"Kim Jongin! Cepat kemari!" teriak seorang namja sambil menenteng sesuatu di tangannya dan menatapnya dengan ekspresi jijik.
Seorang namja berkulit kecoklatan keluar dari kamarnya hanya dengan celana pendeknya sambil sempoyongan menahan kantuk.
"Kenapa Sehun-ah? Ini masih jam enam pagi," kata namja bernama Jongin itu sambil menguap lebar.
Namja yang memanggil Jongin tadi—Sehun—menatap Jongin geram dan menghadapkan benda yang ditentengnya dengan jijik tepat didepan muka mengantuk Jongin.
"Bisa kau jelaskan kenapa ini bisa ada di atas sofa?"
Jongin terkejut dan langsung menyambar benda berbentuk segitiga itu. "Pakaian dalam Kyungsoo? Bagaimana bisa ada padamu?"
"Itu ada di atas sofa, Kim Jongin," tegas Sehun dengan nada menahan amarah.
Jongin menggaruk tengkuknya. "Ah—maaf Sehun-ah tadi malam kami kelepasan, baru sempat pindah ke kamar tadi pagi—"
"Sudah ribuan kali kubilang kan aku sama sekali tidak melarangmu bercinta di apartemen kita tapi tolong lakukan di kamarmu sendiri, KAMARMU! Jangan di tempat lain, itu menjijikan!" omel Sehun kesal.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya Sehunnie—" mohon Jongin sambil menggoyangkan tangan Sehun.
"Lepaskan, itu menjijikan!" kata Sehun kejam sambil menarik tangannya dari cengkraman Jongin. "Sepertinya ini sudah ke seribu kalinya kau berkata seperti itu padaku tuan Kim!"
"Namanya juga kelepasan, seperti kau tidak pernah saja—"
"MEMANG TIDAK PERNAH!" amuk Sehun geram, mana mungkin ia mau disamakan dengan temannya yang maniak seks itu.
"Hey, sekali-kali cobalah, masa umur segini kau belum pernah mencoba seks, atau jangan-jangan kau—" Jongin berkata sambil memandang Sehun dengan tatapan sulit diartikan.
Sehun memutar bola matanya, tahu betul kemana arah pembicaraan Jongin. "Aku normal bodoh, tapi aku hanya ingin melakukannya dengan orang yang benar-benar aku cintai," jelasnya.
"Ck, kuno sekali!" ejek Jongin.
"Sudahlah daripada mengataiku lebih baik kau bereskan kekacauan yang kau buat! Bau sperma dimana-mana sungguh menjijikan!" kata Sehun ketus sebelum masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Jongin yang menggerutu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun menghempaskan tubuhnya di ranjang kesayangannya. Badannya terasa pegal karena harus lembur di kantornya hingga pagi. Ia memutuskan untuk tidur seharian di hari sabtu ini untuk memulihkan tenaganya.
Baru saja Sehun hendak beranjak ke alam mimpi, tiba-tiba sesuatu mengusiknya, bagian perutnya terasa berat seperti ada beban menghimpitnya disana.
Sehun membuka matanya.
"ASTAGA SIAPA KAU!" teriak Sehun shock saat mendapati seorang wanita cantik duduk diatas perutnya.
Wanita itu hanya tersenyum centil, tidak ada keinginan sedikitpun untuk beranjak dari atas perut berotot Sehun.
"Hey kau bisa menyingkir dari sana! Astaga apa aku tengah bermimpi?" racau Sehun tak jelas.
Yang diajak bicara malah mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Sehun, sehingga sekarang jarak wajah mereka menjadi sangat dekat.
"Kau sangat tampan—apa kau mau bercinta denganku?" tanyanya sambil mengerjap-ngerjapkan mata indahnya.
Sehun kaget bukan main dan mendorong tubuh mungil sang gadis begitu saja. "KAU GILA YA!"
Gadis itu terkekeh kecil. "Iya aku tergila-gila padamu Oh Sehun."
"Se-sebenarnya kau ini siapa? Kenapa bisa berada di kamarku? Kau masuk darimana?" Sehun bertanya gugup sambil menjauhkan diri dari jangkauan wanita aneh itu.
"Uhm—sebenarnya ini juga kamarku," gadis cantik itu berkata sambil mendekati Sehun, yang terus beringsut mundur.
"Apa maksudmu? Jangan main-main!" bentak Sehun sementara tangannya berada di belakang badannya tengah berusaha membuka pintu tapi sialnya pintu kamarnya terkunci.
"Kuncinya ada padaku!" kata sang gadis dengan nada riang sambil menggoyang-goyangkan kunci ditangannya.
Sehun menelan ludahnya kasar. "Katakan apa maumu sebenarnya!"
"Aku mau kau, tampan," kata gadis itu sambil mengedipkan matanya nakal. "Aku sudah lama memperhatikanmu, aku menyukaimu."
