The Player
By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, and others
Pair: HunHan
Genre: RomCom(?)
Rate: T
Chapter: 3
A/N:
KYAAAAAAAAAAAAAA!
UDAH ADA 50+ FF YANG UDAH IKUTAN 'HUNHAN BUBBLE TEA COUPLE' EVENT.
LIYYA MAU NGUCAPIN BAAAAAAAAAAAAAAAAAAANYAK TERIMA KASIH BUAT SEMUA AUTHOR YANG MAU IKUT BERPARTISIPASI DAN MERAMAIKAN EVENT INI!
TERIMA KASIH JUGA BUAT READERS YANG SELALU SETIA BACA, FAV, FOLLOW, N REVIEW FF2 YANG UDAH DIPUBLISH. MAKASIH BANGET BUAT SEMANGATNYA^^
#BIGHUG
.
.
Note: Semua cast di sini, Liyya cuma pinjem namanya aja. Cerita ASLI milik Liyya. Kalau ada kesamaan dengan cerita lain, itu murni hanya sebuah kebetulan.
Warning: Romance gagal, cerita abal-abal, ide cerita pasaran -_- typo(s) dimana-mana, feel ngawang(?) alias gak dapet *trus ngapa masih ditulis n di-post -_-* #Liyyanyengir XD
.
.
HAPPY READING^^
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Setelah mengenal Sehun sedikit lebih dekat, bagaimana kalau menelusuri sosok si pembawa 'virus merah jambu' lebih jauh? Sepertinya akan menarik. Tidakkah kalian berfikir demikian?
Namanya Luhan. Pemuda berdarah blasteran Korea-Cina yang memiliki wajah semulus pantat bayi meski diusianya yang sudah melewati batas seper-lima abad.
Coba saja datang ke Inha University dan menyebut nama Luhan. Tidak ada satu orang pun yang tidak mengenalnya. Bahkan anak pemilik toko kelontong di depan kampus pun tahu.
Luhan. Dengan rambut karamel yang ditata seadanya dan tubuh kurus yang selalu dilindungi oleh balutan pakaian simpel, namja manis itu sudah cukup mampu untuk menduduki TOP 3 PRIA PALING DIGANDRUNGI di kampusnya. Lalu dengan nama yang lumayan asing di telinga warga Korea, Luhan menjadi lebih dikenal dari 2 TOP PRIA lainnya. Dan dengan tambahan sedikit bumbu dari otak cemerlangnya, namja penggemar sepak bola itu pun langsung sukses menduduki posisi utama. Hanya saja, yang bersangkutan tidak pernah terlalu ambil pusing dengan segala macam bentuk kepopuleran itu.
'Hal-hal yang seperti itu bukanlah hal yang penting!' aku Luhan suatu hari.
Selain sepak bola, namja yang baru saja pulang dari study-nya di negeri kangguru itu juga memiliki obsesi aneh pada Hello Kitty. Meski pada kenyataannya dia sendiri SANGAT menolak untuk dibilang cantik dan SANGAT memaksa untuk disebut manly.
Menurut Sehun sendiri, Luhan itu STMJ.
(S)angat manis
(T)erlalu manis
(M)anis bangeeeeeeeeeeeeeet
Tapi sayangnya, dia (J)utek
Lalu apa kata mereka tentang Luhan?
'Luhan Oppa itu... SEMPURNA!' ujar salah satu mahasiswi di Inha University.
Apa sudah disebutkan sebelumnya? Luhan itu, sangat terkenal di kalangan para yeoja di kampusnya.
'Luhan Oppa sangat baik. Dia juga manis. Dia tampan. Dia ramah. Dia murah senyum. Dan jika dia memintaku untuk menjadi pembantunya sekali pun, aku pasti mau! Asalkan bisa dekat dengan Oppa!' ujar yeoja lainnya.
'Luhan Sunbae itu! Asdfghklpwhgtfmncjkd!' - yeoja lain yang sepertinya tidak bisa menahan diri.
'Aku saaaaaaangat menyayangi Lu Ge. Karena dia selalu membelaku kalau Kyungsoo dan Baekhyun sedang berkolaborasi!" - Lay.
'Luhan Hyung?' Kyungsoo terlihat tengah memikirkan sesuatu. 'Aku tidak tahu harus mengucapkan apa, yang jelas Luhan Hyung adalah sosok Hyung yang selama ini aku idamkan!'
'Kau akan langsung jatuh hati begitu melihatnya. Dan kau akan semakin suka saat mengenalnya lebih dekat lagi. Begitulah Luhan Hyung!' tutur Baekhyun.
'Lu Ge sangat ramah dan mudah bergaul!' imbuh Lay.
'Tapi dia sangat membenci satu hal!' sahut Kyungsoo.
'Hyung kami, sangat TIDAK SUKA pada orang narsis yang suka menyombongkan dirinya!'
Dan kalimat final dari Baekhyun itu, menutup 'kepo corner' kali ini.
Tapi, apa Luhan tidak tahu? Orang bilang, BENCI dan CINTA itu memiliki perbedaan yang begitu TIPIS loh!
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Sehun menatap jengkel pada namja manis yang tengah asik berkutat dengan sushi di depannya. Menikmati potongan-potongan daging ikan mentah yang sangat menjijikkan -menurut Sehun- tanpa terlihat perduli padanya sedikit pun. Dari cara dia melahap sushi-sushi di atas piring, sepertinya Luhan memang benar-benar menyukai makanan mentah itu. Seperti anak kecil saat mendapatkan es krim kesukaannya. Wajah Luhan terlihat begitu senang. Dan kesan jutek yang selalu ada bersamanya pun menguar.
Sehun tersenyum, tanpa sadar, melihatnya. Menyanggah dagu runcingnya dengan kedua tangan di atas meja. Menikmati moment 'mari-memperhatikan-namja-cantik-di-depanmu' dengan penuh penghayatan jika saja—
GRWWWLLLL
—cacing-cacing di perut kempesnya tidak memutuskan untuk merusak suasana dengan bernyanyi di dalam sana. Dan Sehun baru menyadari satu hal.
DIA
SANGAT
LAPAR
"Perutmu berbunyi!" Pandangan Luhan beralih dari sushi di piring padanya. "Apa kau lapar? Mengapa kau tidak memesan sesuatu?" tanya namja manis itu dengan tatapan polos. Mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menambah kesan innocent dari pertanyaannya.
Sehun mendelik. Menatap Luhan dengan tatapan 'KAU SUDAH TAHU ALASANNYA' dan mencoba terlihat mengintimidasi. Namun Luhan kembali mengerjap imut dan mengedikkan bahunya.
"Ya sudah kalau tidak mau. Aku kan hanya bertanya saja," ujarnya acuh sebelum kembali bergabung dengan sushi-sushi yang sempat terabaikan beberapa detik.
Namja tampan itu melengos. Tak percaya dengan sikap 'innocent' yang ditunjukkan Luhan. Jika saja bukan dia yang mencetuskan ide 'kencan' lebih dulu, Sehun pasti sudah meninggalkan Luhan di tengah jalan sejak tadi.
'Hah! Memangnya apa yang terjadi hari ini bisa disebut 'kencan'?!' batin Sehun geram sembari menerawang pada kejadian yang dialaminya beberapa jam terakhir.
~HunHan Bubble Tea Couple~
A few hours ago
"Namamu, Sehun kan?"
Itu kalimat kedua yang keluar dari bibir Luhan tanpa nada sarkastik, kesal, atau nada-nada negatif lainnya semenjak pertemuan mereka. Kalimat pertama adalah saat ia meminta izin untuk duduk di kafe saat itu.
Sehun menganggukkan kepalanya. Tersenyum puas saat mengetahui kalau Luhan masih ingat namanya. Mengingat bagaimana kesan pertama mereka. Bagaimana sikap jutek dan cueknya Luhan selama ini padanya. Tapi ternyata Luhan masih ingat pada 'kata' yang bahkan baru disebutnya sekali saja hari itu.
Bukankah itu berarti sesuatu?
Apa jangan-jangaaaaaaaaaaaannnn...
