Disclaimer: Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Warning: OOC, Typo, dll
"Satu" Mamori membelalakkan matanya, dia bergegas berbalik arah.
"Dua" Setan itu menyeringai saat mendengar suara langkah kaki Mamori yang semakin menjauh.
Mamori menatap nanar tembok yang ada di depannya, dengan segera ia berbalik arah berniat berlari ke arah lain, tapi tepat pada saat itu . . .
"Tiga"
DORR!
Takdir
Tubuh Mamori merosot ke tanah.
"Cih, meleset"
Mamori terduduk di atas tanah, bersandar pada dinding yang ada dibelakangnya. Bola matanya seakan ingin keluar dari rongga matanya, air matanya mengalir menuruni pipi putihnya, mulutnya terbuka lebar sementara itu tubuhnya bergetar sangat hebat. Tepat di samping pipinya sebelah kiri, terdapat lubang bekas peluru yang menancap di dinding. Jika posisi peluru itu bergeser 1 senti saja pasti Mamori sudah menemui kedua orangtuanya di surga.
"Bagaimana kalau kita coba sekali lagi" Setan itu berkata dengan nada bermain-main, Mamori sadar bahwa setan itu sedang mempermainkannya. Dia sengaja membuat tembakannya meleset.
"Apa kau siap gadis sialan, sampaikan salamku pada orangtua sialanmu" Setan itu kembali menodongkan pistolnya ke arah Mamori, kali ini dia mengarahkan tepat ke arah kepala Mamori yang masih terduduk lemas.
Tepat saat setan itu hendak menarik pelatuknya
"HIRUMA! HENTIKAN!" Rupanya tuhan masih menyayangi Mamori.
Dari belakang setan itu muncul seorang pemuda bertubuh tambun. Pemuda itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri Mamori yang masih terduduk, melewati sosok setan yang agaknya masih terkejut dengan kedatangannya, dia menghampiri Mamori dan berlutut di hadapannya. Dengan lembut dilepaskannya ikatan di kedua tangan Mamori, diselimutinya tubuh gadis malang itu menggunakan kimononya.
"Cih! Apa yang kau lakukan dasar Gendut Sialan!" Sosok setan yang diketahui bernama Hiruma itu berteriak marah kepada pemuda tambun itu.
"Hentikan Hiruma . . . aku mohon hentikan . . . aku tidak mau sahabatku menjadi seorang pembunuh" Pemuda itu menggumam lirih sambil memeluk tubuh ringkih Mamori yang masih bergemetar.
"Keh, dasar penganggu, apa yang kau lakukan disini?!"
"Kami hanya kebetulan lewat"
"MUSASHI!" Pemuda tambun itu berteriak senang saat melihat seorang pemuda berwajah seperti bapak-bapak muncul dari belakang Hiruma.
"Cih, rupanya ada kau juga orang tua sialan, apa yang kau inginkan heh?!"
"Musashi! Aku mohon katakan pada Hiruma agar tidak membunuh nona ini!"
"Aku sebenarnya tidak perduli dengan apa yang kau lakukan, tapi kau dengar sendiri kan apa yang dikatakan Kurita, lepaskan gadis itu" Pemuda bernama lengkap Gen Takekura itu menjawab pertanyaan Hiruma dengan nada datar, tak lupa tangannya sesekali mengorek telinganya.
"Urus urusanmu sendiri orang tua sialan!" Hiruma berkata dengan nada ketus.
"Aku hanya mengingatkanmu Hiruma, bukankah dendammu sudah terbalaskan, kenapa kau masih ingin membunuhnya? Jika kau membunuhnya maka kau tidak ada bedanya dengan orangtua gadis itu, kau juga akan menjadi pembunuh" Untuk pertama kalinya dalam hidup Kurita dia mendengar seorang Musashi berkata sepanjang ini.
"Tunggu! Apa maksud dari kata-katamu?!" Kata-kata Mamori mengalihkan perhatian mereka bertiga. Hiruma memandang ke arah Mamori, dia menaikkan salah satu alisnya begitu mendengar pertanyaan Mamori.
