The Player
By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, and others
Pair: HunHan
Genre: RomCom(?)
Rate: T
Chapter: 5
A/N:
SEPERTI BIASA, LIYYA MAU NGUCAPIN BAAAAAAAAAAAAAAAAAAANYAK TERIMA KASIH BUAT SEMUA AUTHOR YANG MAU IKUT BERPARTISIPASI DAN MERAMAIKAN 'HUNHAN BUBBLE TEA COUPLE' EVENT INI!
TERIMA KASIH JUGA BUAT READERS YANG SELALU SETIA BACA, FAV, FOLLOW, N REVIEW FF-FF YANG UDAH DIPUBLISH. DAN JUGA, MAKASIH BANGET BUAT SEMANGATNYA^^
#BIGHUG
.
.
Note: Semua cast di sini, Liyya cuma pinjem namanya aja. Cerita ASLI milik Liyya. Kalau ada kesamaan dengan cerita lain, itu murni hanya sebuah kebetulan.
Warning: Romance gagal, cerita abal-abal, ide cerita pasaran -_- typo(s) dimana-mana, feel ngawang(?) alias gak dapet *trus ngapa masih ditulis n di-post -_-* #Liyyanyengir XD
.
.
HAPPY READING^^
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Rasanya seperti dejavu. Ini adalah kali kedua Lay melihat pemandangan yang sama di depannya dalam satu hari. Hanya saja, kali ini dengan pelaku yang berbeda. Di depannya, Luhan terlihat masih sedikit shock atas pengakuan mereka tadi. Lay bisa maklum. Siapa yang tidak kaget saat mengetahui kenyataan aneh seperti itu?
Luhan menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Kakinya, tanpa bisa ia tahan, terus bergerak. Berjalan mondar-mandir di depan ketiga adiknya yang kini duduk berjejer di atas sofa. Sesekali, ia akan memijit pelipisnya pelan dan menggumam tak jelas. Baru setelah beberapa saat berlalu, namja manis itu berhenti dan menghadap lurus pada BaekSooLay.
"Jadi," Luhan mulai bersuara. "Sehun adalah mantan kekasih kalian bertiga?" tanyanya masih tak percaya. Baekhyun, Kyungsoo dan Lay mengangguk kompak. "Tapi bagaimana bisa? Mengapa aku tidak pernah tahu kalau kalian memiliki satu mantan kekasih yang sama?!" Ia melipat kedua lengannya di dada.
"Errrrrrmmm, itu..." jawab Baekhyun ragu. "Karena kami sepakat untuk tidak menceritakan hal memalukan itu padamu, Hyung. Lagi pula, tidak ada yang bisa diceritakan, karena hubungan itu tidak lebih dari satu minggu."
"Mwo? Satu minggu? Kalian hanya pacaran selama satu minggu saja?"
Ketiganya mengangguk. "Bahkan yang lain biasanya hanya tiga hari," imbuh Lay.
"Yang lain?" Luhan kembali bertanya dengan alis terangkat. Dia benar-benar masih tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Kyungsoo berdiri dan menghampiri Luhan. Melepaskan kedua tangan Luhan yang bersilang di depannya dan menggenggamnya. "Hyung! Mantan kekasih Sehun, bukan hanya kami bertiga. Aku tidak tahu persisnya, yang jelas mereka ada sangat banyak. Karena itulah aku berkata padamu kalau Sehun tidak sebaik yang kau kira. Dia tidak akan pernah serius ketika menjalin sebuah hubungan. Semua itu hanya untuk bersenang-senang saja, Hyung! Tidak pernah ada perasaan di dalamnya," jelas Kyungsoo, perlahan.
Baekhyun ikut berdiri di samping Luhan. "Ada alasan mengapa nama panjangnya adalah Oh 'Player' Sehun, Hyung! Karena dia adalah seorang playboy. Dia hanya main-main saja!"
Tiba-tiba saja kepala Luhan terasa berdenyut. Namja manis itu lalu menatap Lay yang hanya diam di atas sofa. Tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya. Membenarkan perkataan Kyungsoo dan Baekhyun. Dan kepalanya terasa semakin berdenyut. Lagi-lagi, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan diri.
"Tunggu, tunggu! Aku rasa, kita sedikit berlebihan," ujar Luhan setelah pikirannya lebih jernih. "Sehun dan aku kan cuma berteman. Dia tidak menyukaiku, dan aku juga tidak menyukainya seperti itu. Jadi, mengapa kita harus membahas ini?"
Baekhyun dan Kyungsoo saling melempar pandang. "Kalau begitu, berjanjilah satu hal pada kami, Hyung!" ujar namja ber-eyeliner tipis itu. "Jika nanti Sehun benar-benar berkata kalau dia menyukaimu, kau tidak boleh langsung memberikan jawaban!" Kyungsoo mengangguk setuju.
"Mengapa?"
"Karena kami harus yakin dulu bahwa Sehun benar-benar serius dan tidak akan menyakitimu, Hyung!" jawab Kyungsoo. "Kau berjanji? Hmmmm?"
Namja itu lalu mengulurkan jari kelingkingnya untuk mengambil janji Luhan. Dan Luhan, bisa merasakan kepalanya yang kembali berdenyut saat jari kelingking mereka saling mengikat. Seiring janji yang juga terikat bersamaan dengannya.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Luhan membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Matanya sama sekali tak bisa terpejam. Padahal biasanya, jam segini ia pasti sudah mengarungi samudera mimpi. Tapi kali ini tidak. Serapat apa pun ia memejamkan matanya, rasa kantuk itu tak kunjung datang. Pikirannya kacau. Kalimat demi kalimat yang dikatakan oleh ketiga adiknya tadi masih melayang-layang di dalam kepalanya. Luhan tahu, seharusnya ia tidak perlu memikirkan hal itu. Karena Sehun hanya seorang 'teman'. Tapi mengapa semua itu terasa sangat mengganggu?
Pikiran dan hatinya.
Apa yang harus ia lakukan?
"Gege! Kau belum tidur?" tanya Lay pelan.
Luhan, yang tadinya tidur dengan posisi miring dan memunggungi Lay, membalikkan badannya untuk menghadap adik pertamanya itu dan langsung beradu pandang dengan Lay yang juga tidur miring menghadapnya.
"Kau belum tidur?" Alih-alih menjawab pertanyaan Lay, ia justru mengajukan pertanyaan yang sama.
Lay tersenyum tipis. "Kau grusak-grusuk di seberang sana. Bagaimana aku bisa tidur, Ge?" godanya. "Apa kau masih memikirkan apa yang kami katakan tadi?"
Luhan memeluk boneka 'Hello Kitty' kesayangannya erat-erat. "Not really! Aku, hanya masih sulit percaya saja," akunya. "Sehun... terlihat begitu baik. Dia juga menyenangkan. Selain sifat narsis yang tak berujung itu, rasanya tak ada hal buruk lagi dalam dirinya. Tapi kalian bilang..." Luhan tidak melanjutkan kalimatnya dan mengeratkan pelukannya pada boneka kucing manis itu.
