DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
THE ANTIVIRUS WAS SCANNING YOUR COMPUTER...
NORTON ANTIVIRUS WAS FIND 8 VIRUS IN ONE DATA
IN THE FILES OF...
THE FIRST SEARCHING
"Kita akan memperkenalkan diri dengan cara kita sendiri."
Setelah mendengar tuturan—yang menurutnya—ambigu dari Sasuke yang berada di sebelahnya, Naruto hanya dapat menepuk keningnya dan mengusapnya pelan. Apa lagi yang telah dipikirkan olehnya? pikir Naruto dalam hati.
Kaki kiri Sasuke menginjak pedal rem karena matanya telah menangkap lampu lalu lintas yang baru saja berubah menjadi merah. "Apa yang telah kau pikirkan?" tanyanya tiba-tiba. Matanya melirik ke arah Naruto yang dimana tangannya masih berkutat dengan kening berkulit tan-nya.
Naruto mengembuskan napas secara tegas. "Tidak. Aku hanya berpikir, mengapa kau begitu tertarik untuk berkenalan dengan mereka? Kenapa kita tidak menyelesaikan apa yang kau mau di sekolah itu, lalu kembali menjalani kehidupan yang biasanya di sekolah kita? Tidak perlu repot-repot untuk berkenalan dan berbuat onar dengan mereka, 'kan?"
Kepala Sasuke menengadah ke atas dan memejamkan matanya. "Tadinya aku juga berpikir seperti itu, tapi tak kusangka bahwa ada hal menarik yang berhasil menarik minatku."
"Yah, dan minat itu adalah berkenalan dengan The Four Prince of Memoriam," jelas Naruto.
"Seratus."
Tidak lama kemudian, lampu lalu lintas yang berwarna merah kini berubah menjadi hijau. Sasuke kembali memasukkan speed satu, menginjak pedal gas, menyalakan lampu sein, dan berbelok ke arah kanan. Menjauh dari lampu lalu lintas dan tempat pemberhentian sementara mereka tadi.
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan dengan mereka?" tanya Naruto.
"Sebenarnya aku bukan ingin berkenalan dengan mereka, melainkan aku hanya ingin bermain dengan mereka. Hitung-hitung, aku juga ingin tahu seberapa besar dan hebat skill otak dan otot mereka."
"Alright, aku tak ingin menghancurkan rencanamu yang sudah kau bangun susah payah itu."
Sasuke menaikkan sebelah alisnya seraya memandang ke arah jalanan yang ada di depan. "Jadi?"
"Yeah, aku akan membantumu," jawab Naruto seperti mengetahui apa yang dimaksud oleh kalimat tanya Sasuke.
"Hn. Itu jawaban yang kutunggu sedari tadi darimu." Sasuke tersenyum kecil.
Tiba-tiba Naruto teringat akan suatu hal yang ingin ia tanyakan kemarin. "Teme, kau belum menjelaskan bagaimana kamera kecilmu itu bekerja!" seru Naruto tanpa membiarkan Sasuke menjawabnya terlebih dahulu, "Jadi, tolong jawab pertanyaanku sekarang."
Sasuke berdecak. "Pertama, kamera kecilku dapat mengambil ahli semua hal yang terekam dalam CCTV sekolah yang bersifat paralel—jika satu kamera CCTV tidak berfungsi, maka seluruh CCTV di lantai tersebut tidak akan menyala. Ke dua, kamera kecilku dapat mengeluarkan gelombang elektromagnetik perusak yang dapat membutakan semua CCTV yang diparasiti olehnya. Kau mengerti, Dobe?"
Naruto menganggukkan kepalanya sambil melakukan pose berpikir. "OK, aku mengerti," ucapnya kemudian sembari menganggukkan kepalanya dua kali.
Reventon hijau itu terus melaju menuju sekolah sementara mereka, Konoha Memoriam of School. Berharap dirinya—Sasuke—dapat mengendarai Lamborghini Reventon dengan perlahan dan tepat sampai di sekolah pukul delapan lewat sepuluh menit, seperti kemarin hari.
.
~Crack or Hack?~
.
