Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.
Warning!
Apapun yang tertulis disini, jangan salahkan saya jika ada kata yang typo :3 karena, typo itu manusiawi XD, Gak jelas, Abal, XD dan lain-lain..
Pairing: FemKurapikaXKuroro.
Category: Romance, Hurt/Comfort.
Rated: T.
Hopeless
-oOo-
Dari kedua sudut matanya, dapat terlihat bahwa ia sedang berkaca-kaca. Ia berusaha menahan kaca itu agar tidak pecah. Namun, apa daya. Batinnya terlalu syok untuk mengetahui bahwa orang itu datang 2 sampai 3 tahun lagi. Pertama-tama retak, batinnya terasa ditindih oleh sebuah batu besar yang membuatnya sesak nafas. Terakhir, pecah. Pecah sudah, kaca itu. Pecah sudah pertahanan batinnya untuk tidak menangis.
"Apa? Tolong katakan itu bohong, kak.."
Pemuda itu tersenyum paksa. "Maafkan aku, Kurapika. Namun itu bukanlah sebuah kebohongan. Itu sebuah kenyataan. Ya, kenyataan memanglah menyakitkan."
Kurapika berusaha turun dari kasurnya. Ia menampar tangan Shalnark ketika tangan itu berusaha mencegah dirinya untuk beranjak dari kasur. "Lepaskan! Aku tidak kuat lagi!"
Shalnark mengangkat tangannya dan menundukkan kepalanya. Lalu ia membentak adiknya. "Tidak kuat!? Lalu, kau mau apa!? Ingin melompat dari atap rumah sakit? Berteriak sekencang-kencangnya dan membuat burung-burung yang tinggal di pohon berterbangan!?"
"Ya! Aku mau melakukan semua itu!" Ucap Kurapika tak kalah membentak. "Aku ingin berteriak, membangunkan para burung dan melompat dari atap!"
Shalnark membelalakkan matanya tak percaya. Ia mengangkat tangannya dan menampar pipi kanan Kurapika. Kurapika yang di tampar hanya membelalakkan matanya dan menyentuh pipi kanannya yang menjadi korban.
Shalnark membelalakkan matanya lagi. Namun kini, lebih bulat dari sebelumnya. Ia menarik tangan kanannya yang menampar pipi adik semata wayangnya itu. "Ma-maaf. A-aku khilaf."
"KHILAF!? Kau bilang itu khilaf!? Bodoh! Aku tahu kau membenciku! Aku tahu itu!" Kurapika menghempaskan tangan Shalnark sekencang-kencangnya sampai tangan itu mepelaskannya.
Kurapika berlari sekencang-kencangnya. Ia tak sadar, kalau kakinya mengarahkannya ke atas atap. Ia terkejut ketika ia sampai di atap. "A-apa yang kulakukan disini?"
Tiba-tiba ia teringat akan surat yang Kuroro tuliskan. Cepatlah kau sembuh dan cepatlah mengingat kami, ya.
Ia mundur perlahan dan terduduk di atap. Aku bodoh! Kenapa aku melupakan itu?! Tapi, tunggu.. Lupakan?! Ya! Dia sendiri yang melupakan janjinya untuk tetap bersamaku! Orang bodoh sepertinya itu, tidak pantas berjanji! Tidak! Tidak pantas berjanji!
Ia menghapus air matanya yang sempat mengalir dari ujung matanya dengan kasar. "Aku seharusnya melupakan pemuda sialan itu! Pemuda yang membuatku down dalam jangka waktu kurang dari seminggu."
Kurapika berbalik dan segera turun menuruni tangga. Ia kembali ke kamarnya. "Ka— Shalnark, maafkan aku. Aku berbicara kasar padamu tadi."
Shalnark yang mendengar itu langsung terbangun dari duduk dan memeluk Kurapika. "Sudah, aku maafkan. Tapi kau harus berjanji agar tidak berbicara seperti itu lagi. Mengerti?"
Kurapika yang dalam pelukan Shalnark, sang kakak-pun menggangguk. "Iya. Aku berjanji."
-oOo-
"Namaku Kurapika. 17 tahun. Senang bertemu dengan kalian!" Ucap seorang gadis sambil tersenyum dengan rona merah muda di pipinya.
"Oke, nona Kurapika, kau boleh memilih bebas tempat duduk yang kau suka." Kata guru cantik berambut merah keunguan.
Gadis itu membungkuk ke arah guru perempuan dan bangkit. Lalu tersenyum. "Terima kasih, miss." Ucap gadis itu dan segera memilih tempat duduk kesukaannya. Di dekat jendela.
Bell pelajaran berganti. Guru yang tadi memperkenalkannya dengan kelas barunya-pun pergi dan di gantikan guru lain. "Berdiri! Beri hormat!"
"Selamat siang, pak."
Guru yang baru datang itu tersenyum dan menghampiri tempat duduk yang gadis itu tempati. "Namamu?"
Gadis itu tersenyum ke arah guru itu dan menjawabnya. "Kurapika, sir." Setelah guru itu tahu namanya, guru itu kembali ke depan dan segera mengajar.
2 jam berlalu. Kini saatnya bell istirahat berbunyi. Ketika bell berbunyi, gadis bernama Kurapika itu mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya dan berniat memakannya. Tapi di cegah karena banyak orang yang mengerumuninya.
"Hai, Kurapika! Namaku.."
"Umurmu 17, ya? Beda satu tahun denganku, dong? Aku 18!"
"Boleh kuminta nomor ponselmu?"
"Alamat surelmu?"
"Nama sosial media-mu?"
"Alamat rumahmu?"
"Apakah kau sudah mempunyai pacar?"
