DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
SOLVE PC ISSUE:
9 TOTAL MESSAGES
WHAT DO YOU WANT TO CHOOSE?
READ THE IMPORTANT DOCUMENT
"Apa yang bisa dilakukan oleh The Four Prince of Memoriam? Kita lihat saja nanti."
Entah kenapa, Sasuke merasa senang setelah mengeluarkan kalimat tersebut dari pikiran dan hatinya. Seringaian puas melintang di garis bibirnya yang tipis dan dingin. Pikirannya mendadak penuh dengan beberapa cara untuk menghadapi The Four Prince of Memoriam. Termasuk ingatannya mengenai klan Hyuuga yang pernah ia lihat di suatu tempat
"Apa yang telah kau rencanakan?" tanya Naruto dengan berani kepada Sasuke. Ia bertanya seperti itu karena jika dilihat baik-baik oleh matanya yang tidak mempunyai kelainan, Sasuke sedang memikirkan suatu rencana yang menurutnya brilliant.
Sasuke membangunkan badan dari posisi duduknya. Merenggangkan ototnya ke segala arah. Ia melirik jam arlojinya. "Masih tersisa banyak waktu." Matanya kembali melirik Naruto melalui ekor matanya. "Mau menemaniku mengelilingi sekolah ini? Setidaknya semua murid di sekolah ini masih belajar dengan tekunnya."
"Tentu. Aku juga sedang malas hari ini," sahut Naruto seraya berjalan keluar dari mejanya mengikuti Sasuke yang telah lebih dulu berada di luar mejanya.
"Bagus." Sasuke mengambil sesuatu dari tas ransel yang berada di samping sofa belajar dan mengambil dua buah benda pelindung kepala berwarna hitam, lalu menyodorkannya ke Naruto. "Pakai topi ini," titah Sasuke. "Jika nanti kita tak sengaja berpapasan dengan The Four Prince itu, wajah kita tidak akan ketahuan dengan mudahnya."
Tangan kanan Naruto terulur untuk mengambil topi yang Sasuke berikan untuknya dan memakainya di kepalanya yang bisa dibilang cukup besar sehingga ia perlu menyeting ulang ukuran lingkaran kepala yang berada di bagian belakang topi sox hitamnya. Begitu pula dengan Sasuke.
Alhasil, bentuk rambut mereka tidak terlihat secara keseluruhan. Yang dapat dilihat hanyalah sisa-sisa rambut Naruto dan sejumput poni yang berada di bagian kiri dan kanan kepala Sasuke.
"Hn, dan satu lagi," Sasuke mengeluarkan sebuah kacamata di balik saku jasnya dan mengenakannya. "Pakailah kacamata hitammu juga."
Naruto melakukan apa yang disuruh oleh Sasuke. Dan tersembunyilah wajah mereka dengan status yang masih berada di sekitar kata sempurna.
Lalu Naruto memberanjakkan kaki menuju sebuah kaca yang berada di atas wastafel di kelas mereka. "Wow, kita seperti mata-mata yang berada di film Mission Impossible-nya Tom Cruise," ungkap Naruto seraya menarik topi sox-nya ke depan. "Agent Hunt. Keren."
"Huh, ini hanya untuk jaga-jaga jika saat kita berkeliling bertemu dengan The Prince-The Prince itu," kata Sasuke sambil meledekkan nama The Prince of Memoriam.
Naruto tertawa terbahak-bahak. " Iya juga, ya... Namanya saja yang Prince, tapi belum tentu jalan pikiran otak dan kekuatannya sama seperti Prince yang sebenarnya."
"Sudahlah, jangan membahas mereka, nanti mereka bisa bersin terus-menerus. Ayo, kita pergi." Sasuke melesat pergi menuju pintu kelas.
"Ryoukai, Uchiha Sasuke-sama!"
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan kelas mereka untuk berkeliling melihat sekolah Konoha Memoriam of School. Dan jika beruntung, mereka akan segera menemukan keempat The Prince of Memoriam itu. Segera.
The Four Prince of Memoriam adalah sebuah sebutan nama dari para fansgirl keempat pemuda yang sudah kita ketahui bernama lengkap: Hyuuga Neji, Yakushi Kabuto, Inuzuka kiba, dan Akasuna no Sasori. Mengenai keluarga, perusahaan, dan sekolah mereka masih belum dicari secara spesifikan oleh Sasuke dan Naruto.
Mereka dipanggil seperti itu karena menurut murid di sekolah Konoha Memoriam of School, mereka berempat adalah bintang-nya sekolah ini. Dilihat mulai dari sikap, sifat, wawasan, nilai pelajaran, perusahaan, dan bahkan klan mereka tersendiri.
Dan bagaimana dengan tantangan yang akan diberikan oleh Sasuke kepada mereka? Apakah mereka dapat meladeninya dengan suka hati? Atau mengabaikan tantangan dari Sasuke?
"Ano, sebenarnya kita mau pergi ke mana terlebih dahulu?" tanya Naruto yang sedari tadi bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Tempat favoritku," jawab Sasuke, "perpustakaan." Dan tahukah Anda jika jawaban Sasuke membuat Naruto menepuk dahinya dengan keras karena merasa yakin kalau pasti ia dan Sasuke akan berlama-lama di sana. Di salah satu tempat yang justru dijauhi oleh Naruto sendiri.
.
~Crack or Hack?~
.
"Inuzuka Kiba, silakan maju untuk mengisi jawaban dari soal matematika berikut ini!" perintah seorang guru yang sedang mengajar pelajaran matematika di suatu kelas dimana The Prince of Memoriam itu berada. Dan kebetulan sekali, salah satu anggota dari mereka—yang bernama Kiba—disuruh untuk maju ke depan kelas untuk mengisi sebuah soal matematika.
