DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)

CRACKHACKERZ

NARUTO © Masashi Kishimoto

STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg

The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"

WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam,
and many more inside.

GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship

RATED:
Just T... perhaps

COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"

.

"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"

.

.

INTERNET EXPLORER CANNOT DISPLAY:

THE WEBPAGE OF WINDOWS 7

WHAT YOU CAN TRY?

DIAGNOSE THE PROBLEMS

"Selamat tidur, K-MOS, dan... sampai jumpa, The Four Prince of Memoriam."

"Apa katamu?"

Sasuke sedikit terkejut mendengar perkataan Naruto yang tiba-tiba. Ia berusaha berkonsentrasi untuk memilih jawaban yang tepat untuk seorang Naruto. "Tidak. Tidak apa-apa." Apakah suaraku terlalu besar hingga dia dapat mendengarnya? lanjutnya dalam hati.

"Sasuke, besok apa yang akan kita lakukan?" Suara Naruto kembali hadir—dengan pertanyaan yang berbeda—pada indra pendengaran Sasuke yang peka terhadap suara melebihi orang biasa, termasuk Naruto.

"Lihat saja besok. Oyasumi." Sasuke menggerakkan badannya untuk mencari posisi tidur yang nyaman bagi tubuhnya. Membelakangi Naruto yang tengah menolehkan kepalanya ke arah sahabatnya yang mampu membuatnya bertanya-tanya sendiri di dalam kepalanya.

"Yah... Oyasumi. Lagi."

Dan mereka berdua—Naruto dan Sasuke—tertidur dengan posisi saling membelakangi satu sama lain. Mereka memasuki alam mimpi masing-masing yang dimana mereka sendirilah yang menjadi tokoh utama dalam cerita yang sedang diputar di dalam tidur lelapnya. Tanpa mengkhawatirkan sedikit pun mengenai apa yang akan mereka lakukan... dan apa yang akan terjadi besok, lusa, hingga hari terakhir mereka bersekolah di Konoha Memoriam of School.

.

~Crack or Hack?~

.

Waktu telah menunjukkan pukul sebelas tengah malam. Jika kedua pemuda yang bernama samaran Shirozaki Shiki dan Narukami Minato sudah memasuki alam mimpinya yang indah, berbeda dengan keempat pemuda ini. Keempat pemuda bernama kecil Neji, Kiba, Sasori, dan Kabuto yang ternyata masih berkeliaran di malam hari.

Bukan karena ingin meminum-minuman keras dan mencari kupu-kupu malam, tetapi hanya untuk berjalan-jalan dan bersenang-senang. Apakah kata bersenang-senang termasuk kata yang ambigu?

Mereka berempat tampak sangat menikmati malam yang indah ini. Mata mereka terus melihat ke seluruh toko bermerek yang berada di tepi Konoha's Fashion Main Street. Walaupun toko bermerek terkenal berada di pinggir jalan, tetapi suasana, penerangan lampu, layanan, barang, dan arsitektur interior dan eksterior seluruh toko itu pasti dapat membuat orang terkagum-kagum dan merasa puas.

Kabuto mulai menguap, kemungkinan menyadari bahwa ini sudah tengah malam. "Apakah kau sudah memilih sebuah hadiah yang interesting untuk ibumu, Neji? Ini sudah larut malam, tahu?" Ternyata ia memang menyadari bahwa ini sudah tengah malam.

Neji menjawab celotehan Kabuto dengan sangat santai sambil masih melihat-lihat toko yang dapat menarik perhatiannya. "Tunggu, sebentar lagi juga ketemu."

Iris matanya sibuk melihat nama-nama toko yang tertangkap oleh matanya, dan otaknya juga sibuk mengingat mengenai apa saja yang dijual oleh masing-masing seluruh toko—berhubung Neji bukanlah seorang perempuan yang manis walau rambutnya yang panjang dapat membuat para wanita iri. Mungkin.

Langkah demi langkah, mereka menelusuri tepi jalan Konoha's Fashion Main Street—atau biasanya dapat disingkat menjadi Ko-FaMS—dengan sangat perlahan, berharap segera menemukan sebuah toko yang pas untuk membeli sebuah kado untuk orangtua salah satu anggota dari The Four Prince of Memoriam yang bernama kecil Neji.

Selang beberapa menit kemudian, salah seorang anggota dari mereka berempat yang bernama Sasori menepuk pundak Neji dari belakang dan membuat mereka semua berhenti melangkahkan kaki. "Neji, kurasa aku tahu barang apa yang cocok untuk hadiah ulang tahun ibumu nanti."

Neji yang berasa pundaknya ditepuk oleh Sasori merotasikan badannya seratus delapan puluh derajat ke arah belakang. "Apa?" tanya Neji dengan nada yang sudah lelah, kesal, dan hampir putus asa.

