Mine is Yours
Title : Mine is Yours (Chapt8)
Writer : MrsDoubleV
Genre : Drama, Hurt/Comfort, Romance(?)
Rated : T
Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Choi Junhong
Other Casts : Bangtan's members
Semua cast milik Tuhan, para orang tua dan diri mereka masing-masing serta Big Hit ent. Saya hanya meminjam mereka disini.
Warning : GS (Gender Switch), OOC, typo(s), bahasa non baku dan bahasa serta setting Prancis yang sedikit maksa
Ide, alur cerita semua milik saya so DON'T BE A PLAGIATOR! Tinggalkan jejak setelah membaca..
.
.
.
MrsDoubleV
.
.
.
Seorang maid terlihat sedang sibuk membersihkan halaman belakang sebuah rumah besar. Ia terlihat sangat menikmati pekerjaannya itu. Di sela-sela dirinya menyapu, terdengar lantunan suara merdu dirinya yang sedang menyanyikan sebait dua bait lagu di sela keheningan pagi hari itu.
"Jiminnie..." panggil seseorang membuat Jimin menolehkan kepalanya ke sumber suara.
"Ne, Seokie... Ada apa?" Tanya Jimin pada Hoseok yang datang menghampirinya.
"Ani. Hanya ingin memanggilmu saja." Balas Hoseok sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Eyy sudah lebih baik selesaikan pekerjaanmu yang lain. Jangan menggangguku." Balas Jimin acuh dan melanjutkan pekerjaannya menyapu daun-daun kering.
"Aku sudah menyelesaikan tugasku. Ahh ani masih ada satu yang tertinggal lagi." Hoseok mulai berjalan mendekati Jimin.
"Kalau begitu cepat selesaikan. Sudah sana..." Usir Jimin dan sedikit mendorong tubuh Hoseok agar menjauh.
"Tugasku kan masih belum selesai, yaitu...
CUP~
... memberikan morning kiss untukmu." Ujar Hoseok setelah mencium pipi kanan Jimin sekilas.
Hoseok pun tertawa saat melihat semburat merah yang tercipta di kedua pipi Jimin. Sementara Jimin langsung buru-buru membalikkan tubuhnya memunggungi Hoseok. Jimin merasa pipinya memanas dan jantungnya berdegup dengan sangat cepat.
"Ehemm" tiba-tiba ada seseorang yang sedikit menginteruspsi kemesraan yang mulai tercipta antara Jimin dan Hoseok.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Jungkook sedikit dingin.
"Mi-mian, nona Jeon." Ujar Jimin gugup. Ia mengira jika Jungkook melihat apa yang dilakukan Hoseok padanya. Dan ia merasa takut jika Jungkook marah.
"Kenapa kalian tidak bekerja dan malah mengobrol disini?" Tanya Jungkook lagi dan dibarengi helaan nafas lega dari Jimin dan Hoseok. Mereka merasa lega saat tahu sepertinya Jungkook tidak tahu menahu tentang apa yang sempat terjadi tadi.
"Ne, nona. Saya akan melanjutkan pekerjaan saya. Permisi." Pamit Hoseok dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah besar keluarga Jeon.
Jungkook masih berdiri di ambang pintu kaca teras rumahnya. Ia terlihat seperti sedang mengamati Jimin namun saat diamati lebih jelas, sebenarnya tatapannya terlihat sangat kosong bahkan ekspresi wajahnya pun terlihat dingin dan kaku.
"Nona?" Panggil Jimin namun tidak mendapat respon apapun dari Jungkook.
"Nona? Nona Jeon?" Panggil Jimin lagi namun masih tetap sama Jungkook masih belum juga merespon. Jimin mulai khawatir.
"Nona? Nona Jeon? No-"
"Ne, ada apa Jimin?" Jawab Jungkook akhirnya saat ia tersadar dari lamunannya.
"Ani. Apa nona masih ingin di sini? Udara pagi ini sedang dingin. Tidak baik berlama-lama di luar atau nona bisa sakit." Ujar Jimin memperingatkan. Ia tidak ingin nona majikannya ini sakit karena kedinginan. Apalagi mengingat cuaca yang saat ini sedang tidak tentu. Terkadang panas dan terkadang dingin membuat orang menjadi cepat sakit.
"Ne, gomawo sudah mengingatkan." Balas Jungkook dan berjalan masuk ke dalam rumahnya kembali. Jimin menatap kepergian Jungkook dengan tatapan sendu. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan nona majikannya yang menurutnya sangat terlihat aneh.
Ya, sudah lebih dari seminggu Jungkook mengurung diri di kamar dan baru hari ini ia melihatnya keluar. Namun ekspresi dan raut wajahnya nampak sama. Terlihat dingin tanpa ada senyuman manis yang dulu selalu dilihat oleh Jimin setiap harinya. Kini yang ia lihat hanyalah raut sendu dan sedih dari Jungkook.
"Hei kenapa melamun?" Ujar Hoseok mencoba menyadarkan Jimin dari lamunannya.
"Ahh a-ani. Aku hanya kepikiran soal nona Jeon. Aku khawatir. Seminggu belakangan ini nona jadi tampak berbeda. Nona selalu terlihat murung dan sedih. Apa terjadi sesuatu pada nona ya?" Ujar Jimin.
"Entahlah. Aku juga merasa sedikit aneh dengan perubahan sikap nona. Kau tahu? Selama seminggu ini pula nona juga jadi sering menolak bertemu dengan siapapun yang ingin menemuinya. Ada apa ya kira-kira?"
"Aku tidak tahu. Berkali-kali aku ingin bertanya pada nona tapi selalu tidak jadi. Karena aku takut nona akan marah." Jelas Jimin.
"Akupun begitu. Sudahlah lebih baik kita kembali bekerja saja. Kita tanyakan nanti saja jika waktunya sudah tepat." Ujar Hoseok yang diangguki oleh Jimin.
Seorang yeoja cantik terlihat sedang berdiri di depan sebuah pintu rumah. Sesekali ia menekan bell yang tersedia dengan perasaan gugup. Mungkin karena ia sudah lama tidak pernah datang lagi ke rumah itu. Yeoja berambut cokelat kemerahan sebahu itu menunggu dengan sabar ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.
CKLEK
Pintu pun terbuka dan menampakkan seorang butler yang tersenyum ramah ke arah yeoja itu dan mempersilakannya masuk ke dalam rumah. Bersikap sopan kepada tamu yang datang.
"Ahh nona datang lagi..." Ujar Hoseok sopan.
"Ne, aku datang lagi. Hmm apa Jungkook ada?" Itulah hal pertama yang Jin tanyakan saat beberapa kali datang untuk mencoba bertemu dengan Jungkook. Terlebih setelah kedatangan terakhir Yoongi seminggu lalu yang tak berbuah manis.
"Ne, nona Jeon ada. Tapi... Nona masih belum ingin menemui siapapun." Balas Hoseok tak enak. Jin kembali menghela nafasnya. Sudah berulang kali Jin datang namun ia sama sekali belum berhasil menemui Jungkook membuatnya nyaris putus asa.
"Begitukah? Sampai sekarangpun ia masih tidak ingin menemui siapa-siapa?" Tanya Jin lagi.
"Ne, maaf nona..." balas Hoseok sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Hahh baiklah kalau begitu. Tapi, tolong katakan padanya jika aku sudah berkali-kali datang dan ingin menemuinya. Ada hal penting yang in-"
"Hoseok kembalilah bekerja dan biarkan aku berbicara padanya." Ujar Jungkook tiba-tiba. Ia baru saja turun dari kamarnya dan melihat kehadiran Jin di dalam rumahnya.
Hoseok yang mendapat perintah seperti itu pun membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Jin dan berjalan kembali ke dapur meninggalkan Jin maupun Jungkook yang masih berada di kaki tangga. Bisa terlihat wajah Jin terlihat cerah. Karena dalam seminggu terakhir ia berusaha datang dan menemui Jungkook, baru kali ini ia berhasil menemui Jungkook. Apalagi di sambut langsung seperti ini olehnya.
"Kookie kau-"
"Kita bicarakan di kamarku saja, eonnie." Ujar Jungkook sedikit dingin membuat senyuman di bibir Jin sempat menghilang.
Jin mengikuti langkah kaki Jungkook dari belakang menuju ke kamar Jungkook berada. Ia menatap punggung Jungkook dengan raut khawatir dan sedih. Ia begitu merasa khawatir terlebih ia menyadari benar perubahan yang ada pada diri Jungkook. Sangat sangat berbeda dari pertemuan terakhir mereka dimana Jungkook masih bisa tersenyum manis dan berkata lembut kepadanya. Namun yang bisa ia lihat kini hanyalah ekspresi penuh kekecewaan dan nada dingin dari Jungkook membuatnya menjadi merasa sangat bersalah.
"Duduklah, eon." Jungkook mempersilakan Jin duduk di salah satu kursi yang ada di kamarnya sementara ia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidurnya.
Jin pun mendudukkan dirinya pada sebuah kursi yang terletak tak jauh dari tempat tidur Jungkook. Sebuah kursi kecil berwarna putih namun nyaman saat di duduki.
