Sepulang dari kantor, Luhan dan Sehun tengah berdiskusi di kamar Sehun perihal bos Sehun—Wu Yifan—dan juga bibi Jung. Luhan meminta Sehun untuk mempertemukan pasangan ibu dan anak itu.
"Ayolah—kau harus bicara pada bosmu tentang bibi Jung," pinta Luhan sambil menangkupkan tangannya, memohon pada Sehun.
"Kau tahu kan bosku itu sangat membenciku—aku ulangi, sangat membenciku!" kata Sehun penuh penekanan. "Bisa-bisa dia mengira aku gila kalau aku bercerita soal ibunya yang jadi hantu."
"Kumohon, agar bibi Jung bisa istirahat dengan tenang," pinta Luhan lagi dengan wajah memelas.
"Aish, kenapa dia tidak menemuinya sendiri saja sih? Kau antarkan dia ke kantorku, mereka bertemu, dan bibi Jung menghilang, selesai kan?"
"Tidak semudah itu, hantu harus menghilang di tempat dia meninggal," jelas Luhan.
"Jadi aku harus mengantarnya ke apartemen Tao? Well, semakin sulit saja tugasku sepertinya. Dan memangnya kau yakin kalau Presdir Wu itu anak bibi Jung? Marga mereka saja berbeda?"
"Uhm—setelah bercerai dengan tuan Wu, ia kembali memakai namanya ketika masih gadis," jelas Luhan lagi.
Sehun memijat pelipisnya. Ia sungguh frustasi harus terlibat dengan dunia perhantuan semacam ini.
"Baiklah nanti aku pikirkan bagaimana caranya," kata Sehun akhirnya.
"Aaaaa—gomawo Sehun-ssi, kau memang benar-benar pria yang baik," kata Luhan senang sambil memeluk Sehun.
"Tidak usah peluk-peluk segala." Sehun menyingkirkan lengan Luhan dari badannya.
Luhan hanya nyengir imut.
"Uhm—Sehun-ssi, boleh tidak aku meminta satu hal lagi?" tanya Luhan.
Sehun menghela nafas. "Apa itu? Kalau masalah bercinta lagi aku tid—"
"Ajak aku ke tempat yang ada bianglala itu!" seru Luhan antusias.
"Eh?" Sehun keheranan.
"Jebaaal, ajak aku kesana, sepertinya menyenangkan, seumur hidupku aku belum pernah ke tempat seperti itu," pinta Luhan lagi dengan gaya khasnya mengguncangkan lengan Sehun.
"Dasar hantu merepotkan! Baiklah karena aku iba padamu aku akan mengajakmu kesana," kata Sehun akhirnya.
Luhan melonjak kegirangan. "Yeay! Ayo kita berangkat sekarang ayo ayo!"
Sehun menyuruh Luhan untuk menunggu di depan apartemennya sementara ia bersiap. Tak lupa ia menyuruh Luhan menampakkan dirinya, ia tak mau dianggap orang gila karena bicara sendiri di taman hiburan.
Saat Sehun hendak keluar dari kamarnya, ia melihat Jongin dan Kyungsoo tampaknya juga hendak keluar.
"Hai Sehun," sapa Kyungsoo ramah.
"Hai Kyung, kapan kau datang?" balas Sehun.
"Barusan, kami berdua mau ke taman hiburan," kata Kyungsoo riang sambil tersenyum pada Jongin di sampingnya.
"Oh ya? Aku juga mau kesana," kata Sehun lagi.
"Eh? Dengan siapa? Kau sudah punya pacar sekarang?" tanya Jongin sedikit terkejut.
"Bukan, dia temanku," jawab Sehun.
Jongin menatapnya curiga, seingatnya selama ini teman Sehun hanya dirinya dan Tao. Lalu siapa yang dimaksud Sehun dengan temannya ini? Tidak mungkin Tao kan?