'Hehehehhehehe!' Sehun tertawa dalam hatinya. Ternyata pesonanya tidak pudar!
"Yaaaaaaa! Aku hanya bertanya nama, kan? Mengapa kau malah tersenyum tak waras begitu?" tukas Luhan pedas melihat senyum sinting(?) yang sedang ditunjukkan namja narsis di depannya. Sehun menggaruk tengkuknya dan menyengir konyol. Membuat Luhan semakin ilfil.
"Aku mau!" ucap Luhan. Eh? Sehun menatap Luhan tak mengerti.
Yang ditatap tersenyum tipis sebelum menjawab. "Aku menerima ajakanmu untuk berkencan!" ucapnya. "Ataaaauuuu... Ajakan itu sudah tidak berlaku lagi?"
Mata Sehun mengerjap. Mencoba mencerna kalimat Luhan sebelum kemudian tersenyum lebar. "Eiiiyyhh! Tentu saja masih berlaku! Ayooo!" ujarnya cepat.
"Tunggu!"
Kaki panjang Sehun tergantung di udara. Langkahnya terhenti. "Aku mau kencan denganmu. Tapi dengan syarat, aku yang menentukan kemana saja kita pergi," tegas Luhan. Sehun berfikir sejenak. 'Kemana saja kita pergi'. Kalimat itu bermain-main di pikirannya.
'Kemana saja.'
'Kemana saja.'
'Kemana saja.'
Omooo! Bukankah itu berarti mereka akan pergi ke lebih dari satu tempat? Seharian?
'Assaaaaaaaaaaa!' Sehun bersorak dalam hati. Dia tahu sekali kalau sebenarnya Luhan pasti tertarik padanya. Memangnya, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Oh Sehun? Hanya saja, Luhan jual mahal. Tch! Lihatlah! Nanti juga dia bakal klepek-klepek. Hanya masalah waktu saja.
Hohohohohohohohoho
Sehun menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Kau yang menentukan tempatnya!" jawab Sehun. bersikap seolah dia tidak begitu antusias dan perduli.
Luhan tersenyum manis dan kembali berjalan. Diikuti Sehun yang juga tersenyum girang dan berjalan di belakangnya. Senyum kemenangan. Untuk sesaat, Sehun merasa sedang terbang di atas awan. Setidaknya sampai Sehun melihat kemana tujuan mereka melangkah.
Tunggu tunggu! Bukankah itu...
'Halte Bis?' gumam Sehun tak percaya.
"Oooyy! Luhan!" panggil Sehun. Mensejajarkan langkahnya dengan Luhan yang menolak untuk berhenti meski sudah dipanggil. "Namja Taro! Bukannya kita mau kencan? Lalu, mengapa kita ke halte bis? Bukankah seharusnya kita kembali ke kampusku? Mobilku ada di sana. Masa' iya sih kita harus naik bis? Nant—"
Kalimat Sehun terhenti begitu Luhan membalikkan tubuh dan menatapnya dengan tatapan datar. "Kau mau kembali ke kampusmu?" tanya Luhan. 'Dan bertemu lagi dengan yeoja centil yang tadi?' batinnya. "Tidak, terima kasih! Kalau kau mau kembali ke sana, silahkan saja!"
Sehun tergagap. Mulutnya megap-megap seperti ikan yang diangkat ke atas air. Matanya melirik ke sana kemari menghindari tatapan Luhan, sampai akhirnya jatuh pada kendaraan yang baru saja terparkir di depan halte.
"Hei! Lihat! Itu bisa-nya suadah datang!" seru Sehun. "Mengapa kita masih berdiri di sini?" Dan tanpa menunggu respon dari Luhan, Sehun segera berjalan meninggalkan Luhan yang sedikit terkejut di tempatnya berdiri.
"Yaaaa! Namja Taro? Kau tidak mau ketinggalan bis-nya kan?" teriak Sehun yang sudah tiba di halte sambil melambai ke arahnya. Tidak perduli dengan tatapan menghakimi dari penumpang lain.
Namja manis itu melengos tak percaya. Bukankah tadi dia sendiri yang menolak dan cerewet tentang kendaraan mereka? Dan sekarang, dia justru bersikap seperti itu!
'Dasar gila!' gumam Luhan kemudian berjalan menuju bus yang akan mereka tumpangi. 'Lihat saja! Aku pasti akan memberimu pelajaran hari ini!'
Untung saja saat itu penumpang bis tidak terlalu penuh. Jadi Sehun bisa duduk dengan tenang di sana. Selama perjalanan, namja tampan itu sangat berusaha untuk tidak membuka mulut. Ini pertama kalinya dia naik bis, dan dia tidak ingin membuat Luhan marah dan meninggalkannya di tempat antah barantah. Sesekali, dia tersenyum menggoda menanggapi beberapa 'fans' (menurutnya) yang berbisik-bisik sambil melihat heboh ke arahnya.
'Yaaaah! Beginilah nasib manusia keren bin tampan! Kemana-mana pasti menghadapi situasi seperti ini (read: fans yang berbisik-bisik kagum),' batin Sehun seraya tersenyum sendiri. Tangannya terangkat untuk menyibak rambutnya. Gestur khas seseorang yang tengah membanggakan diri.
Untung saja Luhan tidak memperhatikan apa yang tengah dilakukan Sehun. Kalau tidak, pasti namja manis itu akan mengeluarkan semua isi perutnya saat itu juga.
Saat tiba di halte selanjutnya, Sehun melirik pada Luhan yang hanya diam saja sambil menatap ke luar jendela. Tidak ada tanda-tanda kalau mereka akan turun di sini.
"Permisi, Hyung!" Seorang siswa dengan seragam Junior High School menegur Sehun. Luhan yang duduk di dekat jendela juga ikut menoleh. "Apa nenek saya boleh duduk di sini? Bangku yang lain sudah penuh. Kasihan nenek kalau harus berdiri sementara perjalanan kami masih lumayan jauh," ujar pemuda ber-name tag 'Tae Joon' itu.
Sehun tidak melakukan apa pun untuk menanggapi permintaan pemuda itu. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menatap deretan bangku yang memang sudah terisi penuh. Ia mengerutkan keningnya tak suka dengan ide untuk memberikan bangku berharganya pada si nenek tua. Kenapa harus dia? Enak saja! Bangku yang lain kan banyak. Namja berperawakan sangat tampan itu baru saja akan menolak permintaan Tae Joon saat suara *ehem*lembut*ehem* Luhan menginterupsinya.
"Tentu saja boleh! Halmeoni, duduk di sini saja," ujar Luhan sopan dengan senyum manisnya. Dia lalu berdiri sambil menatap tajam pada Sehun kemudian kembali tersenyum saat menatap Tae Joon dan neneknya. Mempersilahkan si nenek untuk menempati kursi yang tadinya ia duduki.
"Terima kaish anak muda. Kau manis sekali!" ucap si nenek senang. Luhan membungkuk sopan kemudian berjalan dan berdiri di dekat pintu keluar. Meninggalkan Sehun yang kikuk sendiri di bangkunya.
Sehun menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. Menatap Tae Joon yang berdiri di sampingnya dan Luhan yang berdiri di dekat pintu bergantian. Lalu menatap 'fans' yang masih berbisik di belakang sambil sesekali menatap ke arahnya. Oh tidak! Bisa-bisa wibawanya jatuh hanya karena masalah ini.
"Errrmmmm, kau juga boleh duduk di sini. Aku akan berdiri di sana saja!" ujar Sehun pada Tae Joon yang langsung menerima tawaran itu dengan senang hati. Sehun tersenyum cool dan membungkuk sopan pada si nenek. Begini-begini, dia kan masih mengerti apa itu sopan santun.
Di tempatnya berdiri, Luhan menatap jengah pada Sehun yang sedang berjalan, dengan sedikit kesusahan, ke arahnya dan kemudian mengambil posisi terpat di sampingnya. Lengkap dengan senyum -sok- tampan yang selalu ia bawa kemana-mana.
