Mine Always Mine III
(Seq. Mine is Yours)
Title : Mine Always Mine (Sequel Mine
is Yours) Chap III
Writer : MrsDoubleV
Rated : T
Genre : Romance, Family
Main Casts : Jeon Jungkook, Kim
Taehyung
Other Casts : Kim Seokjin, Min
Yoongi, Mr and Mrs Kim, Mr and Mrs Jeon
Semua cast milik Tuhan, para orang
tua dan diri mereka masing-masing
serta Big Hit ent. Saya hanya
meminjam mereka disini.
Warning : GS (Gender Switch), OOC,
typo(s), bahasa non baku dan bahasa
asing tidak sesuai grammar, NC inside
Ide, alur cerita semua milik saya so
DON'T BE A PLAGIATOR! Tinggalkan
jejak setelah membaca..
.
.
MrsDoubleV
.
.
Tak terasa sudah seminggu Taehyung dan Jungkook menghabiskan waktu bulan madu mereka di Bali, tempat yang begitu eksotis dan juga romantis. Pantai yang indah serta pemandangan yang sungguh memanjakan mata. Pasangan pengantin baru itu kini masih terlihat sedang bergelung di dalam selimut tebal. Mereka terlihat sangat kelelahan akibat perjalanan panjang yang harus mereka lewati agar bisa sampai kembali ke Seoul. Berada di dalam pesawat selama kurang lebih 6 jam tidaklah sebentar.
Matahari sudah semakin meninggi namun tak ada seorangpun dari mereka yang berniat untuk bangun. Mereka masih merasa amat lelah dan juga mengantuk. Terlebih sang istri yang keadaannya sedang tak baik. Semalaman, ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar mandi akibat rasa mual yang melandanya mungkin efek dari perjalanan jauhnya. Dan hal itu tentu saja mengundang rasa khawatir dari sang suami.
Semalaman, Taehyung bahkan memutuskan untuk terjaga dan mencoba menenangkan Jungkook kala yeoja itu kembali terbangun dan merasa mual. Ia pun bahkan sampai turun tangan menyediakan teh hangat serta obat untuk Jungkook. Taehyung hanya ingin menjadi suami yang bisa diandalkan dan dibutuhkan. Bahkan ia tak akan sungkan membawa Jungkook ke rumah sakit jika keadaan sang istri tak juga membaik.
Jungkook merasakan lengan kekar sang suami masih memeluk erat dirinya membuatnya merasa hangat di hari yang dingin ini. Ia sangat menyukai pelukan hangat sang suami terlebih ia juga bisa dengan leluasa mencium aroma maskulin yang terkuar dari tubuh sang suami yang sangat dicintainya itu. Jungkook mengerjapkan matanya untuk membiasakan cahaya matahari yang masuk ke matanya.
"Good morning, yeobeo.." bisik Jungkook tepat di depan wajah damai Taehyung yang masih terlelap.
Jungkook menggerakkan sedikit tubuhnya. Ia juga melepaskan lengan Taehyung yang memeluk pinggangnya. Dan Taehyung sama sekali tak terasa terganggu dengan hal itu. Jungkook perlahan turun dari tempat tidurnya dan beranjak masuk ke dalam mandi untuk membersihkan dirinya sebelum melanjutkan aktifitas paginya seperti seorang istri kebanyakan yaitu, membuat sarapan.
...
Dengan bathrobe putih yang menutupi seluruh tubuhnya, Jungkook pun keluar dari kamar mandi. Rambut cokelat panjangnya pun masih terlihat basah di bagian ujungnya. Ia berjalan menuju ke arah lemari pakaiannya untuk berpakaian. Saat ia sedang memilih pakaian, sebuah lengan kekar kini telah melingkar manis di pinggangnya membuat Jungkook sedikit terkejut. Dan sebuah kepala pun di tumpukan ke bahu kanannya hingga Jungkook merasakan sedikit berat disana.
"Sudah bangun, eum?" Ujar Jungkook saat kembali memilih bajunya.
"Hmm.. Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Taehyung dengan suara seraknya.
"Kau terlihat sangat lelap. Mana mungkin aku tega membangunkanmu. Jika kau masih mengantuk, tidurlah lagi. Aku juga akan membuat sarapan. Setelah selesai, aku akan membangunkanmu kembali." Ujar Jungkook lalu menutup pintu lemarinya. Kini ia memandangi cermin yang ada di bagian pintu lemari pakaiannya. Ia hanya tersenyum melihat bayangan dirinya yang masih berbalut bathrobe sedang di peluk erat oleh sang suami dari belakang.
"Harusnya kau yang istirahat. Hari ini aku yang akan membuat sarapan. Aku tak ingin kau sakit. Kau tahu betapa khawatirnya aku se-"
"Gwenchana.. Aku sudah baik-baik saja kok... Tak perlu khawatir, hmm?" Ujar Jungkook sambil membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sang suami yang menatapnya dengan raut khawatir yang amat kentara.
"Keras kepala. Untuk satu hari ini, biarkan aku yang akan melayani istri cantikku ini, ne? Jangan membantah atau aku akan marah padamu! Arraseo?" Ujar Taehyung penuh ketegasan. Jungkook pun sebenarnya ingin menolak. Namun mengingat tatapan tajam dari sang suami ia pun jadi mengurungkan niatnya.
"Hahh arraseo yeoboya..." balas Jungkook pasrah.
"Saranghae nae anae.. Jeongmal jeongmal saranghae.." ujar Taehyung lalu mencuri satu kecupan di bibir pink Jungkook.
"Nado nae yeobo.." balas Jungkook lalu kembali memberikan kecupan singkat di bibir Taehyung, morning kiss kedua^^
...
Setelah membersihkan diri, kini Taehyung langsung melesatkan dirinya ke dalam dapur. Seperti yang ia katakan tadi, hari ini ia yang akan melayani sang istri. Jadi, ia lah yang akan bertugas membuat sarapan untuk mereka berdua.
Taehyung memakai celemek berwarna merah yang biasa selalu Jungkook kenakan saat ia memasak. Celemek itu digunakan agar bahan makanan yang tercecer tidak mengenai langsung pakaiannya. Sebelum memasak ia pun tak lupa untuk mencuci tangan dan bahan masakan yang perlu di cuci. Ia tidak ingin menyajikan makanan yang banyak mengandung kuman untuk istri tercintanya.
Taehyung sudah memikirkan sebuah masakan yang ingin ia sajikan untuk Jungkook. Namun sepertinya ia tidak bisa memasaknya mengingat isi lemari pendingin di dalam apartmentnya sudah hampir kosong. Biasanya setiap bulan Jungkook akan selalu mengisi penuh lemari pendingin itu dengan berbagai bahan masakan untuk keperluan selama sebulan lamanya. Namun mengingat beberapa minggu yang lalu Jungkook tak tinggal di apartment karena harus di pingit, jadi tak ada yang bisa mengisi full lemari pendingin itu. Taehyung sendiri terlalu sibuk di kantor bahkan lebih sering mencari makan di luar agar bisa menghemat waktunya daripada harus memasak di rumah.
Taehyung hanya mendapati sebungkus pasta di dalam lemarinya. Tak ada daging bahkan ayam di dalam lemarinya. Taehyung pun hanya bisa menatap nanar pasta itu.
"Apa yang harus aku masak? Jika aku belanja dulu, tak akan sempat." Ujar Taehyung pada dirinya sendiri.
Cukup lama Taehyung hanya diam sampai sebuah ide muncul di kepalanya.
"Ahh spagetti aglio olio saja. Kebetulan bahan yang di perlukan pun tak banyak." Putus Taehyung akhirnya.
Sementara Taehyung sibuk memasak di dapur, Jungkook kini sedang merapikan kembali pakaian mereka yang masih ada di dalam koper untuk dimasukkan ke dalam lemari pakaian mereka. Semalam mereka memang belum sempat merapikannya mengingat tubuh mereka yang sudah sangat kelelahan. Jungkook memisahkan pakaian bersih dan pakaian kotor milik mereka berdua. Ada cukup banyak pakaian kotor yang ada di dalam keranjang. Beruntung mereka sempat melaundry sebagian pakaian kotor mereka di Bali sana. Jika tidak, cucian pakaian kotor mereka pasti benar-benar akan menumpuk sekarang.
"Aigoo... aku baru sadar. Ternyata aku cukup kalap juga jika sudah berbelanja. Karena harganya yang murah aku jadi sampai membeli banyak begini. Aigoo pantas saja jika Taetae sempat marah. Ahh mianhae.." ujar Jungkook saat menyadari seberapa banyak barang belanjaannya. Ia cukup menyesal karena sempat tak mendengarkan ucapan sang suami untuk tidak berbelanja banyak. Ia memang keras kepala.
Pada akhirnya Jungkook pun merapikan semua barang belanjaannya. Ia pun tak lupa memisahkan beberapa cenderamata yang ia belikan untuk Jin bahkan Yoongi. Ia banyak membelikan pakaian serta kain khas Bali untuk sepupu dan istrinya itu.
"Hahh akhirnya selesai juga. Lalu apa yang sedang dilakukan Taetae? Apa dia benar-benar memasak?" Ujar Jungkook penasaran lalu segera keluar dari dalam kamarnya.
...
Seulas senyum terukir dari bibir pink Jungkook saat melihat Taehyung yang sedang serius mencicipi masakannya. Ia sangat bangga dengan suaminya itu. Meskipun ia namja, ia tak sungkan untuk mencoba memasak. Apalagi memasak khusus untuk dirinya. Terlebih yang ia tahu jika selama ini suaminya memang jarang masuk ke dapur apalagi untuk memasak.
"Ahh tunggulah di sana. Sebentar lagi masakannya siap." Ujar Taehyung saat menyadari keberadaan sang istri yang diam-diam memperhatikannya memasak.
"Aniya.. aku ingin me-"
"Ani, ani, ani. Seperti yang aku bilang tadi, hari ini biarkan aku yang melayani. Jadi istriku yang cantik ini duduklah dengan manis disana sampai masakanku ini selesai, arra?" Potong Taehyung dan dibalas helaan nafas pasrah dari Jungkook yang kini sudah berjalan menuju ke meja makan yang terletak tak jauh dari counter dapur tempat Taehyung memasak.
Trakk
"Taraaa spagetti aglio olio special dari Chef Kim Taehyung. Selamat menikmati nona cantik..." ujar Taehyung sambil mengerlingkan matanya bermaksud menggoda sang istri. Mendapati perlakuan seperti itu, Jungkook pun hanya tersenyum.
Taehyung kini mendudukkan dirinya di hadapan Jungkook lengkap dengan sepiring spagetti aglio olio lainnya untuk dirinya sendiri. Namun ia sendiri sepertinya belum berniat untuk menghabiskan spagettinya sendiri. Ia sedang menunggu Jungkook mencicipi spagetti buatannya untuk mendengar komentar dari sang istri.