"Itu." Pemuda berambut merah yang berwajahkan baby face itu menunjukkan sebuah toko di seberang jalan yang berlawanan dengan posisi mereka sekarang. Toko itu dihiasi banyak lampu berwarna putih terang di dalamnya, membuat siapa saja merasa silau dan—mungkin—terkagum-kagum.

Secara refleks, Neji mengikuti arah jari telunjuk Sasori yang tengah menunjuk sebuah toko—entah itu apa—yang bersinar lampu putih terang bertuliskan: Shine Jewelry.

Dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, Neji berkata, "Ayo, kita coba ke sana."

Neji pun mulai melangkahkan kaki dengan semangat menuju toko jewelry yang berada di seberang jalan dengan menggunakan zebra cross—dan beruntungnya mereka tidak perlu menunggu lampu utama lalu lintas memerah, karena sudah terlihat bahwa lampu lalu lintas pejalan kaki berwarna hijau tepat di depan mata. Tibalah saatnya mereka berada di seberang jalan dengan selamat sentosa.

Tanpa pikir panjang, Neji yang diikuti ketiga kawannya beranjak mendekati sebuah toko yang disarankan oleh Sasori tadi, menaiki anak tangga berukuran kecil yang lebar, dan tanpa dibuka oleh mereka pun pintu jewelry yang full oleh kaca tembus pandang itu terbuka dengan sendirinya ke arah samping kiri dan kanan dalam.

"Selamat datang di Shine Jewelry!" ucap kedua pelayan pria toko tersebut yang berada di sisi kiri dan kanan setelah pintu masuk dengan membungkuk hormat dan salah satu tangan menyilang di depan dada mereka masing-masing.

Sapaan kedua pelayan pria itu hanya direspon sebuah anggukkan kecil dari mereka berempat dengan kompak.

Tidak lama kemudian seorang pelayan wanita berjalan mendekat ke arah mereka berempat. "Selamat malam, Tuan-tuan! Ada yang bisa saya bantu?"

Neji berusaha mencerna apa yang pelayan wanita katakan tadi. "Tentu, aku mencari sebuah hadiah yang cocok untuk ibuku pada hari ulang tahunnya dalam hitungan hari yang tak lama lagi."

Sang pelayan wanita tetap mengembangkan senyuman di wajahnya. "Silakan, mari ikuti saya!"

The Four Prince of Memoriam segera mengikuti pelayan wanita itu tepat di belakangnya. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran setiap anggota yang ada. Merasa bingung pada apa yang sedang mereka lihat sekarang ini.

"Hei, Kabuto, mengapa di tengah malam seperti ini ada sebuah Jewelry yang masih buka? Apakah mereka tidak takut dirampok?" tanya Kiba dengan berbisik di telinga Kabuto yang sedang berusaha menahan kantuk yang menyerangnya.

"Tidak tahu. Tanya saja sendiri ke orangnya."

Perkataan Kabuto yang sudah dilanda perasaan kesal dan mata yang berat membuat Kiba tidak senang dan tidak puas dengan jawaban yang ia dapat. Dan dapat dipastikan sekarang bahwa Kiba sedang memasang wajah cemberut ke arah Kabuto yang sudah selangkah maju di depannya.

Langkah mereka semua terhenti ketika pelayan wanita itu menghentikan langkahnya tepat di sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat sebuah kaca berbentuk kubus. Jika dilihat-lihat, tampaknya meja ini adalah meja khusus karena berada di tengah ruangan—kalau dibandingkan dengan meja berbentuk persegi panjang yang berada di sekelling ruangan ini.

"Ini adalah produk terbaru kami yang ke tiga dalam tahun ini, namanya Light's Heaven."

"Wow, Light's Heaven..." ucap Kiba yang disertai tawa kecil di akhir kalimatnya, membuat Sasori geram dan menginjak kakinya. "Aish, sakit, tahu! Mana sepatunya masih baru dipakai pula."

Melihat teman anggota geng-nya yang bersifat seperti itu, membuat Sasori hanya mampu memutarkan bola mata Jade-nya. Heran. Kenapa klan Inuzuka bisa mempunyai keturunan yang sifatnya seperti Kiba?

Neji tampak berpikir panjang setelah mendengar penjelasan dari sang pelayan Jewelry itu, sedangkan ketiga temannya sibuk bergurau kecil di belakang—entah apa yang diguraukan. "Baiklah, aku pilih yang ini. Satu set. Tolong segera dibungkus."

Mendengar pembelinya berkata seperti itu, membuat senyuman di wajah pelayan wanita itu bersemi. "Ha'i."