"Ha'i, sensei!"
Kiba maju ke depan kelas dengan wibawa yang sangat tinggi—dengan kata lain, kepercayaan dirinya sangat tinggi. Dan ajaibnya lagi, ia dapat mengerjakannya dengan sangat teliti, teratur, dan rapi. Sehingga seluruh murid dan bahkan ketiga teman sekelompoknya bertepuk tangan atas seluruh jawaban yang telah digoreskan di atas papan tulis oleh Kiba.
"Sugoii, Inuzuka! Jawabanmu tepat seratus persen!" puji sang guru. "Kamu boleh kembali ke tempat dudukmu."
"Arigatou gozaimasu, sensei." Kiba pun kembali berjalan menuju tempat duduknya dan saling menepukkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan yang lainnya: Neji, Sasori, dan Kabuto.
"Dan selanjutnya, para murid yang remedial silakan menyiapkan diri kalian sekarang, kecuali keempat murid yang saya sebutkan namanya." Guru tersebut mengambil sebuah buku daftar nilai beserta absensi yang ada di mejanya. "Yang tidak ikut remedial hanya empat orang yang tidak perlu disebutkan namanya kalian juga sudah pasti tahu." Dan guru itu kembali menutup bukunya.
Keempat para anggota The Four Prince of Memoriam berjalan keluar kelas tanpa rasa segan dan bersalah sedikit pun.
Setelah keempat murid itu keluar dari kelas, sang guru pun kembali melanjutkan perkataannya. "Baiklah, seluruh murid yang remedial, harap sudah siap untuk menjawab semua soal dari saya. Nama yang saya panggil silakan menjawab soal dari saya di papan tulis."
Maka terdengarlah suara para murid yang sudah malas dengan remedial ini, "EEEHHH?" Dan diikuti oleh suara protes para murid yang tidak siap akan ulangan lisan ala matematika ini.
Sedangkan The Four Prince of Memoriam yang ternyata sedari tadi menguping dari luar pintu kelas hanya tertawa kecikikan, dan suara tawa yang paling besar adalah suara Kiba.
"Kau dengar itu? Bagaimana sekolahan ini bisa maju jika sebagian besar muridnya saja seperti ini?" tawa Kiba dengan tertahan, takut terdengar hingga ke dalam kelas.
"Daripada mengurusi murid yang tak berguna itu, lebih baik kita ke perpustakaan saja untuk membahas Nyonya dari klan Hyuuga yang akan berulang tahun esok hari," ajak Kabuto seraya berjalan meninggalkan mereka di balik punggungnya.
Sedangkan yang lainnya hanya bisa mengikuti dan menyejajarkan diri mereka dengan Kabuto di depan. Sambil bercanda-gurau, cerita, dan berbagai macam lainnya, tidak disangka mereka sudah tiba di depan pintu perpustakaan yang memang faktanya hanya berbeda beberapa belokkan dari koridor kelas mereka di lantai dua sekolah ini.
Secara satu-persatu mereka memasuki ruangan tujuan awal mereka dengan santai dan masih tetap gurauan mereka yang tidak jelas apa yang mereka guraukan, mungkin suatu hal di luar sana. Seorang wanita penjaga yang bertugas mengawasi perpustakaan hanya dapat tersenyum ramah menyambut kedatangan The Four Prince of Memoriam. Apakah penjaga perpustakaan itu juga menggilai The Four Prince of Memoriam? Gila.
Perpustakaan sekolah ini terlihat sepi—atau mungkin hanya mereka berempatlah yang mengunjungi ruang perpustakaan ini. Mereka berjalan menuju urutan rak ke sebelas dari dua puluh sembilan. Jauh dari depan dan jauh dari belakang. Pas untuk mereka yang berniat ke perpustakaan untuk membahas sesuatu daripada membaca.
Semua buku itu di atur serapi mungkin, seluruhnya berdiri tegak menyamping sehingga hanya judul dan si pengarang buku yang tertulis di punggung buku itu saja yang terlihat. Di tambah dengan suasana perpustakaan yang sangat nyaman, mungkin para penikmat dan pecinta buku akan betah berlama-lama di dalam sana.
Pemuda berambut merah yang bernama Sasori menggerakkan jari telunjuknya dari satu buku ke buku yang lain, memilah-milah buku yang akan ia baca nanti. "Jadi, apa rencana acara ulang tahun ibumu, Neji?" Telunjuk Sasori menarik sebuah buku keluar dari barisan raknya dan menatap Neji yang sedang bersandar di rak balik punggung Sasori seraya melipat kedua tangannya. "Apakah special... atau biasa saja?"
Tanpa mereka berempat ketahui, terdapat dua orang berkaca mata hitam dan memakai topi yang berbeda satu urutan rak dari mereka berempat yang sedang tertarik dengan pembicaraan mereka sekarang. Sasuke dan Naruto hanya berbeda satu rak lebih jauh dari mereka. Jika The Four Prince of Memoriam berada di rak ke sebelas, maka Sasuke dan Naruto berada di rak ke dua belas. Berlawanan dengan sisi sebelah rak Sasori berada sekarang.
Naruto yang berada di sebelah Sasuke memalingkan kepalanya ke arah Sasuke dan menatapnya dengan raut wajah seolah bertanya, apa yang harus kita lakukan sekarang?
Sayangnya, arti raut wajah Naruto hanya dijawab dengan sebuah jari telunjuk dan desisan tanpa suara Sasuke yang menyuruh Naruto untuk diam dan dengar. Dan mereka pun kembali mendengarkan pembicaraan keempat pangeran tersebut.
