The Rules of How to Read The Title of This Fiction:
Tiap chapter memiliki 4 baris pada judul chapter-nya, layaknya sebuah pantun yang terdiri dari sampiran dan isi, tetapi dalam versi fict ini sendiri.
Baris pertama adalah sampiran(hanya sebuah kata-kata).
Baris kedua adalah isi—yang berisi beberapa digit angka yang menunjukkan urutan chapter.
Baris ketiga adalah sampiran lagi(hanya sebuah kata-kata juga).
Baris keempat adalah isi lagi—yang berisi judul chapter tersebut.
.:: Tujuan: Agar lebih terasa "CrackHackerz"-nya dan beda dari yang lain.
Just it, no more.
DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
COMPUTER WAS TRYING TO OPEN ALL DATA...
THE 3 OF ALL DATA HAS BEEN CORRUPTED
BY
UNKNOWN VIRUS
"Sekarang."
Pernyataan tiba-tiba Sasuke membuat Naruto mengerjapkan matanya selama berkali-kali. "Hah? Apakah aku tidak salah dengar?"
"Kita tidak beraksi sekarang." Arah pandangan Sasuke menuju ke sebuah jam analog yang berada di sudut kanan bawah laptop sekolah, lalu tersenyum kecil. " Tetapi, kita mempersiapkan aksi kita sekarang."
"Dengan?" tanya Naruto dengan menautkan kedua alisnya.
"Untuk apa jika kita mempunyai dua buah laptop tetapi tidak digunakan melebihi batas maksimal?"
Tiba-tiba saja Naruto teringat sesuatu. "Ah, OK. Kurasa aku dapat membantumu." Naruto mengambil alih laptop Konoha Memoriam of School dari depan mata Sasuke. "Ini, sih, kecil," Dengan sangat lancar, Naruto mulai menggerakkan jemari tangannya untuk melakukan sesuatu terhadap keyboard laptop itu.
Melihat tingkah Naruto saja dapat membuat Sasuke tersenyum senang. "Hn, ini baru namanya sahabat. Sekarang..." Sesaat Sasuke berfokus pada layar laptop-nya saat ini, "...dengarkan segala instruksiku, mengerti?"
"Roger that!"
Naruto memulai aksinya dengan menggunakan segala pengetahuan dan kemampuannya di bidang teknologi informasi yang memang sudah menjadi keahlian sekaligus sahabat-nya itu. Merasa risih diperhatikan oleh Sasuke, akhirnya Naruto pun mengungkapkan kalimatnya, "Sasuke, bisakah aku menghilangkan sharingan-mu? Matamu itu membuat perasaanku tidak enak. Lagi pula, kau tidak perlu menggunakan sharingan ketika melakukan pekerjaan kecil seperti ini, 'kan?"
"Oh, maaf." Sasuke mematikan sharingan-nya yang sempat aktif karena terbawa emosi dan suasana. "Terima kasih sudah memberitahu." Ia diam sejenak. "Apakah kau menemukan keganjalan di dalam laptop itu?" tanya Sasuke yang dimana jemari dan matanya masih berfokus terhadap laptop yang dibawa olehnya.
"Hmm... tunggu," Naruto terus mengetik tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depan matanya. Dan pada akhirnya, jari tangan Naruto yang menari di atas keyboard berhenti bergerak setelah menekan tombol enter dengan sangat keras hingga menghasilkan bunyi yang dapat dibilang cukup kencang. "OK, Sasuke! Tidak ada virus, penyidik, mata-mata, atau apa pun itulah di dalam laptop ini, dengan kata lain..."
"Objective complete!" ucap mereka bersamaan seraya memalingkan wajahnya masing-masing sehingga saling berhadapan satu sama lain dan saling melemparkan senyuman andalan mereka. Lalu, kembali menolehkan wajah mereka ke hadapan layar monitor laptop masing-masing.
"Hei, Naruto, cepat kau cari semua data-data sekolah ini dengan cara mengakses jalur web rahasia sekolah Konoha Memoriam of School," perintah Sasuke selanjutnya akan apa yang Naruto lakukan sekarang.
Jemari tangannya yang berkulit tan dengan lincahnya melompat-lompat ke sana-ke mari tanpa berhenti dan juga tanpa memalingkan tatapan matanya dari layar laptop, sungguh luar biasa pemuda ini.
