DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
IMPORTANT MESSAGE FROM WINDOWS EXPLORER
4 FOLDER WAS BROKEN
IN DOCUMENTS OF
IN ACTION WITH THAT CAMERA AND CCTV
"Bergerak tanpa suara sedikit pun."
Naruto menghela napas sejenak—entah seperti mengalami perasaan lega atau sebaliknya—dan mengacungkan ibu jari kanannya ke arah Sasuke. "OK." Secara satu persatu, ia melangkahkan kakinya maju ke depan—mengendap-endap—seraya berkata secara pelan, "Tidak boleh bersuara sedikit pun... tidak boleh bersuara sedikit pun... tidak boleh bersuara sedikit pun... tidak boleh bersuara sedikit pun..."
Melihat cara berjalan Naruto seperti pencuri yang berjalan-takut-ketahuan seperti itu, Sasuke menepuk dahinya dengan telapak tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Setelah itu, ia melengos pergi—dengan cara berjalan yang normal—mendahului Naruto yang sedang sibuk dengan aksi mengendap-endapnya itu.
"Tidak boleh bersuara sedi—" Langkah kaki Naruto berhenti ketika matanya menangkap sosok pemuda tampan bernama Sasuke yang tadi berada di belakangnya sekarang berada di posisi depan dengan berjalan santai. "Oi, Sasuke! Katamu kita melakukan aksi ini dengan bergerak tanpa suara sedikit pun," ucapnya seraya berlari kecil untuk menyusul rekannya yang bergaya stoic.
Sambil berjalan lurus ke depan, Sasuke menelengkan kepalanya ke arah Naruto yang sudah sejajar dengannya. "Maksudku, bukan dengan cara pencuri mengendap seperti itu, Uzumaki Naruto."
"Jadi?"
Sasuke membuang tatapan matanya dari iris aquamarine Naruto kembali lurus ke depan seraya memutar bola matanya. "Be a good listener and thinker, Naruto. Cobalah untuk menanggapi kalimatku dengan benar."
Naruto menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aku sudah menjadi pendengar dan pemikir yang baik seperti apa katamu, yah... setidaknya cara berjalanku tadi itu adalah respon dari kalimat yang kau ucapkan sebelumnya." Naruto tertawa kecil.
"Tapi, sayangnya... jawabanmu itu salah. Yah, walau tidak salah besar. Tapi tetap saja salah," hardik Sasuke terhadap cara berjalan Naruto. "Yang kumaksudkan adalah kita tetap berjalan seperti biasa, tetapi tanpa membuat suara yang dapat mengundang perhatian dan kecurigaan para staff sekolah ini, mengerti?"
"Staff? Bagaimana dengan para murid di sekolah ini?"
"Mereka memulai kegiatan belajar mengajar lebih awal dari kita dan kegiatan belajar mengajar mereka juga selesai lebih awal dari kita."
"Oh, OK, aku mengerti." Iris mata Naruto tampak berkeliling melihat koridor ruang kelas khusus mereka yang saat ini sedang mereka telusuri. "Heh, hebat, di dalam koridor yang sepanjang ini hanya terdapat ruang kelas sementara kita. Pantas saja ruangan kelas kita sudah seperti 'rumah di dalam sekolah'."
Sasuke menyunggingkan senyumannya. "Itu namanya menguntungkan, bukan?"
Beberapa saat setelah mereka menelusuri koridor tersebut, mereka menemukan sebuah lift yang hanya ada satu-satunya di koridor itu. Jari telunjuk kanan Sasuke menekan sebuah tombol yang bergambar anak panah ke bawah dengan satu kali sentuhan.
Seraya menunggu lift yang mereka tunggu tiba di lantai paling atas gedung sekolah di mana mereka berada, Naruto membuka pembicaraan di antara mereka, "Kita memulai aksi kita ini dari lantai berapa dahulu?"
Tidak lama Naruto menyelesaikan kalimat pertanyaannya, lift yang mereka tunggu telah sampai di lantai mereka berdiri dan menghasilkan bunyi 'ting' sebagai tanda. Pintu lift pun terbuka dan menampilkan bahwa tidak ada seseorang di dalam lift tersebut.
Sasuke melesat masuk ke dalam lift seraya berkata dengan suara sangat kecil, "Kita akan melakukan aksi kita mulai dari halaman sekolah."
"Hah? What—" Naruto juga bergegas masuk ke dalam sebelum pintu lift kembali menutup dengan rapat. Suasana di dalam lift begitu tenang dan sepi, ditambah dengan lampu kuning yang menambah suasana nyaman di dalamnya. "CCTV halaman sekolah ini juga diberi kamera kecilmu itu? Kau sudah stress, ya?"
"Dibandingkan dengan stress, mungkin lebih tepatnya aku ini sudah gila," ucapnya datar dan tanpa ekspresi seraya menekan tombol lift yang bertuliskan LG—Lower Ground.
Mata Sasuke berkeliling mencari sesuatu yang menarik perhatiannya. Setelah itu, tangan Sasuke bergerak untuk mengambil sebuah kotak kecil yang berada di dalam saku celananya dan mengambil salah satu kamera dengan tangannya yang—pastinya—sudah dilapisi dengan sarung tangan.
"Untuk apa kamera itu dikeluarkan sekarang, Sasuke?" tanya Naruto bingung akan apa yang Sasuke lakukan.