Neji yang besok akan merayakan pesta ulang tahun ibunya, menyunggingkan senyuman kecil seraya ke arah sang penanya, Sasori. "Tentu saja, besok adalah sebuah hari raya ulang tahun yang spesial. Aku dan ayahku akan membuat sebuah pesta yang ramai dan meriah."
"Meriah, heh? Memangnya keluarga mana saja yang kau undang?" tanya Kabuto.
"Aku mengundang semua keluarga untuk datang ke mansion-ku, tanpa terkecuali," jawab Neji dengan sedikit nada kesombongan di dalam kalimatnya.
Pemuda yang bernama kiba saling menabrakkan telapak tangannya—bertepuk tangan takjub. "Whoa, luar biasa teman Hyuuga kita ini!" Kiba memberhentikan tepuk tangannya. "Berarti kau mengundang klan itu?"
Neji tampak memikirkan perkataan yang tepat untuk menjawab pertanyaan temannya yang satu-satunya paling aktif. "Keluargaku memang mengundangnya dan salah satu perwakilan keluarga itu memang datang, tapi... aku tidak tahu yang mana salah satu dari mereka itu."
Sasuke tiba-tiba terpaku akan pembahasan mereka sekarang—hampir tidak bernapas. Dirinya tahu pasti klan apa yang mereka bicarakan itu. Pikirannya kini penuh dengan opsi-opsi penting mengenai apa yang harus ia lakukan nanti.
"Apakah kau pernah melihat salah satu saja wajah dari keluarga itu?" tanya Kabuto yang penasaran dengan pembahasan mereka sekarang.
Untuk menjawab pertanyaan Kabuto, Neji hanya bisa menggeleng pelan. Karena ia memang belum melihatnya.
Kiba menggaruk kepalanya frustasi. "Argh, kenapa mereka sangat sulit sekali diajak bertatapan wajah?" rutuk Kiba kesal. "Hei, Sasori, sepertinya keluargamu tidak akan mampu menyaingi keluarga itu."
Sasori menampilkan senyuman di bibirnya yang tipis. "Keluargaku bukan ingin menyaingi keluarga-yang-kalian-maksud, tetapi keluargaku hanya mengikuti jejak keluarga tersebut karena kami mengagumi dan menjadikan setiap dari mereka panutan kami ke depan."
"Wow, kata-kata yang bijak..." ucap Kiba sembari bertepuk tangan lagi.
Suara helaan napas kencang seseorang yang berasal dari sisi rak buku yang berlawanan dengan Sasori tiba-tiba terdengar ke setiap pasang telinga The Four Prince of Memoriam. Membuat keempat pria itu bersiaga.
Mata Sasori melirik ke balik bahunya. Mengarah ke arah suara helaan napas—atau bisa dianggap dengusan—itu berasal. "Siapa di sana?" tanya Sasori yang terdengar seperti nada memaksa.
Sasuke yang kini sedang kesal setengah mati karena Naruto sengaja menghela napas kencang karena sudah bosan berdiam diri seperti itu, menarik Naruto menuju keluar dari perpustakaan dengan cepat dan gesit sehingga Naruto sedikit terseret dibuatnya. Langkah kaki yang panjang Sasuke gunakan dalam pelarian mereka ini.
Merasa perbincangan mereka tadi telah dicuri oleh dua sosok tidak dikenal yang baru saja melewatkan diri di urutan rak mereka, The Four Prince of Memoriam pun memutuskan untuk mengejar dua orang yang menggunakan topi dan kacamata tersebut.
"BERHENTI!" seru mereka berempat dengan sangat kompak.
Kejar-kejaran mereka yang bagaikan kucing dan anjing itu tidak berlangsung lama karena Sasuke dan Naruto berhasil menerobos pintu keluar perpustakaan dengan sangat mulus dan sukses tanpa halangan sedikit pun. Dan mereka berdua langsung menghilang di dalam lift yang untungnya masih ada di sana untuk membawa mereka kabur dengan cepat. Langsung menuju ke kelas khusus mereka di lantai empat.
Kiba yang merasa kesal karena tidak dapat menangkap dan melihat arah pergi kedua orang 'pencuri' itu hanya dapat merutuki dirinya sendiri. "Sial! Sial! SIAL!" ungkapnya seraya menginjak-injakkan lantai yang berada di bawah kakinya berkali-kali dengan sangat kencang.
Kabuto yang sudah terenggah-enggah napasnya hanya berdiam diri seraya membenarkan posisi kacamatanya. "Sepertinya kedua orang itu bukan salah satu murid dari sekolah kita." Kabuto menarik napas kencang dan mengembuskannya dengan kencang pula. "Mereka tidak memakai seragam yang sama seperti kita. Kita memakai jas berwarna hitam, sedangkan mereka putih. Jika mata rabunku tidak salah lihat."
"Benar juga." Neji berusaha berpikir keras mengenai kedua pemuda yang berhasil mendengat pembicaraan mereka. "Lantas siapa?"
Sasori yang masih berusaha mengatur napasnya memandang ke arah jalan tengah rak yang sempat dipakai untuk arena permainan singkat kejar-kejaran mereka. Matanya menatap jalan itu penuh arti sehingga muncullah beberapa hipotesis di otaknya.
Tiba-tiba, seseorang menepuk salah satu pundak Sasori. "Sasori, kau tidak apa-apa?" tanya Kabuto dengan cemas.
Sasori menggelengkan kepalanya kecil. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat lalu melihat lagi ke arah rak-rak perpustakaan itu. Yang tadi itu... mungkin, 'kah... batin Sasori dalam hati.
