Let's Get Married

.EXOolfeu Present.

Cast : Chanyeol, Kris, Baekhyun

Rating : T to M

Genre : Romace, Brothership

Disclaimer : Member EXO punya Tuhan YME, keluarga, serta fansnya. Alur cerita dan Chanyeol(?) mutlak milik author.

Summary : Perjodohan yang dilakukan sepihak oleh sang 'Ibu' membuat Wu Bersaudara terpaksa menerima hadirnya laki-laki mungil ditengah Mansion /IT'S YAOI! BOY X BOY! BL! SHONEN AI! CHANGE TO RATE M.

RE-MAKE - LET'S GET MARRIED BY WATARU MIZUKAMI

.

.

IF YOU DON'T LIKE

.

.

PLEASE DON'T READ!

.

.

DON'T BE PLAGIARISM!

EXOolfeu Present

.xxx.

Kris mengacak rambutnya kesal. Pria tua hiperaktif itu mengacaukan waktu-waktu berharganya. Hampir saja ia dapat kesempatan menunggangi—maksudnya mencicipi bibir Baekhyun, kalau saja ia tidak masuk. Persetan dengan rasa sopan, ia benar-benar ingin mencekik ibunya ketika dengan tidak tahu dirinya terkekeh sambil berkata, "ups, maaf. Sepertinya aku menganggu." Hell yeah, kau memang mengganggu!

Kris menatap sosok yang menundukkan diri malu-malu disebelahnya. Oh tentu saja ia sangat ingin kembali mendaratkan bibir tebalnya dan mencicipi aroma strawberry di bibir pria mungil ini. Tapi Kris bukanlah Chanyeol dan ia masih tahu malu untuk tidak asal menyosor.

"Tidurlah— akan ku antar ke kamarmu." Suasana kikuk dan hening itu terpecah oleh suara Kris. Baekhyun menatapnya sekilas lalu mengangguk.

Kris bangkit di ikuti Baekhyun dibelakangnya, Kris menunjuk salah satu pintu dan Baekhyun dengan patuh memasukinya.

Kris menyandarkan punggungnya pada dinding kamar Baekhyun setelah pintu itu tertutup. Kris menekan dadanya, merasakan degup jantung yang berdetak kian cepat saat reka ulang adegan beberapa saat yang lalu kembali berputar.

"Aku mulai gila."

Dengan itu, Kris melangkah pergi menjauhi kamar Baekhyun.

.

Sosok tinggi kelahiran November itu kembali menutup pintu kamarnya, matanya menatap jengah sosok yang—seperti biasa—bertelanjang dada. Ingin rasanya Kris menggeplak kepala adiknya itu kalau saja ia tega. Tentu saja ia tidak akan melakukan hal yang menyakiti Chanyeol karena apapun yang di alami oleh Chanyeol, seolah ia juga merasakan. Ikatan saudara kembar mungkin.

"Sudah kubilang kalau tidur gunakan bantalmu dengan benar, Idiot." Kris menata kepala Chanyeol dengan benar. Adiknya itu memiliki kebiasaan tidur tidak menggunakan bantal.

Kris menekan saklar lampu lalu berbaring diranjangnya sendiri. "Selamat malam, Chan Lie."

.

.

.

Dua sosok tinggi—dengan penampilan yang jauh berbeda—terlihat menuruni tangga menuju satu ruangan yang sudah di isi oleh pria tua hiperaktif (Oh, sungguh. Ini adalah julukan yang diberikan Kris secara langsung.) dan satu sosok yang sibuk— menata makanan? Apa yang ia lakukan? Apa pria itu membuatnya menjadi pembantu?

"Mom, Kau menyuruh Baekkie menata makanan?" Chanyeol memelototkan matanya yang sebenarnya memang sudah lebar hingga semua orang diruangan itu menatap ngeri seolah mata itu akan menggelinding keluar—oh terlalu hiperbolis.

"Aku sudah melarangkan, Chanyeol. Hanya saja pemuda manis ini bersikeras."

Kris dan Chanyeol mendudukkan dirinya di kursi.

"B-benar. Aku hanya merasa sungkan karena tinggal disini tapi tidak melakukan apapun untuk kalian. Setidaknya aku bisa membantu membersihkan rumah ini." Baekhyun melirik Kris, ketika pandangan mereka bertemu, Baekhyun memalingkan wajahnya.

"Tapi disini sudah ada banyak ma—"

"Sudahlah, Chanyeol. Lagipula itu bagus, Baekhyun bisa belajar menjadi istri yang baik. Dia bukan tipe orang yang bergantung pada Maid. Bukankah itu istri idaman?" mata Kris tak sedetikpun beralih dari wajah itu. membuat Baekhyun semakin tertunduk dan merona.

