Let's Get Married

.EXOolfeu Present.

Cast : Chanyeol, Kris, Baekhyun

Rating : M

Genre : Romace, Brothership

Disclaimer : Member EXO punya Tuhan YME, keluarga, serta fansnya. Alur cerita dan Chanyeol(?) mutlak milik author.

Summary : Perjodohan yang dilakukan sepihak oleh sang 'Ibu' membuat Wu Bersaudara terpaksa menerima hadirnya laki-laki mungil ditengah Mansion /IT'S YAOI! BOY X BOY! BL! SHONEN AI! CHANGE TO RATE M.

RE-MAKE - LET'S GET MARRIED BY WATARU MIZUKAMI

.

.

IF YOU DON'T LIKE

.

.

PLEASE DON'T READ!

.

.

DON'T BE PLAGIARISM!

EXOolfeu Present

.xxx.

WARNING: MATURE CONTENT!

Semuanya berjalan seperti biasa bagi sosok kelahiran China-Kanada itu. Teriakan riuh pagi hari, senyum manis Baekhyun, pertengkaran Chanyeol-Luhan, serta tugas yang menumpuk tinggi. Tidak ada yang berubah kecuali kehadiran satu sosok yang harus selalu ia awasi. Dan sialnya lagi, ia harus benar-benar menghabiskan waktunya untuk itu. Ia sedikit menyesali jabatannya.

"Menu makan siang kali ini apa?" Luhan menyenggol pundak Kris sok asik.

"Kepalamu."

Chanyeol tertawa keras sedangkan Luhan menggerutu. Ia bertanya baik-baik. Duo tiang listrik ini benar-benar pembully berbakat.

"Terserah saja, lagipula aku lupa jika siang ini ada janji dengan sehun."

Chanyeol mencebil. "Sudah berapa banyak kondom yang kau habiskan?"

"Kau gila. Mana mungkin aku menggunakan benda biadab seperti itu." Luhan mendengus sebal. Pagi hari ini adalah hari sialnya.

"Oh, jadi Luhan lebih suka tanpa pengaman. Benar-benar tidak habis pikir." Kris membalikkan lembar bukunya santai sedangkan Luhan memekik heboh. Ia benar-benar bisa gila berteman dengan penjahat kelamin seperti Wu Brother ini. Apasih yang disuka para fansnya dari makhluk mesum bermuka seratus ini. Dasar kepribadian ganda!

.

"Berhenti mengikutiku atau aku akan mematahkan hidungmu juga."

Dua pasang kaki itu berhenti bersamaan. Semilir angin atap menerbangkan surai mereka.

"Coba saja kalau kau berani."

Sepersekian detik berikutnya, jemari itu mencengkram erat kerah baju Kris. Kepalan tangan berhenti tepat beberapa sentimeter dari wajahnya. Ia tahu bocah ini tidak akan berani memukulnya. Itu hanya akan menambah sanksi yang ia dapat.

"Bersyukurlah atas jabatanmu, Tuan Kedisiplinan." Tubuh Kris terpelanting beberapa langkah. Kris menepuk kotoran dibahunya dan tersenyum kecil. Kucing yang satu ini amat sangat nakal. Perlu sedikit pelajaran, mungkin.

Kris tersenyum kecil, mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari dan melangkah perlahan. Sekali ia maju, sekali pula sosok itu memundurkan tubuhnya. "Dan bersyukurlah karena sang tuan kedisiplinan setampan diriku."

Tao tersenyum meremehkan. Ya, memang tampan. Tapi tetap saja ia malas mengakuinya.

Terpojok. Dua lengan Kris mengunci tubuhnya di dinding. Tunggu— h-hei! Ia bahkan masih di bawah umur untuk diperlakukan tidak senonoh seperti ini!

"Untuk informasimu saja, jangan bermain-main dengan tuan kedisiplinan sepertiku, kucing nakal. Atau kau akan merasakan dampaknya suatu hari nanti. Menurutlah dengan apa yang aku ucapkan."

Tao mengangguk horror. Setidaknya ia harus menyelamatkan keperjakaannya. E-eh?

