Disclaimer: Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Warning: OOC, Typo, dll
"Sepertinya ini akan sedikit menarik, kekeke!"
Takdir
Mamori terus berlari menuju pintu gerbang yang sudah ada di hadapannya. Dengan susah payah dia membuka pintu gerbang itu, jika biasanya ada penjaga yang membukakan pintu untuknya, kali ini tidak ada siapapun, hanya ada dirinya sendiri.
Tak mau membuang waktu, begitu berhasil membuka pintu gerbang Mamori segera berlari menjauhi manornya secepat mungkin. Saat tiba-tiba...
DUARR!
Mamori berbalik dan menatap manornya dalam diam saat mendengar bunyi ledakan dari manornya, matanya menatap nanar pada bangunan megah manornya yang kini di selimuti oleh kobaran api. Telinganya berdenging saat mendengar suara teriakan para tamu yang masih terjebak di dalam manornya.
Mamori menutup matanya, memanjatkan do'a untuk mereka yang ada di dalam manor, menghela napas panjang, Mamori kembali berlari meninggalkan manornya yang sekarang berada dalam pelukan sang api. Dia berlari kearah kota kecil yang berada di kaki bukit –manornya terletak di atas bukit–
Mamori akhirnya sampai di kota kecil itu, dengan terseok-seok dia menghampiri salah satu toko.
KLING!
"Selamat dat...", suara riang milik pelayan toko yang menyambutnya terhenti saat melihat keadaan Mamori yang menyedihkan. Aaaah.. apa yang kau harapkan dari orang yang hampir seharian berlari ke sana kemari menghindari kematian, apa menurutmu dia masih sempat memperhatikan penampilannya? Heh, it's impossible.
"No..Nona, apa yang terjadi?!", dengan panik dia menghampiri Mamori yang masih berdiri di depan pintu, dia memapah Mamori dan mendudukkannya di kursi di dekat meja kasir, untunglah keadaan toko saat itu sedang sepi, jadi Mamori tidak terlalu menarik perhatian pengunjung lain.
Melihat Mamori yang terlihat enggan menjawab pertanyaannya, pelayan toko itu pun akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan, "Kalau melihat dari gaun yang anda kenakan, sepertinya anda bukan orang biasa Nona, kalau begitu, apa yang anda inginkan di toko sederhana milik hamba ini Nona?"
"Bi.. bisakah, gaun ini ditukar dengan makanan dan pakaian yang layak?", Mamori akhirnya membuka suara.
"Ah, tentu saja bisa Nona, sebentar saya ambilkan pakaiannya", pelayan itu meninggalkan Mamori.
Tak berapa lama kemudian pelayan itu kembali dengan membawa setumpuk pakaian, setelah memilah-milah beberapa saat, Mamori menjatuhkan pilihannya pada kaos lengan panjang berwarna abu-abu dan celana panjang hitam yang simple.
"A...anu, Nona, bukankah itu pakaian laki-laki, tidakkah Nona ingin memilih pakaian yang lebih cocok untuk Nona?", pelayan itu memasang muka bingung. Mamori hanya tersenyum kecil mendengar perkataan sang pelayan.
"Bolehkah aku meminta sepatu boots dan sebuah jubah?"
"Ah, tentu saja Nona! Ah, Nona, bagaimana jika Nona membersihkan diri Nona dahulu, sementara itu saya akan mengambilkan barang pesanan Nona, kamar mandi ada di sebelah sana", tanpa mengatakan apapun Mamori menuju ke arah yang di tunjuk pelayan toko itu, dalam hati ia bersyukur bertemu dengan orang sebaik itu.
Beberapa saat kemudian...
Mamori yang sudah selesai mandi kembali menemui pelayan itu.
"Anda tampak lebih segar Nona, ini barang-barang yang anda inginkan, dan ini cokelat panas, silahkan diminum terlebih dahulu", pelayan itu memberikan tas berisi makanan dan segelas cokelat panas pada Mamori.
"A..apa benar tidak apa-apa semua ini ditukar hanya dengan gaun ini?", Mamori menyerahkan gaun, tiara dan sepatu kacanya.
"Ah, apa Nona tidak tahu berapa harga semua barang yang Nona serahkan? Ini semua lebih dari cukup untuk membayar semua ini, tunggu sebentar, akan saya ambilkan boots dan jubah yang anda minta", pelayan itu beranjak dari tempat duduknya, sementara itu Mamori meminum cokelat panasnya.
KLING!
"BIBIIIIII!", tiba-tiba pintu terbuka dan muncul sesosok pemuda bertubuh tambun yang datang dengan wajah berseri-seri, "Loh, kau siapa? Apa kau pegawai baru di sini?", tanyanya pada Mamori yang tengah duduk menikmati cokelatnya.
"Ah, bukan, Nona ini tamuku, apa yang kau inginkan Kurita?", belum sempat Mmori menjawab pelayan toko itu sudah mendahuluinya.
"Hiruma memintaku membelikan permen karet seperti biasa", pemuda tambun yang bernama Kurita itu –yang sepertinya sudah hapal dengan tempat ini– segera mengambil barang yang dicarinya dan kembali ke meja kasir.
