DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
DELETE FILE
YOU HAS BEEN MOVE THESE 12 ITEMS
TO THE
RECYCLE BIN
"Sudah kuputuskan, aku hanya akan mempermasalahkan otak dari The Four Prince of Memoriam saja."
Perkataan Sasuke yang sekarang semakin membuat otak Naruto berputar tidak keruan. "Aa... Maksudmu?"
Sasuke menyandarkan dirinya di sisi meja belajar Naruto. "Yah, karena sekarang ini aku sedang menjadi malaikat yang baik hati, jadi aku hanya melibatkan Hyuuga Neji saja."
Naruto masih menunggu kalimat Sasuke selanjutnya.
"Bukankah Hyuuga's Orphanage yang lebih dahulu menanamkan saham di sejumlah perusahaan terkemuka? Dari penanaman modal saham ke berbagai perusahaan itulah yang patut dicurigai sebagai suatu hubungan yang rahasia."
"Hmm..." Naruto mengangguk setuju. "Jadi, maksudmu kemungkinan besar mereka berempat, The Four Prince of Memoriam, mempunyai suatu hubungan yang bisa dikatakan gelap sehingga mereka bisa menjadi sedekat itu?"
"Itu masih hanya sebuah hipotesis, Naruto." Sasuke memijit pelan bagian belakang lehernya. "Semua hipotesis kita akan menjadi kenyataan kalau kita melabrak secara terang-terangan otak-nya itu."
"Dengan cara?" Naruto menaikkan sebelah alisnya.
Sejenak Sasuke berpikir, kemudian menyunggingkan sebuah senyuman nakal di wajahnya. "Kemarikan telingamu."
Sasuke membisikkan suatu hal yang telah ia rencanakan di dalam otaknya secara rinci, singkat, padat, dan jelas kepada Naruto berhubung otak Naruto tidak bisa mencerna perkataan yang rumit dan yang berbahasa berat. Acara bisik-bisikan tidak berangsur lama.
Setelah semuanya berakhir, mulut Naruto membentuk sebuah lengkungan seperti berkata 'oh' dalam nada yang panjang. Lalu, ia memberi sebuah ibu jari kepada Sasuke. "Aku akan berusaha sebaik mungkin."
Lengkungan senyuman Sasuke bertambah lebar. "Itulah respon yang kutunggu darimu."
Kini Naruto mulai berpikir mengenai rencana yang dibagikan oleh Sasuke tadi. Namun tiba-tiba, Naruto mengingat suatu hal. "Oi, Teme! Mengapa tadi kau memberitahuku dengan cara berbisik seperti itu? Di kamarku 'kan hanya ada kau dan aku!"
Suara tawa kecil yang berat terdengar dari pita suara Sasuke. "Tidak apa-apa. Hanya biar terlihat menarik bagimu, dan misterius."
Naruto menghela napas kencang. "Aish, kau ini," rutuk Naruto pelan kepada Sasuke. "Kapan rencana itu akan dijalankan?"
"Hari terakhir kita bersekolah di sini," jawab Sasuke seraya berjalan mendekati sebuah dispenser yang memang berada di dalam kamar Naruto yang cukup luas.
"Berarti dua hari lagi," gumam Naruto. Lalu, Naruto memutarkan kursi belajarnya ke tempat Sasuke berada. "Jadi, apa yang akan kita lakukan esok hari?"
Kedua tangan Sasuke saling bekerja sama untuk mengambil sebuah gelas baru yang sudah tersedia dan mengisinya dengan air bersuhu normal.
"Besok aku akan mengurusi beberapa hal yang ingin aku selesaikan secepatnya dengan Tsunade, si ketua yayasan Konoha Memoriam of School itu. Sedangkan kau, kurasa satu harian penuh itu cukup untuk menuntaskan rencana bagian yang kuberikan padamu yang harus kau buat sebelum hari H-nya itu."
Naruto melipat kedua tangan di belakang kepalanya sembari tertawa kecil. Sedikit meremehkan perkataan Sasuke yang sebelumnya. "Kalau satu harian itu, sih, lebih dari cukup. Aku bisa menyelesaikannya secepat mungkin."
"Bagus. Berarti tidak salah aku memilihmu sebagai partnerku." Dengan perlahan, Sasuke meneguk minuman yang berada di tangannya. Tenggorokkannya yang kering sekarang sudah terjamah oleh air yang diminumnya. Air memang pelepas dahaga.
Naruto memutar kursi belajarnya dengan satu putaran kencang yang membuat kursi itu berputar beberapa kali. "Ah, pada akhirnya aku bisa beristirahat panjang besok," ucapnya dengan berputar-putar seraya memandang ke langit-langit kamar.
Sasuke berhenti meneguk minumannya setelah seluruh air yang berada di dalam gelas itu berpindah menyatu ke dalam dirinya.
"Yeah, one step to final."
.
~Crack or Hack?~
.
Keesokan paginya langit tampak berawan. Walau cahaya matahari sangat bersinar terang benderang dan berusaha menebarkan sinar UV ke Bumi, tapi tidak tercapai dengan mudahnya ke permukaan kulit manusia mengingat awan tebal tengah menggumpal hampir di seluruh cakrawala yang berwarna biru muda.