Pemberhentian selanjutnya, beberapa orang masuk ke dalam bis. Membuat keadaan yang sebelumnya lengang menjadi sedikit lebih sesak. Seorang ahjussi dengan wajah mesum menatap Luhan dan berdiri di depannya. Mengambil kesempatan dari bis yang berayun(?) untuk menabrak dan merapatkan tubuhnya pada Luhan.
Namja manis itu terlihat tak nyaman. Sebenarnya dia hendak memarahi ahjussi mesum itu, namun malas membuat keributan dan menarik perhatian banyak orang. Sehun yang melihat hal itu langsung bergerak cepat. Menarik tubuh Luhan agar merapat padanya dan berganti posisi berdiri di depan namja cantik itu. Menjadi dinding pemisah antara si ahjussi mesum dan Luhan. Tak lupa untuk memberikan glare terbaik yang dia miliki pada si ahjussi.
"Te-terima kasih!" ujar Luhan pelan, namun masih cukup keras untuk sampai ke telinga Sehun yang langsung menatap Luhan dan tersenyum tampan.
Luhan langsung memutar bola matanya malas melihat senyum Sehun. Uuurrrggghhh! Sungguh Luhan ingin membuang wajah narsis Sehun saat itu juga, kalau saja dia tidak ingat apa yang baru saja 'artis wannabe' itu lakukan untuknya.
Setelah itu, perjalanan terasa begitu panjang bagi Luhan. Padahal bis baru bergerak sekitar 5 menit yang lalu. Namja dengan bulu mata lentik itu menatap ke luar jendela. Menghindari tatapan Sehun yang bisa ia rasakan tengah tertuju padanya dengan begitu lekat. Namja manis itu menggigit bibir bawahnya. Entah untuk alasan apa, tiba-tiba ia bisa merasakan udara di sekitar menjadi sedikit lebih panas. Khususnya di area pipinya.
Sehun sendiri tanpa malu-malu terus memperhatikan wajah Luhan. Matanya yang indah. Bulu matanya yang lentik. Hidung bangirnya yang mungil. Bibir merahnya. Bahkan luka kecil di bawah bibir Luhan juga tak luput dari pandangan Sehun. Belum lagi, pipi Luhan yang terlihat merona. Sehun tersenyum sendiri. Dengan semua perpaduan itu, Luhan terlihat sangat jauh dari kesan jutek yang selalu ia tunjukkan padanya. Luhan yang ada di depannya saat ini, terlihat begitu...
"Cantik!"
Luhan menatap Sehun tak percaya dengan kedua bola mata yang terbelalak sempurna.
Sehun yang melihat Luhan melotot padanya, mengernyitkan kening bingung akan sikap Luhan yang tiba-tiba berubah. Sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu dan ikut membelalakkan matanya. Kedua tangannya terangkat untuk menutup mulutnya yang untuk sesaat tadi tak terkendali.
Apa dia mengucapkan kata 'cantik' tadi bukan di dalam hati? Apa dia ternyata menyuarakan kata itu tadi? Apa Luhan mendengarnya? Matilah kau Sehun!
Luhan benar-benar menatap Sehun tak suka. Wajah yang sebelumnya merona itu menjadi merah padam karena gerah akan tingkah Sehun. Keningnya berkerut. Hidung bangirnya kembang-kempis. Nafasnya memburu.
Kau benar-benar akan mati, Oh Sehun!
Pintu bis terbuka. Beberapa penumpang melewati Sehun dan Luhan dan berjalan keluar dari bis. Luhan masih memandang marah pada Sehun. Sebelum akhirnya...
Bugh
Sehun terduduk memegangi tulang keringnya yang lagi-lagi bertemu kangen dengan sepatu kets Luhan. DI tempat yang sama. "Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk!" protesnya kesal. Namun Luhan sama sekali tak perduli dan malah berjalan turun dari bis yang mereka tumpangi sebelumnya. Sehun sendiri menyusul di belakang dengan langkah yang sedikit tertatih.
1-1
Untuk Luhan yang berhasil menarik Sehun masuk ke dalam bis.
Untuk Sehun yang berhasil mendapatkan 1 point positif di mata Luhan karena telah menyelamatkannya.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Beberapa saat kemudian...
Luhan dan Sehun terlihat tengah berjalan mengelilingi sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar di Incheon. Dengan langkah ringan, Luhan menyusuri deretan pakaian di salah satu toko di dalam Mall tersebut. Seringaian manisnya tak terlihat oleh Sehun yang berjalan bingung di belakang.
Luhan terus melihat-lihat. Sesekali, tangannya terulur untuk mengambil beberapa potong pakaian, melihat dan mengira-ngira sebelum memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan tanpa mencoba terlebih dahulu.
Sehun sendiri juga sedang terlihat asik menatap deretan jaket di depannya. Mengambil satu jaket yang kira-kira akan terlihat begitu sempurna jika membalut tubuhnya. Kemudian mengambil satu jaket lagi dengan ukuran sedikit lebih kecil untuk Luhan.
"Cobalah! Aku yakin jaket ini akan terlihat mengagumkan di tubuhmu!" ujar Sehun. Luhan menatap namja tampan itu dan jaket di tangannya bergantian.
"Tenang saja, aku akan membelikannya untukmu." Sehun mulai melancarkan aksinya merayu Luhan. Pasalnya, sejak turun dari bis tadi, Luhan sama sekali tidak berniat berbicara dengannya. Dan entah apa alasannya, hal itu sangat mengganggu bagi Sehun. Demi Tuhan! Bukankah mereka sedang berkencan? Mana ada pasangan yang kencan dalam diam! Mereka kan tidak bisu.
Tanpa diduga, Luhan tersenyum begitu manis dan menyambut jaket yang diulurkan Sehun. Namun, bukannya membawa jaket itu ke kamar 'pas' untuk mencobanya, Luhan malah memasukkan jaket itu ke dalam keranjang yang berisi beberapa lembar pakaian yang telah ia pilih.
"Kau seharusnya tidak perlu memilih dan membelikan jaket ini untukku, Sehun-ah!" ujar Luhan ramah. "Toh semua pakaian ini, kau juga yang akan membayarnya." Setelah mengucapkan itu, Luhan berlalu menuju kasir.
Sehun melongo di tempatnya. Otaknya masih menyerap dan mencerna maksud ucapan Luhan.
"Toh semua pakaian ini, kau yang akan membayarnya."
MWOOOOOOO?!
"Yaaa! Apa maksudmu dengan aku yang akan membayar semua ini, eoh?!" bisik Sehun pada Luhan. Mereka sedang berdiri di depan kasir yang tengah menghitung belanjaan. Jadi, tidak mungkin Sehun mengucapkan itu dengan suara lantang, kan? Jaga imej doooonk.
Lagi-lagi, Luhan tersenyum manis. Dan Sehun mulai terbiasa dengan senyum itu. Senyum yang terlihat begitu manis, namun menyimpan aura kejam dan mengerikan di baliknya.
"Sehun-ah! Bukankah kau yang mengajakku kencan tadi? Jadi, seharusnya kau yang membayar semua ini untukku, kan?" jawab Luhan sambil berbisik juga. "Apa kau tidak mau membelikan semua ini untukku?" Luhan mengerjapkan matanya imut dan mengusap pipi Sehun dengan tangan kanannya.
Deg deg deg deg deg
Jantung Sehun berpacu kencang. Sentuhan tangan lembut Luhan di pipi kirinya terasa seperti aliran listrik yang meletup-letup. Dan perasaan itu. Reaksi aneh yang terasa di dalam perutnya, seperti saat pertama kali ia bertemu dengan Luhan di kafe, kembali menghampirinya.
"Ehem! Semuanya jadi tiga 4.765.000 Won, Tuan!"
Luhan beralih menggenggam tangan Sehun. "Kau akan membelikan itu untukku, kan?!" ujarnya lagi. Sehun mengangguk tanpa sadar. Dan Luhan langsung melepaskan tangannya dari tangan Sehun.
"Kalian pasangan yang sangat manis!" komentar si kasir saat menerima kartu yang diberikan Sehun.
