Mine is Yours

Title : Mine is Yours (Chapt2)

Writer : MrsDoubleV

Genre : Action(?), Drama, Friendship, Romance(?)

Rated : M

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Kim Seokjin

Other Casts : Bangtan's members

Semua cast milik Tuhan, para orang tua dan diri mereka masing-masing serta Big Hit ent. Saya hanya meminjam mereka disini.

Warning : GS (Gender Switch), OC (Original Character), typo(s), bahasa non baku dan ada sedikit dirty talk, NC inside

Ide, alur cerita semua milik saya so DON'T BE A PLAGIATOR! Lihat rated! M 18+ untuk -18, lebih baik out dari sini ya *pyong*

.

.

MrsDoubleV

.

.

Selepas kepergian Jin, suasana di antara Taehyung dan Jungkook membeku seketika. Tidak ada bahan obrolan di antara keduanya. Makanan di hadapan mereka pun jadi didiami dan seperti enggan mereka makan kembali. Mereka hanya fokus dengan pikirannya masing-masing.

"Kenapa kau masih disini? Kau masih ingin mengikutiku? Mana janjimu yang kau bilang kau tidak akan mengikutiku lagi, hah?" Ujar Taehyung to the point. Itulah yang ingin ia tanyakan pada Jungkook sedaritadi.

"Sebenarnya aku memang ingin pergi. Tapi aku tidak enak pada Jin eonnie makanya aku..."

"Jangan jadikan Jin sebagai alasanmu untuk tetap disini. Pergilah aku muak melihatmu." Ujar Taehyung ketus. Jungkook merasa sangat sakit hati dengan ucapan Taehyung tadi. Ia ingin membalasnya namun ia juga ingat dengan janjinya dahulu. Akhirnya tanpa banyak bicara lagi Jungkook bangkit dan berniat pergi namun kata-kata Taehyung berikutnya semakin membuatnya sakit hati.

"Kalau bisa kau enyah dari hidupku, amkae."

PLAKK

Jungkook sudah tidak bisa bersabar lagi. Kata-kata Taehyung terakhir sudah terlalu membuat dirinya mendidih. Taehyung sudah benar-benar keterlaluan. Amkae atau yang berarti wanita jalang. Kata-kata itu sudah benar-benar menjatuhkan harga dirinya. Pada akhirnya Jungkook pergi dengan wajah merah padam dan air mata yang membanjiri pipi chubbynya. Mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalam kantin itu sampai menghentikan kegiatan kita hanya untuk melihat perdebatan antara Taehyung dan Jungkook. Selepas kepergian Jungkook, Taehyung hanya memegangi pipi kanannya yang terasa amat sakit karena tamparan yang di dapatnya dari Jungkook. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat masih ada yang memperhatikannya, berbisik-bisik tentangnya bahkan ada juga yang hanya cuek tak peduli.

"Mian aku lama. Astaga Tae-ah kenapa pipimu? Kok merah begitu? Dan dimana Jungkook?" Tanya Jin penasaran karena melihat beberapa mahasiswa melihat ke arahnya sambil berbisik-bisik. Ia pun tidak menemukan Jungkook di kursinya tadi. Ia hanya bisa melihat makanan dan minuman Jungkook yang masih tersisa setengah.

"Ia pulang. Katanya ada urusan dadakan." Ujar Taehyung memberi alasan. Jin pun hanya mengangguk mengerti.

"Lalu kenapa pipimu? Merah sekali..."

"Ahh jangan sentuh. Sakit, Jinnie... Tadi ada nyamuk di pipiku dan aku refleks memukul dengan buku ini hehehe" ujar Taehyung memberi alasan yang sedikit aneh. Namun Jin hanya diam tidak mau membahasnya lagi. Kini mereka pun sudah kembali seperti semula. Saling mengobrol dan bersikap mesra terhadap satu sama lain. Mereka tidak terlalu memperdulikan pandangan orang lain yang sedaritadi masih ada yang terus memperhatikan. Mereka hanya menganggap orang-orang itu iri pada keharmonisan hubungan mereka.

SKIP

Brakk

Jungkook membanting pintu kamarnya keras-keras. Tak lupa ia juga menguncinya dari dalam. Ia butuh waktu sendiri sekarang ini. Ia lemparkan tas bahkan sepatunya ke sembarang arah. Ia juga sudah tidak memperdulikan penampilannya ini yang sudah terlihat sangat berantakan. Matanya juga jadi terlihat sembab akibat menangis. Ia langsung menenggelamkan kepalanya di dalam bantal kepalanya. Ia menangis sepuas-puasnya disana. Dengan menangis mungkin ia bisa mengurangi rasa kecew dan sakit hatinya.

