The Player
By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, and others
Pair: HunHan
Genre: RomCom(?)
Rate: T
Chapter: 6
A/N:
SEPERTI BIASA, LIYYA MAU NGUCAPIN BAAAAAAAAAAAAAAAAAAANYAK TERIMA KASIH BUAT SEMUA AUTHOR YANG MAU IKUT BERPARTISIPASI DAN MERAMAIKAN 'HUNHAN BUBBLE TEA COUPLE' EVENT INI!
TERIMA KASIH JUGA BUAT READERS YANG SELALU SETIA BACA, FAV, FOLLOW, N REVIEW FF-FF YANG UDAH DIPUBLISH. DAN JUGA, MAKASIH BANGET BUAT SEMANGATNYA^^
#BIGHUG
.
.
Note: Semua cast di sini, Liyya cuma pinjem namanya aja. Cerita ASLI milik Liyya. Kalau ada kesamaan dengan cerita lain, itu murni hanya sebuah kebetulan.
Warning: Romance gagal, cerita abal-abal, ide cerita pasaran -_- typo(s) dimana-mana, feel ngawang(?) alias gak dapet *trus ngapa masih ditulis n di-post -_-* #Liyyanyengir XD
.
.
HAPPY READING^^
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
A very tiny little story about Luhan:
LayHan's room. Dengan headset di kedua telinganya. Now playing:
Although loneliness has always been a friend of mine
I'm leavin' my life in your hands
People say I'm crazy and that I am blind
Risking it all in a glance
And how you got me blind is still a mystery
I can't get you out of my head
Don't care what is written in your history
As long as you're here with me
I don't care who you are
Where you're from
What you did
As long as you love me
Who you are
Where you're from
Don't care what you did
As long as you love me
(As Long As You Love Me - Backstreet Boys)
Sebuah lagu yang sukses masuk list lagu favorit di ponsel Luhan setelah ia mengenal Sehun.
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Sesuai rencana Baekhyun dan Kyungsoo, mereka memang mengadakan sebuah 'pesta kecil' akhir minggu itu. Mengundang beberapa teman untuk meyakinkan dan membuat banyak makanan dan minuman. Dan untuk ukuran 'pesta kecil' yang sebenarnya bukan pesta itu, acaranya cukup meriah. Tidak ada acara khusus, hanya makan, minum, berbincang-bincang, bertemu teman baru, dan yang pasti bersenang-senang. Hampir semua tamu undangan menikmati pesta palsu itu. Hampir semua, kecuali satu orang.
Sang tuan rumah. Luhan.
Dari sekian banyak wajah bahagia di sana, hanya Luhan satu-satunya yang terlihat kusut. Beberapa kali ia melirik pintu ruang tamu sambil menggigit bibirnya. Baekhyun yang melihat kekhawatiran Luhan, berhenti bergurau dengan kekasihnya dan berjalan menghampiri Luhan. Chanyeol dan temannya yang lain mengikuti di belakang. Ia menepuk pelan pundak Hyung-nya itu dan tersenyum.
"Baekhyun-ah!" ujar Luhan. "Apa kau pikir ini tidak keterlaluan? Bagaimana jika dia tersinggung dan marah?" tanyanya khawatir. "Bagaimana jika ia—"
Baekhyun menggenggam tangan Luhan, memberikan sinyal agar Hyung-nya itu tidak perlu khawatir. "Gwaenchanna, Hyung! Ini hanya permainan saja!" jawabnya.
"Dan percayalah! Jika Sehun benar-benar serius denganmu, dia tidak akan marah!" sahut Suho. Luhan terdiam. Wajah masih menunjukkan aura khawatir. Dan keningnya masih mengernyit tak yakin.
"Oh ayolah, Hyung! Jangan memasang wajah seperti itu. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kalau kau memasang wajah begitu, pestanya tidak akan seru! Kau kan sudah berjanji!" rajuk Kyungsoo.
Mendengar itu, akhirnya Luhan tersenyum tipis. Ya, dia sudah berjanji akan membantu ketiga adiknya. Dia sudah berjanji untuk mengambil bagian dari permainan ini. Jadi, tidak ada alasan untuk merasa ragu sekarang. Lagi pula, meski bukan pesta sungguhan, sebuah [esta tetaplah pesta. Ia seharusnya bersenang-senang. Dan sebagai tuan rumah, ia harusnya tersenyum ramah pada tamu-tamu yang datang.
Luhan lalu menatap ke sekeliling ruangan yang sudah dipenuhi oleh wajah-wajah asing para tamu undangan pesta. Dia tidak mengenal satu pun dari mereka, kecuali beberapa orang saja. Jelas saja! Pesta ini bukanlah pesta sungguhan. Luhan tidak ikut mengurus apa pun kecuali masalah tempat, karena ini adalah rumah Henry. Sedangkan yang lain, Baekhyun dan Kyungsoo lah yang aktif mengurusnya. Lay, hanya membantu di sana dan di sini saat BaekSoo memintanya. Ia sendiri tidak habis pikir, mengapa ketiga adiknya itu mau saja membuang-buang uang dan tenaga untuk hal seperti ini. Hanya karena ingin membalas Sehun?
Luhan masih memperhatikan satu per satu wajah asing di pestanya itu. Dari sekian banyak tamu undangan, yang ia kenal hanya tiga kekasih adik-adiknya. Kris, Suho dan Chanyeol. Sisanya, Luhan tidak tahu. Tapi tadi Baekhyun bilang...
'Mereka itu mantan-mantan kekasih Sehun yang berhasil aku kumpulkan, Hyung!'
Luhan terkesiap menatap sekumpulan yeoja-yeoja manis, cantik, dan (beberapa) seksi yang tersebar di seluruh penjuru ruangan. Sedang mencicipi beraneka macam makanan dan kue yang dibuat langsung oleh Kyungsoo dan Lay. Berbincang-bincang, atau lebih tepatnya bergosip, dengan sesama mereka. Dan sebahagian ada juga yang hanya duduk di atas sofa sambil menikmati minuman. Luhan sempat menangkap tatapan mereka yang beberapa kali tertuju padanya.
Benarkah mereka semua ini adalah kekasih Sehun?
Apa Baekhyun menceritakan tentang ia dan Sehun pda mereka?
Jumlah mereka ada sangat banyak. Dan apa yang Baekhyun katakan tadi? Mantan Sehun yang berhasil ia kumpulkan? Berarti, masih ada lagi mereka-mereka yang tidak hadir di pesta? Yang tidak berhasil Baekhyun kumpulkan?
Mata Luhan mengerjap tak percaya. Bibirnya mengerucut. Entahlah. Tiba-tiba ia merasa sangat kesal melihat yeoja-yeoja itu. Tiba-tiba ia juga merasa kesal pada Sehun. Bagaimana mungki namja tampan itu bisa mengencani yeoja sebanyak ini? Dan tiba-tiba, ia jadi bersemangat untuk mengerjai Sehun.
