The Player
By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, and others
Pair: HunHan
Genre: RomCom(?)
Rate: T
Chapter: 4
A/N:
SEPERTI BIASA, LIYYA MAU NGUCAPIN BAAAAAAAAAAAAAAAAAAANYAK TERIMA KASIH BUAT SEMUA AUTHOR YANG MAU IKUT BERPARTISIPASI DAN MERAMAIKAN 'HUNHAN BUBBLE TEA COUPLE' EVENT INI!
TERIMA KASIH JUGA BUAT READERS YANG SELALU SETIA BACA, FAV, FOLLOW, N REVIEW FF-FF YANG UDAH DIPUBLISH. DAN JUGA, MAKASIH BANGET BUAT SEMANGATNYA^^
#BIGHUG
.
.
Note: Semua cast di sini, Liyya cuma pinjem namanya aja. Cerita ASLI milik Liyya. Kalau ada kesamaan dengan cerita lain, itu murni hanya sebuah kebetulan.
Warning: Romance gagal, cerita abal-abal, ide cerita pasaran -_- typo(s) dimana-mana, feel ngawang(?) alias gak dapet *trus ngapa masih ditulis n di-post -_-* #Liyyanyengir XD
.
.
HAPPY READING^^
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Cinta.
Semua orang pasti tahu apa itu cinta. Tapi, apa sebenarnya makna dari lima huruf yang begitu sempurna jika bersama itu? Apa yang begitu hebat dari satu kata itu yang bisa membuat seseorang melakukan apa pun demi cinta? Dan apa pendapat mereka tentang cinta?
Bagi Chanyeol, "Cinta adalah saat aku selalu bisa menjadi alasan di balik senyum manis kekasihku! My Baekkie!" Dan Baekhyun, langsung memberikan senyum terbaik yang ia miliki, untuk Chanyeol.
"Saat aku melihat ke dalam matanya, aku tidak hanya akan melihat pantulan diriku di sana. Aku juga meilhat hari ini, esok, dan masa depanku! Itulah cinta. Dan aku, melihat itu semua dengan jelas saat menatap mata Kyungsoo!" ungkap Suho sambil menggenggam tangan Kyungsoo yang tersenyum malu-malu mau di sampingnya.
"Ketika aku bisa mencintai dan menerima kekasihku apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, itulah cinta!" tutur Kris, kemudian memajukan wajahnya dan bersiap untuk menyapa bibir manis kekasihnya yang sudah memejamkan mata. Namun saat wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, Kris berhenti.
"Satu lagi, kalau suatu saat nanti kau lupa namaku, kau boleh memanggilku dengan sebutan 'MINE', babe!" Mata Lay, yang sebelumnya terpejam itu, terbuka lebar. Dengan raut wajah kesal, ia lalu mendorong jidat Kris menjauh darinya. Menolak mentah-mentah niat baik Kris untuk melembabkan bibirnya.
Thanks to komentar tak penting dari Kris setelah sebuah kalimat yang membuat Lay melayang ke langit tujuh, kita semua tidak perlu menyaksikan aksi rated plus plus dari pasangan unik itu.
Lalu, bagaimana dengan Sehun dan Luhan? Apa kata mereka tentang cinta?
Bagi Sehun, cinta adalah saat ia menatap mata indah Luhan dan tenggelam di dalamnya. Saat ia melihat lengkungan manis di bibir Luhan yang mengulum senyum karena dirinya. Saat ia masih keukeuh mengejar Luhan yang bersikap acuh padanya. Saat ia menggenggam tangan mungil Luhan yang terasa begitu pas di dalam genggaman tangannya. Saat sebuah keinginan untuk melindungi itu terasa begitu membuncah di dalam dirinya. Saat ia, dengan perasaan bahagia dan bangga, akhirnya bisa menyebut Luhan sebagai 'MINE' di depan semua orang. Dan saat Luhan, dengan senyum malu-malunya, mengangguk sembari mengucapkan kata 'YOURS' dengan suara pelan.
Dan bagi Luhan, cinta adalah takdir yang mempertemukan dirinya dan Sehun. Pilihan yang ia buat saat menjadi teman Sehun. Keputusan yang tidak akan pernah ia sesali saat menerima cinta yang diberikan Sehun untuknya. Dan saat eksistensi seorang Sehun berubah di matanya. From nothing to evertything.
"Somewhere between laughing for no reasons, stupid arguments, and making fun of each other, I fell in love with you!"
-HunHan-
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Tiga mobil mewah terlihat memasuki area parkir sebuah restoran yang cukup mewah. Disusul dengan munculnya tiga namja tampan luar biasa dari ketiga mobil mewah tersebut. Kris dengan wajah biasa-biasa saja-nya. Suho dengan wajah khawatir-nya. Dan Chanyeol dengan wajah kesalnya. Ketiga namja tampan itu saling menatap satu sama lain saat menyadari di mana mereka berada.
Restoran Jepang?
Tanpa mengulur waktu lagi, Suho, Kris, dan Chanyeol bergegas masuk ke dalam. Mencari-cari sosok namja berkulit putih pucat yang beberapa menit lalu mengirim pesan SOS pada mereka.
"WOW! Aku kira tadi kami salah masuk restoran," komentar Chanyeol begitu mereka tiba di tempat Sehun duduk. Niat baik untuk membunuh Sehun langsung lenyap dari benak namja berambut mie itu ketika melihat keadaan sang magnae yang terlihat mengenaskan dalam pandangannya.
Sehun hanya menatap Chanyeol dengan ekor matanya malas mendengar komentar itu.
"Ya! Sehun-ah! Apa yang terjadi? Kau kan tidak suka makanan Jepang. Mengapa malah ada di sini?" Pertanyaan itu berturut-turut keluar dari bibir Suho.
Kris memutar bola matanya. "Kau bodoh atau bagaimana?!" cibir tiang listrik itu. "Lihat saja piring kotor di atas meja. Semuanya ada di sebelah sana. Tidak ada yang di depan Sehun. berarti Sehun tidak memakan apa pun. Dan berarti sebelumnya ada orang di sana. Iya kan, Sehun?" jelasnya kemudian.
"Terimakasih telah menjelaskannya, Hyung!" ujar Sehun sarkastik.
"You're welcome, magnae!" jawab Kris santai.
Suho mendelik. "Kau ditinggal pergi oleh Hyeri?" tanya namja pendek itu. Setahunya, pacar ter-update Sehun adalah gadis centil yang tidak mau dipanggil 'Noona' itu.
"Whoaaaaaaaaaaaaa! Ini pertama kalinya kau ditinggal oleh kekasihmu! Aku tidak menyangka Hyeri bisa melakukan hal seperti ini," sahut Chanyeol terkejut.
Uuurrrggghhh. Sehun mulai menyesal karena meminta bantuan dari tiga orang ini. Harusnya dia meminta salah satu pelayan rumahnya untuk membawakan sejumlah uang kemari. Setidaknya mereka tidak akan berani bertanya apa pun padanya. Dan seandainya saja ketiga Hyung ini tahu kalau hari ini ada begitu banyak kata 'pertama kali' yang dilakukannya.
Pertama kali, mengajak seseorang untuk kencan.
Pertama kali, naik bis umum.
Pertama kali, membayarkan belanjaan seseorang.
Pertama kali, membelikan sesuatu untuk orang lain selain ketiga Hyung-nya.
Pertama kali, menggunakan uang receh yang ada di dompetnya.
Pertama kali, ditinggal begitu saja oleh teman kencannya.
Dan jika saja Sehun mau menelusuri lebih dalam ke lubuk hatinya, dia akan menemukan satu kata 'pertama' lagi di sana dan menyadari sesuatu.
Ini adala pertama kali, ia menyukai seseorang.
Sehun cemberut. "Kalian pikir Hyeri Noona bisa melakukan hal seperti ini padaku?" Chanyeol, Kris, dan Suho saling berpandangan.
"Jadi, bukan Hyeri?" - Suho
"Jadi, ada orang lain? Siapa?" - Kris
"Jadi, kali ini kau pacaran dengan dua orang sekaligus?" - Chanyeol
"Hyung! Memangnya kau pernah melihatku mengencani dua orang sekaligus?!" Hhhhhhhh. Sehun menghela nafasnya. "Seseorang. Aku tidak begitu mengenalnya. Namja yang nomor ponselnya telah kalian lenyapkan!" jawab Sehun.
"MWOOOOOO?!" Suho berteriak histeris. "Jadi kau dicampakkan oleh orang yang baru saja kau kenal?" komentar Chanyeol. "Well, ini bahkan lebih mengejutkan lagi!" sahut Kris.