Kris menepuk kepala Tao pelan, "Baiklah ayo turun. Aku lapar. Kau menghancurkan jadwal makan siangku, bocah."

"AKU BUKAN BOCAH, DASAR TUAN KEDISIPLINAN HIDUNG BELANG!" Tao mengacak rambutnya kesal. Bahkan ucapannya saja tidak didengarkan. Ia benar-benar ingin menghajar senior itu. sok tampan sekali dia!

.

Baekhyun mengaduk-aduk makanannya. Tak ada semangat sedikitpun meski sajian dihadapannya terlihat enak. Moodnya hancur saat Chanyeol memberitahu kalau Kris tidak bisa bersama mereka untuk beberapa minggu.

Chanyeol menatap perangah Baekhyun. ia tahu ada yang sedang Baekhyun pikirkan, tapi ia mencoba untuk membiarkan agar Baekhyun sendiri yang bercerita. Biarlah ia berpura-pura bodoh untuk sesaat. Ia sadar akan satu hal, tapi— yasudahlah.

Cklek!

Tawa kencang melantun dari bibir Chanyeol saat Baekhyun berusaha merebut ponselnya. Ia berdiri dan mengangkat ponselnya setinggi mungkin. Membuatnya tertawa kencang karena Baekhyun bahkan tidak bisa menggapai lengannya. anak ini mungil sekali.

"Channie! Hapus potoku! Kemarikan ponselnya!"

"Tidak, Baek. Kau terlihat imut sekali saat bengong seperti itu. hey! Hey! Jangan gigit tanganku! Aw!"

Chanyeol memegangi kepalanya dan Baekhyun dengan sigap menangkap ponsel Chanyeol yang hampir terjatuh dan menghapus poto itu dengan cepat.

"Wu Yi Fan kenapa kau memukul kepalaku!" sentaknya keras tidak terima. Kris hanya mengendikkan bahu tidak peduli lalu duduk ditempat Baekhyun dan Chanyeol tadi bersama Tao. Tao awalnya ingin duduk sendiri tapi senior mesum ini menariknya.

"Uh-oh, Kris-ge, kau dapat mainan baru?" Chanyeol menaik-turunkan alisnya.

"Tutup mulutmu, bodoh. Dia sedang dalam masa pengawasan. Tao, cepat pesan makanan untuk kita berdua."

Tao memilih bangkit dan mengambil makanan daripada harus mengurusi dua senior gila itu. lagipula mainan apanya, memang dia boneka. Kenapa hidupnya sesial ini. Kenapa pula Kepala Sekolah sialan itu tidak mau nedengarkan pembelaan darinya. Ia tidak akan memukul kalau bukan karena merekalah yang memulai.

Ia meletakkan nampan itu dipiring dan menikmatinya dalam diam. Ia ingin berbicara pun tidak tahu apa yang harus dibahas. Ia ingin waktu istirahat cepat berlalu dan segera pulang agar ia tidak lagi-lagi diikuti senior mesum itu.

"Hey wassup!"

"Tidak usah sok manly." Luhan pundung seketika mendengar celetukkan Kris. Kenapa ia terus saja ditindas disini? Tidak adakah forum pembelaan rusa cant— tampan maksudnya.

Baekhyun memilih berdiam diri. Ia tahu pemuda sangar disamping Kris adalah siswa yang harus diawasi karena kasus perkelahian kemarin, tapi tetap saja ia merasa— ah, sudahlah. Sesekali Baekhyun mencuri lirik ke arah Kris yang sibuk makan. Sejak kemarin ia tidak dapat kesempatan ngobrol dengan Kris.

Getaran kecil disakunya membuat Baekhyun merogoh benda kotak itu lalu membaca pesan masuk dari— Kris?

Bagaimana dengan taman bermain minggu besok?

Baekhyun menahan diri agar tidak tersenyum lebar apalagi memekik.

.

.

.

Lets erase everyone one by one except us

Paused as if only you and i exist here.

.

.

.

