DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
SEARCHING FOR '02'...
FILE NAMED '02' HAS NOT FOUND
IN THE FOLDERS OF
THE ROOT OF THE PROBLEM'S TREE
"... Untuk membereskan serangga-serangga nakal di sekolah ini."
Shiki membelalakan matanya dengan sempurna. "HAH? Apa maksudmu? Kau—"
"Aku juga tidak mengerti apa maksudku," ucap Minato dengan sangat ringan tanpa beban seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang putih yang ia kenakan. "Aku hanya asal bicara."
Dan dapat dipastikan sekarang Shiki sedang naik pitam karena mendengar intonasi dari kalimat yang Minato lontarkan tadi.
Tangan kanan Minato menepuk sebelah kiri pundak Shiki. "Tenang saja. Aku hanya ingin memanfaatkan situasi ini." Minato mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Shiki. "Ini akan menjadi sebuah 'hal' yang sangat menarik, kawan." Setelah mengucapkan kalimatnya dengan berbisik, Minato menarik diri dan tersenyum kecil melihat raut wajah Shiki.
Kepala yang dihiasi rambut jabrik kuningnya itu hanya menggeleng-geleng pelan tidak percaya akan apa yang ia dengar barusan. "Kau benar-benar orang yang nekat." Tatapan matanya lurus ke depan memandang wajah tersenyum Minato.
Beberapa detik berlalu. Dan pada akhirnya Shiki sadar akan dari lamunan singkatnya, lalu ia tersenyum sendiri. "So..." Ia menghela napas sekali sembari memejamkan matanya. Tidak lama kemudian, ia membuka matanya dan kembali tersenyum. "Apa yang akan kita lakukan di sini, di Konoha Memoriam of School?"
"Lebih baik kita membicarakannya di dalam. Ayo, kita masuk," jawab Minato singkat, jelas, dan padat.
Minato melangkahkan kakinya dan mendekatkan barcode yang tertera di kartu tanda pengenalnya, seketika itu juga pintu terbuka dengan cara bergeser ke kanan secara otomatis. Dan melengos masuk begitu saja, meninggalkan Shiki di belakang.
"Oi," seru Shiki dengan terbata-bata, "tunggu!" Ia mengikuti apa yang dilakukan oleh Minato tadi. Dan ikut masuk ke dalam kelas. "Jadi apa yang akan kita lakukan di sini?"
Hanya itulah kalimat terakhirnya yang dapat didengar sebelum pintu yang terbuat dari mesin otomatis menutup dengan sangat rapat ruangan itu. Benar-benar ruangan yang kedap suara.
.
~Crack or Hack?~
.
Di dalam sebuah kelas Konoha Memoriam of School hanya dapat menampung maksimal dua puluh orang. Dan salah satu dari kelas itu terdapat The Four Prince of Memoriam. Setiap hari sungguh menjadi hari yang menyenangkan bagi para siswi yang satu kelas dengan mereka.
The Four Prince of Memoriam terlihat sangat tenang dan mengikuti pelajaran dengan sangat baik. Sama seperti siswa yang lainnya, mereka menyalin seluruh catatan yang ditulis oleh guru melalui laptop yang mereka bawa dari rumah masing-masing, mengerjakan seluruh tugas yang diberikan dengan tepat waktu, dan menjawab segala pertanyaan dari guru dengan sangat tepat dan jelas.
Tidak terasa bunyi bel istirahat pertama pun terdengar. The Four Prince of Memoriam itu pun langsung menuju keluar kelas mereka—lebih dahulu daripada yang lainnya—setelah memberi salam sampai jumpa kepada guru yang mengajar di kelas mereka. Hal ini dilakukan oleh mereka setiap hari agar para fansgirl mereka tidak mengepung, berteriak histeris, dan mengikuti mereka ketika menuju ruangan rahasia yang biasa mereka tempati.