.
~Crack or Hack?~
.
Sasuke dan Naruto yang sudah berada di ruang kelas masih terengah-engah akibat dari permainan kejar-kejaran mereka tadi. Jujur saja, lari-larian seperti itu mampu membuat jantung mereka berdebar hebat. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah lama juga mereka berdua tidak bermain kucing dan anjing seperti tadi sejak mereka kecil dulu.
Mereka langsung mendudukkan badan mereka di atas sofa belajar mereka. Masing-masing mereka sibuk mengatur sistem pernapasan yang masih menderu-deru.
"Wow, yang tadi hampir saja," ucap Naruto tanpa menyadari 'orang di sebelahnya' tengah memberi tatapan ingin membunuh kepadanya.
"Kau ingin kubunuh, hah? Kau tahu? Pembicaraan mereka hampir saja menyentuh inti pembahasan, tapi kau malah berbuat hal yang sangat mengganggu," geram Sasuke seraya membunyikan jemarinya. Mata elangnya menatap iris tajam Naruto.
Jika sudah berada dalam keadaan seperti ini, Naruto hanya dapat menggunakan jurus jitu penangkal aura iblis orang-di-sebelahnya yang ia miliki. "Hmm... Sasuke, aku minta maaf jika sudah mengganggu—"
"Sangat mengganggu."
"Iya, sangat mengganggu aktivitas mendengar pembahasan mereka di perpustakaan tadi. Tapi, jujur, kakiku kesemutan karena kelamaan mendengar pembicaraan mereka tanpa bergerak sedikit pun," ungkap Naruto dengan sangat jujur.
Akibat dari ucapan jujurnya, Naruto mendapatkan sebuah hadiah pukulan yang bisa dibilang lumayan keras dari Sasuke di lengan kirinya. Dan Naruto pun teriak kesakitan dibuatnya.
"Argh! Sasuke, Sakit tahu!" teriak Naruto seraya mengusap-usap lengannya yang telah menjadi korban tinju tangan Sasuke.
Iris onyx Sasuke masih memandang tajam ke Naruto. "Memangnya siapa yang suruh mengganggu? Untung kau sahabatku, jika tidak... aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kepadamu."
"Yah, tapi 'kan intinya kau dapat sebuah info jika salah satu dari mereka—si pria berambut hitam panjang itu—akan mengadakan sebuah pesta perayaan ulang tahun ibunya yang ke sekian tahunnya." Naruto berusaha membuat Sasuke senang walau hanya sedikit.
Sasuke tampak berpikir sejenak, ingatannya kembali kepada masa dimana ia mendengar percakapan The Four Prince of Memoriam. "Hn, benar juga."
"Dan kau tahu? Tampaknya si pria berambut panjang itu mengundang seluruh klan yang ada. Kurasa aku harus bertanya kepada orangtuaku apakah undangan dari orang itu sudah sampai," ucap Naruto yang semakin lama berakhir dengan sebuah gumaman kecil. Tangan kanannya ia letakkan di atas meja dan jemarinya mengketuk-ketuk meja itu, menjadi backsound pembicaraan mereka berdua. Matanya memandang lurus ke tepian meja.
Tidak lama mereka tenggelam dalam pemikiran mereka sendiri, Naruto bertanya kepada Sasuke, "Apakah kau tahu klan yang dimaksud dalam pembicaraan mereka tadi itu klan apa?"
"Itu klanku, klan Uchiha."
Seketika Naruto memberhentikan ketukan jarinya di atas meja dan menolehkan kepalanya ke Sasuke. "Apa?"
Sasuke menegakkan posisi duduknya. "Keluarga yang dimaksud oleh mereka adalah keluargaku. Karena keluargaku seperti itu, maka klan-ku jadi seperti ini dan membuat semua klan seperti ini dan itu—"
"Bisa 'kah kau menceritakannya tanpa menggunakan kata sembunyi ini dan itu? Aku tidak mengerti, tahu!" sela Naruto.
Sasuke mengembuskan napasnya dengan tegas. "Belum saatnya kau mengetahui klan-ku, nanti setelah program pertukaran-pelajar ini usai aku akan menceritakannya padamu."
"Janji?"
"Hn."
"Baiklah, aku akan menunggu waktu itu dan aku akan menagihnya jika waktu itu sudah tiba."
Naruto terus memaksa kepalanya untuk berputar memikirkan topik apa yang harus ia bahas dengan Sasuke sekarang. Ia melirik jam arloji di pergelangan tangan kirinya. Hampir pukul setengah sepuluh pagi. Tiba-tiba pikirannya teringat akan hari yang tersisa mereka bersekolah di sekolah yang masih asing bagi mereka ini, dan pada saat itu pula ia menemukan sebuah bahasan yang bagus.
"Ah... Sasuke, daripada kita berdiam diri membuang waktu seperti ini, bagaimana jika kita melakukan aksi kita selanjutnya mengingat hari ini sudah memasuki hari ke dua di sekolah ini?" tanya Naruto dengan hati-hati, takut mengganggu aktivitas Sasuke yang sedang berdiam diri sekarang.
Pemuda pemilik nama kecil Sasuke ini sedang menyelonjorkan badannya di sebelah kiri Naruto—berusaha mencari ketenangan pribadi. Matanya yang terpejam perlahan membuka memperlihatkan batu obsidian yang sangat kelam tetapi indah di dalamnya. Kepalanya menoleh pelan ke arah Naruto.
"Memangnya sekarang jam berapa?"
"Hampir pukul setengah sepuluh."
