Sebelum terhenyak ke dalam cerita, sebaiknya aku mengumumkan jawaban dari ketiga klu yang tertera di 3 chap belakangan ini. Jadi, inilah jawaban terincinya.
"THREE" adalah "TIGA" dalam bahasa Inggris.
"DOS" adalah "DUA" dalam bahasa Spanyol.
"HANA" adalah "SATU" bahasa Korea.
Dengan kata lain, 'satu jawaban' yang kuinginkan dari klu-klu tersebut adalah countdown—hitung mundur. Simple, bukan? Seperti kataku di chap 12, jawabannya bersifat universal. Sedangkan, jawaban bahwa Sakura muncul di chap 13 atau akan muncul 3 chap lagi kuanggap lulus sebagai peringkat 2 & 3. Terima kasih sudah bersedia berpartisipasi, bagi yang tidak bisa menebak silakan menyibukkan diri untuk menebak jalan cerita fict ini.
Berikut adalah pembaca yang menjawab "countdown": [I]
Maruyama Harumi | mautauaja | Hikari Ciel | Edelwish| Shaun
Pembaca yang menjawab "Sakura akan muncul di chap 13": [II]
DKrisan-chan | Hydrilla
Pembaca yang menjawab "Sakura akan muncul 3 chap lagi pada chap 10": [III]
xLittleFallenAngel | Felicita-chan
.:. "Nama mereka kutulis sebagai tanda penghormatan karena sudah menjawab dengan benar."
So, this is the "LING" ("nol" dalam bahasa mandarin—nada kedua).
DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)
CRACKHACKERZ
NARUTO © Masashi Kishimoto
STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg™
The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"
WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap, and many more inside.
GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship
RATED:
Just T... perhaps
COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"
.
"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"
.
.
USER ACCOUNT CONTROL
PROGRAMME NAME: 13
DO YOU WANT ALLOW THE PROGRAMME TO MAKE CHANGES?
SHOW DETAILS
"Yeah, akhir dari cerita ini."
Mendengar jawaban ringan dari Sasuke yang disertai pula oleh senyuman kemenangan, tiba-tiba mengingatkan Naruto akan gedung sekolahnya yang telah ia tinggalkan selama sepekan terakhir ini. "Akhirnya hari kembali ke sekolah kita yang nyaman pun tinggal sebentar lagi."
Sasuke memberhentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas yang berada tepat di depannya berubah merah, menghalang aktivitas mereka sebentar. Dan, kegiatan membosankan ini mereka isi dengan rasa rindu kepada sekolah tercinta mereka, Konoha School of Art, Science, and Public Relations.
Di pikiran mereka sudah tergambar dengan sangat jelas gedung sekolahnya yang besar dan tinggi, fasilitas yang mewah, perkarangan yang luas dan hijau, dan sistem terlewat canggih yang digunakan oleh sekolahnya. Tidak lupa juga teman-teman akrab Sasuke dan Naruto yang menunggu kedatangan mereka kembali ke sekolah. Walaupun beberapa menit yang lalu baru bertemu dengan salah satu dari sahabat mereka, tetapi tetap saja tidak cukup. Dapat dipastikan mereka akan menagih cerita ketika mereka bersekolah di sini selama seminggu penuh. Pasti.
Tidak lama terbuai oleh rasa rindu, lampu merah pun berubah menjadi hijau. Sasuke yang menyadari akan hal itu mengatur speed mobilnya yang tadinya berada di posisi netral ke speed satu dengan cara menekan paddle shift yang berada di kanan belakang steer dengan jari kanannya, lalu ia pun menginjak pedal gas dengan kecepatan rata-rata.
"Aku sudah tidak sabar ingin kembali ke sekolahku yang normal!" ucap Naruto seraya merenggangkan badannya.
Sasuke menarik salah satu sudut bibirnya. "Begitu pula denganku."
Iris aquamerine Naruto menatap Sasuke yang masih fokus dengan jalanan di depan mereka. "Sasuke, buatlah ending cerita yang bagus. Semua ending ini tergantung padamu."
Mendengar kalimat mutiara yang jarang-jarang diucapkan oleh Naruto membuat Sasuke menolehkan kepalanya sesaat untuk melihat ekspresi sahabatnya itu—Naruto tersenyum miring ke arahnya. Lalu, ia kembali konsentrasi dengan kemudinya.
"Hn, aku juga tahu."
Naruto menghela napas melalui mulutnya secara sengaja sehingga menghasilkan suara dari tenggorokkannya. Matanya berkeliaran dengan bebas melihat suasana malam distrik Tsuchi. "Lalu, apakah yang akan dilakukan olehmu nanti? Berbuat baik, atau kejam terhadap The Four Prince of Memoriam?"
"Yang akan kulakukan kepada mereka..." Sasuke menyeringai. "Lihat saja nanti."
.
~Crack or Hack?~
.
Pukul tiga keesokkan harinya seluruh murid K-MOS tampak sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, semua kegiatan ekskul di sekolah ini sudah berakhir. K-MOS terlihat sepi. Tapi, berbeda dengan salah satu murid terbaik K-MOS ini. Sepertinya, ia tampak tergesa-gesa karena suatu hal. Apakah ada suatu hal yang penting?
Hyuuga Neji tampak berjalan dengan langkah cepat menelusuri koridor di mana kelasnya berada. Perasaan gelisah berkecamuk di dalam dirinya saat ini. Semuanya ini bermula ketika ia menerima sebuah surat tanpa nama pengirim saat ingin berangkat ke sekolah yang dengan seenaknya mengatakan, temui dirinya di halaman belakang saat sekolah usai dan sepi. Lalu, baru saja ia ingin bercerita dengan ketiga sahabatnya yang lain, tapi—alangkah sialnya—mereka tidak masuk secara bersamaan. Entah itu disengaja atau tidak. Dan, pada akhirnya, mau tidak mau ia harus bertemu sendiri dengan 'sang pengirim surat'.
