Disclaimer: Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Warning: OOC, Typo, dll
"Mereka... mati".
Takdir
Begitu pagi menjelang, Mamori bergegas meninggalkan toko itu. Meski awalnya Mamori sempat tergoda untuk menerima tawaran bibi pemilik toko untuk tinggal bersama dengannya. Tapi Mamori sadar jika ia memilih tetap tinggal, nyawa bibi itu dapat terancam karena tidak menutup kemungkinan bahwa setan itu masih mengejarnya.
"Mereka... mati", entah mengapa kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Ia sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana jika dia yang ada di posisi anak itu, bagaimana rasanya harus berjuang bertahan hidup diumur sekecil itu tanpa perlindungan dan kasih sayang dari kedua orangtua kita. Mamori sedikit bersyukur, karena bagaimanapun juga, nasibnya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan nasib bocah malang itu.
Flashback
"Kau tahu, dia mengatakan hal itu dengan nada datar, tapi matanya jelas-jelas menunjukkan kesedihan yang amat dalam".
"Bagaimana Bibi tahu?", Mamori duduk di samping bibi itu.
"Matanya... mirip dengan matamu", bibi itu menghela napas panjang sebelum meneruskan kalimatnya, "Aku ingin mempertemukanmu dengan Hiruma, kurasa kalian berdua pasti akan cocok".
Flashback: end
"Hiruma...", tanpa disadari Mamori, nama itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Kaki jenjang itu terus melangkah perlahan, sesekali langkahnya terhenti sekadar membiarkan sang pemilik melepas lelahnya sesaat. Sudah tiga hari ini Mamori berjalan menyusuri jalanan di kota ini. Mamori terus melangkah tanpa tujuan, dia sama sekali tidak tahu harus pergi kemana, yang dia tahu dia hanya harus tetap bergerak dan pergi sejauh mungkin.
SRAKK
Langkah Mamori kembali berhenti, dengan cepat dia menoleh ke belakang, tapi tidak ada seorangpun yang tertangkap oleh matanya. Dengan segera dia mempercepat langkahnya, dia agak sedikit cemas, seharian ini dia merasa ada yang membuntutinya. Mamori merasa tidak nyaman, dia merasa harus segera pergi dari tempat itu, apalagi hari mulai gelap, dia harus segera mencari gedung kosong atau paling tidak jembatan agar dia bisa tidur di kolongnya. Menyedihkan, dia yang dulu selalu tidur di kamar mewah yang hangat dan nyaman, sekarang harus puas dengan tidur di kolong jembatan.
SRAKK
Suara itu terdengar lagi, kali ini tanpa merepotkan diri menoleh ke belakang, Mamori bergegas berlari secepat mungkin.
BRUUKK!
"HEI!"
"Ah, Maaf!", Mamori spontan membungkuk meminta maaf saat tak sengaja dia menabrak seseorang.
"BRENGSEK! KALAU JALAN PAKAI MATA DONG!", mendengar umpatan dari orang yang ditabraknya membuat Mamori menunduk ketakutan.
"Hei, hei, tunggu sebentar, rasanya aku pernah melihat gadis ini", di depan Mamori terdapat lima pemuda bertubuh kekar dan berpenampilan seperti preman, salah seorang dari mereka bajunya basah terkena minuman yang tumpah akibat tertabrak Mamori.
"Bukankah dia itu Tuan Puteri yang ada di surat kabar?", diamatinya Mamori dari atas ke bawah, sesobek surat kabar lusuh di tangannya dijadikannya sebagai pembanding.
"Hei, apa yang dikatakan di surat kabar itu?", seorang pemuda yang tampaknya ketua mereka menatap Mamori dari atas ke bawah dengan penuh ketertarikan.
"Katanya, terjadi kebakaran hebat di sebuah manor milik keluarga Anezaki yang saat itu sedang mengadakan pesta ulang tahun ke 17 puterinya, semua tamu dan keluarga Anezaki tewas, kecuali puterinya yang dikatakan menghilang".
"Hoo... jadi kalau ternyata puteri itu hidup berarti dia adalah pewaris sah satu-satunya seluruh harta milik keluarga Anezaki", sang ketua itu menyeringai senang.
"Betul ketua, tapi apa hubungannya dengan kita?".