Hening. Kini hanya keheningan yang tercipta antara Jin ataupun Jungkook. Mereka berdua sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jin terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia bingung ingin memulainya darimana dan ia sedang mencari kata-kata yang pas agar perkataannya tidak menyakiti ataupun menyindir Jungkook yang dapat semakin memperkeruh suasana yang ada.
"Hmm bagaimana kabarmu, Kookie?" Tanya Jin mencoba memecah keheningan dengan pertanyaan sederhana.
"Tidak bisa di katakan baik." Balas Jungkook singkat.
"Mian jika kehadiranku ini mengganggumu. Aku hanya ingin menjelaskan semuanya." Ujar Jin dengan hati-hati.
"Pertama-tama aku ingin minta maaf padamu. Aku beserta Yoongi ingin meminta maaf karena berusaha mencoba menutupi semuanya darimu. Dan kami juga minta maaf. Karena kami, Tae-Taehyung juga jadi harus menyembunyikannya. Maaf..." Ujar Jin sambil menundukkan wajahnya.
"Hahh sudahlah eonnie. Jangan membahas masalah ini lagi." Balas Jungkook dengan suara sendunya. Ia sudah lelah karena kembali diingatkan dengan masalah itu.
"Maaf jika aku membahasnya lagi. Aku hanya ingin menjelaskan semuanya padamu. Agar kau mengerti, Kook." Jin memberikan jeda sedikit.
"Taehyung awalnya sama sekali tidak berniat menyembunyikan semuanya darimu. Kami, aku dan Yoongilah yang memaksanya untuk menyembunyikan itu. Jadi kamilah akar semua permasalahan ini. Maaf..." Jelas Jin namun tidak mendapat balasan dari Jungkook. Jungkook hanya diam sambil terus menatap Jin.
"Sungguh, Kookie. Taehyung sama sekali tidak salah. Kamilah yang harusnya di salahkan. Maafkan kami.."
"Kami hanya tidak ingin membuatmu bersedih. Kami juga sama sekali tidak ingin melihatmu terus menerus menderita. Karena itulah kami memutuskan untuk menyembunyikannya. Bahkan kedua orangtuamu pun melakukan hal yang sama. Kami melakukan semua itu karena kami ingin melihatmu bahagia, Kook. Kami tidak ingin melihatmu yang terus menerus bersedih dan terpuruk." Ujar Jin panjang lebar mencoba memberi penjelasan pada Jungkook. Ia berharap apa yang ia katakan itu dapat melunakkan hati Jungkook yang sedang mengeras.
"Semenyedihkannyakah keadaanku sampai kalian semua harus membohongiku begini?" Tanya Jungkook di selingi sebuah isakan kecil. Terlihat ia juga sedang berusaha keras mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Bukan, Kook, bukan. Kami sama sekali tidak bermaksud ingin membohongimu. Tapi kami hanya ingin, benar-benar melihatmu bahagia. Dan mungkin dengan cara ini kau bisa merasakan kebahagiaanmu tanpa bayang-bayang masa lalumu itu." Jelas Jin lagi.
"Tapi kenapa kalian semua tega padaku? Tega menyembunyikan semuanya bahkan soal aegiku sendiri. Aegiku sendiri, eon." Balas Jungkook lagi diselingi air mata yang jatuh sudah tak tertahan lagi.
"Mian Kook... Mian..."
"Aku merasa sangat bersalah pada aegiku sendiri. Ibu macam apa aku ini bisa sampai melupakan aegiku sendiri? Berbulan-bulan aku mengandungnya. Meski ya ia tidak bisa sampai melihat dunia ini. Tapi bagaimana pun juga dia tetaplah anakku, darah dagingku sendiri." Ujar Jungkook disusul air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
"Mian, Kook, mian... Kami sama sekali tidak bermaksud begitu. Mian.." balas Jin tak kalah sedih bahkan ia pun kini mulai ikut mengeluarkan air mata.
"Dan aku lebih sakit hati lagi dengan perbuatannya padaku selama ini. Aku benar-benar kecewa padanya, eon..." ujar Jungkook.
"Semua perbuatannya padaku selama ini hanya kepura-puraan saja demi menebus semua kesalahannya yang dulu. Dia mempermainkan perasaanku, eon..." ujar Jungkook tak terkendali.
"Kookie, kau salah.. Taehyung tidak seperti itu... Tae-"
"Jebal eon jangan sebut namanya. Aku sangat tidak menyukai nama itu terus menerus disebut. Jebal eon jebal..."
"Kookie, dengar. Apa yang kau pikirkan tentangnya, itu semua tidaklah benar. Semua yang ia lakukan padamu selama ini adalah tulus. Sama sekali tidak ada kepura-puraan apalagi sampai untuk mempermainkan perasaanmu." Jelas Jin dan Jungkook hanya diam menjelaskan.
"Bahkan saat dia bersamaku pun, dia tidak pernah sampai seperti ini. Apa kau tidak pernah melihat pancaran ketulusan di matanya saat ia menatap matamu?"
"Ia sangat tulus padamu, Kook. Ia sangat sangat mencintaimu. Kau tahu? Sekarang ia jadi sama kacaunya denganmu. Ia terlihat seperti seorang yang kehilangan separuh jiwanya, yaitu dirimu. Sadarlah Kook..." jelas Jin lagi namun Jungkook masih saja diam dalam tangisnya.
"Jadi sampai kapan kau akan terus mendiaminya seperti ini? Ijinkanlah Taehyung untuk menemuimu karena aku tahu dia sangat merindukanmu, Kook."
"Tapi, aku merasa sangat kecewa padanya, eon. Bahkan rasa kepercayaanku yang selama ini kuberikan padanya pun menguap entah kemana." Balas Jungkook.
"Aku mengerti, Kook. Tapi cobalah untuk bertemu dengannya dan berbicara kepadanya. Apakah hatimu sekeras ini? Tidak, bukan? Lalu apakah sudah tidak ada sama sekali perasaan cinta dihatimu untuknya? Pikirkan itu, Kook. Ikuti kata hatimu. Jika kau masih memiliki perasaan untuknya, ijinkanlah dirinya bertemu denganmu. Tapi jika tidak pun, aku harap kau jangan membencinya." Ujar Jin mencoba menasihati Jungkook.
SKIP
Seorang namja berambut orange berada di dalam sebuah ruangan yang cukup besar yang banyak di dominasi oleh warna hitam dan putih. Nama namja berambut orange itu adalah Kim Taehyung. Ia terlihat sedang bersiap-siap. Sepertinya ia hendak ingin pergi ke suatu tempat. Namun wajahnya tidak menyiratkan sebuah kegembiraan. Wajahnya nampak sedikit mendung sangat bertentangan dengan cuaca siang hari yang terlihat cerah ini.
"Tuan, makan siang sudah siap." Ujar Bibi Go dari balik pintu kamar Taehyung.
"Ne, bi." Balas Taehyung lalu keluar dari dalam kamarnya dengan sebuah jaket kulit hitam yang ia bawa.
Bibi Go sudah kembali ke pekerjaannya mengingat waktu ijin nya pun sudah melampaui batas waktu terlebih keadaan sang suami yang berada di desa pun sudah semakin membaik membuatnya jadi bisa bekerja kembali di rumah itu. Ia juga merasa sedikit bersalah karena selama Tuan dan Nyonya besar Kim datang, ia masih belum berada di sana. Namun beruntung Tuan dan Nyonya besar Kim mengerti keadaannya dan tidak langsung memecatnya saat itu. Ia sangat mensyukuri kebaikan hati majikannya itu.
Taehyung kini sudah duduk menghadap meja makan tempat menu makan siangnya berada. Sepiring nasi goreng kimchi favoritenya sudah disajikan di sana dan siap untuk di santap. Taehyung memang menyukai makanan yang sederhana dan tidak terlalu berlebihan karenanya ia meminta Bibi Go untuk memasakannya nasi goreng saja. Meski hanya makanan biasa namun rasanya pun sama nikmatnya dengan masakan lain.
Taehyung menyantap nasi gorengnya dengan lahap mengingat ia juga akan pergi setelah ini. Bibi Go yang melihat tuannya makan dengan lahap pun hanya bisa tersenyum saja.
"Bi, aku pergi ya." Pamit Taehyung setelah menghabiskan nasi gorengnya serta segelas air yang disediakan untuknya.
Taehyung berjalan menuju ke garasi rumahnya tempat motor sport hitam kesayangannya terparkirkan. Namjoon memang sudah mengembalikan motor Taehyung yang dulu sempat ia pijam selama seminggu. Taehyung menstarter motor sport hitamnya dan menjalankannya di jalanan beraspal melesat keluar dari kediamannya.
Taehyung memperlambat sedikit jalan motornya saat ia melewati sebuah rumah mewah nan besar yang banyak di dominasi warna putih dengan gaya klasik khas eropa. Ia menolehkan sedikit kepalanya ke arah rumah itu.
Ckittt
Taehyung menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah besar itu. Ia melepas helm fullface hitam yang di kenakannya tadi dan menatap gerbang tinggi yang menutupi rumah itu.