TOK TOK TOK

"Nona? Ada apa? Apa nona baik-baik saja?"

Terdengar sebuah suara dari balik pintu kamar Jungkook. Mungkin maid berwajah imutnya itu yang terlihat begitu khawatir dengan keadaan nona majikannya yang pulang dengan keadaan tak biasa.

"Jimin sudahlah... Mungkin nona memang sedang tidak ingin diganggu. Sudah kita kembali bekerja saja. Kau mau nona marah?" Ujar Hoseok yang ikut berdiri di depan pintu kamar Jungkook.

"Baiklah nona. Aku kembali kerja ya. Dan jika nona butuh apa-apa, panggil aku saja." Jawab Jimin akhirnya dan pergi kembali ke dapur.

Jungkook tau jika maid dan buttlernya khawatir akan keadaannya yang pulang dengan kondisi menyedihkan seperti ini namun ia lebih memilih menangis daripada meladeni maid dan buttlernya itu. Menangis bisa membuat hatinya menjadi lebih baik meski hanya sedikit.

Tik Tok Tik Tok

Jungkook dapat mendengar suara dentingan jam dinding di kamarnya yang terdengar sangat menyedihkan. Kini Jungkook duduk bersandar di tempat tidurnya yang memandang kosong ke arah sebuah foto yang dipegangnya. Jungkook sudah berhenti menangis sejak setengah jam yang lalu dan maid nya juga sudah mencoba beberapa kembali mengetuk pintu kamar Jungkook namun tak pernah dibukakan oleh Jungkook. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam namun Jungkook sama sekali belum keluar kamar membuat maid nya khawatir karena Jungkook belum menyentuh makan malamnya.

Tok Tok Tok

"Ku bilang aku ingin sendiri! Jangan ganggu aku!" Teriak Jungkook.

"Ta-tapi nona harus makan... Sejak tadi sore nona belum menyentuh makan nona." Ujar Jimin susah payah berharap nona majikannya itu mau makan.

"Aku tidak butuh makan! Aku butuh waktu untuk sendiri! Pergi!" Teriak Jungkook lagi. Jimin pun mau tidak mau pergi. Ia meninggalkan nampan berisi sepiring makanan dan segelas air di meja di dekat pintu kamar Jungkook berharap jika nanti nona majikannya itu mungkin akan memakan makan malamnya.

Hening. Tidak ada suara lagi yang di keluarkan oleh Jungkook. Jungkook terus menatap kosong foto yang setia di pegangnya daritadi. Di dalam foto itu terlihat seorang namja berambut orange yang sedang mendrible sebuah bola basket. Itu adalah foto Taehyung yang pernah Jungkook ambil saat pertandingan basket antar universitas.

"Aku sudah mencoba melupakanmu. Namun kenapa sangat sulit? Sakit disini, Tae. Sakit..." sebelah tangan kiri Jungkook memegangi dada kirinya.

"Aku memang bodoh, Tae. Aku terlalu bodoh sampai aku bisa mencintaimu!"

"Taehyung aku benci kau! Arghhh"

Jungkook berteriak saat merasakan sakit di bagian perutnya. Ia mengelus perut itu perlahan berharap dapat mengurangi rasa sakitnya. Jungkook mencoba berjalan keluar kamar untuk memanggil Jimin ataupun Hoseok. Ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya lagi.

"Ji-Jimin ahhh Hos-Hoseok tolong ahhh ak-aku..." ujar Jungkook dengan susah payah hingga sudah tidak sadarkan diri di depan pintu kamarnya.

Sudah seminggu lamanya Jungkook mengurung diri dan tidak kuliah. Sejak kejadian hari dimana Jungkook pingsan itu, Jimin dan Hoseok, maid dan buttler nya langsung membawa Jungkook ke rumah sakit. Mereka begitu khawatir dengan keadaan Jungkook yang belakangan ini juga sering pingsan seperti ini. Mereka juga sudah mencoba menghubungi Tuan dan Nyonya Besar Jeon namun tak pernah bisa dihubungi membuat mereka semakin panik. Dan pada akhirnya mereka berdualah yang di kejutkan dengan diagnosa yang diberikan oleh dokter.