Pelayan tersebut mengambil satu set perhiasan yang bernama Light's Heaven yang berada di dalam kaca tembus pandang berbentuk kubus itu, dan segera membawanya ke tempat pembungkusan barang pembelian. Sesuai dengan perkataan sang pelayan toko wanita itu, perhiasan yang dikeluarkan oleh Shine Jewelry yang bernama Light's Heaven adalah satu set perhiasan limited edition dimana hanya diproduksi sebanyak lima set di seluruh dunia.

Beberapa lama kemudian, pelayan wanita tersebut datang dengan membawa sebuah bungkusan berupa tas kecil berhiaskan pita merah di atasnya. "Permisi, Tuan, ini barangnya. Silakan untuk membayar di kasir yang telah tersedia." Tangan kanannya menunjuk ke arah kasir toko itu.

Tanpa membalas sedikit pun perkataan pelayan wanita itu, Neji langsung melesat menuju kekasir untuk segera menyelesaikan proses pembayaran yang pastinya menggunakan sebuah kartu debit miliknya.

"Permisi, bolehkah saya tahu kenapa tengah malam toko jewelry ini belum tutup, ya?" tanya Kabuto kepada pelayan wanita yang melayani Neji sebelum pelayan tersebut melengos pergi.

"Oh, hari ini kita sedang ada cara OTM—Open to Midnight, Tuan. Toko kami juga akan tutup sebentar lagi, Tuan-tuan sekalian adalah pelanggan terakhir kami," jelas pelayan tersebut dengan rinci.

Kabuto menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, terima kasih."

"Sama-sama, Tuan. Permisi." Dan pelayan itu pun melengos pergi.

Sasori yang berada di sebelah Kabuto mencoba mencerna dengan cermat perkataan pelayan tadi walau otaknya sudah malas untuk berpikir. "Toko ini sedang melakukan OTM, jadi sekarang sudah jam..."

Secara serempak, Sasori dan Kabuto melihat jam arlojinya, lalu...

Seketika mata Kabuto terbelalak kaget. "Jam dua belas lewat!" teriaknya dengan suara kecil dan tertahan.

"Yeah! Hari ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan yang pernah kita lakukan! Bayangkan, Teman, kita pulang higga tengah malam! Hebat, 'kan?" seru Kiba karena merasa senang dan puas pada perjalanan yang menurut kedua temannya itu sangat melelahkan.

"Hebat apanya, hah? Hari ini kita hanya berkeliling Ko-FaMS hanya untuk mencari hadiah untuk ibu Neji, tahu?" Emosi Kabuto menaik tinggi karena rasa kantuk yang sudah tidak dapat ia tahan lagi.

Sasori mengoreksi perkataan Kabuto dengan teliti. "Kita 'kan juga makan, bukan hanya berjalan tidak jelas untuk mencari kado saja."

"Itu-tidak-dihitung!" hardik Kabuto yang hanya direspon sebuah 'oh' malas-malasan dari Sasori.

Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran, Neji segera berjalan menuju ketiga temannya—yang dua di antaranya sudah mengantuk berada. "Maaf menunggu, ayo, kita bergegas pulang," ajaknya seraya melangkahkan kaki keluar dari Shine Jewelry yang diikuti ketiga teman di belakangnya.

"Terima kasih, selamat datang kembali!" seru kedua pelayan pria yang berada sebelum pintu keluar berada.

Usai keluar dari toko tersebut, mereka tampak berpikir sesaat.

"Mobil kita sekarang terparkir jauh dari sini, sudah sepi pula," ucap Sasori.

Kabuto menggeram kesal. "Masa' kita harus berjalan jauh untuk sampai ke mobil kita? Mau butuh berapa menit lagi, hah?"

Neji tampak mengernyitkan dahinya, lalu tersenyum kecil. "Jika tidak mau membuang waktu untuk berjalan... yah, berlari saja."

"Ayo, kita berlari! Berlari sebebasnya!" teriak Kiba kesenangan sembari berlari mendahului Neji, Kabuto, dan Sasori di belakangnya.

Melihat temannya yang kesenangan seperti itu membuat mereka bertiga tersenyum dan tertawa kecil, lalu langsung berlari menyusul Kiba dengan tawa lepas, sorakan, dan senyuman menghiasi tiap wajah mereka.

.

~Crack or Hack?~

.

Hari esok pun tiba dengan biasanya: matahari muncul ke permukaan, semua orang bergegas bangun dari alam mimpinya, dan mempersiapkan diri untuk beraktivitas dari pagi hari hingga malam hari, lagi. Tetapi berbeda dengan dua makhluk hidup yang berupa manusia ini.

"Naruto, ayo cepat bangun," perintah seorang pemuda berparas sempurna dan mampu membuat semua kaum hawa yang melihatnya tergila-gila dengannya. Termasuk kalian, wahai pembaca yang berjenis perempuan.