Namun saat bel rumah berbunyi bersamaan dengan satu pesan yang masuk di ponselnya, tiba-tiba, Luhan kembali gugup.
.
.
Sehun mematikan mesin mobil setelah berhasil memarkirkan kendaraan kesayangannya itu dan segera keluar dari mobil. Tidak lupa membawa sebuket bunga mawar merah segar nan harum yang telah dibelinya untuk Luhan. Meski pun ia tidak tahu sebenarnya pesta apa yang sedang diadakan oleh Luhan, tapi sebuah hadiah kecil ia rasa tidak masalah.
Sehun menatap rumah megah di depannya. Berjalan santai menuju pintu depan, dan memencet bel rumah. Satu kali, dua kali, tidak ada yang membuka pintu. Ia lalu mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan singkat pada Luhan. Sehun hanya berharap kalau ia tidak terlambat.
Aku sudah berada di depan rumah, Hyung!
Sehun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Merapikan penampilannya sedikit dan kembali membunyikan bel. Dia sudah berdiri di sana beberapa saat, tapi kenapa belum ada yang membukakan pintu? Apa dia datang ke alamat yang salah? Tapi melihat ada begitu banyak kendaraan yang terparkir, sepertinya ini alamat yang benar. Lalu—
Cklekk
Pintu terbuka, menampilkan sosok yang telah ditunggunya dan *ehem* dirindukannya yang terlihat begitu menawan malam itu. Setelan kemeja dan celana putih justru membuat kulit putih Luhan semakin bersinar. Dan tentu saja, membuat ia semakin terlihat manis di mata Sehun.
"Ah~ Kau sudah datang? Masuklah! Yang lain sudah menunggu," ujar Luhan kalem.
Sehun mengangguk, mengikuti langkah kecil dari kaki mungil Luhan tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari wajah cantik namja manis itu. Bahkan saat mereka berhenti di tengah-tengah ruangan pun, Sehun masih menatap Luhan. Ia juga menurut saja saat Luhan memintanya untuk duduk di atas sofa.
"Mau ku ambilkan sesuatu? Minuman? Atau kue?" tawar Luhan. "Adikku membuat semua makanan ini sendiri loh!"
"Errrrmmm," Sehun berfikir sejenak. "Tenang saja! Tidak ada makanan yang akan berakibat buruk pada wajahmu. Aku jamin!" canda Luhan.
Sehun terkekeh pelan. "Apa pun yang kau berikan, aku pasti akan menerimanya, Hyung!" jawabnya sekalian menggombal.
Luhan melengos pelan namun tersenyum. "Baiklah. Kau tunggu di sini, ya!" ujarnya kemudian berlalu.
Sehun menatap kepergian Luhan dengan pandangan tak rela. Baru setelah namja manis itu menghilang di tengah kerumunan, ia mengeluarkan ponselnya. Memilih untuk bermain game sembari menunggu Luhan kembali. Dari pada menunggu dengan terbengong, lebih baik dia melakukan aktifitas yang lebih produktif. Ini adalah pestanya Luhan, dan tidak ada teman-teman Luhan yang ia kenal. Di tambah lagi mereka kan kuliah di kampus yang berbeda.
"Oh Sehun?!"
Atau ada?
Seseorang memanggil namanya. Sehun mendongak dan sedikit terkejut mendapati siapa yang memanggilnya. "Noona?" sapanya ragu.
"Whoaaa! Ternyata benar-benar Sehun!" seru yeoja itu, dan tanpa malu-malu mengambil posisi duduk di samping Sehun.
Sehun tersenyum ramah pada Hyejin dan seseorang di sampingnya. "Mengapa Noona ada di sini?" tanya Sehun. Hyejin tertawa kecil dan memukul lengan Sehun dengan manja. "Apa maksudmu bagaimana? Tentu saja karena aku diundang. Aigooooo! Kau masih seperti dulu. Kwiyeopptaaa!" ujar Hyejin gemas dengan mencubit pipi Sehun yang tersenyum kikuk.
"Ah, kenalkan ini kekasihku, Junho!" ucap gadis itu kemudian. Namja di samping Hyejin mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Sehun dengan senang hati. Mereka berbincang-bincang sesaat sebelum Hyejin meninggalkannya. Dan Sehun, melepas kepergiannya dengan senang hati.
Setelah Hyejin pergi, Sehun kembali mengambil ponselnya. Ia baru akan menyibukkan diri -lagi- dengan benda canggih itu saat ada suara lain lagi yang menyapanya. Miyah Noona, dan kekasihnya. Mereka berbincang sebentar sebelum Miyah undur diri dari hadapannya. Dan kejadian serupa itu terus terjadi lagi dan lagi, berulang-ulang sampai beberapa kali.
'Mengapa mereka bisa ada di sini?' Sehun mulai berfikir setelah yeoja yang ke-5, atau 7(?) meninggalkannya. 'Ah! Mungkin Luhan kenal dengan kekasih Noona-Noona itu!' Ia mencoba berfikir positif. Namun saat sebuah suara lain yang tak asing di telinganya memanggil, Sehun mulai merasa ada yang tidak beres.
"Baek Hyung?!" seru Sehun -sangat- terkejut melihat mantan kekasih mungilnya itu ada di tempat yang sama dengannya, lengkap dengan kedua sahabat Baekhyun yang kebetulan juga adalah mantan kekasihnya. Tidak hanya itu, yang lebih lebih lebih mengejutkan lagi, ketiga makhluk yang ia panggil 'Hyung' juga ada di sana. Sebenarnya, apa yang terjadi?
"Mengapa kalian ada di sini?" Sehun bangkit dari duduknya dan bertanya bingung.
"Mengapa aku ada di sini? Kau yang mengapa ada di sini?" Baekhyun memasang wajah tak kalah bingung. "Ah~ Aku tahu. Jadi, Sehun yang dimaksud oleh Luhan Hyung benar-benar kau? Aku kira ada Sehun yang lain," ujarnya sembari mengangguk-anggukkan kepala.
Sehun menggaruk kepalanya dengan kening berkerut. Ia lalu mengalihkan tatapan menuntut penjelasan pada ketiga Hyungnya yang sialnya tak menjawab apa-apa. Chanyeol seperti tengah menahan tawa. Suho menatapnya dengan tatapan... apa itu tatapan maaf? Dan Kris, well, Hyung satu itu memang selalu berwajah Angry Bird tak terbaca. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu dari kalimat Baekhyun.
"Hyung?" Sehun berucap bingung sekaligus kaget.
Kyungsoo mengangguk. "Iya. Hyung! Kau tidak tahu? Luhan adalah Hyung kami bertiga!" jawab Kyungsoo santai.
MWOOOOO?
Sehun terbelalak. Kemudian kembali menatap KrisYeolHo dengan tatapan bertanya. Apa maksud semua ini? Mereka kenal dengan Luhan? Tapi mengapa mereka tidak memberitahukan padanya kalau Luhan dan trio bebek punya hubungan? Padahal, mereka tahu kalau ia menyukai Luhan. Mengapa?