Selama beberapa menit ia mencoba memasuki jalur akses web yang diperintah Sasuke, akhirnya ia menanggapi jawaban dari perintah rekan di sebelahnya tadi. "Teme, aku berhasil menemukan dan mengakses web yang kau katakan tadi. Tapi, dia meminta sebuah password untuk masuk ke dalam web ini. Dan kita hanya diberi lima kali kesempatan."
Sasuke mengernyitkan dahinya, berpikir keras untuk menemukan jalan keluar masalah ini. "Dobe, coba kau ketik berbagai kata kunci yang menurutmu berhubungan dengan ini."
"Baiklah, aku akan mencobanya." Naruto berpikir sesaat, lalu menjentikkan jarinya. "Aku akan mencoba masukkan angka barcode-ku." Secara cepat jari-jari tangannya memasukkan beberapa angka yang dimana angka-angka tersebut adalah urutan nomor barcode untuk dirinya di sekolah ini, lalu menekan tombol ENTER.
'PASSWORD YANG ANDA MASUKKAN SALAH'
Naruto berdecih pelan. "Jika nama kartu tanda pengenalku?" Jarinya kembali mengetik, bedanya sekarang ia memasukkan berbagai huruf alfabet yang merangkai nama samaran yang ia gunakan sebagai nama tanda pengenal kartu di sekolah ini.
'PASSWORD YANG ANDA MASUKKAN SALAH'
"Aish!" umpat Naruto. "Sekarang sisa tiga kali kesempatan, jika gagal tamat-lah kita." Ia memberi penekanan nada pada kata 'tamat' dalam kalimatnya.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Hn? 'Tamat'? Memangnya kenapa? Apakah mereka memakai kode binary yang mempunyai arti tertentu dalam rancangan website mereka?"
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. "Bukan kode yang khusus, tapi tampaknya kode tersebut adalah hasil dari buatan tangan mereka." Ia menjepit dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya. Pose berpikir. "Aku belum pernah melihat kode seperti ini sebelumnya."
Otak Sasuke kembali berputar untuk memikirkan sebuah klu dari password tersebut. "Jika ini web rahasia, kemungkinan besar password-nya adalah kata-kata yang diketahui secara umum terutama oleh orang belakang," ucap Sasuke dengan diseret-seret.
Perkataan yang diucapkan secara perlahan oleh Sasuke mampu membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya. Mencoba memprosesnya, tetapi tidak bisa.
Sasuke menyandarkan punggungnya ke bantalan punggung sofa yang empuk tepat di belakangnya, memejamkan matanya sesaat, dan menghela napas pelan. "Jika sudah seperti ini..." Kelopak matanya terbuka seraya tersenyum kecil. "Mau bagaimana lagi?"
Naruto menghadapkan badannya ke arah Sasuke. "Maksudmu? Kita menyerah begitu saja?" ungkap Naruto tidak percaya.
Sasuke memiringkan kepalanya agar dapat melihat wajah Naruto dengan jelas. "Hn, kita akan menggunakan sedikit pemaksaan, dengan kata lain..." Onyx-nya menatap lurus ke depan, "...kita akan mengadakan pesta tanpa undangan, kawan. "
Mulut Naruto terbuka sedikit. "Kau ingin melakukan aksi gilamu sekarang?"
Pertanyaan Naruto hanya dijawab sebuah 'hn'-an ala Sasuke.
"Oh, no, no,no, Sasuke... Kau tak dapat melakukan hal itu," ucap Naruto seraya menjauhkan tubuhnya yang tanpa ia sadari telah tercondong ke arah rekan berambut ravennya, dan mengacungkan jari telunjuk kirinya ke atas dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan.
"Hn? Kenapa aku tidak boleh melakukannya?" ucap Sasuke sembari melipat kedua tangannya yang kekar di depan dadanya dengan masih bersandar di sofa.
Naruto tersenyum meremehkan. "Heh... Bagaimana jika kita ketahuan melakukan hal seperti itu? Saat kita berhenti di depan gerbang sekolah ini, aku sudah menemukan beberapa kamera CCTV yang selalu aktif dua puluh empat jam nonstop untuk melihat segala aktivitas di sekolah yang ada. Dan pastinya mereka memiliki beberapa pengawas yang selalu ready and stand by di suatu tempat," tuturnya dengan tempo yang cepat.
Saat Sasuke hendak mengatakan suatu hal, Naruto mendekatkan acungan telunjuknya ke arah mulut Sasuke, beberapa sentimeter di depan bibir Sasuke. "Jangan bertanya bagaimana dengan gedung sekolahnya, Sasuke... Gerbangnya saja sudah dijaga ketat seperti itu, apalagi di dalam gedungnya? Secara otomatis pasti lebih ketat," lanjut Naruto tanpa henti dengan tempo yang sama.