"Ah, benar juga. Kalau begitu, Baekkie, duduklah. Ah, aku bahagia sekali kalau kau benar-benar menjadi istriku." Chanyeol terkekeh dengan candaannya sendiri.

"Ah, iya, Baekhyun-ah, kenapa kau tidak memakai seragam? Kau lupa kalau akan mulai bersekolah dengan Chanyeol dan Kris hari ini, kan? Oh, atau mungkin aku yang lupa memberitahumu?"

Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Aku ingat, Mom. Aku hanya tidak mau seragam baruku kotor jadi aku memakainya setelah sarapan saja." Baekhyun terkekeh menunjukkan serentetan gigi putihnya.

"Ah aku pikir aku yang lupa."

"Mom, mobilku bagaimana?" Chanyeol menatap Ibunya penuh harap.

"Tidak ada. Kau bisa menumpang dengan Kris untuk kesekolah."

"Mom, tapi bagaimana kalau aku ingin mengajak Baekki jalan-jalan?"

"Kau bisa pergi bertiga dengan Kris. Bukan begitu, Baekki?"

Baekhyun mengangguk cepat. Tentu saja ia tidak akan menolak kalau pergi dengan Kris. Baekhyun menatap Kris yang masih sibuk dengan sarapan paginya. Ia menyimpulkan bahwa Kris adalah tipe orang yang fokus pada satu hal dan— sangat perfeksionis. Terlihat dari caranya menggunakan alat makan dan bagaimana ia menjaga sopan santun untuk tidak bicara saat makan.

Kris mengangkat wajahnya, merasa risih karena sedari tadi merasa ada yang memperhatikannya, dan—sungguh, wajah salah tingkah Baekhyun membuat Kris sebisa mungkin berjuang menahan tawa. 'senang dengan apa yang kau lihat, Byun Baekhyun?' Kris terkekeh dalam hati.

.

Waktu seolah berhenti berjalan, angin seolah berhenti berhembus, napas seolah tercekat saat sosok dengan balutan jas khas murid Senior Highschool itu berjalan ke arah mereka. Bagaimana tubuh putih bersih itu tertutup sempurna oleh Jas. Bagaimana jemari rampingnya yang berulang kali menyisir surai itu. Oh rasanya mereka sangat ingin mengulum jemari itu.

"A-apa penampilanku aneh?"

Mereka berdua menggaruk tengkuk kikuk saat kembali ke dunia nyata. Pesona Baekhyun benar-benar diluar dugaan. Kris buru-buru memasuki mobil.

"Tidak, kau sangat cantik. Ayo kita masuk, Baekki." Chanyeol menarik lengan Baekhyun dan mendudukkan dirinya di kursi belakang.

"Yak! Kau pikir aku ini supirmu? Cepat pindah kedepan! Biar Baekhyun duduk dibelakang." Chanyeol merengut mendengar perintah Kris.

Mobil itu ikutan embelah kota Seoul. Menyambangi padatnya Ibukota demi mencapai tempat yang disebut sekolah. Tempat dimana semua orang menganggapnya beban—apalagi untuk anak tingkat akhir seperti Chanyeol dan Kris.

Ketiga orang itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Chanyeol sibuk dengan ponselnya, Baekhyun sibuk dengan pemandangan diluar mobil, serta Kris yang sibuk menyetir. Kris terkadang mencuri pandang ke arah Baekhyun dan terkekeh dalam hati melihat matanya yang berbinar antusias. Ah, ia harus mengajak Baekhyun mengelilingi Seoul saat ada waktu luang.

.

Mobil itu terparkir sempurna, menjadi pusat perhatian semua murid yang—secara kebetulan atau disengaja—berada di halaman parkir mobil khusus murid. Dua sosok tinggi bak model itu keluar dari mobil, diikuti sosok kecl dibelakangnya yang sibuk meremas ujung jasnya karena gugup.

Baekhyun tersentak melihat semua orang memandang ke arah mereka. Suara bisikan mulai banyak terdengar. Menebak-nebak siapa gerangan yang berada di satu mobil dengan pangeran sekolah mereka.

"K-kris-ge aku takut." Cicit Baekhyun pelan. Ia merapatkan tubuhnya pada Kris yang membuat semakin heboh.