"Sorry bro! Kami juga baru tahu kalau Luhan yang dimaksud oleh Baekkie dan Luhan-mu adalah orang yang sama." Chanyeol menjawab pertanyaan yang tak sempat ditanyakan itu. Dia mengucapkan kata 'maaf', tapi Sehun sama sekali tidak melihat ada pancaran 'maaf' di mata Chanyeol.
"Sehun-ah! Ini minum— Ah! Kau sudah bertemu dengan adik-adikku?"
Bagaikan seorang super hero, Luhan tiba-tiba muncul setelah menghilang cukup lama, tepat saat Sehun sedang membutuhkan pertolongan, lebih tepatnya penjelasan. Tapi, tunggu tunggu! Apa tadi Luhan mengatakan 'adik-adikku'?
Namja manis itu meletakkan minuman di tangannya ke atas meja dan mendekat pada Sehun. "Kau masih ingat kan? Waktu itu aku pernah bercerita kalau adik-adikku kuliah di kampus yang sama denganmu."
Otak Sehun berputar. Terus berputar memundurkan waktu dalam kilasan ingatan memorinya. Mengingat-ingat kapan Luhan pernah menceritakan mengenai adik-adiknya.
"Kau tidak ingat? Waktu itu kau mengantarku ke aparteman dan berkata kalau kau mengenal beberapa orang yang tinggal di sana, dan aku berkata kalau adik-adikku kuliah di XOXO University juga."
BINGO! Itu dia. Bagaimana Sehun bisa lupa? Dan yang paling penting, bagaimana mungkin orang-orang yang dimaksud Luhan adalah trio bebek mantan kekasihnya yang sekarang telah menjadi kekasih dari Hyung-Hyungnya? Oh dunia ternyata memang tidak selebar daun kelor.
Tapi, apa mereka mengatakan sesuatu pada Luhan? Apa mereka menceritakan keburukannya?
Perasaan Sehun semakin tak enak. Dan ia merasa sangat panik.
"Kau ingat, kan?" tanya Luhan lagi. Sehun mengangguk -sangat pelan.
Luhan tersenyum tipis. "Kalau begitu, kenalkan! Ini Baekhyun, yang itu Kyungsoo, lalu Lay. Dan yang bersama mereka, aku tidak begitu kenal, tapi mereka adalah kekasih adik-adikku!" jelasnya.
Sehun melihat Baekhyun tersenyum lebar. Atau menyeringai? Namja centil itu lalu bergerak maju dan berdiri tepat di samping Sehun. "Kami sudah saling mengenal kok. Bahkan Chanyeol, Kris dan Suho adalah Hyung-nya Sehun. Iya kan?" tanyanya innocent. Mengedip-kedipkan matanya untuk menambah kesan innocent.
Tapi Sehun tahu, dia mengenal Baekhyun dengan baik. Kata innocent tidak bisa dipasangkan dengan nama Baekhyun. Namun meski pun begitu, Sehun mengangguk pelan. Memilih untuk mengikuti permainan yang sedang berlangsung.
"Benarkah? Woaaaaaaah, ternyata dunia ini sempit, ya!" seru Luhan pura-pura kaget.
"Kau benar Hyung!" sahut Kyungsoo. "Jadi kau tidak perlu memperkenalkan kami lagi! Bahkan aku yakin sekali, kalau Sehun dan hampir semua tamu yeoja di sini juga saling mengenal!" tukasnya. "Apa aku salah, tuan Oh Player Sehun?!" Kyungsoo menatapnya datar.
Jantung Sehun berhenti mendengar julukan itu. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Menatap wajah demi wajah yang pada kenyataannya memang tak asing baginya. Bukan hanya Hyejin dan Miyah dan beberapa yeoja yang sempat mengobrol dengannya. Ada Yura, Yoona, Minah, Hyeri, Dara, Suzy, Eunji, dan masih banyak lagi. Sehun tidak mungkin mengabsent nama mereka satu persatu. Nama mantan-mantan kekasihnya.
Tidak hanya itu. Sehun juga baru menyadari satu hal. Tidak hanya Luhan, mereka semua, para tamu undangan yang hadir, termasuk Baekhyun, Kyungsoo, Lay, Kris, Chanyeol, dan Suho, memakai dress code berwarna dasar putih. Sebagian dengan hiasan berwarna warni, dan sebagian lagi sama seperti Luhan. Penar-benar putih polos. Dan dia satu-satunya tamu yang mengenakan pakaian dengan warna yang berbeda.
Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa ini semacam jebakan untuknya? Otak Sehun mulai bekerja keras. Kenapa ia merasa kalau pesta ini bukanlah pesta Luhan melainkan pesta yang memang dibuat khusus untuknya? Karena jika dibandingkan dengan pesta untuk Luhan, pesta ini lebih tepat disebut sebagai reuni para mantan Sehun. Apa mereka tengah mengerjainya? Dan yang lebih parah lagi, mereka semua (read: mantan-mantan Sehun termasuk trio bebek di depannya ini) datang bersama pasangan masing-masing. Mereka semua terlihat begitu lovely berdiri di samping pasangan masing-masing. Kecuali dirinya.
'Apa-apaan ini?' Pertanyaan itu terus berulang-ulang di benak Sehun. Ia menatap ketiga Hyung-nya yang hanya diam saja tanpa ada niat untuk menjelaskan apa pun apalagi menolongnya yang jelas-jelas tengah dipermalukan. Ia menatap BaekSooLay yang tersenyum miring padanya. Apa ini semacam ajang balas dendam?
'Ya Tuhan!'
Menyadari hal itu, tiba-tiba perut Sehun mual. Kepalanya pusing. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak. Dan ia merasa sulit bernafas.
Sehun merasa sangat malu saat ini. Semua tatapan dari tamu-tamu yang datang tertuju padanya. Mereka semua hanya menatapnya dengan sebuah senyum tipis, beberapa ada yang tertawa pelan. Tapi Sehun merasa kalau mereka tengah mentertawakannya. Tawa yang sarat akan ejekan dan cibiran. Bahkan di dalam kepalanya, ia seolah bisa mendengar suara tawa mengejek dari mereka semua.
Ia malu. Sangat malu. Amat sangat sangat sangat malu. Ia merasa seperti seorang pecundang berada di tengah-tengah mereka semua. Dia merasa begitu kecil. Dan untuk pertama kalinya, Sehun merasa tidak suka dengan julukan Player yang selama ini selalu ia banggakan. Saat ini, rasanya, dia ikhlas sekali kalau bumi tiba-tiba terbuka dan menenggelamkan dirinya ke dasar. Ditelan bumi, rasanya pasti akan jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan dari pada berada di sini.
"Sehun-ah! Kau tidak apa-apa?" tanya Luhan khawatir. "Wajahmu memerah!"
Suara lembut Luhan menyadarkan Sehun dari kepanikannya. Dan tiba-tiba, secara ajaib, suara tawa yang terus menggema di otaknya menghilang. Namja tampan itu berhenti menatap ke sekeliling ruangan dan beralih memandang Luhan yang terlihat khawatir. Dan ia menyadari satu hal.
