Casts : Tao | Kris | Chanyeol | Sehun | Xiumin | Luhan | Kyungsoo | Kyuhyun | Suho | Lay | Kai | Baekhyun |
Genre(s) : School Life || Romance || 'lil comedy || Supranatural || Fantasy || Mystery
Rated : T
Author : BabyMingA
Summary: Kehidupan Tao (17) berubah total saat bertemu dengan Kris dan Chanyeol. || EXOST? Bagian dari Tao? Chronos dan Cronos? Lalu… apa itu Permata Ra, Obelisk dan Osiris? || "Tao benar-benar sudah merubahmu Kris."— Chanyeol. || "Aku Wu Yizi. Anak Kalian di masa depan." || "Hiks… bagaimana bisa aku tidak menangis kalau kau akan mati di masa depan, Kris?"— Tao. ||
.
BOYS LOVE_YAOI_NO FLAME-NO BASH-NO COPY/PASTE-REVIEWS ALLOWED! ^_^…. HAPPY READING!
.
.
.
.
:BabyMingA:
.
EXOST
Inspired by : Kamichama Karin
By : Koge Donbo
.
:Chapter 7:
.
.
.
Kris melempar tanya asal ke sembarang arah. Baju yang dikenakannya sudah tidak tertata rapih. Wajahnya terlalu kusut di banding sebelum-sebelumnya. Dengan langkah terburu, dia berjalan ke pojok rak buku besar di ruang rahasia miliknya. Meskipun tubuhnya tinggi, tapi untuk mengambil buku yang paling atas dari rak setinggi enam meter di ruangan itu, dia harus tetap menggunakan tangga.
Butuh beberapa kali dia menggeser tangga hingga pada akhirnya dia menemukan sebuah buku dengan sampul kulit berwarna biru. Cukup lusuh dan berdebu.
"Ku pikir, kau tidak akan berguna," gumamnya.
Perlahan-lahan dia menuruni tangga dan membiarkannya begitu saja. Kris mengambil beberapa buku lagi dan meletakannya di atas meja. Setelah melepas beberapa kancing segeramnya, dia mulai memasang posisi untuk mulai menjelajahi buku-buku itu.
.
Dua belas adalah angka yang genap. Exost adalah titisan atau jelmaan dari dewa yunani kuno. Mereka bisa memiliki kekuatan yang sangat besar jika digabungkan dengan kekuatan yang lainnya.
Hefaistos dan Anemoi adalah penggabungan yang sangat sempurna. Mereka berpikir api akan padam jika terkena angin. Mereka salah. Api akan bertambah besar jika terkena angin.
Chronos dan Asklepios. Berpikir apa yang bisa dilakukan dengan penggabungan kekuatan yang sangat jauh berbeda ini? Chronos penjaga waktu, pengatur waktu dan Asklepios yang seorang ahli medis. Chronos mampu mengembalikan bagian tubuh yang terpotong;hilang dan Asklepios mampu menyembuhkan seluruh sel-sel yang rusak. Chronos hanya mengembalikan bentuk.
Poseidon dan Zeus. Poseidon adalah air dan Zeus adalah dewa yang memiliki hak penuh atas langit. Petir berasal dari langit dan petir memiliki energy listrik yang cukup kuat. Listrik mampu merambat dengan baik melalui air.
Homonia dan Filotes adalah dewa-dewa yang memiliki jiwa yang baik dan suci. Percaya atau tidak, dibalik kelembutan mereka, mereka bisa menghasilkan sesuatu yang berbahaya secara bersama-sama.
Aether dan Gaia. Gaia mampu membuat kau terkurung dalam sebuah dinding tanah yang pengap. Lalu, bagaimana jika atmosfer di sana berubah-ubah dengan 'bantuan' dari Aether, sang dewa atmosfer?
Apollo dan Ares. Ares adalah dewa yang sangat kejam. Maka dari itu, dia butuh Apollo untuk menenangkannya. Apollo yang mampu memberikan ketenangan cahaya untuknya.
"Yang benar saja! Aku dan bocah ingusan itu akan bekerja sama?" Kris menutup kasar buku itu dan melepaskan kacamatanya.
Dia melirik jam dinding yang ada di pojok ruangan. Masih pukul dua siang dan dia masih memiliki banyak waktu hingga jam makan malam. Dia tak ingin menunda apapun lagi. Cronos akan bangkit dan Chronos akan melemah.
Itu berarti Tao adalah sasaran utama mereka.
Di sini, Kris lah yang memiliki tanggung jawab. Dia harus bisa menyelamatkan semuanya— Tao paling utama. Sementara ini, Ra dan Osiris sudah keluar. Pertanyaannya adalah, dimana Obelisk? Sungguh, Kris benar-benar tak bisa berpikir dimana permata berwarna biru itu berada. Apa ada di tubuh orang sama seperti yang dimiliki Tao?
Sekali lagi dia menghela nafasnya kasar. Setelah memijat tulang hidungya, dia mengambil buku lain. Buku yang tak selusuh buku yang tadi dia baca.
…The secret…
Rahasia.
Semoga Kris bisa menemukan clue dari semua ini.
.
.
.
Sekarang waktu jam istirahat untuk café tempat tujuan Tao akan bekerja. Tao mundur selangkah dan melihat nama café itu.
XOXO CAFÉ
Tao tersenyum tipis saat matanya tertuju pada arah pintu yang ada tag, istirahat. Maka dari itu, dengan wajah tanpa dosanya, dia berjalan masuk, sehingga bel yang kedatangan berbunyi.
Luhan yang saat itu sedang menikmati jjangmyeon miliknya ingin sekali mengumpat orang yang dengan seenaknya masuk, padahal sudah tertulis dengan jelas kalau mereka sedang beristirahat.
"Ma—"
Mata Luhan membulat.
Tao menyengir.
Kyungsoo dan Xiumin mengikuti arah pandang Luhan. Mereka kembali melirik Luhan yang masih menggantung jjajangmyeonn di mulutnya. Antara harus digigit untuk diputus atau dimasukan secara paksa.
"Anyeong~" masih dengan cengiran lebar di wajahnya yang sedikit pucat, Tao membungkukan badannya.
"Ya! Kenapa kau datang kemari?" Luhan ingin sekali menjepit hidung Tao dengan sumpit di tangannya.
"Aku ingin melamar pekerjaan. Boleh, 'kan?" pemuda berambut hitam itu mengeluarkan selembar— buntalan kertas dari saku mantelnya. Dia berjalan mendekat dan meletakannya langsung di meja yang ketiga orang tempati.
Kyungsoo mengambilnya dan membaca isi kertas itu. Xiumin ikut mengintip. Sementara Luhan masih membulatkan matanya.
"Lu," panggil Xiumin sambil menyentuh pundak Luhan.
"Aku diterima, 'kan? Aku baru saja pingsan dan setelah sadar, aku langsung berlari ke sini. Syukurlah waktu sedang berhenti waktu itu. Jadi aku bisa tdur lama, tapi hanya terhitung dua jam. Hehe…"
Please, Tao. Kagak ada yang nanya. Kagak penting juga-_-
Hening.
Oke. Mereka bertiga Tao adalah seorang Exost. hanya saja, terlalu bodoh.
"Baiklah," suara Kyungsoo memecah keheningan. "Apa motivasimu bekerja di sini?"
Tao melirik ke atas dan menletakan jari telunjuknya di bawah bibir. Gaya berpikir yang menggemaskan. Sampai-sampai Luhan, Xiumin dan Kyungsoo harus memalingkan wajah agar tak tergoda dengan wajah Tao yang menggemaskan itu.
"Aku ingin bertemu dengan Exost!" jawab Tao semangat.
Xiumin berdeham memecah kecanggungan yang tercipta. "E… xost?"
"Ya. Kata Kris, mereka adalah jelmaan dewa Yunani. Sama seperti Sailor Moon, 'kan?"
(Please, gak ada hubungannya-_-")
"Kami tidak bisa menerima anak idiot sepertimu," ketus Luhan.
Tao menoleh ke arah Luhan. "Eh, memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa jika tidak digaji, kok. Hanya saja, tolong dari kalian yang merasa dirinya Exost angkat tangan, please~"
Hening.
Ketiga orang di hadapan Tao memasang wajah bingung dengan kening yang bertaut. Tao membalasnya dengan helaan nafas kecewa. Maka dari itu, dia memutuskan berbalik dan memasang wajah memelas.