Tidak ada reaksi sedikit pun pada Naruto—pemuda berambut jabrik kuning dan mempunyai senyuman khas yang susah dibangunkan jika sudah melekat erat di tempat tidurnya. Atau mungkin suara Sasuke terlalu kecil untuk membangunkannya?

Sasuke mendengus kesal terhadap sahabat yang sudah membuat dia kewalahan. Coba bayangkan, sudah berapa kali ia mencoba untuk membangunkan Naruto? Hampir lima belas kali. "Naruto... Jangan sampai kau membuatku untuk menghitung mundur dari angka tiga. Cepat bangun."

Tatapan mata Sasuke sudah berubah menjadi sebuah tatapan kegeraman. Dengan segera, Ia manyambar sebuah gelas kosong yang berada di atas meja belajar dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar Naruto—yang pastinya juga didominasi dengan warna kuning—untuk mengambil segelas air dingin dari keran wastafel kamar mandi.

Merasa cukup dengan air yang ia butuhkan, Sasuke kembali berjalan santai menuju tempat tidur Naruto. Masih bertahan dengan posisi meringkuknya. Oh, tampaknya anak dari klan Uzumaki ini masih ingin bermain-main dengan keturunan terakhir klan garis keturunan khusus yang terkenal dengan keegoisannya ini. Sasuke mulai menghitung mundur.

"Tiga."

Tidak ada rekasi.

"Dua."

Masih tidak ada reaksi.

Tanpa menyebutkan bilangan 'satu' di mulutnya. Sasuke langsung mengguyur bagian kepala rekan yang sedang tertidur nyenyak dengan air di gelasnya, tetapi tidak membasahi kasur yang berada di tubuh Naruto. Alhasil, Naruto bangun dari mimpi indah dengan terkesiap dan kedua tangannya sibuk mengelap wajahnya yang basah dengan seadanya.

"Teme! Kau ini apa-apaan, sih! Aku sedang bermimpi indah, tahu!"

"Yah, yah... aku sudah tahu itu. Daripada kau sibuk beradu argumen denganku, lebih baik kau lekas mandi. Sudah jam berapa sekarang, hn?" Jari telunjuk tangan kanan Sasuke mengacung dengan tegas ke arah jam dinding di salah satu sisi dinding kamar Naruto.

Seketika, mata Naruto terbelalak kaget. "HAH? Sudah jam segini? Gawat!" Ia langsung terjun ke bawah ranjang untuk menapakkan kaki di atas lantainya dan segera melesat menuju ke kamar mandi kesayangannya.

Sebelum Naruto menutup pintu kamar mandinya, Sasuke berpesan singkat sesaat, "Mandinya jangan lama-lama. Ingat waktu."

"Iya, aku tahu!" jawab Naruto lebih singkat dari pesan singkat Sasuke sembari menutup pintu kamar mandinya.

Saat Naruto sibuk dengan peralatan dan perlengkapan mandinya, Sasuke menyibukkan dirinya sendiri di teras kamar Naruto. Udara pagi yang sejuk dapat menyegarkan kembali pikirannya yang sudah penat oleh susunan rencana yang akan dilakukan oleh dirinya dan si Dobe itu di sekolah K-MOS nanti dan ke depannya.

Kedua lengannya bergelantung di penyangga teras berwarna hitam di hadapannya. Sinar matahari pagi menyinari seluruh wajah dan badannya yang sudah dilapisi oleh kemeja hitam dan jas putih—pertanda bahwa ia siswa pertukaran pelajar di Konoha Memoriam of School. Tampaknya, pemuda emo yang bernama samaran Narukami Minato ini sangat menikmati sengatan panas matahari yang menerpa wajah tampannya. Itu semua terbukti karena kedua matanya sekarang sedang menutup dan kepalanya mengarah ke arah matahari di bagian Timur. Di depannya.

Sedetik kemudian, salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas—menampilkan senyuman meremehkan—sembari membuka kedua matanya. "Hari kedua telah dimulai."

"Sasuke! Sedang apa kau di sana? Cepat kita sarapan, nanti telat!" teriak Naruto yang sedang sibuk mengancingkan kemeja hitamnya dengan tergesa-gesa.

Sasuke membalikkan badannya dan berjalan masuk kembali ke dalam kamar dan menggeser pintu kaca yang sebagai pembatas antara teras dengan kamar. Mata onyx-nya menelusuri kancing kemeja Naruto sejenak, lalu membuang pandangannya. "Dobe, kau salah mengancingkan kemejamu."

Iris aquamerine Naruto kembali melihat kancing kemeja yang ia kenakan. "Oh, thanks, Teme!" Tangannya pun kembali bekerja untuk membenarkan kancingnya.

"Ah, jas putihmu sudah kusediakan di atas tempat tidur di sebelahmu," kata Sasuke selanjutnya.

