Disclaimer: Riichiro Inagaki and Yusuke Murata

Warning: OOC, Typo, dll


"Kekekeke! Kalian ibu dan anak sialan tidak akan pernah bisa lari dariku!"

Takdir

"Mamo-chan, jangan berhenti", Mami Anezaki berlari sambil menggenggam tangan Mamori Anezaki yang mulai terseok-seok langkahnya.

TAP! TAP! TAP!

"Kekeke! Aku menemukan kalian keluarga sialan!", tiba-tiba jelmaan setan itu sudah berdiri di depan mereka dengan badan penuh dengan darah –yang pasti bukan darahnya–, dia menyeringai memamerkan barisan giginya yang seluruhnya berbentuk taring.

"KAU! BAGAIMANA KAU BISA SAMPAI DI SINI SECEPAT INI!", Mami Anezaki berteriak histeris saat mendapati setan pembunuh suaminya ada di depan matanya. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Mamori.

"Keh, apa kau pikir semut-semut sialan itu bisa menghentikanku, bodoh sekali!", setan itu berjalan dengan santai menghampiri ibu dan anak itu.

"Ja...jangan bilang kau sudah membunuh mereka semua", Nyonya Anezaki melangkah mundur perlahan sambil melindungi puterinya menggunakan badannya, berusaha menciptakan jarak aman dari setan yang ada di depannya.

"Che, apa aku harus menjawab pertanyaan sialanmu itu", dengan wajah acuh tak acuh setan itu terus melangkah maju, saat tiba-tiba matanya bertemu dengan mata Mamori Anezaki.

"Hmm... Anak sialanmu lumayan juga, pasti banyak orang sialan yang akan membayar tinggi untuk anak sialanmu itu, kekeke!"

"Tidak akan ku biarkan kau menyentuh Mamo-chan seujung rambutpun, tidak selama aku masih hidup", Mami berbalik arah berbisik ke arah Mamori, "Lari Mamo-chan", tanpa dikomando dua kali Mamori segera berbalik arah dan berlari diikuti oleh Mami Anezaki meninggalkan setan itu di belakang.

Tanpa berniat mengejar mereka, setan itu mengokang senjatanya, "Selama kau hidup heh, kalau begitu itu takkan lama, kekeke!"

DORR!

"AH!"

Mamori's POV

DORR!

"AH!"

Aku mendengar suara tembakan yang diikuti suara teriakan seseorang, tidak! Itu suara kaa-sama. Akupun berhenti berlari dan berbalik arah sambil berharap pendengaranku salah. Tapi, yang kudapati adalah tubuh kaa-sama yang tiba-tiba limbung.

"KAA-SAMA!", aku menghampiri kaa-sama dan menahan tubuh kaa-sama sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

"Mamo-chan, pergilah ke arah barat, larilah lewat tangga darurat di dekat gudang, maafkan kaa-san yang tidak bisa menemanimu"

"Tidak! Aku tidak akan pergi kemanapun tanpa kaa-sama! Hiks, ka.. kalau kita harus mati aku ingin kita mati bersama-sama! Hiks...", tangan kaa-sama menyentuh pipiku lembut.

"Tidak, kamu tidak boleh mati di sini, karena hidupmu masih panjang sayang", kaa-sama mengusap pipiku lembut.

"Hiks.. La.. lu apa gunanya aku hidup jika kaa-sama hiks... dan tou-sama tidak ada disampingku.. hiks..."

"Kaa-san dan tou-san tidak kemana-mana sayang, selama kamu hidup maka selama itu pula kami hidup, jangan lupakan itu. Kami sayang padamu Ma... mo... ri", tangan kaa-sama yang mengusap pipiku terjatuh, aku tahu artinya, bahwa kaa-sama tidak ada di sini lagi, tapi seperti yang dikatakan kaa-sama, kaa-sama dan tou-sama akan selalu ada bersamaku. Karena itu, aku harus tetap hidup agar kaa-sama dan tou-sama juga tetap hidup... di hatiku.

Dengan perlahan aku pun meletakkan tubuh kaa-sama di lantai, aku berdiri dan menghapus air mataku, "Tidurlah yang tenang kaa-sama, tolong katakan pada tou-sama bahwa Mamo di sini akan baik-baik saja, kalau sudah waktunya, Mamo akan datang menemui kalian, maaf untuk saat ini Mamo tidak bisa memberikan penghormatan yang layak"

"Kekeke! Sekarang giliranmu perempuan sialan!"