Pemuda berkulit putih porselen ini sudah muak akan kelakuan dan apa yang tadi rekannya katakan panjang lebar. Tangan kanannya menepis jari Naruto yang masih berada beberapa sentimeter di depan bibirnya dengan satu hentakan kencang. "Dengarkan dulu penjelasan dariku, Dobe. Jangan asal main cecar saja."
"Aduh, aku tahu... Baiklah, apa yang ingin kau ucapkan tadi?" Tangan kirinya mengusap-usap tangan kanannya yang baru saja terkena sebuah armagedon dari tangan dewa rekannya.
"Dengar baik-baik, kawan. Kau pikir aku datang ke sini tanpa membawa 'perbekalan' terlebih dahulu? Kau pikir aku di rumah hanya menyiapkan sebuah laptop untuk 'perbekalan'-ku di sekolah ini? Jika memang itu yang telah kau pikirkan di dalam otakmu, berarti jawabanmu salah besar."
Naruto menyipitkan matanya. "Jadi? Perbekalan apa yang telah kau bawa selain laptop mu itu?"
Tangan kanan Sasuke merogoh saku celana sebelah kanannya. Dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi. "Ini dia kawan kecil kita yang akan ikut berpartisipasi dalam 'pesta tanpa undangan' kita ini." Sasuke menunjukkan benda apa yang berhasil ia dapatkan dari saku celana panjang putihnya di depan wajah Naruto, seraya menampilkan seringaian tajamnya.
Iris aquamarine Naruto memandang dengan seksama benda apa yang dipegang oleh Sasuke sekarang, serta membiarkan otaknya berputar sejenak. "Untuk apa benda itu?"
"Benda ini adalah virus—"
Naruto memotong pembicaraan Sasuke. "Hah? Virus? Sekali dilihat itu juga sebuah kotak yang hanya berisi sebuah memory card yang berjenis micro SD."
Dengan geram, Sasuke memukul kepala Naruto dengan sebuah kepala tangan. "Aku juga tahu! Dan aku belum selesai menjelaskan."
Naruto tersenyum canggung sambil tertawa kecil. "Maaf, silakan lanjutkan."
"Ini adalah virus hasil buatanku sendiri selama berhari-hari di rumah sebelum kita berangkat menuju ke sekolah ini, dan aku mengemas virus ini dalam sebuah empty software yang juga kubuat sendiri dengan gabungan antivirus di dalam sistem operasi software itu, sehingga virus ini tidak dapat menyebar ke mana-mana. Dengan kata lain, hanya dapat berada dalam satu tempat yakni software buatanku, yang menjadi wadahnya. Kemudian aku memasukkannya ke dalam memory card ini."
Naruto menggaruk-garukkan belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ano, bisa tolong dijelaskan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh otakku saja?"
Sasuke menghela napas dalam. Selalu saja seperti ini, batinnya. "Coba otakmu bayangkan jika virus diibaratkan sebuah air, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah paper clip sebagai pengibaratan empty software buatanku, lalu aku masukkan lagi ke dalam sebuah plastik yang berukuran lebih besar dari paper clip itu sendiri. Mengerti?"
Kedua telapak tangannya saling ia tabrakan satu sama lain, posisi menyilang. "Oh, jadi begitu... Nah, kalau sekarang, 'kan, aku bisa paham," ucapnya dengan sedikit nada kesombongan di kalimatnya.
Melihat reaksi Naruto yang seperti itu membuat Sasuke memutarkan bola matanya seraya mengalihkan pandangannya menuju ke arah yang lain. Untung aku sabar dengan sahabatku yang satu ini, kalau tidak... pasti sekarang dia sudah tidak berbentuk jadi manusia, pikir Sasuke.
"So, apa yang akan kita lakukan dengan segala 'perbekalan' mini yang kau bawa itu?"
Mata Sasuke melirik ke arah Naruto disertai senyuman mautnya. "Lihat apa yang akan kulakukan dengan teman kecil kita yang satu ini."
