"If you DON'T LIKE, DON'T you READ, right?"

C.R.A.C.K.H.A.C.K.E.R.Z

NARUTO © Masashi Kishimoto

CrackHackerz © Huicergo Montediesberg®
CHz Cover © Huicergo Montediesberg®

CAUTION OF:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap,
and many more inside.

GENRES:
Crime, Action, Romance
, Thriller, Friendship

RATED:
Still T

COMMAND:
"ZIP YOUR MOUTH AND STAY FOCUS!"

.

"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"

.

[B]RAVO
"THE LITTLE THINGS ABOUT UCHIHA"

"Hei, Sasuke, jika kau sudah kembali ke sekolah kemarin, kenapa kau tidak ke kelas, hah?"

Suara seorang pemuda yang menyebut nama kecil keturunan terakhir Uchiha itu menggema hingga ke seluruh ruang kelas yang bisa dibilang luas bagi anggota kelas itu sendiri. Pemuda tersebut mengikat satu rambut sebahunya ke belakang sehingga terlihat seperti nanas.

Terlihatlah Uchiha Sasuke yang baru saja membuka pintu untuk menjejaki ruang kelas yang sudah seminggu tidak dihuninya ini dengan wajah stoic andalannya. Tidak lupa dengan Uzumaki Naruto yang mengikutinya di balik punggung. Ini adalah hari kedua setelah mereka bertemu Jiraiya kemarin hari.

"Halo, kawan-kawanku semua! Lama kita tak berjumpa!" seru Naruto riang seraya berlari menghampiri sahabat-sahabat lainnya yang sedang berkumpul di meja barisan paling depan.

"Hn, aku sedang malas kemarin," jawab Sasuke sangat jujur. Langkah kakinya terhenti ketika ia sudah sampai di tengah depan kelas, kemudian ia mendudukkan dirinya di atas meja guru yang terlihat seperti mimbar itu. Kebiasaannya sejak dulu. Matanya memandang ke segala sudut, mengabaikan teman-temannya yang kembali berbisik.

Ruang kelas ini berukuran sangat luas karena di ruang kelas ini hanya terdapat enam murid tetap—termasuk Sasuke dan Naruto—dan didesain semakin meninggi ke belakang layaknya sebuah theatre. Meja kelas tersebut membentang dari kiri ke kanan, menyisakan beberapa ruang di sisi kiri dan kanan yang beralaskan bidang miring untuk akses keluar-masuk murid agar sampai di mejanya. Tempat duduk yang diduduki murid memakai sebuah kursi satuan yang dibuat senyaman sofa.

Seluruh lantai kelas ini ditutupi oleh karpet tebal berwana coklat tua—tak lupa juga dindingnya yang juga dilapisi oleh beludru lembut berwarna cokelat terang dan bermotif unik guna membantu meredam suara dari kelas yang memang kedap suara itu. Pencahayaan kelas menggunakan lampu kuning yang berjumlah banyak sehingga terang yang dihasilkan tidak kalah dengan lampu putih biasa—menembah kesan keeleganitas ruang kelas tersebut.

Untuk peralatan belajar mengajar, kelas ini dilengkapi dengan proyektor HD yang terpasang di langit-langit kelas berwarna krem yang siap menyorot sebuah layar berukuran besar dimana tinggi dan panjangnya hampir menutupi dinding depan kelas. Selain itu, ada pula beberapa speaker yang tergantung di atas sisi kiri-kanan kelas ber-sound system Dolby Digital sebagai alternatif pelajaran bahasa bermateri listening.

Inilah kelas ternyaman yang dirindukan oleh seorang Uchiha Sasuke. Kelas yang dikenal dengan nama "VVIP" di Konoha School of Art, Science, and Public Relations.

Ia tersadar dari lautan rindunya ketika nada dering smartphone milik Uchiha bungsu itu mampu membuat hening kelas dalam hitungan detik yang tadinya gaduh oleh suara obrolan temu-kangen sahabat-sahabatnya.

"Siapa itu, Sasuke?" tanya seorang pemuda berambut warna merah dengan suara baritone.

Tangan kanan Sasuke merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan Sony Xperia Z3 yang baru saja dibelinya untuk menggantikan Galaxy S4 yang telah dibuangnya dulu. Matanya yang kelam membaca satu pesan yang masuk dengan seksama.

Salah satu sahabat yang berparas seperti wajah Uchiha Sasuke itu mengangkat sebelah alisnya heran melihat ada perubahan dari apa yang telah digenggam oleh Sasuke. "Mengapa kau mengganti handphone-mu? Apa yang terjadi?"

"Apakah itu berarti kau mengganti nomormu juga, Sasuke?" timpal seorang pemuda lainnya yang memakai kacamata hitam. Rambut jabrik hitamnya tertutupi hoodie jaket yang sengaja dikenakannya.

Ibu jari Sasuke bergerak untuk menekan tombol kunci di salah satu sisi handphone-nya dan memasukkan kembali benda tersebut ke tempat asalnya. "Kawan-kawanku yang tercinta, mulai hari ini kita kedatangan beberapa sahabat baru."