Yah, setidaknya itu menurut hasil pengamatan Uchiha Sasuke dari salah satu jendela kelas sementaranya sekarang.
Uchiha Sasuke secara perlahan mulai memasuki dunia lamunannya. Matanya memang melihat langit yang luas, tetapi pikirannya sudah tenggelam dengan segala perkiraan reka adegan yang nanti—dan besok akan terjadi. Dan anehnya, mengapa ia merasa iba melihat The Four Prince of Memoriam itu?
Tangan kanan Sasuke bergerak untuk mengacak rambutnya frustasi. "Biarlah, orang seperti mereka harus diberi pelajaran."
"Siapa yang harus diberi pelajaran, Sasuke?"
Suara tanya dari seseorang yang sudah sangat dikenalnya berkumandang ke segala ruangan kelas khusus tersebut.
"Tidak, aku hanya berpikir bahwa The Four Prince of Memoriam itu harus diberi pelajaran agar mereka dapat mengakui kesalahan dan tidak berbuat kekacauan lagi."
"Yah, bukankah peraturan negara—ah, maksudku, peraturan klanmu yang memberlakukan hal seperti itu?" Naruto yang sedari tadi serius berkutat dengan Macbook Sasuke dan sebuah printer pun akhirnya bersorak kegirangan ketika mesin printer tersebut mulai mencetak segala bahan informasi yang dibutuhkan. "Yosh! Akhirnya selesai juga pekerjaan yang satu ini."
Naruto menolehkan kepalanya ke arah Sasuke yang kembali termenung sendiri di tepi jendela. Melihat sahabatnya yang seperti bukan dirinya itu pun akhirnya membuat Naruto berjalan mendekat ke arah Uchiha Sasuke dan menyandarkan badannya ke sisi jendela yang berlawanan dengan Sasuke.
"Boleh aku bertanya satu hal padamu, Sasuke?" tanya Naruto seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Kepalanya tertoleh ke arah Sasuke.
Ketika Sasuke menolehkan kepala ke arahnya, Naruto pun mengangap respon gerakan itu sebagai tanda kebolehan dari Sasuke. "Jika hanya Hyuuga Neji yang kau permasalahkan, lalu bagaimana dengan ketiga yang lainnya?"
Onyx Sasuke menatap ke bawah lantai, membuang pandangannya dari Naruto. "Entahlah, maka dari itu aku masih memikirkannya."
Suasana menjadi hening, yang terdengar hanyalah suara printer yang sedang sibuk mencetak beberapa lembar kertas HVS yang didominasi oleh tulisan—sesekali berisi gambar. Uchiha Sasuke masih memiliki beberapa masalah di otaknya. Dan, ia merasa mau tidak mau harus menyelesaikan kasus ini secara tuntas agar otaknya terbebas dari semua masalah yang mengikatnya dengan sekolah ini ketika ia lepas pergi dari sini.
Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya berjalan ke arah sofa dan menduduki dirinya di salah satu sisi sofa. Sasuke menghela napasnya bersamaan dengan waktu ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya. Merilekskan dirinya sesaat.
Mesin printer yang mendominasi suara di ruangan ini sudah tidak terdengar lagi oleh Naruto. Secara otomatis pula Naruto berjalan mendekat ke letak printer itu berada dan mengambil kertas yang sudah terisi penuh oleh beragam huruf di sana, lalu ia mendudukkan dirinya di sebelah Sasuke.
"Jadi, kau belum memikirkan nasib tiga yang lain?" tanya Naruto kembali melanjutkan pembicaraan mereka. Kedua tangannya sibuk merapikan susunan kertas tersebut dan menjepit salah satu sudutnya dengan sebuah penjepit kertas berwarna biru.
Sasuke memijit pelan tulang hidungnya. "Aku juga kasihan kepada nasib mereka—ibaratnya, aku ini seperti monster yang memecah-mecahkan sekelompok empat anak burung. Jadi..."
Naruto meletakkan tumpukan kertas itu dipangkuannya. Matanya melihat ke sosok orang di sebelahnya. "Jadi?"
Sasuke mengembuskan napasnya tegas. "Jadi," ia menolehkan kepalanya ke arah Naruto, "kemungkinan besar aku akan mengikut sertakan mereka ke dalam bui. Atau kalau tidak, aku akan membiarkan mereka begitu saja." Pandangan Sasuke beralih menuju tumpukan kertas yang berada di pangkuan Naruto. "Itu apa?"
"Hasil perintahmu." Naruto menyodorkan lembaran kertas itu ke Sasuke dan diterima dengan senang hati dengan pemuda itu. Senyum bangga tersirat di wajahnya.
Sasuke memperhatikan rentetan tulisan yang terpampang jelas di atas kertas putih itu. Semakin banyak ia membuka lembaran itu, semakin tajam pula senyuman yang terulas di bibir dinginnya.
"Heh, dapat dari mana kau informasi sedetail ini?" tanya Sasuke kepada Naruto seraya mengangkat tumpukkan kertas itu ke udara.
