Casts : Tao | Kris | Chanyeol | Sehun | Xiumin | Luhan | Kyungsoo | Kyuhyun | Suho | Lay | Kai | Baekhyun |

Genre(s) : School Life || Romance || 'lil comedy || Supranatural || Fantasy || Mystery

Rated : T

Author : BabyMingA

Summary: Kehidupan Tao (17) berubah total saat bertemu dengan Kris dan Chanyeol. || EXOST? Bagian dari Tao? Chronos dan Cronos? Lalu… apa itu Permata Ra, Obelisk dan Osiris? || "Tao benar-benar sudah merubahmu Kris."— Chanyeol. || "Aku Wu Yizi. Anak Kalian di masa depan." || "Hiks… bagaimana bisa aku tidak menangis kalau kau akan mati di masa depan, Kris?"— Tao. ||

.

BOYS LOVE_YAOI_NO FLAME-NO BASH-NO COPY/PASTE-REVIEWS ALLOWED! ^_^…. HAPPY READING!

.

.

.

.

:BabyMingA:

.

EXOST

Inspired by : Kamichama Karin

By : Koge Donbo

.

:Chapter 8:

.

.

.

Chanyeol diculik oleh Miyoung ke dapur. Membiarkan Kris dengan kening berkerut di ruang tengah sendirian sambil menonton tivinya. Di dapur sudah ada Tuan Kang yang berdiri di depan papan tulis dengan spidol di tangannya. Chanyeol pikir, ada pelajaran mendadak dari Miyoung?

"Dua hari lagi ulang tahun Kris," ucap gadis cantik itu.

"Lalu?"

Miyoung melangkah ke samping Tuan Kang. "Bagaimana memberi sedikit kejutan?"

"Kejutan apa?"

Miyoung mengetuk-ngetuk papan tulis yang sudah bergambar sebuah gambar abstrak di sana.

"Melakukan sebuah drama? Penculikan Tao dan membuat Kris khawatir. Kau setuju?"

Miyoung menunjuk gambar panda yang sedang digendong oleh beberapa orang. Oh, nampaknya dia mulai mengerti dengan ini. Seringai tipis muncul di wajah tampannya.

"Aku ikut! Jelaskan padaku jalan ceritanya!"

.

Kris menatap Chanyeol dengan potongan crroisant yang masih berada di mulutnya. Chanyeol memasang wajah muram dan dan duduk dengan lemas di samping Kris yang masih menatapnya heran.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Kris, setelah menelan dengan sempurna crroisant nya.

Chanyeol mendengus kasar. "Tidak ada. Miyoung membawa berita buruk untukku."

"Berita apa?"

Chanyeol mendelik ke arah Kris. "Apa kau sebegitu ingin tahunya, 'kah?"

Kris mendecak sebal dan melempari Chanyeol dengan botol minuman bersoda yang isinya masih setengah. Terdengar suara kesakitan saat botol itu mendarat dengan mulus di kepalanya yang berambut coklat gelap.

"Ku bunuh kau Kris Wu!"

.

.

.

Tao membuka pintu rumah dengan hembusan nafas lega. Jujur saja dia terlalu lelah bekerja sebagai pelayan di hari pertamanya bekerja di XOXO Café. Tao mengganti sepatunya dengan sandal rumah berwarna merah yang sudah selalu tersedia di dekat pintu.

"Aku pulang!"

Tak ada jawaban. Tao hanya mendengar suara gaduh dari arah ruang tengah. Penasaran karena biasanya tak pernah ada keributan di rumah yang sunyi dan terkesan suram itu, Tao melangkahkan kakinya ke sana dan—

BUK!

Sebuah sandal menyambut kedatangannya di wajah.

"Ah!" dia memekik dan mengusap-usap wajahnya yang terasa panas dan sakit sekaligus.

Dua orang yang tengah sibuk dengan aktivitasnya menoleh ke sumber suara saat mendengar pekikan Tao.

"Tao?" gumam Kris.

Chanyeol mengerenyitkan keningnya dan dia melihat sebuah sandal di dekat Tao. Oh, jangan-jangan…

"YA! Taozi, kau tidak apa-apa?" Chanyeol mendorong tubuh Kris yang berada di atasnya hingga pemuda itu terjungkal ke belakang dan tangannya terantuk dengan sudut meja.

"Park Chanyeol!"

Chanyeol tak menghiraukan panggilan Kris. Dia berjalan menghampiri Tao yang kini berjongkok sambil mengaduh-aduh kesakitan. Chanyeol ikut berjongkok dan menarik tangan Tao yang menutupi wajahnya.

"Astaga Tao! Maafkan aku! Aku yang melempar sandal sialan itu," panik Chanyeol.

Bagaimana tidak panik? Wajah Tao sudah memerah itu dan oh! Pemuda panda itu ternyata menangis. Pasti sakit sekali.

"Oke-oke. Kita ke kamar saja, okay?" Chanyeol menarik tangan Tao dan menuntunnya untuk ke kamar Tao. Chanyeol menolehkan kepalanya ke belakang, dimana Kris sedang menatap datar ke arahnya. Chanyeol terkikik geli dan memeletkan matanya. Dia tau, pasti Kris cemburu.

Kapan lagi mengerjai pemuda yang sebentar lagi mendapat julukan, 'Pangeran es yang mencair' ?

.

Di kamar itu tak hanya ada Chanyeol dan Tao seorang. Di sana juga ada Miyoung dan Tuan Kang yang membawakan es batu untuk mengompres wajah Tao yang memerah. Hell! Sandal Chanyeol yang mengenai wajah Tao cukup tebal dan keras.

"Sudah baikan?" tanya Chanyeol.

Tao mengangguk.

"Kalau begitu, kita bisa berbicara serius, 'kan?" Chanyeol menatap Tao dalam.

Tao kembali mengangguk dan akan mendengarkan Chanyeol ataupun siapapun berbicara dengannya.

"Dua hari lagi Kris ulang tahun," ucap Miyoung.

"Eh?"

Tuan Kang mengambil kompres Tao dan memberikannya yang baru. Tao kembali menutup wajahnya dengan kompres itu.

"Maka dari itu, kami akan membuat kejutan. Apa salahnya membuat pesta untuk anak idiot itu?" timpal Chanyeol.

Tao mengerjapkan matanya. "Kejutan apa?"

Miyoung dan Chanyeol menyeringai. Duduk menhimpit Tao yang dibuat heran dengan kening berkerut.

"Jadi begini…"

.

.

.

Kris masih berada di ruang tengah. Menumpukan dagunya dan melirik ke lantai dua berulang kali. Ada yang aneh di sini. Kenapa semua orang seperti merahasiakan sesuatu darinya? Apa luka Tao cukup parah sampai-sampai harus ada tiga orang yang datang? Lagipula, kenapa lama sekali?

Apa pedulinya?

Cklek!

Pintu kamar itu terbuka dan memunculkan tiga orang keluar dari sana. Miyoung dan Tuan Kang turun lebih dulu. Berjalan dengan santai melewati Kris yang menatap heran.

Kris kembali menoleh ke lantai dua. Di situ ada Chanyeol dan Tao yang berdiri di ujung anak tangga lantai dua. Wajah Tao terlihat baik-baik saja. Hanya sedikit merah. Dan bengkak di pipi kanannya. Kasihan~

Kris mengambil botol soda dan menegaknya dengan perlahan-lahan. Matanya tidak luput mengawasi dua manusia itu. Tatapannya semakin menajam saat Chanyeol merangkul Tao dan menariknya mendekat. Okay, apa yang ingin dilakukan Park bodoh itu?

Cup

Sebuh kecupan yang lama diberikan Chanyeol di pipi Tao yang bengkak. Tao terkikik sedangkan Chanyeol masih mencium pipi Tao lama-lama.

"Uhuk!"

Kris tersedak minuman bersodanya. Pasti kalian tau bagaimana rasanya.

"Uhuk!"

"Uhuk!"

"Cepat sembuh, Taozi!"

Setelahnya ada kecupan di pipi Tao dari Chanyeol—lagi.

.

.

.

To : Suho

Kau ada waktu besok? Aku ingin bertemu denganmu dan Lay

From : Suho

Baiklah. Dimana?

To : Suho

Di apartement mu saja.

Chanyeol tersenyum lebar. Dia begitu bersemangat untuk mengerjai Kris besok hingga hari ulang tahunnya. Oh, masalah kecupan di pipi tadi, tentu saja itu ada dalam skenario. Mengingat itu, Chanyeol jadi terkikik geli. Chanyeol sudah tau kalau Kris ada di sana. Memperhatikan mereka sambil tersedak minuman bersoda.

"Kris bodoh! Kenapa kau ini kaku sekali, sih?"

.