"Baiklah kalau begitu," lirihnya. "Padahal Exost itu harus saling membantu. Tapi sepertinya kalian membenciku."
Tap
Tap
Tap
Tap—
"Ergh," ada erangan dari bibir Tao saat kakinya akan menjauh lima langkah.
Pemuda manis itu kemudian berjongkok sambil meremas dadanya— lebih tepat kemeja seragamnya.
"!"
"!"
"!"
Kyungsoo yang memiliki refleks yang bagus segera beranjak dari kursinya dan menghampiri Tao yang masih saja memasang ekspresi sakit. Wajah pucat Tao yang memerah dan berkeringat di cuaca yang sangat dingin ini. Seperti apa sakitnya? Apakah sangat sakit?
"Kau baik-baik saja?" Xiumin menghampiri sambil ikut berjongkok di samping lain tubuh Tao.
"Ma… maaf. Dada ku sakit…" Tao menepuk-nepuk dada kirinya.
Dada kiri? Letak jantung? Apa jangan-jangan pria ini terkena serangan jantung karena lamarannya ditolak?
Kyungsoo dan Xiumin membawa Tao ke salah satu bangku dan Xiumin melirik Luhan sambil memberi isyarat untuk mengambilkan minum.
"Ya ampun! Apa yang bisa kita lakukan untuk mu?" pekik Xiumin frustasi.
Tao menggelengkan kepalanya tanda ia juga tidak tahu.
Terdengar helaan nafas dari Xiumin dan Kyungsoo.
Tak lama, Luhan datang dengan segelas air hangat dan memberikannya pada Kyungsoo. Kyungsoo memberi isyarat pada Tao agar meminum sedikit air agar lebih tenang. Tao menerimanya dan menyerahkan kembali gelas yang sudah tersisa setengah airnya.
"Hubungi Sehun… saja…"
Dengan tangan yang bergetar, Tao mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan menyerahkannya pada Kyungsoo. Kyungsoo mengambilnya dan mencari nama Sehun di contact list.
Butuh menunggu selama beberapa detik hingga panggilan itu diangkat.
"Yeobseyo?" sapa Kyungsoo. "Dengan Sehun-ssi?... ini bukan Tao. Eum, bisa kau menjemput Tao di XOXO Café? Dia jatuh sakit." Kyungsoo melirik Luhan yang sedang memperhatikan dirinya. "Ya?... oh, okay. Baiklah. Terima kasih."
PIP
"Apa katanya Kyung?" tanya Luhan.
"Dia sedang ada pekerjaan. Mungkin dia akan menyuruh seseorang untuk menjemput Tao."
.
.
.
Sehun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tangannya terkepal erat sambil menunggu telponnya di angkat di seberang sana. Dia menyesal kenapa tidak memiliki nomor ponsel Kris saja. Kenapa harus nomor rumah yang dia punya?
"Dengan—"
"YA!" Sehun langsung memekik. "Kenapa lama sekali diangkat Wu bodoh?"
"…ma, maaf…"
Sehun langsung terdiam. Suara wanita?
"Apa ada Kris?" suara Sehun melembut.
"Kris sedang berada di perpustakaan. Apa ada pesan?"
Berat hati bagi Sehun untuk membiarkan Kris menjemput Tao di sana. Bukankah dia dan Tao sepakat akan membuat kejutan untuk Kris dengan membawa tiga orang Exost sekaligus?— mungkin Kris tak akan marah untuk ini.
"Bisakah Kris menjemput Tao di XOXO Café? Tolong bilang, Tao sakit."
"Baiklah."
Wanita itu yang terlebih dulu menutup sambungan. Sehun menoleh ke luar jendela dan melihat salju sudah kembali turun dengan perlahan-lahan. Tidak terlalu deras, tapi cukup membuat suhu udara semakin dingin.
"Kau pasti akan baik-baik saja, Baby," lirihnya.
.
.
.
Tok
Tok
Tok
Kris menatap pintu perpustakaannya dengan kening yang berkerut. Siapa yang berani mengusik dirinya, jika sedang berada di ruangan rahasianya?
Dengan malas, dia membuka pintunya dan menangkap sosok Miyoung tengah berdiri dengan tatapan cemas ke arah Kris.
"…Miyoung?"
"Kris! Kau harus menjemput Tao di XOXO Café! Tadi Sehun menolongku kalau Tao sedang sakit."
Hening.
Kris menatap Miyoung dengan kening berkerut. "Apa?"
Miyoung menghela nafasnya. "Tao-sakit-kau-harus-menjemputnya-di-XOXO-café-sekarang-juga."
"Oh"
Oh~
O—
"APA? Kenapa dia bisa di situ? Bukankah dia seharusnya sudah pulang? Kenapa si bocah albino itu, tidak bertanggung jawab dalam mengantarkan Tao pulang? Lalu apa yang harus ku lakukan?"
Ingin sekali Miyoung menjambak rambut Kris saat ini juga.
"Kris, aku punya ide. Bagaimana kalau kau menjemput Tao ke sana?"
Kris terpaku pada Miyoung. "Kau pintar! Kenapa tidak bilang daritadi?"
'Iyain aja, setiap Kris ngomong'
Kris langsung bergegas keluar dari ruangannya. Meninggalkan Miyoung yang menghela nafas sambil menggelengkah kepala.
"Dia terlalu banyak mengubahmu, Kris."
.
.
.
Xiumin menelungkupkan wajahnya di atas meja sambil memperhatikan Tao yang tertidur di depannya. Posisi yang tidak cukup elite untuk tidur bagi orang yang baru saja sakit. Tao duduk di atas kursi dengan kepala yang tertopang pada meja dengan tangan sebagai bantalnya. Tapi, pemuda manis itu nampak baik-baik saja dengan posisinya.
"Lu, jadi dia itu Chronos?" tanya Xiumin.
Jari telunjuk Xiumin bermain-main dengan pipi Tao yang tembam. Tak ada pergerakan sama sekali.
"Stop berbuat usil, Min!" Luhan menjitak kepala Xiumin hingga meringis.
Kyungsoo yang duduk tak jauh dari mereka terkekeh geli.
"Kau jahat! Akan ku adukan kau pada Tao agar dirimu dibekukan dalam waktu!"
Luhan memutar bola matanya malas. "Kau serius mengharapkan bocah ini? Mengenali kita saja yang Exost dia tidak bisa!"
"Luhan Hyeong, seharusnya kau jaga bicaramu. Bagaimanapun juga, Chronos itu paling kuat. Mungkin saat dia sudah menyadari kekuatannya, kau harus menarik kata-katamu," Kyungsoo menimpali.
Luhan jengah dengan dirinya yang terpojokan. "Ya, ya. Terserah!"
Xiumin dan Kyugsoo terkekeh geli, hingga akhirnya mereka harus menghentikan kekehan mereka karena ada seorang pemuda pirang berjalan masuk dengan pakaian yang tak layak dipakai pada musim dingin. Jangan lupakan salju yang turun.
"Dimana Tao?" tanya pemuda itu— Kris.
Xiumin menunjuk Tao yang berada di hadapannya. Dengan langkah tergesa, Kris menghampiri Tao.
"Kau siapanya Tao? Kau Sehun?" tanya Luhan.
"Aku Kris. Ngomong-ngomong, kenapa dia bisa di sini?"
"Dia ingin melamar pekerjaan. Katanya ingin mencari Exost," jawab Xiumin enteng.
Kris mengerutkan keningnya. Dia tatap satu persatu orang-orang yang berada di hadapannya dan kemudian menyunggingkan seringainya.
"Mungkin dia terlalu bodoh, sampai-sampai tidak mengetahui kalian ini adalah Exost." Kris melirik Tao. "Asal kalian tau saja, dia itu orang bodoh jelmaan dari Dewa Chronos."
Ketiga pria manis dan cantik di depan Kris membelalakan matanya.
"Kalian pasti berpikir kenapa aku bisa tau, 'kan?"
Mereka bertiga mengangguk.
"Itu mudah untuk Exost professional seperti ku."
Mereka bertiga berdecak kompak. Xiumin melirik ke arah Tao dan bergantian ke arah Kris.
"Kenapa dia tidak merasakan aura Exost kami?" tanya Xiumin.