Naruto melipat kedua tangannya. "Siapa lagi sahabat kita yang mampu meraup informasi dengan sangat mudah kalau bukan Gaara? Aku menyuruhnya membantu kita dari sana untuk mengumpulkan informasi dan mengirim seluruh hasil informasi yang kita dapatkan melalui e-mail. Bukankah kau tahu kalau aku tidak terlalu pintar dalam hal menggali informasi?"
Tawa rendah Sasuke keluar begitu saja. "Kau pintar. Tidak ikut dalam permainan, belum tentu terbebas dari percikan."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sasuke bangkit berdiri dari posisi duduknya. Merapikan seragam yang dikenakannya sesaat. "Kalau begitu, aku akan menyelesaikan masalahku dulu."
"Dengan Tsunade?" tanya Naruto ketika Sasuke mulai berjalan menuju ke arah pintu kelas khusus mereka.
"Hn."
Naruto mendecih pelan. "Memangnya apa yang terjadi antara kau dengannya ketika aku ketiduran?" tambahnya sebelum Sasuke keluar dari kelas.
"Akan kuceritakan nanti. Selesaikan tugasmu." Setidaknya itulah kalimat Sasuke yang ke terakhir sebelum pintu kelas tertutup kembali dan menghalangi pandangan Naruto dari punggung Uchiha Sasuke.
"Yeah, aku tahu," balas Naruto seraya memutarkan bola matanya. Entah Sasuke yang sudah berada di luar sana bisa mendengar suaranya atau tidak.
Uzumaki Naruto kembali tersenyum sambil mengeluarkan smartphone Sony Xperia Z1 yang berada di dalam saku celana panjang putihnya. Tidak butuh waktu lama bagi Naruto untuk memainkan ibu jarinya di layar touch screen hanphone-nya itu. Setelah ibu jarinya berhenti beraksi, ia mendekatkan Sony Xperia Z1-nya ke daun telinga kanannya.
"Halo, ini aku."
.
~Crack or Hack?~
.
Derap langkah kaki Sasuke menggema ke seluruh koridor lantai dua sekolah ini. Sepi. Seluruh murid Konoha Memoriam of School sedang berkonsentarsi untuk belajar dan dari kesimpulan itu Sasuke tidak yakin bahwa The Four Prince of Memoriam akan berkonsentrasi saat ini. Sudahlah, ia sudah tidak mau memikirkan mereka lagi. Otaknya sudah cukup berat menampung masalah mereka. Namun, sebersit ide untuk membiarkan ketiga yang lainnya untuk mendaur ulang diri mereka sendiri itu mungkin bisa diperhitungkan juga.
Entah ia sudah berapa lama bergulat dengan pikirannya sendiri sehingga tanpa disadari ia sudah berhenti tepat di depan pintu ruang kepala yayasan K-MOS. Kepala Sasuke menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari tahu kenapa tidak ada penjaga yang menjaga di depan pintu. Apakah karena dua hari yang lalu mereka kewalahan menangkis perlawanan dari Sasuke? Tapi, bukankah Sasuke hanya membuat mereka tertidur dengan cara memukul tengkuknya saja? Apakah kepala yayasan tidak memiliki staff penjaga yang lain?
Ah, biarlah. Tidak penting.
Tangan kanan Sasuke terjulur ke depan untuk membuka pintu kepala yayasan K-MOS. Tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dan terlihatlah dengan jelas oleh mata hitam kelamnya seorang wanita berambut blonde tengah duduk di balik mejanya.
"Silakan masuk, Uchiha-sama," ucap Tsunade dengan suara santainya.
Sasuke berjalan memasuki ruangan Tsunade serasa dirinyalah pemilik ruangan yang sebenarnya setelah menutup pintu di balik punggungnya. Apakah sifatnya yang satu ini termasuk sifat keturunan Uchiha?
"Aku tidak mengetuk pintu, jadi aku tidak perlu membutuhkan izinmu untuk mempersilakan aku masuk. Dan satu lagi," ucap Sasuke tanpa memedulikan perasaan wanita yang lebih tua darinya di hadapannya, "Uchiha–sama?" Sasuke membalikkan bagaimana cara wanita itu memanggil dirinya dalam berupa pertanyaan.
"Maaf, jika Anda tidak suka dipanggil seperti itu. Apakah Anda keberatan dipanggil seperti itu oleh saya?"
"Tidak. Aku hanya berpikir ada angin apa tiba-tiba kau memanggilku dengan embel-embel... –sama? Bukankah pertemuan sebelumnya kau berbicara denganku dengan sebutan aku-kamu dengan santainya?" Senyuman meremehkan terlintang di mulut Sasuke.
Tsunade menghela napas. "Maafkan saya jika cara bicara saya sungguh kelewatan bagi Anda dua hari yang lalu. Hari itu, saya masih terkejut dan tidak sempat mempersiapkan diri untuk merubah cara bicara saya karena surat itu benar-benar datang mendadak. Bahkan saya sampai lupa bagaimana cara memperlakukan Anda dengan baik mengingat keluarga Anda sangat tinggi derajatnya." Tsunade bangkit berdiri dan membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Oh." Sasuke melipat kedua tangannya di dada. "Sudahlah, kembali duduk di kursimu. Aku datang ke sini untuk membicarakan semua masalah sekolah ini yang terikat padaku."