Luhan tersenyum malas menanggapi komentar itu. Memalingkan wajahnya dan berlagak seperti hendak muntah. Sedangkan Sehun? Wajahnya persis seperti bocah SD yang malu-malu mau saat diajak main oleh anak lain yang diam-diam disukainya.
2-1 untuk Luhan yang membuat Sehun membayar semua belanjaannya.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Usai berbelanja, Sehun dan Luhan melanjutkan 'kencan' mereka. Luhan bersikeras mengajak Sehun untuk pergi ke 'Game Center' untuk bermain. Dan lagi-lagi, kantong Sehun harus terkuras. Namun Sehun sama sekali tak terlihat keberatan. Dibandingkan Luhan yang jutek dan menatapnya dengan tatapan malas, Luhan yang tengah bermain dan menunjukkan berbagai macam ekspresi itu jauh terlihat lebih baik. Dan Sehun rasa, beberapa ratus ribu Won lagi, tak masalah.
"Hei, Sehun-ah! Apa kau tidak pernah pergi ke tempat seperti ini? Mengapa kau hanya diam saja di sana? Ayo bermain!" ajak Luhan.
Namja manis itu bahkan tidak menyadari kalau dia baru saja memanggil Sehun dengan panggilan akrab. Seolah mereka sudah kenal sejak lama.
"Tch! Kau yakin ingin bermain denganku? Aku tidak mau nanti jika aku menang, kau akan menangis dan menuduhku bermain curang!" ejek Sehun.
"Ha... Ha... Ha...! Very funny!" Luhan balas mengejek. "Kalau kau takut, bilang saja!" cibirnya.
Sehun mendecih pelan. "Jangan menyesal ya!"
"Sama sekali tidak!" balas Luhan.
Sehun lalu meletakkan tasnya di atas kursi kosong dan duduk di samping Luhan. Melakukan gerakan pemanasan dan peregangan seperti orang yang hendak bertinju. Memberikan smirk tampannya pada Luhan dan memulai permainan.
'Go Cart'
.
.
"Aku kan sudah bilang tadi, kau pasti akan kalah dan menuduhku bermain curang," ujar Sehun saat mereka keluar dari Game Center. Menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Luhan.
Namja manis itu cemberut. Wajahnya tertekuk. Jelas tak terima dengan kekalahannya. Bagaimana tidak? Dalam 22 tahun sejarah hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia kalah dalam permainan 'Go cart'. Terlebih lagi, ia harus dikalahkan oleh pemuda tengil yang narsisnya amit-amit itu.
"Yaaa! Mengapa kau jadi cemberut begitu?!"
Luhan bungkam. Ia merasa sangat kesal saat ini. Dan yang bisa membuat kekesalannya lenyap hanya satu hal.
"Belikan aku es krim!" pinta Luhan yang sama sekali tak terdengar seperti meminta, melainkan memerintah.
Hening. Tak ada jawaban sama sekali. Dan Luhan kira, namja albino itu menolak untuk membelikannya es krim. Namun ia langsung tersenyum saat melihat Sehun yang berjalan menuju stan es krim yang ada di seberang jalan dan membelikan semangkuk jumbo es krim coklat untuknya.
Luhan menunggu dengan sabar di tempatnya sembari memperhatikan Sehun di seberang sana. Tersenyum geli saat melihat Sehun yang beberapa kali dihampiri oleh beberapa yeoja yang sepertinya mengenal namja itu dan harus berhenti untuk menyapa mereka.
"Maaf lama!" ujar Sehun seraya menyodorkan es krim di tangannya. Luhan menyambut es krim itu dengan semangat 45 dan mengucapkan terima kasih pada Sehun dengan tersenyum. "Gwaen—"
"Yeoja-yeoja tadi itu fans-ku. Jadi aku tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja. Setidaknya, aku harus menjawab panggilan mereka dan tersenyum ramah."
Senyum Luhan langsung lenyap. Dan tanpa sepatah kata pun, Luhan membalikkan badannya. Sehun dan 'kenarsisannya' yang overload. "Dasar sinting!" cibirnya pelan sebelum berlalu.
Sehun melongo, lagi, entah untuk yang ke-berapa kalinya hari itu. 'Apa aku salah bicara? Mengapa mood namja itu cepat sekali berubah? Seperti yeoja yang tengah PMS saja!' pikir Sehun. Mengedikkan bahunya acuh dan menyusul Luhan.
2-2 untuk Sehun yang memenangkan permainan 'Go Cart'.
~HunHan Bubble Tea Couple~
"Hei Sehun! Kau saja yang membeli tiketnya, ya. Biar aku tunggu di sini. Aku malas kalau harus mengantri di sana!" tunjuk Luhan pada antrian panjang di tiga kasir bagian penjualan tiket. Keduanya memutuskan untuk menonton, atas permintaan (perintah) Luhan, tentunya.
"Yaa! Menga—"
"Ah~ Dan jangan lupa untuk membeli popcorn pedas manis dan soft drink juga ya!" ujar Luhan lagi, memotong rentetan protes yang baru akan keluar dari bibir tipis Sehun. Tidak lupa menambahkan sedikit bumbu aegyeo sebagai pemanis aksinya. Dan tanpa menunggu respon Sehun, ia segera menyamankan posisi duduknya.
Sehun mendengus. Namja ini benar-benar menyusahkan. Wajahnya saja yang manis seperti malaikat. Tapi akal bulusnya selevel dengan makhluk bertanduk yang menjadi lawan malaikat (Sehun tidak bisa menyebutkan kata 'setan' untuk mendeskripsikan sifat Luhan, entah mengapa).
"Memangnya kau mau nonton film apa?" tanya Sehun menyerah.
Luhan menatap Sehun dengan ekor matanya. "Apa saja. Asal bukan horor," jawabnya sambil lalu.
Mendengar jawaban Luhan, sisi devil Sehun kumat. 'Ha ha! Kau pikir kau bisa seenaknya menyuruhku seperti pembantu?!' Namja tampan itu bergegas menuju loket karcis dan membeli 2 tiket. Sialnya, bioskop itu tidak menerima pembayaran dengan menggunakan kartu. Tapi untungnya dia membawa beberapa lembar Won yang cukup di dalam dompet untuk membayar 2 tiket, 1 popcorn, dan 1 soft drink pesanan Luhan tadi.
Perlu diketahui, isi dompet Sehun memang hanya beberapa kartu kredit dan satu 'black card' hadiah Appa saat ia ulang tahun 3 bulan lalu. Ada juga kartu identitas dan SIM, serta kartu mahasiswa. Tapi, tidak ada uang cash. Setidaknya, tidak dalam jumlah besar.
Lagi pula, uang di dalam dompetnya jarang terpakai. Biasanya kalau makan di luar, Suho lah yang membayar tagihannya. Dan saat kencan seperti ini, Sehun juga tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Jadi ya, selama ini, Sehun memang tidak terbiasa membawa lembar uang cash di dalam dompetnya. Apalagi uang koin! Tch! Memangnya dia pengamen jalanan?!
"Kau benar-benar sudah membelinya?" tanya Luhan begitu Sehun duduk di sampingnya. Mengalihkan pandangannya pada deretan antrian yang masih begitu panjang dan kembali menatap Sehun. "Cepat sekali?"
Sehun tersenyum bangga. "Tentu saja! Dengan wajah tampan ini, apa sih yang tidak bisa aku lakukan? Hanya satu kedipan mata, noona kasir itu langsung mendahulukan aku!" jawabnya sombong.
Entah setan apa, Sehun selalu ingin membanggakan dirinya di depan Luhan. Mungkin karena Luhan tak terlihat tertarik padanya. Mungkin karena Luhan tak bisa melihat ketampanan dan pesona seorang Oh Sehun dengan mata indahnya. Karena itu, Sehun ingin membuat Luhan sadar dengan caranya sendiri. Tanpa tahu, kalau apa yang dilakukannya justru membuat Luhan semakin gerah, gerah dan sangat gerah.
"Memangnya, kau membeli tiket film apa?" tanya Luhan lagi. Memilih untuk mengabaikan kalimat narsis Sehun sebelumnya.
Sehun tersenyum jahil. "Kita lihat saja nanti. Kau pasti akan menyukainya, Luhan!"
