DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
FROM WINDOWS
WINDOWS CAN'T OPEN 6 FILE BECAUSE OF VIRUS
WHAT DO YOU WANT TO DO?
DELETE THAT VIRUS
"Argh!"
Mendengar geraman kecil karena kesal dari Sasuke, membuat Naruto tidak berani bergeming sedikit pun. Ia sendiri tahu bahwa jika Uchiha Sasuke telah kesal karena tidak menemukan jawaban yang tepat dalam sebuah masalah, sahabatnya sejak kecilnya itu akan mengeluarkan suara geraman kecil dari pita suaranya. Akan tetapi, otaknya yang jenius itu masih bekerja.
Sasuke mengedarkan seluruh pandangannya untuk mencari sesuatu yang sesuai dengan apa yang ia butuhkan sekarang, dan pada saat ia melihat ke sisi kanannya ia melihat sebuah pintu tangga darurat. Jika otak tidak dapat menemukan jalan keluar, setidaknya mata bisa membantu menemukan jalan keluarnya.
"Dobe, kita ke atas melalui tangga darurat saja, ayo!" Sasuke menarik Naruto, atau lebih tepatnya menyeretnya hingga sang korban yang ia seret hampir jatuh karena tidak siap mendapat tarikan paksa dari sahabatnya.
"Aduh, pelan-pelan, Teme. Kau tahu? Aku hampir saja jatuh karena tarikanmu." Dan ternyata, kau dapat menemukan jalan keluarnya sendiri, Sasuke, lanjut Naruto di dalam hati seraya menyunggingkan senyuman kecil.
Tiba-tiba Sasuke melepaskan tarikannya sambil tetap berjalan menuju tangga darurat itu berada. "Kalau begitu jalan sendiri. Kau berat."
Naruto yang tadinya tersenyum senang karena Sasuke dapat menemukan jalan keluarnya sendiri kini merubah mimik mukanya secara drastis dengan cara menautkan kedua alisnya. Sudah tahu aku berat, tapi tadi menarikku sekuat tenaga.
Mereka pun melewati tangga darurat dengan menaiki tiap anak tangga dua-dua karena sekarang sudah benar-benar terhimpit oleh larinya waktu yang tidak pernah mau berhenti ataupun mengalah sedetik saja untuk mereka. Jantung mereka berdebar tak keruan, keringat mereka mengalir karena keletihan dan udara yang pengap di tangga darurat tersebut. Apakah pintu tangga darurat itu tidak pernah dibuka untuk sekadar mengatur sirkulasi angin saja?
Setelah sekian lama mereka menaiki anak tangga. Tibalah mereka bertemu dengan tulisan angka empat di salah satu sisi dinding area lembab tersebut. Dan dalam sekali dorongan, pintu tangga darurat di lantai empat itu pun terbuka dengan lebar sehingga menampilkan kedua anak berambut jabrik kuning dan chicken-ass yang menjadi tokoh utama cerita ini—lebih tepatnya acara kali ini. Sekarang pun mereka dapat bernapas dengan bebas.
Naruto berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. "Sasuke, lain kali aku tidak mau melewati tangga darurat itu, mengerti?" ucapnya terputus-putus.
Sasuke yang terengah-engah kini sudah dapat mengatur napasnya lebih baik dari sebelumnya. "Hn. Aku juga jera melewati jalur itu. Tadi aku hanya terpaksa saja karena berhubungan dengan lift yang masih lama berjalan dan waktu yang terus mengejar kita, serta permasalahan keberadaan lift itu nanti."
"Lalu, sekarang sudah tinggal berapa menit?"
Kini Sasuke melirik kembali jam analognya. "Sekarang sudah jam dua lewat lima puluh tiga menit, berarti masih ada tujuh menit lagi."
Oh, God, rutuk Naruto dalam hatinya. Sistem pernapasannya semakin lama semakin teratur sehingga ia dapat berbicara dengan normal sekarang. "Dan sekarang kau ingin menempel kamera kecilmu yang sisa satu itu di mana?"
Sasuke berjalan dengan santai, kini ia sudah sepenuhnya menguasai sistem pernapasannya yang tadi sempat berantakan dan tidak beraturan. Langkah kakinya berhenti tepat beberapa meter dari ujung koridor melewati depan pintu kelas mereka. "Di sini."
Iris aquamerine Naruto menelusuri tiap sisi dan sudut yang ada di depan matanya. "Tidak ada CCTV. Yang ada hanya sebuah meja... dan lukisan bergambar bunga matahari yang berada di dalam vas." Mulutnya menyebutkan nama benda yang tertangkap oleh matanya satu persatu.
Sasuke memutar bola matanya bosan. "Kamera ini tidak perlu menggunakan CCTV, Naruto."
"Hah? Kok? Lalu untuk apa kita susah payah menempelkannya dengan CCTV sekolah, hah?" tanya Naruto dengan nada menukik naik di akhir kalimatnya.
Sasuke mengambil napas yang lumayan panjang sesaat. "Aku menempelkan kamera kecilku dengan CCTV sekolah ini karena ingin mengambil ahli seluruh CCTV yang ada dan mencuri letak strategis CCTV tersebut agar mudah dilihat. Lagi pula, jika dilekatkan pada dinding... magnet mana mungkin bereaksi dengan benda yang tidak mengandung medan magnet, bukan?"
"Lalu? Di sini jelas-jelas tidak ada CCTV, kau mau menempelnya di mana?"
"Yang kita butuhkan bukan CCTV." Sasuke menatap mata Naruto. "Tapi, lempengan besi."
"Hah?"
