"If you DON'T LIKE, DON'T you READ, right?"

C.R.A.C.K.H.A.C.K.E.R.Z

NARUTO © Masashi Kishimoto

CrackHackerz © Huicergo Montediesberg
CHz Cover © Huicergo Montediesberg

CAUTION OF:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap,
and many more inside.

GENRES:
Crime, Action, Romance
, Thriller, Friendship

RATED:
Still T

COMMAND:
"ZIP YOUR MOUTH AND STAY FOCUS!"

.

"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"

.

[A]LPHA
"AFTER THAT"

CRACKHACKERZ—CHz ACT PHASE II

Seorang gadis berambut panjang berjalan menelusuri koridor sekolah Konoha School of Art, Science, and Public Relations yang sepi dengan tanpa ekspresi di wajahnya yang berkulit putih, suara ketukkan sepatunya terdengar hingga ke tiap ujung koridor yang dilewati. Kakinya berhenti melangkah ketika ruangan yang dicari olehnya berada di depan mata.

Library.

Ia menempelkan tangan kanannya tepat di atas layar touch screen yang memiliki gambar pola telapak tangan kanan di sisi kanan pintu perpustakaan. Ketika identitas nama dan kelasnya tertera pada layar, pintu perpustakaan yang terbuat dari besi itu pun terbuka ke kiri dan ke kanan dalam waktu yang bersamaan.

Baru saja ia masuk sebanyak empat langkah ke dalam ruangan, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menyapanya dari salah satu sudut ruangan tersebut.

"Haruno Sakura, sepertinya hari ini kau akan menginap di perpustakaan lagi, ya?"

Gadis berwarna rambut pink tersebut menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang memanggil nama lengkapnya.

Perempuan—yang ternyata bernama kecil Sakura—itu tersenyum santai. "Shiho-sensei," panggilnya terhadap seorang perempuan yang tampak lebih dewasa darinya seraya berjalan mendekat ke arah meja penerima tamu perpustakaan di sudut sebelah kanan.

Perempuan berkacamata lumayan tebal yang bernama Shiho tersebut bertopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja panjang yang mengitarinya sehingga ia berada di dalam bersama dengan sudut ruangan.

"Tampaknya belakangan ini kau sering berkunjung ke perpustakaan, memangnya apa yang kau cari dari buku-buku di perpustakaan ini?"

Haruno Sakura menjawab pertanyaan Shiho seraya menulis namanya sendiri di atas buku tamu yang sudah terbuka, "Kemarin aku datang ke sini hanya sekadar menambah pengetahuanku." Ia mengangkat kepalanya setelah acara tulis-menulisnya selesai. "Dan sekarang ada 'sesuatu' yang ingin kucari."

Shiho memasang raut wajah bertanya. "Sesuatu?" ucapnya mengulangi kata Sakura sebelumnya. "Maksud dari 'sesuatu' yang kau katakan itu apa?"

Sakura mengeluarkan senyuman kecilnya. "Rahasia."

Wanita berkacamata itu menghela napas pasrah. "Baiklah, jika kau sudah berkata seperti itu berarti itu sudah sangat rahasia, bukan?"

Haruno Sakura mengangguk singkat, merespon kalimat Shiho. "Kalau begitu, aku berkeliling dulu, ya," katanya seraya melambaikan sebuah tangan, tanda perpisahan.

"Ya, silakan, tapi ingat waktu," hardik Shiho mengingatkan.

Sakura berjalan santai memasuki sekat-sekat tiap rak buku yang ada setelah mengacungkan sebuah ibu jari kepada Shiho tanda mengerti akan peringatannya. Bermacam-macam buku disusun saling memunggungi satu sama lain sehingga judul buku dan nama pengarang yang tertera pada samping jilid cover terlihat dengan jelas. Buku-buku tersebut dikelompokkan menurut kategorinya masing-masing.

Beratus-ratus judul buku yang terlintas di depan matanya yang senada dengan batu emerald itu tidak ada yang sesuai dengan apa yang dibutuhkannya saat ini. Beberapa saat kemudian, dirinya terhenti di bagian rak 'koleksi'. Ia menyeret jari telunjuknya ke samping kanan sambil membaca judul-judul buku yang diawali oleh kata 'koleksi'. Setelah mendapat apa yang ia inginkan Haruno Sakura tersenyum senang dan tanpa segan-segan menarik buku itu keluar dari barisan dan berjalan menjauhi rak yang sempat disinggahinya beberapa saat yang lalu.