Luhan bergidik mendengar jawaban Sehun. Perasaannya berubah aneh. Ada sesuatu yang tak beres dengan senyum tampan yang ditunjukkan Sehun padanya. Dan Luhan tahu kalau dia tidak akan menyukainya.
.
.
"MUAHAHAHHHAHHAHAHAHAHAA!"
Sehun tertawa terpingkal-pingkal di depan gedung bioskop begitu mereka keluar dari sana. Wajah Luhan merah padam. Antara kesal, sebal, jengkel, dan ehem... malu.
"Hahahahhaha! Kau seharusnya melihat bagaimana wajahmu saat di dalam studio tadi, Lu!" ujar Sehun, masih tertawa mengingat-ingat kejadian barusan. Saat Luhan dengan tangan yang berkeringat dingin, bergerak-gerak gusar di tempat duduknya. Mata terpejam erat. Kedua tangan bersiap siaga menutupi telinganya. Menghalangi suara-suara mengerikan yang terus terdengar dari layar raksasa di depannya yang tengah menampilkan wajah 'cantik' Annabelle. Beberapa kali, Luhan berdiri dari duduknya, berniat hendak keluar dari studio. Namun penerangan yang begitu minim nyaris tak ada, ditambah lagi dengan ocehan protesan kemarahan penonton lain yang duduk di belakangnya, melunturkan niat Luhan.
"Yaaak! Namja gila! Bukankah aku sudah bilang jangan membeli film horor!" Luhan berteriak pelan namun tajam pada Sehun yang masih tertawa.
"Aniyo! Aku hanya mendengar kau mengucapkan 'apa saja' tadi. Selebihnya, aku tidak dengar. Salahkan saja keadaan bioskop yang terlalu ramai!" jawabnya enteng.
Luhan menggembungkan pipinya kesal mendengar jawaban acuh Sehun. Bukankah seharusnya dia yang mempermainkan Sehun? Mengapa justru ia yang merasa dipermainkan oleh namja nista ini?
"Hahahahahahaha!" Sehun tertawa lagi. "Kau benar-benar lucu, Luhan. Seharusnya, kau gunakan saja jurus tendangan mautmu tadi. Aku yakin Annabelle pasti akan dengan senang hati berkenalan dengan sepatu kets-mu!" Sehun memberikan komentar terakhirnya sebelum berjalan mendahului Luhan yang terlihat semakin kesal.
Luhan 2
Sehun 3
~HunHan Bubble Tea Couple~
Waktu sudah menjelang malam. Tapi Sehun dan Luhan masih terlihat asik dengan 'kencan' mereka. Saat ini, keduanya berada di sebuah taman kota. Beberapa anak kecil terlihat tengah bermain dan berlari-larian di sekitar taman. Saling bekejar-kejaran dengan teman yang lain. Ada juga keluarga yang sepertinya memutuskan untuk melakukan piknik kecil-kecilan di taman. Menggelar tikar berukuran sedang dengan berbagai macam makanan di atasnya.
Luhan sendiri tengah menikmati es krim vanilla yang dibelikan Sehun -lagi- di salah satu bangku yang memang tersedia di sana. Sehun duduk di sampingnya tanpa banyak kegiatan. Hanya memandang aktifitas yang terjadi di sekitanya sambil sesekali mencuri pandang pada Luhan yang terlihat begitu menikmati es krimnya. Entah bagaimana bisa namja bermata rusa itu tidak muak, padahal itu adalah es krim ke-tujuhnya hari itu.
Keduanya memang memutuskan untuk melepas penat sesaat setelah lelah berkeliling kota. Mengitari pertokoan yang berjejeran di sepanjang jalan dan sesekali masuk untuk melihat-lihat saat dirasa ada yang menarik di dalam sana. Sehun juga membelikan Luhan sebuah kalung manis dengan pendant huruf 'L' yang seperti tengah tersenyum manis menyambutnya. Dan Luhan, yang pada dasarnya memang menyukai berbagai aksesoris manis, langsung menerimanya dengan senang hati.
Saat melewati toko boneka di samping toko aksesoris, hampir saja Luhan kehilangan kewarasannya begitu melihat boneka jumbo tokoh karakter kucing imut kesukaannya yang dipajang di etalase depan. Untung saja ia masih bisa menahan diri. Atau dia akan mempermalukan dirinya sendiri di depan namja nista ini (read: Sehun). Dan untung saja saat itu sepertinya Sehun tidak terlalu memperhatikan dirinya. Namja albino itu tengah sibuk melihat isi dompetnya saat Luhan sedang berkelut dengan batinnya sendiri.
Bukankah tadi sudah dikatakan kalau Sehun tidak membawa banyak uang cash? Dan sekarang, uang yang tak banyak itu hanya tersisa beberapa ribu Won saja. Dengan perasaan was-was, Sehun melirik Luhan yang terpaku menatap ke toko boneka di samping mereka. 'Bukankah itu toko boneka?' pikir Sehun. Matanya mengikuti arah pandang Luhan yang tertuju pada boneka 'Hello Kitty' berukurang jumbo di dalam sana.
Mungkinkah...
"Errrmmm, Namja Taro!" tegur Sehun membuyarkan lamunan Luhan. "Kau menginginkan boneka itu?" tanyanya penasaran. Sama sekali tidak bermaksud mengejek.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Luhan tiba-tiba merona. "M-mwoo? Y-yaa! K-kau pikir aku ini yeoja?!" Luhan menatap Sehun tajam dan menjawab dengan terbata. Sehun memasang tampang blo'onnya. Mengernyit bingung dengan emosi Luhan yang benar-benar tak bisa ditebak. Keningnya semakin berkerut saat tanpa sepatah kata pun lagi, Luhan kembali berjalan tanpa mengajaknya.
'Aiissshh! Namja Taro ini benar-benar seperti perempuan yang sedang PMS!' pikir Sehun begitu mengingat-ingat kejadian barusan. Mata elangnya masih menatap Luhan yang seolah tak menyadari tatapannya.
"Sunbae!"
Sehun dan Luhan sama-sama menoleh ke asal suara saat mendengar panggilan itu. Dua orang yeoja manis berjalan mendekati mereka. Dua yeoja yang dikenali Sehun sebagai yeoja yang tadi satu bis dengan mereka. Oh Tuhan! Dunia begitu sempit. Apa jangan-jangan mereka sengaja mengikutinya? Hhhhh, tak apa. Sehun rasa, dua tanda tangan di waktu senggangnya bukan masalah yang besar.
Dengan sigap, Sehun langsung mengaktifkan radar 'Idol Mode' nya. Memberikan senyum terbaik pada kedua yeoja itu. Hitung-hitung sebagai pembuktian pada Luhan sekaligus pamer kalau kenyataannya, dia memang pemuda yang digandrungi banyak orang. Dan Luhan telah salah karena telah mengabaikannya kemarin-kemarin. Lalu setelah itu Luhan akan sadar, dan mereka... Hehehehehehehehe.
Sehun tersenyum penuh kemenangan membayangkan itu semua. Dia baru saja akan memberikan fans service terbaik pada dua 'penggemar' itu. Namun—
"Annyeonghasaeyo, Luhan Sunbae!"
— sapaan itu tidak tertuju untuknya. Melainkan untuk Luhan yang tersenyum ramah pada dua orang itu. Sedangkan Sehun, hanya berdiri kikuk. Seolah tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depan matanya.
"Sunbae! Boleh kami minta tanda tangan? Kami berdua mengagumimu, Luhan Sunbae!" ucap salah satu dari mereka.
'MWO? Jadi mereka penggemar Luhan? Bukan penggemarku? Dan mereka memanggil Luhan dengan sebutan apa? S-sunbae? Tapi, bukankah Luhan seumuran denganku?'
"Benarkah?" tanya Luhan sedikit terkejut.
Kedua yeoja itu mengangguk semangat. Mengeluarkan sebuah 'note book' dan memberikannya pada Luhan. "Kami juga ingin seperti Sunbae yang bisa belajar di Australia!"
'MWOO? Australia?'