Kaki Sasuke berjalan mendekat ke suatu sudut kanan bagian depan lift dan menengadahkan kepalanya ke atas sudut tersebut. "Masalahnya, bagaimana aku dapat memasang kamera kecilku di CCTV yang satu ini?"
"Aduh, kau bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana cara agar kau dapat menempelkannya." Naruto menepuk dahinya dengan sangat keras. "Kursi tidak ada, meja tidak ada, tangga pun juga tidak ada."
Sasuke mengerutkan dahinya, berpikir untuk menemukan jalan keluarnya. "Ah, kalau dengan cara ini pasti bisa." Sasuke melangkahkan kakinya mundur hingga punggungnya menyentuh sisi belakang lift yang dingin, tepat di bagian tengah sisi belakang.
Melihat rekannya yang seperti mengambil ancang-ancang untuk melakukan sesuatu, membuat perasaan Naruto tidak enak. "Kau sedang apa? Tidak, Sasuke. Jangan pernah melakukan hal itu. Kita ini sedang berada di dalam lift, bagaimana kalau nanti—"
"Tidak apa-apa." Sasuke menghela napas sejenak. "Dan tidak akan ada apa-apa."
"Sasuke, jangan—"
Tanpa menghiraukan ucapan Naruto, dengan cepat Sasuke langsung melesat dengan melompat dan memijakkan kaki kirinya ke sisi kiri lift, lalu menendangnya dan memijakkan kaki kanannya ke sisi kanan lift dengan posisi yang lebih tinggi daripada pijakan kaki kirinya seraya menggerakkan tangan kanannya dengan gesit untuk menempelkan kamera kecil dengan kamera CCTV pada lift itu. Setelah itu, ia kembali memijakkan kedua kakinya di pijakkan kaki yang seharusnya berada.
Sedangkan Naruto? Yang hanya dapat ia lakukan saat ini adalah speechless melihat aksi rekannya yang nekat dan luar biasa itu.
Tepat setelah kamera kecil itu menempel secara sempurna di kamera CCTV, kamera kecil Sasuke menghasilkan bunyi beep minimal tunes dengan disertai sebuah lampu berwarna merah yang berkedip sebanyak tiga kali.
Mendengar kamera itu berfungsi dengan sangat baik, Sasuke berseru dengan suara kecil dan tertahan, "Yes!"
Naruto yang telah tersadar bahwa dirinya sedang menganga kecil, langsung merapatkan kembali mulutnya. "Bagaimana kau melakukannya?"
"Hn? Yang mana?"
"Yang tadi itu, kau melakukan pijakkan dan tendangan di sisi kanan dan kiri lift tanpa menghasilkan bunyi yang besar serta tanpa merusak lempengan besi ini sedikit pun." Telapak tangan kiri Naruto yang besar menepuk sebentar sisi lift yang tepat berada di sebelah kirinya, menunjukkan lempengan besi apa yang ia maksud.
"Oh, aku hanya menggunakan metode gerakan tertahan tapi powerfull yang pernah diajarkan saat pelajaran olahraga di sekolah kita. Itu saja," tuturnya santai.
"Pelajaran olahraga yang mana?" Naruto tampak menaikkan sebelah alisnya.
Baru saja Sasuke ingin menjawab pertanyaan Naruto, pintu lift sudah terbuka secara keseluruhan. Dengan cekatan, Sasuke menekan dan menahan sebuah tombol untuk menahan lift agar tetap terbuka. Sasuke memberi kode pada Naruto agar menempelkan punggungnya di sisi lift yang berlawanan dengan dirinya. Tangannya bergerak untuk mengambil dua buah kaca berbentuk persegi panjang yang berada di dalam saku jaket putihnya, lalu melemparkan salah satu dari dua kaca tersebut kepada Naruto.
Setelah tangan kanan Naruto berhasil menangkap kaca yang dilempar oleh Sasuke tadi, Naruto menatap iris onyx Sasuke seakan-akan membaca apa yang Sasuke pikirkan dan mereka mengangguk sekali terhadap satu sama lain. Secara bersamaan, mereka memanfaatkan kaca tersebut untuk melihat keadaan koridor jalur kiri dan kanan di luar lift.
Tidak ada seorang pun.
Sasuke kembali memberi sebuah kode tangan untuk bergerak dan keluar dari lift. "Ingat Naruto, santai dan tanpa bersuara." Ia kembali mengingatkan rekan setianya.
Naruto menghela napas sesaat. "OK, pal. Santai dan tidak bersuara... santai dan tidak bersuara... santai dan tidak bersuara..." gumam Naruto untuk dirinya sendiri seraya berjalan setelah melihat Sasuke bergerak di depannya.
Mereka melangkahkan kakinya menuju ke arah luar gedung sekolah dengan melalui lobby utama dan sampailah mereka di tangga depan sekolah. Mereka menuruni anak tangga secara satu persatu hingga langkah kaki mereka berpijak pada tanah halaman sekolah Konoha Memoriam of School. Cuaca yang tadi pagi hampir tidak bersahabat, seketika menjadi bersahabat—seakan-akan mendukung apa yang sedang Sasuke dan Naruto lakukan sekarang.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Sasuke? Halaman ini begitu luas, yah... walaupun tidak seluas halaman sekolah kita, tapi tetap saja dibilang luas untuk memasang sebuah kamera pada CCTV di halaman ini!" hardik Naruto.