Sehun semakin frustasi. Apa ini sesi wawancara? Mengapa ada begitu banyak pertanyaan? Tak bisakah mereka menolongnya tanpa banyak bertanya?
"Aiisshhh! Hyung! Tidak bisakah kalian membayar bill -nya dan kita segera keluar dari sini? Di dompetku tidak ada apa pun selain kartu! Tapi katanya di sini tidak menerima pembayaran dengan kartu!" tukasnya kesal dengan kepala tertunduk dan kening yang menempel di meja.
Suho melongo kemudian menngetuk sayang kepala Sehun. "Kau bodoh atau apa, Oh Sehun? Jaman sekarang, restoran mana yang tidak menerima kartu kredit? Memangnya ini warteg pinggir jalan?!"
Namja bermarga 'Oh' itu sontak mendongakkan kepalanya mendengar ucapan Suho. Mengapa ia tidak berfikiran seperti itu?
"Tapi tadi dia bilang—"
"MUAHAHAAHAHAHAHAHA!" Chanyeol tergelak tiba-tiba setelah memahami apa yang sebenarnya terjadi. "Yaaa! Kau telah ditipu mentah-mentah, Sehun-ah! Dia mengerjaimu, Tuan Oh! Hahahahahaa."
Sehun tercengang. Kris menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Suho memberikan tatapan simpati untuknya.
Uuurrrgghhh! Ya Tuhan! Sehun menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Pokoknya bayarkan saja, Hyung! Aku ingin segera keluar dari sini dan membeli sesuatu. Aku—"
Kalimat Sehun terhenti. Aroma sedap dari makanan favoritnya tiba-tiba menyapa indra penciuman Sehun. Namja itu segera membuka tangkupan tangannya dan langsung bersitatap dengan sepiring Omurice di atas meja.
"—lapar!" lanjutnya pelan. Tapi sepertinya Sehun masih memiliki kontrol diri. Buktinya, meskipun tengah amat sangat kelaparan, dia tidak langsung menyantap makanan nganggur di depannya. Namja berdagu tajam itu malah menatap pelayan yang baru saja meletakkan makanan menggiurkan itu.
"Ini apa?" tanya Sehun blo'on.
"Aku baru tahu kalau restoran Jepang juga menjual Omurice," ujar Chanyeol tak penting.
Si pelayan membungkukkan badannya kemudian berlalu tanpa sepatah kata pun. Dan Sehun baru menyadari keberadaan sosok lain bersama si pelayan tadi. Seseorang yang mengenakan jas rapi tengah tersenyum sopan padanya dan ketiga Hyung-nya.
"Tuan muda meminta koki utama membuatkan ini untuk anda," ucap orang itu sopan. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia manajer di restoran ini.
Eh? Sehun mengerjap bingung. Tuan muda? Siapa? Apa jangan-jangan dia salah satu fans-nya? Lalu dia tersenyum aneh. Hahaaaaaaaai, beginilah namanya orang terkenal. Dimana-mana, ada saja fans yang memberikan sesuatu. Hohohohoho.
"Dan Tuan muda juga berpesan kalau anda tidak perlu membayar semua makanan yang ia makan tadi!" ujar orang itu lagi. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Silahkan dinikmati, Tuan!"
Sehun berhenti tersenyum aneh. Orang itu berlalu. Meninggalkan Sehun dan ketercengangannya. Meninggalkan Kris, Chanyeol dan Suho yang saling melempar pandang.
"Sehun-ah! Kau, kencan dengan anak pemilik restoran ini?" tanya Chanyeol mulai 'kepo'.
Sehun masih mengerjap bingung. Otaknya bekerja sangat keras. Mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan manajer restoran bername-tag Xiumin tadi. Tuan muda? Makanan yang dimakannya? Siapa? Orang yang dimaksud, yang dipanggil Tuan muda.
Mungkinkah?
Dddrrrtttt
Ponsel Sehun bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya terpampang di layar depan. Dengan kening mengernyit, namja tampan itu membuka pesan masuk tersebut.
Maaf TT_TT
Keningnya makin berkerut bingung. Namun detik berikutnya, sebuah pesan lain dari nomer yang sama kembali masuk. Dan kerutan itu, berubah menjadi senyuman.
Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka. Tapi kudengar, semua orang Korea menyukai Omurice. Jadi, kau harus menghabiskannya, ya! Aku akan memastikannya lewat Xiumin! ^o^
Dan saat pesan ketiga masuk, senyuman itu menjadi semakin lebar. Sangat lebar.
Kau, tidak akan dendam padaku, kan? Kita impas? :)
Kris, Chanyeol, Suho cengo. Menatap ngeri pada Sehun yang tersenyum lebar seperti seorang maniak sambil terus menatap layar ponselnya.
"Kau, benar-benar harus menceritakan apa yang terjadi, magnae!" ujar Kris yang langsung diangguki oleh kedua temannya. "Dengan detail!" imbuh Suho.
Namun Sehun seolah tak mendengarnya. Pikirannya melayang ke awang-awang karena pesan itu. Ditambah lagi emot 'smiley' yang ditambahkan Luhan di pesan yang ketiga. Aaaaah~ Sehun jadi membayangkan senyum manis Luhan yang ditujukan untuknya. Senyum manis yang benar-benar manis dan tulus.
Kali ini, Sehun tidak membuang waktu lagi. Mengetikkan beberapa kata sebagai balasan dan langsung menyimpan nomor Luhan sebelum terkena tangan-tangan jahil nan kepo milik ketiga makhluk abstral di depannya (read: KrisYeolHo).
~HunHan Bubble Tea Couple~
"Kau tidak mau mampir dulu, Ge?" tanya Luhan saat Henry memarkirkan mobilnya di depan apartemen Luhan.
Pria yang dipanggil dengan sebutan 'Ge' itu menggeleng pelan. "Tidak usah, Lu!" tolaknya halus. "Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan restoran. Kau tahu itu, kan? Apalagi, hari ini kau sudah membuat aku rugi!"
Iiissshhh! Luhan memanyunkan bibirnya. "Kenap pelit sekali pada adik sendiri, eoh?! Lagi pula, restoran itu kan milik Baba. Bukan milikmu!" cibirnya.
Henri tertawa pelan. "Benarkah? Kalau begitu, haruskah aku melaporkan apa yang terjadi hari ini pada Baba? Biar dia tahu, kalau anak tersayangnya, yang berwajah malaikat ini juga memiliki sisi gelap! Hahahahahaha!"
"Yaaaaaaaaaaaaaakk!" Luhan mendelik. Membuat Henry semakin terpingkal melihatnya wajahnya yang sangat imut itu. Dan hal itu sukses membuat Luhan semakin keki.
"Sudahlah, cepat masuk!" Henry menghentikan tawanya dan mengambil sesuatu dari kursi belakang. "Dan berikan ini pada ketiga teman anehmu itu. Mereka pasti kesal karena kalian tidak jadi nonton konser!" ujarnya seraya menyodorkan sekotak sushi pada Luhan.
Namja manis itu tersenyum senang dan langsung menubruk Henry dengan tubuh kurusnya. "Huwaaaaaaa! Gege memang yang terbaik!" serunya. Ia lalu memberikan ciuman sayang di pipi Henry dan bergegas keluar dari mobil.
Dengan sekotak sushi ini, dongsaeng-dongsaeng cerewet itu pasti akan memaafkannya, hehehehe.
Ddrrrttttt
Langkah ringannya terhenti saat merasakan getaran yang berasal dari ponsel di saku jeans yang ia kenakan. Luhan mengambil ponsel tersebut dan segera membuka kunci layarnya. Sebuah pesan masuk dengan nama 'namja aneh' terpampang di sana.
Besok. BUBBLE TEA PALACE. Jam 3.
Setelah itu, baru kita impas! :D
'Tch!' Luhan berdecih pelan. Mengetikkan beberapa kata di layar ponselnya dan mengirim pesan itu pada Sehun.
Jika kau berjanji untuk bersikap sedikit lebih 'waras', mungkin aku akan mempertimbangkannya! :P
Namja manis itu kembali melanjutkan langkah ringannya setelah mengirimkan balasan. Dan tanpa ia sadari, ia menggigit bibir bawahnya. Menahan senyum lebar yang bisa-bisa membuat orang salah paham dan mengiranya tak waras.
Blamm
Luhan menutup pelan pintu apartemennya. Melepas sepatu kets yang sempat beberapa kali menyapa tulang kering Sehun dan meletakkannya di rak sepatu yang tersedia dengan sangat rapih. Ponsel ditangan buru-buru dimasukkan kembali ke dalam saku sebelum ketiga dongsaeng cerewet yang tinggal dengannya mulai rusuh.