Neji masuk ke dalam lift ketika pintu di hadapannya terbuka lebar dan langsung menekan tombol yang bertuliskan LG. Tidak ada satu menit, pintu lift pun terbuka ketika dirinya sampai pada lantai yang dituju. Tanpa pikir panjang, ia keluar dari lift dan langsung melesat ke arah bagian belakang gedung sekolah.
Ia melewati koridor sekolah yang terbilang panjang untuk menuju ke halaman belakang sekolah. Entah kenapa ia merasa koridor ini lebih panjang dari sebelumnya, atau ini hanya perasaannya saja?
Sesampainya di area belakang Lower Ground, Neji bergerak untuk membuka pintu kaca dengan kedua tangannya sehingga pintu itu terdorong ke arah sisi kiri dan kanan—mempersilakan satu-satunya sang keturunan Hyuuga untuk menuruni anak tangga dan menjejaki kakinya di area rerumputan halaman tersebut. Matanya tampak berkeliling mencari apa yang ingin dicarinya seraya berjalan hingga berada di tengah area.
Tidak ada seorang pun.
Yang hanya ditangkap oleh matanya adalah pepohonan di depannya dan rerumputan yang berada di bawah kakinya. Hanya itu.
Melihat tidak ada satu pun orang yang menunggu kedatangannya, Neji tertawa tertahan. "Tidak ada siapa-siapa." Iris lavender Neji menerawang ke cakrawala bebas di atas kepalanya. "Tampaknya ada yang ingin bermain-main denganku."
"Aku tidak ingin bermain-main denganmu."
Neji langsung menggerakkan kepalanya ke arah suara itu berada, di antara pepohonan di hadapannya. "Siapa kau?" Neji mengernyitkan dahinya, berpikir keras. Kemudian pandangan matanya mengeras. "Kalau dari suara itu—"
"Ya, ini aku." Dengan perlahan, sesosok siluet tubuh seseorang yang tertutupi bayangan pepohonan di sekitarnya berjalan ke luar dari tempat sejuk tersebut.
Neji membelalakan kedua matanya. "Kau—"
Kini seseorang yang bersembunyi di balik pepohonan itu terlihat jelas di tengah sorotan matahari yang menyilaukan. Seorang pemuda berkulit putih—yang memakai kacamata hitam serta topi sox yang masih memperlihatkan rambut raven-nya itu—tampak mengkibas-kibaskan tangan ke arah wajahnya sendiri.
"Kau tahu? Matahari saat ini sangat panas sehingga aku harus berteduh sementara waktu di sana sambil menunggumu."
"Siapa kau?" Neji memandang pemuda di depannya dengan tatapan tajam.
Tanpa menghentikkan gerakan tangannya itu, Sasuke menjawab, "Hn, benar juga, kita belum kenalan sebelumnya. Namaku... Sasuke." Ia membuang pandangannya dari Neji ke arah lain. "Dan, aku tahu namamu Hyuuga Neji, jadi kau tidak perlu memberitahuku lagi."
Sungguh. Mendengar nada ringan dan seenaknya dari orang yang baru ia kenal nama kecilnya itu sungguh membuat emosinya meningkat. "Apa yang ingin kau inginkan dariku?" tanya Neji geram.
Pemuda yang diketahui bernama Sasuke itu berhenti menggerakkan tangannya. "Tidak ada yang ingin kuinginkan darimu." Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya. "Berhubung aku tipe orang yang tidak pandai berbasa-basi, aku hanya ingin memberitahu bahwa waktu 'bermain-main'-mu di dunia bebas ini sudah selesai."
Sasuke menjentikkan jarinya ke udara sehingga menghasilkan suara yang keras. Seketika itu juga, keluarlah beberapa orang dari aparat kepolisian Konoha dari sisi halaman sebelah kiri dan kanan K-MOS yang kini sudah mengepung Neji dengan membentuk sebuah lingkaran yang besar dan disertai rentetan mata pistol yang terarah kepadanya.
Skakmat.
Neji yang sudah berada di dalam barisan lingkaran polisi hanya bisa membuka sedikit lebar matanya dan tidak percaya akan apa yang terjadi padanya saat ini. Mata Neji memandang orang-orang dari kepolisian itu satu-persatu. Ia berusaha tenang dari rasa takut dengan menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya. "Ada apa ini? Mengapa kalian mengepungku? Memangnya apa yang telah dilakukan oleh diriku yang anak sekolahan ini?"
Salah satu dari polisi itu menjawab dengan tegas, "Hyuuga Neji, kau ditangkap atas penyelundupan uang terhadap sejumlah perusahaan dan kekerasan terhadap anak kecil dari Hyuuga's Orphanage."
Mata Neji terbelalak mendengar hal itu. Ia masih mencoba mengelak, "Tahu dari mana kalian? Apakah kalian mempunyai buktinya?"
Polisi tersebut mengeluarkan sebuah tumpukkan kertas yang sudah di-strepless rapi dari balik jaket kepolisiannya. "Ini adalah buktinya."
Melihat Neji yang masih bingung dengan tumpukan kertas yang berada di tangannya, polisi itu pun langsung membacakan satu persatu kata yang tarpampang rapi di sejumlah kertas HVS itu. Perbuatan polisi itu mampu membuat Neji shock di tempat.
Tidak tahan dengan kenyataan yang diucapkan oleh polisi itu, Neji pun berteriak, "Hentikan!" Ketika polisi itu tidak lagi mengeluarkan suaranya, pemuda Hyuuga itu melanjutkan perkataannya, "Kalian tahu dari mana informasi itu?"
Salah satu dari polisi yang lain menjelaskan, "Mengenai hal itu, kami hanya mendapatkannya dari sebuah kiriman paket beserta surat yang menyuruh kami untuk menuntaskan kasus tersebut ke sekolah ini."
Neji mematung di tempatnya berdiri. Jantungnya berdebar keras. "Siapa pengirimnya?" tanyanya ragu-ragu, terdengar nada gemetar di dalam pertanyaannya.