Kaki Sasuke mulai melangkah mendekat ke arah meja yang menjadi penghias ujung koridor di depan matanya, menaikinya perlahan, dan melekatkan kamera kecilnya di sisi bingkai paling atas. Sasuke terdiam menunggu hasilnya dan... bereaksi.
Ia kembali turun dari atas meja dan kembali berjalan ke arah Naruto dengan santai, lalu membalikkan badannya untuk melihat lukisan itu agar tidak terlihat ganjil. "Tidak kelihatan, 'kan?"
Tepuk tangan dari Naruto menggema hingga ke seluruh koridor yang memang hanya ruang kelas mereka satu-satunya di lantai ini. "Hebat kau, Sasuke! Kukira kamera itu hanya bereaksi terhadap CCTV saja, ternyata mereka semua bereaksi pada setiap lempengan besi, ya?"
"Sudahlah, jangan bertepuk tangan seperti orang yang norak setelah melihat pertunjukkan sirkus yang menghebohkan. Sekarang kita kembali ke dalam kelas," titah Sasuke sembari membalikkan badannya dan berjalan menuju ke arah kelas mereka yang diikuti oleh Naruto di belakangnya.
"Yes, sir!"
Kini Sasuke dapat merasa tenang karena perhitungan dari kecepatan gerakan dan pembagian waktu pada setiap lantai yang sedari tadi berputar terus di pikirannya telah selesai dan berhasil dengan menyisakan waktu lima menit. Dan Sasuke berinisiatif menggunakan sisa waktu itu untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Jaringan otot di dalam tubuhnya entah kenapa menjadi menegang. Sasuke merasakan sedikit nyeri pada bagian persendiannya. Ia ingin menceritakannya pada Naruto mengenai rasa nyeri yang ia rasakan saat ini juga, tapi entah kenapa ia merasa bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas apa yang ia rasakan. Karena masih akan ada satu segmen panggung sandiwara terakhir yang harus ia lalui pada hari ini. Nanti.
Saat sampai ke dalam ruang kelas sementara—yang menurutnya cukup nyaman itu, Sasuke melepas kacamata hitam yang ia kenakan dan langsung menghempaskan tubuhnya duduk di sofa belajar serta melemaskan seluruh otot badannya yang sedari tadi bekerja dengan sangat aktif. Lengan kirinya bergerak untuk menutup matanya yang terpejam agar sinar matahari sore yang masih bersinar terang dan menyusup masuk melalui jendela kelas tidak terlalu mengganggu matanya. Tubuh dan otaknya bekerja sama untuk menahan rasa nyeri yang semakin lama semakin membaik.
Melihat sahabatnya yang terkulai lemas seperti itu, Naruto melepas kacamata hitam yang sangat mengganggu pemandangannya sedari tadi dan berjalan untuk mengambil dua gelas air untuk Sasuke dan dirinya. Lalu, menempatkan dirinya di samping Sasuke.
"Sasuke, ini minuman untukmu karena sudah melakukan aksi gilamu tadi tanpa istirahat."
Tubuh Sasuke bergerak memposisikan badannya untuk duduk dengan tegak dan mengambil gelas yang sudah di bawa oleh Naruto di tangannya. "Hn, arigatou." Sasuke menghabiskan minumannya hanya dalam dua tegukkan sekaligus. Dia haus atau rakus?
"Sebaiknya kau mengembalikan seluruh sistem keamanan sekolah ini menjadi seperti sedia kala," saran Naruto seraya meminum minumannya sampai habis. Sama saja seperti Sasuke.
Pemuda berambut hitam bermodel chicken-ass itu mengernyitkan dahi dan mengusapnya sebentar dengan jemarinya sembari memejamkan matanya kembali. "Tapi sejak kupikir kembali, sepertinya alangkah lebih baiknya sekarang kita tidak mengembalikan sistem keamanan sekolah ini menjadi normal kembali."
"Kenapa? Tugas kita untuk menaruh kameranya sudah selesai, 'kan?" tutur Naruto pada pertanyaan yang selanjutnya.
"Karena untuk menghapus alibi kita dari staff yang tidak sengaja menangkap basah kita—well, walau kita memakai kacamata hitam, tapi tetap saja ciri-ciri fisik kita yang tidak tertutupi akan menjadi suatu alasan tersendiri."
Naruto menjepit dagunya dengan telunjuk dan ibu jarinya. "Hmm... benar juga," tukas Naruto setelah memutar kembali otaknya. Karena mengingat suatu hal yang hampir ia lupakan, tangannya bergerak untuk menyembunyikan website rahasia sekolah yang berhasil ia temukan melalui laptop sekolah K-MOS yang ia gunakan sebelumnya.
Suara langkah kaki seseorang yang memakai hak dari luar kelas terdengar semakin mendekat ke arah pintu kelas mereka yang memang satu-satunya di lantai empat sekolah Konoha Memoriam of School—atau ternyata juga bisa disingkat menjadi K-MOS—ini. Naruto yang menyadarinya, langsung memberi Sasuke kode dengan panggilannya. "Sasuke."
"Hn, aku tahu." Sasuke langsung menutup laptop miliknya tanpa di log off terlebih dahulu, memasukkannya ke dalam tas, menaruh tas tersebut di lantai antara kakinya dan Naruto, kemudian bersikap santai dan datar kembali. "Relax, Naruto. Panggung sandiwara segmen terakhir pada hari ini akan segera dimulai."
Pintu kelas terbuka setelah tanda sensor barcode telah berhasil di scan berbunyi. Dari balik pintu kelas yang terbuka secara otomatis seluruhnya ke arah kiri, terlihat dua orang wanita yang tadi menyambut kedatangan mereka kedua kali—setelah penjaga gerbang sekolah yang menghadang mereka masuk tentunya.