Dengan sigap, tangan Sasuke membuka kotak kecil berbentuk persegi yang telah dibawanya dan mengeluarkan sebuah memori berukuran kira-kira 2x2cm dengan hati-hati guna menghindar jarinya menyentuh pelat kuning yang ada di sisi bawah memory itu. Tangan kirinya meletakkan wadah kotak kecil itu secara sembarang di atas meja, lalu bergerak untuk mengeluarkan sebuah slot card reader dari Macbook-nya dan memasukkan memory tersebut ke selipan yang tersedia pada slot card reader. Setelah itu, tangan kanannya menyatukan kembali slot tersebut ke dalam laptop miliknya.
Dengan cekatan, jari telunjuknya memainkan touch pad laptop dan membuka program documents atau windows explorer yang dimana sudah tertera nama memori yang baru saja dimasukkan ke dalam operation system. Setelah memilih nama removable disk memory-nya, telunjuknya mulai bergerak kembali untuk menggerakkan kursor untuk membuka folder yang terdapat software buatannya.
Onyx-nya kembali melirik ke arah Naruto yang tengah menganga melihat aksi rekannya yang satu itu. "Sudah siap, kawan?" Pertanyaan Sasuke hanya dijawab sebuah anggukan ketidaksabaran dari Naruto.
Matanya kembali menatap layar di hadapannya. Sasuke membuka kembali sebuah system yang sedari tadi ia tekuni selama Naruto menyelidiki apakah terdapat keganjalan atau tidak. Bibir manis Sasuke melukiskan sebuah senyuman kecil lalu berkata, "That time has come."
Hanya dengan sekali sentuhan drag and drop, virus hasil buatan tangan Sasuke sendiri mengacaukan seluruh sistem operasi komputer dan CCTV sekolah Konoha Memoriam of School secara brutal. Secara otomatis pula, seluruh staff Konoha Memoriam of School menjadi gaduh, panik, dan—pastinya—berisik.
Sedangkan Naruto? Yang hanya dapat dilakukannya sekarang ialah menganga selebar-lebarnya karena melihat sebuah aksi singkat yang berada diluar jangkauan pemikiran di kepalanya. "Hei, bagaimana kau dapat memindahkan virus tersebut dengan sangat singkat seperti itu? Bukankah virus dipindahkan dengan menggunakan langkah-langkah tertentu? Dan kau..." Naruto memalingkan kepalanya ke arah Sasuke, masih dengan raut wajah keheranannya.
Sasuke hanya tersenyum kecil nan licik dengan posisi mata masih mengawasi layar laptop dihadapannya. "Bukankah sudah kubilang tadi, Naruto? 'Aku datang ke sini dengan disertai perbekalan', dan itu berarti bukan hanya terdiri dari laptop dan sebuah virus saja." Ia memiringkan kepalanya agar dapat menangkap wajah Naruto dengan iris onyx-nya yang tajam. "Sudah ingat?"
Mendengar tutur kata rekannya itu, Naruto hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala secara perlahan. Sangat perlahan. "Kau benar-benar pemuda yang luar biasa, Uchiha Sasuke." Iris aquamarine-nya menatap wajah nama-yang-telah-disebutnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Apa sulitnya membuat hal seperti ini?" katanya dengan nada sedikit sombong di kalimatnya.
"Jadi? Dengan apa kau membuat 'langkah-langkah yang rumit' menjadi 'sesingkat' ini?"
"Yang aku perlukan hanyalah: daya imajinasi, ke-genius-an, dan otak."
Naruto hanya dapat berdiam diri—menutup mulutnya sekarang.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Hn? Kenapa kau terdiam seperti itu?"
"Tidak. Aku hanya tenggelam di dalam pikiranku bahwa: Uchiha Sasuke adalah manusia yang paling genius di antara orang yang genius," faktanya dengan raut wajah masih belum berubah.
Mendengar pernyataan dari Naruto membuat bibir tipis Sasuke menggoreskan sebuah senyuman kepuasan dan rasa bangga. "Terima kasih. Tapi kau juga termasuk orang yang genius, kawan. Jika tidak ada kau yang selalu setia membantuku, mungkin aku akan melakukan aksiku tidak secepat seperti kita melakukannya berdua tadi," puji Sasuke kembali.
Naruto tersenyum penuh kebahagiaan, sehingga ia memejamkan matanya. Ia tertawa kecil karena senang. "Tidak juga. Aku akan selalu membantumu, karena kita adalah sahabat."
"Hn. Terima kasih, Naruto." Sasuke memperlihatkan senyuman tulusnya yang—hingga saat ini—hanya ia tunjukkan kepada sahabat terdekatnya, Uzumaki Naruto.