Jungkook pun mulai menyuapkan satu sendok spagetti itu ke dalam mulutnya. Taehyung memperhatikannya dengan seksama. Ia sungguh penasaran dengan komentar dari Jungkook. Bahkan jauh terlihat lebih tegang jika di bandingkan dengan para kontestan memasak di acara televisi saat ingin mendengar komentar dari dewan juri.
"Bagaimana rasanya?" Taehyung nampak benar-benar penasaran terlebih saat melihat perubahan ekspresi di wajah Jungkook. Apakah rasa masakannya benar-benar tak enak?
"Aigoo mashita! Ini enak sekali!" Ujar Jungkook akhirnya membuat Taehyung tersenyum lebar. Ia sangat senang mendapat pujian dari sang istri.
"Aaaa~" Jungkook pun mengarahkan sedikit spagetti ke arah Taehyung, bermaksud menyuapi sang suami tercinta yang sudah mencoba memasakkan spagetti untuknya.
"Enak bukan?" Ujar Jungkook yang di balas seulas senyum dari Taehyung.
"Gomawo.. Kalau begitu, kau harus menghabiskannya, ne?" Ujar Taehyung lalu ikut menikmati spagettinya.
...
Pasangan suami-istri itu kini terlihat sedang sibuk di meja makan. Jungkook terlihat sibuk menulis sesuatu di atas secarik kertas. Jungkook membaca kertas itu berkali-kali, memeriksanya berulang-ulang, takut-takut jika ada yang belum tertulis di dalam kertas itu. Sementara Taehyung sibuk memperhatikan bahkan sesekali menginterupsi Jungkook.
"Sayur, -"
"Taehyung."
"Buah, -"
"Taehyung! Taehyung!"
"Daging, -"
"Taehyung~~"
"Susu, err apalagi ya yang kurang?"
"Aku! Aku! Kim Taehyung! Kim Taehyung! Kim Tae-"
"Ya! Ishh jangan menggangguku! Hahh sampai mana tadi aku membacanya! Ish!" Keluh Jungkook frustasi dan kembali mengecek daftar itu.
"Kim Taehyung. Kau melupakan Kim Taehyung. Uhh yang kau pikirkan bahan-bahan itu terus. Kau tidak memikirkan aku?" Ujar Taehyung sambil mempoutkan bibirnya.
"Ehh?"
"Hihihi kau lucu sekali... Aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius begitu." Ujar Taehyung sambil mencubit kedua pipi Jungkook dengan gemas.
"Semua bahan yang habis sudah kau tulis."
"Jinjja?"
"Hmm. Jadi apa kita pergi sekarang?"
"Ne. Kajja! Kajja!"
"Poppo dulu~"
"Ehh?"
"Hihihi aku hanya bercanda... Kajja! Kita harus ganti pakaian kita dengan pakaian yang lebih tebal. Di luar sangat dingin." Ujar Taehyung lalu langsung merangkul mesra sang istri untuk berganti pakaian di dalam kamar mereka dan segera pergi berbelanja.
...
Kini Taehyung dan Jungkook sudah berada di dalam supermarket yang letaknya tak jauh dari apartment mereka. Dengan sweater dan mantel tebal, keduanya pun masuk ke dalam lingkungan supermarket. Supermarket itu terlihat ramai oleh pengunjung. Maklum saja ini adalah awal bulan jadi banyak orang yang berbelanja untuk kebutuhan sebulan kedepan. Taehyung mengambil troli besar dan mendorongnya mengikuti kemana langkah Jungkook pergi.
Jungkook mulai memasukkan satu persatu bahan belanjaan yang mereka butuhkan. Dengan teliti juga ia membaca semua list yang ada di tangannya. Taehyung pun hanya diam mengikuti langkah Jungkook sambil membawa troli besar yang kini berisikan banyak bahan dan keperluan mereka selama sebulan.
Dukk
"Auu.." rintih Jungkook saat ia merasakan ada sesuatu yang menabrak bokongnya dengan cukup keras. Saat ia berbalik, sebuah troli yang berisi banyak barang yang menabrak bokongnya. Seorang anak kecil berusia sekitar 2 tahun itulah pelaku yang mendorong troli. Sepertinya anak kecil itu memang tidak sengaja.
"Aigoo Jiseok-ah... Eomma kan sudah bilang padamu, jangan nakal. Tapi kenapa kau.. Hahh.. Aigoo mianhae, agashi.. Jiseok memang sedikit nakal..." ujar seorang yeoja berambut hitam dan langsung mencoba menggendong anak laki-laki yang di panggil Jiseok itu.
"Omona! Jimin-ah?" Jungkook begitu terkejut saat tersadar jika yeoja yang menggendong anak laki-laki yang tak sengaja menabraknya dengan troli adalah mantan maid pribadinya.
"No-nona Jeon?" Balas Jimin tak kalah terkejut. Sementara itu Taehyung hanya diam memperhatikan keduanya seperti Jiseok balita di dalam gendongan Jimin itu. Ia hanya mengerjapkan mata sipitnya yang persis sang eomma dengan lucu.
"Aigoo.. Apa kabar Jimin-ah?"
"Baik, nona.. ahh Tuan Kim.." balas Jimin dan mencoba menyapa Taehyung juga.
"Lalu apa ini anak kalian? Berapa usianya?" Tanya Jungkook sambil menatap Jimin dan Jiseok bergantian. Bocah laki-laki itupun hanya diam tak mengerti.
"Ahh ne, ini anak kami, Nona. Namanya Jung Jiseok dan bulan depan usianya genap 2 tahun." Jelas Jimin dengan wajah bersemu merah. Sedikit malu mengatakan jika anak di dalam gendongannya itu adalah darah dagingnya dengan Jung Hoseok mantan buttler Jungkook juga.
Sejak Jungkook bertunangan dan memilih tinggal bersama dengan Taehyung, sejak itu juga Jimin dan Hoseok mengakui hubungan diantara keduanya di depan Jungkook. Sebenarnya, sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh Nyonya besar Jeon, setiap pekerja di rumah itu tidak boleh memiliki hubungan melebihi hubungan pekerjaan dan peraturan itu di langgar oleh Jimin dan Hoseok.
Mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menjalin asmara. Dan seberapapun mereka berusaha menutupinya, hal itu pasti ketahuan juga. Jungkook yang pertama mengetahuinya ketika ia melihat kedua maid dan buttlernya itu berciuman di halaman belakang rumahnya jauh-jauh hari sebelum ia bertunangan. Dan Jungkook hanya membiarkannya tentu saja. Ia malah senang jika keduanya menjalin hubungan dan berpura-pura jika ia tidak tahu.
Namun tepat di hari pertunangan Jungkook itu jugalah mereka berkata jujur kepada Jungkook mengenai hubungan mereka. Jungkook pun memakluminya dan tetap membiarkan mereka untuk bekerja disana. Tapi karena merasa tak enak, mereka berdua -Hoseok dan Jimin- memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan mereka berdua dan memutuskan untuk menikah. Dan keputusan mereka berdua pun mau tak mau Jungkook terima.
"Ishh jangan panggil aku nona lagi, Jimin-ah. Sekarang kau kan sudah tidak bekerja denganku lagi. Panggil aku Jungkook saja." Balas Jungkook tak suka saat Jimin masih memanggilnya nona. Terlebih ketika ia sudah tak bekerja dengannya dan di tempat umum seperti ini.
"Ahh ne, mianhae.."
"Gwenchana... Ahh lalu dimana hmm suamimu?" Tanya Jungkook sambil mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan mencari keberadaan mantan buttlernya, Hoseok.
"Ahh itu.. Ia sedang ada pekerjaan jadi tidak bisa menemani kami, no- ahh Jung-Jungkook." Balas Jimin.
"Ohh begitu. Jadi sekarang ia sudah bekerja dimana?"
"Di salah satu perusahaan, kepala keamanan." Balas Jimin merendah.
"Wahh.. Kapan-kapan kita harus ketemu lagi! Aku rindu kalian! Terutama baby Jiseokie.. Uhhh dia lucu sekali. Aku suka dia! Dan wajahnya benar-benar perpaduan kalian!" Jungkook mengelus pipi chubby putra Jimin dengan lembut membuat bocah laki-laki itu tersenyum hingga menampilkan 4 giginya yang sudah tumbuh.
"Ahh maaf kami harus segera pergi. Kami duluan ya, hmm nona, tuan.. Annyeong.." pamit Jimin sambil mendorong trolinya dari hadapan Jungkook dan Taehyung.
...
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Sudah hampir setengah tahun lamanya Jungkook dan Taehyung menyandang status sebagai suami-istri. Namun kesibukan Taehyung beberapa bulan belakangan ini yang sedikit banyak membuat Jungkook terkadang kesal. Taehyung seakan tak memiliki banyak waktu dengannya. Tak jarang ia juga jadi lebih sering pulang malam hingga melewatkan waktu makan malam bersama Jungkook. Jika pulang lebih cepat pun, Taehyung malah lebih sering menghabiskan waktunya di depan laptop dan berkas-berkas kantornya membuat Jungkook jengah karena di acuhkan. Seperti malam ini.
Jungkook sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ia sengaja menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan membaca sebuah majalah fashion terbaru. Sesekali ia pun melirik ke arah meja tempat Taehyung berkutat dengan laptop dan berkas-berkas kantornya. Ketahuilah jika Taehyung memang sengaja menggabungkan kamar dengan meja kerjanya. Alasannya simple, jika lelah dan selesai mengerjakan semua pekerjaannya, ia bisa langsung menyusul Jungkook tidur.
"Taetae..." panggil Jungkook di sela-sela kegiatan membacanya.
"Hmm?" Hanya itu balasan dari Taehyung yang Jungkook terima.
Jungkook menjelaskan rencana yang sudah ia rencanakan matang-matang dengan nada sedikit ragu. Ia sedikit ragu jika Taehyung tak mengijinkannya. Meski begitu, ia tetap kekeuh dengan rencananya itu dan mengabaikan hasil nanti.
"Bagaimana? Apa boleh?" Tanya Jungkook setelah ia menjelaskan panjang lebar namun tak juga mendapat jawaban dari Taehyung. Taehyung masih saja sibuk mengetik sesuatu di laptopnya seolah mengacuhkan Jungkook dan itu membuat Jungkook sangat sebal.
"Taetae!"
"..."
"Yeoboya..."
"..."
"Ishh Kim Taehyung kau sungguh menyebalkan!" Teriak Jungkook lalu menutup majalahnya dengan kasar dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hmm? Waeyo? Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Taehyung yang kini mengalihkan perhatiannya dari laptop ke arah Jungkook.
"Lupakan! Aku mau tidur! Aku lelah!" Balas Jungkook acuh dan segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan memunggungi Taehyung. Ia sungguh sebal dengan Taehyung.
"Kau marah, hmm?"
"..."
"Hahh mianhae.. Aku tidak bermaksud mengacuhkanmu.. Aku hanya sa-"
"Diamlah! Aku ingin istirahat." Balas Jungkook dengan nada kesalnya yang amat kentara. Ia pun tak lupa menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga sebatas dada dan memutuskan untuk segera menuju alam mimpinya dan mengacuhkan kata-kata lanjutan dari sang suami.