Dengan sigap, Sasuke membenarkan posisi duduknya dan kembali menghidupkan Macbook-nya yang sedari tadi memang sudah stand-by di atas meja di hadapannya. "Naruto, dalam aksi ini aku sangat bergantung padamu."
Naruto membelalakan matanya. "Hah? Memangnya kau ingin berbuat apa?"
Jemari Sasuke menari lincah di atas papan keyboard laptop miliknya. "Seluruh CCTV sekolah telah kembali kubutakan dan aku akan menyusup ke dalam ruangan kepala yayasan yang bernama Tsunade itu. Tugasmu hanya mengawasi daerah sekitarku dari CCTV yang sudah kita tumpangi dengan kamera kecil kita. Mudah, bukan?"
Sasuke menunjukkan monitor Macbook-nya ke arah Naruto. Seluruh kamera CCTV yang berada di sekolah telah tersedia di sana, terbagi menjadi beberapa bagian menurut kategori lantainya. Koridor-koridor sekolah itu tampak sepi jika diperhatikan dengan seksama. Waktu yang tepat untuk beraksi.
Setelah puas dan kagum melihat apa yang ada di layar monitor itu, Naruto memalingkan kepalanya ke arah Sasuke. "Jadi, aku hanya mengomandokan keadaan situasi sekeliling kepadamu?" tanya Naruto yang dijawab sebuah anggukkan oleh Sasuke.
"Whoa, baiklah kalau begitu!"
Ketika Sasuke bangkit berdiri untuk mempersiapkan dirinya, Naruto menduduki sofa bagian Sasuke dan mulai memainkan jarinya terhadap laptop itu. Sasuke mengenakan topi sox-nya kembali di kepala dan tidak lupa kacamata berlensa hitamnya. Sesaat kemudian, Sasuke melemparkan sesuatu ke arah Naruto yang berhasil ditangkap dengan refleks.
"Pakai microphone wireless itu agar kita bisa berkomunikasi satu sama lainl," perintahnya seraya memakai kembali sepasang sarung tangan yang kemarin dipakainya.
"Roger!" seru Naruto seraya mengenakan microphone itu di telinganya dan mengatur mic tepat di mulutnya.
Sasuke membenarkan posisi topi sox-nya. "Sudah siap?"
"Ha'i!"
Sasuke menarik napas pelan dan mengembuskannya. "Baiklah, kita mulai!"
Kaki jenjang Sasuke mulai dan terus melangkah ke luar kelas, menjauh dari ruangan kelasnya hingga tiba saatnya ia masuk ke dalam lift. Deru napasnya sangat teratur seperti tidak takut mengenai apa yang akan terjadi nanti. Santai dan relax.
"Naruto, kau bisa melacak di mana ruangan kepala yayasan itu?" tanya Sasuke setelah pintu lift itu tertutup sempurna.
"Tunggu sebentar." Naruto yang berada di tempat yang berbeda dengannya kini mulai menjentikkan jarinya satu persatu di tombol Macbook milik Sasuke. Ia mendeskripsikan hasil dari lacakkannya mengenai struktur gedung sekolah yang tertera jelas di layar monitor, "Ruangannya berada di bagian paling belakang gedung sekolah lantai dua."
Jari telunjuk Sasuke menekan tombol lift yang bertuliskan angka 2 di sana, dan lift pun mulai bergerak turun ke bawah sesuai dengan angka yang ditekan Sasuke tadi.
"Jika ada staff sekolah yang akan berpapasan denganmu, bagaimana?" tanya Naruto yang berada di seberang sana melalui microphone.
Sasuke terdiam sejenak. "Terpaksa. Aku akan menidurkannya."
"APA? Jangan Sasuke! Tolong berpikir jernihlah, masih banyak perempuan di luar sana yang ingin denganmu bahkan sangat rela untuk kau tiduri!"
"Baka! Bukan itu maksudku, dasar Dobe! Arti dari perkataanku itu, aku terpaksa membuatnya tertidur, bukan aku meniduri—atau tidur dengannya!" jelas Sasuke dengan emosi yang meningkat drastis.
Pintu lift terbuka, pertanda bahwa dirinya sudah berada di lantai dua. "Bagaimana Naruto?"
"Aman."
Sasuke melangkahkan kakinya ke luar dari lift dengan sangat pasti. Jika diingat-ingat lagi, bukakah lantai dua ini adalah lantai dimana permainan kucing dan anjing antara dirinya dan Naruto dengan The Four Prince of Memoriam itu? Hei, ternyata lantai dua ini baru saja dikunjungi olehnya. Benar-benar lantai medan perang.
"Keluar dari lift, belok kanan."
Pemuda bertampang stoic itu berjalan mengikuti komando dari Naruto dengan santai. Ia merenggangkan tubuhnya, mempersiapkan diri jika ia bertemu dengan tamu tak diundang nanti.
"Belok kanan."
"Banyak belokkan di koridor ini, aku harus lewat mana?" tanya Sasuke seraya terus berjalan melewati belokan pertama, kedua, dan selanjutnya.
"Sudah dengarkan saja instruksi dariku! Lurus terus saja sampai ujung, nanti hanya ada satu belokkan ke kanan, lalu ketemu ruangannya!"
"Hn."
Sasuke berjalan menelusuri koridor dengan tidak menghasilkan sedikit pun suara langkah kaki yang menggema di sepanjang koridor ini. Ingin rasanya ia mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai di ujung dan berbelok ke kanan, tapi ia tahan karena ia merasakan ada aura beberapa orang di belokkan sana.