"Aku tidak tau. Bahkan saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia tidak mengetahui tentang foe's monster, foe dan bahkan, dirinya sendiri Exost dan memiliki kekuatan hebat pun, dia tidak tau."
"…"
"…tapi, dia memiliki kekuatan yang unik," sambung Kris lagi. "Dia bisa membuat orang-orang yang baru mengenalnya, merasa ingin melindunginya dan menyayanginya. Bukankah begitu?"
Kris berani bersumpah. Ini bukan dirinya yang bisa berbicara seperti ini.
"Kris-ssi," panggil Luhan.
Kris menoleh ke arah Luhan.
"Apa dia memiliki penyakit jantung?"
"Ku pikir, tidak. Memang kenapa?"
"Dia mengeluh dadanya sakit," jelasnya.
Kris memperhatikan Tao lebih dalam. Sama seperti tadi siang. Lelaki manis di hadapannya ini pasti akan tertidur sangat lelap. Seharusnya, Kris membawa mobilnya. Bukan motornya.
"Ku pikir, ini karena penolakan dari permata Ra di dadanya. Aku sempat menggunakan permata itu dengan kekuatanku tadi siang. Aku tidak menyangka akan ditolak seperti ini."
Kris menyentuh pundak Tao secara perlahan dan menggunangnya pelan. Butuh waktu beberapa menit hingga pemuda panda itu sadar sepenuhnya. Masih dengan mata yang menyipit, Tao bisa melihat Kris berdiri di hadapannya dengan samar-samar.
"K… Kris?" Tao memastikan.
Kris mengambil tas Tao yang tergeletak begitu saja di lantai dan menyampirkannya di pundak tegapnya.
Ctak
Dia menyentil kening Tao dengan sayang.
Sayang?
"Aw! Kris!" pekik Tao.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Bocah!"
Tangan Kris menuntun Tao untuk berdiri dengan kasar. Tao meringis. Luhan, Xiumin dan Kyungsoo menatap heran pada Kris yang sepertinya tidak memiliki hati dalam mengurusi orang yang sedang sakit. Mengerikan!
"Kau tidak ingin menunggu sebentar lagi?" tanya Kyungsoo.
"Tidak perlu," jawab Kris dingin.
Luhan menolehkan kepalanya keluar jendela. Salju masih turun dan dilihatnya ada sebuah motor yang terparkir di depan café nya. Bukankah akan sangat buruk jika pulang dalam kondisi seperti ini?
Hei, bagaimanapun sebencinya Luhan pada Tao, dia masih memiliki hati.
"Di luar salju masih turun. Apa salahnya untuk menunggu sebentar sampai reda? Lagipula, tidak akan ada pelanggan yang datang pada hujan seperti ini." Suara Luhan mengintrupsi.
Tao menghempaskan tangan Kris dan berlari kecil ke arah Luhan. Matanya berbinar, sepreti anak anjing yang diberi tulang emas.
"Kau sudah menerimaku, Ge?" tanya Tao penuh pengharapan.
Luhan mendengus dan mengerlingkan matanya.
"Ge~"
.
"Baiklah."
Refleks, Tao memeluk tubuh mungil Luhan dan menggesek-gesekan pipi mereka yang berisi. "Aku mencintaimu~"
Kris menggeram dan menarik tangan Tao dan menjauh dari Luhan. Tao mendengus dan menatap tajam Kris yang memasang wajah datarnya.
"Apa?" tanya Tao galak.
"Kau lupa akan kondisimu? Kau tidak boleh terlalu lelah dan cepatlah pulang!"
Tao mendengus dan malah menghempaskan tangan Kris kembali.
"Kris, aku ini sedang sakit. Di luar salju masih turun dan bagaimana jika aku pingsan di tengah jalan? Lagipula…" tatapan Mata Tao melirik satu persatu pada tiga orang pekerja XOXO Café. "Apa salahnya jika aku mengobrol pada calon teman kerjaku nanti?"
.
.
.
Percayalah, tidak akan ada yang bisa menoleh permintaan Tao saat sudah melakukan bbuing-bbuing. Bahkan Kris si manusia tak mimiliki hati berhasil dibuat tunduk dan sekarang dia malah terududuk di sebelah Tao dengan wajah yang semakin dingin saja.
Kris melirik ke arah Tao yang sedang memuji hot chocolate buatan Kyungsoo. Lalu dia melirik Luhan dan Xiumin yang tersenyum canggung melihat Tao yang terlihat begitu aktif. Siapa yang berpikir anak itu sedang dalam keadaan lemah?
"Tao," panggil Luhan. Tao menoleh pada Luhan dengan kening berkerut.
"Iya?"
"…ada yang ingin kami bicarakan."
Tao meletakan cangkirnya di atas meja dan memandang Luhan dengan serius. "Apa?"
"Kau tidak perlu lagi mencari siapa Exost di antara bertiga Tao-ya," sela Xiumin.
Tao memasang ekspresi bodohnya— bingung.
"Karena… kami bertiga adalah Exost. Aether, Gaia dan Homonia."
Tao mengerjapkan matanya berkali-kali mencerna apa yang mereka katakan.
"Tao?" Kyungsoo mengibaskan tangannya di depan wajah Tao yang masih memasang wajah bodoh.
Kyungsoo sendiri tidak tau kalau Luhan akan membeberkan identitas mereka ini pada Tao secepat ini. Yang dia tau, Luhan kurang menyukai Tao. Tapi sekarang?
.
.
.
Tao menghempaskan tubuhnya begitu melihat karsu berseprei biru sudah memanggilnya untuk ditiduri. Dia memiringkan tubuhnya dan memperhatikan Kris yang tengah meletakan tas sekolahnya di atas meja belajar.
"Kris?"
Kris hanya membalas dengan dehaman singkat.
"Apa aku begitu bodoh sampai-sampai tidak bisa menyadari kalau Luhan gege dan kawan-kawannya itu Exost?"
Kris membalik tubuhnya dan memperhatikan Tao dalam.
"Kris, apa kau pernah bertemu dengan orang seperti ku sebelumnya?"
Tatapan mereka bertemu dan keduanya saling terkunci dalam adu pandang itu. Kris menyadarinya dan dialah yang pertama memutuskan kontak mata mereka.
"Maksudmu?"
Tao menghela nafasnya kasar. "Apa kau pernah bertemu dengan orang yang bodoh sepertiku?"
"Tidak," jawab Kris singkat.
Tao mendengus dan terlentang di atas kasur. Tatapannya memperhatikan langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit. Tampak menenangkan dan membuatnya mengantuk.
"Apa kau membenciku? Masih marah padaku?" kini Tao menatap tangan kanannya yang masih terbalut perban.
Kris diam memperhatikan setiap gerak-gerik yang Tao lakukan.
"Maaf, Kris." Kini Tao kembali memiringkan tubuhnya ke arah Kris. Dia menatap Kris tepat dimata. "Aku sebenarnya ingin memberikanmu kejutan dengan membawa Exost ke hadpanmu sebagai permintaan maaf. Setidaknya, kau bisa melihat ku sebagai orang yang berguna. Hah~ tapi, malah jadi seperti ini."
Kris berani bersumpah. Wajah Tao begitu cantik saat ini. Dia seperti malaikat yang sengaja diutus Tuhan untuk turun dan berbaring di hadapannya seperti ini. Tak ada tatapan menyebalkan yang sering dia lihat dari pemuda bermarga Huang itu.
"Kau masih memikirkan itu setelah apa yang ku lakukan padamu? Mencemaskanmu dan langsung menjemputmu ketika mendengarmu sakit, menembus hujan salju tanpa pakaian hangat sehelaipun. Kau pikir, bagaimana?"
"Kau tidak marah lagi kalau begitu."
Kris mendengus dan hendak berjalan keluar dari kamar Tao.
"Chanyeol mungkin akan pulang malam. Jadi, berlakulah sebagai anak baik, Huang Zitao!" ucapnya sebelum membuka pintu dan pergi.
Tao beranjak duduk di atas tempat duduknya dengan kaki yang disilangkan. Dia menatap lurus ke depan. Ke arah meja rias yang ada kacanya. Dia melihat bayangan dirinya sendiri di kaca itu.
Sedikit melamun dan bergumam tidak jelas.
"Apa aku memiliki kembaran?" dia meraba wajahnya sendiri dan memasang berbagai ekspresi. "Apa dia lebih tampan dariku?" dia mendengus kasar dan merebahkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidur.