"Selalu saja pertanyaan kami diabaikan," gumam pemuda yang memakai hoodie tersebut.

Sasuke mendengus. "Nanti akan kuceritakan." Lalu, Sasuke berkata dengan sedikit bertenaga—hampir berupa teriakan, "Masuk!" mengingat kelasnya berdesain kedap suara.

Pintu kelas pun terbuka dan masuklah ketiga pemuda yang sudah tidak asing lagi bagi Sasuke dan Naruto. Tiga pemuda—yang sudah kita ketahui bernama Yakushi Kabuto, Inuzuka Kiba, dan Akasuna no Sasori—itu menatap beberapa pasang mata yang menatap penasaran ke arah mereka. Kekaguman mereka akan kelas ini juga tidak tertahankan. Benar-benar kelas yang melebihi kata sempurna bagi mereka.

Uchiha Sasuke turun dari meja guru yang didudukinya, berdiri selangkah lebih maju dari ketiga penghuni baru kelas mereka. "Berhubung kalian tidak saling kenal, maka aku akan membiarkan mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu."

"Nama saya Yakushi Kabuto." Ia membungkukkan badannya. "Semoga kita bisa berteman akrab."

"Aku Inuzuka Kiba," ucapnya dengan semangat disertai cengiran bahagianya. "Salam kenal!"

Dan yang terakhir, "Nama saya Akasuna no Sasori. Mohon bantuannya." Kepalanya menunduk memberi salam.

"Wah, tampaknya Kiba itu memiliki sifat yang sama denganmu, ya, Naruto? Terlihat dari gaya bicaranya," ucap pemuda berambut nanas setelah ketiga pemuda di hadapannya memperkenalkan diri mereka.

Mendengar hal itu, Naruto hanya bisa cengengesan sambil menggesek bagian bawah hidungnya dengan jari telunjuk. "Mungkin karena alasan itu pula kami lebih cepat akrab."

Sasuke berdeham membersihkan tenggorokkannya, berusaha menarik perhatian. "Selanjutnya, kami akan memperkenalkan diri secara resmi." Bola matanya menatap kawan lamanya satu persatu. "Dimulai dari Naruto yang sedang duduk di atas meja di ujung sana."

Naruto memasukkan sebelah tangannya ke saku. "Namaku Uzumaki Naruto. Aku yang paling ceria di sini. Makanan kesukaanku ramen dan makanan yang kubenci—"

"Selanjutnya," potong Sasuke tanpa bertele-tele, membuat Naruto meneriakkan suara protesan yang tentu saja diacuhkan olehnya.

"Nama lengkapku Nara Shikamaru, dan aku yang paling terlihat malas," ungkap Shikamaru jujursembari bertopang dagu di atas mejanya. "Hai."

Tanpa disuruh oleh Sasuke, pemuda di sebelah Shikamaru memperkenalkan diri. "Namaku Himura Sai. Keahlianku melukis, dan lebih baik kalian bersikap santai saja seperti kami," katanya sambil menampilkan senyuman yang biasa ia tunjukkan.

Lalu berikutnya, pemuda berambut merah yang sedari tadi memejamkan matanya. "Namaku Sabaku no Gaara." Matanya mulai terbuka menatap ketiga orang baru. "Tidak ada yang istimewa dariku."

Mata Kabuto sedikit melebar. "Sabaku no—Mengapa di tengah namamu terdapat kata 'no' seperti Sasori?"

Naruto turun dari meja dan langsung menghampiri Kabuto seraya mengalungkan sebelah lengannya di leher Kabuto. "Kabuto, nama lengkap Gaara yang sebenarnya adalah Sabaku Gaara. Tapi, berhubung keluarganya memiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang bahan bangunan dan menjadi peng-ekspor-impor pasir terbesar di Jepang, maka kita menambah kata 'no' di tengah nama kecil dan keluarganya. Terlihat seperti nama samaran atau julukkan, bukan?"

"Ah, begitu, ya…" respon Kabuto, kepalanya mengangguk pelan tanda mengerti. Kukira mereka saudara.

"Berikutnya," ucap Sasuke sembari menyandarkan dirinya di meja, bersebelahan dengan pemuda berkacamata hitam yang sedang duduk di kursi.

"Namaku Aburame Shino." Ia mengedipkan mata di balik kacamata hitam yang dipakainya. "Aku adalah orang yang paling tidak terasa aura keberadaannya di kelas ini."

Shikamaru memandang Shino yang sedang bersandar di kursi dengan wajah yang sulit diartikan. "Shino, kau terlalu jujur tentang dirimu sendiri."

"Tapi, nyatanya memang seperti itu, bukan?" jawab Shino menegaskan perkataannya, suaranya tampak dalam.

Tawa dan dengusan karena menahan geli beberapa dari mereka mengisi ruangan tersebut. Sedangkan, Gaara yang berada di sebelah Shino hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya—berusaha menabahkan hatinya.

Naruto melepaskan pagutan lengannya dari leher Kabuto. "Baiklah, yang terakhir adalah master kita, Sasuke!" seru Naruto layaknya memandu sebuah acara pertelevisian.

Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada, acuh tak acuh. "Sepertinya, aku tidak perlu memperkenalkan diriku."

Dengan gemas, Naruto bergerak dan menonjok pelan bahu kiri Sasuke. "Jangan sombong kau, Tuan Muda. Perkenalkan dirimu agar kita sama rata."

Sasuke mendengus kencang setelah dinasihati oleh sahabat paling akrabnya. "Namaku Uchiha Sasuke." Ia tampak memikirkan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan dirinya. "Satu hal yang pasti dariku adalah aku seorang Uchiha."

Sedetik kemudian, riuh tepuk tangan dan sorakkan kecil muncul dengan sangat hebohnya. Mengapresiasikan cara perkenalan salah satu keturunan Uchiha tersebut.

"Luar biasa. Sungguh kehormatan bagi kami juga bisa satu sekolah bahkan satu kelas denganmu, ya, 'kan, Sasori?" puji Kiba yang berujung pertanyaan yang tertuju pada Sasori.

Percakapan ringan di antara mereka mulai terjadi. Mereka saling menceritakan mengenai kepribadian mereka masing-masing; sifat, keahlian, perusahaan, keluarga, dan lain sebagainya. Tanpa sadar, lambat laun mereka sudah akrab, memahami, dan bisa saling berbaur satu sama lain. Seperti kebanyakan orang bilang, menambah teman itu seru.

Nah, selamat datang di Konoha School of Art, Science, and Public Relations.

.

~Crack or Hack?~

.

Haruno Sakura—gadis berambut merah muda—tengah duduk santai di sebuah café ternama, Starbucks, seraya ditemani oleh Mocha Cookie Crumble Frapuccino yang masih tersisa seperempat gelas terpajang jelas di atas meja bundar kecil di hadapannya. Mata yang sehijau batu jade itu sibuk bergerak ke kiri dan ke kanan—membaca sebuah artikel yang dicari melalui iPad 4 di atas pangkuannya.

"Sakura, maaf, aku datang sedikit terlambat!"

Mendengar nama kecilnya dipanggil, Haruno Sakura menengadahkan kepalanya yang tertunduk untuk melihat seseorang yang sudah dikenalinya dan memiliki janji yang dibuat dengannya setelah sepulang sekolah kemarin hari.

"Aa, Ino, silakan duduk," perintahnya kemudian.

Perempuan yang bertemu dengan Sakura di perpustakaan sekolah itu pun mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Sakura. "Hari ini akan menjadi hari tersibukku sepanjang minggu ini," keluh Ino memulai pembicaraan di antara mereka.

"Oh, ya? Memang ada apa?" tanya Sakura tanpa melepaskan pandangan dari iPad 4-nya.

Ino berdecak kesal. "Sakura, kau ini… Hari Sabtu minggu ini kelompok dramaku akan mengadakan teater, 'kan? Jangan bilang kau lupa."

"Lalu, apa yang akan kau persiapkan?" tanya Sakura kembali dengan arah pandangan mata yang tidak berubah.

Ino menyipitkan matanya. "Sakura, jangan bilang kau tidak menyimak satu pun perkataanku yang sebelumnya."

Sakura menghela napas sambil memejamkan matanya, lalu tangan kanannya menyodorkan apa yang tertera di iPad 4 miliknya tepat di wajah Ino. "Benda ini yang akan kau pakai dalam pementasan drama nanti, 'kan?"

Dengan sigap, Ino mengambil tablet yang tersaji di wajahnya itu. "Benar! Cantik sekali, bukan?" ucap Ino sembari mengelus layar—lebih tepatnya gambar yang ada—berulang kali. "Tapi, bukankah aku sudah memberitahumu melalui gambar di buku perpustakaan tadi? Kenapa kau bertanya lagi?"

Tidak ingin iPad 4 miliknya ada masalah, Sakura mengambil paksa kembali tablet-nya. "Hanya untuk memastikan."

"Apakah kau tertarik dengan benda itu?"

"Tidak." Sakura berbohong, tentu.

Ino masih penasaran. "Lalu, mengapa kau tampaknya antusias sekali dengan benda itu?"

Suara deritan kursi terdengar ke seluruh wilayah Starbucks. Haruno Sakura bangkit berdiri dari kursi setelah memasukkan iPad 4-nya ke dalam tas. "Aku menawarkan diri untuk menemani latihan dramamu hari ini sebagai ganti aku tidak bisa menontonmu, 'kan? Kalau begitu, ayo!" ajak Sakura untuk mengalihkan pembicaraan yang ada. Ia berjalan meninggalkan Ino sambil mengenakan tas selempangnya.

Yamanaka Ino melupakan rasa penasarannya dan menampilkan air muka yang cerah karena saking gembiranya. "Kau serius?" Ia menyusul Sakura yang sudah di ambang pintu keluar.

Angin musim gugur yang sebentar lagi menggantikan musim panas ini berhembus lembut di sekitar wajah Sakura yang putih. Tak terasa, musim panas yang sangat dibenci olehnya akan segera berakhir dan berganti dengan musim yang jauh lebih baik dari musim sakral-nya. Di dalam hatinya Sakura berdoa semoga musim terkutuk ini segera berlalu menggantikan musim yang baru.

