Mine is Yours

Title : Mine is Yours (Chapt7)

Writer : MrsDoubleV

Genre : Drama, Hurt/Comfort, Romance

Rated : T

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Casts : Bangtan's members

Semua cast milik Tuhan, para orang tua dan diri mereka masing-masing serta Big Hit ent. Saya hanya meminjam mereka disini.

Warning : GS (Gender Switch), OOC, typo(s)

Ide, alur cerita semua milik saya so DON'T BE A PLAGIATOR! Tinggalkan jejak setelah membaca..

.

.

.

Hai readersdul semua... Mian aku muncul tiba-tiba disini karena kalau aku muncul di akhir rata-rata dikacangin sih :( oh aku mau minta maaf untuk keterlambatan update nya ya readersdul semua... Karena jujur untuk chapt ini aku sedikit sulit ngetiknya. Feelnya agak sedikit hilang dan banyak kesulitan untuk nerusin alur ceritanya. But well setelah mencoba beberapa kali perombakan sana sini akhirnya bisa juga di update hehe...

Oh ya aku juga ingin promote nih *ehh* mengenai FF aku lainnya. Beberapa hari yang lalu aku post juga FF OneShoot pertama aku yang judulnya 'Jung dan Oh Families' dan FF kedua yang menceritakan ttg Hyun Family 'I'm Not Mama Boy' dan aku minta para readersul mampir ke sana.. Aku berharap readersdul juga berkenan untuk membaca dan juga meninggalkan jejak disana. Oke sekian cuap-cuapnya. Aku lanjutkan di akhir cerita nanti aja deh. Dan selamat membaca...

.

.

MrsDoubleV

.

.

PLUKK

Tiba-tiba ada sesuatu yang keluar dari dalam buku bersampul yang di pegang Jungkook itu. Jungkook mengambilnya dan melihat sebuah foto Taehyung. Jungkook mengamati foto itu dengan seksama. Dengan cuek Jungkook meletakkan foto Taehyung tadi di atas meja dan membuka sampul depan buku yang dipegangnya.

Kookie's Diary

Mata Jungkook terbelalak saat melihat lembar awal buku bersampul putih itu. Ia menolehkan kepalanya memandang Taehyung yang masih tertidur dan kembali menatap buku yang dipegangnya tepatnya ke lembar paling awal buku itu.

"Ini buku diaryku?"

Jungkook masih terus memandangi lembar awal buku bersampul putih itu. Ia penasaran dengan buku itu apa buku itu memang benar-benar miliknya atau tidak. Tapi melihat tulisan yang ada Jungkook merasa benar itu miliknya. Dengan jantung berdetak cepat Jungkook membalikkan lembar buku itu.

Srekk

"Engg... Kookie?" Suara Taehyung membuat Jungkook langsung segera menutup kembali buku itu. Jungkook menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat Taehyung sudah terbangun dari tidurnya. Jungkook pun segera berjalan menghampiri Taehyung tanpa merapikan buku-buku itu lebih dulu.

"Ne, aku disini. Ada apa? Apa merasa pusing? Mual? Mau aku ambilkan obat?" Tanya Jungkook pada Taehyung yang duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya.

"Ani. Aku kira kau sudah pulang." Ujar Taehyung dan memaksa untuk tersenyum.

"Aku pulang jika keadaanmu sudah lebih baik. Tapi lihat wajahmu masih terlihat pucat dan tubuhmu juga masih hangat. Apa aku telepon dokter saja untuk memeriksa keadaanmu?" Tanya Jungkook pada Taehyung.

"Ani. Aku baik-baik saja kok. Kook kemarilah..." Taehyung menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya sebagai isyarat agar Jungkook bisa duduk di sana.

Jungkook yang mengerti pun mendudukkan dirinya di samping Taehyung. Seketika Taehyung langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Jungkook.

"Tae?"

"Biarkan seperti ini sebentar saja." Ujar Taehyung dan memejamkan matanya.

Jungkook sedikit menolehkan kepalanya dan menatap wajah Taehyung yang bisa dibilang sangat dekat bahkan Jungkook bisa merasakan hembusan nafas Taehyung di wajahnya. Hidung Jungkook dan hidung Taehyung saja bahkan hampir bersentuhan karena jarak mereka itu. Jungkook mengangkat tangan kanannya dan mengelus pipi Taehyung yang masih terlihat pucat.

"Cepat sembuh ya, Tae. Aku tidak ingin kau sakit seperti ini..." Ujar Jungkook sendu.

"Ne. Gomawo, Kookie."

"Ne?"

"Gomawo sudah mau merawatku. Gomawo sudah mau menjadi orang yang spesial untukku. Dan berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi." Ujar Taehyung sambil menatap Jungkook dengan mata sendunya.

"Ne, aku janji. Aku tidak akan meninggalkanmu. Gomawo juga Taeku..." Ujar Jungkook sambil mengecup pipi kanan Taehyung sekilas.

-Semoga itu benar, Kook. Apa setelah kau tahu semuanya kau masih mau bersamaku? Aku harap iya. Sangat berharap kau akan tetap menjadi Kookieku. Ya, sangat berharap.- batin Taehyung.

Hari sudah menjelang gelap. Taehyung melihat jam dindingnya yang menunjukkan pukul 19.30 KST atau jam setengah delapan malam. Taehyung membaringkan tubuh Jungkook di tempat tidurnya. Jungkook tadi ikut terlelap bersamanya. Taehyung terus memandangi wajah damai Jungkook yang tertidur yang selalu di sukainya.

"Kook, maaf. Maaf karena aku semua jadi seperti ini. Maaf kau baru bisa merasakan kebahagiaan itu saat ini. Maaf... Dan apa kau masih bisa mencintaiku setelah apa yang telah aku lakukan padamu dulu? Masihkah? Masihkah kau akan tersenyum, tertawa, merawat bahkan mencintaiku seperti sekarang jika kau tahu semuanya?" Ujar Taehyung dengan suara yang teramat pelan takut membangunkam Jungkook.

Taehyung melirik ke arah meja belajarnya dan melihat jika buku-bukunya di meja belajar itu sudah terlihat berantakan. Taehyung segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah meja belajarnya. Ia merapikan kembali buku-bukunya itu. Sebelum ia bangun tadi, ia sudah tahu jika Jungkook sudah menemukan buku diary nya disana. Dan beruntung sepertinya Jungkook belum membaca isi setiap lembar diary nya itu. Taehyung mengambil buku bersampul putih itu dan menyimpannya di tempat lain. Ia tidak ingin Jungkook kembali menemukannya setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.

"Mianhae, Kook. Jeongmal mianhae..." Ujar Taehyung sambil menatap Jungkook yang tertidur lelap di tempat tidurnya.

Jungkook menggeliat di dalam tidur lelapnya. Ia mengerjapkan matanya dan sedetik kemudian langsung bangkit terduduk karena terkejut. Matanya yang semula masih setengah terpejam pun kini sudah kembali membulat seolah rasa kantuknya tadi langsung menguap begitu saja. Jungkook menolehkan kepalanya ke sekelilingnya dan ia terkejut saat tidak mendapati Taehyung disana. Padahal ia sangat yakin jika tadi Taehyung tertidur di sampingnya.

"Astaga, Tae... Di luar kan dingin... Padahal keadaannya masih belum membaik. Hahhh..." Keluh Jungkook saat melihat pintu balkon yang terbuka dan menampakkan Taehyung yang sedang berdiri termenung di balkon tanpa jaket ataupun sesuatu yang bisa mengurangi rasa dingin terpaan angin malam itu.

Grepp

Jungkook menutupi tubuh Taehyung dengan selimut yang tadi ia bawa. Ia juga memeluk tubuh Taehyung dari belakang. Taehyung yang terkejut segera menolehkan kepalanya dan mendapati Jungkook yang tersenyum manis padanya.

"Kenapa berdiri disini, hmm? Apa kau tidak merasa kedinginan? Kau kan masih sakit..." Tanya Jungkook pada Taehyung namun Taehyung tidak menjawabnya. Ia malah menarik tubuh Jungkook untuk berdiri di depannya dan memeluknya.

"Tae?"

"Biarkan seperti ini. Kau juga kedinginan bukan? Bukankah jika seperti ini lebih terasa hangat?" Ujar Taehyung dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Jungkook. Tak lupa ia juga membenarkan letak selimut itu agar bisa menutupi tubuh keduanya.

"Bagaimana tidurmu tadi? Nyenyak?" Tanya Taehyung pada Jungkook dengan jarak yang sangat begitu dekat.

