DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
SERVER NOT FOUND
FIREFOX HAS NOT FOUND THE '5(FIVE)' SERVER
AT
WWW.BEHIND THE FOUR PRINCE OF MEMORIAM.COM
"Oh, shit!"
Naruto yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi hanya dapat melakukan sebuah gerakan singkat, yakni menolehkan kepalanya ke arah Sasuke dan memasang tampang yang seolah berkata, 'bagaimana ini, Sasuke?'
Mata Sasuke yang melihat raut wajah Naruto dan mengerti akan arti dari tampangnya itu, hanya dapat memberi kode ke Naruto dengan mengangkat kedua bahunya sembari merilekskan badannya.
Dalam saat yang sama, Naruto dan Sasuke menarik lengan tangan kanan mereka masing-masing. Bersiap untuk meninju seorang staff yang berada di depannya sembari melangkahkan kakinya sekali ke depan.
Sebelum tinju mereka hampir mengenai wajah objek di depannya, staff tersebut tiba-tiba jatuh terduduk dan memundurkan badannya hingga punggungnya menyentuh dinding yang menjadi batas gerak mundurnya itu. "Tolong, jangan pukul saya! Saya tidak bersalah!" ucap staff tersebut apa adanya sambil menutupi wajahnya dengan kedua lengan tangannya.
Melihat adegan yang sama sekali tak diduga di hadapan mereka, Sasuke dan Naruto hanya dapat menghentikan gerakannya dengan posisi kepalan tangan masih sejajar dengan kepala dan saling melemparkan pandangan bertanya satu sama lain, lalu kembali bersikap biasa.
Dilihat dari kelakuan staff itu, terlintas dua hipotesis di benak Sasuke: pertama, tidak semua staff di Konoha Memoriam of School ini tahu bahwa ada dua murid pertukaran pelajar sementara. Ke dua, semuanya tidak tahu ciri-ciri siswa yang melakukan pertukaran pelajar. Yah, tapi berarti setidaknya si kepala yayasan ini mematuhi apa yang Sasuke pinta melalui surat resmi sekolah sebelum jadwal 'pindah sementara' mereka ditetapkan.
Beberapa detik kemudian, muncullah suatu ide yang terlintas di pikiran Sasuke saat sedang melihat staff yang sedang ketakutan sembari berbicara tidak jelas. Ia pun dengan inisiatif membisikkan ide apa yang tadi terlintas di pikirannya kepada Naruto. Dan idenya pun dijawab sebuah anggukkan setuju oleh Naruto.
Naruto melipat kedua tangannya. "Jadi, kau tidak ingin kami pukul, 'kan?"
Mendengar salah seorang yang berada di depannya bersuara, staff tersebut membuka kedua lengannya dan mengangguk cepat selama beberapa kali.
"Jika kau ingin bebas, maka jawab pertanyaan kami terlebih dahulu dengan sejujur-jujurnya," lanjut Naruto atas ucapannya tadi. "Apa password yang digunakan untuk memasuki web rahasia Konoha Memoriam of School?"
Staff tersebut meneguk ludahnya sendiri dan memberanikan diri untuk bertanya, "Untuk apa kalian menanyakan password tersebut?"
"Kami diminta oleh Kepala Yayasan Tsunade untuk bertanya hal ini kepadamu." Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Maklum, otaknya sudah pikun sejalan dengan proses penuaannya."
Staff tersebut mulai menaruh curiga kepada Naruto dan Sasuke. "Apakah benar Tsunade-sama meminta kalian untuk bertanya seperti itu?"
"Kau tidak percaya?" Sasuke mengambil sebuah alat perekam di balik saku jas putihnya dan menunjukkannya di depan mata staff tersebut. "Kalau begitu, ini buktinya." Jari telunjuk Sasuke menekan sebuah tombol play di recorder tersebut.
'Ehem, ehem, ah... Bagi siapa saja staff yang mendengar suaraku dalam recorder ini, saya hanya sekadar memberitahu bahwa saya meminta kedua pemuda yang memegang recorder ini untuk meminta password web rahasia Konoha Memoriam of School dikarenakan saya mendadak lupa dengan password tersebut. Terima kasih.'
Recorder berhenti berputar.
Naruto hanya dapat menganga kecil sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah recorder tersebut. Tidak berkata apa-apa. Sedangkan staff itu hanya membelalakan matanya dan dengan pasrah menjawab pertanyaan mengenai password rahasia tadi karena sudah mendengar suara Tsunade, kepala yayasan Konoha Memoriam of School, barusan.
Sang staff menghela nafas. "Passwordnya: KMOS."
Naruto dan Sasuke speechless sesaat. "Hah?"
"Iya. Kalian diminta oleh Tsunade untuk menanyakan password web rahasia sekolah ini, 'kan? Yah, itu. Password-nya adalah K-M-O-S." Staff itu tampak mengeja satu persatu password tersebut agar terdengar lebih jelas.
Sasuke tersenyum meremehkan. "KMOS? Nama yang aneh."
"KMOS itu singkatan dari nama sekolah ini. Konoha Memoriam of School," tutur staff satu itu.
Naruto yang sudah tersadar dengan lamunan panjangnya pun mulai mengulurkan tangannya untuk membantu berdiri staff di depannya yang masih terduduk. "Kalau begitu, terima kasih sudah memberitahu kami," ucapnya seraya menarik staff itu hingga berdiri setelah uluran tangannya disambut dengan hangat. "Kau tahu? Dari tadi kami mencari para staff yang berada di sekolah ini, tapi tak satu pun yang ada. Memangnya kalian semua sedang melakukan apa?"