Mereka semua terlarut dalam kebahagiaan mereka masing-masing.
"Jadi... Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Suara Naruto memecah momentum kebahagiaan mereka.
Sasuke bangkit berdiri dari sofa-nya yang sangat nyaman, keluar dari perantara ruang sofa dan meja belajar. "Yang pastinya, kita akan melakukan persiapan aksi kita yang ke dua," ucapnya seraya mengangkat tas kopernya yang ia letakkan di bawah lantai sebelah bahu sofa ia duduk tadi. Dirinya berjalan ke arah sisi meja yang berlawanan dengan wajah Naruto dan mengeluarkan beberapa peralatan dari dalamnya.
Muncul beberapa pertanyaan dari dalam kepala Naruto karena melihat semua peralatan dan perlengkapan yang rekannya keluarkan dari dalam kopernya. "Ano, benda kecil yang berada di dalam kotak bening itu apa?"
"Hn? Percaya atau tidak, benda kecil berwarna hitam yang berada dalam kotak bening adalah kamera."
Sontak Naruto hanya dapat menganga selebar mungkin. "HAH? Dari mana kau mendapatkannya? Hebat sekali," ucap Naruto kagum. Tangannya bergerak untuk mengambil satu dari beberapa—bisa dikategorikan banyak—kamera yang berada di dalam kotak itu.
"Mendapatkan?" Sasuke mengoreksi pemikiran Naruto. "Mungkin lebih tepatnya membuatnya sendiri untuk mendapatkan-nya," tuturnya dengan sangat lancar dan spontan.
Dengan cepat, Naruto mengalihkan pandangannya dari kamera kecil yang dipegangnya menuju ke arah di mana Sasuke berada. Matanya sedikit terbelalak. "Membuatnya sendiri?" ucapnya dengan nada tinggi dan tidak percaya.
Sasuke meletakkan telapak tangan kirinya di atas meja dan menumpu seluruh berat badannya. "Kurasa kau sudah tidak heran dengan jawabanku, Naruto."
"Iya, sih..." ucap Naruto tarbata-bata di awalnya. "Tapi, bagaimana cara kau membuatnya?"
Sasuke mengangkat tumpuan tangan kirinya yang berada di atas meja, dan merubah posisi tangannya menjadi terlipat di depan dadanya. "Kalau untuk membuat alat ini, aku menambah sebuah buku dalam jawabanku yang sebelumnya. Dan itu kamera buatanku yang ke pertama kalinya."
"Wow. Kau tahu? Jika ini memang benar kamera buatan tangan kau yang ke pertama kalinya, maka ini adalah sebuah karya pertama yang mendapatkan nilai perfect."
"Hn. Sudahlah, ayo kita segera beraksi." Tangan Sasuke dengan cekatan merebut sebuah kamera kecil dari tangan Naruto, lalu mengatupkan telapak tangannya untuk memastikan bahwa ia telah memegang kamera kecil itu.
"Beraksi? Katamu sekarang kita sedang mempersiapkan untuk aksi kita, kenapa beraksinya sekarang?" Mata Naruto sedikit terbelalak.
Sasuke membersihkan kamera kecilnya dengan sebuah sapu tangan agar lensa kamera yang tadi sempat ia katupkan di telapak tangannya agar tidak buram dan tidak penuh dengan garis tangan dan sidik jarinya. "Sekarang, kita beraksi untuk mempersiapkan aksi kita nanti. Mengerti, tidak?"
"Maksudmu?" Naruto menaikkan salah satu alisnya.
Sasuke mendengus. "Maksudku, kau membantuku untuk memasang seluruh kamera kecil ini di setiap CCTV yang ada di sekolah ini." Sasuke menjelaskan dengan perlahan serta menatap Naruto dengan sangat dalam.
Naruto menunjuk dirinya sendiri. "What? Aku? Beraksi? Kau sendiri tahu bahwa aku tidak begitu hebat dalam bela diri, 'kan?"
Sasuke membuang pandangan matanya dari Naruto sembari tertawa kecil. "Siapa yang akan menyuruhmu untuk melakukan bela diri?" Kepalanya kembali berfokus pada Naruto. "Kita akan melakukan aksi ini dengan sangat santai, pelan, dan tidak dicurigai, Naruto."
Mendengar penjelasan pasti dari Sasuke, kini Naruto dapat menghela napas lega dari dalam dirinya. "Jika kita melakukannya dengan cara seperti itu, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati." Senyuman khasnya kembali muncul ke permukaan.