Polisi tersebut membalik lembaran tumpukkan kertas rapi tersebut hingga ke halaman paling belakang. "Jika kau melihat 'ini', pasti kau akan mengerti."
Sasuke yang sedari tadi pura-pura tidak tahu-menahu dengan cara melihat cakrawala di atas kepalanya langsung memalingkan wajahnya ke arah Neji yang sedang dikepung oleh para polisi dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan setelah mendengar perkataan sang komandan polisi.
Melihat apa yang ditunjukkan polisi itu, mata Neji membelalak lebar. Polisi tersebut menunjukkan sebuah stamp berlambang kipas berwarna merah di atas dan putih di bawahnya. Lambang sebuah keluarga yang misterius dan paling dihormati se-Jepang. Lambang klan Uchiha.
Lutut Neji melemas sehingga ia jatuh tersungkur ke bawah. Ia membuang pandangannya dari lambang yang tertera pada kertas tersebut, menatap rerumputan. "Apa-apaan ini? Aku saja belum pernah bertemu dengan mereka," mata Neji kembali melihat lambang tersebut, "tapi, mereka sudah langsung menjatuhi hukuman padaku," ucapnya dengan nada lemas dan terbata-bata. Saking lemasnya, nada terakhir kalimat terakhirnya lebih terdengar seperti nada pertanyaan.
Sasuke yang entah kenapa menjadi merasa tak tega karena melihat Neji yang memancarkan raut wajah pasrah pun mulai memberanjakkan kakinya melewati barisan lingkaran polisi, terus masuk ke dalam sampai ia berada tepat di depan Neji yang bersimpuh. Sasuke menekuk sebelah kakinya hingga wajahnya dan wajah Neji setara, lalu ia membuka topi serta kacamata hitamnya.
Iris Neji menatap wajah Sasuke yang sebenarnya, wajah yang selama ini membuatnya penasaran sejak kejadian di dalam perpustakaan, dan juga saat berada di dalam rumahnya dua hari yang lalu. "Siapakah kau sebenarnya?"
"Namaku Sasuke." Sasuke mendekatkan mulutnya ke daun telinga kiri Neji, berbisik, "Uchiha Sasuke."
Pandangan Neji berubah menjadi kaku dan tegang ketika ia mendengar nama keluarga Uchiha di depan nama kecil pemuda yang kini sudah menarik wajah dari telinganya. Sungguh, ia tidak percaya kalau orang yang di depannya, orang yang dikejar-kejarnya di perpustakaan, dan orang yang dua hari lalu berbicara panjang lebar dengannya adalah salah satu dari keturunan keluarga Uchiha yang bernama kecil Sasuke.
Neji menahan rasa haru dan linangan air matanya dengan tertawa kecil. "Tak kusangka, saya akan bertemu dengan Anda di saat yang seperti ini," ucapnya dengan suara pelan agar tidak diketahui orang lain. Hyuuga Neji merubah cara bicaranya dari baku menjadi formal seraya menatap onyx Sasuke yang kelam. "Setidaknya, saya bisa bertemu dengan Anda sebelum saya ditahan dalam sel nanti."
Kalimat yang diucapkan Neji dari dalam hati tersebut membayang di pikiran Sasuke. Ingin rasanya Sasuke melepaskannya dengan langsung berbicara di depan banyak polisi, tapi mau bagaimana lagi? Pemuda berbakat seperti Neji harus diberi pelajaran agar dapat berjalan di jalan yang benar. Setidaknya, kurungan selama paling lama dua setengah tahun di penjara—mengingat Neji masih di bawah umur sama dengan Sasuke, yakni umur 16 tahun—dapat membuat Neji jera dan merubah sifatnya.
"Tenang saja," Sasuke melanjutkan perkataannya, "ketiga sahabatmu itu aman karena sudah mengakui kesalahan mereka serta membuat sebuah perjanjian denganku dan sudah berada di dalam naungan nama besar keluargaku, Uchiha."
Arah pandang Sasuke tertoleh ke arah pepohonan yang diikuti oleh Neji setelahnya. Di sana terlihat semakin lama semakin jelas sosok ketiga sahabatnya: Akasuna no Sasori, Inuzuka Kiba, serta Yakushi Kabuto. Dan, Neji sudah dapat pastikan bahwa pemuda jabrik kuning tanpa topi dan kacamata di sebelah mereka adalah sahabat dari pemuda Uchiha di hadapannya ini. Mereka berjalan mendekat ke arah dirinya dan Sasuke berada.
Uchiha Sasuke melanjutkan perkataannya, "Mereka sudah memutuskan hubungan penanaman modal yang kaulakukan dengan perusahaan-perusahaan mereka. Jadi..." Sasuke menatap Neji yang sudah lebih dulu menatapnya, "...mereka bersih dari segala tuduhan."
Seusai Sasuke menyelesaikan kalimatnya, ia segera bangkit berdiri dari posisi setengah bersimpuhnya, menjauh dari Neji, dan menempatkan dirinya di sebelah Naruto. Ia dan Naruto menyaksikan acara mengharukan mengenai akhir dari sebuah nama The Four Prince of Memoriam di halaman belakang Konoha Memoriam of School ini. Mereka berempat saling berpelukkan dan masing-masing dari mereka menepuk punggung Neji—berusaha menabahkan hati Neji yang akan berpisah dari mereka. Segala macam obrolan mengenai penjelasan mereka tersaji di sana.
Naruto yang melihat peristiwa itu secara perlahan mengeluarkan air mata hingga membasahi pipinya yang berkulit tan. Sasuke yang melihat hal itu di sebelahnya mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku sebelah kanan Naruto dan memberikannya.
"Terima kasih, Teme," Naruto pun mengusap air matanya yang terlihat memalukan.
"Sama-sama, Dobe," balas Sasuke dengan tampang datar.
Tak lama kemudian, Naruto baru menyadari suatu hal. Ia menolehkan kepalanya ke arah Sasuke di sebelahnya. "Hei! Bukankah ini sapu tanganku?"