Haruno Sakura berjalan ke arah meja baca perpustakaan yang biasa di tempatinya. Derap langkah kakinya tidak terdengar karena seluruh lantai perpustakaan Konoha School of Art, Science, and Public Relations tertutupi oleh karpet tebal berwarna cokelat muda agar tidak mengganggu pengunjung yang lain.

Setelah sampai di tempat tujuannya, ia langsung mendudukkan dirinya di sana dan membuka buku yang dipilihnya itu halaman demi halaman. Dirinya berhenti menggerakkan tangannya ketika sesuatu yang dicarinya berada di depan mata. Dengan sigap, ia mengeluarkan Samsung Galaxy Note 3-nya yang berada di dalam saku rok sebelah kanan, lalu mengambil gambar dari beberapa halaman buku tersebut dengan kamera yang telah diatur agar tidak mengeluarkan suara dan sinar blitz yang berlebihan—mengingat ruang perpustakaan memiliki pencahayaan yang cukup.

Sebuah senyuman melintang di bibirnya yang manis seraya menutup bukunya dengan perasaan puas di hatinya. Akhirnya, ia menemukannya tanpa membuang banyak waktu seperti sebelumnya.

"Sakura, sudah kuduga kau berada di sini."

Sebuah bisikkan yang menggelitik daun telinganya membuat Sakura melonjak karena terkejut. "Yamanaka Ino, harus kubilang berapa kali sampai kau mengerti?" geram Sakura tertahan mengingat di mana dirinya berada sekarang. Alisnya tampak saling bertaut satu sama lain.

Gadis berambut pirang panjang yang diikat kuda itu menegakkan badannya yang terbungkuk untuk menjahili teman sekelasnya. "Tentu aku mengerti, tapi kalau tidak membuatmu hingga terkejut itu rasanya aneh."

Sakura memutar bola matanya bosan. "Yeah, whatever." Lalu, ia membuang wajahnya ke layar handphone-nya.

Yamanaka Ino tersenyum kemenangan. Matanya kemudian beralih pandang dari Sakura menuju buku yang berada di atas meja. Tanpa basa-basi dan izin terlebih dahulu, ia membuka lembar demi lembar halaman buku itu. Berhubung ia tidak tertarik dengan segala hal yang berbau pengetahuan umum dan alam, ia pun berinisiatif untuk menutup buku tersebut hingga pada akhirnya ia mengurung niatnya karena suatu hal.

"Sakura, lihat, benda ini akan kupakai saat pementasan drama berikutnya yang pernah kuceritakan padamu beberapa hari yang lalu."

Dengan enggan, Sakura melirikkan matanya ke arah yang ditunjuk oleh Ino. Seketika matanya terpaku melihat kenyataan yang ada.

Tanpa membutuhkan respon Sakura, Ino melanjutkan celotehannya setelah menghela napas kagum, "Tak kusangka aku akan memakai 'benda' indah seperti ini nanti." Ino menengadahkan kepalanya ke arah Sakura. "Menurutmu bagaimana?"

Melihat Sakura diam terpaku seperti itu membuat Ino tidak tinggal diam. "Hei, Haruno Sakura... Kau kenapa? Ayo, jawab pertanyaanku," katanya santai dengan setengah berbisik agar tidak terdengar kencang seraya mengguncang badan Sakura yang kurus.

Sakura mendengus meremehkan setelah keluar dari segala pemikirannya. "Yah, itu sangat indah. Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya secara langsung."

Mata Ino terlihat berbinar. "Jadi, kau akan menonton teater dramaku secara langsung?" tanya Ino penuh harap.

"Tidak. Aku akan menontonnya dari hasil rekamanmu nanti. Seperti biasa."

Ino memasang raut wajah bingung. "Kenapa? Kau tidak pernah mau menonton teater dramaku secara langsung, memangnya kau ada dendam apa denganku?"

Sakura mendengus frustasi berusaha meyakinkan. "Untuk kali ini, aku benar-benar tidak bisa karena ada urusan penting yang harus kulakukan nanti."

Wajah Ino memberengut kesal. "Menyebalkan." Tiba-tiba ia teringat akan berita yang beredar dan baru didengarnya sebelum ia masuk ke dalam perpustakaan. "Sakura, kau tahu? Pemuda super heboh dari klan Uzumaki dan pemuda bergaris darah khusus klan misterius Uchiha sudah kembali bersekolah hari ini."

Salah satu alis Sakura terangkat. "Lalu? Apa hubungannya denganku? Mereka ingin keluar-masuk dari sekolah ini pun terserah mereka." Sakura melipat kedua tangannya di depan dada. "Begitu pula denganku bagi mereka."