"Ne. Tapi kenapa kau tidak membangunkanku?" Ujar Jungkook dengan mempoutkan bibirnya lucu membuat Taehyung gemas.

"Mana mungkin aku membangunkanmu yang tertidur pulas begitu. Ahh lihat! Bintangnya banyak sekali bukan?" Ujar Taehyung sambil menunjuk ke arah langit malam yang saat itu banyak di penuhi bintang.

"Wahhh indah sekali..." Puji Jungkook tanpa mengalihkan tatapannya dari ribuan bintang yang di lihatnya malam itu.

"Tapi menurutku mereka tetap kalah indah darimu, Kookie..." Ujar Taehyung tiba-tiba dan membuat wajah Jungkook memerah.

"Ihh jangan gombal deh!" Balas Jungkook acuh mencoba menutupi wajah merahnya.

"Aku sama sekali tidak gombal. Aku berbicara fakta. Kau memang cantik, lebih cantik dari apapun juga." Puji Taehyung dan membuat wajah Jungkook semakin memerah.

"Uhhh dasar perayu! Penggombal! Aku tidak akan termakan rayuan bodohmu itu!" Ujar Jungkook sambil mencubit ujung hidung Taehyung sampai memerah.

"Appoyo, Kookie..." Keluh Taehyung dan mengelus hidungnya yang kini sudah terlihat memerah semerah tomat.

"Hihihi kau nampak sangat lucu Tae jika hidungmu merah begitu hihihi..." Ujar Jungkook sambil tertawa.

"Uhhh kau sudah berani menertawakanku, yahh... Ohh bagus bagus..." Ujar Taehyung pura-pura kesal dan membuat Jungkook semakin tertawa.

"Masih tertawa juga? Baiklah akan aku balas! Terimalah hukuman dariku, Kookie..." Ujar Taehyung diiringi sebuah seringaian dari Taehyung.

CUP~

Taehyung segera mencium bibir pink Jungkook membuat Jungkook membelalakkan matanya karena terkejut. Hanya menempel saja memang namun membuat dada Jungkook berdesir dengan ciuman lembut yang diberikan oleh Taehyung. Jungkook memejamkan matanya dan menikmati ciuman lembut itu bersama Taehyung.

"Kook, wajahmu memerah! Hahaha" ejek Taehyung setelah ia melepaskan pagutan bibirnya dengan bibir Jungkook.

"Mwo? A-ani! Mungkin kau salah lihat! Wajahku tidak memerah kok!" Elak Jungkook dan membalikkan tubuhnya untuk menyembunyikan wajah memerahnya dari Taehyung.

"Kau menyukai ciuman dariku? Jika kau menyukainya, akan aku berikan sering-sering padamu." Goda Taehyung membuat wajah Jungkook tambah memanas dan memerah.

"Yak! Kim Taehyung!" Bentak Jungkook karena sudah tidak bisa menahan perasaan malunya. Sementara Taehyung hanya tertawa dengan sikap Jungkook yang menurutnya sangat menggemaskan itu.

Kini suasana kembali hening. Taehyung dan Jungkook kembali menimati indahnya langit bertabur bintang malam itu. Pelukan Taehyung pada tubuh Jungkook pun semakin lama semakin erat. Jungkook menyandarkan kepalanya pada dada bidang Taehyung. Sementara Taehyung menempelkan dagunya pada kepala Jungkook dan sesekali menyesap aroma shampoo yang terkuar dari rambut cokelat Jungkook.

"Kook... Apa kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Taehyung tiba-tiba membuat Jungkook bingung.

"Wae? Kenapa kau menanyakan hal itu?" Jungkook balik bertanya pada Taehyung.

"Ani. Aku hanya penasaran saja. Apa kau benar mencintaiku? Kalau aku jelas aku sangat sangat sangat mencintaimu." Lanjut Taehyung.

"Bukankah kau sudah tahu jawabannya?" Balas Jungkook.

"Jawaban? Jawaban apa?" Taehyung sedikit bingung dengan penuturan Jungkook barusan.

"Jawaban dari pertanyaanmu tadi. Apa aku mencintaimu atau tidak."

"Aku tidak bertanya seperti itu. Yang aku tanyakan kan apa kau benar-benar mencintaiku? Bukan kau mencintaiku atau tidak." Koreksi Taehyung.

"Pertanyaannya sama sajalah. Dan kau kan sudah tahu jawabannya." Balas Jungkook dengan santainya.

"Memang apa jawabannya?"

"Jika aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku mau menjadi yeojachingumu. Lagipula jika aku tidak mencintaimu, untuk apa aku khawatir jika kau sakit, hmm?" Jelas Jungkook membuat Taehyung tersenyum.

"Lalu apa yang membuat kau mencintaiku?" Tanya Taehyung lagi.

"Hmm apa ya? Mungkin karena kau baik, perhatian dan selalu membuatku bahagia." Jawab Jungkook sambil tersenyum.

"Begitukah?"

"Dan ada lagi. Kau selalu jujur padaku dan tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Aku paling tidak suka seseorang menyembunyikan sesuatu dariku." Sambung Jungkook membuat Taehyung terdiam. Taehyung merasa dadanya berdetak lebih cepat. Kata-kata Jungkook tadi seperti telah menyindirnya.

"Be-begitukah?"

"Ne. Tapi aku senang kau bukan orang yang seperti itu, Tae." Ujar Jungkook sambil mengelus pipi kiri Taehyung dengan lembut.

Keduanya kembali hening. Jungkook kembali sibuk memandangi bintang sementara Taehyung sendiri sibuk dengan pikirannya sendiri. Kata-kata Jungkook tadi terus menerus terngiang di kepalanya membuatnya bingung dan juga takut. Ia takut akan kehilangan Jungkook -lagi- jika Jungkook mengetahui semua kebenaran yang ada. Tidak. Taehyung sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Ia tidak ingin Jungkook meninggalkannya lagi -mungkin-.

"Tae?" Panggil Jungkook saat menyadari jika Taehyung terdiam.

"Ne?" Balas Taehyung.

"Kenapa diam saja? Apa ada kata-kataku yang salah?" Tanya Jungkook merasa ada yang sedikit aneh dengan Taehyung.

"Ani. Sama sekali tidak." Jawab Taehyung.

"Benarkah? Tapi kenapa kau langsung diam begitu?"

"Ahh ani... Aku hanya kepikiran hal lain saja." Jawab Taehyung seadanya. Ia bingung harus menjawab apa.

"Hal lain? Apa?" Jungkook sangat penasaran dengan apa yang di pikirkan oleh Taehyung.

"Hmm i-itu... Tentang..." Taehyung menggaruk tengkuknya bingung harus beralasan apa.

"Tentang?"

"Hmm itu... Hmm bagaimana kabar appa dan eommamu? Apa masih sering menghubungimu lagi?" Tanya Taehyung mencoba mengalihkan pembicaraan. Ada perasaan lega dihatinya karena bisa mencoba mencari-cari pertanyaan lain.

"Hmm? Appa dan eomma? Entahlah mereka sudah jarang menghubungiku belakangan ini. Mungkin karena mereka semakin sibuk. Mereka kan lebih sering memperhatikan pekerjaan mereka daripada aku." Ujar Jungkook sakrastik.

"Eyyy jangan bicara seperti itu. Mereka bekerja juga kan semua untukmu, Kookie..." Balas Taehyung.

Jungkook hanya diam mendengar penuturan Taehyung tadi. Mungkin apa yang dikatakan Taehyung itu ada benarnya dan juga ada salahnya. Selama hidupnya, Jungkook memang sudah biasa menjadi nomor dua bagi kedua orangtuanya bahkan terkadang bisa menjadi nomor tiga dan nomor-nomor seterusnya setelah pekerjaan mereka yang selalu mereka utamakan. Bahkan dulu Jungkook sempat berpikir jika mungkin kedua orangtuanya memang tidak pernah menganggap Jungkook anak mereka karena ya itu mereka lebih sering mementingkan masalah pekerjaan mereka yang tidak pernah ada habisnya di banding memperhatikan Jungkook yang memang darah daging mereka sendiri. Jungkook sudah kenyang karena tahu akan sikap ketidakpedulian orang tuanya itu.

"Lalu bagaiman dengan kabar ahjumma dan ahjushi sendiri?" Jungkook balik bertanya pada Taehyung.