"A . .Apa yang kau maksud dengan mengatakan orangtuaku seorang pembunuh?!"
Hiruma hanya memandangnya dengan tatapan tidak tertarik, dengan datar dia menjawab pertanyaan Mamori, "Itu karena orangtua sialanmu itu memang seorang pembunuh"
"TIDAK! KAU BOHONG! ORANGTUAKU TIDAK MUNGKIN MEMBUNUH!" Mamori berteriak sembari mencengkeram erat bagian depan dari kimono yang dikenakan Kurita. Kurita sibuk menenangkan gadis yang ada di pelukannya yang mulai kehilangan kesadarannya, sementara itu Hiruma berdecih tidak perduli, dia memilih melanjutkan perdebatannya dengan Musashi.
"Oke, kalian menang, lalu apa yang harus aku lakukan pada gadis sialan ini?" Hiruma akhirnya memilih mengakhiri perdebatannya dengan pemuda berwajah karismatik itu. Sementara itu, Musashi menatap Kurita meminta pendapat dari sang sahabat yang sedang sibuk menenangkan sang putri yang ada di pelukannya.
"Umm. . . Bagaimana kalau kau biarkan dia tinggal bersamamu, bukankah dengan begitu kau tidak akan kesepian" Hiruma melotot tidak setuju saat mendengar ide dari Kurita.
Setelah melalui perdebatan sengit ronde ke-dua, akhirnya Hiruma memutuskan membiarkan Mamori tinggal bersama dengannya, itupun dengan bujukan Musashi yang mengatakan bahwa Hiruma dapat menjadikan Mamori sebagai budaknya (setelah mengabaikan protes dari Kurita tentunya).
Selama tinggal bersama dengan Hiruma, Mamori di tempatkan di sebuah kamar kosong. Sudah tiga hari ini Kurita tinggal di rumah Hiruma, dengan sabar dia selalu menemani Mamori, dia berdalih ingin memastikan Hiruma tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan kepada Mamori. Setiap hari Kurita membawakan Mamori makanan, meskipun selalu ditolak oleh Mamori, dia tetap rutin membujuk Mamori agar bersedia makan meskipun hanya sedikit.
SRAKK!
"Sudahlah Kurita-kun, aku tidak ingin memakan apapun yang kau bawa, jadi kumohon berhentilah membawakanku makanan-makanan itu" Ucap Mamori begitu mendengar suara pintu kamar digeser.
"Ck, Kau pikir aku perduli gadis sialan" Mamori terhenyak saat terdengar suara baritone yang menyapa telinganya, bukannya suara riang milik Kurita seperti biasanya. Dengan segera dia mengangkat wajahnya yang selalu ia tundukkan, matanya terbelalak yang kemudian diisi oleh sorot kebencian saat beradu pandang dengan bola mata hijau tosca milik sang setan.
"Apa maumu sekarang"
"Keh, jangan besar kepala, dasar gadis sialan. Aku hanya melakukan apa yang dipinta oleh gendut sialan itu, aku tidak ingin telingaku rusak gara-gara mendengar ocehannya" Dengan muka datar Hiruma meletakkan nampan berisi makanan di depan Mamori.
"Kau . . . jelaskan padaku apa maksudmu menyebut kedua orangtuaku pembunuh" Suara Mamori berhasil menahan langkah Hiruma yang akan beranjak meninggalkannya. Dia membalikkan badannya menghadap Mamori, raut wajahnya terlihat mengeras, jika diperhatikan baik-baik dari sorot matanya terlihat setitik kecil kesedihan yang sangat dalam.
"Apa kau pernah mendengar keluarga bangsawan yang bermarga Hiruma?"
"Hi-ru-ma?" Mamori mengeja sebuah marga yang juga merupakan marga pemuda yang ada di depannya.