"Nona, sudah waktunya makan siang. Aku membawakan makanan kesukaan nona. Nona makan, ya." Rayu Jimin namun Jungkook hanya diam dan menatap kosong ke arah balkon kamarnya.

Pranggg

Jungkook menepis tangan Jimin hingga makanan itu jatuh dan berserakan di lantai. Jimin terkejut dengan perlakuan nona majikannya itu barusan. Namun ia tetap sabar mengingat sifat nona majikannya ini yang kadang sering berubah-ubah.

"Oh ya nona. Tadi Nyonya besar menelpon dan bilang jika ia ingin nona menghubungi mereka jadi-"

"Aku ingin Taeku..." lirih Jungkook.

"N-ne?" Jimin tidak bisa mendengar dengan begitu jelas ucapan Jungkook barusan.

"Aku ingin Taeku... Aku ingin Taehyung disini..." lirih Jungkook di barengi dengan air mata.

"Nona?" Jimin berusaha mendekati nona majikannya untuk menenangkan nonanya. Namun Jimin ragu ia takut jika nona nya akan marah jika ia bertambah mendekat.

"Taehyung hiks hiks Taehyung hiks" akhirnya dengan keberanian Jimin mencoba memeluk tubuh Jungkook. Jungkook sama sekali tidak menolak pelukan Jimin malah tangisnya jadi bertambah keras saat Jimin memeluknya. Jimin menepuk-nepuk pelan punggung Jungkook berharap Jungkook bisa lebih tenang.

"Uljima, ne... Jangan menangis... Ya nanti Taehyung pasti akan datang. Jangan menangis..." Jimin menenangkan. Jungkook memeluk erat tubuh Jimin. Ia terlalu lemah sekarang dan ia sangat membutuhkan sandaran.

Jimin mendengar dengkuran halus dan nafas yang teratur. Saat Jimin menoleh, Jungkook sudah tertidur. Dahinya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu dan pipinya pun basah dengan air mata. Perlahan Jimin membaringkan tubuh Jungkook di tenpat tidur dan menyelimutinya. Setelahnya ia kembali membenahi pecahan piring yang terjatuh perlahan takut membangunkan Jungkook.

Tok Tok Tok

Pintu kamar Jungkook kembali di ketuk. Jimin bisa melihat Hoseok berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung. Hoseok mengisyaratkan jika ada tamu yang datang dan ingin bertemu dengan Jungkook. Jimin hanya membalasnya dengan anggukan.

Jimin turun ke lantai satu dan melihat Hoseok berdiri bersama seorang yeoja bertubuh langsing dan berparas cantik. Ia tersenyum pada Jimin saat Jimin menoleh kepadanya.

"Maaf, apa anda yang bernama Taehyung?" Tanya Jimin membuat yeoja itu membulatkan matanya.

"Ahh maaf. Aku salah, Taehyung kan nama seorang namja ya. Mian tapi jika kau mengenalnya bisakah anda mengajaknya kemari?" Ujar Jimin dengan sopan.

"Ahh n-ne. Dia temanku. Lalu ada keperluan apa aku harus mengajaknya kem-"

"Ini permintaan nona Jeon." Jawab Jimin singkat.

"Ne, nanti aku akan mengajaknya." Ujar yeoja itu meski terlihat sedikit bingung.

"Gomawo nona..."

"Seokjin."

"Gomawo nona Seokjin. Nona Jeon ada di kamarnya. Ia sedang istirahat. Ada bisa melihatnya tapi jangan mengganggu tidurnya karena ia baru saja tertidur." Ujar Jimin mempersilakan Jin melihat Jungkook.

Hoseok mengantar Jin menuju ke kamar Jungkook. Hoseok membuka knop pintu kamar berwarna cokelat itu perlahan takut membangunkan Jungkook yang sedang tertidur setelahnya Hoseok meninggalkan Jin di dalam.

Jin berjalan mendekat ke arah tempat tidur dimana Jungkook sedang tertidur dengan nyenyaknya. Jin memperhatikan wajah Jungkook yang terlihat berbeda. Seminggu tidak bertemu dan Jin bisa melihat Jungkook yang lebih terlihat kurus. Pipi chubby Jungkook pun kini berubah menjadi sedikit tirus dan terlihat sangat pucat. Kantung mata hitam pun tercetak jelas di bawah kedua mata bulat Jungkook. Jin miris melihat keadaan Jungkook sekarang. Jin mendudukan dirinya di samping Jungkook. Ia menggenggam tangan Jungkook yang terasa dingin.