Taehyung memang sempat bercerita sedikit mengenai kedua orang tuanya pada Baekhyun. Ia bercerita jika kedua orang tua Taehyung memang sudah lama tidak menetap di Seoul. Mungkin sudah hampir 5 tahun lamanya. Appa Taehyung pindah keluar negeri untuk fokus mengurusi cabang perusahaan yang baru dibukanya. Beberapa bulan berikutnya eommanya yang merupakan seorang wanita karier dengan berbagai usaha yang di miliki juga mengikuti jejak sang suami pindah keluar negeri untuk mencoba peruntungannya memgembangkan usaha yang dimilikinya. Karena itu Taehyung dulu juga sempat di bawa kedua orang tuanya keluar negeri dan menetap disana. Namun karena merasa tidak betah, Taehyung pun memutuskan untuk kembali ke Seoul, kota kelahirannya hingga sekarang. Meski tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya, tapi kedua orang tuanya selalu menyempatkan diri datang 2 bulan sekali ke Seoul untuk menjenguk anak mereka, Taehyung. Sedikit berbeda dengan kedua orang tua Jungkook membuat Jungkook terkadang iri.

"Eomma dan appa? Mereka baik-baik saja. Dan mereka bilang minggu depan mereka akan kemari. Karena minggu depan kan memang waktunya mereka menjenguk anak mereka yang tampan ini." Jawab Taehyung yang mendapat cibiran dari Jungkook.

"Sepertinya kau tidak senang sekali saat aku bilang aku tampan. Kau tidak suka memang punya namjachingu tampan?" Tanya Taehyung membuat Jungkook menolehkan kepalanya tidak ingin menatap Taehyung.

"Oh ya nanti aku akan mengenalkanmu pada appa dan eommaku. Mereka pasti senang jika tahu anaknya yang tampan ini memiliki yeojachingu yang cantik sepertimu..." Ujar Taehyung membuat Jungkook kembali menolehkan kepalanya ke arah Taehyung.

"Wae?"

"Kenapa wae? Tidak apakan jika aku ingin mengenalkan yeojachinguku pada kedua orang tuaku sendiri? Lagipula saat aku cerita pada mereka aku sudah memiliki yeojachingu, mereka jadi tidak sabar ingin segera melihatmu."

"Tapi aku kan belum siap bertemu langsung dengan..."

"Tenang saja. Lagipula itu masih minggu depan." Ujar Taehyung mencoba menenangkan Jungkook.

"Tapi aku... Aku tetap saja takut, Tae. Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku? Lalu bagaimana jika mere-"

"Jangan berpikiran begitu. Aku yakin mereka pasti akan menyukaimu."

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena aku mencintaimu. Sudahlah kau jangan terlalu memikirkannya." Ujar Taehyung mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Jungkook terus kepikiran tentang masalah itu.

"Ahh ini sudah malam sekali. Aku antar kau untuk pulang ya?" Ujar Taehyung tersadar dan segera menarik tangan Jungkook.

"Ani, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, Tae. Lagipula keadaanmu baru saja membaik." Tolak Jungkook.

"Tapi ini sudah sangat malam. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. Tidak baik seorang yeoja malam-malam pulang sendiri. Lagipula kau adalah yeojachinguku dan sudah menjadi tanggung jawabku untuk melindungimu. Kajja!" Taehyung kembali menarik tangan Jungkook dan kali ini tidak mendapat penolakan dari Jungkook.

SKIP

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya. Jungkook sudah terbangun dan segera bersiap. Ia ingin pergi ke rumah Taehyung namjachingunya. Mungkin sejak kejadian Taehyung jatuh sakit itu, Jungkook jadi lebih sering menghabiskan waktu di rumah Taehyung. Apalagi Taehyung yang masih tinggal sendirian disana mengingat Bibi Go masih belum kembali mengingat ini masih 4 hari dari batas waktu ijinnya.

Dengan menggunakan t-shirt putih dan hot pants biru nya serta sebuah jaket hitam miliknya, Jungkook berjalan menuju ke rumah Taehyung tak lupa dengan sebuah kotak bekal di tangannya serta sebuah ransel kecil miliknya. Jungkook melihat jika lampu di pekarangan rumah Taehyung sudah mati tanda jika sang penghuni rumah pasti sudah bangun dari tidur lelapnya.

CKLEK

Jungkook melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ia mengganti sandal luarnya dengan sandal rumah yang sudah disiapkan oleh Taehyung sebelumnya. Taehyung selalu mengijinkan Jungkook masuk ke dalam rumahnya kapan pun Jungkook ingin berkunjung jadi ia sudah tidak heran saat menemukan Jungkook yang diam-diam sudah berada di rumahnya.

Setelah Jungkook meletakkan kotak bekalnya di dalam dapur, Jungkook pun segera melangkahkan kakinya ke dalam kamar Taehyung. Dengan langkah perlahan ia masuk ke dalam kamar Taehyung. Ia ingin membuat Taehyung sedikit terkejut karena kedatangannya itu.

Jungkook dapat melihat Taehyung yang duduk membelakangi dirinya dengan sebuah buku yang sepertinya sedang di baca oleh Taehyung. Jungkook yang merasa Taehyung sedang sangat serius pun melangkahkan kakinya semakin mendekat. Bahkan saat Jungkook sudah berada tepat di belakang Taehyung pun ia masih tidak sadar.

"Taetae?" bisik Jungkook di telinga kiri Taehyung membuat Taehyung terlonjak kaget.

"O-ohh Ko-Kookie? Ahh k-kau sudah da-datang?" Ujar Taehyung terbata-bata dan dengan gerakan cepat langsung menutup buku yang di bacanya tadi dan menyembunyikannya di balik punggungnya.

"Serius sekali... Memang tadi sedang baca apa?" Tanya Jungkook dan mendudukkan dirinya di samping Taehyung.

"Hahaha ani... Hanya buku pelajaran biasa saja hehe" Ujar Taehyung sedikit gugup. Ia terus mencoba menyembunyikan buku itu di balik punggungnya. Jungkook mengernyitkan dahinya sedikit bingung dengan sikap Taehyung itu.

"Aku rasa ada yang aneh denganmu, Tae. Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" Tanya Jungkook sambil menatap Taehyung yang terlihat menegak salivanya dengan susah payah.

"Te-tentu saja tidak." Balas Taehyung.

"Lalu kenapa kau jadi terlihat gugup begitu? Dan kenapa kau terus menyembunyikan buku itu dariku?" Tanya Jungkook penuh kecurigaan. Taehyung hanya diam. Ia sudah tidak bisa menjawab apa-apa.

"Tae? Jawab aku!" Desak Jungkook. Namun Taehyung masih juga diam.

"Jadi benar kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Ujar Jungkook lagi sambil terus menatap dalam manik mata Taehyung.

"Tae! Aku kan sudah bilang aku sangat ti-"

"Tidak menyukai seseorang yang menyembunyikan sesuatu darimu." Potong Taehyung.

"Jika kau tahu, lalu kenapa kau masih jug-"

"Karena aku tidak ingin membuatmu terluka, Kook! Aku tidak ingin membuatmu kembali mengingat luka itu!" Ujar Taehyung dengan suara sedikit meninggi membuat Jungkook terkejut.

"A-apa ma-maksudmu, Tae? A-apa i-ini semua tentang buku di-diaryku itu?" Tanya Jungkook ragu-ragu. Dan seketika raut wajah Taehyung jadi terlihat lebih menegang.

"Jawab aku, Tae! Kenapa kau diam saja! Apa yang terjadi sebenarnya? Dan kenapa buku diaryku ada padamu?" Ujar Jungkook dengan suara yang meninggi. Terlihat Jungkook juga sedang mencoba menahan bulir air matanya.

"Jawab aku, Tae! Jawab! Kenapa kau diam saja?" Desak Jungkook sambil menggoyangkan tubuh Taehyung. Sebutir air mata menetes dari mata Jungkook.

Merasa tak mendapat jawaban dan respon apapun dari Taehyung, dengan cepat Jungkook mengambil paksa buku yang terus di sembunyikan oleh Taehyung di balik punggungnya. Taehyung dapat melihat ada raut kekecewaan di wajah manis Jungkook. Setelah Jungkook mengambil buku itu dari tangan Taehyung, Taehyung merasa tubuhnya jadi mati rasa. Seluruh sendi-sendi tulangnya jadi melemas dan sama sekali tidak bisa di gerakkan. Dan Taehyung seperti merasa semuanya akan berakhir sekarang.

Jungkook membuka buka bersampul putih itu dan benar itu adalah buku yang sempat di lihatnya beberapa hari yang lalu. Buku itu adalah benar buku diarynya. Jungkook membalik lembar pertama diarynya. Ia melirik sekilas ke arah Taehyung sebelum ia membaca tulisan yang tertera disana.