Naruto yang mengawasi Sasuke dari CCTV ke CCTV yang lain justru mengeluarkan keringat dingin di pelipisnya. Jantungnya berdegup kencang layaknya menonton film horror dan thriller. Matanya terus bergerak memperhatikan sekitar lingkungan Sasuke dari CCTV yang berbeda, was-was dengan apa yang akan datang. Ia melihat sesuatu dari CCTV yang merekam keadaan koridor yang akan Sasuke kunjungi nanti saat jarak antara Sasuke dengan belokkan-kanan-ujung-koridor tinggal beberapa meter lagi.
"Sasuke, hati-hati! Saat belok ke kanan nanti, kau akan bertemu dengan dua orang staff yang berjaga di satu-satunya pintu di koridor itu."
"Hn," sudah kuduga, lanjut Sasuke dalam hati. "Di mana letak pasti pintu itu?"
"Saat kau berbelok ke kanan, pintu itu terletak di sisi kirimu. Tidak jauh dari belokkan."
Karena sudah pasti akan gambaran posisi pintu ruang kepala yayasan, Sasuke mempercepat langkah kakinya dan mulai berbelok ke arah kanan. Dalam hitungan satu detik, kedua staff yang menjaga di luar pintu kepala yayasan pun tertangkap oleh mata onyx Sasuke yang bersembunyi di balik kacamata hitam yang dikenakannya.
Merasa ada kehadiran seseorang di belokkan sebelah kanan, kedua staff itu memasang posisi untuk meninju Sasuke langsung dari depan. Memang seorang staff penjaga.
Sasuke menangkap pergelangan tangan si penjaga pertama yang siap mengambil ancang-ancang untuk meninjunya, menarik tangan tersebut seraya berpindah ke balik punggung lawan, dan...
"Sasuke, belakang!"
Seruan Naruto mengingatkan Sasuke bahwa terdapat dua orang penjaga di sini. Karena merasa tidak sempat lagi—bahkan untuk memutarkan badannya pun tidak, Sasuke memanfaatkan tubuh penjaga pertama di depannya untuk mengelak serangan dari balik badannya.
Sasuke menginjak punggung sang penjaga pertama dan melakukan rolling belakang di udara tanpa ragu sedikit pun sehingga kini ia berada di balik punggung sang penjaga kedua. Tidak berpikir panjang lagi, ia memukul bagian tertentu leher penjaga kedua sehingga penjaga tersebut tak sadarkan diri.
Penjaga pertama yang sempat diperalat punggungnya oleh Sasuke, kini mulai meluncurkan tinjunya ke arah pemuda raven itu. Sayangnya, Sasuke dapat menghindar dengan mudahnya ke arah kiri, lalu langsung memukul kencang leher penjaga pertama itu hingga jatuh tak berdaya di atas lantai.
Naruto yang sedari tadi geregetan dengan aksi Sasuke, kini menghela napas panjang. Dan mulai menggerakkan bibirnya untuk berbicara di microphone.
"Kau tahu, Sasuke? Aksimu tadi mampu membuatku meninju-ninjukan tinjuku ke udara seperti orang gila."
"Bukankah kau memang sudah gila?" tanya Sasuke balik disertai dengan senyuman kemenangannya.
Pertanyaan Sasuke membuat Naruto merutuki dirinya sendiri karena menyesal sudah memberitahukan apa yang sedang ia lakukan selama Sasuke beraksi untuk melumpuhkan kedua penjaga tadi.
Pemuda pemilik iris onyx tersebut membuka pintu yang bertuliskan 'ruang kepala yayasan' dengan biasa dan... kosong. Tiba-tiba Sasuke teringat suatu hal yang sama sekali ia belum perhitungkan.
Dengan sangat datar Sasuke berkata, "Aku lupa kalau aku belum memperkirakan Tsunade berada di ruangannya atau tidak."
"APA? Memangnya Tsunade ada di ruangannya?"
"Tidak."
Terdengar hembusan napas lega Naruto di microphone Sasuke. "Gila kau, ya? Untung si Tsunade itu tidak ada di ruangannya, kalau dia ada di ruangannya... itu berarti semua usaha kita akan sia-sia."
"Dan untungnya... tidak." Sasuke melengos masuk ke dalam ruangan dan langsung menuju ke balik meja kerja Tsunade dan menduduki kursinya setelah memastikan pintu ruangan itu tertutup."Lumayan nyaman," komentar Sasuke.
"Woi, Sasuke, memangnya di dalam ruangan itu seperti apa? Aku tidak bisa melihatnya karena tidak ada CCTV di dalam ruangan itu."
Mata elang Sasuke mengedarkan padangannya ke seluru penjuru ruangan. "Memang tidak ada CCTV, jadi kau awasi saja keadaan di luar sana," perintah Sasuke seenaknya.
"Sial kau, Teme..."
"Siapa suruh tidak menguasai bela diri," ucap Sasuke yang direspon sebuah dengusan kesal di ujung sana.
Tangan Sasuke mulai menggeratak setiap laci yang ada di meja kerja di depannya. Membuka dan melihat setiap dokumen yang ada. Mata dan tangannya bekerja sama untuk melaksanakan tugas dari otaknya untuk mencari sebuah dokumen penting mengenai Konoha Memoriam of School.
Nihil. Dari laci ke laci telah ia cari, tetapi hasilnya nol. Sasuke mengernyitkan dahinya, berpikir keras untuk mencari tahu kira-kira di mana si Tsunade itu menyembunyikan dokumen penting sekolah.
Terlintas sekilas di pikirannya suatu tempat yang mungkin digunakan sebagai tempat persembunyian terbaik. Sasuke langsung melesat ke arah rak buku yang berada di sisi kirinya setelah merapikan kursi yang didudukinya kembali ke tempatnya semula, posisi sebelum Sasuke mendudukinya.