"Jika kita menangkapnya, kita bisa membuat cerita kalau kitalah yang menolong puteri Anezaki, lalu aku bisa berpura-pura menjadi suaminya yang menikah untuk menyelamatkan tuan puteri yang sedang hilang ingatan, dengan begitu aku akan mendapatkan seluruh harta kekayaan keluarga Anezaki, dan kita tidak akan hidup miskin lagi, hehehe...", begitu mendengar rencana sang ketua, mereka pun menyeringai senang.
Mamori semakin ketakutan mendengar percakapan mereka, dia mundur perlahan-lahan, mencoba untuk tidak menarik perhatian gerombolan orang-orang menakutkan yang ada di depannya.
"HEI! MAU KEMANA KAU!", dengan segera Mamori berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya. Ia mendengar suara langkah dari beberapa pasang kaki di belakangnya, tanpa berpikir panjang Mamori berbelok memasuki sebuah gang sempit.
"AH!", Mamori menjerit terkejut saat di ujung gang tiba-tiba muncul dua dari lima orang tadi dengan seringai menakutkan terpampang di wajah mereka. Mamori berbalik arah namun dibelakangnya anggota mereka yang lain sudah mengepungnya. Ketua mereka berjalan perlahan menghampiri Mamori.
"Hei, jadilah gadis yang manis, maka kami tak akan menyakitimu".
"Berhenti! Jangan mendekat!", Mamori melangkah mundur, mencoba menjaga jarak dengan pemuda mengerikan itu.
Sayangnya pemuda itu sama sekali tak mengacuhkan peringatan dari Mamori, dia terus melangkah maju seringai di wajahnya semakin melebar saat dilihatnya wajah ketakutan milik Mamori.
"Berhenti! Atau aku akan teriak!"
"Coba saja"
Mamori menghirup udara sekuat-kuatnya, bersiap untuk berteriak sekuat mungkin, "TO..."
BUGH
Saat Mamori lengah, salah seorang pemuda itu memukul tengkuknya dengan keras dari belakang, Mamori pun tersungkur tak sadarkan diri. Tanpa kesulitan sedikitpun, sang ketua memanggul tubuh tak berdaya Mamori di pundaknya.
Mamori's POV
Gelap...
Tidak ada apa-apa, semuanya gelap...
Uh, kepalaku sakit, dengan mata masih tertutup aku mengangkat tanganku bermaksud mengusap kepalaku yang terasa sakit.
Eh?
Tanganku tidak bisa digunakan, dengan segera aku membuka mataku, uh sial, akibat terlalu cepat membuka mata, rasa sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi sebagai respon dari mataku yang terkena cahaya secara tiba-tiba. Di mana ini? Apa yang terjadi padaku?
Dengan perlahan aku mengalihkan pandanganku menjelajahi seluruh ruangan mencoba menganalisis situasiku saat ini. Sepertinya aku berada di sebuah ruang sempit semacam gudang, tidak ada benda apapun di dalam ruang ini. Tanganku diikat di sebuah kursi bersama dengan tubuhku, pantas saja tanganku tidak bisa digerakkan.
CEKLEK
"Hoo, Tuan Puteri sudah bangun rupanya".
"Umh!", eh? Ah, rupanya mulutku juga diikat dengan sehelai kain, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?
Pemuda itu berjalan mendekatiku, begitu sampai di depanku dia membungkuk ke arahku. Dia berbisik tepat di samping telingaku, "Selamat datang di istana kami Tuan Puteri, lebih baik kau menjadi gadis yang manis, kalau tidak, anak buahku dengan senang hati akan memberi pelajaran padamu, apa kau mengerti?", mendengar ancamannya yang dapat dibilang mengerikan dengan setengah hati aku mengangguk. Setelah memastikan aku akan mematuhi perintahnya, pemuda itu meninggalkanku sendirian.
Entah sudah berapa hari aku ada di tempat ini, mungkin sudah tiga hari aku berada di sini, ah atau empat hari? Entahlah. Paling tidak selama aku di sini aku selalu diberi makan. Lagi pula dengan berada di sini bukankah itu berarti aku tidak perlu susah payah mencari tempat untuk istirahat? (Pikiranmu terlalu positif Mamori). Selain itu, bukankah mereka membutuhkanku untuk mendapatkan harta-harta itu, dengan kata lain, mereka tidak akan membunuhku, karena jika aku mati maka mereka tidak akan bisa mendapatkan harta-harta itu.