Sehun membuka pintu apartemen mereka, dan ia langsung dapat melihat Luhan disana, dengan baju putih-putihnya yang biasa.
"Hai, Sehun-ssi!" sapa Luhan riang sambil melambaikan tangannya.
"Boleh juga seleramu," kata Jongin pelan sambil menyenggol lengan Sehun.
"Ehm—Luhan, perkenalkan ini Jongin temanku, dan kekasihnya Kyungsoo," kata Sehun, lalu Kyungsoo dan Jongin bertukar senyum dengan Luhan.
"Iya aku sudah tahu, aku sering me—"
Luhan tidak melanjutkan perkataannya karena pelototan Sehun.
"Uhm—maksudnya Sehun sering menceritakan tentang kalian padaku," ralat Luhan sambil tersenyum kikuk.
"Ah—sepertinya hubungan kalian lebih dari sekedar teman ya?" goda Kyungsoo.
Luhan tersenyum malu, sedangkan Sehun hanya menunjukkan wajah malasnya.
"Kalian sudah pernah berciuman?" tanya Jongin frontal, kemudian dia kena cubitan dari Kyungsoo.
Luhan hanya terdiam sambil melirik Sehun.
"Kenapa kau menanyakan hal-hal tidak penting seperti itu sih?" omel Sehun kesal. "Lebih baik kita berangkat sekarang."
.
.
.
.
.
.
.
"Whoaaaa, bagus sekali tempat ini, banyak lampu berkelap-kelip!" seru Luhan heboh sambil melompat-lompat seperti anak kecil yang pertama kali datang ke taman hiburan.
Jongin dan Kyungsoo saling bertukar pandang heran melihat kelakuan Luhan.
"Heh, dia berasal dari planet mana sih? Kampungan sekali," bisik Jongin pada Sehun di sampingnya.
"Entahlah," jawab Sehun cuek.
"Ck, bagaimana sih, kau memacari orang yang asal-usulnya saja kau tidak tahu," cibir Jongin.
Sehun mendelik ke arah Jongin. "Dia bukan pacarku!" serunya kesal.
Jongin mengedikkan bahunya, kemudian ia menggandeng tangan Kyungsoo dan berjalan meninggalkan Sehun dan Luhan yang kini tengah jadi pusat perhatian karena kehebohan Luhan.
Sehun menarik tangan Luhan agar berhenti melakukan hal bodoh. "Heh, kau tidak sadar kita menjadi pusat perhatian?"
"Ah—maaf, aku terlalu gembira karena seumur hidup baru sekali ini aku menginjakkan kaki di taman hiburan," kata Luhan riang sambil tersenyum lebar.
"Seumur hidup? Sekarang kau kan sudah mati," kata Sehun datar.
Luhan memiringkan kepalanya imut. "Ah—benar juga."
"Ngomong-ngomong kau tidak apa-apa menunjukkan diri di depan semua orang begini? Energimu tidak habis?" tanya Sehun sambil mengajak Luhan berjalan.
"Uhm—kebetulan hari ini bulan purnama, energiku terisi penuh!" jawab Luhan sambil terkikik riang.
Luhan berjalan mendahului Sehun dengan langkah riangnya. Gadis itu terlihat sedang menyapa seorang anak kecil yang tengah menangis karena ketakutan selepas menaiki roller coaster. Sehun memperhatikan gerak-gerik Luhan dari jarak agak jauh sambil tersenyum.
Dasar hantu aneh, batinnya.
"Sehun-ssi, kenapa bengong disitu, ayo kesini!" teriak Luhan sambil melambaikan tangannya.
Sehun kembali memasang wajah datarnya dan menyusul Luhan. "Sekarang kau mau naik apa?" tanyanya.
Luhan tampak berpikir sejenak. "Uhm—tadinya aku ingin naik bianglala, tapi ternyata itu tinggi sekali, aku takut ketinggian," katanya polos.