Satu persatu buku yang berukuran besar ia ambil dan membuka setiap halamannya dengan sangat cepat. Hingga tiba dimana jarinya merasakan bahwa buku yang disentuhnya bukan sebuah buku, melainkan sebuah map cokelat yang berukuran besar—sama seperti buku lainnya yang berada satu rak dengan benda itu.
Bibir Sasuke menyunggingkan sebuah senyuman meremehkan. "Cara kuno."
Tangannya bergerak untuk membuka halaman demi halaman map itu. Dari mulai data siswa, guru, staff, hingga perlombaan sampai sebuah kasus di sekolah ini ada dalam satu map. Benar-benar sebuah dokumen sekolah.
Sasuke mengambil handphone Samsung Galaxy S-IV yang berada di dalam saku celananya. Selama beberapa detik, ia mengatur handphone-nya menjadi mode kamera. Setelah siap, Sasuke mengarahkan kameranya ke arah map yang telah terbuka halaman pertamanya di atas meja. Setiap satu detik—bisa dibilang setiap Sasuke membalik halamannya, kamera tersebut mengambil gambar tiap halaman dengan sangat jernih dan jelas. Mempermudah pekerjaan Sasuke sekarang. Apakah ia sudah melakukan sesuatu dengan handphone-nya itu terlebih dahulu?
Ketika tiba di halaman terakhir map itu, kamera S-IV miliknya berhenti mengambil gambar dengan sendirinya. Dan itu pertanda bahwa aksi mengambil dokumen penting sekolah K-MOS ini telah sukses.
Sasuke kembali menyelipkan map itu ke tempatnya semula sebelum ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan kepala yayasan. Baru saja kakinya melangkah dalam hitungan jari, pintu ruangan kepala yayasan itu tiba-tiba terbuka dari arah luar.
Sesaat kemudian, muncullah sosok seorang wanita berambut blonde dari balik daun pintu itu.
"Sudah kuduga kau akan berkunjung ke ruanganku, Uchiha Sasuke."
Seketika mata Sasuke terbelalak kaget. "Kau—"
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Sabtu | Jakarta, 6 Oktober 2012 | Pukul 18.42 WIB
Reply of Review:
Cheryxsasuke: Walau kau bilang begitu, tetap saja rasanya aneh. Kalau boleh tahu, kamu kuliah apa? Oh ya, aku panggil kamu apa? Kalau panggil aku-kamu dengan jangka waktu lama, rasanya aneh juga. Thanks for your support and review!
Maruyama Harumi: Halo juga! Iya, sudah update. Karena kalau bersambung di sikon yang tidak tepat, tidak akan ada seru-serunya *laughing*. Thanks for your support, waiting, and review!
Jacqline Emms: Hai, salam kenal. Terima kasih atas sanjungannya, aku akan terus berusaha mempertahankan kebiasaan pendeskripsianku. Jadi, di fict ini kamu suka perwatakan tokoh Sasuke-nya? Tidak suka Naruto? Aku sudah menulis fict ini dari setahun yang lalu, tapi baru di-publish sekarang dan belum selesai. Thanks for your support and review!
Clarissa Afternoon: Jika kau mem-fav fict ini mungkin kau akan tahu bahwa fict ini akan update. Oh, berarti Claris baru masuk SMA dan kau lebih muda dariku. Terima kasih atas pujiannya, di antara Sasuke, Naruto, dan Neji kau lebih suka yang mana? Sepertinya di chap ini kau sudah dapat melihat bagaimana mereka semua bertemu walau hanya "sekilas". Sasuke menyuruh Naruto mencari data mereka secara manual hanya karena ingin mengerjainya karena tidak melakukan tindakan banyak seperti dirinya. Thanks for your review!
Cherryemo: Chap kemarin lebih pendek dari chap sebelumnya? Padahal sudah termasuk standard minimal words biasanya. Thanks sudah menyukai fict ini, aku akan berusaha mempertahankan gaya penulisanku. Masih belum ada kepastian fict CHz ini akan tamat di chap berapa, lihat saja nanti. Thanks for your waiting, support, and review!
Yumi Murakami: Kata "pendek" yang kau maksud itu menunjuk ke mana? Fict atau chap? Kalau masalah Naruto dia akan selalu berada di fict CHz ini, kok. Sakura akan muncul... Hitung mundur saja, ya—dan mengenai jadi apa Sakura nanti, yah... tunggu tanggal mainnya. Akan diusahakan fict ini bertambah keren dan seru. Thanks for your review!
Karikazuka: Tak apa tidak login. Entahlah, seingatku mata Naruto itu aquamerine dan Ino itu lavender. Atau ingatanku memang salah? Kalau salah, ya sudahlah... aku sudah terbiasa mendeskripsikan seperti itu. Sudah update. Thanks for your review!
Zecka S. B. Fujioka: Aa... Maaf aku tidak memberitahu Moon-nee, takutnya Moon-nee tidak suka karena setiap orang memiliki kesukaan genre yang berbeda-beda, jadi aku tidak bilang. Terima kasih atas penilaiannya, dan romance-nya ditunggu saja, ya. Defbra masih belum tahu masalah fict ini karena aku tidak memberitahunya juga, sesuai perintah Moon-nee aku akan kasih tahu dia nanti. OC "dia" masih kupikirkan akan masuk atau tidak, kalau diperlukan mungkin akan masuk. Untuk mem-fav fict CHz ini sama dengan cara biasa, 'kan? Thanks for your waiting, support, and review!