CEKLEK
Cih! Orang itu lagi, menyebalkan. Jujur saja aku merasa sangat takut jika berhadapan dengan ketua mereka ini. Selama ini yang mengantarkan makanan kepadaku adalah anak buahnya, lalu kenapa sekarang dia ke sini? Aku memiliki firasat buruk.
"Selamat siang Tuan Puteri", dia menyapaku dengan seringainya yang menyebalkan.
"Aku sudah memutuskan, kalau rencanaku untuk memunculkanmu ke publik akan segera dilakukan", cih! Apa kau pikir aku perduli.
"Aku akan mengatakan pada semua orang kalau kita adalah suami-istri, tapi aku memerlukan bukti untuk menguatkan posisiku sebagai suamimu, kehamilanmu mungkin bisa jadi bukti yang kuat", brengsek! Mati saja kau!
Sial! Jangan mendekat! Aku memberontak sekuat yang ku bisa, mencoba melepaskan diri dari lilitan tali-tali ini.
Normal POV
Mata Mamori membulat penuh kengerian saat pemuda di depannya itu berjalan mendekatinya. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya berusaha melepaskan diri, pemuda itu hanya menyeringai sinis melihat usaha Mamori yang sia-sia, seringainya semakin melebar saat melihat keputus asaan yang mulai menghiasi wajah Mamori.
Dengan kasar pemuda itu mencengkeram dagu Mamori, memaksa Mamori menatapnya. Sementara matanya menjelajahi setiap lekuk tubuh Mamori dengan tatapan lapar. Tanpa membuang waktu, tangan-tangan menakutkannya itu melepaskan tali yang mengikat tubuh Mamori dengan kursi. Tanpa kesulitan sedikitpun dipindahkannya tubuh Mamori ke atas lantai. Kedua tangan Mamori diikat di atas tubuhnya. Pemuda itu menempatkan dirinya diantara kedua kaki Mamori yang tidak terikat. Tanpa menghiraukan Mamori masih mencoba memberontak, dia menempatkan tangannya di samping tubuh Mamori, mengepung tubuhnya dari segala sisi.
Mamori semakin panik saat pemuda itu mulai menindih tubuhnya, kedua kakinya yang bebas dia gunakan untuk menendang apapun yang bisa dijangkaunya. Mamori memalingkan mukanya saat pemuda itu hendak mencium bibirnya yang dipisahkan oleh sehelai kain. Tak mau ambil pusing, sang penyerang mengalihkan sasarannya dari bibir Mamori menjadi pipi Mamori, diciuminya pipi halus milik Mamori dengan penuh nafsu. Ciuman itu pun turun ke leher jenjang milik Mamori, saat tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.
"Ke... ketua... dia benar-benar setan"
"YAA-HAA!", belum habis rasa kaget yang mereka rasakan, tiba-tiba sesosok setan mengerikan muncul secara mengejutkan, bahkan tanpa berperikemanusiaan setan itu menjadikan kepala anggota kelompok tadi sebagai pijakan.
"SIAPA KAU!"
Tanpa menghiraukan pertanyaan sang ketua, pemuda mirip setan itu berjalan melewati seonggok tubuh malang tergeletak akibat tendangannya tadi.
"HEI! KALIAN! TANGKAP ORANG BRENGSEK INI!", dengan panik sang ketua berteriak memanggil anak buahnya.
"Keh, anak buah sialanmu itu bahkan sudah tidak sanggup berdiri", dengan santainya setan tampan itu berjalan mendekati sang ketua yang berdiri di samping Mamori yang masih tergeletak di lantai.
"APA MAU MU!", sang ketua itu memasang pose kuda-kuda yang sama sekali tidak meyakinkan karena kedua lututnya bahkan tidak henti-hentinya bergetar.
"Mau ku? Aku hanya ingin mengambil kembali mangsa sialanku"
"JA..JANGAN HARAP AKU AKAN MEMBIARKANMU BEGITU SAJA!", sang ketua mengambil sebuah senapan dari dalam sakunya. Diarahkannya senapan itu ke arah sang pengganggu yang sekarang tepat ada di hadapannya.