"Aku tahu, Ge!" jawab Lay. "Dan ya! Sehun memang namja yang baik. Sangat baik. Dia memang menyenangkan. Dan dia juga ramah. Karena itulah, semua orang menyukainya. Semua orang berusaha untuk dekat dan menjadi temannya. Dan hampir semua orang rela meski hanya menjadi kekasih Sehun selama beberapa hari saja!" tuturnya.
"Lalu, aku harus bagaimana? Apa aku harus menjauhi Sehun?" tanyanya.
"Mengapa kau harus menjauhinya? Kau bilang tadi kalian hanya berteman, kan? Berarti tidak ada masalah, Ge. Bersikaplah seperti biasa. Biarkan waktu yang menjawab," jawab Lay.
Kening Luhan berkerut. Namja manis itu terus menggigit bibir bawahnya. Mata indahnya menatap lusur ke depan, tapi tidak padanya. Mata itu tengah menerawang jauh. Ada raut kecewa dan gamang di wajah cantik itu. Ekspresi yang membuat Lay menarik sebuah kesimpulan.
Sudah terlambat untuk menyelamatkan Luhan dari pesona Sehun!
"Kau, menyukai Sehun, Ge?" tanya Lay hati-hati.
Luhan, seperti tersentak akan pertanyaan itu, kembali menatap fokus pada Lay. Dia terdiam beberapa saat sebelum menjawab 'Aniyo!' dengan suara pelan dan terkesan ragu-ragu. Dan meski hanya diterangi oleh lampu temaram yang berasal dari nakas-nya, Lay bisa melihat rona merah yang menghiasi pipi tambun Luhan. Dan juga...
"Telingamu merah, Ge!" seru Lay. Dia tahu kebiasaan Luhan. Telinganya akan menjadi sangat merah jika ia tengah gugup, malu, dan berbohong.
Luhan tidak menanggapi komentar itu. Kemudian, tanpa berkata apa pun lagi, ia kembali membalikkan badannya dan memunggungi Lay. Mencoba memejamkan matanya meski terasa sulit. Seperti yang Lay katakan, biarkan waktu yang memutuskan apa yang akan terjadi padanya dan Sehun. Lagi pula, mereka hanya teman, kan?
Ddrrrttttt
Ponsel Luhan bergetar. Meski malas, Luhan tetap menyambar ponsel di atas nakas dan membaca isi pesan tersebut. Biasanya, dia akan selalu tersenyum saat menerima pesan serupa. Tapi malam ini, pikirannya terlalu kalut bahkan untuk mengulas sebuah senyum tipis sekali pun.
Jangan lupa untuk meminum susu sebelum tidur. Siapa tahu, ketika bangun besok ada keajaiban dan kau bisa lebih tinggi dari aku. Hehehehehe
Jaljayeo, Hyung ({})
Di belakangnya, Lay menatap punggung Luhan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Antara senang dan juga simpati.
Senang, karena baru kali ini, sejak mengenal Luhan, ia melihat Luhan yang seperti ini. Melihat Luhan yang akhirnya terpikat oleh seseorang. Melihat Luhan yang mungkin merasakan apa yang ia rasakan untuk Kris. Meski perasaan Luhan masih terlihat sangat lemah dan samar, tapi perasaan itu jelas ada di sana. Entah Luhan menyadarinya atau tidak.
Simpati, karena orang pertama yang berhasil membuat Luhan seperti ini adalah Sehun. Seorang playboy yang sama sekali tidak perduli dengan perasaan orang lain. Yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri saja. Dia takut, jika pada akhirnya Luhan akan terluka. Gegenya itu terlalu berharga untuk dilukai.
Tapi melihat kelakuan Sehun tadi siang, tidak apa untuk menaruh harapan pada namja tampan itu, kan? Sepertinya Sehun benar-benar berubah. Dan jika nanti Luhan benar-benar terluka oleh perbuatan Sehun, tidak perlu Baekhyun dan Kyungsoo, dia sendiri lah yang akan menghukum Sehun.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Sudah dua hari ini, trio tampan sejagat raya aka Kris, Chanyeol, dan Suho dibuat kelabakan oleh tingkah magnae mereka. Bagaimana tidak? Magnae bongsor itu uring-uringan. Tidak mau kuliah, tidak mau keluar dari apartemen. Bahkan saat Suho dengan baik hatinya menawarkan untuk membelikan Bubble Tea di kafe langganannya, Sehun merengut dan malah marah-marah. Menuduh Suho yang innocent ingin mengolok-ngolok dirinya.
Dan semua itu hanya karena satu hal. Lebih tepatnya, satu orang. Seseorang yang bernama Luhan.
"Yaaa, Oh Sehun! Ireonaaaa! Kau sudah 'bercumbu' dengan bantalmu itu seharian kemarin. Apa kau tidak kasihan pada bantal yang sudah tidak jelas bentuknya itu?" celoteh Chanyeol sambil menarik-nari tubuh kurus Sehun yang masih setia menempel pada kasurnya.
Klik
Suara sebuah gambar yang diambil dengan menggunakan ponsel itu terdengar nyaring di kamar Sehun yang sepi. Kris memandang hasil jepretannya dengan bangga dan melirik Sehun. "Jika kau tidak bangun dan mandi sekarang juga, aku akan dengan senang hati mengirim foto nista ini pada seseorang!"
Mendengar ancaman itu, mata sipit Sehun yang terpejam langsung mendelik. Ia bangun dari posisi tidurnya dan menatap tajam pada Kris yang cuek-cuek saja. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia melesat secepat kilat menuju kamar mandi.
Kris tersenyum puas. Suho beranjak ke dapur untuk menyiapkan sesuatu yang bisa mereka makan. Dan Chanyeol tercengang menatap Kris yang masih tersenyum bangga sambil mengikuti langkah Suho. Mengapa ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya? Dari pada harus menarik-narik tubuh kurus-tapi-berat Sehun dan membuat tangannya sakit -_-!
Beberapa menit kemudian, Sehun keluar dari kamarnya, masih menggunakan baju santai dan rabut yang sedikit acak-acakan namun tetap terlihat tampan, dan berjalan menuju dapur. Dia tahu kalau ketiga Hyung-nya pasti ada di sana.
"Makanlah! Setelah itu kau bisa mulai bercerita!" titah Suho.
Kali ini Sehun tidak menolak lagi. Ia mendudukkan bokong seksinya ke salah satu kursi di meja makan dan mulai melahap pancake buatan Suho. Baru ia sadari, kalau perutnya benar-benar kosong dan keroncongan.
"Jadi?" tagih Suho dengan alis terangkat begitu Sehun menghabiskan pancake ketiga-nya.
Sehun yang baru saja akan mengambil pancake lagi, terdiam dan meluruskan duduknya. "Luhan Hyung tidak ada kabar sama sekali. Dia mengabaikanku, Hyung! Memangnya apa salahku? Apa aku melakukan kesalahan? Dia tidak membalas pesan apalagi menerima panggilanku!" keluhnya panjang lebar dengan wajah sendu yang sungguh tidak enak dilihat.