"Kalau kau takut ketinggian untuk apa datang kemari? Semua wahana disini berhubungan dengan ketinggian kan?" omel Sehun kesal. Tahu begini ia istirahat saja di apartemennya daripada capek-capek menuruti Luhan yang tidak jelas.
"Ah—itu saja!" kata Luhan tiba-tiba sambil menunjuk sesuatu. Sehun mengikuti arah telunjuk Luhan.
Permainan menembak monster?
Di arena itu pengunjung harus mengenai salah satu monster berwajah lucu dengan senapan mainan yang telah disediakan, jika berhasil maka bisa memilih hadiah untuk dibawa pulang.
"Aku mau coba itu, aku ingin mendapatkan boneka rusa besar lucu itu!" rengek Luhan.
"Buat apa kau punya boneka? Kau kan hantu," kata Sehun kejam.
Luhan menatap Sehun dengan wajah sedihnya.
"Baiklah, baiklah, jangan tunjukkan wajah seperti itu lagi didepanku!" Sehun akhirnya menyerah dan menuruti Luhan, membuat gadis bermata indah itu melonjak girang dan segera berlari menuju arena permainan.
Sehun memijat pelipisnya pelan, kemudian berjalan dengan kesal mengikuti gadis mungil yang telah mendahuluinya itu.
"Baiklah, aku pasti bisa mendapatkan boneka itu," kata Luhan mantap setelah memegang senapan mainan di tangannya.
Sehun hanya menatap Luhan malas.
"Eh? Tapi bagaimana menggunakan benda ini Sehun-ssi?" tanya Luhan kebingungan sambil memutar-mutar benda ditangannya tak jelas.
Sehun mendesah lelah, kemudian mengambil posisi di belakang Luhan, tangannya menuntun tangan Luhan untuk memegang senapannya dengan benar. Luhan berdebar tak karuan karena Sehun seperti tengah memeluknya dari belakang, Luhan merasa seperti terbang di langit yang penuh taburan bunga berwarna pink.
"Heh, kau mendengarkan tidak sih?" omel Sehun. Luhan langsung tersadar dari lamunanya.
"Eh? I-iya aku dengar kok," jawabnya sambil nyengir.
Sehun kemudian membiarkan Luhan mencobanya sendiri, ia berdiri agak jauh sambil bersandar di dinding.
"Sehun-ssi, ayo semangati aku!" pinta Luhan sambil mengepalkan tangannya tanda semangat.
"Fighting," kata Sehun datar dengan wajah yang juga datar.
Luhan memajukan bibirnya sebal melihat ekspresi Sehun, kemudian mengarahkan senapannya pada objek yang dituju. Ia memejamkan sebelah matanya, membidik target, melepas pelatuknya, dan—
—meleset.
Sehun memutar bola matanya malas.
Luhan menggembungkan pipinya kesal. "Sehun-ssi, sekali lagi ya, kali ini pasti berhasil, kumohon," rengek Luhan.
"Ck, kau ini membuang-buang uangku saja," omel Sehun.
Luhan memasang wajah memohon. "Jebaaaal."
Sehun merutuki dirinya yang mudah sekali luluh dengan aegyo Luhan. Dan itu membuat dirinya harus mengeluarkan entah berapa won untuk permainan konyol semacam itu—karena Luhan berulang kali gagal.
"Sudah sini aku saja yang bermain!" pinta Sehun sewot, setelah Luhan sepuluh kali berusaha menembak dan semuanya meleset.
Luhan memberikan senapan di tangannya kepada Sehun sambil meringis tak jelas, ia merasa agak bersalah karena sedari tadi hanya membuang-buang uang Sehun.
"Fighting, Sehun-ssi!" Luhan menyemangati. Sehun hanya menanggapinya dengan tatapan datarnya yang biasa.
Sehun membidik sasaran, melepas tembakannya, dan—
—kena.