Mendengar Sasuke mempersilakan Tsunade duduk, ia pun mendudukkan dirinya kembali di kursi kerjanya. "Anda boleh duduk, jika Anda mau."
"Tidak." Sasuke menolak tawaran Tsunade seraya membuang pandangannya ke arah lain. "Aku di sini saja." Pandangan matanya kembali ke hadapan Tsunade.
"Baiklah, Anda boleh lebih dulu merceritakan kepada saya mengenai masalah yang Anda tangani di sekolah ini." Tsunade menawarkan Sasuke untuk membicarakan masalah terlebih dahulu.
Sasuke menghela napas panjang seraya memejamkan matanya. "Semua aib The Four Prince of Memoriam itu sudah kuketahui."
Tsunade tertegun mendengar kalimat Sasuke. Secepat inikah anggota klan Uchiha bekerja? Sungguh luar biasa, batin Tsunade dalam pikirannya.
Sasuke melanjutkan kalimatnya setelah memilah-milah kalimat yang tepat di otaknya. "Besok. Besok adalah hari terakhir perjuangan gelap mereka. Aku hanya ingin memberi tahu itu."
Ketika mulut Tsunade sedikit terbuka untuk mengatakan sesuatu, tiba-tiba suara Sasuke sudah kembali bergema ke seluruh ruangan membuat Tsunade mengatupkan kembali mulutnya.
"Lalu," Sasuke menatap dalam iris mata Tsunade dengan disertai raut wajah serius. "Apa yang bisa kudapat darimu sebagai bayarannya untuk menyelesaikan ini?" Sasuke terkekeh pelan. "Padahal klanku bukan klan bayaran. Bukankah ini namanya penghinaan?" Mata elang Sasuke menatap tajam Tsunade.
Mendengar perkataan Sasuke yang bisa dikategorikan menusuk, Tsunade langsung spontan berkata, "Saya tidak bermaksud memanfaatkan Anda, sesuai apa yang tertulis di surat kiriman asal sekolahmu yang menyuruh saya untuk menawarkan menanyakan mengenai masalah tersebut dan... Anda boleh meminta apa saja dari saya sebagai hadiahnya."
Mata onyx Sasuke terus memperhatikan air muka Tsunade untuk memastikan perasaan apa yang wanita lebih tua darinya itu rasakan. Sepertinya wanita itu serius mengucapkan segala perkataannya. Otak Sasuke berpikir cepat mengenai apa maksud dari ucapan Tsunade. Kepala Yayasan Konoha School of Art, Scince, and Public Relations menyuruh Tsunade untuk menawarkan kasus The Prince of Memoriam itu?
Sasuke tertawa kecil tertahan. Kepala yayasan sekolahannya itu sudah mengetahui apa yang terjadi dan itu juga berarti kepala yayasan sekolahannya itu memanfaatkan keberadaannya di sekolah ini. Apakah dia sudah menduga kalau Sasuke akan melakukan sesuatu di sini?
"Aku belum memikirkan apa yang kubutuhkan darimu dan sekolah ini," ucap Sasuke setelah memberhentikan tawanya.
Tsunade meneguk air liurnya sendiri. Hatinya berdoa kepada Tuhan semoga keturunan Uchiha yang berdiri di tengah ruangannya itu tidak meminta hal yang tidak masuk akal, walaupun sebenarnya juga salahnya karena telah mengucapkan kalimat penawaran seperti itu.
Sasuke menatap ujung sepatu kanannya yang ia ketuk-ketukkan ke lantai. "Ya, tidak sekarang." Tatapannya bertabrakkan dengan Tsunade kembali. "Mungkin besok, hari terakhir aku bersekolah di sini."
Karena sepertinya si Tsunade itu telah terpaku oleh kalimatnya—karena tidak merespon sama sekali, Sasuke pun memilih untuk membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Tsunade yang berada di balik punggungnya menuju satu-satunya pintu di ruangan ini.
Sebelum tubuh Sasuke dihalangi oleh tertutupnya pintu, Tsunade menyempatkan diri untuk berseru, "Apapun yang kau minta akan kupenuhi." Yah, itulah keputusan Tsunade pada akhirnya.
Pemuda Uchiha yang mendengar perkataan Tsunade itu pun hanya meresponnya dengan lambaian tangan singkat ke udara sebelum pintu ruang Kepala Yayasan K-MOS itu benar-benar menutupi jarak di antara mereka.
Uchiha Sasuke berdiam diri sejenak di depan pintu yang baru saja ia lalui. Kemudian ia terkekeh pelan mengenai pembicaraan yang ia lakukan dengan Tsunade tadi. Ia menarik napas dan mengembuskannya kencang. "Kira-kira apa yang kuinginkan lagi dari semua ini, ya?" gumam Sasuke kepada dirinya sendiri.
Ia menggerakkan kakinya kembali menuju ke ruang kelas sementaranya dengan santai. Pikirannya sibuk memikirkan apa yang harus ia minta dari Kepala Yayasan sekolah ini. Tanpa disadari ia tersenyum dengan sendirinya. Jika ada orang lain yang melihat keadaannya sekarang pasti semuanya mengira pemuda tampan ber-style rambut chicken-ass itu adalah orang gila. Terkecuali Uzumaki Naruto yang sudah terbiasa dengan sifat sahabatnya yang satu ini.