Di sebuah ruangan yang lumayan besar, tampak seorang wanita berambut blonde sedang duduk di kursi kerja berwarna coklat muda dan didampingi oleh seorang asisten berambut hitam pendek yang sedang berdiri di sebelah kirinya. Kedua tangannya ia letakkan di atas meja kayu yang kokoh di hadapannya. Pupil matanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan, membaca kertas dokumen yang berada di atas meja kerjanya.
Perasaan ingin tahu menyelimuti pikiran Shizune yang sedari tadi melihat atasannya, Tsunade, serius membaca lembar demi lembar kertas di tangannya tanpa bersuara. Membuat rasa penasarannya menang dari rasa kesabarannya.
"Ano... Tsunade-sama, apa yang sedang Anda baca? Tampaknya Anda sangat serius sekali," ujar Shizune pada akhirnya.
Tsunade yang sedang berkonsentrasi membaca, kini mengalihkan pandangan matanya ke arah Shizune yang tengah menatapnya. "Oh, ini hanya sebuah surat." Tangannya bergerak untuk melipat lembaran-lembaran surat dan memasukkannya ke dalam amplopnya kembali.
"Apakah ada suatu hal yang mengganjal pikiran Anda, Tsunade-sama?"
"Tidak." Tsunade berdeham kecil. "Bagaimana dengan sistem keamanan K-MOS sekarang ini?"
"Iya, tadi saya mendapat kabar dari salah satu staff sistem keamanan, katanya sistem keamanan yang sempat error kemarin telah kembali berfungsi sekitar jam sepuluh malam pada hari itu juga."
"Hmm... Baguslah." Tsunade mengalihkan pandangannya menuju luar jendela ruang kerja yang menampilkan dedaunan hijau dari pohon yang sepertinya sudah berumur tua. Perasaan tenang menyelimutinya.
Bunyi detikkan jam mengisi ruang kerja yang tidak bersuara sedikit pun. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Shizune melihat ke arah jam dinding yang berada di atas daun pintu di depannya. "Tsunade-sama, kita harus menyambut kedatangan dua murid program pertukaran pelajar—"
"Tidak perlu," sela Tsunade.
Raut wajah bingung menghiasi muka Shizune. "Hah? Kenapa?"
"Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari mereka." Seulas senyuman manis dan tulus terukir di bibir Tsunade. "Dan kita tidak pantas untuk mengkhawatirkan mereka."
.
~Crack or Hack?~
.
Tepat pukul delapan lewat sepuluh menit, Reventon hijau yang dikendarai oleh Sasuke tiba dengan selamat di depan gedung sekolah K-MOS—Konoha Memoriam of School. Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua langsung keluar dari mobilnya seraya membopong tas ransel masing-masing. Dan dengan setengah hati pula Sasuke menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet parking khusus yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Dengan santai, mereka melangkahkan kaki menuju ruang kelas pribadi bagi mereka berdua menggunakan lift yang satu-satunya hanya bisa mencapai lantai empat sekolah ini. Lift yang mereka pakai untuk melaksanakan misi menyatukan kamera kecil dengan CCTV K-MOS.
Setelah sampai di lantai empat, mereka langsung menuju dimana pintu kelas berada, menge-scan kartu identitas mereka, lalu menempati kursi—atau lebih tepatnya sofa—belajar mereka berdua. Entah ada angin musim apa sehingga membuat mereka berdua tidak mengeluarkan suara sedikit pun; mulai dari turun dari mobil hingga berada di dalam kelas ini.
Ada apa dengan dunia?
Kedua tangan Sasuke bergerak untuk mengeluarkan laptop miliknya dari tas ransel yang berada di punggung kekarnya. Sedetik kemudian, tangan kanannya menengadah ke arah Naruto—dengan maksud tertentu—setelah meletakkan laptop miliknya dengan pasti di atas meja di hadapannya. Tanpa memalingkan wajahnya dari arah depan.
Naruto yang tidak tahu apa maksud dari tangan Sasuke yang menuju kepadanya hanya dapat menjawab, "What?"
Kepala Sasuke menoleh ke arah Naruto yang berada di kanannya. "Laptop K-MOS."
"Ah, tunggu."
Naruto mengambil laptop yang diperintahkan oleh Sasuke dari dalam tas ransel yang dibawanya dengan perlahan dan memberikannya kepada Sasuke, lalu hanya ditanggapi dengan dingin dan datar oleh Sasuke.