...
Pagi pun menjelang. Taehyung mengerjapkan matanya saat sinar matahari pagi itu memaksa masuk ke matanya. Ia menguap lebar dan segera meregangkan otot-otot di tubuhnya. Hal pertama yang ia cari di pagi hari adalah Jungkook.
"Kookie?" Panggil Taehyung namun ia tak mendapat jawaban apapun.
"Kookie?" Panggil Taehyung lagi namun lagi-lagi ia juga tak mendapat jawaban apapun dari Jungkook.
"Apa ia masih marah padaku?" Gumam Taehyung.
Dengan kesadaran yang belum sempurna, Taehyung melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar menuju ke arah dapur. Karena ia tahu biasanya setiap kali ia bangun tidur, Jungkook pasti selalu berada di dalam dapur, sibuk menyiapkan sarapan untuknya.
"Kook- ahh dia tidak ada. Lalu dimana dia?" Keluh Taehyung saat tak menemukan Jungkook di dapur.
"Apa ini?" Taehyung mengambil secarik kertas memo yang tertempel di pintu lemari pendinginnya.
-Aku sudah meminta ijin padamu kan semalam. Dan sekarang aku pergi untuk seminggu kedepan. Jangan mencariku. Istrimu, Kookie.-
"Mwo? Pergi? Pergi kemana? Astagaaaa..." Taehyung pun hanya bisa berteriak frustasi. Ia juga sangat menyesali dirinya yang semalam mengacuhkan ucapan sang istri.
...
Taehyung nampak uring-uringan hari ini. Bahkan ia jadi membatalkan rapatnya dengan seorang klien penting karena kondisinya sekarang. Ia benar-benar kepikiran dengan Jungkook. Bahkan Pak Shin, sekretaris Taehyung pun menatap Taehyung dengan pandangan bingung karena tak biasanya Taehyung terlihat seberantakan ini.
Tuttuttuttut
Lagi-lagi hanya bunyi itu yang Taehyung dengar saat mencoba menghubungi Jungkook untuk yang ke sekian kalinya. Ia benar-benar bingung dan tak tahu kemana perginya sang istri. Bahkan apa? Untuk beberapa hari ke depan? Sungguh Taehyung tak bisa membayangkannya hidup sendirian tanpa Jungkook. Sehari di tinggal Jungkook saja ia sudah sangat kacau bagaimana jika sampai berhari-hari? Bahkan seminggu!
"Kau dimana, Kook? Jangan membuatku khawatir.." desis Taehyung frustasi. Ia pun segera menenggelamkan kepalanya pada meja. Ia benar-benar bingung sekarang dan merasa... bersalah.
"Jin! Iya, Jin! Aku harus segera menghubunginya." Taehyung pun menyambar kembali ponselnya dan mencoba segera menghubungi Jin.
Tutttt Tuuttt
"Angkatlah.. Jebal..." gumam Taehyung. Ia sangat berharap Jin mengangkat teleponnya.
-Yeobosaeyo?-
"Ahh untunglah kau mengangkat telponku, Jin."
-Waeyo? Ada apa?-
"Hmn begini. Apa Jungkook sedang bersamamu?"
-Ehh? Jungkook?-
"Ne. Apa Jungkook ada bersamamu sekarang? Jika iya, tolong bilang padanya untuk mengangkat teleponku. Jebal..." mohon Taehyung.
-Hmm mi-mian Tae.. Aku tidak sedang bersamanya saat ini. Mian...-
"Jinjjayo? Hahh.. Geurae.. Mian jika aku mengganggumu, Jin." Ujar Taehyung sendu.
-Memang apa yang terjadi diantara kalian? Apa kalian... bertengkar?-
"A-ani.. Hahh begini saja. Jika kau bertemu dengannya, tolong katakan padanya untuk segera menghubungiku ya. Gomawo.." ujar Taehyung lalu segera memutuskan sambungan teleponnya.
"Kau dimana sekarang, Kook?" Gumam Taehyung.
...
Seorang yeoja bermata bulat kini sedang sibuk memotong buah berwarna merah dan hijau di dalam sebuah dapur mini di salah satu apartment elite di Seoul. Sesekali ia bahkan mengambil sepotong demi sepotong buah yang telah di potongnya dan memakannya. Seorang yeoja lainnya dengan perut yang terlihat sudah sangat membesar kini datang menghampiri yeoja bermata bulat itu. Usia kandungan yeoja itu sudah memasuki bulan kesembilan dan menurut dokter, kemungkinan beberapa hari lagi bayi di dalam perutnya akan segera lahir.
"Eoh? Kenapa eonnie kesini? Aku kan sudah bilang pada eonnie untuk menunggu di ruang tengah saja." Ujar yeoja bermata bulat itu, Jungkook.
"Mana mungkin aku membiarkanmu yang adalah tamu menyiapkan buah sendirian." Balas Jin lalu mengambil alih pisau dan sisa apel yang belum terpotong dari tangan Jungkook.
"Harusnya wanita hamil jangan terlalu banyak bergerak. Apalagi eonnie yang dikatakan dokter sudah bisa melahirkan kapan saja ini. Duduklah eonnie biar aku yang menyelesaikannya." Jungkook pun kembali mengambil pisau dan buah apel dari tangan Jin dan memotongnya kembali.
"Kau salah, Kook. Wanita hamil malah harus lebih banyak bergerak agar lebih mudah nanti saat melahirkan."
"Begitukah? Aku tidak tahu.."
"Ne. Begitulah yang dokter katakan. Makanya cepatlah hamil agar kau bisa tahu hahaha.." goda Jin membuat Jungkook menghentikan kegiatanya memotong apel.
"Eonnie!" Gerutu Jungkook dan Jin pun hanya tertawa saja menanggapinya.
"Oh ya tadi Taehyung menelponku." Ujar Jin namun Jungkook nampak tidak terlalu menanggapi.
"Lalu?"
"Dia menanyakan apa aku sedang bersamamu atau tidak."
"Lalu eonnie tidak bilang aku ada disini kan?"
"Hmm. Tapi kenapa? Kau tidak bilang padanya jika kau akan tinggal disini selama satu minggu ini?"
"Aku sudah bilang padanya semalam. Tapi ia mengacuhkanku dan lebih mementingkan berkas-berkas menyebalkannya itu daripada menanggapi ucapanku." Jelas Jungkook dengan kesal. Jin pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
"Aigoo.. Aigoo.. Jadi karena itu pagi-pagi kau datang dengan wajah kusut seperti seekor kucing yang kabur dari majikannya?"
"Ishh kenapa eonnie menyamakan aku dengan kucing?"
"Hahahha mianhae.. Jadi kau akan terus diam dan tidak ingin mengabarinya?"
"Ne. Biarkan saja."
"Tapi dia terdengar khawatir, Kook..."
"Biarkan saja eonnie. Biar dia tahu bagaimana rasanya di acuhkan." Balas Jungkook final. Jin pun hanya menghela nafasnya. Jungkook memang sedikit keras kepala.
...
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 KST. Dan Taehyung masih berada di dalam kantornya. Bukan untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi ia malas untuk kembali ke apartment. Apalagi jika mengingat tak ada Jungkook disana. Ia pergi tanpa memberitahukannya pergi kemana.
Pikiran Taehyung pun seharian ini sangat kacau. Ia bahkan membatalkan semua rapat dan pertemuan dengan kliennya karena moodnya yang sedang sangat buruk. Bahkan sejak pagi sampai malam Taehyung tak berniat untuk mengisi perutnya dengan makanan. Ia tak terlalu memperdulikan rasa laparnya. Yang ia pedulikan dan pikirkan sampai sekarang ini adalah Jungkook. Kim Jungkook, istrinya.
Lain Taehyung, lain pula Jungkook. Yeoja itu kini terlihat sedang duduk bersantai menonton sebuah film di ruang tengah bersama seorang yeoja lain yang sedang hamil besar. Sesekali mereka tertawa di kala ada adegan lucu di film tersebut. Jungkook nampak tertawa lepas membuat Jin hanya menghela nafasnya berat.
Jin kembali melirik ponselnya yang ada di sampingnya. Ia bermaksud ingin menghubungi seseorang yang ia yakini sekarang pasti sedang sangat khawatir dan kacau. Namun detik berikutnya ia urungkan kembali niatnya di kala mengingat janjinya pada Jungkook untuk tidak memberitahukan keberadaannya disana pada siapapun, termasuk Taehyung.
"Waeyo, eonnie? Eonnie tampak gelisah sekali.. Apa perut eonnie sakit?" Tanya Jungkook saat menyadari kegelisahan Jin.
"A-aniya.. Nan gwenchana, Kook.." balas Jin dengan seulas senyum di wajahnya. Jungkook pun hanya mengangguk dan kembali mengalihkan pandangannya pada layar datar di hadapannya.
Drrtt Drttt
Jin merasakan ponselnya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Tanpa banyak membuang waktu, ia pun segera meraih ponselnya dan melihat pesan yang masuk. Seulas senyum lagi-lagi terukir di bibirnya saat melihat pesan yang di kirim dari orang yang sangat dicintainya.
From : Yeoboya
Yeoboya~ bagaimana keadaanmu? Kau baik- baik saja kan? Apa Jungie bersama denganmu?
Jin pun segera membalas pesan yang di kirimkan oleh sang suami, Yoongi yang kini sedang berada di luar Korea. Yoongi sedang berada di dalam perjalanan bisnisnya di Jepang selama seminggu ini. Karena itulah Jungkook diminta untuk menemani Jin karena Yoongi sangat khawatir dengan keadaan sang istri jika ditinggal sendirian. Apalagi mengingat jika Jin bisa melahirkan kapan saja karena usia kandungannya yang sudah teramat membesar.
To : Yeoboya
Nan gwenchana.. Ne, Kookie ada disini, tinggal bersamaku. Lalu apa pekerjaanmu berjalan dengan lancar?
SEND
Jungkook masih tetap fokus dengan film yang sedang di tontonnya hingga tidak menyadari jika sedaritadi Jin sibuk berkirim pesan dengan Yoongi yang berada di negeri seberang.
Drrttt Drrrttt
Jin merasakan ponselnya kembali bergetar. Namun kali ini bukan sebuah pesan, namun sebuah panggilan dari nomor sang suami. Jin pun tersenyum senang dan berjalan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Jungkook yang masih sibuk menonton. Ia membutuhkan privasi saat ini.
"Yeobosaeyo?"
-Annyeong yeoboya.. Jeongmal bogoshipoyo..- ujar Yoongi dari sebrang telepon membuat Jin terkekeh. Mendengarnya, Jin jadi merasa jika mereka jadi seperti remaja yang sedang di mabuk cinta. Sedikit janggal jika mengingat status mereka yang kini sudah menjadi suami-istri terlebih sebentar lagi status mereka akan bertambah menjadi seorang appa dan eomma.
"Nado.. Aegya juga rindu appa.." ujar Jin sambil mengelus perut besarnya. Terdengar kekehan lagi dari Yoongi.