Mulut Ino bergumam merutuki Sakura yang memang dari dasarnya sudah keras kepala dan seenaknya itu dengan cepat. "Kau ini... Diberi kabar salah, tidak diberi kabar salah. Kau maunya apa?"

"Untuk segala macam issue atau gosip yang kau beritahukan padaku itu akan selalu kuanggap salah." Sakura bangkit berdiri dari kursi dan mengambil buku yang terletak tak berdaya di atas mejanya setelah memasukkan Note 3 ke dalam saku rok kanannya. "Yang terpenting, ada yang harus kupersiapkan mulai hari ini." Dan ini berhubungan denganmu, lanjut Sakura dalam hati.

"Sakura, kau mau ke mana lagi? Aku baru saja menemukanmu," celetuk Ino sembari mengikuti Sakura yang sudah berjalan meninggalkannnya.

.

~Crack or Hack?~

.

Seorang pria setengah baya tengah bersantai di kursi kedudukkannya seraya membaca beberapa berkas di tangannya yang terbilang besar. Sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela kaca yang teramat besar di belakangnya menjadi penerangan alami bagi ruangan kekuasaannya. Ruang Kepala Yayasan Konoha School of Art, Science, and Public Relations.

Seusai membacanya, pria tersebut mengambil sebuah pen yang sudah tersedia di sebelah kanan dan membubuhkan tanda tangannya di bagian kanan bawah kertas putih yang sudah dihiasi oleh rentetan huruf yang diketik rapi. Tepat setelah ia menutup berkas yang baru saja ditandatanganinya, suara ketukkan pintu yang terdengar agak keras membuatnya sedikit terkesiap.

"Masuk!" ujarnya setelah merutuki si pengetuk pintu.

"Jiraiya-sensei, aku kangen sekali!"

Melihat pemuda yang sudah tidak asing lagi di matanya, pria yang bernama kecil Jiraiya itu merubah mimik mukanya yang serius menjadi bahagia. "Naruto! Sudah lama kita tidak bertemu!"

Pemuda berambut jabrik kuning itu pun berlari memasuki ruangan dengan mengabaikan pintu yang terbuka menuju ke balik meja kerja Jiraiya, lalu mereka pun berpelukkan—melepas kangen yang terjadi di antara mereka. Jiraiya memang sudah menganggap Naruto sebagai cucunya sendiri, begitu juga sebaliknya.

"Bisakah kalian berhenti berpelukkan dengan berlebihan seperti itu? Seperti anak kecil saja."

Suara baritone yang mengomentari aksi-reaksi mereka berdua membuat Naruto melepaskan pelukannya dari Jiraiya. Pemilik suara itu tampak sedang menutup pintu yang tadi dibiarkan terbuka oleh si pengunjung pertama.

"Sasuke, semua ini karena kau yang seenaknya memisahkan kami, jadi kau harus tanggung jawab," celetuk Naruto asal.

Uchiha Sasuke menyipitkan matanya. "Berhenti berbicara menjijikkan seperti itu."

Tawa Jiraiya menggema hingga ke sudut ruangan. "Kalian ini tidak berubah sejak terakhir kita bertatapan wajah satu sama lain."

Uzumaki Naruto mengedikkan bahunya. "Apa yang bisa berubah dari kami selama satu minggu satu hari? Apalagi aku selalu bersamanya." Kepala Naruto tergerak sedikit ke arah Sasuke.

Pemuda keturunan Uchiha yang merasa disinggung seperti itu kini sudah mulai naik pitam. "Naruto, kau…"

"Sudahlah, kalian ini," lerai Jiraiya. Kedua tangannya ia biarkan terkulai lemas di atas meja kerja. "Jadi, apa yang terjadi saat kalian bersekolah di sana?"

Naruto yang sedari tadi berada di samping Jiraiya mulai melangkahkan kakinya menjauhi Jiraiya. "Banyak yang terjadi selama seminggu belakangan ini. Awalnya seperti ini, kemudian berakhir seperti itu," jawab Naruto yang kini berada tepat di sebelah Sasuke dengan menggunakan bahasa ambigu khas keturunan Uchiha tersebut.

Jiraiya mengerutkan keningnya. "Adakah salah satu di antara kalian yang ingin menceritakannya padaku?"

Dengan seenaknya, Naruto menunjuk Sasuke yang berada di sebelahnya dengan menggunakan ibu jarinya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang putihnya.

Kini pandangan Jiraiya mengarah sepenuhnya ke arah Sasuke yang tetap terlihat stay cool di tempat. "Jadi…"

"Kau mengirimkan sebuah surat yang tidak seharusnya kau beritahu ke si Tsunade itu," cela Sasuke to the point. "Mengapa kau melakukan itu?"