Baekhyun kembali merengut sebal. Lagi-lagi Kris tidak bisa ikut mereka pulang bersama. Ia memilih memberikan kuncinya pada Chanyeol dan pulang naik bus karena harus mengawasi bocah sangar itu agar tidak terlibat perkelahian lagi. Bahkan Kris harus mengantarkannya sampai rumah. Memangnya Kris pengawal!

Chanyeol menidurkan kepalanya di paha Baekhyun saat tak satupun dari mereka membuka percakapan sejak satu jam yang lalu sampai dirumah. Ia memejamkan matanya. Baekhyun tersenyum kecil lalu mengusap lembut surai itu. Chanyeol memiliki surai hitam helam. Sedangkan Kris pirang menyala. Chanyeol punya mata bulat berbinar, tapi Kris bermata tajam. Tapi selebihnya— mereka berdua benar-benar mirip. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tebal, kulitnya yang putih, tinggi badan, juga ketampanan. Baekhyun sedikit menyesal kenapa tidak lahir setampan mereka.

Sepasang mata itu terbuka perlahan saat jemari Baekhyun mengitari bibinya. Menyentuhnya dengan lembut. ia bahkan tidak tahu bahwa Baekhyun cukup berani melakukan itu. Chanyeol menyelami bagaimana indahnya mata sipit itu. mata yang membuatnya— terjatuh? Entahlah.

Dua pasang bibir itu bergerak seirama, meresapi rasa masing-masing. Menyalurkan apa yang tak bisa mereka katakan dengan ucapan. Chanyeol melepasnya saat ia rasa itu sudah cukup.

"Menikahlah, denganku."

.

Kris tersenyum kecut. Ia membalikkan tubuhnya kembali. Pulang bukan pilihan terbaik.

.

Luhan melipat tangannya didepan dada melihat makhluk yang tiba-tiba muncul didepan rumahnya dengan memencet bel tidak sabaran. Untung saja belnya tidak rusak. Lagipula untuk apa orang sialan ini datang kerumahnya.

"Aku ingin menginap."

"Dalam rangka apa?"

"Patah hati."

"Eh?" Luhan melongo. Kris patah hati adalah sesuatu yang sangat tidak wajar. Pertama, Kris tidak pernah dekat dengan siapapun. Kedua, siapa yang dengan bodohnya menolak Kris? Ketiga, kenapa pula ia yang kenapa imbasnya.

Tapi Luhan memilih diam saat temannya itu memijat pelipis di sofa ruang tamunya (padahal Luhan belum mempersilahkan masuk tapi alien gila ini nyelonong dengan seenaknya) ia tahu Kris sedang tidak bercanda. Ia akan menunggu sampai sohibnya ini bercerita.

Luhan duduk disamping Kris dan menepuk pundaknya menenangkan. "Menangislah jika ingin menangis. aku bisa meminjamkan pundakku untukmu."

"Holyshit. Kau pikir aku gadis labil yang diputuskan pacarnya? Untuk apa pundakmu itu."

Luhan mencebil bosan. Sudah untung ia perhatikan. "Lagipula kau ini sok-sokan patah hati, memangnya sejak kapan kau punya kekasih?"

"Tidak. Tidak. Aku tidak tahu ini patah hati atau bukan. Hanya saja— entahlah rasanya sesak saat kau melihat seseorang sedang bersama orang lain dan berciuman. Dan melamar. Dan tersenyum. Dan— ah persetan."

Satu hal yang baru ia ketahui, Kris tidak pandai berbahasa. Eh tapi itu tidak penting, sih.

.

Lagi, Luhan rasanya ingin terjun bebas, atau setidaknya gantung diri melihat bagaimana dengan tidak berperasaannya Kris membombardir tempat tidurnya. Sebentar, ini perlu klarifikasi, Ia adalah tuan rumah. Dan Kris adalah tamu. Lalu kenapa sekarang Kris yang dengan semena-mena menguasai tempat tidurnya hingga ia harus tidur dibawah. Dilantai. Dingin.

"Wu Yi Fan kau benar-benar! Sana pulang!"

Dan semuanya berakhir dengan Kris yang benar-benar terdepak dengan keras dari rumah Luhan. Tidak diragukan lagi bahwa memang rusa sok manly itu jago sepak bola. Tendangannya terasa nyeri di bokong Kris.