Kris mendudukan pantatnya secara kasar ke kursinya. Dia hari ini tak bersama Chanyeol ataupun Tao untuk berangkat sekolah bersama. Bahkan kedua manusia itu tak menunjukan tanda-tanda kalau mereka akan bersekolah. Bayangkan saja, pukul enam lebih lima belas menit dia sudah siap dan menunggu kedua manusia itu, dan dengan santainya Chanyeol keluar dengan pakaian casual menghampirinya dan bilang, "aku dan Tao tak akan sekolah. Kami ingin berjalan-jalan."

Ohk!

Merangkai kejadian kedekatan Chanyeol dan Tao, Kris bisa menduga Chanyeol menyukai pemuda panda itu. Oh, mereka bisa terlihat kompak dalam sehari hanya dengan insiden 'sandal melayang'. Chanyeol keluar dari kamar Tao dan paginya mereka akan pergi bersama.

A date?— maybe.

"KRIS!"

Kris menolehkan kepalanya malas ke arah pintu. Dimana bocah dengan seragam yang sama dengannya tengah berdiri dengan wajah pucat dan keringat yang mengucur. Apa manusia itu dikejar-kejar Satpol PP?

Seketika kelasnya langsung ramai dengan lengkingan para wanita yang melihat dua pangeran sekolah berkumpul dalam satu ruangan. Sehun menggebrak meja Kris dengan mata melotot. Bukan ekspresi marah, tapi ekspresi bingung.

"Dimana Chanyeol? Dimana Taozi ku?"

Kris memandang bosan Sehun. "Berkencan."

"APA?"— kalau di komik pasti sudah ada efek kaca pecah yang tersambar petir. "Kencan? Taozi ku berselingkuh dengan makhluk yang satu spesies denganmu? Dunia sudah berputar!"

"Maksudmu aku dari spesies apa, hum?" tanya Kris dingin.

"Meganthropus paleojavanicus mungkin."

HAH?

Oke. Sepertinya Sehun terlalu mencintai pelajaran sejarah.

"…ngomong-ngomong, Chanyeol dan Taozi sungguh pacaran? Kenapa aku tidak diajak?"

"Tolong jangan ganggu aku, Bocah!" Kris menendang bokong Sehun menjauh dari tempatnya.

"YA! NAGA BODOH YANG SEDANG PRAMENSTRUASI!"

.

From : My Baby Panda

Bisa kau ke Golden High Apartement sepulang sekolah? Aku ingin minta bantuanmu.

Sehun mengerenyit heran membaca pesan singkat yang dikirimkan Tao. Oh, apa dia dan Chanyeol kabur dari rumah dan berencana menetap di apartement bintang lima itu? Apa ini yang menyebabkan Kris sangat sensitive karena Tao telah merebut Chanyeol?

Tidak Tuhan. Sehun hanya bocah polos yang masih beranjak dewasa untuk menghadapi kenyataan pahit dunia yang kejam ini.

Berharap Sehun akan fokus pada semua pelajaran hari ini?

Jawabannya adalah T-I-D-A-K.

.

.

.

"Bukankah ini lucu?" Tao mengangkat gantungan ponsel berbentuk naga kecil berwarna merah.

"Ingin membelikan itu? Kau pikir, Kris akan suka?"

Memasang pose berpikir dengan bibir yang mengerucut, Tao memperhatikan sekelilingnya. Ada boneka, kaos, dan lain-lain. Hanya saja, dia pikir gantungan ponsel naga ini cukup cocok untuk pria pirang itu.

"Ku pikir iya. Hadiah bukan dilihat dari besar-kecil dan murah-mahal. Dilihat dari ketulusan hati dari si pemberi."

Chanyeol tersenyum tipis dan mengacak-acak surai hitam Tao. "Cah, kau sudah mulai memiliki pikiran yang dewasa, yah."

Tao merenggut. Rambutnya jadi berantakan akibat ulah Chanyeol yang gemas padanya.

Chanyeol menggandeng tangan Tao ke kasir untuk membayar belanjaan mereka. dengan Chanyeol yang sudah membelikan sebuah kaos bergambar spongebob dan Tao dengan gantungan ponselnya. Saat melihat benda mungil itu dibungkus, Tao terkekeh kecil. Dia baru sadar kalau hadianya begitu kecil.

"Sekarang aku akan mengantarmu ke tempat Suho dan Lay. Nah, rencana besar kita akan dimulai Tao-ya!"

.

..

Lay meletakan satu per satu gelas teh dari nampan di tangannya. Setelahnya, dia duduk di sebelah Suho dan tersenyum manis pada sosok Tao yang nampak merasa asing dengan kehadiran dua orang yang baru dikenalnya.

"Jangan merasa canggung seperti itu," ucap Lay menyadari kecanggungan Tao.

Tao tersenyum kikuk. Ah, nampaknya pemuda berdimple itu cukup peka menyadari suasana.

"Nah, Tao, kau akan menginap di sini sampai besok. Lalu aku akan bilang pada Kris kalau kau hilang saat ku tinggal ke kamar mandi. Nah, pasti akan begitu cemas padamu," jelas Chanyeol.

"Tapi, bukankah itu terlalu berbahaya? Kris itu kalau marah—" Tao mengangkat kedua tangannya yang masih terbalut perban, "— seperti ini, Ge."

Chanyeol terkekeh, "Suho akan bertingkah seperti penculik di sini. Dia akan memberikan clue dan sebagainya. Di rumah, akan ada Miyoung dan Tuan Kang yang akan semakin membuat Kris kalut. Lalu, apa kau sudah menghubungi Sehun?"

Tao mengangguk. "Aku menyuruhnya datang ke sini setelah pulang sekolah."

"Bagus. Suruh dia untuk mengundang ketiga Exost di tempatmu bekerja. Anggap saja silaturahmi antar Exost."

Chanyeol melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul dua belas siang. "Sebentar lagi sekolah akan dibubarkan. Aku pulang, okay? Jaga dirimu baik-baik. Jangan nakal." Chanyeol berdiri dari duduknya. "Suho, Lay, aku titip bocah manis ini pada kalian. Maaf kalau dia merepotkan. Sakitnya sering kambuh."

Tao mendengus. Dibilang sakitnya sering kambuh, dia seperti orang penyakitan yang akan menemui ajal. Hell! Padahal inikan karena takdir yang sama sekali tidak dia mengerti.

"Kau bisa serahkan itu pada kami, Chanyeol. Tenang saja," ucap Suho.

.

..

Lay membuka lebar sebuah pintu ada di ruangan itu. Tao tersenyum tipis saat Lay tersenyum ke arahnya dan mengajaknya masuk lalu duduk di atas kasur berukuran sedang. Tak terlalu buruk untuk menginap di sini selama sehari. Suho dan Lay orang yang baik.

"Chanyeol bilang, tanganmu terkena luka bakar," Lay membuka pembicaraan.

Tao mengangguk dan mengangkat tangannya. "Apa Chanyeol gege sudah menceritakan semuanya?"

Lay mengangguk dan mengelus tangan Tao yang masih terbalut perban. "Hefaistos yang melakukannya, bukan? –Kris?"

Lagi-lagi Tao mengangguk. Dia diam saja saat Lay membuka perbannya, sehingga luka yang masih sedikit basah itu terlihat jelas. Tak ada rasa jijik dari wajah Lay saat tangan kosongnya menyentuh langsung lukanya. Hell! Tao saja yang memiliki luka itu merasa sangat jijik.

"Apa tidak— apa kau merasa tidak jijik?"

Lay menggeleng dan memfokuskan pikirannya pada luka itu. Tangannya melakukan gerakan mengusap dan saat itu jugaTao harus membelalakan matanya kaget. Kedip berulang kali untuk memastikan kalau lukanya masih pada tempatnya.

"Apa masih sakit?"

"Lay Ge!" Tao memekik nyaring tepat di hadapan wajah Lay. "Kau hebat!"

Lay terkikik geli. Dia menarik tangan Tao satunya lagi dan melakukan hal yang sama.

.

..

Suho sibuk sendiri di ruang tengah dengan menggeser sofa dan benda-benda lainnya yang ada di ruang tengah apartement mewahnya bersama Lay. Dia tau Lay dan Tao sedang sibuk di dalam kamar. Suho adalah laki-laki sejati. Masalah geser-menggeser, dia jagonya.

"Suho?"

Suho yang saat itu sedang menggeser single sofa menoleh pada sosok cantik Lay yang berdiri di sebelah Tao. Suho menepuk tangannya dan tersenyum malaikat. "Ada apa? Apa sudah selesai?"

Lay mengangguk antusias dan mengangkat tangan Tao tinggi-tinggi.

"Aku berhasil dengan sempurna!" pekiknya girang.