"Ah, itu... Tadi kami sibuk mengurusi sistem keamanan CCTV sekolah yang hingga saat ini masih dalam mode error."
Naruto menahan gelak tawanya. "Oh, kalau begitu terima kasih atas pemberitahuan password-nya, ya. Oh, dan satu hal lagi, jangan memberitahu siapa pun kalau Tsunade menanyai tentang password web rahasia sekolah ini, karena ia tidak mau diketahui khalayak ramai bahwa dirinya sudah mulai sedikit pikun, OK? Bye!" Di akhir katanya, Naruto membuka kelima jarinya. Dan melesat pergi dengan Sasuke.
Sebelum mereka berdua berbelok ke arah kanan, staff itu tiba-tiba teringat suatu hal dan berseru, "Kalian mendapat rekaman suara Tsunade-sama dari mana?"
"Sebelum pergi ke acara pertemuan dengan wali murid, kami merekam semua pesannya. Sampai jumpa! Ingat peringatanku tadi, ya!" jawab Naruto asal. Dan pada akhirnya mereka pun lenyap di balik sekatan dinding bagian kanan.
Setelah berbelok ke arah kanan, Sasuke dan Naruto mempercepat langkahnya hingga berjarak lumayan jauh dari belokan mereka tadi.
Naruto menarik napas dalam dan mengembuskannya. "Tadi itu hampir saja."
"Hn."
"By the way, itu tadi rekaman suaraku yang menggunakan alat perubah suara hingga menjadi seorang perempuan beberapa hari yang lalu, 'kan?" Intonasi Naruto melengking tinggi, tetapi masih dapat dibilang kecil.
Sasuke menatap Naruto yang sudah menatapnya terlebih dahulu. "Memang."
"Pantas saja aku mengenal nama dan suara Tsunade itu saat pertama kali bertemu tadi," rutuk Naruto.
Sasuke tersenyum kecil. "Ini namanya hubungan bisnis, kawan." Ia kembali melangkah ke arah dinding yang tadi menjadi penghalang tatapan mata staff tersebut untuk melihat mereka berdua.
"Oi, Sasuke, kau mau ke mana lagi?"
"Kembali memasang kamera kecilku ke CCTV sekolah ini." Sesampainya di pertigaan, Sasuke merapatkan punggungnya dengan dinding di sebelah kirinya. Dan kembali menggunakan kaca cerminnya untuk melihat keadaan yang ada.
Naruto melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sasuke berada. "Man, kau ingin memasang kameramu di CCTV mana lagi?" Langkahnya terhenti ketika berada tepat di sebelahnya.
Pemuda berambut raven itu kembali memasukkan cerminnya ke dalam saku di balik jasnya. "Aman." Lalu ia berjalan hingga tepat di tengah-tengah pertigaan. Kepalanya yang tadi melihat ke arah kiri, kini berubah menjadi melihat ke arah kanan. Badannya menghadap kiri dan berjalan santai menuju jalan buntu koridor tersebut.
Naruto yang mengikutinya dari belakang dan melihat apa yang Sasuke tuju, kini hanya tersenyum senang. "Nah, kalau ini, 'kan, mudah untuk memasangnya."
Langkah kaki Sasuke terhenti ketika sudah berada di depan sebuah meja hias yang menjadi hiasan ujung koridor itu. Dan dapat dilihat oleh mata telanjang, terdapat sebuah kamera CCTV yang berada tepat di atas meja kayu ukiran berwarna coklat muda yang dihiasi oleh sebuah vas bunga di tengah meja tersebut.
Dengan satu gerakan gesit, Sasuke berdiri di atas permukaan meja sebelah kiri, mendekatkan kamera kecilnya dengan CCTV itu, dan dengan sendirinya kamera itu melekat serta mengeluarkan tanda bahwa kamera kecil itu sudah aktif. Sasuke pun turun dari meja dengan perasaan senang.
"Lantai selanjutnya," kata Sasuke singkat seraya melangkahkan kakinya menuju lift yang tadi mereka pakai.
"OK, boss!" jawab Naruto seraya menggerakkan tangannya ke pelipis matanya hingga membentuk posisi hormat, dan mengikuti Sasuke kembali dari belakang.
Mereka pun kembali masuk ke dalam lift dan langsung menuju ke lantai selanjutnya, yakni lantai dua gedung sekolah Konoha Memoriam of School.
Di dalam lift, Sasuke melirik lagi jam arlojinya. Dua puluh menit lagi, batinnya.
Saat sampai pada lantai dua, mata mereka berfokus pada pintu lift yang terbuka secara perlahan. Was-was dengan apa yang akan hadir di hadapan mereka—tidak ingin kejadian yang tadi terulang kembali. Setelah lift terbuka secara keseluruhan...
...tidak ada seorang pun di seberang pintu lift tersebut.
Mengetahui area di hadapannya aman, Sasuke dan Naruto saling melemparkan sebuah anggukkan yang berarti 'ayo!' tersebut. Mereka berjalan cepat tapi tidak menghasilkan suara, dan tiba saatnya mereka tiba di sebuah belokan koridor.