Pria berambut putih itu menghela napas pelan. Sudah ia duga Sasuke akan bertanya seperti itu. "Aku terpaksa melakukannya karena…" Jiraiya merubah tatapan seriusnya menjadi tatapan memelas, "karena aku merasa kasihan kepadanya yang tidak bisa menyelesaikan kasus itu sendirian, Sasuke-sama! Jadi, aku sengaja memberitahukan identitas aslimu dan menyuruhnya menceritakan kasus itu sambil berharap kau akan membantunya."

Baiklah, sekarang tatapan Sasuke berubah menjadi lebih tajam dari biasanya. "Apakah kau sudah bosan duduk di kursi itu?"

Perkataan Sasuke membuat Jiraiya menambahkan raut wajah memelas di wajahnya. Sungguh seorang kakek yang malang.

Sasuke memutar bola matanya sambil menghela napas kencang. "Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula, kasus itu sudah selesai," kemudian Sasuke melanjutkan, "dan jangan sesekali memanggilku dengan imbuhan –sama lagi, suaramu itu terdengar menggelikan di telingaku."

Pancaran binar dari mata Jiraiya mengekspresikan perasaan leganya saat ini. "Sungguh? Kau sudah membereskannya? Aku berhutang padamu, Uchiha kecil!"

Sasuke berdecak kesal. "Sudah kubilang, jangan—"

"Kau hanya melarangku memanggilmu dengan imbuhan –sama, Uchiha kecil."

Sasuke mendecih kesal karena kalah berdebat.

Naruto yang mendengar percakapan mereka dari awal hingga akhir mengeluarkan suara tawa khasnya karena melihat Sasuke kalah telak. "Sasuke, baru kali ini kulihat kau kalah dalam hal berdebat!"

Mata onyx-nya melirik Naruto tajam. "Diam kau, Dobe."

"OK, Teme!" Lalu, Naruto pun mengunci mulutnya.

Berhubung percakapan di antara Naruto dan Sasuke telah usai, Jiraiya melanjutkan percakapannya dengan Sasuke. "Jadi, apa yang kau inginkan sebagai bayarannya, Sasuke?"

"Aku tidak menginginkan sesuatu yang rumit." Sasuke mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna cokelat dari balik jasnya. "Aku hanya ingin kau menerima ini." Ia melempar amplop cokelat itu secara akurat sehingga mendarat tepat di atas meja Jiraiya yang notabene lebih tinggi dari tempat Sasuke dan Naruto berdiri.

Jemari tangan Jiraiya mengambil amplop tersebut dan memerhatikannya secara seksama. "Hanya ini?"

"Hn." Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada. "Simpel, bukan?"

Puas memerhatikan apa yang diterima, Jiraiya kembali bertanya dengan malu-malu, "Apakah kau sudah memberikannya?"

Sebelah alis Sasuke terangkat. "Memberikan?" Tiba-tiba Sasuke teringat akan suatu hal. "Aa… Maksudmu surat itu? Tenang saja, sudah kuberikan."

Mata Jiraiya memancarkan cahaya penuh harapan. "Benarkah? Lalu, apa jawaban darinya?"

Kedua alis Sasuke saling bertautan. "Hah? Kau hanya menyuruhku untuk memberikannya, bukan untuk menerima jawaban apa darinya, bukan?"

"Tapi," ucap Jiraiya mencoba untuk menyangkal.

"Jika kau ingin mengetahui apa jawaban darinya, silakan cari tahu sendiri. Aku permisi." Sasuke berjalan menuju pintu yang baru saja ia gunakan untuk masuk ke ruangan ini.

"Sasuke."

Suara Jiraiya yang memanggil nama kecilnya sukses menghentikan langkahnya yang nyaris berbelok—menghilang di balik sekat dinding. Sasuke menolehkan kepalanya.

"Ayahmu menitip pesan padaku bahwa ia ingin berbicara denganmu setelah kau pulang sekolah nanti," lanjut Jiraiya saat merasa Sasuke sedang menyimak baik-baik apa yang ia katakan.

Sasuke merespon perkataan Jiraiya datar, "Oh." Kemudian, ia kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti dan benar-benar menghilang dari pandangan sang Kepala Yayasan Konoha School of Art, Science, and Public Relations.

"Oi, Sasuke! Tunggu aku!" Naruto pun berlari kecil menyusul Sasuke yang sudah menghilang dari ruangan. Sebelum ia menutup pintu ruang kepala yayasan tersebut, dirinya menyempatkan untuk berkata suatu hal, "Jangan lupa untuk menerima dengan lapang dada isi dari amplop itu, ya, Kek! Bye!"