Luhan juga tidak mempunyai pasangan di pesta ini. Apa itu berarti ia adalah pasangan Luhan?
"Hanhan!"
'Sepertinya bukan!' batinnya.
Seorang namja lumayan tampan (dalam pandangan Sehun) berjalan ke arah mereka dengan senyum mempesona dan tangan terbuka, dan Luhan tanpa malu-malu langsung berhambur ke pelukan namja itu. Saat mereka sudah cukup dekat, Sehun mengenali namja tampan itu sebagai namja yang sama yang membawa kabur Luhan di hari kencan meraka yang pertama.
Lalu pertanyaannya, siapa dia? Apa mungkin dia pacar Luhan? Tapi, mengapa Luhan tidak pernah cerita soal ini?
"Sehun-ah, Kenalkan! Ini Henry Ge!" ujar Luhan. "Dia adalah orang yang paling aku sayangi dan paling spesial bagiku!"
Double WHAT?!
Suara tawa itu kembali terdengar di kepalanya. Sehun tidak tahu seperti apa bentuk wajahnya sekarang. Mungkin terlihat konyol. Mungkin berwarna merah semerah anggur merah yang ada di atas meja. Atau mungkin terlihat sangat jelek. Tapi dia tidak perduli. Sehun tidak bisa perduli. Karena saat ini, dia begitu malu. Terlalu malu bahkan untuk menatap Luhan sekali pun. Dan Sehun semakin yakin. Ditelan bumi, rasanya pasti akan jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan dari pada berada di sini, di tengah-tengah pasangan bahagia yang datang dan mendengarkan apa yang baru saja Luhan katakan.
~HunHan Bubble Tea Couple~
Luhan berjalan pelan menuju kafe Bubble Tea langganannya. Langkahnya terlihat ragu, begitu pula ekspresi wajahnya. Setelah kejadian semalam, ia tidak bisa tidur karena rasa bersalahnya pada Sehun. Apakah namja itu marah padanya? Apa dia benci padanya sekarang? Bahkan saat dosen pembimbing mengomentari draft skripsinya tadi, Luhan tidak bisa fokus. Berkali-kali melirik jam di dinding dan berharap waktu segera berlalu. Namun saat waktu telah berlalu sesuai keinginannya, ia justru kembali ragu.
'Sehun tidak akan marah, Hyung! Tenang saja!'
Luhan jadi teringat ucapan Suho tadi malam saat Sehun menghilang dari pesta. Setelah ia memperkenalkan Henry, mereka memang tidak mengobrol lagi. Semua sibuk (menyibukkan diri) sendiri dengan pasangan masing-masing. Luhan juga 'pura-pura' sibuk mengobrol dengan yang lain, meski ekor matanya terus mengawasi gerak-gerik Sehun yang terlihat kikuk sendiri di sudut ruangan. Sebenarnya ia tahu saat Sehun diam-diam keluar dari rumahnya. Dia bahkan sudah menyusul sampai pintu depan dan berniat minta maaf, namun BaekSooLay mencegahnya.
'Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau dia tidak akan marah padaku? Apa kau tidak melihatnya tadi? Sehun pasti merasa sangat malu saat ini, dan itu semua karena aku. Tidak mungkin dia tidak marah!' tukas Luhan was-was. Bagaimana kalau Sehun tidak mau bertemu lagi dengannya?
Suho hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. "Kau hanya perlu percaya padaku, Hyung! Aku yang menjaminnya. Sehun, tidak akan pernah marah padamu!" tegas Suho.
Luhan melepaskan tangan Baekhyun yang menahan lengannya tadi dan berjalan menuju sofa tanpa suara. Pikirannya kacau dan ia sama sekali tidak ada niat untuk menikmati pesta ini. Henry berkali-kali mengganggu dan menggodanya. Berusaha memancing satu saja senyum dari bibir adik tersayangnya tanpa ada hasil sebelum akhirnya menyerah. Sepertinya adiknya itu memang perlu waktu untuk sendiri. Dan kemudian, Luhan meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
"Kau sudah tidur, Ge?"
Suara khawatir Lay terdengar beberapa saat setelah ia merebahkan tubuhnya. Namja manis itu menghampiri Luhan dan mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur. "Jangan terlalu dipikirkan, Ge. Kau dengar apa yang Suho Hyung katakan, kan? Sehun tidak akan marah."
Luhan masih diam.
"Kau pasti merasa bersalah pada Sehun ya?" tanya Lay. "Sejujurnya, aku juga sedikit merasa bersalah."
Luhan bangun dari posisi tidurnya dan menatap Lay bingung. Yang ditatap tersenyum manis kemudian menarik tangan Luhan untuk digenggamnya. "Sehun bukanlah seorang pria yang jahat, aku sangat tahu itu. Dia tidak pernah memaksa satu pun dari kami untuk menjadi kekasihnya. Itu adalah pilihan kami sendiri," ujarnya. "Tapi aku tidak menyesal melakukan ini, Ge! Sehun memang perlu diberi sedikit pelajaran. Dengan begitu, dia akan belajar. Dia akan menyadari di mana letak kesalahannya. Dan jika dia benar-benar serius denganmu, dia pasti tidak akan menyerah begitu saja!"
Hhhhhhhh. Ia menghela nafas berat saat telah sampai di depan kafe. Kalau dipikir-pikir, ucapan Lay semalam juga ada benarnya. Tapi tetap saja, Luhan merasa tidak tenang. Tangannya terangkat ke atas dada. Merasakan detak jantung gugupnya yang begitu kencang. Sedikit mencengkram erat bagian dadanya untuk sedikit menetralkan detak jantungnya.
'Dia ada di sini, kan? Dia pasti di dalam, kan?' batin Luhan bertanya-tanya.
Namja manis itu membuka pintu kafe perlahan dan masuk ke dalam. Mengedarkan pandangan penuh harap ke sekeliling ruangan. Dan mata rusa-nya langsung tertuju pada satu meja yang telah menjadi meja faforitnya. Namun tatapan itu berubah menjadi tatapan kecewa dan sendu saat ia tak menemukan apa yang ia cari.
Sehun tidak ada di sana. Dan itu hanya berarti satu hal. Sehun, marah padanya!
Luhan menunduk lemas dan berbalik arah keluar dari kafe, sebelum sebuah panggilan menghentikan langkahnya. Dan seberapa pun hatinya berharap kalau itu adalah Sehun, dia tahu kalau itu bukan. Suara Sehun, tidak senyaring itu.
"Noona!" sapa Luhan dengan sebuah senyuman yang selalu menghiasi wajah manisnya.
Yeoja itu, Victoria, pemilik kafe ikut tersenyum. "Kau tidak ingin memesan sesuatu? Mengapa buru-buru pergi?" tanyanya.
Luhan menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk. "Mianhae, Noona. Aku—"
"Kau sedang ada masalah dengan Sehun?" tembaknya.
Luhan mengerjap imut. "Eh?"