Onyx Sasuke menjelajah ke setiap halaman yang ada dan... Bingo! Di setiap sisi halaman sekolah ditanami beberapa kelompok pepohonan yang menyejukkan mata. "Kita menyelinap melalui pepohonan sisi kanan halaman ini, ayo!" Tangan kanannya menarik lengan atas jaket Naruto dengan paksa.
"A—Iya, iya. Aku bisa berjalan sendiri," kata Naruto pasrah akan antusiasme Sasuke saat ini.
Pepohonan yang hijau mereka telusuri dengan hati-hati dan sesekali bersembunyi di balik pohon karena terdapat beberapa staff yang masih berjaga di dekat pos penjaga di gerbang utama sekolah. Selama beberapa kali melakukan aksi ritual kucing-tikus mereka, pada akhirnya mereka tiba beberapa meter dari pos penjaga gerbang utama itu.
Naruto berinisiatif untuk melihat para staff yang sedang berjaga dengan menggunakan kaca yang tadi ia gunakan di dalam gedung sekolah tadi. Belum sempat ia gunakan, sebuah batu kecil sukses mendarat di kepala Naruto. "Aduh! Ada apa, sih, Sasuke?" bentaknya dengan berbisik kecil. Tangannya bergerak untuk mengusap-usap kepalanya yang terkena serangan telak tadi.
Sasuke menatap Naruto dengan sangat intens. "Jangan menggunakan kaca di luar ruangan dengan kondisi cuaca seperti ini."
"Memangnya kenapa?"
"Apakah kau tidak pernah belajar bahwa kaca dapat memantulkan sinar matahari? Jika kau tadi menggunakan kaca untuk melihat mereka, dalam sekejap mereka pasti akan mengetahui keberadaan kita karena sinar matahari yang tidak sengaja terpantulkan oleh kacamu itu."
Raut wajah Naruto seperti mengingat akan suatu hal. "Aa... Maaf, aku lupa. Terima kasih sudah mengingatkan." Naruto kembali memasukkan kacanya ke dalam saku celananya.
Selama beberapa menit mereka berdiam diri tanpa mengeluarkan suara mereka—dengan sesekali melihat para staff yang masih seru berbincang-bincang, terdengar suara seruan dari arah depan gedung sekolah yang sempat mereka lalui tadi.
"Aoba, Suzuki, semuanya! Sistem keamanan kita tiba-tiba menjadi kacau, coba kalian lihat ke dalam sebentar!"
"Hah? Kenapa bisa?"
"Sistem keamanan kacau?"
"Ayo, sebaiknya kita cek sebentar!"
"Gerbangnya bagaimana?"
"Sudah tinggal saja, hanya sebentar saja, kok."
Dalam hitungan detik, para staff berlalu dengan sedikit berlari kecil menuju ke dalam gedung sekolah.
Sasuke tersenyum senang. "Heh, penyelamat." Saat semua staff hilang dari pandangan, Sasuke dan Naruto keluar dari tempat persembunyian mereka—di balik pepohonan yang rindang.
"Naruto, kau melihat CCTV saat kita tiba di gerbang ini di mana saja?"
Naruto berusaha mengingat hal-hal yang tadi pagi ia lihat. "Hmm... Aku hanya melihat tiga buah, dua buah di sisi kiri dan kanan gerbang dan satu buah di dalam pos penjaga."
"Kalau begitu kita ke pos penjaga." Sasuke membalikkan badannya dan berjalan menuju pos penjaga yang diikuti oleh Naruto di sampingnya.
Sesampainya di depan pos, tanpa ragu-ragu Sasuke menginjakkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan kecil itu. Matanya kembali menjelajah untuk melihat letak pasti CCTV, lalu dengan perlahan naik ke atas meja yang berada di sisi sudut CCTV itu berada, mendekatkannya, dan kamera kecil itu pun menempel sendiri di salah satu bagian sisi CCTV. Bunyi minimal tunes dan lampu merah yang berkedip sebanyak tiga kali pun keluar pertanda bahwa kamera itu sukses menyatu.
"Wow, kenapa bisa menempel seperti itu, ya?" tanya Naruto dengan penuh keheranan di raut wajahnya.
"Karena kamera kecil yang kubuat itu terbuat dari magnet, makanya menempel dan berwarna hitam," jelas Sasuke seraya berjalan keluar pos menuju di mana Naruto berada.
Naruto menelengkan kepalanya ke arah Sasuke yang sudah berada di sebelahnya. "Magnet? Kalau itu memang terbuat dari magnet, bagaimana kau dapat tahu lempengan besi CCTV itu mengandung kutub apa?"
Sasuke melipatkan kedua tangannya di depan dada. "Berhubung aku ini adalah tipe orang yang simple dan tidak mau dipersulit, jadi aku membuat kamera itu dari dua buah kutub: Utara dan Selatan sekaligus."
"Dua kutub sekaligus? Bagaimana caranya?" Naruto membelalakan matanya selebar mungkin.
"Bukankah sudah kubilang? Aku membuatnya dengan daya imajinasi, buku, kejeniusan, dan otak." Sasuke kembali bergerak ke arah pepohonan. "Sudahlah, ayo kita pasang kamera kecil yang selanjutnya di lobby utama."
"Hei, masih ada dua buah CCTV yang masih belum kau pasangi kamera kecilmu itu, Teme!"
"Tidak perlu. Satu sudah cukup."
"Kenapa?" ucap Naruto terbata-bata di awalnya. Kakinya bergerak menyusul Sasuke yang sudah jauh di dalam pepohonan sana.