"Apa aku coba masuk saja ya? Tapi bagaimana jika ia lagi-lagi tidak mau menemuiku?" Ujar Taehyung ragu.
"Tapi jika tidak di coba tidak akan tahu kan?" Akhirnya Taehyung memutuskan untuk mencoba menemui pemilik rumah itu.
Ting Tong
Taehyung kini sudah berdiri di depan pintu utama rumah Jungkook. Ia sesekali menekan bell yang ada dengan perasaan gugup.
CKLEK
"Ohh tuan, ada apa?" Tanya Jimin saat membukakan pintu dan melihat kedatangan Taehyung.
"Apa Jungkook ada? Dan apa aku bisa bertemu dengannya?" Tanya Taehyung sedikit terbata-bata. Dalam hatinya ia sangat berharap dirinya bisa bertemu dengan Jungkook.
"Maaf, tuan. Nona Jeon sedang tidak ada di rumah. Sekitar satu jam yang lalu nona Jeon sudah pergi." Jelas Jimin.
"Pergi? Kemana?"
"Saya juga kurang tahu, tuan. Karena nona sama sekali tidak memberitahu saya." Balas Jimin.
Taehyung pun menganggukkan kepalanya dan pamit saat itu juga. Taehyung sempat berpikir ingin menyusul kemana Jungkook pergi namun karena ia tidak tahu kemana Jungkook berada akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk menyusul Jungkook. Ia lebih memilih pergi ke tempat dimana ia bisa menenangkan dirinya.
Seorang yeoja cantik baru saja turun dari dalam sebuah mobil sedan silver yang mengantarnya. Setelah ia turun, mobil itu pun melaju pergi meninggalkannya sendiri. Yeoja cantik itu adalah Jeon Jungkook. Jungkook kini sudah berada di suatu tempat penuh kenangan untuknya. Tempat itu adalah tempat dimana dulu Taehyung pernah mengajaknya. Sebuah tebing curam yang langsung menghadap laut lepas dan di kelilingi pohon pinus serta di penuhi padang rumput dan bunga-bunga cantik yang entah mengapa menjadi tempat yang dipilihnya untuk menyendiri saat ini.
Jungkook melangkahkan kakinya untuk mendekat ke bibir tebing yang tak di halangi pagar itu. Setiap langkahnya ia kembali terbayang akan kenangannya bersama Taehyung di sana.
Seulas senyum tanpa sadar tercipta di bibirnya. Jungkook memandangi sekitar tebing itu. Terlihat masih sama saja seperti dulu saat ia mengunjunginya bersama Taehyung. Jungkook memejamkan matanya dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara bergantian membuat dirinya menjadi rileks.
Jungkook tidak terlalu memperdulikan matahari yang sedang terik-teriknya bersinar kala itu. Ia bahkan seolah sedang menantang matahari itu dengan mendongakkan kepalanya menghadap ke arah matahari.
"Nyaman sekali disini..." Ujar Jungkook dengan rileksnya.
Tanpa disadari Jungkook ingin melangkahkan kakinya kembali semakin ke depan dan semakin lama semakin mendekati bibir tebing curam itu. Bahkan satu langkah lagi mungkin bisa membuatnya jatuh ke tebing nan curam itu.
"Jangan!" Teriak seseorang dan segera menarik Jungkook agar menjauh dari bibir tebing tak berpagar itu.
"Apa yang ingin kau lakukan? Bukan begini caramu lari dari masalah non- Kookie?" Ujar namja yang menarik Jungkook tadi saat Jungkook membalikkan tubuhnya untuk menatap orang yang menariknya.
"Tae-Taehyung?" Ujar Jungkook tak kalah terkejut. Jungkook merasakan dadanya berdetak lebih cepat saat pandangan mereka saling bertemu. Mereka berdua saling berpandangan cukup lama dengan jarak yang sangat dekat.
Jungkook langsung membalikkan tubuhnya kembali untuk membelakangi Taehyung. Ia memegangi dada kirinya yang terus berdetak semakin cepat. Masih terasa sama seperti di awal pertemuan mereka.
"Kau sedang apa sendirian disini? Kau ti-tidak berniat ingin..."
"Tidak." Potong Jungkook dengan cepat seolah tahu mengenai pemikiran Taehyung.
Entah kenapa suasana di antara mereka terasa sangat canggung mungkin karena mereka yang sudah lama tidak saling bertemu terlebih masih terselip beragam masalah di antara mereka. Bahkan status hubungan mereka pun jadi terasa menggantung tidak jelas. Setelah terasa keheningan semakin mendominasi, Taehyung berencana membuka percakapan.
"Kook, karena kita bertemu disini, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ujar Taehyung dan mencoba berdiri di samping Jungkook. Ia melirik ke arah Jungkook yang memandang lurus ke depan ke arah lautan kepas.
"Apa kau masih benar-benar merasa kecewa padaku?" Tanya Taehyung namun tak mendapaf jawaban apapun dari Jungkook.
"Untuk berkali-kalinya aku meminta maaf padamu. Aku tahu dan sadar betul mungkin pernyataan maafku memang tidak bisa begitu saja menghilangkan rasa kecewamu itu. Aku mengerti bahkan sangat mengerti hal itu."
"Hanya saja sudah kewajiban seseorang yang bersalah meminta maaf terlebih dulu, bukan? Jadi aku benar-benar ingin minta maaf padamu dan mengakui kesalahanku." Ujar Taehyung masih dengan menatap Jungkook.
"Dan aku tidak memaksamu untuk kembali hmm menjalin hubungan denganku. Maksudku, aku sadar betul mungkin memang bukan diriku yang terbaik untukmu. Aku hanya ingin kau memaafkanku saja itu sudah cukup untukku." Ujar Taehyung lagi. Mendengar perkataan Taehyung tadi, Jungkook menolehkan pandangannya dan menatap Taehyung yang terlihat serius.
"Hahh ne, aku memaafkanmu, Tae." Balas Jungkook.
"Benarkah?" Tanya Taehyung kurang merasa yakin. Jungkook pun membalasnya dengan sebuah anggukan.
"Gomawo, Kook... Dan seperti yang aku bilang tadi aku hanya berharap kita... bisa menjadi teman. Aku... hanya ingin meski kita bukan lagi... menjadi sepasang kekasih mungkin, tapi hubungan kita masih bisa terjalin dengan baik. Seperti seorang teman misalnya." Ujar Taehyung di barengi dengan seulas senyum.
"Bisakan?" Tanya Taehyung meminta jawaban dari Jungkook. Namun Jungkook hanya terdiam dan menatap dalam Taehyung.
Tiba-tiba Taehyung semakin mendekatkan dirinya pada Jungkook. Semakin dekat dan tanpa sadar Taehyung memeluk tubuh Jungkook dengan erat. Ia sudah tidak bisa menahan rasa rindunya pada kekasih ani mungkin saat ini akan menjadi mantan kekasihnya itu. Ia memejamkan matanya seolah ingin menikmati pelukannya di tubuh mungil Jungkook.
CUP~
Dengan tiba-tiba, Taehyung mengecup kening Jungkook dengan cukup lama membuat Jungkook semakin diam terpaku. Jungkook mendongakkan sedikit kepalanya agar ia bisa melihat wajah Taehyung.
"Maaf jika aku lancang." Ujar Taehyung dan segera menjauhkan dirinya kembali.
"Gwenchana..." Balas Jungkook singkat.
"Hmm lalu apa aku harus memulai semuanya dari awal lagi?" Tanya Taehyung membuat Jungkook bingung.
"Memulai dari awal? Maksudmu?"
"Memulai dari awal sebagai seorang... teman? Sekarang kita teman, bukan?" Ujar Taehyung sambil tersenyum meski di dalam hatinya terasa sakit saat mengucapkan kata 'teman'. Jungkook pun hanya membalasnya dengan seulas senyum.
Sesungguhnya Taehyung tidak ingin melakukan semua ini. Tapi ia sudah tidak tahu harus melakukan apalagi. Ia sudah begitu terlanjur mencintai Jungkook. Namun ia juga tidak bisa memaksa Jungkook untuk kembali bisa mencintainya terlebih saat Jungkook sudah mengetahui semuanya. Semua masa lalunya yang membuatnya menjadi kecewa pada Taehyung. Taehyung sadar benar soal itu. Dan karena itulah hanya keputusan ini yang bisa ia ambil. Di tambah saat Jin menceritakan padanya jika Jungkook masih sedikit berat untuk kembali mempercayai dirinya. Membuat Taehyung semakin siap mengambil keputusan untuk benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Jungkook.
"Hahh udara disini sangat bagus ya." Ujar Taehyung mencoba mengganti bahan pembicaraan.
"Ne."
"Ohh apa kau lihat? Lautnya terlihat bersinar. Wow indah sekali ya..." Ujar Taehyung lagi dengan antusiasnya berbeda dengan Jungkook yang nampak diam dan sibuk dengan pikirannya.
"Tae?" Panggil Jungkook membuat Taehyung menolehkan kepalanya pada Jungkook.
"Ada apa, Kook?" Jawab Taehyung di barengi sebuah senyum darinya.