Sakura merasa ada yang menepuk sebelah pundaknya di saat ia sibuk dengan perasaannya sejenak.

"Apa yang sedang kau lamunkan?"

Gadis berambut pink tersebut melirikkan mata ke balik bahunya. "Tidak ada. Ayo, jalan."

Melihat Sakura sudah membalikkan badannya ke arah kiri jalan, Ino pun menyejajarkan langkah kakinya agar berdampingan dengan Sakura. "Sakura, kau serius ingin melihatku latihan? Apakah tidak akan membosankan?"

Sakura memutar bola matanya. "Bukankah diriku sendiri yang menawarkan diri untuk melihatmu latihan? Mengapa kau merasa seperti tidak yakin seperti itu?"

"Benar juga," Ino melanjutkan perkataannya, "tapi drama saat pelatihan itu tidak maksimal karena pasti masih ada kesalahan yang tidak pantas untuk dipertontonkan."

"Maka dari itu, aku ingin melihatnya karena latihan adalah saat di mana semua pemeran dalam drama melakukan usaha terbaik untuk mencapai suatu kemaksimalan yang sempurna untuk pentasnya nanti." Sakura berhenti sebentar dari kalimat panjangnya. "Kurasa itu menarik untuk ditonton."

Setelah sekian lama mereka berjalan lurus di rentetan pertokoan di pinggir jalan, kini tiba saatnya bagi mereka bertemu perempatan jalan pertokoan yang sangat terkenal akan keramaian pejalan kakinya. Sakura dan Ino menunggu lampu penyebrang jalan berubah menjadi hijau sambil melanjutkan pembicaraan ringan mereka. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu lampu tersebut berubah, sehingga mereka bergegas menyebrang jalan bersama pejalan kaki lainnya setelah kendaraan yang melaju di jalan besar itu berhenti.

Ketika seperempat jalan, Haruno Sakura menolehkan kepalanya ke arah barisan mobil yang tengah mengantri karena lampu merah. Iris emerald-nya menangkap seorang pengemudi Lamborghini Aventador berambut raven tengah mengamati dirinya di saat yang bersamaan dengan dirinya menatap pemuda itu.

Obsidian dan jade saling bertumbukkan satu sama lain.

Berhubung Sakura tidak ingin menabrak sesuatu di depannya, akhirnya ia memutuskan untuk membuang pandangannya dari sang pengemudi dan terus berjalan ke depan diikuti oleh Ino di sebelahnya hingga hilang di antara kerumunan orang yang sedang berbelanja di kawasan Konoha's Fashion Main Street—atau bisa disingkat Ko-FaMS itu.

Iris onyx yang tadi bertemu pandang dengan Sakura itu tampak mencari-cari gadis yang bagi dia terasa ada-yang-aneh tersebut. Tapi, sekeras apa pun dirinya mencari hasilnya tetap nihil.

Dia sudah tidak ada.

"Oi, Sasuke, apa yang kau cari? Kau terlihat gusar seperti itu?"

Suara seseroang yang sangat ia kenal—bernama Naruto—di sebelahnya telah menyadarkan Sasuke dari tindak-tanduknya tadi. "Tidak. Tidak ada," hanya itu yang dapat Sasuke jelaskan, karena ia sendiri juga bingung. Kenapa?

Lamborghini Aventador tersebut menancapkan gasnya dengan dalam diikuti oleh barisan mobil sport lain di belakangnya sehingga menghasilkan bunyi decitan ban yang menarik perhatian banyak orang. Mobil-mobil sport tersebut bergerak menjauhi kawasan perkotaan hingga sampai di sekitar kawasan pegunungan Konoha.

Mereka terus menaiki gunung tersebut dengan mengikuti jalur yang sudah diaspal dengan sangat rapi hingga bertemu dengan sebuah gerbang tinggi yang membentang luas, menghalangi siapa pun yang melewati jalan tersebut. Tepat di tengah kedua gerbang itu terbentuk sebuah simbol berbentuk kipas. Uchiha.

Tangan kanan Sasuke bergerak untuk memasangkan sebuah bluetooth headset di telinga kiri, lalu menekan sebuah tombol di headset-nya. "Buka pintu."

Pintu gerbang di depan mata pun terbuka—mempersilakan masuk tuan rumah ke dalam rumahnya sendiri, dan dengan percaya diri pun Sasuke beserta pemilik mobil sport lain di belakangnya berjalan memasuki wilayah yang tampaknya tidak bisa dimasuki oleh sembarangan orang itu.

Setelah belasan meter mereka berjalan menelusuri pemandangan hijau, maka tampaklah beberapa bangunan yang dipisah-pisah sesuai kebutuhan yang ada dan berbentuk unik serta modern. Bangunan di sebelah kiri dan kanan tersebut beralaskan permadani rumput hijau alami ditambah beberapa aksen batuan yang menambah kealamian yang ada. Sejauh mata memandang, wilayah ini dikelilingi oleh pemandangan alam pegunungan yang eksotis dan sangat menyejukkan mata. Suara kicauan burung terdengar merdu di telinga. Wilayah ini sungguh mengutamakan kealamian alam.