Seketika suara pintu tertutup pun terdengar. Membuat ruangan yang tadinya terdengar ramai menjadi sepi kembali. Rasa penasaran pun membuat Jiraiya langsung membuka amplop itu tanpa pikir panjang. Ia membuka lilitan tali yang sengaja dililitkan di sekitar pengait, lalu mengeluarkan satu persatu isi amplop tersebut.

Pertama, yang berhasil didapat oleh tangannya adalah selembar surat keterangan yang menyatakan bahwa terdapat tiga murid pindahan yang terdaftar di sekolah ini dan di akhir penjelasan terdapat sebuah stamp berbentuk kipas. Tampaknya klan Uchiha pun sudah mengesahkan murid pindahan ini.

Dan yang ke dua, Jiraiya mengambil secarcik kertas kecil yang terdapat tulisan tangan Uchiha Sasuke di atas sana.

Masukkan data flashdisk ke dokumen sekolah.

Dengan taatnya, pria setengah baya itu mengambil sebuah flashdisk yang berada di dalam amplop cokelat tersebut dan memasukkan flashdisk itu ke dalam slot yang tersedia. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, tiga buah window baru muncul di layar laptop pusat sekolah yang berada di hadapannya.

Terdapat tiga murid pindahan baru di sekolah ini: Inuzuka Kiba, Yakushi Kabuto, dan Akasuna no Sasori. Ketiga murid baru ini berasal dari sekolah yang sama—Konoha Memoriam of School. Tulisan yang lain berisi keterangan identitas pribadi mereka.

Melihat ini semua, Jiraiya hanya dapat mendengus sembari tersenyum.

"Dasar anak ini."

.

~Crack or Hack?~

.

Home sweet home.

Itulah yang dirasakan oleh seorang Uchiha Sasuke saat berada di rumah—lebih spesifikan di dalam kamarnya. Jujur saja, walau Naruto adalah sahabat dekatnya, tapi tetap saja ia tidak bisa tidur dengan tenang jika tidak berada di dalam kamarnya sendiri. Bagi Sasuke pribadi, kamar adalah surga dunianya. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya.

Dalam hitungan sedetik, Sasuke mengempaskan badannya ke atas kasur yang nyaman baginya untuk ditiduri. Perasaan segar setelah mandi itu memang menyenangkan. Belakangan ini ia merasa kalau ia baru saja tersesat di dalam hutan selama seminggu lamanya. Benar-benar penat.

Matanya terpejam untuk mengistirahatkan sebentar otaknya yang sudah ia pakai melebihi batas. Di antara ingatannya mengenai kejadian hari ini, pesan Jiraiya saat terakhir bertemu dengannya tiba-tiba terngiang di pikirannya. Selang beberapa waktu, handphone yang berada tepat di sebelah kepalanya pun bergetar. Ia melihat sekilas siapakah gerangan yang menelponnya hari ini. Ayahnya—Uchiha Fugaku.

Baiklah, waktunya laporan.

Dengan sigap, Sasuke pun bangkit dari posisi tidurannya dan bergegas menduduki sofa yang terletak tidak begitu jauh dari tempat tidurnya. Tangan kanannya mengambil sebuah remote yang berada di atas meja di hadapannya, menyalakannya, dan melakukan sesuatu dengan menekan beberapa tombol di remote itu hingga wajah sang ayah tercinta muncul di layar kaca Samsung SmartTV-nya.

"Hai, Ayah. Lama tak jumpa," sapa Sasuke terlebih dahulu sebagai basa-basi.

Wajah sang ayah yang selalu terlihat serius memandang Sasuke seolah sedang menginterogasinya. "Mengapa kau lama sekali menyalakan televisimu? Apa ayah harus menelponmu terlebih dahulu sebagai tanda?"

"Maaf, Ayah, tadi aku baru saja selesai mandi." Sasuke berbohong. Memang ia baru saja mandi, tapi ia menyempatkan diri untuk tiduran sebentar, bukan?

Uchiha Fugaku yang memerhatikan rambut Sasuke yang setengah basah pun percaya begitu saja akan ucapan anak bungsunya. "Jadi, kau sudah mendapatkan apa yang harus kau ambil dari Konoha Memoriam of School?" lanjut sang ayah merubah topik pembicaraan.

"Sudah." Sasuke mengangkat sebuah flashdisk yang berasal dari atas meja. "Ada di sini." Melihat sang ayah terus berdiam diri, Sasuke melanjutkan perkataannya—menjelaskan, "Aku telah memfotonya dan kubuat ulang data tersebut, maka jadilah."