"Karena sistem keamanan berteknologi CCTV di sekolah ini mempunyai sifat paralel, bukan seri." Sasuke melihat jam arloji yang ia kenakan di pergelangan tangan kirinya.
"Hah? Paralel? Maksudmu?" tanya Naruto kembali sembari mempercepat langkahnya untuk mengimbangi cara berjalan Sasuke yang dapat dikategorikan lumayan cepat.
Tangan kiri Sasuke menepuk pundak kanan Naruto. "Ayo, Dobe! Sekarang sudah jam dua lewat dua puluh menit." Sasuke lebih mempercepat langkah kakinya menuju anak tangga depan gedung sekolah.
"Oi, Sasuke!" Melihat Sasuke yang melangkahkan kakinya lebih cepat dari biasanya, Naruto berlari kecil untuk berjalan sejajar dengan rekannya.
Selama beberapa lama mereka berjalan cepat—bagi Sasuke—dan berlari kecil—bagi Naruto, akhirnya mereka tiba di anak tangga gedung sekolah. Dengan tergesa-gesa, mereka melangkahi masing-masing dua anak tangga sekaligus. Dan saat mereka tiba di atas tangga...
"Aoba, masalah keamanan yang terjadi sungguh aneh."
"Hm, hm, sudah dicoba untuk restart beberapa kali tetap tidak berfungsi."
"Ini adalah masalah sistem keamanan yang paling sulit diatasi dari yang biasanya."
Mendengar percakapan beberapa orang yang berasal dari dalam lobby sekolah, Sasuke segera menutup mulut Naruto dan membawanya menuju ke sisi kiri gedung untuk menyingkir dan bersembunyi terlebih dahulu. Naruto terkejut dan memberontak sesaat.
Sasuke berdesis, memberi tanda pada Naruto untuk diam. "Diamlah sebentar, para staff yang tadi ingin kembali ke pos penjaga mereka." Kalimat Sasuke direspon oleh beberapa anggukkan beruntun yang cepat dari Naruto. Merasa Naruto sudah mulai tenang, Sasuke melepaskan kedua tangannya dari rekan berambut jabrik kuningnya.
"Dengarkan instruksi dariku," titah Sasuke kepada Naruto yang sudah menempelkan punggungnya pada dinding di belakangnya.
Perintah dari Sasuke hanya dijawab sebuah anggukkan setuju dari rekannya.
Semakin lama, suara percakapan para staff sekolah itu semakin mendekat dan jelas terdengar. Dan tiba pada saatnya dimana para staff tersebut melewati pintu utama lobby.
"Buang pandangan ke arah berlawanan," perintah Sasuke.
Seketika mereka berdua membuang pandangan mata mereka dari pintu lobby menuju halaman sebelah kanan Konoha Memoriam of School ketika staff-staff itu tepat berjalan melewati pintu utama gedung sekolah. Walau Sasuke telah membuang pandangannya ke arah berlawanan dari pintu yang berada tepat di kirinya, tetapi telinganya masih aktif untuk mendengar percakapan mereka semua.
"Sudahlah, daripada memikirkan masalah sistem keamanan bagaimana kalau kita mempersiapkan diri."
"Untuk?"
"Kurang-lebih tiga puluh menit lagi Tsunade-sama dan Shizune-sama akan kembali ke sekolah ini dari pertemuan wali murid."
Semakin lama, para staff itu semakin menjauh dari mereka. Tanpa menyadari Naruto dan Sasuke, mereka terus berjalan menuju pos penjaga mereka di dekat gerbang sekolah. Ternyata pandangan mata itu dapat memengaruhi perasaan orang.
Tiga puluh menit lagi? pikir Sasuke dalam hati sembari mengembalikan posisi kepalanya ke semula.
Dengan sigap, Sasuke kembali melangkahkan kakinya dengan langkah yang besar—mungkin lebih tepatnya berlari—masuk ke dalam Konoha Memoriam of School melalui pintu utama gedung sekolah yang baru saja dilewati oleh staff sekolah itu untuk keluar dari dalam gedung.
"Sasuke, tunggu! Jangan cepat-cepat!"
"Kita sudah tidak memiliki banyak waktu, Naruto! Tolong langkahmu lebih dipercepat!"
"Memangnya kenapa?"
Sasuke menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah lobby dan menolehkan kepalanya menuju Naruto yang sedang kelelahan karena berusaha mengimbangi gerakan langkah kaki Sasuke. "Karena tiga puluh menit lagi kepala yayasan dan wakilnya itu akan segera kembali ke sekolah ini, jika kita tertangkap basah sedang berkeliaran di sekolah ini, bisa lebih menyulitkan masalahnya," Sasuke mengedarkan pandangannya, mencari CCTV yang tersembunyi di wilayah Lower Ground sekolah itu.
"Kenapa kita tidak mencari alasan yang logis saja? Mudah, 'kan?"
Mata Sasuke menemukan sebuah CCTV di salah satu sudut atas langit-langit lobby yang berbentuk lingkaran dan dikelilingi oleh beberapa pondasi tinggi berbentuk lingkaran juga yang terbuat dari batu.