Mana ucapan terima kasihnya? Biasanya ada, ucap Naruto dalam hati.
Saat ia telah menerima reseptor dari laptop yang diberi oleh Naruto, tangan kanannya bereaksi menaruh laptop tersebut di atas pangkuannya. Iris matanya yang kelam memandang dengan tatapan kosong ke arah permukaan laptop tersebut. Kepalanya sedikit tertunduk, sejumput poni yang berada di sisi kiri dan kanannya mampu menutupi mata Sasuke yang sedang menatap kosong.
Naruto yang berada di sebelahnya merasa aneh dan—sedikit—takut, bahkan merinding. Tidak biasanya seorang Uchiha Sasuke seperti ini—atau lebih tepatnya, ini pertama kalinya Naruto melihat seorang Uchiha Sasuke berdiam diri dengan tatapan kosong seperti ini. Entah kenapa terasa lebih dingin daripada Sasuke terdiam, ya?
Karena tidak tahan dengan suasana ciptaan Sasuke yang sangat dingin seperti ini, Naruto berinisiatif untuk menyadarkan Sasuke dari lamunan panjangnya.
"Oi, Sasuke? Kau tak apa, 'kan?"
Tidak ada respon. Mau itu sebuah anggukkan atau gelengan kepala, kedipan mata, atau gerak sedikit pun.
Bulu kuduk Naruto langsung berdiri tanpa-aba-aba. "Oi." Karena tak sabaran dengan sifat Sasuke yang terlalu pendiam ini, Naruto menggerakkan badan Sasuke dengan cara mendorong bahu Sasuke perlahan. "Oi, Sasuke! Jangan buat aku takut karena sifat pendiammu yang luar biasa itu! Ayo, respon!"
Seringaian licik melintang dengan strategis di bibir dingin Sasuke. Kepalanya ia miringkan ke arah Naruto. "Aku mempunyai sebuah rencana bagus."
Ucapan Sasuke yang tiba-tiba membuat Naruto berpikir bahwa jika seorang Uchiha Sasuke sedang berpikir dengan konsentrasi penuh tidak akan mudah untuk diganggu atau pun dipecahkan konsentrasinya. Terlalu fokus.
Naruto memandang malas Sasuke. "Kau tahu? Kelakuanmu yang diam seperti itu dapat membuat jantungku berhenti berdetak sesaat dan aku kira kau sudah dipanggil Tuhan," Naruto melanjutkan perkataannya dengan perasaan sedikit kesal, "dan jika itu memang terjadi, aku akan dengan senang hati menguburkan tubuhmu agar kau dapat tidur dengan tenang di alam sana."
Sasuke menyipitkan matanya. "Dan jika kau berani berkata seperti itu untuk ke dua kalinya... Persiapkanlah dirimu agar ke dunia sana lebih dulu dariku," ucap Sasuke tegas.
Karena merasa akan kalah jika berargumentasi lebih lanjut dengan sang Uchiha, akhirnya Naruto mengangkat kedua tangannya. Menyerah. "Baiklah, Uchiha Sasuke-sama... Aku tidak akan mengulanginya—atau lebih tepatnya, tidak akan mencari masalah denganmu lagi."
"Baguslah jika kau mengerti," tungkas Sasuke. Laptop K-MOS yang berada di pangkuannya, ia letakkan di atas meja—sejajar dengan Macbook miliknya yang sudah siap lebih dulu—dan menyalakannya.
Tidak lama kemudian setelah laptop sekolah itu siap untuk dipakai, Sasuke mendorongnya secara perlahan hingga tepat di depan Naruto. Mata elangnya mengamati tubuh laptop yang berwarna cokelat tersebut. "Instruksi ke dua. Cari semua data mengenai The Four Prince of Memoriam, tanpa terkecuali."
Naruto menengokkan kepalanya dengan cepat dan menatap penuh pertanyaan. "Apa maksudmu tanpa terkecuali itu?"
"Yah, semuanya. Sekolah, keluarga, perusahaan, identitas pribadi... Kalau bisa, ditambah dengan kehidupan sehari-hari dan masa lalu mereka."
