Dua namja dengan perbedaan warna kulit yang kontras—terlihat jelas karena mereka bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek—tampak sedang menikmati makan malam mereka, walaupun hanya makanan cepat saji karena tidak ada seorangpun dari mereka yang pandai memasak.
"Tadi bukannya Kyungsoo disini? Biasanya dia akan dengan sukarela memasakkan sesuatu untukmu," tanya Sehun pada teman hidup satu atapnya, Jongin, yang tengah melahap sepotong ayam dengan kesetanan.
"Tadi siang dia pergi buru-buru, katanya eomma-nya akan datang mengunjunginya," jawab Jongin dengan mulut penuh.
Sehun hanya memandang temannya itu dengan tatapan sedikit jijik, bagaimana bisa Kyungsoo yang begitu anggun dan baik hati jatuh hati pada seseorang yang berantakan dan—parahnya—penggila seks macam temannya ini?
"Heh, dan kau tidur dari pagi sampai malam begini, kupikir kau mati di dalam sana tahu?" lanjut Jongin lagi sambil menatap Sehun heran.
"Kemarin aku tidak tidur seharian kau tahu, bosku itu benar-benar keterlaluan, kenapa harus aku yang menemaninya lembur? Dia sepertinya ada dendam terselubung padaku—" ungkap Sehun sebal.
"Mungkin dia menyukaimu Hun-ah, makanya ingin berlama-lama denganmu," tebak Jongin asal sambil terkekeh geli.
Sehun melempar Jongin dengan tulang ayam di piringnya. "Menjijikan! Jaga omonganmu! Aku itu masih normal!"
"Ck, tapi mana buktinya? Masa selama dua puluh tahun kau hidup belum pernah sekalipun mencicipi wanita, normal darimananya?" cibir Jongin.
Sehun membuka mulut hendak menjawab omongan Jongin ketika ia merasa ada yang membelai punggungnya, ia merasa merinding.
"Aku percaya kalau kau normal Sehun-ssi," bisik sebuah suara tepat di telinga Sehun.
Sehun ingin berteriak saat itu juga, tapi ia berusaha menahannya. "Luhan?" Ia seakan berbisik pada udara kosong.
"Tentu saja, siapa lagi," jawab suara itu sambil terkikik geli.
Sehun melirik Jongin sekilas yang kembali sibuk dengan piringnya, kemudian ia berbisik lagi pada udara di sampingnya. "Sedang apa kau disini?"
"Aku hanya ingin melihatmu makan," jawab suara itu lagi sambil terkekeh.
"Heh, kau sedang apa sih? Sedang merapal mantra biar enteng jodoh atau apa? Bisik-bisik segala." Jongin rupanya menyadari tingkah aneh Sehun sedari tadi.
"Jongin-ah, kau percaya hantu?" tiba-tiba Sehun bertanya dengan wajah serius.
"Heh, kau ini bicara ap—"
TING TONG.
Bel apartemen mereka tiba-tiba saja berbunyi.
Dengan berat hati Jongin meletakkan ayamnya di piring dan beranjak membukakan pintu, karena biasanya yang berkunjung ke apartemen mereka hanya Kyungsoo dan—
"Hunnie, Tao takut!"
—Tao.
Gadis dengan rambut hitam panjang dan mata panda yang khas itu langsung menghambur masuk begitu saja, berlari ke arah Sehun di meja makan. Tao—merupakan teman sekantor Sehun, dan ia tinggal di apartemen 304, tepat di sebelah mereka.
"Hunnieeee, Tao takut, di apartemen Tao ada hantu—" Tao langsung bergelayut manja di lengan Sehun.
Sehun berusaha melepaskan tangan Tao. "Tao-ya, hantu itu tidak ada," katanya sambil melirik agak cemas ke kanan kiri, berharap semoga Luhan tidak mendengarnya.
"Tapi, tapi tadi Tao mendengar ada suara wanita menangis di kamar mandi. Tao takut Hunnie," rengek Tao, kali ini sambil memeluk erat Sehun, menenggelamkan kepalanya di dada telanjang Sehun.