Tao tersenyum kikuk. Dia merasa seperti kelinci percobaan mendengar itu.

TING… TONG…

Ketiga orang yang berada di ruangan itu sama-sama menoleh ke arah pintu.

"Biar aku yang buka," ucap Lay.

Dia berjalan ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang datang.

CKLEK!

"Ha—"

BRAK!

"YA! MY BABY PANDA TAOZI! WHERE ARE YOU NOW?"

Lay memegang dadanya dan merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat. Andai dia bukanlah orang yang pemaaf, pasti dengan senang hati Lay mengutuk pemuda berkulit pucat seperti mayat itu.

"Ung, Sehun?"

Sehun yang merasa tempat itu adalah rumah pribadinya, tanpa berdosa segera berlari menghampiri Tao yang datang dengan seorang pria lain. Dengan tangan kekarnya, pemuda bermarga Oh itu memeluk Tao dan sedetik kemudian melepaskan pelukannya.

"Oh, Tuhan! Aku bersyukur masih bisa melihatmu. Apa kau tidak apa-apa?" Sehun meraba-raba setiap inch tubuh Tao.

Tao melirik Suho yang memandang mereka dengan kening berkerut.

"Ekhem," dehaman tegas dari Suho membuat Sehun menghentikan aktivitasnya. "Seharusnya kau belajar tata karma, Bocah."

Sehun menoleh ke sekelilingnya. Di dekat pintu dia melihat seorang namja cantik tengah memegang dadanya dan tersenyum kecil pada Sehun. Sehun menoleh ke sudut lain— ke sebelah Tao, dimana seorang pria yang cukup berwibaya memandangnya dengan datar. Okay, dia lepas kendali saking khawatirnya pada Tao.

Sehun membungkukan badannya berulang kali. "Maafkan aku! Maafkan aku!"

"Sudahlah. Eum, Sehun-ah, kami sudah menunggu kedatanganmu," ucap Lay memecah kecanggungan.

.

"APA? JADI AKU KE SINI HANYA UNTUK— YA! SAKIT!" Sehun menghentikan teriakan terkejutnya, karena Tao menjambak rambut Sehun dengan kencang. Sehun meringis mengadu-aduh kesakitan. "Itu sakit!"

"Bisakah kau lebih tenang Sehun?" Tao memincing tajam.

Sehun mengangguk patuh. "Baiklah. Apapun akan ku lakukan untukmu."

Tao memutar bola matanya malas. Dia melirik Suho yang menganga tak percaya pada anak yang baru datang beberapa menit lalu ke apartementnya. Ketenangan umat manusia bisa terganggu hanya kehadiran orang seperti Sehun. (nampaknya mereka tidak tau jika Tao memiliki peringai yang lebih parah dari Sehun).

"Kau hanya menyuruh pegawai XOXO Café datang ke sini besok. Tolong beritahu mereka juga, kalau mereka harus membantu kejutan untuk Kris."

Sehun mengangguk lagi.

"Kau sudah mengerti, 'kan?" suara Suho yang terdengar dingin mengintrupsi mereka.

Sehun mengangguk lagi.

"Baiklah. Tapi, aku boleh ke sini lagi, 'kan? Aku akan membantu kalian menghias apartement ini dengan sanga-sangaaaaat bagus!"

"Dihias? Apa harus sampai berlebihan sepeti itu?" Lay menggaruk tengkuknya kaku.

"Huh? Apa kalian berpikir saat Kris menemukan Tao di sini, kalian akan memeluk Kris dan hanya bilang, KEJUTAN! Apa itu bagus?"

Semuanya memasang tampang berpikir.

Ah, ada gunanya juga Suho menggeser-geser sofa agar ruang tamunya terlihat lebih lapang.

.

..

BRAK!

Kris yang baru saja mendudukan pantatnya di atas sofa langsung mendelik heran ke arah pintu utama. Di sana ada Chanyeol yang datang dengan wajah panik dan keringat yang becucuran. Sama persis dengan keadaan Sehun tadi pagi yang datang ke kelasnya.

"KRIS!"

Chanyeol menghampiri Kris denganlangkah tergesa. "Apa Tao sudah pulang?"

Kris menggedikan bahunya tanda tidak tau. Dia lebih memilih untuk bercinta dengan buku ensiklopedia di tangannya. "Bukankah tadi pergi denganmu? Jangan bercanda," Kris nampak tak acuh dengan aura kekhawatiran Chanyeol.

Chanyeol mendengus. "Ku pikir, dia sudah pulang duluan. Aish, anak itu!"

Kris menutup bukunya dan memandang malas ke arah Chanyeol. "Maksudmu dia hilang?"

"Aku tidak tau. Aku hanya pergi ke toilet sebentar dan anak itu tidak ada. Aish! Apa yang harus aku lakukan Kris!"

Kris merasa jantung di tubuhnya berdetak lebih kencang. Kenapa tiba-tiba saja dia merasa tubuhnya melemas saat Chanyeol menceritakan apa yang terjadi. Apa pemuda itu diculik?

Drrt… drrt…

Kris mengambil ponselnya yang ada di meja. Ada sebuah panggilan dari private number. Dengan perasaan kalut, dia mengangkat panggilan tersebut dan…

"Kris…"

DEG!

Kris membulatkan matanya. Suara Tao ada di seberang sana. Chanyeol memberi isyarat agar Kris mengencangkan volume suara dari panggilan itu.

"CEPAT KATAKAN BODOH!" seseorang di sana terdengar sedang membentak-bentak. Setelahnya ada suara bantingan kursi dan suara riuh lainnya.

Kris yang tak menyadari Chanyeol tengah mati-matian menahan tawa di sebelahnya ketika melihat ekspresi yang kelewat khawatir. Dia tak menyangka, Suho yang berwajah malaikat bisa mengeluarkan suara semengerikan itu.

"Tao! Tao!"

Chanyeol mendapati Miyoung tengah menjadi seekor burung merpati bertengger di atas televisi. Dia tau, pasti Miyoung juga nyaris tertawa terbahak-bahak jika dia sedang dalam keadaan menjadi manusia.

"Hiks… iya… Kris, tolong aku. Orang ini menyeramkan. Hiks…"

Kris menggenggam erat ponselnya. Dia bisa saja membakar benda itu, jika sedang tidak dalam panggilan penting seperti ini. "Tao, katakan padaku kau dimana?"

BRAK BRUK BRAK BRUK

"Ya! Sakit! Ampun… Tolong aku Kris! Chanyeol Gege! Sehunnie!"

Tuuut

Tuut

Tuut…

"Hah? Hallo! Hallo! TAO! HEH, IDIOT!"

Ingatkan Chanyeol untuk terus menggigit bibir bawahnya sekarang. Tangannya terkepal erat untuk melampiaskan rasa tawanya. Wajah Kris sekarang ini lebih idiot dari wajah Tao yang selalu bingung jika ditanyai tentang Exost dan segala tetek bengeknya-_-"

"Chanyeol!" Kris menoleh ke arah Chanyeol yang menatapnya dengan wajah panik (pura-pura). "Dimana kalian berkencan tadi?"

"Uhuk! Kencan?"

Kris menatap malas. "Ayolah, semua orang tau kalian itu sedang berkencan. Kau baru saja menyatakan cintamu pada Tao 'kan?" ada nada aneh pada suara Kris ketika mengatakan itu.

Chanyeol mengerti dan dia menyeringai. "Oh, itu? Aku baru tadi menyatakan perasaan ku padanya."

"Uhk! Apa? Lalu jawaban dari dia apa?"

Chanyeol tersenyum kecil. Memasang wajah secerah mungkin. "Dia menerimanya.— AISH! Ini bukan saatnyamembahas masalah cinta. Sekarang, dimana Tao?"

Belum Kris merasa jantungnya berdetak normal, ponselnya kembali berdering. Kali ini, sebuah MMS masuk. Kris tau, pasti dari 'penculik' Tao. dengan tergesa, dia membuka pesan bergambar itu dan matanya membebelalak lebar.

"TAO!"

Tao yang terduduk, Tao yang diikat di kursi, tubuh yang tampak lemas, suasana yang gelap… tidak! Kris tidak bisa membayangkan apa yang bisa bocah bodoh itu lakukan selain menangis dan memanggil nama Chanyeol.

Memanggil nama Chanyeol?

(sakitnya itu di sini p´Дq)

"Chan! Lihat ini!"

.

..

Sehun mendengus kesal. Sebenarnya dia benci sekali untuk datang ke XOXO Café. Masih ingat dengan kejadian Sehun yang dilempari salju dan Homonia yang menyambungkan telepati kepadanya?