Sasuke menolehkan kepalanya ke arah Naruto di sebelahnya. "Memang."
Naruto menatap Sasuke setajam yang ia bisa. "Kalau begitu, aku menarik perkataan 'terima kasih'-ku tadi!"
"Kalau begitu, aku juga menarik perkataan 'sama-sama'-ku tadi."
Salah satu dari polisi berjalan mendekat ke arah kawanan berempat itu dan memorgol kedua tangan Neji sehingga tidak bisa berkutik. Rela tak rela, Sasori, Kiba, dan Kabuto pun melepas kepergian Neji yang sudah dibawa oleh aparat kepolisian Konoha itu menjauh dari mereka.
"Jaga dirimu baik-baik di sana!" seru mereka bertiga bersamaan.
Neji yang sudah jauh beberapa langkah dari mereka menolehkan kepalanya ke belakang. "Ya, kalian juga!" balasnya singkat disertai senyuman terakhirnya.
Saat dirinya tiba untuk melewati Sasuke dan Naruto, Neji menyempatkan diri untuk menghampiri mereka berdua sesaat. "Terima kasih, Sasuke. Aku sudah mendengar semua penjelasan dari mereka tadi," katanya dengan senyuman persahabatan darinya. "Tolong jaga ketiga sahabatku baik-baik, aku tidak ingin mereka bernasib sama denganku."
Sasuke menyunggingkan senyuman kecil. "Hn. Serahkan mereka padaku."
Neji hanya membalas perkataan Sasuke yang bisa dibilang sebuah janji itu dengan sebuah senyuman lega miliknya, kemudian Neji pun berlalu melewati mereka berdua. Berjalan menjauh dari mereka.
"Kenapa hanya kau saja yang diucapkan terima kasih? Mengapa aku tidak?" tanya Naruto dengan disertai wajah memberengut.
"Karena kau tidak diserahi ketiga sahabatnya itu," jawab Sasuke singkat.
Kurang-lebih sepuluh langkah dari Sasuke dan Naruto. Neji menghentikkan langkahnya karena melihat dua orang yang sudah sangat ia kenal di depannya, dua orang yang memercayakan Hyuuga's Orphanage kepadanya, orangtua kandungnya. Orangtuanya berlari kecil ke arah anak sulung yang sudah menjadi semata wayangnya itu.
"Ayah, ibu... Maafkan aku, aku—"
Sebelum Neji menyelesaikan kalimatnya sebuah tamparan dari sang ayah mendarat mulus di pipi kanannya, akan tetapi tangan yang masih melekat di pipinya itu berubah menjadi sebuah elusan lembut di tempat yang sama. Sang ayah—Hyuuga Hizashi—memeluk anaknya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Suara tamparan yang tadi itu berhasil menarik perhatian semua orang, tak terkecuali ketiga sahabatnya dan kedua pemuda Uchiha dan Uzumaki yang baru dilalui oleh Neji.
"Kau tak perlu melakukan hal yang kotor, Neji. Karena tanpa perbuatan kotor pun Hyuuga's Orphanage kita tetap akan menjadi panti asuhan yang terbaik," ucap sang ayah seraya berlinang air mata.
Sang ibu yang terharu melihat suami dan anaknya itu ikut memeluk Neji dan suaminya dengan lembut. "Jangan takut, ya, sayang. Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan untukmu melalui klan Uchiha."
"Aku tahu. Jenguk aku jika kalian memiliki waktu untukku," ucap Neji dengan bijak. Hal itu membuat kedua orangtuanya sadar bahwa mereka sudah membuang waktu mereka hanya untuk pekerjaan mereka saja. Kalimat Neji dijawab sebuah anggukkan dan senyuman tulus dari kedua orangtuanya.
Setelah selesai berpelukkan dengan orangtuanya, tampaklah kepala yayasan beserta wakilnya. Mereka berjalan mendekati Neji yang sudah didampingi oleh kedua orangtuanya.
"Walau kau sudah resmi dikeluarkan dari sekolah ini, tetapi kau tetaplah murid kebanggaan Konoha Memoriam of School," ucap Tsunade sambil menepuk kepala Neji dan mengelusnya pelan, seperti memberi kekuatan kepadanya untuk menghadapi hukuman yang harus diterima nanti.
Mereka semua yang berada di halaman belakang sekolah mengantar Neji hingga berada di depan anak tangga pintu utama gedung sekolah di mana terparkir beberapa mobil polisi dan mobil orangtua dari Hyuuga Neji. Kiba, Kabuto, dan Sasori memeluk Neji untuk yang keterakhirkalinya, tanda persahabatan mereka belum berakhir meski harus berpisah jauh dan tanpa kontak jangka panjang.
Setelah itu, Neji pun dimasukkan ke dalam salah satu mobil polisi dan meninggalkan ketiga sahabatnya yang meratapi kepergiannya bersama dengan Sasuke dan Naruto di belakang. Tampak dengan jelas, mobil orangtua Neji mengikuti mobil polisi itu kembali ke markasnya untuk mengadili anak satu-satunya. Bunyi sirene polisi itu semakin lama semakin menjauh dari gendang telinga semua orang yang masih diam berdiri di tempat.
Tsunade menghadapkan badan ke arah Sasuke ketika mobil-mobil itu sudah tidak terlihat oleh mata lagi. "Terima kasih atas bantuan Anda, Tuan Uchiha. Ini kunci mobil Anda." Tsunade menyerahkan kunci mobil Lamborghini Reventon milik Sasuke yang memang sudah terparkir di antara mobil-mobil polisi tadi.
Mendengar Tsunade berbicara dengannya, Sasuke menghadap kepadanya dan menerima kunci tersebut di tangan kanannya. "Tak perlu berterima kasih, anggap saja ini bonus dariku."
Mendengar pembicaraan kecil Tsunade dan Sasuke, membuat Naruto, Sasori, Kiba, dan Kabuto memfokuskan diri ke arah kepala yayasan dengan sang keturunan Uchiha dari percakapan hibur-menghibur mereka sebelumnya.