"Waktu itu keluarga Hiruma merupakan salah satu keluarga bangsawan yang berpotensi menguasai seluruh Tokyo kalau saja ayah sialanmu itu tidak menghancurkannya"
Flashback
"Kaa-san, dimana Tou-san?" Hiruma kecil yang baru berusia 10 berlari kecil menghampiri ibunya. Hiruma kecil melangkah menuju dapur menghampiri Nyonya Hiruma yang sedang memanggang kue-kue kering.
"Tou-sanmu ada di kamar mandi, kau mau menyusulnya?" Nyonya Hiruma menjawab pertanyaan sang putra dengan senyum lembut diwajahnya. Sambil menata kue-kue yang baru selesai dipanggangnya ke dalam toples.
Hiruma kecil menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban dari pertanyaan sang ibu. Matanya tak lepas dari sosok sang ibu yang mondar-mandir dihadapannya, sambil sesekali tangannya meraih kue yang ada dihadapannya.
KLEK!
Suara pintu kamar mandi yang terbuka sukses mengalihkan perhatian bocah kecil manis –yang kelak akan menjelma menjadi setan– itu yang dengan segera menyunggingkan senyum ke arah sang ayah yang masih berkalung handuk.
"Hey jagoan!" Sang ayah –Yuuya Hiruma– mendekati Hiruma kecil dan mengacak-acak rambut sang putra pelan dengan penuh kasih.
Nyonya Hiruma yang sedang memanggang kue pun menghentikan kegiatannya lalu menghampiri keduanya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Diambilnya handuk dari leher sang suami, dengan lembut diusapnya rambut sang suami yang belum sepenuhnya kering. Yuuya Hiruma yang sedang asyik menggoda sang putra pun memalingkan mukanya ke arah sang istri yang berada di belakangnya, senyum terulas di bibirnya saat dilihatnya sang istri yang sedikit berjinjit menyamakan tingginya agar dapat mencapai kepalanya.
"Hey jagoan, bagaimana kalau setelah ini kita menghias pohon natal sialan, kau mau?" (sepertinya kita sekarang tahu darimana Hiruma mendapatkan kata favoritnya itu)
Setelah mendapatkan pukulan kecil di pundaknya dari sang istri karena mengucapkan kata sialan di depan sang putra. Yuuya Hiruma bersama dengan Youichi beranjak ke ruang depan membawa serta barang barang yang akan digunakan untuk menghias pohon natal, tak lama kemudian sang ibu pun menyusul mereka berdua ke ruang depan. Suara gelak tawa muncul dari keluarga kecil bahagia itu, sesekali duo ayah dan anak Hiruma itu bekerja sama untuk mengerjai sang ibu yang hanya tersenyum melihat kekompakan suami dan anaknya itu. Kebahagiaan menguar dan menyelimuti keluarga itu seakan-akan tawa mereka malam itu akan bertahan selamanya.
TOK! TOK! TOK!
Nyonya Hiruma beranjak untuk membukakan pintu, sementara itu suara ketukan pintu itu sama sekali tidak dapat mengalihkan perhatian duo anak dan ayah yang sedang asyik menghias pohon natal.
"Ya, anda mencari siapa?" Nyonya Hiruma menyambut sang tamu dengan senyum ramahnya.
"Apa Tuan Hiruma ada?"
Setelah memanggil sang suami, Nyonya Hiruma menggiring putra semata wayangnya menuju ke ruang makan, membiarkan sang ayah menyelesaikan urusannya. Hiruma kecil mengikuti langkah sang ibu dengan tenang, dia sama sekali tidak berminat dengan urusan orang dewasa yang dianggapnya sangat membosankan. Hiruma kecil memainkan puzzle-nya sementara sang ibu menyiapkan minuman untuk sang tamu.
"KATAKAN PADA TUANMU AKU TIDAK TAKUT DENGAN ANCAMAN SIALANNYA ITU!"
