Mine is Yours
Title : Mine is Yours (Chapt3)
Writer : MrsDoubleV
Genre : Drama, Hurt/Comfort, Family
Rated : T
Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Kim Seokjin
Other Casts : Bangtan's members
Semua cast milik Tuhan, para orang tua dan diri mereka masing-masing serta Big Hit ent. Saya hanya meminjam mereka disini.
Warning : GS (Gender Switch), OC (Original Character), typo(s), bahasa non baku dan ada sedikit dirty talk, NC inside
Ide, alur cerita semua milik saya so DON'T BE A PLAGIATOR! Lihat rated! M 18+ untuk -18, lebih baik out dari sini ya *pyong*
.
.
MrsDoubleV
.
.
Tiba-tiba Jin merasakan ada sebuah tangan kekar yang menutup kedua matanya. Jin sangat mengetahui jika itu adalah Taehyung. Jin melepaskan kedua tangan Taehyung dari matanya. Dengan begitu ia bisa melihat wajah gembira Taehyung. Melihat wajah itu, Jin jadi teringat akan Jungkook lagi. Wajah Taehyung begitu bertolak belakang dengan Jungkook sekarang ini. Ia merasa miris.
"Waeyo Jinnie? Kenapa menatapku begitu?" Tanya Taehyung menyadarkan Jin dari lamunannya.
"Mian.." balas Jin sambil mencoba tersenyum pada Taehyung meski pikirannya masih di penuhi dengan Jungkook.
"Oh ya ada apa kau menyuruhku ketemu disini? Dan mian aku sedikit terlambat tadi karena aku tidak mengecek ponselku." Jelas Taehyung.
"Ne, tidak apa. Hmm aku ingin memberikan sesuatu untukmu." Ujar Jin sambil membuka dan mencari-carinya di dalam tas yang ia bawa.
"Apa? Bekal lagi? Dengan senang hati aku menerimanya. Bekal buatanmu sangat enak sih dan ohhh apa ini? Buku?" Taehyung terlihat bingung saat Jin memberinya sebuau buku padanya.
"Bawa dan bacalah. Buku ini sangat penting untukmu." Jelas Jin.
"Hah? Memang ini buku apa?" Taehyung masih terlihat bingung dengan buku bersampul putih yang di pegangnya itu.
"Itu buku diary milik Jungkook."
DEG
Tak ada komentar dari Taehyung. Ia hanya melihat Jin dan buku bersampul putih itu secara bergantian. Ia meminta penjelasan dari Jin maksud dari dirinya memberikan buku itu.
"Aku mau kau membacanya. Ini tentang Jungkook, tentangmu dan tentang..." Jin menggantungkan kata-katanya. Ia ingin Taehyung mengetahuinya sendiri dari buku diary yang ia berikan.
"Tapi Jinnie..."
"Bacalah, Tae. Ini demi kebaikan kita semua." Ujar Jin sambil menatap sendu ke arah Taehyung.
"Tapi untuk apa kau memberikan i-ini untukku? Jelaskan padaku alasannya." Taehyung mendesak Jin untuk memberikan alasan kenapa dirinya harus membaca buku diary milik yeoja yang selalu mengganggu hidupnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya, Tae. Maaf aku harus pulang sekarang. Kau harus membacanya, Tae." Pamit Jin dan berjalan meninggalkan Taehyung yang masih terdiam bingung.
.
.
.
Taehyung melemparkan tas miliknya ke tempat tidur dan merebahkan dirinya juga di tempat tidur. Ia merasa tubuhnya lelah setelah mengikuti latihan basket di universitasnya. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap ke langit-langit kamarnya. Dan wajah Jungkook terbayang disana membuat Taehyung terkejut.
"Kenapa aku memikirkan dia? Gadis gila itu! Ck!" Umpat Taehyung kesal. Taehyung menggeleng-gelengkan kepalanya berharap bisa menghilangkan bayangan Jungkook. Namun nihil bayangan itu masih tetap ada. Ia melihat Jungkook yang tersenyum manis ke arahnya dan memanggil namanya dengan manja.
"Lupakan, Taehyung! Lupakan!" Taehyung memejamkan matanya namun bayangan Jungkook yang tersenyum padanya masih bisa ia bayangkan di otaknya.
"Ishh sialan! Kenapa wajahnya selalu muncul sih! Shit!" Umpat Taehyung.
Lalu ia teringat sesuatu. Ia kemudian membuka tas ranselnya dan mengambil buku bersampul putih yang diberikan oleh Jin padanya tadi siang. Taehyung menatap buku itu dengan tatapan bingung.
"Kenapa Jinnie memberiku buku diary gadis gila itu padaku? Apa si gadis gila itu sengaja memberikannya pada Jin untuk memberitahukan jika namja yang disukainya adalah aku dan memohon pada Jin untuk merelakan aku untuknya? Licik sekali kau Jeon Jungkook!" Taehyung mulai menyimpulkan seenaknya. Tanpa sadar tangannya meremuk buku itu membuat buku itu sedikit terlipat lalu melemparkannya ke sembarangan arah.