Terparkirlah mobil-mobil sport itu di sebelah kiri jalan setapak yang tidak seberapa jauh setelah tikungan ke arah kanan. Para pemuda yang berada di dalam mobil kini mengeluarkan diri mereka tanpa menghilangkan rasa kagum di wajah mereka masing-masing. Deru mesin mobil mereka tidak lagi menggema hingga ke lereng gunung.

"Wow," ucap Inuzuka Kiba sambil mengedarkan pandangannya ke alam di sekitarnya, "keren sekali."

Uzumaki Naruto tertawa pelan. "Tak kusangka respon kalian terhadap tempat ini sama seperti pertama kali aku diajak ke sini."

Sai, Gaara, Shikamaru, dan Shino menganggukkan kepalanya pertanda setuju atas apa yang diucapkan oleh sahabat jabrik kuning mereka.

Yakushi Kabuto berjalan mendekekati Kiba yang masih menikmati apa yang tersaji di matanya. "Walau sudah terbangun beberapa bangunan di wilayah ini, tapi sejuknya alam pegunungan masih terasa mengingat tempat ini memang jarang sekali dijamah oleh manusia," faktanya yang didengar oleh Sasori di sisi mobil yang berlawanan dengannya.

"Mau sampai kapan kalian semua di sana?" Kepala Sasuke tergerak sedikit ke arah bangunan yang paling dekat dengan mereka. "Ayo, masuk."

Dengan sigap, mereka yang ditinggal menjauh oleh Sasuke mulai berlari kecil menyusul sang Tuan Rumah di depan mereka.

Seperti yang telah kalian lihat simbol di gerbang masuk tadi—wilayah ini adalah milik keluarga besar Uchiha. Tidak ada yang tahu 'siapa sebenarnya Uchiha itu' dan 'apa sebenarnya Uchiha itu', hanya orang tertentu dan terpilihlah yang tahu identitas anggota Uchiha—dan itu pun dengan jaminan tutup mulut. Entah apa yang dipikirkan oleh para keturunan Uchiha tersebut. Tidak ada yang bisa membacanya.

Empat hal yang bisa mendeskripsikan tentang Uchiha: satu, Uchiha adalah klan yang tidak diketahui asal-usulnya. Dua, Uchiha adalah klan yang bergerak di balik layar. Tiga, Uchiha adalah klan yang misterius. Empat, Uchiha adalah pemilik empat puluh lima persen wilayah Jepang.

Uchiha Sasuke mendekatkan matanya ke arah layar berbentuk persegi panjang dengan badan tegap. Sebuah sinar biru menerjang matanya yang kelam—mendeteksi identitas siapakah gerangan yang datang ke tempat tersebut. Tak lama kemudian, sinar biru tersebut menghilang dan terbukalah pintu ruangan tersebut.

Satu persatu dari mereka memasuki bangunan yang berukuran cukup luas tersebut. Seluruh sisi dan langit-langit bangunan tersebut terbuat dari kaca tembus pandang yang menyadarkan para tamu bahwa mereka sedang berada di dalam sebuah bangunan di pinggir jurang gunung yang curam. Tak akan ada yang menyadari hal itu jika tidak masuk ke dalam bangunan terlebih dahulu karena di sekeliling bangunan kaca ini ditutupi oleh pepohonan yang rindang dan hijau—mengurangi kadar cahaya matahari terik yang masuk ke bangunan.

Uchiha Sasuke, selaku salah satu Tuan Rumah di wilayah ini, berjalan menelusuri rak-rak buku bermuka dua yang didesain tinggi menjulang dan ditata sedemikian rupa di dalam bangunan sehingga membentuk sebuah permainan maze mengerikan karena akan menyesatkan bagi orang yang tidak tahu seluk-beluknya.

Kabuto memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, menelusuri isi rak buku yang dilewatinya. Jiwa librarian dalam dirinya meledak-ledak. "Ini perpustakaan?" tanyanya singkat. Yang lain hanya sibuk mendengarkannya.

Sebelum menjawab pertanyaan Kabuto, Sasuke melihat sang penanya melalui ekor matanya sesaat. "Bukan."

Rasa heran memenuhi otak Kabuto. "Hah? Bukankah buku-buku yang tersusun di dalam rak itu asli?"

"Memang." Sasuke mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan mengingat tidak ada satu pun temannya yang berniat menjelaskan kembali kepada Kabuto. "Tapi, mereka hanyalah sebuah buku ringan yang menjadi hiasan semata."

Merasa cukup puas akan jawaban dari sang Uchiha, Kabuto kembali berdiam diri mengikuti temannya yang lain mengikuti Sasuke dari belakang disertai Shino, Sai, Shikamaru, dan Naruto di balik punggung mereka. Belasan belokkan maze sudah mereka lalui dan terpampanglah sebuah lift di salah satu ujung maze itu.