Teriakan Yuuya Hiruma dari ruang tamu sukses mengalihkan perhatian ibu dan anak yang sedang berada di ruang makan. Dengan tergesa-gesa sang ibu beranjak ke ruang tamu ia bahkan melupakan minuman yang sedang dibuatnya, Hiruma kecil mengekor di belakangnya, tampaknya dia juga penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Mereka tercekat begitu melihat pemandangan yang ada di depannya, tampak Yuuya Hiruma berdiri di hadapan kedua orang tamunya dengan raut muka dipenuhi kemurkaan. Yuuya Hiruma menoleh begitu mendengar derap kaki dari orang-orang yang sangat dikasihinya.
"Ada apa Tou-san?" Yuuya Hiruma menghampiri sang putra lalu berjongkok di hadapannya, tangannya mengusap-usap kepala sang putra pelan. Seulas senyum terlukis di wajah lelahnya.
"Bukan masalah besar, pergilah ke atas ini sudah waktunya kau tidur kan?" Yuuya Hiruma memandang sang istri memberi kode agar membawa sang putra pergi dari ruangan itu.
"Ayo sayang kita ke atas" Nyonya Hiruma membimbing sang putra menuju kamarnya. Hiruma kecil terpaksa mengikuti langkah sang ibu, sesekali dia menoleh ke arah sang ayah yang terus tersenyum ke arahnya, entah mengapa Hiruma kecil merasa tidak nyaman melihat senyuman sang ayah malam itu.
"Kaa-san bacakan cerita untukku" Perkataan Youichi menghentikan langkah kaki Nyonya Hiruma yang sudah berada di depan pintu, dia berbalik badan memandang Youichi dengan tatapan heran. Tak sampai sepersekian detik tatapan itu menghilang digantikan dengan senyuman lembut yang muncul di bibirnya.
"Tumben sekali putra Kaa-san ini ingin dibacakan cerita" Nyonya Hiruma lalu mendekati tempat tidur putranya, dia duduk di samping sang putra cerita demi cerita mulai mengalir dari mulutnya. Sementara itu sang putra dengan hikmat mendengarkan cerita dari sang ibu tidak berminat sedikitpun memejamkan matanya.
DORR!
Youichi melompat dari tempat tidur begitu mendengar bunyi tembakan dari ruang tamu dimana sang ayah berada. Begitu pula dengan sang ibu yang bergegas bangkit dan keluar dari kamar Youichi. Begitu sampai di ruang tamu mereka disambut pemandangan mengerikan, dimana tubuh Yuuya Hiruma tergeletak sekarat dengan darah mengalir dari dada dan mulutnya.
Sang Tuan Hiruma dengan susah payah bangkit saat didengarnya suara langkah kaki dari istri dan anaknya.
"Ja. . . Jangan mendekat. . . Pe. . . Pergi. . ." Dengan terbata-bata Yuuya berusaha memeperingati anak dan istrinya, sementara itu di belakangnya si penembak tersenyum bengis melihat keadaan Yuuya yang menyedihkan.
DORR!
Jantung Yuuya Hiruma akhirnya benar-benar berhenti berdetak, seiring dengan peluru yang menembus tubuh sekaratnya itu. Tak cukup sampai di situ sang penembak itu dengan kejinya menendang-nendang tubuh tak bernyawa milik Yuuya Hiruma, seakan-akan tubuh itu hanyalah seonggok sampah tak berharga.
Nyonya Hiruma tidak dapat lagi menahan luapan rasa marahnya melihat tubuh suami tercintanya diperlakukan sehina itu. Dia berlari menerjang orang yang telah membunuh suaminya, sayangnya Nyonya Hiruma yang telah dibutakan kemarahan itu melupakan kenyataan bahwa sang tamu tidaklah sendirian. Dengan mudah sang tamu yang sedari tadi hanya berperan sebagai penonton itu menangkap tubuh ringkih Nyonya Hiruma.
"Kau! Urusi bocah itu! Biar wanita ini aku yang menangani!"
"YOUICHI LARI!"