Cukup. Perkataan Sasuke cukup membuat mata Naruto terbelalak lebar dan bola matanya hampir keluar dari tempatnya. "HAH? KAU SUDAH GILA, YA? JANGANKAN WAJAH DAN NAMA KELUARGA, NAMA KECILNYA SAJA AKU TIDAK TAHU SAMA SEKALI!"
"Bisakah kau tidak berteriak seperti itu, Naruto? Bukankah sudah kubilang kalau tugasmu di sini sudah paling mudah? Hanya mendengarkan instruksi dariku dan melakukannya."
"Yah, yah... Aku tahu itu. Tapi, bagaimana aku bisa mencari data mereka semua? Nama kecil dan wajahnya—minimal, berikan nama klan mereka saja untuk mencari seluruh data The Four Prince of Memoriam itu. Tapi, kau pasti juga tidak tahu nama klan mereka, 'kan?"
Sasuke tersenyum tajam sembari menatap Naruto. "Jackpot-nya... aku mengetahui nama kecil dan wajah mereka."
"Dari mana kau tahu?" tanya Naruto heran.
"Hn? Kau lupa bahwa aku mempunyai kelima indra yang tajam saat aku dilahirkan?"
Naruto menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya. "Tentu aku masih ingat, tapi apa setajam dan sepeka itu indra yang kamu miliki?"
Sasuke memutarkan bola matanya bosan. "Mungkin kelima indraku ini bertambah tajam sehubungan dengan... Ah, sudahlah! Cepat kau cari data mereka."
"Roger that."
Jari-jari Naruto mulai menari di atas keyboard laptop dengan sangat gesit dan lihai jika dilihat dengan sepasang mata tiap orang yang melihatnya secara langsung. Matanya terus menatap monitor di depannya sambil berkedip sesekali. Sasuke yang berada di sebelahnya saja tersenyum dibuatnya. Tidak salah seorang pemuda Uchiha satu ini memilih Naruto sebagai rekan dalam aktivitas-nya kali ini.
Sasuke menyandarkan dirinya di punggung sofa yang berada tepat di belakangnya. Mata onyx-nya terus mengawasi layar laptop K-MOS yang sedang dipermainkan oleh jemari berkulit tan Naruto yang khas. Sesekali ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil karena menunggu aksi Naruto yang menurutnya sangat lama.
Tidak tahan dengan kelamaan yang ada, pada akhirnya Sasuke mengeluarkan suara baritone-nya, "Ingin tahu cara cepatnya, Dobe?" ucapnya dengan perlahan.
Kepala yang bermahkotakan jabrik kuning itu menolehkan kepalanya ke Sasuke dengan tatapan mata seperti berkata, apa?
Melihat tatapan mata Naruto yang sepertinya butuh sekali instruksi lebih jelas darinya, Sasuke hanya dapat mendengus pelan dan berkata, "Pertama, cari identitas mereka melewati jaringan rahasia sekolah ini dengan password yang sudah kita dapatkan kemarin hari."
Tangan Naruto kembali bergerak untuk membuka jaringan web rahasia milik sekolah Konoha Memoriam of School yang kemarin sempat dibuka olehnya, tapi tidak dapat dimasuki oleh karena password dan chance yang telah disediakan oleh web itu.
"Sudah," ucapnya pada akhirnya.
Sasuke berdeham kecil. "Kita terobos masuk dengan cara memasukkan kode password yang kita dapat dari salah satu staff sekolah ini."
Dengan cepat, Naruto memasukkan kata kunci 'KMOS' dengan langkah jari yang pasti, lalu menekan sebuah tombol ENTER. Beberapa kemudian,tampillah sebuah web yang sangat didesain khusus dan tampak elit dilihatnya. Warna latar belakang web rahasia itu didominasi oleh warna biru dan hitam.
Senyuman kesenangan kembali muncul di permukaan wajah Naruto. "Kita berhasil masuk dengan sukses, Teme!" ucapnya seraya menolehkan wajahnya ke arah Sasuke.
"Aku tahu. Selanjutnya." Sasuke berpikir sejenak. "Cari data siswa yang bernama kecil Neji."