"Memang mudah mencari alasan yang logis, tapi tidak mungkin hari ini. Hari ini masalah sistem keamanan sekolah Konoha Memoriam of School bermasalah pada saat hari pertama kedatangan kita ke sekolah ini dan hal itu membuat kita mempunyai alibi untuk menjadi tersangka dalam kasus ini. Jika kita menambahnya dengan tertangkap basah sedang berkeliaran di sekitar sekolah pada hari ini juga, maka alibi untuk menjadi tersangka kita akan berkembang menjadi kecurigaan sebagai tersangka kasus ini yang berpersentase kurang-lebih delapan puluh lima persen ke atas," jelas Sasuke panjang lebar sembari melangkahkan kakinya menuju CCTV yang mencuri perhatiannya.
"Hmm... benar juga," ucap Naruto seraya mengikuti Sasuke dari belakang. Arah pandang Naruto mengikuti arah pandang Sasuke yang telah berdiam diri dan menatap ke atas sudut langit-langit. "Dan masalahnya, BAGAIMANA KAU MENYATUKAN KAMERA KECILMU ITU DENGAN CCTV LOBBY YANG LETAKNYA TINGGI SEPERTI ITU, HAH?"
Sasuke melihat Naruto dari balik pundaknya seraya menyeringai. "Ini adalah sebuah tantangan yang sangat mendebarkan, kawan."
"Oh, don't do it, Sasuke. Ayo kita cari CCTV yang lebih strategis dan mudah tergapai."
Sasuke berdecak. "Tenang saja, Dobe. Tugasmu hanyalah mengawasi sekeliling kita selama aku beraksi sedikit."
Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara. "OK, OK. Tapi ingat, Teme. Jika ada sesuatu yang tidak diingankan terjadi kepadamu, aku tidak ingin bertanggung jawab sedikit pun."
"Yeah, yeah..."
Sasuke mengganti sarung tangan sebelah kanannya dengan sarung tangan yang tampak lebih keren dari sebelumnya yang berada di balik jas putihnya.
"Ah! itu, 'kan, sarung tangan hasil buatanku!" seru Naruto ketika melihat Sasuke mengganti sarung tangan kanannya.
"Ya, ini buatanmu." Sasuke menunjukkan sebelah sarung tangan yang Naruto buat setelah terpasang dengan benar tepat di depan rekan jabrik kuningnya itu. "Dan ini sangat berguna untukku, thanks a lot."
Mendengar kalimat Sasuke membuat Naruto cengengesan sendiri. "Kalau itu, sih, terima kasih kembali karena sudah ingin menggunakannya." Tiba-tiba ia kembali teringat akan suatu hal. Wajahnya kembali serius. "Tapi, tetap saja aku tidak ingin bertanggung jawab apa pun yang terjadi padamu."
Sasuke kembali membalikkan badannya seraya memutar bola matanya. "Mari kita coba terlebih dahulu."
Kakinya melangkah mendekati salah satu pondasi lobby yang terletak dekat dengan CCTV, mendekatkan tangan kanannya dengan pondasi itu, lalu secara otomatis pula sarung tangan itu bereaksi akan rangsangan yang Sasuke berikan, yakni melekat dengan sangat kuat di pondasi. Sasuke tersenyum akan hasil yang diberikan sarung tangan tersebut dan memalingkan kepalanya ke arah Naruto, lalu mengangguk sekali.
Dalam aksinya kali ini, Sasuke memilih dua buah pondasi yang terlihat mengapit kamera CCTV lobby sekolah Konoha School of Memoriam sebagai arena permainannya. Sasuke menarik napas dalam-dalam, lalu dengan cekatan ia melakukan lompatan, pijakkan, dan tendangan—yang sebelumnya ia pernah lakukan di dalam lift—membentuk sebuah gerakan zig-zag dari satu pondasi ke pondasi yang lainnya, dengan sesekali melekatkan sarung tangan kanannya agar pijakkan kakinya tidak melenceng dari pondasi lobby yang berbentuk lingkaran itu.
Saat ia sampai pada posisi tertinggi pondasi, Sasuke menahan sarung tangan kanannya agar tetap melekat pada pondasi pijakan terakhirnya. Kini ia berada di posisi tertinggi pondasi. Terlihat lengkungan senyuman kegembiraan dari Sasuke ketika melihat ke bawah karena aksi ini menurutnya sangat menyenangkan. Sedangkan Naruto yang tidak beranjak dari tampatnya hanya bisa memandang Sasuke beserta senyumannya—yang menurut Naruto gila—itu seraya berdoa dalam hati agar Sasuke selamat. Walau ia bilang dirinya tidak ingin bertanggung jawab akan apa yang terjadi pada Sasuke nanti, tapi tetap saja sarung tangan yang dikenakan Sasuke itu adalah buatannya.
Sasuke kembali beraksi setelah puas melihat suasana bawah dari tempatnya. Tangan kirinya yang bebas bergerak untuk mengambil kembali kotak kecil berwarna bening yang berada di dalam saku celana panjangnya, membuka kotak kecil itu dan mengambil salah satu dari beberapa sisa kamera di dalamnya dengan sangat hati-hati, mengingat ia berada dalam posisi yang cukup membatasi gerakan badannya. Setelah berhasil mengambil sebuah kamera kecil dan menutup tempatnya, dengan perlahan tangan kirinya yang bebas bergerak ke udara untuk mendekatkan kemera buatannya dengan kamera CCTV yang menjadi incarannya.
Seketika, bunyi minimal tunes dan lampu merah pertanda kamera kecilnya berfungsi keluar begitu saja. Dan tentunya membuat Sasuke kita ini sangat senang dengan aksi yang susah payah tadi ia lakukan untuk menggapai CCTV yang satu ini.