Pluk
Taehyung merasakan ada sesuatu yang terjatuh dari buku bersampul putih yang sudah nyaris tak berbentuk mengingat betapa kasarmya perlakuan Taehyung pada buku tak bersalah itu. Taehyung mengambil sesuatu yang terjatuh itu. Sebuah foto. Di dalam foto itu terlihat foto dimana Taehyung sedang tertidur di dalam kelas di saat dosen sedang menjelaskan materi. Taehyung membulatkan matanya melihat foto dirinya yang seperti itu.
23 Maret 2011, 10:05 (Communication Class)
Wajah Taehyung yang tertidur itu sangat menggemaskan. Aku jadi ingin mencubitnya. Mimpikan aku dimimpimu, Tae :)
Taehyung membaca keterangan yang ada di balik foto itu dengan mulut menganga. Taehyung segera mengambil kembali buku bersampul putih itu dan beberapa foto yang berserakan di lantai.
30 Maret 2011, 15:45 (Lapangan Basket)
Wah tampan ia terlihat sangat tampan jika berkeringat seperti itu. Hihihi semangat, Tae :)
14 April 2011, 19:17 (Taman Bermain)
Astaga kau bahkan masih tetap terlihat tampan meski wajahmu jadi penuh dengan es krim ulah teman-temanmu itu hihihi
Taehyung melihat bermacam-macam foto dirinya yang ia sendiri bahkan tidak tahu kapan foto itu diambil. Semua foto itu hanya terfokus pada dirinya seolah ia menjadi pusat semuanya. Taehyung menatap buku bersampul putih yang sekarang sudah bisa dibilang yahh sedikit tak berbentuk dengan tatapan ragu. Taehyung masih berpikir apa ia harus membaca isi buku itu atau tidak.
'Bacalah, Tae. Ini demi kebaikan kita semua' kata-kata Jin tadi siang kembali terngiang di telinganya. Dan akhirnya dengan satu tarikan nafas, Taehyung membaca isi dari diary itu.
30 Desember 2010
Hari ini aku kembali ke Seoul, kota kelahiranku. Ahh aku sangat senang sekali. Mungkin dengan disini aku bisa mendapat banyak teman tidak seperti di L.A, semua orang menjauhiku dan tak ada yang mau berteman denganku. Memang apa salahku? Apa orang Asia selalu di pandang sebelah mata disana? Ahh sudahlah yang penting sekarang aku senang aku bisa kembali ke Seoul mes. Hari ini aku pergi jalan-jalan ke tempat bermain ice skating. Wah ternyata bermain ice skating disini tidak kalah menyenangkan dengan bermain ice skating di L.A. Sebenarnya aku memang tidak pandai dalam bermain ice skating sampai aku beberapa terjatuh di atas es. Memalukan memang tapi tak apa aku menikmatinya. Saat aku terjatuh untuk kesekian kalinya, ada seseorang yang menarik tanganku dan aku pun tidak jadi terjatuh. Ternyata ia seorang namja dengan mantel berwarna hitam dan sebuah topi rajut berwarna putih yang menutupi kepalanya. Ia tersenyum manis dan berkata "Hati-hati, jangan sampai terjatuh lagi." lalu kembali bermain ice skating lagi ahh sungguh aku merasa jantungku berdetak jadi lebih cepat dan pipiku memanas. Pasti wajahku sudah memerah di hadapan malaikatku itu. Dan aku lupa mengucapkan terima kasih padanya ahhh pabbo Kook! Aku berharap aku bisa bertemu dengannya lagi dan mengucapkan terima kasih padanya.^^
Entah kenapa otak Taehyung memutar kejadian seperti yang tertulis di dalam buku diary Jungkook. Ia mengakui memamg di hari itu ia juga melakukan hal yang sama dengannya, bermain ice skating. Namun ia sama sekali tidak sadar jika yeoja yang memang sempat ditolongnya saat hampir terjatuh itu adalah Jungkook yang selama ini ia kenal sebagai stalkernya.
Taehyung mengangkat alisnya saat ia membaca di lembar ke 5 dimana Jungkook menuliskan hari pertama ia menjadi stalker. Bahkan Jungkook menyertakan beberapa foto dirinya dari hasil mengikuti dirinya seharian penuh. Banyak foto yang Jungkook ambil secara diam-diam. Bahkan ia sendiri tidak menyadari saat itu jika Jungkook selalu mengikutinya.
Namun tubuh Taehyung jadi menengang saat membaca tulisan Jungkook pada tanggal 16 Desember hari dimana mereka melakukan dosa besar itu. Taehyung jadi terbayang hari itu. Hari dimana ia bisa menyentuh setiap jengkal tubuh Jungkook dan membuat Jungkook terus melantunkan namanya. Jantung Taehyung jadi berdegup dengan kencang.
Mata Taehyung pun semakin membulat tatkala ia membaca tulisan Jungkook yang mengatakan jika dia sedang mengandung. Taehyung merasa nafasnya tercekat karena ia harus mengakui jika anak yang dikandung oleh Jungkook adalah anaknya, darah dagingnya. Ia merasa waktu terhenti saat itu juga. Ia tidak bisa membayangkan jika semua ini bisa terjadi. Dan ada sedikit perasaan bersalah dihatinya saat ia tahu Jungkook yang benar-benar menepati janjinya untuk tidak menganggu ataupun mengusiknya bahkan sampai merelakan menyimpan kabar kehamilannya sendirian. Taehyung jadi yang merasa bodoh sekarang.