"Ck, kenapa kau hanya bermanja-manja pada Sehun sih? Aku juga menyediakan pelukan gratis lho—" celetuk Jongin yang langsung mendapatkan tatapan sebal dari Tao.
Jongin kemudian duduk di tempatnya semula. Sehun membimbing Tao untuk melepaskan pelukannya dan duduk di sampingnya. Tapi saat Tao hendak mendaratkan pantatnya di kursi—
"AW!"
—ada yang menarik kursinya sehingga Tao jatuh terduduk dilantai.
Jongin terbahak dan menyemburkan air yang tengah diminumnya. "Astaga Tao, duduk di kursi saja kau tidak becus, tidak heran kalau hantu-hantu itu hobi sekali mengganggumu. Boooo~" ledeknya sambil terus tertawa.
Sehun membantu Tao berdiri sambil matanya melirik kanan kiri, apa Luhan yang melakukan ini? Tao meringis kesakitan, kemudian akhirnya bisa duduk di kursi dengan benar.
"Hunnie, di apartemen Tao benar-benar ada hantu, Tao tidak bohong." Tao merengek lagi sambil mengguncangkan lengan Sehun.
"Ck, itu hanya trikmu kan agar bisa masuk kesini dan bertemu Sehun kan?" cibir Jongin sambil mengunyah entah potongan ayam ke berapa.
Tao menatap Jongin sebal sambil memajukan bibirnya. "Hunnie, hunnie percaya pada Tao kan?" tanyanya pada Sehun yang sepertinya masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Iya Tao, lalu sekarang maumu bagaimana? Apa aku harus mengusir hantunya?" tanya Sehun dengan nada malas.
"Tao mau menginap disini," pinta Tao dengan nada manja.
Jongin nyaris tersedak. "Heh yang benar saja? Kau gila ya? Kami namja dan kau yeoja, kau mau berakhir kami perkosa bersama-sama?" kata Jongin frontal.
Sehun langsung mendeathglare-nya.
"Tao, kalau kau menginap disini nanti apa kata tetangga yang lain? Lagipula apartemenmu kan berada tepat di sebelah, kalau ada apa-apa kau telepon saja biar nanti aku yang ke apartemenmu." Sehun berusaha memberi pengertian pada gadis yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri itu.
Tao menghela nafas panjang kemudian mengangguk. "Baiklah, tapi janji ya kalau ada apa-apa Hunnie langsung datang?"
Sehun mengangguk sambil tersenyum, kemudian mengusak rambut hitam Tao.
"Kau tidak menyuruhku datang juga Tao-ya?" celetuk Jongin iseng.
"Tidak terima kasih. Kau bahkan lebih menyeramkan daripada hantu!" kata Tao kejam. "Kalau begitu Tao kembali ke apartemen Tao ya, bye Hunnie~"
Beberapa saat kemudian Tao sudah menghilang dari pintu depan.
Sehun menghela nafas pelan, hendak meneruskan makannya yang sempat tertunda gara-gara kehadiran Tao, tapi saat ia hendak mengambil ayam—bucket ayamnya sudah kosong. Sehun melirik tajam Jongin yang masih asyik melahap ayamnya tanpa rasa berdosa.
"Apa?" tanya Jongin tanpa rasa bersalah.
"KIM JONGIN KENAPA KAU HABISKAN SEMUA AYAMNYA!'
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun masuk ke dalam kamarnya dengan kesal setelah terpaksa memakan ramen instan sebagai pengganti makan malamnya. Sahabatnya yang satu itu memang sering keterlaluan kalau sudah menyangkut segala hal yang berhubungan dengan ayam.
Saat baru saja memejamkan matanya, Sehun merasa ada sesuatu membebani ranjang sebelahnya yang kosong. Ia membuka matanya.
"Astaga!" teriak Sehun kaget saat melihat Luhan tengah duduk di ranjangnya sambil nyengir ke arahnya. "Bisa tidak sih kau memberikan tanda sebelum kau muncul? Seperti alarm, atau lonceng? Atau ayam berkokok mungkin?" omel Sehun tak jelas.