Taehyung masih dalam posisinya semula yang duduk diam dan memandang Jungkook. Tubuhnya benar-benar sudah mati rasa sekarang sama sekali tidak bisa bergerak. Jungkook masih terus membaca dan membalikkan tiap lembar buku diarynya itu membuat Taehyung semakin menegang.

Jungkook terlihat sangat terkejut saat membaca tulisannya. Ia melirik ke arah Taehyung dengan mata membulat dan mulut menganga yang Taehyung yakini ia pasti sudah membaca dimana masalah permulaan mulai muncul.

Dengan berat hati, Jungkook pun kembali membalik lembar demi lembar buku diarynya dan membaca setiap tulisannya tanpa terlewat. Dan semakin lama ia merasa tubuhnya semakin melemas apalagi saat ia tahu jika mereka -ia dan Taehyung- pernah melakukan hal... ya pasti kalian mengerti hal apa itu. Ia juga sempat kecewa saat tahu Taehyung sempat meninggalkannya membuat dadanya sakit. Sakit seperti tertusuk ribuan jarum.

"Ha-hamil? A-aku? Ha-hamil?" Ujar Jungkook bergetar. Ia mengerjapkan matanya tidak percaya dengan tulisan yang ia baca.

"T-Tae... Se-semua itu... Bo-bohong, kan?" Tanya Jungkook dengan susah payah menahan rasa sakit di dadanya dan juga rasa keterkejutannya pada Taehyung.

"Semua itu... Benar, Kook." Jawab Taehyung membuat Jungkook merasa kepalanya seperti terhantam ribuan kilo besi.

"Tae? Kau ti-tidak serius, kan? Semuanya tidak benar, kan?" Ujar Jungkook penuh harap.

"Tidak, Kook. Semuanya memang benar. Aku sama sekali tidak bercanda..." Jawab Taehyung lagi dengan penuh keyakinan. Jungkook hanya terdiam karena ia masih sangat terkejut.

"Biar aku jelaskan semuanya." Ujar Taehyung di barengi dengan helaan nafas.

"Saat itu kau memang benar. Sedang. Mengandung anakku. Darah dagingku. Dan aku yang bodoh ini..." Ujar Taehyung dengan terbata-bata.

"Jelaskan semuanya dengan jelas, Tae. Semuanya!" Ujar Jungkook di selingi air mata yang kembali meluncur dari pelupuk matanya.

Taehyung pun menjelaskan semua yang telah terjadi pada Jungkook tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi fakta yang ada. Ia ingin Jungkook tau semuanya. Ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan semuanya lebih lama lagi meski ia tahu apa resiko yang di tanggungnya nanti. Ia sudah harus ikhlas jika Jungkook tiba-tiba akan meninggalkannya kembali. Ia pasrah jika Jungkook akan kecewa dan marah padanya. Ia sudah benar-benar pasrah akan apa yang dialaminya nanti.

Setiap perkataan, penjelasan yang dikeluarkan oleh Taehyung benar-benar di dengarkan oleh Jungkook dan membuat hatinya merasa semakin sakit dan sesak. Ia kembali membayangkan semua yang pernah terjadi padanya yang sempat bahkan sampai sekarang ia tidak ingat. Jungkook merasa kepalanya semakin lama semakin terasa sakit saat membayangkan semua hal itu. Kepalanya terasa berputar-putar mengingat-ingat apa yang pernah terjadi padanya.

"Dan karena kecelakaan yang menimpamu, aegi kita jadi..."

"Cukup, Tae! Cukup! Akhhh..." Keluh Jungkook sambil memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit. Seluruh bayangan kejadian yang diceritakan Taehyung satu persatu mulai bermunculan di kepalanya.

"Kook? Kau baik-baik saja? Kookie?" Tanya Taehyung panik karena Jungkook yang terus memegangi kepalanya dan terus mengerang sakit.

"Akhhh kepalaku... Akhhh..." Keluh Jungkook dan mencoba untuk bangkit dari duduknya.

"Kook? Apa yang mau kau lakukan? Kookie?" Tanya Taehyung dan menahan Jungkook untuk pergi. Ia begitu khawatir dengan keadaan Jungkook sekarang. Wajah Jungkook terlihat sangat pucat dan banyak keringat yang mulai bercucuran juga.

"Lepaskan, Tae! Lepaskan!" Jungkook menepis tangan Taehyung yang mencoba menahannya untuk pergi.

"Tapi Kook..."

"Aku bilang lepaskan!" Bentak Jungkook dan berjalan keluar dari kamar Taehyung.

Jungkook berjalan sempoyongan dan sesekali masih mengeluhkan sakit di kepalanya yang tak kunjung mereda. Namun kakinya mencoba untuk terus berjalan. Ia ingin pulang segera. Ia sudah tidak ingin berlama-lama di dalam rumah Taehyung apalagi di kamar Taehyung bahkan ia tidak ingin melihat wajah Taehyung dulu untuk sekarang ini.

Jungkook terus berjalan melewati jalanan kompleks yang semakin ramai. Hari sudah semakin siang dan matahari pun sudah terik memancarkan sinarnya. Tapi Jungkook tidak terlalu perduli. Ia masih tetap melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke rumah. Tanpa Jungkook sadari, Taehyung masih setia mengikutinya. Ia sangat khawatir dan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Jungkook.

"KOOKIE!" Teriak Taehyung saat melihat Jungkook yang sudah tidak sadarkan diri.

Taehyung berlari mendekati tubuh Jungkook dan segera menggendongnya. Taehyung mempercepat langkahnya untuk sampai di rumah Jungkook. Beruntung jarak ke rumah Jungkook tidak terlalu jauh dari tempat dimana Jungkook pingsan tadi.

"Kookie, mianhae... Jeongmal mianhae..." Ujar Taehyung penuh penyesalan sambil menatap Jungkook yang sudah tidak sadarkan diri di gendongannya.

Taehyung melesatkan dirinya sesegera mungkin ke dalam rumah besar Jungkook saat Jimin, maid rumah itu membukakan pintu. Taehyung dengan terburu-buru menaiki tangga untuk segera sampai ke kamar Jungkook. Jimin juga terlihat sangat panik saat melihat Jungkook nona majikannya yang terlihat tidak sadarkan diri di dalam gendongan Taehyung.

"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi pada nona? Kenapa nona bi-"

"Nanti akan aku jelaskan. Kookie, aku harap kau baik-baik saja..." Ujar Taehyung dan merebahkan tubuh Jungkook di atas tempat tidurnya.

Jimin kemudian meninggalkan Taehyung dan Jungkook berdua. Meski ia juga merasa sangat khawatir, namun sepertinya mereka membutuhkan waktu untuk berdua. Dan Jimin tentu saja tidak ingin ikut campur terlalu dalam tentang masalah nona majikannya itu dan 'teman'nya.

Taehyung terus menggenggam tangan Jungkook dan terus mengucapkan kata maaf. Ia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Jungkook ini. Ia sudah tidak peduli Jungkook akan kecewa, marah bahkan membencinya. Ia tidak peduli itu. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Jungkook. Jika itu terjadi, ia akan teramat menyalahkan dirinya sendiri.

Taehyung melihat ada pergerakkan sedikit dari Jungkook. Meski matanya masih terpejam, tapi tangannya langsung memegangi kepalanya. Sepertinya Jungkook masih merasakan sakit di kepalanya.

"Kook? Kookie?" Ujar Taehyung mencoba menyadarkan Jungkook.

"Akhh kepalaku..." Keluh Jungkook lagi dan mencoba untuk duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya.

"Kookie? Apa sakit sekali? Atau perlu aku panggilkan dokter un-"

"Sedang apa kau disini?" Tanya Jungkook disertai nada dingin membuat Taehyung merasakan sakit dihatinya mendengar nada bicara Jungkook yang berbeda.

"Kook?"

"Aku kecewa padamu, Tae. Sangat kecewa padamu." Ujar Jungkook sambil menatap tajam Taehyung.

"Mian, Kook... Mian... Aku tahu aku salah karena aku pernah mening-"

"Aku kecewa bukan karena hal itu, Tae. Tapi aku kecewa karena kau menyembunyikan semuanya dariku. Kenapa Tae kau menyembunyikannya? Kenapa?" Ujar Jungkook dengan raut penuh kekecewaan.