"Jungkookie, mianhae..."
Drrttt drrtttt
Ponsel itu terus bergetar di atas meja nakas membuat tidur seorang yeoja jadi sedikit terganggu. Mau tidak mau yeoja itu pun terbangun dari mimpi indahnya hanya untuk menerima panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Yeobosaeyo?" Dengan mata yang masih setengah terpejam yeoja itu mengangkat teleponnya.
-Ini aku. Maaf apa aku mengganggu tidurmu?-
"Aniyo... Ada apa?"
-Hmm begini, hmm apa besok kau bisa mengantarku bertemu dengan... Jungkook?-
"Tentu. Sepulang kuliah aku akan mengantarmu ke rumah Kookie."
-Hmm gomawo Jinnie... Dan selamat malam maaf mengganggu tidurmu. Jalja...-
Sambungan telepon pun terputus. Yeoja tadi ani Jin pun meletakkan kembali ponselnya ke meja nakas. Wajahnya menyunggingkan seulas senyum sebelum akhirnya kembali tertidur.
.
.
.
Taehyung kini sudah berada tepat di depan pintu berwarna cokelat itu. Sesekali ia menghela nafas. Ia merasa gugup sekarang. Jin yang berada di belakangnya mencoba untuk menyemangatinya. Dengan keberanian yang tersisa akhirnya Taehyung berhasil membuka kenop pintu itu. Jin tidak ikut masuk ke dalam. Ia ingin Taehyung menyelesaikan masalahnya berdua saja dengan Jungkook. Ia tidak mau ikut campur urusan pribadi mereka. Jin mendudukkan dirinya di ruang keluarga yang letaknya tak jauh dari kamar Jungkook.
Taehyung melangkahkan kakinya perlahan ke dalam sebuah kamar yang terbilang cukup besar untuk di tinggali oleh seorang yeoja. Taehyung membawa nampan berisi makanan untuk Jungkook. Jimin, maid di rumah itu meminta tolong pada Taehyung agar bisa merayu Jungkook untuk makan karena Jungkook selalu menolak untuk makan. Padahal seorang ibu hamil haruslah memberikan asupan makanan untuk bayi di dalam kandungannya.
Taehyung dapat melihat siluet Jungkook yang sedang duduk di balkonnya. Rambut hitam yang biasanya rapi kini terlihat kusut dan berantakan. Pakaiannya pun terlihat lecak dan berantakan. Taehyung tidak pernah melihat Jungkook seperti ini. Meski ya akui ia jarang bertatapan langsung dengan Jungkook, namun yang ia tahu selama ia bertemu dengan Jungkook ia selalu melihat yeoja itu tersenyum ramah padanya.
"Kook..." panggil Taehyung dengan suara rendahnya namun yang dipanggil tidak menolehkan kepalanya.
"Kook?" Panggil Taehyung lagi namun masih tetap sama. Jungkook masih tidak menoleh.
Taehyung meletakkan nampan berisi makanan itu di meja di dekat Jungkook duduk. Taehyung berjongkok di samping Jungkook yang terdiam dan memandang kosong ke depan. Taehyung miris melihatnya.
Mata berkantung, pipi yang dulunya chubby kini terlihat sedikit tirus, bahkan bibir yang selalu tersenyum kepadanya kini hanya terkatup rapat. Benar-benar berbeda dari Jeon Jungkook yeoja yang menjadi stalkernya.
"Kook? Ini aku, Taehyung..." Taehyung mencoba menggenggam tangan bebas Jungkook. Taehyung bisa merasakan dingin di tangan Jungkook.
"Mian, mianhae, Kook..." ujar Taehyung tulus sambil menatap tepat kemata Jungkook. Namun mata itu tetap kosong.
"T-Tae?" Ujar Jungkook masih sama dengan wajah datar dan tatapan kosongnya.
"Ne, ini aku. Taehyung." Ujar Taehyung sambil menggenggam erat tangan Jungkook. Taehyung bisa melihat mata bulat yang awalnya menatap dirinya kosong kini berubah menjadi sedikit cerah. Taehyung bisa melihat bayangannya sendiri di bola mata hitam itu.
"Taehyung?" Ujar Jungkook dengan suara pelan teramat pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
"Ne, ini aku. Apa kau senang melihatku?" Tanya Taehyung sambil mengelus lembut pipi Jungkook.
"Taehyung... Hiks hiks Taehyung..." isak Jungkook. Mata bulat itu kini mengeluarkan kristal bening yang selama ini tertahan. Taehyung segera membawa Jungkook ke dalam pelukannya.
"Mianhae... Jeongmal mianhae, Kook..." ujar Taehyung penuh penyesalan. Taehyung memeluk tubuh ringkih Jungkook dengan erat.
Jungkook masih terus terisak di dalam dekapan Taehyung. Taehyung dapat merasakan tubuh Jungkook yang gemetar. Kedua tangan Jungkook begitu erat mencengkram kaos yang digunakan oleh Taehyung. Bibir Taehyung tak pernah berhenti mengucapkan kata maaf. Ia merasa bersalah selama ini pada Jungkook. Ia selalu membentak dan mengucapkan kata-kata kasar padanya tanpa pernah memikirkan perasaan dan sakit hati Jungkook.