"Hei, masalah sistem yang saat ini kita hadapi sangat aneh," ucap seorang staff sembari membuka salah satu pintu dari dalam ruangan tersebut.
Sasuke segera menarik Naruto yang hampir berbelok ke kanan mundur ke belakang kembali karena telah mendengar bunyi pintu terbuka dan suara seseorang yang sedang berbicara. Lengan kanannya merangkul leher Naruto dan telapak tangan kanannya menutup mulutnya agar rekannya tersebut tidak berisik.
Naruto yang mengerti apa yang Sasuke lakukan kepadanya hanya menganggukkan kepalanya secepat mungkin dan melepaskan diri dari dekapan maut Sasuke serta mengacungan jari telunjuknya ke depan mulutnya. "Sssshhh..."
Dengan geram, Sasuke menjitak pelan kepala Naruto yang berarti 'harusnya aku yang melakukan itu, bodoh!'. Lalu mereka berdua kembali menyimak percakapan staff tersebut.
"Kurasa masalah yang kita hadapi kali ini bukan masalah sepele, melainkan masalah serius," ujar seorang staff yang satunya lagi.
"Heh... Tahu dari mana kau ini masalah serius? Bukannya kita memang sering mendapat masalah sistem keamanan seperti ini?"
Kedua staff tersebut memberanjakkan kakinya menuju ke arah Naruto dan Sasuke bersembunyi.
"Memang iya. Tapi coba bayangkan, semua masalah sistem yang kita hadapi dapat kita atasi sendiri dengan mudahnya, tapi ini? Untuk me-restart ulang program saja tidak ada yang bisa, apalagi memulihkan keadaan sistem menjadi normal kembali?"
"Benar juga, ya... Jangan-jangan di sekolah kita ini sedang ada seorang penyelinap, mata-mata, atau semacamnya."
Langkah kaki kedua staff tersebut semakin mendekat ke arah mereka berdua. Naruto memiringkan kepalanya ke arah Sasuke dengan tatapan mata seolah berkata, 'bagaimana ini?', lagi.
Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya. Tatapan matanya sesekali menyelinap untuk melihat kedua staff tersebut.
"Mana mungkin ada penyusup dan segala macam yang kau katakan itu, keamanan sekolah ini, 'kan, sudah kita jaga dengan sangat ketat. Kau ini bagaimana, sih?"
Lawan bicara staff yang sebelumnya tertawa singkat. "iya, ya."
Lalu mereka berdua berbelok ke arah kanan, sebelum bertemu dengan belokan yang di mana kedua hero kita berada sekarang.
Pada akhirnya, Naruto pun merasa lega. Ia menghela napas panjang. "Untung saja mereka berbelok sebelum belokan ini." Naruto menolehkan kepalanya ke arah Sasuke. "Dan kita hampir saja diduga sebagai pelaku kekacauan sistem ini."
"Hanya hampir, belum ketahuan," ucap Sasuke santai dan berpaling begitu saja.
Sekilas Naruto melihat sesuatu yang menggantung di atas sudut koridor dan menepuk pundak rekannya tanpa mengalihkan pandangan matanya. "Sasuke, kurasa aku menemukan apa yang kita cari."
Sasuke pun mengikuti arah pandang Naruto dan salah satu sudut mulut Sasuke naik ke atas. "Kau pintar, Naruto. Kalau begini kita bisa menghemat waktu," ucap Sasuke seraya menepuk kepala Naruto sedetik.
Dibilang seperti itu, Naruto menjadi merasa senang sehingga menyunggingkan sebuah senyuman andalannya. "Tentu saja. Jika Sasuke genius, rekannya pasti pintar."
Sasuke tersenyum atas perkataan Naruto. Ia kembali mengambil salah satu kemera kecilnya. Mengembuskan napas dan melakukan high jump tepat di bawah CCTV itu berada. Kamera tersebut segera bereaksi karena sudah melekat pada CCTV yang menjadi incaran sang pemiliknya, Sasuke.
Sasuke menolehkan pandangannya ke arah Naruto. Dan dapat ditangkap oleh mata onyx Sasuke, Naruto sedang mengacungkan ibu jarinya dengan senyumannya lalu berkata, "Nice jumping!"
Sedangkan Sasuke hanya dapat membalas, "Nice idea." Seraya melengos pergi, kembali ke tempat lift mereka sudah menunggu kedatangan tuan-tuannya kembali.
Setelah menekan tombol lift dan masuk ke dalamnya, Naruto langsung menekan tombol lift yang bertuliskan angka 3. Sedangkan Sasuke sibuk melirik jam arlojinya kembali. Sasuke berdecak kecil.
Tinggal lima belas menit lagi, ucapnya dalam hati. Semoga sempat, Sasuke menggertakkan giginya.
"Ada apa denganmu, Sasuke?" tanya Naruto keheranan melihat tingkah laku temannya sedari tadi saat berada dalam lift. "Kau selalu melirik jam tanganmu."
Sasuke melihat Naruto melalui ekor matanya. "Lima belas menit lagi si Tsunade itu akan kembali." Matanya kembali fokus ke pintu lift yang masih tertutup di depannya. "Dan dapat dipastikan, setelah mereka kembali ke sekolah ini... mereka akan memeriksa keberadaan kita di dalam kelas nanti."
"Kalau begitu, kita harus cepat sebelum mereka datang!" ujar Naruto.