Sesampainya di depan lift, jari telunjuk Sasuke segera menekan tombol tanda panah ke atas dan pintu lift pun terbuka saat itu juga. Sepertinya belum ada yang memakai lift itu setelah Sasuke menggunakannya. Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke pun segera masuk ke dalam lift yang kosong melompong di depannya.
Ketika Sasuke hampir sepenuhnya masuk ke dalam lift, tiba-tiba ada sebuah tangan yang dengan beraninya menggenggam erat lengan kiri atas Sasuke dan menarik pemuda ber-klan Uchiha tersebut kembali keluar dari dalam lift sebelum pintu lift menutup kembali.
Tidak suka diperlakukan seperti ini, Sasuke pun melakukan perlawanan dengan cara menggerakkan lengan atas kirinya kasar, memberontak. Tetapi tetap sia-sia. Tangan itu masih saja mencengkram lengan atasnya.
"Lepaskan!" bentak Sasuke kepada sang pelaku seraya melemparkan tatapan tidak sukanya. Dan, secara tiba-tiba pun raut wajah Sasuke berubah karena mengetahui siapa yang mencegahnya masuk ke dalam lift tadi. Kedua alis Sasuke saling bertautan satu sama lain. "Kau?"
.
~Crack or Hack?~
.
Lamborghini Reventon berwarna hijau terlihat melaju di jalan raya dengan kecepatan normal para pengemudi yang lain. Hanya saja yang berbeda dari kendaraan yang lain adalah mobil Lamborghini Reventon itu lebih banyak memikat perhatian seluruh pengguna jalan: baik pejalan kaki maupun para pengendara dari kendaraan lain. Sang pengendara mobil tersebut menyalakan lampu mobilnya mengingat langit yang tadinya berwarna orange kini telah berubah menjadi hitam kebiruan. Malam sudah tiba.
Uchiha Sasuke—sang pemudi—tampak sedang memutarkan steer mobilnya menuruti instruksi dari pemuda di sebelahnya, Uzumaki Naruto. Di aktivitas mereka sekarang ini, tampak terlihat dengan jelas mulut mereka yang sesekali terbuka dan tak jarang untuk beradu argumentasi dengan raut wajah yang berbeda-beda. Ada kesal, ada bingung, ada pasrah, dan ada sebagainya. Yah, sepertinya itulah yang mencerminkan tali persahabatan mereka berdua.
Lamborghini Reventon itu menelusuri jalan raya yang dihiasi pertokoan di setiap sisi kiri-kanan jalan. Terkadang mobil itu berhenti karena adanya lampu merah di depannya, terkadang berbelok memasuki jalan yang lain, dan terkadang pula berputar balik karena adanya kesalahan dari sang penunjuk jalan di sebelah kemudi.
"Sasuke, jika nanti ketemu perempatan, belok kiri," titah Naruto seraya memerhatikan daerah sekitarnya.
Sasuke mendengus. "Naruto, mau jam berapa kita sampai ke sana? Kau tahu? Aku tadi melihat sebuah papan reklame yang menandakan kita sekarang sudah memasuki distrik Tsuchi."
"Ya, aku tahu karena orang yang kutelepon saat di sekolah tadi juga bilang dia sedang ada di daerah distrik ini. Yah, jadi kita harus ke sini untuk memenuhi semua rencanamu, 'kan?" jawab Naruto sejujurnya.
Mendengar jawaban Naruto membuat Sasuke sesekali menoleh ke arahnya. "Hah? Tadi kau bilang dia sedang berada tidak jauh dekat sekolah sementara kita. Kau membohongiku?"
Naruto menatap Sasuke yang berada di sebelahnya dengan tatapan biasa. "Bukankah distrik Tsuchi memang berada dekat dengan K-MOS?"
Sasuke berdecak. "Memang, letak K-MOS yang terletak hampir dipinggir distrik Konoha itu dekat dengan distrik Tsuchi ketika kau melihatnya dalam GPS-mu, Naruto. Tapi, sekarang kita sudah memasuki distrik Tsuchi terlalu dalam. Kita mau jalan sampai mana, hah? Sampai ujung laut distrik Tsuchi?" ucap Sasuke panjang lebar guna menasihati Naruto.
"Wahai, Uchiha Sasuke. Distrik Tsuchi tidak sebesar distrik Konoha yang kita tinggali. Bukankah kau tahu sudah tahu bahwa Konoha adalah distrik terbesar di antara keempat distrik yang lainnya? Pasti kau tahu, karena kau Uchiha," balas Naruto yang berupa penjelasan. "distrik Iwa, Tsuchi, Mizu, dan Suna hanya sebesar biji jagung bagi distrik Konoha."
"Aku juga tahu, Dobe." Sasuke mengambil jalur kiri dan memberi lampu sein ke kiri karena ia sudah melihat perempatan sudah tidak jauh dari hadapan mereka. "Masalahnya, walaupun distrik Tsuchi ini sebesar biji jagung, tapi kita yang dari distrik Konoha yang lebih besar dari ini saja menghabiskan waktu lebih banyak daripada kita menuju tempat tujuan kita di Konoha." Sasuke membanting steer ke kiri ketika sudah tiba di perempatan yang ditunjuk Naruto, lalu meluruskannya kembali steer-nya agar dapat berjalan lurus.