Kurapika hanya tersenyum pasrah sambil membalas pertanyaan berderet itu satu-satu. Ketika mereka mulai bubar, satu orang gadis berambut biru datang menghampiri.
"Nostrad. Namaku Neon Nostrad. Salam kenal. Umurku 16 tahun. Boleh ku minta nomor ponsel dan alamat surelmu?"
Kurapika menoleh ke arah gadis berambut biru itu. Ia meneliti gadis itu dari bawah hingga atas. 'Ia berkacak pinggang! Suatu hal yang paling kubenci!' Ucap Kurapika dalam hati.
Kurapika tersenyum dan malah memasukkan makanan yang sudah berada di sumpit yang akan ia gunakan untuk makan. Ia mengabaikan Neon yang sedang berkacak pinggang di sebelah kanannya.
Merasa di abaikan, ia menggembungkan pipinya dan mengulangi perkataannya. "Namaku Neon Nostrad. Umurku 16 tahun. Boleh kuminta nomor ponsel dan alamat surelmu!?"
Masih dengan adegan yang sama, Kurapika mengabaikan Neon dan melanjutkan makan siangnya di kelas pertamanya. Karena kesal tak ada respon sedikitpun dari gadis di depannya, Neon menggebrak meja Kurapika dengan kencang. Dan itu sontak membuat semua orang yang ada di dalam kelas menoleh ke arah meja paling belakang dekat jendela itu.
"Aku bukan tembok! Jawab aku dengan segera! Boleh kuminta nomor ponselmu dan alamat surelmu!?"
"Apakah itu cara meminta dengan baik, nona Nostrad?" Tanya Kurapika sambil memejamkan matanya dan melanjutkan mengunyah.
Neon menggembungkan pipinya. Ia tak pernah di buat sekesal ini oleh siapapun. "Kau itu hanya seorang anak baru! Jadi, kau jangan macam-macam denganku!"
Kurapika menelan makanannya dan meminum air yang ada di botolnya lalu menoleh ke arah Neon. "Jadi, dengan itukah kau berfikir kau lebih senior dariku?"
Neon semakin menggembungkan pipinya kesal. Ia masih bersabar karena anak baru yang dihadapinya ini masih belum tahu siapa dia. "Y-ya! Kau tahu siapa aku!?"
"Tahu. Kau adalah Neon Nostrad. Putri pemilik sekolahan ini. Yang terkenal akan kemanjaan dan ke glamoran. Kau biasa hidup dengan harta. Menjadi setengah gila jika barang yang kau mau tidak diberikan." Kurapika berkata santai sambil memejamkan matanya. Lalu, ia menutup bekalnya dan meletakkannya di dalam tasnya. Berdiri lalu keluar kelas.
Neon yang benar-benar diabaikan itu, hanya menggembungkan pipinya, melipat kedua tanggannya di depan dadanya dan menghentakkan kakinya ke tanah. "Anak itu, harus kuberi pelajaran!" Gumam Neon ketika melihat punggung Kurapika semakin menjauh.
Dalam perjalanannya yang entah kemana, ia bertanya-tanya kepada siswa yang tahu arah tangga menuju atap. Lokasi favoritnya. Akhirnya, ia sampai pada tempat tujuannya. Ia membuka pintu itu dan melihat siluet hitam sedang duduk di sana. Ia menghampiri siluet itu dan berdiri tepat disampingnya.
Orang itu membuka matanya dan menoleh ke arah kiri. Ia mendapati seorang gadis berambut pirang sedang berdiri menatapnya. "Ada yang bisa kubantu, nona?"
Kurapika sedikit tersentak ketika dipanggil nona oleh orang itu. Lalu ia menenangkan dirinya dengan menarik dan menghembuskan nafas. "Tidak ada yang spesial. Aku hanya ingin bertanya."
"Oh, benarkah? Kau ingin bertanya apa?"
"Se-sedang apa kau disini? Ya. Itu yang mau kutanyakan padamu." Jawab Kurapika sedikit tergagap.
Mata obsidian orang itu menelusuri Kurapika dari atas hingga bawah. Lalu, orang itu menoleh ke arah langit dan tersenyum. "Ini adalah tempat favoritku. Maaf jika kau tersinggung. Kau sendiri, sedang apa disini?"
"Oh, ini juga tempat favoritku di sekolahku dulu. Oh, perkenalkan. Namaku Kurapika. Aku siswi baru di sekolah ini. Namamu siapa?"
Orang itu menoleh ke arah Kurapika dan tersenyum lembut. Ia menggeser tubuhnya ke kanan dan menggebuk-gebuk kursi di sebelah kirinya. "Duduklah."
"Uh, baiklah." Kurapika menggangguk ragu dan duduk disebelah orang itu. "Kau belum memberitahuku tentang namamu."
"Kuroro. Namaku Kuroro Lucifer. Salam kenal juga, Kurapika." Mereka terdiam. Kuroro kembali memasang headset yang dikenakannya dan mendengarkan lagu. Kurapika hanya memandang langit yang biru. "Hei, kalau aku boleh tahu, kenapa kau pindah ke sekolah ini?" Tanya Kuroro sambil mematikan musik di mp3nya dan melepaskan headset yang ia kenakan.
Kurapika mengalihkan pandangannya dari langit ke arah pemuda itu. "Karena ini paling dekat dengan rumahku. Juga karena kakakku pindah ke kampus didekat sini."
"Oh, begitu." Kuroro mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atiknya. "Kau ingin mendengarkan lagu ini? Lagu ini sangat enak didengarkan."
"Hm.. Boleh juga."
"Baiklah. Ini lagunya." Kuroro tersenyum dan memencet lagu yang sudah di cari sebelumnya.