Luhan bersorak gembira. "Whoaaaa Daebak, benar-benar keren, Sehun-ssi jjang!" katanya sambil memeluk Sehun heboh.
"Tidak usah peluk-peluk segala bisa tidak sih?" Sehun menyingkirkan kepala Luhan yang bersandar di dadanya.
Luhan menerima boneka rusa raksasa yang diulurkan oleh ahjussi penjaga arena bermain dengan riang. Ia memeluk boneka besar itu sepanjang jalan mereka memutari taman bermain, walaupun tubuh mungilnya sedikit kewalahan mengingat ukuran boneka yang mencapai setengah ukuran tubuhnya.
Sehun melirik Luhan yang kepayahan, ia sedikit iba. "Sini biar aku bawakan," katanya sambil mengambil boneka rusa dari pelukan Luhan, kemudian berjalan mendahului sang gadis.
Luhan mengikuti Sehun, memandangi punggung tegap Sehun dari belakang. Gadis itu tersenyum simpul. "Aku semakin menyukaimu, Sehun-ssi," gumamnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Satu jam kemudian, Sehun dan Luhan bertemu dengan pasangan Jongin dan Kyungsoo di depan sebuah kedai bubble tea. Jongin tampak membawa boneka paha ayam yang sama besarnya dengan boneka yang dibawa Sehun.
"Woah, Sehun-ah tidak kusangka kau menyukai hal seperti itu juga," ledek Jongin sambil terkekeh saat melihat Sehun dengan boneka rusanya.
"Ini bukan milikku," bantah Sehun sebal, lalu begitu saja memberikan boneka ditangannya kepada Luhan.
"Kau juga main menembak monster Jongin-ssi?" tanya Luhan, menerima boneka rusanya dengan kewalahan.
"Ne. Kyungsoo hebat sekali bisa menembak tepat sasaran." Jongin berkata sambil mengusak rambut kekasih bermata lebarnya.
"Cih, aku kira kau yang berhasil mendapatkannya sendiri," cibir Sehun.
"Kalian mau beli bubble tea kan? Biar aku yang pesankan." Kyungsoo menengahi sebelum terjadi perdebatan yang lebih panjang antara Jongin dan Sehun.
"Aku cokelat," kata Sehun sebelum ditanya.
"Luhan apa?" tanya Kyungsoo.
Luhan melirik Sehun bingung. "Uhm—aku sama seperti Sehun saja."
"Hei, kalian ini kan berpacaran apa tidak ada panggilan sayang semacam Sehunnie atau Luhannie begitu? Ck, kalian terlalu formal," celetuk Jongin.
Luhan menunduk malu mendengar nama panggilan yang diusulkan Jongin, terdengar sangat manis baginya.
Lain halnya dengan Sehun. "Berhenti mengatakan hal-hal menggelikan Kim Jongin!" omelnya.
"Sudahlah berhenti berdebat," kata Kyungsoo sabar. "Aku akan mengantri dulu."
"Ne chagi, cepat kembali, kalau tidak aku akan merindukanmu," kata Jongin sambil menebar senyuman manis. Kyungsoo memutar bola matanya sementara Sehun memasang ekspresi muntah.
"Aku ke toilet dulu," kata Sehun setelah Kyungsoo beranjak menuju antrian bubble tea.
"Perlu ditemani tidak baby Sehunnie?" goda Jongin usil.
Sehun hanya melempar tatapan mematikannya lalu meninggalkan Luhan dan Jongin.
"Eh, Lu—boleh kan aku memanggilmu Lu?" Jongin memulai pembicaraan.
Luhan mengangguk sambil tersenyum.
"Kau dan Sehun pernah bercinta?" tanya Jongin frontal.
Luhan menggeleng. "Tidak, Sehun tidak pernah mau melakukannya—" jawabnya polos.
"Ck, bocah itu benar-benar pasif. Aku bisa membantumu kalau kau mau." Jongin berkata sambil menyeringai seram, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung celananya.