Pintu lift kembali terbuka di depan mata mereka. Mereka berdua pun bergegas keluar dan mempercepat langkah kaki mereka saat berbelok ke arah kiri. Berusaha mengejar waktu yang terus berjalan tanpa belas kasihan. Dan juga untuk secepatnya mencari CCTV yang dekat dengan mereka.
Mereka berdua langsung berbelok. Setelah tidak beberapa lama mereka berjalan, mereka menemukan sebuah belokan pertama ke arah kiri. Dan mata elang milik Sasuke menemukan sebuah CCTV tergantung di bagian ujung koridor, sama seperti CCTV yang berada di lantai sebelumnya.
"Tunggu di sini," perintah Sasuke kepada Naruto sambil terus berjalan menuju kamera CCTV yang menjadi incaran berikutnya.
Naruto langsung memberhentikan langkahnya setelah mendengar sebuah perintah dari Sasuke. "Baiklah, cepat!"
Karena perasaan tergesa-gesa masih menyelimuti dirinya, Sasuke merubah jalan langkah cepatnya menjadi lari langkah panjang. Terus berlari. Hingga kurang lebih satu meter, Sasuke melakukan high jump yang jauh mengarah ke depan, dan salah satu kakinya mendarat di sisi dinding di hadapannya. Dalam posenya yang hanya sesaat seperti itu, Sasuke bertindak dengan cepat. Ia menggerakan tangan kanannya dengan cekatan untuk menempelkan kamera kecilnya. Setelah kamera kecilnya menempel dengan lempengan besi CCTV tersebut, Sasuke kembali menendangkan kakinya yang masih menyentuh dinding di hadapannya dan memutarkan badannya seratus delapan puluh derajat, kembali ke arah ia berlari tadi.
Kedua kakinya ia gunakan untuk mendaratkan dirinya dengan sukses di atas lantai. Sama seperti teknik mendarat yang digunakan saat melakukan olahraga lompat jauh. Kameranya itu pun bereaksi dengan menghasilkan bunyi yang terdengar hingga ke gendang telinga Sasuke bersamaan dengan pendaratan sempurna yang ia lakukan tadi.
Setelah puas mendengar kameranya bekerja dengan CCTV sekolah ini, Sasuke pun berlari kecil menuju di mana Naruto berada.
Naruto menyambut kehadiran Sasuke dengan hangat. "Gerakan yang cepat, Sasuke! Berarti tugas kita sudah selesai!" seru Naruto seraya mengangkat kedua tangannya ke udara yang bebas.
"Jangan santai dulu, masih ada satu kamera lagi yang harus diaktifkan." Sasuke menggerogoh saku celana kanannya dan menunjukkan kepada Naruto sebuah kamera kecil yang menyendiri di dalam sebuah kotak bening.
Naruto menghela napas panjang, kecewa karena masih ada satu lagi yang tersisa. "OK, aku mengerti, tapi temani aku ke toilet dulu, ya? Aku sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil," ujar Naruto seraya memasang tampang seseorang yang segera ingin melakukan ritualnya di dalam kamar kecil.
Sasuke memutar bola matanya dan melirik jam tangannya untuk kesekian kalinya.
Tinggal tiga belas menit lagi, batinnya dalam hati.
"Geez, baiklah, hanya tiga menit." Sasuke kembali melangkahkan kakinya melewati Naruto yang pada akhirnya dapat menuju toilet yang ingin ia tuju itu.
Dengan antusias yang tinggi, Naruto menyusul Sasuke yang sudah mendahuluinya di depan. "Oi, Sasuke! Memangnya kau tahu di mana toilet lantai tiga ini berada?"
"Saat kita keluar dari lift tadi, aku melihat sebuah kamar kecil tidak jauh dari letak lift kita. Sudahlah, ayo cepat!" kata Sasuke seperti mengecap lift Konoha Memoriam of School menjadi lift milik mereka.
Kedua anak laki-laki yang dapat diperhitungkan keberadaan skill-nya itu langsung melesat menuju kamar mandi—atau bisa juga disebut dengan toilet—yang terletak beberapa meter dari sebelah kiri lift yang mereka gunakan beberapa saat yang lalu. Tidak membutuhkan waktu lima menit, akhirnya mereka pun sampai di depan toilet itu berada.
Naruto hanya melongo tidak percaya. "Wah, toiletnya tidak ada pintu masuk."
Sasuke berpikir sejenak. "Arsitektur gedung ini sangat bagus, di setiap lantai memiliki pola bentuk dinding dan letak ruangan yang berbeda-beda, bahkan toiletnya pun dibuat berbelok dua kali; ke kiri lalu ke kanan dan baru akan sampai pada toilet yang mereka tuju."
"Sungguh merepotkan," ucap Naruto seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sasuke tersenyum meremehkan. "Bukan merepotkan, tapi di antara irit pintu dan kreatif."
"Yah, sekolah yang hemat."
Kepala Sasuke yang bermahkotakan rambut ber-style chicken-ass tersebut menoleh ke arah Naruto. "Cepat kau masuk, mau sampai kapan kau berdiri di sini?"
"Iya, iya. Aku masuk," kata Naruto serta berlalu, berbelok ke arah kiri dan kanan diikuti oleh Sasuke di belakangnya. Tapi, Sasuke hanya sampai pada belokan ke kiri saja, ia tidak masuk ke dalam toiletnya, hanya dilorong yang berukuran sedang—menurutnya—untuk menuju toilet sekolah ini.