Tsunade berdeham kecil. "Sesuai yang saya janjikan, saya akan mengabulkan sebuah permintaan. Anda boleh mengucapkannya sekarang."
Sasuke tampak teringat akan suatu hal. "Keinginanku adalah..." sebuah seringaian tipis menghiasi bibir dingin Sasuke, "...membawa Akasuna no Sasori, Yakushi Kabuto, dan Inuzuka Kiba untuk pindah ke sekolahku."
Permintaan Sasuke membuat semua Tsunade dan Shizune yang berada di sana menganga lebar. "Hah?" ucap mereka berdua kompak. Sedangkan, keempat pemuda—termasuk Naruto—yang berada di sekitar Sasuke tersenyum penuh harapan.
"Yah, dengan kata lain, aku ingin ketiga sahabat dari Hyuuga Neji ini bersekolah di sekolah yang sama denganku. Mengingat mereka sudah diserahkan oleh Neji kepadaku," jelas Sasuke. "Aa, tidak lupa bahwa hari penangkapan ini terjadi secara damai berkat kejujuran dari salah satu muridmu, Akasuna no Sasori."
Sasuke melirik Sasori yang sudah memperhatikannya melalui ekor matanya. Sasori tampak tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Dia yang menceritakan semuanya dengan menarik tanganku saat ingin masuk ke dalam lift kemarin," lanjut Sasuke.
Setelah berulang kali memikirkan perkataan Sasuke, Tsunade pun akhirnya merelakan ketiga murid andalannya yang tersisa turut pergi meninggalkan K-MOS.
"Baiklah, kalau itu permintaan Anda. Mulai detik ini juga, Akasuna no Sasori, Inuzuka Kiba, serta Yakushi Kabuto juga dikeluarkan dari Konoha Memoriam of School," putus Tsunade kemudian dengan suara lantang.
"YEAH!"
Suara senang dari Sasori, Naruto, Kabuto, dan Kiba terdengar menggelegar ke sekitar kawasan sekolah itu. Tampaknya Naruto sudah mulai membaur dengan ketiga sahabat dari Neji itu. Keturunan Uzumaki memang sangat hebat dalam hal bergaul dengan orang yang baru saja dikenal.
"Oh, ya, satu hal lagi." Sasuke merogoh saku jas putihnya, lalu menyodorkannya kepada Tsunade. "Ada sebuah surat dari pengagummu sejak semasa kecil." Salah satu sudut bibir Sasuke tertarik ke atas.
Tsunade menerimanya dengan penuh tanda tanya dan kikuk. "Terima kasih. Kalau begitu, kami permisi dulu." Ia dan wakilnya membungkuk sesaat, lalu pergi masuk ke dalam gedung sekolah. Meninggalkan mereka berlima di depan gedung sekolah.
"Terima kasih atas kebesaran hatimu, Tuan Muda Uchiha," kata mereka bertiga—sahabat dari Hyuuga Neji—bersamaan dengan penekanan nada panggilan di akhir kalimat mereka.
Sasuke menghela napas. "Bukankah sejak kemarin hari aku sudah bilang kepada kalian? Panggil aku Sasuke saja, tanpa menggunakan hal-hal yang berbau 'takhta tinggi' seperti itu, mengerti?"
"Kami sudah tahu, Sasuke. Sekali lagi, terima kasih!" ucap Kiba mewakili kedua temannya yang lain.
Naruto melihat jam analognya karena tersadar akan suatu hal. "Sasuke, kita harus segera pergi. Bukankah katamu kau ingin mengunjungi suatu tempat setelah ini?"
"Hn, ayo." Sebelum beranjak dari tempat, Sasuke menyempatkan diri untuk berbicara, "Jangan lupa untuk datang ke Konoha School of Art, Science, and Public Relations pada hari selasa mulai minggu depan jam delapan pagi. Seragam dan segala keperluan sekolah yang akan kalian butuhkan di sana akan kukirim ke rumah kalian masing-masing."
"Kami akan menunggu dengan senang hati." Sasori kini yang mengambil alih pembicaraan. "Sampai jumpa hari selasa di sana!"
Sasuke dan Naruto pergi meninggalkan ketiga mantan The Four Prince of Memoriam di balik punggung mereka—yang sedang melambaikan tangan ke udara, menemani perpisahan sementara di antara mereka. Lamborghini Reventon yang sudah dimasuki oleh mereka kini melesat dengan kecepatan penuh meninggalkan Konoha Memoriam of School yang kemungkinan besar tidak akan mereka pijak lagi di belakang mereka.
"Wow, Sasuke! Tadi itu kau baru saja membuat ending yang mengharukan, kau tahu?" ujar Naruto mengomentari seperti apa ending dari acara mereka selama ini tadi. "Dan, jarang-jarang sekali seorang Uchiha Sasuke berbuat baik seperti itu," goda Naruto sembari menyikut lengan atas Sasuke yang berada di sebelah kanannya.
Sasuke berdecak kesal. "Tadi itu aku hanya berpikir, sekali-sekali berbuat baik itu tidak masalah, 'kan?"
Kepala Naruto mengangguk setuju. "Lalu, sebenarnya kita ini akan ke mana?"
Sasuke melirik Naruto sekilas melalui ekor matanya. "Jika sudah sampai kau akan tahu, jadi tutup mulutmu."
Seperti apa yang dikatakan oleh pemuda Uchiha kita satu ini, sepanjang perjalanan mereka hingga ke tempat tujuan ini pun tidak terdengar sedikit pun suara dari seorang Uzumaki Naruto yang berada di sebelahnya. Walau sebenarnya Naruto sudah tidak tahan ingin mengeluarkan beragam macam celotehan yang sudah bersarang di otaknya, tapi ia tetap berusaha menahannya. Yah, sekali-sekali menaati perkataan Sasuke tidak ada salahnya juga mengingat sudah lama pula ia tidak tunduk kepada rekan di sebelahnya sejak 'hari terakhir'-nya itu.