"Nah, maka dari itu, masih untung kita berputar-putar di dalam distrik Tsuchi ini. Coba bayangkan, jika kita menelusuri Konoha, tempat tinggal kita, mau berapa hari yang akan kita butuhkan?" Naruto melihat ke kiri dan ke kanan, mencoba mengingat-ingat letak persis tempatnya. "Dan, kita membuang-buang waktu seperti ini juga karena kau yang mengendarakan mobilnya tidak benar."
Sasuke mengernyitkan dahinya, tidak setuju. Wajahnya masih menatap lurus ke depan. "What? Jelas-jelas itu karena kau memberi instruksinya selalu telat dan pas-pasan sehingga kita membuang waktu untuk berputar balik. Belum lagi kita harus meraba jalan berhubung otakmu bermasalah."
Naruto menghelas napas. "Baiklah, baiklah... Kita impas. Kau bermasalah dengan cara berkendara dan telingamu dan aku bermasalah dengan otak dan instruksiku, bagaimana?"
Sasuke yang sudah lelah beradu mulut dengan rekan di sampingnya ini akhirnya memilih untuk menganggapnya impas sesuai ucapan Naruto, walau hatinya masih tidak rela dianggap impas begitu saja. "Yah, terserah kaulah."
Tidak lama Sasuke mengucapkan kata-katanya, Naruto menunjuk papan nama cafe yang ia cari. Dan, itu berada di deretan bangunan yang berlawanan arah dengan mereka. "Itu dia cafe-nya."
Setelah melihat apa yang ditunjuk Naruto, Sasuke segera memberi lampu sein ke arah kanan. Setelah jalanan yang berlawanan dengan arus mobil mereka sepi, Reventon itu pun memasuki halaman parkir sebuah cafe yang bisa dibilang lapang. Tempat yang dicari-cari mereka adalah sebuah cafe terbesar di distrik Tsuchi dan terkenal akan aroma biji kopi alami dari distrik Tsuchi yang khas. The Coffee Bean.
Arah lampu mobil Sasuke tepat mengenai siluet seorang pemuda berkulit putih dan berambut hitam. Iris onyx yang sama seperti Sasuke itu melihat ke arah mobil mereka yang baru saja datang dan berjalan mendekat ke arahnya. Tampaknya pemuda berambut hitam tersebut menunggu kehadiran mereka sedari tadi.
Sebelum Sasuke menghentikan mobilnya, Ia membanting steer ke arah kiri dan memutarnya kembali ke arah kanan secepat kilat sehingga menghasilkan sebuah drift ke kanan secara mendadak. Kini pemuda yang menunggu kedatangan mereka itu tepat berada di samping pintu mobil Naruto.
"Sasuke, aku turun dulu, ya!" ucap Naruto melangkah keluar dari mobil seraya memegang beberapa lembar kertas yang sudah tersusun dengan rapi di tangannya.
Ucapan Naruto tidak ia tanggapi karena kelihatannya Naruto ingin cepat-cepat menyelesaikan tugas yang diberikannya kemarin malam. Mata tajam Sasuke memperhatikan Naruto dan pemuda itu saling menabrakkan salah satu telapak tangan mereka dan menggenggamnya erat sebagai ucapan salam persahabatan. Terjadi beberapa sebuah perbincangan serius di antara mereka jika dilihat dari raut wajah mereka masing-masing. Sesekali dari mereka ada yang menganggukkan kepalanya pertanda mengerti atau setuju dan pada akhirnya pun perbincangan mereka diakhiri dengan gerakan saling menabrakkan tinju satu salam lain.
Sasuke melihat Naruto kembali mendekat ke arah mobil di mana Sasuke berada. Naruto pun segera membuka pintu dan memasukkan dirinya ke dalam Lamborghini Reventon yang telah menunggunya sedari tadi. Ketika Naruto sudah menutup kembali pintunya, Sasuke menurunkan kaca pintu Naruto melalui salah satu tombol di dasbor pintu kanannya.
Uchiha Sasuke dan pemuda itu saling bertatapan wajah satu sama lain. Pemuda berambut hitam di luar sana mengangkat sebelah tangannya ke udara sembari melemparkan senyuman tulus andalannya, memberi salam kepada Sasuke. Dibalas oleh Sasuke yang juga mengangkat salah satu tangannya sambil tersenyum singkat.
Sebelum Sasuke melesat jauh meninggalkan pemuda berambut hitam itu di belakang, Naruto pun berteriak seraya mengeluarkan kepalanya dari jendela disertai dengan lambaian tangan, "Sai! Sampai jumpa pekan depan di sekolah!" Iris aquamerine Naruto melihat Sai membalas lambaian tangannya sebelum masuk ke dalam satu-satunya mobil yang terparkir di area parkir itu.
Tangan kiri Naruto bergerak untuk menaikkan kacanya dengan menekan sebuah tombol di dasbor pintu sebelah kanannya. "Pada akhirnya, tugasku selesai!" seru Naruto seraya merenggangkan badannya yang sudah terasa bebas itu.