"A-ani." Balas Jungkook lalu mengalihkan kembali pandangannya pada lautan lepas.
Keheningan kembali menyelimuti diantara mereka berdua. Mereka hanya saling diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Diam-diam Taehyung terkadang sedikit melirik ke arah Jungkook mencoba memandangi yeoja yang harus rela ia lepaskan. Ia pandangi terus wajah Jungkook seolah ingin terus ia kenang.
-Jeon Jungkook. Kau adalah sebuah kenangan manis dan pahitku dan akan selalu aku tanam namamu di hatiku. Meski kau bukan lagi milikku, namun aku akan terus ada kapanpun kau membutuhkanku.- batin Taehyung.
SKIP
Jungkook sedang sibuk merapikan tumpukkan kertas yang harus ia kumpulkan. Ya beginilah kesibukannya saat kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang mahasiswi setelah melewati liburan panjang akhir semesternya. Setelah libur itu selesai, ia pun kembali menjadi seorang mahasiswi sekembalinya ia dari Seoul.
Jungkook sibuk merapikan tumpukan kertas tugas miliknya dan teman-teman sekelasnya yang harus segera ia kumpulkan ke dosennya. Ia mengurutkannya satu persatu dan mengecek jika tak ada satu kertas miliknya dan temannya pun yang tertinggal.
Dengan langkah sedikit terburu-buru, Jungkook pun berjalan menuju ke ruangan dosen untuk mengumpulkan kertas-kertas tugas itu. Karena kurang hati-hati, Jungkook tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang yang berjalan berlawanan arah darinya dan membuat tubuhnya sedikir terhuyung ke belakang dan membuat beberapa lembar kertas yang di bawanya jatuh berserakan di lantai.
"Je suis désolé..." ujar Jungkook meminta maaf pada seorang namja yang di tabraknya.
Namja itu membungkukkan badannya dan membantu Jungkook mengambil kertas-kertas yang berserakan di atas lantai.
"Pas de problème... Eoh kau Jeon Jungkook?" Ujar namja tadi dengan bahasa Korea yang terdengar fasih.
"Ne?"
"Apa kau tidak mengingatku? Aku Junhong, Choi Junhong." Ujar namja itu mencoba membantu Jungkook mengingat.
"Hmm mian... Aku sama sekali tidak ingat. Dan dimana kita pernah saling mengenal ya?" Tanya Jungkook sedikit merasa tak enak mengingat memori ingatannya yang banyak menghilang.
"Gwenchana. Dulu kita teman sekelas saat di SMA. Kau benar-benar tidak mengingatku?" Tanya Junhong lagi.
"Mian, aku sama sekali tidak tahu." Balas Jungkook.
"Gwenchana. Hmm jadi kau kuliah disini? Bukankah setahuku kau pernah bilang akan melanjutkan kuliah di Seoul?" Tanya Junhong sambil berjalan di samping Jungkook.
"Ne, awalnya memang aku kuliah di Seoul. Namun memasuki semester ketiga aku pindah ke sini." Jelas Jungkook.
"Ohh begitu..."
Jungkook dan Junhong pun melanjutkan obrolan mereka sambik duduk santai di kantin yang ada di universitas mereka. Jungkook sempat menjelaskan kepada Junhong mengapa ia bisa tidak mengingatnya dan Junhong pun mengerti. Bahkan ia berbaik hati mencoba mengulang cerita waktu mereka berdua masih berada di bangku SMA.
Jungkook merasa Junhong orang yang humoris. Berkali-kali Jungkook di buat tertawa lepas dengan beberapa lelucon yang di berikan oleh Junhong. Ia merasa Junhong merupakan teman yang baik hingga mereka berdua pun menjadi cepat akrab. Atau mungkin mereka memang sudah akrab sejak dulu.
Menurut cerita yang di ceritakan oleh Junhong, dulu saat mereka sama-sama masih SMA, mereka adalah teman sebangku. Dan menurut cerita Junhong pula Jungkook mendengar jika dirinua seorang yang usil membuat Jungkook sendiri tidak percaya dengan dirinya sendiri.
"Benarkah? Aku?" Tanya Jungkook seolah tidak percaya.
"Hahaha ani, aku hanya bercanda. Kau tidak pernah usil kok. Kau seorang murid teladan hahaha..." ujar Junhong mengklarifikasi.
Cerita demi cerita Junhong, Jungkook dengarkan hingga ia sendiri menjadi lupa waktu. Hari sudah semakin sore membuatnya tersadar dan harus segera pulang.
"Ahh mian, Junhong aku harus pulang dulu." Pamit Jungkook.
"Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Junhong.
"Mian, ini memang sudah saatnya aku pulang. Aku duluan ya.. Sampai jumpa besok." Pamit Jungkook dan langsung pergi meninggalkan kantin, meninggalkan Junhong sendiri.
Jungkook merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya saat ia baru saja sampai di mansion pribadinya. Ia merasakan tubuhnya sangat lelah dan pikirannya pun terasa penat mengingat banyak tugas yang ia kerjakan tadi di kelasnya.
"Hah masih banyak tugas yang mengantri untuk aku kerjakan lagi. Hahh semangat Jeon Jungkook!" Ujar Jungkook mencoba menyemangati dirinya.
Jungkook baru saja keluar dari dalam kamar mandinya. Ia mengeringkan asal rambut cokelat panjangnya dengan handuk. Ia tidak ingin membuang-buang banyak waktu karena ia harus segera menyelesaikan tugasnya. Untung saat di kantin tadi ia sudah memesan makanan hingga tidak perlu makan lagi dan membuang kembali sebagian waktunya.
Jungkook menyalakan laptop putih kesayangannya dan mengambil beberapa buku miliknya untuk mencari bahan untuk tugas yang ingin di kerjakannya. Dengan serius Jungkook mengetik tugasnya satu persatu. Meski lelah, tapi Jungkook memaksakan dirinya untuk segera menyelesaikan tugas-tugas yang di berikan dosennya. Ia tidak mau menunda-nunda tugas itu.
"Hahh akhirnya selesai juga..." Ujar Jungkook lega setelah berjam-jam berkutat dengan laptop dan buku pelajarannya akhirnya ia berhasil menyelesaikan tugasnya.
Tringg
Tiba-tiba ada satu notification yang masuk membuat Jungkook sedikit terkejut. Jungkook melihat itu adalah sebuah notification email yang masuk. Dengan segera Jungkook membuka email itu.
Tanpa di sadari seulas senyun terkembamg di wajah Jungkook saat melihat siapa pengirim email itu. Jungkook pun membaca email itu.
From : TaehyungKim30
To : Jungkook01
Subject : -
Morning :)
Hanya sepatah kata yang ia dapatkan dari Taehyung namun itu saja membuat Jungkook merasa senang. Ya kini hubungan di antara Jungkook dan Taehyung sudah membaik meski mereka bukan lagi sepasang kekasih melainkan sepasang teman? Namun Jungkook merasa tak ada hal yang berubah dari Taehyung. Taehyung selalu perhatian padanya seperti dulu saat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Dan itu yang membuatnya senang.
From : Jungkook01
To : TaehyungKim30
Subject : -
Morning? Bahkan disini masih tengah malam. Kau bilang morning?
Email balasan itupun terkirim. Dengan sabar Jungkook pun menunggu kembali balasan email dari Taehyung. Sambil menunggu email balasan dari Taehyung, Jungkook kembali mengingat kenangan-kenangannya bersama Taehyung. Tanpa sadar senyum selalu terukir di bibirnya.
-Kupikir aku bisa melupakanmu, Tae. Tapi nyatanya sangay sulit. Hahh apakah mungkin aku masih mencintaimu, Tae? Apakah kau juga masih memiliki perasaan yang sama sepertiku?- batin Jungkook.
From : TaehyungKim30
To : Jungkook01
Subject : -
Jinjja? Mianhae hehe lalu apa yang kau lakukan tengah malam begini? Kenapa belum tidur? Apa besok kau tidak ada kelas?
Beginilah salah satu bentuk perhatian Taehyung pada Jungkook. Taehyung selalu menanyakan apa yang di lakukan Jungkook. Jika menurutnya Jungkook melakukan hal yang sedikit berada di luar batas(?) Taehyung pasti akan memperingatinya. Jungkook merasa Taehyung bahkan cocok menjadi seperti seorang kakak untuknya.
Jungkook beserta Taehyung pun masih saling balas membalas email membuat mereka menjadi lupa waktu bahkan Jungkook pun jadi melewati waktu tidurnya. Tapi semenjak ia berkirim email dengan Taehyung, rasa kantuk dan lelahnya menjadi sedikit tergantikan dengan rasa senang yang meluap-luap di hatinya entah apa yang membuatnya menjadi merasa seperti itu. Mungkinkah masih ada seorang Taehyung di hatinya atau...