Luhan terkekeh. "Kau akan segera terbiasa dengan ini, karena setiap hari aku akan muncul didepanmu."
Sehun memijat pelipisnya. "Kenapa kau masih muncul disini? Mau apa lagi sih? Aku kan sudah bilang kalau tidak bisa memenuhi permintaanmu, kenapa kau tidak mencari pria lain saja?"
Wajah Luhan berubah sedih. "Karena aku menyukaimu, aku tidak ingin melakukannya dengan orang lain. Lagipula tadi kita kan sudah hampir—"
"Cukup, cukup! Itu tadi kesalahan. Aku minta maaf," kata Sehun sambil sedikit merona mengingat kejadian di kamar mandi yang hampir saja membimbingnya berbuat ke arah yang lebih jauh.
"Tidak perlu minta maaf, aku menyukainya—" kata Luhan sambil beringsut mendekati Sehun, lalu dengan berani jarinya membuat gerakan abstak di dada bidang Sehun.
"Hey, apa yang kau lakukan?" Sehun menahan tangan Luhan dan menjauhkannya dari dadanya.
Luhan memajukan bibir mungilnya. "Tadi saja yeoja manja itu boleh menyentuhmu, masa aku tidak boleh?" protesnya.
Sehun kemudian teringat sesuatu. "Tadi kau yang menarik kursi di meja makan dan membuat Tao terjatuh?"
Gadis cantik itu mengangguk sambil menggembungkan pipinya. "Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya. Dia itu genit dan menyebalkan."
Sehun mendesah lelah. "Jadi kau hanya bisa terlihat didepanku? Atau kau bisa terlihat didepan semua orang?"
"Uhm—aku bisa terlihat di depan semua orang kalau aku mau," kata Luhan bangga.
"Dan hantu di apartemen Tao itu? Apa memang benar ada? Atau jangan-jangan kau?" tuduh Sehun.
Luhan menunjukkan wajah tak terima. "Hey kenapa kau menuduhku begitu? Itu bibi Jung—dia memang tinggal di apartemen teman centilmu itu."
"Katakan padanya jangan ganggu Tao, dia itu begitu penakut, kasihan dia," pinta Sehun.
"Kenapa kau begitu perhatian pada yeoja itu sih? Kau menyukainya?" tanya Luhan sewot.
"Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri—"
Wajah Luhan kembali cerah. "Benarkah kau hanya menganggapnya sebagai adik? Baiklah kalau begitu nanti aku akan bilang pada bibi Jung agar tidak menangis keras-keras lagi."
"Lagipula memangnya hantu bisa merasa sedih ya?" tanya Sehun heran.
"Hey, hantu juga punya perasaan tahu!" kata Luhan tak terima. "Bibi Jung, ia sedih karena merasa rindu pada putranya, sebelum meninggal ia tidak sempat melihat wajah putranya untuk terakhir kali."
"Ah begitu rupanya—jadi dia masih ada di dunia ini karena ada keinginannya yang belum terpenuhi, begitu?" Sehun menyimpulkan.
"Yap. Kau pandai sekali Sehun-ssi," puji Luhan sambil mencuri kesempatan bersandar di bahu Sehun.
Dengan cekatan Sehun menyingkirkan kepala Luhan. "Dan kau? Apa yang membuatmu masih berada di dunia ini?"
"Uhm—cinta?"
"Eh?" Sehun menaikkan alisnya tak paham.
"Aku mati di usia yang sangat muda karena sakit, seumur hidupku kuhabiskan di rumah sakit jadi aku tidak pernah mengenal bagaimana rasanya jatuh cinta. Karena itu saat aku bisa mencintai dan dicintai seseorang, saat itu aku akan pergi dengan tenang," jelas Luhan sambil tersenyum sumringah.
Sehun menatap Luhan dengan sedikit iba.. "Heh, ketika kau sudah mencintai dan dicintai oleh seseorang bagaimana kau bisa pergi dengan tenang? Kau justru akan berat meninggalkannya bodoh!"