-Jinjja? Ahh katakan padanya jika appa juga rindu pada aegya..-
"Ne, dan dia sangat senang, appa.."
-Oh ya yeobo, tadi Taehyung sempat menghubungiku saat aku ada pertemuan dengan klien dan ia..-
"Lalu? Apa kau mengatakan sesuatu padamu?"
-Ani. Karena sedang ada pertemuan, aku tidak menjawab panggilannya. Aku sempat mengira jika terjadi sesuatu padamu. Tapi mendengar kau baik-baik saja saat ini benar-benar membuatku lega.-
"Aku baik-baik saja, percayalah.."
-Ne, aku percaya. Lalu kira-kira ada apa dia sampai menghubungiku? Apa kau tahu?-
"Mungkin karena ia ingin menanyakan keberadaan Jungkook."
-Menanyakan Jungie? Memang ia tidak tahu jika Jungkook ada di apartment kita? Aku sendiri yang memintanya menemanimu dan ia bilang Taehyung sudah mengijinkannya. Lalu kenapa Taehyung masih bertanya jika ia sudah tahu dimana istrinya itu?-
"Sebenarnya, Jungkook tidak bilang pada Taehyung jika ia akan tinggal disini selama beberapa hari.."
-Mwo? Bagaimana bisa?-
"Entahlah.. Aku juga tidak tahu. Tapi Kookie sempat bercerita padaku jika ia sedang sedikit kesal dengan Taehyung. Untuk masalah lebih jelasnya aku juga kurang tahu.."
-Aigoo.. Sebenarnya ada apa dengan mereka hahh.. Kalau begitu nanti aku akan memberitahu Taehyung dimana Jungkook berada.-
"Andwae!"
-Wae? Kenapa aku tidak boleh mengatakannya? Bagaimanapun, seorang suami haruslah mengetahui dimana keberadaan istrinya. Aku yakin dia pasti sangat khawatir.-
"Tapi Kookie memohon agar kita tidak memberitahunya.."
-Jika tidak begini, permasalahan mereka pun tidak akan selesai. Percayalah padaku. Taehyung pasti akan mengerti. Aku akan memberitahunya nanti. Sekarang sudah malam. Tidurlah. Kau harus banyak istirahat.-
"Ne, ne, ne.. Aku akan tidur. Kau juga harus tidur. Jangan tidur terlalu larut ya.. bye.. Saranghae.."
Sambungan telepon pun terputus. Jin meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia masih tak beranjak dari posisi duduknya saat ini. Pikirannya kini tertuju pada Jungkook dan juga Taehyung. Ia memikirkan kira-kira masalah apa yang terjadi di antara keduanya. Karena selama yang ia tahu, pasangan suami-istri itu terlihat harmonis-harmonis saja dan tak pernah terdengar memiliki masalah yang pelik.
"Hahhh sudahlah.. Besok bisa aku tanyakan lagi." Gumam Jin.
...
Jam di dinding itu sudah menunjukkan pukul 02.00 KST sudah lewat tengah malam bahkan sudah hampir subuh namun seorang namja bermata bulat itu tidak juga menutup matanya. Berbeda sekali dengan yeoja berperut buncit di sampingnya yang sudah masuk ke alam mimpinya. Yeoja bermata bulat itu nampak gelisah di dalam tidurnya dan sesekali memegangi perutnya yang masih terlihat rata.
"Ughh lapar.." keluhnya lalu mencoba untuk keluar dari kamar secara perlahan agar tak menganggu yeoja lainnya yang sedang tertidur nyenyak.
Jungkook, yeoja bermata bulat itu mulai membuka isi lemari pendingin yang ada di dalam apartment Jin. Ingat kan jika selama seminggu ini Jungkook tinggal di apartment Jin? Namun ia hanya menemukan sayur, buah dan daging yang masih mentah saja. Tak ada makanan yang sudah di olah mengingat Jin memang tidak suka atau lebih tepatnya sangat membenci makanan instan karena menurutnya, makanan instan itu sangatlah tidak sehat.
"Uhh aku lapar.." keluh Jungkook dan kembali mengelus perutnya lagi. Ia sungguh merasa amat lapar.
"Cheesecake.." gumamnya tanpa sadar. Entah kenapa sepotong cheesecake kini mulai memenuhi pikirannya. Ia membayangkan betapa nikmatnya mencicipi cheesecake lezat yang ahh sungguh membayangkannya saja Jungkook jadi benar-benar ingin memakannya sekarang!
Tanpa berpikir panjang, ia segera meraih ponsel yang ada di saku celananya dan mencari nomor telepon seseorang yang ia minta untuk membawakan cheesecake itu sekarang di hadapannya. Namun jika di bayangkan, ini pasti mustahil mengingat sekarang jam sudah menunjukkan pukul 02.00 KST dan semua toko kue pasti sudah tutup dan akan buka esok pagi. Namun karena keinginannya yang sudah membuncah, ia tak mau tahu. Yang jelas ia sangat menginginkan cheesecake itu sekarang!
...
Ting Tong
Suara bell apartment itu sedikit mengganggu Jungkook yang sedang membaca sebuah majalah di ruang tengah apartment di dalam keheningan. Awalnya ia sedikit kesal harus menunggu lama mengingat tak mudah mencari toko kue yang masih buka hingga jam segini. Namun senyum langsung merekah di bibirnya di kala ia mengingat jika apa yang dimintanya sudah datang.
"Yeyy cheesecake!" Teriak Jungkook dengan riangnya persis seperti anak kecil yang senang ketika mendapatkan keinginannya. Tanpa membuang waktu, ia pun langsung mengambil kotak berisi cheesecake dari tangan seseorang yang hanya bisa memandanginya datar. Bahkan Jungkook langsung berlalu masuk ke dalam apartmentnya tanpa mempersilahkan masuk orang yang membawa cheesecake itu.
"Kookie-ya.. Jadi kau berada di sini? Sungguh kau membuatku khawatir bahkan hampir gila karena tidak bisa menghubungimu. Kenapa kau mengacuhkan semua teleponku?" Ujar orang yang membawa cheesecake untuk Jungkook. Dan orang itu adalah Kim Taehyung, suami Jungkook.
Namun bukannya menjawab semua pertanyaan Taehyung, Jungkook malah mengacuhkannya dan lebih memilih menyantap cheesecakenya dengan lahap. Taehyung pun hanya bisa menghela nafasnya. Sungguh ia sedikit merasa lega saat melihat keadaan Jungkook yang baik-baik saja saat ini.
Awalnya Taehyung sedikit kesal dengan sebuah panggilan masuk di ponselnya. Ia sempat memaki-maki orang yang telah menghubunginya malam-malam begini hingga mengganggu tidurnya. Namun saat mendengar suara Jungkook di ujung telepon, matanya yang semula terasa berat, membuka seketika. Sungguh ia benar-benar merindukan suara itu, suara istrinya yang membuatnya seharian ini di lingkupi rasa khawatir yang teramat.
Seluruh pikiran negatif meluntur begitu saja saat mendengar suara Jungkook. Perasaan lega pun melingkupinya saat ia bisa kembali mendengar suara Jungkook yang menurutnya sangatlah merdu itu. Namun sebuah permintaan Jungkook yang terasa tiba-tiba itu membuatnya terkejut. Tanpa ragu dan tanpa banyak berbasa-basi, Jungkook meminta Taehyung untuk membawakannya sekotak cheesecake ke apartment Jin. Entahlah Jungkook juga tidak mengerti kenapa orang yang seharian ini yang ingin di hindari dan di acuhkannyalah yang di hubunginya untuk membawakan permintaannya yang sedikit tidak masuk akal di larut malam seperti ini. Taehyung pun sama tak habis pikir dengan permintaan Jungkook yang seperti itu. Hingga pada akhirnya dia menyanggupinya dan berusaha mendapatkan apa yang diminta oleh Jungkook sekaligus ia juga ingin menanyakan jawaban atas semua pertanyaan yang terngiang di kepalanya saat bertemu dengan Jungkook nanti.
Dan disinilah Taehyung. Di apartment Jin dengan sekotak cheesecake yang ia dapatkan dengan susah payah dan perlu perjuangan mencari cake itu sampai berkeliling Seoul selarut ini. Namun sesampainya disana, Jungkook sama sekali tak menyambutnya. Ia malah langsung mengambil kotak cheesecake dari tangannya dan langsung masuk kembali ke dalam apartment tanpa menolehkan kepalanya ke arah Taehyung bahkan tak juga mengucapkan sepatah katapun.
"Kookieya?" Panggil Taehyung dan panggilannya kali ini sukses membuat Jungkook menoleh dan menatap Taehyung dengan pandangan datarnya. Sungguh Taehyung tak suka melihat Jungkook menatapnya seperti itu.
"Kenapa kau masih disini?" Ujar Jungkook dengan nada yang terkesan dingin lalu kembali menyuapkan potongan Cheesecake ke dalam mulutnya lagi.
"Mwo? A-apa maksudmu, Kook? K-kau mengusirku?" Balas Taehyung dengan nada terkejutnya.
"Terima kasih sudah membawakanku cheesecake. Kau bisa kembali sekarang." Balas Jungkook acuh membuat Taehyung membulatkan matanya tak percaya mendengar perkataan dari Jungkook, istrinya.
"K-kau tidak bercanda, kan?"
"Ani. Sekali lagi terima kasih sudah membawakan cheesecake untukku. Ini sudah hampir pagi. Kau bisa pulang." Ujar Jungkook lagi. Sungguh Taehyung tidak percaya jika Jungkook dapat berkata sedingin itu padanya. Seperti tak saling kenal padahal mereka itu adalah sepasang suami-istri. Ingat, suami-istri!
"Aku tahu aku salah. Mianhae... Jangan seperti ini, Kook.." Taehyung mencoba meminta maaf pada Jungkook. Ia sadar mungkin ia memang salah karena malam itu mengacuhkan Jungkook.
"Maaf? Untuk apa?"
"Kookieya.. Jebal jangan seperti ini... Pulanglah.." ujar Taehyung dengan nada memohon dan raut wajah sangat menyesal.
"Aniya. Aku tidak bisa."
"Wae? Apa kau masih marah padaku karena aku mengacuhkanmu?" Tanya Taehyung namun tak ada balasan dari Jungkook.
"Mianhae.. Jeongmal jeongmal mianhae.. Aku benar-benar minta maaf padamu.." sambung Taehyung dengan perasaan amat bersalah.
"Aku tidak bisa.." balas Jungkook singkat tanpa menghentikan kegiatannya menyuapkan cheesecake nan lezat itu ke dalam mulutnya.
"Kau benar-benar marah padaku? Aku berjanji aku tak akan mengacuhkanmu lagi. Aku sungguh-sungguh menyesal karena kemarin sudah mengacuhkanmu. Dan aku tak akan mengulanginya lagi. Jadi, pulanglah bersamaku.. Jebal.."
"Tapi aku benar-benar tak bisa. Aku tak bisa meninggalkan Jin eonnie sendirian disini. Ia sedang hamil tua dan bisa melahirkan kapan saja."