"Aku pulang!" ujarnya sedikit nyaring untuk menarik perhatian tiga manusia kerdil nan imut yang tengah menonton di ruang tengah. Ia lalu menghampiri mereka yang terlihat agak kesal. Luhan maklum, bagaimana pun dia telah merusak acara mereka malam ini. Bukan hanya masalah konser 2NE1, tapi juga kencan mereka.
Hhhhhh. Namja manis itu menghela nafasnya pelan dan mendudukkan tubuhnya di antara Lay dan Kyungsoo yang terlihat acuh dan begitu fokus pada televisi di depan mereka. Meski kenyataannya saat itu sedang jeda komersial. Sedangkan Baekhyun memilih untuk sibuk dengan ponsel di tangannya. Mungkin bertukar pesan dengan sang kekasih dan mengeluh tentang kencan mereka yang gagal.
"Mianhae! Tadi ada sedikit masalah, jadi aku tidak bisa sampai tepat waktu," ujar Luhan menyesal. "Sebagai gantinya, aku membawakan sushi kesukaan kalian dari restoran Henry Ge! Jjaaa!" serunya semangat. Menunjukkan plastik berisi sekotak sushi yang diberikan Henry tadi.
Baekhyun terlihat melirik dari ekor matanya. Dan Luhan bisa mendengar suara air liur yang diteguk dari sisi kanan dan kirinya. 'Langkah pertama, cukup sukses!' pikir Luhan.
"Kalian tidak mau? Ataaaaaaau, aku berikan saja pada MinWoo (anak tetangga sebelah yang sangat menyukai makanan khas Jepang)? Aku yakin kalau dia tidak akan menolaknya. Apalagi, ini kan dari restorannya Henry Ge!" pancing Luhan.
Masih diam.
Luhan bangkit dari duduknya, dengan sangat perlahan. "Baiklah kalau tidak ada yang mau. Aku—"
"ANDWAEEEE!" Ketiganya berteriak dengan sangat kompak.
Luhan tertawa pelan dan kembali mendudukkan tubuhnya lalu meletakkan plastik itu di atas meja. Dan detik berikutnya, LayBaekSoo sudah menyerbu makanan mungil-mungil itu. "Yaaaaaaaaaa! Aku tidak tahu kalau kalian lebih menyukai sushi daripada aku!" sindirnya.
Kyungsoo terkekeh pelan dan memeluk Luhan dari samping dengan sayang. "Aniyo, Hyung!" ucapnya dengan mulut penuh sushi. "Memangnya, kau kemana saja, eoh? Apa terjadi sesuatu di restoran?" tanyanya kemudian.
Luhan hampir saja tergelak karena pertanyaan itu. Tiba-tiba teringat kembali pada kencan seharinya dengan namja tampan itu. Kalau dipikir-pikir, 'kencan'nya hari ini tidak begitu buruk. Bahkan bisa dibilang kalau ia senang dan terhibur. Minus kenarsisan Sehun yang sepertinya tak berujung itu tentunya. Kekekekeke.
"Hyung!" panggil Baekhyun. "Kau melamun!"
Luhan mengerjapkan mata kala tersadar dari lamunanya. "Eh? Kalian mengatakan sesuatu?"
Baekhyun memicingkan matanya curiga. "Apa terjadi sesuatu hari ini, Hyung? Kau terlihat aneh. Tidak biasanya kau melamun."
Uurrgggh. Insting detektif Baekhyun memang sangat kuat! Untung saja dua adiknya yang lain tidak seperti itu.
Luhan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. "Ada sedikit 'masalah' tadi di restoran," jawab Luhan seadanya. "Lalu, bagaimana dengan kekasih kalian? Apa mereka pulang?" Luhan mencoba mengalihkan pembicaraan. "Hhhh, padahal aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Aku kan juga ingin tahu seperti apa kekasih dongsaeng-dongsaengku." tuturnya. "Dan seharusnya, kalian pergi saja ke konser tanpa aku tadi!"
Mendengar jawaban itu, Kyungsoo lagsung menghentikan makannya dan beranjak duduk di depan Luhan, di atas karpet. Menyandarkan kepala di atas kedua punggung tangan halusnya yang berada di atas paha Luhan.
"Mengenai itu, sebenarnya kegagalan acara malam ini tidak sepenuhnya karenamu, Hyung," ujar namja yang memiliki hobi memasak itu. Luhan menatap ketiga adiknya bingung.
"Kami juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sepertinya ada hal emergency yang terjadi, dan magnae mereka tidak bisa datang. Dia mengirim sebuah pesan untuk ketiganya, dan wussshhhhh. Mereka langsung meluncur pergi dan membatalkan acara malam ini," sahut Lay.
"Tapi, ada untungnya juga acara nonton konser kita dibatalkan. Karena aku tidak mau magnae gila itu bertemu denganmu!" imbuh Baekhyun. Lay dan Kyungsoo mengangguk setuju.
"Magnae? Memangnya ada apa dengan 'magnae' itu sampai kalian tidak ingin aku bertemu dengannya?" tanya Luhan penadaran.
BaekSooLay saling berpandangan. 'Karena kami tidak mau kau terpesona lalu jatuh hati padanya dan berakhir seperti kami!' jawab ketiganya kompak. Tapi, tentu saja hanya di dalam hati.
"Tidak ada alasan khusus, Hyung! Kami hanya tidak ingin kau berteman dengan orang yang salah," jawab Baekhyun.
"Memangnya, dia bukan orang yang baik?" tanya Luhan lagi, semakin penasaran. Kyungsoo menggaruk kepalanya. Bingung harus menjawab apa.
"Sebenarnya dia baik sih, Hyung! Tapi terkadang dia suka over PeDe, dan kami tahu kalau kau tidak suka dengan orang seperti itu, kan?" Lagi-lagi Baekhyun yang menjawab. Urusan mencari alasan, memang Baekhyun ahlinya. Hohohoho.
"Eh? Benarkah?" Luhan menaikkan alisnya. Mendengar cerita Baekhyun tentang 'magnae' itu, ia jadi teringat lagi pada namja yang beberapa jam lalu menemaninya keliling kota Incheon. Jadi, orang seperti itu benar-benar ada lagi di luar sana? Ia kira, Sehun adalah satu-satunya di dunia.
"Iya, makanya Hyung tidak perlu bertemu dengannya!" jawab Kyungsoo.
Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Tapi, jika adiknya seperti itu, apa Hyung-nya tidak mirip-mirip begitu juga?"
"Tentu saja tidak, Ge! Kris itu tidak seperti adiknya. Meski wajahnya sedikit angker seperti Angry Bird, tapi sebenarnya dia sangat baik. Hanya saja, dia tidak begitu bisa tersenyum dengan orang-orang yang tidak begitu ia kenal!" jelas Lay.
"Chanyeol apalagi. Dia tipe-tipe orang yang tidak ada beban dalam hidupnya. Selalu tersenyum dan menyebar kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Kalau tidak, dia tidak akan dijuluki Happy Virus oleh anak-anak kampus." Baekhyun ikut membanggakan kekasihnya.
Luhan lalu menatap Kyungsoo yang masih bersandar dipangkuannya. Menunggu cerita singkat tentang kekasih magnaenya itu. "Kalau Suho Hyung. Dia ramah. Baik. Tidak enggan untuk memberikan senyumnya pada siapa pun. Dan dari mereka ber-empat, Suho Hyung adalah yang paling bijak," ujarnya.
Ada rona merah yang merekah di kedua pipi tambun Kyungsoo saat mengucapkan itu. Membuat Luhan tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubitnya karena gemas. Hhhhhhhh. Mendengar cerita dari ketiga adiknya, tiba-tiba Luhan juga ingin mempunyai seorang kekasih. Setidaknya, nanti tidak akan ada yang berani menggodanya lagi. Dia juga jadi punya teman saat menikmati minuman favoritnya di kafe. Dan jika dia bertemu dengan ahjussi mesum di dalam bis seperti tadi siang, akan ada yang melindunginya.
"Sepertinya mereka bertiga orang yang baik," komentar Luhan. "Lalu, bagaimana dengan si magnae. Errrrr, siapa tadi namanya?" tanyanya kemudian.
"Namanya Se—"
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Luhan meraih ponsel di sakunya yang berdering begitu nyaring. 'Tunggu sebentar, ya!' bisiknya pelan dan menerima panggilan itu.