"Yeah, walau kau meminta bantuan kepada kedua teman kita yang lainnya."
Naruto yang tidak suka dengan perkataan Sasuke pun langsung membalasnya, "Aku 'kan tidak sehebat dan sejenius dirimu yang melakukan semuanya sendirian."
Tersirat sebuah senyum kebanggan dari bibir Sasuke. "Yah, bagaimana pun juga besok adalah hasil dari pekerjaan kita yang kurang kerjaan."
Mata Naruto menatap langit melalui kaca depan mobil yang membatasi ruang penglihatannya untuk melihat sang bulan yang semakin lama semakin meninggi dan tertutupi oleh atap mobil. "Akhirnya, besok adalah hari terakhir kita bersekolah di K-MOS, ya?" kata Naruto yang hampir berupa sebuah gumaman.
Salah satu sudut bibir Sasuke tertarik ke atas. "Yeah, akhir dari cerita ini."
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Minggu | Jakarta, 14 Juli 2013 | Pukul 01.36 WIB
Reply of Review:
Ichiro Kenichi: Sakura adik Sasori? Hmm… Lihat saja nanti. Jika kau masih penasaran dengan Sakura, aku hanya bisa bilang, "tunggu kedatangan Sakura sesaat lagi". Thanks for your review!
Maruyama Harumi: Doakanlah semoga aku selalu bersemangat untuk mengerjai fict ini. Maaf telat update. Thanks for your waiting and review!
Eysha 'CherryBlossom: Terima kasih telah menyukai fict ini walau sudah dibuat penasaran tingkat internasional. Tunggu Sakura sesaat lagi. Oh iya, jangan panggil aku "Thor" karena aku bukan salah satu dari super hero, silakan panggil aku Cergo. Thanks for your waiting and review!
Titan-miauw: Sudah di-update. Jika masih penasaran dengan ceritanya, ikuti terus fict CHz ini karena Sasuke masih akan beraksi. Thanks for your support and review!
Hikari Ciel: Sasuke bakatnya memang banyak, tapi sayangnya sering "salah jalan", jadinya seperti ini. Banyak orang yang menerka Sakura itu adik Sasori… jadi, lihat saja nanti. Clue-nya tidak dijawab juga tidak apa. Have fun saja. Thanks for your waiting and review!
Cheryxsasuke: Hai juga. Tak apa baru me-review, aku maklumi kesibukkanmu karena aku juga sibuk. Sakura akan datang, tunggu saja—tapi, masalah akan menjadi kejutan atau tidak… lihat saja nanti. Oh, berarti setelah lulus nanti kau akan menjadi guru? Thanks for your review!
Nadialovely: Jadi, kesimpulan dari jawabanmu atas clue tersebut apa? Ingat, semua klu yang kuberikan saling berhubungan satu sama lain. Thanks for your review!
Akira Takigawa: Hn, seperti yang kau tahu, tidak bisa diganti. Klu-nya tidak perlu diinvestigasi segala, jawaban klu-nya sangat simpel. Seperti yang sudah diketahui, keluarga dari Sasori sangat respect terhadap Uchiha. Thanks for your support and review!
SayuriOrchidflen: Fict ini sudah update. Thanks for your waiting and review!
Yoru no tsukiakari: Salam kenal juga, silakan panggil aku Cergo. Terima kasih atas pujiannya, semoga saja kekerenan fict ini bisa bertahan. Tidak mau jawab klu-nya juga tidak apa, itu untuk have fun saja. Hn, silakan di-fave. Thanks for your review!
Shaun: Terkadang dugaan membuahkan hal yang tidak terduga, bukan? Jika kau ingin menebak klu-nya, silakan saja—kesempatan masih terbuka lebar hingga chap ini karena chap ini adalah klu terakhir. Ya, aku punya pelayan orang Jawa. Terima kasih, tapi permainan piano-ku belum sejago dan secepat maestro, kok. Aku masih harus belajar. Thanks for your review!
Fany-san: Jika klu-nya bikin greget, sabar menunggu Sakura-nya, ya. Terima kasih atas ucapannya, aku sendiri juga tidak menyangka kalau fict CHz ini bisa masuk IFA. Maaf tidak bisa update kilat. Sakura masih dibawah pelatihanku, jadi belum kubiarkan masuk dulu. Thanks for your review!
Guest—named CICA: Hai dan salam kenal juga, terima kasih sudah bersedia mengikuti fict CHz ini. Mengenai seperti apa klan Haruno nanti—apakah sama seperti Uchiha dan Akasuna?—lihat saja nanti. Tindakan Tsunade sudah kauketahui di chap ini. Mengenai Sasuke banyak omong, memang disengaja karena dalam CrackHackerz peran utamanya adalah Uchiha Sasuke, bukan yang lain, tpai nanti ada saat Sasuke bersikap dingin, kok. Nantikan, ya. Thank for your review!
Pig: Di fict ini, umur Sasuke dan Naruto adalah 16 tahun dan bukan samaran. Mengenai apakah tidak apa-apa mereka mengendarai mobil sekelas Lamborghini Reventon, jawabannya adalah tidak apa karena hingga saat ini mereka belum pernah tertangkap polisi, jadi jangan diragukan lagi. Tak apa banyak tanya, aku jadi tahu apa yang kaupikirkan. Thanks for your review!
