Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.

Warning!

Apapun yang tertulis disini, jangan salahkan saya jika ada kata yang typo :3 karena, typo itu manusiawi XD, Gak jelas, Abal, XD dan lain-lain..

Pairing: FemKurapikaXKuroro.

Category: Romance, Hurt/Comfort.

Rated: T.

Hopeless

-oOo-

Ia membuka matanya. Sudah dua minggu lebih, ia berada di kamar yang jelas-jelas bukan miliknya. Ia menoleh ke kiri dan ada seorang pemuda berambut pirang sedang tertidur di pinggir kasur tempatnya berbaring.

Tangannya berusaha untuk bergerak. Namun sulit. Alhasil, itu membuat pemuda di sebelah kirinya terbangun dari tidurnya. "Oh, kau sudah bangun, Kurapika?"

Ia merasa tidak asing dengan nama itu. Namun ia tak bisa mengingat, nama siapa itu. Ia memandangi pemuda di depannya. Ia berusaha mengingatnya. Ia kenal dengan pemuda itu. Namun lupa siapa dia.

"Kurapika," orang itu memanggil namanya. "Kau lapar?" Tanya orang itu.

".."

"Kurapika," orang itu memanggil lagi. "Akukan sudah bilang padamu, agar kau tidak pergi.. Tapi kau malah membangkang. Dan.. Oh, apa kau merasa baikan?"

".."

"Aku tahu, mungkin kau kehilangan banyak darah waktu itu. Oh, dan kau tahu? Aku sangat khawatir ketika Kuroro menelfonku bahwa kau mengalami kecelakaan. Dan, syukurlah, bahwa kau selamat." Ucap pemuda itu panjang lebar.

Pintu kamar dibuka. Seseorang masuk dan berhenti di depan Kurapika. "Apa kabarmu?"

Kurapika memandangi orang yang baru datang itu dengan sesama. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Namun dimana?

"Shalnark, mengapa dia tidak menjawab?" Tanya orang itu. "Jangan katakan padaku kalau ia.."

"Ia, apa, Kuroro?"

"Ah, tidak." Jawab orang yang bernama Kuroro. "Kurapika, aku membawakanmu roti. Kau mau? Kau suka rasa apa? Coklat? Vanilla? Stroberi? Atau.. Durian?" Kuroro bertanya sambil mengeluarkan rotinya satu per satu.

".."

"Kenapa?" Kuroro bertanya. "Tidak ada rasa yang kau suka?" Ia memasukkan lagi rotinya ke dalam kantong plastik. "Kurapika, kau tidak lapar, memangnya? Oh, kau mau bubur? Atau daging asap?"

"Kuroro, ayolah. Jangan bodoh! Dia ini sedang sakit.. Masa iya, makannya daging asap? Haha.."

"Kau benar, Shalnark. Hahaha.. Oh, Killua menelfonku, tadi."

"Apa katanya?"

"Katanya, kedua temannya sedang menuju kemari bersamanya dan Gon. Ia mau mengunjungi Kurapika."

"Apa mereka baik-baik saja? Kata Killua, mereka juga terluka."

"Iya, tapi tidak separah Kurapika. Oh, itu mereka."

Pintu kamar yang belum tertutup, menampakkan empat orang sedang berdiri di depan. "Kami masuk." Kata empat orang itu secara serentak.

"Kurapika, aku minta maaf." Kata seseorang berambut hijau yang dikuncir aneh. "Ini semua salahku. Aku tidak tahu kalau rem di mobilku itu blong. Maafkan aku."

"Tidak, itu salahku. Seharusnya aku tidak mengajak Kurapika ikut bersama kami." Ucap seseorang berambut biru. "Seharusnya hanya kami yang pergi."

"Sudah, hentikan. Tolong. Semua ini sudah terjadi. Dan tidak bisa diulangi lagi. Biarlah yang terjadi, terjadi." Ucap Shalnark menenangkan. "Kurapika, kedua temanmu sudah datang. Kau tidak ingin mengucapkan halo?"

".."

"Shalnark, dia kenapa?" Tanya Killua. "Dia seperti.."

"Hilang ingatan?" Sambar Gon. Semua orang menoleh ke arah Gon secara bersamaan. Lalu mereka menoleh ke arah Kurapika.

"Apa benar.. Dia itu hilang ingatan? A-aku tidak percaya.." Ucap Neon. "Menchi, kita harus apa? Yang menyebabkan ia seperti ini kan.."

"Karena airbag!" Ucap Killua menyerobot. "Salah satu airbag dari mobilmu tidak berfungsi. Jadi, kemungkinan penyebab semua ini adalah airbag itu. Setelah aku telusuri lagi, airbag itu terlambat terbuka."

"Maksudmu, apa?"

"Maksudku, jadi.. Airbag di mobilnya Menchi itu macet. Ia tersumbat sesuatu." Jawab Killua.

"Tapi, tersumbat apa, pertanyaannya."

"Kemungkinan, karet kunciran. Aku menemukan ini ketika menggeledah mobilmu, Menchi." Lalu Killua memberikan kunciran itu kepada Menchi.

"Ah.. Pantas saja, rambutku ada yang tergerai.." Ia berkata sambil menerima kunciran yang diberikan oleh Killua. "Tapi.."

Kurapika yang sedari tadi di bicarakan hanya diam dan diam. Sampai akhirnya, ia membuka suara. "Kalian.. Siapa?"

Pertanyaan itu sontak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan terkaget. Hampir mereka semua membelalakkan matanya tak percaya.

Kurapika.. Kau benar-benar kehilangan ingatan? Ucap Menchi dalam hati.