"Oh, Minseok-ah? Ada apa?" tanya Luhan begitu mendengar sapaan dari seberang sana. Ia lalu berdiri dan beranjak menjauh dari ketiga dongsaeng yang menatapnya penasaran. Tidak biasanya Luhan menjauh saat menerima panggilan seperti itu. Apalagi kalau yang menelfon adalah Xiumin, manajer di restoran keluarga Luhan sekaligus sahabat dekatnya.
"Oh ya! Aku membelikan baju untuk kalian! Lihat saja di plastik itu!" ujar Luhan yang menyadari tatapan penasaran dari ketiga adiknya. Mencoba mengalihkan perhatian mereka.
Dan berhasil. Karena BaekSooLay sekarang tidak lagi menatap penasaran padanya dan malah berkumpul di depan plastik yang ia tunjuk tadi.
"Jadi, bagaimana?" tanya Luhan setelah yakin kalau ia 'aman'.
"Misi selesae! Mereka sudah pergi, dan aku juga sudah melakukan apa yang kau perintahkan!" jawab Xiumin.
"Mereka?" Luhan mengernyit bingung. "Mereka siapa?"
"Molla! Sepertinya namja yang kau tinggalkan tadi menghubungi beberapa teman untuk menyelamatkannya dari situasi yang kau ciptakan tadi."
Aaah~ Luhan mengangguk paham. "Lalu, apa dia memakan Omurice-nya?"
"Yups! Sangat bersih. Bahkan jika piringnya bisa dimakan, aku yakin dia juga akan memakannya. Entah karena ia mendapat makanan gratis, atau karena ia memang benar-benar sedang amat sangat kelaparan, atau juga karena -entah apa pun- pesan yang kau kirim padanya. Yang jelas, ia makan dengan tersenyum saaaaangat lebar. Bahkan ketiga temannya hanya bisa memandang ngeri padanya. Kekekekeke."
Setelah memutuskan sambungan telfon, Luhan tersenyum. Lagi-lagi ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum -sangat- lebar yang siap terbentuk di wajahnya. Luhan sendiri tidak tahu mengapa, tapi mendengar apa yang Xiumin 'laporkan' padanya, ada rasa aneh yang tidak bisa ia jelaskan yang menghampirinya. Membuatnya ingin terus tersenyum.
"Hyung! Jaket ini untukku yaaaaaaa!"
Teriakan merdu dari Baekhyun menyadarkan Luhan dari lamunannya. Matanya langsung mendelik lebar saat menyadari 'jaket' yang dimaksud Baekhyun. Karena hanya ada satu jaket di sana.
"Andwaeeee!" Luhan bergerak cepat dan mengambil 'jaket' di tangan Baekhyun. "Kalian boleh memilih dan mengambil yang lain, tapi jangan ini." Tangan mungilnya menggenggam dan mendekap jaket itu dengan erat.
BaekSooLay cengo melihat tingkah aneh Hyung mereka. "Mwoyaaa. Mengapa reaksimu berlebihan begitu, Hyung? Aku juga tidak akan mengambilnya kalau memang tidak boleh." Baekhyun manyun.
"Lu Ge! Jaket seperti itu kan bukan style-mu. Mengapa kau membelinya? Aku pikir tadi, itu untuk Baekhyun!" ujar Lay.
"Hyung! Katakan yang sebenarnya. Apa terjadi sesuatu hari ini? Kau benar-benar aneh, Hyung. Apa seseorang membelikannya untukmu?" tembak Kyungsoo.
Luhan terkesiap. Mulutnya terbuka untuk mengucapkan sesuatu. Lalu tertutup lagi saat ia tidak tahu harus mengatakan apa. Kemudian terbuka, dan tertutup lagi. Persis seperti ikan lohan yang tengah berenang cantik di dalam aquarium yang terletak di samping televisi.
"Jadi," Baekhyun menyipitkan mata sipitnya. "Jaket itu benar-benar pemberian 'seseorang', Hyung? Nugu? Apakah kekasihmu?" tanyanya kemudian dengan smirk manis di wajahnya.
"Y-yaaa! Me-memangnya aku tidak boleh mengganti style-ku?" kilah Luhan, dengan terbata. Membuat mereka yang curiga semakin penasaran. "Su-sudahlah! Aku capek dan mengantuk! Jaljayooo!"
Dan Luhan pun, berlalu. Meninggalkan tiga makhluk paling kepo sedunia yang saling melempar pandangan jahil nan usil. Kata orang, semakin kau menyangkalnya dengan penuh semangat, maka kau semakin menunjukkan kalau apa yang dituduhkan padamu adalah sebuah kebenaran.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Hari itu, keadaan kantin nampak ramai. Mungkin karena cuca di luar yang begitu panas menyengat, jadi para penghuni kampus lebih memilih untuk melewatkan makan siang mereka di dalam kantin. Untung saja ada AC yang menfasilitasi ruangan yang memang selalu ramai itu.
Di salah satu sudut kantin, ada tiga 'Pangeran' kampus yang juga tengah menikmati makan siang mereka. Tatapan tak suka, iri, cemburu, pengen, dan sejenisnya tertuju ke sana. Lebih tepatnya, ke arah tiga namja manis nan imut-imut yang menjabat sebagai kekasih sang 'Pangeran'. Meski pada awal-awal dulu mereka merasa risih dengan pandangan seperti itu, tapi sekarang mereka sudah terbiasa. Bahkan ada rasa bangga yang terbesit karena telah menjadi yang 'terpilih' dari sekian banyak kontestan aka mahasiswa XOXO University lainnya.
Tapi jika diperhatikan dengan seksama, ada yang kurang dari meja 'khusus' yang selalu digunakan para 'Pangeran' itu.
"Sehun kemana, Hyung? Tumben dia tidak ikut makan siang?" tanya Kyungsoo penasaran.
Yapss. Sehun tidak ada di sana. Lalu di mana? Hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang tahu.
"Apa KEKASIH barunya membawakan bekal makan siang untuknya?" Baekhyun ikut bertanya.
"Tapi kan, biasanya meskipun Sehun mendapatkan bekal makan siang, dia tetap akan memakannya di sini," sahut Lay.
Chanyeol menatap ketiga namja imut itu dengan memicingkan matanya. "Yaaaaa! Kenapa kalian jadi perhatian sekali dengan Sehun? Apa kalian jatuh cinta lagi padanya?" tanya pria bertelinga runcing itu asal.
Pletakk
Jduk
Bugh
Pletak
Nyiuut(?)
Pertanyaan asal yang langsung mendapatkan sambutan hangat dari kelima penghuni meja. Chanyeol mengusap kepala, tulang kering, yang terasa nyeri. Oh, jangan lupakan lengan kanannya yang terasa perih akibat cubitan sayang dari sang kekasih. Ia menatap sedih pada kelima manusia kejam yang sama sekali tak menunjukkan belas kasihan mereka padanya.
"Itulah yang didapatkan oleh orang-orang yang suka asal bicara!" komentar Kris acuh sembari kembali memakan buah apel di tangannya.
Chanyeol cemberut. "Kalian tega sekali!" cicitnya, tanpa ada seorang pun yang perduli.
"Eh, tapi akhir-akhir ini Sehun memang aneh. Bahkan rasanya sudah lebih dari seminggu aku tidak melihatnya berkeliaran di sepanjang koridor kampus dengan menggandeng seseorang!" ujar Kyungsoo kemudian, setelah keadaan lebih tenang.
Chanyeol dan Kris melempar pandang yang tak wajar. Berlagak sok misterius yang justru terlihat begitu culun. Sedangkan Suho, tersenyum aneh. Persis seperti seorang ayah ketika merasa bangga pada anaknya.
"Yaaaaaaaaaa! Sebenarnya ada apa?" tanya Baekhyun semakin penasaran.
Suho berhenti memakan ramennya. Melipatkan kedua tangan di depan dada, dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Magnae kita, sepertinya sedang jatuh cinta!" ucapnya bangga.
"MWOOOO?!"
Teriakan kompak yang sarat akan rasa ketidak pecayaan itu terdengar dari BaekSooLay. Magnae mereka? Oh Sehun? Yang tidak pernah pecaya cinta itu? Yang mendapat julukan 'The Player' itu? Yang -sialnya- pernah mereka sukai itu? Dia...
"JATUH CINTA?!"
Suho, Kris dan Chanyeol mengangguk berbarengan. Mengiyakan pertanyaan histeris dari ketiga kekasih mereka.
"Aeeyyhhhh! Maldo Andwae!" cibir Baekhyun. "Jangan bercanda, Hyung! Itu tidak lucu!" sahut Kyungsoo. "Iya kan, Lay Hyung?" Ia kemudian bertanya pada Lay yang tercengang di sampingnya.