Nostalgia dengan Pemandangan jauh
Kelembutan aroma salju
Berombak kenangan
Aku mencari jalan berputar
Ditakdirkan untuk kesakitan dan mulai
Bahkan sebelum pandangan pertama
Aku tidak bisa melihat apapun
Sebuah keinginan kecil yang tidak tampak jauh
Cukup untuk kehilangan harapan
Kita memotong melalui kegelapan
Ketika pikiran di sini
Nyanyian yang dimainkan oleh air mata hangat
Kurapika tersenyum. "Lagunya bagus juga.."
"Benarkah?" Kuroro tersenyum lebar. "Syukurlah jika kau menyukainya. Oh, ini ada satu lagi!"
Aku menangis karena bahagia..
Aku menangis karena sedih..
Ya, hidup dengan jujur pada diri sendiri..
Membuatku tetap menjadi diriku..
Pada hembusan angin kubisikkan..
"Lebih baik kamu menjadi dirimu sendiri"
Tetaplah menjadi dirimu..
Mari menjaga masing-masing kebahagian kita..
Dan melangkah bersama..
Setiap kali warna langit berubah..
Suara hati yang bergetar pun beresonansi..
Hal yang kamu berikan padaku..
Lagu dimatikan. Kuroro menoleh ke arah Kurapika. Ia tersontak kaget ketika melihat orang disebelah kirinya menangis. Ia panik seketika. Ia mengeluarkan sapu tangan miliknya dari kantung celana sekolahnya dan memberikan sapu tangan itu kepada Kurapika.
Kurapika menerimanya sambil tersenyum. Ia berdiri dan membungkuk. "Terima kasih, sapu tangannya, Kuroro. Oh, kalau boleh, aku akan setiap hari kesini dan membawa bekal. Satu untukmu dan satu untukku. Bagaimana?"
Kuroro mengangguk dan tersenyum. "Boleh. Akan kutunggu janjimu."
Kurapika tersenyum puas dan sekali lagi membungkuk. Ia membalikkan badan dan hendak kembali ke bawah, kalau Kuroro tidak menghentikannya. "Ah, sapu tangan."
Otak pintar Kurapika memproses kurang lebih 3 detik dan langsung memberikannya kepada pemuda itu. "Terima kasih." Setelah memberikan sapu tangannya, ia segera berbalik dan kembali ke kelas.
-oOo-
"Sore, Kurapika. Bagaimana tidurmu?" Tanya seorang pemuda berambut pirang. Pemuda itu selalu dihiasi dengan kilatan bintang yang entah apa namanya itu.
Kurapika hanya tersenyum. Ia memegang kepalanya. Entah kenapa, rasanya sakit. "Sore. Maaf, kau siapa?"
Pemuda di hadapannya ini tersontak dan tersenyum. Lalu kembali normal. "Maaf, aku belum memperkenalkan namaku. Perkenalkan," pemuda itu menyodorkan tangan kanannya. Kurapika memperhatikan tangan itu dan tersenyum. Lalu membalas jabatan tangan sang pemuda di hadapannya. "Pariston."
"Kurapika." Jawab Kurapika singkat. "Hm.. Sedang apa kau disini? Shalnark mana?"
Pemuda itu tersenyum dan terus di latar belakangi dengan kilatan bintang yang sudah ku katakan entah apa namanya itu. "Shalnark sedang bekerja. Sekarang hari Rabu."
"Rabu?" Kurapika bertanya. "Oh, begitu.. Pariston, aku mau bertanya sesuatu padamu."
Masih dengan latar belakang yang sama.. Pariston tersenyum. "Apa itu?"
"Apa kau kenal Kuroro?"
"Kuroro? Kuroro Lucifer?"
Kurapika tersenyum lembut sambil memejamkan matanya. Lalu membuka kembali matanya. "Ya. Kau kenal dia?"
"Tentu! Kuroro Lucifer itu adalah mitra kerjaku." Jawab Pariston ramah. "Oh, ngomong-ngomong, ku dengar kau dan Kuroro satu kampus?"
Kurapika menatap kosong Pariston. "Y-ya.. Begitulah."
"Begitu.. Pantas ia bilang, ia sangat beruntung karena satu sekolah lagi dengan gadis itu. Ternyata gadis itu adalah kau.. Hei, apa kau tahu?"
"Tahu.. Apa?"
"Bahwa ia pernah berjanji seperti ini padaku. Namun, ia belum berani mengatakan ini kepada siapapun selain aku. Jadi, aku fikir, aku adalah orang terber.."
"Sudah, cepat katakan saja, apa yang ia janjikan padamu!?"
"Oh, baiklah. Sabar-sabar. Ia bilang gini padaku, aku bersumpah, tidak akan memacari, mengencani, bahkan menyatakan perasaanku pada siapapun! Kecuali.."
"Kecuali?" Kurapika mengulangi kalimat Pariston. Di wajahnya terbesit rasa penasaran yang teramat sangat.
"..Kecuali gadis itu."
Kurapika semakin penasaran. "Gadis itu!? Siapa dia?!"
Pariston tertawa kecil. "Sabar.. Berinisial K. Berambut pirang dan bermata cokelat."
"Inisial K, pirang dan mata cokelat?" Kurapika mengulangi ciri-ciri fisik yang disebutkan Pariston. "Pariston! Apa kau punya kaca?"
Pariston tersenyum. "Tentu. Ini," ia memberikan kaca itu kepada Kurapika. Kurapika menerimanya dengan wajah poker face. "Kenapa?" Tanya Pariston ketika melihat poker face yang ditunjukkan Kurapika.
"Tidak. Hanya saja, aku merasa kau aneh. Kenapa lelaki memiliki kaca yang biasa digunakan para gadis untuk mengaca?"