Tao mengeluarkan ponsel putih dari saku celananya dan melihat lima miscalls dari Sehun dan lima pesan dari orang sama.
'Sayang, bagaimana keadaanmu? ヽ(´Д`;)ノ'
'Aku menyuruh Kris menjemputmu ヽ(*´Д*)ノ'
'Apa dia sudah datang? (=_=)'
'Tolonglah balas pesan ku, Dear. Setidaknya memastikan kalau kau masih hidup! \(´μ`。)/~~'
"Hello? ヽ(´Д;≡;´Д)丿'
Demi apapun, Tao tersenyum lebar melihat pesan singkat yang dikirimkan Sehun. Sehun itu bukan seorang wanita, 'kan? Dia bukan pria yang suka mendramatisir keadaan dengan berbagai emoticon di setiap akhir kalimat, 'kan?
'Aku baik-baik saja'
Cukup singkat balasan Tao.
Tak butuh waktu sampai dua menit, ponsel Tao bordering dan memunculkan nama Sehun di layarnya. "Cepat sekali!" sebuah panggilan dari Sehun.
Pip!
"Syukurlah kau masih hidup!" pekik Sehun langsung di seberang sana.
Tao terkekeh geli dan beranjak turun dari kasurnya. Dia menarik kursi meja belajarnya sampai depan jendela kamarnya yang mengarahkan pemandangan langsung pada kebun mawar milik Kris.
"Tentu bodoh!"
"Dimana kau sekarang?"
"Di kamar ku."
"Lima belas menit lagi aku akan di sana. Ada yang ingin kau titip?"
Tao menumpukan dagunya pada tangan yang bersandar di bingkai jendela. "Aku ingin bibimbap saja. tolong belikan yang masih hangat."
"Baiklah! Tunggu aku, okay?"
.
.
.
Chanyeol tersenyum setiap kali ada kolega-kolega ayahnya yang menyapanya dan memujinya. Sesekali dia melirik Suho dan Lay yang sedang duduk di salah satu meja dengan candaan renyah. Ah, andai saja dia memiliki waktu untuk bergabung. Salahkan ayahnya yang menyuruh Chanyeol untuk brada di sisinya.
"Putramu begitu tampan, Woo. Apa masa mudamu seperti dia?" ucap salah satu kolega kerja ayahnya.
Chanyeol tersenyum tipis sedangkan wayahnya tertawa lebar.
"Aku bahkan lebih tampan darinya waktu itu," balas Tuan Jiwoo— ayah Chanyeol.
"Apa benar begitu Chanyeol?" teman ayahnya melirik Chanyeol.
"Eum, itu tidak mungkin."
Chanyeol bosan dengan guyonan orang tua. Sama sekali tidak menarik dan tidak ada lucu sedikitpun. Sekali lagi dia melirik ke arah Suho dan Lay yang kini sedang tertawa ke arahnya.
"Ayah, aku ingin bertemu temanku di sana." Chanyeol mencolek pundak ayahnya. Tuan Jiwoo mengikuti arah telunjuk Chanyeol dan mengangguk.
"Jangan lama-lama, okay?"
Chanyeol menyengir dan mengambil langkah seribu ke arah Suho dan Lay yang kini sudah menghentikan tawanya.
"Yang benar saja! aku seperti bodyguard yang harus terus berada disisinya," dengus Chanyeol.
"Hey, kau memang cocok jadi bodyguard dari Park Jiwoo CEO dari Golden Light Hotel yang memiliki cabang dimana-mana. Haha…"
Chanyeol meneguk cocktail milik Suho yang masih penuh tak terjamah bibir siapapun. Aneh. Padahal mereka baru bertemu selama beberapa jam, dan mereka sudah cukup dekat. Hebat sekali!
Tap
Tap
Tap
Tiba-tiba suara menjadi hening, kala suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan yang cukup luas itu. Padahal suasana cukup ramai, tapi langkah ketuk sepatu pria yang baru saja menginjakan kaki di lantai hall room begitu kontras.
Chanyeol merasa tertarik pada sosok pria berbadan tegap, tinggi dan penuh charisma. Wajahnya tidak terlalu tua dengan rambut klimisnya yang berwarna hitam.
Tak lama, dua sosok laki-laki berdiri di belakang pria itu. Chanyeol mengrenyitkan keningnya. Dua laki-laki itu masih sangat muda. Kalau bisa ditebak, sepantaran dengan usianya. Laki-laki yang paling pendek sempat bertemu pandang dengan Chanyeol dan memberikan senyum tipis. Chanyeol membalas senyum dengan kikuk.
"Dia itu Choi Siwon, 'kan?"
Chanyeol menolehkan kepalanya pada Suho.
"Choi Siwon?"
"Dia itu orang yang memiliki kendali besar pada perekonomian di Korea Selatan. Dia pandai sekali memainkan pasar saham. Perusahaannya berada dimana-mana. Bahkan, dia sempat ditawarkan menjadi menteri pertahanan dan ekonomi setiap pergantian presiden. Hanya saja, dia menolek dengan alasan kurang bisa mengemban tugas seberat it," tambah Lay.
Chanyeol menganggukan kepalanya.
Kenapa orang sebesar Choi Siwon dia tidak bisa kenali?
"Bisnis apa yang dia ambil?" tanya Chanyeol.
"Eum, banyak. Periklanan, property, tambang dan lain-lain."
Apa dia orang sekaya itu?
Chanyeol melirik ayahnya yang sedang berjabat tangan dengan Choi Siwon. Terlihat dari wajahnya, Siwon itu orang yang begitu wamah. Nampaknya, semua pebisnis di tempatnya sekarang ini, begitu menyukai sosok Siwon.
Chanyeol kembali melirik ke arah dua laki-laki muda yang kini memisahkan diri dari Siwon. Tampak jelas sekali mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius.
Mereka pengawal Choi Siwon?
.
"Di arah jam tiga, mereka semua itu Exost," ucap Baekhyun.
Kai melirik arah jam tiga. Dimana dia menemukan sosok pemuda tinggi dan dua pria lainnya yang saling duduk berhadapan. Kai melirik tajam pada Chanyeol yang daritadi memperhatikan mereka.
"Pemuda paling tinggi itu memperhatikan kita, Baek. Apa dia curiga? Apa kita kurang baik menyembunyikan aura kita?" ucap Kai.
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Mungkin dia mencoba mengingat wajah kita sewaktu bertarung tempo hari."
Kai menganggukan kepalanya. Dia mengajak Baekhyun untuk mengambil cocktail dari pelayan yang berkeliling membaa nampan berisi beberapa gelas cocktail.
"Tenang saja. Semua bisa di atasi oleh Master."
.
.
.
Sehun benar-benar datang tak lebih dari lima belas menit. Pemuda berkulit putih susu itu datang dengan dua porsi makanan dan buru-buru memberikannya pada Tao yang sedang berkutat dengan buku kuno yang diberikan Kris.
Tak ada halangan berarti bagi Sehun. Kris tak ia jumpai batang hidungnya. Mungkin pemuda itu sudah terkapar di kamarnya.
Di sinilah Sehun sekarang bersama Tao. Duduk di atas kasur sambil memakan bibimbap yang dia beli tadi.
"Sehun, apa aku sudah menceritakan tentang tadi pagi padamu?"
Sehun menggelengkan kepalanya. "Memang tentang apa?"
Wajah Tao merona dan itu nampak menggemaskan di mata Sehun.
"Tentang Kyuhyun sunbae."
Ekspresi wajah Sehun langung berubah asam.
"Tadi pagi kami tak sengaja bertemu di jalan. Kami mengobrol banyak. Kau tau? Dia yang memberitahu kalau fotoku dan dirimu saat berciuman terpampang di madding sekolah!"
Sehun tertawa hambar. Dia meletakan bungkusan bibimbap miliknya ke atas meja kecil di dekat kasur Tao. "Benarkah? Lalu dia bilang cemburu?"
Tao menggelengkan kepalanya. wajahnya tertekuk murung. "Tidak. Bagaimana bisa cemburu? Dia mengenalku saja tidak!"
Sehun mengambil tempat bibimbap Tao yang sudah kosong dan memberikan air putih untuk Tao minum. Tao memberikannya lagi pada Sehun dan menatap Sehun dengan tatapan heran.
"Apa?"