Fugaku menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Masuk akal. "Kalau begitu, kirimkan pada Ayah nanti."

"Hn."

"Apakah kau ketahuan?"

Pemuda keturunan terakhir Uchiha itu tampak berpikir sejenak. "Tidak." Lebih tepatnya nyaris, lanjutnya dalam hati.

"Sasuke," panggil Fugaku, mata Sasuke yang tengah fokus ke arah lain kini kembali bertemu pandang dengan mata sang ayah yang berwarna sama, "ada perintah baru untukmu."

Uchiha Sasuke mempersiapkan telinganya. Tugas baru, pemikiran baru, dan rasa lelah yang baru. "Apa?"

"Ayah memerintahkanmu untuk 'mencuri' sebuah permata bernama The Dead Justice yang berada di sebuah museum." Baiklah, nama museum itu adalah sebuah tanda tanya bagi Sasuke karena sepertinya Uchiha Fugaku tidak berniat memberitahukannya. "Dan, ayah menyuruhmu melakukan itu hanya untuk suatu alasan."

"Menguji ketangkasanku?" jawab Sasuke asal yang berupa kalimat tanya.

"Bukan, tapi untuk memastikan apakah penjagaan di museum tersebut sudah ketat atau belum." Fugaku menghela napas. "Kau tahu, Anakku? Belakangan ini aku menerima kabar bahwa penjagaan di museum itu mulai goyah. Maka dari itu, beberapa jam yang lalu ayah memerintahkan koordinat pusat melalui bawahan ayah untuk lebih memperketat pengawasan di gedung museum itu. Terlebih pada permata The Dead Justice."

Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi intinya, Ayah memerintahkanku mencuri benda tersebut hanya untuk memastikan apakah perintah Ayah kepada mereka telah ditaati atau tidak, benar?"

Uchiha Fugaku tampak menganggukkan kepalanya.

Di saat Sasuke sedang berpikir apa yang akan ia lakukan nanti, sebuah ide pun terlintas di benaknya. Ia berdeham. "Aku mau melakukan apa yang Ayah suruh kali ini, tapi dengan satu syarat."

Sudah ia duga bahwa anaknya yang satu ini suatu saat akan berpikiran seperti itu. "Baiklah, apa yang kau inginkan."

Salah satu sudut Sasuke tertarik ke atas. "Mudah saja. Aku hanya ingin diberi sedikit kebebasan—terutama dalam menggunakan nama klan kita, Uchiha."

Fugaku mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"

Sasuke mengedikkan bahunya jujur. "Tidak ada. Bukankah sudah kubilang, Ayah? Aku hanya ingin diberi sedikit kebebasan. Hanya itu, tidak lebih."

Ayah dari Sasuke yang berada di layar televisi tampak sedang mempertimbangkan apa yang diinginkan anaknya yang paling kecil itu sambil mengetukan beberapa kali telunjuk kanannya di atas meja kerja di depannya. Merasa sudah memutuskan hal yang terbaik, Fugaku pun memberitahukan keputusannya, "Baiklah, Sasuke, terserah apa yang akan kau lakukan dengan sedikit kebebasan yang kau dapatkan," Fugaku berhenti sejenak untuk berpikir, "yang pasti, laporkan padaku hasilnya nanti."

Sasuke yang sedari tadi duduk menyandar kini merubah posisi duduknya menjadi condong ke depan. "Apakah itu berarti Ayah setuju dengan syarat yang kuajukkan?"

Fugaku terlihat mengangkat kedua bahunya. "Menurutmu?"

Sebuah seringaian terlintas di bibirnya yang dingin, sungguh bahagianya Uchiha Sasuke sekarang ini. Sasuke tertawa singkat. "Aku tahu kalau aku memiliki ayah yang paling baik sedunia," puji Sasuke spontan.

Fugaku tersenyum kecil. "Tidak perlu berkata seperti itu."

"Apakah itu artinya kita deal?" tanya Sasuke kembali untuk memastikan.

Uchiha Fugaku melihat iris hitam kelam anak bungsunya dalam-dalam. "As you wish, son. Deal."

Sambungan komunikasi face to face di antara mereka terputus seketika. Yah… seperti biasa, ayahnya memang selalu bicara to the point jika tidak bertatapan langsung dengan lawan bicaranya dan juga memutuskan hubungan terlebih dahulu tanpa kata 'sampai jumpa', 'see you', atau 'bye-bye' terlebih dahulu. Itu semua sudah sangat khas dengan ayahnya.

Uchiha Sasuke yang sudah tidak heran lagi melihat komunikasi di antara mereka terputus pun hanya bisa mendengus menahan tawa seraya menundukkan wajahnya.