Youichi tidak sempat membantah perkataan sang ibu, dia secara spontan berlari keluar dari ruang tamu saat seorang diantara para pembunuh itu berjalan mendekatinya. Dengan nafas memburu Youichi bergegas menuju pintu keluar, berniat meminta bantuan pada siapapun yang bisa ditemuinya, dari belakang terdengar derap langkah kaki pembunuh yang mengikutinya. Usaha Youichi membuahkan hasil, dia berhasil mencapai halaman depan rumahnya, sayangnya tidak terlihat satu orangpun yang biasanya berlalu lalang di depan rumahnya –rumah Hiruma berada di depan jalan raya– suara langkah kaki yang semakin dekat memaksa Youichi menghentikan usahanya mencari bantuan, dia dengan cekatan bersembunyi di balik semak-semak yang ada di dekatnya beruntunglah halaman rumahnya dipenuhi pepohonan yang rimbun sehingga memudahkan dirinya menyembunyikan tubuh mungilnya itu.
"Cih! Kemana bocah itu pergi" Youichi semakin merapatkan tubuhnya ke dalam semak-semak saat dia melihat sosok pengejarnya mendekati tempat persembunyiannya.
"Bagaimana? Apa bocah itu sudah ketemu?"
"Belum aku kehilangan jejaknya, ah sial! Bos pasti akan membunuhku kalau tahu ada saksi mata yang tersisa, kau sendiri bagaimana?"
"Tenang saja, wanita itu sudah kubereskan" Youichi terhenyak saat mendengar perkataan salah satu lelaki itu, sudah berhasil dibereskan itu berarti kaa-sannya. . .
Tubuh mungil Youichi terhuyung ke belakang, tanah di sekelilingnya terasa berputar-putar. Kata-kata lelaki tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya, sudah dibereskan. . . sudah dibereskan. . . sudah dibereskan. Kilasan-kilasan peristiwa berkelebat di kepalanya, senyum sang Ibu, suara tawa sang Ayah, teriakan sang Ibu saat dirinya dan sang Ayah mengusilinya, semua bergantian masuk memenuhi ruang dalam kepalanya.
JDARR!
Suara gemuruh petir mengejutkan Hiruma kecil, tanpa sengaja dia menginjak ranting kering yang berada disampingnya.
KREK!
Suara itu memang kecil, namun cukup untuk mengalihkan perhatian para penjahat itu. Mereka menoleh ke arah semak-semak tempat Youichi bersembunyi, salah seorang dari mereka mendekati semak-semak itu, seulas seringai terlukis di wajahnya.
"Disitu kau rupanya bocah" Bola mata Youichi membulat sempurna saat dilihatnya sosok itu berjalan mendekati tempat persembunyiannya, ia semakin merapatkan tubuh mungilnya yang gemetar ke dalam semak-semak.
"Meong!" Tepat sebelum tangan itu menyentuh semak-semak tempatnya bersembunyi, seekor kucing tiba-tiba melompat keluar dari arah yang sama.
"Cih, ternyata hanya kucing liar" Sosok itu mengangkat bahunya cuek dan berlalu meninggalkan semak-semak itu, dia berjalan menghampiri kawannya.
KRIINGG!
"Halo?" Raut muka sosok itu berubah pias saat mengetahui siapa yang menjadi lawan bicaranya.
"Semua sudah beres Tuan. Baik kami akan segera ke sana" Sosok itu berkata menggunakan bahasa yang sangat sopan.
"Ada apa?"
"Kita disuruh kembali" Salah seorang dari mereka berjalan meninggalkan temannya.
"Bagaimana dengan bocah itu?" Youichi merapatkan tubuhnya ke semak-semak.
"Biarkan saja, bocah itu akan mati dengan sendirinya, sebentar lagi badai akan datang tidak mungkin bocah sekecil itu bisa bertahan" Sosok itu menengadahkan kepalanya melihat langit yang mulai dipenuhi awan tebal berwarna hitam.
"Cepatlah! Anezaki-sama sudah mengunggu kita!" Sosok yang masih mengawasi semak-semak tempat Youichi bersembunyi itu tersentak dan bergegas menyusul temannya yang sudah mendahuluinya.