"Selamat—ehm..." Wanita berambut kuning blonde yang telah diketahui bernama Tsunade itu melirik jam tangannya. Dan hal itu membuat Sasuke dan Naruto menahan gelak tawanya. "... sore, Shirozaki Shiki dan Narukami Minato!"
"Sore!" sapa balik mereka berdua secara kompak dan singkat. Sepasang mata Sasuke dan Naruto menangkap Tsunade dan wakilnya, Shizune, berjalan mendekat ke arah mereka. Masuk ke dalam kelas dan berdiri tepat di depan meja yang memang satu-satunya di kelas mereka.
Bola mata Tsunade dan Shizune bergerak untuk melihat keadaan di atas meja dua murid program pertukaran pelajar tersebut. Hanya terdapat laptop sekolah K-MOS. Tidak ada alat tulis dan lembaran kertas atau buku yang tergeletak sedikit pun. Bisa dibilang bersih.
Wanita berambut kuning blonde itu menatap mata Sasuke dan Naruto secara bergantian. "Bagaimana hari pertama Anda menempati sekolah ini?"
Cengiran maut Naruto kembali ke permukaan berusaha membuat keadaan seakan-akan tidak terjadi apa-apa sama sekali. "Sangat baik— "
"Tapi masih memiliki kekurangan di sana-sini," timpal Sasuke yang membuat seluruh pasang mata yang ada di kelas itu melihat ke arahnya. Tak terkecuali Naruto.
Shizune membungkukkan badannya mewakili Tsunade, mengingat perbedaan tingkat jabatan mereka. "Maaf, jika masih terdapat kesalahan yang mungkin sangat mengganggu Anda berdua. Kalau boleh tahu, apakah kesalahan tersebut? Mungkin kami bisa memperbaikinya agar menjadi lebih baik lagi."
Sasuke melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Sepertinya, kalian yang lebih tahu tentang mengenai apa pun yang berada di sekolah ini. Kalian bisa mencari kesalahan itu sendiri tanpa diberi tahu," tuturnya sarkastik.
"Baiklah, kami akan segera mengetahuinya," jawab Shizune pada akhirnya.
"Lebih cepat, lebih baik." Sasuke menimpalnya kembali dengan jawaban yang masih bisa dibilang ketus.
Merasa bosan dengan keadaan terdiam setelah kalimat ketus yang Sasuke lontarkan, Tsunade mengambil bahan pembicaraan yang lain. "Kalau begitu, bolehkah saya mengambil hasil jawaban dari beberapa soal yang berada di laptop kami?"
Naruto membulatkan matanya sesaat dan menolehkan kepalanya ke arah Sasuke, berharap sahabat dari masa kecilnya dapat menjawab pertanyaan yang juga permintaan dari si rambut blonde itu.
"Hn. Tentu."
Jawaban Sasuke yang tanpa basa-basi lagi mampu membuat Naruto merasa bertanya-tanya dalam hatinya sendiri. Apalagi saat melihat Sasuke mengambil beberapa lebar kertas yang sudah disatukan dengan strepless sehingga terkesan rapi dan enak dilihat. Di atas kertas itu tertulis jawaban yang dapat langsung ditebak oleh Naruto dari soal matematika, fisika, dan biologi karena terlihat jelas berbagai macam rumus dan gambar biologi tertera di sana dengan sangat rapi dengan tinta ballpoint berwarna hitam—sesekali terselip warna biru dan merah—serta lambang sekolah K-MOS itu sendiri. Itulah yang ditangkap oleh mata Naruto sebelum pada akhirnya kertas itu sampai pada tangan Tsunade.
Kepala yayasan tesebut tampak membuka bagian kertas yang bawah untuk melihat seluruh jawaban yang memenuhi ruang tersebut. Hm, murid sekolah Konoha School of Art, Science, and Public Relations memang tidak perlu diragukan lagi, pujinya dalam hati.
Setelah puas melihat apa yang tertulis di seluruh lembar jawaban itu, Tsunade berdeham kecil. "Jika dilihat dari kertas jawaban ini, tampaknya kemampuan kalian sudah tidak perlu diperhitungkan lagi, jadi..." Tsunade tampak memikirkan kembali keputusannya, "... kurasa untuk hari berikutnya kalian tidak perlu mengerjakan soal-soal yang kami berikan, saya sangat puas atas segala jawaban Anda di dalam kertas ini." Ia menyunggingkan senyuman tulusnya.
"YEAAAHHH!" Naruto berteriak kesenangan sembari mengangkat kedua tangannya ke udara dan tanpa diperkirakan oleh Sasuke sedikit pun, ia memeluk rekan dinginnya yang satu itu dengan sangat erat saking senangnya. Seperti seorang siswa yang baru saja berhasil lolos dan terlepas dari beban berat kegiatan sekolahnya. Naruto pun melepas pelukan kegembirannya setelah mendengar suara geraman kecil dari dalam tenggorokkan Sasuke. "Sorry."
Tingkah konyol dan tak terduga Naruto membuat Tsunade dan Shizune terkekeh kecil, ikut merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh Naruto. "Yah... baiklah, kurasa Anda harus segera pulang mengingat hari sudah mulai malam. Sampai jumpa besok, Narukami Minato dan Shirozaki Shiki."
Tiba-tiba Naruto mengingat akan suatu hal yang ingin ia tanyakan kepada Tsunade setelah ia melihat laptop K-MOS di hadapannya. "Ano saa, ano saa... Bagaimana dengan laptop sekolah ini?"