Victoria kembali tersenyum. "Sepertinya kalian memang sedang ada masalah," simpulnya. "Kau tahu? Beberapa saat sebelum kau datang, Sehun baru saja keluar dari kafe. Sama sepertimu, dia datang, terdiam di depan pintu, dan membalikkan badannya," jelas Victoria.
"Se-Sehun datang kemari?" Yeoja itu mengangguk. "Dan dia pergi tanpa memesan apa pun?" Victoria kembali mengangguk. "Wajahnya terlihat kacau. Kalau saja tadi aku tidak sedang sibuk, aku pasti sudah menahannya!" ujarnya kemudian.
Luhan terdiam. Berfikir. Sehun datang, tapi kemudian pergi lagi. Apa Sehun tak ingin bertemu dengannya? Atau Sehun ingin tapi takut bertemu dengannya? Apa Sehun marah padanya? Namja manis itu menggigit bibir bawahnya khawatir. Karena itukah dia pergi? Tapi kemana?
'Ah~' Luhan teringat sesuatu. Sepertinya ia tahu kemana Sehun pergi. Ia segera keluar dari kafe dengan dua gelas Bubble Tea di tangannya. Sekarang, Luhan hanya bisa bergantung pada keberuntungannya saja. Jika tebakannya benar. Jika Sehun benar-benar ada di sana. Di tempat yang ia pikirkan saat ini. Sehun harus ada di sana, atau Luhan tidak tahu lagi kemana harus mencarinya. Dia tidak mungkin datang ke XOXO University tanpa ketahuan Baekhyun dan Kyungsoo. Jadi hanya ini harapannya.
'Mudah-mudahan saja!'
Saat ia sudah semakin dekat dengan tempat tujuannya, langkah Luhan berubah menjadi sangat ringan begitu melihat seseorang di sana. Meski dari belakang, tapi Luhan bisa mengenal orang itu dengan sangat baik. Dan tanpa bisa dicegahnya, bibir merahnya melengkung ke atas dengan sangat manis.
"Kau di sini rupanya!"
Sehun terlihat sedikit kaget saat mendengar suara Luhan, namun ekspresi itu dengan cepat berubah menjadi normal kembali. Namja tampan itu mendongak, menatap Luhan yang langsung mendudukkan tubuh mungilnya di sampingnya. Sebenarnya, dia sedang ingin sendirian. Setelah kejadian memalukan semalam, ia belum siap untuk bertemu lagi dengan Luhan. Ya setidaknya, tidak secepat ini. Tapi jika Luhan sendiri yang datang dan menemukannya, Sehun bisa apa? Ia tidak mungkin meminta namja manis ini untuk pergi, kan?
"Bagaimana kau tahu kalau aku ada di sini, Hyung?" tanya Sehun basa-basi. Sebenarnya ia tidak begitu tertarik dengan jawaban Luhan, hanya untuk mencairkan suasana saja.
Luhan tak menjawab. Hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya. "Minumlah!" ujarnya menyodorkan Bubble Tea rasa coklat di tangannya pada Sehun. "Tadi Noona bilang, kau pergi tanpa sempat membelinya!"
Sehun menerima minuman itu dengan senang hati dan mulai meminumnya perlahan. "Mengapa kau kemari, Hyung?" tanyanya seraya menatap pemandangan sore di dekitar taman. Menghindari tatapan Luhan.
"Kau sendiri?" Alih-alih menjawab pertanyaan Sehun, Luhan justru balik bertanya. "Aku mencarimu di kafe, tapi kau tidak di sana. Kau tidak datang, Sehun. Apa kau tidak ingin bertemu denganku? Kau marah padaku?"
Sehun terdiam, masih menolak untuk menatap namja manis yang telah berhasil memporak-porandakan hati dan pikirannya. Luhan menundukkan kepala, semakin merasa bersalah. "Maafkan aku!" ujarnya pelan. Mendengar itu, sontak Sehun menoleh ke sampingnya.
"Kejadian semalam, aku—"
"Aniyo, Hyung!" sangkal Sehun cepat. "Mengapa kau meninta maaf? Lagi pula, aku tidak marah padamu."
"Benarkah?"
Sehun mengangguk. "Aku sama sekali tidak marah padamu, Hyung. Aku hanya..." Ia berhenti sejenak untuk menarik nafas dan menundukkan kepalanya. "Aku hanya merasa malu. Pada semuanya. Pada diriku sendiri, terutama padamu. Aku merasa malu karena kau harus mengetahui bagaimana sebenarnya seorang Sehun," lanjutnya.
"Kalau begitu, maafkan aku karena membuatmu merasa seperti itu. Aku tahu kalau yang semalam itu sangat keterlaluan. Dan seharusnya aku tidak melakukannya."
Keduanya terdiam setelah itu. Tidak ada yang bersuara. Luhan memainkan sedotan dari gelas Bubble Tea-nya, dan Sehun menyibukkan diri dengan memandangi suasana senja di bukit kecil ini. "Sebenarnya," ujar Sehun akhirnya membuka suara. "Yang semalam itu tidak terlalu buruk. Setidaknya aku jadi menyadari sesuatu semalam."
Luhan berhenti memainkan sedotannya dan menatap Sehun bingung. "Saat aku melihat mereka semua berkumpul di sana tadi malam, aku merasa seperti orang paling jahat sedunia, Hyung. Selama ini, aku selalu menikmati saat-saat mereka memujaku dan memintaku untuk menjadi kekasih mereka. Aku menyukai perasaan itu. Dan aku terus melakukannya tanpa tahu kalau itu adalah salah. Atau sebenarnya aku tahu kalau itu salah, tapi perasaan senang dan bangga itu lebih mendominasi. Aku hanya memikirkan diri sendiri saja. Aku kira, dengan menjadikan mereka kekasihku meski hanya beberapa hari saja, itu sudah cukup membuat mereka senang. Dan dengan begitu, aku kira tidak akan ada yang tersakiti. Tapi aku salah. Aku lupa bahwa mereka juga memiliki perasaan. Kalau mereka juga bisa terluka. Dan kejadian semalam adalah buktinya. Karena jika memang mereka tidak terluka, pesta tadi malam pasti tidak akan pernah ada!" tutur Sehun panjang lebar.
Luhan terkesan dengan penuturan Sehun. Tidak menyangka kalau namja yang baru beberapa minggu lalu masih sangat menyebalkan, sekarang justru terlihat begitu mengesankan. Tapi ia tidak mengatakan apa pun untuk mengomentarinya.
"Tapi Hyung!" ujar Sehun lagi dan kembali menatap ke arahnya. "Meski pun di masa lalu aku seperti itu. Seorang Player yang tidak bisa dipegang kata-katanya. Seorang namja yang tidak percaya akan komitmen dalam sebuah hubungan. Apa yang aku rasakan untukmu saat ini benar-benar tulus. Aku tidak main-main. Aku benar-benar menyukaimu meski aku tahu kalau aku tidak layak bahkan untuk sekedar menyukaimu. Dan aku masih menyukaimu meski namja itu memang, errrmmmm, terlihat lebih baik untukmu!"