Sehun menyengir lebar. "Ada sisa makanan di sudut bibirmu," balas Sehun sambil menyeringai.
"Oh?" Tao hendak membersihkan sisa makanan yang dimaksud Sehun, dengan tangannya, tapi Sehun sudah mencegah tangannya dan menatap Tao dalam.
"Biar aku yang bersihkan, okay?"
Dalam hitungan mili sekon, Sehun sudah menarik tubuh Tao dan menyambar bibir Tao. Tao membebelalakan matanya terkejut. Sempat sekali Sehun berbuat hal-hal tidak senonoh pada diriya?
Tao mencoba mendorong dada Sehun dengan tenanganya, tapi semakin dia berusaha, Sehun semakin menekan tengkuknya. Memperdalam ciumannya pada bibir Tao. Beberapa kali dia dicium, Sehun hanya menempelkan. Tidak seperti ini sampai pria albino itu melumat bibirnya dengan lembut. Menjilat bibir bawahnya, menggigit dan membuat mulutnya terbuka.
"Se…mmppfhh…"
Sehun menuntun tubuh Tao agar berbaring tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
"Maaf, apa aku menganggu kalian?"
.
Sehun segera menghentikan aktivitasnya dan duduk di samping tubuh Tao yang kini sudah terduduk dengan nafas tersengal. Tao menatap Kris terkejut dang anti melirik Kris tajam. Sehun hanya menyengir lebar tanpa dosa.
"K… Kris, sejak kapan… kau di situ?" tanya Tao hati-hati.
Kris meletakan nampan yang dibawanya ke atas meja belajar. Kemudian dia berbalik menatap Tao dan Sehun secara bergantian. Tatapan yang datar namun menusuk.
"Sejak kalian berciuman dengan panas di hadapanku," jawabnya dingin.
Tao melirik ke arah nampan yang sudah tergeletak rapih di meja belajarnya. "Apa itu?"
"Sebaiknya kau meminum vitamin agar cukup kuat—" tatapan Kris menajam pada Sehun. "— untuk melakukan hal lebih dengan Sehun, Huang Zitao."
Tao merasa kecanggungan yang melanda kamarnya.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Kris," cicit Tao.
"Memangnya aku memikirkan apa?"
"…"
"…"
"…terserah kalian ingin melakukan apapun. Tapi tolong, jangan di rumah ini. Dan kau Tao—" Kris menghela nafasnya kasar. "— setidaknya tolong jangan lakukan di lingkungan rumah ini. Mengerti?"
Kris dengan cepat berjalan keluar dari kamar Tao.
Hening.
Tao merasa tubuhnya lemas. Dia melirik ke arah Sehun yang memandangnya dengan berbinar-binar. Tao berpikir, apa seorang Sehun tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun?
"Sehun bodoh!" Tao mengambil bantal dan memukul-mukulkannya berulang kali pada tubuh Sehun.
"Ya! Ya! Apa yang kau lakukan?" Sehun menghindari segala serangan Tao.
"Aku baru saja berbaikan dengan Kris dan kau membuatnya marah lagi. Sehun bodoh! Mati kau! Pergilah ke neraka paling panas!"
Sehun berbaring karena Tao yang semakin merajalela menyerangnya. Dengan polosnya, Tao duduk di atas bagian privat tubuh Sehun dan tanpa dosa, dia masih saja menyerang Sehun.
"Bodoh! Apa lagi yang aku harus lakukan?!"
"Ya! Stop! Stop!"
Sehun mencengkram tangan Tao dengan perlahan. Dia masih harus berhati-hati mengenggam tangan Tao yang masih terbalut perban. Sehun membuang bantal Tao ke sembarang arah.
Cklek!
Tao dan Sehun sama-sama menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampilkan Kris yang berjalan dengan santainya ke arah meja belajar dan mengambil sesuatu dari atas nampan itu.
"Tenang saja. Aku hanya mengambil ponselku. Kalian bisa lanjutkan," ucapnya santai dan terus berjalan.
Sehun dan Tao saling berpandangan.
"HAAAAH~ BAGAIMANA INI OH SEHUN?"
Seharusnya, yang bagaimana adalah Sehun. Dia harus menahan mati-matian menahan rasa menggelitik di perutnya ketika Tao bergerak-gerak di bagian pribadinya. Hello! Itu pantat Tao tepat berada di situ. Sehun bisa merasakan dengan jelas betapa sexy pantat Tao itu.
Bulat!
Kenyal!
Kencang!
Bergerak liar!
Ingatkan Sehun untuk mendownload banyak film blue nanti.
.
.
.
"Ini seperti bukan dirimu, Lu." Kyungsoo meletakan kue kering yang baru saja dia ambil dari oven di atas meja.
Luhan mencomot satu kue kering bertopping chococips itu dan menoleh ke arah Kyungsoo yang sedang melepas apron.
"Percayalah, saat aku melihatnya kesakitan seperti tadi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu takut. Lalu saat melihatnya tertidur, aku menyadari. Dia masih bersih dan polos— sepertinya. Maka dari itu, aku menerimanya." Luhan menyudahi kalimatnya dengan suapa terakhir dari kue kering pertamanya.
Kyungsoo menggaruk tengkuknya bingung. Dia kurang mengerti Luhan berbicara apa. Terlalu berbelit-belit.
Beberapa saat suasana hening hingga suara lengkingan Xiumin terdengar dari ruang tengah.
"KYYYAAAA!~"
Luhan dan Kyungsoo buru-buru menghampiri Xiumin yang tengah duduk di atas sofa dengan kaki yang menghentak-hentak.
"Ada apa, Xiu Hyeong?" tanya Kyungsoo.
Xiumin menunjuk-nunjuk ke arah televisi. Luhan dan Kyungsoo mengikuti arah tunjuk Xiumin dan sedetik kemudian memutar bola matanya malas.
"Chen akan tampil. Kyaaa~"
Kyungsoo pergi ke dapur dan Luhan mendudukan dirinya di sebelah Xiumin yang sedang fanboying pada sesosok manusia dalam sebuah benda berbentuk kubus tipis itu.
"Dia akan membawakan tiga lagu, Lu. Astaga, aku ingin mati rasanya."
Kyungsoo datang dengan kue kering yang dibuatnya tadi dan meletakannya di atas meja kecil. Lalu dia duduk di lantai dan tubuhnya bersandar pada kaki Luhan.
Dentingan piano terdengar dari televisi. Xiumin turun dari sofa dan berjalan mendekat ke arah tivi. Matanya tidak luput sejengkalpun saat sang MC mewawancarai pemuda berwajah unta— menurut Luhan itu.
'Bisa dimulai Chen-ssi,'
MC wanita tersenyum pada Chen dan berlalu pergi.
Xiumin menggigit bantal sofa dengan gemas. Apa-apaan wanita itu tersenyum semenang-menang dengan Chen 'nya'.
I don't know you, but I want you, all the more for that…
Luhan melirik Xiumin yang tampak berbinar-binar. Yah, tidak heran juga. Chen itu seorang penyanyi baru yang memiliki suara cukup bagus. Suara menenangkan dan sangat keren sekali jika melakukan high note.
Words fall trough me, and and always fool me, and I can't react
Xiumin memekik tertahan saat seorang wanita— sebut saja Juniel masuk menjadi rekan duet Chen di lagu ini. Xiumin menggigit keras ujung bantal sofa di tangannya dan memilin ujung lain dari bantal sofa itu.
And games that never amount
To more than they're meant, will play themselves out
"Kenapa dia harus berduet, sih?" lirih Xiumin.
"Bukankah lagu ini memang dinyanyikan berdua, Hyeong?" timpal Kyungsoo.
Xiumin mendengus. "Apa salahnya kalau Chen menyanyikannya sendiri? Kalau dia menyanyikannya bersamaku yah, tidak apa-apa."
Semuanya jengah dengan Xiumin ketika sedang fanboying seperti ini.
"Suaraku juga tidak kalah bagus, 'kah? –take this sinking boat and point home, we've still got time~ raise your ho—hmmppfh"
Luhan segera menjepit mulut Xiumin dengan tangannya.
Telinganya sudah cukup pengang mendengar pria berpipi chubby itu bernyanyi dengan nada yang bercabang dan naik turun. Dia lebih baik mendengar Desta menyanyi daripada Xiumin-_-")
"Ya! Luhan! Mati kau ke neraka!" Xiumin melemparkan bantal sofa nya ke arah Luhan yang tertawa terbahak-bahak.