"Tak perlu takut, beberapa dari mereka akn menjadi temanmu nanti." Kris merangkul bahu pemuda yang lebih pendek darinya itu. "Chanyeol, urus mereka. Aku akan mengantar Baekhyun keruang kepala sekolah."

"Halo semuanyaaaaa!" teriakan suara bass Chanyeol mengiringi kepergian Kris dan Baekhyun. Beberapa perhatian teralih pada Kris dan yang lainnya menjawab sapaan Chanyeol. "Aku ingin memperkenalkan anggota keluarga baruku, jadi kalian harus menjaganya, oke? Jangan sampai dia kenapa-kenapa. Laki-laki pendek yang bersama Kris-ge tadi sudah menjadi bagian dari keluargaku. Jadi kalian harus berteman baik dengannya. Dia akan mulai sekolah hari ini. Namanya Byun Baekhyun, dia kelas 1. Terimakaish atas perhatiannya." Chanyeol melambaikan tangannya lagi.

Beberapa penggemar memberikan bekal atau benda untuknya dan Kris. Ada juga yang memberikan untuk Baekhyun sebagai tanda perkenalan. Chanyeol hanya membalas dengan kalimat 'Ah, terimakasih. Kau selalu memberikan sesuatu pada kami' 'Kau tidak perlu repot-repot membuatkannya untuk kami' 'Pasti akan aku habiskan, terimakasih.' 'Baekhyun pasti akan menyukainya.' Atau 'Ah, manis sekali. Sama seperti dirimu.'

Well, memang sudah menjadi rahasia umum tentang ketenaran Wu Brother ini. Chanyeol yang aktif dan periang membuatnya mudah dekat dengan siapa saja. Belum lagi ia memang multitalenta di bidang musik karena bisa rapp, bermain gitar, bass, drum, piano, dan ia juga aktif menjadi salah satu anggota klub basket. Sedangkan sifat dingin dan dewasa Kris membuatnya menjadi pusat perhatian. Kris sendiri adalah kapten tim basket dan salah satu anggota kedisiplinan.

.

Chanyeol memasuki ruang kelas dengan berbagai barang ditangannya. Seperti bekal dan beberapa cemilan. Sisanya ia letakkan didalam mobil untuk dinikmati saat malam atau diberikan pada anak-anak miskin yang kebetulan ia temui di jalan—walaupun ini sangat jarang karena rata-rata sudah ditangani oleh pemerintah.

Chanyeol mendudukkan dirinya disamping Kris yang sibuk dengan buku-entah-apa-itu. chanyeol bersenandung pelan dan menikmati cemilan yang diberikan oleh fans-fansnya tadi. Ia dan Kris memang tidak pernah membuang makanan dari fans mereka karena itu tidak sopan. Mereka sudah susah payah membuatnya—atau membelinya—dan ia harus menghargai itu. hampir setiap hari pula Kris dan Chanyeol membawa pulang banyak makanan.

"Kris-ge, bagaimana dengan Baekhyun?"

"Aku sudah mengantarnya sampai kelas. Untuk informasi, Baekhyun sekelas dengan pemuda bermata bulat yang kau taksir itu."

Chanyeol berseru. Semuanya serba kebetulan dan itu sangat lucu. Bukan lucu dalam artian sebenarnya.

"Apa topik pagi ini? Masih Chanyeol yang ditolak oleh Do Kyungsoo demi Kim Jong In si anak dari klub dance itu?"

Luhan yang baru masuk kelas langsung mencomot makanan Chanyeol dengan seraupan besar tangannya.

"Sialan kau rusa pendek!" Chanyeol melayangkan setumpuk tebal buku biologi Kris.

"Omong-omong, siapa pemuda manis yang kau rangkul tadi Kris?" Luhan menaik turunkan alisnya menggoda Kris—yang kembali di lempar buku oleh Chanyeol.

"Kris-gege~ lihat, Channie memukulku. Hidungku sakit~" rajuk Luhan manja, lengannya dengan manja mengapit lengan besar Kris.

"Kau sangat menjijikkan, Luhan." Kris mendengus sebal. Selalu seperti ini, paginya dikacaukan oleh dua orang disampingnya ini. "Jangan bertingkah sok imut atau aku akan menyuruh si anak baru bernama Sehun itu memasukimu."

Luhan memukul kepala Kris kesal.

"Luhan, duduk dikursimu. Dan kau Chanyeol, cepat masukkan makananmu itu. pelajaran akan segera dimulai."

.

.

.

Siang itu, di ruang kelas 1-B ramai oleh riuh beberapa siswi perempuan yang mengerubungi bangku Baekhyun. mereka terus mendesak untuk mengajak Baekhyun makan siang di kantin. Baekhyun tentu saja tidak ingin menolak, hanya saja tadi pagi Kris bilang ia harus menunggunya dan Chanyeol.