Tanpa membalas perkataan Sasuke, tangan kanannya langsung menyambar kemeja putih yang berada di tepi tempat tidur. "Ayo, Sasuke, kita sarapan di bawah!"

"Hn."

Naruto mengambil ransel sekolah dan menuruni tangga sembari menyibukkan kedua tangannya memakai jaket, tetapi matanya memperhatikan langkah kakinya. Takut terjatuh oleh karena kecerobohan dirinya sendiri.

Sedangkan Sasuke? Ia mengambil tas ransel dan menuruni tangga dengan sangat santainya. Seperti biasa, wajahnya selalu datar, tanpa senyuman dan ekspresi. Dingin.

Setelah menjejakkan kaki di lantai dua, mereka langsung berlari—berjalan khusus Sasuke—menuju di mana ruang makan berada. Dan saat Naruto tiba di pintu dapur...

"Pagi, Naruto! Tumben sekali kau bangun lebih cepat dari biasanya," sapa ibu Naruto yang sedang mengatur letak makanan yang sudah matang di atas meja makan berbentuk persegi.

Naruto tercengang dan terdiam beberapa saat. "Hah? Memangnya sekarang masih jam berapa?" Dengan inisiatif tersendiri, Naruto mendongakkan kepalanya ke arah jam dinding di sebelah kanannya. Matanya membelalak lebar.

"JAM SETENGAH TUJUH?"

Reaksi kaget Naruto yang seperti itu mampu membuat pangeran es Uchiha yang baru saja tiba di ruang makan tertawa kecil. Puas akan apa yang telah ia lakukan. Membohongi temannya.

Merasa telah ditipu seperti itu, Naruto menatap Sasuke yang berada di belakangnya dengan tatapan malas dan menurutnya sedikit sinis. "Sa... su... ke..." panggil Naruto dengan nada yang semakin lama semakin meninggi. Sepertinya dia kesal.

Sasuke menatap remeh Naruto. "Huh, itu pembalasan saat kau membohongiku di kelas kemarin."

Ingatan Naruto kembali saat dimana ia membangunkan Sasuke yang sedang tertidur pulas di sofa kelas dan menipunya dengan cara melebih-lebihkan waktu di jam tangannya. Membuat Sasuke terkesiap karenanya.

Pemuda bernama samaran Shirozaki Shiki ini membuang pandangan matanya dari Sasuke dan menghela napas panjang. "Baiklah, Sasuke, aku minta maaf."

"Bukan minta maaf, tapi sekarang kita impas."

"Yah, yah..."

Namikaze Minato—ayah kandung Naruto—yang sedari tadi melihat percakapan anaknya dengan sahabat semasa kecilnya, Sasuke, hanya dapat tertawa pelan sesaat, sebelum pada akhirnya ia menyuruh Naruto dan Sasuke duduk di meja makan.

"Sudah, kalian berdua. Bagaimana kalau kita makan sekarang? Nanti makanannya bisa dingin kalau kelamaan."

"Baik, Ayah!"

"Hn."

Mereka berempat pun melakukan breakfast di dining room yang berarsitektur minimalis dengan sangat tenang. Perasaan bahagia di dalam keluarga ini sungguh dirasakan oleh Sasuke yang menjadi seorang tamu di rumah yang dapat di bilang 'wow' ini.

Dua puluh menit pun berlalu. Mereka berempat yang berada di ruang makan telah menyelesaikan acara makan paginya dengan waktu yang bisa dibilang normal. Minato—ayah Naruto—tampak sedang membaca koran yang baru saja di antar tadi pagi. Kushina—ibu Naruto—sedang meminum minumannya. Sedangkan Sasuke dan Naruto sedang berdiam diri di tempatnya masing-masing.

"Hn, kami berangkat sekolah dulu." Sasuke beranjak dari tempat duduknya. "Terima kasih atas makanannya pagi ini. Makanannya sangat enak."

"Oh, sudah mau berangkat, ya, Sasuke?" tanya Naruto yang dijawab sebuah anggukkan kecil dari Sasuke seraya bangkit berdiri kursinya.

"Sasuke, jangan berwajah datar dan dingin seperti itu, nanti tidak ada perempuan yang mau denganmu, bagaimana?" ucap Kushina dengan perhatian yang mendalam terhadap raut wajah Sasuke.

Naruto berdecak. "Ibu jangan salah. Memasang wajah seperti ini saja sudah banyak perempuan yang naksir berat, apalagi kalau Sasuke sering tersenyum dan baik hati? Dia bisa lebih sempurna lagi."

Mata Kushina berbinar-binar. "Wow, sebegitu kerennya 'kah hingga banyak perempuan yang naksir berat? Berarti jika ingin pacaran atau memilih calon istri tinggal pilih salah satu saja, ya?" ucapnya dengan sangat lantang dan diikuti dengan tawa kecil Minato.