"Kookie? Waeyo? Kenapa kau jadi begini? Dimana Kookie yang selama ini aku kenal? Dimana Kookie yang kuat? Apakah namja itu begitu berharga untukmu?" Ujar Jin sedikit pelan takut membangunkan Jungkook.

"Aku mengenalmu sebagai yeoja yang tegar. Yeoja yang terlihat selalu ceria di balik kesendirianmu. Kau selalu bilang padaku jika kita harus hidup dengan ceria dan tegar meski di dalam keadaan terpuruk sekalipun. Tapi kau sendiri tidak membuktikan perkataanmu." Lanjutnya lirih.

Jin terus menggenggam tangan Jungkook. Sesekali ia juga mengelus pipi pucat Jungkook. Jungkook bergerak sedikit di dalam tidurnya membuat Jin berhenti mengelus pipi Jungkook. Ia takut membangunkan Jungkook. Beruntung Jungkook kembali tertidur. Jin merasa ada yang mengganggu tidur Jungkook. Dahi dan alis Jungkook terus saja berkerut dan bibirnya juga terus menggumamkan sesuatu.

"T-Tae..." igau Jungkook dalam tidurnya. Jin membulatkan mata saat ia mendengar igauan Jungkook itu.

"Tae? Taehyung? Mungkinkah? Tapi bagaimana bisa?" Jin kini sibuk dengan pemikirannya sendiri.

Jin menangkap sesuatu. Ia melihat sebuah buku bersampul putih yang terletak di atas meja nakas di tempat tidur Jungkook. Perlahan Jin mengambil buku itu. Ia nampak sangat penasaran.

Kookie's Diary ^^

Jin bisa melihat sebuah tulisan besar terpampang di halaman pertama buku bersampul putih itu menandakan jika itu adalah diary milik Jungkook. Dengan perasaan was-was Jin membuka halaman selanjutnya. Namun ia menutup buku itu kembali detik berikutnya.

"Astaga! Aku sudah lancang membuka diary Kookie. Tapi..." Jin menatap kembali ke arah Jungkook yang masih tertidur.

"Mianhae, Kook. Jeongmal mianhae..." Jin kembali membuka buku diary itu dengan hati yang tegang.

30 Desember 2010

Hari ini aku kembali ke Seoul, kota kelahiranku. Ahh aku sangat senang sekali. Mungkin dengan disini aku bisa mendapat banyak teman tidak seperti di L.A, semua orang menjauhiku dan tak ada yang mau berteman denganku. Memang apa salahku? Apa orang Asia selalu di pandang sebelah mata disana? Ahh sudahlah yang penting sekarang aku senang aku bisa kembali ke Seoul mes. Hari ini aku pergi jalan-jalan ke tempat bermain ice skating. Wah ternyata bermain ice skating disini tidak kalah menyenangkan dengan bermain ice skating di L.A. Sebenarnya aku memang tidak pandai dalam bermain ice skating sampai aku beberapa terjatuh di atas es. Memalukan memang tapi tak apa aku menikmatinya. Saat aku terjatuh untuk kesekian kalinya, ada seseorang yang menarik tanganku dan aku pun tidak jadi terjatuh. Ternyata ia seorang namja dengan mantel berwarna hitam dan sebuah topi rajut berwarna putih yang menutupi kepalanya. Ia tersenyum manis dan berkata "Hati-hati, jangan sampai terjatuh lagi." lalu kembali bermain ice skating lagi ahh sungguh aku merasa jantungku berdetak jadi lebih cepat dan pipiku memanas. Pasti wajahku sudah memerah di hadapan malaikatku itu. Dan aku lupa mengucapkan terima kasih padanya ahhh pabbo Kook! Aku berharap aku bisa bertemu dengannya lagi dan mengucapkan terima kasih padanya.^^