Sebelum Naruto berbelok ke arah kanan. Sasuke berkata dengan cepat, "Jangan lupa untuk melepas sarung tanganmu sebelumnya dan mencuci tanganmu sesudahnya!"
"Iya, aku tahu!" jawab Naruto dan pada akhirnya ia berbelok ke arah kanan.
Untuk mengisi waktu luangnya untuk menunggu Naruto selesai dengan ritualnya, Sasuke menyandarkan dirinya di sisi tembok yang berguna sebagai pembatas lorong toilet dengan koridor di depan toilet ini. Tidak jauh dengan belokan ke kanan Naruto tadi. Ia memperhatikan jam analog yang menggantung di pergelangan tangan kirinya dan sesekali berpikir mengenai apa yang akan ia lakukan selanjutnya setelah kegiatan masang-memasang kamera kecil ini selesai. Dan kembali mengingat apa yang menjadi tujuan utama dia dan Naruto untuk datang ke sekolah ini.
Tepat satu menit kemudian, Naruto menampakkan batang hidungnya dengan cara menepuk pundak Sasuke diam-diam dan sambil berkata dengan keras, "Sedang memikirkan apa, Sasuke?"
Secara otomatis pula Sasuke sedikit terkejut dibuatnya. "Kau—" ucapnya sedikit geram. Lalu ia mengkibas-kibaskan tangan kanannya di pundak yang Naruto tepuk tadi. "Sudah cuci tangan belum?" Mata yang berisi batu obsidian tersebut, melihat Naruto telah memakai kembali sarung tangannya.
"Sudahlah! Kau pikir aku orangnya sekotor apa?"
"Oh, baguslah, kau tampaknya sudah sedikit berubah dari yang dulu." Sasuke menekankan kata 'sedikit' di kalimatnya.
Naruto memutarkan bola matanya. "Yah, yah... Terserah apa katamu. Ayo, kita pergi sebelum ada orang yang melihat kita."
"Hn."
Mereka berdua pun kembali berjalan ke arah luar toilet tersebut. Entah kenapa, Sasuke baru merasa bahwa lorong toilet ini berukuran lumayan panjang. Apakah tadi pikirannya melayang ke suatu hal? Yah, Sasuke hanya berusaha membuang jauh-jauh perasaan dan segala pertanyaannya mengenai lorong toilet yang sedang mereka lewati ini.
Baru lima langkah mereka berjalan, Sasuke dan Naruto mendengar seruan suara seseorang yang kecil—bisa dibilang masih jauh keberadaannya dari tempat mereka berada—mengingat panca indra mereka berdua sudah dilatih hingga menjadi sangat peka sekarang.
"Ah! Badanku pegal sekali karena kelamaan duduk di ruangan kita tadi!" seru seseorang yang masih berada sangat jauh.
Masih ada siswa yang berkeliaran di sekolah saat ini? pikir Sasuke.
Keringat dingin Naruto kembali menetes dari pelipisnya. "Jika dengar dari suaranya, orang itu masih jauh. Ayo, kita segera masuk ke dalam lift, Sasuke!" tutur Naruto seraya menarik tangan lengan jas Sasuke agar segera berlari menuju lift mereka berada.
Saat mereka sedang berlari menuju ke luar lorong toilet ini, indra pendengaran Sasuke yang lebih tajam dari Naruto mendengar beberapa kalimat yang dilontarkan dari siswa tadi.
"Selain duduk terus-menerus, kau juga meminum Coca-cola lebih banyak dari biasanya. Memangnya kau sedang haus, Kiba?"
Kiba, batin Sasuke.
"Tapi, bukannya sekarang katanya kita ingin pergi ke suatu tempat untuk—hmm... berbelanja?"
"Berbelanja? Pilihan katamu itu sangat perempuan, Sasori."
Sasori, pikiran Sasuke berusaha mengingat nama-nama kecil mereka yang tidak sengaja tersebutkan oleh mereka sendiri.
Jika dilihat dari suara mereka dan bunyi ketukan langkah kaki, jumlah mereka diperkirakan ada empat orang, ucap Sasuke di dalam hatinya yang sampai saat ini terlihat begitu pasrah akan tarikan—atau seretan—dari seorang rekan setia di depannya itu.
"Tapi jika kupikir, aku merasa kasihan dan tidak tega akan kecurangan yang telah kita perbuat terhadap perusahaan kita yang sudah mempunyai nama besar ini."
Sasuke tertegun. Hn, ini pembahasan yang menarik untuk didengarkan. Bibirnya melengkung tipis.
Tangan dingin Sasuke menarik Naruto yang hampir berbelok ke luar lorong toilet kembali ke belakang. Jauh, hingga berada di tengah lorong toilet yang tadi mereka lewati.
"Sasuke! Apa yang kau lakukan? Kita, 'kan—"
Sasuke memberi kode untuk segera diam kepada Naruto dengan jari telunjuknya. Lalu beralih dari yang tadinya berposisi di belakang Naruto, kini ia berjalan mendekat ke ujung perbatasan antara lorong toilet ini dengan koridor depan.
Sedangkan Naruto hanya menepuk dahinya sekeras mungkin. Apa yang akan dilakukan oleh sahabat chicken-ass-ku ini, hah? geramnya dalam hati.