Pintu lift tersebut terbuka dengan sendirinya saat berada satu setengah meter dari sana. Jika dilihat dari dalam, lift tersebut mempunya dua pintu: satu di depan dan satu lagi di sebelah kiri mereka. Suara minimal tunes yang jernih pun terdengar—pertanda mereka telah sampai di lantai yang menjadi satu-satunya tujuan lift itu, lalu pintu di sebelah kiri mereka pun terbuka lebar menampilkan sebuah ruangan baru yang berukuran sedang dan sangat lapang.

Yah, sebuah ruangan untuk membaca.

Sebuah ruangan yang hanya terdiri dari sebuah kursi dan meja kecil di sudut dekat dengan kaca beserta pot tanaman guna mengisi sudut ruangan yang kosong.

"Wow, keren sekali!" seru Kiba diikuti tawa senangnya seraya menghambur ke luar lift.

Inuzuka Kiba terus berlari kecil hingga tiba di sisi muka ruangan baca yang memang hanya satu-satunya yang berdinding kaca. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di permukaan kaca yang membatasi antara ruangan dan jurang. Terlihat dengan jelas, kini dirinya sedang berhadapan dengan sebuah air terjun yang tinggi menjulang. Di saat itulah Kiba memiliki pemikiran bahwa di bawah jurang ini terdapat sebuah tempat pemberhentian air terjun itu. Dengan kata lain, anak sungai.

Sasori dan Kabuto berjalan pelan mendekati Kiba. Mata mereka berkeliling melihat ruangan yang nyaris kosong itu, lalu melihat ke arah kaca di mana arah pandang Kiba terpaku.

"Tak kusangka masih ada tempat indah dan terawat seperti ini," ucap Kabuto hampir sebuah bisikkan.

Uchiha memang luar biasa, timpal Sasori di lubuk hatinya, kagum.

Setelah memberi waktu beberapa menit lamanya untuk ketiga anak baru tersebut menikmati suasana yang ada, Shikamaru pun mulai mengeluarkan suaranya setelah diberi kode oleh Sasuke, "Baiklah, kurasa kalian bisa melihatnya lagi nanti, ayo kita masuk ke ruangan tujuan kita sebenarnya."

Tanpa merespon sedikit pun, perintah Shikamaru langsung dituruti oleh Kabuto, Sasori, dan Kiba dengan kembali berkumpul ke yang lainnya.

Kiba tampak mengedarkan pandangannya ke segala arah yang tampaknya tidak ada satu pintu pun di sana. "Lalu, di mana sebenarnya ruangan tujuan kita?" Arah pandangannya berhenti ketika bertabrakkan dengan pandangan Sasuke.

Sasuke menghela napas singkat. "Tidak ada pintu lain selain… di sini." Tangan Sasuke bergerak untuk menempelkan telapak tangannya di dinding di balik punggungnya yang menyebabkan dinding di mana tempat telapak tangannya berada mengeluarkan cahaya berwarna hijau di balik sana. Dan, dinding yang ternyata pintu masuk ke ruangan rahasia itu pun terbuka—menampilkan sesuatu yang lain di dalam sana.

Mereka bersembilan pun masuk ke dalam ruangan—yang terlihat—sangat dirahasiakan itu. Ruangan tersebut sangat didominasi oleh warna putih sehingga membuat ruangan itu bertambah terang dengan adanya sinar lampu putih yang menyinari ruangan itu. Ditambah dengan aksen stainless steel—menambah ruangan itu tampak berkilauan akibat pantulan cahaya lampu putih. Tidak ada jendela kecil atau pun sekadar kaca di ruangan itu. Sangat tertutup.

"Akhirnya sampai juga," lenguh Shikamaru sambil menguap lebar dan berjalan menuruni beberapa anak tangga ke bawah, disusul Naruto, Sai, Gaara, serta Shino bersamanya.

"Aku kangen sekali tempat ini!" teriak Naruto lantang. Tubuhnya ia hempaskan ke salah satu sekumpulan sofa berwarna putih nyaman yang berada di tengah ruangan.

Sasuke yang masih berdiri di atas anak tangga bersama ketiga kawan barunya pun mulai menuruni anak tangga sembari berkata, "ayo, masuklah, anggap saja rumah kalian."

Mendengar Sasuke berkata seperti itu, trio dari K-MOS itu pun tanpa segan menuruni anak tangga yang singkat untuk memasuki 'ruangan putih' ini lebih dalam. Mereka pun mendudukan diri mereka di bagian sofa tersebut secara acak setelah diperintah oleh Gaara yang sudah duduk bersandar santai.

Maka, duduklah mereka semua di sana.

Kecuali, Uchiha Sasuke yang masih berdiri tegap di luar sekumpulan orang tersebut. Ibu jarinya sibuk menyalakan pendingin ruangan bertemperatur sedang melalui sebuah remote alat tersebut.

Shino berdeham pelan, mempersiapkan diri untuk berbicara. "Tampaknya ada hal yang ingin kau beritahu, Sasuke."