"A-aku hanya tidak ingin kau jadi teringat akan semua hal yang bisa menyakitkanmu, Kook. Aku tidak mau membuatmu bersedih lagi. Aku tidak mau kembali mengorek lukamu. Aku melakukannya karena aku ingin menjaga perasaanmu. Aku..."

"Lalu dengan menyembunyikan semuanya dan menganggap semua itu tidak pernah terjadi, kau pikir luka itu akan hilang, begitu? Kau salah, Tae. Luka itu pasti akan tetap ada. Dan akan lebih terasa perih lagi saat aku mengetahuinya belakangan. Seperti ini." Ujar Jungkook lagi membuat Taehyung terdiam.

"Lalu jika kau memikirkan perasaanku, kenapa sejak pertemuan kita lagi kau tidak mau mengatakannya? Dan memilih menyembunyikannya seperti ini? Apa kau memanfaatkan keadaanku yang sekarang ini, Tae? Keadaan dimana aku seperti orang bodoh yang tidak pernah mengetahui apa-apa?"

"Dan apa kau juga selama ini sengaja mendekatiku, berbuat baik padaku, membuat aku jatuh cinta padamu dan mencoba membuatku bahagia untuk menebus semua kesalahanmu dulu? Apa begitu?" Sambung Jungkook di sertai dengan air mata yang kembali membanjiri pipinya.

"Aniyo, Kook. Tidak seperti itu. Kau salah paham... Aku..."

"Apalagi, Tae? Kau mau beralasan apalagi? Aku sungguh kecewa padamu, Tae. Sangat sangat kecewa." Ujar Jungkook dengan suara paraunya karena dibarengi dengan tangisannya yang kian pecah.

"Kook, dengarkan penjelasanku dulu. Semua yang kau katakan tadi tidak benar. Aku sama sekali tidak pernah memanfaatkan keadaanmu ini. Aku..."

"Sudahlah, Tae. Cukup. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku lelah, Tae. Dan aku sudah sangat sangat kecewa padamu. Pergilah, Tae. Aku ingin sendiri sekarang." Ujar Jungkook tanpa mau menolehkan kepalanya kepada Taehyung.

"Kook?" Taehyung mencoba mendekati Jungkook kembali dan mencoba untuk menjelaskan semuanya.

"Pergi, Tae. Aku mohon. Aku ingin sendiri sekarang." Ujar Jungkook lagi masih enggan menolehkan kepalanya kepada Taehyung.

"Kook-"

"Aku bilang pergi, Tae! Pergi!" Bentak Jungkook membuat hati Taehyung mencelos.

"Ne, aku pergi. Mianhae, Kook... Mian..." Ujar Taehyung dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Jungkook. Meninggalkan Jungkook sendiri bersama tangisnya.

Taehyung menyandarkan punggungnya pada pintu kamar Jungkook yang sudah tertutup. Taehyung memejamkan matanya dan kembali memikirkan kata-kata Jungkook tadi. Tangan kanannya memegangi dada kirinya yang terasa sangat menyakitkan. Taehyung sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa sekarang. Jungkook sudah mengetahui semuanya di tambah Jungkook sepertinya juga menjadi benci pada dirinya.

-Mian, Kook. Mianhae... Bukan ini yang aku mau, Kook. Mian...- batin Taehyung.

SKIP

Sudah 3 hari berlalu dan selama 3 hari itu Jungkook terus mengurung dirinya di kamar. Ia tidak pernah lagi terlihat di luar. Hanya Jimin ataupun Hoseok yang terkadang mencoba masuk ke dalam kamar itu untuk mengantarkan makanan untuk Jungkook. Mereka tidak ingin nona majikan mereka sakit. Beruntung meski mengurung diri, Jungkook masih mau memakan makanan yang selalu di antarkan oleh Jimin atau pun Hoseok membuat kedua maid dan buttler itu lega. Dalam beberapa hari ini Taehyung juga terus ke sana dan mencoba untuk menemui Jungkook. Namun Jungkook selalu menolak bertemu dengannya membuat Taehyung merasa semakin bersalah. Ia merasa sangat kehilangan sosok Jungkook yang dicintainya itu.

CKLEK

Pintu kamar itu pun terbuka. Terdengar sayup-sayup langkah seseorang yang mendekat ke arahnya. Jungkook tahu dan yakin jika itu adalah Jimin sehingga ia membiarkan orang itu masuk ke dalam kamarnya. Jungkook tidak menolehkan kepalanya sama sekali. Ia masih asik memandangi langit pagi itu dari balkonnya.

"Letakan saja makannya di meja dan kau boleh pergi." Ujar Jungkook masih tanpa menolehkan kepalanya.

"Aku bilang, setelah kau letakan makanan itu, kau boleh langsung pergi." Ulang Jungkook saat merasa Jimin belum juga pergi.

"Jim-min?" Jungkook menolehkan kepalanya dan terkejut karena bukan Jimin yang ia lihat, melainkan orang yang selama ini ingin di hindarinya. Orang yang telah membuatnya kecewa, Taehyung.

"Annyeong, Kook..." Sapa Taehyung dan mencoba memasang senyum terbaiknya.

"Untuk apa kau kemari? Bukankah aku sudah bilang jika aku ingin sendiri? Apa perkataanku itu masih belum jelas juga?" Ujar Jungkook dengan nada dingin. Taehyung merasa hatinya sangat sakit mendengar Jungkook berkata seperti itu namun ia menyembunyikannya dan tetap memasang senyum terbaiknya untuk Jungkook.

"Sampai kapan kau ingin sendiri? Ini sudah 3 hari, Kook. 3 hari." Balas Taehyung dengan suara yang di buat lembut. Ia tidak ingin amarah Jungkook kembali terpancing jika ia mengucapkannya dengan nada kesal.

"Dan kau pikir, selama 3 hari rasa kecewaku padamu sudah menghilang, begitu? Tidak, Tae. Tidak." Balas Jungkook.

"Kook, aku mohon. Dengarkan penjelasanku dulu. Jebal..." Mohon Taehyung namun Jungkook tidak bergeming.

"Apalagi yang ingin kau jelaskan? Sudahlah, Tae. Aku lelah terus memikirkannya." Balas Jungkook.

"Kook? Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu. Sekali ini saja. Aku mo-"

"Sudahlah, Tae. Cukup. Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi. Jadi tolong, kau pergi dari sini. Karena aku, sedang ingin sendiri." Ujar Jungkook tanpa menolehkan kepalanya lagi ke arah Taehyung.

Grebb

Dengan beraninya, Taehyung langsung memeluk tubuh Jungkook dari belakang. Jujur ia sangat-sangat merindukan Jungkook. Jungkook mencoba untuk melepaskan pelukan Taehyung. Namun sayang Taehyung terlalu erat memeluknya sehingga sulit untuknya melepaskan diri dari pelukan Taehyung itu.

Plakk

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Taehyung saat Jungkook berhasil melepaskan pelukannya. Taehyung memegangi pipi kirinya yang sudah memerah karena tamparan yang ia dapatkan dari Jungkook. Mata Jungkook terlihat berkilat marah namun berbalik dengan mata Taehyung yang penuh dengan tatapan kerinduan dan bersalahnya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jungkook dengan penuh amarah.

"Kook, aku hanya merindukanmu. Sangat, sangat merindukanmu. Aku mohon, Kook. Jangan seperti ini..." Ujar Taehyung.

"Cukup! Cukup! Aku tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu! Aku-"

"Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh, Kook. Aku benar-benar merindukanmu, karena aku sangat sangat mencintaimu." Jelas Taehyung dengan penuh kesungguhan.

"Sudahlah aku mohon kau pergi dari sini sekarang."

"Kook?"

"Pergi dari sini sekarang! Dan jangan pernah temui aku lagi!" Ujar Jungkook dengan nada meninggi.

"Baiklah, Kook. Mian..." Ujar Taehyung dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Jungkook dengan langkah berat.

Seperginya Taehyung, Jungkook langsung jatuh terduduk dengan air mata yang mengalir dari selupuk matanya. Ia menatap pintu kamarnya dengan tatapan nanar. Sesungguhnya di dalam lubuk hatinya ia juga merindukan Taehyung. Namun kekecewaan di hatinya yang mengalahkan kerinduannya akan sosok Taehyung. Setiap kali ia melihat Taehyung, ia jadi semakin teringat akan apa yang telah terjadi dan semakin membuat hatinya sakit. Maka Jungkook memilih untuk menghindari Taehyung untuk saat ini dan lebih memilih sendiri untuk mencoba mengobati hatinya dan mencoba kembali mengumpulkan kepercayaannya untuk Taehyung.