"Kalau begitu..." Sasuke mendekatkan sedikit wajahnya ke arah wajah Naruto. Hanya sedikit. "Ayo." Seketika itu juga ia kembali menarik condongan tubuhnya dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Naruto bangkit berdiri mendekat kepada Sasuke yang sibuk dengan kamera-kamera kecil buatannya. "Apakah kamera itu berfungsi dengan baik?"
Sasuke menolehkan kepalanya ke arah Naruto karena dirinya merasa sedikit tersinggung oleh ucapan rekannya tadi. "Kau pikir aku tidak mencobanya terlebih dahulu setelah membuatnya?"
"Oh, Ok, aku tahu itu. Aku hanya sekedar bertanya, untuk memastikan."
Sasuke menghela napas secara perlahan. Tangannya bergerak untuk mengambil kotak bening yang berisi kameranya dan memasukkannya ke dalam saku celana panjang putih yang ia kenakan, lalu memakai sarung tangan berwarna biru tua di kedua tangannya.
"Untuk apa kau memakai sarung tangan itu?" tanya Naruto dengan penuh keheranan.
"Untuk menghindari kontak langsung antara sidik jari dengan lensa kamera saat melakukan pemasangan nanti." Sasuke mengeratkan sarung tangannya hingga ia terasa nyaman dan mencoba menggerakan semua jarinya dengan cara mengatupkan beberapa kali kedua telapak tangannya.
Naruto melangkahkan kakinya menuju ke arah dispenser yang berada tak jauh dari meja mereka. Mengambil sebuah gelas yang terbuat dari kertas dan mengisinya dengan air. "Sasuke, kau ingin minum sebelum melakukan aksi-yang-lumayan-nekatmu itu?"
Mendengar sepenggal kata terakhir dari Naruto, membuat Sasuke kembali menyeringai kecil. "Boleh," ucapnya singkat yang hanya terdiri dari satu kata.
Naruto kembali mengambil sebuah gelas kertas, mengisinya dengan air, lalu membawa kedua gelas itu mendekat ke arah di mana Sasuke masih berada sampai sekarang. Tangan kanannya bergerak untuk menyodorkan gelas yang berisi air minum tersebut. "Hm, minumanmu?"
"Thanks."
Dalam waktu yang bersamaan mereka meneguk minuman mereka. Naruto meminum minumannya dengan perlahan-lahan, sedangkan Sasuke? Ia meminum minumannya hanya dalam dua tegukan.
"Cepat kau habiskan minumanmu, Dobe, kita tidak memiliki waktu lagi." Sasuke mengambil jam arlojinya yang berada di dalam tas, lalu mengenakannya di pergelangan tangan kirinya. Matanya melirik pada jarum jam arlojinya. "Sudah jam dua lewat tujuh menit," Ia membuang tatapan matanya dari jam tangannya menuju langit-langit kelas khusus mereka. "Berarti... murid-murid Konoha Memoriam of School menyudahi kegiatan belajar mengajar kurang-lebih jam setengah dua lewat."
"Lalu?"
Kepala Sasuke langsung tertoleh menuju sumber suara yang bertanya tersebut. "Tidak apa-apa, hanya memperkirakan sejenak. Sudah selesai minumnya? Kalau belum, aku duluan." Sasuke melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu kelas.
"Tunggu!" Hanya dengan sekali teguk, Naruto mampu menghabiskan minumannya yang tinggal setengah gelas tersebut dan meletakkan gelas kertasnya di atas meja di hadapannya. Sesudah itu, Naruto berlari kecil untuk mengejar Sasuke—yang sudah mendahuluinya—sebelum pintu otomatis itu terbuka dengan sendirinya.
Saat Naruto dapat menyusul Sasuke—yang sekarang tepat disebelahnya, ia berkata, "Sasuke, aku masih ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu!"
"Apa lagi? Bukankah tadi sudah?" ucap Sasuke dengan sedikit nada malas di kalimatnya. "Oh, ya, kau juga harus memakai sarung tanganmu agar tidak meninggalkan sidik jari di setiap tempat yang akan kita kunjungi nanti."
"Roger!" Tangan kanan Naruto bergerak untuk mengambil sebuah sapu tangan yang berada di saku dalam jaket putihnya dan mengenakannya di kedua tangannya dengan sangat rapi.
"Dan juga kacamata hitammu," titah Sasuke seraya mengambil kacamata hitamnya yang tersembunyi di balik jas putih yang ia kenakan dan memakainya.