Kris terdiam didalam taxi sampai benda baja itu berhenti didepan rumahnya. Ia melihat Chanyeol dengan terkantuk-kantuk menunggu dibangku depan. Ia menghela napas pelan.

"Chan Lie, bangunlah. Hei, aku sudah pulang."

Chanyeol meregangkan tubuhnya seperti kucing. Matanya beberapa kali berkedip sampai fokus pada tubuh seseorang yang beberapa jam ia tunggu. Chanyeol sedikit bersyukur Kris tidak apa-apa. Meski faktanya walau Kris tidak bisa bela diri setidaknya ia tinggi.

"Masuklah. Tidur didalam."

Dengan itu Chanyeol menurut. Ia menahan diri agar tidak bertanya macam-macam mengenai kenapa kakaknya itu pulang selarut ini tanpa memberi kabar. Lagipula, keadaan Kris tidak bisa dikategorikan baik-baik saja.

Kris merebahkan badannya di ranjang. Ia mengeluarkan ponsel dan emmbaca ulang pesan yang ia kirim siang tadi saat istirahat. Tidak seharusnya seperti ini. Kenapa semuanya semakin rumit? Ia tidak mungkin menyukai— tidak, tidak mungkin. Ini terlalu cepat. Lagipula ia belum tau ini rasa suka atau hanya sekedar sayang sebagai adik.

Jemari panjang itu terus mengotak-atik ponsel pintarnya. Tak berniat sama sekali untuk menyambangi alam mimpi meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Jemarinya berhenti ketika menemukan kontak yang baru ia simpan tadi sore saat mengantar Tao pulang. Mungkin sedikit perdebatan kecil dapat menghiburnya.

Ia menggeser tombol hijau untuk panggilan dan mendengar dering diseberang sana. Mungkin ia mengganggu tapi siapa peduli. Ia ingin teman ngobrol dan bocah panda itu harus menemaninya.

"Halo. Ini siapa?"

Kris terkekeh pelan mendengar suara malas bercampur ngantuk. Mungkin jika ia memberitahu identitasnya maka bocah itu akan mengamuk esok pagi.

"Aku—"

"SENIOR SIALAN! JANGAN GANGGU TIDURKU ATAU BESOK PAGI KUPATAHKAN TULANG RUSUKMU MENJADI DUABELAS BAGIAN!"

Tut tut tut.

Kris melongo heran. Gagal sudah rencananya.

Ia hampir saja melempar ponselnya saat dering telpon terdengar lumayan kencang. Ponsel sialan, kalau mau bunyi seharusnya bilang!

"Halo?"

"Kris-ge, ini aku."

Kris menahan napas sebentar lalu menghembuskannya pelan. Tahan Kris, kau baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. "Ya? Kenapa, Baekhyun-ah?"

"Aku bosan~"

Ia berdehem pelan, "Kenapa tidak tidur, hm? Apa ada masalah?" Kris mulai berpikir gila semenjak beberapa menit yang lalu suara Baekhyun seolah mengundangnya. Friksi tentang bagaimana suara Baekhyun yang terasa berat dan jauh lebih— intim seolah menggodanya untuk melakukan hal lebih. Dan disinilah Kris memerankan perannya dengan baik.

"Aku butuh semacam— teman tidur? Entahlah aku hanya merasa amat bosan."

Ia bahkan tidak peduli tentang seberapa mesumnya ia yang menganggap kalimat Baekhyun semacam 'tidurlah bersamaku dan puaskan aku dari rasa jenuh ini'. Kris menggigit bibirnya pelan, suaranya semakin serak dan seolah berbisik. Baekhyun pun melakukan hal yang sama. Mereka mendekap guling bersamaan.

"Bagaimana kalau— sedikit bermain?" Kris menahan diri untuk tidak langsung bangkit dan 'menghajar' Baekhyun ditempat.

Hening sebentar sebelum suara 'uhm' menyautinya. Dan demi tuhan, Kris seolah mendengar desahan kecil Baekhyun diseberang sana. Oh ia bisa gila malam ini. Kris memutar otak sebentar sebelum ia memilih melonggarkan ikat pinggangnya. Ia perlu kebebasan.