"Selamat—" ucapan pria cantik yang selalu menyapa setiap pengunjung yang baru datang terhenti. Dia masih mengingat dengan jelas siapa orang yang baru saja memasuki café tempatnya. "— datang." Oh! Dia sangat berharap sosok di depannya melupakan dirinya.

Sehun mendekati Luhan yang saat ini sedang menahan nafasnya gugup.

Satu langkah lebih dekat…

Dua langkah…

Tiga langkah…

"Apa kau Luhan?"

Luhan harus mengedipkan matanya berkali-kali. Apa dia tidak salah dengar? Kenapa pemuda di depannya ini memliki suara yang sangat… errr, sexy? Kenapa dilihat dari dekat pemuda ini terasa lebih tampan?

"Uh, iya."

Sehun menganggukan kepalanya. Dia melirik ke sekitar dan mendekatkan wajahnya. "Besok kau ada acara tidak?"

OH MY—!

Luhan pernah menonton drama milik Xiumin. Jika seseorang bertanya seperti itu, maka berarti dia sedang mengajak kencan secara tidak langsung. Refleks Luhan menggelengkan kepalanya.

"Besok, kau dan teman-temanmu datang, okay?"

Ada rasa kecewa saat Sehun menyebutkan kata 'teman-teman'. Itu tandanya bukan sebuah ajakan kencan?

"Ada pesta kejutan ulang tahun untuk salah satu Exost. Apa salahnya jika semua Exost berkumpul dalam sebuah pesta? Kau kenal Tao, 'kan?"

Luhan menganggukan kepalanya. Wajahnya sudah memerah. Kenapa dia bisa seperti ini pada seorang laki-laki yang 'awalnya' sangat dibencinya— selain Tao tentunya.

"Golden High Apartement jam setengah tiga siang. Kau mengerti, 'kan?"

"Iya."

Sehun tersenyum tipis. Dia mengeluarkan dompetnya dan memperhatikan menu-menu yang ada belakang Luhan. Sehun tau tata karma dan sopan santun. Maka dari itu, dia akan memesan beberapa menu untuk Tao dan dua orang lainnya.

"Empat croissant dan empat mojou tea."

"Eh?"

"Tolong dibungkus."

.

Xiumin datang dengan sebuah majalah yang baru saja dibelinya. Dia menghampiri Luhan yang menoleh ke arah luar jendela. Dengan kening berkerut, Xiumin ganti menoleh pada Luhan yang tak berkedip sedikitpun.

"Lu," panggil Xiumin.

Cukup satu panggilan untuk menyadarkan pemuda berdarah China itu dari lamunannya.

"Iya?"

"Bukankah itu Oh Sehun?" tebak Xiumin sambil menyodorkan majalah yang dibelinya. Xiumin menunjuk cover majalah yang menampilkan portrait sosok yang baru saja mampir ke café mereka.

"Dia itu model yang tengah naik daun sekarang."

Bersyukurlah pada Xiumin ang sering menonton infotaiment saat ada waktu senggang.

"Xiu," kali ini Luhan yang memanggil. "Berapa tanggal lahirnya? Apa nama fans nya?"

.

..

Miyoung mondar-mandir ke sana kemari. Persis seperti setrika. Seakan baju hanbok yang nampak terlihat rumit itu tak menghalangi jalannya untuk meondar-mandir di depan Kris dan Chanyeol. Wajahnya menampakan tampang frustasi, kukunya dia gigit secara bergantian.

"Tuhan, Tao hanya bocah polos yang tidak tau kekejaman dunia."

Akting yang bagus Miyoung!— Chanyeol.

"Kris, bagaimana yang menculik Tao adalah om-om pedophile?" Miyoung menghentakan kaki kanannya kasar.

Chanyeol merasa kalimat Miyoung terlalu berlebihan.

"Tao diperkosa dengan kasar dan brutal? Di rape? Dipasangi berbagai macam um… sex toys?"

Chanyeol bergedik ngeri mendengar kalimat Miyoung. Um, bukankah itu terlalu dewasa dan frontal? Bahkan itu tidak ada dalam skenario.

"Yang saya takutkan adalah, Tuan Tao tidak akan diberi makan. Lalu Tuan Tao lemah pada saat itu. Itu sangat buruk sekali."

Bagus. Sekarang Tuan Kang mulai angkat bicara. Biasanya pemikiran orang tua lebih dalam dari Danau Toba dan lebih jauh dari jarak Kutub Utara ke Kutub Selatan.

"Ah, aku berpikir jika yang menculik Tao itu adalah Emon. Mungkin Tao akan menjadi koban ke seratus lima puluh satu. Ya Tuhan! Aku tidak bisa membayangkannya."

Kris mengerutkan keningnya. Siapa itu Emon?

"Saya berpikir, jika Foe yang menculik Tuan Tao, mungkin sekarang dia sudah tidak bernyawa. Tunggu saja besok, dunia sudah tidak akan selamat!" perkataan yang sangat serius dari mulut tua Tuan Kang.

Chanyeol bertepuk tangan dalam hati. Cocok sekali Miyoung dan Tuan Kang untuk menjadi pemanas suasana yang sudah panas ini. Omongan frontal Miyoung yang terkesan blak-blakan, tapi cukup membuat jantung Kris kedat-kedut dan ucapan Tuan Kang yang memberikan pikiran negative di otak Kris.

"Miyoung," panggil Kris.

Miyoung menghentikan aksi mondar-mandirnya dan menatap Kris bingung. "Iya?"

"Kau bisa menjadi burung. Apa salahnya kau mencari keberadaan Tao dan menyelinap jika menemukan tempat yang mencurigakan?"

Hening.

Mereka melupakan satu fakta jika Kris begitu pintar untuk masalah seperti ini.

Miyoung melirik ke arah Chanyeol yang mengangguk-anggukan kepalanya.

"Ah, baiklah Kris."

.

..

Kalau dipikir-pikir, ulang tahun Kris nampak seperti perayaan anak kecil berumur lima tahun. Entah salah konsep atau apa, tapi ada balon dimana-mana, pita berwarna-warni di setiap sudut ruangan, piñata berbentuk keledai yang isinya permen coklat. Tskk! Tunggu reaksi Kris sampai melihat ini semua.

"Apa itu hadiah kecil lainnya untuk Kris?" Lay duduk di sebelah Tao. Membiarkan Sehun dan Suho bekerja keras untuk mendekorasi apartement mereka.

"Untuk Kris dan untuk Kyuhyun sunbae. Ini bagus?" Tao menunjukan dua gelang yang terbuat dari benang katun. Satu berwarna merah dan satu lagi berwarna hitam.

Lay mengacungkan dua jempolnya. "Aku berani bertaruh kalau mereka pasti menyukainya."

"Semoga saja."

Tao meletekan gelang-gelang itu ke atas meja. Duduknya menyamping menghadap Lay yang duduk di sebelahnya. Matanya mengerjap lucu saat memperhatikan wajah pria cantik sekaligus manis dengan satu dimple ketika tersenyum.

"Aku boleh bertanya tidak?" tanya Tao.

"Ya?"

Tao membuka satu persatu kancing kemeja atasnya. Memperlihatkan lambang jam pasir berwarna emas pada Lay yang wajahnya bersemu merah. Oke, Tao terlihat sedikit cabul sekarang.

"Aku tidak menyangka kalau lambang Exost begitu indah dengan warna emas," puji Lay.

Tao tersenyum kecil. "Kalau begitu, aku lebih memilih warna hitam seperti yang lainnya. Warna ini selalu membuatku sakit dan membuatku diincar Foe-foe sialan itu," Tao mendengus. "Ku kira ini hanya perbuatan iseng orag tua ku jaman dulu. Lambang keluarga— mungkin?" Tao kembali mendengus. "Ternyata ini adalah lambang yang membuktikan kalau aku adalah Exost. Mereka bilang ini membuktikan aku special. Apanya yang special kalau banyak yang ingin membunuhku? Bahkan aku tidak menyadari apapun!"

Lay tersenyum lembut. Mengelus-elus lambang di dada Tao dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tao bisa merasakan ada perasaan tenang yang mengalir ke tubuhnya ketika Lay menyentuh lambang di dadanya.

"Kau tau? Ini itu adalah anugrah." Tangan kurus Lay membuat pola lingkaran di sekitar gambar jam pasir berwarna emas itu. "Saat kau sudah menyadari semuanya, kau akan terkejut dan bangga. Banyak orang yang ingin tau masa depan Tao-ie. Chronos itu adalah dewa agung yang memiliki kuasa penuh akan waktu. Kau bisa melakukan apapun dengan waktu."

"Saat aku sedang bermain dengan kekuatanku, maka akan ada yang menganggunya."

"Cronos maksudmu?"

Si raven mengangguka kepalanya.