"Eum, Xiu Hyeong," panggil Kyungsoo. Xiumin mendeham menjawabnya. "Kenapa Chen selalu mengenakan sarung tangan di tangan kirinya? Apa tangannya kutu air? Atau kapalan?"
"YA!" remot berhasil mendarat dengan mulus di kening Kyungsoo. "Aku saja tidak tau apa-apa. Tidak ada fakta yang membahas itu. Jadi, jangan berucap saat tak ada bukti. Mengerti?"
Kyungsoo mengelus kepalanya yang pasti sudah cukup biru untuk menuju proses selanjutnya. Benjol. Ben to the jol. Benjol.
.
.
.
Chanyeol pulang ke rumahnya yang sudah dalam keadaan sepi. Wajar saja, sekarang sudah jam sebelas malam dan siapa yang ingin bangun pada jam segini? Apalagi besok bukanlah hari libur.
Tubuh Chanyeol terlalu lelah berdiri seharian dan memakai pakaian yang terlalu formal. Siapa yang akan nyaman dengan pakaian ini jika berlama-lama? Dengan langkah pelan, Chanyeol berjalan ke arah dapur untuk mengambil minnum dari dalam kulkas.
Ctek!
Lampu dapur menyala dan menampilkan sosok pemuda dengan mata yang masih menyipit mengerjapkan berulang kali kelopak matanya. Chanyeol terkekeh geli melihat penampilan pemuda itu. piyama berwarna biru bermotif panda, slippers berbentuk kepala panda dan rambut hitam yang acak-acakan.
"Chanyeol Gege sudah pulang?" tanya Tao dengan suara parau.
Dia berjalan mengambil gelas dengan menyeret kakinya yang masih terasa seperti jelly.
"Baru saja. Semua sudah tidur?"
Tao mengisi gelasnya dan mengangguk menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Apa aku menganggumu sampai kau terbangun?"
Tao meletakan gelasnya yang kini sudah kosong. Dia menyeret kakinya ke arah meja makan dan menarik kursi untuk duduk di sana.
"Tidak. Aku hanya haus dan tiba-tiba menemukan Chanyeol Gege di sini."
Chanyeol menganggukan kepalanya paham. Dia menarik kursi di sebelah Tao duduk. Dia perhatikan tangan Tao yang masih terlilit perban putih.
"Kau sudah menggantinya?" tanya Chanyeol sambil mengelus tangan itu.
"Sudah. Tadi siang sebelum pulang, Sehun membantuku."
"Sehun datang kemari?"
Tao menganggukan kpalanya.
"Saat ada Kris?"
"Ya~"
Tao menguap dan memperhatikan wajah Chanyeol yang nampak lelah sekali.
"Tao, apakah tadi siang kau out of control?"
Tao menggelengkan kepalanya samar. "Kepalaku sakit. Itu saja. Aku juga tidak tau waktu bisa berhenti."
Chanyeol mengelus rambut Tao dan tersenyum tampan. "Akan kubicarakan dengan Kris nanti."
Tao mengangguk kecil dan menumpukan kepalanya di atas meja. Dia tatap Chanyeol dengan pandangan yang setengah menutup.
"Aku bertemu dengan tiga exost, Ge."
Chanyeol menghentikan usapan tangannya dan menatap terkejut ke arah Tao. "Apa? Kalau begitu aku juga!"
"Benarkah?"
"Bahkan aku menemukan dua. Mereka sudah bertunangan. Namanya Suho dan Lay. Seorang Poseidon dan Asklepios. Hey, kau bisa disembuhkan dengan Lay kalau bertemu."
Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah Tao lagi dan mendapati pemuda manis itu sudah tertidur dengan dengkuran halus. Hah, dia berbicara lebih dari sepuluh kata, hanya dijawab dengan dengkuran halus.
.
.
.
Kyuhyun menaikan kacamata yang sedikit melorot dari hidungnya. Sekarang dia sedang fokus pada setumpuk kertas yang berserakan dengan cantik di meja ruang tengah. Di depannya ada sosok Minho yang ikut memeriksa kertas-kertas itu.
Beberapa saat kemudian, Taemin datang dengan wajah yang sudah kusut. Dia terbangun dari tidurnya; sepertinya.
"Kau terbangun? Apa kami terlalu berbisik?" tanya Kyuhyun tanpa melepaskan fokusnya dari kertas-kertas.
Taemin menggeleng dan duduk di sebelah Minho. "Aku ingin menemani kalian. Lagipula, aku tidak terlalu lemas seperti kemarin-kemarin, kok!"
Keduanya menganggukan kepalanya paham dan kembali berkutat dengan kertas-kertas yang berisi usulan-usulan para siswa. Dari yang berguna sampai hal tak berguna sekalipun.
Taemin mengambil kertas terdekat dan membacanya dengan teliti.
"Hyeong!" pekiknya kemudia.
Kedua orang yang lebih tua darinya menolehkan kepalanya ke arah Taemin dengan wajah heran.
"Lihat ini! Ada usul bagus untuk musim dingin ini." Taemin menyerahkan kertas itu kepada Kyuhyun dan Kyuhyun membacanya.
'Aku Choa dari kelas dua. Bagaimana kalau musim dingin ini kita mengadakan acara ke pemandian air panas untuk kelas dua dan tiga? Semoga ide ku diterima Sunbae-ssi~'
"Ku rasa, bukan ide yang buruk. Menginap dan berendam air panas, bukanlah ide yang buruk. Kau tau? Cuaca cukup dingin untuk ini."
Kyuhyun mengetuk-ngetuk pulpennya ke meja dan memasang wajah berpikir.
"Kau juga bisa memanfaatkan ini sebagai pendekatan dengan bocah Chronos itu," tambah Minho.
Kyuhyun memasang senyum miring dan menatap berbinar ke arah Minho.
"Kau pintar!"
"Hyeong~" Taemin menyela sambil menarik ujung lengan kaos yang dikenakan Minho. "Aku yang memilihkan itu. Bolehkah aku ikut?" rajuk Taemin.
Minho mengelus puncak kepala Taemin dengan lembut dan sayang. Dia berikan sebuah senyuman malaikat untuk pria bernama Lee Taemin itu. "Kau bisa mengajak Baekhyun dan Kai, Sayang~"
Setelahnya, ada pekikan girang yang terlontar dari bibir Taemin yang masih terlihat sedikit pucat.
.
.
.
Pagi ini seperti biasanya. Chanyeol, Tao dan Kris berjalan bersama menuju sekolah. Nampaknya, Kris dan Chanyeol sudah kembali akur setelah pertengkaran beberapa hari yang lalu. Hanya saja, meski api sudah mulai biru bagi dua manusia tiang itu, namun untuk Kris dan Tao, api masih berwarna merah.
Lihatlah, syal tebal berwarna kuning yang menenggelamkan separuh wajah Tao. Oh, jangan lupakan mantel coklat tebal yang terpakai dengan indah ditubuhnya yang tenggelam. Tao berani bersumpah, dia seperti seorang obesitas yang kesusahan berjalan.
Lalu, ide siapa yang memakaikan Tao seperti itu?
.
Kris Wu!
.
Pemuda Chinnese-Canadian itu dengan senang hati masuk ke kamar Tao dan menunggu Tao selesai mandi dengan wajah datar dan gumpalan mantel dan syal di pangkuannya. Untung saja Tao memakai seragamnya di kamar mandi. Kalau tidak, mungkin dia sudah tidak perawan lagi pagi ini.
"Kau tampak manis jika seperti itu, Taozi~" nada mengejek seorang Kris sangat kentara.
Tao menatap Kris tajam. Ingin sekali dia menjambak rambut pirang itu di depan umum seperti ini.
"Hey, Kris. berhenttilah meledek Taozi. Bukankah kau sendiri yang menyuruhnya seperti itu?" Chanyeol benar-benar penjaga perdamaian yang baik.
Kris tertawa rendah dan merangkul Tao serta menarik pemuda panda itu agar lebih dekat dengannya. "Ku lakukan ini karena aku peduli. Bagaimana kalau kau pingsan di atas tumpukan salju ini hanya dengan mantel tipis?"
Percuma Kris memiliki IQ tinggi, jika pemikirannya pendek.
"Demi cinta~ yeah!" Kris bersenandung kecil.