"Hyung? Jadi si 'barbie baby face' itu seorang Hyung?" tanya Kris tak percaya.
Sehun mengangguk. "Bukan hanya Hyung-ku. Dia juga Hyung untuk kalian semua!" jawab si magnae.
"Mwoooo?" Ketiganya berteriak kaget.
Sehun mengangguk lagi. "Aku tahu apa yang kalian rasakan, Hyung! Aku juga kaget. Dengan wajah seperti itu, siapa sangka dia 4 tahun lebih tua dariku. Aku bahkan memaksanya untuk menunjukkan ktp-nya saat itu karena tak percaya. Dia seorang mahasiswa tingkat akhir dan aku—" Sehun menghentikan kalimatnya.
"Yaaaaaaaakk! Mengapa kita jadi membahas itu, Hyung? Ada masalah yang lebih penting di sini!"" ujarnya kesal.
Suho cengo. KrisYeol apa lagi.
"Padahal kan kau sendiri yang memulai cerita tadi," cibir Chanyeol. KrisHo mengangguk setuju.
"Tapi aku penasaran!" celetuk Kris. "Sebenarnya, kau dan Luhan ada hubungan apa? Apa kalian pacaran? Akhir-akhir ini kalian sepertinya sangat dekat."
Sehun mengerutkan keningnya. Mengerjapkan matanya. Dan menatap ketiga Hyungnya dengan tatapan bingung. "Aku juga tidak tahu, Hyung! Kami cukup dekat. Aku meyukainya. Dan aku yakin sekali kalau dia juga menyukaiku. Tapi kami tidak pacaran," akunya. Kali ini KrisYeolHo yang menatapnya bingung.
"Aku juga heran kenapa sampai sekarang Luhan Hyung masih belum memintaku untuk menjadi kekasihnya. Padahal kan sekali saja ia memintaku, aku pasti akan langsung menerimanya tanpa basa-basi lagi!" Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal setelah mengucapkan itu semua. "Aku tidak habis pikir. Dia punya kesempatan untuk dekat denganku tapi tidak mau memanfaatkannya. Coba kalau itu yang lain. Mereka pasti tidak akan sungkan untuk menerkamku di tempat!" celotehnya panjang lebar dengan wajah innocent.
Lagi-lagi, KrisYeolHo dibuat cengo oleh Sehun. Magnae mereka ini, bodoh, idiot, atau sangat idiot?
Pletakk
"Auuuu!" Kris menyentil jidat mulus Sehun dengan geram.
Plakk
"Adaaaauu!" Dan Chanyeol memukul kepala sang magnae dengan koran di tangannya.
"Yaa—"
"Suho-ya! Ini adalah tugasmu! Aku, tidak tahan lagi melihat tingkahnya!" ujar Kris singkat sebelum berlalu ke ruang tivi. Memotong serangkaian protesan dan kekesalan yang baru saja akan keluar dari bibir tipis Sehun karena ulahnya.
"Tolong bimbing dia, Hyung!" Chanyeol menggelengkan kepalanya simpati menatap Sehun, dan berjalan menyusul Kris. Menyempatkan diri untuk kembali memukul kepala Sehun dengan koran tadi. Kapan lagi ia punya kesempatan seperti ini. Hohohohohoho.
Sehun mengusap kepala dan keningnya yang pasti berwarna merah seperti orang India dan menatap Suho dengan tatapan memelas. Meminta penjelasan atas apa yang telah dilakukan oleh kedua tiang listrik kembar itu. Suho terkekeh geli.
"Kau itu bodoh atau apa, Sehun-ah? Kalau kau memang menyukai Luhan, mengapa harus menunggu? Mengapa tidak kau saja yang memintanya menjadi kekasihmu?" ujar Suho seraya mengusap-usap sayang jidat mulus adiknya.
Sehun terlihat memikirkan sesuatu sebelum menjawab. "Tapi biasanya tidak begitu, Hyung. Biasanya mereka lah yang—"
"Apa Luhan adalah seseorang yang 'biasa' bagimu?" tanya Suho.
Sehun terdiam, kemudian menggeleng pelan. "Aniyo!" jawabnya pelan. Suho menaikkan satu alisnya menunggu kalimat Sehun selanjutnya. "Dia... spesial!" lanjutnya seraya tersenyum lebar.
"Se'spesial' apa?" tanya Suho lagi.
"Sangat spesial!"
"Jadi, apa yang akan kau lakukan untuk orang yang 'sangat spesial' itu?"
Sehun berfikir sejenak. "Aku akan membuatnya tahu kalau dia sangat spesial," jawabnya.
"Dan, apa dengan menunggunya memintamu untuk menjadi kekasihnya, dia akan tahu kalau dia 'sangat spesial'?"
Sehun menggeleng.
"Lalu? Apa lagi yang kau tunggu? Berhenti mengurung diri di dalam rumah hanya karena tiba-tiba Luhan mengabaikanmu dan lakukan apa yang harus kau lakukan. Kalau dia tidak datang ke kafe, kau temui dia di kampusnya. Kalau dia marah padamu, kau harus minta maaf. Bukannya malah bertapa di dalam kamar dan menciptakan aura gloomy di hari yang cerah seperti ini!" tutur Suho panjang lebar.
Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Kau benar, Hyung!" serunya. "Aiiissshh, mengapa aku tidak pernah memikirkannya ya?" Dan dengan senyuman yang sangat lebar, ia menghabiskan pancake terakhirnya kemudian berlalu meninggalkan dapur menuju kamarnya, sebelum kembali beberapa menit kemudian dengan penampilan yang berbeda. Rapih dan mempersona tentunya.
"Hyung! Aku titip apartemenku, ya! Tolong jangan membuat kekacauan dan tunggu kabar baik dariku! Hohohoho!" ujarnya kemudian menghilang di balik pintu depan. Wajah sendu yang tadi pagi ia tunjukkan kepada ketiga Hyung-nya telah berubah total.
"Aigooo! Mengapa anak itu tidak pernah berubah? Selalu saja idiot," komentar Kris. Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dan memberikan satu jempol untuk Kris.
Suho menatap malas kedua sahabatnya. Mengambil buku tebal di atas meja dan mulai membacanya. "Hhhhh, itulah kenapa aku selalu ada di dekatnya!" ujarnya santai. Chanyeol kembali mengangguk-angguk setuju dan memberikan dua jempol untuk Suho.
Kali ini, giliran Kris yang memutar bola matanya malas melihat aksi kedua sahabatnya.
~HunHan Bubble Tea Couple~
"...han! Luhan!"
Sebuah guncangan tak terlalu keras terasa di kedua pundaknya. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali dan langsung bertemu pandang dengan tatapan khawatir Kevin, teman sekelasnya.
"Hmm?" gumamnya dengan mata bingung.
Kevin berdecak pelan dan menunjuk seisi kelas dengan dagunya. "Kelas sudah selesai beberapa menit yang lalu, dan kau masih melamun sendiri di sini!" ujarnya. Luhan memandang ke sekeliling kelas. Benar sekali! Kelasnya sudah sepi. Tidak ada satu orang pun di dalam kelas selain ia dan Kevin.