Tsunade dan Shizune menengokkan kepalanya ke Naruto karena merasa pertanyaan yang dilontarkan tadi mengarah kepadanya. Menunggu penjelasan yang lebih jelas dari anak berambut jabrik kuning itu.
Sedangkan Sasuke sudah kembali memejamkan matanya karena rasa kantuk yang ia rasakan dan rasa nyeri yang tiba-tiba berdenyut kembali tanpa aba-aba. Telinganya masih mendengar percakapan yang akan dilakukan oleh Naruto dan Tsunade.
Naruto mencoba menjelaskan lebih rinci. "Maksudku, saat kita berdua pulang nanti, apakah laptop ini kita tinggal di dalam kelas ini atau... kita bawa pulang ke rumah?"
Seketika, senyuman Shizune mengembang dan membalas pertanyaan Naruto tadi. " Anda boleh membawa laptop sekolah kami pulang, asalkan Anda membawanya ke sekolah selama masih bersekolah di sekolah ini. Tapi, tolong ingat juga untuk mengembalikan laptop tersebut setelah meninggalkan sekolah ini. Anda paham?"
Kepala Naruto mengangguk sekali, pertanda ia mengerti.
"Kalau begitu, kami permisi." Dan mereka berdua pun pergi meninggalkan kelas Naruto dan Sasuke.
Sampai langkah kaki kepala yayasan serta wakilnya mengecil karena menjauh dan menghilang di pendengaran mereka yang tajam, Naruto menepuk dan menahan letak tangannya di punggung Sasuke yang sudah memposisikan badannya untuk duduk tegak tanpa bersandaran di punggung sofa. "Kau hebat, Sasuke, sudah mempersiapkan jawaban soal-soal dari mereka kemarin hari sebelum ke sini!"
Seketika, Sasuke merasa tubuhnya menegang karena tepukan dan tangan Naruto di punggungnya. "Bisakah kau singkirkan tanganmu sebelum aku melayangkan tinjuku, Dobe?"
Naruto yang teringat akan suatu hal langsung menarik kembali tangannya yang berada di punggung Sasuke. "Ah, maafkan aku, Sasuke! Aku lupa!"
Sasuke tampak mendengus kesal. "Bukankah sudah kubilang, aku kesini dengan persiapan yang sangat matang, Naruto. Dan sekali lagi kau melakukan hal seperti tadi, aku tidak akan segan-segan melepaskan gerakan refleksku yang sengaja kutahan untuk menghancurkan wajahmu."
Naruto melakukan pose hormat. "Roger that!"
"Sebaiknya kita harus pulang dan beristirahat. Aku juga sudah merasa sedikit lelah." Kepala Sasuke tertoleh ke arah Naruto. "Dan sangat mengantuk." Ia menekan nada bicara pada kalimat terakhirnya yang sengaja ia tujukan ke arah Naruto mengingat kejadian beberapa jam sebelumnya dimana Naruto mengganggu kegiatan tidur sang chicken-ass.
"OK, OK... Aku mengerti maksud Anda, Sasuke-sama."
Secara seksama, mereka pun bangkit dari kursinya. Sasuke mengambil tas ranselnya yang ia himpitkan antara kakinya dengan Naruto tadi dan menggantungkan salah satu lengan tas tersebut ke pundaknya sedangkan lengan tas yang satu lagi sengaja ia bebaskan.
Dan Naruto sendiri memasukkan laptop sekolah K-MOS tersebut ke dalam ranselnya—yang hanya berisikan satu buah buku tulis dan sebuah kotak pensil beserta perlengkapan di dalamnya—tanpa disuruh oleh Sasuke terlebih dahulu. Mungkin Naruto adalah orang yang tahu diri mengingat Sasuke, rekannya, sudah membawa laptop yang baru dibelinya hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri di sekolah asing ini. Dan itu juga pertanda bahwa Naruto menilai Sasuke sebagai orang yang sangat prepare mengenai hal apa pun juga.
"Sudah selesai?" tanya Sasuke.
"Sudah! Ayo, kita pulang!"
Mereka pun melangkahkan kaki mereka bersama-sama menuju ke luar kelas. Turun ke lantai Lower Ground dengan menaiki lift seperjuangan mereka. Dan saat mereka menerobos pintu keluar gedung sekolah tersebut, terparkirlah Lamborghini Reventon mereka secara sempurna sama seperti dalam ingatan terakhir mereka meninggalkan mobilnya kepada sang staff valet service mereka di bawah anak tangga pintu masuk gedung sekolah ini. Tanpa memikir apa pun lagi, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil serta menutup pintunya rapat-rapat.
Dapat terlihat dengan jelas, kunci mobil Sasuke telah menggantung dengan diam di tempat kunci starter-nya. Sasuke mendengus kesal. "Sebenarnya, aku tidak suka mobilku ini dikendarai oleh orang lain seperti staff tadi pagi itu." Tangan kanannya bergerak untuk menekan sebuah tombol lock door yang bersistem all locked.
Naruto memandang Sasuke dengan pandangan susah diartikan. "Lantas, kenapa kau memberikan kunci mobilmu kepada staff tadi pagi?"
"Karena terpaksa."
Setelah mengucapkan jawaban untuk pertanyaan Naruto secara singkat, Sasuke langsung menghidupkan mesin mobilnya. Kedua kakinya menginjak pedal gas dan rem secara bersamaan dan sangat dalam sehingga suara decitan ban mobil belakang terdengar. Setelah merasa mesin Reventon-nya mulai panas, Sasuke melepaskan pedal remnya dan langsung membuang steer-nya menuju gerbang sekolah Konoha Memoriam of School.
"PELAN-PELAN, TEME!" teriak Naruto yang juga dapat diartikan sebagai perintah untuk seorang Uchiha Sasuke dalam hal mengendarai sebuah kendaraan.