Naruto kembali menggerakkan kursornya menggunakan touch pad laptop yang masih di bawah kendalinya. Kursornya bergerak menuju pilihan menu utama yang bertuliskan Student's Document dan meng-klik-nya sekali, lalu tampillah daftar nama siswa yang masih bersekolah dan bahkan pernah bersekolah di Konoha Memoriam of School yang telah tersusun rapi berdasarkan abjad A sampai Z. Dan semua itu dibagi menjadi beberapa halaman yang bisa dibilang sangat banyak. Sebenarnya sudah berapa lama sekolah ini berdiri, hah?
Saat Naruto sibuk menge-scroll daftar nama murid yang panjang-dan-banyaknya-minta-ampun itu, Sasuke hanya dapat menghela napas panjang untuk ke sekian kalinya. "Naruto, bisakah kau mencari nama kecilnya dengan cara menggunakan kolom search yang sudah tersedia di bagian kanan atas web?"
"Oh, iya! Maaf, Sasuke, aku lupa karena saking serunya," katanya seraya menge-scroll ulang tampilan web ke atas dan menulis kata 'Neji' di dalam kolom search yang ada, lalu memilih pengelompokkan berdasarkan nickname di dalam kolom pilihan yang bersejajar di sebelah kiri kolom search, dan menekan tombol ENTER kembali.
Beberapa detik kemudian, tampaklah beberapa list yang berisi seluruh nama murid yang terdaftar di Konoha Memoriam of School dengan bervariasi nama klan, tetapi bernama kecil sama yang diberi tanda font bold.
"Sasuke, di sekolah ini ada dua puluh empat orang murid yang bernama kecil Neji. Lalu kita harus bagaimana?"
"Buka list nama mereka satu persatu."
"HAH? A—"
"Sudah, cepat lakukan." Sasuke memijat pangkal hidung yang berada di antara kedua mata sembari memejamkan matanya. Cara yang biasa ia lakukan untuk mengusir rasa lelah dan merilekskan pikirannya. "Nanti saat dibuka pasti tertampil foto mereka, dan pada saat itu juga aku dapat mengenali apakah mereka yang termasuk anggota The Four Prince of Memoriam atau bukan."
Naruto menghela napas penuh kepasrahan lebih panjang dari biasanya. "Ha'i, Sasuke-sama..." Naruto menge-klik list nama murid mulai dari yang paling atas. "Yang pertama namanya Akihisa Neji."
Setelah Naruto menge-klik list yang bernama Akihisa Neji, maka tampillah sebuah foto dan identitas lengkap murid tersebut—yang tanpa disuruh sekali pun telah dilihat oleh Sasuke.
Sasuke melepas pijitan tangannya dari pangkal hidungnya sendiri dan melihat foto murid tersebut dengan tatapan mata yang fokus. "Bukan."
Naruto beranjak keluar dari profil murid tersebut dan beralih ke list nama murid lain yang berada di bawahnya. "Selanjutnya, Amakusa Neji."
Sasuke melihatnya dan mengingat kembali satu persatu wajah anggota The Four Prince of Memoriam yang telah ditangkap oleh mata onyx-nya walah hanya sesaat. "Bukan."
Naruto melakukan hal yang sama. "Chousaki Neji."
"Bukan."
"Chigatta Neji."
"Bukan."
"Daguren Neji."
"Bukan."
Naruto mulai merasa kesal karena ia merasa masih lama akan menemukan The Four Prince of Memoriam yang bernama kecil Neji itu. Untuk mencari satu nama kecil ini saja lamanya setengah mati, apalagi jika ditambah tiga lainnya nanti? Tidak dapat dibayangkan oleh Naruto berapa lama mereka akan terus mencari identitas seluruh anggota geng itu.
"Furino Neji."
"Bukan."
Ini yang terakhir untuk membuka list nama secara berurutan, jika masih salah, aku akan membukanya secara acak agar lebih mudah ditemukan, ucap Naruto dalam hati.
"Hyuuga Neji."
Saat bola mata obsidian milik Sasuke bertatapan dengan foto murid yang baru saja dibuka oleh Naruto, otaknya memutar kembali ingatan dimana matanya menangkap wajah itu di antara dari mereka berempat. Pria berambut panjang.
Senyuman Sasuke yang dingin terlukis dengan sempurna di wajahnya. "Dapat."