"Aigoooo! Jeongmalyeo? Hmmmm, sepertinya musim nanti nanti akan ada program pertukaran pelajar lagi. Apa kalian sudah mendaftar?" Keduanya mengangguk. "Kalau begitu, mulai sekarang, kalian harus rajin belajar! Okay!" ujar Luhan setelah mengembalikan dua note book yang telah ia tanda tangani.
"Ne! Ghamsa Hamnida, Luhan Sunbae!" ucap mereka kompak kemudian berlalu dengan membawa ekspresi bahagia setelah berhasil mendapatkan tanda tangan Luhan. Sesekali, mereka masih menoleh ke belakang dan tersenyum girang.
"Jadi, kau mempunyai 'penggemar' seperti itu?" tanya Sehun keki. Dia merasa dongkol dengan sikap dua yeoja yang sama sekali tak cantik itu. Bagaimana mungkin mereka tidak bisa melihat dirinya yang begitu tampan ini dan hanya menatap pada Luhan yang cantik itu? Apa yeoja jaman sekarang sudah lebih menyukai pemuda cantik dari pada pemuda tampan?
Dia juga kesal karena Luhan bersikap begitu manis pada mereka dan malah bersikap jutek padanya. Memangnya dia salah apa? Selama ini, dia kan hanya ingin berteman dengan Luhan.
Dan yang lebih membuat Sehun jengkel adalah, dia tidak tahu mana yang membuatnya sangat marah. Kenyataan kalau dua yeoja itu tidak menganggap keberadaannya tadi, atau kenyataan kalau Luhan bisa tersenyum sangat manis ketika berbicara dengan mereka tapi tidak dengannya.
"Mereka bukan penggemarku. Hanya beberapa junior yang kebetulan belajar di jurusan yang sama denganku," jawab Luhan. "Mengapa kau memasang ekspresi seperti itu?" tanyanya kemudian, menatap Sehun dengan tatapan aneh. Merasa bingung dengan nada yang digunakan Sehun saat bertanya. Mengapa Sehun terdengar tak suka?
"Aniyo. Aku hanya—
GRWWLLLLLLL
— lapar!"
Luhan tertawa geli mendengar suara perut keroncongan Sehun. Dan baru ia sadari, kalau dia juga kepalaran. Mereka memang sudah berjalan seharian tanpa makan sama sekali. Hanya popcorn dan beberapa mangkuk es krim yang mengisi perut.
Tapi, ini bukan waktunya tertawa, Luhan! ini waktunya balas dendam untuk apa yang terjadi di bioskop tadi!
"Ah, Sehun-ah! Apa kau suka masakan Jepang?" tanya Luhan. Berharap kalau Sehun akan menjawab 'tidak'.
Sehun mengerutkan hidungnya tanda tak suka.
Luhan tersenyum penuh arti.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Dan di sini lah Sehun sekarang. Di sebuah restoran Jepang yang bahkan dalam mimpi pun rasanya ia enggan untuk mampir. Menatap jengkel pada namja manis yang tengah asik berkutat dengan sushi di depannya. Menikmati potongan-potongan daging ikan mentah yang sangat menjijikkan -menurut Sehun- tanpa terlihat perduli padanya sedikit pun.
Dia sudah sangat lapar, tapi tidak ada satu masakan pun yang tertera di daftar menu yang bisa ia makan. Belum lagi, sama seperti sebelum-sebelumnya, Luhan bersikeras kalau Sehun-lah yang harus membayar semuanya.
"Memangnya kau tidak tahu 'aturan kencan' yang paling utama, ya?" tanya Luhan dengan wajah innocent-nya. "Orang yang mengajak kencan, harus membayar segala sesuatu yang berkaitan dengan acara kencan mereka!" tutur Luhan ngawur. "Bukankah kau cukup terkenal dan memiliki banyak FANS? Apa jangan-jangan kau tidak pernah kencan sebelumnya?" sindir Luhan.
Sehun memijat pelipisnya pelan. Tiba-tiba merasa pening dan frustasi. Itulah masalahnya. Selama ini, dia adalah pihak yang diajak. Dia tidak pernah mengajak seseorang untuk kencan. Luhan adalah yang pertama.
"Aaaaaaaaaaahhh! Masakan Jepang itu memang paling lezaaaat!" komentar Luhan setelah menghabiskan semua makanan yang ia pesan.
Sehun tidak habis pikir, dengan tubuh mungil dan kurus seperti itu, entah dimana Luhan menyimpan semua makanan yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya. Dan jangan lupakan tujuh mangkuk es krim yang ia nikmati seharian ini.
"Ah! Aku lupa mengatakan sesuatu" tiba-tiba Luhan berteriak sedikit keras, namun tidak sampai menarik perhatian pengunjung lain. "Kau membawa uang cash, kan? Di restoran tradisional seperti ini, aku tidak yakin mereka akan menerima pembayaran dengan menggunakan kartu kredit!" tutur Luhan khawatir. Tentu saja hanya pura-pura. Dia sempat melirik isi dompet Sehun saat berada di toko aksesoris tadi. Hehehehehe.
MWOOOOOOO?!
Mata Sehun membulat sempurna mendengar ucapan Luhan. Seingatnya, uang di dompetnya tadi hanya tersisa beberapa ribu Won saja. Lalu, bagaimana ia bisa membayar semua ini? Lagi pula -Sehun menatap piring-piring kosong di atas meja- makanan segitu banyak, tidak mungkin hanya beberapa ribu Won, kan? Dan lagi, restoran ini kelihatannya cukup bergengsi.
Seorang pelayan menghampiri mereka saat Luhan meminta bill-nya. Luhan menerima bill tersebut dan tersenyum pada si pelayan yang berlalu pergi. Membacanya sekilas kemudian memberikannya pada Sehun.
MWOOOOOOOOO?! 745.000 Won?
Mata Sehun kembali membulat sempurna. Masa' makanan yang tidak seberapa itu harganya semahal ini? Apa pelayan itu memberikan bill dari meja yang salah? Apa ini bill milik meja sebelah? Dan yang lebih penting, apa yang harus ia lakukan? Sehun tidak mau muncul di halaman depan majalah kampus dengan judul berita:
'PANGERAN XOXO UNIVERSITY YANG PALING TAMPAN, OH SEHUN, TIDAK MAMPU MEMBAYAR MAKANAN YANG TELAH DIMAKANNYA!'
Itu bisa merusak citranya!
Luhan terkekeh dalam hati melihat ekspresi Sehun. "Apa semuanya baik-baik saja, Sehun-ah?" tanya Luhan pura-pura khawatir. Padahal dalam hati, ia sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat kepanikan yang tercetak di wajah Sehun.
"Omoooo! Jangan bilang kalau kau tak bisa membayarnya!?" tembak Luhan. "Aaaahhh~ Eottokhae?"
"Errrmm, sebenarnya uang segitu tidak ada artinya untukku! Hanya saja, semua uangku ada di atm. Karena aku tidak terbiasa membawa uang cash dalam jumlah banyak." jawab Sehun. Luhan memutar bola matanya malas. Bahkan dalam situasi seperti ini pun, namja ini masih sempat menyombongkan diri.
"Hhhhh, seharusnya kau bilang dari awal kalau kau tidak punya uang. Jadi kita kan tidak perlu kemari dan aku juga tidak perlu memesan makanan sebanyak ini!" sesal Luhan dengan sedikit menyindir. "Bagaimana ini? Aku juga tidak punya uang yang cukup untuk membayar ini semua. Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Luhan lagi.
Sehun terlihat berfikir sejenak. "Ah~ Bagaimana kalau aku keluar sebentar untuk mengambil uang di atm? Kau tunggu di sini saja!" usulnya.
Red alert, Luhan!
"Shireo!" tolak Luhan. "Bagaimana kalau ternyata itu hanya alasan yang kau buat karena kau tak mau membayar? Bagaimana kalau kau ternyata malah pergi meninggalkanku di sini?"
"Yaaaaaaaakk! Kau pikir aku orang yang seperti itu, eoh?" ujar Sehun tak terima.