SKIP
Jungkook dan Taehyung kini berdua di balkon. Kepala Jungkook bersandar pada bahu tegap Taehyung. Senyum bisa Taehyung lihat di bibir pucat Jungkook. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan Jungkook membagi rasa hangat. Mereka berdua tampak dekat sekarang.
"Jimin-ssi tadi memberikan ini padaku. Apa kau belum makan?" Tanya Taehyung sambil menunjukkan nampan yang berisi makanan dan segelas air. Jungkook pun menggelengkan kepalanya tanda benar ia belum makan.
"Wae? Kenapa belum makan?"
"Aku tidak lapar." Jawab Jungkook singkat sambil menatap Taehyung. Sejak tadi Jungkook tak pernah melepaskan pandangannya dari wajah Taehyung. Ia begitu senang melihat Taehyung berada di hadapannya.
"Tapi kau harus makan. Aku suapi?" Tawar Taehyung dan sudah mengambil piring yanh berisi makanan untuk Jungkook.
"Buka mulutmu. Aaa~" Taehyung menyuapi Jungkook yang disambut baik oleh Jungkook. Senyum terukir di bibir Taehyung setidaknya ia berhasil membuat Jungkook mau memakan makan siangnya.
"Uhuk uhuk" Jungkook tersedak makanannya. Segera Taehyung memberikan segelas airnya untuk Jungkook.
"Pelan-pelan saja makannya..." Taehyung menepuk-nepuk punggung Jungkook perlahan.
"Makan lagi, ya..." Taehyung kembali menyuapi Jungkook. Taehyung tidak dapat mengontrol perasaanya saat bisa melihat senyum Jungkook lagi. Sebuah senyuman tulus yang selama ini menghilang seiring perlakuan buruknya pada yeoja manis itu.
Taehyung terus menyuapi makanan itu hingga seluruh makanan yang ada di piring itu habis. Taehyung memberikan segelas air dan sebuah pil berwarna pink kepada Jungkook. Itu adalah vitamin yang diberikan oleh dokter untuk Jungkook. Jimin tadi juga menitipkannya pada Taehyung. Tanpa banyak berbicara lagi Jungkook langsung meminum pil itu. Padahal biasanya ia akan menolak meminum pil itu jika Jimin yang memberikannya.
"Good, anak pintar. Kajja sudah waktunya kau istirahat." Taehyung berdiri dan mengajak Jungkook masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Jungkook sudah dalam posisi yang sangat nyaman untuk tertidur namun matanya masih saja belum terpejam. Ia masih terus menatap Taehyung yang duduk di sampingnya. Jungkook tidak akan menghilangkan kesempatannya untuk terus menatap Taehyung dari jarak sedekat ini. Taehyung menyelimuti tubuh Jungkook dengan selimut hingga sebatas dada.
"Tidurlah, Kook... Kau harus banyak istirahat agar keadaanmu cepat pulih." Ujar Taehyung sambil mengusap rambut hitam Jungkook dengan lembut.
"Ani. Nanti kau pergi." Ujar Jungkook dengan raut wajah sendu.
"Aniya. Aku tidak akan pergi. Jadi tidurlah..." ujar Taehyung meyakinkan.
"Jeongmal?"
"Ne, aku janji." Akhirnya Jungkook mulai memejamkan matanya. Taehyung masih terus mengusap rambut hitam Jungkook sementara tangannya yang lain masih menggenggam tangan Jungkook.
CKLEK
Pintu kamar itu sedikit terbuka. Terlihat Jin mencoba mengintip ke dalam. Ia hanya ingin memastikan jika keadaan Jungkook maupun Taehyung baik-baik saja. Ia takut jika Taehyung melakukan hal yang membuat Jungkook kembali terpuruk. Bukannya ia tidak percaya dan berpikiran buruk pada Taehyung, hanya saja perasaannya masih merasa belum tenang. Namun apa yang dikhawtirkannya tidak benar terjadi. Yang ia bisa melihat kini Taehyung yang terus menatap Jungkook yang mulai tertidur. Tangan mereka berdua pun masih saling bertautan. Jin menyunggingkan senyumnya namun entah kenapa air mata juga mengiringi senyumnya.
"Aku kenapa? Harusnya aku senang bukan melihat mereka?" Ujar Jin sambil menghapus airmatanya.
"Nona Jin?" Panggil Jimin membuat Jin sedikit terkejut.
"Ahh ne? Ada apa Jimin-ssi?" Tanya Jin pada Jimin yang berdiri di belakangnya.
"Ani. Saya hanya ingin memastikan apa Nona Jeon baik-baik saja? Apa ia sudah memakan makan siangnya?" Tanya Jimin dengan raut khawatir.
"Tidak perlu khawatir. Keadaan Jungkook baik-baik saja. Dia sekarang sedang istirahat." Jelas Jin yang diangguki oleh Jimin.
"Baiklah. Terima kasih nona sudah mau menjenguk Nona Jungkook. Saya kasihan padanya karena selama ini ia selalu terlihat sedih dan menyendiri. Tidak ada satupun temannya yang menjenguknya kemari kecuali anda dan tuan Taehyung. Kedua orang tuanya bahkan sangat sulit dihubungi." Jelas Jimin dengan raut wajah sedih. Ia prihatin dengan keadaan nona majikannya itu.