Sasuke tersenyum tipis. "Huh, bagaimana ingin memilih? Para perempuan itu tidak ada yang se-tipe dan se-level denganku. Tidak ada yang menarik perhatian. Kemampuan dan IQ –nya saja tidak ada yang sebanding denganku. Tidak seru."

Kushina sweatdrop sesaat dan tertawa garing. "Aa... Perkataanmu itu sungguh menusuk, ya?"

"Yah, seperti inilah diriku. Aku juga sering mengomentari perempuan-perempuan itu dengan perkataan yang menusuk seperti ini, tapi—"

"Tapi, para perempuan itu masih saja berusaha mendekati Sasuke," sela Naruto. "Padahal Sasuke berharap para perempuan itu menjauh, tapi malah sebaliknya..."

Minato mengangkat salah satu alisnya. "Sebaliknya?"

"Yah, sebaliknya. Malah menjadi semakin menjadi-jadi kegilaan perempuan itu terhadap pangeran es Uchiha Sasuke kita ini." Naruto menunjuk Sasuke dengan menggunakan kepalanya.

Kushina dan Minato hanya dapat ber-'oh' ria. Tetapi rasa kekaguman mereka kepada Sasuke—yang mereka tahu adalah keturunan terakhir klan Uchiha—dalam menjerat hati para perempuan tanpa disengaja itu tidak dapat ditahankan. Membuat Naruto dan Minato—yang sudah bersuami merasa iri saja terhadapnya. Khusus Minato, hati-hati dengan Kushina, ya.

"Bergegaslah, Naruto. Kita harus berangkat sekarang. Itekimasu." Sasuke melangkahkan kakinya menuju keluar rumah kediaman Uzumaki ini untuk mengambil mobilnya yang tengah terparkir di halaman luar.

"Yosh! Itekimasu!" seru Naruto kepada orangtuanya seraya menyusul Sasuke yang sudah lebih dahulu menuju ke luar rumah.

"Iya. Hati-hati, ya!" jawab mereka berdua bersamaan.

Tidak lebih dari satu menit. Sasuke dan Naruto sampai di halaman luar rumah Naruto dan langsung menuruni tangga kediaman Uzumaki menuju di mana Lamborghini Reventon milik Sasuke berada. Lalu mereka langsung masuk ke dalam mobil Lamborghini hijaunya dan melesatkan Reventon menuju jalan raya yang bebas. Back to school.

Pemuda Uchiha satu ini melesatkan mobilnya dengan santai layaknya pengendara biasanya. Mengapa? Karena masih ada banyak waktu yang tersisa, apalagi mereka harus masuk ke sekolah lebih lama sepuluh menit dibanding siswa yang lainnya.

Saat Sasuke tengah sibuk dengan kemudinya, Naruto memecah keheningan yang ada. "Apa yang akan kita lakukan hari ini, Sasuke?"

"Melaksanakan rencana yang sudah kita buat sebelumnya, lalu..." Sasuke berpikir sejenak.

"Lalu?"

Sasuke menyeringai dingin. "Lalu, kita akan berkenalan dengan The Four Prince of Memoriam sebagai teman." Seringaiannya berubah menjadi senyuman meremehkan. "Atau mungkin sebagai musuh."

"BERKENALAN?" teriak Naruto melengking tinggi sembari membelalakan matanya tidak percaya.

Telinga Sasuke meringis kesakitan akibat lengkingan nada bicara Naruto. "Bisakah kau bicara dengan nada yang biasa saja? Suaramu itu dapat membuat telingaku tuli seketika," ujar Sasuke sambil menutup telinga kirinya—telinga yang paling dekat dengan sumber suara Naruto berasal.

"Maaf, tapi aku shock, tahu!"

"Shock dengan nada yang biasa."

Naruto menggeram kesal. "Bagaimana aku tidak mau shock? Coba bayangkan, kau ingin berkenalan dengan The Four Prince of Memoriam itu? Bagaimana kalau mereka dapat mengetahui identitas kita yang sebenarnya? Lalu nanti kita dilaporkan ke polisi, terus kita diadili di meja hijau, terus masuk ke bui, terus—"

"Bisakah kau berhenti menjabarkannya satu-satu?" sela Sasuke yang sudah kesal dan pusing akan apa yang dijabarkan oleh Naruto. Lebih tepatnya, kekhawatiran seorang Naruto.

"OK, OK." Naruto berusaha mengatur sistem pernapasanya dengan cara menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Mencoba membuang segala pikiran negatif mengenai 'berkenalan dengan The Four Prince of Memoriam' yang ada di otaknya.