Saat tiba di depan pintu ruangan yang mereka tuju. Kiba—salah satu dari mereka—menekan beberapa tombol numerik yang berada di sebelah kiri pintu dengan napas memburu karena berlari tadi. Tidak lama kemudian, pintu ruangan rahasia mereka pun terbuka sempurna dan mereka berempat langsung menyerbu masuk dan duduk di atas sofa empuk yang berada di dalam ruangan itu. Dan pada saat itu juga pintu masuk pun tertutup.
"Yahooo! Akhirnya aku dapat beristirahat dengan tenang," ucap Kiba dengan raut wajah yang senang seraya merenggangkan otot-otot badannya yang pegal.
Kabuto tertawa tertahan. "Kau selalu saja seperti ini, tapi... yah, pada akhirnya kita dapat melewati pelajaran membosankan tadi tanpa merusak image kita di depan mereka semua."
Neji menyandarkan diri ke belakang punggung sofa yang nyaman. "Jangan bersenang-senang dulu, nanti kita juga akan melanjutkan pelajaran yang menyebalkan lainnya." Iris matanya memandang seluruh pasang mata teman-temannya.
"Wow, ternyata sifat yang sebenarnya penerus klan Hyuuga seperti ini... Aku takut," ejek Kiba yang hanya direspon oleh senyuman nakal khas Neji.
Seketika tawa kesenangan mereka menggema di ruangan itu.
"Bagaimana kalau kita minum minuman bersoda seperti... Ada yang mau Coca-cola?" tawar Sasori kepada yang lainnya, dan dijawab oleh sebuah anggukan dari Neji dan Kabuto serta sorakan meminta dari Kiba.
"Kenapa tidak meminum wine saja? 'kan lebih enak," saran Neji dengan senyuman mematikannya.
Suara decakan berkali-kali terdengar dari arah pemuda berkacamata dan berambut putih seraya menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan. "Neji, kata guru dan orangtua kita, kita tidak boleh meminum hal yang berbau alkohol jika masih di bawah umur... apalagi kita ini masih kecil, masih sekolah," celetuk Kabuto dengan nada seperti orangtua yang memberi nasehat kepada anaknya.
Sekali lagi, tawa girang mereka mengisi kesunyian di ruangan ini. Sepertinya mereka sungguh bahagia.
Dengan perlahan, Sasori menuangkan sebotol Coca-cola yang mempunyai isi bersih 1 liter ke dalam empat buah gelas bening yang sudah terdapat di atas meja kecil di depan sofa mereka. Setelah selesai, ketiga gelas lainnya langsung diserbu oleh tiga orang temannya.
Kiba menaikkan gelas yang berisi Coca-cola-nya ke udara. "Baiklah, bagaimana kalau kita bersulang sebagai tanda keberhasilan kita karena tetap dapat menahan image kita sampai sekarang?"
"Setuju," jawab Kabuto, Neji, dan Sasori dalam waktu yang bersamaan.
Mereka pun saling mendekatkan gelas mereka satu sama lain dan mengucapkan kata, "CHEERS!" Seketika bunyi dentingan gelas-gelas mereka menambah keramaian di ruangan itu.
Mereka meminum minumannya masing-masing hingga habis dan menambahnya beberapa kali. Dan mereka menyudahi acara sulang-bersulang mereka setelah bunyi bel pertanda pelajaran selanjutnya akan dimulai terdengar oleh gendang telinga mereka.
.
~Crack or Hack?~
.
"Jadi... APA YANG AKAN KITA LAKUKAN SEKARANG, SASUKE?"
Jika mendengar kalimat ini berarti itu pertanda bahwa kita kembali ke ruang kelas rahasia kedua orang pemuda tamu Konoha Memoriam of School. Tunggu, 'Sasuke'?
Shiki mendekat ke rekannya yang terlihat dengan jelas sedang tidur melintang di atas sofa panjang berwarna merah menyala yang memang dikhususkan sebagai kursi santai mereka di sana. "SASUKE, BANGUN!" Kedua tangan Shiki bergerak untuk mengguncangkan badan rekannya yang sedang tertidur agar segera bangun dan menjawab segala pertanyaannya.