"Ah—begitu ya? Memangnya cinta itu seperti apa? Aku kan belum pernah merasakannya," kata Luhan dengan raut wajah serius.
"Jangan bertanya padaku, aku juga belum pernah jatuh cinta," kata Sehun sambil memalingkan wajahnya karena malu.
"Uhm—kalau bibi Jung bilang cinta bisa datang kalau kita bercinta. Katanya bercinta itu sama dengan memberi dan menerima cinta. Mencintai dan dicintai, benar tidak?" tanya Luhan penuh harap.
Sehun memutar bola matanya. "Tidak sesederhana itu! Bercinta bisa saja dilakukan tanpa dasar cinta."
'Tapi tapi, kenapa bisa disebut bercinta kalau tidak cinta? Harusnya ber-tidak cinta kan?" tanya Luhan dengan raut wajah polosnya.
Sehun mendesah lelah. "Terserah kau saja lah, yang jelas sekarang aku mau tidur!"
"Bagaimana kalau kita coba bercinta Sehun-ssi? Ayolah kita coba, siapa tahu itu bisa berhasil, jadi aku bisa menghilang dengan tenang! Jebal jebal!" rengek Luhan sambil mengguncangkan lengan Sehun.
"TI-DAK!" tegas Sehun lalu menarik selimut melewati kepalanya dan berbaring membelakangi Luhan, mengabaikan gadis yang mengguncang-guncang badannya dengan kesal itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Esok paginya, Sehun terbangun karena silaunya sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kamarnya. Namja itu masih dalam tahap mengumpulkan nyawanya, mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat dan saat matanya terbuka sempurna yang pertama dilihatnya adalah—
"ASTAGA! Sudah kubilang kan jangan muncul secara tiba-tiba!"
—Luhan duduk di ranjangnya, memandanginya sambil tersenyum.
"Morning kiss?"
"E-eh?" Sehun gelagapan.
Tanpa mempedulikan reaksi Sehun nantinya, Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah namja tampan didepannya, menempelkan bibir mungilnya ke bibir tipis Sehun yang sedikit terbuka kemudian melumatnya. Luhan mendominasi pagutan panas mereka, dia membimbing untuk berperang lidah sambil tangannya meraba dada telanjang Sehun.
Sehun yang semula hendak menolak mulai terlena dengan ciuman panas mereka, ia membalas lumatan Luhan dan beralih mendominasi kegiatan mereka. Setelah beberapa menit berpagutan dengan bunyi kecipak mengiringi kegiatan mereka, akhirnya Sehun berinisiatif melepas tautan bibir mereka karena kehabisan nafas.
"A-pa maksudnya barusan?" tanya Sehun agak tersengal, karena paru-parunya kekurangan oksigen.
"Morning kiss," jawab Luhan enteng sambil tersenyum. "Aku sering melihat temanmu melakukan itu."
"Heh, kenapa nafasmu kuat sekali? Kau tidak kehabisan oksigen?" tanya Sehun lagi sambil masih agak terengah.
Luhan terkekeh. "Aku hantu. Aku tidak bernafas."
Sehun bergidik ngeri, menyadari fakta bahwa ia baru saja berciuman panas dengan hantu. Ciuman pertamanya diambil oleh seorang hantu. Astaga.
"Ayo lakukan lagi—" Luhan berkata sambil menyodorkan bibirnya ke arah Sehun.
"Aku mau berangkat ke kantor!" tolak Sehun sambil menahan bibir Luhan dengan tangannya.
"Boleh aku ikut? Boleh ya?" rengek Luhan dengan nada manjanya.
"TI-DAK!" jawab Sehun ketus kemudian beranjak dari ranjangnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi sebelum Luhan berhasil menyusulnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun mendesah lelah, ia akhirnya tidak bisa menolak keinginan Luhan untuk mengikutinya ke kantor. Dan ia sekarang menyesal setengah mati karena gadis hantu itu terus mengoceh di sampingnya, mulai dari apartemennya sampai kini ketika mereka di atas bus Luhan terus menerus meneriakkan 'woah' dan berdecak kagum melihat semua hal di sekitarnya.