SKIP

Taehyung masuk ke dalam rumahnya dengan raut lesu dan tanpa semangat. Ia kembali memikirkan Jungkook dan setiap ia memikirkan Jungkook, ia jadi semakin menyalahkan dirinya. Taehyung melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam rumah untuk segera menuju kamarnya tanpa ia menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya.

"Aigoo, Taetae... Kau darimana saja? Eomma sedaritadi mencarimu. Dan kenapa wajahmu kelihatan lesu begitu? Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya seorang yeoja yang meski sudah terlihat berumur namun tetap terlihat cantik. Yeoja itu terus menatap Taehyung penasaran.

"Aniyo, eomma. Aku baik-baik saja." Elak Taehyung.

"Tapi, wajahmu itu sama sekali tidak menunjukkan jika kau sedang baik-baik saja. Katakan pada eomma. Sebenarnya ada apa?" Desak Nyonya Kim.

"Apa ini ada masalahnya dengan yeojachingumu?" Tebak Nyonya Kim namun tidak mendapat respon dari Taehyung.

"Betul kan tebakan eomma?" Tanya Nyonya Kim lagi namun Taehyung tetap diam.

"Eomma tahu kau merasa sangsi menceritakan masalahmu pada eomma karena kau adalah namja. Tapi dengan menceritakannya bukankah membuatmu menjadi lebih lega? Jadi cobalah ceritakan pada eomma apa yang terjadi. Siapa tahu eomma juga bisa membantumu." Desak Nyonya Kim lagi.

Taehyung menatap sekilas ke wajah Nyonya Kim, eommanya. Nyonya Kim tentu saja tersenyum saat ditatap oleh putranya. Taehyung memang masih sedikit ragu apa ia akan menceritakan permasalahannya dengan Jungkook atau tidak tapi dengan satu helaan nafas, akhirnya Taehyung pun mulai menceritakan permasalahannya dengan Jungkook meski tidak terlalu detail. Karena ia tidak ingin membuat eommanya terkena serangan jantung jika ia menceritakannya terlalu detail apa yang telah ia perbuat.

"Ohh jadi yeojachingumu itu salah paham padamu lalu ia marah dan tidak ingin menemuimu lagi, begitu?" Tanya Nyonya Kim dan diangguki oleh Taehyung.

"Hahh memang apa yang kau lakukan sih hingga membuatnya salah paham, hmm?" Ujar Nyonya Kim namun Taehyung hanya diam tidak meresponnya.

Nyonya Kim pun memberikan berbagai nasihat dan masukan kepada Taehyung. Taehyung tentu saja mendengarkannya dengan seksama. Inilah yang Taehyung sukai jika kedua orang tuanya datang. Ia bisa mendapat berbagai macam nasihat dan masukan-masukan yang baik untuk dirinya, seperti ini. Mendengar semua perkataan eommanya itu Taehyung jadi lebih bisa memahami hati seorang yeoja. Dan berharap cara-cara yang diberikan eommanya itu dapat berguna untuknya jika ia terapkan. Ya semoga saja cara-cara itu memang berhasil.

Taehyung kini sedang berada di kantin universitasnya. Ia sedang ada kelas siang hari ini. Di samping Taehyung kini ada seorang Namjoon yang sibuk dengan ponselnya. Taehyung merasa lapar namun entah kenapa nafsu makannya hilang begitu saja. Ia terus kepikiran tentang Jungkook, Jungkook dan Jungkook.

"Wae? Kenapa kau hanya memain-mainkan nasi gorengmu begitu? Bukankah tadi kau bilang kau lapar?" Tanya Namjoon saat ia menyadari ada yang aneh dengan Taehyung.

"Hahhh sedang tidak ada nafsu makan." Balas Taehyung dan memundurkan posisi duduknya agar bersandar pada sandaran kursinya. Namjoon menaikkan alisnya bingung dengan perubahan sikap Taehyung ini yang terlihat tidak seperti biasanya.

"Ada apa? Kau ada masalah?" Namjoon mencoba bertanya kepada Taehyung.

"Ani. Tidak ada apa-apa." Balas Taehyung. Namjoon hanya mengendikkan bahunya dan kembali sibuk dengan ponselnya. Ia tahu Taehyung sedang tidak ingin bercerita padanya jadi ia tidak mau memaksa.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang kekasih yang berjalan mendekat ke arah tempat Taehyung dan Namjoon duduk sekarang. Mereka adalah Jin dan Yoongi. Mereka berdua membawa nampan yang berisikan sepiring makanan dan juga segelas minuman untuk mereka.

"Hei, kami boleh gabung, kan?" Ujar Yoongi pada Taehyung dan juga Namjoon.

"Tentu. Duduk saja." Balas Namjoon.

Yoongi pun duduk di samping Taehyung sementara Jin duduk di samping Namjoon. Mereka duduk saling berhadapan. Jin melirik sedikit ke arah Taehyung dan melihat ada yang sedikit berbeda dari Taehyung. Wajah Taehyung nampak lesu dan seperti tidak memiliki semangat. Jin memberikan kode kepada Yoongi untuk mencoba bertanya pada Taehyung.

"Kau kenapa?" Tanya Yoongi pada Taehyung. Taehyung hanya melirik sekilas ke arah Yoongi dan menggelengkan kepalanya.

"Apa ini ada hubungannya dengan Jungkook?" Tebak Jin membuat Taehyung menghela nafasnya.

"Jadi benar. Memang apa yang terjadi pada kalian? Bukankah hubungan kalian selama ini baik-baik saja?" Tanya Jin penasaran. Semua mata Yoongi, Jin bahkan Namjoon pun beralih menatapnya.

"Tunggu, tunggu. Jungkook? Siapa?" Tanya Namjoon karena merasa sedikit asing dengan nama itu.

"Yeojachingu Taehyung, sepupu Yoongi." Jelas Jin. Namjoon sedikit berpikir sejenak. Ia mencoba mengingat-ngingat apa ia pernah bertemu dengan yeoja yang sedang mereka bicarakan itu.

"Ohh yeoja yang pernah kemari itu, kan Tae? Yeoja yang pernah kau bantu mencari Jin?" Tanya Namjoon dan dibalas anggukan oleh Taehyung.

"Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kalian bertengkar?" Tanya Yoongi. Ia cukup penasaran dengan apa yang terjadi antara Taehyung dengan Jungkook, sepupunya.

"Jungkook... Sudah mengetahuinya. Ia sudah mengetahui semuanya." Ujar Taehyung membuat Jin, Yoongi bahkan Namjoon mengerutkan alisnya. Mereka bingung dengan jawaban Taehyung tadi.

"Maksudmu? Mengetahui apa?" Tanya Yoongi tidak mengerti.

"Ia sudah mengetahui semua masalah tentang... Masa lalunya itu." Ujar Taehyung sendu. Jin dan Yoongi pun terkejut. Namun hanya Namjoon yang terlihat semakin bingung karena hanya dia yang tidak tahu disini.

"Wae? Wae? Wae? Memang masalah apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti..." Ujar Namjoon bingung dan mencoba meminta penjelasan dari Taehyung, Yoongi ataupun Jin.

Tak ada satupun dari Taehyung, Jin ataupun Yoongi yang berniat menjelaskannya pada Namjoon. Mereka hanya saling menatap dan sibuk dengan pikiran mereka membuat Namjoon mengeluh kesal karena hanya dia yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Ia merasa Taehyung, Jin dan Yoongi memang sengaja tidak ingin memberitahunya dan membuatnya semakin kesal.

Drrtttt Drrrtttt

Tiba-tiba Namjoon merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya. Ia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mencoba menghubunginya. Sedetik kemudian wajahnya terlihat cerah dan ia terlihat terburu-buru untuk pergi.

"Aku pamit ya. Dia sudah menungguku. Bye." Pamit Namjoon dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan kantin. Taehyung, Jin dan Yoongi sudah mengerti siapa yang dimaksud 'dia' oleh Namjoon. Dia adalah yeoja yang baru 3 bulan ini menjadi kekasihnya.

"Tae, bisa kau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya sekarang?" Desak Jin karena ia begitu penasaran ingin mendengar cerita lengkap dari Taehyung.

"Dia sudah mengetahuinya, Jin. Jungkook sudah mengetahui semuanya." Jelas Taehyung frustasi.

"Tentang masalah... Bagaimana bisa?" Kini Yoongi yang bertanya. Taehyung menghela nafasnya sebelum ia menjelaskannya.