"Kau bahkan lebih kuat dari dia!" Lay menepuk pundak Tao dan menatap mata dengan inti berwarna hitam itu dalam. "Kau sudah bertemu denganku. Asklepios. Meskipun aku tak bisa menyembuhkanmu, aku bisa membantumu."

Tao terkekeh kecil. "Maka dari itu aku minta bantuanmu, Lay Ge. Kalau aku sakit, kau mau kan, mengobatiku? Mengurangi rasa sakitku."

Tao mengacungkan jari kelingkingnya. Lay tersenyum geli dan mengaitkan jari kelingking mereka.

.

"Kau begitu mencintainya, yah?"

Sehun menghentikan gerakannya untuk menempelkan tulisan happy birthday pada dinding. Dia lebih memilih menatap Suho yang berucap, tapi masih menggerakan tangannya memasang balon-balon di sudut ruangan.

"Hn?"

Kali ini Suho menoleh dan tersenyum malaikat. "Tao. Kau sangat mencintainya, yah?"

Ada senyum tampan terlukis di wajah tampan Sehun yang tubuhnya saat itu masih terbalut kemeja sekolah. "Kau tau? Kami bertemu secara mengejutkan. Aku yang pertama kali bertemu dengannya langsung menciumnya. Di saat itu, aku merasakan sesuatu di sini—" dia menunjuk dada kirinya, "—berdegup lebih kencang. Rasanya begitu manis. Sampai-sampai aku seperti gila. Sebelum bertemu dengannya, aku tak pernah mau menunjukan aura Exost ku pada Kris dan Chanyeol. Aku benar-benar menyembunyikan identitas ku sebagai Exost." Sehun tersenyum kecil menjelajahi ingatannya ketika pertama kali bertemu dengan Tao. "Melihatnya diserang Exost waktu itu, aku tanpa pikir panjang langsung membuka identitas ku."

Tuk… tuk…

Suho menolehkan kepalanya ke arah jendela. Di sana ada sesosok burung merpati yang sedang mengetuk-ngetuk kaca apartement Suho dengan paruhnya. Dengan kening berkerut, dia membuka jendelanya. Burung merpati itu masuk dan langsung berubah menjadi sosok wanita cantik dengan mengenakan Hanbok berwarna biru tua.

"Eh?" Suho memekik kaget.

Wanita itu tersenyum kecil pada Sehun dan Suho yang menatap ke arahnya tercengang. Siluman burung merpati, eh?

"Aku Hwang Miyoung. Chanyeol menyuruhku ke sini untuk menemui Tao."

Masih dengan mulut yang mengangan dan menatap heran, Suho menunjuk ke arah ruang tengah. Miyoung tersenyum lagi dan mulai melangkahkan kakinya yang tak beralas kaki. Jalannya sangat lembut bagaikan bulu burung hantu yang jatuh.

"Tao!"

Keanggunan Miyoung hancur sudah saat suara pekikannya menggema.

Tao dan Lay menolehkan kepalanya pada sosok cantik yang berjalan mendekat ke arah mereka.

"Miyoung?"

"Tao! Kris menyuruhku mencari mu. Apa yang harus katakan ketika kembali?"

"Huh?" Tao mengerjapkan matanya bingung. "Apa?"

"Kau tau? Kris benar-enar mengkhawatirkan mu. Dia duduk dengan gelisah. Mondar-mandir mengelilingi rumah layaknya petugas keamanan sekolah. Kau harus liat ekspresinya saat itu!"

"Ohk?"

Tao tidak terlalu mengerti ucapan Miyoung. Dia hanya menangkap kalimat, 'Kris mengkhawatirkannya sangat'.

Miyoung mendecak. Menepuk pelan kedua pipi tembam Tao yang terasa hangat ketika bersentuhan kulit putihnya yang dingin. "Kau itu, apa yang harus ku katakan nanti pada Kris?"

"Eum, bagaimana kalau kau hanya bilang kau tidak menemukannya?"

Miyoung menepuk keningnya. Bagaimana bisa dia tidak memikirkan hal itu?

Dengan senyum lebarnya, Miyoung menoleh ke arah Lay. "Ah, aku mengerti. Terima kasih."

.

..

Kris mengambil setangkai bunga mawar dari kebunnya. Bunga mawar itu masih kuncup dan batangnya dingin. Tidak heran jika ini adalah musim dingin. Ini sudah bunga mawar kelima dia petik. Sebelumnya, dia tak akan tega untuk merusak bunga-bunga cantik itu.

"Kris!" pekikan suara wanita menyapa indra pendengarannya.

Kris menatap penuh harap ke arah Miyoung yang berlari kecil ke arahnya sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ah, cuaca cukup dingin malam ini. Tentu saja hal itu tidak akan berpengaruh pada Kris yang memiliki element api.

"Bagaimana?"

"Ah, cuaca dingin sekali. Aku tidak menemukannya!" Miyoung menggosokan kedua tangannya.

Ada raut kekecewaan di wajah tampan Kris. Padahal dia sangat berharap, perempuan cantik di hadapannya ini mampu memberikannya sedikit cahaya harapan.

"Cuaca dingin sekali. Hujan salju sepertinya akan turun dengan deras. Aku khawatir pada Tao. bagaimana jika dia dibiarkan dengan pakaian tipis… atau malah telanjang bulat di ruangan terbuka?"

Bagus sekali Hang Miyoung. Kau membuat Kris tidak bisa tidur malam ini.

.

.

.

Kyungsoo mengutuk cuaca malam ini. Ah, bibir mungilnya juga mengutuk ke dua kakak-kakak tirinya tercinta, karena dimalam yang dingin ini dia disuruh membelikan bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Hell! Badannya terlalu lelah karena harus berdiri seharian penuh di dekat kompor untuk memasak pesanan para pelanggan 'tercinta'.

BRUK!

"Ah!"

Tubuh mungilnya yang membawa beberapa kantung belanjaan jatuh ke dinginnya aspal yang tertumpuk salju. Dia meringis sambil memperhatikan sekelilingnya. "Belanjaanku!"

"Maaf," ucap seseorang.

Orang itu berjongkok di dekat Kyungsoo dan membantunya memungut belanjaannya.

"Tidak apa-apa. Aku kurang hati-hati," kata Kyungsoo.

Kyungsoo merangkak untuk mengambil seplastik bawang putih yang keluar dari plastic belanjaan.

"Aish! Telur-telurku pecah." Kyungsoo mengangkat plastik telur yang ertutup rapat. Isinya memang sudah pecah. Hanya ada beberapa yang tetap utuh.

"Biar ku ganti."

Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menolehkan tatapannya pada sosok orang yang menabraknya. Oh, dia seperti kenal dengan orang itu. Mata yang tajam, bibir yang penuh, ah… benar! Kyungsoo pernah bertemu dengannya.

"Ini kedua kalinya kau menabrak ku, Tuan," suara Kyungsoo mencicit.

"Ya?"

"Kau yang dulu pernah menabrak ku juga." Kyungsoo terkekeh geli.

Dia berdiri dari acara pungut-memungut-barang-belanjaan-yang-terjatuh. Laki-laki yang menabraknya ikut berdiri dan masih setia berada di tempatnya.

"Oh, benarkah? Maafkan aku kalau begitu. Maaf."

Kyungsoo menepuk-nepuk pelan pundak pemuda yang ternyata memiliki kulit lebih gelap dari orang Korea. Ah, untuk pertama kalinya mata bulat Kyungsoo melihat wajah orang ini dengan keseluruhan. Rambut hitam, kulit sawo(terlalu)matang-_-"

"Tidak apa-apa, kok. Yasudalah kalau begitu. Aku permisi." Kyungsoo membungkukan badannya. Tersenyum kecil saat dirinya bertemu pandang dengan pria itu.

Punggungnya semakin menjauh dari jangkauan pandang pria berkulit tan—Kai.

"Seorang Exost? Menarik."

.

.

.

Hari sudah berganti. Kemarin tanggal 5 November dan sekarang sudah tanggal 6 November. Kalian tau apa maksudnya?—ya, ulang tahun pemuda Wu. Sekarang pria itu sudah benar-benar genap Sembilan belas tahun.

Kris menghela nafasnya secara kasar sudah berulang kali. Dia tak peduli tentang kalimat, 'jika sering menghela nafas, kau mengurangi kebahagiaanmu'. Dia bahkan sudah tidak pernah lagi merasakan yang namanya kebahagiaan.

Untuk pertama kalinya, seorang Kris Wu mengkhawatirkan seseorang setelah enam tahun dia tak memiliki yang namanya lagi berbagai perasaan selain marah yang dia pendam. Dia meremas ponselnya kuat-kuat, berharap 'penculik' Tao memberikan informasi terbaru. Kris berani menjamin, sampai Tao sudah dia tidak dalam keadaan hidup, maka dia akan menghancurkan apapun yang dilihatnya.