"Hanya asesoris pelengkap." Jawab Pariston.
"Oh.." Lalu Kurapika tersenyum dan menerima kaca itu. "Terima kasih." Tak lama, ia segera mengaca untuk melihat dirinya. Mula-mula, ia melihat bagian kepalanya. 'Pirang.. Hm, rambutku memang pirang.' Lalu ia menurunkan kacanya dan mengarahkannya ke depan matanya. 'Dan, mataku berwarna cokelat!'
Kurapika menoleh ke arah Pariston ketika selesai mengaca. Ia memberikan kaca itu sambil bertanya. "Jangan katakan padaku.. Kalau gadis itu adalah.."
Pariston menerima kaca itu dengan senang hati dan menjawab. "Kau."
Kurapika membelalakkan matanya tak percaya. Yang ada dibenaknya sekarang adalah, 'apakah benar, aku satu-satunya orang yang di cintai Kuroro?'
Pariston tersenyum dan berdiri. Ia membenahi barang-barangnya. Setelah ia setengah siap, Kurapika bertanya padanya. "Kau mau kemana?"
"Pulang." Jawabnya singkat.
"Pulang? Kau tidak akan menemaniku disini?"
"Tidak. Besok aku ada kerja." Jawab Pariston tenang pada Kurapika. Kurapika menggangguk mengerti. Pariston tersenyum ramah ke arah Kurapika. Ia hanya membalasnya dengan senyuman paksa. Tak lama mereka saling senyum, Pariston berjalan meninggalkan ruangan Kurapika.
Ia memandangi punggung Pariston yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan mata. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Hujan lagi.."
"Kurapika!" Seseorang memanggil namanya dengan berteriak. Berlari dari lorong rumah sakit demi menuju kamar tempatnya dirawat.
Kurapika memandang orang yang baru saja datang itu. Bajunya basah karena terguyur air hujan. Wajah Kurapika cerah seketika. Orang yang ia harapkan untuk datangpun akhirnya tiba di depan pintu. Ia beranjak turun dari kasurnya. Berjalan perlahan ke arah orang itu dan memeluknya.
Orang itupun terkaget. Ia meneteskan air mata dan membalas pelukan Kurapika. Suaranya serak karena ia menangis. "Kurapika, apakah kau berfikir kalau aku adalah dia?"
Sontak, pertanyaan itu membuat Kurapika melepaskan pelukannya dari orang itu. Ia berjalan mundur dan menggelengkan kepalanya lemah. Kalau ia sudah kehilangan kesadarannya, ia pasti akan segera melompat dari atap. Namun, kenyataannya, ia malah melemparkan semua barang yang ada di dekatnya.
Mulai dari bantal, selimut, tas, roti, kursi.. Sampai vas bunga-pun ia lemparkan. Vas bunga itu mengenai tepat di kepala orang yang berada di depan pintu. Orang itu mengusap keningnya yang berdarah dan berjalan menghampiri Kurapika pelan.
Kurapika tersontak dan berusaha menjauhkan dirinya. Melihat tidak ada satupun barang yang bisa ia lemparkan lagi, ia hanya terdiam di tempatnya. Terduduk lesu dan menundukkan kepalanya. "Apa.. Yang kau.. Lakukan.. Disini..
.
.
.
..Killua?"
Killua berhenti melangkahkan kakinya. Ia terdiam tepat di hadapan Kurapika yang terduduk lemas. Ia berbalik dan berjalan menjauhi Kurapika lalu memungut bantal yang ada di luar kamar. Ia berjalan kembali dan meletakkan bantal itu di kasur Kurapika. Merapihkan semua hal yang dilemparkan Kurapika padanya.
Dalam 20 menit, Killua sudah selesai membenahi kamar Kurapika. Ia mengangkat tubuh gadis berambut pirang itu untuk di dudukkan di kasurnya. Ia mengambil bangku dan duduk. "Sore."
Kurapika menoleh lemas ke arah Killua. Tak lama, ia tersenyum. "Sore, Killua." Jawab Kurapika. "Killua, maafkan atas ke tidaksopananku tadi."
Killua yang mendengar itu hanya tertawa cekikikkan. "Hihi.. Lupakan. Itu bukan hal yang besar! Oh, aku membawakanmu.. Ini!" Killua memberikan bungkusan sedang kepada Kurapika.
"Apa ini?"
Killua tersenyum lebar. "Buka saja."
Lalu, Kurapika membuka bungkus kado berwarna biru dan berpita kuning itu. Mata Kurapika berbinar melihat isi yang ada di dalamnya. "Sebuah.. Cincin? Untuk siapa?"
Killua beranjak dari bangku tempatnya duduk ke sebelah Kurapika. Ia mengambil cincin itu dari Kurapika. Memasangkannya ke jari manisnya. "Tentu saja untukmu." Kata Killua sambil tersenyum setelah selesai memasangkan cincin itu di jari Kurapika.
Kurapika tersipu dengan hadiah yang diberikan pemuda berambut perak itu padanya.
Aku berjanji tidak akan memacari, mengencani atau menyukai siapapun kecuali gadis itu.
Tiba-tiba Kurapika teringat janji Kuroro yang diberitahu oleh Pariston. Ia menundukkan kepalanya dan melepaskan cincin itu dari jadi manisnya. Killua yang melihat itu terkejut. "Kenapa? Kau tidak menyukai modelnya? Atau ukurannya terlalu kecil? Terlalu besar?"
Kurapika mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Killua lalu tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Bukan apa-apa. Bukan karena aku tidak menyukai modelnya, ataupun ukurannya."
"Tapi.. Kenapa?"
"Aku hanya teringat akan janji seseorang."