Shalnark masih betah dengan wajah syocknya. "Kurapika.." Shalnark mencoba memanggil namanya. Siapa tahu dia masih mengingatnya. Walaupun kemungkinannya itu kecil. "Kurapika, kau mengingat aku?"

Kurapika mengalihkan pandangannya ke Shalnark. "Kau siapa?"

Neon menarik nafas panjang agar dia tidak syok. "Ku..Kurapika, apa kau mengingat siapa aku?"

Ia menggeleng. "Tidak. Siapa?"

"Kalau aku?" Menchi bertanya dengan wajah yang sedih. "Kau pasti ingat aku, 'kan?"

"Tidak." Jawabnya singkat. "Bisakah kalian sebutkan nama kalian? Aku benar-benar tidak mengingat apapun."

Mereka semua terdiam. Killua menarik nafas panjang dan mulai berbicara. "Baiklah, dimulai dari aku. Namaku, Killua."

"A-aku, Neon."

"Gon!"

"Me-Menchi.."

"Shalnark."

Semua menoleh pada satu orang. Kurapika juga menoleh kepada orang itu. "Kuroro."

"Kuroro?" Kurapika dan Kuroro menyebutkan nama itu secara bersamaan. Sontak, semua itu menoleh ke arah Kuroro.

"Bagaimana dia bisa mengingatmu, Kuroro?" Tanya Killua curiga. "Jangan-jangan, kau telah memberinya obat.."

"Hus! Killua, tidak boleh bicara asal begitu. Kuroro, kau berikan obat apa padanya?"

JLEBBB

"Gon! Itu sama saja, bodoh!" Killua berkata sambil menjitak kepala Gon. "Kurapika, kenapa kau hanya ingat Kuroro?"

"Kurapika? Siapa dia?" Kurapika bertanya sambil menatap Killua.

"Aduh, begini.. Kurapika itu.. Namamu," jawab Gon. "Biar aku bantu mengingatkanmu. Berambut pirang, bermata coklat, hm.. Mempunyai saudara lelaki bernama Shalnark.. Mempunyai dua sahabat yang bernama Neon dan Menchi.."

"Gon, hentikan." Ucap Killua.

"Kenapa?"

"Kau membuatnya semakin bingung dengan kalimatmu, Gon." Ucap Killua tenang. "Oke. Namamu adalah Ku-ra-pi-ka. Kurapika. Coba kau ulangi perkataanku."

"Ku.. Ra.. Pi.." Kurapika mengikuti Killua dengan agak ragu. "Ka. Kura-pika."

"Jadi, namamu?" Killua mencoba memastikan.

"Kurapika." Kurapika menjawab itu secara ragu. Semua orang yang berada di ruangan itu tersenyum.

"Bagus. Karena Kurapika sudah mengingat siapa namanya.. Bisakah kau menyebut siapa nama kami satu-satu? Dengan ciri-ciripun, boleh." Ucap Menchi sambil tersenyum.

"Pria dengan rambut hitam namanya.. Kuroro." Ucap Kurapika. Ia terdiam. Cukup lama. Sampai membuat salah satu dari mereka menangis.

"Kenapa dia tidak mengingat siapa kita? Hiks.. Kenapa?!"

Menchi memeluk Neon. "Tenanglah, Neon. Kurapika akan baik-baik saja, kok. Iya, 'kan, Kurapika?"

Kurapika hanya menggangguk. Lalu ia menoleh ke arah Kuroro. "Kuroro," panggilnya. Itu membuat seluruh orang di ruangan itu menoleh ke arahnya. Termasuk Kuroro. "A-aku mau rotinya."

Kuroro sedikit tersentak mendengarnya. "Oh, ya. Mau rasa apa?"

"Kuroro, kau sudah seperti orang berdagang roti!" Ucap Gon polos.

"Diam!" Bentak Kuroro. Dan semua-pun diam. "Ayo, rasa apa, Kurapika?"

"Hm.. Coklat."

"Oke.." Lalu Kuroro memberikan roti rasa coklat itu kepada Kurapika. "Ini, silahkan dimakan."

Lalu Kurapika menerima roti itu. Membuka bungkusnya dan memakannya secara perlahan. "Kuroro, bisakah kau membantuku mengenali, siapa saja mereka?" Tanya Kurapika.

Kuroro yang sedang membagikan roti kepada yang lain, berhenti sejenak dan menoleh ke arah Kurapika. "Hn. Aku akan membantumu."

Lalu, Kurapika tersenyum. "Oke, itu janjimu padaku, Kuroro."

-oOo-

Sudah genap tiga bulan, Kurapika di rawat. Namun, ia masih saja tidak bisa mengingat siapa nama teman-teman dan kakaknya. "Men-chi."

"Men..chi.." Ulang Kurapika. "Menchi. Menchi! Berambut hijau.. Kuncir aneh? Menchi!"

"Kalau ini?" Kuroro menunjukkan selembar foto bergambar seorang gadis. "Siapa dia? Berambut biru.."

"Ne..ne.."

"Nene? Siapa itu Nene?" Tanya Kuroro. "Itu bukan Nene, Kurapika.."

"Ne..ne.. Ah, Neon! Neon, benar? Dia Neon, 'kan?"

"Hn. Kau benar. Berambut biru bermata biru. Neon. Mengerti?"

Kurapika menggangguk. "Mengerti. Hm.. Kalau dia, siapa?"

"Siapa?" Kuroro mengulangi pertanyaan Kurapika. "Dia?" Kuroro menyodorkan sebuah foto bergambar seorang lelaki sedang makan coklat.

"Ya. Dia.. Nampaknya aku mengenalnya." Kata Kurapika. "Kau mengenalnya?" Tambahnya.