Kelopak matanya yang sedari tadi menutup—perlahan tapi pasti—terbuka sedikit memperlihatkan sebuah iris yang berwarna hitam legam bagaikan batu permata onyx. Kepalanya ia tolehkan ke sosok rekan setianya itu. "Kau tahu, Naruto? Kemarin aku tidak tidur seharian karena menyiapkan segala perlengkapan yang kita butuhkan untuk hari ini, tahu tidak?" Dengan santainya, ia berguling memunggungi rekan kerjanya dan berusaha kembali ke alam mimpi indahnya. Dan... 'Naruto'?
Oh, baiklah, kita telah mengetahui bahwa nama kecil mereka berdua yang sebenarnya adalah Sasuke dan Naruto.
Tangan kanan Naruto memukul keras bagian punggung Sasuke. "Kau dari pertama masuk ke kelas ini sudah tidur, kau bilang kau akan memberitahu jawaban dari pertanyaanku tiga jam lagi. Dan sekarang..." Naruto mengulurkan pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan berwarna emas ke hadapan wajah Sasuke, sedangkan jari tangan kanannya membuka salah satu kelopak mata kanan Sasuke, "...sudah waktunya untuk kita segera pulang."
Sontak Sasuke membangunkan badannya dan merubah posisi tidurnya menjadi duduk bersila. "What?" Tatapan matanya tertuju ke arah Naruto.
Sedangkan Naruto hanya terbahak-bahak melihat kelakuan konyol rekannya yang satu itu. "Slow down, Sasuke! Aku hanya mempercepat jam arlojiku, kok," ucap Naruto diikuti tawa kecikikan darinya.
Saat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Sasuke dengan cepat menjitak kepala Naruto dengan sangat kencang. Dan merubah tatapan matanya menjadi tatapan deathglare yang disertai aura gelap pekat di sekelilingnya.
"Aduh, Sasuke! Sakit tahu!" Kepalanya yang terkena sebuah jitakkan dari Sasuke—tanpa pelindung dan pengelak sedikit pun—ia usap-usap guna meredam rasa sakit yang ia rasakan.
Sasuke memalingkan wajahnya dari Naruto. Tatapan matanya masih tidak fokus. "Siapa suruh kau membohongiku, pada akhirnya kau terkena batunya, 'kan?"
Naruto hanya menghela napas. Berusaha menyudahi perang mulut ini dengan kemenangan sang pemuda yang bernama samaran Narukami Minato. "Iya, iya. Maka dari itu, sekarang beri aku jawaban dari pertanyaan yang kukatakan tadi."
Wajah bertampang emo-nya tampak sedang berkeliling ke segala arah mencari sesuatu di sekitarnya. "Memangnya sekarang sebenarnya jam berapa?"
"Tepat tiga jam setelah kau tidur tadi."
Ia tampak berpikir, membuat otaknya bekerja dari tidur—yang menurutnya—singkat selama beberapa jam yang lalu. "Berarti sekarang kurang-lebih jam satu siang." Tangannya bergerak untuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dan memberi sedikit sentuhan olahraga kepada lehernya.
"Jadi, jawabannya?" Mata Naruto menatap Sasuke dengan penuh pengharapan.
Sasuke hanya dapat memutar bola matanya dan segera beranjak menuju wastafel yang ada di dalam kelas mereka. Sebenarnya ini kelas atau kamar?
Naruto berdecak kagum. Arah pandangannya mengarah ke tempat Sasuke berada. "Bahkan rekanku yang satu ini terlihat lebih tampan dengan rambut berantakan dan tampang bangun tidurnya."
Sasuke tersenyum tajam dengan mata kantuknya. "Selalu." Tangannya bergerak untuk membuka keran dengan cara menekannya, mengambil air dengan kedua tangannya, dan membasuh mukanya agar terlihat lebih segar. Dan tidak lupa membasahi sedikit rambutnya agar nanti mudah ditata kembali dengan rapi.