"Akhirnya... ketemu juga!" Naruto merenggangkan persendian jemarinya sehingga menghasilkan suatu bunyi yang sudah biasa didengar oleh orang yang telah melakukan hal yang sama. "Jadi, ini orang yang menjadi salah satu dari The Four Prince of Memoriam itu."
"Tak kusangka nama keluarganya itu Hyuuga. Dan tampaknya ia berperan paling penting di kelompoknya." Sasuke mengernyitkan dahinya sesaat lalu bersikap rileks seperti biasa.
Naruto tertawa. "Rambutnya panjang seperti perempuan. Bagaimana jika kau pacaran dengan dia saja, Sasuke? Tertarik, tidak?"
"Aku. Masih. Normal." Sasuke mengalihkan pembicaraan, "Yang ke dua. Cari data siswa yang bernama kecil Kabuto."
Jemari Naruto bergerak untuk menghapus nama Neji dari kolom search dan diganti dengan nama kecil Kabuto, lalu menekan tombol ENTER kembali.
"Terdapat dua belas orang yang bernama kecil Kabuto di sini," ucap Naruto untuk memberitahu Sasuke.
"Baguslah, lebih sedikit." Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada. "Cari satu-satu."
"Aku mulai dari yang paling bawah." Naruto menge-klik sebuah nama murid yang berada pada urutan daftar yang paling bawah.
"Yakushi Kabuto."
Sasuke tersenyum senang. "Ya, dia orangnya."
"Yosh! Semakin cepat, pekerjaan mencari 'siapa orangnya' ini akan semakin selesai!" Naruto memposisikan tangannya di atas keyboard setelah menghapus nama Kabuto dari kolom search. "Selanjutnya?"
Mendengar kalimat tanya Naruto yang seperti tidak sabar untuk mencari orang yang berikutnya, membuat Sasuke menyeringai tipis. "Kiba."
Naruto kembali melakukan ritualnya. "Terdapat enam orang murid yang bernama kecil Kiba."
"Silakan pilih secara acak," tukas Sasuke singkat.
"Rumino Kiba."
"Not yet."
"Inuzuka Kiba."
"Bingo," ucap Sasuke seraya membentuk tangannya hingga menjadi sebuah pistol yang mengarah ke foto seorang murid yang ternyata bernama lengkap Inuzuka Kiba.
"Yang terakhir?" tanya Naruto yang sudah tidak sabar untuk mengetahui keempat wajah The Four Prince of Memoriam itu. Tampaknya Naruto sudah terbawa suasana oleh permainan kecil ini.
Salah satu sudut bibir Sasuke naik ke atas. "Sasori." Sasuke mengalihkan padangan matanya dari layar laptop K-MOS. Memejamkan mata sesaat.
Jemari Naruto kembali bergerak dengan lincah untuk mencari data dari 'keempat orang' yang terakhir. "Beruntungnya, hanya ada satu murid yang bernama kecil Sasori."
"Namanya?" tanya Sasuke seraya masih memejamkan matanya.
"Akasuna... no Sasori?" ucap Naruto dengan tegas lalu berubah menjadi sebuah pertanyaan. Jari telunjuknya bergerak untuk menge-klik nama itu.
Mendengar nama aneh seperti itu membuat pemuda Uchiha yang berada di sebelah Naruto menengokkan kepalanya dengan reflek ke arah monitor laptop. Sejenak Sasuke berpikir, mengapa namanya begitu aneh?
"Oi, Sasuke... Kau tahu kenapa nama keluarganya begitu aneh? Di antara nama klan dan kecilnya terdapat huruf 'no'?"
Sasuke mengedikkan bahunya tidak tahu dan bersikap rileks kembali. "Kita tidak akan tahu kalau kita tidak mencari semua mengenai keluarganya, perusahaannya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya."
Keheningan, rasa bingung, bahkan suatu yang aneh menyelimuti atmosfer mereka berdua. Mengapa nama keluarganya aneh seperti ini? Apakah ada sesuatu yang pernah terjadi di masa lampau sehingga nama keluarganya berubah seperti ini? Kalau ada, apa?
Sasuke mendengus. "Sudahlah, lupakan masalah nama yang aneh itu, slow but sure, nanti kita pasti tahu."
Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya juga, sih..."