Cklek

Mata memincing pada sosok tinggi yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Siapa lagi kalau bukan sosok Park Chanyeol yang datang dalam keadaan rapih dengan seragam sekolah lengkap. Pemuda Park itu tanpa izin membanting tubuhnya ke atas kasur milik Kris.

"Kau tidak sekolah?" tanya Chanyeol santai.

"Apa kau masih sempat-sempatnya memikirkan itu, saat ada orang yang tengah diculik?"

Chanyeol nyaris saja tertawa terbahak-bahak. Oh, Man! Kris benar-benar terjebak dalam perangkap Miyoung dan lainnya. Chanyeol tak pernah berfikir Kris akan sekacau sekarang. Rambut yang berantakan, kantung mata yang tercetak jelas di bawah matanya.

"Oh, aku mendapat e-mail. Kau harus datang saat pulang sekolah ke Golden High Apartement. Tak bisa lebih dan tak bisa kurang. Kau harus datang jam segitu. Jika datang sekarang, mungkin Tao juga akan mati saat ini juga."

"A— apa?"

"Sudahlah Kris Wu," Chanyeol menghampiri Kris dan menepuk pundaknya. "Tao akan baik-baik saja, kok."

.

..

Luhan, Kyungsoo dan Xiumin mau tidak mau harus meutup café mereka. Kedatangan mereka langsung disambut Suho yang tengah mempersiapkan pesta kecil itu sendirian.

"Lay dan Tao sedang membuat kue di dapur. Ada yang ingin membantuku atau membantu mereka?"

"Eum, sebaiknya Luhan membantu Suho. Bukankah kau memiliki kekuatan yang bisa menggerakan benda? Ku rasa, itu akan sangt membatumu," ucap Xiumin. Dia melirik ke arah Kyungsoo. "Kyungsoo lebih baik membantu Lay dan Tao di dapur. Bukankah kau pandai memasak, Kyung?"

"Lalu tugasmu, Xiu?" tanya Luhan dingin.

Xiumin membawa tubuhnya untuk duduk di sofa. Tangannya terlipat di dada dan kaki kirinya dinaikan ke atas kaki kanan. "Aku? Aku mengawasi kerja kalian," jawabnya santai.

…lalu setelahnya, ada sebuah gelas plastic mendarat dengan mulus di kepala Xiumin.

Mungkin benar Lay adalah calon istri yang baik untuk seorang Kim Joonmyeon. Lihatlah bagaimana dengan tangan-tangan lentiknya, Lay mengaduk adonan kue, menuangkan coklat cair, menaruh buah-buah cherry di atas kue menjadi topping kue ulang tahun itu. dan…VOILA! Tao lebih memilih kue buatan Lay daripada kue di toko yang entah sudah berapa lama kue-kue itu dipajang.

"Apa ada yang bisa ku bantu?"

Lay dan Tao sama-sama menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Di sana ada Kyungsoo yang berjalan dengan perlahan ke arah mereka. Lay meletakan blackforest itu ke atas wadah yang sudah ia hias dengan white cream dan beberapa potong strawberry.

"Sepertinya aku butuh bantuan. Mengandalkan satu ekor panda, malah menghabiskan stok cherry ku," dengus Lay.

Tao menghentikan tangannya yang akan mencomot satu cherry lagi. "Aku tidak memakannya. Hanya mencicipinya manis atau tidak," jawabnya tidak bersalah.

Lay berjalan ke arah Kyungsoo dan memerikan satu apron lagi untuk pemuda manis bermata besar itu. "Apakah perlu sampai lima belas buah?" Lay membantu Kyungsoo memakai apronnya.

"Ah, terima kasih," ucap Kyungsoo.

Tao menyengir lebar dan berdiri di tengah-tengah Lay dan Kyungsoo.

"Membuat ginger bread untuk Kris? Ku rasa, itu ide yang bagus," usul Kyungsoo.

Lay menganggukan kepalanya. Kemudian, dia melirik Tao yang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan bingungnya. "Menyembunyikan kue itu di kamarmu sampai Kris datang Tao. Kau bisa keluar saat kami sudah memberimu isyarat."

Tao mengangguk mengerti. Dia mengangkat kue itu dengan hati-hati. "Apa aku perlu membawa lilin dan keluar dengan wajah sumringah sambill menyanyikan selamat ulang tahun, Naga Bodoh?" dengus Tao. Ergh, sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan hal-hal semacam itu.

"Terserah kau saja."

Lay mengambil tepung terigu yang masih baru dan memberikannya pada Kyungsoo yang sedang memecahkan telur.

Tao tersenyum kecil dan membawa blackforest itu ke dalam kamarnya. Setidaknya, dia masih bisa bersantai. Pasti ada yang membantu Suho. Kyungsoo pastinya tidak akan sendiri. Ada Luhan dan Xiumin pasti ikut.

"Bukankah Sehun menyuruh kalian datang pukul setengah tiga? Ini masih jam dua belas."

"Anggap saja untuk memperkenalkan diri dengan bantuan kecil," jawab Kyungsoo tanpa mengalihkan fokusnya dari kocokan telur yang menjadi urusannya.

Kris duduk dengan gelisah selama jam pelajaran. Setiap lima menit sekali dia melirik jam tangannya dan berharap bel pulang sekolah akan segera dibunyikan. Chanyeol yang duduk di sebelah Chanyeol memutar malas bola matanya. Bukankah Kris terlalu bertingkah berlebihan untuk orag yang dianggapnya 'kurang penting'?

"Tenanglah Wu. Tao pasti akan—"

"Aku tidak bisa tenang, Park! Bagaimana bi—"

"Seharusnya aku yang khawatir, bukan? Bukankah kau menganggap Tao itu tidak penting? Tapi ka terlalu bertingkah berlebihan." Chanyeol menyipitkan matanya. "Apa jangan-jangan—" Chanyeol memajukan ajahnya dan menyengir lebar. "ada sesuatu rasa Kris Wu?"Chanyeol menekan-nekan dada Kris dengan jari telunjuknya. Dia bisa merasakan jantung seorang Kris Wu berdetak dengan cepat.

"Apa-apaan kau, hah?!"

Chanyeol hanya terkikik kecil karena ada Miss. Jang di depan sana yang tengah menjelaskan tentang sejarah Korea. Dia benci ini. Dia benci ketika mendengarkan dongeng siang yang membuat mu terkantuk-kantuk.

"Chanyeol, apa kau tidak merasa khawatir, hum?"

Chanyeol mengetuk-ngetuk pulpennya kedagu. Memasang wajah sesedih mungkin. "Tentu saja aku sedih, Maron! Aku membayangkan, pasti dia tengah bersedih dan ketakutan."

Kris memutar bola matanya malas. Dia mengangkat tangannya dan berdiri dari duduknya.

"Ya, Mister Wu?" Miss. Jang memincingkan matanya. Dia tak suka jika ada orang yang menganggu pelajarannya— yah, meskipun itu seorang pangeran sekolah sekalipun.

"Aku pusing. Boleh aku ke ruang kesehatan?"

Miss Jang menyipitkan matanya. Wajah Kris sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda kalau dia sedang sakit. Malah pria itu memasang wajah datar dan dinginnya.

"Hah~" Miss. Jang menghela nafasnya. Dia tau tak akan berguna juga mencegah anak itu. "Silahkan."

Kris membungkukan sedikit badannya dan berjalan keluar dengan gayanya yang angkuh. Chanyeol yang tertinggal di belakangnya mengerjapkan matanya. Terkesan kikuk.

"Heh, Park Chanyeol, hey, hey~"

Chanyeol menolehkan kepalanya ke belakang. Dia mendapati Jiyeon yang tengah mencolek-colek pundaknya dengan pulpen berbulu pink. "Ya?"

"Memangnya Kris bisa sakit, yah?"

Kris tidak pergi ke ruang kesehatan seperti katanya. Dia melewati begitu saja ruangan itu dan terus berjalan menuju atap sekolah. Tempat favoritnya ketika ingin menyendiri. Kris menghentikan langkah kakinya saat dia akan membuka pintu besi.

"Kau bertemu Exost tadi malam? Siapa?"

Kris semakin merapatkan tubuhnya pada pintu dan menempelkan telinganya di sana. Sebenarnya, dia tidak terlalu suka menguping. Hanya saja, ketika tau itu suara Kyuhyun, pasti ada sesuatu yang menarik.

"Aku tidak tau. Tadinya, aku ingin memberitahumu di rumah. Hanya saja, kau sudah tidur dan pagi ini, kau datag terlambat bersama Minho hyeong."