Chanyeol menatap tidak percaya pada Kris. Kenapa Kris nampak begitu riang pagi ini? Kris bisa tertawa dan berani berbuat sesuatu yang gila dan… hal yang sedikit lucu.
"Kris, kau mimpi apa semalam?" tanya Chanyeol.
Kris langsung kembali bersikap normal dan memasang wajah datarnya kembali. Sadar akan dirinya yang masih merangkul Tao erat, Kris segera melepasnya dan mendorong Tao pada Chanyeol.
"Maaf. Ada setan yang merasuki tubuh ku tadi."
Wajah Kris merah padam; malu. Dia merasa ini bukan dirinya. Sejak kapan dia berbuat gila? yang dia pikir, dirinya menjadi sangat tidak wajar, ketika dia melihat Sehun dan Tao berciuman di kamar kemarin. Lalu gilanya semakin menjadi-jadi saat Tao duduk di atas Sehun— ah, lebih tepatnya di atas bagian privasi Sehun.
Tahukah kalian apa yang Kris lakukan di kamarnya?
Dia berguling ke sana kemari di atas kasur dan membuang pikiran kalau Tao sedang bercinta dengan Sehun siang itu.
…TING!...
Tiba-tiba saja sebuah ide muncul. Sehun suka Tao yang bertubuh, ekhem… sexy, 'kan? Kalau begitu, kenapa tidak ditutup saja?
VOILA!
Jadilah Tao seperti kepompong berjalan saat ini.
.
.
.
Ada satu titik yang menjadi pusat perhatian para siswa-siswi Hannyoung High School pagi ini. Papan Mading yang kemarin-kemarin ramai oleh para wanita, kini juga ramai oleh para lelaki. Apa ada berita Megan Fox dan Taylor Lautner akan datang ke sekolah? –sepertinya tidak.
"Permisi," suara Chanyeol berhasil membuat suasana hening dan para gadis menoleh ke arahnya.
Satu…
"Kau membuat kita dalam bahaya, Chanyeol!" –Kris.
Dua…
"Sepertinya kalian harus lari marathon pagi ini," –Tao.
Tiga…
.
.
.
"KYYYAAA! PARK CHANYEOL/KRIS WU!"
"AYO KITA PERGI BERSAMA!"
"KITA BISA BERBUAT BANYAK DI SANA!"
"MANDI BERSAMA!"
"KYAAA"
"KYAA"
…dan kyaa-kyaa lainnya-_-
Tao memeluk tiang di sebelahnya erat. Dia seperti berada di antrian pengambilan THR sebelum lebaran. Puluhan manusia itu langsung berlari mengejar Kris dan Chanyeol.
Tao menatap miris.
Kasihan juga mereka berdua. Terima kasihlah pada Tuhan yang telah memberikan wajah manis saja untuknya.
Tao melirik mading yang sekarang hanya lima orang saja yang melihat. Dia berjalan mendekat dan harus sedikit berjinjit, karena orang di depannya lebih tinggi.
Mata Tao membelalak lebar ketika membaca apa yang ada di hadapannya itu.
'Wisata ke Jimjilbang! Banpo Hanjeungmak! Khusus untuk murid kelas dua! Jangan lupa berkumpul di sekolah jam delapan tepat, pada Hari Jum'at, November, 10-xxxx. Kami menunggu kalian~
-Ketua OSIS & Wakil Ketua OSIS—'
Tao menahan nafasnya. Pergi kemandian air panas? Ide yang terlalu bagus untuk menjernihkan pikiran. Lagipula, dia tidak pernah pergi kepemandian air panas sebelumnya. Ah, selama itujuga dia tidak akan bertemu Kris yang menyebalkan. Hanya saja, dia akan bertemu…
"My baby honey, Zitao~"
Pemuda itu.
Oh Sehun!
.
.
.
"Kau akan ikut?" tanya Sehun sambil memperhatikan Tao yang sedang memperhatikan keadaan di luar jendela.
"Tentu saja aku ikut! Aku ingin bertemu dengan Kyuhyun Sunbae selama dua puluh empat jam non-stop! Dan kau!" Tao menunjuk Sehun tajam. "Jangan mengangguku, okay?"
Sehun menyengir lebar dan menganggukan kepalanya.
Hanya mengiyakan perkataan Tao apa susahnya? Toh, di sana dia bisa berduaan dengan Tao juga. Bagaimana dengan sekamar? Lalu melakukan oh yes dan oh no? Melakukannya di dalam kolam juga cukup baik. Di kamar sudah terlalu mainstream.
Ya Tuhan! Sehun sedang membayangkan Tao mendesah di bawahnya. Memanggil namanya dengan manja dan penuh nafsu.
Plak!
Sehun buru-buru menampar pipinya sendiri. Apa yang baru saja dia pikirkan? Sekolah bukanlah tempat yang baik untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Pengecualian untuk toilet sekolah.
"Huh?" Tao menatap aneh Sehun.
"Zitao~" panggil Sehun manja. Dia bergeser ke arah Tao sambil menyengir. "Kau tau tidak?"
"Apa?"
"Di jimjilbang, kita harus bertelanjang saat masuk ke dalam kolam."
Uhuk!
"Apa?" Tao menatap horror Sehun.
"Apa kau tidak pernah ke jimjilbang sebelumnya? C'mon, kau itu kuno sekali!"
"Ya!" Tao memekik dan meninju lengan atas Sehun. "Ku pikir aku ada waktu bersenang-senang seperti itu?"
Sehun menyengir. "Tapi, percayalah. Kau akan diberikan baju tipis oleh petugas di sana. Selama di sana, kau akan diberikan baju khusus jimjilbang. Kau tau? Bahannya sangat tipiiiss dan mudah sobek. Lalu saat mandi, kau harus bertelanjang bulat. Menjaga sterilisasi air di sana."
Tao bergedik horror. "Kau… kau tau darimana?"
Sehun sangat suka mengerjai Huang Zitao ini. "Kau kira, aku sudah berapa kali di sana? Sudah puluhan kali!"
Oh, ya ampun!
Selama ini Tao hanya pernah bertelanjang di depan Shi— kucingnya.
Lalu, apa ini? Bertelanjang di depan banyak orang? Lalu tadi apa kata Sehun? Diberikan baju tippiiisss sekali? Tidak. Tao belum siap untuk menghadapi cobaan dari Tuhan ini.
Tapi, tunggu!
Tao menyeringai.
Kyuhyun ketua OSIS, 'kan? Berarti… berarti… dia ikut.
"TIDAK MASALAH!" Pekik Tao bahagia.
Tao mengguncang-guncang bahu Sehun keras.
"Tidak apa-apa! Aku hanya akan duduk dipinggiran kolam dan memperhatikan Kyuhyun Sunbae mandi. Ide bagus, bukan? Lalu masalah pakaian tipis, aku bisa menggunakan selimut!"
Sehun sweetdrop.
Pasrah.
Kenapa jadi begini?
Tuhan tolong, diriku~
.
.
.
"No! No! No! Kau tidak bisa ikut Huang Zitao!" Kris menjepit hidung Tao dengan sumpit di tangannya.
Sekarang waktu istirahat dan atas inisiatif Chanyeol, mereka berdua menjemput Tao untuk makan bersama-sama di kantin sekolah. Beruntunglah Sehun tak bisa ikut, karena ada beberapa tugas tambahan dari Mr. Wonbin.
"Ah! Kris bodoh!" Tao mengusap-usap hidungnya yang memerah.
"Kris benar Tao. Kau kan sedang dalam kondisi kurang sehat saat ini." Chanyeol mennimpali.
"Tapi Ge, Sehun akan ikut. Lagipula, Kyuhyun sunbae juga akan ikut dalam acara itu."
Kris yang tadi menikmati ayam gorengnya segera melirik tajam Tao. Sehun ikut? Kyuhyun juga ikut? Oh, bad! Itu sesuatu yang buruk.
"Kalian berdua juga bisa ikut untuk menyewa kamar sendiri. Terserah apa yang akan kalian lakukan. Yah, Ge boleh, yah?" Tao menautkan tangannya. Dia dekatkan wajahnya ke arah Chanyeol dengan tatapan yang berbinar-binar. "Chanyeol Gege~"
Chanyeol melirik Kris yang menggerakan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Kemudian dia lajutan lagi makannya menikmati ayam goreng yang hanya tersissa beberapa.