31 Desember 2010

Hari ini aku pergi ke pusat perbelanjaan di Myeondong. Aku tak menyangka disana sangat ramai. Aku banyak melihat pengunjung mulai dari anak-anak bahkan sampai kakek nenek disana. Mulai dari ramai bersama keluarga, berdua bersama pasangan dan sendirian seperti aku hehe aku dengar jika malam pergantian tahun di sini akan diadakan pesta kembang api. Aku sangat suka dengan kembang api makanya aku memaksakan diri untuk datang disini meski harus berdesak-desakan dengan para pengunjung lainnya. Aku berdiri di depan sebuah kedai penjual minuman hangat. Aku membeli satu cup cokelat hangat untuk menghangatkan tubuhku. Baru saja aku ingin meminum minumanku, aku merasa ada seseorang yang mendorongku dari belakang membuat aku terkejut dan minumanku pun jatuh. Aku menegok ke belakang untuk melihat siapa orang yang seenaknya mendorongku. Dan betapa terkejutnya aku saat aku melihat 'dia' yang sedang mencoba mengatur nafas. Ia masih mengenakan mantel hitamnya namun tidak dengan topi rajutnya hingga aku bisa melihat rambut orange nya. Sosok itu begitu menghipnotisku hingga aku merasa seperti orang bodoh. Aku mendengarnya ia berkata "Lihat-lihatlah ke kanan kiri saat akan menyebrang kau hampir saja tertabrak mobil seandainya aku tidak mendorongmu ke pinggir." Oh Tuhan apa dia memang benar malaikat penolongku? Dan pabbo Kook! Aku lupa lagi mengucapkan terima kasih padanya haisshhh

11 Januari 2011

Pagi ini aku memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi kompleks rumahku. Aku merasa bosan di rumah dan aku merasa sepi. Appa dan eomma tidak ada. Yang ada hanya Jimin dan Hoseok yang sibuk membersihkan rumah. Aku melewati sebuah lapangan basket. Aku melihat ada beberapa namja yang sedang asik bermain disana. Aku pun mendudukan diriku di pinggir lapangan. Meski udara masih terasa dingin namun mereka terlihat sangat semangat bermain. Aku memperhatikan cara bermain mereka yang seperti atlet. Dan ada satu namja yang menarik perhatianku. Namja berambut orange itu selalu bisa mengecoh namja lainnya dan berkali-kali memasukkan bola ke dalam ring. Aku terlalu serius melihatnya sampai ada seseorang yang berteriak padaku. Hidungku sakit karena terkena lemparan bola berwarna orange itu. Pedih sekali rasanya. Namja yang bermain basket tadi segera mengerubungiku dan meminta maaf padaku. Namja berambut orange itu terlihat begitu khawatir ia memegang hidungku dan menempelkan plester pada hidungku yang terluka. Astaga aku rasa wajahku pasti memerah karena wajahnya yang sangat begitu dekat. Matanya. Ahhh aku suka matanya. Ya Tuhan kenapa aku jadi terus memikirkan dia? Apa aku menyukainya?

14 Januari 2011

Hari ini hari Valentine harusnya aku merayakannya bersama orang-orang yang aku sayangi. Namun appa dan eomma saja tidak ada disini. Temanpun aku tidak punya. Aku sendirian. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Namsan Tower. Aku dengar setiap hari Valentine, disana selalu di adakan acara spesial. Aku melihat banyak para pasangan disana. Mereka mengobrol dan tertawa bersama sambil memegang sebuah lampion yang akan mereka terbangkan. Aku jadi sedikit iri. Aku datang hanya sendiri dan aku tidak mendapat lampion karena lampion itu khusus di berikan bagi para pasangan. Ishh andai aku punya pacar huaaa... Tapi ada yang menepuk bahuku dan astaga orang yang menepuk bahuku itu dia! Namja berambut orange yang sering aku temui dan diam-diam membuat jantungku berdetak tidak menentu. Dia menawariku menerbangkan lampion itu bersamanya. Tentu saja aku senang. Pstt aku dengar jika para pasangan menerbangkan lampion itu bersama, maka cinta mereka abadi. Berarti cinta aku dan namja berambut orange itu abadi dong? Hahaha kamu terlalu berharap Kookie

20 Maret 2011

Hari ini hari pertama aku masuk kuliah. Aku kuliah di Bangtan university jurusan Classic Art. Gedung universitas itu sangatlah besar dan aku sama sekali tidak tahu dimana kelasku berada. Beruntung aku melihat namja berambut orange yang sering aku temui belakangan ini. Aku mencoba memberanikan diri menghampirinya dan menanyakan letak kelasku berada. Dan dia mengantarku ke tempat dimana kelasku berada astaga betapa senangnya aku. Dia juga memberitahukan namanya padaku. Uhh aku jadi tampak seperti orang bodoh sekarang. Kim Taehyung nama yang cocok untuk namja tampan sepertinya. ^^

Jin menengang saat membaca diary itu. Dan tebakannya benar jika namja yang selama ini di sukai oleh Jungkook adalah Taehyung, kekasihnya. Jin membulatkan matanya tak percaya. Ia menepuk pipinya berharap ia bermimpi.