"Tapi, disini bukan rumahmu. Lagipula masih ada Yoongi yang bisa menemaninya. Pulanglah ke apartment kita bersamaku."
"Yoon oppa sedang tak di Korea. Karena itu aku harus disini menemani Jin eonnie. Aku sudah mengatakannya kemarin padamu. Tapi kau malah mengacuhkanku dan memilih sibuk dengan berkas-berkas kantormu. Memang kau pikir aku apa?" Sindir Jungkook membuat Taehyung kembali merasa bersalah.
"Mian.."
"Sudahlah.. Lebih baik kau pulang. Pagi-pagi sekali kau kan harus ke kantor. Biarkan aku tetap disini." Potong Jungkook dengan nada dan raut wajah datarnya.
"Tapi..."
"Pulanglah. Aku tak ingin menjadi pengganggu pekerjaanmu lagi." Ujar Jungkook dengan menekankan kata 'pengganggu' membuat hati Taehyung terasa tertusuk.
"Mianhae.."
"Pulanglah.."
"Arraseo.. Annyeong, Kookie-ya.." balas Taehyung lalu mengecupi kening Jungkook dengan cukup lama dan berlalu dari hadapan Jungkook.
Jungkook pun hanya bisa menatapi punggung Taehyung yang terlihat semakin jauh dari hadapannya dalam diam. Ekspresi wajahnya pun tak dapat di tebak. Kecewa? Sedih? Semuanya bercampur menjadi satu.
...
Sudah 3 hari lamanya Jungkook tinggal di apartment Jin. Meski sudah lewat 3 hari lamanya, keegoisan dan kekesalan Jungkook pun tak juga sirna meski terkadang ia sering menghubungi Taehyung untuk membawakan sesuatu yang ingin ia minta. Walaupun begitu, Taehyung masih cukup senang setidaknya Jungkook tak benar-benar melupakannya. Melupakan? Heol! Jungkook tak akan mungkin melupakannya..
Dengan 2 kotak pizza berukuran besar, Taehyung melangkahkan kakinya ke dalam apartment besar Jin. Pizza itu adalah pizza yang diminta oleh Jungkook. Selama beberapa hari kebelakang ini, Jungkook kerap kali bertingkah aneh. Ia pasti akan terbangun pukul 02.00 KST karena merasa lapar. Dan jika sudah begitu, hanya Taehyung lah orang yang bisa di hubunginya dan meminta untuk di bawakan makanan apapun itu jenisnya.
Karena kebiasaan barunya itu pula pipi Jungkook yang semula memang sudah chubby, kini semakin bertambah chubby. Dan mungkin tubuhnya pun sekarang terlihat semakin berisi. Ini mungkin efek dari kebiasaan makannya yang baru seperti itu.
"Perlahan saja makannya.." Taehyung mengingatkan saat Jungkook dengan lahap memakan pizza-pizzanya.
Senyum Taehyung pun terkembang di kala Jungkook sudah menghabiskan setengah loyang besar pizza hanya dalam waktu beberapa menit saja. Bahkan karena sangkin lahapnya, saus pizza itu terlihat berceceran di sekitar mulut Jungkook. Dengan selembar tissue, Taehyung pun membersihkan sisa-sisa saus itu.
"Pelan-pelan saja makannya.. Aku tidak akan memintanya kok." Ujar Taehyung lagi dengan lembut. Dan seketika Jungkook langsung menghentikan makannya.
"Wae? Apa kau sudah kenyang?" Tanya Taehyung keheranan saat melihat Jungkook berhenti melahap pizzanya.
"Buka mulutmu." Balas Jungkook sambil menyodorkan sepotong pizza ke depan mulut Taehyung.
"Mwo? Ti-tidak aku ti hmmphh" belum sempat Taehyung menyelesaikan kata-katanya, mulut Taehyung kini sudah di penuhi dengan pizza.
"Aku tidak ingin makan sendirian." Balas Jungkook sekenanya dan kembali melahap potongan pizza lainnya. Sementara Taehyung pun hanya diam dan ikut melahap pizzanya.
Tanpa keduanya sadari, seorang yeoja lain kini sedang menatap mereka dalam diam. Yeoja itu bersembunyi di balik pintu kamarnya. Sebenarnya, ia terbangun karena ia merasa haus dan ingin minum. Namun saat melihat sepasang suami istri itu sedang berada di ruang makannya, ia jadi mengurungkan niatnya untuk ke dapur. Ia tidak ingin mengganggu pasangan suami-istri itu yang terlihat err akur?
-Jadi selama ini, ini yang di lakukan Kookie setiap malamnya? Hihihi..- kekehnya dalam hati.
...
Pagi pun menjelang. Yeoja berpipi chubby itu masih terlihat terlelap di dalam alam mimpinya. Sementara seorang yeoja lain yang tertidur di sampingnya, terlihat bergerak resah bahkan sebuah rintihan kecil pun keluar dari bibirnya. Matanya yang semula masih terpejam pun mulai sedikit membuka.
"Ughh appo shhh.." rintihnya. Yeoja itu, Jin pun langsung mendudukkan dirinya dan memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Aegi-ah.. Apakah kau sudah tidak sabar, hmm? Padahal appamu saja belum pulang ahh.." ujar Jin sambil mengelus perut buncitnya.
"Jung- Ahh dia masih tertidur. Aku tidak tega membangunkannya.." ujar Jin dengan perlahan bangkit dari tempat tidurnya.
Sejam sudah berlalu. Jungkook yang awalnya masih tertidur, kini mulai membuka matanya karena sinar matahari yang semakin menyengat masuk ke dalam kamar. Jungkook mengerjap-ngerjapkan matanya dan menolehkan kepalanya ke samping kanan dan tak menemukan siapapun disana.
"Eonnie?" Panggil Jungkook namun tak mendapat jawaban apapun.
"Hahh mungkin eonnie sedang di dapur." Ujar Jungkook akhirnya dan memilih untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi, Jungkook pun beranjak dari dalam kamar untuk menuju ke dapur dimana ia kira bisa menemukan Jin. Namun saat langkah kakinya berhenti di dapur, Jungkook tidak menemukan Jin disana.
"Eonnie?" Panggil Jungkook lagi saat mencari di ruang tengah. Namun lagi-lagi ia tak menemukan Jin disana.
"Eonnie eodiga? Eonnie?" Jungkook mulai panik karena tidak menemukan Jin dimana pun di seluruh sudut apartment itu.
Drrttt Drrttt
Jungkook merasakan getaran di dalam saku celana yang dikenakannya. Ia pun segera mengambil ponselnya dan nampaklah nama Jin di layar ponselnya dengan cepat Jungkook pun menerima panggilan itu.
"Eonnie? Sekarang eonnie ada di- MWO?" Teriak Jungkook histeris. Tanpa banyak berpikir, ia pun segera pergi meninggalkan apartment itu.
...
Jungkook berlari di sekitar lorong rumah sakit. Lorong rumah sakit itu terbilang cukup ramai dengan adanya beberapa perawat maupun keluarga pasien yang berlalu lalang disana. Jungkook tidak terlalu menghiraukannya. Yang ia mau saat ini adalah agar ia bisa segera sampai ke ruang rawat Jin. Setelah sampai di rumah sakit dengan menggunakan taxi, Jungkook pun segera bertanya kepada seorang perawat di meja receptionist letak ruang rawat Jin.
Sebuah pintu berwarna putih dengan angka 204 berukuran besar pun menjadi tujuan Jungkook saat ini. Dengan nafas yang masih sedikit terengah karena berlari, Jungkook pun segera mendorong pintu berwarna putih itu.
Terlihat ada seorang dokter berjas purih dan beberapa perawat yang sedang memeriksa keadaan seseorang yang terbaring di tempat tidur. Jungkook pun masih diam di posisinya. Ia tidak ingin menggangu sang dokter yang sedang memeriksa keadaan Jin.
"Apakah anda keluarga dari Nyonya Min?" Ujar dokter berjas putih itu.
"Apa keadaan eonnieku baik-baik saja, uisanim?" Tanya Jungkook penasaran.
"Ne. Cukup baik untuk saat ini. Ia hanya sedang mengalami kontraksi yang wajar di rasakan saat seseorang akan melahirkan. Dan anda harus menemaninya disini. Jangan biarkan ia pergi-pergi sendirian seperti saat ia datang ke rumah sakit ini. Itu sedikit berbahaya." Ujar dokter itu dan di balas Jungkook dengan anggukan kepalanya.
Selepas kepergian dokter beserta perawatnya, Jungkook pun menghampiri Jin yang sedang duduk bersandar di ranjang. Senyum pun terukir di bibirnya sangat berbeda sekali dengan ekspresi yang di tunjukan Jungkook.
"Eonnie.. Kau sungguh membuatku khawatir. Aku panik setengah mati saat tidak menemukan eonnie di apartment." Ujar Jungkook dengan nada sendu.
"Mianhae.."
"Jika terjadi sesuatu pada eonnie, eonnie kan bisa bilang padaku. Jangan pergi sendiri seperti tadi."
"Habis eonnie tidak tega membangunkanmu yang tertidur lelap begitu."
"Tapi kan.."
"Sudahlah yang penting kau lihat sendiri kan aku baik-baik saja saat ini?"
"Ne, kau benar, eon. Apa perut eonnie masih sakit? Sepertinya sudah saatnya aegya di dalam perut eonnie lahir."
"Kini sudah tidak lagi. Entahlah eonnie juga tidak tahu. Beberapa saat eonnie sempat merasakan sakit namun beberapa saat kemudian rasa sakit itu hilang. Dan dokter menyarankan agar eonnie di rawat disini agar mempermudah jika terjadi kontraksi lagi." Jelas Jin panjang lebar.
"Apa aku harus menghubungi Yoon oppa?"
"Aniya. Biarkan saja. Lagipula eonnie baik-baik saja. Eonnie tidak mau membuat oppamu panik hingga merusak pekerjaannya. Karena yang eonnie tahu, pekerjaan oppamu di sana sangat penting."
"Tapi kan.."
"Gwenchana, Kook."
"Hahh arraseo.."
...
Seorang namja bermata sipit kini sedang melangkahkan kakinya di dalam sebuah gedung perusahaan yang sangat besar. Sudah sangat lama bahkan hampir tak pernah lagi ia datang mengunjungi perusahaan itu. Padahal perusahaan itu dan perusahaannya menjalin kerjasama yang sangat erat. Karena biasanya jika pun mereka ada rapat, mereka lebih memilih melakukan rapat di luar.
"Tuan Min? Tuan Kim ada di dalam. Silahkan masuk.." Ujar seorang namja paruh baya yang bekerja sebagai sekretaris di perusahaan itu.
Cklek
Pintu kayu berwarna cokelat tua itu pun terbuka menampilkan sesosok namja lain yang terlihat sedang sibuk membaca tumpukan berkas di meja yang ada di hadapannya.
"Wah sepertinya Tuan Kim sedang sibuk, ne?" Ujar namja yang di panggil Tuan Min iti seraya mendudukkan dirinya di sofa yang ada di dalam ruang kerja sang direktur.
"Yoongi? Bukankah kau ada di Jepang?" Ujar Taehyung terkejut. Karena sepengetahuannya dari Jungkook Yoongi memang sedang berada di Jepang selama seminggu dan ini belum sampai seminggu namun ia sudah berada di hadapan Taehyung.
"Ne. Memang. Tapi aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat jadi ya kuputuskan untuk segera pulang. Tapi sebelum aku bertemu Jinnie, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu."
"Ne?"
"Gomawo, ne.."
"Gomawo? Untuk?"
"Ya gomawo karena kau mengijinkan Jungkook tinggal sementara di apartmentku untuk menemani Jinnie. Karena aku khawatir jika harus meninggalkan Jinnie sendirian. Sebab Jinnie bisa melahirkan kapan saja." Jelas Yoongi lengkap dengan senyum tulusnya.
Belum sempat Taehyung membalas ucapan Yoongi. Getaran di saku celananya membuat Taehyung sedikit tersentak. Ia pun segera mengambil ponselnya. Seulas senyum pun langsung tergambar di wajah tampannya saat melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Ne, Kookie? Apa kau sedang ingin sesu- NE?"
Yoongi pun sontak terkejut saat mendengar pekikan dari Taehyung. Taehyung melirik Yoongi sekilas membuat Yoongi mengerutkan keningnya.
"Baiklah. Aku akan segera kesana sekarang!" Putus Taehyung akhirnya.
"Yoongi! Sebaiknya kita harus segera ke rumah sakit!"
"Mwo? Mem-"
"Jin akan melahirkan!"
"MWO?"
...
Jungkook terlihat gelisah. Ia bahkan tak bisa duduk diam di depan sebuah ruangan yang di ketahui jika itu adalah ruangan untuk operasi. Taehyung yang tadi datang bersama Yoongi pun kini hanya bisa duduk diam sambil memandangi Jungkook yang hanya bisa mondar-mandir di depan pintu. Tuan dan Nyonya Min pun terlihat tegang menunggu kelahiran cucu pertama mereka. Keduanya bahkan tak berhenti memanjatkan doa untuk keselamatan cucu dan menantunya.
"Kookie, tenanglah.. Jin pasti akan baik-baik saja. Ada Yoongi di dalam sana." Ujar Taehyung mencoba untuk menenangkan sang istri.
"Mana mungkin aku bisa tenang!" Balas Jungkook dengan nada sedikit emosi. Ia biasa seperti ini jika sedang dilanda kepanikan dan ketegangan. Dan Taehyung pun hanya bisa menghela nafasnya.
CKLEK
Tiba-tiba pintu ruangan operasi itu pun terbuka dan menampakkan sosok Yoongi yang sedikit kacau. Rambut hitamnya terlihat sedikit berantakan. Bahkan peluh sudah membasahi hampir sebagin rambutnya. Kemeja hitam yang dikenakannya pun nampak lecak sana sini. Dan jangan lupakan ekspresi wajahnya yang terlihat... sedih?
"Yoongi-ya.. Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Nyonya Min dengan nada khawatir yang amat kentara.
"Oppa.. Bagaimana keadaan eonnie? Lalu aegya nya.. Apa mereka..."
"Mereka... hiks.." sebuah isakan kecil pun lolos dari bibir Yoongi. Semua yang ada disana serasa lemas. Begitu pula dengan Jungkook. Air mata pun entah mengapa tak terbendung dan membuat yeoja itu menangis membuat Taehyung segera memeluk tubuh sang istri untuk menenangkannya.
...
Jungkook hanya bisa mengerucutkan bibirnya melihat pemandangan di depannya. Sementara Taehyung yang duduk di sebelahnya hanya bisa berusaha menenangkan Jungkook agar tak kesal berlarut-larut. Sementara sosok yang di tatap hanya bisa tertawa melihat ekspresi adik sepupunya itu yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Sudah.. Jangan ngambek gitu hahhaa.." goda Yoongi tanpa bisa menghentikan tawanya.
"Yak! Oppa! Kau sungguh menyebalkan! Aku kira.."
"Aishh kau saja yang sudah berpikiran negatif! Makanya jika aku berbicara, dengarkan sampai selesai dong! Hahaha.." balas Yoongi membuat Jungkook semakin mengerucutkan bibirnya.
"Kau menyebalkan oppa!"
"Sudah-sudah.. Jangan bertengkar seperti anak kecil. Kalian kan sudah sama-sama dewasa.." ujar Tuan Min dengan bijaknya.
"Benar. Lagipula apa kalian tidak malu bertengkar di depan anak bayi seperti itu, eoh?" Sambung Nyonya Min yang kini sibuk menimang-nimang cucunya. Yap, itu adalah anak dari Yoongi dan Jin yang terlahir dengan selamat!
"Habis oppa menyebalkan, imo! Salahkan oppa yang membuatku salah paham!" Jungkook mencoba membela dirinya.
"Itu sih kau nya saja yang suka berpikiran negatif! Jangan salahkan aku!"
"Yak!"
"Sudah-sudah.. Jangan bertengkar lagi, Kook.." ujar Taehyung dengan nada rendahnya sambil mengusap punggung Jungkook dengan lembut.
"Sekali lagi chukkae atas kelahiran putra kalian.." sambung Taehyung yang di balas seulas senyum lemah dari Jin yang masih terbaring lemah di atas ranjang dan anggukan kepala dari Yoongi.
"Lalu apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?" Tanya Tuan Min pada Yoongi.
"Tentu saja appa. Namanya, Min Yoonsan."
...
Sejak Jin tinggal di rumah sakit untuk masa pemulihan setelah melahirkan, Jungkook pun pada akhirnya kembali tinggal di apartmentnya bersama Taehyung. Dan hal itu tentu saja di sambut hangat oleh Taehyung. Ia senang bisa tinggal bersama satu atap dengan sang istri. Sungguh tinggal sendiri tanpa sang istri membuat hari-harinya sangat terasa sepi dan kacau.
Sepanjang perjalanan pulang dari apartment Jin, Jungkook hanya diam sambil menatap jalanan dari kaca mobil. Taehyung pun hanya diam fokus untuk menyetir. Suasana keduanya terasa sedikit tidak enak. Keadaan mereka sepertinya masih terasa mendingin.
"Aku ingin kimbap." Ujar Jungkook tiba-tiba.
"Ne?"
"Aku bilang, aku ingin kimbap!" Balas Jungkook dengan nada sedikit meninggi.
"Tapi bukankah kita baru saja makan jajjang-"
"Pokoknya aku ingin kimbap, sekarang!" Putus Jungkook akhirnya. Taehyung pun hanya bisa menghela nafasnya berat. Mood Jungkook memang tak terduga. Terkadang ia bisa menjadi sangat lembut dan manja dan terkadang ia juga akan menjadi egois dan seenaknya. Taehyung pun hanya memakluminya saja dan menganggap perubahan sifat istrinya itu masih wajar terlebih ia tahu istrinya masih kesal padanya akibat kejadian beberapa hari yang lalu.
"2 porsi kimbap dan teh oolong ya." Ujar Jungkook pada seorang pelayan saat mereka baru saja sampai di sebuah restaurant khas Korea yang letaknya tak jauh dari apartment miliknya dan Taehyung.
"Kookie-ya ap-"
"Wae? Kalau kau tidak mau menemaniku tak apa. Aku bisa pulang naik taxi nanti. Aku bukan anak kecil lagi dan aku bisa mengurus diriku sendiri jika kau tidak mau mengurusku." Balas Jungkook dingin.
"Kookie-ya! Cukup! Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini padaku? Mau sampai kapan kau mengacuhkanku? Apa segala permintaan maafku padamu selama ini masih kurang, hah?" Emosi Taehyung sedikit naik. Ia sudah tidak dapat meredam semua emosinya selama ini lebih lama. Dan perkataan Taehyung itu membuat Jungkook terdiam.
Taehyung yang sadar akan ucapannya yang sedikit kasar pun tersadar dan mencoba untuk merangkai kata-kata untuk meminta maaf. Bukan, bukan ini yang ingin ia ucapkan. Katakanlah ia bodoh karena tak bisa menahan emosinya. Tapi ia juga tidak bisa di perlakukan dingin seperti ini terus menerus oleh sang istri. Ia sudah cukup bersabar selama ini. Ya, ia sudah cukup bersabar...
"K-kookie-ya.. A-aku.."
"Hiks.." satu isakan pun lolos dari bibir Jungkook membuat Taehyung membulatkan matanya akibat terkejut. Apa kata-katanya sungguh terlalu kasar?
"K-kookie-ya.. A-aku tak bermaksud.."
"Hiks hiks.. Mi-mianhae.. hiks hiks" isak Jungkook dan sebulir air mata pun turun dari mata bulatnya.
"Kook-Kookie.."
"Huaaaaaa..." dan pada akhirnya tangis Jungkook pun pecah membuat beberapa pengunjung restaurant itu menatap penuh tanya ke meja tempat Taehyung dan Jungkook. Taehyung langsung panik saat Jungkook menangis. Sungguh ia sama sekali tak bermaksud untuk membuatnya menangis.
Taehyung jadi pusing sendiri. Mood Jungkook sungguh tak dapat di tebak. Baru semenit yang lalu Jungkook menangis hingga membuatnya panik. Dan kini ia malah terlihat senang menyantap kimbap nya tanpa berhenti tak memperdulikan jejak-jejak air matanya di pipi. Sungguh Taehyung benar-benar merasa Jungkook sungguh aneh.
"Ahhh kenyang..." ujar Jungkook setelah melahap potongan terakhir kimbapnya. 2 porsi kimbap itu sudah habis di lahap oleh Jungkook bahkan Taehyung pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat nafsu makan berlebih Jungkook selama beberapa hari kebelakang ini.
"Jadi, apa kita bisa pulang sekarang?" Tanya Taehyung yang langsung diangguki oleh Jungkook.
...
Jungkook segera merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur berukuran king size yang ada di kamar utama, kamarnya dan juga Taehyung. Beberapa hari tinggal di apartment Jin membuatnya jadi begitu merindukan kamarnya sendiri.
Tak lama, Taehyung pun menyusul masuk ke dalam kamar lengkap dengan membawa satu koper besar milik Jungkook. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya mengingat Jungkook akan kembali dan selamanya tinggal disini, di apartment mereka.
"Istirahatlah dulu. Aku akan menyiapkan air hangat di bathtub untukmu." Ujar Taehyung perhatian. Jungkook pun hanya diam tak membalas ucapan sang suami yang kini sudah hilang di balik pintu kamar mandi.
Hari bergulir begitu cepat. Langit yang semula masih berwarna biru pun kini berubah menjadi berwarna orange. Senja sudah menjelang. Jam di dinding pun sudah menunjukkan pukul 17.45 KST sudah hampir jam 6 sore. Jungkook meregangkan tubuhnya. Berlama-lama menghabiskan waktunya berendam di dalam bathtub cukup merilekskan tubuhnya. Dengan bathrobe berwarna putih, Jungkook keluar dari kamar mandinya.
Cklek
Jungkook membuka salah satu pintu lemari di dalam kamar itu. Namun bukan pintu lemari berwarna putih yang di bukanya melainkan pintu lemari berwarna hitam yang merupakan lemari tempat menyimpan baju-baju milik Taehyung.
Jungkook mengambil asal baju milik Taehyung dari dalam lemari besar berwarna hitam itu. Sebuah kaus berwarna putih dengan sebuah tulisan Hormone yang diambilnya. Tanpa banyak membuang waktu, Jungkook pun segera memakai kaus yang terlihat sangat kebesaran di dalam tubuhnya itu. Bahkan panjang kaus itu menutupi hingga setengah paha putihnya.
Jika ada yang bertanya kenapa Jungkook memakai baju milik Taehyung, jawabannya adalah ia pun tak tahu. Yang ia tahu ia hanya ingin memakai baju milik Taehyung. Apapun jenis baju itu karena menurutnya memakai baju Taehyung membuatnya nyaman. Aneh? Tentu saja sangat aneh.
Di ruang tengah, terlihat ada seorang namja yang sedang duduk santai dengan secangkir teh dan sebungkus popcorn menemaninya menonton sebuah film di layar datar di hadapannya. Wajah namja itu nampak serius di saat layar datar itu menunjukkan adegan action antara seorang pria yang mencoba mengarahkan pistolnya kepada seorang penjahat.
Tanpa di sadari, Jungkook pun ikut bergabung dengannya. Jungkook duduk tepat di sampingnya dengan duduk bersila hingga membuat paha putihnya terekspos dengan sempurna. Menyadari itu, Taehyung pun segera mengambil sebuah bantal yang ada di sofa dan memberikannya kepada Jungkook untuk menutupi paha putih nan menggodanya itu.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Taehyung dan pertanyaan Taehyung itu sontak membuat mata bulat Jungkook berbinar. Persis seperti seorang anak kecil yang senang di tawari sebuah permen cokelat.
"Chicken!" Ujar Jungkook sedikit berteriak. Dan Taehyung sedikit menyesali pertanyaannya tadi.
...
Entah sudah potongan ayam keberapa yang Jungkook lahap saat ini. Bahkan Taehyung yang tadi sibuk menonton film pun kini hanya menatap Jungkook yang terlihat sibuk dengan ayam-ayamnya. Yeoja itu sungguh terlihat lapar padahal jika di ingat, beberapa jam yang lalu ia sudah makan 2 porsi kimbap dan beberapa menit sebelumnya juga ia sudah memakan habis 2 porsi jjajangmyeon. Namun sepertinya sampai sekarang Jungkook sama sekali tak merasa kenyang.
"Ughh..." keluh Jungkook di sela-sela makannya.
"Wae? Ada apa?" Tanya Taehyung panik.
"Perutku akhh.. Appo.." Keluh Jungkook sambil memegangi perutnya.
"Mwo? Kita ke rumah sakit sekarang!" Putus Taehyung akhirnya.
Taehyung kini sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sakit besar. Ia segera turun dari mobil dan menggendong Jungkook dan segera di bawa ke dalam untuk segera di periksa.
"Sus tolong..." teriak Taehyung kepada salah seorang perawat yang ada di lorong rumah sakit.
Tak lama dengan sebuah ranjang beroda, Taehyung merebahkan tubuh Jungkook di atasnya. Perawat itu pun segera mendorong ranjang beroda itu ke dalam ruang UGD untuk segera di periksa.
Setengah jam sudah dokter berkacamata itu memeriksa kondisi Jungkook dan keadaan Jungkook sekarang sudah terlihat lebih baik. Ia sudah tak merintih sakit lagi setelah dokter menyuntikkan sesuatu. Sebelah tangannya pun sudah tertancam selang infus. Kini Jungkook terbaring di salah satu ranjang UGD.
"Lalu bagaimana dengan kondisi istri saya, dok?" Tanya Taehyung penasaran.
"Keadaan istri anda sejauh ini baik. Hanya saja.. Anda harus menjaga pola makan istri anda. Jangan biarkan istri anda makan makanan cepat saji terlalu sering dan terlalu banyak karena kandungan di dalam makanan itu tidak sehat dan sangat tidak di peruntukan untuk janin di dalam perut istri anda." Jelas dokter berkacamata itu. Sementara Taehyung hanya bisa membulatkan matanya mendengar ucapan sang dokter.
"A-apa dok? Ja-janin?" Ujar Taehyung tergagap.
"Ya, istri anda sedang mengandung saat ini. Dan usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 3. Selamat!" Jelas dokter itu lagi dan Taehyung benar-benar merasa shock sekarang. Sungguh kabar ini sangatlah mengejutkannya. Ia sama sekali tidak menyangka jika di dalam perut Jungkook kini sedang tumbuh jiwa baru yang merupakan darah dagingnya.
"Be-benarkah, dok? Is-istri saya sedang ha-hamil?"
"Ne. Selamat, Tuan. Dan seperti yang saya katakan tadi. Tolong jaga asupan makanannya dan jaga istri anda dengan baik. Karena usia kandungannya masih sangat rawan. Anda harus menjaga istri dan janin di dalam perut istri anda dengan sebaik-baiknya." Saran dokter itu lagi.
"Ne, dok. Saya pasti akan menjaga istri saya dengan baik. Terima kasih dok, terima kasih." Ujar Taehyung dengan perasaan senang yang tak terbendung.
...
Senyum tak pernah lepas dari wajah Taehyung saat ini. Kabar kehamilan Jungkook benar-benar membuatnya bahagia. Sungguh ia memang menanti-nantikan saat seperti ini. Ia bahkan sudah mengabari kabar ini kepada kedua orang tuanya dan kedua mertuanya dan reaksi dari mereka pun tak kalah dari Taehyung. Mereka merasa senang karena mendapat kabar jika mereka akan segera mendapatkan cucu pertama mereka. Bahkan tak sabar menunggu cucu mereka segera lahir ke dunia.
Jungkook mulai mengerjapkan matanya. Sepertinya efek obat yang tadi di suntikkan oleh dokter sudah menghilang. Taehyung pun tersenyum saat melihat Jungkook yang sudah mulai sadar.
"Aku dimana?" Tanya Jungkook dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Di rumah sakit. Jangan terlalu banyak bergerak. Berbaringlah.." balas Taehyung lalu membetulkan posisi Jungkook agar kembali terbaring.
"Aku sudah tidak apa-apa. Kajja! Aku ingin pulang.."
"Aniya. Dokter bilang kau harus di rawat semalam disini. Besok kau baru boleh pulang."
"Tapi aku kan tidak kenapa-kenapa.."
"Stt dengarkan saja apa yang dikatakan dokter. Istirahatlah disini. Aku akan menungguimu."
Sejujurnya, Jungkook benci rumah sakit. Ia sangat benci dengan bau obat-obatan yang menyengat seperti ini. Terlebih pergerakan tangannya jadi terbatas akibat selang infus yang menancap di punggung tangan sebelah kanannya. Dan kondisi seperti ini mengingatkannya pada masa 'itu'.
"Kookie-ya.." panggil Taehyung.
"Ne? Ada apa?"
"Apa kau tahu sesuatu? Kita baru saja mendapat kabar gembira."
"Kabar gembira? Apa?"
"Di dalam sini, ada aegya kita." Ujar Taehyung sambil mengelus perut Jungkook. Mendengarnya, Jungkook pun hanya bisa membelalakkan matanya.
"Ae-aegya?"
"Hmm. Dan dokter bilang, perubahan pada pola makanmu sekarang ini pengaruh dari aegya kita. Moodmu juga begitu."
"Ja-jadi.. aku hamil?"
"Ne. Kau hamil. Dan disini ada aegya kita."
"Jinjja?" Jungkook tak dapat membendung air mata bahagianya. Ia senang sungguh senang. Ia sudah lama menantikan saat seperti ini dan dia sangat bersyukur Tuhan kembali mempercayakan satu jiwa yang tumbuh di dalam rahimnya.
"Apa kau bahagia?"
"Tentu saja! Aku janji aku akan menjaganya dengan baik kali ini. Aku janji! Aku tidak ingin kehilangannya lagi.." isak Jungkook di dalam pelukan Taehyung.
"Aku juga berjanji akan menjaga kalian. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan kalian. Aku janji." Ujar Taehyung sungguh-sungguh. Sekelibat bayangan masa lalu kembali terlintas di benaknya dan ia sangat menyesalinya saat itu.
...
Usia kandungan Jungkook semakin lama semakin membesar. Dan bulan ini sudah memasuki bulan ke 5. Semenjak hamil, berat badan Jungkook pun naik drastis terlebih mengingat nafsu makan berlebihnya yang masih tak hilang juga padahal ia sudah melewati masa ngidamnya. Moodnya juga sudah tak seburuk seperti di awal kehamilan.
"Eonnie.. apa aku boleh menggendong Yoonsan?" Tanya Jungkook pada Jin yang terlihat sibuk menggendong putra kecilnya yang terlihat baru saja bangun dari tidurnya.
"Ehh jangan.. Perutmu itu sudah semakin membesar dan tentunya sudah sangat berat apalagi di tambah menggendong Yoonsan. Jangan, jangan. Aku tidak mau di ceramahi oleh Taehyung mengijinkanmu menggendong Yoonsan." Tolak Jin.
"Tapi kan eonnie.. Aku kan gemas dan ingin menggendong Yoonsan juga. Anggaplah latihan untuk menggendong anakku nanti." Rajuk Jungkook lengkap dengan puppy eyesnya.
"Demi Tuhan Kook! Aku tidak ingin mengambil banyak resiko. Lagipula, dokter juga menyarankan kan kalau kau jangan terlalu banyak mengangkat yang berat-berat dan sering-sering bergerak." Jin bukannya melarang hanya saja ia tidak mau membuat Jungkook kesulitan. Apalagi jika melihat perutnya yang sudah sangat-sangat terlihat besar itu. Lebih besar dari perut wanita hamil 5 bulan kebanyakan bahkan terlihat seperti 7 bulan.
"Eonnie..."
"Sudahlah, Kook.. Oh ya lalu kalian sudah memeriksa kandunganmu kan? Bagaimana? Ia baik kan?" Tanya Jin penasaran.
"Hmm aegya kami baik-baik saja, eon. Bahkan dokter bilang aegya kami ini sangat besar dan tumbuh sehat di dalam sini." Balas Jungkook dengan raut bangga sekaligus senang.
"Baguslah. Lalu yeoja atau namja?"
"Hmm untuk itu, kami sengaja tidak ingin mengetahuinya. Kami ingin kejutan saat nanti ia lahir."
"Wahh Yoonsan juga pasti sudah tidak sabar menunggu temannya lahir."
"Ne. Aku harap ia juga segera lahir. Eomma bahkan eommonim juga sudah tak sabar menimang cucu mereka. Eonnie tahu betapa bahagianya eomma dan eommonim saat Taetae memberitahukan kehamilanku?"