Selang berapa lama Hiruma keluar dari persembunyiannya, dia berdiri tegak memandang kearah pintu gerbang yang masih sedikit terayun-ayun.
"Anezaki. . ." Sebuah desisan mengerikan muncul dari mulut kecil sang Hiruma muda.
Tubuh mungil itu berdiri tegak menantang langit, tidak memperdulikan tetesan hujan yang semakin lebat menerpa tubuhnya. Raut mukanya mengeras, tak ada lagi kesedihan dalam sorot matanya, yang ada hanyalah kebencian yang amat dalam. Di usia semuda itu Youichi telah membiarkan dirinya jatuh dalam pelukan erat sang kebencian.
Flashback end
Hiruma mengakhiri ceritanya dengan napas memburu, raut mukanya mengeras menampilkan kebencian yang tidak pernah menipis. Sorot matanya menajam, setajam sorot mata hewan buas yang siap menerkam apa saja di hadapannya. Mata Mamori membeliak ngeri merasakan aura membunuh milik Hiruma.
"Ba. . . Bagaimana aku bisa mempercayai ceritamu?" Dengan susah payah dikeluarkannya sebuah penyangkalan.
"Apa kau ingat apa yang dilakukan ayah sialanmu saat malam natal 10 tahun lalu" Hiruma sedikit mendengus saat menjawab pertanyaan Mamori.
Mamori terdiam sejenak mencoba mengingat apa yang terjadi malam itu, malam natal 10 tahun yang lalu.
"To. . . Tou-sama memberikanku sebuah kalung sebagai kado natal" Mamori menyentuh kalung berbandul berlian yang tidak pernah lepas dari leher jenjangnya.
"Lihat! Tou-sama sama sekali tidak ada hubungannya dengan kematian keluargamu!" Lanjut Mamori dengan suara lebih keras.
Hiruma mendengus pelan, dilihatnya sekilas kalung yang bertengger manis di leher Mamori.
"Asal kau tahu saja, kalung sialanmu itu dulu milik ibuku" Hiruma berkata dengan nada datar sembari bangkit meninggalkan ruangan yang semakin terasa menyesakkan.
"Kau bisa melihatnya dari ukiran huruf HY yang berada di balik bandul itu" Hiruma memandang datar ke arah Mamori yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Mamori mengalihkan pandangannya dari sosok setan yang sudah tidak terlihat lagi wujudnya ke arah kalung yang dipakainya. Dengan tergesa-gesa dibaliknya bandul kalung yang sudah menemaninya selama 10 tahun ini. Hatinya mencelos saat mendapati ukiran dua buah huruf terpahat dengan cantiknya di bagian belakang bandul berliannya itu.
Flashback
JDAR!
Suara petir yang bergemuruh berhasil mengusik tidur Mamori kecil, dia meringkuk di atas kasur empuknya dengan selimut menutupi seluruh tubuh mungilnya yang gemetar. Dia tidak pernah takut dengan badai, bahkan badai sebesar apapun tidak akan mampu mengganggu tidurnya. Baru kali ini dia merasa takut akan sebuah badai bahkan badai kali ini bukanlah badai yang besar, hanya saja Mamori merasa ada yang aneh dengan badai kali ini. Dalam badai kali ini seakan-akan langit tengah menangis histeris karena kehilangan sesuatu yang sangat berharga sehingga membuatnya tak segan mengeluarkan kutukannya yang mengerikan.
JDARR!
Cukup. Mamori tidak dapat lagi menahan rasa takutnya, dia melompat dari ranjangnya berlari keluar dari kamarnya. Persetan dengan kelakuannya yang sangat tidak ladylike seperti apa yang selalu diajarkan oleh guru pribadinya, yang dia inginkan saat ini hanyalah menenggelamkan tubuh kecilnya diantara tubuh hangat orangtuanya. Mamori berlari kecil menuju kamar kedua orangtuanya, langkahnya terhenti saat dirinya mendapati lampu ruang tamu masih menyala. Rasa penasaran membuatnya lupa dengan tujuan yang sebenarnya. Dengan hati-hati dia mengintip ke dalam ruang tamu. Kedua alisnya sedikit mengkerut saat mendapati sang ayah yang sedang berbincang-bincang dengan kedua tamunya.