Kuroro menundukkan kepalanya dan tidak menjawab. Kemudian, Kurapika bertanya lagi. "Kau mengenalnya?"

Kuroro makin menundukkan kepalanya. Ia bingung ingin menjawab apa kepada gadis di sebelahnya ini. Setelah beberapa lama dalam keheningan, Kuroro akhirnya membuka suara. "I-iya."

"Benarkah?" Kurapika bertanya dengan nada yang sangat gembira. "Bisa kau ceritakan ciri-cirinya?" Lanjutnya. "Kau pasti bisa! Entah kenapa, aku.."

Kenapa ia terdengar bahagia ketika melihat foto Killua? Apa jangan-jangan.. Ah, aku tidak mau membayangkan hal yang aneh seperti itu! Aku benci memikirkannya. Tapi.. Apakah aku cemburu? Tidak mungkin! Cemburu pada Killua? Ha! Bodohnya.. Ucap Kuroro dalam hati.

"Hei, Kuroro! Kau mendengarku atau tidak?" Kurapika bertanya kesal kepada pemuda disampingnya. "Ku yakin, kau tidak mendengarkanku sama sekali!"

"Eh, a-apa? Kenapa?" Tanya Kuroro tergagap. "Kau bicara apa, Kurapika?"

"Sudahlah. Lupakan. Aku hanya ingin makan roti coklat!"

"Apa? Aku tidak membeli roti! Aku hanya membawa bubur saja."

"Bubur? Apa itu bubur dari rumah sakit ini, Kuroro?"

Kuroro tersenyum paksa. "Ah.. Haha.. Sayangnya, iya." Jawabnya.

"Kalau begitu, kau saja yang makan." Ucap Kurapika angkuh. "Aku tidak mau dan tidak menyukai masakan rumah sakit."

"Kenapa? Masakan rumah sakit itu, sehat! Banyak vitamin dan gizi yang terkandung di setiap masakan itu. Kenapa kau tidak menyukainya?" Tanya Kuroro bingung. Sebenarnya, ia tahu kenapa Kurapika tidak menyukainya. Namun, ia hanya bersikap berpura-pura tidak tahu.

"Jangan berpura-pura tidak tahu, deh! Kau kan tahu kenapa alasan aku membenci masakan rumah sakit! Hanya satu. Satu kata."

"Apa itu?" Tanya Kuroro. "Apa satu kata itu, Kurapika?" Lanjutnya.

"Hambar." Jawab Kurapika singkat. "Ya, masakan rumah sakit itu rasanya hambar! Bahkan sampai tidak ada rasanya! Hanya air!" Lanjutnya. "Oh, iya. Apakah kau tidak bosan, mengunjungiku setiap hari?" Tambahnya.

"Tidak. Mana mungkin aku bosan? Malah, aku yakin, kau-lah yang sering merasa bosan karena sendirian setiap hari. Benar?"

"Bisa saja.. Tapi, itu benar. Aku suka merasa bosan saat sendirian. Tak ada yang bisa aku lakukan."

"Maka dari itu, aku setiap hari datang kesini untuk menemanimu, benar?" Tanya Kuroro sambil tersenyum. "Kau punya emailku, 'kan?"

"Ya. Aku punya. Kenapa?"

"Kenapa? Haha.. Itu adalah pertanyaan bodoh! Kau hanya tinggal mengirimiku sebuah e-mail saja! Dan aku pasti akan membalasnya. Pasti."

"Apakah kau berjanji?" Tanya Kurapika. Dan Kuroro hanya menggangguk sambil tersenyum tanda ia setuju. "Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan padamu."

"Pertanyaan? Apa itu?" Kuroro bertanya.

"Apakah kau berjanji, untuk tetap di sampingku, untuk tetap mengenaliku kepada orang-orang di foto ini.." Kurapika menggantungkan kalimatnya lalu menundukkan kepalanya. "Apakah kau berjanji, untuk tetap bersamaku dan tetap menemaniku.. Membuatku tertawa.." Tanpa sadar, air mata Kurapika menetes. "Hiks.. Bahkan, disaat seluruh saraf-sarafku mati rasa dan aku tidak bisa tersenyum lagi. Apakah kau berjanji?" Kurapika mengangkat kepalanya dan menatap Kuroro dengan air mata yang berlinang.

Kuroro terbelalak sedikit. "A-apa maksudmu? Apa maksudmu berbicara seperti itu?!"

"A-aku tidak tahu apa maksudku bicara seperti ini kepadamu. Tapi, maukah kau berjanji? Berjanji untuk selalu menemaniku.. Hiks.. Bahkan disaat ak—"

Kuroro memeluk Kurapika. "Hentikan. Tolong hentikan. Aku tidak kuasa saat kau bicara seperti itu, Kurapika. Apakah kau tahu? Aku selalu khawatir!"

"Khawatir? Kenapa?" Kurapika bertanya di dalam pelukan Kuroro.

"Tidak." Kuroro melepaskan pelukannya. "Yang penting sekarang, kau harus mengingat nama-nama mereka dahulu. Lalu kesukaan dan kebiasaan mereka." Kata Kuroro seraya meremas kedua bahu Kurapika.

Kurapika kaget ketika ia melihat Kuroro mengeluarkan air matanya. Ia ingin berbicara, namun ia memilih untuk menunggu giliran.

"Jadi, jangan bicara aneh, Kurapika." Lanjut Kuroro. "Kau tahu, betapa terkejutnya aku ketika mendengar suaramu meminta tolong? Dan kau tahu, betapa khawatirnya aku ketika melihatmu tergeletak di jalanan sambil mengeluarkan darah? Apa kau tahu?!"

"Kuroro.."