Yang ditanya tak segera menjawab. Mengernyitkan kening bingung dan menggaruk kepalanya. "Apa Sehun benar-benar sedang jatuh cinta? Dengan siapa?" tanya Lay dengan wajah polosnya.
"Lay Hyung! Kau tidak mungkin percaya pada mereka, kan?" protes BaekSoo.
"Yaaaa! Apa susahnya sih untuk percaya? Seorang playboy sekali pun, pasti ada masanya dia berubah saat menemukan cintanya!" tutur Kris yang langsung diangguki oleh Suho dan Chanyeol. Namja setinggi tiang listrik itu lalu menunjuk ke arah pintu dengan dagunya saat melihat seseorang memasuki wilayah kantin. "Kalian bisa menilainya sendiri kalau masih tidak percaya!" ujarnya.
Sehun melangkah ringan ke arah mereka, dengan senyum lebar dan mata terfokus pada layar ponselnya. Entah bagaimana caranya ia tidak menabrak sesuatu apa pun dengan gaya berjalan seperti itu. Seolah ia tengah berada di dunianya sendiri.
"Hai, Hyungs!" sapanya dengan riang begitu tiba di meja mereka lalu duduk di samping Suho. Mata dan tangan masih bergerak lincah di atas ponsel layar sentuh di tangannya. Tanpa menyadari tiga tatapan intens yang tertuju padanya.
'Lihatlah baik-baik!' Suho berkata tanpa suara pada BaekSooLay. Memerintahkan mereka untuk mengamati tingkah laku Sehun. "Ehem!" Namja 'kurang' tinggi itu berdehem pelan sebelum memulai aksinya. "Ohoooo! Sepertinya ada yang sedang bahagia!" ujarnya memancing perhatian dari Sehun. "Apa ada perkembangan baru dengan namja itu?"
'Hehehehhee!' Sang magnae tertawa pelan dan berhenti bermain dengan ponselnya. "Tentu saja aku senang, Hyung. Hari ini kami akan bertemu di Bubble Tea Palace, Hyung!" jawab Sehun.
"LAGI?" Chanyeol bertanya dengan nada bosan. "Yaaaa! Hampir setiap hari kalian bertemu di sana. Apanya yang menyenangkan? Seperti tidak ada tempat lain saja!"
Mengacuhkan komentar sarkastik itu, Sehun mengambil beberapa potong apel dari piring Suho. "Hyung! Apa perlu kubelikan cermin yang besar?" tawarnya. "Aaaah, aku tidak sabar lagi. Aaaaah, kapan Baekhyun-ku sampai? Aaaaaaah, aku sangat merindukannya!" Ia mulai menirukan gaya dan kalimat Chanyeol. "Setiap hari pun, kau mengatakan itu meski kenyataannya kita selalu makan siang bersama!" cibirnya.
Keempat temannya tertawa keras mendengar cibiran Sehun. Chanyeol nyengir malu. Dan Baekhyun sibuk dengan pipinya yang merona.
"Sudahlah! Aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau membuatnya menunggu terlalu lama. Pai pai, Hyungs!" ujar Sehun kemudian, sebelum berlalu dari sana dengan senyuman yang sangat lebar. Tidak lupa memberikan kiss bye untuk KrisYeolHo dan BaekSooLay yang menatapnya horor.
Suho mengangguk paham. Mengucapkan 'selamat bersenang-senang' pada Sehun kemudian menata BaekSooLay dengan tatapam 'told you!'. Sedangkan yang ditatap hanya tercengang heran melihat tingkah laku aneh Sehun.
"Aku kan sudah bilang, kalau Sehun sedang jatuh cinta. Apa kalian pernah melihat dia seperti itu sebelumnya? Bahkan kami yang hampir selalu bersamanya saja tidak pernah!" tutur Kris.
Baekhyun masih terlihat tak percaya. Kyungsoo seperti tengah mencoba untuk percaya. Dan Lay, dia terlihat tengah berfikir. Sepertinya ia masih mencoba mencerna kejadian demi kejadian yang baru saja terjadi. Atau mungkin, dia sedang... well, menjadi Lay?
"Memangnya, siapa dia? Yang sudah membuat Sehun jatuh cinta?" tanya Baekhyun. Masih menolak untuk menerima kenyataan.
Kenyataan kalau ada seorang NAMJA yang telah berhasil mencuri hati Sehun. Selama ini, 'mantan' Sehun yang bergender NAMJA hanya dia, Lay, dan Kyungsoo. Dan meski mereka tidak se-WOW para Pangeran kampus itu, tapi bagi para Seme tampan, mereka bertiga adalah Uke idaman. Jadi, siapa gerangan yang telah mengalahkan pesona mereka bertiga? Namja seperti apa yang telah berhasil membuat Sehun jatuh cinta? Apa lebihnya namja itu dibanding mereka?
Apa lebih cantik dari dirinya?
Atau, lebih perhatian dari Kyungsoo?
Atau juga, lebih menggemaskan dari Lay?
"Apa dia anak kampus kita? Mengapa Sehun tidak membawanya kemari saja?" tanya namja manis itu -lagi.
Chanyeol menggerakkan jari telunjukkan ke kanan dan ke kiri di depan wajahnya. "No no no no no! Dia, bukan mahasiswa kampus kita!" jawabnya.
"Lalu?" Kali ini Kyungsoo yang bersuara.
"Dia anak Inha University!" sahut Suho.
"Inha University?" Lay mengerjapkan matanya. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Kris mengangguk. "Yaps! Kami tidak tahu dia mahasiswa tingkat berapa. Bahkan Sehun sendiri tidak tahu waktu kami bertanya hari itu. Tapi, kalau dilihat dari aura baby face di wajahnya sih, sepertinya dia mahasiswa baru! Apalagi, Sehun bilang, sebelum-sebelumnya, dia tidak pernah melihat namja itu di kedai Bubble Tea langganannya. Dan sepertinya dia bukan orang Korea. Namanya saja bukan nama Korea. Mungkin, dia baru datang ke kota ini untuk kuliah di Inha University!" jelasnya panjang lebar. Dan demi wajah kelima temannya yang cengo, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan oleh tiang berjalan itu selama mereka saling mengenal.
Inha University
Baby face
Bubble Tea
Bukan orang Korea
Nama yang berbeda
Kenapa ia jadi teringat Luhan Ge? Lay kembali terlihat larut dalam pikirannya. Mencoba mengaitkan beberapa link yang tecipta di dalam kepalanya.
"Memangnya, namanya siapa?" tanya Baekhyun sembari meminum Cola yang sempat terbengkalai. Bersikap seolah ia tidak terlalu perduli. Padahal dalam hatinya, ia penasaran setengah mati.
"Namanya Luhan!" jawab Chanyeol.
"MWOOOOOOO?!" teriak Kyungsoo.
Byuuurrr
Wajah Chanyeol basah kuyup. Begitu juga dengan baju bagian atasnya. Salahkan Baekhyun yang tengah membeku di tempatnya dengan mulut yang menganga lebar. Di sampingnya, keadaan Kyungsoo juga tak jauh berbeda. Bahkan, matanya yang memang sudah bulat itu terlihat semakin bulat. Nyaris seperti hampir keluar dari sarangnya.
Dan Lay. Masih L-O-A-D-I-N-G!
"Yaaaaaaaaaaak! Baekhyunnie. Kau mem—"
"Apa kalian mempunyai foto namja itu?" tanya Lay setelah link-link di kepalanya serta nama yang baru saja diucapkan Chanyeol berhasil connect .
"Tentu saja!" jawab Suho cepat. Ia kemudian merogoh saku celana yang ia kenakan dan mengambil ponselnya. Mengutak-atik benda canggih itu sebentar dan menunjukkan sebuah foto pada mereka. Sebuah foto yang berhasil membuat Baekhyun semakin mengaga lebar. Sebuah foto simpel yang juga berhasil membuat mata Kyungsoo terlihat berkali-kali lebih besar dari biasanya. Dan membuat Lay langsung meraup(?) benda itu kemudian mengamatinya lekat-lekat.
"OMOOOO!" serunya saat menatap lekat foto itu. "Bukankah ini hmfft—"
Baekhyun dan Kungsoo serempak bangkit dari kursi mereka dan membungkam mulut namja berlesung pipit itu. Mengambil alih ponsel di tangannya dan mengembalikan benda itu pada Suho.
"Yaaaa! Mengapa kalian melakukan itu pada kekasihku?" protes Kris tak terima. "Apa kalian mengenalnya?" tanya Suho. "Kalian terlihat mencurigakan!" sahut Chanyeol.