Luhan mengedikkan bahunya. "Entahlah! Aku belum terlalu mengenalmu, jadi aku tidak bisa begitu saja percaya, kan?" jawab Luhan membela diri.
'Mwoooo?! Aiiisshhh! Namja ini! bagaimana dia bisa mengatakan itu setelah menguras isi dompetku? Aku bahkan sudah membayar semua belanjaannya tadi siang!' sewot Sehun dalam hati.
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Ponsel Luhan berdering. Dan sungguh, jika saja situasinya tidak sedang mencekam seperti ini, Sehun ingin sekali tertawa melihat phone case yang digunakan oleh namja manis itu.
"Halo? Ah? Kau sudah sampai di depan restoran? Baiklah, aku akan keluar sekarang." Luhan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Melambaikan tangannya pada pria tampan yang tengah berdiri bersandar pada Audi hitam-nya. Satu tangan memasukkan ponsel ke dalam saku jaket yang ia kenakan, dan tangan lainnya melambai ke arah mereka.
"Mianhae, sehun-ah! Aku harus pergi. Aku lupa kalau sudah ada janji malam ini!" ujar Luhan dengan wajah menyesal sembari merapikan barang-barangnya. "Kau bisa mengatasi ini, kan?"
Alis Sehun berkedut gusar. Jangan bilang kalau namja manis ini akan meninggalkan dirinya begitu saja di sini. "Kau... tidak akan benar-benar pergi, kan?"
Luhan menggigit bibir bawahnya menahan tawa yang nyaris keluar melihat wajah panik artis wannabe di depannya itu. "Temanku sudah menunggu. Aku tidak mungkin membiarkannya menunggu lebih lama, kan? Atau... Kau mau aku meminjam uang pada temanku untuk membayar ini? Setelah itu kita bisa ke atm sebentar untuk menarik uang!" usul Luhan.
"Andwae!" tolak Sehun cepat. Tidak pernah dalam sejarah Sehun meminjam uang. Catat itu! TIDAK PERNAH! Tidak kemarin, tidak hari ini, tidak besok, tidak SELAMANYA!
"Sudahlah. Kau pergi saja! Aku akan mengatasi ini."
Luhan tersenyum menang. "Tentu saja kau bisa mengatasinya. Bukankah kau memiliki BANYAK FANS? Mereka, pasti bisa membantumu, kan? Atau... Kau berikan saja satu KEDIPAN MATAmu pada pelayan atau manajer restoran, seperti yang kau lakukan waktu di bioskop tadi. Bukankah PESONAmu sangat luar biasa? Siapa tahu, mereka akan memberikan diskon khusus karena keTAMPANanmu!" Tiba-tiba Luhan kembali menjadi Luhan yang jutek.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, ne! Pai pai!"
Dan Luhan pun melangkahkan kakinya. Masih menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa yang siap meledak kapan saja. Salah satu pelayan di sana menggelengkan kepalanya maklum melihatnya. Setelah berada di luar restoran, Luhan pun berjalan mendekati Sehun. Jemari lentiknya terangkat untuk mengetuk dinding kaca di samping Sehun.
Ting ting ting
"Sehun-ah! HWAITING!" teriaknya memberi semangat pada Sehun yang masih kebingungan di dalam dan kembali melangkah ringan menuju mobil Audi yang tengah menunggunya.
Luhan 97.
Sehun 3.
Sehun melongo. Menatap Luhan yang telah masuk ke dalam mobil dengan senyum manisnya. Dan menatap tak suka pada pria yang di dalam mobil yang dengan mudahnya mendapat senyum tulus dan manis dari Luhan.
Mengapa dia tidak bisa mendapatkan itu? Mengapa Luhan tak mau tersenyum seperti itu padanya? Dan mengapa pula dia ingin Luhan memberikan senyum itu untuknya?
Aigooooo. Sehun menggelengkan kepalanya. Sepertinya otak encernya sudah mulai beku gara-gara namja berambut coklat madu itu. Atau karena mata indahnya? Atau mungkin hidung bangirnya? Bulu mata lentiknya? Bibir cherry-nya? Ataaaau...
'Oh Sehun! kau benar-benar sudah gila!' gumamnya. Ini bukan saatnnya memikirkan Luhan. Ini adalah saatnya dia memikirkan keselamatan hidup dan martabatnya!
Mengambil ponsel (yang seharian ini terlupakan) di dalam tas punggungnya, Sehun terbelalak heboh melihat 94 panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk di sana.
Magnae! Kau di mana? Kau tidak lupa acara kita malam ini kan? Si rambut mie itu sepertinya akan meledak jika kau tak segera muncul. - Kris
Sehun-ah! Kau baik-baik saja, kan? Lupakan saja perihal nomor yang hilang itu. Jangan melakukan hal bodoh! - Suho
Kalau sampai aku gagal melihat Sandara Noona malam ini, kau bisa mendaftarkan dirimu di pemakaman besok pagi, Oh Sehun! - Chanyeol
Sehun menelan ludahnya. Dia baru ingat kalau malam ini mereka berencana akan menonton konser 2NE1 bersama ketiga Hyung-nya. Hhhhhhh. Chanyeol pasti akan benar-benar membunuhnya.
Aiiisshhh! Persetan dengan keselamatan hidupnya yang terancam berakhir di tangan Chanyeol. Yang penting sekarang dia harus menyelamatkan harga diri dan martabatnya. Dan yang bisa menolong Sehun tanpa menjatuhkan harga dirinya hanya tiga Hyung *coret*tersayang*coret itu.
Sehun pun menggerakkan tangannya untuk mengetik beberapa kata dan mengieimkannya pada ketiga calon penyelamatnya.
Red Allert! SOS! EMERGENCY! Hyuuuuung! Tolong aku! T_T
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
TeBeCe
OMAKE
Luhan Side!
"MUAHAHAHHAHAHAHA!"
Luhan melepaskan tawa yang sudah ditahannya sedari tadi. Memegang perutnya dan menghapus titik air mata di sudut mata. Wajahnya terlihat begitu puas setelah mengerjai Sehun.
"Dia siapa?" tanya pria tampan yang duduk di balik kemudi.
Luhan menghentikan tawanya. Meraih botol air mineral di dashboard dan menegak isinya. "Bukan siapa-siapa. Hanya seorang namja aneh yang, sialnya, tak sengaja kukenal," jawab Luhan kembali tertawa geli.
Pria itu menaikkan alisnya. "Pria aneh?" tanyanya lagi. Luhan mengangguk seraya memasang sabuk pengaman.
Pria itu tersenyum jahil. "Mungkin kau lupa. Tapi kau selalu menyukai hal-hal yang berbau aneh, Lu!" ujarnya. Luhan menghentikan kegiatan 'memasang seat belt'-nya dan menatap namja itu tak setuju.
"Ani—"
"Buktinya, ketiga temanmu itu. Yang satu, seperti Donal Bebek. Tingkat kecerewetannya selevel dengan ahjuma yang melihat diskon besar-besaran di swalayan. Yang satu lagi, begitu menyukai Pororo. Maniak dapur dan segala pernak-perniknya. Dan yang terakhir, yang bernama Lay. Oh Tuhan! Jangan membuatku mengatakan apa saja keanehan-keanehan yang ia lakukan selama aku mengenalnya! Dia selalu mengingatkanku pada sahabatnya Sponge Bob."
Luhan merengut. Mem-pout-kan bibirnya dengan sangat imut. Meski apa yang pria itu katakan adalah kenyataan, tapi Luhan tidak begitu suka kalau teman-temannya dinilai 'aneh' seperti itu. "Mereka teman-temanku. Dan mereka tidak aneh. Hanya sedikit berbeda saja!" kilahnya tak terima. "Lagi pula, meski aku menyukai hal-hal yang berbau aneh, namja di dalam restoran itu adalah pengecualian. Dia ANEH, NARSIS, SOK GANTENG, MENYEBALKAN, dan aku TIDAK suka!"