"Baekhyunie! Tadi pagi aku menitipkan boneka untukmu pada Chanyeol-oppa."

"Ah? Benarkah? Apa itu untukku?"

Mereka kembali berteriak ricuh melihat Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya imut.

"Tentu saja untukmu!"

"Baekhyunnie! Aku punya susu strawberry dua, kau mau satu?"

Mata Baekhyun berbinar melihat susu strawberry dihadapannya. "Apa boleh untukku? Tidak apa?"

Yeoja itu mengangguk semangat. Baekhyun menggigit bibir bawahnya lalu meminum susu itu sebelum perhatian teralihkan ada dua tiang yang kini berdiri dipintu. Semua menegang karena untuk bersuarapun sulit mengingat ini pertama kalinya dua sunbae yang dipuja itu masuk kekelas mereka.

"Baekkie, kau dapat itu darimana?" Baekhyun menunjuk salah satu siswi saat Chanyeol bertanya. Chanyeol tersenyum ke arah gadis itu.

"Terimakasih karena menjadi teman Baekhyun kami!"

"Ayo makan, aku lapar." Kris hendak membalikkan badannya dan keluar kalau saja tidak ada siswi yang berdiri dihadapannya. "Ada apa?"

"A-aku membawa bekal dari rumah, ini buatan ibuku, kalau Sunbae lapar, sunbae bisa makan bekal punyaku."

"Tidak perlu. Anak macam apa kau ini? Dibuatkan bekal malah memberikannya pada orang. Lagipula aku sudah punya banyak makanan."

Ya, begitulah Kris Wu. Bersikap dingin dan seolah tidak berperasaan. Tapi mereka—orang yang mengagumi Kris mengerti bahwa sosok itu memang begitu adanya. Setiap tutur kata dinginnya memiliki makna lain yang sangat hangat.

Gadis itu tersenyum, "Baiklah sunbae."

.

"Yyo! Wassup! Kenapa baru datang, kalian lama sekali!"

Kris memuar bola matanya malas, baru saja mereka sampai, Luhan sudah tidak henti-hentinya berbicara.

"Oh astaga! Kau yang tadi pagi dirangkul oleh Kris, kan? Hei anak baru, kenalkan aku Luhan. Senior paling tampan digedung ini." Luhan mengulurkan tangannya.

Baekhyun tersenyum, menjabat tangan itu. "Aku Byun— KYUNGSOO!"

"Apa? Namamu Byun Kyungsoo?"

Baekhyun menggeleng cepat, "Tidak, aku sedang memanggil temanku. Aku Byun Baekhyun." Baekhyun melambaikan tangannya saat Kyungsoo melihat ke arahnya.

"Kris-gege~ Kyungsoo boleh, ya, makan disini?"

Chanyeol tersedak, Kris dan Luhan tertawa keras lalu mengangguk setuju. Chanyeol terlihat kikuk saat Kyungsoo mendudukkan diri dimeja mereka.

"Apa— aku boleh bergabung? Tidak apa, sunbae?" Kyungsoo melirik Chanyeol.

"A-ah, iya tidak apa-apa." Chanyeol mengangguk kikuk. Sialan kau Wu Yi Fan, Lu Han. Chanyeol menatap tajam ke arah Kris dan Luhan. tolong ingatkan untuk membalas mereka berdua. Chanyeol menyunggingkan seringainya. Membalas, ya? Ah ia punya rencana hebat untuk ini.

"Oh Sehun! Hey! Iya kau! Kemarilah! Ada yang ingin aku bicarakan. Makan saja disini!" dan dengan itu senyum setan mengembang dibibir Chanyeol. Luhan menggertakkan giginya. Bocah idiot sialan ini benar-benar cari mati.

.

.

.

Gelak tawa itu tak ada hentinya meski ketiganya sudah didalam mobil dalam perjalanan pulang kembali ke —satu-satunya yang tertawa—terus menepuk-nepuk dashboard mobil hingga tak sekali-dua kali Kris memakinya dalam hati. Oh ayolah, mobil ini adalah asset berharga milik Kris selain Ace—boneka yang diberikan mantan kekasihnya dulu. Baekhyun sendiri hanya bingung menatap sosok yang sampai sekarang-pun masih tergelak keras.