"Ah, bahkan dengan gaya wajah dan rambut basah seperti ini ia masih tetap terlihat sangat keren," tambah Naruto.
Tangan kanan Sasuke mengambil sebuah dari dua handuk kecil berwarna putih yang tergantung di sebelah wastafel, dan mengusapkannya ke wajah lalu rambutnya. "Berhentilah memujiku jika kau memang terpaksa."
Naruto melipat kedua tangannya di depan dada. "Hm? Aku tidak terpaksa, kok... Pujian itu jujur dari lubuk hatiku yang terdalam. Bukankah kau tahu bahwa aku tidak dapat berbohong dikarenakan sifatku yang mudah mengatakan terang-terangan? Dibandingkan dengan kata berbohong, aku lebih suka mengunci mulutku rapat-rapat," tutur Naruto panjang lebar mengenai dirinya sendiri.
"Hn. Kalau begitu, terima kasih atas pujiannya, Kawan." Sasuke tersenyum sembari meletakkan handuknya yang barusan ia pakai untuk mengeringkan wajah dan rambutnya yang basah.
Sebuah cengiran andalan Naruto keluar dengan sangat tulus. "Kalau begitu... sama-sama, Kawan."
"Kau ingin mengetahui apa yang sebenarnya akan kita lakukan di sini, bukan begitu?" Sasuke melangkahkan kakinya yang panjang menuju kursi—lebih tepatnya sofa—belajar yang berada di dalam kelasnya dan mendudukkan dirinya di sana, di sofa belajar panjang berwarna cream yang dapat diduduki oleh dua orang itu. Kedua sikut tangannya menumpu pada atas meja belajar yang berwarna sama dihadapannya dan berukuran sama panjang dengan sofa-nya.
"Tentu! Aku sangat ingin tahu!" jawab Naruto dengan sangat antusias di nada bicaranya.
"Kalau begitu..." Sasuke mengerlingkan tatapannya ke arah Naruto, salah satu sudut bibirnya tertarik, dan memberi kode pada Naruto dengan jari telunjuk tangan kirinya agar ia segera mendekat dan duduk di sebelahnya.
Melihat kode yang diberikan Sasuke kepadanya, membuat semangat dan cengiran Naruto muncul kembali. Dan dengan cepat ia segera memberanjakkan kakinya dari tempat pijakannya tadi menuju ke arah Sasuke dan duduk di sebelahnya.
"Jadi... Apa yang akan kita lakukan di sekolah ini?" Naruto mengulang pertanyaannya seraya mencari posisi yang nyaman untuk duduk.
"Kita akan mencari sesuatu yang disembunyikan oleh pihak sekolah ini, dengan cara bergerak dibalik layar, yang berguna bagi perlengkapan kita di hari yang akan datang." jawab Sasuke seraya membuka tas ransel yang sedari tadi dibawanya, dan mengeluarkan isinya yang ternyata sebuah laptop Apple IMac yang sudah dipersiapkannya sedari tadi.
Raut wajah Naruto mengartikan bahwa ia sedang memikirkan apa yang dikatakan dan dilakukan Sasuke tadi. "Kita sudah disediakan oleh sekolah ini sebuah laptop, yah... walau bukan laptop yang sekelas dengan yang kau bawa, tetapi untuk apa kau membawa laptop lagi? Merepotkan saja."
Telunjuk kiri Sasuke mengacung ke atas dan menggerakannya ke kiri dan kanan, lalu ia berdecak tiga kali. "Ini hanya untuk jaga-jaga, Naruto." Kedua tangannya kembali bekerja untuk membuka kedua laptop—satu laptop milik sekolah Konoha Memoriam of School berwarna coklat, serta yang satu lagi laptop yang ia bawa dari rumahnya berwarna silver—dan menekan power on dari masing-masing laptop yang ada di depan matanya.