Kedua tangan Sasuke terlipat di depan dada setelah meletakkan Sony Xperia Z3-nya di atas meja kaca kecil di dekatnya. Matanya menatap lantai putih bersih di bawahnya, tampak merenung sebentar. "Seperti yang kalian ketahui, tugasku di K-MOS sudah selesai beberapa hari yang lalu dan…"

Sai yang puas bersandar kini membungkukkan badan, kedua lengannya menopang berat badannya yang bertumpu di atas lutut. "Dan?" ulang Sai atas kata terakhir Sasuke yang sangat menggantung.

"Dan…" mata Sasuke membalas tatapan Sai, "kini aku mendapat tugas baru." Sasuke berjalan menuju sofa putih khusus satu orang yang sudah dianggap sebagai singgasananya. Setelah menempatkan diri dengan nyaman, ia melanjutkan perkataannya, "Untuk tugas ini, aku membutuhkan bantuan kalian semua."

Shikamaru mendengus. "Dengan ini, berarti ketiga kawan baru kita sudah harus siap bahu-membahu dan membiasakan diri dengan kebiasaan kita." Ia melemparkan pandangan ke arah Kiba, Kabuto, dan Sasori, menantikan respon positif dari mereka.

"Kami sudah siap! Iya, kan, Kabuto, Sasori?" tanya Kiba kepada kedua temannya.

"Dengan senang hati," jawab Sasori dan Kabuto bersamaan.

"Semoga kalian terbiasa dengan aktivitas kami ini," kata Gaara, salam penyambutan.

"Dan, jangan merasa heran jika kalian disuruh melakukan aksi gila," tambah Naruto mencoba menakut-nakuti para anggota baru, tetapi upayanya gagal. Sayang sekali.

Suara baritone Sai terdengar memecah percakapan kecil di antara mereka. "Lalu, apa tugas kita, Sasuke?"

"Yang harus kita lakukan pertama kali adalah hal yang paling dasar untuk sebuah rencana." Uchiha Sasuke yang sedang duduk menyandar ke samping seraya menopang sebelah kepalanya dengan tangan kiri pun. Setelah bertemu penang oleh seluruh pasang mata kawan-kawannya ia berkata, "Mengumpulkan data."

~CrackHackerz~

Tsuzuku

To be Continued...

Hari Sabtu | Jakarta, 28 Desember 2013 | Pukul 20.29 WIB


Reply of Review:

Luca Marvell: Thanks. Hubungan apa yang menjadi perantara SasuSaku akan kau ketahui nanti dan tugas Sakura tidak ada hubungannya mengawal Ino, kok… sepertinya. Thanks for your review!

Sofi asat: Di sini Sakura berperan menjadi seorang "gadis bersurai pink". Sudah lanjut. Thanks for your review!

Miura-chan: Thanks, semoga fict ini tidak membosankan. Aku merencakan Sasuke akan bertemu Sakura di tempat yang tidak terduga. Maaf tidak bisa update kilat. Thanks for your review!

Lyn kuromuno: Sakura memang sudah muncul, tapi romance-nya akan hadir mengikuti air yang mengalir. Nantikan, ya. Thanks for your review!

Kikyu RKY: Semoga fict ini selalu menarik ke depannya. Thanks for your review!

Hikari Ciel: Kalau aku menjadikan Sakura menjadi seorang antagonis, bagaimana? Saat ini SasuSaku belum saling kenal, kok. Nama Huicergo-ku berasal dari sebuah requiem, jika kau "mengidolakan" Wolfgang Amadeus Mozart pasti kau tahu—walau mungkin tidak sadar. Sedangkan, Montediesberg adalah nama "klan"ku—walau mungkin aku hanya mewariskan sedikit darahnya saja. Thanks for your review!

Marchioness Scarlet: If that chap was too short for you, but for me that's just enough. Thanks for waited, and you shall know why I must took a much time for that after this section. Next chap was served. Thanks for your review!

Titan-miauw: Interaksi Fugaku-Sasuke terkadang kupakai dalam kehidupanku, jadi kumasukkan saja dalam fict. Thanks for your review!

o.O rambu no baka: Bukan segaja digantung, tapi sengaja disembunyikan. Lagi pula, nanti pasti kau akan tahu. Thanks for your review!

Leontujuhempat: Sudah lanjut. Thanks for your review!

Naya Aditya: Sakura jadi apa juga belum terpikirkan olehku… tapi bohong. Sorry tidak bisa update kilat sesuai permintaanmu. Thanks for your review!

Marukochan: Sudah lanjut. Thanks for your review!

Eysha CherryBlossom: Sakura di sini memang sengaja kubuat misterius agar tidak kalah dengan Sasuke yang selalu tebar pesona itu. Thanks for your review!

Nadia sabrina: Thanks. Ya, di sini Sakura masih sedikit kutahan image-nya. Aku sengaja membuat hubungan Fugaku-Sasuke menjadi akrab dan hangat… karena yang dingin dan sepi udah terlalu mainstream, mungkin. Thanks for your review!

Yamasaki Kane: Semoga fict ini semakin menegangkan. Tampaknya chap ini masih belum masuk terlalu dalam, jadi ikuti perkembangannya saja, ya. Thanks for your review!

Mitchiru1312jo: want more again? Thanks for your review!