"Jungkook menemukan diarynya dirumahku dan..."

"Bertanya padamu dan kau menjelaskan semuanya, begitu?" Tebak Jin dan diangguki oleh Taehyung.

"Astaga, Tae.. Lalu Jungkook?"

"Dia marah ah ani lebih tepatnya kecewa padaku karena aku telah menyembunyikan masalah ini darinya. Dan aku sangat sangat merasa bersalah padanya. Hahh apa yang harus aku lakukan?" Taehyung mengacak rambutnya frustasi. Yoongi dan Jin juga hanya bisa terdiam. Mereka juga bingung harus berbuat apa. Lagipula mereka juga merasa bersalah karena mereka yang meminta Taehyung untuk menyembunyikan masalah ini.

"Apa kau sudah menjelaskan alasan kenapa kau menyembunyikan masalah ini darinya?" Tanya Yoongi.

"Tentu aku sudah mencoba menjelaskannya. Tapi... Ia sama sekali tidak mau mendengar. Bahkan menganggap semua perlakuanku padanya selama ini adalah palsu untuk menebus kesalahanku terdahulu. Hahh apa yang harus aku lakukan sekarang?" Jelas Taehyung. Sementara Yoongi dan Jin menatap teman mereka itu dengan tatapan prihatin.

"Kami akan mencoba membantu menjelaskannya. Tapi... Aku juga tidak bisa berjanji Jungkook mau mendengar alasan kami atau tidak. Ya secara tidak langsung kami kan juga turut bersalah disini. Karena kami kau juga jadi harus menyembunyikannya." Ujar Yoongi pada Taehyung.

"Gomawo. Hanya kau dan Jin harapan terakhirku." Balas Taehyung pasrah.

SKIP

Yoongi dan Jin kini sedang dalam perjalanan menuju ke apartment Jin. Setelah mengobrol dengan Taehyung tadi, mereka memiliki rencana untuk mengunjungi Jungkook dan berharap jika mereka bisa membantu permasalahan yang sedang di hadapi oleh Taehyung dan Jungkook itu.

"Jinnie, waeyo? Kau melamun?" Tanya Yoongi mencoba menyadarkan Jin dari lamunannya.

"Ani.. Aku hanya sedang memikirkan masalah Kookie dan Taehyung. Aku merasa bersalah pada mereka. Andai kita tidak menyuruh Taehyung menyembunyikan masalah itu. Mungkin semua tidak akan jadi begini. Kasihan Taehyung. Ia jadi disalahkan dan membuat Kookie kecewa padanya." Ujar Jin dengan nada sendu.

"Ne, aku juga. Hahh tapi tenanglah nanti aku akan mampir ke rumah Jungie dan mencoba membicarakan masalah ini. Aku berharap dia mau bertemu denganku dan mendengarkanku." Ujar Yoongi pada Jin. Mereka memang sudah berencana akan mendatangi Jungkook dan menjelaskan semua akar permasalahannya. Dan rencananya mereka akan mengunjungi Jungkook satu persatu.

Mobil Yoongi pun sudah sampai di apartment Jin. Dengan segera Jin pun turun dari mobil itu. Yoongi tidak berniat mampir dulu ke apartment Jin karena ia akan langsung menuju ke rumah Jungkook. Setelah melihat Jin sudah masuk ke dalam gedung apartment, Yoongi langsung melanjutkam perjalanannya ke rumah Jungkook.

Ting Tong

Yoongi memencet bell saat ia sampai di rumah Jungkook. Sudah sangat lama ia tidak datang ke rumah besar milik keluarga Jeon itu. Tidak lama pintu kayu itu pun terbuka dan menampilkan Hoseok sang buttler.

"Ohh Tuan Min. Masuklah, Tuan." Ujar Hoseok dan mempersilakan Yoongi untuk masuk. Hoseok ataupun Jimin memang sudah mengenal Yoongi jadi tanpa banyak bertanya mereka pasti segera mengijinkan Yoongi untuk masuk.

"Ada apa, Tuan? Tumben anda datang kemari? Apa ingin bertemu dengan Nona Jeon?" Tanya Hoseok.

"Ne. Apa Jungie ada?"

"Ada, tuan. Tapi... Nona Jeon sepertinya sedang tidak ingin di ganggu siapapun." Balas Hoseok.

"Benarkah? Memang apa yang terjadi padanya?" Yoongi pura-pura tidak tahu.

"Saya juga kurang tahu, tuan. Tapi beberapa hari ini Nona Jeon terus menolak bertemu dengan orang lain."

"Ohh tapi aku kan sepupunya. Hoseok, aku bisa minta tolong padamu? Katakan pada Jungie jika aku ingin bertemu dengannya." Pinta Yoongi pada Hoseok.

"Tapi, tuan..."

"Ada yang ingin aku bicarakan padanya. Tolonglah." Yoongi kembali meminta tolong pada Hoseok.

"Baiklah. Akan saya coba. Untuk sementara tuan tunggulah dulu." Ujar Hoseok lalu segera naik ke lantai atas tepatnya ke kamar Jungkook.

Selang beberapa menit, Hoseok sudah kembali menghampiri Yoongi yang sedang duduk di ruang tamu. Yoongi melihat kedatangan Hoseok dan berharap Jungkook mau menemuinya.

"Maaf, Tuan. Nona Jeon bilang anda bisa langsung datang ke kamarnya saja." Ujar Hoseok menyampaikan kata-kata yang dipesan Jungkook padanya.

"Baiklah. Gomawo, Hoseok." Balas Yoongi dan segera naik ke kamar Jungkook.

Yoongi membuka kenop pintu kayu berwarna cokelat karamel itu. Di lihatnya siluet seorang yeoja yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada di balkon kamar itu. Yoongi langsung berjalan mendekati yeoja itu yang adalah Jungkook. Terlihat Jungkook sedang duduk sendirian disana. Tepat di sampingnya ada sebuah piring dan gelas yang sudah kosong. Yoongi menyimpulkan kemungkinan Jungkook baru saja menghabiskan makan siangnya.

"Jungie? Sedang apa disini?" Tanya Yoongi mencoba berbasa-basi dan mendudukkan dirinya pada sebuah kursi kosong di samping Jungkook.

"Oppa tumben sekali kemari. Ada apa?" Tanya Jungkook dan mencoba untuk tersenyum.

"Oppa kebetulan lewat dan ingin mampir. Lagipula oppa kan juga sudah lama tidak melihat adik sepupu oppa yang cantik ini." Ujar Yoongi sambil mengusak rambut Jungkook.

"Yak oppa! Alasan macam apa itu? Kebetulan lewat? Cih setiap hari oppa kan memang selalu lewat sini." Cibir Jungkook.

"Lagipula jika oppa mampir pun, kau pasti tidak ada. Kau pasti kan sibuk dengan Taehyung, namjachingumu itu. Memangnya oppa tidak tahu apa?" Canda Yoongi namun bisa terlihat wajah Jungkook yang kembali muram.

"Wae? Apa oppa salah bicara?" Tanya Yoongi pura-pura tidak tahu.

"Dia bukan namjachinguku." Balas Jungkook singkat dan mengalihkan pandangannya dari Yoongi. Yoongi tentu saja terkejut dengan perkataan Jungkook barusan.

"Maksudmu?"

"Dia bukan namjachinguku. Dia mendekatiku hanya karena ia ingin membalas kesalahannya padaku dulu." Ujar Jungkook miris.

"Maksudmu? Kesalahan? Kesalahan apa?" Yoongi masih meneruskan perannya seolah ia tidak tahu mengenai apapun.

"Aku tahu, oppa juga sudah mengetahuinya. Lalu kenapa oppa menanyakannya lagi?" Balas Jungkook dingin.

"Sekarang, apa yang ingin oppa katakan padaku? Membelanya dan mengatakan jika ia tidak salah, begitu?" Ujar Jungkook membuat Yoongi terdiam.

"Aku memang bodoh. Atau kalian semua yang terlalu pintar menyembunyikan semuanya dariku?" Yoongi semakin terdiam mendengar perkataan Jungkook itu.

"Jungie kau salah paham. Ya oppa akui oppa memang salah karena tidak pernah memberitahumu tentang masalah itu. Oppa sengaja menyembunyikannya karena oppa tidak ingin kau terus menerus sedih. Oppa ingin kau bahagia, Jungie." Yoongi mencoba menjelaskan pada Jungkook secara perlahan.

"Alasan kalian pun sama. Aku benar-benar kecewa pada kalian, oppa. Sangat sangat kecewa." Ujar Jungkook masih tanpa menolehkan kepalanya pada Yoongi.