Naruto mendengus. "Kenapa harus pakai kacamata hitam? Mengganggu pemandangan." Melihat Sasuke sudah menatapnya dengan sangat tajam, membuat Naruto berkata dengan pasrah, "Alright, alright... aku akan memakainya, Tuan Sasuke." Dengan gerakan yang malas, Naruto mengambil kacamata hitam yang letaknya sama seperti Sasuke dan mengenakannya.
Pintu kelas mereka pun terbuka dengan sendirinya saat mereka berada tepat setengah meter di hadapan pintu otomatis tersebut. Dan mereka pun tiba di sebelah sisi pintu yang berlawanan dengan sisi yang tadi ia lewati. Setelah mereka berhasil melewati pintu kelas mereka, pintu itu tertutup kembali dengan sendirinya.
Sekarang, yang hanya mereka lakukan adalah melihat sebuah lorong kelas yang panjang nan sepi. Selama beberapa waktu ke depan.
"So," Naruto menolehkan kepalanya ke arah Sasuke yang berada di sebelahnya. "Hal pertama yang kita lakukan dalam aksi memasang-kamera-kecil-di-setiap-CCTV adalah?"
Kepala Sasuke tertunduk, matanya melihat ke arah lantai yang ia pijak. Secara perlahan, Sasuke berkata, "Yang pertama kita lakukan dalam aksi kita sekarang ini adalah..." Senyuman kecil nan licik Sasuke keluar tanpa aba-aba. Iris matanya melirik ke depan dengan posisi kepala masih tertunduk. "Bergerak tanpa suara sedikit pun."
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Rabu | Jakarta, 20 Juni 2012 | Pukul 02.02 WIB
Reply of Review:
Cherryemo: Chapter 3 sudah di-update, semoga rasa penasaranmu terbalaskan. Thanks for your review!
Milkyways99: Terima kasih atas pujiannya, tapi fict ini masih memiliki kekurangan di sana-sini maupun di yang akan datang. Thanks for review!
MerisChintya97: Thanks atas pujian dan sudah suka dengan alurnya. Sepertinya gagasanku agar kau segera "mencuci otakmu" itu harus segera dilaksanakan agar otakmu tidak mengalami error yang lebih serius. Di sini Naruto sama sekali tidak ditakdirkan memiliki sifat yang "cuco" seperti yang kau pikirkan, justru Naruto di cerita ini aku buat memiliki sifat yang friendly dan enjoy. Dan untuk sharingan, Sasuke tidak memakai softlens, kok. Sharingan akan ada gunanya di cerita ini, bukan hanya sekadar pajangan. Thanks for your review!
Alifa Cherry Blossom: Terima kasih sudah menyukai fict ini. Aku hanya bisa mengatakan, untuk peran Sakura di fict ini akan kutempatkan dia menjadi orang yang tak terduga dan silakan gunakna daya imajinasimu untuk mengkhayalnya sendiri. Khusus masalah romance di fict ini akan kuusahakan agar romance-nya lebih terasa dari Lost in Nightmare. Thanks for you review!
Sakura Hanami: Salam kenal juga, dan tolong jangan memanggilku dengan embel-embel. Just Cergo. Untuk action sudah dipastikan akan ada. Aku tegaskan, di fict ini tidak memiliki unsur boys love atau apapun yang lainnya itu dan masalah mengenai interaksi SasuNaru yang terlihat sangat dekat di sini dikarenakan unsur persahabatan mereka yang kuat, tidak lebih. Semoga saja update-ku yang sekarang tidak lama. Thanks for review!
Ridafi chan: Ceritanya memang sengaja belum kelihatan seru karena aku ingin membuat alur yang santai dan mengalir dengan sendirinya, dan mungkin saja SasuNaru ada hubungannya dengan The Four Prince of Memoriam. Sakura akan muncul saat adegannya dimulai seiring berjalannya waktu. Masalah bloody... mungkin akan ada bloody paling banyak 5%. Thanks for waiting and review!
Hanazono yuri: Sudah di-update, silakan dibaca. Thanks for review!
Eunike Yuen: Di fict ini, typo diusahakan tidak ada sebisa Author. Terima kasih sudah ingin mengoreksi. Agar terasa lebih seru, lebih baik kau tidak perlu melanjutkan cerita ini di imajinasimu, bagaimana? Thanks for your review!