"Kau sudah mengunci pintu?"

Baekhyun menggeleng namun merutukinya karena ia baru ingat Kris tidak bisa melihat. "Belum, untuk apa?"

"Hanya jaga-jaga. Kunci pintunya. Pastikan tidak ada yang bisa masuk."

Baekhyun bangkit dengan malas dan mengunci pintu lalu kembali membaringkan tubuhnya telentang diatas kasur. Ini hanya perasaannya saja atau Kris menjadi— seksi? Ugh, bayangan bagaimana Kris tanpa atasan membuatnya kurang nyaman. Apalagi jika banyak bulir air dirambut pisangnya dan—

"Lakukan sesuai apa yang aku katakan. Bermainlah dengan imajinasimu."

Baekhyun bukan orang bodoh yang dengan munafiknya akan berkata seperti 'memang apa yang akan kita lakukan'. Ia bukan orang mesum, tapi tentu saja ia tahu bahwa Kris mengajaknya bermain— Phone sex. Tapi tidak ada salahnya juga. Toh, ia butuh dibebaskan sekarang.

"Akan kucoba."

"Lepaskan celanamu perlahan. Bayangkan aku melakukannya untukmu."

Jemari Baekhyun bergetar. Nada suara Kris benar-benar membuatnya terpancing. Ia melepas perlahan celana tidurnya dan celana da—

"Tidak tidak! Jangan lepaskan celana dalammu. Biarkan ia disana." Kris terkekeh pelan mendengar suara merengut Baekhyun. "Bayangkan aku berada diantara kedua kakimu. Membuka lebar pahamu. Bayangkan bagaimana aku mengecupi setiap kulit lembutmu."

Baekhyun menahan napasnya. Ia mulai bergerak gelisah. Ini— lebih dari apa yang ia bayangkan. Permainan yang menarik. Baekhyun membuka lebar pahanya. Jemari lentiknya bergerak membelai kulitnya sendiri. Membayangkan seolah jemari panjang Kris-lah yang memuaskannya.

"Sentuh itu sayang, bayangkan aku mengecupi ereksimu. Bayangkan bagaimana lembutnya lidahku. Ughh— rasamu benar-benar nikmat."

"Nghhh— ahh." Baekhyun menggelengkan kepalanya. Jemarinya merekan ereksi itu hingga mengeras. Ia merasa udara amat panas. Ini masih kurang. Ia butuh sesuatu yang lebih!

"Sentuh nipple-mu. Pilin itu dengan jarimu dan bayangkan aku yang melakukannya." Baekhyun menyusupkan satu lengannya kedalam baju dan mencubit putingnya dengan keras.

"Akh!"

Tawa renyah terdengar, "Pelan-pelan, sayang."

Baekhyun mendengung frustasi. Ia bersumpah ia ingin lebih!

"Aku ingin dirimu, Ge. Berhenti bermain~"

"Wah-wah, lihat siapa yang bersemangat malam ini." Kris tertawa, "Aku akan memuaskanmu lebih dulu. Cepat lepaskan celana dalammu. Kau ingin dengan mulut atau tangan, sayang?"

Baekhyun terus memijat ereksinya. Ia benar-benar tidak sabar. "Kedua-duanya, sir."

Kris tersenyum puas. Sedikit tidak menyangka dengan kemampuan Baekhyun yang lumayan nakal. Padahal anak itu kesehariannya polos sekali. Seandainya ia bisa menyentuh Baekhyun secara langsung.

Waktu terus berjalan. Keduanya sibuk dengan urusan maisng-masing. Saling mendesah berat melalui penghubung berbentuk kotak itu. saling mengirimkan impuls nikmat satu sama lain meski hanya sebatas imajinasi. Perasaan ingin memiliki begitu kuat membuncah hingga keduanya berakhir dengan desahan panjang kala itu. Baekhyun yang naked total, dan Kris yang masih menggenggam erat kejantanannya pasca orgasme.