Luhan menaikkan alisnya. "Namja itu?" tanyanya.
"Iya! Namja yang semalam datang terlambat itu. Yang kau sambut dengan pelukan hangat dan kau kenalkan padaku sebagai seseorang yang paling spesial untukmu. Kekasihmu!" jawab Sehun.
Luhan tergelak geli mendengar jawaban Sehun. Dan Sehun, seharusnya dia marah ditertawakan seperti itu, karena dia memang tidak suka ditertawakan. Namun kali ini, alih-alih rasa kesal, dia justru merasa begitu senang bisa melihat Luhan tertawa seperti ini. Dia menyukai tawa Luhan. Tapi, mengapa Luhan tertawa? Apa ada yang salah dengan kata-katanya tadi? Apa Luhan mentertawakan pengakuannya?
"Mengapa kau tertawa, Hyung? Apa ada yang lucu?"
Luhan mengusap setitik air mata di ujung matanya karena tertawa. "Eum," ia mengangguk. "Kau yang lucu, Sehun-ah! Kau yang lucu!" Ia menghentikan tawanya dan membalas tatapan Sehun. "Henry Ge itu memang sangat spesial untukku. Dia adalah orang yang paling aku sayang setelah kedua orang tuaku. Tapi dia bukan kekasihku, Sehun-ah! Dia adalah kakak-ku!" jelasnya.
'O'
Bibir tipis Sehun membulat, membetuk huruf 'O' tanda mengerti. Jadi itu bukan kekasih Luhan? Jadi, apa itu berarti dia masih punya kesempatan?
"Kau tau, Sehun? Sebuah hubungan itu, kadang terlihat sangat sederhana, namun juga begitu rumit. Dan aku rasa, hubungan antara kau, aku dan ketiga adikku juga sama." Luhan berujar pelan tanpa menatap Sehun. Pandangannya lurus ke depan, pada hamparan rumput dan pepohonan di bawah sana.
"Di satu sisi, ada kau dengan perasaan tulus yang kau tunjukkan padaku. Dan aku menghargai itu. Aku percaya kalau kau tulus. Every people has their own history, Sehun. dan sebuah masa lalu, baik ataupun buruk, hanyalah masa lalu. Mungkin masa lalu-mu bukanlah sebuah cerita yang indah dan layak untuk diceritakan. Tapi bagiku itu tidak masalah. Karena yang paling penting adalah siapa dirimu yang sekarang!"
Luhan berhenti sejenak untuk menarik nafas. "Lalu, di sisi lain, ada ketiga adikku. Orang-orang terpenting dalam hidupku. Aku tidak bisa begitu saja melepaskan tiga ikatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun hanya untuk mengikat satu ikatan yang belum pasti, Sehun. Aku begitu menyayangi Baekhyun, Kyungsoo, dan juga Lay. Mereka adalah adik-adikku. Tiga orang yang memegang peranan penting dalam hidupku. Tapi sepertinya mereka tidak begitu menyukaimu, Sehun-ah."
Ia berhenti berbicara dan mengalihkan pandangannya pada Sehun. "Sebenarnya, mereka bukannya membencimu. Mereka hanya terlalu menyayangiku dan ingin yang terbaik untukku. Mereka tidak mau kalau nanti, pada akhirnya aku hanya akan menjadi pelengkap dalam koleksi mantan kekasih bagimu. Mereka tidak ingin aku terluka." Luhan tertawa pelan. "Mereka tidak mempercayaimu, Sehun-ah. Dan aku begitu mempercayai mereka. Bukankah ini sangat rumit?" ujarnya retorik, diiringi sebuah senyum tipis.
Sehun memgangguk paham, namun justru tersenyum. 'Jadi begitu rupanya!' pikirnya.
"Kalau begitu, aku akan melakukan apa pun yang aku bisa untuk mendapatkan hati Baekhyun, Lay dan Kyungsoo Hyung. Aku juga akan meminta maaf pada mereka semua yang pernah aku sakiti. Aku akan membuktikan kalau kali ini aku tidak main-main. Aku sungguh-sungguh menyukaimu, Hyung. Aku akan membuat mereka bertiga pecaya padaku. Dan aku pasti akan mendapatkan kepercayaanmu, Hyung!" ujar Sehun dengan mantap dan sangat yakin. "Kau bukanlah sekedar pelengkap koleksi! Kau jauh dari itu. Karena kau adalah seseorang yang sangat spesial untukku. Dan aku, pasti akan membuktikannya!"
Bibir Luhan melengkung sempurna mendengar ucapan sungguh-sungguh yang baru saja dilontarkan Sehun. Ia bahkan harus menggigit bibir bawahnya agar tak terlihat seperti anak idiot. Pipinya merona. "Aku akan menunggunya!" seru Luhan pelan. Sehun menoleh dan menatapnya tak mengerti. Sedikit tak percaya kalau apa yang dikatakan Luhan barusan adalah apa yang didengarnya. Luhan lalu menatap Sehun tepat di matanya dengan sebuah senyuman yang begitu manis. "Aku akan menunggunya, Sehun-ah. Aku akan menunggu hari itu tiba. Hari dimana kau membuktikan apa yang kau ucapkan dan mendapatkan kepercayaan dari ketiga adikku."
Keduanya saling menatap lekat ke dalam mata masing-masing. Berkomunikasi hanya lewat tatapan mata, tanpa suara. Saling melempar senyum penuh arti untuk beberapa saat sebelum kembali menatap ke depan. Sehun meminum kembali Bubble Tea yang sempat terabaikan di tangan kanannya dengan sebuah senyum yang begitu lebar. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menopang tubuhnya. Kepalanya mendongak dan matanya terpejam. Menikmati tetesan air dingin yang membasahi kerongkongannya di senja yang sebenarnya tidak begitu panas. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi sangat ringan dan hangat setelah mendengar ucapan Luhan barusan.
'Luhan akan menunggunya. Namja manis yang telah berhasil memikat dan memporak-porandakan hatinya itu berkata kalau ia akan menunggunya!' pekik Sehun senang dalam hati. Bukankah itu adalah pertanda yang baik sebagai permulaan?
Luhan sendiri, tengah sibuk dengan jantungnya yang menolak untuk berdetak wajar dan pipinya yang semakin merona. Entah keberanian dari mana ia bisa mengucapkan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Tapi Luhan sama sekali tidak menyesal. Ia melirik pada Sehun yang tersenyum begitu lebar dengan mata yang terpejam. Lalu beralih pada tangan kiri Sehun yang beristirahat manis di tengah-tengah mereka berdua, di atas bangku yang mereka duduki. Dengan mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki, ia mengulurkan tangannya untuk menyatukan tangan mereka. Bukan menggenggamnya. Hanya mendekatkan dan sedikit menyentuhkan jari kelingking mereka, dan tersenyum malu-malu saat Sehun justru membalas apa yang ia lakukan dengan menautkan kedua jari kelingking itu. Kemudian Luhan kembali menatap ke depan.