Naruto yang sedari tadi mengawasi dari bawah mendengar sebuah percakapan beberapa orang yang mendekat. Merasa tidak enak akan hal itu, Naruto segera memberitahukannya kepada Sasuke, "Teme, cepat turun! Ada staff sekolah yang mendekat ke lobby utama ini!" seru Naruto dengan suara yang kecil, tapi masih terdengar oleh telinga Sasuke.
Sasuke secara perlahan melepas tangan kanannya dari pondasi dan menjatuhkan dirinya hingga kira-kira setengah dari ketinggian pondasi, lalu melekatkan sarung tangannya sejenak dan kembali melepaskan tangan kanannya hingga ia mendarat dengan sangat sempurna dan tanpa suara di lantai lobby.
"Ayo, ayo, ayo!" ajak Naruto dengan tergesa-gesa.
Mereka pun segera melangkahkan kakinya menuju koridor kelas yang tadi menjadi tempat kedatangan mereka ke lantai dasar ini—dengan kata lain tempat dimana lift yang mereka gunakan tadi berada sekarang.
Setelah sampai pada koridor yang mereka tuju, Sasuke dan Naruto langsung melesat masuk menuju ke dalam lift yang telah tersedia dan menekan tombol lift yang berangka 1.
Naruto menarik napas sedalam-dalamnya. "Kau tahu, Sasuke? Tadi itu hampir saja."
Sasuke mengatur napasnya yang sedikit berantakan. "Hn. Tapi entah kenapa, aku merasa tenang-tenang saja."
Naruto menghela napas menggunakan mulutnya dengan kencang. "Yah, itu karena kau sudah terbiasa, sedangkan aku? Tidak."
Sasuke melirik jam arloji yang ia kenakan di pergelangan tangan kirinya. Dua puluh lima menit lagi.
Tepat saat Naruto menyelesaikan kalimatnya tadi, lift yang mereka tumpangi sudah tiba di lantai satu. Ketika mendengar suara dentingan kecil nan singkat dari lift, mereka merilekskan diri masing-masing sebelum pintu di hadapan mereka terbuka sepenuhnya. Saat pintu lift mulai terbuka, mereka dengan santai mulai melangkahkan langkah pertama mereka keluar dari lift.
Seketika pandangan mata mereka membeku. Langkah kaki mereka terhenti. Detak jantung mereka tidak bekerja. Pikiran mereka blank.
Salah seorang staff—yang berada di depan mata—berhasil melihat sosok mereka berdua. Staff tersebut hanya dapat mematung sesaat dengan disertai tatapan shock ke arah mereka berdua. Botol air yang dipegang staff itu kini terlepas begitu saja.
Terjadi adegan tatap-menatap satu sama lain selama beberapa detik lamanya.
Kini mereka benar-benar tertangkap basah.
Naruto yang juga shock karena melihat seorang staff Konoha Memoriam of School di depan matanya, hanya dapat berdiam diri dan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kalau ini, sih... melebihi kalimat hampir yang tadi, Teme," ucapnya dengan suara kecil.
Sedangkan Sasuke hanya dapat memutarkan bola matanya, lalu menaruh kepalan tangannya di dahinya dengan benturan yang lumayan keras seraya membuang arah pandangnya. Ia bergumam kecil, "Oh, shit!"
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Kamis | Jakarta, 21 Juni 2012 | Pukul 00.59 WIB
Reply of Review:
Fany-san: Aku sama sekali tidak berniat untuk membuatmu penasaran dan semoga saja rasa kepo-mu yang sudah tingkat dewa itu sudah berkurang setelah membaca chapter ini. Peran Sakura dirahasiakan dan mengenai lama tidaknya kemunculan Sakura di fict ini sebenarnya tergantung tingkat kecepatan update fict ini. Hanya satu hal pasti yang dapat kuberitahu sekarang mengenai perempuan itu: Haruno Sakura sudah dipastikan muncul di fict ini entah chapter ke berapa. Semoga chap ini sudah panjang dan maaf tidak bisa update kilat. Thanks for review!
Hanazono yuri: Sudah lanjut. Thanks for review!
Racchan Cherry-desu: Thanks for your prise, tapi aku sama sekali tidak berniat membuat para pembaca penasaran. Tidak, fict ini tidak hanya tentang SasuNaru. Kalau tidak sabar dengan penampilan Sakura yang "tidak terduga", yah... ikuti cerita ini terus, ya. Lama atau tidaknya Sakura muncul juga tergantung proses update fict ini, bukan? Thanks for your waiting and review!
Hikaru: Mungkin lebih tepat kamu itu adalah orang yang lebih suka mendengarkan atau melihat hal yang berbau tantangan daripada melakukan tantangan itu sendiri. Pendeskripsian mengenai sharingan akan dijelaskan di chapter, chapter, dan chapter berikutnya. Kau sudah memiliki prediksi bagaimana Sakura akan muncul? Boleh coba jelaskan bagaimana prediksimu bagaimana Sakura akan muncul di review-mu selanjutnya? Dan aku bukan seorang "Hacker", aku hanya seorang "makhluk lingkar panah" yang "baik-baik", sepertinya. Jika kata-kata Sasuke mirip dengan seorang ninja, mungkin itu hanya kebetulan belaka karena aku sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana. Thanks for your waiting and review!