Sehun kebingungan sekaligus ketakutan. Sebenarnya siapa gadis ini? Apa dia stalker? Apa dia mengikuti Sehun setiap hari? Lantas bagaimana caranya dia bisa berada dikamarnya sekarang ini?
"Aku hantu, kalau kau mau tahu," kata gadis itu seolah bisa membaca pikiran Sehun. "Aku tinggal di apartemen ini semenjak kau belum pindah kemari."
Sehun berkeringat dingin sekarang. "Ha-hantu?"
"Yap, dan namaku Luhan, salam kenal," kata gadis itu riang, seolah memperkenalkan dirinya hantu adalah hal biasa.
Sehun benar-benar bingung harus berbuat apa, ia hanya memperhatikan sang gadis hantu dari atas sampai bawah. Ia cantik, dengan rambut ikal kecoklatannya, tubuh mungilnya dibalut minidress super pendek berwarna putih , jangan lupakan mata indahnya yang selalu tampak berbinar.
"Apa kau juga menginginkanku Sehun-ssi?" tanya Luhan dengan nada menggoda karena sadar Sehun sedari tadi memperhatikannya.
"Ti-tidak bukan begitu! Aku hanya heran kalau kau hantu kenapa kau tidak seram?" tanya Sehun keheranan.
"Uhm—sebenarnya aku juga punya wujud seram. Kau mau lihat?" tawar Luhan sambil tersenyum lebar seolah wujud seram adalah hal yang menyenangkan.
Sehun begidik. "Er—tidak terima kasih."
"Lalu? Apa kau mau bercinta denganku?" tanya Luhan antusias sambil bergelayut dilengan Sehun.
Sehun berusaha menyingkirkan Luhan dari lengannya. "Kenapa dari tadi itu terus sih yang kau tanyakan?"
Luhan memanyunkan bibirnya lucu. "Karena sewaktu hidup aku belum pernah melakukannya. Dan aku sering melihat temanmu bercinta dengan kekasihnya, sepertinya menyenangkan. Ayo kita lakukan Sehun-ssi jebaaal."
Luhan menggoyang-goyangkan lengan Sehun dengan manja sambil menunjukkan puppy eyes nya. Sehun benar-benar kesal sekarang, terutama pada Jongin, ingin rasanya ia mengubur hidup-hidup teman dekilnya sekarang juga.
"Maaf Luhan-ssi, tapi aku tidak bisa. Aku hanya ingin melakukannya dengan orang yang aku cintai," jelas Sehun sambil melepaskan genggaman Luhan dari lengannya.
Wajah Luhan berubah sedih. "Padahal kata bibi Jung semua pria akan luluh dengan wanita agresif. Ugh—bibi Jung pembohong," gerutu Luhan tak jelas.
"E-eh?" Sehun kebingungan.
"Bibi Jung—hantu apartemen sebelah bilang kalau aku harus jadi agresif agar bisa mendapatkanmu, tapi nyatanya gagal." Luhan memanyunkan bibir mungilnya lagi.
Gadis itu memutar badannya, kemudian secara ajaib baju yang dipakainya berubah. Tidak lagi memakai dress pendeknya tapi berganti dengan rok selutut berwarna putih dan kemeja putih. Penampilannya tampak seperti gadis-gadis jaman dulu.
"Ini penampilanku sebenarnya, tadi aku hanya ingin mengggodamu," kata Luhan sambil menundukkan wajahnya malu.
Sehun benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jadi gadis didepannya ini benar-benar hantu?
"Kalau kau sejak dulu tinggal disini kenapa kau baru muncul didepanku sekarang?" Sehun memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku baru saja mendapatkan kemampuanku untuk menunjukkan diri di depan manusia. Itu sangat sulit kau tahu," jelas Luhan dengan wajah serius.
Sehun mengangguk sok paham, ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan gadis hantu aneh yang begitu saja mucul dikamarnya itu. "Baiklah, Luhan-ssi bisakah kau keluar dari kamarku sekarang, aku ingin tidur—"
"Bisakah kita tidur bersama? Bisakah?" tanya Luhan antusias sambil mengguncang-guncang lengan Sehun—lagi.
"Tidak," jawab Sehun segera dengan wajah datar.
Luhan cemberut. "Baiklah kalau kau ingin tidur, aku akan pergi, selamat tidur Sehun-ssi!" kata Luhan dengan nada riang khasnya, kemudian menghilang begitu saja dari hadapan Sehun.
"Astaga! Pasti ini semua hanya mimpi, hanya mimpi!" gumam Sehun sambil merangkak ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya hingga melewati kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun terbangun pukul tujuh malam, saat sayup-sayup mendengar suara Jongin memanggilnya untuk makan malam. Pasti tadi siang Jongin juga memanggilnya untuk makan hanya saja dia tidak mendengarnya saking pulasnya tertidur.