Ketika Sasuke berbelok memasuki sebuah tempat yang luas dan lapang setelah melewati lampu merah, Naruto berpikir untuk mengeluarkan pertanyaannya saat ini karena ia menduga tempat yang dituju mereka sudah sampai.
"Ano... Sasuke, ini di mana?"
Mulut pemuda berambut raven itu terbuka, menjawab pertanyaan dari seorang Uzumaki di sebelahnya, "Di suatu tempat."
Mendengar jawaban Sasuke yang malas untuk memberitahunya, akhirnya Naruto memutuskan untuk kembali diam. Tapi apa daya, berdiam diri memang bukan sifatnya. Naruto pun lebih berinisitaif untuk bertanya setelah jalan yang mereka lewati dihiasi oleh tumpukkan mobil rongsokkan yang sudah dihancurkan di sebelah kiri dan kanannya.
"Teme! Sebenarnya untuk apa kita ke sini, hah?"
"Kau akan tahu nanti," jawab Sasuke singkat tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
Tak lama melewati tumpukkan mobil yang sudah tak terbentuk di sekitar mereka, Sasuke menaikkan mobilnya ke atas sebuah pijakkan yang lebih tinggi dari jalanan lain di sekitarnya. Mata elangnya melirik ke arah fuel meter, tinggal sedikit lagi. Tangan kanannya bergera untuk mengambil Samsung S4-nya dari saku celana.
Melihat Sasuke yang tidak berkata sepatah kata karena sibuk dengan handphone-nya, Naruto pun mulai tidak mempedulikan larangan Sasuke untuk tidak berbicara. "Sasuke, sebenarnya kita berdiam diri di sini untuk apa? Menunggu seseorang? Tapi, kenapa di tempat seperti ini?"
Beberapa detik setelah Naruto selesai menuturkan semua pertanyaannya, tiba-tiba mesin Lamborghini Reventon yang ditumpangi mereka berhenti bekerja dengan sendirinya. Uchiha Sasuke memasukkan S4-nya dan keluar dari mobil seraya membawa semua tas miliknya diikuti oleh Naruto yang melakukan hal yang sama setelahnya. Hamparan laut yang biru tersajikan dengan indahnya di depan mata mereka. Ya, sekarang ini mereka berada di ujung tanjung dataran tinggi Konoha.
Uchiha Sasuke berjalan menuruni pijakan tinggi dan luas yang terbuat dari besi hingga kakinya menginjak tanah yang berumput kecil di bawahnya, tak tertinggal pula Naruto di belakangnya. Lalu, ia memegang sebuah tuas yang berada di sebelah kiri bawah pijakan setinggi 1.2 meter—di mana terparkir dengan elegan mobil Lamborghini Reventon-nya di sana.
"Teme! Sebenarnya kita—"
Tanpa aba-aba, tangan kanan Sasuke menarik tuas yang dipegangnya itu ke bawah dan dengan perlahan sebuah lempengan logam besi yang sepertinya sangat berat turun ke bawah secara perlahan. Menekan atap Lamborghini Reventon tersebut hingga mobil mulus tersebut hancur dan tidak berbentuk. Seluruh kaca jendela mobil itu pecah berantakkan.
Naruto yang melihat Reventon yang baru saja dinaikinya kini sudah rata—dan tak berbentuk mobil sport mewah—hanya bisa diam terpaku sesaat. Meratapi Lamborghini yang kini sudah tidak dikenalnya lagi.
"Sasuke, kau tega sekali kepada-nya..." ucap Naruto dengan datar dan masih tidak menolehkan pandangannya dari mobil tersebut.
Pemuda bernama kecil Sasuke yang notabene adalah pemilik dari Lamborghini Reventon itu hanya bersikap rileks, biasa. Seakan tidak terjadi apa-apa. "Lalu?"
Naruto menolehkan kepalanya dengan tampang datar miliknya. "Lalu... NANTI KITA PULANG NAIK APA, HAH?"
Seusai Naruto mengatakan perkataannya, dua buah mobil datang ke arah mereka berdua melalui satu-satunya jalan yang mereka lewati sebelumnya. Dengan perlahan, mereka membalikkan badan mereka menghadap kedua buah mobil yang baru saja datang di balik punggung mereka.
Salah satu pengemudi dari mobil itu keluar dari dalam. "Selamat siang, Tuan Muda Sasuke! Mobil yang Anda perintahkan untuk saya bawa sudah hadir di depan Anda."
Naruto yang melihat Lamborghini Reventon berwana hijau—sama persis dengan yang baru saja hancur itu—hanya bisa menganga dibuatnya. "Jika ini mobilmu, maka yang itu..."
"Itu juga mobilku."
Sasuke menyerahkan kedua tas ransel yang dibopongnya kepada Iruka dan memberi kode agar Iruka pergi meninggalkan mereka terlebih dahulu dengan mobil yang satu lagi. Setelah para pelayannya sudah pergi, Sasuke melanjutkan perkataannya. "Ayo kita pergi, masih ada satu tempat lagi yang harus kukunjungi."
Naruto mengikuti Sasuke masuk ke dalam mobil yang serupa dengan mobil yang sudah hancur tadi, Lamborghini Reventon. Reventon ini baru saja dibeli, setidaknya itulah menurut indra penciuman Naruto mengenai aroma mobil baru yang khas itu. Selama perjalanan yang kurang lebih memakan tiga puluh menit itu, Naruto mengunci mulutnya sebelum Sasuke mengeluarkan kalimat kramat yang menurutnya menyebalkan. Jadi, apa salahnya jika sadar terlebih dahulu?
Lamborghini Reventon melesat dengan kecepatan tinggi melintasi jembatan besar dan panjang yang menghubungkan wilayah Konoha dengan Kiri, hingga pada akhirnya kecepatan mobil itu melambat dan menepi di bahu jalan tepat di tengah-tengah jembatan.
Melihat Sasuke turun dari mobil dengan membawa tas ransel sekolahnya tanpa mengeluarkan kata-kata, Naruto pun memutuskan untuk menyusul Sasuke yang sudah menghadap ke hamparan laut luas seraya menggantungkan kedua tangannya dipembatas jembatan.