"Tidak perlu khawatir. Setiap hari kami pasti akan kemari. Oh ya saya ingin pamit dulu ya. Jika nanti Taehyung menanyakan saya, tolong bilang jika saya ada urusan dan harus segera pulang. Terima kasih ya Jimin-ssi."
"Ne, nona. Sama-sama. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih pada nona." Ujar Jimin yang dibalas Jin dengan anggukan lalu melenggang pergi dari rumah itu.
SKIP
Matahari kini sudah digantikan oleh bulan. Malam itu entah kenapa langit jadi berubah cerah. Bulan bersinar terang ditemani ribuan bintang berbeda dari malam-malam sebelumnya yang hanya terlihat banyak awan gelap tanpa bulan dan bintang yang menerangi langit.
Yeoja manis itu membuka matanya perlahan. Saat ia ingin mengangkat tangan kirinya, ia merasa tangannya terasa berat. Ia tersenyum saat mendapati namja berambut orange itu tertidur di sampingnya. Ia tidak menyangka jika ini benar-benar nyata. Ia mengira semua yang ia lalui adalah mimpi. Namja itu, datang dan menunjukkan perhatiannya pada dirinya. Ia benar-benar terharu hingga hampir menangis. Ia sedikit bergerak perlahan untuk merubah posisinya. Ia duduk dan menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur agar ia bisa lebih nyaman melihat namja yang terlihat lelap itu.
"Tae... Apa harus aku seperti ini terus untuk membuatmu datang padaku?" Ujar Jungkook pelan bahkan terkesan tanpa suara.
"Apa harus aku terlihat terpuruk seperti ini baru kau mau melihatku? Apa kau melakukan semua ini hanya karena kasihan padaku? Merasa bersalah padaku?" Ujarnya lagi masih sambil menatap Taehyung yang terlelap.
"Lalu jika aku kembali seperti biasa, apa kau masih akan seperti ini padaku? Tidak, kan? Aku sadar hatimu memang bukan untukku. Tapi bolehkan aku masih bisa mencintaimu meski hanya sepihak?" Tanpa Jungkook sadari, airmata kembali mengalir dari sudut matanya. Buru-buru Jungkook menghapus air mata itu. Ia tidak ingin terlihat lemah lagi.
"Aegi lihat? Dia appamu... Appa terlihat lucu ya saat tertidur seperti ini.. Aegi apa aegi kesepian di dalam sini? Eomma juga sama. Eomma kesepian disini. Meski ada appamu disamping eomma, tapi eomma merasa hampa. Apa yang harus eomma lakukan, hmm?" Ujar Jungkook sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Engg" Taehyung menggerakkan tubuhnya. Sepertinya ia sudah terbangun dari mimpi indahnya.
"Kook? Kau sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Taehyung dengan mata yang masih setengah terpejam yang dibalas anggukan oleh Jungkook.
"Mian aku sampai ketiduran. Apa kau lapar? Haus? Mau aku ambilkan sesuatu?" Tanya Taehyung sambil mencoba mengumpulkan nyawanya kembali. Ia regangkan tangannya yang terasa pegal.
"Aniya, tidak perlu. Hmm Tae, ada yang mau aku bicarakan padamu. Ini masalah..." Jungkook menundukkan kepalanya sementara tangannya terus mengelus perutnya. Taehyung yang melihatnya hanya tersenyum.
"Aegi?"
"Ba-bagaiman kau tahu? A-aku saja tidak pernah memberitahukan siapapun soal..."
"Stt aku sudah tahu semuanya. Mian atas sikap semena-menaku padamu selama ini. Mian atas sikap kasarku padamu selama ini. Aku sadar sikapku sudah terlalu kelewatan." Ujar Taehyung sambil menatap mata Jungkook.
"Ne, tidak apa. Aku juga salah. Aku salah selalu mengikutimu. Aku salah selalu mengganggu hidupmu. Dan maaf atas kesalahanku semua akhirnya... ini sampai terjadi. Maaf..." Jungkook kembali menundukkan kepalanya. Taehyung membawa Jungkook ke dalam pelukannya. Seketika itu Jungkook merasa jantungnya berdetak semakin cepat.
"Tae?"
"Ini juga salahku. Jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi." Ujar Taehyung meyakinkan Jungkook. Jungkook hanya bisa mengerjapkan matanya tak percaya dengan ucapan Taehyung barusan.
"Tae?"
"Aku serius. Pegang kata-kataku. Aku namja, dan tidak akan pernah main-main dengan semua yang aku ucapkan." Tegas Taehyung. Namun Jungkook memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa menatap Taehyung lebih lama. Matanya terasa panas.
"Tapi... Bagaimana dengan Jin eonnie? Aku tidak mau karena masalah ini Jin eonnie yang tidak bersalah menjadi korban. Aku tidak mau menyakiti perasaan eonnie sebaik dirinya. Aku merasa menjadi saeng yang jahat untuknya hikss" airmata Jungkook sudah tidak dapat di bendung lagi. Ia mengeluarkannya di hadapan Taehyung.