.
~Crack or Hack?~
.
Matahari kini mulai tenggelam disertai dengan perubahan langit—yang tadinya berwarna biru menjadi berwarna orange—yang dapat memanjakan setiap pasang mata yang memandang ke seluruh penjuru langit di atas kepala mereka. Jam menunjukkan pukul lima sore bersamaan dengan datangnya mobil Lamborghini Reventon ke dalam halaman rumah yang bertuliskan 'Uzumaki' di sisi kanan dinding sebelah gerbang rumah.
Reventon tersebut berjalan dengan kecepatan yang sedang mendekat ke rumah bertingkat klan Uzumaki yang berbentuk minimalis ber-stylish modern tetapi luasnya tiada tara itu. Bentuk rumahnya seperti bangun ruang kubus dan balok yang disatukan sehingga tercipta sebuah ke-eleganitas tersendiri. Warna cat rumah itu menggunakan tiga warna dasar, yakni hitam, putih , dan soft cream. Sebagian sisi rumah tersebut ditutupi oleh kaca tembus pandang sehingga ruangan yang berada di dalamnya terekspos dengan sangat jelas. Warna lampu kuning yang sangat nyaman membuat siapa pun yang melihatnya terasa rileks dan damai terlihat jelas dari luar dinding kaca tersebut.
Lamborghini Reventon itu berhenti tepat di depan rumah klan Uzumaki, menampilkan dua orang yang bernama kecil Sasuke dan Naruto—tuan rumah minimalis ini.
"Sasuke, kenapa kau baru bilang padaku tadi kalau kau ingin menginap di rumahku? Jika kau beritahu padaku dari kemarin hari, pasti aku akan mempersiapkan segala perlengkapanmu nanti," ucap Naruto.
"Hn. Tidak apa-apa. Aku sudah membawa semua apa yang kuperlukan saat menginap di rumahmu."
Naruto menatap Sasuke heran. "Memangnya Reventon-mu ini ada bagasinya?"
"Tidak." Sasuke mengambil dua buah tas ranselnya dari dalam pintu kemudinya. "Tapi aku hanya membawa ini."
"Oh, jadi kau membawa baju di dalam ranselmu itu?"
"Hn."
"Hmm... baiklah, ayo, kita masuk!"
Mereka berdua pun menaiki anak tangga yang berwarna putih menuju ke lantai satu kediaman Uzumaki. Lalu, terlihatlah seorang perempuan berambut panjang berwarna merah sedang menanti-nantikan kepulangan anaknya dari kegiatan sekolahnya yang panjang dan melelahkan.
"Tadaima!" seru Naruto kepada ibunya, Uzumaki Kushina, seraya mendekat dan memeluknya.
"Okaerinasai, Naruto!" sambut sang ibu dengan membalas pelukan anak satu-satunya itu.
Naruto melepaskan pelukan ibunya dan menatap Sasuke yang berada di belakangnya. "Ibu, Sasuke ingin menginap di rumah ini selama kurang-lebih seminggu, boleh, 'kan?"
Uzumaki Kushina—selaku ibu dari Naruto—memandang Sasuke sejenak yang sedang menundukkan kepalanya sedikit, memberi salam. "Jangan formal seperti itu, Sasuke... Kau ini sudah kuanggap sebagai anakku juga, kok. Dan masalah rencana menginapmu di sini, kau boleh tinggal selayaknya rumahmu sendiri."
"Arigatou, aku akan berusaha agar tidak menjadi beban selama aku tinggal di sini."
"Baiklah, aku dan Sasuke ke kamar dulu, ya!" ucap Naruto seraya mendekat ke arah Sasuke dan membopong salah satu ransel sahabat sedari kecilnya itu, dan berjalan menaiki tangga berwarna putih menuju kamarnya yang berada di lantai tiga.
Sebelum Sasuke dan Naruto menghilang dari pandangan, Kushina menanyakan suatu hal kepada mereka berdua. "Kalian tidak mau menunggu makan malam?"
"Nanti kami akan makan, kok. Jika sudah selesai panggil saja," jawab Naruto sambil berlalu.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Naruto dan Sasuke tiba di dalam kamar sang Uzumaki Naruto. Secara bersamaan, mereka langsung meletakkan semua ransel yang mereka bawa dan menghempaskan tubuh mereka ke atas satu-satunya tempat tidur yang berukuran King size.
Naruto menghelas napas dan merenggangkan tubuhnya yang pegal. "Aduh, Sasuke, Aku mengantuk." Ia menguap selebar-lebarnya, mengingat mereka baru saja melewati hari yang menegangkan—bagi Naruto dan menyenangkan—bagi Sasuke.
"Hn." Sasuke memikirkan sesuatu di dalam otaknya. "Naruto?"
"Iya, Sasuke."
"Tadi, setelah kita menyelesaikan aksi kita di K-MOS, aku merasakan seluruh tubuhku berdenyut nyeri."
Naruto menelengkan kepalanya ke arah Sasuke. "Itu tandanya kau kelelahan. Sudah tahu kurang tidur, tapi masih nekat untuk melakukan aksi gilamu tadi."
"Oh. Baguslah hanya kelelahan." Sasuke memposisikan dirinya untuk tidur di sebelah kiri tempat tidur Naruto. "Kalau begitu aku ingin tidur dulu. Jangan ganggu." Tangannya menarik selimut yang terlipat di bagian bawah sisi ranjang dan menutupi tubuhnya hingga sebatas leher jenjangnya.
"Ha'i, Sasuke-sama..." ucap Naruto dengan nada malas. "Tapi jika aku bangunkan kau untuk makan malam, kau segera bangun, ya!"