Karena tidak tahu apa yang akan dilakukan Sasuke dan tidak ingin mengganggu kegiatan Sasuke sekarang ini, akhirnya Naruto menyimpulkan untuk berdiam diri di tengah lorong toilet dan memerosotkan dirinya hingga terduduk di lantai, kepalanya terarah untuk melihat Sasuke yang tengah mendekatkan diri ke arah belokan yang hampir dilewati oleh Naruto tadi. Naruto berusaha menunggu.
Tak mampu melawan rasa penasaran dan ketertarikannya kepada kalimat terakhir siswa-siswa tadi, Sasuke mengambil tindakan untuk berdiam diri di lorong toilet sambil mendengarkan cerita mereka yang membuat dirinya tertarik untuk mendengarnya juga.
Kini ia sudah sampai pada batas dinding penyekat antara lorong toilet dengan koridor depan, matanya yang tajam mengintip sedikit untuk mengetahui dari manakah siswa-siswa itu akan datang. Tidak lama kemudian, tibalah 'sesuatu' yang ia cari keberadaannya. Dan benar saja, iris onyx-nya menangkap beberapa orang siswa yang baru saja berbelok menuju ke bagian koridor depan lift dari paling ujung koridor ini. Mereka adalah sekelompok siswa yang beranggotakan empat orang laki-laki di sana. Para siswa itu tampak menggunakan jas sekolah Konoha Memoriam of School.
Sasuke berhasil melihat sekilas ciri-ciri fisik keempat siswa tersebut, mengingat dan menyimpannya di dalam memori otaknya yang dapat dibilang jenius itu. Ia kembali menarik kepalanya.
Pemuda bertampang stoic itu tersenyum remeh. "Heh, aku baru menyadar bahwa di ujung lorong ini masih terdapat sebuah belokkan ke kanan," gumam Sasuke terhadap dirinya sendiri. Ia kembali mempertajamkan indra pendengarannya terhadap langkah kaki para siswa itu dan—pastinya—percakapan mereka berempat.
"Hah, kau ini ada-ada saja, Kabuto. Kita melakukan aksi licik kita ini sudah bertahun-tahun lamanya, kuyakin kau sendiri pasti sudah tahu, 'kan?"
Kabuto, otak Sasuke kembali mengingat nama salah satu dari mereka.
Langkah kaki mereka semakin mendekat ke bagian koridor di depan lorong toilet di mana Sasuke dan Naruto berada sampai saat ini. Dan hal tersebut membuat Sasuke tersenyum senang karena ia memang berharap para siswa itu berjalan melewati koridor depan toilet ini agar ia dapat leluasa mendengar percakapan mereka yang semakin jelas terdengar oleh telinganya.
Sedangkan Naruto, ia hanya bisa menunduk pasrah karena mendengar langkah kaki orang-orang itu mendekat kemari dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat Sasuke—sahabat kecilnya yang memang seperti itu—sedang tersenyum senang, bahkan sesekali menyeringai. Naruto bukan merasa khawatir dan takut karena mendengar pembicaraaan atau langkah kaki mereka, tapi yang ia takutkan adalah: bagaimana kalau mereka berempat memang sedari tadi berinisiatif untuk menuju ke dalam toilet ini?
Salah satu dari mereka berempat bersuara. "Dan jika sekarang kau merasa menyesal, maka itu masih terlalu cepat."
"Neji, kau ini sangat arogan sekali."
Dan Neji, lanjut Sasuke dalam hati sembari menyeringai tipis karena merasa senang sudah mendapatkan nama kecil keempat siswa yang telah berhasil menarik minatnya sekarang ini.
"Hm, mau bagaimana lagi? Aku memang seperti ini."
Pada akhirnya, langkah kaki mereka berempat tiba di koridor depan toilet. Mereka melewati dinding penyekat yang menjadi pembatas antara mereka berempat dengan dua orang yang bernama samaran Narukami Minato dan Shirozaki Shiki selangkah demi selangkah, sambil masih melanjutkan percakapan mereka yang santai dan juga tidak mengetahui terdapat dua orang selain mereka di area tersebut.
"Sudahlah, pokoknya jangan sampai salah satu dari kita membocorkan-nya kepada publik atau siapapun selain kita berempat, mengerti?"
"Ha'i, Sasori-sama!"
"Yang terpenting adalah sekarang kita jalan-jalan sampai larut malam! YEAH!"
"Bisakah kau berhenti berteriak seperti itu, Kiba? Suaramu yang seperti itu sungguh memekakkan telinga."
Sasuke tertawa kecil dalam hatinya. Hn, memang, balasnya dalam hati terhadap perkataan salah satu dari mereka berempat yang terakhir.
Mata onyx Sasuke melihat mereka berempat melewati toilet, tampaklah bagian belakang dari mereka berempat. Sekali lagi, otak genius Sasuke kembali mengingat tampak bagian belakang keempat siswa Konoha Memoriam of School yang sangat menarik itu.
Rekannya—Uchiha Sasuke—memberi sebuah kode tangan untuknya agar segera mendekat. Dengan perasaan yang lega, Naruto berjalan pelan tanpa suara untuk mendekat kepada Sasuke dan tibalah tepat di sisi kiri temannya yang keras kepala ini.
Pemuda yang diketahui bernama kecil Sasuke tersebut langsung memberi kode untuk segera diam kepada Naruto yang sudah berada di sisinya.
"Hhh... Sudahlah, yang penting, selain menjaga rahasia perusahaan kita, kita juga harus menjaga sebutan The Four Prince of Memoriam untuk kita di sekolah ini."