"Kookie? Jadi namja itu, Taehyung? Namjachinguku?"

Dengan tangan gemetar dan dada yang sesak, Jin mencoba kembali membuka lembar demi lembar diary milik Jungkook. Ia tidak membaca seluruhnya namun disana ia bisa melihat ada beragam foto Taehyung yang tertempel di setiap lembar diary Jungkook. Mulai dari Taehyung yang sedang bermain basket, makan di kantin bahkan sampai tertidur di kelas. Jin merasa Jungkook memang benar-benar menyukai sosok Taehyung.

14 April 2011

Mungkin sudah hampir sebulan lamanya aku menjadi stalker Tae-Tae. Tae-Tae? Itu nama panggilanku untuknya hehe aku selalu mengikutinya dari pagi kadang hingga malam hari. Aku rasa aku memang sudah mulai gila. Ya gila karena rasa sukaku padanya semakin hari semakin besar. Entah mengapa aku sangat sangat mengaguminya. Aku selalu berjalan 100 meter di belakangnya mengikutinya kemanapun dia pergi. Bahkan aku tahu dimana ia tinggal sekarang. Rumahnya hanya beda beberapa blog dari rumahku dan itu mempermudah aku untuk mengetahui kesehariannya. Mungkin aku memang sudah seperti penjahat sekarang. Habis mau bagaimana lagi? Aku kan tidak berani terang-terangan menyatakan suka padanya yang ada nanti aku malah dijauhi olehnya huhh aku kan tidak mau hal itu sampai terjadi. Aku selalu bangun pagi-pagi dan menunggunya di dekat rumahnya setiap pagi, menunggunya keluar kelas bahkan terkadang diam-diam aku mengikutinya pergi dengan teman-temannya. Tapi dari ini semua aku berhasil membuat catatan tentang semua kesukaannya. Aku hebat bukan? Hehehe

Jin mau tidak mau tersenyum membaca diary Jungkook saat itu. Ia bisa merasakan kebahagiaan yang di rasakan Jungkoom di setiap tulisannya. Ia jadi membayangkan bagaimana tingkah Jungkook yang harus sembunyi-sembunyi agar tidak di ketahui oleh Taehyung. Pasti tampak lucu dan menggemaskan.

Jin kembali membalik lembar lainnya. Ia terus membacanya senyum terukir di bibirnya seolah ia merasakan bagaimana perasaan Jungkook saat itu. Namun Jin merasa tercekat saat membaca tulisan Jungkook.

5 November 2011

Dia mengetahuinya! Bagaimana ini? Dia tahu jika aku yang selama ini mengikutinya! Sekarang ia selalu menatapku dengan tatapan sinis saat ia tahu jika akulah stalker nya. Huu aku sedih di tatap seperti itu olehnya. Dia marah padaku. Ia bilang aku harus berhenti mengikutinya tapi tentu saja aku tidak mau. Terkadang aku sampai nekad masih mengikutinya. Bahkan kata-kata kasar yang ia ucapkan padaku hanya aku anggap sebagai angin lalu saja. Mungkin benar katanya jika aku terlalu terobsesi padanya. Aku mengakuinya bahkan di hadapannya aku berani menyatakan perasaanku. Tapi aku selalu di tolak dan itulah yang membuat aku berbuat nekad.

Jin terus membalik lembaran demi lembaran itu. Ia jadi penasaran apa yang dilakukan oleh Jungkook pada Taehyung.

12 Desember 2011

Rencanaku gagal! Ahh payah! Dia tidak masuk ke dalam jebakanku! Padahal aku sudah yakin jika rencana ini berhasil. Ternyata ia memang cerdik. Huu aku harus memikirkan cara lain dan harus berhasil!

16 Desember 2011

Rencanaku berhasil! Aku berhasil menculiknya! Memang sih rencana ini terlihat sangat kejam tapi aku kehabisan akal. Dan hanya rencana ini yang terlintas. Mian Tae-Tae aku sampai menendang perutmu dengan kuat habis kau mengataiku yeoja lemah. Aku kan sangat membenci jika orang lain mengataiku lemah :( Tapi sebagai permintaan maaf aku kan sudah memberikan padamu sesuatu yang paling berhargaku padamu. Kau menyukainya kan? Ne, aku juga sangat-sangat menyukainya. Aku akan memberikan apapun untukmu, Tae-Taeku. Bahkan tubuhku pun aku rela berikan untukmu dan hanya padamu, Tae... Saranghae^^

Jin merasa kepalanya dihantam batu berukuran besar saat membaca tulisan Jungkook tadi. Ia menatap wajah Jungkook yang masih tertidur di hadapannya. Ia tidak yakin jika Jungkook yang selama ini dikenalnya sebagai yeoja yang polos bisa berbuat seperti itu.