"Hn." Dan Sasuke pun terlelap dengan sekejap dalam tidur lelapnya yang sempat tertunda beberapa jam lamanya.
.
~Crack or Hack?~
.
Malam hari, kira-kira jam sepuluh malam. Tampaklah seorang pemuda berambut chicken-ass tengah sendirian memandangi halaman belakang kediaman Uzumaki—yang ia tinggali untuk sementara selama ia dan Naruto bersekolah di Konoha Memoriam of School—melalui teras kamar si rambut jabrik rekannya itu. Angin sepoi-sepoi sukses meniup rambut Sasuke hingga menari-nari kecil. Kedua tangannya menggantung di tiang pembatas teras yang berwarna hitam di hadapannya.
Onyx-nya menangkap sebuah pemandangan malam yang sangat tenang dan nyaman disertai dengan beberapa objek di bawahnya: beberapa anak tangga berwarna putih untuk menuju ke halaman teras belakang, sebuah kolam renang berbentuk persegi panjang yang lumayan luas, dan juga karpet menyerupai rumput hijau yang menutupi seluruh permukaan halaman belakang rumah ini secara sempurna. Benar-benar penataan yang excellent.
Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, ia memandang jauh ke arah kolam renang yang warna birunya sangat menyejukkan pikiran dan hatinya—mengingat Sasuke juga sangat menyukai warna biru. Di dalam pikirannya, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan besok dan hari esoknya lagi, bagaimana cara ia melakukannya nanti, dan siapa sebenarnya keempat pemuda yang tidak sengaja ia dengar pembicaraannya di sekolah tadi.
Seketika, seluruh otaknya bekerja untuk mengingat perbincangan keempat pemuda K-MOS yang sempat ia lihat sekilas ciri-ciri fisiknya. Otak Sasuke kembali membawa dirinya ke dalam ingatan kejadian tadi sore itu. Sasuke memejamkan kedua matanya.
"Kiba... Sasori... Kabuto... Neji..." gumam Sasuke untuk mengingat kembali nama-nama kecil keempat pemuda itu yang tidak sengaja mereka sebutkan di dalam percakapan mereka.
"Kecurangan... Perusahaan besar... Kelicikan... Larangan untuk membocorkan ke hadapan publik..." Sasuke membuka kedua matanya, memperlihatkan mata onyx-nya yang kelam. "The Four Prince of Memoriam..."
"The Four Prince of Memoriam? Rasanya aku pernah mendengar nama itu,"
Mendengar suara yang sering ia dengar dari sebelahnya, Sasuke tercekat. "Naruto—sejak kapan kau ada di sampingku?"
"Hmm... sejak kau mengucapkan The Four Prince of Memoriam." Naruto tersenyum lebar.
"Oh." Sasuke membalikkan badannya dan berjalan santai ke dalam kamar di belakang teras itu. Ia mengambil posisi duduk di kursi belajar bermodel unik berwarna kuning—satu warna dengan meja belajar bermodel sama yang ada di hadapannya.
"Hei, Sasuke! Mau sampai kapan kau akan membuat sistem keamanan Konoha buta seperti itu?" tanya Naruto dengan keras seraya berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu teras—yang hampir seluruhnya adalah kaca tembus pandang—dengan cara menggesernya.
"Hn? Oh, ya, aku hampir lupa." Mata Sasuke berkeliling mencari di mana tas ranselnya berada sekarang. "Naruto, bisakah kau ambilkan ranselku yang berisi laptop itu?" Jari telunjuk Sasuke menunjuk ke arah ransel yang berwarna hitam kelam di tengah ruangan kamar tidur yang diterangi oleh lampu kuning temaram.
Naruto menghela napas pelan. "Kau ini... selalu saja menyuruh orang lain dengan seenaknya," hardiknya sambil berjalan mendekat ke arah Sasuke—yang tengah memainkan kursi kuning yang didudukinya dengan memutarnya ke kiri dan ke kanan—seraya membawa salah satu tas ransel yang diperintahkan oleh sahabat yang sangat keras kepalanya itu.
Sasuke berhenti memutarkan kursi yang didudukinya karena melihat Naruto tengah menyodorkan tas ransel yang ia pinta ke arahnya. Tangan kanannya mengambil tas ransel tersebut. "Thanks, pal."
Kedua tangan pemuda bermarga Uchiha ini mengambil Macbook serta AC/DC adapter dari dalam ransel hitamnya. Tanpa memalingkan wajahnya, tangan kirinya yang memegang AC/DC adapter terjulur ke arah naruto. Dan tanpa diperintah oleh Sasuke pun, Naruto juga sudah tahu apa maksud dari uluran tangan Sasuke beserta colokkan laptopnya tersebut. Naruto berjalan bosan untuk menyambungkan adapter dengan stop kontak yang berada tidak jauh dari meja belajarnya sembari memutar bola matanya bosan akan tingkah sahabat raven-nya yang satu itu. Ingin rasanya Naruto memukul kepalanya sekali saja, tapi sayangnya perbedaan skill telah menyadarkannya dari dunia khayalannya sendiri.
Setelah melakukan 'tugas'-nya dengan baik, Naruto menyenderkan pinggulnya ke sisi meja belajar sebelah kiri. Kepalanya mengarah ke Sasuke yang tengah menunggu resuming operating system Macbook-nya mengingat ia tidak meng-log off terlebih dahulu tadi. Beberapa detik kemudian, operating system telah tampil di layar laptop. Sasuke menekan tombol F7 pada keyboard dan muncullah sebuah program sistem keamanan Konoha Memoriam of School.