"Kau sudah mem-bookmark atau menyimpan keempat info profil yang tadi?"
"Sudah."
"Good boy."
Iris mata aquamerine Uzumaki Naruto menatap Sasuke yang tengah menatap lurus ke depan. "Setelah kita menemukan identitasnya, apa yang akan kaulakukan, Sasuke?"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang akan kulakukan?" Kepala yang bermahkotakan rambut raven-nya menengadah ke langit-langit ruang kelas. "Apa yang akan kulakukan, ya..." ucapnya diseret-seret.
Sasuke terdiam. Menjernihkan pikirannya yang sudah padat dengan gulungan kabel yang berbelit-belit. "Seperti yang sudah kubilang saat di dalam mobil tadi," Sasuke menolehkan kepalanya ke arah Naruto. "Kita akan berkenalan dengan mereka."
"Dan apa yang akan kaulakukan setelah itu?"
Sasuke tersenyum merendahkan. "Aku akan menguji kemampuan otak serta otot mereka." Bibir tipisnya yang dingin menyeringai dan pita suaranya menghasilkan tawa kecil yang berat. "Apa yang bisa dilakukan oleh The Four Prince of Memoriam? Kita lihat saja nanti."
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Jumat | Capetown, Afrika, 24 Agustus 2012 | Pukul 17.01 WS [Waktu Setempat].
Reply of Review:
Fany-san: Pairing-nya masih SasuSaku, kok. Tidak akan ada perubahan sedikit pun. Semoga saja khayalanmu mengenai jadi-apa-Sakura-nanti itu menjadi kenyataan di fict ini, ya. Sakura pasti akan muncul, kok. Coba hitung mundur saja. Maaf, tidak bisa update kilat. Thanks for your review!
Cheryxsasuke: Hai juga. Kau kuliah semester 6? Tak kusangka kau lebih tua dariku. Berhubung kau lebih tua, jadi jangan panggil aku senpai, Cergo saja. Chap ini belum masuk klimaks, baru mau menuju klimaks, lalu nanti antiklimaks. Terima kasih sudah memaklumi update lamaku. Thanks for your review!
Maruyama Harumi: Maaf, karena lama menunggu update fict ini. Terima kasih, aku masih Author abal jadi pasti memiliki banyak kekurangan. Semoga kau suka dengan chap ini. Thanks for your support and review!
Karikazuka: Ya, aku setuju dengan perkataanmu mengenai "fict ini SasuSaku tapi yang sering muncul itu SasuNaru, pasti banyak yang bingung" itu. Yeah, sesekali membaca gubahan alur cerita terbaru dariku di FNI pairing SasuSaku ini tidak apa, 'kan? Sakura akan muncul "beberapa" chap lagi itu, yah... Hitung mundur saja, ya. Kau tidak perlu respon kilat, asal kau niat baca dan review, aku sudah menghargainya. Thanks for your review!
Yumi Murakami: Tujuan utama SasuNaru di K-MOS adalah "mencuri" dokumen rahasia milik sekolah K-MOS secara 'keseluruhan'. Dan sebenarnya siapa SasuNaru itu akan dijelaskan di alur cerita yang jauh lagi. Tidak apa mengkritik The Four Prince of Memoriam, aku memang sengaja 'menjelek-jelekkan' mereka *laughing*. Untuk adegan menegangkan ditunggu, ya. Thanks for your review!
FatitaRH: Aku membuat summary seperti itu agar di setiap kalimat yang berbeda, jawabannya itu tidak sama. Hanya itu. Karakter Sasuke sebenarnya bisa jadi apa saja: bisa serius, bisa nge-flow. Sesekali kasih kado ke ibu yang sedang ulang tahun tidak salah juga, 'kan? Thanks for your review!
Eunike Yuen: Hai juga, aku tidak bosan melihat review darimu, kok. Maaf, kalau aku kasih tahu update-nya telat karena aku juga jarang online juga *laughing*. Haruno Sakura belum muncul, tapi "akan" segera muncul, kok. Terima kasih sudah menyukai alur fict ini, dan semoga tambah suka ketika Sakura muncul nanti. OK, aku akan SMS kamu—mungkin di atas jam 6 karena terkadang aku pergi sama teman. Your welcome. Thanks for your review!