Killua terbelalak. "Janji seseorang? Siapa?"
Kurapika menggelengkan kepalanya pelan lagi dan tersenyum. Ia menarik nafas dan menghela nafas panjang. "Tidak. Bukan siapa-siapa. Lagipula, orang itu sudah tidak ada.." Kurapika tersentak. Ia melambaikan kedua tangannya di depan. Anggap saja ia bilang, bukan. "..Bukan mati, maksudku.. A-aku hanya.. Ahaha.. Berusaha melupakannya!"
Killua hanya terdiam dan mendengarkan. Ia tersenyum paksa. "Baiklah. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi.. Apakah orang itu sangat spesial bagimu, sampai kau sulit melupakannya?"
"A-a.. Hm.. Bagaimana, ya? I-itu sih.." Kalimat Kurapika terpotong ketika ponselnya berdering. Ia mengambil ponsel itu dan mengangkatnya. "Maaf, Killua."
Killua mengangguk dan tersenyum. Lalu mempersilahkan Kurapika untuk mengangkat telfonnya.
"Halo? Oh, Shalnark! Iya.. Aku sudah agak baikan.. Hm.. Apa?! Haha.. Tidak mungkin! Jangan bodoh!
.
.
.
Oh.. Jadi, ia akan mempercepatnya? Oh. Masa bodohlah. Aku tidak peduli padanya."
"Apa!? Kau sudah tidak peduli padanya? Kenapa?"
Kurapika menundukkan kepalanya dalam-dalam. "E-entahlah. Hatiku sudah terlalu lelah menerima semua keinginannya. Oh, maksudku, ia pergi, ia menyuruhku cepat sembuh dan cepat mengingkat kalian lagi.. Ia menyuruhku untuk menunggu kedatangannya.. A-aku sudah lelah, Shalnark."
"Sudah lelah? Kurapika, apakah kau mau berbicara dengannya?"
"Ah, jangan bodoh! Aku tidak akan pernah berbicara dengannya lagi. Tidak akan!"
"Walaupun aku meng loud speaker-kan telfon ini dan dia ada disampingku? Kau tetap tidak akan berbicara dengannya?"
Dalam tundukkan kepalanya, ia sempat terbelalak. Namun menarik nafas panjang dan akhirnya tenang kembali. "Ah, jangan bodoh. Aku tidak percaya trik itu, Shal—"
"Kurapika? Maafkan aku. Aku tahu kau sudah lelah dengan semua permintaanku. Namun, aku meminta itu kan demi kebaikan yang lain juga..
.
.
.
..Apakah kau mau menungguku kembali, untuk sekali lagi?"
Dari tempatnya menerima telefon, Kurapika hanya terdiam. Ia tidak mampu berkata-kata. Entah kenapa. Akhirnya, setelah setengah menit ia tidak berbicara, ia menarik nafas dan tertawa paksa. "Ahaha.. Aku tidak peduli itu sungguhan ataupun hanya tipuan kotak suara. Yang aku pedulikan saat ini adalah, apakah kau bisa menepati janjimu? Harus berapa lama lagi aku menunggu? Apakah harus ada orang yang memasangkan aku cincin lalu kau baru kembali?"
"Cincin!? Cincin apa? Siapa yang memasangkan itu padamu?"
Dari sebrang, Kurapika dapat mengetahui bahwa orang itu berbicara dengan nada kecewa sekaligus terkaget. "Bu-bukan urusanmu!" Lalu Kurapika memutuskan hubungan.
"Kuroro?" Killua bertanya sambil membereskan meja kecil yang ada di samping kasur Kurapika.
Kurapika hanya menggangguk tanda iya. Kurapika tersenyum paksa ke arah Killua. "Hei, kau tahu tidak?"
"Apa?"
"Ketika tadi aku bilang cincin dan orang yang memasangkan, suaranya langsung berubah derastis menjadi kaget dan kecewa..
.
.
..Apa aku kelewatan, berbicara begitu?"
Killua tersenyum hangat ke pada Kurapika. Ia menghampiri gadis berambut pirang itu dan mengusap kepalanya. Mendekatkan wajahnya dan mengecup keningnya.
Pintu yang sedari tadi terbuka-pun, menampakkan dua orang pemuda. Yang satu berambut pirang sedang mengelap peluhnya dengan sehelai sapu tangan, dan yang satu berambut hitam terdiam di tempat seperti patung. Pemuda berambut hitam itu membelalakkan sedikit matanya. Sedikit sekali. Sehingga orang tidak mengetahui ia sedang terkaget atau tidak.
Kurapika mendorong Killua sedikit. Wajahnya memerah karena malu. "Ki-killua, hentikan! Itu memalukan, tahu!"
Killua terkekeh. "Maka dari itu, aku pakaikan lagi, cincin ini." Lalu Killua menarik telapak tangan kanan Kurapika dan memasangkan satu buah cincin di jari manisnya.
Kuroro— pemuda berambut hitam itupun maju selangkah demi selangkah mendekati dua orang itu. "Kurapika.. Apa yang kau lakukan? Aku sudah bilang padamu agar kau menungguku kembali, bukan?"
Pertanyaan itu membuat kedua orang itu menoleh ke sumber suara. Kurapika, gadis yang di tanya membelalakkan matanya dan menundukkan kepalanya. Pemuda berambut hitam itu bertanya lagi. "A-apa kau membenciku?"
Kedua pundak Kurapika bergetar. Air matanya menetes dari kedua sudut matanya. "I-iya! Aku membencimu! Kau puas, ha!?"
Kuroro berhenti di tempat. Ia memandang Kurapika dalam-dalam. "Hei, aku tahu kau benci padaku karena aku terlalu banyak meminta.. Tapi, bukankah kau sudah berjanji bahwa.."