Lamborghini Reventon yang dikendarai oleh Sasuke terus berjalan dan mematuhi segala peraturan lalu lintas yang ada dengan sangat sopan. Tiba-tiba, Sasuke teringat akan suatu hal yang bersangkutan dengan kemarin malam.

"Apa kau sudah mengingat siapa The Four Prince of Memoriam?"

Naruto menolehkan kepala ke rekannya yang nekat luar biasa ini. "Tentu."

"Di mana pertama kali kita mengenal mereka?" tanya Sasuke seperti menginterogasi Naruto dengan nada yang datar.

"Kita tidak pernah bertatap wajah dengannya, tetapi kita hanya pernah mendengar suara. Dan tampak belakang mereka dengan sangat jelas, untukmu." Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya.

Jemari tangan Sasuke yang dingin mengetuk steer yang berada digenggamannya selama beberapa kali. Mata onyx-nya yang kelam terus menatap ke arah luar kaca kemudi di depannya. "Bagus. Yang aku maksudkan bukan berkenalan secara terang-terangan, tetapi..." Sasuke menampilkan senyuman yang strategis di bibirnya yang tipis. "Kita akan memperkenalkan diri dengan cara kita sendiri."

~CrackHackerz~

Tsuzuku

To be Continued...

Hari Senin | Jakarta, 20 Agustus 2012 | Pukul 14.25 WIB


Reply of Review:

Love Foam: Fict ini memang masih memiliki teka-teki karena CrackHackerz[CHz] ini juga masih termasuk "anak baru" di FNI, jadi tolong dimaklumkan kalau jalan ceritanya masih buta. Dan setidaknya alur cerita ini semakin lama semakin berjalan maju ke depan seiring berjalannya update fict ini. Mengenai romance SasuSaku, aku usahakan agar lebih terasa. Thanks for your support and review!

Fany-san: Maafkan atas keterlambatan update-ku karena aku sedang sibuk-sibuknya mengatur waktu antara belajar, nulis kelanjutan fict, dan menjalankan hobi. Sakura-nya ada, kok. Tapi kemunculannya bukan sekarang, tapi di suatu chap yang akan datang. Mungkin dia sedang mempersiapkan aksinya saat ini. Maaf chap kemarin boring, karena dalam "acara" ini memang lebih menonjolkan SasuNaru. Action-nya istirahat dulu, ya. Thanks for your review!

Maruyama Harumi: Hai, salam kenal juga! Ya, tak apa baru review karena baru lihat fict ini, mungkin memang karena fict ini termasuk berada di genre minor. Terima kasih atas pujiannya, tapi masih memiliki kekurangan di sana-sini, kok. Dan berpikir positif-lah bahwa Sakura pasti akan muncul, karena sekarang ini dia sedang bersiap-siap. Semoga kamu sudah membaca chap ini. Thanks for your support and review!

Cherryemo: Sakura akan muncul di "beberapa" chapter yang akan datang dan perannya akan menjadi "seseorang" yang semoga saja tak kalah menarik. Kelicikan yang dilakukan The Four Prince of Memoriam akan dijelaskan seiring berjalannya chap. Kalau masih penasaran, ikuti alur cerita ini saja, ya. Thanks for your review and waiting!

Yokuhiko Tsubaki: Tebakanmu mengenai keahlian Sasuke dalam bela diri itu benar, setidaknya pernah disinggung sedikit saat pambicaraan SasuNaru di chap awal. Adegan ficghting sudah dipastikan ada. Dan nyeri yang dirasakan Sasuke itu... lihat saja nanti. Thanks for your review!

Rhikame: Yah, tidur satu ranjang antara sahabat itu tidak ada masalah, 'kan? Asal mereka tahu diri itu sudah cukup. Mungkin sifat Sasuke memang "like a boss" seperti yang kau katakan. Thanks for your support and review!

Yumi Murakami: Yah, semoga saja fict ini semakin lama semakin keren. Terima kasih sudah bersedia menunggu kedatangan Sakura. Rencana mereka menjadi murid pertukaran K-MOS bukankah sudah dijelaskan di chap-chap kemarin? "Mencuri", kau ingat? Thanks for your review!

Universal Playgirl: Sudah di-update. Thanks for your review!

Nakashima Michiko: Doumo, dan baguslah penjelasanku sudah dimengerti. Kalau penasaran dengan "kemunculan Sakura", ikuti saja alur cerita fict ini, ya. Yang dapat kuberi tahu mengenai kemunculan Sakura adalah dia akan muncul "beberapa" chap lagi—tergantung kecepatan update-ku—dan dia akan menjadi "seseorang" yang semoga saja tidak mengecewakan. Thanks for your review!