Cheryxsasuke: Tak apa baru review sekarang dan request-mu mengenai update kilat serta pemunculan Sakura di next chap—maaf, aku tidak bisa memenuhinya. Tapi yang pasti, Sakura nanti akan muncul ketika sudah sampai pada adegannya. Thanks for your waiting, support, and review!
Akira Takigawa: Terima kasih sudah ingin me-review menggunakan log-in akun. Tidak ada mystery di fict ini, kok, mungkin hanya perasaanmu saja. Kamu mempunyai prediksi mengenai kemunculan Sakura? Bisa tolong ceritakan di dalam review-mu nanti? Maaf sebelumnya, apakah kamu satu orang dengan reviewer yang bernama "Hikaru"? Aku bertanya seperti ini karena gaya penulisan dan isi review-mu rata-rata sama dengan reviewer yang bernama "Hikaru" yang "di atas". Thanks for your waiting and review!
Sky no Raven: Salam kenal juga! Aku sendiri juga lupa apakah kau sudah mengucapkan salam atau belum di review pertamamu. Iya, binary itu adalah semua deretan angka yang hanya terdiri dari angka 1 dan 0 saja, biasanya digunakan untuk melakukan suatu instruksi kepada mesin yang bersangkutan; biasanya komputer. Sepertinya isi review-mu itu hampir semuanya berisi pengalamanmu, ya. Tapi tak apa, mungkin kau hanya ingin berbagi kisah, bukan? Maaf tidak bisa update kilat seperti bayanganmu. Thanks for your waiting and review!
Ridafi-chan: Chapter kemarin belum terlalu seru mungkin karena jalan ceritanya masih sangat santai dan hanya bisa membuat penasaran. Peran Sakura di fict ini dirahasiakan karena nanti juga para pembaca akan tahu ketika Sakura akan muncul. Mengenai masalah The Four Prince of Memoriam yang pasti akan dijelaskan seiring berjalannya arus cerita ini karena aku juga mendeskripsikan mereka berempat di awal cerita, 'kan? Santai saja. Thanks for your waiting, support, and review!
Hikari haruno 96: Baguslah jika kau tidak keberatan aku merubah sedikit nick-mu. Nama samaran mereka yang kubuat terdengar aneh karena jarang dipakai orang-orang, mungkin. Terima kasih atas concrit-anmu. Dan maaf jika kalimat tersebut terdapat dua kali kata "aku", hal itu dikarenakan aku mengganti kalimat yang diucapakan Naruto tersebut. Tak apa, banyak temanku yang aneh, jadi berteman dengan makhluk aneh sepertinya biasa saja karena belum termasuk kategori "gila". Tak apa review panjang, terkadang aku suka baca review panjang, kok. Thanks for your review!
Sakura Hanami: Tidak apa, kesalahan menggunakan suffix diakhir namaku merupakan hal yang kecil. Oh, ya? Memangnya aku menuliskan kata AU di deretan "WARNINGS"-ku? Aku tidak bilang secara tegas kalau fict ini AU, 'kan? Jadi tidak ada jaminan bahwa alur cerita ini hanya berisi AU saja. Lalu, apa salahnya jika sharingan ikut serta? Biarlah "dia" memiliki perannya tersendiri. Mengenai kenapa dan untuk apa sharingan ada akan dijelaskan di chapter-chapter-dan-chapter yang akan datang. Terima kasih atas koreksian typo-nya, diusahakan di chapter ini tidak ada typo dan jika ada jangan sungkan untuk memberitahu. Iya, Naruto di sini aku buat beda dari fict lainnya—mungkin—karena suatu sisi yang berbeda dari seorang tokoh utama anime dan manga "NARUTO" ini bisa menjadi menarik dan disukai juga, kok. Dan sepertinya telah terbukti di fict ini. Thanks for your support and review!
Todoshi Kai: Salam kenal juga! Silakan panggil aku Cergo saja. Terima kasih sudah menyukai dan memuji fict—yang masih memilki kekurangan—ini. Thanks for your support and review!
Love Foam: Bikin deg-degan? Bukankah alur ceritanya masih santai? Dan tentu saja aku menyelipkan sedikit humor dalam percakapan SasuNaru, walau tidak sengaja dan tidak terlalu terasa dan menonjol. Thanks for your waiting and review!
Shaun: Ya, sharingan akan mengambil bagian dalam fict ini. Cerita di fict ini tidak mengisahkan mengenai seseorang, atau lebih tepatnya diriku sendiri. Yah, mungkin aku mencampurkan "sedikit" unsur sifatku ke dalam karakter Sasuke di fict ini. Tidak terlihat OOC, 'kan? Aku tidak mendapat ide dari mana pun untuk membuat fict seperti ini. Tiba-tiba saat aku memikirkan plot Lost in Nightmare, adegan Sasuke sedang beraksi terlintas begitu saja dipikiranku. Mungkin si pemuda Uchiha itu ingin dibuatkan fict yang keren seperti ini setelah sekian lamanya ia berada di dalam hutan yang beralur cerita dark tersebut. Dan kebetulan aku juga suka genre Action/Thriller, jadi kubuatkan saja pendeskripsian fict ini yang mengalir deras di otakku. Yah, mungkin bisa dibilang aku dan Sasuke sama sekali "tidak bersahabat". Thanks for waiting and review!