"Aku tidak pernah berjanji akan menunggumu, Kuroro!" Kurapika membentak Kuroro dengan nada yang serak karena tangisnya. "A-aku tidak pernah berjanji padamu.. Tidak.. Tidak dalam yang terakhir kalau aku akan selalu membawakan dua bekal untukmu pada SMU lalu."
Kuroro sedikit tersontak ketika Kurapika mengatakan itu. Kurapika menggengam erat tangan Killua. Kuroro menyadari itu. Ia berusaha mengabaikan tangan itu, namun tidak bisa. Ia segera melepaskan paksa kedua tangan itu. Dan akhirnya terlepas.
Kurapika terbelalak sedikit. "A-apa yang kau lakukan!?"
"Memisahkan tanganmu dari Killua, tentu saja!"
"Bodoh! Kau ini bukan kakakku ataupun kedua orang tuaku! Kau tak berhak mengatur hidupku!"
"Ya! Aku memang bukan kedua orang itu! Tapi aku sahabat SMU mu! Sahabat yang selalu mencintaimu!"
Kedua pundak Kurapika bergetar lagi. Air matanya menetes semakin deras dari kedua sudut matanya. "Sudah, hentikan! Aku benci mendengar suaramu, ataupun melihat wajahmu! Kumohon, enyahlah dari hadapanku!"
Kuroro dan Kurapika sama-sama tersontak. Mereka berdua terkaget. Kuroro, ia terkaget karena mendengar kalimat menyakitkan itu dari mulut Kurapika. Dan Kurapika, ia terkaget karena berkata begitu kepada Kuroro.
"Kuroro, maaf.. Aku kelewatan.."
"Baiklah, jika itu maumu." Kuroro berkata sambil menahan air matanya keluar. Kurapika mengangkat kepalanya dan melihat mata obsidian milik Kuroro dalam-dalam. Kurapika melihat kaca yang ada di mata Kuroro. Sedikit goncangan, kaca itu akan bergoyang dan akhirnya pecah. "Baiklah, jika itu yang kau mau. Kau mau, kau tidak mendengar suaraku dan melihat wajahku, benar?"
Kurapika melihat Kuroro dengan tatapan menyesal. "Bu-bukan itu maksudku.."
Kuroro tersenyum paksa. "Aku tahu.. Akhirnya tiba juga. Dimana kau membenciku. Dimana kau menemukan orang lain yang lebih mencintaimu dari pada aku. Aku tahu. Tapi, aku tak menyangka, kalau hasilnya akan sesakit ini."
Kuroro memutar balikkan badannya dan berjalan melewati Shalnark. Killua menoleh ke arah Kurapika dan mengelus lembut kepala pirangnya. "Kurasa, kau harus mengejarnya, Kurapika."
"Kalau aku bisa! Hatiku memang ingin! Tapi, batinku sudah tidak mau lagi! Apa yang harus aku lakukan?"
-oOo-
Sudah 3 tahun sejak Kurapika dan Kuroro bertengkar. Kini, usia Kurapika sudah genap 20 tahun. Kurapika sekarang berkuliah di Yorkshin Academy. Sebuah kampus elite yang hanya berisi oleh orang-orang yang elite juga, tentunya.
Kurapika sudah mengingat semua nama orang terdekatnya. 3 tahun sudah ia lewati di rumah sakit bersama Shalnark. Shalnark selalu setia menemani adik perempuannya itu dirumah sakit.
"Kurapika, kau ada waktu luang?"
Kurapika menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang gadis berambut pink yang di kuncir. Kurapika tersenyum ke arah gadis itu dan menjawab. "Tentu ada. Ada apa, Machi?"
Machi— gadis itu berhenti berlari dan berhenti di hadapan Kurapika sambil tersenyum. "Baguslah. Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Bicarakan? Apa itu?"
"Nanti saja. Kita ke temuan di cafe dekat kampus, ya? Bagaimana? Aku tunggu pukul 4 sore."
"Hm.. Boleh. Aku akan ke sana, nanti."
Machi tersenyum. "Baiklah, terima kasih. Aku tunggu." Ucapnya seraya berbalik meninggalkan Kurapika.
Kurapika membalas senyuman Machi dari belakang. Ia memutarkan badannya dan terkejut melihat siapa yang berdiri di belakangnya. "Sedang apa kau disini? Mengagetkanku saja."
Orang itu tersenyum. "Maafkan aku. Apakah kau sudah mengerjakan pr?"
"Pr? Oh, astaga! Aku lupa!" Kurapika berjalan menuju bangku terdekat dan mulai memberantaki berkas-berkas yang sudah ia susun rapi sebelumnya. "Bolehkah aku melihat dan menyalin prmu?"
Lagi-lagi, orang itu tersenyum. "Tentu. Dikelas saja, bagaimana?"
"Boleh!" Lalu, Kurapika dan orang itu segera berjalan menuju ruang kelas mereka. "Hei, bagaimana dengan adikmu? Kudengar dia mengalami kecelakaan, ya? Apa dia baik-baik saja?"
Orang itu tersenyum lagi. "Ya. Dia baik-baik saja. Aku bersyukur karena ia tidak sampai mengalami geger otak atau sebagainya."
Kurapika tersenyum paksa. "Be-benarkah? Aku juga turut bersyukur, kalau gitu."
Setelah mereka sampai, mereka segera mengambil tempat duduk masing-masing dan orang itu memberikan prnya kepada Kurapika sambil tersenyum ramah.
"Tolong hentikan senyuman itu. Kau membuatku ngeri."
Orang itu tertawa. "Haha.. Maaf kalau begitu."