"Benarkah?" tanya pria itu dengan nada menggoda. "Tapi dia memang tampan kok. Dan sepertinya—"
"TITIK!" potong Luhan. "Sudahlah, sekarang cepat nyalakan mobilnya, karena aku sudah terlambat. Nanti Baekhyun, Kyungsoo, dan Lay bisa memarahiku kalau konsernya dimulai dan aku belum sampai di sana!" ucapnya sewot.
Pria itu tertawa kecil melihat kesewotan Luhan dan mulai menjalankan mobilnya. Memecah jalanan kota Incheon yang cukup sepi malam itu.
"Errrmm. Henry Ge!" panggil Luhan setelah terdiam beberapa detik. "Apa menurutmu aku keterlaluan? Aku meninggalkan namja aneh itu di sana dengan bill 745.000 Won dan berkata kalau restoran itu tidak menerima pembayaran dengan kartu kredit! Dan sekarang, dia tengah kebingungan karena di dompetnya tidak ada uang cash sebanyak itu."
CKIIIIIITTTTTT
Henry menginjak rem mendadak mendengar jumlah uang yang disebutkan Luhan. "Mwooooo? 745.000 Won? Yaaakk! Luhan-ah! Memangnya kau makan apa di sana? Apa kau memakan piring kristalnya?" tanya Henry tak percaya.
Namja manis merengut dan itu menggigit bibirnya gugup. "Ermmm, sebenarnya makanan yang kumakan tadi tidak semahal itu. Aku sengaja menyuruh Minseok untuk menambahkan harganya, hehehhee!" Luhan nyengir. "Habisnya aku kesal, Ge! Dia membuatku menonton Annabelle dan mentertawakanku! Bayangkan saja bagaimana keadaanku saat di bioskop tadi. Aku tidak habis pikir mengapa film seperti itu bisa sangat laku!"
Luhan mengerucutkan bibirnya. "Dia juga sangat sombong dengan wajah tampannya dan menganggap kalau semua orang akan terpesona padanya. Tch! Aku tidak tertarik, dan aku ingin dia tahu itu!"
Tck tck tck
"Tunggu, tunggu! Kau bilang 'makanan yang kumakan'. Apa itu berarti hanya kau yang makan?" Luhan mengangguk pelan. "Dia tidak suka masakan Jepang. Makanya aku mengajaknya kesana."
Henry menggelengkan kepalanya dengan tingkah konyol Luhan. "Tapi kau tetap tidak boleh seperti itu, Lu! Apa yang kau lakukan itu keterlaluan," komentar namja tampan itu.
"Benarkah?"
Henry mengangguk. "Tapi, jika memang dia se-menyebalkan yang kau katakan tadi, aku rasa sedikit pelajaran tak masalah. Lagi pula, sepertinya dia orang kaya, kan? 750ribu Won sepertinya bukan masalah," imbunya kemudian.
Luhan terdiam. Namja yang memiliki mata indah itu terlihat gamang. Otaknya bekerja. Memikirkan apa yang telah terjadi hari ini. Saat Sehun menjadi... Sehun. Well, itu memang menyebalkan. Tapi namja itu sudah membelikan banyak es krim untuknya hari ini. Dia juga membayarkan semua belanjaannya. Dan lagi—
Luhan teringat kejadian di dalam bis.
—Sehun telah menyelamatkannya dari tangan jahil si ahjussi mesum. Dan kalau dipikir-pikir, sebenarnya Sehun tidak terlalu buruk. Hanya narsisnya saja yang keterlaluan. Dia juga sopan dan memperlakukan Luhan dengan baik. Luhan juga teringat akan wajah panik Sehun tadi. Dan jangan lupakan perut Sehun yang beberapa kali berbunyi. Aaaaah~ Dia pasti sangat lapar sekarang.
Hmmmmmm. Apa ia memang keterlaluan?
Aiiiissssshhh! Luhan berdecak sebal. Merogoh ponsel di dalam tas dan langsung menghubungi seseorang.
"Ah~ Minseok-ah! Apa 'dia' masih ada di sana?" tanya Luhan begitu panggilannya diterima.
"..."
"Benarkah?"
"..."
"Hmmm, bisa lakukan sesuatu untukku? Namja itu tidak menyukai masakan Jepang, jadi bisa kau meminta Jongdae untuk membuatkan makanan yang lain untukknya? Aku rasa, semua orang Korea pasti menyukai Omurice, kan?"
"..."
"Baiklah! Ah~ Jangan lupa katakan padanya kalau semua makanan tadi tidak perlu dibayar! Arrasseo!"
"..."
"Dan satu lagi! Kalau Omurice-nya sudah matang, hubungi aku sebelum mengantarkan makanan itu padanya, yaaaaa!" Luhan mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang di seberang sana. Tangan kiri mengusap-usap pendant 'L' dari kalung yang tergantung cantik di lehernya. Dan bibir merah itu mengulum senyum manis yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Di sampingnya, Henry kembali menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Luhan. 'Hhhhhh, dasar bocah labil! Tadi katanya tidak suka -_-! Sekarang malah menyuruh Koki utama untuk membuatkan Omurice,' batin namja tampan itu kemudian kembali menginjak pedal gas dan melajukan Audi-nya.
Luhan Side, Ends
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
.
A/N:
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAIIII!
Hampir satu bulan, dan Liyya baru kembali sekarang dengan chapter sangat mengecewakan, sepertinya, dan makin gak jelas mau dibawa kemana.
Liyya minta maaf karena baru bisa update hari ini /BOW/ Beberapa hari kemarin, mood Liyya lagi down maksimal. Tiap mau ngetik, pasti bawaannya g semangat. Padahal idenya udah melayang-layang di dalam kepala. Huhuhuhu.
Liyya mau ngucapin makasih yang sebanyak-banyaknya buat yang masih mau menunggu dan membaca ff garing ini. Buat semua yang udah baca, follow, favorit, dan review di chapter kemarin.
Semoga di chapter ini masih berkenan untuk review ya /ngarep/
Balasan Review:
Flame park: Boleh deeeeek, bunuh aja tuh TBC XD Mian kemaren g bisa update asap, banyak gangguan(?) hehehehhe. Mw ikutan Event? Boleh bangeeeeeeeeeeeeettt. Masih sampek akhir Desember kok dek :D
Makasih udah ngereview^^
miyah oh: Luhan gak galak kaaaaak, dia gilo sama Sehun yang over PD wakakakkaka XD
Makasih udah ngereview^^
Lu-Yan: Laaaaaaaaaaaahhh? Trus gmana? Masih nyambung tapi kan sama ceritanya? hehehehe
Makasih udah ngereview^^
Aku adalah aku: Mian, tapi Liyya gak jualan aqua(?)
Makasih udah ngereview^^
ludeer : Sehun mah asal nyeplos aja dek. Lah wong belom jadian aja dia udah tunduk banget ame Luhaen XD Entah lucu ato malah tegang, Kakak juga belom tau. Kita lihat aja saat moment itu datang(?) hehehehe. APPUAAAAAAAAAAAHH? Kamu jadi suka baca BL karena Kakak? #kabur
Makasih udah ngereview^^
Stephi: Aaaaaaaaaaaaaaaa, makasiiiihhhh :D
Makasih udah ngereview^^
clx: Ini udah lanjut yaaaa. Maaf kalau lelet #bow
Makasih udah ngereview^^
Ini luhan: Sip mantaaaaaaaaaapp. Ff ne gak akan ada hurt2 nya kok, tenang ajah ;)
Makasih udah ngereview^^
ani n: Eoooonnn, dimana2 kerjanya jadi rentenir neeee -_- Yang kepo tu si Chanyeol. Suho ketularan. Lah Kris katut pisan wakakkakakkaka XD
Makasih udah ngereview^^
pandayehet88: Sama-samaaaa :D
Makasih udah ngereview^^
Guest: Hhwakakakkakakkakaka. Gak mungkin pake banget lah kalo kakak bikin Pair yang 'itu' deeeeeek :D
Makasih udah ngereview^^
hunhankid: Whoaaaaaaaaaaa. Makasih makasiiiiih #XOXO
Makasih udah ngereview^^
Yang punya akun, bisa cek PM-nya yaa!
See U, next chapter!
Salam XOXO dari Liyya