Guest: Buatanku selalu bertele-tele? Lalu, kau tidak suka? "If you DON'T LIKE, DON'T you READ", right? Sepertinya aku sudah menulisnya di bagian "paling atas" fict ini. So, daripada mengganggu pemandangan review yang lain, bagaimana kalau kau jangan meng-klik apalagi membaca fict ini? Dan 'jika' kau adalah orang yang sama dengan reviewer chap sebelumnya ber-nickname "Some one"—yang pengetikkan grammar-nya salah—itu mendingan jangan me-review hal yang sama berulang kali, ngerti? Go. Ahead. Thanks for your review.
Universal Playgirl: Sudah di-update, silakan dibaca. Thanks for your review!
Shaun: Terima kasih atas pengoreksiannya. Tapi kurasa penggunaan kata "aku" dalam percakapan Sasuke dengan ibu Naruto itu adalah hal yang biasa saja mengingat Sasuke dan Naruto sudah akrab sejak lama—karena Author-nya juga memakai gaya bahasa seperti itu di dunia nyata *evilsmirk*. Yah, aku akan memberitahu jika aku sempat, atau kau mau periksa FFN setiap hari hanya untuk menge-cek fict-ku sudah update atau belum? Mau? Thanks for your review!
MerisChintya97: Hai juga, aku juga datang lagi untuk meng-update fict ini, yah setidaknya masih di dalam rencana update yang kuberitahukan padamu. Tidak apa baru riview, asal masih punya niat untuk me-review. Itu hanya perasaanmu, lagipula aku tidak suka dengan hal yang berbau homoseksual seperti apa yang kau pikirkan. Semoga ini sudah lebih panjang. Atau sama saja, ya? Thanks for your review!
Azizah: Mengenai SasuNaru itu siapa nanti akan dijelaskan di chapter-chapter mendatang. Untungnya bagi mereka adalah... lihat saja nanti. Masalah membasmi serangga-serangga itu hanya 'omongan' di mulut Sasuke saja, jadi Sasuke belum kenal dengan The Four Prince of Memoriam. Sesuatu yang ingin dicuri mereka itu dokumen rahasia sekolah... ini sudah diceritakan di chap yang lalu, bukan? Mereka melakukan rencana itu atas dasar... "seseorang". Untuk sementara ini mereka berdua saja, tapi nanti akan ada—jika bisa disebut—kaki tangan. Tak apa kepo, aku juga suka melihat review yang isinya pertanyaan dari para pembaca, kok. Thanks for your review!
Renvel: Salam kenal juga, Renvel! Terima kasih sudah menyukai fict ini, maksud dari kosakata campuran seperti yang kau bilang itu apa, ya? Aku buat fict ini tanpa mendapatan inspirasi, kok. Tiba-tiba saja terlintas di otak—walau hanya sebersit beberapa adegan, lalu aku buat saja menjadi cerita. Aku tidak mengambil sekolah jurusan TIK/Komputer, tapi aku mengambil jurusan IPA. Untuk masalah teknik-teknik yang dilakukan Sasuke, aku hanya menulisnya menurut apa yang kupelajari dalam pelajaran TIK. Menyinggung apakah SasuNaru memiliki perusahaan seperti The Four Prince of Memoriam, nanti kau juga akan tahu sendiri. Aku tidak hiatus—tapi mungkin akan hiatus, lalu aku sudah membuat fict ini dari awal tahun 2012, tetapi baru bisa ku-publish sekarang. Akhir dari cerita ini aku juga tidak tahu, ending-nya belum terpikirkan olehku. Sakura akan dapat peran permanent, kok. Aku tidak mau menerima hatimu karena nanti kau bisa mati. Yah, terima cerita apa adanya, ya. Kadang cerita ini mempunyai alur longgar, kadang serius, tergantung sikon. Thanks for your support and review!
Love Foam: Ya, sedikit demi sedikit jika kau mengikuti alur fict ini, kau pasti akan mengerti dengan sendirinya. Lalu, apa yang akan kaulakukan jika Sakura muncul nanti? Tidak mungkin masih menanti, 'kan? Thanks for your support and review!
Sorry for all mistake(s).
And for the last words,
"See you next time in next chapter exactly!"
Signature,
Huicergo Montediesberg