"Kenapa Hiruma tidak ke sini sendiri?"
"Hiruma bilang dia sedang sibuk, ah, ini uangnya Bi", Kurita menyerahkan uangnya, ia tersenyum ke arah Mamori yang memandangnya penasaran.
"Hah, dia memang tidak berubah sedikitpun, lain kali ajaklah dia kemari"
"Baik Bi, aku permisi dulu"
KLING!
Suasana menjadi hening saat Kurita meninggalkan toko.
"Nona..."
"Mamori"
"Eh?"
"Panggil aku Mamori"
"Ah, baiklah, Mamori, ini jubah dan boots yang kau minta", diletakkannya jubah dan boots berwarna hitam di samping Mamori. Tanpa banyak bicara Mamori memakai jubah dan bootsnya.
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan", Mamori lalu berdiri dan membungkuk ke arah pemilik toko itu.
Tepat saat tangannya meraih pegangan pintu toko, pemilik toko itu membuka mulutnya.
"Bagaimana jika kau menginap di sini? Hari sudah mulai gelap, tidak baik seorang Nona muda berkeliaran malam-malam", perkataan penjaga toko itu mengejutkan Mamori.
"Ta... tapi"
"Aku tidak menerima penolakan, sekarang bagaimana kalau kau membantuku menutup toko ini"
"Eh?"
Akhirnya Mamori pun ikut membantu menutup toko, disela-sela pekerjaannya Mamori menanyakan sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya, "Umm... siapa Hiruma itu? Apa dia anak Bibi?"
"Ah, dia itu anak yang datang ke tempat ini 7 tahun yang lalu"
Flashback
CTAAR!
"Haaah, dengan cuaca seperti ini siapa yang mau keluar rumah", seorang wanita berusia 30 awal tampak menatap enggan jendela di depannya.
Di luar jendela tampak hujan turun dengan derasnya, diikuti oleh kilat dan petir yang saling berlomba meramaikan suasana. Belum lagi angin kencang yang terus menerus bertiup. Dalam badai seperti ini tidak ada orang normal yang akan keluar dari rumah mereka.
KLING!
Ah, sepertinya ada juga orang yang tidak normal. Mendengar suara bel, wanita tadi dengan segera mengalihkan pandangannya dari jendela. Di hadapannya tampak seorang anak kecil kira-kira berumur 10 tahun berdiri basah kuyup dan menggigil kedinginan.
"Bo..bolehkah aku berteduh di sini?", dengan sedikit terbata bocah tadi meminta izin untuk berteduh.
Tanpa berkata apapun, wanita tadi berlari ke arah belakang, dalam sekejap dia kembali dengan membawa handuk di tangannya. Dengan cekatan ia mengeringkan rambut bocah malang itu. Setelah selesai dengan pekerjaannya, dia mengalungkan handuk itu di leher bocah itu, lalu dengan lembut ia berkata padanya, "Kau, mandilah terlebih dahulu, akan ku siapkan pakaian dan cokelat panas untukmu".
Setelah menggiring bocah malang itu ke kamar mandi, perempuan itu dengan sigap membuatkan cokelat panas. Tak berapa lama pun bocah itu keluar dari kamar mandi –dan sudah berganti pakaian–. Perempuan itu mengamatinya lekat-lekat. Matanya menjelajahi setiap inci tubuh bocah laki-laki yang tadi belum sempat ia amati. Mulai dari rambut hitamnya yang basah, mata hijau, sampai telinganya yang berbentuk runcing.
"Siapa namamu?", tanyanya sembari menyerahkan cokelat panas kepada bocah itu.
"Hiruma, Hiruma Youichi", bocah itu berkata lirih sambil menyeruput pelan cokelat panas yang ada di genggamannya.
"Apa yang kau lakukan di luar dalam badai seperti ini, di mana orang tuamu?", perempuan itu duduk di samping Hiruma.
"Mereka... mati".
To Be Continue
Review's Reply:
Guest1:
Ini saya sudah update, semoga tidak mengecewakan (_ _)
Terimakasih banyak sudah membaca dan me-review cerita saya (_ _)
Guest2 & Fatma:
Ini satu orang ya? saya jadikan satu saja ya balasannya, umm... iya plotnya belum begitu kelihatan ya hahaha... ^_^a memang rencananya saya mau menjelaskan plotnya sedikit demi sedikit, soalnya rasanya aneh kalau semuanya di jelaskan dalam satu chapter, maaf atas ketidak nyamanan ini (_ _)
Soal Romance, err... mungkin akan keluar di chapter 4 atau 5 ^^
Terimakasih banyak sudah membaca dan me-review cerita saya (_ _)
Christine:
Ini saya sudah update, semoga tidak mengecewakan (_ _)
Terimakasih sudah membaca dan me-review cerita saya (_ _)
Note:
Akhirnya update chapter 3, sebenarnya pengen update kilat, tapi tiba-tiba moodnya hilang begitu saja, ini juga chapter 4 belum ada bayangan, akan saya usahakan update secepat mungkin ^^
Ps: aah bodohnya saya tidak bisa membedakan antara 'Replay' dengan 'Reply'
Tolong reviewnya Minna-Sama (_ _)