"ANIYO!" jawab BaekSoo cepat. Membuat Lay menatap keduanya bingung. Mengapa mereka berbohong? Meski hanya sebuah foto dengan angle dari samping dan tidak begitu jelas, tapi itu adalah Luhan. Apa mungkin penyakit pikunnya sudah menular pada mereka?
Melihat reaksi BaekSoo yang sedikit berlebihan, KrisYeolHo semakin curiga. "Tapi, sepertinya Lay tidak sependapat dengan kalian. Dia bahkan baru akan mengucapkan sesuatu kalau saja kalian tidak menutup mulutnya!" ujar Suho. BaekSoo buru-buru melepaskan tangan mereka dari bibir Lay karena tuduhan itu.
"Nah, sekarang lanjutkan kaimatmu yang tadi, babe!" ujar Kris sok mesra. Dan jika saja situasinya sedang tidak seperti ini, Baekhyun pasti dengan senang hati sudah menyumpal mulut Kris dengan kulit durian.
"Memangnya tadi aku mau bilang apa?" tanya Lay bingung.
Chanyeol menepuk jidatnya pelan. Lay dan penyakit lupa-nya! Urrrggghh! "Hyung! Kalimat tak sempurna saat kau melihat foto Luhan tadi!"
"Aaaah~" Lay mengangguk mengerti. "Ituuuuuu..." Ia menggantung kalimatnya. Menatap BaekSoo yang menatapnya penuh harap. Seolah tengah mengirimkan sinyal padanya.
Jebal, Hyung! Sekali ini saja!
"Aku, cuma ingin mengatakan kalau namja itu, siapa tadi namanya? Luhan? Dia manis sekali, hehehehe!"
Baekhyun dan Kyungsoo menghembuskan nafas lega mendengar jawaban Lay. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, keduanya langsung mengambil tas yang tergeletak manis di atas kursi dan bergegas pamit undur diri.
"Mianhae! Kami lupa kalau hari ini, kelas akan dimulai lebih awal. Kami duluan yaaa! Annyeong!" pamit keduanya. Meninggalkan KrisYeolHo yang masih terlihat curiga namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak lupa menarik Lay, yang meski terlihat bingung karena mereka tidak ada kelas lagi hari itu, namun hanya mengikuti kemana kedua dongsaeng ini membawanya. Dan tidak lupa memberi kecupan manis di pipi kekasihnya sebelum pergi.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Luhan berjalan tergesa dengan langkah lebarnya menuju kedai Bubble tea langganannya. Dalam hati menggerutu pada dosen pembimbing yang tiba-tiba ada keperluan mendadak dan menyuruhnya untuk menunggu sampai dia kembali. Siapa yang menyangka kalau penantian itu nyaris satu jam? Belum lagi, sesi bimbingannya yang entah kenapa memakan waktu lebih lama dari biasanya.
'Apa 'dia' masih di sana?' pikir Luhan.
Saat tiba di depan pintu kafe, Luhan berhenti. Mengatur nafasnya agar tak terlihat tersengal-sengal. Membuka pintu kaca itu perlahan dan masuk ke dalam. Matanya refleks tertuju pada satu bangku yang akhir-akhir ini menjadi tempat ia istirahat dan menikmati segelas Bubble Tea di sore hari sembari mengobrol santai.
Dia masih di sana. Jari-jari yang terlihat begitu sibuk dengan gadget di tangan. Kepala sedikit tertunduk. Kening berkerut karena terlalu fokus dengan entah apa pun yang ia lakukan pada gadget-nya itu. Dan dua gelas Bubble Tea, satu masih penuh tak tersentuh dan satu lagi nyaris kosong, tergeletak di atas meja.
Luhan tersenyum dan melangkah ke sana.
"Ehem!" Namja manis itu berdehem pelan saat tiba di meja tersebut. "Permisi, boleh aku duduk di sini?" tanya Luhan dengan senyum manisnya.
Mendengar suara Luhan, namja yang terlihat tengah sibuk sendiri itu langsung mendongak dan meletakkan ponselnya ke atas meja. "Hmmmmm, kalau kau mau membelikan aku satu gelas Bubble tea lagi, kau boleh duduk di sana, Hyung!" canda Sehun.
Ya! Sehun. Oh Sehun.
Setelah 'kencan' atau lebih tepatnya aksi jahil Luhan hari itu, yang kemudian diganti dengan 'kencan' di Bubble tea Palace keesokan harinya, mereka jadi sedikit lebih dekat. Lebih saling mengenal. Dan bahkan sekarang, keduanya seolah mempunyai perjanjian tak tertulis untuk bertemu setiap hari di kedai Bubble Tea itu. Berbincang-bincang, bercanda, atau hanya sekedar menghabiskan waktu dengan menikmati minuman bergelembung yang menjadi favorit mereka. Luhan juga tak jarang membawa beberapa manga atau novel dan membacanya di sana. Dan Sehun akan sibuk dengan game di ponselnya.
Luhan mendecih pelan dan menyamankan dirinya di atas kursi. Meminum Bubble tea-nya seteguk demi seteguk. Aaaaah~ Setelah aktivitas berlari yang cukup melelahkan tadi, memang tidak ada yang lebih baik dari segelas Bubble Tea. "Mianhae! Apa kau sudah menunggu lama?" Ia meletakkan minumannya kembali dan menatap Sehun dengan wajah menyesal.
"Aniyo! Aku juga baru datang. Baru beberapa menit yang lalu!" jawab namja tampan itu.
Mata Luhan tertuju pada gelas Bubble Tea nyaris kosong di depan Sehun. "Benarkah? WOW! Apa kau sangat kehausan sampai-sampai Bubble Tea Jumbo itu nyaris habis hanya dalam hitungan menit, eoh?"
Sehun terkekeh pelan. Salting, ia menggaruk tengkuk yang sebenarnya sama sekali tak gatal. "Kau, terlihat lelah!" komentar Sehun mengalihkan pembicaraan.
Luhan mengangguk. "Dosen pembimbingku benar-benar membuatku kewalahan. Katanya aku mahasiswa kesayangannya, tapi dia memperlakukan aku seperti ini!" keluh Luhan. Dia lalu mulai mengeluarkan berkas-berkas skripsi yang baru saja dicorat-coret oleh dosen pembimbing tadi dan mulai mempelajarinya.
Sehun memperhatikan Luhan dalam diam. Harus Sehun akui, namja di depannya ini terlihat begitu manis bahkan hanya dengan balutan kemeja putih, bercorak satu garis horizontal berwarna merah yang cukup lebar di bagian tengah, dan jins hitam yang membungkus kaki rampingnya. Beberapa gelang berwarna senada dengan jins yang dikenakannya terlihat melengkapi penampilan Luhan. Dan yang paling menarik perhatian Sehun adalah bagian leher Luhan.
Eiiittss! Jangan berfikiran yang iya-iya dulu. Sehun bukannya memperhatikan leher jenjang putih mulus yang begitu menggoda itu. Sama sekali tidak. Tapi ia memperhatikan benda kecil yang melingkar di sana. Aksesoris kecil dengan liontin huruf 'L' yang ia kenakan. Kalung yang ia belikan untuk Luhan hari itu.
Sesekali, bibir Sehun akan melengkung ke atas saat Luhan mem-pout-kan bibirnya. Atau saat Luhan mengetuk-ngetukkan pensil yang ia pegang ke dagunya. Atau saat kening itu berkerut dan kedua pipi merona itu menggembung dengan sangat imut.
"Hyung! Kau benar-benar mahasiswa semester akhir?" tanyanya tanpa bisa dicegah. Bagaimana tidak? Dengan wajah dan tingkah yang seperti itu, rasanya dia masih belum bisa percaya kalau Luhan adalah 'Hyung' di antara mereka berdua.
Luhan berhenti memeriksa draft skripsinya dan beralih menatap Sehun. "Yaaaa! Kenapa kau selalu menanyakan hal yang sama, eoh? Kau tahu, kan? Berapa kali pun kau bertanya, jawabannya tidak akan pernah berubah, Tuan Oh!" jawab Luhan.
Sehun tertawa kecil. "Jangan salahkan aku, Hyung! Siapa pun yang melihat kita sekarang, pasti akan mengambil kesimpulan kalau kau adalah adikku," kilahnya.
Luhan ikut tertawa pelan kemudian kembali berkutat dengan draft-nya. Bukannya dia sombong dan tidak menghiraukan keberadaan Sehun. Hanya saja, dia tidak bisa menatap wajah Sehun terlalu lama. Apalagi, namja tampan itu selalu menatapnya dengan tatapan yang Luhan sendiri tidak tahu harus mengartikan apa. Dan tatapan itu, selalu membuat dadanya berdesir aneh. Luhan juga tidak mau Sehun melihat pipinya yang pasti merona tiap kali ditatap seperti itu.