Tak berapa lama kemudian Kyungsoo datang, membawa 4 cup bubble tea dengan susah payah. Lalu masing-masing Jongin dan Luhan mengambil satu cup. Jongin mengambil juga jatah bubble tea milik Sehun yang ada di tangan Kyungsoo, kemudian menaruh sesuatu yang ia ambil dari kantungnya ke dalamnya.
"Apa yang kau masukkan ke dalam sana?" tanya Kyungsoo curiga.
"Sesuatu yang sering kita pakai," jawab Jongin sambil menyeringai.
Kyungsoo merebut botol kecil di tangan Jongin, melihat label kemasannya, dan terbelalak kaget. "Kau gila ya?"
Jongin merebut kembali botol di tangan Kyungsoo dan memasukannya lagi ke saku celananya. "Ini demi kemajuan hubungan mereka, aku hanya ingin membantu," jelas Jongin.
"Membantu apa?"
Tiba-tiba Sehun sudah berada di samping mereka.
"Eh? Tidak, tidak ada," jawab Jongin sambil tertawa kikuk. Lalu ia memberikan salah satu bubble tea di tangannya pada Sehun.
Sehun meminumnya habis tanpa curiga sama sekali. Dalam hitungan detik cup besar bubble tea di tangannya sudah kosong.
"Kenapa tiba-tiba kepalaku pusing, dan—" Sehun memegang kepalanya yang berkunang-kunang, kemudian pandangannya terarah ke selangkangannya yang tiba-tiba menggembung.
"Kau kenapa Sehun-ah?" tanya Jongin pura-pura. "Lu, sebaiknya kau antar dia pulang, kami masih ingin disini."
Luhan memandang Jongin bingung, tapi kemudian mengangguk dan memapah Sehun pulang ke apartemennya. Walaupun agak kepayahan mengingat Sehun jauh lebih tinggi darinya.
"Heh, kau berikan berapa banyak?" tanya Kyungsoo setelah Sehun dan Luhan berjalan menjauh.
"Satu botol penuh, mereka akan puas semalaman," jawab Jongin lalu tertawa nista.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesampainya di apartemen, Luhan membaringkan tubuh Sehun di ranjangnya. Namja itu sepertinya dalam keadaan setengah sadar.
"Baiklah Sehun-ssi, aku pergi dulu terima kasih unt—"
Luhan tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tubuhnya lebih dulu ditarik Sehun ke atas ranjang. Sehun menindihnya dan mengunci keduan tangannya.
"Sehun-ssi, apa yang—hmmpptt—"
Sehun mengunci bibir Luhan yang masih dalam fase keterkejutannya karena perlakuannya yang serba mendadak. Awalnya Luhan ingin memberontak, sungguh Sehun sekarang seperti orang yang tidak dikenalnya. Ia selama ini terus menolak melakukan ini, kenapa sekarang tiba-tiba begini?
Sehun menyerang bibir Luhan dengan ganas, tatapannya sarat akan nafsu membuncah. Luhan hanya bisa pasrah dengan apa yang Sehun lakukan padanya, toh ia juga menginginkannya.
"Eunghh—" Luhan melenguh saat Sehun menggigit bibirnya, memaksanya membuka mulut mungilnya sehingga lidah mereka bisa saling membelit satu sama lain, tak lagi mempedulikan saliva yang menetes karena saking panasnya ciuman mereka.
Tangan Sehun mulai bergerilya mengelus setiap jengkal tubuh gadis di bawahnya, sambil terus menikmati bibir sang gadis ia mulai melepas satu per satu kancing kemeja Luhan. Sang gadis hanya pasrah dengan setiap sentuhan namja tampan dengan sorot mata tajam itu, sentuhannya benar-benar membuatnya melayang.