"Tough day, isn't it?" tanya Kevin. "Kau ada masalah, Han? Ceritakan saja padaku. Aku pasti akan membantu!" tawar namja berparas manis itu, sembari menatap Luhan yang tengah sibuk membereskan barang-barangnya.
Luhan tersenyum tipis sebagai ucapan terima kasih dan menggelengkan kepalanya. "Ada sedikit masalah. Tapi bukan masalah serius," jawabnya.
"Okay! Let me guess. About LOVE?" tebak Kevin.
Luhan tersenyum lagi. "No!" elaknya. "A friend!" tegasnya kemudian.
Mata Kevin memicing. "Soon to be, eoh?" godanya.
Kali ini Luhan tertawa pelan, namun tidak menjawab. Melangkahkan kakinya dan berjalan pulang. Tadi itu memang kelas terakhirnya untuk hari ini. Luhan berjalan dengan langkah pelan bersama dengan Kevin di sampingnya. Tidak ada satu pun yang bersuara. Luhan hanya diam dengan pikirannya sendiri, dan Kevin yang juga diam memperhatikan temannya itu.
Pikiran Luhan menerawang. Mengingat seseorang yang mungkin sama sekali tidak memikirkannya. Sudah berapa hari sejak terakhir ia bertemu dengannya? Lima hari? Satu minggu? Luhan tersenyum tipis. Bukankah baru kemarin lusa Sehun mengantarkannya pulang? Itu berarti baru dua hari berlalu. Tapi mengapa terasa begitu lama?
Memikirkan Sehun, terbesit sedikit rasa bersalah di dalam hati Luhan. Sejujurnya, ia sama sekali tidak berniat untuk mengabaikan apalagi menjauhi Sehun. Hanya saja, setelah pengakuan mengejutkan yang dilontarkan ketiga adiknya, Luhan merasa belum siap untuk bertemu dan berinteraksi dengan namja tampan yang secara perlahan mulai menginvasi satu sudut ruang hatinya itu. Ia butuh waktu. Untuk memikirkan semuanya. Untuk menyelami apa yang sebenarnya hatinya rasakan.
Mereka hanya teman saja, kan? Tapi mengapa Luhan merasa terganggu dengan semua ini? Mengapa ia harus merasa terganggu? Mengapa?
"Luhan!"
Tepukan di pundaknya yang berasal dari orang yang sama kembali menyadarkan Luhan dari lamunannya.
"Kau tahu aku selalu ada untuk mendengar ceritamu, kan?" ujar Kevin seraya menatap dalam pada kedua mata indah Luhan. Dan lagi-lagi, Luhan hanya membalasnya dengan sebuah senyum tipis dan anggukan kepala.
Kevin ikut mengangguk, mengedikkan bahunya, dan kembali menatap ke depan. Mereka sudah berada di dekat gerbang kampus, dan segerombolan mahasiswi yang berkerumun dan berteriak-teriak heboh di samping gerbang menarik perhatiannya.
"Seperti ada artis yang datang!" komentar Kevin.
"Eh?" Luhan menatapnya dengan pandangan bingung. Kemudian mengikuti arah tatapan Kevin. "Mungkin memang artis," komentarnya pula.
"Kalau begitu ayo kita lihat saja, Han!" seru Kevin, dan tanpa menunggu respon dari Luhan, ia segera berjalan pelan ke sana sambil menarik tangan Luhan. Memaksanya untuk ikut melihat. Ia sedikit berjinjit untuk melihat isi(?) dari kerumunan saat sudah berada sedikit lebih dekat.
"Omo! Bukankah itu Sehun?" serunya setelah berhasil mengintip isi kerumunan.
Mata Luhan terbelalak lebar mendengar nama itu. Apa mungkin Sehun yang 'itu'? Tidak tidak! Untuk apa dia datang kemari? Tapi... Bisa jadi, kan?
"Sehun?" tanyanya memastikan.
"Iya, Sehun! Oh Sehun!" jawab Kevin.
Jantungnya tiba-tiba berpacu. "Kau, kenal Sehun?" tanyanya lagi.
Kevin menatap Luhan tak percaya. "Luhan! Pertanyaan macam apa itu? Pangeran tampan dari XOXO University. Siapa yang tidak mengenalnya? Aku dengar ia tidak memiliki kekasih saat ini. Hhhh, jika saja aku tidak sedang berpacaran dengan Eli, aku pasti akan menggaet namja tampan itu!" jawab Kevin.
Luhan terkesiap. Matanya membola. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "K-kau, menyukai Sehun?" tanyanya gugup.
Kevin terkekeh pelan. "I was! Sebelum aku bertemu dengan Eli. Tapi sekarang cintaku hanya untuk Eli seorang." Luhan menghembuskan nafasnya lega. Jantungnya kembali berdetak normal.
"Lagi pula, dia mantan kekasih adik sepupuku!" ujar Kevin lagi.
MWOOOOOOOOO?
Mata Luhan kembali terbelalak lebar. Jadi apa yang dikatakan ketiga adiknya itu benar? Sehun adalah seorang Player? Luhan kira, Baekhyun hanya melebih-lebihkan saja waktu mengatakan itu. Luhan kira, Kyungsoo hanya tidak ingin Luhan berpacaran dengan mantan kekasihnya karena akan menjadi sangat canggung bagi mereka nantinya. Luhan kira...
"LUHAN HYUNG!"
Teriakan riang itu terdengar lantang. Menenggelamkan teriakan heboh dari para mahasiswa yang berkerumun. Luhan terkesiap, lagi. Ia menatap ke arah sumber suara dengan perasaan tak menentu. Dan di sana, Sehun berdiri di samping Ferrari yang terparkir dengan sangat angkuh di depan gerbang kampus dan melambaikan tangan padanya. Sebuah senyum menawan terbentuk di wajah tampan Sehun. Dan demi koleksi boneka Hello Kitty yang ia punya, Sehun terlihat amat sangat tampan maksimal.
Di sampingnya, Kevin menatap cengo pada Luhan dan Sehun secara bergantian. Sebelum kemudian mencolek pelan pinggang temannya itu. "Yaaaa! Luhan! Kau mengenalnya?" tanyanya tak percaya.
"Errrrm, kinds of?!" Luhan terkekeh salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan kembali menatap Sehun yang masih tersenyum padanya dan tengah berjalan bak seorang foto model untuk menghampirinya.
"Ohooooooo! A friend, eoh? That friend you were thinking about before?" goda Kevin. "I'd really love to hear te complete story, Han!" bisiknya pelan sebelum kemudian berlalu meninggalkan Luhan dengan sebuah seringaian aneh di wajahnya. Tepat saat Sehun tiba di depan Luhan.
"Hai, Hyung!" sapa Sehun canggung.
"Hai!" balas Luhan, tak kalah canggung. "Apa yang kau lakukan di sini? Menjemput seseorang?" tanyanya kemudian.
Sehun tersenyum. "Aku menjemputmu, Hyung!" jawabnya.
"Eh?" Luhan mengerjapkan mata.