"Sasuke, kau ingin melakukan apa lagi di sini? Menghancurkan mobilmu lagi?" ucap Naruto saat berada di sebelah Sasuke.
Uchiha Sasuke mengedarkan pandangan ke segala arah di depannya. "Bukan. Bukan untuk itu."
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Jadi?"
Dengan cekatan, Sasuke mengeluarkan seluruh perlengkapan yang ia pakai ketika di Konoha Memoriam of School—Macbook beserta AC/DC Adapter-nya dan kamera kecil buatannya yang sudah diambil kembali dari CCTV K-MOS—kemudian ia membuang semuanya tanpa terkecuali di depan mata Naruto.
"APA YANG KAULAKUKAN, SASUKE?" teriak Naruto histeris dibuatnya.
Kepala Sasuke tertoleh ke rekan di sebelahnya. "Membuang barang yang sudah tidak penting." Ia melipat kedua tangannya. "Berguna untuk penghapusan jejak."
Naruto memasang wajah yang disengajakan sesedih mungkin. "Tapi, tidak perlu seperti itu juga. Kau sudah membuang Macbook dan kamera hasil jerih payahmu sendiri, nanti apa lagi yang ingin kau buang? Samsung S4-mu, hah?"
"Ah, kau benar." Sasuke merogoh saku kanan celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. "Benda ini juga harus dibuang." Tanpa rasa segan, Sasuke melempar sejauh mungkin Samsung S4 miliknya itu ke arah laut setelah mengambil micro SD dari dalam 'mantan' handphone-nya tersebut.
Melihat hal yang singkat baginya itu, Naruto berteriak lebih histeris dari sebelumnya. "SASUKE! KAU TIDAK HARUS MELAKUKANNYA JUGA, 'KAN?" Baiklah, kini Naruto merasa menyesal ia sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak perlu diucapkan itu.
Sasuke berdecak kesal sambil memutarkan bola matanya. "Sudahlah, semua yang kubuang itu barangku, kenapa jadi kau yang histeris seperti itu?" Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket sekolahnya. "Lagipula, pada akhirnya kita tidak perlu bersekolah di sekolah K-MOS itu lagi, 'kan?"
Kalimat terakhir Sasuke membuat Naruto kembali menyunggingkan senyuman ceria, padangannya mengarah ke laut lepas. "Ya, pada akhirnya cerita ini selesai juga."
Sebelah alis Sasuke terangkat. "Selesai?" Sasuke mengoreksi perkataan Naruto, "Mungkin lebih tepatnya ini baru awal dari segalanya."
Kepala Naruto tertoleh ke sumber suara dengan cepat. "Hah? Kenapa?"
"Entahlah, perasaanku berkata seperti itu," jawab Sasuke sembari mengedikkan bahu.
Naruto berdecak beberapa kali. "Perkataanmu selalu sangat misterius, Sasuke," tukasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Kemudian Sasuke dan Naruto pun melangkah pergi menjauhi tempat mereka berpijak untuk bergegas masuk ke dalam mobil seraya berbincang kecil nan ringan seperti biasa.
"Oi, Teme. Lalu, bagaimana dengan beberapa nomor teman yang kau simpan di dalam handphone-mu itu?"
"Aku akan membeli handphone baru, lalu meminta nomor mereka lagi."
"Memangnya handphone pengganti seperti apa yang ingin kau beli nanti?"
"Yah, Note 3... mungkin."
.
~Crack or Hack?~
.
Bunyi ketikkan keyboard pada laptop terdengar hingga ke penjuru ruangan kamarnya. Gadis bersurai rambut merah muda tengah sibuk memainkan jarinya di atas papan tombol qwerty di hadapannya. Iris emerald-nya bergerak tanpa henti dengan diselingi kedipan sesekali, tampaknya ia sedang serius saat ini.
Ketika salah satu jarinya menekan sebuah tombol ENTER, muncullah sebuah gambar beserta keterangan-keterangan dalam bahasa Jepang di layar laptopnya. Sebuah senyuman yang sulit diartikan terpampang jelas di bibirnya yang tipis.
CRACKHACKERZ _ ACT PHASE I—THE END
~CrackHackerz~
Tsuzuku
To be Continued...
Hari Jumat | Jakarta, 18 Oktober 2013 | Pukul 17.55 WIB
Reply of Review:
DKrisan-chan: Apakah jawabanmu termasuk benar? Arti "no" di tengah nama lengkap Sasori itu memiliki fungsi sama seperti bahasa mandarin "de" yang mengacu pada kepemilikkan seseorang terhadap sesuatu. Thanks for your review!
Maruyama Harumi: Sudahkah kau menemukan jawabanmu di chap ini? Terima kasih kembali untukmu atas ucapan tahun barunya dan sepertinya kita sudah bertemu di tahun yang baru. Thanks for your review!
Scarlet24: Tak perlu minta maaf, aku juga memaklumi kesibukkan para pembaca, kok. Semoga pertanyaanmu sudah terjawab di chap ini, jika belum—yah, mungkin nanti. Mereka bersekolah di K-MOS selama seminggu—5 hari lamanya. Thanks for your review!
Miura-chan: Terima kasih atas pujiannya. Jika Sakura memang muncul kelamaan, tolong dimaklumkan karena setiap cerita menyuguhkan alur yang berbeda. Silakan nikmati alur cerita dariku. Thanks for your review!
Zecka S. B. Fujioka: Arti sesungguhnya "Akhir dari cerita ini" sepertinya sudah Moon-nee ketahui melalui chap 13 di atas. Entahlah, aku juga masih merasa ada kekurangan di fict ini, bisa jadi karena hal tersebut. Tapi, yang pasti aku sudah senang bisa masuk dalam 4 genre di IFA—adventure, alternate universe, crime-mystery, & suspense—dan masuk tahap polling di dua genre—crime-mytery dan suspense. Maksud dan tugas mereka yang sebenarnya akan Moon-nee ketahui di chap-chap berikutnya. Happy new year for you too! Thanks for your review!