"Apa kau tahu semua itu, Kurapika?!"

"Tidak! Aku tidak mengetahuinya! Tidak mengetahui kalau kau khawatir akan keadaanku. Tidak mengetahui kalau kau terkejut mendengar suaraku meminta tolong. Tidak! Sekali lagi, tidak! Aku tidak mengetahuinya sama sekali, Kuroro." Kurapika berkata sambil mengeluarkan air matanya.

Melihat itu, Kuroro mengelap air matanya dengan ibu jari-nya. "Sudah. Aku tahu itu. Maafkan aku karena berbicara lancang padamu, Kurapika. Kumohon, jangan sia-siakan air mata berhargamu itu."

"Ku..roro.."

"Ya?" Tanya Kuroro sambil tersenyum paksa.

Kurapika langsung memeluk Kuroro dengan tiba-tiba. "Terima kasih. Karena kau telah menemani hari-hari membosankanku di rumah sakit setiap hari. Terima kasih karena kau mau mendengarkan pertanyaan bodohku. Terima kasih karena kau mau membantuku mengenali mereka lagi.. Terima kasih, Kuroro.."

Kuroro membalas pelukan Kurapika dan membelai rambut pirang milik Kurapika. "Iya. Sama-sama, Kura—" Kuroro berhenti berbicara ketika merasakan ada hembusan nafas yang teratur di pelukannya. "Tertidur."

Kuroro membaringkan Kurapika di ranjang rumah sakit dan menyelimutinya. Menyibak rambutnya dan mengecup keningnya. "Cepatlah ingat pada kami, Kurapika."

-oOo-

Kurapika terbangun di keesokkan harinya. Pagi itu, ia tak melihat Kuroro disebelah kiri tempat tidurnya. Kemana dia? Tanya Kurapika dalam hati.

Ia duduk di kasurnya dan menelusuri ruang kamarnya. Ia melihat secarik kertas di atas meja kecil di sebelah kasurnya. Ia mengambil kertas itu dan membacanya. Oh, surat..

Kurapika, bagaimana kabarmu? Maaf aku hanya menuliskanmu surat yang tidak jelas ini. Bukan surat. Lebih tepatnya.. Hanya ingin mengabarkanmu. Maaf, aku tidak bisa datang hari ini.

Entah apa alasannya, pokoknya aku tidak bisa datang. Mungkin, Killua akan datang mengunjungimu. Ia menelfonku semalam. Killua, pemuda berambut perak dengan.. Hm.. Mungkin Gon akan datang juga.

Gon, pemuda berambut jabrik. Berwarna hitam kehijauan. Yah, kira-kira seperti itulah. Ketika mereka datang, jangan lupa tunjuk dan sebut nama mereka. Juga sembunyikan pesan ini.

Cepatlah kau sembuh dan tolong cepatlah mengingat kami, ya. Kurapika?

- Kuroro.

Setelah Kurapika menutup pesan yang tertera di kertas itu, ia menundukkan kepalanya. Jadi, kau takkan datang hari ini, Kuroro? Kurapika bertanya dalam hatinya.

Tak lama, pintu kamar diketuk dan dua orang pemuda masuk kedalam ruangan. "Selamat pagi, Kurapika."

Kurapika mengingat kalimat didalam pesan itu untuk menunjuk mereka dan menyebut nama mereka. "Hm.. Kau pasti, Gon." Kurapika menunjuk pemuda berambut perak. "Dan kau pasti, Killua. Benar?"

Gon tertawa pasrah. "Tidak, bukan, Kurapika. Aku Gon. Dan ini, Killua."

"Oh. Maafkan aku, kalau begitu." Kata Kurapika. "Apakah kalian ingin menemaniku disini? Aku sepi tanpa Kuroro."

"Ya. Kenapa tidak? Ya, 'kan, Killua?" Gon menyetujui itu sambil menyenggol sikut kanan Killua.

"Y-ya! Kenapa tidak?" Tanya Killua. Dan Killua-pun tertawa paksa. "Kenapa ia tidak menemanimu hari ini?"

Kurapika mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku tidak tahu. Killua, eh, kau Killua, 'kan?" Kurapika bertanya kepada pemuda berambut perak.

"Ya. Aku Killua. Kenapa, Kurapika?"

"Aku ingin menanyakan sesuatu. Tapi. Aku lupa apa itu." Kurapika tersenyum dan meminta maaf. "Gon?"

"Ya?"

"Bisakah aku minta tolong?"

"Iya. Apa itu, Kurapika?" Tanya Gon.

"Maukah kau membelikan aku roti? Roti isi rasa coklat.."

"Oh.. Tentu! Killua, kau mau apa?"

"Aku tidak mau." Jawab Killua singkat.

"Oh.. Kalau begitu, aku berangkat!"

Lalu, Gon yang baru sampai-pun meletakkan tasnya di meja kecil di samping kasur Kurapika dan segera keluar dari ruangan. Sementara Killua, ia meletakkan tasnya disamping tas Gon dan membuka jaketnya.

Killua duduk di kursi disamping ranjang Kurapika. Mereka terdiam. Sunyi. Kurapika mengambil ponselnya dan mengirimi Kuroro email. Sementara Killua mengambil ponselnya dan memainkan game yang ada di ponselnya.

Ponsel Kurapika berbunyi. Killua menoleh kearahnya. Mungkin ia penasaran dengan siapa yang menelfon Kurapika. Lalu, Kurapika mengangkat telfonnya. "Uh, halo? Oh, Kuroro!"