"Kau tidak datang ke kafe beberapa hari ini. Jadi aku yang datang kemari!" jelas Sehun. "Sekarang, bisa kita pergi dari sini, Hyung? Aku, merasa risih dengan tatapan mereka," bisiknya pelan.
Luhan menatap ke sekitar, menemukan tatapan ingin tahu, iri, dan kagum dari beberapa mahasiswi yang tadi mengerumuni Sehun, dan tersenyum geli. "Wae? Bukankah biasanya kau suka saat orang-orang menatapmu seperti itu?" sindirnya.
"Dulu iya, tapi sekarang tidak!"
"Dan mengapa begitu?"
"Karena saat ini, satu tatapan darimu saja sudah lebih dari cukup untukku!" jawab Sehun. "Kajja!"
Blusssshhhh
Pipi Luhan menghangat. Sehun menarik tangannya dan membimbingnya untuk masuk ke dalam mobil. Ada rasa senang yang meletup-letup di dada kirinya. Namun ada juga sebuah pertanyaan yang terbesit dan mengganggu rasa itu.
Apa Sehun memang selalu memperlakukan mereka semua seperti ini? Semua mantan kekasih Sehun?
"Sebenanya aku ingin mengatakan sesuatu, Hyung!" Sehun membuka suara, seiring mobil yang mulai bergerak. "Tapi aku rasa, itu bisa menunggu nanti. Sekarang, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Hitung-hitung menggantikan kencan absurd kita waktu itu!"
"Apa aku boleh menolaknya?" tanya Luhan basa-basi, karena ia tahu jawaban apa yang akan diberikan Sehun.
"Kau tahu jawabannya, Hyung! Aku tidak menerima penolakan!"
Tch! Luhan berdecih pelan. "Aku tahu! Tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?"
Sehun tergelak. Membuatnya terlihat semakin tampan di mata Luhan. Sebenarnya, bukan hal yang mengejutkan kalau Sehun memiliki list panjang yang berisikan nama mantan atau mungkin bahkan kekasih. Dengan wajah tampan dan menawan seperti itu, ia sudah menduganya. Apalagi jika ia mengingat hari dimana mereka tak sengaja bertemu di XOXO University. Luhan ingat sekali tatapan tak suka dari gadis yang bergelayut manja di lengan kanan Sehun hari itu. Tapi, Luhan hanya tidak menyangka saja kalau nama ketiga adiknya juga masuk ke dalam list itu. Dan hal itu, mau tidak mau membuat pertanyaan demi pertanyaan yang terbesit di dalam pikirannya.
Apakah ia juga hanya akan menjadi another name yang tertulis di dalam list itu? Apa dirinya juga hanya akan menjadi pelengkap 'koleksi' bagi Sehun?
Luhan tersenyum sendiri. Ia tahu, mungkin terlalu jauh untuknya berfikir ke sana. Sehun bahkan tidak mengatakan apa pun tentang hubungan mereka saat ini. Sehun juga tidak pernah mengatakan kalau ia menyukainya dan ingin menjalin hubungan yang lebih. Tapi semua sikap dan perilaku yang ditunjukkan Sehun. Luhan rasa, tidak perlu terlalu jenius untuk mengetahui makna di balik itu semua.
"Apa wajahku setampan itu sampai kau terus menatapnya dan tersenyum seperti itu, Hyung?" ujar Sehun dengan nada pede yang sudah Luhan maklumi. Sifat itu sepertinya sudah terlalu mendarah daging dan sulit untuk dihilangkan.
Blussshhh
Pipi Luhan merona mendengar pertanyaan Sehun. Merasa malu sendiri karena sudah ketahuan memperhatikan namja tampan itu dengan sangat lekat dan lama. Aaaaah~ Sejak kapan ia jadi seperti ini? Seingatnya, beberapa waktu lalu ia masih memandang sebal dan tak bersahabat padanya.
"Tch! Siapa yang melihatmu? Aku melihat pemandangan di luar. Sepertinya pemandangan di sebelah jendelamu lebih bagus dari pada di sebelah sini!" kilah Luhan, kemudian memalingkan wajah ke jendela di sebelahnya.
Sudut kanan bibir Sehun mengulum senyum. "Aku baru tahu kalau bis dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang di seberang jalan adalah pemandangan bagus!" ujar Sehun santai. "Tapi kalau memang suka, kau boleh melanjutkannya, Hyung. Aku pasti tidak keberatan kok. Hehehehehe!"
Luhan manyun. Memilih untuk memandangi lalu-lalang di luar jendela dari pada menganggapi ucapan Sehun barusan. "Kita mau kemana?" tanya Luhan mengalihkan pembicaraan.
"Hmmmmm, entahlah," Sehun mengetuk-ketukkan jemari tangannya di atas setir mobil. "Kau mau kita pergi kemana, Hyung?" Ia malah balik bertanya. Luhan mendesah pelan dan memutar kedua bola matanya. Kalau pertanyaan dijawab dengan pertanyaan seperti ini, kapan mereka akan mendapatkan jawaban?
~HunHan Bubble Tea Couple~
"Hyung! Ini tempat apa? Mengapa kita tidak pergi ke restoran saja?" keluh Sehun. Matanya bergerak liar ke sekeliling dengan pandangan tak nyaman.
"Yaa! Kau tidak pernah datang ke tempat ini?" Luhan tersenyum geli melihat tingkah Sehun di depannya. Saat ini, ia dan Sehun tengah berada di kedai tteokbeokkie yang berada di dekat taman kota, karena Luhan yang memintanya dan menunggu pesanan mereka sampai.
"Tentu saja tidak, Hyung! Kata Kris Hyung, makanan di pinggir jalan seperti ini terlalu banyak mengandung minyak dan bubuk pedas. Dan hal-hal seperti itu tidak baik untuk wajah tampanku!" jawab Sehun. Hidungnya mengernyit geli membayangkan makanan-makanan berminyak itu.
Luhan tertawa pelan. "Mwoyaaa! Orang Korea seperti apa yang tidak menyukai tteokbeokkie. Aku pikir semua orang menyukai makanan ini," kilahnya.
Sehun mencibir. "Hyung! Kau tidak sedang mengerjaiku seperti tempo hari, kan?"
Dan Luhan kembali tergelak. Ahjumma pemilik kedai mengantar pesanan mereka. Satu porsi tteokbeokkie ekstra pedas dan dua kaleng Cola. Luhan membungkuk sopan pada ahjumma tersebut dan segera menarik Sehun pergi dari sana setelah membayar apa yang mereka beli.
"Sekarang, kita mau kemana, Hyung?" tanya Sehun lagi.
"Tentu saja mencari tempat yang pas untuk memakan ini semua," jawab Luhan.
"Di taman, maksudmu?" tanya Sehun lagi.
Luhan menggeleng. "Aniyo! Tapi di belakang taman!"
Sehun mengernyit bingung. Luhan mengedikkan bahunya acuh dan terus berjalan dengan langkah santai. Mereka terus berjalan, sampai ke taman kota, melewati taman kota, dan melalui jalan setapak yang hampir tertutup oleh semak belukar. Sehun baru saja akan bertanya lagi namun mulutnya kembali tertutup saat melihat apa yang ada di depannya.