"Terserah kau saja. Tapi ingat!" Chanyeol memegang pundak Tao erat. Mereka saling bertatapan cukup lama. Kris nyaris tersedak melihatnya. "Jangan jauh-jauh dari kami nanti, okay?"
Habis gelap terbitlah terang
Itulah perumpaan untuk wajah Tao sekarang.
Tao mengguncang-guncang bahu Chanyeol dan mencium pipi Chanyeol berulang kali. Setelah itu, Tao memeluk Chanyeol erat dan menempelkan kedua pipi mereka. Tao menggesek-gesek pipinya pada pipi Chanyeol.
"Terima kasih~"
Kris? Bagaimana pemuda itu?
Pemuda itu sekarang tengah menyumpit tulang ayamnya di depan mulutnya yang menganga tak percaya pada pemandangan di hadapannya.
.
.
.
"Tuan Kang, bukankah dua hari lagi ulang tahun Kris?" Miyoung melingkari tanggal 6 di kalender duduk yang di pegangnya.
Tuan Kang yang saat itu sedang mengelap gelas-gelas menghampiri Miyoung dan mengikuti arah pandang Miyoung. "Anda benar, Youngie."
Miyoung meletakan kalendernya dan menatap ruang tengah yang nampak sepi dan gelap. Kris yang meminta agar seperti itu. Tak ada yang boleh merubah apapun. Sayang sekali, rumah mewah dan besar, tapi terkesan horror dan sepi.
"Bagaimana kalau kita membuat pesta ulang tahun?" usul Miyoung.
"Apa tidak apa-apa dengan Tuan Kris?"
Miyoung terkekeh kecil. "Selama ada panda manis itu, apa yang bisa Kris lakukan?"
Tuang Kang tersenyum tipis. "Saya berani bersumpah, Tuan Kris terlihat lebih hidup saat Tuan Tao datang."
Miyoung tersenyum hingga matanya membentuk bulat sabit. "Kau juga merasakannya? Ah! Dia memang anak yang ajaib."
Tuan Kang kembali ke pekerjaan awalnya. Masih banyak yang harus dia bersihkan setelah ini.
"Saya curiga, Tuan Kris menaruh hati pada Tuan Tao. Kemarin saya melihat Tuan Kris langsung berwajah kurang suka saat teman Tuan Tao datang. Lalu saya juga sempat melihat wajah Tuan Kris semakin kurang enak, saat keluar dari kamar Tuan Tao untuk ke dua kalinya."
Miyoung tersenyum kecil.
"…saat saya ingin menyerahkan vitamin untuk Tuan Tao, Tuan Kris segera mengambil alih vitamin itu."
Miyoung nyaris saja memekik nyaring saat iu juga. Setidaknya, Kris bukan lagi manusia robot tanpa ekspresi. Rumah yang sepi ini akan sedikit lebih ramai dan berwarna.
.
.
.
_TBC_
*Hallow~ ٩(̾●̮̮̃̾•̃̾)۶ akhirnya saya muncul dengan muka bahagia. GILA! KAKAK KELAS MING CAKEP, OY! *hebring* terus, terus, Ming tukeran ID line. Tapi sayangnya, tidak nge-chat sama sekali (˘̩̩̩^˘̩̩̩ƪ)
Maaf part ini lagi nista. Ming sudah buat cukup panjang. 7.107 words, Bro ƪ(‾ε‾)ʃ betewe, suara Kris lembut banget, ye ε(•̃•̃)з gak heran dia ngaku-ngaku lead vocal ._.) I miss you Wu Yi Fan. Ada rumor dia Agustus kembali. Hikseu~ Amiin (ノ`Д´)ノ
Maaf telat. Janji seminggu sekali tapi, saya lupa diri kalau sudah SMA -_-")/ Doa'kan semoga jadi anak IPS, nih._.)/
OH, IYA! KENAPA JADI ADA KAPEL TAO-RINI? SIAPA SEME, SIAPA UKE KALO GITU, DONG? -_- APA PERLU MING FOLLOW MEIPAI TAO, TERUS ADA KABAR TAO-MIA, GETOOH? ._.
.
Balasan Review :
AnggiXOXO : Udah di update. Hehehe ^^
peachpetals : Jiah, Limbad masa -_-" Di sini official couples, kok ^^ HunHan tetep ada~
Baekhugs0420 : Sudah dilanjut ^^
ochaken : Nanti Kris sama, Ming. Hoho~
Tentu saja ^^
Wah, ada kakak kelas._. Saranghae~
Tao itu IQnya salto._.
NaughtyTAO : Kenapa KrisMing ganteng banget(?)
Hahaha… aku sengaja buat mereka lucu kayak di manga-nya ^^ Jin-Karin
raniazzara :KaiBaek bisa aja dibikin mati(?) *dibakar*
Hahaha…
BangMinKi:Nanti Kris dimasukin ke oven aja biar anget. Hoho~
KT CB : Makasih, yah
Couphie :Kamoeh dukung aku sama Kris aja(?)
Chap nya diupdate bulan ini(?)
Haru3173 :Pertanyaan apa? Bukan trigonometri, 'kan? T^T
Isnaeni love sungmin :Makasih dan sudah dilanjut ^^
Khasabat04: ._.makasih sudah review ^^
Juniel Is A Vampire Hybrid:Yah, biar awal-awal dulu HunTao. Tenang aja, ini bakal tetep KrisTao, kok ^^
RinZiTao :Kamu dicium ming aja sini :* /kedip sexy/
LVenge :Terima kasih ^^ sudah dilajut :*
valensia1630 :Done ^^ Thanks and keep reading :*
Kirei Thelittlethieves :Syudaaaah ^^
Prince Changsa :Mungkin Kai baik setelah kulit Sooman sudah ada ekstraknya._.
HyuieYunnie :Terima kasih ^^ Iya, ini official couples, kok ^^
arvita. kim :Bukan. Aku pake provider "Think again" *clue MOS._.*
Semua provider di Indo, di block sama internet pofistif T^T
junghyema : Aku sibuk, Sayang. Maaf jarang pulang, Abang jarang pulang~
Sebenernya mau pegang-pegang dada Ming, eh, ternyata ingat kalau ini bukan munkhrim-_-
XVlove : terima kasih^^ Ini karena diambil dari Kmaichama Karin. Hehe…..
SimbaRella:Sama HunTao aja klepek-klepek, bagaimana kalau KrisMing?._.
Xyln:Syudah dilanjut ^^
Aviael Panda : Aku sudah bosan Tao jadi cabe biarkan kali ini Sehun yang jadi terong._.
krispandataozi :Impian mu tak bisa terwujud sayang. Tao hanyalah milik Kris *kibas jubah*
fallforhaehyuk :Yeah. Thank you^^
krisTaoPanda01 : Main makan-makan aja. Puasa tau :p
YasKhun : Iya absurb. Kayak yang bikin -_-
Yuan Lian : Jiah, KrisTao aja yah^^ Tehehihihi!
Maple fujoshi2309 : Sudah update.
Iya providernya itu^^
Pake anomyx kalau gak salah namanya._.
AulChan12 : Gak papa, kok ^^ Syudah dilanjut~ Hehe… hayoloh, Kris udah liat di chap ini. Malah lebih parah. KKKK~
Anditha Zhang : Gak papa, kok ^^ sudah dilanjt ^^
lee sang jin : Welcome ^^ Terima kasih. Sebenarnya, seminggu sekali. Tapi ternyata, selalu benturan sama sekolah -_- jadi, ngaco gini. Haha
alianablack13 : Hoho~ yang bikin ceritanya juga manis, kok #slapped
TaoziFanfan : AAAA, AKU JUGA ._.
Misha Haruno : Sepertinya baru pertama kali. Hehe ^^ Iya, jadi Jin. Terima kasih~
kristaoftw :Hehe, sudah dilnjut. Terima kasih. Memang internet positif mengesalkan -_-"
YoNey : Ya, ampun, Tao kek Himeka gak cocok -_-" Versi GS? Mianhae, aku gak bisa buat FF GS~ Hikseu~
Terima kasih.
#VOILA! TERIMA KASIH YANG SUDAH REVIEW! ^^
MAAF ADA YANG KESEBUT, SALAH NAMA. POKOKNYA, AKU BACA SEMUA REVIEW KALIAN KOK, HEHE ^^
:BabyMinga:
