The Player
By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, and others
Pair: HunHan
Genre: RomCom(?)
Rate: T
Chapter: 2
A/N:
GAK TERASA, UDAH ADA 30+ FF YANG UDAH IKUTAN 'HUNHAN BUBBLE TEA COUPLE' EVENT.
KARENA ITU, LIYYA MAU NGUCAPIN BAAAAAAAAAAAAAAAAAAANYAK TERIMA KASIH BUAT SEMUA AUTHOR YANG MAU IKUT BERPARTISIPASI DAN MERAMAIKAN EVENT INI!
#BIGHUG
.
.
Note: Semua cast di sini, Liyya cuma pinjem namanya aja. Cerita ASLI milik Liyya. Kalau ada kesamaan dengan cerita lain, itu murni hanya sebuah kebetulan.
Warning: Romance gagal, cerita abal-abal, ide cerita pasaran -_- typo(s) dimana-mana, feel ngawang(?) alias gak dapet *trus ngapa masih ditulis n di-post -_-* #Liyyanyengir XD
.
.
HAPPY READING^^
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Sudah bertemu dengan The Player, Oh Sehun, kan?
Bagaimana kesannya?
Dia tampan? Dia baik? Dia ramah? Dia narsis?
Yaaaaah, itulah Oh Sehun! Oh Sehun yang ramah. Oh Sehun yang narsis. Oh Sehun yang tampan. Oh Sehun yang baik hati. Oh Sehun yang sepertinya -mungkin- sedang terjangkit virus merah jambu.
Dan sepertinya lagi, dia juga *ehem* mengikuti jejak ketiga Hyungnya. Bagaimana tanggapan mereka?
'Ohooooooo! Selamat datang ke dunia kami, Magnae. Tenang saja, nanti Hyung akan memberi petunjuk jika kau tersesat!' ujar Chanyeol. Apa maksud dari ucapan itu? Hanya Chanyeol dan pemikiran absurd-nya yang tahu.
'Sehun sudah menemukan tambatan hatinya? Hmmmm, baguslah! Semoga setelah ini jalan hidupnya tidak keriting seperti rambut Chanyeol!' Kris hanya memberi tanggapan singkat.
'Ah~ Uri magnae akhirnya mendapatkan cinta sejati!' Suho mengusap airmata tak kasat mata di kedua pipinya. Yaaa, tahu sendiri kan kalau Suho selalu berhubungan dengan kata 'lebih'. Dan terkadang, dia juga suka memberi respon 'berlebihan' terhadap suatu masalah. Apalagi jika hal itu ada kaitannya dengan dongsaeng yang paling ia sayangi itu.
Lain trio Hyung. Lain pula tanggapan mantan-mantan Sehun (read: kekasih ChanKrisHo). Menurut mereka...
'Sehun jatuh cinta? Haah! Jangan membuat perutku sakit karena tertawa terlalu keras!' - namja 1, kekasih Chanyeol.
'Sehun? Oh Sehun? Yang mana? Ah~ Pangeran kampus itu ya?' - namja 2, kekasih Kris.
'Jadi, Sehun benar-benar sudah terjangkit virus merah jambu?' - namja 3, kekasih Suho membulatkan matanya tak percaya.
Yaaaaaah. Memang sulit untuk percaya berita mengejutkan ini. Bahkan yang bersangkutan pun tak percaya.
Sehun sendiri juga masih belum sadar akan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Apa yang sedang dirasakannya pada si namja Taro. Magnet jenis apa yang dimiliki Luhan sehingga selalu berhasil menarik perhatiannya. Maklum saja, selama ini, Sehun hanya terbiasa 'dikagumi' oleh fans-nya. Jadi, dia masih belum terbiasa untuk 'mengagumi'. Kata 'mengagumi' itu, masih terasa begitu asing untuk seorang Oh Sehun. Setidaknya, untuk saat ini.
Sehun, The Player.
Luhan, si namja Taro.
Dan kisah mereka pun, berlanjut.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Cklekk
Blamm
Seorang namja tampan menutup pintu apartemen pelan. Langkahnya begitu ringan saat memasuki tempat tinggal yang telah dihuninya beberapa tahun terakhir. Tatapan tajamnya sama sekali tak berpaling dari ponsel di tangan. Lengkap dengan senyum kemenangan yang terus terkembang di wajah tampannya. Seorah baru mendapatkan hadiah undian jalan-jalan ke Disneyland berdua dengan Miranda Kerr.
Dia,
Oh Sehun.
Si 'Pangeran' narsis yang baru saja mendapatkan sesuatu yang telah diincarnya selama beberapa hari terakhir. 'Ah~ Walau bagaimana pun, pesona seorang Oh Sehun memang tak akan pernah pudar!' batinnya. Masih tetap confident seperti biasa.
Sehun sama sekali tak menatap ke sekeliling ruangan. Berjalan lurus menuju kamar tidur sambil masih menatap sebuah pesan yang ia terima beberapa menit lalu. Tak menyadari tatapan aneh yang ditujukan padanya dari dua namja berbeda keberuntungan yang tengah duduk santai di sofa. Dan jelas tak menyadari tatapan jahil seorang namja rambut mie yang tengah berjalan ke arahnya dari arah samping.
"Aku baru tahu kalau melihat ponsel bisa membuatmu sebahagia itu, Magnae!"
"WHOAAA!" Kalimat yang tiba-tiba terdengar di telinga kanannya sukses membuat Sehun terkejut setengah mati dan sontak menjatuhkan ponsel yang ia pegang. Salahkan saja pikirannya yang sedang tak di sana saat itu.
"Yaaaaak! Kau mengagetkanku, Hyung!" ujar Sehun sewot sembari memungut ponsel yang sempat terjatuh dari tangannya. Membolak-balik benda itu untuk memeriksa kalau-kalau ada kerusakan yang telah dialaminya. Untung saja ponsel itu adalah ponsel mahal. Atau dia bisa saja mengucapkan selamat tinggal pada nomer si Namja Taro yang baru saja ia dapatkan.
Ah~ Tidak, tidak. Bukan Namja Taro lagi. Tapi Luhan!
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya setelah yakin kalau ponselnya baik-baik saja.
Chanyeol tersenyum bodoh. "Aku kan hanya mengikuti para tetua!" ucapnya santai. Menunjuk ke arah sofa dengan dagunya.
Alis Sehun terangkat medengar jawaban itu. Matanya mengikuti arah dagu Chanyeol dan langsung bertemu pandang dengan dua Hyung lain yang tersenyum padanya sembari melambaikan tangan. "Yaaaaaaaaaaaaaakk! Apa yang kalian lakukan di apartemenku? Apa kalian tidak punya tempat tinggal?!"
Kris menggaruk telinganya yang baru saja disambar teriakan merdu Sehun. "Aigooo! Tidak perlu terlalu antusias, Magnae. Kami tahu kalau kau kesepian, makanya kami mampir," jawabnya santai.
"Tch! Kalian pikir aku tidak tahu?" Sehun berdecih mengejek. "Kalian pasti ditinggal oleh kekasih kalian, kan?" tebaknya kemudian mendudukkan tubuhnya di antara Suho dan Kris.
"Katakan padaku, Hyung. Kali ini trio bebek itu pergi ke mana lagi, hmmmm? Kalian ditinggal kemana lagi?" Sehun bertanya dengan nada mengejek. "Kalian sih Hyung! Mengapa kalian bertiga malah memacari trio bebek itu. Sudah tahu mereka selalu bersama!" cibirnya.
Pletakk
Suho menjitak sayang kepala Sehun. "Siapa yang kau sebut trio bebek, eoh? Dasar mag—" Tiba-tiba saja Suho menghentikan kalimatnya. Mengendus-endus ke sekitarnya saat mencium aroma tak senonoh yang dengan seenaknya menembus pertahanan bulu hidungnya. Dan bau itu, ternyata berasal dari—
"Yaaaaaaaaaaaaaaaaakk! Oh Sehun! Kenapa kau bau sekali?" teriak Suho geli sembari menutup hidungnya.
"Howeeeeeeeeek! Kau seperti bau limbah dari belakang kafe!" sahut Kris.
"Iiiisssshhhh! Kau habis mandi sampah ya?" Chanyeol tak mau kalah, mendudukkan tubuh jangkungnya. Namun detik kemudian namja keriting itu beralih menatap Kris. "Hyung! Bagaimana kau tahu kalau limbah di belakang kafe itu baunya seperti ini? Memangnya kau pernah menciumnya?" tanyanya tak penting.
Sehun memijit kepala melihat ulah ketiga Hyung-nya itu. Tapi...
*sniff sniff*
Namja tampan itu meletakkan ponsel ke atas meja dan ikut mengendus-endus tubuhnya. Menyambut harum menyengat yang menguar dari sana. Dan seketika, ekspresi wajahnya langsung berubah seperti orang yang hendak muntah.
"Badan bau begitu, bagaimana kau sama sekali tidak menyadarinya? Kau malah datang dengan tersenyum seperti orang gila."
Mendengar pertanyaan Kris, Sehun kembali tersenyum penuh kemenangan. "Hohoooooo. Aku baru saja meraih mimpiku, Hyung!" jawabnya seraya mengusapkan jempol kanannya ke hidung dengan bangga. "Mimpiku yang dicuri! Aku berhasil mendapatkannya kembali!"
Kris, Suho, dan juga Chanyeol tercengang horor mendengar jawaban Sehun. "Aku senang, Hyuuuuung! Yuhuuuuu!" teriak Sehun girang. "Yu—"
Jdukk
"Iiisss! Aku tidak perduli! Cepat mandi sana!" Suho menendang bokong Sehun. Masih sambil menutup hidungnya.
"Iya iyaaaa!" sahut Sehun jengkel. "Aiiiissshhh! Ini semua gara-gara yeoja-yeoja centil yang mengejarku tadi!" gerutunya seraya bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Sesekali masih mengendus tubuhnya yang memang berbau tong sampah itu.
Tapi, mengapa dari tadi dia tidak menyadari bau aneh ini?
Melempar baju baunya ke tong sampah (karena tidak mungkin dia akan memakai baju bangkai itu lagi), Sehun menghidupkan keran dan mengisi bathtub dengan air hangat. Berendam beberapa saat sepertinya bisa menyegarkan dan menetralkan tubuhnya dari bau sampah yang menempel. Mengembalikan harum tubuhnya yang selalu dipuja-puja itu.
Ketika dia keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian dalam keadaan bersih, wangi, harum, dan tampan seperti biasanya, ketiga malhluk yang ia panggil 'Hyung" itu sudah tak lagi di sana. Meninggalkan ruang tamu apartemennya dalam keadaan bersih. Diulangi: DALAM KEADAAN BERSIH.
Sehun mengernyitkan kening. Merasa aneh. Biasanya, jika ketiga Hyung itu sudah berkunjung ke rumahnya, mereka hanya akan meninggalkan sampah-sampah minuman kaleng, bungkus snack dan popcorn yang berserakan di lantai saat pulang. Tapi hari ini?
Hhhhhhh. 'Tumben sekali mereka membersihkan jejak,' pikir Sehun.
Namja itu lalu mengerdikkan bahunya acuh. Mengambil ponsel yang tertinggal di atas meja dan kembali ke kamar. Tanpa rasa curiga sedikit pun. Perasaan bahagia karena akhirnya ia berhasil mendapatkan kembali mimpinya yang telah dicuri menggeser semua pikiran-pikiran buruk yang ingin menyapa. Sehun merebahkan tubuh di atas kasur king size miliknya dan mulai melakukan rutinitas-pulang-kuliah yang beberapa hari ini tak lagi ia lakukan.
Bermain game.
'Besok, aku akan langsung menerima orang pertama yang akan memintaku untuk menjadi kekasihnya!' batinnya ceria.
Well, sepertinya kondisi hati Sehun memang sedang amat sangat baik hari itu.
~HunHan Bubble Tea Couple~
"Baekhyun Hyung! Malam ini jatahmu membersihkan meja makan dan mencuci semua piring kotor!"
Teriakan 5 oktav Kyungsoo terdengar menggema di seluruh penjuru apartemen BaekSooLayHan. Salahkan Baekhyun yang dengan seenaknya ngeloyor pergi setelah makan malam tadi. Namja eyeliner itu, memang selalu berusaha untuk menghindari tugas gilirannya. Meski tak pernah berhasil, karena ia selalu berakhir dengan telinga yang dijewer Kyungsoo, tapi ia tetap berusaha.
Entah apa sebenarnya tujuan Baekhyun. Menghindari beres-beres, atau hanya sekedar membuat teman sekamarnya itu mencak-mencak karena kesal.
Luhan terlihat tidak terlalu bersemangat. Mengabaikan ribut-ribut yang diciptakan BaekSoo dan berjalan lurus ke kamar. Jemari lentiknya langsung meraih ponsel di atas nakas begitu tiba di dalam kamar, dan kembali meletakkan benda mungil itu setelah mendesah kecewa.
Sejak pulang dari kafe tadi, sudah berulang kali Luhan memeriksa ponselnya. Bahkan hingga sekarang, setelah beberapa jam berlangsung. Setelah dia selesai membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur, Luhan masih sibuk dengan ponsel ber-cover 'Hello Kitty' miliknya (meski dicap tidak manly, tapi ia terlalu menyukai kucing manis itu). Memeriksa kalau-kalau ada pesan baru yang masuk.
"Mwoyaaaa! Bahkan sampai sekarang pun tidak ada balasan sama sekali? Jadi dia benar-benar hanya ingin tahu namaku saja? Hanya begitu saja?" gumamnya sewot. "Jika seseorang mengirimkan pesan padanya, bukankah seharusnya dia membalas pesan itu?! Paling tidak, sebuah ucapan terima kasih!" gumam Luhan lagi. Sama sekali tak menyadari tatapan aneh dan penuh aura curiga dari teman sekamarnya.
Bukannya dia sangat berharap kalau Sehun mau membalas pesannya dan mereka bisa berhubungan lebih lanjut. Sama sekali bukan. Tch! Diberikan hadiah boneka Hello Kitty super jumbo pun, Luhan tidak sudi berhubungan dengan namja narsis itu. Hanya saja, seharusnya Sehun mengucapkan sesuatu padanya, kan? Hanya sedikit konfirmasi agar Luhan yakin, kalau dia tidak mengirimkan pesan ke nomer yang salah.
Itu saja!
"Lu Ge!" tegur Lay dari atas kasurnya yang berjarak hanya dua meter dari kasur Luhan. "Apa terjadi sesuatu di kafe sebelum kami datang tadi?" tanya namja berlesung pipit itu penasaran. "Tadi kau juga bersikap aneh dan senyam-senyum sendiri di depan kafe waktu kami datang. Dan sekarang kau malah marah-marah pada ponselmu!"
"Aniyo! Tidak ada apa pun tadi!" jawab Luhan asal dengan nada tak bersemangat. Masih menatap layar ponselnya.
Lay semakin memicingkan mata mendengar jawaban Luhan. "Eiiiiiyyhh! Kau tidak bisa berbohong, Ge! Lihat itu! Telingamu memerah setiap kali kau berbohong! Hidungmu juga kembang-kempis." cibir Lay. "Katakan padaku, Ge! Apa kau bertemu dengan seseorang tadi di kafe? Hmmmmm, sepertinya aku ingat kau menyebutkan sesuatu tentang 'namja aneh' tadi!" lanjutnya dengan memasang pose berfikir.
Luhan menrutuk dalam hatinya. Aiiisshh! Mengapa penyakit pikun Lay bisa sembuh jika menyangkut hal-hal seperti ini?
"Aaaaaaaaaaaa!" Tiba-tiba Lay berteriak. Sebuah ide muncul di kepalanya. Namja itu segera turun dari kasurnya dan berjalan menuju kasur Luhan. Mendudukkan bokong tipisnya di sana. "Apa kau sedang menunggu pesan dari 'namja aneh' itu, Ge?" tebak Lay. Menaik-turunkan alis untuk menggoda Gege-nya itu.
Bluussshhh
Luhan tergagap. Wajahnya merona. Matanya mengerjap tak jelas.
Jduukk
Lay tersungkur di bawah kasur Luhan. "Aku pernah bilang kalau aku tidak suka ada yang duduk di atas kasurku, kan?! Tidak ada pengecualian, Tuan Zhang!" ujar Luhan setelah memberi tendangan maut untuk Lay. "Dan satu lagi! Tidak ada yang terjadi di kafe tadi siang! Dan aku juga tidak sedang menunggu pesan dari siapa pun! Sudah sana tidur!"
Setelah mengucapkan itu, Luhan mematikan lampu meja dan merebahkan tubuhnya. Memunggungi Lay kemudian menarik bed cover hingga menutupi bahu. Untuk terakhir kalinya malam itu, Luhan melirik ponselnya yang masih sepi.
'Tch! Dasar bocah narsis sombong! Awas saja! Kalau kita berjumpa lagi nanti!' rutuk namja manis itu kesal dalam hati sebelum memejamkan matanya.
Mengabaikan Lay yang tengah mengusap-usap bokong tipisnya dan memandangnya semakin curiga. Luhan yang salah tingkah seperti ini jarang sekali terjadi. Bahkan selama mereka bersahabat, hampir tidak pernah. Lagi pula, bertahun-tahun tinggal dengannya, Lay hapal sekali kebiasaan namja yang selalu tersenyum manis itu.
Lu Ge yang ia kenal, tidak penah mematikan lampu meja-nya saat tidur.
'Pasti ada sesuatu!' pikir Lay yakin. Dalam hati, namja pikun itu membuat mental note untuk merundingkannya dengan Baekhyun dan Kyungsoo besok pagi.
Itu pun, kalau penyakit pikunnya tidak kambuh.
.
.
Di tempat lain
Sehun membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Matanya sudah terpejam sedari tadi, namun mimpi itu tetap tidak mau menyambutnya. Padahal dia sudah mematikan lampu kamarnya. Dia juga sudah memutar musik super mellow mendayu-dayu yang biasanya selalu berhasil membuatnya tertidur.
Tapi nihil.
'Aiissshhh!' Sehun menyingkap selimutnya dengan perasaan kesal dan bangun dari posisi tidurnya.
Pukul 00.15
Seharusnya dia sudah berada di dunia lain sekarang. Seharusnya dia sudah bermimpi indah. Dia sudah mengetahui nama namja Taro itu. Dia sudah mengobati rasa penasarannya. Bahkan dia dapat plus-plus nomor telfon namja itu. Lalu, mengapa dia masih tidak bisa tidur dengan nyenyak? Apa yang salah?!
AH~ Sehun teringat sesuatu. Nomor telfon itu!
Dengan secepat kilat, Sehun langsung turun dari kasur untuk mengambil ponsel. 'Pasti gara-gara ini!' pikirnya seraya tersenyum PEDE. "Pasti namja Taro itu tengah memikirkanku dan sedang bertanya-tanya mengapa sampai sekarang aku tidak juga membalas pesannya!" gumamnya kemudian terkekeh sendiri. Begitulah Oh Sehun jika penyakit narsisnya kambuh.
"Hahahahaha. Pasti dia sedang menunggu-nunggu pesan dariku sekarang. Makanya aku tidak bisa tidur!" ucapnya LEBIH PEDE LAGI.
Namun senyum itu hanya berlangsung lama. Tawa itu hanya bertahan sesaat saja. Karena detik berikutnya, alis Sehun terangkat. Keningnya berkerut. Matanya berkedut. Hidungnya kembang-kempis saat meneliti satu per satu pesan masuk di ponselnya.
"MWOYAAAAAAAA! KENAPA PESAN ITU TIDAK ADA?!" pekik Sehun histeris.
Tangannya bergerak lincah mencari pesan itu di mana-mana. Harusnya pesan itu berada di urutan paling atas dalam folder 'kotak masuk' di ponselnya. Seharusnya Sehun langsung bisa mengenali pesan dari namja Taro alias Luhan karena itu satu-satunya pesan dari nomor yang belum disimpannya.
Tapi...
Mengapa pesan itu bisa lenyap?
Sehun mengacak rambutnya. Frustasi dan kesal bercampur jadi satu. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa jangan-jangan pesan itu memang tak pernah ada? Apa dari tadi dia hanya berkhayal? Apa ternyata nama namja Taro itu bukan Luhan? Apa dia berhalusinasi? Apa jangan-jangan tingkat kewarasannya sudah berkurang? Apa ini adalah kutukan dari mantan-mantan kekasihnya?
Tidak tidak!
Sehun menggelengkan kepalanya. Menerbangkan segala macam pikiran negatif dan gila yang berbondong-bondong masuk ke dalam otaknya. Sehun tidak sebodoh itu. Dia juga tidak se-hopeless itu sampai-sampai membayangkan sesuatu yang tidak ada. Dan yang jelas, dia tidak gila.
Mana mungkin namja tampan sejagat raya sepertinya bisa gila?
Itu jelas tidak mungkin!
'Berfikirlah Oh Sehun! Apa saja yang kau lakukan hari ini!'
Namja over PEDE itu mulai menggunakan otaknya dengan cara yang lebih normal. Mengingat-ingat kilas balik kegiatannya hari ini. Dimulai saat dia lari terbirit-birit dari kejaran 5 yeoja gila yang seolah ingin menyerangnya.
Kemudian dia bersembunyi di... *ehem* Sehun tidak ingin mengingat kejadian menjijikkan itu.
Lalu dia pulang. Bertatap muka dengan tiga Hyung *coret*tersayang*coret idiot yang sudah membobol apartemennya. Mengobrol sebentar dengan mereka sebelum Suho mengumumkan tentang bau harum yang menguar dari tubuhnya. Setelah itu, dia menuju kamar. Berendam dengan air hangat. Dan saat dia selesai membersihkan tubuh, Kris, Suho dan Chanyeol sudah tidak ada. Tanpa sepatah kata pun, dengan suasana aneh yang tidak biasa.
Itu dia!
Pasti ada yang salah dengan ketiga Hyung-nya. Tidak mungkin mereka mau repot-repot berbaik hati untuk membereskan semua kekacauan yang telah susah payah mereka buat untuknya jika bukan karena sesuatu. Dan untuk beberapa alasan serta berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, Sehun bahkan bisa menyebutkan salah satu dari tiga nama itu sebagai tersangka utama.
"Iiiissshhh! Aku akan membuat perhitungan dengan mereka besok!" gerutu Sehun seraya kembali merebahkan tubuhnya.
Malam itu, Sehun bermimpi seseorang menyiramnya dengan se-ember Bubble Tea.
Rasa Taro.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Hari-hari selanjutnya, Sehun berubah cemberut. Semakin hari semakin cemberut. Meski dia sudah menghukum tersangka yang menghilangkan nomor ponsel yang telah ia dapatkan dengan susah payah. Meski ketiga Hyung-nya selalu berusaha untuk mengembalikan keceriaannya. Sehun masih cemberut.
"Yaaa! Magnae! Kalau nomernya hilang, kau kan tinggal memintanya lagi," ucap Chanyeol asal. Saat ini mereka sedang berada di kantin kampus. Meski keadaan kampus tampak sepi, karena memang hari sudah sangat siang, tapi empat serangkai itu memang sering berkumpul di sana sebelum pulang ke rumah masing-masing. Khusus untuk Kris, Suho dan Chanyeol, sambil menunggu kelas kekasih mereka selesai.
Sehun menggerutu pelan. Andai saja mendapat nomor ponsel Luhan segampang mendapatkan Ipad baru dari kekasihnya. Tapi nyatanya, ini jauh lebih susah. Sudah empat hari berlalu. Dan entah sudah berapa kali Sehun kembali ke kafe itu. Namun Luhan menghilang seolah ditelan bumi.
'Apa jangan-jangan dia marah karena aku tidak membalas pesannya? Karena itu dia sengaja tidak datang ke kafe untuk semakin menarik perhatianku?'
"Lagi pula, memangnya apa istimewanya sih nomer itu?" tanya Chanyeol penasaran saat Sehun tak meresponnya.
Sehun tidak menjawab. Hanya memberi glare mematikan untuk Chanyeol. Sejujurnya, Sehun sendiri juga tidak tahu jawabannya. Mengapa dia jadi uring-uringan hanya karena sebuah nomer yang hilang? Lagi pula, itu hanya nomer dari seseorang yang bahkan tidak ia kenal.
Pletakk
Kris menjitak kepala Chanyeol. "Luruskan dulu rambutmu! Baru setelah itu kau bisa berfikir lurus!" ujarnya asal. Chanyeol mengelus-elus kepalanya yang terasa panas. Memberikan tatapan 'apa yang salah dengan pertanyaanku?' pada tiang listrik yang telah dengan seenak jidat menjitaknya.
"Kalau nomer itu tidak istimewa, tidak mungkin nomer itu bisa ada di pesan masuk Sehun dan membuat magnae kita ini tersenyum sepanjang jalan kenangan! Apa kau tidak tahu kalau pesan masuk di ponsel Sehun hanya berisi nomer-nomer limited edition?!" jawab Kris lalu menoleh pada Sehun. "Iya kan, magnae?" Kris menaik-naikkan alisnya.
Chanyeol mengangguk paham dan tersenyum lebar. Sehun membenamkan kepalanya di atas meja kantin. Mendengarkan mereka berdua sama sekali tidak membantu dan benar-benar membuat kepalanya semakin berat.
Puk puk
Suho menepuk pundak Sehun pelan. "Sudahlah. Lupakan saja nomer itu," saran Suho. "Aku punya berita yang lebih penting!" lanjutnya. Sehun mengangkat kepalanya dengan malas untuk menatap Suho. Chanyeol dan Kris juga ikut-ikutan menatap Suho penasaran.
"Tebak siapa yang punya tiket VVIP untuk konser 2NE1 nanti malam!" ujarnya sombong dan menyibakkan poninya.
"MWOOOO?!" Chanyeol mendelik.
Mulut Kris menganga lebar.
Dan Sehun, tak ada perubahan drastis. Namun setidaknya ekspresi yang ia tunjukkan saat ini sudah lebih baik.
"HYUNG! KAU BENAR-BENAR PUNYA TIKET VVIP-NYA? AAAAAAAAAAA! KAU YANG TERBAIK, HYUUUNG!" teriaknya histeris kemudian menubruk tubuh pendek Suho dengan tubuh jangkungnya. Mengabaikan tatapan tak penting dari sekeliling kantin. Chanyeol memang paling heboh jika sudah berhubungan dengan 2NE1.
"Apa kau tahu seberapa keras usahaku untuk mencari tiket ini? Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi tidak ada lagi yang tersisa. Semuanya SOLD OUT! Padahal aku sudah menunggu di depan laptopku saat penjualan Online dibuka. Tapi tiba-tiba telfomku berdering dan mmffftthh—"
Sebuah apel dijejalkan ke mulut ember Chanyeol. Dan Sehun tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Begini lebih baik dari pada harus mendengar 2NE1 'freak' itu berceloteh tanpa henti.
"Kau terlalu histeris, Hyung! Dan aku masih menyayangi telingaku," komentarnya acuh. "Tapi, apa kalian sudah mendapatkan izin dari trio bebek dambaan hati kalian itu? Kalau aku sih gampang. Hyeri tidak mungkin berkata tidak jika aku mengatakan sesuatu!" cibirnya. "Lagi pula, aku jadi heran. Mengapa trio bebek itu bisa sangat mengontrol tingkah laku kalian? Padahal, waktu bersamaku dulu, mereka mmmfftthhhh—"
Chanyeol balas dendam. Menjejalkan kulit jeruk dari piringnya ke mulut sang magnae.
Puiiih puiih puiih
Sehun kelabakan saat rasa pahit itu melesak masuk dan menyapa indra perasanya. Mengambil gelas berisi Bubble Tea yang sebelumnya tak tersentuh dan langsung menegak minuman itu hingga tak bersisa.
"Yaaaaaaaaaaaaaa!" Teriakan marahnya hanya dibalas cengiran puas dari Chanyeol, Kris dan Suho.
"Rasanya pahit?" tanya Kris dengan tampang sok perdulinya. "Haa! Kalimat itu juga. Jadi, telan semuanya sendiri, oke!" lanjutnya sebelum berlalu.
"Masa lalu mereka bersamamu itu adalah sebuah aib, Magnae! Dan tidak baik untuk mengumbar aib seseorang!" Chanyeol menarik hidung mancung Sehun dengan segenap cinta dan mengikuti langkah Kris.
Puk puk
Suho menepuk pundak Sehun pelan. "Jangan lupa. Nanti kami akan menjemputmu di apartemen," ujar namja berwajah teduh itu dan ikut berlalu. Namun baru beberapa langkah saja, Suho kembali membalikkan badannya. "Kau, akan mengetahui jawaban pertanyaanmu saat kau mencintai seseorang, Sehun-ah!" tuturnya kemudian kembali melangkah meninggalkan kantin.
Sehun menatap kepergian ketiga Hyung-nya dengan alis terangkat. Masih dongkol dengan rasa pahit di lidahnya yang masih terasa. 'Tch! Bahkan jika aku mencintai seseorang nanti, aku tidak akan membiarkan orang itu mengaturku dengan seenak jidatnya!' cibirnya dalam hati.
Namja tampan itu lalu menyampirkan tas punggung-nya dan ikut keluar dari kantin. Berjalan pelan di koridor kampus dengan diiringi tatapan terpesona dari yeoja-yeoja yang ia lewati. Memberikan senyum ramah yang selalu berhasil membuat mereka berteriak histeris.
Meski sedang dalam mood yang buruk, reputasi tetap nomor satu kan? Dan dia tidak mungkin mengecewakan 'fans'-nya. Hohohoho.
Grebb
Sepasang tangan halus nan lembut melingkar manis di lengan kanannya saat Sehun berjalan menuju arah parkiran. Seorang yeoja cantik yang entah dari mana datangnya berjalan sambil bergelayut maja di sampingnya. Membuat tatapan-tatapan terpesona itu berubah menjadi tatapan envy.
"Oppa!" Yeoja itu memanggilnya dengan nada manja.
Sehun bergumam sebagai jawaban. Tubuhnya bergidik geli mendengar panggilan itu. Demi Tuhan! Hyeri bahkan lebih tua 2 tahun darinya tapi selalu memanggilnya dengan kata 'Oppa'. Apa gadis itu tidak merasa aneh dengan panggilan yang digunakannya?
"Temani aku belanja, ya?! Nanti malam aku harus menghadiri pesta ulang tahun temanku, tapi aku tidak punya gaun. Oppa mau kan?" Hyeri mengerjapkan matanya agar terlihat imut.
Sehun tersenyum tampan seraya berusaha melepaskan tangan Hyeri yang menggandeng erat lengannya. "Hmmmmm, ten—"
Kalimat itu terhenti saat secara tak sengaja, pandangannya jatuh pada sosok seseorang yang sedang berdiri di dekat gerbang kampus. Seseorang yang terasa strangely familiar baginya. Rambut coklat madu itu. Postur tubuh itu. Apa dia sedang berhalusinasi? Sehun mengerjapkan mata beberapa kali. Tapi sosok itu masih di sana. Dan itu hanya berarti satu hal.
Sosok itu, nyata dan dia tidak sedang berhalusinasi.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Sehun berjalan pelan ke arah sosok itu. Meninggalkan Hyeri yang terpaku bingung dan sedikit sewot karena kepergiannya. Jantungnya, terasa berdetak aneh, entah mengapa. Dan saat dia benar-benar yakin kalau sosok itu memang orang yang dikenalnya, tanpa sadar, Sehun tersenyum.
"Ehem!" Sehun berdehem pelan. "Aku tidak menyangka kalau kau akan mengikutiku kemari!" ujarnya pede.
.
.
Luhan tersentak. Suara itu, kesombongan dan kePEDEan yang terkandung dalam suara itu, sepertinya ia mengenalnya. Dengan enggan, Luhan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berbicara. Berharap dalam hati kalau apa yang akan dilihatnya bukanlah orang yang dia pikirkan.
"KAU!?" Luhan memekik kesal. Lagi-lagi, merutuki nasib buruk yang menimpanya karena harus bertemu dengan 'artis wannabe' ini.
Sehun memutar bola matanya. "Tentu saja aku. Memangnya kau pikir siapa, eoh? Kenapa juga kau selalu melontarkan pertanyaan aneh itu setiap kali melihatku!" cibirnya. "Atau jangan-jangan itu karena kau terlalu senang bertemu denganku?" lanjutnya seraya menyilangkan kedua tangan di dada.
Namja manis itu mendecih kesal. Mengapa ketiga makhluk yang memintanya datang belum juga muncul? Mengapa juga dia harus bertemu dengan namja narsis itu di dini? Luhan pikir, saat namja narsis itu tak kunjung membalas pesannya, itu adalah akhir dari takdir(?) mereka. Dia bahkan sudah lupa kalau pernah bertemu dengan Sehun sebelumnya.
"Oppa!"
Panggil seseorang dari arah belakang Sehun. Seorang yeoja berpakaian minim yang langsung bergelayut manja pada Sehun dan mengirimkan tatapan tak suka pada Luhan. "Oppa! Dia siapa? Mengapa kau meninggalkanku begitu saja?" Yeoja itu mem-pout-kan bibirnya pada Sehun kemudian kembali menatap Luhan. Melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah tengah menilainya.
Mata Luhan menyipit. Demi wajah manisnya! Luhan tidak suka jika ada orang yang memandangnya seperti itu. Dan 'pout' itu! Oh Tuhan! Rasanya, Bubble Tea yang baru saja diteguknya sebelum kemari tadi memberontak dan ingin keluar. Entah karena apa, Luhan tidak menyukai kehadiran yeoja yang tengah menempel pada Sehun itu.
Dalam pandangan Luhan, Sehun terlihat tak nyaman dengan sikap manja yang ditunjukkan si yeoja. Tapi, dia sama sekali tidak menolak atau pun menggubrisnya. Namja tampan itu malah masih setia menatap Luhan dan berjalan mendekat padanya. Mengucapkan sesuatu yang tidak pernak terfikir olehnya.
"Hei! Namja Taro! Kau sudah jauh-jauh datang kemari untuk menemuiku, kan? Mau kencan denganku hari ini?"
"MWOOOO!" Mata Luhan mendelik. Wajahnya merah padam. Namja ini! Di depan kekasihnya sendiri, bagaimana dia bisa dengan entengnya mengatakan hal yang seperti itu?
"Dasar namja gila!" ucapnya datar kemudian membalikkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan Sehun.
Sehun tertegun. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tak percaya pada lidahnya yang bisa dengan sangat mudah mengucapkan kalimat itu. Dan lebih tak percaya lagi pada respon yang ia dapatkan dari Luhan.
Hari ini, pertama kalinya, diulangi: PERTAMA KALINYA, seorang Oh Sehun mengajak seseorang untuk kencan dengannya. Dan di hari yang sama pula, ajakan PERTAMA-nya itu ditolak mentah-mentah. Apakah ini masuk akal? Bahkan Hyeri menatap cengo bercampur kagum pada sosok Luhan yang baru saja berlalu.
Well, Sehun mengajak seseorang untuk kencan dengannya memang sesuatu yang cukup mengejutkan dan tak biasa. Tapi seseorang yang menolak ajakan Oh Sehun? Itu lebih dari sekedar mengejutkan. Itu adalah LUAR BIASA.
'Ini tidak bisa dibiarkan! Apa kata dunia kalau orang-orang tahu bahwa seorang Oh Sehun ditolak mentah-mentah seperti ini?!' batin Sehun menggebu-gebu dan berlari mengejar Luhan yang mulai jauh. Dia harus membuat perhitungan dengan namja Taro itu.
Luhan berjalan tergesa dengan menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Sepanjang jalan, mulutnya komat-kamit mengerutu dan mengutuk Sehun tiada henti. Apa-apaan namja itu. Bicara dengan seenak jidatnya. Apa namja gila itu terbiasa mengucapkan kalimat seperti tadi pada orang-orang yang baru dikenalnya?
Dasar namja sinting!
Pertama dia membuatnya ilfil saat pertama kali mereka bertemu di kafe. Kedua, dia mengusik dan selalu mengganggu 'Bubble Tea time' nya setiap hari hanya karena Luhan menolak untuk memberikan nama. Kemudian dia menjalankan aksi modus dan membuat Luhan *ehem* terpaksa untuk memberikan nomor ponselnya. Lalu, Sehun mengabaikan pesannya sampai berhari-hari. Membuat ia yang sempat berfikir kalau Sehun adalah namja baik yang hanya ingin kenal dengannya kembali kesal. Dan sekarang...
'Mwo! Kencan! Dia mengajakku kencan dengannya?' Luhan mendengus kesal. 'Tch! Dikiranya aku mau apa? Memangnya, di dunia ini sudah tidak ada manusia lain? Dia pikir dia siapa?!' Luhan masih menggumam pelan. Tak menyadari kalau saat ini Sehun sudah berjalan di samping-nya. 'Dasar manusia tak tahu malu!'
"Kalau kau bergumam terus-terusan di tengah jalan seperti itu, orang-orang akan menganggapmu tidak waras!"
Namja manis itu menghentikan langkahnya. "Yaaaaak! Kau mengikutiku?!" Luhan membalikkan badannya dan menatap Sehun dengan garang. Seperti singa yang siap menerjang.
Sehun mengedikkan bahunya santai. "Apa jalan yang begitu lebar ini hanya diperbolehkan untukmu saja?" tanya nya innocent.
Iissssshh!
Luhan berdecak. Memutar haluannya dan berjalan ke arah lain. Namun baru beberapa langkah saja, kaki panjang Sehun kembali melangkah beriringan dengannya.
"Yaaaaaa!" teriak Luhan kesal.
Sehun nyengir. "Wae? Aku hanya mengikuti kemana kaki-ku melangkah. Kalau kau mau protes, kau bisa protes padanya," ujar namja tampan itu tanpa rasa berdosa.
Namja mungil itu menggigit bibirnya, menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Keningnya berkerut. Nafasnya menggebu. Hidung mungilnya kembang-kempis. Dan dia, SANGAT KESAL!
Bugh
Sehun jatuh berlutut memegangi tulang keringnya yang sempat berkenalan dengan sepatu kets Luhan. "Yaaaaaaaaaaakk!" Dia hendak protes, namun Luhan sudah kembali berjalan.
"Oyy! Luhan! Namja Taro!" panggil Sehun tanpa hasil.
"Yaaaaa! Mengapa kau menendangku?!" protes namja albino itu tak terima. Berjalan sedikit tertatih di samping Luhan yang sama sekali tak terlihat perduli.
"Bukannya kau sendiri yang menyuruhku tadi? Itu adalah salam protesku... pada kakimu!" jawab Luhan acuh tanpa memandang Sehun.
Kali ini, namja manis itu berjalan sedikit lebih pelan. Sudah tak mau ambil pusing lagi akan namja aneh yang masih mengikutinya itu. Sebuah ide muncul di kepala Luhan. Membuat sebuah seringaian -yang justru terlihat sangat manis di mata Sehun- terbentuk di wajah manisnya.
'Two can play the game' pikirnya jahil.
Dan kalau memang Sehun ingin bermain, maka Luhan dengan amat sangat siap akan meladeninya!
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
TeBeCe
OMAKE
KrisYeolHo Side, that day!
Sepeninggal Sehun, Suho segera menyemprotkan pengharum dalam jumlah banyak ke seluruh ruangan dan kembali berkutat dengan buku di tangannya. Sesekali matanya akan melirik ke televisi. Ikut menyaksikan acara yang tengah ditonton oleh Kris. Chanyeol sendiri, masih sibuk menatap ponsel Sehun yang tergeletak di meja. Masih penasaran dengan sesuatu yang ada di sana yang bisa membuat magnae mereka tersenyum idiot. Namja albino itu bahkan tidak menyadari polusi udara yang menguar dari tubuhnya.
Namja rambut mie itu mencubit-cubit kecil bibir bawahnya, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat sedang memikirkan sesuatu. Dan saat ini, Chanyeol sedang mempertimbangkan untuk mengambil ponsel yang seolah tengah melambai-lambai padanya, menggodanya untuk melihat apa yang ingin dia lihat. Atau melupakan semuanya dan kembali pada aktivitas yang ia lakukan sebelum Sehun datang tadi -memilih foto-foto imut kekasihnya untuk dijadikan ikon aplikasi ponselnya.
Jdukk
"Aawww!" Chanyeol mengusap-usap kepalanya setelah mendapat ciuman sayang dari buku yang dipegang Suho.
"Kau sedang memikirkan apa, eoh? Wajahmu menunjukkan niat jahatmu, Park Chanyeol!" tanya namja serba berlebih itu.
Chanyeol nyengir. "Ermmm, Hyung! Kau lihat sendiri kan bagaimana Sehun masuk dengan senyum idiotnya sembari terus menatap ponsel?" Suho menganggukkan kepala, merasa tertarik dengan arah pembicaraan Chanyeol.
"Yaaa! Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukan itu!" sahut Kris saat jeda iklan berlangsung.
"Aiiisssh, Hyung! Apa kau tidak penasaran? Magnae itu terlihat aneh! Mungkin ada sesuatu di dalam sana!" ujar Chanyeol mencoba meyakinkan.
"Halaaaah! Paling-paling dia sedang menonton video mesum!" jawab Kris asal.
Chanyeol menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah Kris tak setuju. "Aeeeeyyhh. Mana mungkin, Hyung! Sehun mungkin akan senyam-senyum kalau lihat vidio begituan, tapi Sehun paling tidak bersahabat dengan bau!"
Kris terdiam menatap Chanyeol. Begitu pun dengan Suho. Namja yang memiliki 'angel smile' itu meletakkan bukunya di atas meja. Menatap ponsel di sebelah buku dan Chanyeol bergantian. "Kau benar! Dia bahkan tidak menyadari bau bunga bangkai yang berasal dari tubuhnya. Padalah hidung Sehun paling sensitif dengan bau!" jawab Suho. "Pasti ada sesuatu di sana!" lanjutnya.
Mendapat lampu hijau, Chanyeol segera memindahkan ponsel dari atas meja ke tangannya. Demi rasa ingin tahunya, dia bahkan mengabaikan peringatan dari Kris yang melarangnya untuk menyentuh ponsel Sehun karena magnae mereka memang tidak suka barang pribadinya dijamah.
Chanyeol mengernyitkan kening saat tak mendapatkan petunjuk apa pun dari dalam ponsel. Dia sudah membuka galeri foto dan vidio. Namun hasilnya nihil. Dia juga sudah membuka history web yang baru saja ditelusuri Sehun hari itu. Namun tetap tak ada yang istimewa di sana. Bahkan percakapan Line-nya hanya berisi yeoja-yeoja genit dan beberapa namja mungkin, yang begitu menyukai si magnae.
'Lalu, apa yang membuat tersenyum idiot seperti itu?' pikirnya.
"Coba cek pesan masuknya!" perintah Kris.
Suho dan Chanyeol menghadiahkan tatapan 'apa kau serius' dan 'yang benar saja!' untuk saran itu. Bagaimana tidak! Semua orang tahu kalau Sehun tidak pernah mengumbar nomor telfonnya pada orang lain selain mereka bertiga dan kedua orang tua Sehun. Tidak mungkin Sehun akan tersenyum gila seperti itu hanya karena pesan dari mereka, kan? Kecuali kalau Tuan Oh yang mengirim pesan padanya dan berkata kalau dia telah membelikan sebuah pulau untuk Sehun.
Kris mengangkat bahunya acuh dan kembali menonton televisi. "Kalian kan tidak menemukan apa pun di sana, dan aku hanya memberi saran!" ujarnya cuek.
Chanyeol dan Suho saling berpandangan. Mungkinkah...
Keduanya kembali bergelut dengan smartphone Sehun. Hingga akhirnya berakhir di 'pesan masuk' -seperti yang disarankan oleh Kris sebelumnya- dan menemukan satu nomor tak dikenal di sana.
Suho dan Chanyeol saling berpandangan. 'Sepertinya ini adalah alasan di balik senyum idiot magnae mereka,' pikir keduanya kompak. Mereka baru saja akan membuka isi pesan itu saat tiba-tiba—
"Hyuuung!"
— teriakan yang berasal dari arah belakang mengagetkan mereka. Chanyeol dan Suho menatap kepala Sehun yang menyembul dari pintu kamarnya. "Tolong bawakan mobilku ke car wash ya!" ucap magnae bongsor itu seraya tersenyum memohon. Lengkap dengan aegyo yang selalu ditunjukkannya tiap kali ia meminta sesuatu dari mereka.
Keduanya mengangguk kaku. Dan Sehun tersenyum senang sebelum kembali masuk ke kamar. 'Hhhhhhhhhhh,' Chanyeol dan Suho mendesah lega. 'Hampir saja!' batin mereka dan kembali fokus pada ponsel Sehun. Melanjutkan misi yang tertunda. Tapi...
Tunggu tunggu! Ada yang salah dengan ponsel Sehun!
Pesan masuk dari nomor tak dikenal itu tak lagi di sana. Suho menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit. Chanyeol menggulir layar ponsel Sehun ke atas dan ke bawah. Tapi pesan itu tetap tak ada. Apa jangan-jangan ia tak sengaja menghapusnya karena kaget tadi?
Oh tidak! Apa yang telah mereka lakukan?!
Suho dan Chanyeol saling berpandangan -lagi. Tanpa ada yang memberi komando, kedua namja itu segera bergerak ke sana kemari, membereskan sampah juga semua kekacauan yang mereka ciptakan di ruang tamu sang magnae, dan segera kabur dari apartemen itu. tidak lupa untuk Kris yang terlihat kebingungan dengan tingkah mereka.
KrisYeolHo Side, Ends
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
.
A/N:
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAIIII!
Hampir 10 hari, dan Liyya baru kembali sekrang dengan chapter yang makin garing dan gak jelas.
Liyya minta maaf karena baru bisa update hari ini /BOW/ Beberapa hari kemarin, mood Liyya lagi down maksimal, n Liyya memutuskan untuk rehat sejenak. Dan itu sangat membantu.
Liyya mau ngucapin makasih yang sebanyak-banyaknya buat yang masih mau menunggu dan membaca ff garing ini. Buat semua yang udah baca, follow, favorit, dan review di chapter kemarin.
Semoga di chapter ini masih berkenan untuk review ya /ngarep/
Balasan Review:
Kareen Young: Hai dek ^_^ Ini udah lanjut kok
Makasih udah ngereview^^
Guest: Gak jadi End kok dek, ini aja masih TeBeCe XD
Makasih udah ngereview^^
Lu-Yan: Jeongmal? Beneran lucu dek? Aaaaaaaaaaaaaaaaaa, kirain bakal garing hehehehehe :D
Makasih udah ngereview^^
luexohun12: Hohohohoho, Liyya juga suka Sehun yang aneh bin ajaib super PEDE kayak gini hehehehe
Makasih udah ngereview^^
ludeer : Yuhuuuuuuuu! Makasih udah bilang keren, deeek /blushing/ Maknae emang Jjang! Semua uke kece itu diembat sama dia #ditendangLuhan
Makasih udah ngereview^^
WulanLulu: Luhan gitu loh, Sehun mah pasti klepek2 dan langsung berubah XD
Makasih udah ngereview^^
wiand: ini udah lanjut ya
Makasih udah ngereview^^
hunhankid: Udah lanjut tuh deeeeek. Rasa penasarannya berkurang kan? ;)
Makasih udah ngereview^^
miyah oh: Kakaaaaaaaaaaaaaaaaaaak. Ini cerita romcom aja kok. G akan ada orang ketiga. Palingan ya para fans beratnya Sehun :D
Makasih udah ngereview^^
ani: Hwakakkakakkaakkakak Kalo gitu mah, Liyya juga dong Eooon? Kita kan sama-sama fujo akut XD Jalan Sehun tuh keriting kaya' rambut Chanyeol. makanya mau dilurusin sama Luhan :P
Makasih udah ngereview^^
syakila shine: Haaaaaaaaaaaaiii. Ini udah lanjut kok, udah luntur wajibnya kan ;)
Makasih udah ngereview^^
Salam XOXO dari Liyya
Mind to review