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Ponsel Luhan yang ia letakkan di atas meja berdering merdu dengan nama 'Yixing' yang tertera di sana. Luhan menyentuh 'ikon 'terima' dan menyapa salah satu dongsaengnya itu.
"Yeob—"
"Hyung! Kau di mana?"
"Aku? Aku ada di kedai Bubble Tea yang biasa kita kunjungi. Waeyo?" tanya Luhan. Keningnya berkerut, karena alih-alih suara si pemilik telfon aka Lay, justru suara cempreng Baekhyun yang menyambutnya.
"Apa kau bisa pulang segera? Ada hal penting yang ingin kami bicarakan denganmu!"
"Sekarang?" tanya Luhan lagi.
"Iya, Hyung! Sekarang! Palli palli!"
"Arrasseo! Kalian tidak mau dibelikan apa-apa?"
"Aniyo! Kami hanya butuh satu paket Luhan utuh. Segera!"
"Baiklah! Tunggu di sana, aku akan tiba beberapa menit lagi!" Ia pun memutuskan sambungan telfon dan bergerak merapikan barang-barang di atas meja. Memasukkan semua itu ke dalam ransel biru-nya.
"Apa terjadi sesuatu, Hyung?" tanya Sehun bingung. Hari-hari biasanya, mereka selalu menghabiskan waktu di sana sampai senja. Tapi hari ini, mengapa Luhan sudah akan pulang? Ini bahkan baru beberapa menit.
Luhan memberikan tatapan 'maaf' pada Sehun. "Sepertinya ada sesuatu di rumah. Jadi aku harus pulang sekarang," jelasnya. "Mianhae!"
Meski berat hati, Sehun menganggukkan kepalanya. "Gwaenchanna, Hyung! Biar aku antar, ne?!" tawarnya.
"Eh? Kau tidak perlu mengantarku, Sehun-ah! Apartemenku kan tidak terlalu jauh dari sini. Biar aku naik bis saja!" tolak Luhan halus.
Sehun menulikan telinganya. Ia juga ikut merapikan barang-barangnya yang berceceran di atas meja dan memakai jaketnya. Lalu meraih tangan Luhan dan menariknya menuju parkiran. "Aku tidak terima penolakan, Hyung! Hari ini kau terlambat. Lalu baru beberapa menit saja, kau sudah akan pergi lagi. Jadi kau tidak berada dalam posisi tawar-menawar, Hyung!" tukasnya. Mendorong pelan tubuh mungil Luhan untuk masuk ke dalam mobil.
"Sekarang, berikan aku alamatnya, Tuan!" ujar Sehun seraya sedikit membungkukkan badannya. Bersikap seolah ia adalah supir pribadi Luhan. Gestur yang sukses meluncurkan seulas senyuman manis dari Luhan, yang beberapa hari ini selalu didapatkan oleh Sehun. Namja cantik itu lalu menyebutkan alamat apartemennya, dan mobil pun melaju.
Beberapa menit kemudian, mobil Sehun terlihat memasuki sebuah kawasan apartemen yang cukup mewah. Yaaaaaaah, sebelas dua belas lah dengan kawasan apartemennya. Ia menghentikan mobil mewahnya tepat di depan pintu masuk lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu kursi penumpang. Matanya menatap ke sekeliling. Entah kenapa, sepertinya ia tidak asing dengan tempat ini. Rasanya dia pernah beberapa kali kemari, mengantar mantan-mantan kekasihnya.
Apa itu Hyejin? Atau Yura? Atau Minah? Atau Miyah?
Ah! Dia ingat. Dia pernah mengantar Baekhyun. Dan itu berarti dia juga pernah mengantar Lay dan Kyungsoo. Karena mereka bertiga tinggal di tempat yang sama. Makanya tadi dia merasa pernah ke sini beberapa kali.
"Sehun-ah!" panggil Luhan sedikit keras. Sehun berhenti menatap ke sekeliling dan menoleh pada Luhan. "Dari tadi aku memanggilmu, tapi kau hanya diam saja. Apa kau memikirkan sesuatu?" tanyanya.
Sehun tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Aniyo, Hyung! Aku hanya teringat pada beberapa teman yang tinggal di gedung apartemen ini," jawabnya.
"Benarkah? Kau punya teman yang tinggal di sini? Apa tidak mau sekalian mampir?"
Sehun kembali menggeleng. "Tidak, tidak!" tolaknya halus. "Meski aku tahu mereka tinggal di sini, tapi aku tidak tahu di mana tepatnya, Hyung. Aku hanya pernah mengantar mereka sampai sini saja," jelasnya kemudian.
"Aaaahh! Sayang sekali!" ujar Luhan. "Eh, kau kuliah di XOXO University, kan? Adik-adikku juga kuliah di sana!"
"Eh? Adik?" Sehun mengernyitkan dahinya.
Namja manis itu mengangguk semangat. "Eum! Bukan adik kandung sebenarnya. Tapi mereka adik-adikku!" jawab Luhan. "Aiiissh! Kalau saja aku tidak buru-buru, pasti aku bisa menceritakan tentang mereka. Siapa tahu kau kenal!" serunya senang.
Sehun tersenyum menanggapi. "Gwaenchanna, Hyung! Kau bisa menceritakannya besok!"
"Baiklah! Kalau begitu, aku masuk dulu ya! Mereka pasti sudah menungguku!"
Lagi, Sehun mengangguk seraya tersenyum. Kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan kendaraan roda empat itu saat Luhan tak lagi terlihat.
Luhan sendiri berjalan dengan sedikit tergesa. Hal penting apa sampai Baekhyun menelfon dan memintanya untuk segera pulang? Biasanya, meski ia pulang agak malam, ketiga adiknya itu tidak pernah sampai menelfon. Paling-paling hanya bertanya melalui pesan singkat.
Blamm
"Aku pulang!" teriaknya cukup keras begitu menutup pintu apartemen. Namja berparas cantik itu meletakkan sepatu di rak dan berjalan masuk dan langsung disambut oleh ketiga adiknya yang berdiri berjejer dan menatapnya ragu.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Luhan khawatir.
"Hyung..." panggil Kyungsoo pelan.
"Gege! Kau, kenal dengan Sehun?" tanya Lay.
"Apa kau sedang berkencan dengannya?" sahut Baekhyun.
Luhan mengerjapkan matanya sambil mencerna pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh adik-adiknya. "Kalian... Kenal dengan Sehun?" tanya Luhan pada akhirnya setelah terdiam beberapa saat.
"Kau belum menjawab pertanyaan kami, Hyung!" tegur Baekhyun.
"Kalian juga belum menjawab pertanyaanku!" balas Luhan.
BaekSooLay mendesah pelan dan menarik Luhan untuk duduk di atas sofa. Sedangkan meraka bertiga duduk di atas karpet. "Tentu saja, Hyung! Seluruh kampus pun kenal dengan Sehun," jawab Kyungsoo. "Sekarang katakan dengan jujur, Hyung! Kau sedang berkencan dengan Sehun? Mengapa kau tidak pernah cerita pada kami?" pertanyaan beruntun itu meluncur begitu saja dari bibir tebalnya.
"Apa—"
"Apa Sehun yang melarangmu untuk bercerita pada kami, Hyung?" Kali ini Baekhyun yang bertanya. "Kau, menyukainya?"
Luhan tergagap mendengar pertanyaan terakhir. "Okay!" ujarnya pelan. "Sehun dan aku berteman. Aku bertemu dengannya beberapa hari setelah kembali dari Australia di kedai Bubble Tea. Dan mengapa aku tidak menceritakannya? Karena tidak ada yang penting, kan? Sehun hanya teman. Dan, ya! Aku memang menyukainya." Luhan berhenti sebentar. Memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan oleh ketiga dongsaengnya. "Sebagai seorang teman!"
Ketiganya terlihat menghembuskan nafas lega. Kyungsoo meraih tangan Luhan dan menggenggamnya. "Hyung! Kau tahu kalau kami menyayangimu, kan?" Luhan mengangguk. Kenapa suasana tiba-tiba menjadi seirus seperti ini?
"Kau mungkin menyukainya sebagai seorang teman sekarang. Tapi kita ini sedang membicarakan seorang Oh Sehun, Hyung! Kau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika kau terus-terusan berada di dekatnya!" tutur namja bersurai hitam itu lembut.