"Sebenarnya berapa abad kau tidak keluar dari apartemen?" desis Sehun pada Luhan yang duduk disampingnya, di tempat duduk paling pojok belakang di bus.
"Uhm—aku tidak menghitung, tapi yang jelas sangat lama, dulu aku tidak cukup kuat untuk berinteraksi dengan manusia, sampai bibi Jung datang—"
"Jadi bibi Jung yang mengajarimu untuk bisa berinteraksi dengan manusia?" desis Sehun lagi dengan sudut mulutnya, ia takut dikira orang gila jika ada yang memergokinya berbicara dengan kursi kosong di sebelahnya.
"Ya—aku juga tidak tahu dia belajar itu darimana, tapi yang jelas itu karena keinginannya yang sangat kuat untuk bisa berinteraksi dengan anaknya, dia benar-benar merasa bersalah karena telah meninggalkan keluarganya demi pria lain—"
"Memangnya sekarang dimana anaknya? Lagipula memangnya dia mau memaafkan bibi Jung yang telah berkhianat itu?" bisik Sehun dengan nada sengit.
"Bibi Jung benar-benar telah menyesal, dia juga telah mendapat hukuman dari Tuhan dengan bergentayangan menjadi hantu seperti ini kan?" kata Luhan yakin.
Sehun hanya mengedikkan bahunya, merasa tidak perlu untuk tahu dan ikut campur dengan urusan orang lain.
"Sehun-ssi, apa itu? Yang berputar-putar itu!" teriak Luhan tiba-tiba dengan antusias.
Sehun menggeram kesal. "Kau jangan mengagetkanku bisa tidak sih?" katanya dengan suara agak keras.
Beberapa orang di kursi depan menengok ke belakang dan menatap Sehun aneh, Sehun hanya tersenyum kikuk kepada mereka.
"Kau lihat kan? Pasti mereka mengira aku sudah gila sekarang," bisik Sehun dengan nada kesal.
"Coba lihat ke jendela, yang berputar-putar itu aku ingin menaikinya!" Luhan masih fokus dengan sesuatu yang dilihatnya, tidak mempedulikan omongan Sehun.
"Itu bianglala, kalau mau naik naik saja sendiri, kau kan hantu bisa terbang sendiri kesana!" omel Sehun sebal.
Beberapa saat kemudian bus yang mereka naiki berhenti, Sehun turun di halte itu. Dengan langkah gontai ia menyebrangi jalan menuju kantornya yang berada di seberang halte bus, tidak mempedulikan Luhan masih mengikutinya atau tidak.
"Sehun-ssi, jangan marah, aku janji lain kali tidak akan ribut, aku akan mengunci mulutku, janji!" suara Luhan terdengar lagi di sampingnya.
Sehun mendengus sebal. "Tadi di bus hanya aku yang bisa mendengarmu kan?"
"Tentu saja, aku akan membutuhkan energi yang lebih banyak untuk membuat semua orang mendengarku, dan energiku bergantung pada sinar bulan—"
"Sinar bulan?" Sehun keheranan.
"Yap. Sinar bulan merupakan sumber energi dari para hantu, karena itu para hantu lebih sering terlihat dan terdengar oleh manusia ketika malam hari, karena ketika ada sinar bulan energi mereka penuh sehingga bisa berinteraksi dengan manusia" jelas Luhan.
"Lalu fakta kalau hantu takut sinar matahari itu tidak benar?"
"Uhm—sebenarnya hantu tidak bisa muncul di siang hari bukan karena sinar matahari tapi karena mereka tidak cukup energi."
"Tapi kau sering muncul didepanku saat pagi hari?" bisik Sehun dengan suara lebih rendah, saat ada beberapa orang melintas.
"Aku tidak tahu kenapa tapi kalau aku didekatmu aku merasa energiku selalu terisi penuh, atau mungkin tubuhmu mengandung sinar bulan?" kata Luhan sambil terkekeh.
Sehun memutar bola matanya. "Kuanggap kata-katamu sebagai sebuah rayuan."