Kurapika langsung menyalin semua yang ada di buku itu dalam waktu kurang dari 30 menit. Bel berbunyi. Tanda jam pelajaran sudah dimulai.
"Ini, terima kasih atas kebaikanmu, Pokkle."
Orang bernama Pokkle itu tersenyum lagi dan menerima bukunya. "Sama-sama."
8 jam telah berlalu. Kini, jam pelajaran sudah usai. Tadinya Kurapika berniat berjalan sendiri pulang menuju rumahya, akan tetapi, ia ingat janjinya dengan gadis berambut pink itu. Ia segera berbalik dan menuju cafe itu.
Sial! Sudah pukul 4 lewat 15! Aku terlambat 15 menit! Ucap Kurapika dalam hati. Akhirnya, ia sampai pada tujuannya. 4.20 sore. Terlambat 20 menit.
Kurapika membuka pintu cafe itu dan menyapu seluruh ruangan. Ia memfokuskan pandangannya pada gadis berambut pink yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Ia maju menghampiri gadis itu.
"Machi?"
Gadis itu menoleh ke sumber suara dan tersenyum. "Kau terlambat 20 menit, Kurapika!"
Kurapika tertawa paksa. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ma-maaf. Aku sempat lupa sebelumnya.. Tapi, dengan lekas aku mengingat janjiku padamu ketika melihat sebuah supermarket.. Hehe, maafkan aku, Machi."
Machi hanya menghela nafasnya sambil memejamkan matanya. "Iya, tidak apa. Silahkan duduk."
Kurapika tersenyum dan segera tersenyum. "Jadi, kau mau bicara apa padaku?"
Machi membuka matanya dan diam selama kurang lebih 3 detik. "Jadi, yang ingin aku bicarakan adalah.. Apakah kau ingin mengikuti kencan kelompok?"
Kurapika sedikit terbelalak. "A-apa!? Uh, aku kira ini masalah penting!"
"Haha.. Maafkan aku, Kurapika. Aku tidak tahan melihatmu menyendiri terus menerus. Sebagai sahabat, aku seharusnya membantumu, 'kan?" Tanya Machi sambil tersenyum sekaligus memejamkan matanya. "Ya, 'kan?"
Kurapika mengalihkan pandangannya. Berusaha tidak menatap wajah gadis bersurai merah muda itu. "Y-ya.. Hehe.. Jadi, apakah kau akan ikut serta?"
Machi berhenti tersenyum dan membuka matanya. "Tentu saja. Aku sudah mengajak Shizuku dan Hina. Mereka setuju."
"Hina?"
"Ya. Hina. Yang selalu memakai topi aneh itu! Oh, dia juga sepertinya mengikuti klub Hunting Ants."
"Hunting Ants?"
Machi memutar kedua bola matanya. "Oh, ya ampun. Maksudku itu, klub yang didirikan oleh ketua organisasi, Neferpitou."
Kurapika tersentak dan tertawa kecil. "Oh, astaga.. Aku kira siapa. Ya. Lalu, peserta pria-nya, siapa saja?"
"Entahlah. Sejauh yang aku pantau sih, Killua Zoldyck, Shaiapouf dan Tonpa."
"Tonpa!? Heh!? Orang itu ingin mengikuti kencan berkelompok!? Hei, asal kau tahu, ya. Tonpa itu pernah memberiku jus basi saat aku baru selesai olahraga pada SMP dulu!"
"Hah? Masa? Haha.. Biarlah. Lagipula, kau tidak meminumnya, 'kan? Juga, itu sudah lama. Pasti dia lupa."
"Lupa? Machi, di SMPku dulu, hanya ada 3 orang yang paling terkenal di antara yang terkenal. Pertama, seseorang berambut putih. Entah itu perak atau apa. Dia memang tidak bisa melihat, tapi ke ahliannya memainkan catur sangatlah hebat! Bahkan, orang ter jenius di sekolah, Aku dan Killua-pun, tidak bisa mengalahkannya."
"Ho? Kedua?"
"Kedua adalah Killua. Killua Zoldyck. Dia itu terkenal karena ayahnya juga seorang pengusaha yang sukses dalam bidang dunia bawah. Jadi, ia terkenal. Juga karena ketampanannya. Namun tidak bisa mengalahkan ketampanan orang pertama itu."
"Terakhir?"
"Ketiga, aku! Aku-lah satu-satunya siswi yang berambut blonde. Jadi, sudah jelas kalau orang SMP melihatku, mereka langsung kenal siapa aku. Bahkan Tonpa sekali-pun."
Machi menutup wajahnya dengan telapak tangannya. "Baiklah, kita lihat saja. Apakah Tonpa masih mengenalmu atau tidak."
"O-oke! Jadi, kapan kencan kelompok itu di laksanakan?"
Machi menyeruput minuman yang ia pesan. "Seminggu lagi, tempatnya, di cafe ini. Setuju?"
Kurapika menarik nafas dan menahannya. Ia mengacungkan jempol ke arah Machi. "Hm!"
-oOo-
Sekarang, Kurapika sedang berada di depan kaca di rumahnya. Ia sibuk memilih baju. "Hm.. Aku pakai apa, ya?"
"Mau ikut kencan berkelompok?" Tanya seseorang di belakangnya.
Kurapika menoleh dan menutupi tubuhnya dengan baju itu. Ia melemparkan semua benda yang ada di dekatnya. "Hentai! Mesum! Aku sudah bilang padamu, agar mengetuk pintu dulu sebelum masuk! Bodoh!"
"Ba-baik. Maafkan aku! Akan kuulangi!"
Kurapika terbelalak dan tersipu hebat. "Ulangi?!"