Harulisnachan: Apa masih penasaran? Semoga saja masih. Jika sudah waktunya nanti kau pasti akan tahu siapa Sakura sesungguhnya. Thanks for your review!

Eunike Yuen: Lain kali kau harus jaga kesehatanmu agar tidak sampai masuk rumah sakit, apalgi tahun depan kau UN. Sepertinya Sakura di fict ini berhasil menjadi pusat perhatian para pembaca, ya… Thanks for your review!

Edelwish: Dibanding Samsung lover, mungkin lebih tepatnya aku ini gadget-lover. Thanks for your review!

Cica: Aku memang berpikir untuk hiatus, tapi semoga saja hanya lama update hingga berbulan-bulan karena sibuk di kampus nanti. Thanks for your review!

Zizy Hinamori: Sakura sengaja dibuat misterius untuk menggantikan Sasuke yang jadi tokoh utama yang nyatanya juga masih misterius. Tunggu aksi Sasuke dan kawan-kawan berikutnya, ya. Thanks for your review!

Blupii: Yah, aku juga lebih suka hubungan FugaSasu yang seperti itu daripada yang dingin dan sepi, terkesan membosankan. Mengenai rencana dan tujuan SasuSaku kedepannya, tunggu saja, ya. Sifat Sakura bisa kau teliti sedikit demi sedikit dari cara dia berbicara kepada Ino. Thanks for your review!

Piyo piyo: Terima kasih atas masukkannya. Setidaknya aku membuat Sasuke dan Naruto beristirahat karena mereka juga "manusia biasa". Action, mystery, dan romance akan hadir jika sudah pada waktunya, kok. Thanks for your review!

CherryKuchiki2: Thanks atas respon positifnya. Masalah update kurang dari seminggu itu seperti mustahil bagiku, kecuali jika ada sebuah keajaiban. Thanks for your review!

Zecka Fujioka: Terima kasih Moon-nee atas masukkannya, nanti aku coba perbaiki chap sebelumnya dan mencoba untuk menerapkannya dalam penulisanku. Masalah "tiga titik lalu koma" itu sepertinya lebih enak jika diganti dengan tanda "dash—". Jika aku ada salah nanti, tolong dikasih tahu kembali, ya. Thanks for your review!

Aguma: Berhubung ini fict bergenre crime, tak bisa kupungkiri kalau tebakan asal kau benar. Omedetou. Thanks for your review!

Poo-chan: Dipersilakan. Thanks for your review!

Shaun: Apa yang Sakura baca mungkin sudah kau ketahui di chap ini. "Bola memantul"? Maksudmu apa? Thanks for your review!

Nataly: Maaf tak bisa update cepat karena alasan "dibawah" ini. Thanks for your review!

Guest: Sudah di-update. Thanks for your review!

Felicita-chan: Sepertinya gerakan Sakura tidak mudah ditebak banyak orang, ya. Thanks for your review!

MerisChintya97: Sakura sengaja masih kusorot sedikit agar tidak kalah misterius dari Sasuke. Sakura tidak mencurigai Ino, memangnya kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Entah kenapa, aku tidak bisa membuat cerita yang words per chap-nya banjir kata—karena reflek standarisasi otak dalam menyusun ceritanya seperti itu, kecuali jika adegannya sedang dalam masa genting dan memang memuat banyak scene—lagi pula, jika panjang-panjang nanti jadi membosankan. Thanks for your review!

Narnialow2003: Fict ini akan selalu kulanjutkan jika ada waktu kosong, tapi masalah update… itu tidak menentu. Terima kasih atas pujian dan dukungannya. Thanks for your review!

Tatiputriapriyanti: Padahal genre-nya crime, tapi fict ini mengandung mystery. Maaf, aku lupa kau siapa. Apa kau pembaca Lost in Nightmare? Thanks for your review!

Kintani-chan: Fict ini di-update sehari setelah kau memberikan suaramu. Thanks for you review!

A/N:
Hai, maaf telah menunggu lama…
Thanks a lot bagi yang sudah sabar menunggu update-nya fict ini sehingga aku bisa berkonsentrasi sementara untuk UN-ku yang sudah terlewati sebulan yang lalu.

By the way, alasan utama aku tidak meng-update fict adalah "terjadinya pemblokiran FFN oleh suatu-program-government-yang-sudah-kalian-ketahui-itu-apa". Aku sudah berusaha mencoba mengubah DNS yang ada, tapi nihil. Tampaknya modem B*lt yang kugunakan tidak mengizinkan adanya perubahan standard DNS-nya menjadi DNS G**gle, public, atau semacamnya. Tadinya aku sudah pasrah dengan kondisi yang ada, tapi tiba-tiba sebuah ide melintas, yakni "mengganti web browser"—berhubung aku berusaha menghindar sejauh-jauhnya dari penggunaan proxy. Dan, hasilnya adalah sekarang aku bebas berselancar ke mana pun aku mau tanpa halangan dari In****** ****tif, Na**la, beserta sanak saudaranya yang mengesalkan itu.

Typos' Alert!
You can tell me if they are attacking.
"They're has been become one."
"What's the first assignment?"

Signature,

Huicergo Montediesberg