Luhan terkekeh lagi. "Kalau begitu aku bahagia bisa merayumu."
"Sebentar lagi kita masuk gedung kantorku, jangan ajak aku bicara, oke?" bisik Sehun memperingatkan.
"Siap tuan!"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Oh Sehun-ssi! Kau terlambat dua menit!" omel seorang lelaki berambut blonde dengan tampang galak sambil melipat tangan di dadanya.
"E-eh? Tapi di jam saya sekarang baru jam sembilan tepat, Presdir Wu," kata Sehun sambil menunjukkan arlojinya.
"Oh, jadi kau menyuruhku untuk mengikuti jam di tanganmu begitu? Kau menganggap jamku salah Oh Sehun-ssi?" teriak namja itu geram.
"Ti-tidak, bukan begitu maksud saya," cicit Sehun ketakutan, ia tidak mau kena hukum lagi oleh bosnya yang super galak itu.
"Jam pulangmu nanti diundur dua puluh menit!" tegas sang bos.
"Ap-apa? Tap-tapi—"
Sebelum Sehun sempat membuat alasan, sang bos yang bertubuh jangkung itu sudah beranjak dari hadapannya. Presdir di perusahaannya—Wu Yifan—memang terkenal sangat disiplin, setiap pagi selalu mengadakan inspeksi ke setiap bagian di perusahaannya, jika ada salah satu pegawainya terlambat satu menit saja tidak akan lolos dari hukuman.
Saat Wu Yifan hendak keluar dari ruangan divisi Sehun, ia berpapasan dengan seorang gadis bermata panda yang tengah tergesa hendak masuk ruangan.
"Ah—sajangnim, selamat pagi," sapa sang gadis—Huang Zitao—ramah sambil membungkuk.
Yifan tampak sedikit kaget melihat Tao, tapi kemudian tersenyum manis dan meninggalkan ruangan.
Tao menghampiri Sehun. "Hunnie kenapa tidak berangkat bersamaku tadi?"
"Hey, kenapa tadi presdir tidak memarahimu? Jelas-jelas kau lebih terlambat dariku," protes Sehun sebal.
"Mungkin karena ia menyukaiku," canda Tao sambil terkekeh. "Tapi tenang saja aku hanya menyukai Hunnie—Aw siapa yang melempar kertas!"
Ada sebuah bongkahan kertas yang tiba-tiba mengenai kepala Tao, gadis bermata panda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tapi semua orang di ruangan tampak sedang sibuk menghadap komputernya masing-masing.
"Sepertinya di kantor juga ada hantu, Hunnie Tao takut—" rengek Tao sambil memeluk lengan Sehun.
"Aish Tao sudahlah, sana ke mejamu," usir Sehun sambil melepaskan tangan Tao. Gadis bermata panda itu kemudian menuruti Sehun sambil cemberut, pergi ke mejanya yang berjarak dua meja dari tempat Sehun.
Sehun duduk di mejanya sambil mendesah lelah, lagi-lagi kena hukuman, ia sebenarnya agak heran kenapa atasannya itu begitu membencinya, selalu mencari kesalahannya sampai ke titik yang terkecil.
"Sehun-ssi, tadi itu bosmu?" suara Luhan terdengar lagi.
"Hm," jawab Sehun singkat.
"Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya—" kata suara Luhan.
Sehun tidak menanggapi, ia takut dikira gila jika ketahuan rekan kantornya tengah berbicara sendiri.
"BIBI JUNG!" teriak Luhan.
Sehun menunjukkan wajah sebal, kemudian menulis sesuatu di atas sebuah kertas. 'BISA DIAM TIDAK!"
"Bosmu itu—dia anak bibi Jung!" teriak Luhan lagi.
"APA?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Semua hal tentang hantu disini hanya fiktif belaka ya, cuma hasil imajinasi sayah kekeke~
Emang ini ceritanya nggak masuk akal bingits kok ya hahaha, di dunia nyata mana bisa kan manusia sama hantu pegang-pegangan? Apalagi anuan wkwk
Mind to review? :)