"Aku tahu kau pasti kecewa pada oppa. Oppa ingin minta maaf padamu. Dan ada yang ingin oppa jelaskan juga disini. Taehyung sama sekali tidak pernah memanfaatkan keadaanmu ini, Kook. Dia benar-benar mencintaimu. Sangat mencintaimu. Dia..."

"Oppa, aku mohon jangan meneruskannya. Cukup, oppa. Cukup. Aku sudah lelah memikirkan ini semua." Jungkook mencoba menghentikan Yoongi.

"Tapi, Kook. Kau harus mendengarkan penjelasanku. Tae-"

"Oppa, aku mohon. Berhenti membahas masalah ini. Dan satu lagi. Tolong, tinggalkan aku sendiri." Ujar Jungkook dengan tegas.

"Tapi Jungie oppa masih be-"

"Please, oppa. Tolong tinggalkan aku sendiri." Ujar Jungkook lagi. Tapi Yoongi masih terdiam di tempatnya duduk. Ia masih terus memandangi Jungkook, adik sepupunya itu berharap Jungkook mau mendengar penjelasannya kembali.

"Oppa, tolong. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun. Jadi, tolong tinggalkan aku sendiri. Sekarang." Jungkook kembali meminta Yoongi untuk meninggalkannya.

"Ne, oppa pergi. Mian, Jungie." Ujar Yoongi dan meninggalkan Jungkook sendirian.

Sebelum keluar dari kamar itu, Yoongi kembali membalikkan tubuhnya dan menatap nanar Jungkook yang duduk membelakanginya. Sedetik kemudian ia menghela nafasnya dan segera meninggalkan kamar itu.

-Mian, Tae aku tidak bisa membantumu.- batin Yoongi.

.

.

.

.

Chapt 7 update juga akhirnya yeyy mian ya atas keterlambatan updatenya. Jujur selama ngetik chapt ini, aku banyak ngalami masalah. Tiba-tiba feel hilang dan ide mandek makanya aku ingin minta maaf jika chapt ini jadi kurang memuaskan. Mian readersdul semua T.T

Oh ya untuk FF OneShoot aku yg judulnya 'Jung dan Oh Families' mian aku cuma buat itu benar-benar OneShoot, artinya no next chapter dan no sequel. Mianhae.. Tapi untuk FF lainnya yang 'I'm Not Mama Boy' itu berchaptered kok jadi read, review and wait for next chapt ya :)

Balasan Reviews :

*nam mingyu

Untuk jawaban ingatan Kookie kembali atau gak di chapt ini ya chingu hehe ne, chap7 ini memang bukan chap end kok tapi mungkin ini masih mungkin ya chap depan end tapi ini masih kemungkinan loh hehe gomawo ya udah review :)

*vakmalia9

Gomawo pujiannya :) oh untuk masalah Rated M, ya sebenarnya sih FF ini aslinya mmg rated M tp karena ini lg bulan puasa dengan terpaksa chap" selanjutnya jadi Rated T. Mian ya aku gak mau buat para readersdul lain yang berpuasa jadi batal gara" baca FF ini. Jadi aku mohon kemaklumannya ya chingu :) dan gomawo udh review :)

*frpjungkook

Ne dan mian ya chap ini telat update T.T apa yang disembunyikan akhirnya pasti akan ketahuan juga kok hehe dan ini saatnya Kookie harus tahu kasian dia hrus di bohongin terus *ehh mian mian kalo jadi buat chingu penasaran hehe gomawo ya udah review :)

*OH SE IN

Inspirasi? Oh jeongmal? Wah aku gak pernah nyangka FF abal-abal gini bisa buat chingu jadi terinspirasi o.o ne, ini udah dilanjut tp mian telat update hehe gomawo udh review :)

*LKCTJ94

Iya Kookie memang amnesia permanen. Ia memang jd gak tahu sama sekali masa lalunya jadi begitulah hehe hmm untuk itu jawabannya ad di chap ini ya chingu hehe gomawo udh review :)

*guest

So sweet? Apa romance nya dapet? Aaaa masalah itu bisa chingu baca di chap ini hehe ini udah di update kok chingu gomawo ya idh review :)

*CynCynCw

Jeongmal? Gwenchana chingu :) ini udh di update kok dn gomawo udh review ')

*helloannyeongg

Huaaaa ini FF abal-abal loh chingu hahaha gomawo ya udah review :)

*Pinkiess

Ide fict ini terlintas begitu saja dn jadilah abal-abal bgini hehe gomawo ya udh review :)

*LeeHunHan947

Gomawo for your like :) got the feeling? Jinjja? Gomawo udh review :)

*KyuraCho

Iya Taetae sm Kookie mmg udh jdian hehe kebongkar? Pastilah Kookie memang harus tahu kebenarannya *mianTaetae* ini udh diupdate lagi kok gomawo udh review :)

*lee cha hyun

Kookie pasti tahu kbnrnnya hehe gwenchana dan gomawo udh review :)

*blackorange322

Mwo? Jinjja? Ne, cheonma. Aku seneng kalo FF ini bs jd inspirasi tp aku mrasa FF ini msh abal" bgt loh hehe ne udh di lanjut kok gomawo udh review :)

*ajid yunjae

Iya Kookie udh nemuin diarynya nih kelanjutannya di chap ini hehe gomawo ya udh review :)

*7abc

Gomawo udh suka :) ne udh di lanjut kok gomawo ya udh review :)

*Nthania

Huaa recomment? Jinjja aku gak pernah nyangka ada yg recomment FF ini o.o ohh buat acc demi aku? Aigoo aigoo *pingsan* ini udh dilanjut kok chingu :) gomawo ya udh review :)

*1811nath

Tp biar bgaimanapun Kook jg harus tau chingu :) ini udh dilanjut kok gomawo ya udh review :)

*JSBTS

Ya mereka udh jadi spasang kekasih nih hehe untuk klnjutannya di baca aj ya di chap ini hehe ini udh dilanjut tp mian lama updatenya hehe gomawo ya udh review :)

*Zahee

Iya mreka mmg udh jadian dn betuk sekali Kook nemuin diarynya dan kelanjutannya di baca aja ya di chap ini hehe gomawo udh review :)

*Lulu Auren

Hahaha mian bakar aja tbc nya bakar *lohh* iya Kookie nemuin buku diarynya dn kelanjutannya di baca aja ya chap ini hehe DaeBaek ada porsi di FF aku yg lain kok yg jdulnya 'I'm Not Mama Boy' dn ttp ad TaeKook juga hehe mohon di baca dan review ya hehe *mian promote* gomawo udh review :)

*Kim-Jeon

Tenang ini udh diupdate kok gomawo udh review :)

*3012

Ne, ini udh diupdate hehe gomawo udh review :)

*000

Ne, ini udh dilanjut kok chingu gomawo udh review :)

*zoldyk

Huaaa thanks for like :) and finally I updated it hehe thanks for review :)

*Han YuRi - MilkHunHan

Annyeong chingu :) gomawo udh mnyempatkan diri baca FF abal" ini hehehe gwenchana review di chap ini :) Taetae di awal memang menyebalkan banget dia hahah ya semua pasti akan kbongkar kok gomawo ya chingu untuk review nya :)

*Imyeo

Hehehe semua yg disembunyiin apapun itu pst akan kbongkar juga akhirnya hehe ohh nc? Mian chingu ini masih bulan puasa dan aku gk mau menyesatkan(?) readersdul lain yg lagi puasa :( mohon kemaklumannya ya hehe gomawo udh review :)

Ahhh thanks for review readersdul semua :) annyeong untuk readersdul yang baru juga :) gomawo udh mau menyempatkan diri baca FF abal-abal ini hehe gomawo untuk review, kritik saran dan semua masukan yang udh kalian berikam untuk aku ya :)

Oh ya masalah soal Rated, aku kan sempat nulis Rated FF ini M(18+) tp aku akan ganti karena sprt yg kita tahu bulan ini kan bulan puasa, jadi kurang pas aja kalo aku post FF yg NC inside jadi aku mohon harap kemaklumannya. Summary nya pasti akan aku ganti kok dan kasih warning hehe

Next chap end? Hmm aku juga masih belum tahu. Jadi aku belum bisa mastiin. So tunggu next chap aja ya :) byebye :) and see you :)

Ps : Jangan lupa mampir ke 'Jung dan Oh Families' dan 'I'm Not Mama Boys juga ya dan tinggalkan jejak kalian disana :) *mian promote*