SKIP
Hari sudah menjelang pagi. Jungkook mulai mengerjapkan matanya saat dirasa punggung dan lengannya terasa sedikit sakit. Jungkook mengelus lengan kanannya yang sakit karena ia gunakan sebagai bantalan tidur. Semalam ia tidur dalam posisi duduk di meja belajarnya, di depan laptopnya dengan menggunakan lengan kanannya sebagai bantalan kepalanya. Jungkook tertidur seperti itu karena ia terlalu asik saling berkirim email dengan Taehyung hingga tanpa sadar ia tertidur dengan sendirinya disana.
Jungkook mengecek kembali laptopnya dan tidak mendapati balasan email dari Taehyung lagi. Ada perasaan kecewa yang menyelinap di hatinya saat mengetahui tak ada balasan email dari Taehyung untuknya. Jungkook pun mematikan laptopnya dan segera bersiap karena pagi ini ia ada kelas.
"Aigoo jam 7? Astaga 30 menit lagi kelasku mulai." Ujar Jungkook lalu segera berlari masuk ke dalam kamar mandinya.
Jungkook mendudukkan dirinya di salah satu bangku taman. Wajahnya terlihat kusut rupanya Jungkook telah melewatkan kelas pertamanya pagi ini dan karena itulah Jungkook duduk di taman itu.
"Hahh pabbo! Kenapa aku bisa terlambat sih? Pabbo! Pabbo!" Umpat Jungkook kesal.
"Hei, waeyo? Kenapa marah-marah begitu? Ini masih pagi loh..." Ujar seseorang dari arah belakang Jungkook
Jungkook menolehkan kepalanya dan melihat ada seorang namja tinggi berambut blonde dengan sebuah headseat berwarna merah yang senada dengan t-shirt yang di kenakannya menggantung di leher jenjangnya berjalan ke arahnya.
"Junhong?"
"Kesal karena melewatkan kelasmu, hmm?" Tanya Junhong dan segera mendudukkan dirinya di samping Jungkook.
"Ne. Aku bangun terlalu siang dan akibatnya aku jadi terlambat dan konsekuensinya aku tidak bisa ikut kelasku pagi ini." Jelas Jungkook dengan wajah masamnya.
"Aigoo memang apa yang kau lakukan semalam hingga kau bisa terlambat bangun?" Tanya Junhong.
"Aku mengerjakan tugas tentu saja." Balas Jungkook.
-Tapi setelah itu aku berkirim email dengan Taehyung hingga tidak tahu sampai jam berapa.- lanjut Jungkook di dalam hati.
"Aigoo kau tidak pernah berubah. Kenapa kau memaksakan harus segera menyelesaikannya? Bukankah kemarin kau sempat bilang padaku jika tugasmu itu dikumpul besok lusa? Kau terlalu memaksakan dirimu, Kook." Ujar Junhong.
"Jika tidak segera aku selesaikan, nanti aku akan melupakan tugasku. Daripada aku lupa tugasku dan nilaiku E, lebih baik aku selesaikan sesegera mungkin." Balas Jungkook.
"Memang sulit berdebat denganmu. Pasti aku tidak akan pernah bisa menang." Keluh Junhong.
"Lalu kau sedang apa disini? Memang kau sedang tidak ada kelas?" Tanya Jungkook pada Junhong.
"Ani. Kelasku jadi diundur jam 10. Dosenku ada sedikit keperluan katanya."
"Oh ya daripada kita disini, kenapa kita tidak ke kantin saja? Kau belum sarapan, kan?" Ajak Junhong.
"Darimana kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu. Lihat wajahmu mirip seperti ikan yang sedang kelaparan hahaha..."
"Yak! Choi Junhong! Awas kau!" Teriak Jungkook kesal.
Sudah hampir 3 bulan lamanya Jungkook dan Junhong menjadi semakin dekat. Dan selama 3 bulan ini pun Junhong sering mengajak Jungkook jalan-jalan. Jungkook merasa nyaman saat bersama Junhong. Ia merasa Junhong seorang namja yang sangat baik dan tahu bagaimana bisa mengubah mood seorang yeoja yang awalnya sangat buruk menjadi baik. Dan Junhong pun banyak membantu dirinya dalam menghadapi berbagai kesulitan di dalam tugasnya. Meski jurusan yang diambilnya berbeda dengan jurusan Jungkook, namun ternyata pengetahuan Junhong pun cukup luas dan dapat mempermudah Jungkook dalam menghadapi kesulitannya dalam mengerjakan tugas.
Jungkook pun merasa Junhong adalah seorang pendengar yang baik. Jungkook selalu bercerita banyak pada Junhong dan Junhong pun selalu mendengarkannya bahkan terkadang Junhong pun juga sering memberikan berbagai nasihat yang membangun untuk Jungkook.
"Kook! Wae? Kau melamun?" Ujar Junhong mencoba menyadarkan Jungkook yang terlihat sedang melamun.
"Ani. Aku tidak melamun. Aku hanya sedang berpikir kok." Elak Jungkook dan kembali menyesap hot chocolate nya mengingat udara hari itu sedang sangat dingin mengingat di Paris sedang memasuki musim gugur saat itu.
"Aku tahu kau sedang berbohong. Wae? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau sedang memikirkan namja yang bernama Tae-Tae ahh siapa itu aku lupa... Tae..."
"Taehyung. Namanya Taehyung." Balas Jungkook.
"Ahh ya Taehyung. Kau sedang memikirkannya kan?" Tanya Junhong lagi.
"Ani." Balas Jungkook lalu mengalihkan pandangannya ke arah samping melihat sebuah menara tinggi yang banyak orang kenal dengan nama menara Eiffel.
"Ada apa dengannya?" Tanya Junhong.
"Tidak ada apa-apa kok." Elak Jungkook lagi. Junhong pun terdiam dan menatap Jungkook yang duduk di hadapannya.
"Kook?" Panggil Junhong.
"Ne?" Balas Jungkook dan mengalihkan pandangannya dari Menara Eiffel untuk menatap Junhong.
"Hmm ani. Hanya ingin memanggilmu saja hehehe"
"Ishh kau menyebalkan!" Umpat Jungkook yang hanya di balas kekehan dari Junhong.
"Hahh Jun-ah. Dia mengingkari janjinya lagi." Ujar Jungkook tiba-tiba. Junhong pun menaikkan alisnya merasa bingung karena Jungkook tiba-tiba berkata seperti itu.
"Nugu? Apa maksudmu namja yang bernama Taehyung itu?" Tanya Junhong dan diangguki oleh Jungkook.
"Memang janji apa yang ia ingkari lagi?" Tanya Junhong.
"Tepat seminggu yang lalu ia berjanji padaku akan datang ke Paris. Namun sampai sekarang sama sekali tidak ada kabar darinya. Bahkan ia juga tidak membalas email-emailku." Jelas Jungkook dengan nada sendu.
"Mungkin ia sedang sibuk. Bukankah kau pernah bilang padaku ia sedang sibuk menyelesaikan skripsi akhirnya?"
"Ne, kau benar. Hahh..."
"Hei jangan sedih begitu. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke sana?" Ujar Junhong menghibur.
"Ke menara Eiffel? Eyy kau pikir aku wisatawan yang baru datang ke Paris apa? Bahkan aku sudah sangat bosan datang ke sana. Aku ingin disini saja." Tolak Jungkook.
"Ishh kau tidak asik! Apa enaknya duduk-duduk disini? Lebih baik kita jalan-jalan dan mengganggu pasangan-pasangan yang ada. Bagaimana?" Ujar Junhong sambil menaik turunkan alisnya.
"Yak Choi Junhong! Kau ini! Lebih baik kau cepat cari pacar daripada kau mengganggu pasangan-pasangan yang ada! Aishh..."
"Hahaha aku hanya bercanda kok... Kajja kita jalan-jalan!" Junhong pun menarik paksa Jungkook agar ikut dengannya.
"Yak! Choi Junhong! Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri, tahu!" Ujar Jungkook kesal karena Junhong terus menerus menarik dan menyeretnya.
"Hehehe mian..."
Jungkook dan Junhong pun kini berjalan beriringan melewati taman yang ada di sekitar menara. Terlihat banyak pasangan yang datang dan menghabiskan waktu mereka berdua di taman itu. Sesekali mereka mengobrol dan tertawa bersama lalu menautkan jari mereka dengan mesranya.
"Kalau dipikir-pikir, jika kita jalan-jalan berdua seperti ini, kita jadi terlihat seperti sepasang kekasih ya." Ujar Junhong tiba-tiba.
"Yak! Jangan bicara sembarangan! Memangnya aku mau apa jadi pacarmu!" Balas Jungkook ketus.
"Yak! Aku kan hanya bercanda Jeon Jungkook!"
"Haruskah aku carikan kau pacar agar kau tidak kesepian, eoh?"
"Yak! Kau pikir aku tidak laku apa sampai harus kau carikan aku pacar? Aishh harusnya kau tahu! Begini-begini, banyak tahu yeoja yang mengejarku." Ujar Junhong mencoba membanggakan dirinya.
"Hahaha kau sama sepertinya. Kalian terlalu percaya diri, tahu! Hahaha..." ujar Jungkook sambil tertawa.
"Nugu?"
"Hahaha sudahlah... Apa yang mau kita lakukan disini, pabbo?" Tanya Jungkook pada Junhong.