Tanpa sedikitpun merasa takut dengan sang ketua yang sudah siap menarik pelatuknya kapanpun, setan itu justru mengeluarkan selembar kertas dan mulai membacanya, "Takehiro Goda, kau anak dari seorang kepala polisi heh, aku penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh ayahmu jika dia tahu bahwa anak sialannya menculik seorang gadis, kekeke..."
Wajah Takehiro memucat seketika saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut setan itu. Terlintas di benaknya bayangan dirinya yang sedang dihukum oleh ayahnya menggunakan cambuk yang terus menerus dihujamkan ke tubuhnya. Tanpa membuang waktu dia segera bersujud di depan setan itu, meraung-raung memohon ampun dan membiarkan setan itu dengan angkuhnya membawa calon korbannya.
Sementara itu, Mamori hanya bisa pasrah saat setan itu mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di pundaknya. Dalam hati dia merasa bahwa usahanya melarikan diri selama beberapa hari ini sia-sia saja. Meskipun tubuhnya lemas, Mamori tetap melakukan perlawanan kecil yang tidak berarti selama berada di atas pundak setan itu, seperti menendang-nendangkan kakinya dada setan itu, atau dengan memukul-mukulkan kedua tangannya yang masih terikat ke punggung tegap setan itu. Sayangnya, sang setan sama sekali tidak merasa terganggu, dia tetap meneruskan jalannya tidak memperdulikan tatapan aneh dari orang-orang yang dilewatinya.
BRUKK!
Di balik mulutnya yang terikat, Mamori sedikit mengaduh saat ia merasakan tubuhnya di hempaskan begitu saja. Begitu membuka mata, tampaklah di depannya sebuah rumah besar yang nampaknya tidak dihuni, pandangannya segera beralih ke arah manusia yang ada di depannya yang kini tengah mengisi senapannya dengan peluru. Matanya membulat saat ia mengerti apa yang akan dilakukan setan itu, dia akan membunuhnya di tempat ini!
Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Mamori setan itu mendongakkan kepalanya mengalihkan pandangannya dari senapan yang kini sudah terisi peluru. Dia menyeringai menakutkan sambil melangkah perlahan ke arah Mamori. Dia berjongkok di depan Mamori yang terduduk di tanah, dilepaskannya kain yang menutup mulut Mamori.
"APA MAU MU BRENGSEK!", Mamori berteriak sekuat tenaga begitu ikatan di mulutnya terlepas.
"Membunuhmu"
Mata Mamori membeliak ketakutan saat mendengar jawaban yang sebenarnya sudah diprediksinya sejak awal. Bayangan kedua orang tuanya yang meregang nyawa di depannya berkelebat di pikirannya. Dengan air mata yang mulai menggenang Mamori mundur menjauhi setan itu, dengan susah payah dia mengubah posisinya menjadi berdiri.
"Ka...kau apa tujuanmu melakukan ini padaku?", dengan suara bergetar Mamori mengajukan pertanyaan yang selalu mengganggunya.
"Hanya bersenang-senang mungkin", sebuah seringai meremehkan muncul di wajah setan itu saat menjawab pertanyaan dari Mamori.
Setan itu menodongkan senapannya ke arah Mamori, dia memejamkan matanya seakan mengatakan bahwa dia bisa membunuh Mamori kapanpun, "Bagaimana kalau kita buat ini semakin menarik, akan ku hitung sampai tiga, selama itu pergilah kemanapun yang kau mau"
"Satu", Mamori membelalakkan matanya, dia bergegas berbalik arah.
"Dua", Setan itu menyeringai saat mendengar suara langkah kaki Mamori yang semakin menjauh.
Mamori menatap nanar tembok yang ada di depannya, dengan segera ia berbalik arah berniat berlari ke arah lain, tapi tepat pada saat itu...
"Tiga"
DORR!
To Be Continue
Note:
Akhirnya chapter 4 jadi! *gelundungan* entah mengapa otak saya macet selama berbulan-bulan malas buka ffn.
Romance! Romancenya gimana... TTATT huwaaa! gak bisa buat romanceeee
Tolong review-nya Minna-sama (_ _)