Mautauaja: Kau baru saja me-review, tapi kau bisa langsung menjawabnya… hebat! Semua yang kau jawab—termasuk mengenai kedatangan Sakura, sesuai review-mu di chap sebelumnya, tepat. Thanks for your review!
CICA: Maaf jika kau menunggu update fict ini terlalu lama, terima kasih sudah mau mengerti kondisiku. Tentang Sasuke secara mendalam dan seluk-beluk klan Uchiha nanti kau juga akan tahu—tidak seru jika diceritakan langsung, bukan? Thanks for your review!
Icha: Hmm… Bukankah Sasuke memang selalu sok serius dan sok genius? Thanks for your review!
Eysha 'CherryBlossom: *laughing* Aku juga tahu, kok, kalau "Thor" itu kependekkan dari Author, yang kemarin aku hanya bercanda. Semoga kemunculan Sakura yang singkat dan bikin greget ini bisa membuka daya imajinasimu lebih dalam lagi. Maaf tidak bisa update kilat. Thanks for your review!
Zizy Hinamori: Salam kenal juga. Terima kasih atas pujiannya. Aku maklumkan kalau kau baru membaca(baca: menemukan) fict ini karena fict ini memang berasal dari genre minor plus ditulis dengan author yang tidak terkenal juga pula, tapi terima kasih sudah meyukai fict ini. Thanks for your review!
MerisChintya97: Apakah pertanyaanmu sudah terjawab di chap ini? Mengenai jadi apa Sakura dan apa itu sebenarnya Uchiha akan kau ketahui sedikit demi sedikit. Daripada membongkar otakku untuk mengetahui jawabannya, bagaimana kalau kau saja yang memainkan otakmu untuk mengkhayal lebih jauh lagi? Thanks for your review!
Hikari Ciel: Dapat pencerahan? Mencontek, 'kah? Sesuai jawabanmu, Sakura muncul walau hanya menyemoil di scene terakhir, semoga kau penasaran. Keterangan lanjut mengenai klan Uchiha akan kau ketahui sedikit demi sedikit. Thanks for your review!
Sofi asat: Terima kasih atas dukungannya selalu. Sakura sudah muncul walau hanya numpang akting sebentar. Semoga besok bisa mengetahui lebih lanjut. Thanks for your review!
Edelwish: Jawabanmu super sekali. Terperinci. Saat membaca jawabanmu, aku langsung berpikir, "Inilah jawaban yang kutunggu-tunggu." Thanks for your review!
Navic: Salam kenal juga. Maaf jika membaca fict-ku bisa membuatmu pusing sementara. Terima kasih atas sanjungannya, semoga saja misteri di fict ini terus "terahasiakan" *smirk*. Yah, bagi mereka mengendarai mobil sport mewah di umur segitu masih biasa. Thanks for your review!
Fany-san: Awalnya saat aku membaca jawabanmu itu membuatku berpikir kau akan mengetahuinya, tapi semakin lama aku membaca review-mu aku jadi semakin tertawa kencang. Sungguh, lucu sekali. Hingga sekarang aku tidak bisa berhenti tertawa jika melihat review-mu—maaf, bukan maksudnya merendahkanmu. At least, kau sudah tahu jawaban dari ketiga klu tersebut, 'kan? Thanks for your review!
Markucipzz: Halo, salam kenal juga. Terima kasih atas pujiannya, semoga tidak membosankan. Sebagian kecil pertanyaanmu mungkin sudah terbayar sekarang, untuk selebihnya sabar nunggu chap-chap berikutnya, ya. Tak apa, aku suka membaca pertanyaan dari para pembaca, kok. Thanks for your review!
Akira Takigawa: Tidak apa, aku maklumi. Sesuai pembuka fict sebelumnya, sepertinya jawabanmu kurang tepat. Aku suka membaca review panjang, kok, jadi tak apa. Thanks for your review!
Shaun: Seperti yang sudah kauketahui. Selamat, jawabanmu benar—walau alasan selanjutnya memang sama sekali tidak berhubungan. Untuk sampai chap berapa fict CHz ini aku sendiri juga belum mengetahuinya, mungkin ini akan menjadi petualangan yang panjang, teman. Senang berkenalan denganmu juga. Thanks for you review!
Uchiha Nenden: Sudah dilanjutkan, semoga kau sudah membacanya. Sesuai pertanyaanmu, Sakura muncul di chap ini—walau sekilas, diakhir pula. Thanks for your review!
Piyo piyo: Membalas review itu bagiku adalah sebuah kewajiban. Walau melelahkan, tapi haru dijalankan. Seperti yang kau ketahui, masih ada tulisan "tsuzuku", berarti fict ini masih akan berlanjut walau sudah mulai memasuki phase II. Dan, sekarang kau sudah menemukan jawaban dari ketiga klu tersebut—jawaban yang sangat mudah, bukan? Thanks for your review!
Ai chan: Hai, salam kenal juga. Terima kasih sudah berani me-review walau baru membacanya. Menyinggung apakah Sakura akan menjadi pro atau kontra terhadap Sasuke bisa kau ketahui di chap mendatang, sedangkan jadi apa Sakura… kau juga akan tahu nanti. Thanks for your review!
Poo: Terima kasih atas pujiannya, semoga kekerenan CHz akan selalu melekat di setiap alur ceritanya. Sakura sudah tersajikan—walau hanya sebentar, semoga kau tambah penasaran. Telah dilanjutkan. Thanks for your review!
Eunike Yuen—via SMS: Terima kasih sudah berniat menjawab dan kau pun telah mengetahui jawaban yang sebenarnya dari ketiga klu tersebut di chap ini sesuai perkataanmu. Thanks for your review!
Sorry for all misstypo, you're can tell me where they are.
So, I can correct it in another time I got.
"Do you want to know this story more deep?"
"I suggest you to wait and read this fict more ahead."
Signature,
Huicergo Montediesberg