"Sudah ku bilang kan, kita jalan-jalan saja keliling menara." Balas Junhong.
"Huhh dasar kurang kerjaan!" Umpat Jungkook namun setelahnya ia pun tetap berjalan mengikuti Junhong.
"Excuse me, Madam..." ujar seseorang dari arah belakang Jungkook.
"Yes? Wh- Taehyung?" Jungkook langsung membelalakkan matanya saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya itu.
"Kau benar Taehyung?" Tanya Jungkook lagi.
"Yes, I am." Balas Taehyung.
Grebb
Tiba-tiba Jungkook langsung memeluk tubuh Taehyung dengan erat. Taehyung pun membalas pelukan Jungkook tak kalah eratnya.
"Yak! Kenapa baru datang? Dan kenapa kau tidak mengabariku jika kau datang, eoh?" Ujar Jungkook sedikit kesal.
"Hahaha mianhae.. Aku hanya ingin memberikan kejutan padamu, Kookie.." balas Taehyung dan mengacak sedikit rambut Jungkook. Keadaan mereka sudah nampak semakin akrab sekrang berbanding terbalik dengan kejadian beberapa waktu lalu saat mereka masih berada di Seoul.
"Ahh ya siapa ini, Kookie?" Tanya Taehyung saat ia menyadari ada seseorang yang berdiri di antara mereka.
"Ahh ya. Tae ini Junhong, Junhong ini Taehyung." Jungkook pun mengenalkan Taehyung pada Junhong begitupun sebaliknya.
"Jadi kau yang bernama Junhong? Kookie sering bercerita banyak tentangmu." Ujar Taehyung yang hanya di balas dengan seulas senyum oleh Junhong.
Jungkook, Taehyung dan Junhong pun kembali melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi menara. Ini adalah pertama kalinya Taehyung datang ke Paris karena itu ia masih sedikit kesulitan dalam penggunaan bahasa. Yang bisa ia gunakan adalah bahasa Inggris sementara hanya sebagian orang Prancis saja yang bisa menggunakan bahasa Inggris membuat Taehyung mengalami sedikit kesulitan selama ia berada disana.
"Kalian tunggu di sini sebentar ya. Aku ingin membeli minuman untuk kalian." Ujar Jungkook.
"Mau aku temani?" Ujar Junhong.
"Ani. Kau temani Taetae saja ya. Dah.." Balas Jungkook lalu pergi meninggalkan kedua namja itu.
Suasana canggung menyelimuti Taehyung dan Junhong. Mereka hanya saling diam selama kepergian Jungkook tadi. Tak ada satupun di antara mereka yang berniat membuka suara. Padahal dia tak ada kesulitan bahasa yang berarti diantara mereka.
"Ehemm menurutmu, Kookie bagaimana?" Tanya Taehyung pada Junhong tiba-tiba.
"Ne? Maksudmu ap-"
"Aku hanya ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang Kookie." Ujar Taehyung.
"Jungkook? Hmm dia yeoja yang baik, mandiri, namun terkadang sedikit egois dan cerewet." Balas Junhong.
-Melihat dari kedekatan kalian berdua, aku menilai kalian sangatlah cocok. Dan jika penilaianku tidak salah, namja ini ahh ani, Junhong aku rasa juga memiliki perasaan pada Kookie.- batin Taehyung.
"Begitu?" Tanya Taehyung lagi dan di balas sebuah anggukan dari Junhong.
"Dan kau benar dulu adalah teman SMA nya Kookie?"
"Ne, aku temannya. Lebih tepatnya teman sebangkunya saat SMA."
"Lalu apa kau memiliki perasaan khusus padanya?"
"Ne?" Junhong begitu terkejut saat mendengar pertanyaan Taehyung yang tiba-tiba seperti itu.
"Lalu jawabanmu? Ya atau tidak?"
"A-aku... Hmm a-aku.."
-Apakah kau orang yang tepat untuk Kookie? Apakah kau orang yang bisa membahagiakan Kookie?- batin Taehyung.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Jungkook yang tiba-tiba datang dengan membawa 3 kaleng minuman hangat.
"Ani, kami tidak membicarakan apa-apa kok hehehe..." balas Taehyung lalu menerima minuman yang diberikan Jungkook untuknya.
"Hmm sebenarnya sih ada tapi kau jangan marah ya." Lanjut Taehyung.
"Memang apa yang kalian bicarakan?" Tanya jungkook penasaran.
"Aku bertanya pada Junhong apa kau itu menyusahkan atau tidak dan cerewet atau tidak hehehe..."
"Yak! Aku tidak cerewet tahu! Tapi kalau menyusahkan hmm mungkin sedikit hehehe..."
SKIP
Sudah hampir seminggu lamanya Taehyung berada di Paris. Dan kini sudah waktunya untuk kembali ke Seoul. Ia sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara karena beberapa jam lagi pesawat yang ditumpanginya akan segera lepas landas. Jungkook kini sudah berada di basement hotel tempat Taehyung menginap selama seminggu di Paris. Ia nampak tidak sedang sendiri. Ia datang bersama dengan Junhong yang menawarkan dirinya untuk mengantar Taehyung ke bandara.
"Kenapa harus cepat pulang ke Seoul? Kenapa tidak tinggal lebih lama?" Tanya Jungkook pada Taehyung saat mereka sudah sampai di bandara.
"Mana mungkin aku tinggal lebih lama disini dan melewatkan panggilan sidangku. Lalu kapan aku akan diwisudanya, hmm?" Balas Taehyung membuat Jungkook mempoutkan bibirnya.
Grebb
Taehyung dengan tiba-tiba langsung memeluk tubuh Jungkook dan tentu saja Jungkook membalas pelukan itu. Jungkook membisikkan sesuatu di telinga Taehyung membuat seulas senyum tercipta di wajah tampannya.
"Tae, kau tahu? Ternyata aku memang masih mencintaimu." Bisik Jungkook di telinga kanan Taehyung.
CUP~
Taehyung mengecup kening Jungkook sekilas membuat Jungkook merasa jantungnya berdetak hebat. Setelahnya Taehyung kembali diam dan kemudian mencubit kedua pipi Jungkook membuat Jungkook mempoutkan bibirnya kembali.
-Akupun sama masih mencintaimu. Sangat. Tapi... Ada seseorang yang aku rasa lebih baik untukmu. Dia yang akan lebih bisa membahagiakanmu daripadaku.- batin Taehyung.
"Pikirkan lagi perkataanmu, Kook. Ada yang lebih baik disini." Ujar Taehyung membuat Jungkook bingung.
"Apa maksudmu?" Tanya Jungkook namun Taehyung hanya tersenyum. Taehyung melirik ke arah Junhong yang sedaritadi diam tidak bersuara.
Teng Tong Teng Tong
Sebuah panggilan pesawat kembali berkumandang. Itu adalah panggilan pesawat yang akan di tumpangi oleh Taehyung. Dengan segera Taehyung pun kembali berpamitan dengan Jungkook sebelum ia masuk ke dalam Boarding Room.
"Kook, aku pergi ya. Ingat belajarlah dengan giat agar kau cepat lulus dan menyusulku menjadi sarjana." Ujar Taehyung pada Jungkook.
"Yak! Selalu itu yang kau katakan! Ne, aku tahu! Lihat saja aku akan lulus dengan cepat dan akan menyusulmu menjadi sarjana!" Balas Jungkook tidak mau kalah.
"Hahaha ne, ne, aku tahu. Junhong. Jaga Kookie ya. Aku percayakan Kookie padamu." Ujar Taehyung pada Junhong.
"Ne, akan aku usahakan." Balas Junhong.
"Baiklah aku pergi ya. Bye..." Taehyung pun pamit dengan membawa troli yang berisikan barang bawaannya. Jungkook menatap kepergian Taehyung dengan berat hati.
"Dia menolakku..." ujar Jungkook lirih.
"Ne?"
"Ani. Hahh aku ingin ikut dengannya. Uhh kau menyebalkan Kim Taehyung!" Ujar Jungkook sambil mengepalkan tangannya seperti seseorang yang sedang kesal.
"Hahaha heihei hentikan, Kook. Kau membuat orang lain berpikiran aneh tentangmu. Kajja kita kembali. Bukankah kau ada kelas juga setelah ini?"
"Oh iya aku lupa! Kajja! Bisa gawat kalau aku terlambat lagi!"
Taehyung menolehkan kembali kepalanya ke belakang. Ia masih bisa melihat sosok Jungkook dan Junhong dari kejauhan. Mereka nampak sangat akrab. Terlihat saat Junhong dengan santainya mengusak rambut Jungkook yang hanya di balas umpatan-umpatan kecil dari Jungkook. Tanpa sadar Taehyung tersenyum melihat adegan itu. Setelah mendengar panggilan itu lagi, Taehyung pun kembali melanjutkan perjalanannya.