Universal Playgirl: Chapter 4 sudah update. Mungkin di dunia fict ini masih lebih mendominasi ganre angst/hurt/comfort, jadi jarang yang membuat alur seperti fict ini. Jangan bingung, nanti jatuh, lho. Thanks for your review!
Alifa Cherry Blossom: Walau kau lebih menuruti perkembangan cerita menurut Author, tapi pasti ada beberapa cuplikan adegan kemunculan Sakura di fict ini di dalam otakmu, bukan? Tebakanmu tepat sasaran, aku adalah tipe "makhluk lingkar panah" yang paling tidak pandai membuka suatu obrolan atau mencari topik obrolan lain ketika pembicaraan yang dibicarakan telah usai, apalagi pada orang yang baru kukenal. Kecuali jika aku bertanya, dan mungkin memang cara bicaraku seperti ini. Lalu, aku juga termasuk tipe orang yang lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Baiklah, pada akhirnya aku menceritakan tentang diriku sendiri. Lupakan. Thank you for waiting and review!
Brezerea Hyuuchi: Terima kasih sudah menyukai fict ini dan menepati janjimu, kawan! Tapi, memangnya kita menautkan janji kelingking, ya? Tidak semua fict yang mengikutsertakan sharingan di dalamnya mengandung genre supernatural seperti yang kau katakan. Thanks sudah menyukai karakter Naruto yang sengaja kubuat berbeda dari fict lain dalam ceritaini. Untuk Sakura... ditunggu, ya. Sepertinya kau berhasil membuat review yang panjang seperti apa yang kau katakan. Thanks for your waiting and review!
Karikazuka: Kalau begitu aku tidak akan segan memberitahumu jika fict ini sudah update *laughing*. Thanks sudah bilang fict ini keren, walau aku yakin bahwa fict ini lebih keren daripada Author-nya yang sibuk di balik layar. Concrit-an diterima! Untuk penggunaan tanda "dash" seperti yang kau maksud itu hanya miss typo, kok. Mungkin mataku kurang awas saat membaca ulang chapter kemarin. Lalu untuk panggilan akrab, aku sudah mengecek ulang melalui bahan bacaanku dan sepertinya aku salah mengingat huruf kapital atau tidaknya awal kata tersebut. Maklum, stok fict tahun lalu. Dan untuk bahasa Jepang "bersambung" aku sudah mengeceknya di kamus dan aku salah. Maaf, karena aku tidak ingat jika huruf hiragana "tsu" diberi tanda petik dua cara bacanya sudah berubah. Thanks for your concrit, waiting, and review!
Eunike Yuen: Hai juga! Berhubung kau yang menawarkan, jadi aku bilang "deal" saja. Terima kasih atas concrit-annya, aku juga sudah mengeceknya, kok. Maafkan otakku karena salah mengingatnya. Kalau dibilang formal banget mungkin iya, sama seperti isi profile-ku yang formal banget *laughing*. Masuk hospital? Get well soon, ya! Bukankah sudah kubilang jangan terlalu lelah? Memangnya orangtuamu tidak melihat kesibukanmu? Thanks for your praise, support, and review!
Lin Narumi Rutherford: Iya, fict-ku yang bergenre mystery itu, mungkin ini adalah sebuah kebetulan belaka. Genre yang pasti di Lost in Nightmare adalah mystery-romance, sedangkan yang lainnya bisa dilihat di dalam fict-nya sendiri. Oh iya, nama Narumi dan Rutherford itu berasa dari tokoh anime-manga Spiral–Suiri no Kizuna/Spiral–The Bonds of Reason, ya? Nanti kalau bisa review-nya juga berisi sedikt komentarmu mengenai fict ini, ya. Thanks for review!
KuroYupi: Ah, akhirnya kau sudah tahu bahwa aku tidak akan memberitahu. Jadi, selamat menunggu dan penasaran. Sakura akan muncul, kok, tenang saja. Thanks for support, waiting, and review!
MerisChintya97: Lagian, aku juga tidak suka melihat SasuNaru yang gagah menjadi cuco atau lemah lembut yang berlebihan seperti itu. Apakah chapter ini bisa dibilang sudah mulai ada Action-nya? Yah, walau masih "action kecil-kecilan". Iya, Sasuke bisa buat virus, jadi kalau ingin dibuatkan virus minta tolong saja ke orangnya langsung. Filosofi sharingan akan dijelaskan di chapter-chapter yang akan datang. Kau akan magang? Kapan? Thanks for your waiting and review!
Tiya-chan: Sakura belum muncul, tapi sudah dipastikan akan muncul di chapter yang akan datang—entah di chapter berapa, mengingat ini pairing SasuSaku. Thanks for your review!
A/N: Saat membaca review tiba-tiba aku mendapat sebuah ide. Tampaknya kalian penasaran dengan kemunculan Sakura di fict ini, jadi aku membuka kesempatan untuk berbagi cerita denganku mengenai "kemunculan Sakura" menurut imajinasi kalian di fict ini dalam review kalian. Pasti otak kalian sudah mandapatkan gambaran mengenai "kemunculan Sakura" ketika membaca fict ini, bukan? So, tugas kalian hanya menceritakan bagaimana "kemunculan Sakura" di dalam review kalian setelah kalian selesai membaca chapter 4 ini.
Jangan lupa, ya, bagi yang me-review! Siapa pun itu.
After all, thanks for all reader! Sorry for miss typo, I will correct it later.
And then, "Are you ready for the next chapter?"
Signature,
Huicergo Montediesberg