"Ada yang perlu dilaporkan?" Suara berat milik sang ayah samar-samar tertangkap oleh telinga mungilnya.
"Semua berjalan dengan baik tuan" Mamori menggeleng pelan, dia tidak boleh menguping pembicaraan orang lain, itu hal yang memalukan. Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu, hal itu sukses mengalihkan perhatian para penghuni ruangan itu.
"Oh tuan puteri belum tidur rupanya" Salah seorang dari mereka menyapa Mamori, memaksa Mamori mengeluarkan senyum kakunya.
"Tuan puteri anggap saja ini sebagai kado natal dari kami untuk anda" Lelaki itu menyodorkan sebatang cokelat.
Mamori tak lantas mengambil cokelat itu begitu saja, dia memandang ke arah ayahnya meminta persetujuan dari sang ayah. Sang ayah tersenyum dan mengangguk pelan tanda bahwa dia memperbolehkan Mamori mengambil cokelat itu.
"Te. . . Terima kasih" Cicitnya pelan sembari mengambil sebatang cokelat itu dengan malu-malu.
"Tuan kami mohon undur diri terlebih dahulu, sebelum badai ini semakin parah" Salah satu dari mereka mewakili rekannya –yang tengah asyik bercengkerama dengan Mamori– berpamitan.
Mamori pun mengikuti sang ayah mengantarkan tamu mereka sampai ke pintu depan.
"Jangan lupa dengan rencana berikutnya" Sang tamu hanya mengangguk pelan saat mendengar perintah dari Tateo Anezaki. Mereka berdua lalu membungkuk hormat kearah ayah dan anak Anezaki sebelum akhirnya meninggalkan manor megah milik Anezaki.
"Lalu. . . Kenapa puteri ayah satu ini belum tidur hm?" Tateo Anezaki mencium pipi gembil puteri kecilnya itu dengan gemas.
"Mamo takut dengan petir, Mamo ingin tidur dengan Tou-sama dan Kaa-sama, boleh?"
"Tentu saja boleh sayang" Sang Ayah menaikkan tubuh mungil Mamori yang menjerit senang, lalu mendudukannya pada bahu kekar miliknya.
"Tou-sama. . ."
"Hm?"
"Mereka itu siapa? Tidak biasanya ada orang bertamu pada cuaca seperti ini"
"Mereka tamu penting Tou-sama sayang"
Flashback end
Yang Mamori ingat setelah itu dirinya menemukan sebuah kalung terpasang manis di lehernya saat dia terbangun dari tidurnya. Mamori masih ingat bagaimana senyum sang ayah saat dirinya menanyakan perihal kalung yang melingkar manis di lehernya itu.
Mamori meringkuk di pojok ruangan lengannya memeluk erat kedua lututnya, sementara itu wajahnya terbenam diantara lututnya menyembunyikan isakan yang keluar dari mulut mungilnya.
"Tou-sama. . . kenapa. . ."
To be continue
Review's Reply
Maruka:
Romance-nya belum muncul, susah banget bikin romance dengan Hiruma tetep IC
kamu jadi suka HiruMamo gara-gara fanfic abal ini? aduduh, saya tersanjung *malu*
terima kasih sudah membaca cerita saya (_ _)
Note:
Akhirnya sempet update juga, aduduh nyari koneksi yang bagus susah ternyata *curhat*
Sebenernya sempet kepikiran mau discontinue saja, toh juga gak ada yang nungguin,
bukan masalah review-nya, tapi tugas di RL sudah cukup menyita waktu saya *gelundungan*
ini yang chapter 6 belum kesentuh samasekali lagi *pundung*
Yosh! Kritik dan sarannya Minna (_ _)