17 Desember 2011

Kau kejam, Tae... Kau sangat kejam... Aku pikir setelah semua yang aku lakukan, yang aku berikan padamu itu membuatmu menjadi milikku. Nyatanya? Kau malah memintaku agar menjauh darimu dan tidak mengusikmu lagi. Aku akui aku yang salah disini. Semua terjadi juga berawal dari diriku. Jika Tuhan mau menyalahkan seseorang dalam dosa besar ini, aku memang yang lebih pantas di salahkan disini. Tapi Tae, tak adakah perasaan setitikpun untukku? Apa kau melakukannya hanya karena kau seorang laki-laki? Haaa aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku yang akan menanggung dosa ini sendirian. Ya, hanya aku. Gomawo, Tae..

8 Februari 2012

Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Belakangan ini aku selalu merasa pusing dan juga mual. Jimin bahkan pernah bilang ia sempat menemukanku pingsan di kamarku. Ada apa ya denganku? Apa ini karena aku yang terlalu sering memikirkanmu hingga tidak memperhatikan tubuhku?

14 Maret 2012

Jimin memaksaku agar aku pergi ke dokter karena katanya semakin lama aku terlihat semakin lemah. Karena aku bosan terus diingatkan seperti itu olehnya, maka aku memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit. Aku yakin aku baik-baik saja tak ada penyakit yang serius yang akan menyerangku sampai dokter menyatakan jika aku sedang mengandung. Aku tentu saja terkejut. Aku meminta dokter untuk memeriksaku ulang bisa saja kan dokter salah mendiagnosa. Aku pun di periksa ulang dan hasilnya tetap sama. Aku hamil. Astaga apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menagis atau senang sekarang? Dan jika aku hamil, berarti ini adalah anak... Taehyung?

Lagi-lagi Jin merasa seperti terhantam jatuh ke bumi. Ia tidak menyangka jika yeoja polos di hadapannya yang sedang tertidur itu ternyata sedang membawa sebuah nyawa di dalam perutnya.

12 Maret 2012

Aku melihatmu bersama yeoja itu, Tae. Kau tahu betapa sakitnya hatiku melihat kau begitu mesra dengan kekasihmu itu? Dan kita bertemu lagi bukan di depan gedung universitas kita? Aku dan kekasihmu tadi sempat tidak sengaja bertabrakkan. Tapi dari tatapanmu aku bisa membaca jika kau menuduhku sengaja melakukan hal itu padanya. Sungguh tak ada niatan sedikitpun dariku untuk mengganggumu lagi apalagi kekasihmu. Aku tidak ingin mengusik kebahagianmu bersamanya. Aku harap kamu percaya padaku.

24 Maret 2012

Lagi-lagi kau bersamanya. Dan betapa terkejutnya saat aku tahu kekasihmu itu adalah Jin eonnie. Aku mengenalnya, sangat. Bahkan aku sudah menganggapnya seperti eonniku sendiri. Ia sangat baik, perhatian dan juga pintar. Kau memang sangat pintar memilih kekasih. Aku senang jika kau bahagia meski ya aku akui memang masih ada rasa cemburu di hatiku melihat kemesraan kalian. Tapi...

Tak ada kelanjutan di dalam tulisan diary itu. Airmata jatuh dari pelupuk mata Jin. Ia merasakan bagaimana beban yang saat ini sedang ditanggung oleh Jungkook. Ia merahasiakan kehamilannya dari Taehyung hanya karena ia ingin Taehyun bahagia bersamanya. Jin merasa yang menjadi orang jahat disini. Karena dirinya Jungkook jadi tidak mau memberitahukan hal yang sebenarnya pada Taehyung. Ia lebih memilih diam daripada harus merusak kebahagiaan Taehyung. Jungkook lebih mementingkan kebahagiaannya Taehyung daripada kebahagiaannya sendiri. Tapi bagaimanapun juga Jin harus memberitahukan jika Jungkook mengandung anaknya.

Jin menghapus air matanya dengan kasar. Jin memasukan buku diary Jungkook ke dalam tasnya. Ia harus memberikan itu pada Taehyung agar Taehyung mengetahui kebenarannya.