-Mungkin Junhong namja yang terbaik untukmu, Kook. Dia adalah orang yang bisa membahagiakanmu. Dan Junhong aku percayakan Kookie padamu.- batin Taehyung lalu meninggalkan sedikit demi sedikit kenangannya bersamaan dengan langkah kakinya menuju ke pesawat yang akan membawanya kembali ke Seoul.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End? Mian masih ada kelanjutannya kok hehe mungkin itu End cerita di Paris nya dan yang fokus ke Jungkook nya. Untuk kelanjutannya, ini lebih banyak menceritakan tentang Taehyung kok karena dari yang aku ceritakan tadi kebanyakan Jungkook-Junhong nya kan? Nah ini aku kasih Special Story untuk Taehyung dan semuanya Taehyung POV hehehe so read and enjoy it~
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung POV
Ku rebahkan tubuhku di tempat tidurku. Ternyata bekerja di perusahaan itu sangat melelahkan. Dan ini semua aku lakukan karena permintaan appa. Sebulan setelah wisudaku, appa memintaku untuk membantunya dalam menjalankan perusahaan miliknya yang ada di Seoul. Hah menyusahkan memang terlebih aku yang sama sekali tidak mengerti soal bisnis ataupun managament. Aku saja lulusan Sarjana Komunikasi tapi kenapa malah harus melanjutkan perusahaan appa? Hahhh...
Ku pijat pelipisku perlahan. Ku rasakan penat di kepalaku mengingat banyak masalah yang harus aku tangani. Selama 2 tahun belakangan aku memang sudah menjabat sebagai seorang direktur perusahaan. Ini gila kan? Aku yang tidak tahu apa-apa malah di berikan posisi setinggi itu hahhh apa yang salah dengan appaku ini.
Dan selama 2 tahun ini pula aku harus belajar mengenai bisnis dan management. Aku merasa seperti aku kuliah lagi tahu. Menyebalkan namun mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi satu kewajibanku untuk berbakti pada appa.
Beruntung appa mengenalkanku pada Pak Shin seorang asisten sekaligus sekretaris sekaligus dosen pembimbingku dalam hal menjalankan perusahaan. Dosen? Ya anggaplah sepert itu. Pak Shin ini merupakan orang kepercayaan appaku dan ia sudah bekerja di perusahaan appa sudah lebih dari 20 tahun.
Drrttt Drrtttt
Baru saja rasanya aku ingin tidur. Tapi seseorang sepertinya menggangguku. Ku rogoh saku di celanaku untuk mengambil ponselku yang bergetar. Tanpa melihat siapa peneleponnya, aku segera menganggakatnya karena aku yakin telepon itu pasti tidak jauh-jauh dari Pak Shin.
"Yeobosaeyo?"
-Wah direktur Kim sepertinya sedang tidak semangat hahaha...- ujar sebuah suara di sebrang telepon. Aku mengernyitkan keningku. Suaranya terdengar tidak asing di telingaku.
"Nugusaeyo?" Tanyaku penasaran. Aku bisa mendengar kekehan dari sebrang telepon itu.
-Aishh Direktur Kim ini sombong sekali sampai tidak mengenali suaraku haha..-
Akupun berpikir sejenak. Aku mulai mencoba mengingat-ingat siapa pemilik suara yang tidak terdengar asing ini. Aku pun melihat ke layar ponselku. Terlihat sebuah nomor yang tidak di kenal. Dan dengan melihat nomornya, bisa dipastikan nomor itu berasal dari luar Seoul.
"Kookie?" Tebakku dan aku bisa mendengar kembali kekehan di sebrang telepon.
-Aku kira kau benar-benar lupa padaku hahaha...- balasnya. Ternyata benar yeoja yang meneleponku ini adalah Jungkook.
"Mian, aku sempat tidak mengenali suaramu." Ujarku merasa sedikit tidak enak karena sempat tidak mengenali suaranya.
-Gwenchana. Aku mengerti betapa sibuknya Direktur Kim Taehyung ini kok. Sampai tidak pernah datang ke Paris lagi. Hahh menyebalkan mana janjimu yang dulu yang kau bilang ingin datang lagi?- aku rasa Jungkook sedikit menyindirku mengingat aku kembali ingkar janji padanya. Hahh mianhae, Kook.
"Mian, aku belum sempat pergi kesana. Kau kan tahu bagaimana pe-"
-Aku tahu, Direktur Kim, aku tahu.-
"Kookie stop jangan panggil aku dengan nama seperti itu. Hahh panggil aku Taetae saja, oke?" Potongku. Aku tidak suka jika aku di panggil dengan membawa embel-embel 'Direktur' apalagi oleh Jungkook.
-Ani. Aku kan harus memanggilmu dengan sopan. Benarkan, Direktur Kim?-
"Ishh kau ini! Bagaimana kabarmu disana?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dan aku kembali mendengar Jungkook yang mendengus kesal.
-Your bad habit. Selalu mengalihkan pembicaraan. Ck-
"Hehehe mian... Jadi bagaimana kabarmu?"
-Sedang tidak baik.- balas Jungkook singkat.
"Wae? Kau sakit? Kau sih terlalu sibuk bekerja. Kau pasti kelelahan dan tidak menjaga pola makanmu dengan benar kan makanya kau jadi sakit seperti ini?" Tebakku. Aku merasa khawatir saat mendengar jawaban dari Jungkook itu. Apalagi mengingat kesibukannya juga yang sekarang sebagai asisten dosen di universitasnya itu.
-Hahaha bukankah itu lebih pantas ditujukan untukmu, hmm? Kabarku sedang tidak baik karena aku sedang merindukan seseorang, tahu.-
Aku merasa jantungku berdetak dengan cepat saat mendengar perkataan Jungkook tadi. Merindukan seseorang? Siapa? Entah mengapa aku merasa aku ingin menjadi seseorang yang di rindukan oleh Jungkook.
Selama 2 tahun ini aku memang belajar untuk melupakan Jungkook dan menghapus rasa cintaku padanya namun sepertinya semua usaha yang aku lakukan sia-sia. Jeon Jungkook, nama itu masih akan tetap tertanam di dalam hati seorang Kim Taehyung.
"Nugu? Junhong? Kemana dia? Bukankah biasanya dia selalu ada disampingmu?" Tebakku asal mengingat Jungkook yang memang dekat dengan Junhong. Terlebih beberapa waktu ke belakang Jungkook selalu menceritakan soal Junhong padaku.
-Ishh jangan bahas dia! Namja menyebalkan! Dia sekarang punya kesibukan lain tahu!- balas Jungkook ketus. Aku hanya menaikkan alisku bingung.
"Kesibukan lain? Mengenai skripsi? Itu kan wajar. Kenapa kau tidak pengertian sekali pada pacarmu sendiri, hmm? Hahaha" aku mencoba tertawa seperti biasa meski aku sadar tertawaku terdengar hambar tapi semoga Jungkook tidak menyadarinya.
-Pacar? Nugu? Junhong? Pacarku? Ishh enak saja! Dia sudah punya yeojachingu, tau!- aku kembali mengerutkan keningku saat mendengar jawaban dari Jungkook.
"Lalu siapa yang kau rindukan? Orang tuamu?" Tebakku lagi.
-Ishh menyebalkan! Yang aku rindukan ya kau, pabbo!-
Dan yang bisa aku dengar selanjutnya adalah suara sambungan telepon yang terputus. Aku menatap layar ponselku dengan tatapan tidak percaya. Mungkinkah Jungkook masih mencintaiku? Bahkan sampai selama 2 tahun terakhir ini? Sepertinya aku harus ke dokter untuk mengecek pendengaranku apakah masih berfungsi dengan normal atau tidak.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Dan aku kembali di sibukkan dengan beragam permasalahan di dalam perusahaan. Aku Kim Taehyung namja yang baru berumur 24 tahun haruskah menghabiskan waktuku hanya dengam berkas-berkas yang penuh dengan gambar kurva-kurva tidak jelas itu? Hahh rasanya aku butuh waktu untuk mengistirahatkan kepalaku sejenak. Mungkin berlibur bukan pilihan yang buruk.
Tok Tok Tok
Ku mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu ruanganku. Ku alihkan pandanganku dari tumpukan berkas yang ada di atas meja kerjaku untuk melihat siapa yang datang. Dan seperti biasa Pak Shin yang datang.
"Direktur Kim, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." Ujar Pak Shin dengan sopan. Meski ia berusia lebih tua dariku, tapi tetap saja jabatanku lebih tinggi darinya jadi tidak mengherankan jika ia berkata sopan bahkan terkesan sangat formal padaku.
"Persilakan ia masuk." Balasku dan diangguki oleh Pak Shin.
Aku pun kembali menyibukkan diri dengan tumpukan berkas yang belum selesai aku baca seluruhnya. Aku bisa mendengar suara pintu ruanganku yang kembali terbuka dan tertutup kembali setelahnya. Sayup-sayup aku juga bisa mendengar suara langkah kaki yang melanglah mendekat ke arahku. Namun entah mengapa mendengar langkah kaki itu, ku merasa jantungku jadi berdetak lebih cepat.
"Selamat siang, Direktur Kim." Ujar seseorang. Yang kini sudah berdiri tepat di hadapanku.
"Kookie? Kau benar Kookie?" Aku sangat tidak percaya dengan penglihatanku. Dengan jelas aku bisa melihat Jungkook kini sedang berdiri di hadapanku dan tersenyum manis ke arahku.