'SELAMAT DATANG DI KONOHA MEMORIAM OF SCHOOL!' Suara ini berasal dari laptop sekolah yang telah dinyalakan.
Secara bersamaan kepala Sasuke dan Naruto menoleh ke arah sumber suara. Lebih tepatnya menoleh ke arah layar laptop yang mengeluarkan lambang sekolah Konoha Memoriam of School. Dan secara bersamaan pula mereka saling tersenyum kecil sembari menatap layar laptop.
'SILAKAN MEMASUKI IDENTITAS DIRI ANDA'
Secara teliti dan seksama Sasuke memasukan identitas mereka berdua sebagai berikut:
GUEST 1
Name:
Narukami Minato
Age:
15
Which School are You From:
[Sasuke memilih nama daftar sekolah yang telah tersedia dengan cara menge-scroll nya ke bawah]
Konoha School of Art, Science, and Public Relations
Code of Barcode:
01 || 627854 || 646286 ||
GUEST 2
Name:
Shirozaki Shiki
Age:
15
Which School are You From:
[Sasuke melakukan hal yang sama seperti sebelumnya]
Konoha School of Art, Science, and Public Relations
Code of Barcode:
02 || 746925 || 744540 ||
Setelah selesai mengisi semua formulir identitas tersebut, Sasuke meng-klik tombol 'OK' dengan menggunakan mouse touch pad yang menurutnya manual jika dibandingkan dengan laptopnya yang lain, bukan yang ia bawa.
'IDENTITAS ANDA SEDANG DIKONFIRMASI'
Beberapa detik kemudian laptop itu mulai mengeluarkan suaranya kembali.
'PROSES KONFIRMASI DATA SUKSES'
'SELAMAT MENGGUNAKAN, TERIMA KASIH'
Layar laptop pun kini berubah menjadi tampilan Windows 7 dengan disertai beberapa operation system dan software microsoft yang biasa murid-murid sekolah Konoha Memoriam of School pakai setiap hari.
"Heh, so outdated," celetuk Sasuke setelah melihat tampilan windows laptop sekolah itu.
"Jangan seperti itu, Sasuke... Bagi mereka, jika bersekolah menggunakan laptop seperti ini sudah dapat dibilang elit."
"Iya, iya... Aku tahu itu."
Tercipta kesunyian sejenak di antara mereka.
Naruto menoleh ke arah Sasuke dan mencubit lengan kiri atas Sasuke dengan sangat gemas. "Katanya kau akan memberitahu jawabannya!" ucapnya seraya masih menahan cubitan jarinya di tangan Sasuke.
Terlihat tepat di raut wajahnya, Sasuke sedang menahan sakit cubitan yang dapat dibilang lumayan oleh dirinya. "Sakit, bodoh! Lepaskan!" Sasuke mengibaskan tangan kanannya yang bebas ke arah tangan Naruto yang mencubit lengannya.
Karena merasa sakit dengan kibasan tangan Sasuke, akhirnya Naruto pun melepaskan cubitannya. "Makanya, beri tahu aku!"
Sasuke mengusap pelan bagian lengannya yang terkena cubitan mautnya Naruto. "Bukankah sudah kuberitahu?"
"Please, Sasuke... Tolong menjelaskannya dengan menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti. Jangan pakai bahasa yang rumit dan berputar-putar seperti tadi," komentar Naruto panjang lebar terhadap kalimat yang Sasuke gunakan tadi saat menjawab pertanyaannya.
"Makanya, belajar menggunakan bahasa yang rumit." Dengan santainya, jari Sasuke menyentil dahi Naruto.
Sang empunya dahi hanya dapat meringis kesakitan. "Aduh, sakit tahu!"
"Iya, iya. Aku juga sudah tahu itu sakit."
Naruto meredam amarahnya dan kembali melontarkan hal yang ingin ia ucapkan tadi. "Jadi... sebenarnya kita datang ke sini untuk apa? Bahkan sampai menyamar dengan menggunakan nama asing. Untuk apa?"