Sky no Raven: Maaf, jika sudah merepotkanmu hingga bolak-balik FFn hanya untuk mengecek sudah atau belum update-nya fict ini. Maksud dari niat Sasuke untuk mengambil dokumen rahasia Konoha Memoriam of School akan dijelaskan di chapter-chapter yang akan datang, entah chapter ke berapa. Dan mengenai siapa dua orang yang digantikan oleh SasuNaru untuk program pertukaran pelajar itu anggap saja sebagai "missing people". Thanks for your review and sorry if can't faster update!
Hikaru: Ternyata kau orang yang suka tantangan, ya? Entah sharingan itu bisa dijadikan elemen genre spiritual atau apa, tapi yang pasti sharingan akan emmiliki perannya sedniri di cerita ini. Thanks for your waiting and review!
A.T: Hai juga. Ini yang di FB, kan? Tidak apa review tidak log-in, aku menghargaimu. Mengenai apa dan kenapa Sasuke memiliki sharingan akan dijelaskan seiring bergulirnya alur cerita ini. Thanks for your review!
Universal Playgirl: Thanks sudah bersedia membaca fict ini and I'm also glad to hear that you like hacking element, especially in this fict. Sakura akan muncul saat waktunya dia "beraksi". Thanks for your review!
Pinky Blossom: Semoga rasa penasaranmu terbayarkan ketika membaca chapter ini. Iya, di fict ini couple-nya SasuSaku. Untuk adegan romance dan Sakura-nya akan ada waktunya tersendiri, sabar saja. Thanks for your support and review!
Shaun: Jika di Lost in Nightmare sharingan hanyalah sebuah angin lalu, maka di CrackHackerz aku akan mengikutsertakan sharingan di dalamnya. Untuk keterangan lebih lanjut, nanti akan dijelaskan jika sudah waktunya. Thanks for review!
Hikari haruno 96: Terima kasih sudah berkenan membaca dan memeriksa miss typo di fict ini. Maaf, jika aku menuliskan nama tidak sesuai dengan nama akunmu, dikarenakan FFn tidak mau menerima ketikan nama seperti akunmu. Tak apa, 'kan? Iya, nama samaran mereka aku yang buat sendiri dan sepertinya kau memiliki tipe yang humoris. Berteman? Boleh saja, dan kalau boleh aku jujur; kamu ini tergolong orang yang aneh. Sure, I will always do the best for reader if it takes a long time. Thanks for your review!
Scarlet24: Sudah di-update, semoga kau mengetahui sesuatu yang lainnya dari tokoh di atas. Thanks for review!
Guestr: Thanks for your review!
Guest: Thanks for review!
Azizah: Salam kenal juga. Jika kamu belum mengerti, jangan dipaksakan untuk mengerti. Seiring berjalannya chapter demi chapter nanti pasti kamu bisa tahu sendiri. Thanks for waiting and review!
Lin Narumi Rutherford: Salam kenal juga. Alasan Sasuke mencuri dokumen akan diketahui ketika sudah pada waktunya. Dan untuk Sakura-nya... tunggu tanggal mainnya, ya. Nama depanmu yang terdiri dari 3 huruf itu mengingatkanku pada singkatan judul fict-ku sebelum ini. Thanks for your review!
SugarlessGum99: Semoga misteri di fict ini berkurang ketika membaca chapter ini. Alasan SasuNaru mengambil dokumen sekolah akan diketahui seiring berjalannya cerita. Iya, di cerita ini Sasuke memiliki sharingan dan akan memiliki alasan tersendiri. Thanks for your support and review!
Fany-san: SasuNaru belum tahu mengetahui The Four Prince of Memoriam. Karakter Sakura di sini akan seperti apa, lihat saja nanti saat kemunculannya tiba. Alasan Sasuke mencuri dokumen sekolah akan dijelaskan seiring berjalannya cerita. Judul tiap chapter itu bukan aneh, tapi biar terlihat beda dari yang lain. Thanks for the compliment and review!
Karikazuka: Terima kasih atas praise-nya. Jangan menganga, nanti mulutmu kemasukkan lalat, lho... Di warnet pula, jadi merasa tidak enak. Dan, tahu dari mana kalau aku ini keren? Kau, 'kan, belum lihat wajahku. Thanks for waiting and review!
Thanks for always waiting this fict, "CrackHackerz".
Sorry if I have a much mistake! And for miss typo, I will correct it later if I have free time.
And for the last words still...
"Get ready for the next chapter!"
Signature,
Huicergo Montediesberg