"WOW! Aku tidak tahu kalau ada tempat seperti ini di taman kota." komentar Sehun. "Pantas saja saat kemari tadi aku merasa jalan kita menanjak," ujarnya lagi.
Luhan tersenyum. "Indah, kan? Memang tidak banyak yang tahu tempat ini. Apa lagi jalannya yang tertutup semak belukar. Mana ada yang mau kemari!" Luhan kemudian berjalan menuju satu-satunya bangku yang ada di bawah pohon persis di tepi bukit dan meletakkan semua bawaannya di sana. "Lagi pula, anak sekarang, dari pada pergi ke bukit seperti ini, pasti lebih suka ke Mall, kan?" sindirnya.
"Hehehehehe," Sehun menggaruk belakang kepalanya malu. Karena memang sedari tadi ia terus mengeluh dan mengajaknya untuk jalan-jalan di Mall saja.
"Kau benar-benar tak mau mencobanya?" tawar Luhan saat Sehun sudah duduk di sampingnya.
"Ini, enak? Tapi Kris Hyung bilang—"
"Apa menurutmu wajahku jelek?" Luhan memotong kalimat Sehun.
"Tentu saja tidak, Hyung! Kau itu can—" Luhan mendelik. "Maksudku kau tampan!" ralat Sehun.
Luhan tersenyum puas. "Lihat kan? Tidak ada hubungannya antara makanan pinggir jalan dan wajah. Cobalah! Ini enak kok." Ia mengambil satu potong tteokbeokkie yang paling kecil dengan sumpit di tangannya dan menyodorkannya pada Sehun. Awalnya, Sehun terlihat ragu, namun mata rusa Luhan yang menatapnya dengan berbinar itu membuatnya luluh. Ia pun membuka mulutnya dan menerima suapan 'makanan aneh' itu. Mengunyahnya pelan dan merasakan perpaduan minyak dan bubuk cabe di dalam mulutnya.
"Bagaimana?"
Sehun mengerutkan keningnya. Masih mencoba meresapi rasa makanan asing yang baru saja ia malan. "Tidak begitu buruk!" jawabnya. Luhan tersenyum senang. Setidaknya, jawaban itu lebih baik dari pada 'tidak enak'!
Setelah itu, keduanya makan dengan tenang. Sehun berkeras agar Luhan menyuapinya atau dia tidak mau makan. Dan Luhan tak terlihat keberatan sama sekali. Ia justru melakukannya dengan senang hati. Menghabiskan waktu bersama Sehun seperti ini terasa begitu menyenangkan. Meski mereka sebenarnya hanya duduk dan menikmati makanan pinggir jalan saja. Ia bahkan nyaris saja lupa mengenai apa yang dikatakan ketiga adiknya beberapa hari lalu.
Nyaris.
Kalau saja Sehun tidak mengucapkan sesuatu yang membuat wajah bahkan telinganya memerah sempurna saat hari semakin senja dan mereka akan pulang.
"Hyung! Jadilah kekasihku. Aku, menyukaimu!"
~HunHan Bubble Tea Couple~
"APAAAAAAAAAAAAAA?!"
Luhan menutup kupingnya yang terasa berdengung mendengar teriakan lima oktaf BaekSoo. Tidak habis pikir, apa yang begitu mengejutkan dari ucapannya barusan hingga kedua namja bersuara nyaring saat berteriak ini terlihat begitu kaget? Dia kan tidak mengatakan hal yang aneh-aneh. Dia hanya barkata—
"Sehun menyukaimu?"
"Dia memintamu untuk menjadi kekasihnya?"
Yaps. Luhan hanya mengatakan dua kalimat yang baru saja ditanyakan oleh Baekhyun dan Kyungsoo. Sampai sekarang, masih tak mengerti apa yang begitu istimewa dari dua kalimat itu. Bukankah mereka berdua adalah mantan kekasih Sehun? Jadi seharusnya, mereka juga pernah mendengar hal yang sama dari bibir Sehun, kan?
Kedua makhluk mungil yang Luhan anggap sebagai adik itu masih membelalakkan mata dan menatapnya tak percaya. Lengkap dengan mulut yang menganga lebar. Detik berikutnya, dengan kompak, mereka mulai berjalan mondar-mandir secara berlawanan arah. Muka serius seperti tengah memikirkan sesuatu dengan bibir komat-kamit.
"Daebakk!" gumam Kyungsoo.
"Aku tak percaya ini!" gumam Baekhyun.
Lelah berdiri, Luhan memutuskan untuk duduk di atas sofa. Di samping Lay yang tengah tersenyum kagum padanya. Dan kali ini saja, Luhan membenarkan kalimat yang diucapkan oleh Henry tempo hari.
Ketiga sahabat sekaligus adiknya ini memang sedikit aneh.
"Yaaaaaaa! Kalian kenapa? Mengapa bersikap seperti itu hanya karena sebuah berita kecil? Sehun kan hanya bilang 'suka', bukan 'cinta'. Mengapa reaksi kalian berlebihan?" ujar Luhan.
Kyungsoo dan Baekhyun sontak menghentikan aksi mondar-mandir cantik yang mereka lakukan beberapa saat lalu dan langsung berhambur ke arah Luhan. Baekhyun di sampingnya dan Kyungsoo, yang seperti biasanya, memilih duduk di lantai di depan Luhan.
"Hyung! Apa yang kau katakan? Berita yang kau bawa bukan berita kecil, Hyung!" seru Baekhyun.
"Apa kami belum mengatakannya?" sahut Kyungsoo. "Meski Sehun adalah seorang Player, dia tidak pernah tertarik apalagi sampai mengatakan 'suka' pada kekasih-kekasihnya!"
"Tapi kalian—"
"Tidak satu orang pun yang pernah!" tegas Baekhyun.
Luhan mengernyitkan keningnya. "M-maksud kalian?" tanyanya bingung. Tiba-tiba merasa gugup. Sebenarnya dia tidak benar-benar bingung. Dia paham sekali apa maksud ucapan Baekhyun dan Kyungsoo. Hanya saja, Luhan tidak ingin mengambil kesimpulan yang salah.
Lay tersenyum, masih senyum yang sama yang dipasang di wajahnya sejak Luhan menceritakan apa yang Sehun katakan padanya di atas bukit kecil tadi. Namja ber-lesung pipit itu meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat. "Kau adalah yang pertama, Ge. Dan itu berarti, Sehun benar-benar menyukaimu!" tuturnya.
Deg deg deg
Jantung Luhan berdegup kencang. Sehun, menyukainya? Sehun? Tapi...
"Tunggu, tunguu! Bukankah kemarin kalian bilang Sehun tidak pernah serius dengan perasaannya. Dan sekarang kalian bilang Sehun benar-benar menyukaiku. Jadi sebenarnya, mana yang benar?"
Kali ini, tidak hanya Lay, tapi Baekhyun dan Kyungsoo pun ikut tersenyum aneh. "Dua-duanya benar, Hyung!" jawab Baekhyun.