Namun siapa sangka malam itu terasa amat panjang saat dengan nakalnya bibir Baekhyun mengucapkan kalimat pembangkit nafsu Kris. "Aku ingin lagi."

.

"Aaah ahhhh Kris oh yatuhan!" Baekhyun memejamkan matanya semakin erat. Jemarinya terus bergerak sedalam yang ia mampu tapi apadaya semuanya masih terasa kurang baginya. Ia ingin lebih. Sesuatu yang lebih panjang dan besar. Tapi sekali lagi, Kris menolak.

"Ouhh— kau benar-benar sempith Baekh. Oh shit!"

Keduanya sama-sama frustasi.

"Krisss. Ahh ahh ngahh! AKHH!" tubuh itu melengkung keatas saat jemarinya menemukan tempat yang pas. Baekhyun bergerak mengulang lagi. Mencoba mencari sesuatu yang dapat membuatnya kembali menyambangi langit ketujuh.

"Akkhhh ahh yatuhan, Kris ahh ini nghh— nikmat sekali."

"Rasakan ini Baek. Rasakan betapa kerasnya aku. Rasakan bagaimana aku mengagahimu! Ouh!" Kris mempercepat kocokan pada ereksinya.

Lelaki yang lebih muda tampak tak dapat mengontrol rona wajahnya. Ia merasa aneh namun menyukainya bagaimana kata-kata kotor Kris membuatnya makin semangat. Harus ia akui, Kris dewa dalam hal ini.

"AAAAKHHHHH!"

Keduanya berteriak dalam nikmat, menyumpah serapahi kenikmataan dini mereka. Kris tersenyum kecil mendengar deru napas teratur dari seberang. Bagaimana bisa bocah itu langsung tertidur pasca orgasme. Ia harus mengakui kalau Baekhyun benar-benar sulit ditebak.

"Aku menyukaimu, Byun Baekhyun."

Tut tut tut.

Kris memutus telepon mereka malam itu.

.

.

.

TBC!

AHAHAHAHHA NC MACAM APA ITU. Ah jebal. Serius. Sebenarnya aku gabisa buat mature content. Apalagi phone sex haqhaq itu diatas gatau dapet darimana ide gituan muncul. Padahal niat awal ga ada adegan 'nganu' di chap ini. Ya, anggap aja sebagai bonus buat reader tersayang.

Maap kalo gadapet feel, gak hot, gak ngena, kurang greget, atau apapun itu. aku gabisa buat nc scene apalagi untuk hubungan awal yang 'lembut'. soalnya aku tipe—nnggggg suka hardcore /ditabok/ yaudahlah intinya udah berusaha hwhw.

Balasan review:

ShinersBaek: Ohh kalau keluarga cemara aku tahu blognya. Dulu pengunjung situ soalnya hehe.

Yo Yong: Iya di blokir. Kalau buka lewat web gabisa. Kalau opera mini bisa. Mungkin kamu buka lewat opera mini.

Byunhyeonkkaeb: HETDEH INI BOCAH NGAPA NYAMPE SINI -_- HWHW ENDINGNYA RAHASIA ILAHI HAQHAQ. BTW THANKS MAU RIPIU MBEB

Edogawa ruffy: Sebenarnya aku juga baru baca sampe volume dua karena waktu itu ngubek-ngubek toko buku khusus buku lawas cuma ada dua. Jadi sebenarnya aku juga kurang tahu jalan ceritanya gimana T.T untuk hayate disini ga dimunculin. Tapi gatau juga sih. Hwhw konfliknya gak parah kok gak sampe bikin nangis kayak komik aslinya. Maaf kalau ini sedikit mengecewakan hehe.

Big Thanks To:

Exindra, Majey Jannah 97, nur991fah, Yewook Turtle, Baekicot, Dugundugun, indah indrawatibasmar, Baebyla, ChanBaekLuv, bellasung21, ShinersBaek, Yo Yong, chanbaekssi, byunhyeonkkaeb, Riyong17, ohsehans, mayumi sheena, hatakehanahungry, Inggit, BCHAN, Guest, Kim Seonna, Park Baekhyun, edogawa ruffy.