Karena penasaran dengan pertanyaan di dalam benaknya, yakni: bagaimana Sasuke mengambil kembali virus buatannya yang telah menyatu dengan sistem keamanan K-MOS itu? Akhirnya Naruto mendekatkan diri ke arah Sasuke dan berdiri di sebelahnya.
Mengerti akan gerak-gerik Naruto yang sekarang berdiri di sampingnya, Sasuke langsung memulai aksinya untuk mengambil unknown virus buatannya kembali. Tangan kanan Sasuke bergerak untuk bermain di touch pad-nya, mem-block semua sistem keamanan yang tertera sepenuhnya di layar laptop—dari sudut kiri atas hingga sudut kanan bawah, dan melepasnya kemudian. Alhasil, entah dari mana asalnya muncullah sebuah taskbar yang mempunyai background berwarna hitam kelam yang berisi rentetan susunan script code dari unknown virus yang tertulis dengan font colour berwarna putih.
Naruto diam sesaat. "Aku tuntut sebuah penjelasan darimu esok hari, Sasuke."
"Yah, yah... aku tahu." Sasuke bangkit dari duduknya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimutnya. "Sudahlah, aku ingin tidur, besok kita akan bangun pagi lagi."
Mengingat besok ia dan Sasuke besok akan kembali ke K-MOS, Naruto pun berjalan ke arah ranjang dan menempatkan dirinya di bagian kanan—karena sebelah kiri sudah di booking oleh pemuda genius bernama kecil Sasuke ini.
"Oyasumi, Sasuke."
"Hn, oyasumi."
Sasuke memandang lurus ke arah jendela kaca bening yang berada di hadapannya. Ia bergumam kecil, "Selamat tidur, K-MOS dan..." bibirnya membentuk sebuah seringaian kecil, "sampai jumpa, The Four Prince of Memoriam."
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Minggu | Jakarta, 22 Juli 2012 | Pukul 14.33 WIB
Reply of Review:
Fany-san: Action-nya keren? Kalau begitu siapkan diri untuk adegan action berikutnya, ya. Iya, salah satu genre dari fict ini adalah romance dan pastinya aku usahakan agar unsur romance-nya tidak tenggelam dan berjalan seimbang. Nantikan, ya! Thanks for your support and review!
Cherryemo: Di dalam review-mu bisa kau tambahkan keluh kesah/perasaanmu mengenai fict ini, jadi jangan bingung. Thanks for your support and review!
Rhikame: Salam kenal juga! Iya, panggil aku Cergo saja—biasanya juga dipanggil seperti itu. Mengenai mengapa Sasuke bisa melompat seperti itu mungkin karena dirinya memang sudah terbiasa melakukan olahraga fisik, jadi bisa seperti itu. Dan menyinggung soal Sakura... Aku sudah membuat plot mengenai munculnya di fict ini, kok. Tunggu saja. Terima kasih telah menceritakan seperti apa Sakura dalam imajinasimu. Thanks for your support and review!
Guest—CheryxSasuke: Kabarku baik. Dirimu? Syukurlah kalau fict ini tambah keren dan semoga saja tetap keren. Terima kasih sudah mengerti kondisi alur cerita ini sendiri, masalah romance dan Sakura-nya pasti akan muncul, kok. Tenang saja. Thanks for your support and review!
Love Foam: Apakah Author's Note yang kutulis membuat orang menjadi penasaran? Sepertinya, aku menulis biasa saja. Dan semoga rasa penasaranmu terhadap karakter Sakura dapat bertahan lama hingga pada saatnya ia muncul di fict ini. Thanks for your support and review!
Eunike Yuen: Ya, sudah update dan semoga kau juga sudah membaca chap yang ini. Memangnya apa yang kau senangi dari sekolah K-MOS? Ternyata kau memang nge-fans banget dengan Naruto di fict ini, ya? Jujur, aku sendiri juga menyukai tokoh Naruto selain Sasuke di fict ini. Dan terima kasih sudah memberitahu mengenai miss typo yang ada! Sudah kuperbaiki, kok. And then, don't worried about this fict. I will finish it until the end certainly. Oh iya, mengenai fict english-mu yang sedang kukoreksi, tak apa kan jika beberapa kalimat aku ubah? Karena ada beberapa kata yang salah penempatannya. Walau akan selesai dalam jangka waktu lama, aku berusaha menyempatkan diri untuk memperbaiki fict english-mu itu, kok. Thanks for your support and review!
Clarissa Afternoon: Hai juga! Aku harus panggil kamu apa? Yah, mungkin menurut staff-nya itu SasuNaru melakukan hal yang benar mengingat ia telah mendengar suara Tsunade di recorder milik mereka. Atau besar kemungkinan juga kebetulan mereka bertemu dengan staff K-MOS yang bodoh sepertinya. Terima kasih sudah maklum perihal miss typo yang bertebaran di fict ini. Thanks for your support and review!
Yakuhiko Tsubaki: Makhluk pink itu belum muncul juga karena memang belum waktunya dia untuk muncul. Tapi, nanti juga pasti akan muncul. Tolong maklumkan apa yang Sasuke lakukan, mungkin otaknya yang jenius itu memang membuatnya berani melakukan sesuatu yang gila. Maaf tidak bisa update cepat. Thanks for your review!
Ichiro kenichi: Salut untuk apa? Tidak ada yang perlu disalutkan dari diriku. Mengenai Sasuke melakukan hal seperti itu untuk apa dan siapa, nanti akan dijelaskan seiring berjalannya waktu. Thanks for your review!