"Biar aku yang membicarakannya pada Jin. Kau tidak perlu khawatir. Aku yakin Jin pasti akan mengerti." Taehyung mencoba menenangkan Jungkook.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Haruskah kau mengorbankan perasaanmu untuk Jin eonnie hanya karena aku?" Tanya Jungkook membuat Taehyung diam.
"Aku tidak pernah memintamu bertanggung jawab. Jadi pergilah. Raih kebahagianmu dengan Jin eonnie. Jangan memikirkan aku. Aku pasti bisa mengatasinya sendiri. Aku yeoja yang kuat. Aku ingin kau bahagia. Dan aku tahu kebahagiamu bukan denganku, Tae. Pergilah dan susullah Jin eonnie. Aku tahu ia juga pasti terluka dengan semua masalah ini." Ujar Jungkook membuat Taehyung semakin terdiam.
"Kook?"
"Pergilah, Tae. Jin eonnie menunggumu. Bahagialah dengannya. Aku dan aegi akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian." Ujar Jungkook tulus. Taehyung bisa melihat senyum tulus Jungkook. Ia ingin pergi namun hatinya masih terasa berat meninggalkan Jungkook.
"Tae, kembalilah pada Jin eonnie. Aku ataupun aegi akan baik-baik saja." Ujar Jungkook meyakinkan Taehyung jika dirinya benar baik-baik saja.
"Kook, mian. Maaf harusnya aku tidak pernah bersikap jahat pada yeoja sebaikmu. Mian, Kook. Mianhae..." Taehyung kembali memeluk tubuh Jungkook dengan erat namun Jungkook tidak membalas pelukan itu.
"Pergilah, Tae." Jungkook mencoba melepaskan pelukan Taehyung dan meminta Taehyung kembali untuk pergi.
"Ne, arraseo. Gomawo, Kook. Aku harap kau juga akan segera mendapatkan kebahagiaanmu. Aegi, jaga eommamu. Appa bukannya ingin meninggalkan kalian hanya saja... Aku pulang, Kook. Jaga kesehatanmu. Aku tidak ingin kalian berdua sakit." Pamit Taehyung dan berjalan meninggalkan kamar itu.
-Aku harap pengorbananku ini bisa berbuah kebahagian untukmu, Tae. Meski berat, tapi aku akan menjalaninya. Menerima olok-olokan orang lain, menerima semuanya. Jin eonnie aku mohon bahagiakanlah Taehyung.- batin Jungkook sambil menangis dalam diam.
CKLEK
Taehyung menyandarkan punggungnya pada pintu kamar Jungkook. Ia memejamkan matanya. Hatinya masih penuh keraguan. Di satu sisi ia memang sangat mencintai Jin namun di sisi lainnya ada nyawa yang harus mendapat pertanggung jawabannya. Ia masih bingung harus memilih antara cinta atau darah dagingnya sendiri. Dan malam itu Taehyung pulang dengan rasa bersalah dan bimbang di dalam hatinya.
SKIP
Hari sudah menjelang pagi. Tak seperti hari biasanya Taehyung merasa lesu. Semalaman ia tidak bisa tidur. Wajah Jungkook dan Jin selalu terbayang-bayang di pikirannya. Taehyung melajukan motornya di jalanan pagi Seoul untuk menuju ke universitasnya.
Sesampainya di gerbang universitas, Taehyung melihat Jungkook yang baru saja turun dari mobilnya dan berjalan perlahan masuk ke dalam gedung. Wajahnya terlihat lebih ceria meski masih terlihat sedikit pucat. Taehyung menghentikan motornya untuk memperhatikan Jungkook, yeoja yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya.
-Apa benar kau akan baik-baik saja, Kook?- batin Taehyung.
Jungkook berjalan di dalam gedung universitasnya yang besar itu namun bukan menuju ke kelasnya berada, Jungkook justru menuju ke ruang lektor. Ia berencana mengurusi masalah kepindahannya. Semalam, selepas kepergian Taehyung dari rumahnya, Jungkook menelpon kedua orang tuanya dan mengutarakan apa yang terjadi padanya. Orang tuanya tentu saja marah dan meminta ingin bertemu dengan namja yang telah menghamilinya. Namun Jungkook bersih keras menolak dengan berbagai macam alasan. Akhirnya kedua orang tuanya pun memutuskan agar Jungkook ikut dan tinggal bersama mereka.
"Kookie? Aigoo... Sedang apa disini? Apa kau sedang tidak ada kelas?" Tanya Jin saat melihat Jungkook berpapasan dengannya.
"Aniyo, eonnie. Ada yang harus aku selesaikan dengan lektor."
"Soal materi yang tertinggal selama kau tidak masuk itu?" Tebak Jin.
"Ne, eonnie." Jawab Jungkook seadanya. Ia tidak ingin mengutarakan apa tujuannya untuk menghadap lektor.
"Aigoo. Geurae semangat ya! Aku harus ke kelas sekarang. Byebye, Kook." Pamit Jin yang dibalas anggukan oleh Jungkook.
-Aku berharap eonnie bisa selalu membahagiakan, Tae. Ya semoga saja.- batin Jungkook.