Sehun kembali teringat perihal gadis hantu yang ia temui dalam mimpinya. Ia tidak ingat betul apakah pertemuannya dengan gadis hantu bernama Luhan itu nyata ataukah hanya dalam mimpinya—efek tertidur terlalu lama.
Sambil mengumpulkan nyawanya Sehun berjalan ke arah kamar mandi di kamarnya, saat membuka pintu ada seseorang tengah berendam di bathtub.
Seorang gadis?
"Si-siapa kau?" tanya Sehun linglung, kepalanya terasa pusing, susah membedakan mana yang nyata dan tidak.
"Hai Sehun-ssi, kau juga mau mandi? Ayo kita mandi bersama!" ajak gadis itu sambil memainkan busa-busa yang menutupi tubuh telanjangnya.
Sehun mematung. Gadis itu bukannya gadis hantu bernama Luhan? Jadi pertemuannya dengan gadis itu adalah nyata? Bukan dalam mimpinya semata?
"Lu-luhan?" Sehun berusaha memastikan.
"Iya, ini aku Luhan, baru beberapa jam berpisah kau sudah melupakanku?" Luhan menggembungkan pipinya imut.
Sehun menelan ludahnya. "Uhm—bisa kau keluar dari sini? Aku mau mandi."
"Kita mandi bersama saja, ayolah sudah lama aku menginginkan ini, aku sering melihatmu mandi disini—"
"Mwooo? Kau sering melihatku mandi?" Sehun terbelalak tak percaya.
Luhan mengangguk santai. "Yap. Mungkin setiap hari. Makanya kau tidak perlu malu-malu lagi aku sudah melihat semuanya," lanjutnya.
Sehun hanya mengeluarkan ekspresi yang sulit diartikan. "Baiklah kalau begitu lanjutkan saja mandimu, aku keluar—"
"Jangan Sehun-ssi," Luhan tiba-tiba keluar dari dalam bathtub dan menahan lengan Sehun yang hendak keluar dari kamar mandi.
Sehun menoleh dan menelan ludahnya, bagaimana tidak itu pertama kalinya ia melihat tubuh wanita secara langsung. Biasanya ia hanya melihatnya dari majalah dewasa milik Jongin atau ketika ia iseng melihat video seks di internet.
"Kumohon, ayolah mandi bersamaku—" Luhan semakin menempelkan tubuh telanjang dan basahnya pada lengan Sehun.
Sehun beringsut hendak menyingkir dari Luhan dan mengalihkan pandangannya, ia takut kelepasan. "Baiklah, baiklah tapi menyingkirlah dulu dariku."
Luhan berteriak kegirangan, kemudian masuk kembali ke dalam bathtub. Sambil menghela nafas panjang Sehun melepas pakaiannya dan mengikuti Luhan.
"Sudah kan?" kata Sehun sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari tubuh Luhan yang berada di depannya, bagaimanapun ia adalah lelaki normal, ia takut kelepasan jika disuguhi tubuh wanita seperti itu—walaupun wanita itu adalah hantu.
"Aku senang sekali—sudah lama aku ingin melakukan ini," kata Luhan riang sambil memegang tangan Sehun. Gerakannya membuat sebagian dadanya menjadi terlihat jelas.
Sehun menelan ludahnya gugup. "Sudah selesaikan mandimu, temanku sudah memanggilku untuk makan malam."
"Kalau begitu tolong gosok punggungku," pinta Luhan lalu berbalik membelakangi Sehun.
Sehun menuruti keinginan Luhan, mati-matian berusaha agar adik kecilnya di bawah sana tidak terbangun karena keindahan tubuh mulus Luhan. Sehun berkali-kali menelan ludahnya saat melihat bagian dada Luhan sedikit dapat ia lihat dari belakang saat ia menggosok punggung gadis itu.
Entah mendapat keberanian dari mana tangannya mulai bergerak ke depan dan menangkup dada Luhan yang lumayan berisi menurutnya.
"Eunghh—Sehun-ssi apa yang kau lakukan?" tanya Luhan bingung saat Sehun tiba-tiba meremas dadanya dari belakang.
Sehun hanya terdiam, ia seperti terhipnotis, benda yang tengah disentuhnya begitu lembut dan kenyal, pantas saja Jongin tidak pernah bosan melakukan ini seiap hari. Luhan hanya bisa mendesah menerima perlakuan dari Sehun. Mereka terlarut dengan kenikmatan masing-masing.
"OI, OH SEHUN KENAPA TIDAK KELUAR JUGA? KAU MATI YA?" suara teriakan Jongin membuyarkan kegiatan Sehun dan Luhan yang sebentar lagi akan mulai memanas.
Dengan gerakan cepat Sehun keluar dari dalam bathtub.
"Astaga Oh Sehun apa yang sedang kau lakukan?" rutuknya pada diri sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bikin ff baru lagi padahal yang lain belom dilanjutin :v
Habisnya tiba-tiba ada ide absurd kayak gini -_-
Mind to review? :)