Zecka S. B. Fujioka: Ya, mereka masih mengenakan topeng karena belum dideskripsikan mereka melepas topeng, bukan? Hn, Uchiha bagaikan motivator bagi Sasori beserta keluarganya dan apakah Sakura memiliki hubungan dengan keduanya… lihat saja nanti. Fict ini memang masih memiliki banyak kekurangan—terutama dalam hal typo yang terkadnag sering menghilang jika ingin diperbaiki—dan aku juga masih bingung mengapa fict-ku bisa masuk IFA. Ya, klu-nya berkaitan banget dengan Sakura. Thnaks for your support and review!
Mochi-chan: Salam kenal juga, Mochi-chan. Tidak apa baru baca mengingat fict ini berasal dari genre minor dan yang membuat fict CHz ini juga Author yang jarang dikenal orang awam. Terima kasih sudah membaca dan menyukai cerita ini. Pairing SasuSaku akan diusahakan memiliki hubungan yang romantis dan manis, tapi dalam kategori "unik". Thanks for your review!
Universal Playgirl: "Sakura tidak bisa pakai windows"? Itukah jawabanmu? Thanks for your review!
Yumi Murakami: Mungkin para pecinta romance-drama akan bosan membaca fict CHz ini karena ceritanya berbanding terbalik dengan biasanya. Dan kau benar, aku mengutamakan cerita dibanding pairing karena bagiku "cerita" bisa membuahkan "pairing", sedangkan "pairing" tidak mungkin bisa terjadi tanpa adanya "cerita", setuju? Mengenai tebakanmu… yah, sepertinya cerita CHz ini akan panjang. Semoga tidak bosan. Sama-sama. Thanks for your review!
Eunike Yuen: Tak apa telat, aku maklumkan soalnya aku juga sedang sibuk walau sudah memasuki liburan. Sepertinya kau sudah merasakan keberadaan Sasori di CHz ini, bagiku Sasori adalah karakter yang "kupilih dengan hati-hati" di fict ini selain Sasuke. DOS itu memang software, tapi jawabanmu tidak ada hubungannya dengan Sakura. Thanks for your review!
Mitchiru1312jo: Maaf, tidak bisa update cepat seperti maumu. Thanks for your review!
Dkrisan-chan: Jawabannya memang tidak bisa diganti, tapi kau masih bisa memberitahukan jawaban yang lain dan aku akan tetap menguci jawabanmu yang pertama. Semoga cerita ini semakin seru seperti yang kaubayangkan. Thanks for your support and review!
MerisChintya97: Dugaanmu mengenai "hanya akan mempermasalahkan otak dari The Four Prince of Memoriam saja" sepertinya benar dengan di-update-nya fict ini. Hubungan Akasuna dengan Uchiha hanya sebuah respect saja, kok. Untuk lebih pastinya, silakan ikuti cerita ini lebih lanjut. Sakura akan datang sesaat lagi. Thanks for your review!
Hydrilla: Hai dan salam kenal juga, Hydrilla. Terima kasih sudah menyukai fict ini. Uchiha menyembunyikan identitas mereka karena suatu hal. Kaku tidaknya tulisanku, mungkin karena aku orangnya memang kaku. Masih boleh menceritakan imajinasimu mengenai Sakura, kok, dan terima kasih sudah menceritakannya. Klu-nya masih boleh ditebak hingga chap ini karena chap ini klu terakhir. Berpikir yang simpel saja, jangan yang rumit. Silakan di-fav. Thanks for your review!
A/N: Ini adalah chapter terakhir yang berisikan clue mengenai "kemunculan Sakura". Jawaban dari klu tersebut tidak harus berbau genre fict ini. Klu ini bersifat universal.
So, this is the final clue:
"HANA"
Aku hanya bisa bilang, berpikirlah yang simpel karena jawabannya tidak serumit yang kalian bayangkan. Clue "THREE", "DOS", dan "HANA" saling berkaitan satu sama lain yang melahirkan satu jawaban—tidak dipecahbelah. Dan, jawabannya amat sangat simpel. Mengapa? Karena aku tidak akan memberikan klu yang susah mengingat ini hanya sekadar have fun. Jadi, santai saja.
Feliz Navidad! (bagi yang merayakan)
Semoga damai Natal menyertai kita selalu.
Shinnen Akemashite Omedetou! (for all of you)
Walau belum tahun baru, tapi diucapkan saja karena fict ini tidak akan di-update hingga tahun 2014 nanti.
Terima kasih juga bagi para pembaca yang selalu mendukung CrackHackerz(CHz) hingga bisa masuk ke dalam nominasi IFA 2013. Walau aku tidak tahu apa, siapa, dan bagaimana ini bisa terjadi(karena tiba-tiba mendapat kabar seperti itu), tapi masuk dalam nominasi —bahkan IFA 2013-nya saja sudah suatu kehormatan bagiku. Terima kasih.
For the last words,
"Sakura, will appear. So, what's your answer?"
Hints terakhir:
"Kemungkinan besar, segala hal simpel yang pertama kali muncul di pikiran kalian adalah jawabannya."
Signature,
Huicergo Montediesberg