Setelah menyelesaikan urusan kepindahannya, Jungkook langsung kembali ke rumahnya untuk bersiap. Hari ini Jungkook harus berangkat ke Paris. Kedua orang tuanya sudah menyiapkan tiket keberangkatannya. Jungkook kembali merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper. Jimin dan Hoseok juga tidak luput membantu nona majikannya untuk membereskan barang-barang yang harus di bawa.
"Sudah nona istirahat saja. Biar aku dan Hoseok yang melanjutkannya." Ujar Jimin sambil memasukkan beberapa potong pakaian Jungkook yang tersisa ke dalam koper.
"Aniyo, Jimin. Biar aku saja yang membereskannya. Aku tidak mau terus menerus merepotkan kalian." Tanggas Jungkook.
"Ini sudah menjadi tugas kami, nona." Balas Hoseok.
"Maaf aku belum bisa menjadi majikan yang baik untuk kalian. Maaf jika selama ini aku selalu semena-mena juga pada kalian. Aku tahu sikapku pada kalian terkadang memang kelewatan tapi..."
"Sudahlah, nona. Kami mengerti kok. Bagaimanapun sikap nona, nona tetaplah Nona Jeon yang kami kenal." Ujar Jimin yang dibalas anggukan oleh Hoseok.
"Gomawo... Dan aku ingin titip ini pada kalian." Jungkook memberikan dua buah amplop berwarna peach pada Jimin dan Hoseok. Jimin mengambil amplop itu dengan raut penuh tanda tanya.
"Ini..."
"Aku titip untuk kalian. Jika Taehyung ataupun Jin eonnie mencariku, kalian berikan ini padanya. Tapi jika mereka bertanya kemana aku pergi, aku harap kalian jangan memberitahukannya. Kalian bisa aku percaya, kan?" Ujar Jungkook yang diangguki oleh Jimin dan Hoseok.
"Baiklah aku rasa semuanya sudah siap. Hoseok bisa antar aku sampai bandara?"
"Ne, tentu, nona." Hoseok pun membawa dua koper besar yang dibawa oleh Jungkook untuk segera memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Jimin aku pergi. Aku harap kau bisa menjaga amanahku." Pamit Jungkook.
"Ne, nona. Hati-hati..."
SKIP
Kelaspun berakhir membuat namja berambut orange itu keluar dari kelasnya dengan tergesa-gesa. Tidak ia pedulikan tatapan atau panggilan dari teman sekelasnya. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres karenanya ia jadi berlari kesetanan seperti ini. Namja itu, Taehyung berlari menuju ke kelas Classic Art, tempat Jungkook. Ia berharap bisa melihat yeoja manis itu duduk di antara teman lainnya. Namun sepertinya Taehyung terlambat karena saat sampai disana, kelas itu sudah bubar dan hanya tinggal beberapa murid yang ada disana. Taehyung tak menyiakan kesempatannya untuk bertanya dimana Jungkook berada pada teman sekelasnya itu.
"Permisi, apa kalian tahu dimana Jungkook setelah kelas bubar?" Tanya Taehyung pada seorang namja berkacamata yang duduk di barisan paling depan.
"Aniya, aku tidak tahu. Yang aku tahu ia sudah tidak kuliah disini lagi." Ujar namja itu.
"Hah? Tidak kuliah disini lagi? Maksudmu?" Tanya Taehyung dengan nada meragukan.
"Ne, dosen kami bilang Jeon Jungkook sudah menghadap lektor dan bilang jika ia tidak akan kuliah disini lagi." Jelas namja berkacamata itu.
"Hei! Cepat kemari!" Teriak namja lain yang berdiri tidak jauh dari Taehyung. Namja berkacamata yang merasa namanya dipanggil itu segera menghampiri temannya tanpa memperdulikan Taehyung yang terdiam.
Taehyung memarkirkan motornya di pekarangan rumah besar milik Jungkook. Ia berharap Jungkook mau menemuinya. Taehyung berjalan masuk ke dalam rumah itu.
Ting Tong Ting Tong
"Iya ada yang bisa saya ban-"
"Apa Jungkook ada?" Tanya Taehyung pada Jimin.
"Ahh Nona Jeon ya? Hmm silakan masuk dulu." Jimin membukakan pintu itu untuk Taehyung.
"Apa Jungkook ada? Aku ingin bertemu dengannya jadi- apa ini?" Taehyung menaikkan sebelah alisnya saat Jimin memberikan sebuah amplop berwarna peach yang ada namanya tertulis disana.
"Itu titipan dari Nona Jeon." Jelas Jimin. Taehyung pun segera membuka amplop itu dan membaca surat yanh ditulis oleh Jungkook untuknya.
'Mungkin saat kau menerima surat ini kau pasti bingung, kan? Haha tenang saja ini bukam surat ancaman, teror atau sebagainya tapi ini surat perpisahan yang aku tulis untukmu. Tae, aku sudah tidak disini. Terkejut? Ya, aku juga sebenarnya tapi ini semua sudah keputusanku. Jangan bertanya kemana aku pergi karena aku tidak akan memberitahumu. Maaf aku pergi tiba-tiba seperti ini. Aku pergi bukan karena aku menghindarimu. Tapi aku pergi mungkin karena ini yang terbaik untukku, untuk kita. Dengan kepergianku ini kau jadi tidak perlu memikirkanku lagi. Aku baik-baik saja. Dan akan selalu baik-baik saja, Tae. Jangan khawatirkan aku. Aku juga akan berusaha menjaga, aegi kita. Aku rasa aku sudah tidak bisa berkata banyak lagi. Aku harap kau bisa bahagia, Tae. Selamat tinggal. Jungkook.'