Chanyeol merasa puas saat berhasil membuat rusa pendek—julukan ini Chanyeol berikan saat tak sengaja Luhan berjalan diantaranya dan Kris— itu keringat dingin tak karuan. Chanyeol bahkan masih ingat bagaimana wajah tegang Luhan saat Sehun mendudukkan diri tepat disampingnya.

"Wu Chan Lie. Hentikan tawamu atau ku pastikan di tikungan depan kau turun."

Oke. Chanyeol memilih diam.

.

Kris menghempaskan tubuhnya kasar pada sofa di ruang keluarga setelah meletakkan tasnya dimeja. Lain hal dengan Chanyeol yang sudah melempar tasnya entah ke sudut mana. Baekhyun hanya tersenyum melihat keduanya.

"Gege, Channie, kalian mau aku buatkan minum?"

Kris menatap Baekhyun jengah. Ia sebenarnya malas menanggapi omongan orang lain kalau tubuhnya benar-benar lelah. Tapi ini bukan 'orang lain'. "Tak usah, aku tahu kau juga lelah. Duduk diam disitu."

Baekhyun menundukkan wajahnya. Kris-nya berubah. Bukan Kris yang berbicara padanya di Taman itu. Bukan pula Kris yang mengusap lembut bibirnya malam itu.

"Baekki kau haus? Aku akan menyuruh Maid membuatkanmu sesuatu." Tawar Chanyeol. Baekhyun menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis.

"Chanyeol-ah, bisa belikan tteokbeokki untuk kita bertiga?"

"Ge~ aku lelah. Kenapa tidak menyuruh Maid saja?"

"Ayolah, Channie~"

Skak mat. Oke Chanyeol kalah. Percayalah di dunia ini tidak ada yang lebih berbahaya selain ucapan lembut seorang Kris Wu. Karena seperti apapun kau ingin menolak, kau akan berakhir dengan menyetujuinya.

Kris berpindah posisi disamping Baekhyun setelah ia memastikan Chanyeol sudah keluar.

"Kenapa? Hei, tatap aku."

Baekhyun hampir menangis karena lagi-lagi Kris berkata lembut padanya. Seperti kemarin dan semalam. Ia bahkan mengira Kris marah padanya. Atau apapun yang jauh lebih buruk.

Mata Kris kembali terpaku pada bibir yang kini berada didepannya.

Kris, ayolah, ini kesempatanmu menikmati bibir itu lagi.

Tidak, Kris, jangan lakukan. Kau bisa membuat Baekhyun takut.

Cepatlah! Tidak ada waktu lagi, bodoh! Chanyeol bisa kembali kapanpun.

CUP!

Kris merutuki seberapa tipis lembaran imannya. Tapi ia benar-benar tidak akan menyia-nyiakan bibir ini untuk kedua kalinya. Ini terlalu candu untuk Kris. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menda—

BRAK!

Oh, shit! Tidak lagi, pria tua hiperaktif!

"Mo—!"

Tidak. Tolong sadarkan dia. Itu bukan Ibunya. Bukan orang yang beberapa detik yang lalu ia maki-maki karena ia pikir orang itulah yang kini membuka pintu. Itu Chanyeol. Adiknya. Rivalnya.

.

.

.

TBC!

Maaf ya kalau lama apdet^^ makasih buat yang mau nunggu. Review ya dear~ kalau banyak chap 4 langsung post!^^ UNTUK YANG NUNGGU FF INI, TENANG FF INI PASTI AUTHOR LANJUT.

Balasan Review:

ByunnieKou: Gak ada pair yang akan ngenganggu mereka bertiga kok. Kalau ada pun gak akan rumit konfliknya :)

Taeminholuphrenchullie banaelfshawol: Iya T.T ada yang tau juga ternyata. Ini yang perannya dua cowok kece itu~

Baekkichan077: untuk chapternya kayaknya gak terlalu panjang deh, maaf ya. Author perkirain ga ada sampai 10 chapter.

Mayzie: Shounen-ai sama yaoi itu sama :) dan di atas sudah author tulis kalau ini adalah BL/Shounen Ai/Yaoi.

Big thanks to:

Aruna Wu, babybyunsoo, chika love baby baekhyun, shantyy9411, yuliafebriy, DEPO LDH, ssnowish, loveHEENJABUJA, ByunnieKou, hatakehanahungry, andini sujuelfkpop, Taeminholuphrenchullie banaelfshawol, Baekhugs0402, pintukamarchanbaek, baekggu, kyarashita, Guest, baekkichan077, kyuhyukhae, Inggit, Keepbeef Chiken Chubu, BLUEFIRE0805, Mayzie, YulfaSeptariani, realkkeh, marchy.