Killua tersentak ketika Kurapika menyebutkan nama Kuroro. Killua langsung menundukkan kepalanya dan mendengarkan dengan seksama. Lalu, Kurapika melanjutkan. "Haha.. Iya, aku baik-baik saja. Makan? Hm.. Belum. Gon sedang membelikan aku roti. Hah? Haha.. Yang jelas, aku minta tolong padanya."

Beberapa saat, Kurapika terdiam. Killua mengangkat kepalanya dan memandang wajah Kurapika dari samping. "Hm.. Begitu, ya?" Kurapika bertanya kepada orang di seberang sana dengan nada lesu. Lalu dia terdiam lagi.

"Jadi, kapan kau akan kembali?" Kurapika membuka obrolan setelah sekian lama mereka terdiam. "Kuroro? Halo? Kuroro? Apa kau masih disana?"

Kurapika mematikan ponselnya ketika ia rasa orang yang ia ajak bicara sudah tidak tersambung lagi lewat telepon. Ia sejenak menoleh ke arah Killua dan tersenyum. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

"Kurapika," panggil Killua. "Tadi, Kuroro mengatakan apa?"

Kurapika hanya menoleh ke arah Killua dan memberikan Killua senyum paksa. Lalu ia kembali memandang jendela. Dan melihat langit yang mendung. "Hujan," ucap Kurapika yang masih menghadap jendela. "Bagaimana dengan nasib Gon?"

Hening. Tak satupun dari mereka memulai percakapan. Yang satu sibuk menunduk dan memikirkan hal yang membuatnya bingung. Dan yang satu hanya memandang jendela tanpa ada semangat di matanya.

"Aku kembali!"

Kurapika menoleh ke arah Gon dan ia tersenyum. Kali ini bukan senyuman paksa. Namun senyuman tulus. "Kau ke hujanan, Gon."

"Hehe.. Iya. Aku nekad berlari menerobos hujan. Aku takut kau kelaparan.. Jadi, oh! Ini, roti cokelatmu." Gon berkata sambil memberikan Kurapika roti cokelat pesanannya.

"Terima kasih, Gon."

"Hn! Dan, ini untuk Killu— Killua, kau kenapa?"

Kurapika mengangkat kedua bahunya tanda ia tak tahu. Kemudian, ia membuka bungkusan rotinya dan memakannya sambil menatap jendela yang basah karena terciprat tetesan air hujan. "Gon,"

"Ya?"

"Itu apa?" Kurapika menunjuk jendela. Gon menghampiri Kurapika dan duduk di samping kasurnya. "Kenapa jendela itu buram?"

Gon tersenyum menanggapi pertanyaan Kurapika. Ia akui, memang.. Kurapika bertanya layaknya anak 3 tahun. "Itu namanya, embun. Jendela itu berembun, Kurapika."

Kurapika menoleh ke arah Gon dan memiringkan sedikit kepalanya. "Embun? Setahuku, embun hanya ada di daun di pepohonan.." Kata Kurapika. Lalu ia kembali menatap jendela. "Gon, tadi Kuroro menelfon,"

"Katanya?"

Kurapika menundukkan kepalanya sambil menahan tangisnya. Entah kenapa ia begitu cengeng, sekarang.. "Ia bilang, ia akan pergi keluar kota untuk beberapa bulan ke depan.."

Gon sedikit tercekat mendengarnya. Lalu ia mengatur nafasnya. "Kapan dia kembali?"

Kurapika diam. Jendela yang ia pandangi makin berembun. "Embunnya.. Semakin banyak."

Kurapika terus memandangi jendela yang ada di samping kanannya. Pemandangan kota dari kamar tempatnya di rawat itu sudah padat. Apa lagi ditambah hujan deras. Membuat arus lalu lintas menjadi sangat padat.

"Kurapika," panggil Killua. Akhirnya, setelah sekian lama ia terdiam, Killua membuka suara juga. Kurapika menoleh ke arahnya dengan tatapan datarnya. Melihat tatapan itu, Killua mengurungkan niatnya untuk membicarakan sesuatu.

"Ada apa, Killua?" Tanya Kurapika dengan nada dan wajah yang datar. Merasa tak mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya, ia kembali ke jendela. Fokus dengan pemandangan di luar jendela tempatnya dirawat.

"Permisi,"

Gon dan Killua menoleh ke sumber suara dan mendapatkan Neon membawa sebuah bungkusan berukuran sedang. "Eh, Killua, Gon.. Kalian sampai lebih dahulu, rupanya."

Gon langsung berdiri dari tempatnya duduk dan menghampiri Neon. "Biar aku bantu." Katanya seraya mengambil bungkusan itu dari tangan Neon.

"Kurapika, Kuroro tidak datang berkunjung, hari ini?" Tanya Neon sambil membuka jaket yang dikenakannya dan menggantungkannya di belakang pintu. "Tidak?" Tanyanya lagi.

Gon yang sedang meletakkan isi bungkusan itu di meja dekat tembok sebrang kasur Kurapika, menoleh ke arah Neon. "Tidak, ia sedang ada tugas. Entah kapan kembalinya."

"Oh. Maaf.. Hei, aku punya lagu baru! Mau dengar?"

"Boleh." Jawab Kurapika tanpa menoleh satu inci-pun dari jendela.

Neon hanya menghela nafas berat dan akhirnya tersenyum. "Oke, ini lagunya."

Nostalgia dengan pemandangan jauh

Kelembutan aroma salju

Berombak kenangan

Aku mencari jalan berputar

Ditakdirkan untuk kesakitan dan mulai

Bahkan sebelum pandangan pertama

Aku tak bisa melihat apapun

Sebuah keinginan kecil yang tidak tampak jauh

Cukup untuk kehilangan harapan

Kita memotong melalui kegelapan

Ketika pikiran disini

Nyanyian yang dimainkan oleh air mata hangat

Kurapika tertunduk ketika mendengar alunan lagu itu. Air matanya berlinang. Ia tak mampu berkata-kata.