Sehun melepaskan tautan bibir mereka ketika ia merasa pasokan oksigen di paru-parunya mulai menipis. Ia berganti mengarahkan bibir tipisnya mengecup leher sang gadis, sedikit mengigitnya dan memberi tanda kepemilikan disana. Tangannya yang bebas menyusup masuk ke dalam kemeja Luhan yang kancingnya telah terbuka sempurna, menggoda bongkahan kenyal di balik kemeja putih itu.
"Eunghh—Sehun-ssi—" desah Luhan saat Sehun meremas dadanya dengan kuat.
"Panggil aku Sehunnie, sayang," bisik Sehun dengan suara beratnya yang membuat wajah Luhan merah padam seketika. Ia benar-benar tidak menyangka bisa seintim ini dengan Sehun.
Sehun membuka kemeja Luhan yang dianggapnya menghalangi pandangannya pada tubuh Luhan, dan melemparnya asal. Kemudian kembali pada kegiatannya mengecupi setiap inci tubuh mulus sang gadis, mulai dari bahu lalu turun ke dadanya yang masih tertutup bra berwarna putih. Dengan tidak sabaran dilepasnya bra Luhan, lalu ia mulai menenggelamkan kepalanya disana, lidahnya mulai bekerja pada tonjolan pink yang sudah mulai mengeras. Sementara tangannya yang menganggur ia gunakan untuk meremas bongkahan kenyal satunya
Luhan hanya bisa mendesah tak karuan, desahannya semakin menggila seiring dengan liarnya lidah Sehun mempermainkan nipple merah mudanya. Ia hanya bisa melampiaskan rasa nikmatnya dengan meremas kuat rambut Sehun, seakan menyuruhnya untuk berbuat lebih pada kedua bongkahan dadanya.
Bosan dengan mainan barunya, kepala Sehun mulai bergerak turun ke perut ramping Luhan, mengecupnya dengan sensual, kemudian melepas rok putih sang gadis yang sudah tergolek pasrah dibawahnya itu.
Luhan benar-benar tampak sangat menggairahkan dengan mata indahnya yang tampak sayu, tubuh penuh kissmark—terutama di bagian dada sintalnya, dan sekarang ia hanya berbalut celana dalam berwarna putih.
Sehun benar-benar tidak tahan lagi. Kejantannnya yang sudah mengeras sedari tadi terasa mulai sakit karena tak kunjung dibebaskan. Dengan gerakan cepat ia melepas kausnya dan celana jeans yang dikenakannya, melemparnya tak tentu arah. Terakhir ia buka celana dalam calvin klein miliknya dan terpampanglah benda kebanggannnya yang telah berdiri tegak dan sedikit mengeluarkan cairan disana.
Luhan terbelalak melihat ukuran kejantanan Sehun yang tidak main-main, tiba-tiba ia merasa takut. Gadis itu berusaha menutup pahanya yang terbuka.
"Kenapa kau tutupi sayang?" tanya Sehun, kemudian membuka paksa paha Luhan dan melepas kain terakhir yang melekat pada tubuh sang gadis.
"Sehun-ssi, pelan-pelan ne?" pinta Luhan dengan tatapan memohon.
Sehun hanya menyeringai. "Sepertinya kau sudah cukup basah. Aku tidak bisa janji untuk pelan-pelan. Kau benar-benar menggairahkan."
Dengan sekali sentak Sehun memasukkan kejantanan besarnya pada vagina Luhan, yang disambut dengan jeritan Luhan. Tubuhnya terasa dibelah menjadi dua. Bagian bawahnya terasa ngilu tak tertahankan. Sehun sepertinya tidak menghiraukan teriakan Luhan, ia sudah dikuasai penuh oleh nafsu.
Sehun mulai menggerakkan pinggulnya, merasakan jepitan kuat yang diberikan oleh kewanitaan Luhan yang belum pernah terjamah.
"Ahh—Sehun-ssi—pelan-pelannhh—" pinta Luhan di sela desahannya.