Sial! Apa yang harus aku lakukan! Hanya menjaga jarak tidak cukup, dengan senapannya itu dia bisa membunuhku dengan sekali tembak tidak peduli seberapa jauh jarak yang ku buat. Kalau begitu aku harus keluar dari jarak pandangnya, tidak peduli sehebat apapun dia, tidak mungkin dia bisa menembak sasaran tanpa melihatnya. YOSH! lari Mamori!

"Bersiaplah menyusul orangtua sialanmu! Kekeke!"

DORR!

Normal POV

DORR!

Tepat saat peluru itu diluncurkan, Mamori tiba-tiba berbelok ke lorong yang ada di sampingnya. Sepertinya untuk saat ini dia berhasil lolos dari dewa kematian.

"Keh, meleset", sambil mendecih pelan, setan itu berjalan ke arah yang sama dengan Mamori. Dia berjalan dengan santai tidak sekalipun tergoda untuk mempercepat langkahnya. Suara sepatu yang bertumbukan dengan lantai marmer terdengar menggema di lorong yang sepi itu, suaranya seakan menyebar terror bagi mereka yang mendengarnya.

TAP TAP TAP

Mamori semakin panik saat dia mendengar suara langkah yang semakin mendekat. Dia tidak bisa berlari lebih cepat dengan menggunakan gaun dan sepatu seperti yang dia kenakan ini.

"Ah! Sialan! Baju ini membuat lariku lamban! Apa yang harus aku lakukan! Kalau seperti ini aku tidak mungkin sampai ke bawah dengan selamat", Mamori menoleh ke kanan kirinya. Akhirnya tanpa berpikir panjang dia memasuki kamar tamu yang ada di dekatnya.

BLAM!

KLIK!

Setelah mengunci pintu kamar, Mamori berjalan mengelilingi ruangan mencari benda yang dapat ia gunakan untuk menyelamatkan diri. Dia mengambil seprai kasur, tirai jendela, dan selimut, dengan cekatan dia mengikat benda-benda itu sekuat mungkin.

DUAKK!

Ada seseorang yang mencoba mendobrak pintu kamar itu. Mamori terhenyak, tangannya masih memegang selimut dan tirai, sementera itu keringat dingin mengalir di pelipisnya, matanya membulat menyiratkan ketakutan yang amat sangat.

"HEI! KAU PEREMPUAN SIALAN! AKU MULAI BOSAN SEKARANG! AKAN KU PASTIKAN KAU SEGERA MATI SAAT INI JUGA!"

Mamori tersentak mendengar teriakan dari luar ruangan, dengan tergesa-gesa dia berjalan ke arah jendela. Dia mengikatkan ujung tali buatannya itu di kaki meja yang ada di dekatnya, sementara ujung lainnya dia lemparkan melalui jendela itu. Tanpa berpikir menguji keamanannya, Mamori bergegas turun menggunakan tali itu.

Sementara itu di luar kamar

DUAKK!

Sang setan mencoba mendobrak pintu itu untuk kedua kalinya, namun pintu kamar masih kokoh tak bergeming sedikit pun.

"Cih! Dasar pintu menyebalkan!"

RATATATATATA!

Tanpa aba-aba dia menembaki pintu itu. Hasilnya, pintu yang megah itu sekarang memiliki banyak lubang di sana sini.

BRAKK!

Dengan sekali tendang pintu itu pun roboh di hadapannya. Mata hijau milik setan itu menjelajahi seluruh ruangan yang ada di hadapannya, tidak ada tanda kehidupan sedikitpun. Yang terlihat hanyalah jendela tanpa tirai yang terbuka lebar dan kasur yang tidak memiliki seprai. Otaknya memproses semuanya dengan cepat. Dengan tenang, dia berjalan ke arah jendela itu. Iris matanya menangkap sebuah bayangan di bawahnya. Terlihat sosok yang sedang dicarinya berlari menuju pintu gerbang. Setan itu menyandarkan tubuhnya ke bingkai jendela tanpa melepaskan sedikitpun pandangannya dari sosok yang tengah berlari itu. Seulas seringai terpampang di wajah tampannya.

"Sepertinya ini akan sedikit menarik, kekeke!"

To Be Continue


Review's Replay:

Kirara:

Ini saya sudah update, semoga tidak mengecewakan (_ _)

Terimakasih banyak sudah me-review cerita saya (_ _)

Note:

Chapter ke-2, aah, saya masih gak PD, ada yang baca gak ya, hahaha...

Tolong Review-nya Minna-sama (_ _)