Kris membuka sedikit pintu itu dan mengintip dengan siapa Kyuhyun berbicara. Dia hanya mendapati Kyuhyun berbicara dengan seseorang berjubah hitam dengan sebuah pedang di tangannya. Mengamati orang berjubah, Kris pernah mengenal pedang itu. pedang yang digunakan untuk menyerangnya tempo hari.

"Uh!" dia meremas dadanya dan mendudukan dirinya di anak tangga. Memperhatikan sekeliling, semuanya berkabut. Dia tidak bisa melihat apapun selain kabut putih. "Sial!" umpatnya.

BRAK!

"Urgh!"

Dia merasakan punggungnya dibenturkan dengan keras ke tembok. Sialnya, dia sama sekali tidak bisa melihat apapun di kabut ini.

"Kau mencoba menguping Wu?"

DEG!

Suara Kyuhyun!

Sebuah pedang menghunus ke arahnya. Hanya berhenti di depannya, tak sampai mengenai wajahnya atau anggota lainnya. Kris memicing menatap pedang itu. pedang yang dimiliki orang berjubah hitam tadi.

"Argh!"

Kali ini sebuah tangan mencekiknya. Wajah orang itu lama-lama semakin keihatan seiring kabut yang menghilang di sekelilingnya. Samar-samar dia mengetahui ini ada di atas gedung dan sepoian angin mengenai wajahnya.

"Uh, penganggu," umpat Kyuhyun sambil melemparkan asal tubuh Kris.

Kyuhyun mengarahkan tubuhnya ke sisi lain. Di sana ada Sehun yang berdiri dengan dua pusaran angin puyuh di sisinya. Rambut pria tampan itu bergoyang karena angin.

"Kai, sebaiknya kau pulang saja. Tidak akan bagus jika kau berlama-lama di sini," ucap Kyuhyun dingin.

Kai mundur satu langkah dan— CRASH!

Sebuah pisau angin merobek bagian lengan jubahnya. Dia melirik ke arah Sehun yang sudah menyiapkan pisau angin lainnya di tangannya. Dia seperti menantang Kai.

"Mau kabur, yah?" tanya Sehun datar.

Tangan Sehun masuk ke dalam pusaran anginnya. Tak dapat melukai kulit putih susu miliknya. "Viento pared," ucapnya tenang.

Tak lama, ada dua dinding angin yang mengelilingi Kai. Kai menancapkan pedangnya dan berusaha menahan agar tudung jubahnya tidak terlepas. Sialnya, dia seperti berada di dalam pusaran angin.

Sehun melangkah pelan ke arah Kris yang kini mencoba berdiri dengan payah. Tangannya terulur untuk membantu Kris berdiri. Kris memperhatikannya dan langsung menyingkirkan tangan itu. Dia benci terlihat lemar. Semantara Sehun, dia hanya menatap tangannya yang tadi dihempaskan dengan senyum getir. Dia kan hanya bermaksud baik.

"Kalian ini anak nakal, yah?" Kyuhyun mendecih tak suka pada kedua orang adik kelasnya.

Sehun mengatupkan tangannya, "palas eólicas" dan membuka tangannya; memunculkan beberapa pisaua angin yang kini dia arahkan pada seseorang di dalam dinding angin ciptaannya.

Kyuhyun nampak berwajah datar dan sedetik kemudian dia menyeringai, ketika melihat siluet hitam yang keluar dari dinding itu. "Apa yang kau lakukan Oh Sehun?" tantang Kyuhyun.

Sehun membelalakan matanya. Selama ini, tidak ada satupun yang bisa keluar dari dinding anginnya. Bagaimana bisa orang itu keluar dari sana? Yah, walaupun sudah dalam keadaan jubah compang-camping, akibat pisau angin Sehun.

"Mu— mustahil…"

"Bola de fuego!"

Kris langsung melemparkan bola api ke arah Kyuhyun. Sehun melirik Kris yang nafasnya memburu. Tidak, ini tidak bagus. Dia butuh Chanyeol atau Tao sekarang juga.

"Pergilah Kai," Kyuhyun mengibaskan tangannya.

Kai mengangguk dan segera pergi meninggalkan Kyuhyun yang dihadapi oleh dua Exost sekaligus.

"Ah, aku nyaris saja bisa membunuh seorang Hefaistos yang angkuh. Raja dari dunia bawah?" Kyuhyun menyandarkan tubuhnya pada dinding. "Tapi sayang sekali, aku kalah kuat dari seorang Anemoi yang menerbangkan semua kabut… kematianku."

Kyuhyun melompat beberapa lompatan ke belakang; mendekati pintu besi dan menyeringai.

"Sebaiknya, persiapkan diri kalian untuk menerima kekalahan."

"Hosh, hosh…"

Tao meremas erat kaos biru yang dikenakannya. Nafasnya benar-benar memburu dan keringat dingin perlahan-lahan mulai keluar.

"Tao, kau tidur?" di sana suara Suho terdengar dari luar pintu kamarnya.

Tao meraup banyak-banyak udara yang tiba-tiba saja menghilang di sekelilingnya. "Hyeong… hyeong…"

Suho mengerenyitkan keningnya. Apa pemuda panda itu tidur? Dia melirik jam tangan ber-merk Patek Phillippe miliknya yang tersemat manis di lengan kanannya. "Tiga puluh menit lagi sekolah akan pulang dan sepertinya, kita harus bersiap-siap."

Masih tak ada jawaban, Suho mengetuk pintu kamar Tao berulang-ulang. Tak ada jawaban sama sekali.. Entah mengapa, perasaannya menjadi tidak enak.

"Ada apa? Apa dia ketiduran?" Xiumin datang dengan sebuah apel yang sudah habis beberapa gigitan.

"Tak ad—"

PRANG!

Ada bunyi sesuatu yang jatuh dan pecah di dalam sana. Suho buru-buru mencari kunci cadangan di laci meja depan kamar Tao.

"Suho? Kenapa kau sepanik itu?"

"Aku merasakan sesuatu yang buruk, Min!"

.

..

Rencana awalnya adalah, membuat ruangan apartement gelap dan semuanya bersembunyi ketika Kris datang; lalu Tao datang keluar dari kamar sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin yang menyala; membuat Kris mati lemas di hadapannya.

Tapi yah, rencana hanya rencana saja. Semuanya kini hanya duduk terdiam di ruang tamu dengan terdiam. Lampu tak dinyalakan. Hanya mengandalkan jendela yang dubuka setengahnya. Luhan duduk dengan wajah lesu sambil memeluk balon berwarna merah muda. Kyungsoo menatap miris kue buatannya dengan Lay yang hanya dimakan oleh Xiumin dan Sehun.

"Kau marah pada kami, Kris?" tanya Chanyeol pelan— hati-hati.

Kris yang duduk menyandar pada sandaran sofa dengan mata terpejam, kini membuka matanya. Menatap satu-persatu tampang lesu manusia-manusia yang ada di sana— mungkin Xiumin dan Sehun tidak terlihat seperti itu.

"Awalnya aku ingin membakar habis tempat ini—" dia menegakan tubuhnya dan tersenyum samar. "Tapi… kondisi Tao yang seperti itu, yah—" dia menggedikan bahunya. "— bagaimana aku bisa marah? Kalian semua memasang wajah seperti itu—" dia melirik Xiumin dan Sehun yang sedang memperebutkan kue terakhir, "— tidak semuanya, sih. Tapi, terima kasih. Kalian berhasil membuatku tidak bisa makan dan tidur dengan baik."

Bukan senyum terima kasih yang dia berikan, malah senyum miris.

.

Tao duduk di atas ranjangnya dengan tatapan datar menatap kue blackforest buatan Lay yang masih ada di atas meja kecil di depan ranjangnya. Bukankah dia menghancurkan semuanya? Menghancurkan kejutan besar untuk Kris? Sekarang dia tidak punya wajah untuk menemui mereka semua.

"Keluarlah dan buatlah kejutan untuk mereka semua. Tidak hanya untuk Kris."

Tao menolehkan kepalanya ke arah jendela. Di sana ada Miyoung yang tengah bersandar pada jendela. Wajah cantiknya benar-benar indah saat warna senja mengenainya. Tao mengerjapkan matanya berkali-kali. Bukankah Miyoung terlihat seperti malaikat?

"Bagaimana kau bisa masuk?"

"Aku penasaran dengan ekspresi Kris. Tapi saat aku mengintip dari jendela kamarmu, semuanya mengerubungimu. Aku langsung mengetuk-ngetuk jendela dan hanya Suho yang sadar. Dia membuka jendela dan aku angsung bersembunyi. Kris saking khawatir padamu, tidak menyadari keberadaan ku."