"Sehun memang tidak pernah serius dengan perasaannya di masa lalu, tapi dia juga memang benar-benar menyukaimu saat ini," imbuh Kyungsoo.
"Dan kalian percaya itu?"
BaekSooLay mengangguk. "Kenapa tidak?" jawab mereka kompak. Sehun tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apalagi sampai mengejar ke kampus dan mengungkapkan perasaannya. Dan mereka tahu, meski dia suka mempermainkan perasaan banyak orang, Sehun tidak pernah berbohong.
"Lalu, bagaimana dengan rencana kalian? Itu berarti kita tidak perlu melakukannya, kan? Bukankah kalian sudah mempercayainya?" tanya Luhan lagi.
Kyungsoo tersenyum jahil. "Tentu saja—" Kyungso sengaja menghentikan kalimatnya agar lebih dramatis. "Tidak!" lanjutnya. "Iya kan, Baek Hyung?"
Yang ditanya mengangguk dan ikut tersenyum jahil. "Yups! Justru sekarang, karena Sehun ternyata memang benar-benar menyukaimu, semuanya menjadi PERFECT. Dan rencana kami WAJIB dilaksanakan!" ujar Baekhyun semangat.
Lay ikut mengangguk setuju, tapi tidak tersenyum jahil. "Kami memang percaya kalau dia menyukaimu. Tapi kami tidak cukup percaya untuk menyerahkanmu padanya, Ge. Karena jika ia benar-benar ingin mendapatkan 'Gege' kami, kata 'suka' saja tidaklah cukup! Sehun membutuhkan lebih dari sekedar suka!" tambahnya.
Luhan bergidik ngeri. Perasaannya tidak enak melihat ekspresi ketiga adiknya. "Sebenarnya, apa sih yang kalian rencanakan?" tanyanya penasaran.
"Itu... Kau akan tahu nanti. Jika Sehun sudah setuju!" jawab Baekhyun sok misterius. Ia lalu meminta Luhan untuk mengambil ponselnya dan segera menghubungi Sehun. Tidak lupa untuk memintanya mengaktifkan mode speaker.
Iiissshhh! Mengapa mereka tidak mau mengatakannya? Luhan mem-pout -kan bibirnya kesal. Dan memangnya, apa yang harus disetujui oleh Sehun? Lalu, kalau dia tidak setuju, bagaimana? Kalau—
"Hyung!"
Sapaan hangat dan bersemangat dari seseorang yang berada di ujung telfon menghentikan gerutuan Luhan. "Ah~ Sehun-ah!" sapanya canggung. Dan ketiga dongsaeng mungil itu langsung tersenyum menggoda saat melihat pipi Luhan yang mulai berwarna.
"Ada apa, Hyung? Jangan bilang kalau kau merindukanku? Kita kan baru saja berpisah, Hyung, hehehehe!" canda Sehun.
Luhan memutar bola matanya kemudian menatap bingung pada Baekhyun karena tidak tahu harus bertanya apa. Baekhyun yang paham, langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana, sebelum menunjukkannya pada Luhan.
"Errrm, Sehun-ah! Aku... Aku akan mengadakan pesta kecil akhir minggu ini. Apa kau.. ermmm... Apa kau bisa datang?" tanya Luhan ragu.
"Akhir minggu?" tanya Sehun. Dari nadanya, sepertinya ia tengah menimang-nimang sesuatu.
Luhan mengangguk. Namun segera menjawab dengan 'iya' saat ia sadar kalau Sehun tidak bisa melihatnya. "Eum, akhir minggu. Tapi kalau memang kau tidak bisa, tidak—"
"Aniyo!" sahut Sehun cepat, memotong kalimat Luhan. "Aku akan datang. Aku pasti akan datang, Hyung!"
Lay mengepalkan tangannya dan tertsenyum menang begitu mendengar jawaban Sehun. Kyungsoo dan Baekhyun juga tertawa tanpa suara dan melakukan high five dengan sangat pelan. Sedangkan Luhan, menatap ketiga adiknya dengan tatapan was was.
Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, kan?
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
TeBeCe
OMAKE
Sehun and KrisYeolHo side, the same day!
Sehun meringkuk di atas kasur King Size miliknya. Menutupi seluruh tubuhnya dengan bed cover hangat faforitnya. Di sekeliling Sehun, ada Kris, Suho dan Chanyeol yang menatap gumpalan besar di tengah kasur, yang kebetulan bernama Sehun itu, dengan tatapan bertanya-tanya.
Sehun pulang dengan wajah sendu. Bukannya membawa kabar baik seperti yang telah ia janjikan, ia justru langsung berjalan lurus menuju kamarnya dan berakhir seperti ini. Siapa yang tidak bingung?
"Yaaa! Magnae! Kali ini apa lagi?" tanya Chanyeol sembari menoel-noel, bagian tubuh yang ia yakini sebagai, pinggang Sehun.
Sehun bergeming tak menjawab.
"Apa Luhan masih tidak mau bertemu denganmu?" tanya Kris.
Sehun masih diam.
"Atau, jangan-jangan kau ditolak oleh Luhan?" tebak Suho.
Dan kali ini, Sehun sedikit bergerak. Menyingkap bed cover yang menutupi tubuhnya hingga sebahu. Hanya menampakkan kepalanya saja. Tapi tetap tak menjawab apa –apa.
"Haaa! Kau benar-benar ditolak oleh Luhan?" tanya Chanyeol dan Kris bersamaan kemudian tertawa terbahak-bahak. Berguling-guling di atas kasur Sehun sebelum berhenti karena dipukul Suho dengan sebuah guling. Namja pendek itu menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan tajam yang menunjukkan kalau ia tidak menyukai sikap mereka, dan keduanya langsung bungkam.
"Kau mau menceritakannya?" tanya Suho mengalihkan perhatiannya kembali pada Sehun yang semakin cemberut.
Perlahan, Sehun bangun dan duduk bersandar pada sandaran kasur. "Sebenarnya Luhan Hyung tidak benar-benar menolakku sih. Tapi dia tidak menerimaku, Hyung!" adunya.
Suho menatap adik tersayangnya itu dengan tatapan simpati. "Memangnya, apa yang kau katakan padanya, hmmm?"
Sehun menerawang, mengingat-ingat kejadian tadi sore bersama Luhan.
"Hyung! Jadilah kekasihku. Aku, menyukaimu!"
Luhan terkesiap. Ada pendar bahagia terpancar dari kedua mata indah namja manis itu. Namun, ada juga sebuah keraguan di sana. Haruskah ia menerimanya? Tapi Sehun hanya berkata 'suka'. Bukan 'cinta'. Perasaan suka itu rasanya terlalu lemah. Bagaimana kalau setelah ini rasa suka itu bukannya berubah menjadi cinta dan justru memudar? Apakah akhirnya ia benar-benar hanya akan menjadi pelengkap koleksi mantan kekasih untuk Sehun?