Sasuke menghela napas selama beberapa detik lamanya. "Baiklah, sahabatku yang setia dan rupawan, aku akan menjelaskan maksud tujuan kita ke sini secara jelas dan terperinci. Kita mulai dari bagian paling awal."
Mereka pun memposisikan duduk mereka dengan saling menyerong ke arah lawan bicara satu sama lain.
"Sebenarnya bukan kita yang diperintahkan untuk menyanggupi program pertukaran pelajar yang ditawarkan Konoha Memoriam of School, melainkan orang lain."
Mata Naruto terbelalak. "What? Jadi bukan kita yang di—"
"Dengarkan pembicaraanku dulu hingga selesai, baru utarakan apa yang ingin kau katakan nanti." Sasuke menatap Naruto intens.
Seketika itu juga Naruto diam seribu bahasa, karena ia baru ingat jika pembicaraan rekannya yang satu ini dipotong, maka jangan harap ia akan meneruskan perkatannya. Berhubung Naruto adalah sahabat terdekatnya sejak kecil, jadi... yah, Sasuke cukup bersabar meladeninya.
Sasuke berdeham kecil. "Aku melakukan perbincangan tersembunyi dengan kepala yayasan sekolah kita, pembicaraan itu berisi: Aku menawarkan diri atau lebih tepatnya meminta izin untuk menggantikan dua orang siswa sekolah kita bersama denganmu, tapi dengan satu kesepakatan yakni kepala yayasan mengizinkan aku menggantikan dua orang yang diperintahkan untuk datang ke sekolah ini, asalkan nilai ulanganku dipotong hingga batas standard nilai selama sebulan penuh. Dan aku menyetujui permintaannya, tetapi dengan sebuah permintaan dariku yaitu menyamarkan nama identitas diri kita, dengan kata lain aku mengikuti program tersebut, tetapi namaku dan kau disamarkan.
"Dan pada akhirnya sampailah pada hari dimana aku mengajakmu untuk mengikuti program pertukaran pelajar ini, menyuruhmu untuk menggunakan nama Shirozaki Shiki dan memanggilku dengan nama Narukami Minato selama berada dalam lingkungan sekolah ini."
Diam sejenak.
"Sudah?" tanya Naruto dengan perasaan takut akan memotong penjelasan panjang dari Sasuke.
"Hn."
"Boleh aku mengutarakan semua pertanyaanku sekarang?"
"Hn."
Senyuman Naruto kembali muncul ke permukaan. Saat membuka mulut dan hendak mengeluarkan segala pertanyaannya, aksinya dipotong penambahan kalimat oleh Sasuke.
"Satu persatu." Sasuke menegaskan dengan sangat perlahan.
Naruto memutar bola matanya. "Iya." Matanya kembali fokus ke arah Sasuke. "Pertama, kenapa kau menawarkan diri atau lebih tepatnya meminta izin kepada kepala yayasan agar kau menggantikan dua orang siswa yang sudah dipilih olehnya?"
"Karena aku telah memikirkan suatu hal, dan salah satu cara agar dapat menuju ke garis finish adalah dengan menggantikan kedua siswa yang sudah dipilih oleh kepala yayasan tadi."
Naruto mengangguk pelan sebanyak dua kali. "Memangnya apa tujuanmu datang ke sekolah ini?" Ia melanjutkan pertanyaannya.
"Seperti yang telah kujelaskan sebelumnya, aku datang kesini untuk mengambil paksa dokumen rahasia sekolah Konoha Memoriam of School dengan cara bermain di balik layar," tutur Sasuke secara perlahan kata demi kata.
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Singkatnya?"
Pemuda pemilik nama kecil Sasuke berpikir sejenak. "Mungkin bisa dibilang... mencuri?" Sasuke tersenyum penuh arti dan maksud kepada Naruto.