"Oh, ada lagi, lagu ini!" Neon berkata sembari mencari judul lagunya. Ketika ketemu, ia memainkan lagu itu.

Aku menangis karena bahagia

Aku menangis karena sedih

Ya, hidup dengan jujur pada diri sendiri

Membuatku tetap menjadi diriku

Pada hembusan angin ku bisikkan

"Lebih baik menjadi dirimu sendiri"

Tetaplah menjadi dirimu

Mari menjaga masing-masing kebahagiaan kita

Dan melangkah bersama

Setiap kali warna langit berubah

Suara hati yang bergetar-pun beresonasi

Hal yang kau berikan padaku

Lagi-lagi, Kurapika menangis karena mendengar lagu yang diputarkan oleh Neon. Entah kenapa dia menangis. Tapi, ia merasa seperti pernah mendengar kedua lagu tersebut bersama seseorang. Hati kecilnya berkata, lagu itu ia dengarkan bersama Kuroro. Namun, fikirannya berkata, ia baru saja ingat lagu itu.

"Hei," panggil Kurapika dengan nada yang serak. "Tolong ulangi lagu terakhir. Dipertengahannya."

"Pertengahan? Yang ini, maksudmu?"

Pada hembusan angin ku bisikkan

"Lebih baik menjadi dirimu sendiri"

Tetaplah menjadi dirimu

Mari menjaga masing-masing kebahagiaan kita

"Ya. Yang itu." Jawab Kurapika. Masih dengan nada yang serak. "Mari menjaga masing-masing kebahagiaan.. Kita." Kurapika mengulangi lirik itu dengan nada yang sangat pelan dan serak.

"Ada apa, Kurapika?" Tanya Gon ketika ia mendengar Kurapika mengulangi lirik itu. "Kau.. Haus? Seingatku, kau belum minum." Gon berjalan ke meja dekat Killua duduk terdiam. Gon mengambil gelas dan menuangkan air kedalamnya.

"Ini," ucap Gon sembari memberikan gelas berisi air putih kepada Kurapika. Kurapika menoleh ke arah Gon dan tersenyum lalu menerima gelas itu.

"Terima kasih." Kata Kurapika sambil kembali menatap jendela. Lalu ia meneguk air di gelas itu. "Gon, siapa yang baru saja datang?"

"Oh? Maaf, aku lupa. Namanya Neon." Ucap Gon sembari tersenyum. "Silahkan kau lihat dulu, Kurapika.."

Lalu Kurapika menoleh ke arah pintu masuk dan melihat seorang gadis berambut biru. "Kau, Neon?" Tanya Kurapika. Orang itu tersenyum dan berjalan ke arah Kurapika.

"Hm. Namaku Neon. Kau sudah bisa mengingatku?" Neon bertanya sambil tersenyum ramah. Kurapika menggangguk dan Neon menahan tangisnya. Kurapika memiringkan kepalanya sedikit ketika melihat air mata keluar dari sudut kanan mata Neon.

"Kau kenapa?"

Neon menggelengkan kepalanya pelan dan mengusap air matanya. "Tidak. Aku hanya senang saja, akhirnya kau mengingatku."

Kurapika memberikan gelasnya kepada Gon. Dan Gon menerimanya dengan senang hati. Lalu Kurapika melebarkan kedua tangannya. Neon yang melihat itu, tersenyum dan langsung memeluk Kurapika. Kurapika membalas pelukan temannya itu.

Gon pergi ke tempat Killua berada. "Hei, aku lihat sedari tadi kau tidak berbicara. Ada apa?"

Killua tidak mengindahkan pertanyaan sahabatnya itu. Killua berdiri, mengambil tasnya dan memakai jaketnya. "Aku akan pulang."

Kurapika dan Neon yang tadinya berpelukan, kini melepas pelukan mereka dan menoleh ke arah Killua. Begitupula dengan Gon. Neon segera berdiri dan bertanya. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak enak badan." Jawab Killua dengan senyum yang ia paksakan. "Kurapika, aku akan pulang.."

.

.

.

Kurapika hanya memperhatikan Killua. Tanpa sepatah katapun. Sebenarnya, Killua berharap bahwa Kurapika akan menahannya. Namun kenyataannya, ia malah berbalik ke arah jendela lagi. Kini, hujan sudah mulai mereda. Namun hati Killua bergejolak. Entah mengapa.

Sunyi. Tak satupun dari mereka bergerak sedikitpun. "Hm.. Baik, aku.. Akan pulang." Ucap Killua berusaha memecah keheningan. "A-aku akan bersungguh-sungguh pulang."

Kurapika. Ya, Kurapika. Orang yang menjadi fokus Killua sama sekali tidak berbicara apapun. Karena kecewa, akhirnya Killua menundukkan kepalanya dan berjalan pergi.

"Hei, Kurapika.." Panggil Neon. "Kau tahu, kenapa Killua berbicara seperti itu?"

Diam. Kurapika diam lagi. Belakangan ini, ia jarang bicara. Terakhir ia bicara, ia bertanya kepada Neon. "Kurapika?" Neon berusaha memanggil namanya. "Apa karena masalah Kuroro?"

Mendengar nama Kuroro, Kurapika sedikit tersentak. Namun ia segera kembali tenang. Kurapika menghela nafas berat dan menoleh ke arah Neon lalu tersenyum. "Tidak. Bukan dia."

Neon tersenyum. "Akhirnya kau bicara juga. Karena masalah apa, Kurapika? Kenapa kau tidak bicara?"