"Hahaha... Benar juga!"
Tanpa Sasuke sadari, mereka menekan tombol lift dan terbukalah pintu lift tersebut sehingga membuat siswa yang terdiri dari empat orang itu bertanya-tanya.
"Siapa yang memakai lift untuk ke lantai tiga? Seharusnya lift ini berada di bawah karena dipakai oleh siswa lain untuk pulang, 'kan?"
Cih, gawat! batin Sasuke.
"Jangan berprasangka buruk dulu. Bukankah di sini masih ada para staff sekolah? Bagaimana, sih, kau ini."
"Ya sudahlah, ayo!"
Dan mereka berempat pun masuk ke dalam lift, dan melesat turun menuju lantai Lower Ground.
"Mereka sudah pergi." Sasuke melangkah keluar menuju koridor sembari berkata, "Cepat keluar."
Dan sekarang, tibalah mereka diam terpaku di depan pintu lift yang telah tertutup rapat setelah dimasuki oleh keempat anak manusia tidak jelas tadi.
Naruto melihat papan bersistem eletronik sebagai petunjuk di lantai mana lift itu berada sekarang. "Lift-nya masih berada di lantai dua menuju lantai satu, Sasuke." Kepalanya memutar ke arah Uchiha Sasuke berada. "Jadi, kita mau menunggu lift itu datang atau bagaimana?"
Mata yang beriris batu obsidian itu kembali melirik jam tangannya untuk kesekian kalinya. "Tinggal sembilan menit lagi."
Tatapan mata naruto mengeras. "Jadi, bagaimana ini? Jika kita menunggu lift itu kita akan membuang cukup waktu, lalu jika kita masih bersikeras untuk menggunakan lift ini... pasti nanti si Tsunade itu akan merasa heran kalau lift nya berada di atas. Bukan 'kah murid-murid sudah pulang? Setidaknya itu sepenggal kalimat yang kudengar dari mereka sebelum menghilang."
Sasuke mengernyitkan dahinya. Berusaha memikir jalan keluar yang harus ia ambil tanpa membuang banyak waktu.
Saking kesalnya karena ia kelamaan berpikir dan tidak mempunyai jalan keluar, Sasuke memegang kepala bagian kanannya, menggenggam rambut raven-nya sebentar, dan menghentakkan kembali tangannya dengan sangat cepat ke bawah. "Argh!"
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Jumat | Jakarta, 13 Juli 2012 | Pukul 23.03 WIB
Reply of Review:
Fany-san: Sayangnya, staff yang berada di awal chap ini bukan Sakura. Dan sama seperti dugaanmu, aku sedang sibuk mempersiapkan Haruno Sakura agar menjadi "alat" yang berguna di cerita ini. So, jangan kecewa dulu, ya. Menceritakan hal yang detail mungkin termasuk tipe pendeskripsianku, yah... walau terkadang membuatku jadi pusing sendiri. Thanks for your review!
Love Foam: Action yang kusajikan di awal cerita ini masih belum ada apa-apanya dengan action di scene berikutnya, jadi siapkan dirimu. Thanks for your review!
Alifa Cherry Blossom: Yah, semoga kau terbuka dengan sifatku ini. Thanks for your review!
Yumi Murakami: Terima kasih sudah menyukai fict ini secara keseluruhan dan maaf jika terdapat beberapa kalimat yang susah kau bayangkan karena Author-nya sendiri terkadang mengalami hal seperti itu—jujur, memang untuk membawa cerita ini membutuhkan konsentarasi yang tinggi ketika membaca beberapa adegan dan latar tempat agar dapat tergambar dengan baik di otak. Tidak ada alasan khusus mengapa Sasuke memakai nama Minato yang notabene adalah nama kecil ayah Naruto. Thanks for your support and review!
Clarissa Afternoon: Salam kenal juga! Semoga betah baca fict ini. Terima kasih atas pujiannya, tapi fict ini masih memiliki kekuarangan, kok. Hingga chapter yang aku buat, semuanya alur maju. Kemungkinan adanya flashback itu berpersentase kecil. Thanks for your review!
Eunike Yuen: Baguslah, ternyata sifat dan tingkah laku Naruto di sini disukai banyak orang, termasuk kamu. Untuk ketahuan atau tidaknya SasuNaru sudah kau lihat di chap ini, kan? Oh ya, MOPD itu apa? Thanks for your review!
Permen Caca: Terima kasih sudah ingin memaklumi kemunculan Sakura yang hingga sekarang belum muncul-muncul juga. Kalau sudah baca chap ini berarti kau sudah bisa menilai seberapa kejeniusan Sasuke yang sangat dibangga-banggakannya. Thanks for your review!
ShifukiKafudo: Salam kenal juga! Kau sudah tahu haru memanggilku apa, berarti aku harus memanggilmu apa? Apakah di chapter ini kau sudah mendapat sedikit pencerahan mengenai hubungan yang akan terjadi antara SasuNaru dan The Four Prince of Memoriam? Terima kasih sudah terkesan dengan cara pendeskripsianku yang terkadang memang sangat memusingkan ini. Thanks for your review!
Kanna Shimori: Salam kenal juga! Silakan panggil aku Cergo, jangan Author karena "Author" bukan namaku. Terima kasih atas pujiannya dan maaf jika terdapat kalimat yang susah dicerna—terkadang Author-nya sendiri juga pusing bacanya. Thanks for your support and review!