"Ne, ne, ne aku sudah mendengarnya dari Taehyung. Aegya kalian pasti sangat sangat di sayang oleh kedua heolmoni dan harabeojinya."
"Ne, eonnie.."
...
Jungkook kini sedang merebahkan dirinya di sofa ruang tengah sambil menoton sebuah acara khusus untuk para ibu hamil. Jungkook mendengarkan dengan seksama tips-tips kehamilan yang di berikan di acara tersebut sambil melahap beberapa potong apel dan stawberry. Sekitar sejam yang lalu Jin dan Yoonsan pamit pulang membuatnya harus kembali sendirian di apartment.
"Auu.." Jungkook meringis saat merasakan rasa sakit di perutnya.
"Kau sedang apa di dalam sana, nak?" Tanya Jungkook setelah merasakan adanya sebuah tendangan di dalam perutnya.
"Cepatlah tumbuh dan cepatlah lahir. Eomma, appa, heolmeoni, harabeoji dan semuanya sudah tidak sabar ingin melihatmu lahir." Ujar Jungkook seraya mengelus perutnya perlahan. Dan ia kembali merasakan sebuah tendangan kecil sebagai respon dari ucapannya tadi. Ia sangat senang.
...
Ruangan bernuansa hijau dan putih itu terlihat sangat lucu dengan banyaknya pernak-pernik serta beragam kebutuhan bayi. Ruang kamar yang awalnya di gunakan sebagai kamar tamu, kini sudah di sulap menjadi kamar bayi lengkap dengan sebuah boks bayi berukuran besar yang berada di dalam kamar itu. Beragam foto USG yang di bingkai pun terlihat memenuhi salah satu sudut kamar itu.
Jungkook tersenyum melihat kamar bayi yang ia dan Taehyung sudah siapkan. Usia kandungan Jungkook pun tak terasa semakin lama semakin bertambah besar bahkan sudah mendekati proses persalinan. Semua keperluan dan kebutuhan untuk bayi pun sudah mereka persiapkan dengan matang. Bahkan satu lemari pakaian bayi yang masih baru pun sudah mereka siapkan.
"Apa kau bahagia, Kook?" Tanya Taehyung yang kini sedang memeluk erat Jungkook dari belakang.
"Tentu saja. Bukankah ini yang kita inginkan? Dan aegya kita sebentar lagi akan segera lahir. Aku tidak sabar menunggunya untuk segera lahir." Balas Jungkook sambil mengusap sebuah foto USG terakhir aegya mereka beberapa hari yang lalu.
"Aku juga. Dan ia pasti akan menjadi cucu kesayangan eomma dan eommonim."
"Tentu saja. Eomma dan eommonim kan memang sudah tidak dapat bersabar lagi menunggu cucu mereka lahir." Balas Jungkook dengan sedikit terkekeh kala mengingat perkataan eomma dan eommonim mereka.
"Akhh.." keluh Jungkook membuat Taehyung terkejut.
"Kook? Gwenchana?"
"Akhh pe-perutku.." Jungkook memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Waeyo? Apa perutmu sakit?"
"Akhh appo hiks appo.." isakan pun mulai terdengar dari bibir pink Jungkook. Tanpa banyak berpikir, Taehyung pun langsung menggendong tubuh Jungkook.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
...
Taehyung berjalan mondar mandir di depan pintu ruang operasi. Ia sungguh khawatir dengan keadaan Jungkook dan bayi mereka di dalam sana. Dokter sedang menangani operasi caesar Jungkook dan Taehyung tak diijinkan untuk masuk dan melihat membuat Taehyung gusar setengah mati. Dokter memang sempat memperingatkan jika Jungkook akan melakukan caesar ketika melahirkan namun tidak secepat ini. Aegya mereka dilahirkan secara premature seperti ini.
Tak berapa lama, dua langkah kaki terdengar mendekat. Yoongi bersama Jin baru saja tiba di depan ruang operasi. Wajah mereka berdua pun menampakkan raut khawatir.
"Bagaimana?"
"Entahlah. Dokter sedang menanganinya di dalam." Balas Taehyung dengan nada dan ekspresi khawatir yang sangat kentara.
"Tenanglah. Semua pasti akan berjalan dengan lancar." Ujar Yoongi menenangkan.
Taehyung pun sudah mengabari kedua orang tua dan mertunya membuat mereka terkejut dan langsung memutuskan untuk segera kembali ke Seoul. Mereka khawatir sekaligus tak sabar melihat cucu mereka terlahir di dunia.
Cklek
Pintu ruang operasi itu pun terbuka dan menampakkan seorang dokter lengkap dengan pakaian berwarna hijau khas pakaian operasi menghampiri Taehyung. Menyadarinya Taehyung pun segera bertanya akan kondisi Jungkook dan aegya mereka.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya dan bayi kami?" Tanya Taehyung dengan raut penasaran.
"Operasi berjalan lancar. Keadaan istri anda juga stabil. Selamat anda mendapat bayi kembar dan keduanya laki-laki." Ujar dokter itu membuat Taehyung membelalakan matanya.
"Kembar? Laki-laki?" Tanyanya tak percaya. Yoongi dan Jin yang mendengarnya pun turut senang.
"Tapi..."
"Tapi? Salah satu bayi anda..."
"Ada apa, dok?"
"Maaf.. Kami tak bisa menyelamatkannya..." dan seketika senyuman di wajah Taehyung pun menghilang.
...
4 tahun kemudian...
Seorang namja cilik bermata bulat dan berpipi chubby terlihat sedang sibuk dengan buku gambarnya. Ia sedang duduk di atas karpet di ruang tengah apartment. Namja cilik itu terlihat sedang asik mewarnai sesuatu di buku gambarnya seorang diri bahkan ia sampai tidak menyadari ada seseorang yang baru saja memasuki pintu apartment.
"Lihat, jagoan appa ini sedang apa, hmm?" Ujar Taehyung membuat namja cilik itu sedikit terkejut dan segera menolehkan kepalanya saat mendengar suara familiar sang appa.
"Appa!" Teriaknya riang dan langsung berlari menghampiri Taehyung.
"Aigoo kau makin bertambah berat saja, Joon-ah." Ujar Taehyung sambil mengecup kedua pipi jagoannya itu.
"Tentu saja! Eomma kan selalu memberikanku makanan yang enak!" Balas namja cilik itu dengan polosnya.
"Lalu dimana Yeong-ah? Kenapa kau sendirian disini? Apa kau tidak mengajak Yeong-ah?" Tanya Taehyung.
"Taeyeong ada di kamar appa. Sedang belajar matematika." Jawab Taejoon yang di balas anggukan kepala dari Taehyung.
Kim Taejoon dan Kim Taeyeong adalah anak kembar Taehyung dan Jungkook. Taejoon lahir 3 menit lebih dulu di bandingkan kembarannya, Taeyeong. Saat lahir, Taeyeong memiliki kondisi yang lemah bahkan dokter dulu sempat memvonisnya jika bayi Taeyeong sudah meninggal. Namun keajaiban muncul saat Taehyung melihat sosok mungil putra bungsunya itu. Bayi Taeyeong mungil itu bergerak bahkan menangis saat Taehyung mengendongnya. Mengetahuinya dokter dan perawat yang ada pun segera menangani bayi Taeyeong.
Meski Taejoon dan Taeyeong merupakan saudara kembar, namun keduanya memiliki beragam perbedaan. Jika Taejoon memiliki mata bulat seperti Jungkook, Taeyeong justru memiliki mata sipit dan tajam seperti Taehyung. Dan sifat mereka pun berbeda. Jika Taejoon merupakan anak yang aktif dan tidak bisa diam, Taeyeong justru kebalikannya. Taeyeong merupakan sosok anak yang pendiam dan pemalu membuat mereka mudah sekali di kenali. Meski memiliki perbedaan, namun ikatan batin diantara kedua anak kembar itu cukup kuat. Terbukti jika salah satu di antara mereka sedang sakit, yang lain pun pasti ikut sakit.
Taehyung melangkahkan kakinya menuju ke kamar dengan pintu berwarna hijau, kamar dimana kedua jagoannya tidur. Taejoon pun masih betah berlama-lama di dalam gendongan Taehyung. Ia memang sangat dekat dengan sang appa.
"Taeyeong-ah.." panggil Taehyung membuat sosok namja cilik yang awalnya sibuk membaca buku, kini menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar yang terbuka dan menampilkan sosok Taehyung, sang appa.
"Ne, appa?" Tanya Taeyeong dengan kalemnya.
"Kau sedang belajar, hmm?"
"Ne, appa."
"Belajar apa?" Tanya Taehyung yang kini sudah mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.
"Matematika, appa." Jawab Taeyeong singkat, sangat khas dirinya.
"Joon-ah bingung sama Yeong-ah. Apa asiknya belajar matematika seperti itu. Bukankah lebih asik menggambar, appa?" Ujar Taejoon.
"Matematika dan menggambar itu sama-sama menyenangkan. Tergantung dengan diri kalian menyukai yang mana." Ujar Taehyung memberi pengertian kepada kedua jagoannya.
"Lalu appa sendiri lebih suka matematika atau menggambar?" Tanya Taejoon lagi. Sementara Taeyeong hanya diam mendengarkan pembicaraan antara appa dan kakak kembarnya.
"Kalau appa? Hmm appa suka.."
"Joon-ah, Yeong-ah kajja kita makan malam! Eomma sudah membuatkan sup rumput laut kesukaan kalian." Teriak Jungkook dari dapur yang letaknya tak jauh dari kamar anak kembar itu.
"Sup rumput laut! Yeyy!" Teriak Taejoon semangat dan segera berlari keluar dari kamar menuju ke ruang makan.
"Yeong-ah kajja kita makan bersama." Ujar Taehyung yang di balas anggukan kepala dari Taeyeong. Melihatnya, Taehyung pun hanya bisa tersenyum dan sedikit mengusak rambut sang anak.
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
Apa-apaan ini? End dengan tidak elitenya! Hahhh mianhae readersdul.. apa cerita ini makin gaje? Huahh mianhae.. jeongmal mianhae jika chap ini benar-benar mengecewakan T.T
Aku udah berusaha untuk melanjutkan chap ini dan yah beginilah hasilnya jauh dari kata-kata bagus T.T mianhae...
Oh ya chap ini benar-benar ending dari cerita nya dan aku open req bagi kalian readersdul yang ingin minta series dari cerita ini. Mungkin ada yang minta Taejoon dan Taeyeong di kasih dede bayi lagi? Atau mungkin ada yang minta cerita anak kembar TaeKook yang mulai masuk remaja? Hmm boleh kalo ada yang minta hehe
Jeongmal jeongmal gomawo untuk semua readers yang udah setia membaca, memfollow, memfavorite dan mereview FF ini.. kalo gak ada dukungan dari kalian, aku yakin mungkin FF ini gak akan berlanjut.
Akhir kata, terima kasih untuk segala waktu yang telah di luangkan untuk membaca FF aku.. Terima kasih untuk dukungan yang sudah di berikan. Baca terus FF aku yang lainnya ya.. Annyeong.. Sampai jumpa di FF lainnya^^