Kurapika berusaha melihat objek yang lain. Ia berusaha menghindari kontak mata dengan Neon. Kurapika menghela nafas lalu tersenyum lagi. "Karena lagu tadi. Lagu yang kau putar tadi, mengingatkanku pada sebuah kejadian. Entah itu kejadian apa.. Intinya, aku merasa aku pernah mendengarkan lagu itu.."

"Benarkah?"

Kurapika mengangguk. "Hn. Sudah lama sekali. Aku merasa kejadian aku mendengar lagu itu sudah lama. Dengan seseorang."

"Seseorang? Siapa itu?"

"Entahlah.." Kurapika mengalihkan pandangannya dari Neon.

Ponsel Kurapika berdering. Tanda telfon masuk. Kurapika mengambil ponselnya dan mengangkatnya. "Halo."

"Kurapika? Ini aku, Shalnark."

"Shalnark?" Kurapika mengulangi nama dari si penelfon. Mendengar nama itu, Gon langsung mengambil foto yang bergambar seorang pemuda berambut pirang pendek dan menunjukkannya kepada Kurapika. "Oh, hai.." Kurapika menggantungkan kalimatnya ketika melihat Neon menulis sesuatu di kertas dan menunjukkannya kepada Kurapika. "..Kak. Apa kabarmu?"

"Kak? Kau mengingatku!? Syukurlah.. Aku baik-baik saja. Kau sendiri? Apa kau baik-baik saja?"

"Hn. Aku baik-baik saja, kak. Kau sedang dimana?"

"Aku? Aku sedang bekerja. Tunggulah. Kurang lebih pukul 6 sore, aku akan datang menjengukmu."

"Sungguh? Haha.. Terima kasih, kak." Kurapika berkata sambil tersenyum bahagia.

"Ya. Sama-sama. Tunggu aku, ya.. Kurapika?"

"Hn! Akan kutunggu, kak." Lalu Kurapika memutuskan telefonnya. "Kakakku bilang, ia akan datang berkunjung pukul 6 nanti. Sampai saat itu, kalian tolong tetap bersamaku dan menemaniku, ya?"

Gon dan Neon saling pandang. Lalu tersenyum. "Ya." Jawab mereka singkat. Lalu mereka bertiga tertawa.

-oOo-

"Bagaimana keadaanmu, Kurapika?"

"Aku baik, kak." Jawab Kurapika sambil tersenyum.

Shalnark tertawa lepas sambil memegangi kepalanya. "Rasanya aneh dipanggil kak olehmu. Panggil saja Shalnark. Seperti yang biasa kau katakan."

Neon dan Gon cekikikkan ketika melihat Kurapika berwajah abstrak. "Kenapa?" Tanya Kurapika kepada Neon dan Gon.

Yang ditanya hanya menoleh ke segala arah. "Shalnark, aku akan pulang. Sekarang sudah pukul 9." Gon berkata kepada Shalnark dan membenahi barang-barangnya. "Neon, kau mau ikut?"

Neon menggangguk. "Ya. Aku ikut. Shalnark, Kurapika, aku pulang dulu, ya."

"Uh. Terima kasih, Neon, Gon.." Ucap Kurapika. "Besok, kalian akan mampir lagi?"

"Entahlah. Karena besok aku sekolah." Ucap Gon. "Kau juga sekolah, 'kan, Neon?"

"Hn." Jawab Neon singkat tanpa melepaskan fokusnya dari barang-barang yang sedang ia benahi. "Yup. Sudah. Aku pulang, ya?"

"Hn." Jawab Kurapika dan Shalnark secara bersamaan.

-oOo-

Ditengah malam, dimana semua orang tengah tertidur, seorang gadis sedang menatap layar ponselnya tanpa adanya semangat sedikitpun yang terlihat dari matanya. Gadis itu sedikit demi sedikit meneteskan air matanya. Membasahi layar ponselnya.

"Kuroro.. Hiks.. Kenapa kau pergi? Dan tidak memberitahuku kapan kau kembali?"

Pemuda berambut pirang yang sedang terhanyut dalam mimpi-nya pun, akhirnya terbangun. Ia sadar, kalau ia membuat gerakan sekecilpun, gadis di depannya akan tahu. Jadi, ia berpura-pura masih tertidur sambil mendengarkan curahan hati gadis itu.

"Kenapa? Aku sudah mengirimimu email berkali-kali, mengirimimu sms sebanyak-banyaknya.. Dan mencoba menghubungimu berulang kali.."

Pemuda itu terdiam. Ia terus mendengarkan adik perempuannya mengeluarkan semua curahan hatinya. "Keluar kota? Huh, jangan bodoh! Dua hari yang lalu, kau bilang padaku akan selalu di sisiku! Hiks.. Selalu menemaniku.."

Pemuda itu terus mendengarkan. Tak ia sadari, air mata menetes dari ujung matanya. "Aku tidak tahu kenapa kau lebih memilih keluar kota dari pada menemaniku. Aku benci! Benci!"

.

.

.

Lama Kurapika tak bicara, Shalnark bertanya-tanya. Ia menangkat kepalanya dan melihat adiknya sedang tidur dalam keadaan duduk. Ia tersenyum dan segera memindahkan posisi adiknya dan menyelimutinya.

Haha.. Karenamu, aku tidak bisa tidur lagi, Kurapika. Shalnark tersenyum dan berkata dalam hati. Ia mengambil ponselnya dan menelfon temannya. "Oh, halo? Iya. Hn. Maaf menelfonmu malam-malam. Bisakah kau ke rumah sakit? Uh. Terima kasih."