'Kau harus bisa mendapatkan kepercayaan mereka, Sehun-ah. Harus! Dan aku, pasti akan menunggumu!' batinnya riang sembari meminum Bubble Tea di tangan kirinya.
Dalam kesunyian yang tercipta, hanya ada suara dedaunan yang bergerak-gerak pelan tertiup angin dan suara detak jantung yang saling bersahut-sahutan menemani dua insan yang tengah terjerats 'virus merah jambu' menghabiskan waktu senja itu.
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
TeBeCe
OMAKE
KrAy, SuDo, Chanbaek Side, One day!
"MWOOOOOOOOOOOOOO?"
Chanyeol dan Kris berteriak sangat kencang, dengan suara bass mereka, begitu mendengar apa yang diucapkan oleh kedua kekasih mereka, Baekhyun dan Lay.
"Kau bilang apa tadi?" teriak Chanyeol-lagi.
"Kau ingin kami melakukan apa?" sahut Kris.
Baekhyun dan Lay memutar bola mata mereka malas. "Reaksi kalian berlebihan!" komentar Baekhyun. Lay mengangguk setuju. "Kami kan tidak meminta kalian untuk melakukan hal aneh," sambungnya.
"Yaaaa! Apanya yang berlebihan? Kalian baru saja berkata kalau Luhan, that Luhan yang membuat Sehun jatuh bangun, adalah Hyung kalian!" tukas Chanyeol.
"Kau betul, mie! Dan bukan itu saja, kalian juga memberitahukan rencana gila kalian untuk Sehun, magnae kami, dan meminta kami untuk membantu kalian!" ujar Kris setuju.
Baekhyun berdecih pelan, kemudian meminum susu strawberry faforitnya dengan santai. "Kami kan tidak meminta kalian untuk melakukan apa pun. Hanya jangan memberitahukan Sehun tentang ini dan berpura-puralah tidak tahu apa-apa saat hari H nanti!" ucapnya.
"Kalian juga harus mendukung apa yang kami lakukan!" imbuh Lay kemudian mendekati Kris dan duduk di sampingnya. "Kau mau membantu kami kan, babe?" rayunya sembari mengusap sayang pipi Kris. Yang dirayu tersenyum mesum. "Itu bisa diatur, baby!" jawabnya sumringah. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Lay untuk menangkap bibir yang seolah tengah memanggilnya itu. Tapi—
"ANDWAEEE!"
— teriakan Chanyeol serta gebrakan keras pada meja membuat Lay kaget dan menggagalkan rencana bulusnya.
"Sehun adalah magnae kami. Meski terkadang suka membuat kesal, aku menyayanginya seperti adikku sendiri. Dan aku tidak berniat sama sekali untuk membuat adikku malu di depan umum!" tolak Chanyeol.
Kris melongo. Baekhyun dan Lay apalagi. Terang saja! Mereka pikir, di antara tiga sekawan itu, Chanyeol lah yang akan paling mudah untuk dipengaruhi. Tapi siapa sangka kalau justru dia yang paling tak setuju?
"Tapi—"
"Kalau begitu, aku juga tidak setuju!" Kris ikut-ikutan, memotong protes yang akan keluar dari bibir kekasih Chanyeol. Dia tentu tidak mau dicap sebagai seorang Hyung tak berprike'dongseng'an hanya karena masalah ini.
'Aiiiisssssh! Mengapa mereka berdua sulit sekali ditaklukkan?' batin Baekhyun kesal. Tapi bukan Baekhyun namanya kalau ia menyerah begitu saja.
"Channie!" Baekhyun bangun dari duduknya dan beralih duduk di atas pangkuan Chanyeol. Bersiap-siap mengeluarkan seribu satu jurus rayuan mautnya yang tak pernah gagal. "Sekali ini saja, bantu kami, hmmm? Kau mencintaiku, kan?" ujarnya. Tak lupa mengerjapkan mata dengan sangat imut sebagai efek tambahan.
Chanyeol menelan ludahnya. "Baekhyun-ah! Cintaku padamu tidak ada hubungannya dengan semua ini!" jawabnya pelan. Sangat pelan dan terkesan ragu-ragu. Baekhyun yang seperti ini, hanya orang idiot saja yang mau menolaknya. Tapi Sehun adalah adiknya. Dan untuk sekali saja, ia ingin melakukan sesuatu yang benar untuk Sehun.
Baekhyun mem-pout-kan bibirnya kesal. Tapi dalam hati, sebenarnya ia sedikit tersenyum. Ada keraguan dari jawaban Chanyeol tadi. Berarti ia masih punya sedikit harapan. Hanya tinggal sedikit merayu lagi, dan Chanyeol pasti akan langsung mengangguk setuju.
"Ayolah, Yeollieeee!" rajuknya manja.
Lagi-lagi, Chanyeol menelan ludahnya. Ia menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan kemudian kembali menatap Baekhyun. Kali ini, dengan tatapan menyerah. Dan Baekhyun langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Oy! Jangan senang dulu!" seru Kris tiba-tiba. "Kalian tahu, kan? Meski pun aku dan si rambut mie ini setuju, kita tetap tidak bisa melakukan apa-apa kalau Suho berkata tidak. Dia sangat menyayangi Sehun. Dan aku tidak yakin kalau dia setuju!"
Mendengar itu, Baekhyun dan Lay mendesah kecewa. Jika memang begitu, maka sekarang, harapan satu-satunya hanyalah Kyungsoo. Semoga saja namja mungil sekali itu berhasil merayu Suho. Karena jika Hyung tersayang Sehun itu setuju, maka semua pasti akan berjalan sesuai rencana.
Tapi masalahnya, seperti yang Kris katakan tadi, namja tak terlalu tinggi itu sangat menyayangi Sehun. Apa mungkin ia setuju?
"Aku setuju!"
Keempat pasang mata itu langsung beralih ke sumber suara begitu mendengar seruan itu. Dengan tatapan yang nyaris sama. Antara cengo, kaget, dan tak percaya.
"Mengapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Suho innocent seraya mendekat pada mereka. Di sampingnya, Kyungsoo bergelayut manja dengan lengan kiri yang melingkar sempurna di lengan Suho. Persis seperti istri presiden yang sedang mendampingi sang suami. Keduanya lalu duduk dengan santai di dua kursi kosong yang memang tersedia untuk mereka.
"Hyung!" panggil Chanyeol tak percaya. "Kau tidak salah makan, kan?" tanyanya.
"Kau serius?" sahut Kris.
Suho mengangguk santai. "Aku rasa, itu tidak terlalu buruk. Tentu saja aku menyayangi Sehun. Dan justru karena aku menyayanginya, aku setuju dengan rencana yang dikatakan Kyungsoo tadi. Aku rasa, sedikit pelajaran untuk Sehun tidak masalah. Mungkin Sehun akan merasa malu dan sedikit sakit hati. Tapi dengan begitu, dia pasti akan menyadari dan belajar satu hal dari sana. Aku ingin Sehun benar-benar serius kali ini. Aku ingin Sehun belajar, kalau cinta bukanlah hal yang sembarangan. Dan dia harus berjuang untuk cintanya!" tutur Suho.
