris membuka matanya dan membenarkan seragam Tao yang sedikit berantakan. Sehun masih menatap kagum ke arah Kris yang kini sudah menatap Tao dengan datar.
"Apa yang kau…"
"Hanya mengembalikan lagi waktu yang terhenti," jawab Kris tenang.
"Bagaimana bisa?"
Kris menghela nafasnya kasar. "Memegang sementara kekuatan yang dimilikinya."
Sehun mengerenyitkan keningnya. "Bagaimana caranya?"
Kris menghempaskan tangan Sehun. "Apa yang tidak bisa aku lakukan?" dia menyeringai.
.
Tao mengerjapkan matanya berkali-kali untuk membiasakan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Hal yang pertama yang dia lihat adalah ruangan asing dan keadaannya berbaring di atas ranjang kecil.
Tao ingin mengangkat tangan kanannya untuk menyingkirkan poni yang menutupi sebagian matanya, tapi dia merasa ada sesuatu yang berat menindih tangannya. Dia menoleh dan mendapati Sehun sedang tertidur dengan pulas.
"Sehun?"
Tao menghela nafasnya kasar. Pria tampan itu tidak juga bangun. "Memangnya berapa lama aku tertidur?" dengusnya. Tao melirik jam dinding yang ada di ruangan itu. Kata Sehun, waktu berhenti di pukul sepuluh lebih lima belas menit, dan sekarang sudah pukul dua belas lebih dua menit. Selama itukah?
Tao memejamkan matanya kembali. Dia ingat, saat Tao kesakitan tadi, Kris datang dan juga ada Sehun. Sekarang hanya ada Sehun. Kris? Entah kemana dia pergi. Lagipula, Kris sedang marah kepadanya. Jangan berharap lebih.
"Eummmh…" Sehun menggeliat kecil dalam tidurnya. Tao kembali melirik Sehun yang nampak manis kalau sedang tidur seperti ini. Tao tersenyum tipis dan mengelus rambut Sehun yang lembut di tangannya. "Terima kasih, yah…"
"Sama-sama."
Tao buru-buru mengangkat tangannya dan membelalakan matanya tidak percaya. Sehun bangun dari tidurnya dengan senyum yang lebar. Dia merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku, lalu menoleh ke arah Tao yang masih memasang wajah kaget.
"Hah, padahal ku kira kau akan mencuri ciuman ku diam-diam."
Tao menjitak kepala Sehun. "Apa hanya ada hal-hal mesum di otakmu Oh Sehun?"
"Ah, mungkin kalau itu hanya dekat denganmu aku seperti ini."
Tao memutar bola matanya malas. "Yasudahlah. Terima kasih sudah menemaniku, Sehun-ah." Tao beranjak dari tempatnya.
"Kau mau kemana?"
Tao menghentikan langkah kakinya di depan pintu. "Ku rasa tubuh ku sudah lebih baik. Aku akan mulai bekerja."
Sehun buru-buru menahan tangan Tao yang akan menekan handle pintu. Tao mengerenyitkan keningnya bingung. "Ada apa?" tanya Tao.
Sehun mengengkram kedua bahu Tao dan mmemandang pria manis itu dengan sangat lembut. "Dengarkan aku…" Sehun mulai bersuara, "kau lebih baik beristirahat saja, okay? Tubuhmu ini belum cukup sehat. Bagaimana kalau kau tiba-tiba seperti tadi?"
Tao menghela nafasnya kasar. dia menyingkirkan tangan Sehun dari pundaknya dan dia memencet-mencet kening Sehun dengan jari telunjuknya. Dia tersenyum tipis. "Hey, aku akan bak-baik saja. Kau mengerti? Kenapa kalian semua terlalu khawatir padaku, sih?"
Tao berjinjit sedikit dan mencium pipi kanan Sehun kilat. Dia buru-buru melesat keluar dari ruang kesehatan dengan wajah yang memerah. Tangannya menangkup pipinya sendiri. "Apa yang aku lakukan, sih?" Tao menggelengkan kepalanya berulang kali.
Sehun sendiri yang masih berada di ruang kesehatan memegang pipinya yang beberapa saat lalu dicium oleh Tao. Tangan kanannya mengelus pipinya sendiri. Wajahnya memerah dan matanya mengerjap beberapa kali. Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Akhirnya dia mengakui ku. Yes!"
.
.
.
TBC
.
.
.
#Akhirnya setelah ngaret dari jadwal, sempet update juga ٩(̾●̮̮̃̾•̃̾)۶. Ming sibuk di dunia nyata (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) mulai daftar SMA sana-sini, sakit mata x_x, farewell outing, graduation de el el (..•˘_˘•..) makasih yang udah mau nungguin dengan setia (*з)人(ε*)ノ
Puasa. Maafkan Ming kalau banyak kangeratan dalam dunia ff ini. Saranghae ƪ(‾ε‾)ʃ wo ai ni men ƪ(ˇˇ)ʃ
Ming mau promote, eaps. Follow ig Ming, dums
miasoniyah
Pasti difollback kalau kalian meminta ̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡*
**Ming mau curhat-_- Ternyata provider yang digunain Ming diblokir buat bukan ffn ;A; Nah, terus Ming browsing dan akhirnya menemukan caranya '-'/ lah, pokoknya begitulah. Saranghae~