MerisChintya97: Kalau diingat-ingat, alat pengubah suara itu memang mirip dengan pitapengubah suara milik Conan, ya. Aku tidak hebat, aku biasa saja. Mungkin memang seperti inilah caraku mendeskripsikan cerita, walau terkadang ada beberapa bagian yang perlu konsentrasi tinggi untuk mencerna dan membayangkannya. Dan masalah Sakura... "beberapa" chap lagi dia akan datang di depan para pembaca, kok. Sabar tunggu tanggal mainnya saja. Thanks for your support and review!

Shaun: Ya, fict CrackHackerz[CHz] sendiri sudah menjauhi chap 12. Tapi belakangan ini aku tidak sempat melanjutkannya di dalam laptop, jadi aku hanya bisa menulis point-point ceritanya yang mengalir deras dan kupersiapkan dengan matang ketika ku di kelas—walau harus muter otak juga rancangnya. Hasilnya masih stuck di suatu adegan. Masalah karakter Sakura termasuk chara yang istimewa atau tidak di fict ini... lihat saja nanti. Maaf jika aku memberitahu update-nya fict ini beberapa hari setelahnya, karena aku terkadang juga jarang sekali online. Mau online juga mau gak mau. Nanti aku usahakan saat chap berikutnya sudah update akan langsung kuberitahu. Thanks for your review!

Some one: Terima kasih sudah mengikuti fict ini dari awal. Maaf jika kau merasa alur fict ini bertele-tele, tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah merancang alur cerita ini sedemikian rupa, jadi mau tidak mau kau harus mengikuti alur yang sudah kubuat ini, bukan? Lagi pula, aku memang sengaja membuat sibuk kedua pemuda yang berada dalam "acara" ini dengan memadatkan jadwal "pertukaran pelajar mereka selama seminggu penuh". Dan menyinggung soal Haruno Sakura aku hanya bisa berkata, ikuti saja alur ini, nanti juga kamu akan bertemu dengan Sakura, kok. Sabar saja. Walau sekarang fict ini sudah menginjak chap 7, bukan berarti kemunculan Sakura akan dibatalkan. Bagiku, chap 7 masih awal dari segalanya. So, tenang saja. Thanks for your review!

Eunike Yuen: Berhubung kau sekarang sudah jarang buka internet, aku memberitahumu melalui SMS saja, ya. Mengenai Sakura, aku hanya bisa bilang bahwa kemunculan Sakura hanya "beberapa" chap lagi. Jadi, sabar saja. Baguslah kau memperbolehkan aku mengganti kalimatmu karena aku sudah merubahnya terlebih dahulu *lauhing*, justru aku ngerinya tiba-tiba kau bilang jangan. Tidak mungkin aku membeta ulang, 'kan? Your welcome. Thanks for your review!

Sky no Raven: Tak apa baru bisa review sekarang, aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya "sibuk" itu. Maksud dari paralel dan seri CCTV sekolah mungkin bisa kau ketahui di chap selanjutnya. Dan ketegangan karena "tepukan di punggung" Sasuke mungkin juga bisa termasuk sebuah clue dalam cerita ini, jadi silakan berpikir sejenak. Setelah Sasuke tidur, kegiatan makan dan mandi mereka di-skip karena menurutku tidak mengandung unsur yang perlu diketahui dan diperjelas di fict ini. Bukankah Sasuke pernah bilang, bahwa untuk memunculkan DOS setelah memblok sistem keamanan hanya memerlukan "daya imajinasi, kejeniusan, buku, dan otak". Semoga di chap ini kau menelukan beberapa penjelasan dari pemikiranmu. Thanks for your support and review!

Kanna Shimori: Tak apa, tidak masalah. Aku tidak bisa memberitahu kapan Sakura akan muncul, tapi aku hanya bisa bilang, Sakura akan tampil "beberapa" chap lagi. Tunggu kehadirannya, ya. Thanks for your review!

Azizah: Terima kasih atas pujiannya. Dan memangnya apa yang membuatmu penasaran banget di fict ini? Aku beritahu bahwa Sakura akan muncul "beberapa" chap lagi. Thanks for your review!

FatitaRH: Terima kasih atas pujiannya. Kalau tidak tahu harus ngomong apa, kau bisa menceritakan unek-unekmu saat membaca fict ini di dalam review-mu, kok. Thanks for your waiting and review!

A/N: Untuk sementara, adegan action SasuNaru diredakan dahulu karena tak disangka fict ini sudah mulai memasuki tahap yang "lumayan" serius. So, nanti "ketegangan"-nya akan kembali hadir mulai chap depan sedikit demi sedikit. Lalu, untuk "Sakura"-nya... sudah dipastikan tinggal "beberapa" chap lagi dia akan muncul, kok. Tunggu saja.

Thanks for read and like this fict! Without you are this fict is nothing.
I'm also sorry for all miss typo, pal.
And the last words,
"Always prepare yourself for the next chapter!"

Signature,

Huicergo Montediesberg