SKIP

Jin kini berada di taman universitasnya. Ia mengajak Taehyung untuk bertemu disana. Ia berencana akan memberikan buku diary Jungkook padanya. Sudah hampir setengah lamanya Jin menunggu Taehyung disana namun Taehyung belum juga menunjukkan batang hidungnya dan itu membuat Jin gelisah. Ia sudah tidak sabar menyerahkan diary itu untuk Taehyung.

GREB

Tiba-tiba Jin merasakan ada sebuah tangan kekar yang menutup kedua matanya. Jin sangat mengetahui jika itu adalah Taehyung. Jin melepaskan kedua tangan Taehyung dari matanya. Dengan begitu ia bisa melihat wajah gembira Taehyung. Melihat wajah itu, Jin jadi teringat akan Jungkook lagi. Wajah Taehyung begitu bertolak belakang dengan Jungkook sekarang ini. Ia merasa miris.

"Waeyo Jinnie? Kenapa menatapku begitu?" Tanya Taehyung menyadarkan Jin dari lamunannya.

"Mian.." balas Jin sambil mencoba tersenyum pada Taehyung meski pikirannya masih di penuhi dengan Jungkook.

"Oh ya ada apa kau menyuruhku ketemu disini? Dan mian aku sedikit terlambat tadi karena aku tidak mengecek ponselku." Jelas Taehyung.

"Ne, tidak apa. Hmm aku ingin memberikan sesuatu untukmu." Ujar Jin sambil membuka dan mencari-carinya di dalam tas yang ia bawa.

"Apa? Bekal lagi? Dengan senang hati aku menerimanya. Bekal buatanmu sangat enak sih dan ohhh apa ini? Buku?" Taehyung terlihat bingung saat Jin memberinya sebuau buku padanya.

"Bawa dan bacalah. Buku ini sangat penting untukmu." Jelas Jin.

"Hah? Memang ini buku apa?" Taehyung masih terlihat bingung dengan buku bersampul putih yang di pegangnya itu.

"Itu buku diary milik Jungkook."

DEG

.

.

.

Hahhhh aduh sumpah ide jadi buntu makanya FF ini jadi tambah aneh bin gaje bin bertele-tele. Mian readersdul semua jika FF ini kurang memuaskan dan ceritanya pun pasaran banget hahh maaf karena aku juga masih baru-baru menekubi dunia tulis menulis FF tapi sekalinya buat temanya berat ya huaaaa mian.. oh ya FF ini sepertinya bakal cepat tamat. Kemungkinan chapt depan itu chapt ending nya. Kok cepet ya? Ya karena aku udah kehabisan ide banget nih kan T^T

.

Balasan Reviews:

* .735 : Gomawo pujiannya... terharu? Apa ceritanya terlalu sedihkah? Menurut aku FF ini ceritanya malah sedikit aneh dan banyak yang janggal hehe Ini udah di coba fast update kok. Gomawo ya udah menyempatkan diri untuk baca dan review. Aku jadi semangat untuk lanjutin FF ini :)

*xxchancimit : Wah dapet temen shipper VKook nih heheh iya disini Jungkook memang yang keliatan paling tersiska banget duh rasanya pengen peluk di deh huhu gomawo ya udah review dan ini chapt 2 nya hehe mudah"an suka mian ya kalo jadinya gak sesuai harapan krn lg dikjr deadline nih hehe

*tao-ghel : Iya aku buat FF GS dan Jungkook yang jadi yeojanya hehe gomawo untuk kritiknya akan aku coba perbaiki dan jangan segan-segan untuk kasih kritik yang pedas kalo ada yang gak disuka. Aku akan senang hati menerimanya karena itu yang aku butuhkan hehe

*ihjcbe : Shipper VKook juga? Huaa kita sama hehe aku juga begitu karena jarang ada FF VKook, akhirnya aku nekad buat FF ini hueheh tapi hasil FF ini benar-benar jauh dari harapan :( mian ya chingu :( dan taraaa ini udah di next kok super cepatkah? Haha smoga suka ya sama chapt ini :)

.

Oh ya aku juga ingin mengucapkan terima kasih banget buat para readersdul yang udah review. Aku tahu kok FF ini memang gak gitu menarik makanya yang review juga sedikit tapi aku seneng masib ada yang suka FF aneh bin gaje bin bertele-tele ini. Dan makasih juga untuk saran dan kritik yang diberikan. Pokoknya terima kasih banyak... bye^^