Akira Takigawa: Sudah kuduga kalian orang yang sama. Beberapa point penulisan dan pendapat kalian di dalam review sama, makanya aku langsung menduga kalian satu orang. Jika aku ingin menuliskan prediksi kemunculan Sakura di inbox, ya sudah... aku tidak paksa. Thanks for your praise, support, and review!
Akasuna no ei-chan: Kenapa tidak suka dengan genre crime? Tenang saja, "crime" di fict ini diusahakan beda dari "crime" yang lainnya karena sebenarnya inti dari cerita ini memang berat, tapi aku usahakan untuk melapisinya dengan kesantaian sehingga menghasilkan alur yang ringan. Thanks for your review!
Scarlet24: Tak apa, santai saja. Tentang adanya staff di lantai dua, mungkin staff tersebut ingin pergi ke suatu tempat dengan menggunakan lift, lalu tak disengaja berpapasan dengan Sasuke dan Naruto. Sedangkan mengenai sharingan, nanti akan dijelaskan jika cerita ini sudah masuk terlalu jauh. Thanks for your support and review!
MerisChintya97: Mereka tidak ketahuan karena CCTV sudah dikacaukan/dibutakan oleh virus buatan Sasuke, jadi jelas saja tidak ketahuan. Untuk adegan action yang kau maksud itu nanti juga akan berkembang seiring berjalannya waktu, siapkan dirimu. Karena perannya dirahasiakan belum tentu Sakura itu jadi staff. Semangat juga untuk kegiatan magangmu! Thanks for your support and review!
Karikazuka: Apakah cerita ini benar-benar bikin tegang? Aku tidak bisa merasakannya karena aku sendiri yang membuatnya. Sasuke kubuat sedikit banyak bicara karena di "CrackHackerz" tokoh utamanya adalah dirinya, beda dengan dirinya saat di "NARUTO". Tidak, aku bertanya mengenai kemunculan Sakura tidak berarti aku memunculkannya di chapter selanjutnya, jadi nantikan saja. Thanks for your support and review!
Sky no Raven: Mengenai kutub yang terkandung dalam kamera kecil Sasuke itu seperti apa yang diucapkan Sasuke, ia menggabungkan dua kutub sekaligus dalam pembuatannya. Untuk CCTV sekolah yang bersifat paralel akan dijelaskan di scene yang berbeda. Terima kasih atas prediksimu mengenai kemunculan Sakura, kau pasti mengetiknya dengan susah payah hingga semua prediksi yang berada di otakmu tertulis di review. Maaf jika ada kalimat yang memusingkan, fict ini memang perlu konsentrasi yang tinggi dalam membacanya. Review-mu tidak asal, kok. Aku juga suka membaca review yang panjang dan berisi unek-unek dari para pembaca. Thanks for your support and review!
Yuuki Edna: Tak apa baru review, santai saja. Utamakan tugasmu dahulu, setelah selesai baru baca fict ini. Jadi selingan juga tak apa. Maaf tidak bisa update kilat karena Author fict ini sendiri juga memiliki tugas sekolah dan perlu liburan juga. Thanks for your review!
Shaun: Memang ada bahasa mandarin bertuliskan han yu "Hui" yang memiliki arti bisa/dapat dan pulang dengan pin yin dan han zi yang berbeda, pastinya. Tapi namaku bukan diambil dari bahasa mandarin. Saat adegan di lift, Sasuke sduah me-non aktifkkan sharingan-nya, kok. Mengenai Sakura secara pribadi sangat dirahasiakan. Jadi tidak ada bocoran mengenai jadi apa dia nanti, umurnya, sekolahnya, sifatnya, kelakuannya, dan lain sebagainya. Thanks for your support and review!
Sakura Hanami: Baguslah, kau tidak bermasalah dengan kemunculan Sakura. Ikuti alur saja, ya. Kalimat membingungkan yang kau beritahu itu memang misstypo, tadinya tanda dash itu digunakan untuk menjelaskan arti lantai yang dimaksud, tapi aku sudah mengganti kalimat belakangnya dan sepertinya tanda itu tertinggal. Terima kasih sudah memberitahu. Thanks for your support and review!
Hikari: Hai juga. Bukan aneh dalam artian negatif, tapi aneh dalam artian karena kita semua berbeda. Dan mungkin aku termasuk orang aneh bagi mereka saat kita bertemu. Hanya perasaanmu kalau Sasuke bersikap aneh. Thanks for your support and review!
A/N: Terima kasih bagi yang sudah berkenan untuk menuliskan panjang lebar mengenai kemunculan Sakura mengenai imajinasi para pembaca masing-masing. Semuanya memiliki dugaan yang berbeda-beda, tapi sebagian besar didominasi oleh kata "staff", mungkin karena kebetulan chapter 4 kemarin diakhiri dengan pertemuan SasuNaru dengan seorang staff. Dan hanya satu yang pasti, di antara semua hipotesis kalian mengenai Sakura, tidak ada yang sama dengan jalan pikiranku akan apa yang akan kulakukan kepada Sakura. Jadi, tolong terima Sakura apa adanya saat kemunculannya sudah dimulai, ya.
Thanks for read and review this fict! Sorry if this fict have much misstypo and unclear sentences that make you dizzy.
And the last words,
"Always get ready for the next chapter!"
Signature,
Huicergo Montediesberg