Taehyung menegang saat membaca surat itu. Ia merasa tubuhnya lemas sekarang. Jungkook pergi? Ia sama sekali tidak pernah menduga hal ini.
"Apa kau tahu kemana perginya Jungkook?" Tanya Taehyung pada Jimin.
"Maaf, untuk itu saya tidak bisa memberitahunya. Maaf..." ujar Jimin sambil berjalan masuk ke dalam dapur.
"Tunggu! Tolong katakan padaku yang sebenarnya. Dimana Jungkook? Kemana ia pergi? Tolong beritahu aku." Taehyung menahan Jimin dan memohon agar Jimin mau memberitahu kemana Jungkook pergi.
"Maaf, tuan. Saya tidak bisa memberitahu anda. Saya sudah diamanahkan agar tidak memberitahu siapapun kemana nona pergi. Maaf..." ujar Jimin sambil berlalu.
-Jeon Jungkook kemana perginya kau?- batin Taehyung.
.
.
.
Annyeong readersdul semua... FF nya udah di update lagi nih. Oh ya di chapt sebelumnya aku sempat bilang chapt ini jadi ending nya ya? Ahh mian ternyata tidak readersdul... Mian mian... Maafkan kelabilan aku ini ya T^T Ide tiba-tiba muncul lagi dan buat cerita FF ini makin panjang dan berbelit-belit haduehh apa readersdul udah bosan dengan FF ini? Apa mau cepat di ENDin aja?
Balasan Reviews :
*xxchancimit
Ini udh dilanjut chingu :) iya nasib Jungkook malang banget nih kita doain aja smoga nantinya hidup Jungkook akak berubah ya. Aminn smoga suka dg chap ini :) gomawo udah review :)
*Dragonius Meidi Lee
Haha Tae jangan dimarahin kasian dia hehe doakan saja smoga hidup Kookie akan berubah hehe gomawo atas pujiannya dan ini udah di update lagi loh chingu :) gomawo ya udah review :)
*ochaken
Hmm akhirnya? Kita lihat nanti ya tapi mereka pasti akan happy end kok :) jangan salahkan Kookie salahkan saja Tae kenapa Tae bisa buat Kook cinta mati sampe rela melakukan segala hal asdfghjkl *dibekepKook* gomawo udah review :)
*itcha
Iya chingu ini udh di update kok :) smoga suka dg chap ini ya :) gomawo udh review :)
*Guest
Duh iya aku typo nih typo baru sadar swaktu udh di post mianhaeee T^T duh iya Tae mmg udh kelewatan banget nih Kookie kan jd ksian hueeee gomawo ya udh review :)
*JSBTS
Kita doakan smoga hidup Kookie berubah ya aminnn gomawo pujiannya :) ini udh dilanjut fast hehe panjangin? Udh di coba meski gak panjang" banget hiks gomawo ya udh review :)
*RapKwon
Duh mian aku salah ketik mian atas ke khilafan aku hehe dibuat keguguran? Hmm akan dipertimbangkan hehe gomawo udh review :)
*ajid yunjae
Iya disini Jin jd yg kasian yah tapi mau gimana lagi nasi sdh jd bubur huft iya lbh baik Jin sm namja lain aja ya drpd sm Taetae *sesat* gomawo ya udah review :)
*Phiee
Gomawo pujiannya :) ahh Taetae jangan ditabokin kasian dia T^T hehe ini udh dilanjut kok gomawo ya udah review :)
*CookingCookies
Kookie yg unyu" gt gk cocok dibuat jadi psikopat chingu hehe jadi aku alihkan dia hueheh aku juga haus akan taekook nih secara mreka berdua itu bias aku dan pas aja buat di couplein hehe mereka cute kalo dijadiin couple, right? Hehe tenang ini udh di lanjut kok smoga suka ya :) gomawo udah review :)
*phie
Ini udah di lanjut kok chingu :) gomawo ya udh review :)
.
.
.
Huaaaa thanks untuk respon positif dari kalian semua readersdul aku terharu karena banyak yang suka FF aneh bin gaje ini huhu
Special for :
Evelyn Liu, Pinkiess, phiee, 000, VVKK, none, 3012, divi, kyeo, JSBTS, , RapKwon
Gomawo udah review Chap 1 dan mian karena aku belum bales review kalian ya tapi aku janji akan selalu bales review kalian di chap depan :)
Hahhh akhirnya Chap ini selesai di update. Semoga kalian suka ya readersdul :) dan terima kasih untuk yang udah review FF abal-abal ini aku seneng banget karena kalian menghargai banget usaha keras aku selama ngetik FF ini. Dan oh ya maaf aku gak bisa buat pict member" saat jd yeoja karena aku gak ahli dalam hal edit mengedit foto :( Mianhae readersdul T^T oh ya kritik saran dan masukannya juga jangan lupa ya readersdul hehe
Aku juga ingin mengucapkan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA bagi para readers yang berpuasa :) ayokayok semangat ya puasanya jangan sampai batal hehe bye^^