"Panggil aku Sehunnie, sayang." Sehun mengoreksi sambil mempercepat gerakan pinggulnya, membuat tubuh mungil Luhan semakin terhentak tak karuan.
Setelah beberapa lama Sehun memasukinya, Luhan sepertinya sudah mulai terbiasa. Gadis itu mulai mendesah nikmat saat penis besar Sehun tepat mengenai titik kenikmatannya. Dan berulang kali menyodoknya tepat di titik yang sama. Bahkan ia mulai menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan Sehun.
"Sehunnie, sepertinya aku—"
"Bersama, sayang—"
"Aahhhh—"
Sehun mengeluarkan semua cairan putihnya pada kewanitaan Luhan, yang mulai mengalir keluar ketika Sehun mencabut penisnya dari lubang sempit itu.
Luhan merasakan kelelahan sekaligus kenikmatan yang teramat sangat. Untung saja malam ini bulan bersinar terang sehingga ia memiliki cukup energi untuk ini semua.
"Ayo kita mulai lagi," kata Sehun sambil membalik tubuh Luhan yang masih lemas menjadi posisi menungging.
"Aku lelah Sehunnie," rengek Luhan.
Tapi Sehun mengabaikan rengekannya, dengan membabi buta Sehun kembali menyetubuhi Luhan, memaju-mundurkan pinggulnya dengan gerakan cepat sementara Luhan hanya bisa mendesah pasrah. Mau tidak mau ia menjadi bergairah lagi karena sodokan Sehun.
Sehun terus menyetubuhi Luhan sepanjang malam dengan berbagai posisi, mengabaikan sang gadis yang merengek memintanya berhenti, tenaganya seperti terisi penuh dan tidak bisa dihentikan sebelum energi dalam tubuhnya benar-benar habis.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Sehun bangun terlebih dahulu dan merasa badannya remuk redam. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi tapi kepalanya terasa pening. Seingatnya ia bermimpi melakukan sesuatu yang panas semalam, tapi kenapa berefek pada badannya sakit semua begini?
Sehun berusaha membuka matanya yang masih terasa berat, kemudian membelalakkan matanya terkejut saat ada seserorang tertidur di sampingnya.
"Astaga—k-kau kenapa bisa disini? Dan—telanjang?" Sehun terkejut saat melihat Luhan tidur di sampingnya tanpa sehelai benangpun.
Dan ketika ia melihat dirinya sendiri, keadaannya tak jauh berbeda.
"Kau tidak ingat semalam menyerangku habis-habisan? Bagian bawahku terasa sakit—"
"Apa maksudmu? Jadi semalam kita—" Sehun memutar otaknya dengan susah payah, berusaha mengingat kembali hal yang terjadi semalam. Ketika ia di taman hiburan dan tiba-tiba kepalanya pening dan sesuatu di selangkangannya mengeras.
"Minuman itu—kau memberikan obat perangsang pada minumanku kan?" tuduh Sehun sambil menatap tajam Luhan.
"Apa maksudmu?" tanya Luhan kebingungan.
"Kenakan selimutmu astaga!" omel Sehun karena selimut Luhan melorot dan memperlihatkan dada mulusnya—yang tidak terlihat mulus lagi karena bercak kemerahan disana.
"Kau memberiku obat perangsang agar bisa bercinta denganku kan?" teriak Sehun lagi.
Luhan hanya memandang Sehun bingung, tak mengerti dengan yang dikatakan namja didepannya itu.
"Pergi dari sini sekarang!" teriak Sehun lagi. "Kau sudah mendapatkan yang kau mau kan?"
"Tap-tapi—"
"PERGI DARI SINI KUBILANG!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 3 is coming~ :D
Makasih yang udah review, follow, fav muahmuah~
Kalian bikin semangat saya buat nulis kekeke ghamsahamnida yeorobeuuuun~