Mendengar kata 'mencuri' membuat Naruto terlonjak karena terkejut. "What the—? Mencuri? Kau gila! Dengan cara apa kita mencuri?"
"Hn? Mendengar lontaran kalimatmu tadi, berarti kau sudah setuju akan berkerja sama denganku?"
"Aku... itu... anu..." Naruto sekarang menjadi gugup setengah mati karena ucapan Sasuke dan tatapan mata onyx-nya sekarang ini. Kini ia mencari-cari kata yang tepat di dalam pikirannya. Naruto mengembuskan napas melalui mulutnya. "Baiklah, aku akan bekerja sama denganmu. Tapi, dengan satu syarat."
Sasuke memiringkan kepalanya sedikit dan menunggu kalimat Naruto selanjutnya.
"Syaratnya... tempatkan aku dalam posisi yang sangat aman dan tidak melebihi skill-ku."
Sekarang Sasuke hanya dapat tertawa kecil dengan sedikit tertahan. "Kalau itu aku sudah tahu, tenang saja... kau akan aman." Sasuke menepuk pundak kanan temannya. "Dan juga akan bersenang-senang." Sasuke melepaskan tepukan pundaknya dari Naruto setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
Yang dapat Naruto lakukan sekarang hanyalah menghela napas sedalam-dalamnya dan membuang jauh-jauh segala pemikiran negatif mengenai apa yang akan terjadi kepada mereka berdua, khususnya dirinya sendiri. "Jadi, kapan kita akan melakukan aksi gila ini?"
Tepat setelah Naruto menyelasaikan kalimatnya, bunyi bel pertanda kegiatan belajar mengajar—Konoha Memoriam of school hari ini—telah selesai terdengar hingga ke gendang telinga mereka berdua.
Sasuke menyeringai hebat karena mendengar bunyi bel berakhirnya proses belajar mengajar sekolah ini.
Perfect timing! ucap Sasuke di dalam hatinya.
Melihat Sasuke yang menyeringai seperti ini, membuat Naruto menelan paksa air liurnya selama sekali. "Jadi?"
Seketika itu juga mata onyx Sasuke berubah menjadi sebuah iris mata berwarna merah yang dikelilingi oleh tiga buah tanda koma berwarna hitam dengan sebuah lingkaran kecil yang juga berwarna hitam tepat di tengah-tengahnya.
Mata merah-nya menatap iris aquamarine Naruto dengan sangat dalam disertai dengan seringaian tajamnya. "Sekarang."
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Minggu | Jakarta, 20 Mei 2012 | Pukul 20.39 WIB
Reply of Review:
MerisChintya97: Chapter 1 memang belum dijelaskan apapun, anggap saja sebagai prolog cerita. Maaf tidak bisa update kilat. Terima kasih sudah me-review!
Cherry: Ini sudah ada kelanjutannya. Terima kasih sudah me-review!
Milkyways99: Salam kenal juga! Terima kasih atas pujian dan review-nya. Maaf tidak bisa update kilat, seperti apa yang sudah tertulis di "WARNINGS".
Love Foam: Like what you get in this chapter, MinaShiki was another SasuNaru name. Semoga saja "CrackHackerz" ini bisa menjadi fict yang dag-dig-dug dan bisa membuatmu speechless seperti apa yang kau katakan. Biar lebih singkat, panggil aku Cergo. Terima kasih sudah me-review!
Dikdik717: Jika sudah membaca ini pasti sudah tahu MinaShiki itu nama samaran siapa, 'kan? Terima kasih sudah me-review!
Shaun: Satu suara darimu sudah kupertimbangkan. Dan untuk nama MinaShiki sepertinya sudah tahu dari cerita di atas, ya. Terima kasih sudah me-review!
Sky no Raven: Iya, MinaShiki = SasuNaru. Terima kasih atas semangat dan pujiannya. Thanks for your review!
Yuuki Edna: Fict ini menceritakan tentang... entahlah, lihat saja nanti perkembangannya. Terima kasih sudah me-review!