Azizah: Salam kenal juga! Terima kasih atas pujiannya untuk fict ini, semoga saja fict ini tetap bertahan mempertahankan kekerenannya. Tenang saja, fict ini akan lanjut terus. Semoga rasa penasaranmu masih bertahan hingga kedatangan Sakura beserta tanda-tandanya berada di fict ini. Thanks for your review!
Nakashima Michiko: Salam kenal juga! Silakan panggil aku Cergo dan terima kasih sudah menyukai banget fict ini. Tak apa baru review di chap 5, atau kau memang me-review jika hanya adegan tegangnya saja? Bercanda. Untuk letak toilet, coba bayangi dirimu melangkahkan kaki dua langkah ke depan, berbelok ke kiri—dimana terdapat sebuah lorong kecil di antara sekat dinding yang membatasi lorong itu dengan koridor kelas, lalu sampailah di toilet ketika mengahadap ke kanan ketika berada di ujung lorong toilet. Tentang gaya memasang CCTV versi Sasuke, bayangkan kau loncat ke dinding yang berada di hadapanmu seraya meletakkan kakimu di sana, lalu kau mendorong balik badanmu dengan kakimu itu sambil memutarbalikkan 180 derajat tubuhmu. Kau juga bisa coba mempraktekkan adegan ini, jika kau seorang cowok. Semoga keterangan dariku bisa dimengerti. Dan silakan panggil aku Cergo. Thanks for your support and review!
Permen Caca: Kau benar, mereka bisa lolos dari staff tersebut karena dua keberuntungan: pertama, Sasuke membawa perekam suara. Ke dua, staff yang dihadapinya memang sedikit bodoh. Kau geram dengan Sasuke, tapi kau juga kagum dengannya? Berarti kau memiliki dua perasaan untuknya. Thanks for your support and review!
Floral White: Tak apa baru review. Dan bersabarlah menunggu kemunculan Sakura. Thanks for your review!
Hatake Ridafi-kun: Kamu hampir tertinggal chap 4 atau sudah tertinggal chap 4? Sasuke memang tidak mengenal The Four Prince of Memoriam. Seperti yang diceritakan sebelumnya, Sasuke datang ke sekolah ini hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan untuk bertemu dengan seseorang bahkan beberapa orang. Thanks for your waiting and review!
Universal Playgirl: Sudah di-update. Silakan di baca. Thanks for your review!
Blupii: Yo, Blu! Kenapa buat akun baru? Ada apa dengan akun lamamu yang bernama ShifukiKafudo? Untuk kecurangan The Four Prince of Memoriam mungkin akan dijelaskan sedikit demi sedikit setelah chap ini? Seingatku, sih... Mungkin saja salah. Thanks for your review!
Shaun: Iya, fict CHz ini sendiri sudah kubuat berjalan menjauhi chapter 12 selangkah demi selangkah. Dan sepertinya timeline FB-ku itu memang menyimpan banyak informasi, ya. Sakura jadi tukang kebun... Bisa jadi. *laughing* Bercanda. Entahlah, menurutku untuk ukuran sesosok Sasuke yang "cowok" dan gentle lebih cocok memakai nama "chicken-ass" dibandingkan "chicken-butt" seperti di fict lain untuk sebutan style rambutnya. Itu menurut pendapatku sendiri dan akhirnya kutuliskan di dalam salah satu fict-ku ini. Thanks for your review!
Alifa Cherry Blossom: Sudah dilanjut. Sudah baca? Thanks for your review!
Karikazuka: Terima kasih, kau juga orang yang sugoii. Jangan pesimis dulu. Walau sudah berjalan hingga chap 5, aku sama sekali tidak berniat untuk memunculkan Sakura dengan bagian yang sedikit di fict ini. Mengingat ini fict romance, jadi unsur romance antara SasuSaku tidak akan kukurangi, kok. Ikuti saja perkembangannya, ya. Thanks for your review!
Akira Takigawamalas Login: Tak apa malas review non-login, asal malasnya jangan keterusan saja. Aku masih belum hebat, masih banyak Author senior lainnya yang lebih hebat. Dan mengenai ketelitianku dalam pendeskripsian di fict ini mungkin memang caraku mendeskripsikan cerita itu memang seperti ini. Tentang ceritamu mengenai Sakura yang tidak memiliki kata staff itu... Kita lihat saja nanti. Thanks for waiting and review!
Yumi Murakami: Yah, mungkin jika ada anak baru di K-MOS itu mereka harus sering jalan-jalan di dalam gedung sekolah tersebut agar dapat mengingat seluk-beluk lantai itu dengan cepat. Aku tidak hebat, aku hanya mencoba mendesain sekolah dalam fict ini sendiri, kok. Thanks for your review!
Sakura Hanami: Review-mu ini pas-pasan saat aku ingin meng-update chap baru ini, untung aku melihat story stats lagi, kalau tidak... pasti review-mu ini "lewat" begitu saja. Tapi tak apa, aku hargai timing-mu yang pas. Untuk chara cewek yang lain, mungkin akan ada, tapi nanti. Mengenai kesendirian Naruto itu masih kupikirkan berulang kali di otakku. Untuk pair, masih terus kupertahankan SasuSaku karena aku sudah menulis cerita ini lumayan jauh di laptop-ku. Jika ada perubahan... maka hancurlah semua. Jadi, ikuti alur saja, ya! Tak kalah menarik, kok, pastinya. Maaf, jika fict ini menguras habis imajinasimu. Thanks for your support and review!
Thanks for read "CrackHackerz"! May this fiction more cool little by little than you are think.
Sorry for all miss typo. All of reader can tell me about it through review. And I will correct it soon.
And the last words,
"Prepare yourself for the next chapter!"
Signature,
Huicergo Montediesberg