"Dasar ayah."

Uchiha Sasuke bangkit berdiri dari sofa-nya yang nyaman dan langsung bergegas menuju ke lantai bawah di mana ibunya telah menunggunya untuk makan malam bersama setelah menggantung handuknya kembali ke tempatnya.

~CrackHackerz~

Tsuzuku

To be Continued...

Hari Kamis | Jakarta, 5 Desember 2013 | Pukul 17.34


Reply of Review:

Titan-miauw: Dia lebih memilih menghancurkan mobilnya daripada dikasih, soalnya aku sudah pernah minta *liar*. Thanks for your review!

Hikari Ciel: Aku hanya memasukkan Neji ke dalam sel karena ada suatu plot yang kurencanakan dan Sasuke membuang seluruh barang elektroniknya hanya untuk menghapus jejak. Menurutmu dari scene Saku di atas dia jadi apa, ya? Thanks for your review!

Edelwish: Sudah update. Thanks for your review!

Yu: Kemampuan Saku masih dirahasiakan, silakan ikuti saja alurnya. Seluruh anggota CHz akan muncul di chapter depan, sedangkan tujuan utamanya… lihat saja nanti. Sudah di-update, terima kasih atas dukunyannya. Thanks for your review!

Hitsuka ikabara: Aku mengeluarkan Sakura terakhir agar terlihat lebih misterius saja. Maaf tak bisa update cepat. Thanks for your review!

Lyn kuromuno: Aku selalu melanjutkan fict ini, kok, dan maafkan atas kelakuan Sasu yang sok buang barang, ya… Dia memang seperti itu. Thanks for your review!

MerisChintya97: Apakah Sakura juga termasuk "hacker"? Maaf karena—dan sepertinya tidak akan bisa—update kilat. Thanks for your review!

Eysha 'CherryBlossom: Gregetannya jangan sampai gigit jari, nanti kalau jarimu habis bagaimana? Apakah klan Uchiha setaraf dengan keluarga kerajaan atau tidak, bisa kau ketahui seiring perkembangan cerita. Jika ingin barangnya mintalah ke Sasuke, tapi sepertinya sudah telat. Thanks for your review!

Maruyama Harumi: Omedetou karena jawabanmu benar dan kau sudah mengikuti "case"-ku saja sudah merupakan penghargaan bagiku. Thanks for your review!

Cica: Ternyata tidak ada yang sedemikian sibuknya dari RL, ya. Berhubung tidak akan enak lagi jika dikasih tahu alurnya, jadi ikuti saja perkembangan ceritanya, ya. Dan doakan saja semoga aku selalu semangat dan banyak memiliki ide dalam mengetik kelanjutan fict ini. Thanks for your review!

Fany-san: Sebenarnya otakmu tidak lemot, hanya saja kau kurang menangkap seluruh "clue" yang ada. Seperti biasa, maaf tidak bisa update kilat. Thanks for your review!

Akira Takigawa: Tak apa telat review, aku juga sering telat update. Walau kau merasa belum layak mengoreksi, tapi kau masih bisa memberi masukkan dan komentar serta saran. Terima kasih atas proud-nya, review-mu masih tidak termasuk panjang, kok. Thanks for your review!

Aguma: Thanks for your prise. I'll always try to meintain what my story has. Thanks for your review and "like"!

Marchioness Scarlet: You'll know if Sakura part of CHz or not in another later chapter. May this story makes you feel interested. I allow you to fav and follow CHz. Thanks for your review!

o.O rambu no baka: Silakan dibaca dan maaf menunggu lama. Thanks for your review!

Sofi asat: Ya, dan pada akhirnya Sakura pun kulepaskan setelah menguasai apa yang akan dia perankan di sini. Silakan menunggu aksinya. Thanks for your review!

Shaun: Kau kuberi penghargaan—dengan dituliskan namamu—karena berhasil menebak klu yang ada. Menurutmu dia sedang membuka apa? Thanks for your review!

Mautauaja: Tak perlu berterima kasih karena kau juga sudah berhasil menjawab, bukan? Karakteri Sakura akan diketahui di Chz Act Phase II ini, kok. Thanks for your review!

Tsurugi De Lelouch: Terima kasih atas sanjungannya, sebenarnya aku juga tidak selalu melahirkan cerita yang menarik, kok, karena ideku ini bisa dibilang angin-anginan. Sakura disempilkan sedikit di akhir chap 13 agar tidak kalah misterius dari Sasuke. Thanks for your review!