Baekhyun dan Lay menatap Kyungsoo, seolah mencari kebenaran dari apa yang diucapkan oleh Suho. Dan saat Kyungsoo tersenyum sambil mengedipkan matanya, BaekLay tahu kalau rencana mereka pasti akan terlaksana dengan tentram dan lancar.
"Kyaaaaaaaaaaaa! Kyungsoo-yaa! Kau memang yang terbaik!" pekik Baekhyun memeluk erat tubuh mungil Kyungsoo sebelum Suho dan Chanyeol memisahkan pelukan mereka.
"Tapi, aku jadi penasaran. Sebenarnya Luhan itu seperti apa sih?" ujar Kris tiba-tiba setelah beberapa saat terdiam. Suho dan Chanyeol jadi ikut memikirkan hal yang sama.
"Kau benar, Kris! Aku juga penasaran. Apa sih yang begitu spesial dari Luhan sampai-sampai magnae kita jadi seperti ini karenanya?" tanya Suho.
"Nadoooo! Aku juga penasaran!" Chanyeol, seperti biasa, ikut-ikutan.
BaekSooLay tersenyum. "Kalian akan bertemu dengannya segera, tenang saja!" ujar Baekhyun. "Dan kalian, bisa menilainya sendiri!" sahut Lay.
"Memangnya, kapan kalian akan mempertemukan kami?" tanya Suho.
"Segera!" jawab Kyungsoo. Ia lalu tersenyum miring saat samar-samar dia mendengar suara seseorang yang membuka pintu apartemen mereka. "Lebih tepatnya, sekarang!" ujarnya kemudian.
KrisYeolHo terlihat bingung. Namun belum sempat mereka mengatakan apa-apa, seseorang muncul dari pintu depan. Seorang namja mungil nan manis dengan balutan pakaian sederhana yang justru terlihat sempurna di tubuh mungilnya. Terlihat begitu manis, begitu rupawan, begitu mempesona, dan begitu... Breathtaking!
"Aku pulang!" ujar namja itu dengan suara lembutnya. Baekhyun segera menyambut kedatangan Luhan dan mengenalkannya kepada ketiga Kris, Chanyeol, dan Suho. Luhan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dan tidak lupa untuk selalu memberikan senyum manisnya.
'Dia sangat cantik, seperti My BabyBaek!' - Chanyeol.
"Karena Baekkie bilang kalian bertiga akan datang, aku sengaja mampir ke restoran Henry Ge dan membelikan ini untuk kalian semua!" ujar Luhan riang pada Kris, Suho dan Chanyeol kemudian memberikan bungkusan di tangannya pada Kyungsoo yang langsung menerimanya dengan senang hati.
'Ia juga sangat perhatian, seperti Kyungsoo-ku!' - Suho.
Ketiga seme berdiri terpaku menatap Luhan. Membuat Luhan bingung. Namja manis itu mengerjapkan matanya dengan sangat pelan beberapa kali karena bingung dan memiringkan kepalanya sebelum bertanya, "Mengapa kalian menatapku seperti itu?" dengan sangat imut. Bibirnya mengerucut imut setelah bertanya.
'Ya Tuhan! Ia bahkan begitu menggemaskan. Persis seperti Lay Baby!' - Kris.
Bukannya menjawab pertanyaan Luhan, ketiga lelaki tampan yang 'katanya' Hyung-Hyung dari Sehun itu justru tercengang menatapnya di sana. Luhan beralih pada BaekSooLay dan menaikkan alisnya bertanya. Mengapa mereka seperti itu? Namun Baekhyun, Kyungsoo, dan Lay malah terkikik geli tanpa ada niat untuk menjawab kebingungannya.
Karena tak mendapatkan jawaban apa pun, Luhan mengedikkan bahu. Ia lalu pamit untuk mengganti pakaian dan beranjak dari sana. Tak lupa mengucapkan 'Senang karena akhirnya bertemu dengan kalian!' pada KrisYeolHo yang sama sekali tak terlihat mendengar ucapannya dan masih menatapnya cengo. Ia bahkan masih bisa merasakan tatapan yang membidik tengkuknya itu saat ia berlalu ke kamar.
'Aigoooo! Sebenarnya, mereka itu kenapa sih? Apa ada yang salah dengan penampilaku?' pikir Luhan bingung di tengah perjalanannya menuju kamar.
KrAy, SuDo, Chanbaek Side, ft. Luhan Ends
.
.
~HunHan Bubble Tea Couple~
.
.
A/N:
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAIIII!
Sebenernya chap ini tu gak begitu panjang. Cuma sekitar 4k kata dengan hanya 2 scene dan 1 side story. Tapi setelah diedit, rombak, tambah, kurang, tau-tau jadi lumayan panjang -_-!
Semoga kalian gak bosan ya waktu baca. Hehehehe XD
SEDIKIT PENGUMUMAN MENGENAI EVENT YANG AKAN SEGERA USAI TANGGAL 31 NANTI, LIYYA CUMA MAU MENGINGATKAN BEBERAPA HAL UNTUK SEMUANYA.
YANG UDAH IKUTAN LIYYA UCAPIN TERIMA KASIH BANYAAAAAAAAAAAAAAK.
YANG BELUM IKUT, HAYUKK IKUTAAAAAAAAANN.
YANG IKUTAN TAPI FF-NYA BELOM 'COMPLETED', LIYYA MOHON DAN SANGAT HARAP DISELESAIKAN YAAAAA^^
MAKASIIIIIIHHHHHHHH ^_^
Liyya mau ngucapin MAKASIH yang sebanyak-banyaknya buat yang masih mau menunggu dan membaca ff garing ini. Buat semua yang udah baca, follow, favorit, dan review di chap-chap sebelumnya.
Semoga di chapter ini masih berkenan untuk review ya /ngarep/
Balasan Review:
miyah oh: Kaaaaaaaaaaaaaaaaak! Serem banget pake mood Yakuza O_o Kalo langsung shoshor, bisa-bisa Sehun dikebiri(?) sama BaekSooLay Kak hehehehehe.
Makasih udah ngereview^^
ani n: Eonnie nanti kerja sama Liyya aja, ketikin ff nya hehehehehehe XD Luhen masih belom nerima kok, Eon. Tapi dia udah ngasih lampu ijo ;)
Makasih udah ngereview^^
Sebut Saja Yoona: Beneran ngakak kah? hehehehehe. Ini udah lanjut ya :D
Makasih udah ngereview^^
ludeer : Naaaaaaaaaah, betul itu dek! Sehun masih butuh banyak bimbingan dari ketiga Hyung-nya yang sebenernya juga butuh bimbingan itu wkwkwkwkwkwkwk XD
Makasih udah ngereview^^
.
.
Yang punya akun, bisa cek PM-nya yaa!
See U, next chapter!
Salam XOXO dari Liyya