"Aku..." Luhan teringat janji yang ia ucapkan pada BaekSoo untuk tidak langsung menerima Sehun sebelum mereka benar-benr yakin. Ia sengaja berhenti sejenak. Mengatur kata-kata yang tepat untuk ia ucapkan. Agar tak perlu membuat Sehun sakit hati. "Apa kau tidak merasa kalau ini terlalu cepat, Sehun-ah? Bahkan beberapa minggu yang lalu kita masih bertengkar. Kau belum begitu mengenalku, dan aku juga belum terlalu mengenalmu," jelas Luhan.
Sehun diam. Luhan bisa melihat raut kecewa di wajah tampan Sehun yang selalu terlihat ceria itu. "Maafkan aku!" ujar Luhan lagi.
Jdukk
"Awwww!" Sebuah bantal melayang ke arah Sehun. "Kau itu, mau meminta atau memerintah?" Kris menggelengkan kepalanya.
Bughh
"Adawwww!" Guling di tangan Chanyeol juga ikut melayang. "Aku tidak menyangka ternyata kau lebih bodoh dariku. Hahahahahaha!"
Sehun merengut, menatap Suho dengan tatapan meminta keadilan. Namun yang ditatap justru menatapnya tak setuju. "Apa yang dikatakan mereka benar sekali, Sehun-ah!" ujar Suho. "Kau itu bodoh atau idiot? Seharusnya kau meminta Luhan untuk menjadi kekasihmu, dengan rendah diri. Bukan dengan kalimat perintah seperti itu."
"Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya, Hyung! Saat itu, hanya kalimat itu yang terlintas di dalam pikiranku, tidak ada yang lain," aku Sehun. "Aku kan belum pernah meminta seseorang untuk menjadi kekasihku. Biasanya orang-oranglah yang akan memintaku untuk menjadi kekasih mereka!" lanjutnya.
KrisYeolHo menggeleng bosan. Aigoooo! Apa yang harus mereka lakukan dengan magnae clueless ini?
"Untung saja Luhan tidak kabur ketakutan setelah mendengar perintahmu!" komentar Kris.
Chanyeol mengangguk setuju. "Tapi Sehun-ah! Mendengar ceritamu tadi, sepertinya Luhan Hyung juga mempunyai perasaan khusus untukmu. Hanya saja, seperti yang ia katakan, ini semua terlalu cepat. Harusnya kau mendekatinya dulu pelan-pelan." Sehun tercengang mendengar kalimat panjang Chanyeol. Rasanya, baru kali ini ia mendengar hyung konyolnya itu berbicara dengan benar.
Suho menepuk pelan pundak Sehun. "Sudahlah! Kalau yang Chanyeol katakan itu benar, berarti ini bukanlah akhir untukmu, Sehun-ah! Ini adalah awal. Sebuah awal yang sangat baik. Berhentilah pundung di atas tempat tidurmu dan mulailah memikirkan langkah apa yang akan kau ambil besok. Bersemangatlah!"
Sehun tersenyum lebar. Mereka benar. Dia terlalu terburu-buru. Lagipula, Luhan bukannya menolaknya mentah-mentah tadi. Namja cantik itu kan hanya merasa kalau semua ini terlalu cepat untuk mereka. Berarti ia masih punya harapan untuk mendapatkan hati Luhan. Dia merasa lebih tenang. Dan dia merasa sangat senang. Dan saking senangnya ia langsung membuka tangannya lebar-lebar dan menarik ketiga Hyung-nya ke dalam sebuah pelukan erat. Ini adalah satu dari moment-moment langka dimana Sehun menyadari kalau dia sangat menyayangi mereka bertiga.
"Yaaak! Lepas...kan!" Kris memberontak.
"Se-hun.. Aku ti-dak bisa berna-fash!" Suho ngos-ngosan.
"Yaaak! Mag-nae! Aku—" Chanyeol berhenti. Mata bulatnya terpana melihat ponsel Sehun yang berkedap-kedip di atas nakas. "Sehun-ah! Ponselmu menyala!" ujarnya semangat.
Sehun sontak melepaskan pelukannya dan mendorong ketiganya menjauh untuk mengambil ponsel. Mengabaikan keadaan ketiganya yang tengah ngos-ngosan dan menatapnya tajam setelah dibuang begitu saja. Senyum lebar Sehun tertarik semakin lebar melihat nama di layar ponsel.
Luhannie is Calling
"Hyung!" ujarnya hangat dan penuh semangat setalah menyentuh ikon 'terima'. Dan KrisYeolHo memberikan kode pada Sehun untuk mengaktifkan mode 'speaker'.
Sehun and KrisYeolHo side, Ends!
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
.
A/N:
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAIIII!
Sebenarnya chap ini tuh gak sampek sini. Masih ada terusannya. Tapi karena panjang banget, sampek 10k, makanya Liyya potong. Tapi tenang aja, Liyya janji, chap depan bakal update cepat. Tinggal nambahin dikit di sana sini aja kok ^_^ Mungkin besok atau Lusa bakal langsung Liyya publish.
OH YA! SEDIKIT PENGUMUMAN MENGENAI EVENT YANG AKAN SEGERA USAI DI AKHIR BULAN INI, LIYYA CUMA MAU MENGINGATKAN SEMUANYA.
YANG UDAH IKUTAN LIYYA UCAPIN TERIMA KASIH BANYAAAAAAAAAAAAAAK.
YANG BELUM IKUT, HAYUKK IKUTAAAAAAAAANN.
YANG IKUTAN DAN FF-NYA MASIH CHAPTERED, MOHON DAN SANGAT HARAP DISELESAIKAN YAAAAA^^
Liyya mau ngucapin makasih yang sebanyak-banyaknya buat yang masih mau menunggu dan membaca ff garing ini. Buat semua yang udah baca, follow, favorit, dan review di chap-chap sebelumnya.
Semoga di chapter ini masih berkenan untuk review ya /ngarep/
Balasan Review:
hunhankid: Aaaaah, mianhae, aksi BaekSooLay baru ada di chapter depan ya dek. Moga chapter ini juga suka ;)
Makasih udah ngereview^^
miyah oh: Apa yang bakal direncanakan duo usil? Masih chap depan ya jawabannya :D Albino waras, Luhan yang sakit kaaaak. Sakit cinta ;)
Makasih udah ngereview^^
Guest: Hai jugaaaa. Makasih banget udah bilang apiiik. Moga chap ini masih apik, ya :D
Makasih udah ngereview^^
ani n: Eooon, berhenti jadi rentenir plis -_-! Mereka kan TTM Eooon XD
Makasih udah ngereview^^
KikyKikuk: Aaaaaaah, kalau chap ini gak seru, kakak minta maaf ya deeek #bow
Makasih udah ngereview^^
ludeer : hai deeeeeek :D Ternyata rencana BaekSooLay baru bisa direalisasikan di chap depan deeek, hehehehehe. Chap ini, banyak ngakaknya, banyak senyumnya, atau banyak datarnya?
Makasih udah ngereview^^
.
.
Yang punya akun, bisa cek PM-nya yaa!
See U, next chapter!
Salam XOXO dari Liyya