Grebbb
Aku pun langsung memeluk tubuh Jungkook. Aku sungguh merindukannya. Sangat sangat merindukannya. Ia masih tetap terlihat sama seperti terakhir kali aku melihatnya saat 2 tahun lalu aku datang ke Paris yang membedakan hanyalah penampilannya yang kini terkesan lebih dewasa.
"Kapan kau datang? Kenapa tidak menghubungiku?" Tanyaku namun Jungkook hanya tertawa.
"Jika aku memberitahumu aku datang, apa kau bisa menyediakan waktu untuk menjemputku hmm, Direktur Kim yang super sibuk? Hahah..."
"Yak! Kau berlebihan, Kookie..." dengan gemas aku pun mencubit kedua pipinya. Entah mengapa aku sangat menyukai kedua pipi chubby Jungkook yang selalu menggodaku agar aku mencubitnya.
"Tae, bogoshipoyo..." ujar Jungkook manja lalu kembali memeluk tubuhku.
"Aku tahu, aku tahu. Bukankah beberapa hari yang lalu kau sudah mengatakannya di telepon, hmm?" Balasku sedikit acuh.
"Kau menyebalkan." Balas Jungkook lalu mempoutkan bibirnya.
"Hei kau sudah 22 tahun tapi kenapa masih bersikap menggemaskan begini, hmm?" Ledekku namun ia hanya mendengus.
"Aku bersikap seperti ini cuma hanya di hadapanmu saja, pabbo!"
"Eyy tidak sopan. Kau mengataiku apa? Pabbo?"
"Kau menyebalkan!"
"Yak! Kenapa sekarang kau mengataiku menyebalkan, eoh?"
"Ya karena kau memang sangat sangat menyebalkan! Kenapa kau itu sangat susah untuk di lupakan sih?" Aku pun hanya tercengang mendengar perkataan Jungkook barusan.
"Kenapa aku tidak bisa membencimu dan melupakamu? Padahal 2 tahun lalu saja bahkan kau sudah menolakku. Tapi kenapa kau masih saja sangat sulit untuk di lupakan? Kau menyebalkan!"
Ku langkahkan kakiku untuk kembali mendekatinya. Ku peluk pinggang ramping Jungkook dan ku rengkuh tubuhnya. Ku peluk dirinya dengan erat. Aku sadar. Aku pun merasakan hal yang sama dengannya.
"Mian, saat itu aku berpikir mungkin Junhong lah yang lebih bisa membahagiakanmu daripada aku yang hanya bisa membuatmu kecewa, Kook."
"Tae, aku tidak membutuhkan kebahagiaan, yang aku butuhkan itu dirimu. Hanya Kim Taehyung seorang. Aku menyadari semuanya saat aku sendirian. Aku merasa sepi tanpa adanya kau. Bahkan di saat ada seseorang di dekatku yang memberikan kenyamanan untukku, aku tetap merasakannya berbeda. Karena nyamanku adalah di dekatmu." Aku bisa melihat setetes air mata jatuh di pipi Jungkook.
CUP~
Dengan keberanianku, aku pun mengecup bibir itu. Bibir pink nan menggoda yang hanya di miliki oleh seorang Jeon Jungkook. Sungguh aku merasa diriku seolah terbang saat bibirku bersentuhan dengan bibirnya. Kupejamkan mataku untuk menikmati ciuman itu. Ku lumat sedikit bibir itu dan dibalas dengan perlakuan yang sama oleh Jungkook. Aku semakin mendekatkan tubuhnya dan mencoba memperdalam ciuman kami. Entahlah sensasi ini sangatlah berbeda terlebih saat Jungkook juga terus membalas lumatan-lumatanku.
"Hahh hahh hahh..." Ku tarik nafas dalam-dalam mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Aku melihat Jungkook juga melalukan hal yang sama denganku.
Aku pun tersenyum dan kembali meraih dagunya. Ku kecup kembali bibir pink nan menggoda itu. Kini hanya sebuah kecupan tanpa lumatan seperti sebelumnya. Ciuman ini ku berikan sebagai penyampai perasaanku padanya.
"Saranghae, Kookie..." bisikku di telinganya.
Aku merasa cinta itu indah dan penuh tantangan. Ya karena cinta tidak hanya terasa manis saja namun pahit juga. Aku sudah banyak melewati lika liku percintaanku dan itu semua aku lewati tidak hanya dalam waktu singkat namun dalam waktu yang lama.
'Cinta itu datang tanpa pernah kita duga sekalipun ia adalah orang yang kau benci sekalipun.'
Dan aku membuktikannya bersama Jungkook. Masih ingat bukan di awal bukankah aku sangat menbencinya? Yeoja stalker yang selalu mengikutiku. Hiii...
'Cinta datang terlambat.'
Aku juga pernah melewatinya. Aku menyadarinya bahkan saat ia sudah pergi meninggalkanku.
'Cinta butuh perjuangan.'
Ingat dengan perjuanganku untuk menarik kembali perhatian Jungkook? Ku rasa aku juga sudah membuktikannya bukan?
'Cinta bisa berubah menjadi benci.'
Ini aku juga pernah mengalaminya. Ingat bagaimana perlakuan Jungkook padaku saat mengetahui kebenaran akan masa lalunya?
'Cinta butuh kesabaran.'
Aku sangat bersabar menghadapi perubahan sikap Jungkook saat yah kalian tahu bagaimana sikapnya saat melihatku setelah kejadian masa lalu itu terungkap, bukan?
'Cinta butuh pengorbanan.'
Aku sudah banyak berkorban demi cinta. Buktinya? Aku rela memutuskan hubunganku dengan Jungkook bahkan rela melepas dirinya untuk orang lain. Itu bisa di sebut dengan pengorbananku, kan?
'Cinta sulit untuk di lupakan.'
Hal terakhir ini yang sangat diingat. Betul bukan? Meski bertahun-tahun lamanya kita mencoba melupakan cinta itu, berusaha segala cara untuk melupakannya namun tetap saja cinta itu akan tetap ada di hati kita.
Hahh lelah karena cinta? Aku rasa tidak. Malah aku sangat bersemangat melewatinya. Karena aku, Kim Taehyung, sudah banyak mengalami perjuang di dalam cinta. Dan karenanya, aku berjanji di dalam hatiku untuk menetapkan Jungkook sebagai cinta sejati seorang Kim Taehyung? Apa aku egois? Mungkin. Tapi pernahkah kalian melewati perjuangan besar untuk cinta sepertiku? Tidak kan? Hahaha...
.
.
.
.
... Mine is Yours THE END ...
.
.
.
.
Hahhh akhirnya, akhirnya, akhirnya FF ini END juga. Dengan penuh perjuangan mendapatkan feel nya kembali dan tadahhh akhirnya chap terakhir FF ini bs di publish juga...
Sebelumnya aku mau minta maaf kepada readersdul atas keterlambatan dalam hal mempublish chap ini ahh aku mohon maaf yang sebesar-besarnya dari kalian ya T.T
Dan aku juga ingin minta maaf kalo cerita di chap ini benar-benar buruk. Karena sumpah aku sempat kehilangan feelnya duhh mian mungkin karena terlalu lama aku diamkan jadinya begini deh uhh T.T
Aku terima semua kritik bahkan cacian readersdul yang kecewa dengan chap ending ini aku terima semuanya dengan selapang-lapangnya dadaku(?) Ehh maksudnya aku terima semua kritik bahkan cacian kalian dengan lapang dada.
Aku memang cuma manusia biasa yang banyak punya salah. Begitu pula dalam pengetikan FF ini. Mian jika ceritanya terlalu pasaran, alur gak jelas dan suka bertele-tele. Terlebih banyak mengandung kemiripan cerita dengan FF lainnya. Tapi jujur ya aku ngetik FF ini itu murni dari ide aku sendiri. Ide dari hasil pemikiran semalaman suntuk sampe rela gak tidur cuma buat nyelesaiin FF ini meski ya sama aja hasilnya tetap urakan T.T
Dan thanks for you all readersdul yang udah setia membaca, mereview, memfollow bahkan memfavoritein FF abal-abal bin gaje bin alay ini hahh gak pernah nyangka FF yang pertama-tama aku ketik secara iseng-iseng ternyata banyak dapet respon positif. Ahh gomawo semua... Dan oh ya untuk para Siders ups maksudnya Silent Readers aku menghargai kalian kok :) aku gak marah apalagi dendam sama kalian :) aku hanya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk keluangan waktu yang kalian sediakan untuk membaca FF yang well, memang aku akui jauh dari kata menarik dan bagus heheh
Ahhh pokoknya aku udah gak bisa berkata apapun lagi. Aku udah benar-benar bingung dan juga mengantuk. Yah aku gak tidur semalaman suntuk karena FF ini tapi... Perjuangan menjadi seorang author nya jadi beneran kerasa banget kalo kayak gini hahaha
Oh ya mian ya aku gak balas review-review kalian yang di chap kemarin T.T akhir kata sampai jumpa di next FF guys :) Any request for next FF? ;;)