Scarlet24: The next chapter was update. Thanks for your review!
Pinky Blossom: Sakura munculnya saat peran dia sudah ada, sering berjalannya waktu dia pasti muncul, kok. Alasan SasuNaru memakai nama samaran sudah dijelaskan di chapter ini, kayaknya... Tidak apa banyak tanya. Terima kasih atas review-nya dan salam kenal juga!
Eunike Yuen: Fict ini sudah lanjut, kok. Terima kasih atas pengoreksiannya, aku sudah mengerti. Semoga saja kelanjutannya berbeda dari bayanganmu, biar seru... Kalau sudah kebaca jadi tidak enak. Terima kasih sudah me-review dan support!
Karikazuka: Yo, Cintya! Kamu menganga karena fict-nya berbeda atau sama kerennya denganku? *laughing* Kita memang saling kurang mengetahui satu sama lain, dan semoga saja bertambah dengan adanya chat antara kita. Terima kasih atas review dan support-nya!
Dark Courriel: Memangnya fict ini ada unsur mystery-nya, ya, sehingga menjadi misterius? Maksud dari The Fou Prince of Memoriam akan dijelaskan satu-persatu seiring berjalannya waktu. Mengenai indentitas mereka, sepertinya sudah kau ketahui di chapter ini. Yang hanya bisa kuberitahu, Sakura akan mendapatkan peran tak terduga di sini. Jatuh cinta? Jangan jatuh nanti sakit, lho. Tiap chapter mempunyai batasan halaman atau words tersendiri, atau mungkin sesuai dengan imajinasiku saja to be contined-nya di mana. Terima kasih atas pujian dan review-nya!
Racchan Cherry-desu: Chapter selanjutnya sudah di-update. Seperti cerita di atas, MinaShiki adalah nama samaran. Sorry tidak bisa update kilat. Terima kasih sudah me-riview!
Hikaru: Yoroshiku mo, paggil saja Cergo, tak perlu lengkap. Kau berniat membaca LIN? Kalau begitu, terima kasih ya! Untuk masalah review, kalau kau masih belum punya akun tidak apa-apa, kok. Aku menghargainya dan yang terpenting kau berani muncul ke permukaan. Dan untuk segala pertanyaanmu pasti akan terjawab chapter demi chapter fict ini. Terima kaish sudah me-review!
Uchiharuno susi: Sudah di-update. Thanks for your review!
Alifa Cherry Blossom: Iya, MinaShiki = SasuNaru. Sakura akan keluar jika perannya sudah muncul. Tenang saja, aku ini 'makhluk lingkar panah' yang baik-baik, kok... Mungkin. Terima kasih sudah me-review!
KuroYupi: Salam kenal! Fict ini menarik? Kalau begitu, sudah baca chapter ini? Maaf tidak bisa update kilat. Terima kasih sudah me-review!
A Lii Enn: Sudah lanjut. Terima kasih sudah me-review!
VanadiumSasuSaku: Karakter dari fict ini... yah, karakter yang paling sering muncul. Sudah tahu? Tak apa banyak tanya, daripada nanti tersesat. Thanks for your like and review!
Minori Tsukiyoru: Kelanjutannya sudah update. Maaf tidak bisa update kilat. Terima kasih sudah me-review!
Uchiha jidat: Sudah lanjut. Kalau penasaran, sudah baca chapter ini? Terima kasih sudah me-review!
Permen Caca: Terima kasih atas pujiannya. Aku berkembang jauh pake banget juga karena masukkan para pembaca dan kamu melalui review, kok. Untuk tahu bagaimana bentuk Lamborghini Reventon itu bisa kamu googling nanti muncul gambarnya. Sudah baca chapter ini? Terima kasih sudah me-review!
Thanks for your like to this fict, "CrackHackerz".
Sorry for all miss typo and another mistakes! I will correct it later if I have leisure.
And for the last words...
"Get ready for the next chapter!"
Signature,
Huicergo Montediesberg