Fany-san: Halo juga! Kangen sama fict ini? Memangnya aku tidak update berapa bulan/tahun? Sakura-nya sengaja aku umpetin sebelum aku memberikannya kepada Sasuke karena sebenarnya aku juga tidak rela memberikannya pada si chicken-ass satu itu *laughing*. Sasuke sebenarnya jahat atau baik tergantung para pembaca yang membacanya dan menyinggung mengapa si Sasuke jago action, nanti kau juga akan tahu. Ah, aku juga tahu fict itu, tapi belum baca samapi tamat. Thanks for your review!
Blupii: Maaf juga karena jarang update, aku sedang belajar untuk UN juga masalahnya. Untuk The Four Prince of Memoriam akan dibahas lebih lanjut dan Sakura-nya nanti juga muncul, kok. Thanks for your review!
Rhikame: Kenapa tidak jadi review chap 7? Thanks for your support and review!
Uchiharuno susi: Jika pertanyaanmu sudah dijawab oleh yang lain, bisa mengajukkan pertanyaan yang lain atau ungkapan pendapatmu mengenai fict ini. Thanks for your waiting and review!
Akira Takigawa: Tak apa baru review, kau juga pasti sedang sibuk. Terima kasih, tapi fict-ku tidak se-perfect yang kau kira, kok. Thanks for your waiting and review!
Shaun: Aku dan tokoh fict yang kau maksud itu jauh berbeda. Yah, intinya aku akan tetap memberitahukan padamu bahwa fict ini telah update. Kebiasaan Sasuke yang memijit hidungnya itu juga sering kulakukan, makanya kumasukkan, kita sama. Untuk membasmi typo di fict ini sangat sulit, kau tahu? Thanks for your review!
Renvel: Chap kemarin memang santai, tapi sepertinya chap ini sudah mulai menegang. Oh, maksud kosakata campuran itu penggunaan/pemilihan kata yang tidak stabil, maksudmu? I got it. Iya, jadi kalau mau lihat perbedaan update tiap chap/publish-nya di bawah tittle-nya saja, tanggal yang di dalam hanya sebagai "catatan kecil" untukku saja. Aku belum kuliah, masih kelas XII dan... Aa... sebaiknya kau memanggilku nii-chan karena jenis kelaminku berlawanan dengan apa yang kau duga. Hiatus-ku masih rencana, kok. Thanks for your support and review!
MerisChintya97: Tidak harus mengerti kegunaan dari kamera buatan Sasuke, kok, enjoy saja ikutin alurnya. Mereka melakukan aksi seperti itu karena ada "suatu" alasan. Apakah chap kemarin terlalu pendek? Padalah sudah termasuk rata-rata words per chap. Bukan update di Afrika, tapi aku menyelesaikan fict ini ketika aku jalan-jalan ke sana. Rencana update-ku itu kemungkinan besar akan kulakukan karena aku kadang jadi terlalu sibuk dengan kehidupan sehari-hariku. Thanks for your waiting, support, and review!
Eunike Yuen: Tak apa baru review, yang penting dahulukan kesehatan saja. Apakah scene di atas termasuk sebuah "perkenalan"? Untuk lebih pastinya bagaimana cara mereka "berkenalan", lihat saja nanti. Iya, aku buatnya dari tahun 2012 dan masih belum selesai karena aku juga kadang-kadang mengetik kelanjutan fict-nya. Kalau fict ini akan lebih panjang dari L.I.N, mungkin bisa jadi. Wah, wah, tampaknya Naruto sangat terkenal di fict ini, ya. Sasuke kalah saing, sepertinya. Maaf update-nya kelamaan *EvilLaugh*. Thanks for your support and review!
Dkrisan-chan: Terima sudah menyukai fict ini—lebih tepatnya pada Sasuke-nya. Sakura-nya masih aku sembunyikan di dalam imajinasiku dan aku snediri juga tidak tahu fict ini akan sampai pada chap berapa. Maaf tidak bisa update cepat. Thanks for your support and review!
Permen Caca: Ingin membantaiku? Silakan saja. Aku suka jika ada yang mengkritikku soal EYD karena menambah pengetahuanku juga, jadi jangan ragu-ragu. Kalau kau menjurus ke flame, nanti aku siram kamu dengan air saja agar tidak terlalu terbakar. Thanks for your review!
Universal Playgirl: Sudah di-update. Thanks for your review!
Azizah: Tak apa terlambat review, yang penting ada niat. Tenang saja, fict ini tidak akna dilupakan olehku, kok. Thanks for your support and review!
Nadiiyach UzumaiSwann: Sakura memang belum muncul, tapi pasti "akan" muncul, jadi tunggu saja. Aku juga tidak akan memunculkan Sakura di chap kemarin dengan seenaknya karena fict-ini sudah kutulis dan aku malas merubahnya. Maaf, tidak bisa kuusahakan. Arti kata "Dobe" itu bisa dibilang seperti "bodoh"—lebih tepatnya "seseorang yang berotak bodoh", sedangkan "Teme" berarti "kamu"—tapi lebih mengarah ke arah menghina/penginaan dan berbeda dari kata "lu" dan "gue" karena kedua kata itu memiliki bahasa Jepang tersendiri. Thanks for your review!
Kasih Hazumi: Salam kenal juga! Silakan panggil aku Cergo karena Author—apalagi Thor—bukan namaku. Sakura belum muncul, tapi akan muncul. Endingnya juga masih belum tahu akan berada di chap berapa, nikmati saja alurnya. Thanks for your review!
Thanks for reading CrackHackerz—CHz until now!
Sorry for all miss typo(s)! Sometimes I will correct it.
And the last words,
"Let us 'countdown' in the next chapter!"
Signature,
Huicergo Montediesberg