Lalu Shalnark memutuskan telfonnya. Ia mencari nama seseorang dan menelfonnya. "Halo? Iya, ini aku, Shalnark. Apakah benar, kau pergi keluar kota untuk beberapa bulan?"

"Iya. Itu benar. Siapa yang memberitahumu?"

"Kurapika. Ia menangis tadi. Ia mengeluarkan semua hal yang ia pendam. Karena itu, aku jadi terbangun."

"Begitu, maaf jika aku merepotkanmu, Shalnark."

"Haha.. Tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak bisa melihatnya berpura-pura tegar terus."

"Sekarang, apa yang dilakukannya?"

"Ia tertidur. Setelah ia berkata, aku benci! Benci.. Hm.. Entah maksudnya apa, mungkin ia benci kepadamu karena.. Yah, kau bisa tanya ia sendiri."

"Jangan bodoh! Aku tidak berani menghubunginya setelah aku pergi ke luar kota tanpa memberitahu kapan aku akan kembali.."

.

.

.

"Jadi, kemungkinan.. 2 atau 3 tahun lagi, aku akan kembali."

Shalnark terdiam. Ia menelan ludahnya. "2 atau 3 tahun lagi!?" Ia bertanya berbisik sambil agak membentak orang yang menjadi lawan bicaranya. "Jangan bodoh! Kau mau membuat seorang gadis menunggu selama itu? Seberapa tidak pekanya kau?!"

"Oh, haha.. Ayolah, jangan bilang aku tidak peka. Itu menjijikkan. Ngomong-ngomong, tengah malam begini, apa yang ia bicarakan tentangku? Maksudku, ia menggumamkanku, 'kan?"

"Aku bohong jika bilang tidak. Tapi, aku tidak ingin membuatnya marah padaku hanya karena aku menguping curahan hatinya. Jadi, lebih baik kau tanya saja ia."

"Tanya? Aku harus bertanya apa padanya?"

"Menurutmu? Oh, sudah. Aku sudah mendapatkan teman mengobrol disini. Aku akan menghubungimu kalau sempat. Da.." Lalu Shalnark memutuskan pembicaraannya dengan orang itu. "Oh, maaf membuatmu menunggu, Pariston."

Pemuda berambut pirang itu tersenyum lembut ke arah Shalnark. "Hm. Tidak apa-apa. Aku dengar, adikmu kecelakaan? Jadi mumpung kau menelfonku tadi, aku sekalian membelikan ini untuknya, besok." Pemuda bernama Pariston itu memberikan sebuah bungkusan sedang ke Shalnark. Dan Shalnark menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih."

-oOo-

Aku kemungkinan akan kembali lagi 2 atau 3 tahun yang akan datangs. Sampai saat itu, tolong tunggu aku untuk kembali, ya.

- Kuroro.

Gadis itu tertawa merendahkan. Lalu ia mendundukkan kepalanya dan menggenggam erat ponsel yang ia punya. Ia mengangkat tangan yang menggenggam erat ponsel itu. Dan meletakkan tangannya di atasnya. "Bodoh.."

Ia menoleh ke arah dua orang pemuda berambut pirang di samping kirinya. Dan membangunkan salah satunya. "Maaf membangunkanmu. Aku lapar.."

Orang itu masih tidak fokus dengan apa yang di dengarnya. "Hah? Barbar? Apa maumu dengan itu?"

"Tidak. Bukan barbar. Tapi, lapar! Uh, jauh sekali! Lapar ke barbar. Tidak ada huruf 'b'nya, kau tahu!?"

"I-iya, maaf, Kurapika. Ini, aku ambilkan roti cokelat."

Kurapika menghela nafas lega. "Syukurlah. Kau normal kembali," orang yang di bicarakan hanya menoleh dan memberikan wajah, maksud-nya? "Kukira, kau tidak akan kembali normal. Haha.. Bodohnya.."

"Sudah, diam. Ini rotimu." Kata pemuda itu memberikan roti cokelatnya kepada Kurapika. "Jadi, apa mimpimu nyenyak?"

"Hm." Jawab Kurapika dengan mulut yang penuh roti. "Aku tidur begitu nyenyak. Dan kau tahu?" Ia menelan roti yang ada dimulutnya. "Semalam, aku memimpikan Kuroro mendatangiku!"

"Ku-kuroro!? I-ia bilang apa padamu?" Tanya pemuda itu.

"Oh, ayolah. Tidak usah se-penasaran itu! Ia hanya bilang begini, aku akan kembali. Tapi tidak dalam waktu dekat."

"Lalu, kau menjawab?"

"Iya. Aku akan menunggumu."

Pemuda itu membelalakkan matanya dan akhirnya tertawa lepas. "Dasar bodoh! Apa kau yakin bisa menunggunya dalam waktu selam—"

"Selam? Sela.. Selama, maksudmu? Kau diberitahu berapa lama ia pergi ke luar kota, olehnya?" Kurapika memandang wajah pemuda itu dengan tatapan yang tidak bisa dianggap sebagai tatapan bercanda.

"Rahasi—"

"Beritahu aku, sekarang!" Paksa Kurapika.

"Ba-baiklah.. Akan ku beritahu! Sa-sabar!" Pemuda itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Tapi, kau jangan kaget mendengarnya, ya?"

Kurapika menggangguk dengan semangat. "Ya, aku berjanji!"

"Baiklah. Dia bilang, dia akan kembali 2 atau 3 tahun lagi.."

Mendengar itu, roti yang ia pegang langsung terjatuh. "Bohong.."

-oOo-

A/N: :D bagaimana, fiksi ini? Abstrak? Ya XD ini adalah fiksi sebelum aku Off. Jadi, tolong kasih pendapat tentang fiksi ini, ya XD