Orang itu terkaget dan memandang Kurapika memelas. "Bu-bukan begitu maksudku.. A-aku akan mengulangi dari depan pin.."
Kurapika tiba-tiba mengeluarkan aura hitam serta, tubuhnya menjadi raksasa. (Efek marah.. Anggep aja gitu..)
Lalu, kameramen mengarahkan kameranya ke langit. Dan orang itu berteriak. "HYAAAAAAA~~~"
-oOo-
Wajahnya masih memerah padam karena kejadian tadi. "Huh! Sudah 3 tahun! 3 tahun dia seperti itu! Setiap hari! Tidak punya malu!"
TIN! TIN!
Kurapika menoleh ke sumber suara dan mendapati Machi sedang membawa mobil. Kurapika menghampirinya. "Maaf lama, Kurapika. Hina bingung memilih baju."
"Ah, lupakan. Menunggu itu biasa.." Lalu Kurapika masuk ke dalam mobil terbuka itu. "Hei, sungguh, Tonpa akan ikut? Ma-maksudku, siapa yang mau memilih dia?"
"Biarlah. Satu persatu pasangan pergi, dan menyisakan satu saling berhadapan di meja. Itulah pasangannya! Maksudku, yang bersama Tonpa..
.
.
Haha.." Ucap Machi sambil mengemudikan mobil itu. "Hina, menurutmu, siapa yang akan bersama Tonpa?"
Gadis bernama Hina itu, membuka ponselnya dan mengeceknya. "Oh, aku punya berita! Tonpa tidak jadi mengikuti kencan berkelompok!"
Kedua orang di depan itu terkaget. "Apa!?"
"Lalu, siapa yang menggantikan orang kerdil itu?!" Tanya Kurapika.
"Hm.. Yang menggantikannya adalah Feitan."
"Feitan!?" Kini Machi yang bertanya. "Oh, akhirnya ia merasakan cinta juga. Haha.."
Machi mengerem kendaraan roda empat itu. Banyak mobil yang berderet di depan mobil Machi. "Sial, macet! Kita akan terlambat! Hina, sekarang pukul berapa?"
"Pukul 9.45."
"Ah! Acaranya mulai 15 menit lagi!" Machi mengomel pada macet ini. "Kurapika, apa Shalnark mengizinkanmu mengikuti kencan berkelompok?"
"Hm.. Antara iya dan tidak.. Habisnya.."
Flashback~
"Ulangi!?"
"Bu-bukan begitu. Aku akan mengulangi dari depan pin.."
Belum sempat pemuda itu melanjutkan kalimatnya, sebuah hair drier menancap di jidatnya. "HYAAAAA~~~"
"Jadi, apakah aku boleh mengikuti kencan kelompok?"
"Te-tentu."
Kurapika tersenyum. "Ah, terimakasih!"
"Y-yo." Katanya sambil mengangkat tangan kanannya dan tangan itu terjatuh.
End flashback~
"Kejam.." Ucap Hina.
"Tu-tunggu! Itukan kecelakaan! Lagipula, siapa suruh masuk kamar tidak ketuk pintu!?"
"Bagaimanapun," Machi menancap gas di mobilnya. "Akhirnya lancar lagi. Oh, ya. Bagaimanapun, Shalnark itu kakakmu."
"Ya! Dan dia itu lelaki! Aku wanita! Tolong bayangkan itu!"
"Oh.. Ya, itu juga gawat, sih." Kata Hina. "Machi, masih jauh?"
"Tidak. Sebentar lagi." Machi mengerem mobilnya dan memarkirkan mobil itu di depan cafe. "Yup, sampai."
Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe. "Hina, sekarang pukul berapa?"
"10.01."
"Terlambat 1 menit. Tak apa. Ayo, lanjutkan." Ucap Kurapika. Lalu, mereka bertiga menuju meja yang sudah di sepakati sebelumnya. Hina duduk di paling ujung, Kurapika di tengah dan Machi di pinggir.
"Ano, maaf kami terlambat." Ucap Kurapika membuka percakapan.
"Iya. Tak apa. Kami juga baru saja datang." Jawab pria dengan rambut pirang.
"Lama tak bertemu, Kurapika."
Kurapika menoleh ke arah sumber suara dan mendapati temannya. "Oh, ya. Lama tak bertemu juga, Killua." Ucap Kurapika sambil tersenyum.
Keadaan menjadi tegang. Tak satupun dari mereka memulai percakapan lagi. Ponsel pria berambut pirang itu bergetar. "Ah, maaf."
Menyampingkan orang itu. Mereka berlima masih tetap diam. Sampai Kurapika membuka suara. "Namaku Kurapika."
"Killua."
"Machi."
"Feitan."
"Hi-hina."
Pria itu selesai berbicara dan mematikan ponselnya. "Shaiapouf."
.
.
.
"Jadi.. Apa yang akan kita lakukan, ya?" Lanjut pria berambut pirang bernama Shaiapouf itu.
TBC
-oOo-
A/N: ω I'm back! Now, how about this chapter!? I know! This is abstrak. Oh, i forget to replies the previous chapters. Now, i'll reply all the reviews! *ya, 'kan? :v*
Sends: iya :3 cerita ini memang To Be Continue :3 aku hanya lupa menuliskan kalimat "TBC" itu ω)a maaciw udah mau review, Sends({})
Nahya-Chan: bwahaha XD seeep(y) ya, Shalnark tidak seburuk yang difikirkan
VermieHans: XD sudah kembali, kok! \(^^)/ *yeeey* ngomong-ngomong Killua :3 yah, itu bagaimana imajinasimu bermain saja(?) *plak* pernah, kok XD Killua pundung? Hm.. *pensive* mungkin dia sedang naber(?) *digaplok*