Miyoung berjalan ke arah meja dan mengambil dua gelang yang tergeletak di sana. "Yang mana untuk Kris?" Miyoung mengangkat dua gelang itu dengan alis terangkat satu. "Hitam?"

Tao menganggukan kepalanya. Miyoung tersenyum tipis dan berjalan ke arah kue dan menyalakan api dari korek yang terletak tak jauh dari kue blackforest itu. Sudah ada beberapa lilin kecil di atas kue itu. Siapa yang memasangnya?

Miyoung tersenyum lebar saat semua lilin-lilin kecil itu menyala. Tao heran apa yang dilakukan gadis pecinta Korea itu.

"Tidak semuanya berantakan, Panda. Keluarlah dan buat kejutan kecil untuk mereka."

Miyoung membantu Tao berdiri dan memberikan kuenya pada Tao. Tao yang bingung akan maksud Miyoung menuruti saja. "Keluar sana!"

Miyoung membuka pintu dan mendorong Tao keluar. Tao tergagap saat Miyoung hanya di dalam kamar dan kembali menutup pintu, meninggalkan dirinya sendirian di depan kamar dengan wajah bingung sambil memegang kue. Apa yang harus dia lakukan?

Tao hanya melihat banyak orang di ruang tengah dengan wajah sedih. Oh, pasti itu karena pesta yang gagal, 'kan?

"K… Kris…" panggilnya gugup.

Padahal suaranya sangat kecil. Kenapa semua orang melihat ke arahnya? Padahal suaranya kecil sekali. Sepert suara tikus terjepit.

"S… selamat ulang… tahun…" dia mencicit ketika dia menoleh ke arah Kris yang melihatnya datar— dingin lebih tepat.

Kris berdiri dari tempatnya. Berjalan ke arah Tao yang tubuhnya bergetar kecil. Apa yang terjadi dengan bocah manis itu? kenapa sepertinya dia gugup sekali?

"Kris," Tao mengangkat kuenya dan tersenyum gugup. "Selamat ul—"

GREP!

Tiba-tiba saja Kris memeluk Tao dan membiarkan kue d tangan Tao jatuh begitu saja. Lay tersenyum miris. Susah payah dia membuat itu. Sementara itu, Sehun dan Xiumin menatap malang nasib kue yang nampaknya lezat kini sudah tidak berbentuk.

"Bodoh!"

"Kris?"

Kris mengeratkan pelukannya. Dia tidak peduli tatapan orang-orang yang mengulum senyum— terkecuali Sehun yang menatap tidak suka. Chanyeol buru-buru mengeluarkan ponselnya, Kyungsoo camera digitalnya dan Suho handycam nya. Seketika, mereka kembali bersemangat. Lay terkikik kecil dan menayalan lampu. Membantu para pengabadi moments itu dengan pencahayaan.

Sehun menatap datar. Seketika moodnya buruk memikirkan kue-kue itu.

Luhan melirik Sehun yang berwajah dingin dan datar. Okay, dia tau. Sehun mencintai Tao, right?

"Jangan mengikuti ide gila mereka yang membuat ku tidak bisa hidup dengan baik, Bodoh!" Kris mengeratkan pelukannya. Dia sama sekali tidak peduli dengan Tao yang kesusahan bernafas. "Aku medengarmu diculik dari Chanyeol dan seketika aku tidak bisa hidup dengan baik," Kris melirik Miyoung yang mengintip dari celah pintu. "Apalagi Miyoung dan Tuan Kang . Aku membenci mereka."

Tao menoleh ke arah Chanyeol yang melambaikan tangan kanan ke arahnya. Dia punya utang cerita padanya.

"Maafkan aku."

Hening.

Kenapa maaf yang keluar?

Tao meremas kemeja sekolah Kris. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang milik Kris. "Aku melihatmu berkelahi di sekolah dengan orang berjubah dan ada seorang lagi di sana. Aku tidak tau dia siapa. Semua berkabut dan Sehun datang dengan anginnya. Menolongmu menyingkirkan kabut itu, Kris. Seketika dadaku sesak. Jantung ku seperti ada meremasnya. Lalu semuanya buram."

Kris tau Tao menangis senyap di pelukannya. 'Laki-laki itu Kyuhyun, Tao.' andai Kris bisa mengatakan itu. Tapi bukankah itu semakin memperburuk keadaan Tao saja?

"Maafkan aku yang tidak kuat untuk menahan sakit itu, yah? Maafkan aku menghancurkan semuanya."

Entah dalam keadaan sadar atau tidak, Kris mencium pucuk kepala Tao lembut. "Keadaan mau menyelamatkan semuanya. Rencana awalnya adalah, saat aku menginjakan kaki di dalam apartement ini, aku akan langsung menyelamatkanmu dan membakar tempat ini. Rencana hanya rencana, bukan?"

Tao tersenyum kecil. Hanya dia yang bisa merasakan. Tidak ada yang bisa melihatnya ketika wajah manisnya memerah. Dia tau tadi Kris mencium puncak kepalanya.

Chanyeol duduk di sebelah Kris. Dia baru saja menidurkan Tao yang nampak kelelahan dengan pesta mendadak yang seharusnya gagal, malah menjadi pesta mendadak. Katanya sih, sayang sekali kalau hanya dirayakan dengan kemesraan Kris dan Tao.

Chanyeol melirik pergelangan tangan kiri Kris yang ada sebuah gelang berwarna hitam; dari Tao. Kris nampak sibuk dengan ponsel Chanyeol yang mengambil foto-foto dirinya dan Tao.

"Apa susahnya menyatakan cinta, Kris?" Chanyeol mengambil kue coklat yang dibelinya saat perjalanan pulang.

"Cinta? Buat apa? Siapa yang cinta?" jawab Kris datar.

Chanyeol menyipitkan matanya. "Saat semua sudah tau, kau masih bersikap seperti ini, Kris? Astaga!" Chanyeol ingin sekali memakan bulat-bulat kepala Kris dan memuntahkannya kembali dengan wajah yang memiliki ekspresi.

"Kalau begini, aku lebih setuju Tao dengan Sehun. Atau lebih baik, Kyuhyun saja?" Chanyeol kembali mencomot roti coklat. Melirik Kris yang menatapnya datar.

"Sampai dia dengan Kyuhyun, orang pertama yang aku bakar adalah kau Park Chanyeol. Kau orang yang memberikan restu padanya."

Chanyeol bersidekap. "Daripada denganmu; Dia akan semakin menderita. Bagaimana kalau dia sakit, apa yang bisa kalu lakukan selain memarahinya."

"Siapa yang ingin ebrpacaran dengannya, sih?" Kris melemparkan bantal sofa ke arah Chanyeol dan pergi begitu saja.

Chanyeol tertawa bahagia di tempatnya. Belakangan ini, Kris gampang sekali digoda.

.

"Lu, kenapa kau memperhatikan pria rakus itu terus?" Xiumin menunjukan foto hasil bidikan Kyungsoo. Luhan yang sedang menonton televise mengalihkan fokusnya pada camera digital itu. Ah, dia tertangkap basah.

"Kyung, kenapa kau malah mengambil fotoku, sih?" keluh Luhan.

Kyungsoo menjawab santai, "aku mengambil semua gambar orang-orang di sana. hanya saja, aku tertarik melihatmu yang satu-satunya tidak fokus pada Kris dan Tao. Kau malah memperhatikan Sehun itu."

Luhan meletakan camer itu dan mengambil keripiki kentang dari tangan Xiumin.

"Aku berpikir, Sehun cemburu pada Kris tadi."

Tak ada jawaban. Luhan melirik ke arah Xiumin yang fokus pada televisi.

"…dan lagu selanjutnya akan dibawakan oleh CHEN!"

"Tidak Tuhan. Jangan lagi,"

"CHENNNN!"

.

.

.

_TBC_

*Tau banget ini OOS-_-" chap depan, bakal dijamin seru. Mengganti kejelekan chap ini T^T aduh, mianhae, mianhae hajima(?) Yang bilang chap ini pendek, lapangan kosong, loh *huhaaa~* pokoknya, maafin kalau cerita ini ngaco T..T sengaco-ngaconya, mind to review? ._.

Oh, iya. Ming kehilangan kontak BBM. Invite, yo : 7ECB33AB *promosi*

Thankyou~ wo ai nimen~ ^^!

Bocoran chaps 8 : ChanBaek bakal ketemu, HunHan bakal ada moment, ChenMin bakal ketemu, and… KRISTAO bakal menggila! Oh yeah! ٩(̾●̮̮̃̾•̃̾)۶ Gak lupa sama Kyuhyun yang bakal gangguin Tao, ada KaiBaekTaemin juga, loh~ Ah, Tao Taemin sepertinya akan ketemu *senyum horror*

Mind to review?