Zecka S. B. Fujioka: Hmm… Mungkin chap 13 terkesan biasa karena Sasuke sedang ingin santai dan damai, jadinya tertular di suasana alur ceritanya. Lagi pula, aku juga tidak merasa ketegangan apa pun saat film chap 13 memutar di otakku. Terima kasih atas masukkannya dan kuusahakan aku tidak berhenti berkarya. Thanks for your review!

Zizy Hinamori: Silakan menikmati kedatangan Sakura di CHz Act phase II ini. Mengenai Sakura hacker atau bukan kau akan tahu nanti seiring jalan cerita. Thanks for your review!

Piyo piyo: Sakura kusempilkan sedikit di chap 13 agar tidak kalah misterius dari Sasuke. Bukti-bukti yang dibacakan polisi itu sengaja tidak dibeberkan untuk kepentingan Author terhadap plot dan bukti tersebut memang yang dibuat Naruto. Terima kasih atas masukkannya dan maaf tiak bisa update secepat yang kau mau. Thanks for your review!

Markucipzz: Syukurlah pada akhirnya Sakura bisa membuat gregetan semua pembaca. Ending Act Phase I terasa membosankan mungkin karena kesantaian dan kedamainan yang dipilih Sasuke menular hingga ke seluruh ending cerita. Aku tidak tersinggung, terima kasih atas masukkannya. Thanks for your review!

Hydrilla: Update-ku tidak termasuk cepat, lho. Mungkin terasa cepat karena kau selalu menemukan fict ini ketika chap baru akan ku-update. Perincian kasus Neji sengaja disembunyikan demi kepentingan plot dan kertas bukti yang dipegang polisi adalah hasil buatan Naruto, ingat? Menyinggung karakter Sakura, silakan nikmati CHz Act Phase II ini. Mungkin bagi Sasuke Reventon lebih cool daripada Aventador. Thanks for your review!

Eunike Yuen—via SMS: Apakah dari cerita di atas Saku sudah kenal lama dengan Sasu? Terima kasih atas koreksian "sirine"-nya, kurasa tangan dan otakku tergelincir saat mengetiknya. Mungkin karena dia terlalu "mampu"-lah makanya ia membuang barang seenak dirinya. Thanks for your review!

Karikazuka: Hai, apa tidak diomeli guru membuka handphone saat kelas berlangsung? Penghujung hari H yang kau maksud ujian, kah? Memangnya kau tidak bisa berkarya selama ini? Ya, klu itu kata baku dari klu karena bagiku menuliskan klu lebih singkat. Tak kusangka kau masih ingat cara menghitung angka dalam bahasa mandarin… Thanks for your review!

Harulisnachan: Kalau begitu, terima kasih banyak dari lubuk hatiku yang paling dalam karena sudah suka dengan fict ini. Terima kasih atas support-nya. Thanks for your review!

Milliechan93: Terima kasih atas pujiannya. Aku tidak membagikan nomorku secara cuma-cuma, kok. Jika kau ingin, silakan PM. Dan untuk me-review melalui SMS itu aku maklumkan karena berhubungan dengan si pereview tidak bisa memberikan suara di kotak review, tapi suaranya akan kumasukkan ke dalam kotak review berhubung. Thanks for your review!

Ai-chan: Sudah dilanjutkan dan maaf update telat karena Author sedang masa sibuk-sibuknya. Thanks for your review!

Kikyu RKY: Semoga CHz selalu membuatmu gregetan. Jika kau ingin tahu, aku ini "makhluk lingkar panah". Jika ingin tahu selengkapnya, kau bisa mengirimiku PM. Thanks for your review!

Felicita-chan: Review-mu kugabung. Apakah rasa penasaranmu tentang Sakura di sini sudah hilang? Thanks for your review!

Blupii: Halo juga. Jika jadwal ujianmu semakin dekat, maka jadwal ujianku sudah semakin lebih dekat. Karena itulah Author sedang belajar menabung pelajaran, jadi fict-nya agak terbengkalai. Menyinggung Sakura jadi antagonis atau bukan, kau juga akan tahu nanti. Sukses juga untuk UN-mu. Thanks for your review!

A/N: Tak kusangka CHz sudah memasuki Act Phase II! Aku senang karena semakin lama cerita ini semakin menyelam lebih dalam menuju dasar. Ditambah karakter-karakter baru yang mulai ikut meramaikan fict ini. Semoga Act Phase II ini lebih berjaya dari Act Phase I *applause*. Maaf atas keterlambatan update dan terima kasih sudah memaklumkannya.

Sorry for Mr. & Mrs. Typo…
…'cos they dunno where they are.
"Sakura already appear now."
"What does she like?"

Signature,

Huicergo Montediesberg