"Apa maksudmu?" tanya Luhan tak mengerti.
"Maksud kami, Hyung! Kau boleh menyukai siapa pun. Kau bebas kencan dengan siapa pun. Karena itu adalah hak-mu. Tapi Sehunnie andwae! Dia tidak pantas untukmu, Hyung!" jelas Baekhyun.
"Tapi mengapa? Dia baik. Mungkin memang narsis berlebih, tapi dia pemuda yang baik menurutku!" kilah Luhan masih tak mengerti.
"Kami tahu, Hyung!" ujar Kyungsoo. "Sehun memang baik, tapi dia tidak sebaik yang kau kira! Dia tidak akan pernah serius, Hyung!"
Luhan semakin bingung. Ia sendiri tidak tahu mengapa dia begitu ingin membela Sehun yang terus dijelek-jelekkan oleh Baekhyun dan Kyungsoo. "Tapi—" Luhan baru saja akan membelanya lagi, jika saja—
"Sehun itu adalah mantan kekasihku, Ge!"
—pengakuan itu tidak terucap dari bibir manis adik pertamanya itu. Lay akhirnya angkat bicara setelah tadi hanya diam dan memperhatikan.
"Mwo?" Luhan terkesiap dengan mata yang membulat sempurna.
Lay mengangguk. "Dia juga, mantan kekasih Baekhyun dan Kyungsoo!"
"MWOOOOOOOOOOO?!" Dan mata itu semakin melebar.
Sehun
Mantan kekasih
Lay, Baekhyun, Kyungsoo
Apa ini masuk akal? Apa yang sebenarnya terjadi? Astaga! Kebetulan macam apa yang sebenarnya tengah menghampiri kehidupannya?!
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
TeBeCe
OMAKE
BaekSooLay Side, that day!
"Oooii! Mengapa kalian menarikku? Mengapa juga kalian berkata kalau kalian tidak mengenal Luhan Ge?" tanya Lay.
Saat ini mereka tengah berada di taman belakang fakultas kesenian. Namja ber-lesung pipit manis itu lalu mendudukkan tubuhnya di atas bangku dan memijat pelan tangan kanannya yang terasa sedikit kebas karena terus ditarik tadi.
"Ya ya yaaaaaaaaa! Bisakah kalian berhenti melakukan itu? Kalian berdua membuatku pusing!"
Lay menatap Kyungsoo dan Baekhyun yang tengah berjalan mondar-mandir di depannya. Dan hal itu sudah berlangsung cukup lama. Keduanya, dengan kening berkerut dan ekspresi yang sama terlihat tengah memikirkan sesuatu yang cukup berat.
Hanya karena Luhan dan Sehun? Apa yang salah jika memang Sehun menyukai Luhan. Bukankah ini hal bagus kalau memang Sehun bertaubat dan jatuh cinta pada seseorang?
"Hyung! Kita harus melakukan sesuatu! Aku tidak mau Luhan Hyung jatuh ke tangan Sehun!" cetus Baekhyun.
"Wae?" tanya Lay. "Kalau mereka memang saling suka, ya biarkan saja!"
"Mwo? Biarkan saja? Itu tidak mungkin, Hyung! Kau tahu bagaimana Sehun, kan? Dia tidak pernah serius. Berapa banyak yeoja yang telah menjadi korbannya? Dan juga kita bertiga!" sergah Kyungsoo.
Baekhyun mengangguk setuju. "Kau tidak mau Luhan Hyung mengalami nasib yang sama dengan kita, kan? Kau tidak mau Luhan Hyung terluka, kan?" pancingnya.
Lay terdiam. Tentu saja dia tidak ingin Gege tersayangnya itu terluka. "Lalu kita bisa apa?" tanya Lay akhirnya.
Baekhyun mencubit-cubit kecil dagunya seraya memikirkan sesuatu. "Kita benar-benar harus melakukan sesuatu. Jika memang Sehun hanya main-main saja. Jika dia tidak benar-benar serius dengan Luhan Hyung. Setidaknya kita harus bisa mencegah agar Luhan Hyung tidak terluka oleh kelakuan Sehun!" tegasnya.
"Lalu, bagaimana jika Sehun serius? Bagaimana jika ternyata Sehun benar-benar jatuh cinta pada Luhan ge?" tanya Lay lagi.
Salah satu sudut bibir Kyungsoo terangkat ke atas. Membentuk seringaian jahil. Hal yang sama juga dilakukan oleh Baekhyun yang berdiri di sampingnya. "Jika memang itu yang terjadi. Kita tidak boleh melewatkan satu-satunya kesempatan kita untuk balas dendam!" ujar namja bermata belok itu. "Dan memberi pelajaran pada Tuan Oh 'Player' Sehun!" sahut Baekhyun.
Hohohohohohohohohohoho
Keduanya sama-sama tersenyum 'evil'. Sepertinya mereka sudah mempersiapkan rencana di dalam benak mereka.
"Lalu, bagaimana dengan Kris, Suho dan Chanyeol?"
Kyungsoo duduk di samping Lay. "Kita pasti akan memberitahukan mereka, Hyung!"
"Tapi tidak sekarang!" Disusul Baekhyun yang juga duduk di sisi satunya.
Lay mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya. Meski sering bertengkar kecil, namun kalau sudah berurusan dengan kejahilan, dua dongsaengnya itu memang selalu kompak. Dalam hati, ia hanya bisa berharap satu hal.
Jika memang Sehun benar-benar jatuh cinta pada Luhan, ia harap namja tampan itu sudah mempersiapkan diri dan mentalnya dengan ujian yang akan diberikan oleh Baekhyun dan Kyungsoo.
BaekSooLay, Ends
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
.
A/N:
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAIIII!
Kali ini, gak sampai satu bulan, kaaaaaaaaaann? Hehehehehe.
I know, I know, ff ini semakin lama semakin amburadul dan melenceng jauh banget d dari plot awal. Lah wong sebenernya ini tuh cuma wansyut, dan sekarang malah udah chap 4 -_-! Liyya Cuma berharap chapter ini masih layak baca ^o^
Tapi tenang ajah, Cuma tinggal 2 chap lagi aja kok. Setelah itu, END ^_^
Oh ya, kata-kata tentang cinta di atas, ada yang Liyya ambil dari anonymous quotes dan Liyya kembangkan sendiri hehehehe.
Liyya mau ngucapin makasih yang sebanyak-banyaknya buat yang masih mau menunggu dan membaca ff garing ini. Buat semua yang udah baca, follow, favorit, dan review di chap-chap sebelumnya.
Semoga di chapter ini masih berkenan untuk review ya /ngarep/
Balasan Review:
hunhankid: Ohoooooo, ini juga Luhan udah luluh, dek. Tapi sweet momentnya nyusul ya hehe.
Makasih udah ngereview^^
miyah oh: asdfhgknajdkja. Wong Lulu nya masih belom doyan albino, kak. ya gak cemburu lah dia XD Hehehhe
Makasih udah ngereview^^
Guest: 7 juta? *uhuk* itu 7ratus ribu dek, hehehe.
Makasih udah ngereview^^
ani n: Eooooooooooooooon! Gak bosen apa jadi rentenir -_-! Luhan mah punya hati yang besar kok, Eooon. Liyya udah pernah cek(?) XD Hmmmm, kata si author Istana Kedua, nanti kalau Event HunHan udah kelar, Eoooon :P
Makasih udah ngereview^^
Guest: Hhwakakakkakakkakaka. Sehun udah gak belagu lagi kok, dek! Dia udah agak waras hehe.
Makasih udah ngereview^^
Guest (Kiky): Sayangnya mereka gila-gilaannya Cuma sehari doang deeek. hehehe.
Makasih udah ngereview^^
ludeer : Dia gak tulus seratus persen sih dek. Cuma jaim ajah. Masa' HOLANG kaya g bisa bayar segitu hehehe. Tapi emang ada saat-saat dia tulus hohohoho. Ohooooo. Sayangnya, mereka g jadi nonton konser. Gara2 HunHan -_-!
Makasih udah ngereview^^
Yeboo: Aaaaaah. Maaf maaf kalo gak suka Luhan yang kemaren #bow# Luhan g sok kok. Dia kan anak baik. Hehehe.
Makasih udah ngereview^^
mybabydeer: Lah ngapa males login, dek? Mw mentertawakan Sehun? boleh boleh boleeeeehh XD Makasih juga udah baca, deeek. ini udah lanjut. Moga g jelek-jelek amat ya :D
Makasih udah ngereview^^
Yang punya akun, bisa cek PM-nya yaa!
See U, next chapter!
Salam XOXO dari Liyya
